Author: 10

  • Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

    Minggu lalu, jagat maya geger lantaran Ahok membongkar limit kartu kredit korporat yang diterimanya sebagai fasilitas komisaris dari BUMN Energi terbesar di Indonesia. Tak tanggung, limit kartu kredit Ahok mencapai Rp30 miliar!

    Wah, pasti Sobat Cuan sudah kebayang bakal belanja ini itu kan, kalau punya limit kartu kredit Rp30 miliar. Namun, sebagai Sobat Cuan, tentu peristiwa ini bikin kamu bertanya-tanya: Memangnya seperti apa sih penentuan limit kartu kredit di Indonesia?

    Nah, biar kamu tidak penasaran, yuk kita bahas mengenai seluk beluk limit kartu kredit!.

    Apa sih Limit Kartu Kredit?

    Tiap kartu kredit memiliki limit, yakni batas penggunaan kartu kredit untuk bertransaksi. Jika batas ini terlampaui, kamu akan dikenakan biaya over limit yang cukup menguras dompet.

    Karenanya, kartu kredit yang dianggap sakti adalah kartu yang menyediakan limit yang besar sehingga kamu tidak sampai over limit tiap bulannya.

    Baca juga: Sobat Cuan, Yuk Simak Cara Menghitung Bunga Deposito Anti Ribet!

    Bagaimana Cara Menentukan Limit Kartu Kredit?

    Limit ini ditentukan sepenuhnya oleh bank yang mengeluarkan kartu kredit. Berbeda jenis kartu kredit, maka berbeda pula limit yang ditawarkan.

    Namun pertanyaannya, apakah kamu feasible untuk memegang kartu kredit dengan limit besar? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, bank punya formulasinya untuk mengukur kecakapan kamu membayar tagihan kartu kredit kalau kamu menggunakannya kelas.

    Biasanya penentuan kecakapan ini dibuat berdasarkan kondisi ekonomi kamu seperti pendapatan bulanan, penghasilan, peringkat kelancaran kredit, jumlah simpanan di bank, dan banyak faktor lainnya. Yuk, kita bahas satu per satu

    1. Pendapatan Bulanan

    Faktor paling utama dalam penentuan kartu kredit mana dan limit berapa yang akan diberikan padamu adalah pendapatan. Wajar dong, bank tentu ingin agar kamu jangan sampai gagal bayar kartu kredit!

    Biasanya, bank akan memberikan limit kartu kredit senilai satu hingga tiga kali pendapatan bulanan. Jadi, kalau gaji kamu misalnya seukuran UMR, ya jangan berharap dapat kartu kredit platinum ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Jangan Ngaku Kaya Kalau Belum Punya Black Card! Apakah Itu Black Card?

    2. Total Utang di Bank

    Selain pendapatan, utang kamu juga akan dipertimbangkan. Jika kamu tidak punya utang, biasanya kamu akan mempeoleh limit yang lebih besar.

    Utang seperti kredit properti dan otomotif juga sangat diperhitungkan lho, Sobat Cuan. Bank memastikan betul apakah kamu masih mampu bayar cicilan kartu kredit di antara cicilan lainnya.

    Meski begitu, kalau kredit kamu lancar, bank mungkin akan memprioritaskanmu dapat kartu kredit karena kamu dinilai berintegritas.

    3. Domisili

    Kalau kamu nomaden biasanya sulit bagi bank untuk meloloskan aplikasi kartu kreditmu. Tentu saja bank akan menilai kamu sebagai nasabah berisiko, kalau-kalau nantinya kamu pindah dengan status gagal bayar.

    Namun, terdapat pula praktik menentukan kecakapan seseorang dalam menggunakan produk finansial berbasis domisili bernama redlining.

    4. Status Kepemilikan Rumah

    Sobat ngontrak apalagi ngekos mungkin akan kesulitan punya kartu kredit. Sebab, bank sangat memperhatikan status kepemilikan rumah saat ingin mengabulkan kartu kredit. Masih dengan alasan yang sama dengan domisili, bank tidak mau ambil resiko kamu akan wanprestasi lalu pergi meninggalkan cicilan kartu kredit begitu saja.

    5. Jumlah Pengajuan Pembuatan Kartu Kredit

    Bank Indonesia sebetulnya sudah membatasi kepemilikan kartu kredit, terutama bagi kelas menengah. Jika penghasilan kamu di bawah Rp10 juta, kamu hanya dapat memiliki dua kartu kredit saja.

    Namun, limit yang kamu dapat pada pengajuan kedua tentu tidak sebanyak jika kamu hanya punya satu kartu saja ya, Sobat Cuan. Tentu bank akan mempertimbangkan kemampuan membayar kamu jika limit keduanya sama-sama besar.

    6. Jumlah Kredit yang Diminta

    Saat mengisi aplikasi, kamu tetap berkesempatan meminta limit tertentu kok, Sobat Cuan. Meskipun nantinya keputusan final ada di tangan bank, nominal yang kamu ajukan tetap akan menjadi salah satu pertimbangan bank.

    7. Pengajuan Naik Limit Kartu Kredit

    Jika terlanjur dapat limit kartu kredit yang rendah, kamu tidak perlu berkecil hati. Kamu masih bisa mengajukan kenaikan limit melalui call centre bank penerbit kartu.

    Syaratnya, antara lain endapkan saldo tabungan kamu agar bank tau kamu masih mampu membayar limit yang lebih besar. Selain itu, pastikan kamu punya reputasi baik dengan melunasi kredit tepat waktu. Jangan biarkan tagihan bulan ini menunggak.

    Kamu juga harus aktif menggunakan kartu kreditmu. Kalau kamu punya kartu dari bank berbeda, coba saja lunasi kartu kreditmu dengan kartu lain. Cara ini akan membuat bank merasa punya kompetitor dan berusaha mempertahankanmu sebagai nasabah.

    Kartu Kredit Berlimit Besar

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa salah satu kartu kredit berlimit fantastis, dan juga eksklusif, adalah black card. Kartu besutan American Express ini memang ditujukan bagi orang-orang borjuis. Bahkan, kamu harus punya penghasilan minimal US$1 juta per tahun!

    Namun, terdapat pula beberapa black card versi lokal yang bisa kamu miliki kalau sudah tajir. Berikut daftarnya!

    1. BCA Visa Platinum

    Kamu bisa bertransaksi hingga ratusan juta dengan kartu ini. Limit besar ini diberikan kepada kamu yang berpenghasilan minimal Rp15 juta. Katanya sih, kartu ini memang khusus dibuat untuk orang-orang bak sultan yang sudah kaya raya dan mobilitasnya tinggi.

    2. BRI Infinite Card

    Khusus untuk nasabah prioritas BRI, kamu bisa memiliki kartu ini dengan mudah. Syaratnya? Taruh saja danamu minimal Rp500 juta di bank pelat merah itu.

    BRI Infinite Card memiliki limit beragam antara Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Besar, bukan?

    3. Mandiri Visa Platinum

    Limit kartu ini mencapai Rp10 juta hingga Rp1 miliar tergantung gajimu. Angka ini terbilang besar meskipun tidak sebesar punyanya Ahok ya, Sobat Cuan.

    Kamu juga harus berpenghasilan minimal Rp10 juta untuk dapat mengantonginya.

    4. BNI Visa Infinite

    Buat kamu yang suka bepergian keluar negeri, kartu ini akan cocok denganmu. Sebab limitnya bisa diatur lebih besar dibanding rata-rata produk lain berdasarkan pendapatanmu. Minimum pendapatan untuk dapat mengantongi kartu ini adalah Rp8 juta.

    5. Citi Premier Miles

    Tidak sulit memiliki kartu ini, syarat utamanyanya hanya penghasilan di atas Rp5 juta per bulan. Syarat lainnya akan mengikuti. Kamu bisa memiliki kartu kredit dengan limit hingga Rp750 juta ini.

    6. CIMB Niaga Mastercard Platinum

    Kelebihan kartu ini adalah tidak adanya biaya tahunan yang membebani kamu. Limitnya bisa mencapai Rp74 juta. Untuk memilikinya, kamu harus berpenghasilan bulanan minimal Rp7,5 juta.

    7. HSBC Premier Mastercard

    Sama seperti CIMB Niaga Mastercard Platinum, kartu ini tidak mengenakan biaya tahunan. Limitnya bisa mencapai Rp300 juta. Tapi, gaji bulanan kamu minimal harus Rp25 juta per bulan kalau mau pegang kartu ini ya, Sobat Cuan.

    8. UOB Privi Miles

    Kartu ini punya kesaktian menambah airline miles dari transaksi ritel kamu. Jadi, kalau berpenghasilan minimal Rp15 juta dan suka bepergian, pilih saja produk ini.

    9. Permata Reward Platinum

    Kalau penghasilan kamu melebihi Rp20 juta perbulan, kamu bisa memiliki kartu ini. Limitnya berkisar antara Rp40 juta hingga Rp1 miliar loh. Iuran tahunannya terbilang besar yakni Rp600 ribu per tahun.

    10. BTN Visa Platinum

    Sedang punya angsuran KPR? Kartu kredit ini mungkin akan menguntungkan kamu. Sebab poin transaksinya dapat kamu tukar dengan angsuran KPR. Limit kartu terbatas hanya Rp50 juta per bulan dengan biaya tahunan Rp380 ribu per tahun.

    Nah, apakah kamu mau jadi anggota klub orang-orang berkartu kredit limit besar? Punya kartu kredit limit gede memang dipersilakan, tapi jangan sampai hal tersebut malah bikin kamu kian konsumtif. Tentu saja, kamu harus mengimbangi belanjamu dengan perencanaan keuangan masa depan, salah satunya adalah dengan investasi!

