Author: 10

  • Yuk, Simak Manfaat dan Cara Menghitung NAB Reksadana!

    Sobat cuan yang saat ini sudah terjun dan mencicipi manisnya investasi di reksadana tentu sudah tidak asing dengan istilah NAB, alias Nilai Aktiva Bersih. Namun, sebagian dari investor tentu masih belum paham mengenai fungsi NAB atau cara menghitung NAB dari reksadana.

    Padahal, menghitung NAB adalah hal penting lho bagi para investor. Apa alasannya? Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut!

    Apa Itu NAB Reksadana?

    Secara teori, NAB atau juga kerap disebut sebagai net asset value (NAV) adalah jumlah total dana kelolaan suatu produk reksadana yang dikelola oleh Manajer Investasi. Semakin tinggi dana kelolaan yang dimiliki, bisa diartikan bahwa semakin tinggi pula tingkat kepercayaan investor terhadap produk tersebut.

    Komponen yang terdapat di dalam NAB adalah harga pasar atas aset dasar reksadana tersebut. Misalnya seperti saham, surat utang, dan juga deposito ditambah dengan biaya pencadangan bunga dari pada portofolio tersebut.

    Dana yang ditunjukkan dalam NAB merupakan dana bersih. Alias, hasil dari jumlah total aset keuangan dikurangi beberapa biaya, seperti biaya pengelolaan, biaya kustodian, pajak, dan juga lainnya.

    Hanya saja, yang namanya harga pasar, nilai dalam NAB selalu berubah setiap harinya. Hal ini sejalan dengan transaksi pembelian ataupun penjualan reksadana yang dilakukan oleh para investor. Adapun perubahan dalam NAB didasarkan pada perhitungan nilai pasar yang wajar.

    Namun, perlu dipahami bahwa NAB bukanlah ukuran dari seberapa mahal harga dari reksa dana tersebut. Sebab, harga reksadana tercermin dari Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan atau biasa disingkat NAB/UP. Jadi, jangan sampai misinformasi ya, Sobat Cuan.

    Baca juga: Investor Pemula Wajib Tahu! Simak Istilah Umum Reksa Dana Ini

    Manfaat Menghitung dan Mengetahui NAB bagi Investor

    Sobat Cuan perlu memahami bahwa setiap indikator yang berada di dalam dunia investasi tentu punya tujuan masing-masing. Termasuk NAB.

    Dengan mengetahui NAB, Sobat Cuan bisa memilah-milah produk reksadana apa saja yang paling populer. Hal ini cukup kentara sekali, mengingat semakin populer reksadana biasanya memiliki NAB yang cukup jumbo.

    Semakin tinggi NAB reksadana juga mengindikasikan bahwa banyak investor telah mempercayakan kapabilitas sang Manajer Investasi. Artinya, kamu tinggal cap cip cup deh dalam memilih produk reksadana unggulanmu!

    Di samping itu, kamu pun bisa melihat potensi keuntungan reksadanamu ke depan hanya dengan membaca angka NAB. Jika NAB mengalami penurunan, maka harga dari unit penyertaan (UP) produk reksadana yang dimilki juga akan turun. Artinya, siap-siap saja melihat nilai portofolio kelolaanmu terkoreksi.

    Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, artinya kamu perlu siap dalam mendulang cuan!

    Cara Menghitung NAB Reksadana

    Setelah mengetahui manfaat mengetahui NAB, kini saatnya kita bedah lebih dalam indikator satu ini!

    Pada dasarnya, menghitung NAB sangat mudah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, inti perhitungan NAB adalah sebagai berikut:

    NAB = (nilai pasar setiap underlying asset (saham dan obligasi + dividen saham dan kupon obligasi) – (biaya operasional reksadana, biaya bank kustodian dan lain-lain)

    Namun, investor sebenarnya akan lebih membutuhkan nilai NAB/UP untuk mengetahui harga reksadana mereka saat ini dengan tujuan mendulang untung.

    Sobat Cuan mesti paham bahwa setiap produk reksadana akan dikonversi ke dalam bentuk UP. Harganya pun disandarkan pada total NAB/UP.

    Misalnya, Sobat Cuan ingin membeli produk reksadana A senilai Rp10.000.000. Sementara itu, harga NAB/UP saat itu adalah sebesar Rp1.000. Artinya, kamu akan mendapatkan 10.000 UP produk reksadana A.

    Lantas, bagaimana kamu menggunakan NAB/UP untuk menentukan keputusan investasimu? Tentu saja, caranya adalah membandingkannya.

    Terdapat dua cara bagimu dalam memanfaatkan NAB/UP untuk mengetahui apakah investasi reksadanamu cukup mantap atau tidak. Berikut rinciannya.

    1. Membandingkan NAB/UP Antar Periode

    Ketika NAB menurun dalam satu rentang periode tertentu, maka hasil bagi antara NAB/UP juga akan menjadi susut. Hal itu akan membuat harga UP reksadana pun merosot secara otomatis.

    Begitu pun sebaliknya. Jika NAB naik dalam satu waktu tertentu, maka NAB/UP pun akan menanjak.

    Nah, melakukan hal ini akan sangat bermanfaat bagimu. Terutama, dalam mengetahui keuntungan/kerugian yang kamu dapatkan dari investasi reksadana.

    Begini contohnya. Pada Juni, kamu membeli reksadana senilai Rp10.000.000 dengan NAB/UP sebesar Rp10.000. Artinya, kamu memiliki reksadana sebesar 1.000 UP.

    Namun, kamu ternyata berencana untuk menjual seluruh reksadana pada bulan Agustus. Saat itu, NAB/UP sudah mencapai Rp12.000. Artinya, pendapatan yang kamu terima dari penjualan reksadana adalah Rp12.000 x 1.000 UP = Rp12 juta.

    Nah, dalam rentang waktu tersebut, artinya kamu sudah mendulang cuan dari reksadana sebesar 20%.

    2. Membandingkan NAB/UP Antar Produk Reksadana

    Selain membandingkan NAB/UP antar periode, kamu juga bisa membandingkan NAB/UP antar produk reksadana yang memiliki underlying asset serupa. Misalnya, NAB/UP reksadana saham dari MI A kamu bandingkan dengan NAB/UP reksadana saham milik MI B.

    Hal ini bertujuan agar kamu bisa mengetahui rerata NAB/UP reksadana secara umum dan bikin kamu gampang melihat apakah produk yang kamu pilih punya prospek bertumbuh atau tidak

    Contohnya adalah seperti ini.

    Misal, harga UP reksadana pendapatan tetap milik perusahaan sekuritas A ditawarkan di harga Rp1.000 per UP. Sementara itu, rata-rata UP reksadana pendapatan tetap yang ditawarkan perusahaan lain berada di angka Rp600 per unit.

    Artinya NAB/UP reksadana yang ditawarkan sekuritas A sudah cukup tinggi. Sehingga, ada indikasi bahwa produk tersebut susah bertumbuh mengingat NAB/UP miliknya cukup mahal. Di sini, kamu bisa mempertimbangkan untuk mencari produk lain yang lebih murah dan punya potensi pertumbuhan yang oke.

    Namun, jangan tarik kesimpulan sesimpel itu, Sobat Cuan! NAB/UP yang tinggi pun bukan berarti reksadana itu ramai diburu orang atau kemahalan. Bisa jadi, nilai tersebut meningkat karena melesatnya harga pasar underlying asset-nya.

    Jadi bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap berinvestasi reksadana? Kalau jawabannya adalah ya, yuk berinvestasi di reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang di Pluang!

    Baca juga: Apa Saja Sih Faktor yang Mempengaruhi Reksadana? Yuk Simak di Sini!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bank Mandiri, Bank Mandiri



    Sumber : pluang.com

  • Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Tak hanya kredit bank, mata uang kripto kamu pun bisa dilibatkan dalam aktivitas pinjam meminjam, Sobat Cuan. Saat ini, hal itu pun dimungkinkan dengan hadirnya platform crypto lending dan yield farming yang berada di ekosistem Decentralized Finance (DeFi)

    Tapi, apakah kamu tak penasaran. Apa saja sih perbedaan pinjaman kripto vs pinjaman bank?

    Kredit bank telah lama menjadi penyangga utama aktivitas perekonomian konvensional. Kalau kamu punya ide bisnis yang prospektif tapi tidak punya modal untuk memulai, kamu bisa pergi ke bank dan mengajukan pinjaman usaha.

    Dalam berbagai skala, aktivitas pinjaman bank ini menopang ekspansi ekonomi sejak lama. Namun kini, seiring dengan berkembangnya dunia decentralized finance (DeFi) dengan mata uang digitalnya yakni kripto, pinjaman tak hanya terbatas pada uang fiat saja.

    Keduanya, yakni pinjaman kripto vs pinjaman bank punya beberapa perbedaan juga kelebihan dan keuntungannya masing-masing, Sobat Cuan. Simak yuk!

    Kelebihan Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank

    Si anak baru di dunia pinjam meminjam ini ternyata punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh uang fiat yang bisa kamu pinjam lewat kredit bank. Sejumlah terobosan dunia keuangan yang hadir setelah uang fiat dan pinjaman bank populer menjadikan uang kripto adalah produk yang lebih punya daya tarik.

    Apa saja sih kelebihan pinjaman kripto?

    1. Proses Cepat dan Variatif

    Bank adalah lembaga yang rigid dan pruden, karenanya bank sulit beradaptasi mengikuti cepatnya perkembangan zaman.

    Demi menjaga kepercayaan nasabah dan masyarakat, bank punya daftar panjang prasyarat dan proses pinjaman. Akibatnya, pinjaman yang kamu ajukan ke bank butuh waktu beberapa hari hingga minggu dalam prosesnya.

    Berbeda dengan bank, transaksi kripto tidak memerlukan kepercayaan. Perangkat digital dan terobosan seperti smart contract menjadikannya paperless. Kamu tidak perlu otorisasi berbelit dan cek berulang saat bertransaksi dengan kripto, seperti halnya melakukan pinjaman.

    Karenanya, pinjaman kripto kamu dapat diproses dalam hitungan detik hingga menit saja loh, Sobat Cuan. Kamu juga bisa memilih pinjaman dengan skema DeFi atau CeFi. Semua itu, terserah padamu saja!

    2. Likuiditas Kolateral

    Pinjaman kripto menguntungkan sebab kolateralnya likuid dibanding kolateral di bank.

    Saat pinjaman macet, bank membutuhkan waktu untuk mencairkan kolateral guna menutup kerugian akibat kredit macet. Namun dalam pinjaman kripto, kolateralnya biasanya berupa aset kripto juga yang sangat likuid.

    Selain likuid, kolateral yang dibutuhkan untuk meminjam kripto juga sangat besar, yakni 100-150% dari nilai pinjaman.

    Mengapa besar sekali? Sebab harga kripto sangat fluktuatif. Sebagai pemberi pinjaman, kamu bahkan punya hak untuk mencairkan kolateral lebih cepat kalau tiba-tiba harganya anjlok.

    Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

    3. Aksesibilitas Pinjaman

    Kamu harus bankable untuk dapat meminjam ke bank. Setidaknya, kamu harus punya akun di bank dan skor kredit yang baik. Bank akan mengecek kredit score kamu lewat Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum mengabulkan permohonan pinjaman kamu.

    Tak hanya itu, berbagai prasyarat lain pun harus kamu penuhi. Hal tersebut mungkin menyulitkan bagi kamu yang tidak terbiasa menggunakan jasa bank.

    Beda halnya dengan bank, pada pinjaman kripto kamu tidak perlu punya skor kredit baik atau akun bank. Proses ini jauh lebih mudah dan inklusif pada pinjaman kripto sehingga siapapun bisa mengaksesnya. Inilah yang membuat skema ini cepat sekali meroket popularitasnya.

    4. Prasyarat Pinjaman Fleksibel, Pun Juga Tenornya

    Saat meminjam ke bank, kamu tidak bisa banyak andil dalam menentukan berbagai hal. Mulai dari margin bunga, tenor, hingga besaran pinjaman semua ditentukan oleh bank.

    Hal ini juga yang membuat pinjaman kripto unggul jika dibandingkan bank. Sebagai peminjam kamu bisa mengajukan berapa besar kripto yang ingin kamu pinjam, mata uang mana, atau stablecoin apa, juga uang muka kreditnya.

    Selain itu, besar pinjaman kamu juga tergantung pada besarnya kolateral yang kamu punya. Menarik bukan?

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Kelebihan Pinjaman Bank Vs Pinjaman Kripto

    Tentu saja, di balik sejumlah keunggulan kripto dalam hal pinjam meminjam, bank juga punya keunggulan tersendiri. Sebagai bentuk pinjaman yang sudah lama dilakukan peradaban manusia, pinjaman bank menjanjikan stabilitas, keamanan dan besar pinjaman yang baik.

    Pinjaman bank berlaku dalam uang fiat yang harganya lebih stabil dibanding uang kripto. Lembaga intermediary pada pinjaman kripto biasanya hanya memberlakukan pinjaman dalam mata uang kripto saja, meski ada juga yang memberi pinjaman fiat.

    Efeknya adalah stabilitas harga yang membuat kolateral pinjaman bank bisa lebih kecil dibanding kripto. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada pinjaman kripto kolateral bisa mencapai 150% akibat volatilitas. Pinjaman bank lebih lunak dalam hal ini.

    2. Keamanan Lebih Mumpuni

    Sebagai lembaga rigid dan pruden, keamanan adalah fokus utama bank. Tentu saja memberi pinjaman maupun meminjam lewat bank jadi lebih aman.

    Bank menjamin bahwa peminjam mampu bayar pinjaman dan pemberi pinjaman mendapat marginnya sesuai kesepakatan.

    Baca juga: Anti Panic Buying Saat Pandemi! Yuk, Simak 8 Tips Hemat Belanja di Sini!

    3. Besar Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank

    Besaran pinjaman kripto hingga saat ini belum ada yang bisa membantumu mencicil rumah idaman atau mobil keluaran terbaru. Jika kamu mendambakannya, mungkin kamu memang harus meminjam ke bank.

    Bank menyediakan pinjaman dalam berbagai ukuran, meskipun bunganya pun besar. Setidaknya kamu jadi bisa membeli rumah atau mobil, atau sebidang tanah dan membuka usaha meski uangmu likuidmu belum banyak.

    Nah, kalau kamu sendiri bagaimana, Sobat Cuan? Lebih memilih meminjam di bank atau coba-coba meminjam aset kripto?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: You Hodler



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Jenis-Jenis Moving Average bagi Pemula

    Sobat cuan lagi doyan trading? Pastinya kamu sekarang lagi doyan ngotak-ngatik tradingview atau lagi doyan belajar analisis teknikal, bukan?

    Nah, salah satu indikator yang sering kamu temukan tentu adalah moving averageTidak heran, sebab indikator ini memang marak digunakan oleh trader yang masih pemula maupun sudah jago.

    Tapi, di balik popularitasnya, moving average ternyata punya berbagai macam jenis yang bisa kamu gunakan sesuai kebutuhan lho, Sobat Cuan. Apa saja jenis-jenisnya?

    Sekilas Mengenai Moving Average

    Moving Average (MA) adalah salah satu indikator analisis teknikal yang populer digunakan oleh trader dan investor. Indikator ini bertujuan untuk memberi petunjuk kepada mereka tentang arah tren harga sebuah aset di masa depan.

    Lantas, bagaimana cara melihat Moving Average?

    Dalam hal ini, investor dan trader menggunakan rerata pergerakan harga sebuah aset dalam sebuah rentang waktu tertentu. Biasanya, rentang waktu yang digunakan adalah harian.

    Kemudian, rerata pergerakan harian tersebut disandingkan dengan rerata pergerakan harga di hari lain sehingga investor dan trader bisa membaca tren pergerakan harganya.

    Selain membaca tren pergerakan harga sebuah aset, Moving Average juga berguna untuk menghilangkan dampak fluktuasi harga dalam jangka pendek yang terkesan acak (random). Sebab, terkadang investor atau trader sering terkecoh dan terjebak melakukan keputusan investasi yang keliru saat melihat tren pergerakan harga seperti demikian.

    Moving Average sendiri terdiri dari beberapa variasi tergantung fokus sang trader. Apakah memang ia ingin melihat tren secara keseluruhan atau memberikan bobot dan perhatian lebih besar terhadap satu titik tertentu di dalam pergerakan harga aset tersebut.

    Bingung tidak Sobat Cuan? Nah, untuk mengetahui contoh penjelasan di atas, yuk simak jenis-jenis Moving Average berikut!