    Nah, kamu bisa berinvestasi di Pluang! Kamu bisa berinvestasi emas, S&P 500, Bitcoin, Ethereum, hingga reksa dana dalam satu aplikasi! Yuk, investasi di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CNBC, lifepal, idekredit



    Sumber : pluang.com

  • Simak Penjelasan Regulasi Crypto di Indonesia Secara Singkat dan Padat!

    Sobat Cuan mungkin tertarik atau malah sudah berinvestasi di aset kripto. Cuan yang didapat memang terlihat menggiurkan, sehingga banyak orang semakin nyemplung menggarap cryptocurrency.

    Namun, kabar sumir tetap saja datang di tengah hype soal aset kripto, utamanya soal regulasi cryptocurrency di Indonesia. Ada yang bilang, pemerintah menganggap cryptocurrency adalah benda ilegal. Namun, ada juga yang berdalih bahwa pemerintah sudah mengaturnya.

    Kadang, perdebatan soal peraturan ini pun bikin pecinta aset kripto pemula ragu terkait sah atau tidaknya cryptocurrency di Indonesia. Nah, kalau kamu adalah salah satunya, yuk simak rangkuman peraturan soal aset kripto di artikel ini!

    Sekilas Tentang Regulasi Cryptocurrency di Indonesia

    Nah, Indonesia adalah salah satu negara yang dinilai cukup terbuka terhadap aset kripto dan teknologi blockchain. Buktinya, ada beberapa peraturan yang memang mengakomodasi hal tersebut.

    Tapi, bukan berarti peraturan tersebut meregulasi seluruh sisi-sisi yang terdapat di cryptocurrency. Sebagai rangkuman, pemerintah memang telah melegalisasi perdagangan aset kripto, namun tidak memperbolehkannya sebagai alat transaksi. Selain itu, sampai saat ini belum ada aturan perpajakan khusus dalam mengutip penerimaan negara dari aset kripto.

    Seperti apa regulasi lengkapnya?

    Baca juga: Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

    1. Apakah Cryptocurrency Legal Sebagai Investasi/Aset Trading?

    Jawabannya adalah ya.

    Aset kripto disahkan pada September 2018, ketika Kementerian Perdagangan menyetujui perdagangan Bitcoin (BTC) dan aset kripto sebagai komoditas. Lebih lanjut, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), yang bertindak sebagai regulator perdagangan komoditas dalam negeri, kemudian menyusun regulasi aset kripto dan blockchain di dalam negeri.

    Hal itu kemudian diejawantahkan ke dalam Peraturan Bappebti No. 5/2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisiki Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka.

    Aturan itu berisikan definisi aset kripto, definisi pasar fisik aset kripto, prinsip-prinsip perdagangan aset kripto, kepastian hukum bagi pelanggan, hingga syarat-syarat aset kripto yang dapat diperdagangkan di Indonesia. Aturan lebih jelasnya bisa Sobat Cuan unduh di sini, ya!

    Pada tahun 2020, persyaratan pendaftaran bursa kripto mulai berlaku di Indonesia, mengikuti kerangka hukum Bappebti untuk kripto yang telah dirintis pada tahun sebelumnya. Bappebti menyatakan hal itu perlu dilakukan melindungi investor Indonesia dari penipuan.

    Akhirnya, peraturan 2019 tersebut kemudian dilengkapi dengan Peraturan Bappebti No. 7/2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

    Jika aturan sebelumnya mengatur dasar-dasar trading aset kripto, aturan ini justru menjabarkan tentang 229 jenis aset kripto yang dapat diperdagangkan secara legal di Indonesia. Agar lebih jelas, Sobat Cuan bisa baca aturannya di sini.

    2. Apakah Cryptocurrency Sah Sebagai Alat Tukar?

    Jawabannya adalah tidak.

    Meskipun aset kripto legal di Indonesia, masih ada rintangan besar bagi organisasi dan komunitas kripto lokal. Sebab, hingga saat ini, Bank Indonesia tidak mengakui kripto sebagai alat pembayaran.

    Hal itu ditegaskan dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Adapun pasal 1 beleid tersebut mengatakan bahwa mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Rupiah.

    Hal ini dinilai salah satu masalah besar dalam hal adopsi kripto yang lebih luas. Selain itu, banyak bank yang enggan membuka rekening terkait perdagangan kripto, dan masih banyak informasi yang salah mengenai sifat mata uang kripto.

    Terlepas dari masalah ini, ada kemajuan penting yang dibuat untuk membangun kerangka hukum yang komprehensif yang akan memastikan industri kripto berkembang di Indonesia. Selain itu, beberapa pelaku usaha secara terbatas juga sudah mulai menerima pembayaran kripto, di antaranya:

    1. ESO Trans Digital: ESO Trans Digital adalah platform yang menggunakan teknologi blockchain dan NFC untuk memfasilitasi pembayaran dan transaksi. Pengguna dapat membayar barang dan jasa dengan kripto melalui Kode QR dan opsi pembayaran lainnya.
    2. Nobi: Nobi adalah platform tabungan blockchain yang menawarkan pengguna pada aset kripto mereka. Pengguna dapat menyetor, menyimpan, dan mempertaruhkan aset kripto untuk mendapatkan hadiah di aplikasi selulernya.
    3. Teknologi BCS: Teknologi BCS adalah perusahaan konsultan blockchain yang membangun proyek. Perusahaan menerima pembayaran kripto untuk layanannya.

    Ada beberapa yang mengantisipasi bahwa pemerintah pada akhirnya akan mengubah klasifikasi aset kripto dari komoditas menjadi aset digital. Ini akan mempercepat adopsi aset kripto sebagai bentuk pembayaran oleh pedagang. Apalagi, Bank Indonesia sendiri juga sudah berencana untuk merilis mata uang rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Baca juga: Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

    3. Apakah Ada Regulasi Soal Perpajakan Cryptocurrency di Indonesia?

    Jawabannya adalah belum ada.

    Meski demikian, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengaku akan mendalami lebih lanjut jenis pajak apa yang akan diterapkan. Namun, sejauh ini, lembaga tersebut menyebut bahwa pemerintah bisa memungut dua jenis pajak atas aktivitas trading cryptocurrency. Yakni, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh).

    Ditjen Pajak beralasan, pengenaan PPN sebesar 10% dimungkikan apabila cryptocurrency dianggap sebagai mata uang atau alat tukar atas barang/jasa. Meski demikian, otoritas fiskal itu kini masih membedah model bisnis kripto demi menjawab hal tersebut.

    Sementara itu, pemerintah juga akan mengenakan PPh terhadap aset kripto jika dilihat dari sudut pandang investasi. Ditjen Pajak berdalih, kini aset kripto diperdagangkan seperti investasi di pasar saham. Sehingga, seharusnya akan ada PPh yang ditarik dari capital gain, alias selisih antara harga awal aset kripto dengan harga jualnya.

    Kesimpulan Regulasi Cryptocurrency di Indonesia

    Nah, setelah penjelasan di atas, maka berikut adalah kesimpulan mengenai ringkasan legalitas cryptocurrency di Indonesia.

    • Aset kripto legal di Indonesia dan didefinisikan sebagai komoditas
    • Dewan Pengawas Bursa Berjangka mengatur perdagangan dan mengawasi perizinan usaha pertukaran cryptocurrency
    • Aset kripto tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia
    • Indonesia berencana menerapkan pajak untuk setiap aktivitas cryptocurrency.

    Jadi, tenang saja, Sobat Cuan. Trading atau investasi aset kripto sudah dijamin legalitasnya di negara ini. Dan kalau kamu ingin memulai mengumpulkan koin-koin kripto pertamamu, lebih baik kamu berinvestasi di Pluang! Yuk, investasi sekarang!

    Baca juga: Fans Bitcoin Wajib Baca! Ini Prediksi Bitcoin Selama 2021 Dari 10 Pakar Top!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CoinMarketCap



    Sumber : pluang.com

  • Mau Diversifikasi Reksadana? Simak Tips dan Angka Idealnya di Sini!

    Produk investasi reksadana banyak dijadikan alternatif untuk mengembangkan aset keuangan dengan mudah. Maklum, lewat produk tersebut, Sobat Cuan tidak perlu repot memantau harga aset setiap harinya untuk menentukan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar aset.

    Di samping itu, sudah ada Manajer Investasi (MI) yang mengatur dan mengelola aset keuanganmu. Dan yang penting, lewat reksadana pula kamu pun secara tidak langsung melakukan diversifikasi portofolio investasi.

    Meski reksadana sudah bikin kamu “terpapar” diversifikasi secara tidak langsung, terdapat pendapat bahwa kamu juga perlu mendiversifikasikan reksadanamu. Sehingga, Sobat Cuan bisa menyebar risiko yang muncul di investasi reksadana di masa depan.

    Nah, seperti apa sih, pentingnya diversifikasi dalam investasi reksadana? Yuk, simak selengkapnya di artikel ini!

    Penjelasan Singkat Diversifikasi

    Pada dasarnya, diversifikasi adalah tindakan untuk berinvestasi di berbagai macam jenis aset sebagai bagian dari manajemen risiko investasi. Dengan diversifikasi, artinya kamu melindungi portofolio investasimu dari risiko-risiko yang akan menurunkan nilai portofoliomu, yang sangat mungkin terjadi di masa depan.

    Sebagai contoh, anggap saja kamu punya uang Rp10 juta untuk berinvestasi dan kamu memiliki dua opsi untuk menggunakan uang tersebut: menaruhnya di satu kelas aset atau di berbagai aset.

    Misalnya, kamu memilih opsi untuk menaruh seluruh uang tersebut di saham A. Namun, ternyata nilai saham A turun 50% di pekan berikutnya, sehingga nilai protofoliomu pun ikut amblas menjadi Rp5 juta.