    Jenis-Jenis Moving Average

    1. Simple Moving Average (SMA) 

    Di antara jenis Moving Average lainnya, SMA adalah yang paling populer. Penghitungannya sangat simpel seperti namanya, yakni seluruh poin data terbaru dijumlahkan lalu dibagi dengan jumlah data itu sendiri dalam periode waktu tertentu.

    SMA menggunakan data historis berupa harga tertinggi, harga terendah, harga buka dan harga tutup. Indikator ini digunakan trader untuk mengetahui kapan waktu terbaik untuk masuk dan keluar dari pasar.

    Banyak yang bisa kamu dapatkan dari penghitungan sederhana SMA, seperti titik support dan resistance, sell dan buy dan sebagainya. Informasi dalam MA diplot dalam grafik yang memudahkan kamu untuk membaca trennya.

    2. Exponential Moving Average (EMA)

    Mirip dengan SMA, jenis moving average ini pun digunakan untuk memprediksi arah tren dalam periode tertentu. Bedanya, karena dihitung secara eksponensial, EMA lebih memberikan bobot lebih terhadap pergerakan yang terjadi saat ini ketimbang masa lampau. Artinya, EMA lebih sensitif terhadap momentum terkini ketimbang SMA.

    Hal ini dilakukan untuk membantu investor dalam merespons perubahan harga yang terjadi saat ini dengan lebih cepat. Dengan begitu, kamu pun bisa lebih cepat mengambil keputusan saat trading.

    Jika grafik menanjak, kamu bisa menentukan titik beli pada poin terdekat dengan EMA. Sebaliknya, jika garis menurun, kamu bisa menentukan titik beli pada poin sedikit di bawah EMA.

    Tren ini juga membantu kamu menentukan titik support dan resistance. Waktu tunda dalam menampilkan tren pada EMA yang pendek sangat membantu jika kamu ingin melakukan scalping. Namun, kamu harus jeli, terkadang EMA memberi sinyal palsu juga lho, Sobat Cuan.

    Untuk menghitung EMA, investor harus menghitung Simple Moving Average terlebih dulu dalam rentang waktu tertentu.

    Kemudian, untuk memberi bobot kepada EMA, investor akan mengalikannya dengan faktor pengali (multiplier), di mana formulanya adalah sebagai berikut: [2/(periode MA + 1)]. Sebagai contoh, untuk 20 hari Moving Average, maka faktor pengalinya adalah [2/(20+1)]= 0,09.

    Bagaimana beda Simple Moving Average dan Exponential Moving Average jika di grafik? Nah, jawabannya bisa kamu temukan di chart harga ETH di bawah ini yang menampilkan EMA 20 hari (garis ungu) dan SMA 20 hari (garis biru).

    Sumber: Trading View

    Grafik di atas memperlihatkan bahwa EMA selalu lebih dekat dengan pergerakan harga aslinya. Hal ini merupakan implikasi bahwa EMA berfokus pada pergerakan harga yang lebih baru.

    Baca juga: Yuk, Kenalan Dengan 2 Jenis Indikator Ekonomi yang Pengaruhi Investasi

    3. Double Exponential Moving Average (DEMA)

    Ada kalanya beberapa trader menggunakan lebih dari satu EMA untuk menentukan momentum. Salah satu yang cukup populer adalah double exponential moving average. 

    DEMA populer di kalangan trader pemula sebab akurasinya lebih baik ketimbang EMA, namun aplikasinya tidak terlalu sulit.

    DEMA mereduksi potensi sinyal palsu dari EMA dengan mengukur dalam dua garis yang mewakili dua tren berbeda seperti harga buka atau harga tutup. Momentum dalam DEMA memang lebih lambat ketimbang EMA, namun sinyal yang diberikan lebih otentik.

    Dengan begitu, kamu akan lebih mudah mengenali perubahan tren tanpa takut PHP.

    4. Triple Exponential Moving Average (TEMA)

    Tak cukup dua EMA? Kamu bisa mencoba tiga! Dengan TEMA, kamu bisa menghadirkan akurasi tren dengan waktu yang lebih cepat.

    Ketiganya, yakni EMA, DEMA dan TEMA kerap dikolaborasikan untuk menghitung tren menggunakan TRIX. Yakni, sebuah momentum indikator yang bisa memberikan kamu informasi kapan harga sedang terlalu mahal atau terlalu murah.

    5. Weighted Moving Average (WMA)

    Moving average jenis ini disebut juga peramal masa depan sebab akurasinya yang tinggi.

    Weighted moving average merupakan pengembangan dari moving average dengan menambahkan bobot terdistribusi dalam penghitungannya. Distribusi beban yang diberikan pada data AKAN memengaruhi akurasinya. Biasanya, beban yang diberikan berkisar 1-100% dan didistribusikan pada periode yang akan dihitung berdasarkan harga.

    Beban pada harga proyeksi lebih berat ketimbang beban pada harga historis. Deret ini akan memberi taHu kamu besaran harga total dalam satu periode. Saat disajikan dalam grafik, garisnya jadi sangat akurat.

    Tak hanya bagi trader pasar modal, WMA juga berjasa bagi para stockist dan pedagang retail untuk menghitung stok barang dagangan dan harga rata-rata yang berfluktuasi.

    6. Wilder Smoothing Moving Average (WSMA)

    Jenis ini kurang populer disebabkan kurangnya sensitivitas terhadap perubahan harga. Moving average ini lebih khusus digunakan untuk mengukur support dan resistance.

    Pola penghitungannya mirip dengan EMA, dengan memperhalus noise pasar sehingga tren bullish dan bearish dapat terbaca lebih jelas. Pengembangnya, yakni J Welles Wilder, juga mengembangkan indikator lain seperti RSI, average true range, dan directional movement.

    WSMA dapat memberi kamu gambar yang jelas mengenai aktivitas pasar dengan menampilkan perhitungan periodikal tanpa distorsi.

    Jadi, apakah kamu siap menggunakan indikator MA ini saat trading? Kamu bisa mencobanya dengan menggunakan aset kripto di Bitcoin dan Ethereum yang tersedia di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Enrich Brooking, Meta Trader, Corporate Finance Institute



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Coin Burn, Mekanisme Unik demi Kestabilan Harga BNB

    Sobat Cuan pasti mengetahui bahwa aset kripto besutan Binance, Binance Coin (BNB), kini menjadi salah satu aset kripto yang paling populer. Hal ini tercermin dari nilai kapitalisasi pasarnya yang sudah mencapai US$44,93 miliar, atau menduduki peringkat keempat aset kripto paling populer sejagat.

    Salah satu aspek yang bikin Binance Coin populer adalah kegunaannya di ekosistem yang dikelola oleh empunya, yakni platform exchange kripto Binance. Selain itu, pertumbuhan harganya pun terbilang kinclong. Kini, sekeping BNB dibanderol US$293,5 atau melesat jauh dibandingkan US$0,1 per keping saat diluncurkan 2017 silam.

    Nah, salah satu mekanisme yang bikin harga BNB stabil sejak awal adalah mekanisme bakar koin (coin burn). Lantas, apa itu Coin Burn BNB? Yuk, kita simak penjelasannya berikut!

    Baca juga: Apa Itu Binance Coin (BNB)?

    Penjelasan Singkat Coin Burn Binance Coin

    Secara singkat, coin burn adalah proses pengurangan koin-koin secara permanen di dalam pasar. Sehingga, jumlah suplai BNB yang beredar pun akan menurun.

    Hal ini dilakukan Binance untuk menjaga kestabilan harga BNB. Seperti apa penjelasannya?

    Sejak diluncurkan, Binance berharap bahwa suplai BNB hanya dibatasi di angka 200 juta keping saja.  Namun, sesuai hukum ekonomi, suplai yang lebih tinggi dibanding permintaan tentu bisa akan membuat harga suatu barang jatuh.

    Sehingga, Binance mengintervensi dari sisi suplai BNB dengan cara “membakar koin” demi menjaga suplai Binance Coin tetap stabil. Pembakaran koin itu tentu akan menyebabkan suplai BNB terus menipis, sehingga harganya pun tidak anjlok. Nah, fitur inilah yang membuat pecinta aset kripto sangat senang mencari cuan dari trading Binance Coin.

    Mekanisme Coin Burn Binance Coin

    Sejak awal, Binance sudah berencana untuk melakukan coin burn setiap kuartal setiap tahunnya sampai suplai BNB beredar mencapai 100 juta keping. Alias, setengah dari total BNB beredar yakni 200 juta.

    Adapun saat ini suplai Binance Coin tercatat 153 juta keping. Sehingga, Binance masih perlu terus membakar koinnya hingga mencapai level yang dimaksud. Para analis sendiri memprediksi bahwa proses burn sendiri akan berlangsung lebih dari lima tahun.

    Istilah coin burn Binance Coin ini mirip sekali dengan aksi buyback yang dilakukan oleh pemilik saham untuk mendongkrak harga sahamnya di pasar modal. Nah, dalam dunia aset kripto, coin burn adalah pembelian kembali token BNB untuk menjaga harganya tetap stabil.

    Bagaimana caranya Binance mengetahui jumlah Binance Coin yang dibakar setiap bulannya? Yakni, dengan mendasarkannya pada volume trading BNB yang terjadi dalam tiga bulan sebelumnya.

    Jangan bayangkan proses coin burn seperti benar-benar membakar koin ya, Sobat Cuan. Sebab, proses pembakaran koin ini tentu menggunakan fungsi burn yang terdapat di smart contract milik protokol Binance.

    Adapun mekanisme pembakaran koin BNB adalah sebagai berikut.

    1. Pemilik koin akan menggunakan fungsi burn pada sistem Binance. Di situ, mereka akan menulis jumlah koin yang ingin dibakar pada kuartal tersebut.
    2. Kontrak kemudian akan memverifikasi bahwa pemilik koin memang benar-benar memiliki Binance Coin di dompet digital mereka.
    3. Permintaan burn tidak akan berhasil jika koin yang mereka miliki tidak cukup
    4. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, maka koin-koin tersebut akan otomatis dikurangi dari dompet digital mereka untuk selamanya.

    Ketika Binance Coin masih berada di atas jaringan blockchain Ethereum, Binance akan membakar koin menggunakan fitur smart contract di dalamnya.

    Kapan Coin Burn Terakhir Dilakukan?

    Adapun coin burn terakhir dilakukan pada April lalu, di mana Binance telah membakar lebih dari 1 juta token BNB bernilai US$595 juta. Ini merupakan pembakaran yang terjadi ke-15 sejak aset kripto ini diluncurkan.

    Dari segi nilai, coin burn ini merupakan pembakaran token BNB terbesar yang pernah dijalankan. Ini lantaran harga BNB telah melompat 16 kali lipat sepanjang kuartal I lalu dari US$35 per keping menjadi US$600. Hal tersebut bisa terlihat dari grafik berikut.

    Sumber: The Block Research

    Coin burn pada April tersebut mengindikasikan bahwa Binance telah membakar 15,3% dari total suplai BNB sebesar 200 juta koin. Sehingga, Binance hanya tinggal membakar sisa 35%-nya saja.

    Bagaimana Dampak Coin Burn Terhadap Harga Binance Coin?

    Beberapa analis berpandangan, mekanisme coin burn akan berdampak pada harga BNB yang positif. Hal tersebut juga sudah terefleksi dari harga token BNB yang berhasil unggul dari token terbesar secara kapitalisasi pasar, Bitcoin, bahkan hampir 100% pada bulan April lalu.

    Selain itu, pada tahun ini saja, Binance Coin sudah melesat sebanyak 1.300% dan lebih dari 43.000% sejak aksi Initial Coin Offering (ICO) pertama kali dilakukan pada tahun 2017.

    Jadi apakah kedepannya harga token BNB bisa terus melesat sejalan dengan aksi burn coin yang dilakukan? Tidak ada yang tahu. Tetapi, paling tidak, dari pergerakan harganya yang sudah terlihat sejak awal pertama kali dirilis, Sobat Cuan bisa melihat bagaimana prospek kedepannya.

    Sobat Cuan tentu tidak sabar kan untuk menggenggam Binance Coin? Yuk, tunggu kehadirannya di Pluang!

    Baca juga: Ampun Bang Jago! Ini 7 Aset Kripto Yang Berani Nantang Dominasi Bitcoin!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: The Block Crypto, Binance, Benzinga



    Sumber : pluang.com

  • Bagaimana Nasib Saham Coca-Cola ke Depan Pasca Digocek Ronaldo?

    Beberapa pekan lalu, saham Coca Cola (NYSE:KO) menjadi sorotan publik. Betapa tidak, harga saham perusahaan minuman ringan berkarbonasi paling terkenal sejagad itu merosot hingga menyentuh level US$54,67.

    Hal itu terjadi setelah aksi mega bintang sepak bola, Christiano Ronaldo saat konferensi pers Piala Eropa memilih untuk meminum air mineral ketimbang Coca Cola sembari menyingkirkannya.

    Merosotnya harga saham Coca Cola tersebut langsung terjadi begitu Ronaldo lebih memilih minuman mineral. Setelah konferensi pers berlangsung, saham minuman bersoda itu langsung anjlok ke angka US$55,22 per saham. Padahal, nilai saham Coca Cola masih di angka US$56,10 per lembar.

    Alhasil, hal sepele yang dilakukan oleh pemain Juventus itu diduga sukses membuat kapitalisasi pasar Coca Cola lenyap US$4 miliar. Alias, sekitar Rp58,10 triliun dalam sekejap. Ternyata, Ronaldo yang memiliki hampir 300 juta pengikut di Instagram itu di nilai sangat mumpuni dalam menggerakkan pasar.

    Tapi, apakah justru peristiwa ini membuka masa depan yang buruk bagi saham Coca Cola? Lantas, bagaimana seharusnya investor pasar modal memaknai peristiwa tersebut?

    Baca juga: Tips dan Pelajaran dari Investasi Cryptocurrency

    Benarkah “Ronaldo Effect” Mengguncang Saham Coca Cola?

    Hanya saja, beberapa analis memilih untuk meyakini bahwa gestur Ronaldo tidak serta merta bikin harga saham Coca Cola anjlok. Salah satu argumen tersebut dilontarkan tim riset dari lembaga manajemen investasi, Canterbury Investment Management.

    Mereka beralasan bahwa harga saham Coca Cola memang tengah mengalami koreksi teknikal yang normal pada saat itu. Sialnya, koreksi tersebut terjadi bertepatan setelah sang superstar sepak bola itu memberikan konferensi pers. Akhirnya, terciptalah cocoklogi antara keduanya.

    Canterbury mendasarkan argumennya pada analisis teknikal saham Coca Cola saat itu.

    Menjelang konferensi pers berlangsung, saham Coca Cola terlihat terus menciptakan titik support dan resistance baru yang mengarah ke uptrend. Hanya saja, saat konferensi pers itu berlangsung, saham tersebut gagal menembus titik resistance berikutnya.

    Hal itu, menurut mereka, murni disebabkan oleh pergerakan penawaran dan permintaan di pasar saham. Ketika trader melihat tren kenaikan di sebuah harga aset, sudah barang tentu aksi jual akan lebih besar dibanding aksi beli.

    Coca-Cola (KO) chart
    Sumber: Canterbury Investment Management

    Makanya, perusahaan manajemen itu mengatakan bahwa koreksi yang terjadi saat itu terbilang normal lantaran dinamika ini sering terjadi di pasar saham. Hanya saja, gagalnya saham Coca Cola menembus titik resistance baru ini terjadi setelah Ronaldo memindahkan dua botol Coca Cola tersebut.

    Lebih lanjut, mereka berkesimpulan bahwa gestur Ronaldo itu hanya menciptakan “market noise”. Yakni, fluktuasi harga saham harian yang sebenarnya tidak begitu berpengaruh ke performa saham secara keseluruhan.

    Mereka juga mengatakan bahwa harga aset pasar tetap dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Bukan semata-mata gerak-gerik sosok populer yang disorot oleh media.

    Apakah Aksi Ronaldo Bikin Prospek Saham Coca Cola Redup?

    Karena disebut market noise, tentu saja hal itu tidak akan mempengaruhi indikator utama yang menjadi pondasi harga saham Coca Cola. Yakni, aspek fundamentalnya. Bahkan, beberapa analisis mengatakan bahwa fundamental Coca Cola masih akan mumpuni sepanjang tahun ini.

    1. Proyeksi Morgan Stanley

    Perusahaan investment bank asal AS Morgan Stanley mengatakan bahwa penjualan Coca Cola diprediksi akan membaik. Ya, meski pada April lalu perusahaan ini membukukan penurunan penjualan sebesar 25% di kuartal I 2021, namun optimisme ekonomi AS diharapkan akan bikin penjualannya moncer kembali.

    Mengapa demikian? Saat ini Coca Cola termasuk ke dalam sektor consumer staples di dalam S&P 500. Adapun, barang-barang besutan perusahaan yang bergerak di dalamnya biasanya akan mengalami peningkatan pendapatan saat daya beli masyarakat membaik.