    Nah, risiko itu bisa kamu mitigasi jika kamu memilih opsi kedua.

    Sebagai contoh, anggaplah kamu menempatkan uang Rp5 juta di saham A dan Rp5 juta sisanya di saham B. Dengan asumsi yang sama seperti opsi pertama, maka penurunan nilai saham A sebesar 50% akan bikin portofolio saham A kamu di angka Rp2,5 juta.

    Namun, di waktu yang sama, ternyata nilai saham B malah naik 20%, sehingga portofolio kamu di aset tersebut naik menjadi Rp6 juta. Kalau ditotal, maka total portofolio kamu menggunakan opsi kedua adalah Rp8,5 juta, lebih baik jika kamu berinvestasi di satu aset saja seperto opsi pertama.

    Kalau sudah begini, lebih baik kamu melakukan diversifikasi aset dari awal kan?

    Mengapa Diversifikasi Penting di Investasi Reksadana?

    Nah, jawaban atas pertanyaan tersebut mudah saja, Sobat Cuan. Yakni, diversifikasi akan membantu memaksimalkan cuanmu di investasi reksadana!

    Lho, mengapa demikian? Nah, Sobat Cuan mungkin sudah mengerti bahwa reksadana adalah investasi yang terhubung dengan aset dasarnya.

    Misalnya, kinerja reksadana saham tentu akan sangat tergantung dengan performa pasar modal. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap tentu akan terkait dengan pergerakan imbal hasil di pasar obligasi.

    Kalau kamu berinvestasi di, misalnya, reksadana pasar saham saja, artinya kamu hanya akan menikmati cuan dari investasi itu saja. Padahal, di waktu yang sama, bisa jadi reksadana pendapatan tetap malah memiliki return yang lebih moncer dibanding reksadana saham. Kesimpulannya, kamu akan kehilangan kesempatan cuan dari reksadana jenis lainnya kalau kamu juga enggan diversifikasi portofolio reksadanamu.

    Hanya saja, selain terdapat investor yang tak paham soal manfaat diversifikasi, ternyata terdapat pula kelompok investor yang cenderung “berlebihan” dalam diversifikasi. Sayangnya, tindakan ini pun akhirnya malah bikin cuan mereka tak bisa maksimal, karena mereka tidak fokus mendulang untung dari reksadana yang punya kinerja mentereng.

    Lantas, bagaimana sih, cara diversifikasi reksadana yang tepat? Berikut tips-tipsnya!

    Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

    Tips Diversifikasi Investasi Reksadana

    1. Sesuaikan dengan Tujuan Keuangan

    Tujuan finansial adalah hal esensial dalam investasi apapun. Makanya, kamu harus catat dan tentukan hal-hal yang ingin kamu capai dengan membenamkan dana di reksadana.

    Jika tujuan finansialmu akan dicapai secara jangka panjang, dalam artian lima hingga 10 tahun mendatang, maka kamu bisa mengombinasikan reksa dana yang memiliki pengembalian hasil tetap secara jangka pendek atau jangka panjang.

    Sementara itu, kalau kamu ingin mendulang cuan jangka pendek, kamu bisa mengombinasikan reksadana berbasis ekuitas dengan reksadana pasar uang.

    Ingat, Sobat Cuan. Tetap patuh pada tujuan keuanganmu, ya!

    2. Sesuaikan dengan Usia dan Profil Risiko

    Kamu juga bisa menentukan skema diversifikasi tergantung dengan usia serta profil risikomu.

    Biasanya, investor berusia muda cenderung senang “berpetualang” dalam investasi. Sehingga, mereka kerap memilih instrumen-instrumen yang lebih berisiko, seperti reksadana saham. Nah, di sini, investor muda bisa mengalokasikan dananya, misal, 50% di reksadana saham berkapitalisasi pasar menengah dan 50% reksadana saham berkapitalisasi pasar besar.

    Namun, bukan berarti mereka harus menempatkan seluruh uangnya di reksadana yang berisiko tinggi. Idealnya, investor muda, atau mereka yang punya profil risiko agresif, bisa menempatkan 80% dananya di reksadana risiko tinggi dan 20% di reksadana lain yang punya risiko rendah.

    Sementara itu, mereka yang sudah “berumur” cenderung menginginkan investasi yang adem ayem saja. Makanya, mereka bisa menempatkan sebagian besar investasinya di reksadana risiko rendah, seperti reksadana pendapatan tetap.

    Namun, agar cuan mereka maksimal, tentu mereka juga harus menyisihkan sebagian dana mereka di reksadana dengan risiko sedang-tinggi. Angka idealnya pun sama, yakni 80% di reksadana risiko rendah dan 20% di reksadana risiko sedang dan tinggi.

    3. Sesuaikan dengan Rentang Waktu Investasi

    Memulai diversifikasi pertama kali kadang bisa jadi hal yang membingungkan bagi investor pemula. Nah, kalau kamu puyeng menentukan angka diversifikasi, maka kamu juga bisa melakukan diversifikasi sesuai rentang waktu produk reksadana!

    Misalnya, kamu bisa mengombinasikan investasi berjangka waktu pendek, seperti reksadana pasar uang, dengan yang berjangka menengah seperti reksadana pendapatan tetap. Dengan hal ini, kamu bisa mendulang cuan dari instrumen berjangka pendek, namun juga tidak kehilangan peluang dari instrumen jangka panjang!

    Nah, untungnya, diversifikasi jenis ini bisa kamu lakukan dengan berinvestasi di aplikasi Pluang!

    Di Pluang, kamu bisa berinvestasi reksadana pasar uang dan pendapatan tetap hanya dalam satu aplikasi saja! Investasi reksadana Pluang dijamin aman, praktis, berlisensi OJK, dan juga terjangkau.

    Yuk, investasi reksadana di Pluang sekarang!

    Baca juga: Kata Siapa Nabung Cuma di Bank? Kamu Bisa Pakai Instrumen Ini Untuk Simpan Uang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

    Sumber: The Balance, Bank Bazaar, Financial Express



    Sumber : pluang.com

  • Biar Gaji Jakarta Gak Ambyar, Simak 10 Cara Tekan Biaya Hidup di Jakarta!

    Gaji Jakarta tinggal di Yogyakarta, apa betul bisa makmur? Pertanyaan ini seketika muncul di benak warganet pada akhir pekan lalu. Anggapan ini juga bikin warga jagat dunia tiba-tiba mempertanyakan kembali strategi financial planning yang mereka tempuh sejauh ini.

    Biang keladi perdebatan itu muncul di media sosial Twitter pada Sabtu (19/6) lalu, setelah satu warganet mengunggah postingan yang berisi “Ingin gaji Jakarta tapi tinggal di Yogya”. Sontak, warganet pun merespons cuitan tersebut dengan berbagai opini. Alhasil, “Gaji Jakarta” pun bertengger di daftar trending topic Twitter sepanjang akhir pekan lalu.

     Tapi, terlepas di manapun kamu tinggal dan sebesar apa pemasukanmu, kamu tentu mustahil bisa merdeka secara finansial tanpa financial planning yang baik, lho.

    Memang, gap pemasukan versus pengeluaran yang belakangan ini ramai diperbincangkan warganet memang meresahkan. Tapi, kamu sebaiknya jangan terlalu mengeluhkan domisilimu kalau memang kondisi finansialmu porak poranda. Coba telaah lagi, siapa tahu malah gaya hidupmu yang bikin keuanganmu merana.

    Misalkan saja, jika pemasukanmu dibawah Rp10 juta tetapi memaksakan bergaya hidup ala eksmud SCBD, maka tidak heran jika ujung-ujungnya kantongmu jadi korban.

    Nah, daripada menyalahkan biaya hidup, ternyata ada cara lain yang bisa membantumu tetap bisa survive di Jakarta bahkan dengan gaji Jakarta. Caranya, tentu saja adalah dengan menyesuaikan beban pengeluaranmu per bulan.

    Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Financial Pyramid demi Merencanakan Uang Pensiun!

    Financial Planning Demi Mengurangi Biaya Hidup

    1. Pindah Rumah Demi Financial Planning yang Lebih Baik

    Tempat tinggal sangat berpengaruh pada pengeluaran, kamu tentu sadar betul akan hal itu. Pindah ke rumah yang lebih kecil atau ke lingkungan yang lebih murah bisa kamu pertimbangkan demi menyeimbangkan neraca pengeluaran kamu.

    Bagaimanapun, kamu tetap harus memperhatikan kualitas hidupmu dan keluarga. Pastikan bahwa rumah yang akan kamu tempati nanti bisa memenuhi kebutuhan hidup kamu dan keluargamu meski tidak sebesar rumahmu saat ini.

    Pastikan juga lingkungan yang lebih murah itu tetap aman dan nyaman untuk tumbuh kembang orang-orang tercinta. Memastikan setiap hal berjalan dengan baik tetap yang utama saat harus menghemat pengeluaran.

    2. Parkir Mobil

    Kalau kamu tinggal di apartemen atau berkantor di area dimana parkir harus bayar, kamu mungkin memerlukan pertimbangan khusus agar tidak boros. Kartu berlangganan bisa jadi pilihanmu. Kamu juga bisa memanfaatkan diskon aplikasi.

    Atau, kalau mau lebih ekstrim lagi, kamu bisa juga mempertimbangkan untuk membatasi penggunaan mobil dan mulai menjadi orang komunal. Transportasi darat di kota besar saat ini sudah mumpuni kok untuk menunjang keseharianmu yang lebih hemat bensin dan biaya parkir.

    3. Layanan Telekomunikasi

    Zaman sekarang dimana-mana sudah tersedia wifi gratis. Di rumah maupun di kantor, apalagi di pusat perbelanjaan, kamu sudah bisa mengakses internet secara gratis lewat ponselmu.

    Coba kamu perhatikan lagi, kuota internet di akhir bulan kamu mungkin masih tersisa banyak. Sehingga, kamu bisa mencoba mempertimbangkan paket layanan telekomunikasi lain yang lebih pas dengan kebutuhan dan gaya hidupmu.

    Sayang kan, kuota internet terbuang percuma atau pulsamu tersedot akibat panggilan berbayar?

    4. Belanja Kebutuhan dengan Perencanaan

    Sadar atau tidak, tiap kamu menginjakkan kaki ke pusat perbelanjaan, nominal yang kamu habiskan selalu tergolong besar. Unruk mengatasinya, kamu tidak perlu sering-sering berbelanja jika kamu melakukan perencanaan yang baik, Sobat Cuan.

    Coba rencanakan masakan yang akan kamu buat dalam sebulan dalam satu list panjang. Lalu, berbelanjalah semuanya sekaligus agar tidak perlu berulang kali belanja kebutuhan sehari-hari. Kamu akan melihat bahwa pengeluaranmu jadi lebih efisien dengan cara sederhana ini.

    Atau, kamu juga bisa membeli barang-barang kebersihan, seperti shampo dan sabun, dalam ukuran yang besar. Percayalah, membeli barang-barang tersebut dalam ukuran besar jauh lebih hemat ketimbang beli yang berukuran kecil namun berulang kali!

    5. Masukkan Budget Hangout dalam Financial Planning

    Sudah berhemat habis-habisan tapi tetap kehabisan uang di akhir bulan? Cobalah untuk meneliti struk makanan kamu saat hang out dengan teman atau makan malam dengan pasangan.

    Pengeluaran seperti ini kerap tidak terasa tapi sebetulnya banyak juga. Disisi lain, kamu tetap harus menikmati hidup dan menghabiskan waktu berkualitas dengan orang-orang tersayang.

    Tidak ada salahnya merencanakan hang out dan fine dining dalam budget yang terukur. Mungkin kamu tidak bisa melakukan sering-sering, tetapi sekali sebulan tidak masalah. Buat saja makan malam kamu berkesan.

    Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

    6. Bayar Tunai, Jika Sulit, Buatlah Akun Khusus untuk Pengeluaran

    Sebetulnya, membayar tunai adalah cara yang baik untuk menekan pengeluaran. Tapi saat ini, terutama sejak pandemi, cashless lebih ditekankan.

    Cobalah untuk memisahkan uang pengeluaran kamu dengan uang digital atau wallet khusus yang saat ini banyak disediakan oleh bank digital. Ini akan membantu kamu menghindari belanja secara berlebihan.

    Alih-alih menggesek kartu kredit yang beresiko over limit, membayar langsung akan membantumu mengukur dengan jitu sebesar apa kemampuan beli kamu jika tidak ditunjang fasilitas utang.

    Baca juga: Simak 6 Cara Tahan Godaan Nafsu Belanja dari Lihat Postingan Media Sosial!

    7. Jangan Kemakan Tren, Tetap Pada Financial Planning

    Mobil terbaru keluaran perusahaan otomotif favoritmu memang menggoda. Tapi, apakah kamu memerlukannya?

    Jika mobilmu sekarang sudah mampu memenuhi kebutuhanmu sehari-hari, sudah lunas, dan sudah saling paham kondisi finansial, cobalah untuk setia.

    Tidak perlu jadi yang paling sophisticated di tongkrongan, kan? Yang terpenting tetap financial planning berjalan.

    Tak hanya mobil, tren smart phone pun begitu. Iphone lamamu masih dapat upgrade iOS 15 nanti, kan?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumbet: Payoff, dontwastethecrumbs





    Sumber : pluang.com

  • Ini Alasan HODL Menabung Kripto Adalah Strategi Jitu Saat Pasar Bearish!

    Harga aset kripto, seperti Bitcoin dan Ethereum, memang lagi terjun bebas. Kondisi tersebut kadang bikin kamu sedih dan merana lantaran bikin kamu buntung. Namun, jangan salah, Sobat Cuan! Cuan kripto bukan hanya soal naik-turun harga, tetapi juga perkara mentalitas!

    Di dunia aset kripto, memang trading dianggap cara efektif bagimu untuk mendulang cuan. Namun, tidak ada salahnya kamu mencoba menahan aset kriptomu, atau istilah kerennya HODL-ing, dengan menabung aset kripto yang kamu genggam. Yang kamu butuhkan adalah tinggal tips menabung kripto yang jitu!

    Ketika menabung kripto, yang kamu perlu lakukan adalah menempatkan cryptocurrency di platform tabungan aset kripto. Setelahnya, kamu tinggal mendapatkan imbal hasil secara periodik dalam bentuk aset kripto lagi.

    Jadi, meski harga kripto lagi tiarap, setidaknya kamu berkesempatan untuk “mengembang biakkan” jumlah keping-keping aset kriptomu. Pilihan investasi kripto yang cukup menarik, bukan?

    Selain itu, pasar aset kripto yang terpantau mendung adalah saat yang tepat bagimu untuk menabung aset kripto. Apa sih, alasannya?

    Menabung Aset Kripto Pilihan Tepat Saat Pasar Bearish

    Di dunia mata uang kripto, para penggemar tidak cuma berspekulasi. Sebagian besar mereka adalah maximalist, yakni orang-orang yang percaya pada ide bahwa di masa depan aset digital adalah satu-satunya yang relevan.

    Secara spesifik, maximalist biasanya adalah fans berat Bitcoin yang memandang cryptocurrency adalah satu-satunya yang akan tetap relevan saat masa depan datang. Bahkan jika dibanding uang kripto yang lain, maximalist adalah penimbun Bitcoin garis keras.

    Berbeda dengan trader yang sibuk menganalisis pergerakan pasar, para maximalist justru panen raya saat market sedang longsor seperti saat ini. Alasannya? Tentu agar di masa depan saat Bitcoin sudah relevan, merekalah yang jadi juragannya!

    Kalau kamu merasa tidak berbakat jadi trader lantaran lihat portofolio kripto kamu longsor terus, kamu tidak perlu berkecil hati. Kamu tetap bisa mengikuti falsafah HODL.

    Menang dari HODL Tak Cuma Berlaku di Aset Kripto

    Meski pasar selalu penuh oleh trader, tapi sejarah mencatat bahwa pemenangnya tetaplah investor. Sebut saja Warren Buffet, Elon Musk, atau versi kearifan lokal, Lo Kheng Hong, mereka adalah investor yang berinvestasi di jangka panjang.

    Ada pendapat umum di dunia keuangan bahwa 98% orang yang mencoba trading tidak sukses. Mereka tidak akan bisa membiayai hidup dari trading saja.

    Pasalnya, volatilitas pasar hanya dapat diterka, namun tidak pernah bisa dipastikan pergerakannya. Kamu pasti akan terlewat beberapa momentum besar untuk cuan, lalu menjual dan membeli terlalu cepat. Kamu mungkin akan untung besar selama beberapa waktu dan kehilangan semuanya dalam sehari.

    Kabar baiknya adalah, investor tidak mengalami itu. Kamu tidak akan pernah terlewat momentum saat berinvestasi, kecuali kamu menunda-nundanya terus sampai mati.

    Investor tidak pernah merugi saat pasar kebakaran. Mereka akan bersikap tenang dan membeli lebih banyak agar lebih cuan di masa depan.

    Singkatnya, investor tidak perlu berhadapan dengan sisi kelam dunia trading harian. Selama ekonomi masih potensial, maka investasinya akan tetap berkembang. Investor tetap cuan.

    Baca juga: Apa Itu Binance Coin (BNB)?

    Tips Menabung Kripto Agar Cuan Masa Depan

    Setelah membaca penjelasan di atas, mungkin kamu mulai berpikir untuk segera HODL-ing dengan menabung aset kriptomu. Tapi, sebelum kamu bergabung dengan barisan maximalist dengan HODL, ada sedikit tips bagi kamu agar tetap konsisten HODL-ing!

    1. Siap dengan Volatilitas Pasar Kripto

    Meski tampak mudah, jadi investor jangka panjang terutama untuk aset dengan volatilitas setinggi kripto pasti memerlukan persiapan mental yang baik. Tak hanya mental, pengetahuan kamu akan momentum juga harus baik.

    Para HODLers bisa cuan besar dari bergejolaknya pasar kripto. Begitu pun saat rugi, membeli karena Fear of Missing Out (FOMO) saat tren naik, misalnya saja, mungkin akan membuatmu kewalahan menahan diri untuk tidak cut loss.

    Contohnya, Maret 2020 lalu harga BTC longsor 50% dalam sehari. Kondisi ini memang bikin para trader kalang kabut dengan menjual asetnya. Lantas, bagaimana kalau para trader tersebut memilih untuk menahan aset kriptonya? Tentu saja cuan besar, Sobat Cuan, mengingat harga sang raja aset kripto ini pulih cepat, bahkan malah melonjak tajam.

    Yang perlu kamu lakukan adalah sabar dan percaya bahwa harga aset kripto pasti akan membaik ke depannya. Tentu saja, kamu harus bersiap diterpa hujan badai yang seolah-olah tak berkesudahan sebelum memandang pelangi yang indah.

    Baca juga: Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

    2. Berpikir Jangka Panjang

    Meski tidak berencana menyimpan kripto selamanya, pastikan bahwa rencanamu berusia lebih dari tiga tahun. Inilah tips menabung kripto terjitu bagi para HODLers.

    Katanya, rentang terbaik untuk membuat timeframe investasi kripto adalah sekitar 3-5 tahun. Meskipun, banyak maximalist menyimpan aset kriptonya lebih lama lagi.