    Alhasil, Morgan Stanley meramal bahwa saham Coca Cola di akhir tahun ini bisa mencapai US$64 per lembar. Angka itu bertumbuh 18,58% dibanding harga saat ini US$54 per lembar. Bahkan, angka tersebut juga lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya yakni US$60 per lembar.

    “Coke akan merilis pemulihan konsensus top-line (penjualan) di atas rata-rata hingga tahun 2022,” jelas analis Morgan Stanley Dara Mohnesian dalam risetnya.

    Beberapa analis memproyeksikan bahwa Coca Cola hanya akan memulihkan sekitar 35% dari penurunan penjualan di tahun 2020 selama dua tahun mendatang. Prediksi tersebut bisa diartikan bahwa angka penjualan Coca Cola akan berada jauh di bawah produk konsumen sejenis yang tingkat pemulihannya berkisar di angka 70% hingga 80%.

    Namun, Morgan Stanley memilih optimistis. Menurutnya, restrukturisasi biaya produksi dan operasional yang dilakukan perusahaan saat ini seharusnya juga menjadi pertimbangan memproyeksi harga sahamnya ke depan.

    2. Proyeksi Trefis

    Di sisi lain, lembaga riset Trefis juga mengatakan bahwa optimisme ekonomi AS bisa membawa angka penjualan Coca Cola terbang di 2021. Untuk itu, mereka memperkirakan bahwa pendapatan Coca Cola Amerika Utara akan naik dari US$13,5 juta di tahun lalu menjadi US$15 juta di tahun ini.

    Alhasil, hingga akhir tahun ini, lembaga tersebut meramal bahwa harga saham Coca Cola bisa menembus US$59,54 per lembar. Atau, naik sekitar 10% dari posisi saat ini di kisaran US$54 per lembar.

    Jadi, bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu juga tertarik kecipratan cuan Coca Cola? Yuk, segera investasi di Pluang S&P 500!

    Di Pluang, kamu bisa mengakses 500 perusahaan top AS, termasuk Coca Cola, hanya dalam satu genggaman aplikasi saja, lho. Yuk, investasi sekarang!

    (Baca juga: Harganya Turun, Sepenting Apa Sih Investasi Ethereum di Portofolio Kamu?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Nasdaq, Barrons, Treffi



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Simak 5 Hal Esensial yang Perlu ada di Financial Planning!

    Sobat Cuan, apakah kamu percaya bahwa masa depanmu tidak selalu tergantung dengan besaran gaji atau penghasilanmu? Ya, benar sekali. Jangan jadikan penghasilanmu sebagai batu sandungan mencapai hidup yang lebih mumpuni. Sebab, kamu masih bisa mencapainya dengan financial planning yang baik!

    Membuat financial planning sebetulnya mudah untuk dilakukan. Hanya saja, kamu perlu disiplin dan sabar dalam menjalankannya. Kalau kamu merasa menyerah di tengah jalan, ketahuilah bahwa perencanaan keuangan memiliki manfaat yang banyak untukmu.

    Selain kedua hal itu, kamu juga perlu mengetahui lima dasar perencanaan keuangan yang benar-benar paling dasar sebelum memulainya. Nah, apa saja lima hal dasar dalam perencanaan keuangan tersebut?

    5 Hal Dasar Financial Planning

    1. Budgeting

    Basis awal dari memahami budgeting adalah memahami apa kebutuhan dan keinginanmu. Setelah itu, kamu bisa melakukan budgeting sebenarnya, yakni menyusun daftar pengeluaran rutin bulanan kamu berdasarkan pemasukan kamu.

    Daftar ini akan memberikan kamu pemetaan terhadap pos-pos pengeluaranmu. Peta itu bisa jadi tolok ukur kamu dalam membuat strategi finansial yang menguntungkan kamu di masa depan.

    Peta pengeluaran ini juga akan membuatmu berhenti sejenak dan berpikir logis saat akan membeli sesuatu. Bisa jadi itu hanya dorongan sesaat, atau malah langkah cerdas untuk membantumu berhemat di waktu-waktu berikutnya.

    Bagaimana cara membuta bajet? Cara tersimpel adalah dengan mencatatnya di kertas. Tapi saat ini sudah banyak kok aplikasi budgeting yang akan membudahkan kamu membuat fondasi dasar perencanaan keuangan.

    2. Memotong Pengeluaran

    Peta pengeluaran akan membuatmu memahami area mana yang sudah efisien dan yang masih bisa ditekan. Misalkan saja, rata-rata orang Amerika Serikat 50 tahun lalu menghabiskan 30% gajinya untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Tapi, mereka kini bisa menekannya hingga 15-20% perbulan berkat adanya peta pengeluaran.

    Budgeting kamu mungkin berbeda dari orang lain sesuai kebutuhanmu. Kamu mungkin memerlukan pengeluaran lebih besar di satu pos dibanding orang lain. Namun, penting untukmu mengevaluasi secara berkala pos tersebut dan membuat keputusan finansial yang lebih efisien.

    Menghemat pengeluaran penting agar ruang finansialmu bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain seperti melunasi utang dan berinvestasi.

    Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

    3. Bebas Utang

    Utang sebetulnya bukan sesuatu yang buruk selama kamu bisa mengelolanya dengan disiplin. Namun, hidup ini akan terasa lebih menyenangkan tanpa utang, bukan?

    Apalagi kalau utang kamu memiliki bunga yang tinggi seperti berutang dengan kartu kredit atau paylater. Melunasinya akan membuatmu hemat bunga dan admin.

    Cara termudah untuk melunasi utang saat keuanganmu masih terbatas adalah berusaha membayarnya melebihi jumlah minimum. Sementara itu, coba cari cara untuk melunasinya langsung dengan menghemat pengeluaran lain, atau cari pemasukan tambahan ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Biar Gaji Jakarta Gak Ambyar, Simak 10 Cara Tekan Biaya Hidup di Jakarta!

    4. Tabungan Pensiun. Financial Planning demi Masa Depan

    Orangtua kerap memintamu ikut CPNS dan jadi abdi negara, salah satunya karena CPNS dianggap pekerjaan yang menjamin hari tuamu. Kamu boleh saja tidak sepakat dengan anjuran tersebut, tapi mengenai simpanan hari tua mereka ada benarnya.

    Memiliki simpanan untuk masa pensiun sangatlah penting. Apa kamu mau kerja serabutan selepas pensiun nanti demi memenuhi kebutuhan hidup?

    Tabungan ini sebaiknya mulai disisihkan sedini mungkin, semakin muda semakin baik. Begitu kapital investasimu terbentuk, uang akan berkerja untukmu sementara kamu bisa hidup bersantai di hari tua.

    Kamu bisa membuat tabungan pensiun melalui lembaga khusus atau membentuk portofoliomu sendiri. Kamu juga bisa merancang sendiri berapa pendapatan pasifmu nanti saat sudah terlalu tua untuk bekerja lagi.

    Tidak perlu jadi PNS, kalau kamu disiplin berinvestasi, pensiunmu bisa tetap gemah ripah loh jinawi!

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    5. Financial Planning Makin Komplet dengan Asuransi

    Proteksi perencanaan keuangan kamu dengan asuransi. Ini penting sekali ya, Sobat Cuan. Banyak orang gagal jadi sultan karena hal tidak terduga seperti menderita penyakit berat, atau terkena bencana alam.

    Tidak ada yang bisa memprediksi kejadian alam atau nasib seseorang. Tidak seperti pasar, takdir memiliki tren yang hanya diketahui Tuhan.

    Tapi, kamu bisa meminimalisir dampak negatif terhadap kamu dan keluarga dengan membeli sejumlah polis asuransi. Asuransi kesehatan adalah yang terpenting. Selain itu, kalau kamu punya cicilan di bank atau kartu kredit, membeli polis asuransi jiwa akan membuat keluargamu hidup tenang jika sewaktu-waktu kamu berpulang.

    Proteksi kendaraan dan rumah dengan asuransi kecelakaan dan bencana alam juga perlu kamu pertimbangkan. Banyak sekali manfaatnya, misalkan saja jika dijalan mobil mulusmu terserempet kamu tidak perlu cepat naik darah, kan?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: The Balance



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Begini Lho Panduan Cara Baca Fund Fact Sheet Reksadana!