    Untung besar memang butuh proses, Sobat Cuan. Jadi jangan menyerah!

    Baca juga: Apa Itu Polkadot?

    3. Jangan Tergoda Trading Harian

    Pasar yang bergejolak memang penuh godaan. Bayangkan suatu hari aset kripto kamu melonjak 50%, tentu menggoda sekali untuk trading di pasar harian, bukan?

    Tapi, jangan lakukan itu! Tahan diri kamu kalau memang niat jadi HODLers sejati. Inilah tips menabung kripto yang paling sulit dijalankan.

    Ide investasi jangka panjang adalah kamu tidak perlu repot belajar analisis teknikal, fundamental, atau mengecek pergerakan harga harian. Kamu hanya perlu membeli di saat yang tepat dan menimbunnya.

    Cuan akan datang pada mereka yang bersabar. Lagi pula, cuan pada trading harian masih dipotong spread transaksi juga, kok.

    Jadi mending mana? Dapat cuan besar tapi kena potongan atau menabung aset kriptomu dan memperoleh bunga dalam bentuk tambahan aset kripto?

    4. Cari Teman dalam Komunitas Hodlers

    Lingkungan banyak mempengaruhi kita, begitu pun saat akan berinvestasi jangka panjang. Kamu mungkin akan mudah tergoda jika berteman dengan trading yang memamerkan cuan hariannya di media sosial.

    Karena itu, cobalah mencari komunitas sesama hodlers. Selain agar tetap dapat informasi, kamu dan kawan-kawanmu bisa saling menguatkan dari segala macan godaan cuan jangka panjang.

    Jadi, bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu sudah siap untuk HODL dengan cara menabung aset kripto? Yuk, coba menabung aset kripto di Pluang Cuan!

    Di Pluang Cuan, kamu bisa mendapatkan imbal hasil dari menabung Ethereum dan Bitcoin hingga 3,5% per tahun! Cara yang mudah dapat cuan, bukan?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Exodus



    Sumber : pluang.com

  • 9 Hal yang Perlu Kamu Perhatikan Sebelum Trading Saham

    Trading saham memang lagi menjamur setahun belakangan. Investor tua, muda, bahkan sampai influencer pun berbondong-bondong memamerkan kinerja portofolionya di media sosial.

    Akibatnya, hal itu tentu bikin kamu tertarik mencobanya juga, bukan? Tapi, tunggu dulu, Sobat Cuan. Trading saham tidak bisa dilakukan secara main-main, sehingga kamu perlu belajar saham dan menguatkan mental sebelum nyemplung ke dalamnya.

    Lantas, apa saja sih yang perlu kamu ketahui dan persiapkan sebelum kamu terjun ke trading saham?

    Hal yang Perlu Kamu Perhatikan Sebelum Trading Saham

    Bagi sebagian orang, pasar modal memang tempatnya berspekulasi. Namun, spekulasi di pasar modal tidak sama dengan berjudi.

    Setidaknya, kamu harus memiliki perbekalan dasar yang didapat dari belajar saham. Pelajari pengetahuan umum pasar modal seperti analisis teknikal, analisis fundamental, dan perencanaan keuangan terlebih dahulu ya, Sobat Cuan!

    Nah setelahnya, kamu bisa memperhatikan hal-hal berikut ini sebelum menjajal trading.

    Baca juga: Strategi Short Selling bagi Pemula

    1. Belajar Bahwa Pasar Saham Penuh Risiko

    Jika kamu berfikir miliarder dan multimilyuner seperti Warren Buffet dan Lo Kheng Hong lahir dalam semalam, kamu salah besar! Mereka sudah memulai petualangannya di dunia investasi sejak kecil, dan karenanya kini mereka punya pengetahuan yang sangat baik tentang pasar.

    Cuan di pasar modal tidak seperti pergi ke mesin ATM terdekat lalu menarik uang yang tidak kamu miliki. Sebaliknya, kamu mungkin akan kehilangan dana investasimu jika tidak berhati-hati.

    Memahami hal ini berguna agar kamu tak terlalu ngarep dan halu dalam trading. Beberapa trader sangat pede dengan cuan melimpah dari trading saham, sehingga mereka menempatkan seluruh dananya di sana. Padahal, trading saham adalah hal yang berisiko, Sobat Cuan!

    2. Perkaya Pengetahuan, Mulai dari Pengetahuan Dasar tentang Saham

    Pengetahuan adalah senjatamu di pasar modal. Semakin banyak pengetahuan yang kamu punya, keputusan finansialmu akan semakin bijaksana.

    Mungkin, mengikuti saran influencer saham terdengar lebih mudah. Tapi, kamu harus ingat bahwa selera risikomu dan sang influencer pasti berbeda, begitu pun dengan perencanaan keuangan.

    Pahamilah beberapa hal dasar sebagai berikut:

    1.  Metrik finansial dan definisinya, seperti return on investment, earning per share, market cap, price to earning ratio dan sebagainya.
    2. Metode analisis fundamental dan analisis teknikal yang populer untuk belajar tentang saham.
    3. Aturan dasar trading saham seperti auto reject atas (ARA), auto reject bawah (ARB), terminologi market, fitur dalam aplokasi trading, kepatuhan dan sebagainya.
    4. Pengetahuan umum soal ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, harga minyak, dan nilai tukar.

    Baca juga: Simak 3 Tips Bagi Pemula Sebelum Mencoba Trading Future!

    3. Gunakan Uang Dingin Saat Belajar Trading Saham

    Kamu tidak boleh trading dengan uang belanja bulananmu, atau uang bayaran sekolah anakmu. Pastikan dulu kebutuhan dasarmu terpenuhi berikut dengan cadangan dana darurat.

    Ini adalah prinsip dasar yang harus kamu pegang tidak peduli betapapun menggiurkannya untuk berspekulasi lebih banyak. Jangan gunakan uang yang harus kamu pakai dalam waktu dekat sebab itu akan mempengaruhi psikismu.

    Selanjutnya, kenali toleransi risiko kamu. Seberapa banyak jumlah yang bisa kamu toleransi jika hilang dalam semalam.

    Kamu juga harus punya beberapa pos investasi lainnya selain saham. Cobalah untuk mendiversifikasi portofolio investasimu berdasarkan tujuan dan risikonya. Lalu, putuskan berapa besar porsi dana investasimu yang siap kamu pertaruhkan di pasar modal.

    4. Jangan Berutang untuk Belajar Saham

    Sekuritas maupun bank bisa saja kamu jadikan sumber danamu saat berinvestasi di pasar modal, tapi hal ini sangat tidak disarankan. Belum tentu kan saham pilihanmu betul-betul bullish?

    Sebagai pemula, kamu harus bermain aman. Sebab, bila analisismu meleset dan kamu kehilangan dana investasi yang didapat dari berutang, kamu bukan hanya harus mengembalikannya. Kamu juga harus membayar bunga utang yang mungkin akan berlipat lagi. Intinya, berutang untuk trading saham adalah hal yang bahaya!

    Berutang atau leverage ini bisa jadi pilihan nanti saat pengetahuan dan keterampilanmu sudah meningkat. Untuk saat ini, pastikan dulu bahwa fokusmu adalah meningkatkan kapasitas diri. Bukan menambah jumlah utang, oke?

    5. Jangan Ikut-Ikutan!

    Bukan hanya influencer, tetapi teman dan kerabat bisa saja membuatmu terpengaruh untuk berinvestasi pada emiten tertentu. Camkan baik-baik bahwa kamu dan orang lain pasti punya selera risiko, analisis dan tujuan investasi yang berbeda.

    Jangan pakai mentah-mentah saran dari orang lain sebelum kamu menganalisis dengan mapan. Kamu pun tidak disarankan untuk berinvestasi pada emiten yang tidak kamu pahami model bisnisnya, atau skema industrinya.

    Tetaplah jadi investor konservatif sampai waktunya tiba.

    6. Diversifikasi dengan Proporsional

    Jangan taruh semua telur di satu keranjang, tapi juga, jangan sampai keranjangnya terlalu banyak. Buatlah portofolio investasi yang proporsional.

    Jika kamu sudah yakin untuk membeli beberapa lot saham, kamu juga harus membatasi jumlah emiten. Jangan sampai kamu memilih terlalu banyak, tetapi juga jangan sampai terlalu sedikit. Kamu perlu banyak belajar kan?

    7. Trader Harian Bukan untuk Pemula yang Awam

    Banyak investor tampak santai saja menjadi trader harian meski harus cut loss saat pasar ambruk. Namun, kamu harus tau bahwa mereka punya pengalaman dan jam terbang yang lebih banyak dari kamu yang masih awam.

    Menerapkan disiplin waktu pada pasar yang volatile dan tidak tertebak bukanlah tugas pemula yang awam. Saat masih belajar, lebih bijaksana jika kamu mengikuti alur pasar dan ambil untung saat waktunya datang. Ketimbang tergesa-gesa membeli dan menjual dalam tempo yang kamu tetapkan sendiri dengan pengetahuan yang masih terbatas.

    Baca juga: Biar Gaji Jakarta Gak Ambyar, Simak 10 Cara Tekan Biaya Hidup di Jakarta!

    8. Kelola Emosi

    Trader pemula maupun pakar akan selalu kalah bertarung di pasar modal jika tidak berhasil mengelola emosinya. Bagaimanapun, fluktuasi pasar dan dinamikanya akan memprovokasi emosi kamu. Saran terbaiknya adalah, jangan ikuti.

    Kamu harus tetap logis dan realistis saat mengambil keputusan finansial. Emosi adalah musuh utama yang harus kamu kendalikan.

    9. Kelola Ekspektasi

    Melihat emiten beroleh cuan 50% dalam sehari pasti membuatmu berekspektasi jauh. Kamu tidak salah, bisa jadi kamu sedang bernasib baik hari ini.

    Namun yang terpenting adalah mengelola ekspektasi kamu. Sebab sebagaimana kamu mungkin akan untung besar hari ini, kamu juga sangat mungkin akan rugi besar hari ini.

    Mengelola ekspektasi juga penting dilakukan agar analisamu tidak meleset. Meski kamu mengira emiten yang kamu pegang masih kuat nanjak, namun pastikan bahwa perkiraan kamu berdasar pada analisis yang tepat. Alih-alih ekspektasi yang ketinggian.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Ini Jenis Uang yang Tak Boleh Digunakan Demi Trading Kripto!

    Tips investasi paling dasar yang harus kamu pahami adalah memilah dana saat akan berinvestasi. Jangan sampai uang panasmu bikin investment goal kamu jadi berantakan ya, Sobat Cuan! Seperti yang diperlihatkan oleh unggahan viral beberapa waktu lalu.

    Belakangan ini, video tiktok yang diunggah akun @vnd_putra ramai diperbincangkan warganet. Video itu menampilkan teman kantor sang tiktokers yang sedang frustasi lantaran batal kawin setelah rugi puluhan juta di pasar kripto.

    @vnd_putraAda saran gak ? 😢 ##fyp ##foryoupage ##fypシ ##trending ##viral♬ tulus_andai aku bisa – panyaaa

    Fluktuasi pasar kripto yang tidak diiringi persiapan mumpuni kini memakan korban baru lagi. Sontak warganet yang merasa relate dengan sang teman membanjiri kolom komentar.

    Lantas, siapa sih yang harus disalahkan saat hal seperti ini terjadi? Salah fluktuasi aset kriptonya? Atau salah sang trader yang menggunakan uang pernikahannya?

    Ketahui Bahwa Pasar Aset Kripto Penuh Gejolak

    Sobat Cuan perlu memahami bahwa kondisi pasar aset kripto memang tidak bisa ditebak. Kadang kamu bisa untung dalam semalam, namun kamu juga bisa buntung dalam sekejap.

    Makanya, jika kamu berencana trading di pasar satu ini, pastikan bahwa uang yang kamu gunakan adalah uang “dingin”. Alias, uang yang memang kamu sisihkan untuk trading atau investasi. Jangan sampai kamu menggunakan pos belanja rutin atau hal serupa hanya demi merangsek ke aktivitas berisiko seperti trading kripto.

    Hanya saja, kadang trader pemula, apalagi yang memang terbilang awam dalam urusan perencanaan keuangan, sulit membedakan uang dingin dengan alokasi uang lainnya.

    Nah, agar nasib Sobat Cuan tidak berakhir seperti unggahan di atas, yuk kenali uang seperti apa sih yang tidak boleh kamu pakai berinvestasi.

    Baca juga: Biar Gaji Jakarta Gak Ambyar, Simak 10 Cara Tekan Biaya Hidup di Jakarta!

    Tips Investasi: Jenis-Jenis Uang yang Tak Boleh Kamu Gunakan Untuk Trading Kripto

    1. Dana Kebutuhan Sehari-hari

    Tagihan listrik, biaya telekomunikasi, bajet kebutuhan pokok, uang bulanan sekolah anak hingga bajet bensin adalah kebutuhan sehari-hari yang wajib kamu sediakan untuk bertahan hidup.

    Nah, karena fungsinya adalah untuk membantumu hidup, maka kamu harus pantang menggunakan uang jenis ini untuk trading atau investasi berisiko!

    Kamu harus memastikan dulu kehidupanmu dan keluarga tercukupi dengan baik. Jangan sampai investasi yang menempati urutan ketiga dalam piramida perencanaan keuangan mengalahkan ketercukupan dana harian.

    Meski pasar sedang menjanjikan dan sepertinya tebakanmu jitu, namun mengorbankan kepentingan keluarga tetap bukan hal yang bijaksana ya, Sobat Cuan!

    2. Dana Darurat

    Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana darurat wajib kamu sisihkan untuk kejadian tidak terduga seperti kecelakaan, kerusakan rumah, dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Namanya juga dana darurat, maka uang ini harus kamu gunakan di saat darurat saja!

    Alasannya, gampang saja, Sobat Cuan. Kita tidak bisa meramal masa depan, sehingga ketika terdesak, kamu tidak perlu lagi kebingungan mencari dana segar. Kamu bisa hidup tenang dan terjamin tanpa khawatir tidak punya uang saat mepet.

    Baca juga: Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

    Masih menurut OJK, kamu harus punya dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan kali gaji di rekening dana daruratmu jika kamu belum berkeluarga. Sementara, kamu bisa mencadangkannya dua kali lipat lebih banyak jika sudah berkeluarga.

    Jumlahnya tentu terdengar besar dan menggiurkan untuk ditaruh dalam instrumen investasi. Tapi, tidak ada seorang pun yang bisa menebak masa depan, bukan?

    3. Utang

    Ini tips investasi yang terpenting, Sobat Cuan. Jangan sampai kamu trading atau investasi dengan berutang ke bank, apalagi ke pinjol!

    Penjelasan mudahnya seperti ini. Masa depan dan imbal hasil trading-mu adalah sesuatu yang tidak pasti. Bisa jadi kamu buntung berhari-hari, atau berminggu-minggu lamanya.

    Sementara itu, mengembalikan utang ke bank adalah sesuatu yang pasti. Kamu pasti diwajibkan membayar bunga per bulan dan mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Mending kalau trading kamu berhasil dan cuan besar, bagaimana kalau kamu merugi terus? Untung tak didapat, tapi malah terlilit utang.

    Selain itu, beberapa perencana keuangan menyebut bahwa utang harus digunakan untuk keperluan produktif dan ekonomi sektor riil. Sehingga, cuan dari kegiatan produktifmu bisa digunakan untuk membayar utang plus ekspansi usahamu menjadi lebih besar!

    Agar Trading dan Investasi Tak Menjadi Mimpi Buruk

    Nah, setelah mengetahui uang-uang yang tidak boleh kamu gunakan dalam trading dan investasi, kini saatnya kamu mengetahui rambu-rambu agar kondisi keuangan kamu mampu menahan pesatnya volatilitas pasar kripto.

    1. Lunasi Utang, Jangan Malah Berhutang

    Sebelum melakukan investasi, idealnya kamu sudah melunasi seluruh utang yang kamu punya. Jika utang tersebut masih harus dicicil beberapa bulan lagi, pastikan juga cicilannya masuk dalam bajet utama kamu sebelum disisihkan untuk investasi.

    Tentu saja kamu sangat tidak disarankan untuk berhutang demi membeli koin kripto yang sedang murah, atau emiten yang lagi diskon. Apalagi kalau kamu meminjam dari bank yang akan mengenakan margin pada dana yang akan dipakai berspekulasi itu.

    Ingat, volatilitas market mustahil dipastikan. Meski kamu merasa sudah menganalisis dengan baik, pergerakannya sangat mungkin meleset dari tebakanmu. Jangan bertaruh dengan dana yang harus kamu bayar mahal di kemudian hari.

    2. Tips Investasi Terpenting: Budgeting

    Saat notifikasi gaji atau invoice kamu masuk, budgeting adalah hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum merasa jadi sultan. Apa sih budgeting?

    Senator Amerika Elizabeth Warren pernah menerbitkan buku berjudul All Your Worth: The Ultimate Money Plan. Dalam bukunya dia membagikan strateginya memilah pos pengeluaran berdasarkan kebutuhan.

    Metode Warren dikenal dengan 50/30/20. Maksudnya, dari total pendapatan setelah pajak yang diterima, dia mengalokasikan 50% untuk tagihan wajib dan kebutuhan harian. Selain itu, 30% diposkan untuk membiayai hiburan dan keinginan lainnya seperti jalan-jalan, skincare, dinner atau berlangganan netflix dan spotify.

    Barulah sisanya yakni 20% dimasukkan ke dalam dana dingin untuk berinvestasi dan menabung. Tidak hanya untuk membeli uang kripto, saham dan instrumen investasi ya, porsi ini juga termasuk dana darurat dan simpanan hari tua.

    Metode budgeting lain yang tak kalah populer adalah prinsip pareto. Mirip dengan 50/30/20, pareto juga mengalokasikan 20% pemasukan dalam pos investasi.

    Dapat disimpulkan bahwa pos investasi memang sebaiknya hanya 20% dari pemasukan kamu, supaya kamu dapat menikmati hidup dengan baik. Selain itu, berinvestasi juga harus dilakukan dengan uang khusus atau dana dingin.

    Baca juga: Ini Alasan HODL & Menabung Kripto Adalah Strategi Jitu Saat Pasar Bearish!

    Idle Money, Uang yang Bisa Kamu Pakai Berinvestasi

    Dana dingin yang kamu sisihkan sebanyak 20% dari total penghasilan bersih kamu itu masih harus dipilah lagi ya, Sobat Cuan. Tentukan berapa banyak dana darurat yang harus kamu miliki, lalu sisihkan.

    Kamu juga harus memilah berdasarkan jangka waktu kapan dana itu akan digunakan. Nah, dana yang berada dalam pos jangka panjang inilah yang disebut dengan uang dingin atau idle money.

    Nah, bagaimana Sobat Cuan? Sudah bersiap untuk trading?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: OJK, Jenius, Detik





    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Simak 3 Tanda Kamu Belum Siap Investasi SP 500!

    Indeks S&P 500 merupakan salah satu alternatif investasi yang cocok bagi investor pemula. Dengan 505 perusahaan yang memiliki aset jumbo dan memiliki performa terbaik di Amerika Serikat, membuat tingkat risiko yang ada menjadi terkendali.