    Semua sepakat bahwa reksadana adalah investasi yang mudah. Kamu bisa mendulang cuan hanya dengan rebahan saja. Sampai-sampai kamu pun akhirnya dikirimi lembaran kinerja investasi reksadanamu yang bertajuk fund fact sheet.

    Mungkin kamu bertanya-tanya. Apa itu fund fact sheet? Apa guna fund fact sheet? Dan bagaimana cara baca fund fact sheet? Nah, mungkin ada baiknya Sobat Cuan memperhatikan artikel ini dengan seksama!

    Apa Itu Fund Fact Sheet?

    Secara garis besar, fund fact sheet adalah laporan produk reksadana yang diterbitkan manajer investasi terkait kinerja produk reksadana, informasi portofolio dan jumlah dana kelolaannya. Banyaknya informasi dalam selembar laporan ini memaksa kamu untuk memahaminya agar tepat memilih produk reksadana

    Ketika melihat fund fact sheet tersebut, kamu akan disajikan data tentang kinerja reksadana dalam bentuk grafik dan angka yang terkesan rumit. Kira-kira seperti apa sih, contoh fund fact sheet tersebut? Nah, kamu bisa lihat contohnya di bawah ini.

    Cara Baca Fund Fact Sheet
    Fund Fact Sheet Produk UOB Dana Membangun Negeri

    Terlihat “padat” ya, Sobat Cuan. Tapi, memahami fund fact sheet penting banget lho buat investor reksadana. Sebab, grafik ini memberi tahu kamu kinerja produk reksadana yang kamu beli dan bagaimana prospeknya ke depan. Hal ini tentu saja bisa membantumu menentukan keputusan investasi.

    Biasanya, fund fact sheet merupakan bagian dari laporan reksadana meliputi kinerja dan operasional. Kamu bisa mengaksesnya lewat situs resmi manajer investasi, berikut dengan prospektus, laporan keuangan, laporan tahunan.

    Pentingnya Mengetahui Cara Baca Fund Fact Sheet

    Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang, mengetahui cara baca fund fact sheet akan membantu kamu mengenal produk yang akan kamu beli. Aktivitas ini sangat disarankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar investasi kamu tidak seperti membeli kucing dalam karung.

    Kamu bisa memilih lebih dari 300 produk reksadana berbagai jenis yang ada di Indonesia. Disana, kamu bisa menyamakan visi investasi kamu dengan manajer investasi dan produknya.

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Cara Baca Fund Fact Sheet

    Hal pertama yang harus kamu pastikan saat membuka fund fact sheet adalah kesesuaiannya dengan tujuan investasi kamu. Juga, pastikan bahwa risikonya bisa mengakomodasi profil risiko kamu.

    Misalkan saja, investasi kamu bertujuan untuk mengumpulkan pundi-pundi pensiun tanpa harus khawatir terkikis investasi. Maka kamu dapat mencari poin ini dalam fund fact sheet. Seberapa likuid dan baiknya performa produk bisa jadi pertimbangan juga agar investasi kamu tepat sasaran.

    Selebihnya, pahami poin-poin berikut ya, Sobat Cuan.

    1. Nilai Aktiva Bersih (NAB)

    Ini adalah nilai total investasi dalam produk reksadana. NAB dihitung tiap hari atau tiap periode tertentu berdasarkan harga pasar atas aset dalam portofolio. Nilai ini dikurangi beban seperti biaya pengelolaan, biaya kustodi dan pajak. Jadi NAB sudah bebas pajak.

    2. Unit Penyertaan 

    Unit penyertaan adalah nilai satuan reksadana dalam hitungan perunit yang mengacu pada tingkat penjualan atau pembelian reksadana tertentu.

    Nilai NAB ini kemudian dibagi jumlah unit penyertaan menjadi NAB/UP atau NABa, di mana inilah nilai satu unit reksadana yang akan kamu pegang nanti. Fluktuasinya adalah cuan dan rugi kamu dalam investasi di instrumen ini. Jadi, perhatikan dengan seksama ya!

    3. Kinerja Reksadana

    Kamu bisa melihat kinerja reksadana secara historis dalam periode tertentu juga lho, Sobat Cuan. Biasanya periode yang dihitung adalah 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan atau tahun kalender (year-to-date).

    Katanya sih, kinerja historis tidak selalu mencerminkan prospek reksadana. Tapi, setidaknya kamu bisa membaca pola kinerja dari data historis ini.

    4. Kinerja Pembanding

    Agar kamu lebih mudah membandingkan produk satu dengan lainnya, biasanya MI membuat benchmark dalam fund fact sheet. Kamu bisa membacanya untuk mengetahui bagaimana kinerja produk kamu dibanding produk lain yang sejenis.

    5. Alokasi Investasi dan Portofolio

    Diantara semuanya, inilah yang paling penting kamu perhatikan. Informasi inu menampilkan proporsi pengelolaan dana dalam berbagai instrumen dan efek tertentu.

    Kamu bisa menyesuaikan dengan tujuan investasi kamu dan analisa tentang prospek perekonomian ke depan. Pilih yang paling sesuai dengan tujuan kamu ya, Sobat Cuan.

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak Yuk Tips Memilih Reksadana yang Tepat!

    Cara Membaca Risiko dalam Fund Fact Sheet

    Meski terbilang sebagai instrumen yang aman, risiko dalam reksadana juga harus kamu waspadai ya.

    Fund fact sheet biasanya menampilkan profil risiko produk berdasarkan klasifikasi dan jenisnya. Adapun  risiko yang umumnya perlu jadi bahan pertimbangan kamu adalah berkurangnya nilai NAB UP, likuiditas, perubahan alokasi efek, nilai investasi sampai faktor makroekonomi dan aturan perpajakan.

    Selain itu, dalam aturan yang berlaku di Indonesia, sebuah produk reksadana bisa dilikuidasi dan dibubarkan apabila dana kelolaannya berada di bawah Rp10 miiar dalam 120 hari kerja bursa berturut-turut. Likuidasi juga bisa dilakukan jika MI mangkir dari aturan OJK.

    Apakah Sobat Cuan sudah cukup paham dengan fund fact sheet? Yuk, segera mulai investasi reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Automated Market Makers, Motor Penggerak Teknologi DeFi

    Dunia kripto memang luas, Sobat Cuan. Sampai-sampai, kini mendulang cuan aset kripto tak hanya dengan trading namun juga dengan memanfaatkan ekosistem Decentralized Finance (DeFi).

    Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa seluruh ragam aplikasi DeFi berjalan di atas sistem smart contract beserta satu mekanisme lain yang adalah Automated Market Makers (AMM). Lantas, apa sih arti Automated Market Makers itu sendiri?

    Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Untuk itu, yuk kenali konsep AMM di dalam DeFi di artikel ini!

    Apa Itu Automated Market Makers?

    Secara singkat, Automated Market Makers adalah mekanisme pasar di dunia DeFi di mana besaran harga tidak ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Kemajuan teknologi memungkinkan mekanisme tradisional ini digantikan dengan formulasi matematis yang konstan.

    Seperti yang kita tahu, proyek DeFi terdiri dari banyak ragam. Mulai dari yield farming, crypto lending, dan sebagainya. Selain itu, ada pula platform DeFi yang berfungsi sebagai exchange crypto terdesentralisasi (DEX), misalnya Uniswap. Nah, mekanisme Automated Market Makers ini umum diterapkan di platform yang namanya disebut belakangan ini.

    Mengapa demikian? Platform DEX tentu memfasilitasi banyak transaksi per hari dengan likuiditas yang juga deras. Apalagi, jumlah penggunanya terus meningkat setiap saat.

    Sehingga, jika proses transaksi menggunakan order book seperti platform exchange kripto pada umumnya, maka proses penentuan harga jual-beli di platform DEX tentu akan memakan waktu.

    Maka dari itu, platform DEX lebih memilih menggunakan formula matematika dan algoritma untuk menentukan harga jual-beli aset kripto di dalamnya. Tujuannya tentu saja agar transaksi di platform DEX lebih cepat dan efisien.

    Cukup menarik untuk disimak bukan, Sobat Cuan?

    Automated Market Makers Adalah Evolusi Pasar

    Proyek AMM langsung menarik perhatian dunia investasi ketika pertama kali diimplementasikan pertama kali oleh Shearson Lehman Brothers dan ATD pada 1990. Awalnya temuan ini hanya dimaksudkan untuk mengefisiensikan proses transaksi di pasar modal.

    Sebelum AMM ditemukan, seluruh harga ditentukan melalui order book. Di mana, broker, market makers, dan trader menulis harga permintaan (ask) dan harga penawaran (bid) secara manual. Namun sayangnya, proses ini justru rawan potensi kecurangan dan menghambat likuiditas perdagangan.

    Untuk itulah mereka memperkenalkan AMM. Idenya sederhana, yakni mengganti proses pembentukan harga dari proses tawar menawar secara manual dengan pembentukan harga menggunakan algoritma. Hal ini akan meminimalisisasi potensi terjadinya kecurangan juga menambah likuiditas di pasar

    Sejak 1990 hingga awal 2000 Automated Market Makers terus dikembangkan. Kini, sebagian pasar tersentralisi seperti Nasdaq sudah menggunakan AMM dalam skala tertentu.

    Mekanisme Automated Market Makers

    Sistem AMM bekerja layaknya order book pada umumnya.

    Namun, sang trader tidak perlu berinteraksi dengan trader lainnya untuk untuk menentukan harga bid dan ask. Malahan, mereka justru akan berinteraksi dengan teknologi smart contract, di mana teknologi ini akan membuat “pasar personal” untuk mereka sendiri. Sistem inilah yang membuat AMM dikenal sebagai sistem peer-to-contract (P2C).

    Selain itu, sistem AMM juga tak mengenal order book, sehingga di dalamnya pun tak ada tipe-tipe order. Alasannya, tentu saja karena harga terbentuk dari formula matematis tertentu.

    Sistem AMM merupakan kebalikan dari sistem tukar menukar aset kripto secara peer-to-peer transaction. Alias, transaksi yang bisa dilakukan langsung antar dompet digital (wallet) milik trader.

    Misalnya seperti ini. Jika kamu menjual Binance Coin (BNB) dan menukarnya dengan BUSD di Binance DEX, maka akan ada trader lainnya di seberang sana yang berlaku sebaliknya. Yakni, menjual BUSD miliknya demi mendapatkan BNB.

    Orang-orang konvensional mungkin tidak dapat membayangkannya di waktu lalu. Bagaimana mungkin kamu berdagang dengan orang yang tidak kamu percaya tanpa perizinan. Jika pasar konvensional mengharuskan proses tawar menawar, mesin dan algoritmanya membuat segalanya jadi mungkin.

    Liquidity PoolsLiquidity Provider Adalah Sumber Kehidupan Automated Market Makers

    Jika sang trader tak perlu menemui trader lain di mekanisme AMM dan harga ditentukan oleh algoritma, maka dari mana asalnya likuiditas di smart contract tersebut? Nah, hal itu berasal dari kumpulan pemilik token kripto yang disebut Liquidity Providers (LPs).

    Para LPs ini kemudian akan menaruh dananya di platform yang disebut “kolam uang” (Liquidity Pools). Liquidity Pools inilah yang akan memberi “pasokan koin” bagi sistem likuiditas Automated Market Makers. Sehingga, para trader bisa menukar aset kriptonya kapan saja tanpa takut stok aset kripto incaran mereka menipis di pasar.

    Semua orang dengan koneksi internet dan kepemilikan token ERC-20 bisa menjadi Liquidity Provider. Mereka akan mendapat keuntungan berupa fee yang dibayarkan trader, juga yield jika mereka melakukan yield farming.

    Saat liquidity pools dipenuhi aset, tentu proses jual beli jadi lebih mudah tereksekusi. Namun, saat pasar sepi, bukan berarti dagangan trader tidak laku. Automated Market Makers membuat likuiditas bukan lagi isu dalam liquidity pools.

    Formula Produk yang Konstan

    Bagaimana cara Automated Market Makers menyingkirkan proses tawar menawar dalam pembentukan harga? Caranya ialah dengan membuat formula produk yang konstan.

    Semua ini berawal dari postingan blogger yang juga pendiri Ethereum, yakni Vitalik Buterin. Dia membuat formulasi matematis yang bisa berlaku dalam berbagai format.

    Formulanya: tokenA_balance(p)*tokenB_balance(p)=k

    Konstanta balance di pool yang diciptakan oleh formula ini membuat tawar menawar jadi tidak perlu. Tiap kali user membeli token A, maka balance-nya turun. Ini akan membuat token B harganya naik sebab balance-nya lebih besar. Sementara itu, jumlah himpunan yang ada di pools tetaplah konstan.

    Model ini membuat trader terpacu untuk mengambil keuntungan dari perubahan konstan. Sehingga, meski konstan, pasar AMM tetap dinamis dan menarik.

    Automated Market Makers Perlu Variasi

    Di dalam postingan berjudul ‘on-chain money markets‘ itu, Buterin telah berhasil membuat konsep fundamental AMM yang berevolusi pesat sejak diinisasi Lehman Brothers.

    Hingga saat ini terdapat tiga model dominan dalam pasar AMM, yakni Uniswap, Curve dan Balancer. Ketiganya memiliki spesialisasi yang berbeda.

    Uniswap merupakan pionir teknologi yang memfasilitasi pengguna dengan kepemilikan ERC-20.

    Sementara itu, Curve mengambil ceruk pasar lain, yakni menyediakan liquidity pools untuk aset serupa seperti stablecoins. Hasilnya, Curve bisa menawarkan bunga terendah dan trading yang efisien.

    Di sisi lain, Balancer memperluas batas Uniswap dengan membuat pengguna dapat memiliki kumpulan likuiditas yang dinamis hingga delapan jenis aset berbeda dalam rasio apapun.

    Buterin berpandangan bahwa automated market makers harusnya bervariasi. Tak hanya itu, seharusnya ada mekanisme lainnya untuk decentralised trading.

    Sebab, pertukaran non-AMM sangat penting untuk menjaga akurasi harga di pasar otomatis itu.

    Nah, ternyata dunia DeFi menarik ya, Sobat Cuan? Setelah belajar mengenai DeFi, sekarang saatnya kamu pun memanfaatkaannya untuk mendulang cuan!

    Caranya gampang banget. Kamu bisa menabung Bitcoin atau Ethereum di Pluang Cuan, dan dapatkan kesempatan mendulang bunga hingga sebesar 3,5% per tahun. Yuk, investasikan aset kriptomu di Pluang Cuan!

    Baca juga: Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Transaksi Makin Aman di Pluang dengan Fitur Fingerprint dan Face ID!

    Keamanan adalah aspek paling esensial dalam berinvestasi.

    Investor tentu ingin memasang tingkat keamanan tertinggi demi melindungi portofolionya masing-masing. Apalagi, kini aspek keamanan kian penting di tengah kencangnya aktivitas investasi secara digital melalui ponsel.

    Hanya saja, mempertebal sistem keamanan bisa menjadi hal yang merepotkan.

    Investor tentu membutuhkan waktu hanya demi membuka kunci password atau PIN akun investasinya. Masalah lain pun muncul saat investor lupa kombinasi angka-angka yang telah disusunnya hanya demi membuka akun.

    Untungnya, Pluang memahami keresahan tersebut. Kini, pengguna Pluang bisa memanfaatkan dua fitur keamanan baru berbasis biometrik, Sidik jari (fingerprint) dan pindai wajah (Face ID), dalam berinvestasi. Pengguna bisa memanfaatkan dua fitur baru ini jika telah memperbarui (update) aplikasi Pluang, yang bisa dilakukan di App Store maupun Google Playstore.

    Semakin gampang. Semakin nyaman. Semakin aman.

    Cara Mengaktifkan Biometrik Fingerprint dan Face ID di Aplikasi Pluang

    1. Update aplikasi Pluang.

    2. Masuk ke aplikasi Pluang dan klik menu “Account”. Setelahnya, pilih menu “Privacy & Security”.

    3. Geser pilihan “Biometrics” untuk mengaktifkannya.

    4. Seluruh data fingerprints dan Face ID yang tersimpan di smartphone akan terintegrasi secara otomatis dengan aplikasi Pluang.

    Selain itu, pengguna bisa menonaktifkan fitur tersebut kapanpun.

    Penggunaan PIN

    1. Setelah aktivasi keamanan biometrik selesai, Pengguna masih bisa menggunakan kode PIN hanya untuk membuka aplikasi, menarik dana dari aplikasi Pluang, dan menjual unit reksa dana.
    2. PIN masih akan tetap digunakan sebagai opsi lain untuk membuka aplikasi selain biometrik.
    3. Pengguna kini bisa memilih rentang waktu bagi aplikasi sebelum kembali terkunci secara otomatis. Rentang waktu itu terdiri dari:
      1. Segera setelah pengguna keluar dari aplikasi
      2. 1 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      3. 3 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      4. 5 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      5. 15 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      6. 1 jam setelah pengguna keluar dari aplikasi
      7. 4 jam setelah pengguna keluar dari aplikasi.