    Lewat S&P 500 juga, portofolio investasi yang Sobat Cuan miliki menjadi terdiversifikasi secara alami. Karena terdapat 11 sektor industri yang berada di dalam indeks tersebut.

    Selain sarana mudah dalam diversifikasi, investasi di indeks S&P 500 cenderung aman karena risikonya lumayan rendah dibandingkan harus berinvestasi di saham tunggal.

    Tapi, yang namanya investasi tentu ada faktor “cocok-cocokkan”. Mungkin, investasi di indkes S&P 500 cocok bagi satu orang, namun belum tentu cocok di kamu.

    Nah, jika Sobat Cuan memiliki ciri-ciri di bawah ini, tampaknya, kamu masih belum cocok berinvestasi di salah satu indeks terseksi di dunia itu. Jangan artikan bahwa ciri-ciri di bawah ini adalah hal yang bikin kamu harus menghindari indeks S&P 500. Tetapi, kamu harus memenuhi hal-hal ini sebelum berenang di kolam S&P 500!

    Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

    3 Ciri Kamu Belum Cocok Berinvestasi di Indeks S&P 500

    1. Tidak Punya Dana Darurat

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa investasi di instrumen apapun, baik itu indeks S&P 500, logam mulia, surat utang, bahkan reksa dana, harus menggunakan dana dingin. Artinya, dana yang digunakan bukanlah dana yang menjadi kebutuhan sehari-hari dan bukan juga dana darurat.

    Jika Sobat Cuan memilki uang dingin dan tidak memiliki dana darurat, maka kamu perlu mendahulukan dana darurat. Pasalnya, dana darurat merupakan langkah awal untuk menuju kebebasan finansial. Selain itu, dana darurat tentu akan berguna ketika sesuatu yang tak terduga muncul di kemudian hari.

    Lalu, bagaimana jika dananya sudah terlanjur dibenamkan dalam instrumen investasi? Mau tidak mau, Sobat Cuan harus menariknya dan menyimpannya di rekening terpisah sebagai dana darurat sampai sekiranya mencapai standar dana darurat pada umumnya, yakni enam kali penghasilan bulananmu.

    Nah jika dana darurat sudah terpenuhi dan ada dana segar yang tidak digunakan, Sobat Cuan bisa membenamkannya di Indeks S&P 500 untuk pondasi portofolio investasi.

    2. Punya Utang dengan Bunga Tinggi

    Sebenarnya, tidak ada aturan yang melarang untuk berinvestasi ketika masih memiliki utang. Tetapi jika Sobat Cuan memiliki utang dengan bunga yang cukup tinggi, lebih baik untuk fokus melunasinya terlebih dahulu.

    Pasalnya, investasi di S&P 500 atau instrumen lainnya bergerak dinamis. Tidak ada yang pernah tahu secara pasti kapan pasar akan bergerak positif atau justru terkoreski.

    Pun berhasil mendapatkan imbal hasil di indeks S&P 500 dalam setahun, namun jika bunga utang yang didapatkan terlampau tinggi, rasanya masih belum bisa mengkompensasi bunga yang harus dibayarkan.

    Beberapa utang yang kerap membebani adalah utang kartu kredit dan juga kredit tanpa agunan (KTA). Nah, makanya, kamu harus melunasi utang-utang itu sebelum berinvestasi di indeks S&P 500.

    Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melunasi utang dengan bunga tinggi. Pertama, pisahkan mana utang yang memiliki bunga paling rendah dan paling tinggi. Kemudian lakukan pembayaran minimum untuk sementara pada utang berbunga rendah dan tumpuk semua dana yang dialokasikan untuk utang pada utang yang memiliki bunga paling tinggi.

    Sobat Cuan bisa terus melakukannya sampai semua utang terbayarkan.

    Baca juga: Simak 3 Alasan Kenapa Investor Pemula Harus Masuk ke Indeks S&P 500

    3. Sudah Banyak Melakukan Investasi di Saham

    Melakukan investasi saham, khususnya dalam indeks S&P 500, memang mampu memberikan imbal hasil yang menarik dalam jangka panjang. Namun, Sobat Cuan juga harus siap menghadapi gejolak harga yang terjadi dalam jangka pendek.

    Nah, saat-saat seperti ini akan berbahaya jika kamu juga punya instrumen saham lainnya. Sebab, kamu akan terpapar risiko pasar saham lebih besar, sehingga ada baiknya kamu mengalihkan investasimu di saham ke kelas aset lainnya.

    Sobat Cuan bisa menimbang opsi untuk membeli obligasi alias surat utang atau jenis instrumen investasi lainnya yang tidak memberikan imbal hasil setinggi saham, namun stabil secara keuntungan. Intinya, diversifikasi portofolio investasi tetap penting untuk memaksimalkan cuan dan mengelola risiko investasimu!

    Ada rumus untuk menghitung idealnya porsi investasi. Yakni 110 dikurangi dengan usia Sobat cuan sekarang. Misalnya, jika saat ini usia kamu adalah 30 tahun, maka nilainya akan menjadi 80. Artinya, 80% dari tabungan diinvestasikan ke indeks S&P 500 dan 20% tersisa dimasukkan dalam instrumen obligasi.

    Dengan begitu, Sobat Cuan bisa mendapatkan lebih banyak tabungan dari imbal hasil obligasi yang diberikan dalam jangka pendek.

    Meskipun begitu, perlu dipahami bahwa tidak ada investasi yang bebas risiko. Obligasi pun tetap memiliki risiko, namun memilki tingkatan lebih rendah dan aman bagi yang membutuhkan uang dengan cepat.

    Nah, kalau Sobat Cuan sudah menyelesaikan permasalahan di atas, maka yang kamu perlu lakukan adalah tinggal berinvestasi di indeks S&P 500 di aplikasi Pluang! Di Pluang, kamu bisa mengakses 500 perusahaan top Amerika Serikat ini hanya dalam satu genggaman saja, lho.

    Yuk, investasi sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: The Motley Fool



    Sumber : pluang.com

  • 5 Alasan Mengapa Prospek Binance Coin Akan Cerah di Masa Depan

    Sobat Cuan pecinta aset kripto mungkin sudah paham ada salah satu cryptocurrency yang naik daun banget saat altcoin season tahun ini. Ya, aset kripto tersebut adalah Binance Coin atau ngetop disebut BNB.

    Koin ini sempat menjadi buah bibir lantaran kenaikan nilai tajam mencapai 67% dalam sehari. Dan sejak diluncurkan 2017 silam, pertumbuhan nilai Binance Coin pun lumayan moncer. Yakni, dari US$0,1 per keping menjadi US$300 per keping dalam kurun empat tahun saja.

    Nah, kenapa sih, pergerakan harga BNB cukup kencang? Dan kenapa kini BNB menjadi salah satu aset kripto paling populer di pasar?

    Tentu saja, penyebab utamanya adalah nilai guna koinnya, Sobat Cuan. Likuiditas BNB sangat kencang lantaran memang menjadi token resmi di serangkaian platform yang dimotori oleh empunya, yakni platform exchange kripto Binance.

    Selain itu, koin ini juga digunakan di dalam aktivitas ribuan aplikasi yang berada di ekosistem Binance Smart Chain. Yakni, sebuah ekosistem di mana pengembang bisa mengembangkan aplikasinya di atas sistem blockchain milik Binance.

    Nah, dengan nilai guna serta pertumbuhan nilai yang mumpuni, tak heran jika kini Binance Coin adalah salah satu koin digital paling populer. Selain itu, prospek koin BNB pun diramal akan terus cerah, lho. Apa alasannya?

    5 Alasan Prospek Binance Coin Akan Tetap Tokcer

    1. Binance Coin adalah Salah Satu Token Utilitas Terbaik

    Seperti yang disebutkan di atas, BNB bisa digunakan untuk berbagai macam aktivitas seperti trading dan membayar ongkos transaksi di platform Binance

    Namun, selain itu, BNB ternyata juga bisa digunakan di luar ekosistem Binance. Misalnya, membayar tagihan kartu kredit, membayar belanja daring, membayar ongkos traveling, hingga transfer antar aset kripto. Bahkan, beberapa aplikasi pun menawarkan fitur split bill, di mana penggunananya bisa membayar dengan Binance Coin.

    Baca juga: Beragam Cara Lindung Nilai Aset Kripto di Saat Harga ‘Ambyar’

    2. Suplai Koin Berkurang Sehingga Harga BNB Tak Akan Longsor

    Binance Coin hanya berjumlah 200 juta token di dunia ini. Namun uniknya, Binance punya rencana untuk menggunakan 20% dari profit BNB untuk membeli kembali token-token Binance Coin sampai jumlah BNB yang tersisa mencapai 50% dari total suplai yang beredar. Proses itu pun kemudian dikenal sebagai “burning”.

    Setelah burning selesai, maka nantinya hanya akan ada 100 juta koin yang tersirkulasi di pasar kripto. Hal ini dilakukan Binance untuk menstabilkan harga BNB sehingga tidak anjlok ke depan.

    Nah, sesuai hukum ekonomi, maka minimnya suplai tentu akan mengarah ke kenaikan harga barang tersebut. Melihat kondisi ini, apakah Sobat Cuan tak tertarik memiliki BNB?

    3. Mendapatkan Diskon di Platform Binance

    Salah satu alasan harga BNB naik adalah permintaan yang tokcer dari 14 juta pengguna Binance. Alasannya, karena pengguna bisa mendapatkan diskon biaya transaksi di platform Binance jika membayar menggunakan BNB.

    Cara ini dianggap cerdik untuk mengembangkan komunitas pecinta BNB. Selain itu, cara ini pun bisa meningkatkan permintaan BNB, yang nantinya juga bisa mendongkrak harga aset kripto satu ini.

    Baca juga: Lagi Rame Investasi Kripto Bodong. Bagaimana Cara Memilih Platform Kripto yang Tepat?

    4. Binance Coin adalah Salah Satu Aset Kripto Populer

    Saat ini, nilai kapitalisasi pasar Binance Coin mencapai US$46,2 miliar dan menempati posisi keempat aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Hal itu terjadi bukan saja karena nilai guna BNB yang mumpuni, namun juga popularitas Binance yang juga oke.

    Kepopuleran Binance justru bisa membuka gerbang yang luas bagi adopsi BNB ke publik. Selain itu, ngetopnya nama Binance juga bikin perusahaan lain mau menggunakan BNB sebagai alat transaksinya. Salah satunya adalah platform video hiburan Uplive.

    5. Sirkulasi yang Kencang

    Seperti yang disebutkan di atas, Binance meminta penggunanya untuk membayar biaya transaksi di platform tersebut dalam bentuk BNB. Namun, nilai ongkos transaksinya cukup kecil, yakni hanya 0,1% dari nilai total transaksi yang dilakukan user.

    Akibatnya, pengguna Binance bisa menjadi leluasa dan jadi “rajin” bertransaksi di platform Binance. Bahkan, kini Binance bisa mengakomodasi transaksi sebesar 1,4 juta transaksi per detik.

    Nah, sirkulasi yang kencang ini digadang-gadang menjadi satu hal yang bikin BNB tidak akan ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

    Jadi bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu sudah siap menggenggam Binance Coin? Yuk, nantikan kehadiran BNB di aplikasi Pluang!

    Baca juga: Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Trading Education



    Sumber : pluang.com

  • Investasi Aman Tapi Cuan, Pilih Deposito atau Reksadana?

    Sobat Cuan investor pemula mungkin ingin berinvestasi yang mudah, minim risiko, dan bisa dilakukan dengan rebahan. Kemudian, pilhanmu kemudian jatuh antara deposito dan deposito.

    Nah, di sinilah mungkin kamu pusing. Pilih deposito? Atau reksadana?

    Tenang, jangan pusing dulu, Sobat Cuan. Artikel ini akan membantu kamu dalam memilih di antara dua produk investasi tersebut?

    Apa Beda Deposito dan Reksadana?

    Sebelum jauh membahas tentang instrumen mana yang lebih cuan, kamu bisa membaca terlebih dulu ya apa itu reksadana dan deposito.

    Ya, keduanya adalah instrumen investasi yang sama-sama memberi margin keuntungan, kok. Bedanya, keduanya memiliki instrumen keuntungan yang berbeda.

    Mengapa begitu? Sebab, baik deposito maupun reksadana memiliki skema investasi yang berbeda, bahkan disediakan oleh entitas lembaga yang berbeda. Kamu bisa membeli reksadana di sekuritas, sementara untuk membeli deposito kamu harus ke bank.

    Bagaimana Cuan dari Deposito atau Reksadana?

    Keuntungan pada reksadana sangat bergantung pada kinerja pasar instrumen investasi di mana dana kamu dikelola. Reksadana saham, misalnya, akan memiliki kinerja yang mirip dengan kinerja emiten pasar modal dimana dana ditempatkan.

    Tak hanya saham, reksadana juga memiliki opsi penempatan dana pada instrumen lain seperti surat utang negara, obligasi, bahkan efek. Ada juga reksadana yang menawarkan penempatan dana pada beberapa instrumen sekaligus untuk meminimalisir resiko.

    Pada jangka panjang, reksadana rata-rata memberikan cuan sebanyak 10-15% per tahun. Namun, angka ini sangat tergantung pada berbagai hal seperti kepiawaian manajer investasi mengelola dana, kinerja pasar, diversifikasi instrumen, sampai metode yang kamu pilih untuk membentuk kapital.

    Sementara itu, deposito mematok cuan berdasarkan margin yang disepakati di awal. Besarnya margin tergantung pada berbagai faktor, misalnya suku bunga acuan Bank Indonesia, rasio dana di bank, kebijakan bank, dan kesepakatan lainnya.

    Namun kelebihannya, saat mendepositokan dana kamu tidak harus menempatkannya untuk jangka panjang saja. Kamu bisa memilih deposito dengan tenor mulai dari sebulan sampai dengan dua tahun.

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Mana yang Lebih Besar Risikonya?

    Deposito jelas lebih aman ketimbang reksadana mengingat produk ini dibuat oleh perbankan. Yakni, institusi yang memang dibuat dengan tata cara dan tata kelola sesuai standar yang dibebankan oleh otoritas jasa keuangan.

    Apalagi, deposito menetapkan besaran keuntungan di awal. Sehingga, apapun yang terjadi selama tenor berlangsung, kamu akan tetap mendapat cuan yang dijanjikan.

    Meski begitu, reks dana pun memiliki resiko yang relatif minim ketimbang jika kamu berinvestasi langsung di pasar. Dari berbagai jenis reksadana, reksa dana saham adalah yang paling berisiko mengingat tingginya fluktuasi harga di pasar modal.

    Saat Inflasi, Pilih Deposito atau Reksadana?

    Tujuan utama berinvestasi pada instrumen yang aman seperti ini adalah untuk mencegah nilai uangmu tergerus inflasi. Lantas, diantara deposito atau reksadana, mana yang lebih efektif untuk melawan inflasi?

    Jawabannya adalah tergantung pada situasinya. Deposito memiliki margin yang disepakati sejak awal, sehingga apapun yang terjadi angka keuntunganmu akan tetap kamu dapat sesuai kesepakatan.

    Namun biasanya bunga deposito sangatlah konservatif. Bank pelat merah saat ini saja hanya menawarkan bunga 3-4% pertahun. Sementara inflasi tahunan terkadang melonjak tajam hingga mencapai 7% pertahun.

    Di saat seperti itu, deposito mungkin kurang efektif untuk dijadikan pilihan berinvestasi. Lain halnya jika inflasi terkendali dan pasar sedang tidak bisa diandalkan seperti saat ini.

    Di sisi lain, reksadana menawarkan volatilitas yang lebih tinggi namun juga imbal hasil yang lebih baik ketimbang deposito.

    Saat inflasi tinggi, biasanya perekonomian sedang baik. Pasar tengah bergairah. Berinvestasi di reksadana seharusnya merupakan pilihan yang tepat yang akan memberimu imbal hasil investasi lebih besar dari nilai yang tergerus inflasi.

    Baca juga: Ini Alasan HODL & Menabung Kripto Adalah Strategi Jitu Saat Pasar Bearish!

    Mana yang Punya Biaya Admin Lebih Tinggi?

    Jawabannya adalah reksadana. Kamu harus membayar beberapa biaya seperti fee dan admin bulanan untuk membiayai manajer investasi yang telah mengelola danamu. Apalagi, kalau kamu memilih metode dollar cost averaging saat menghimpun kapital.

    Berbeda dengan reksadana, deposito bebas biaya admin. Kamu mungkin akan mengeluarkan beberapa ribu rupiah di awal untuk membeli materai, tapi selebihnya investasimu tidak dipungut biaya apapun lagi selain pajak.

    Deposito atau Reksadana, Mana yang Lebih Fleksibel?

    Keduanya memiliki ketentuan batas waktu. Pada reksadana, biasanya kamu akan dikenakan charges senilai 1% dari NAB. Hal ini berlaku apabila kamu mencairkan lebih cepat dari waktu minimun yang ditentukan.

    Namun, penarikan setelah waktu yang ditentukan itu gratis. Hal ini tentu memberikan kamu keleluasaan asal dana yang diinvestasikan di reksadana bukanlah dana jangka pendek.

    Pada deposito, kamu diberi kebebasan dj awal untuk memilih tenor investasi sesuai kebutuhan kamu. Jika setelah deposito dibuat kamu menarik dana terlebih dahulu ketimbang tenornya kamu akan dikenakan penalty.

    Baca juga: Ini Jenis Uang yang Tak Boleh Digunakan Demi Trading Kripto!

    Bagaimana Pengenaan Pajak antara Deposito dan Reksadana?

    Deposito merupakan objek pajak penghasilan (PPh) jika nilainya di atas Rp7,5 juta. Di bawah itu, deposito kamu bebas pajak.

    PPh yang dikenakan pada deposito adalah sebesar 20% dari total margin yang kamu peroleh dan dipotong langsung saat kamu terima.

    Berbeda dengan deposito, reksadana bukanlah objek pajak. Namun kamu tetap harus melaporkan kepemilikan reksadanamu saat akan melapor SPT.

    Adapun yang dilaporkan hanya keuntungan dari transaksi penjualan yang dikategorikan sebagai lenghasilan lainnya yang tidak termasuk objek pajak. Jika ternyata nilai NAB kamu susut, maka kamu tidak perlu melaporkannya.

    Mengapa bisa begitu? Sebab, reksadana dalah dana himpunan dari masyaraka yang dikelola oleh manajer investasi. Pada pengelolaannya berbagai transaksi sudah dikenai PPh terlebih dulu, seperti PPh obligasi, saham, surat utang negara dan sebagainya.

    Besaran pajak yang dikenakan saat pengelolaan dana sudah dimasukkan ke dalam NAB, sehingga NAB yang kamu pegang sudah bebas pajak. Keunggulan lainnya adalah, jika pajak yang dikenakan pada deposito mencapai 20%, pengelola reksadana sering memperoleh diskon sehingga rata-rata pajak dikenakan hanya 5-15% saja.

    Jadi, bagaimana Sobat Cuan? Pilih reksadana atau deposito? Kalau pilih reksadana, mending investasi saja di Pluang! Di aplikasi Pluang, kamu bisa investasi reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang mulai dari Rp15.000 saja!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Kontan, Bareksa, Karvyonline, coverfox



    Sumber : pluang.com