    4. Jika pengguna ingin masuk kembali ke aplikasi di atas rentang waktu yang dipilih, maka mereka perlu membukanya menggunakan PIN.



    Sumber : pluang.com

  • Bagaimana Dampak Dana Infrastruktur Biden Terhadap Pasar Saham AS?

    Pekan lalu, dana jumbo untuk pembangunan infrastruktur di Amerika serikat (AS) mendapat lampu hijau dari senat AS. Akhirnya, pemerintahan Biden pun bisa menggunakan dana sebesar US$953 miliar untuk membantu memulihkan ekonomi AS yang porak poranda akibat pandemi COVID-19.

    Sejak awal tahun, hal ini digadang-gadang bakal menjadi angin segar bagi pasar saham AS, utamanya tiga indeks utama yakni S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq.

    Lantas, apakah benar kondisi itu dapat terjadi? Dan seperti apa dampak rencana kebijakan tersebut terhadap indeks S&P 500 dan indeks saham lainnya? Nah, bagi Sobat Cuan investor S&P 500 ada baiknya membaca artikel ini hingga selesai, ya!

    Sekilas Tentang Anggaran Infrastruktur AS

    Biden menggulirkan wacana kebijakan ini tak berselang lama setelah legislatif AS menyetujui Undang-Undang (UU) paket stimulus ekonomi AS sebesar US$1,9 triliun, yang ditujukan untuk memulihkan ekonomi AS yang hancur akibat pandemi COVID-19.

    Biden pun akhirnya menyampaikan proposal anggaran infrastruktur tersebut pada Maret 2021. Harapannya, agar infrastruktur AS kian mumpuni dalam delapan tahun mendatang.

    Jika mengacu pada proposal awal, Biden mengusulkan anggaran sebesar US$2 triliun untuk kebijakan tersebut. Anggaran ini disebut sebagai bagian kedua dari upaya pemerintah AS untuk memulihkan ekonomi negara adidaya tersebut setelah UU stimulus.

    Lantas, bagaimana rincian alokasi paket infrastruktur Biden yang awal? Berikut tabelnya.

    Pos Pengeluaran Nilai Anggaran
    Transportasi US$621 miliar
    Bantuan Kesejahteraan Tenaga Kerja US$400 miliar
    Mendorong Industri US$300 miliar
    Perumahan US$213 miliar
    Riset dan Pengembangan US$180 miliar
    Air US$111 miliar
    Sekolah US$100 miliar
    Infrastruktur Digital US$100 miliar
    Pengembangan Tenaga Kerja US$100 miliar
    Rumah Sakit Veteran dan Bangunan Pemerintah Federal US$18 miliar
    TOTAL US$2,14 triliun

     

    Rencananya, Biden akan membiayai anggaran tersebut dengan menaikkan tarif pajak perusahaan dari 21% ke 28%. Selain itu, pemerintah AS juga akan meningkatkan angka minimum pajak perusahaan AS di luar negeri menjadi 21%.

    Tak hanya itu, Biden juga akan membebankan pajak pendapatan minimum 15% bagi perusahaan yang memiliki cuan melimpah. Atau biasa dikenal dengan book income.

    Rencana kebijakan Biden mencapai babak baru pada 24 Juni lalu, di mana Senat AS menyetujui “hanya” US$953 miliar dari kebutuhan awal US$2 triliun. Hal itu ia sampaikan setelah bertemu dengan 10 anggota Senat bipartisan.

    Baca juga: Apa Saja Sih,10 Perusahaan yang Berperan Besar di S&P 500? 

    Indeks S&P 500 dan Pasar Saham Bergeliat Karena Anggaran Infrastruktur

    Pasar saham AS sontak riuh ketika Biden memberikan pernyataan bahwa dana infrastruktur sudah disetujui oleh pihak parlemen.

    Indeks S&P 500 pada pekan lalu langsung naik 0,6% ke level 4.266 poin, melewati angka penutupan tertinggi pada 14 Juni lalu yang sempat menyentuh 4.255.

    Bursa saham lainnya, Nasdaq mencatat rekor dengan lonjakan sebesar 0,7% ke level 14.369. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Averaging (DJIA) yang selama ini menorehkan rapor merah pun ikut naik 1% di waktu yang sama.

    Sektor infrastruktur yang bakal kebanjiran dana jumbo juga merespon positif. Saham Caterpilar, misalnya, langsung naik 3% dan diikuti oleh saham perusahaan konstruksi Vulcan Materials yang mencatat kenaikan 3%.

    Baca juga: Investasi Antariksa AS Tahun Lalu Capai Rp124,6 Triliun

    Apakah Kebijakan Biden Terus Jadi Angin Segar bagi Saham AS & Indeks S&P 500?

    Jawabannya adalah ya. Terdapat banyak alasan mengapa anggaran infrastruktur akan menjadi katalis indeks S&P 500 dan pasar saham AS di masa depan.

    Pertama, adalah kenaikan permintaan. Maraknya proyek-proyek infrastruktur tentu akan bikin permintaan atas produk material, energi, dan keuangan menanjak. Hal itu, sudah pasti akan memperkuat sisi fundamental saham-saham perusahaan yang bergerak di sektor yang dimaksud.

    Bahkan, kepala manajemen investasi Commonwealth Financial Network Brian Price menjelaskan, bukan tidak mungkin return saham di tiga sektor di atas bisa melebihi imbal hasil dari saham teknologi.

    Selain itu, iklim pasar modal saat ini pun dipandang cerah, didukung oleh rencana The Fed yang masih galau dalam menaikkan suku bunga acuannya atau tidak. Kegalauan The Fed muncul di tengah data pre market yang mengatakan pertumbuhan ekonomi AS mencapai 6,4% di triwulan pertama.

    Saham Infrastruktur Jadi Juaranya

    Selain itu, beberapa analis mengatakan bahwa pemenang utama dari rencana anggaran infrastruktur Biden ini adalah saham-saham perusahaan material.

    Ada dua alasan yang mendasari argumen tersebut. Pertama, permintaan produk material sudah pasti meningkat. Kedua, infrastruktur yang dihasilkan bisa memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi kegiatan ekonomi lainnya. Di mana, efek pengganda ini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi menjadi lebih mumpuni.

    Kepala tim riset Bahan Dasar Morgan Stanley Carlos De Alba memprediksi, saham perusahaan semen dan baja akan mendulang cuan yang optimal setelah kebijakan ini disahkan. Betul, keduanya memang dua bahan material yang cukup diburu saat proyek-proyek infrastruktur.

    Bahkan, pergerakan saham-saham produsen material memang sudah memberi sinyal menguat sepanjang tiga bulan terakhir. Harga saham perusahaan produsen barang-barang konstruksi Caterpillar, misalnya, sudah naik 19% sepanjang tahun ini. Sementara itu, saham perusahaan pembangun rumah DR Horton juga naik 34% di waktu yang sama.

    Jangan lupakan juga harga sama perusahaan baja Nucor yang tumbuh 82% sejak awal tahun. Artinya, bisa dibilang bahwa saham-saham perusahaan material memang sensistif terhadap sentimen tersebut.

    Sektor Infrastruktur Punya Efek Pengganda Kuat

    Sobat Cuan perlu memahami bahwa pembangunan infrastruktur memiliki efek turunan yang tidak sedikit. Pasalnya, terdapat industri terkait yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan sektor tersebut.

    Beberapa analis menjelaskan, paket kebijakan senilai US$1 triliun selama 10 tahun dapat menambah 0,2 persen poin ke Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun berikutnya dan menambah 715.000 pekerjaan dalam 10 tahun.

    Wah, jadi kebayang kan, bagaimana cuan saham-saham perusahaan material ke depan?

    Kebetulan, beberapa saham perusahaan material juga termasuk menjadi satu dari 11 indeks S&P 500 juga, lho. Jadi, apakah Sobat Cuan juga tidak mau kecipratan cuan dari proyek infrastruktur Biden juga?

    Yuk, segera investasi di Pluang S&P 500! Di Pluang, kamu bisa mengakses 500 perusahaan AS secara mudah hanya dalam satu genggaman saja!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CNN, Forbes, Financial Express



    Sumber : pluang.com