Author: 10

  • Tergiur Aset Kripto? Simak 4 Tanda Kesiapan Kamu dalam Investasi Kripto!

    Demam investasi cryptocurrency memang tengah melanda para pemburu cuan. Tidak hanya di Indonesia, namun juga masyarakat umum secara global. Penyebabnya, apalagi kalau bukan cuan yang mumpuni dari aset kripto.

    Ambil contoh Bitcoin. Dengan harga saat ini di kisaran US$40.000 per keping, raja aset kripto ini telah mengalami pertumbuhan nilai sebesar 308,5% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, Ethereum juga mengalami pertumbuhan sebesar 923% di periode yang sama.

    Kripto berpotensi menjadi investasi yang menguntungkan, tetapi mungkin tidak untuk semua orang. Di tengah fluktuasinya yang kencang, ternyata tidak semua orang bisa terima dengan kencangnya risiko investasi cryptocurrency.

    Nah, kalau kamu sendiri bagaimana, Sobat Cuan? Apakah kamu sudah siap mengambil risiko cryptocurrency atau tidak? Jika belum tahu, yuk pahami empat tanda kamu sudah siap ambil risiko aset kripto di bawah ini!

    4 Tanda Kamu Siap Terjun ke Investasi Cryptocurrency

    1. Kamu Memiliki Toleransi yang Tinggi Terhadap Risiko Kripto

    Cryptocurrency adalah investasi berisiko tinggi dan memiliki volatilitas ekstrem.

    Bitcoin, misalnya, telah kehilangan sekitar 80% nilainya pada masa lalu. Hanya dalam seminggu, harganya bisa turun sekitar 20%. Meskipun telah berhasil pulih dari penurunan masa lalu, namun tidak semua investor dapat mentolerir tingkat volatilitas tersebut.

    Selain itu, aset ini secara umum adalah investasi yang sangat spekulatif. Kita berada di wilayah yang belum ‘dipetakan’, dan tidak ada yang tahu aset kripto akan menjadi seperti apa dalam jangka panjang. Kini, aset ini bisa mengubah peruntungan hidup, tetapi hal itu bisa dengan mudah menjadi tidak berharga di masa depan.

    Hal ini bukan untuk mengatakan bahwa aset kripto merupakan investasi yang buruk ya, Sobat Cuan. Hanya saja, ketika berinvestasi, kamu masih perlu toleransi risiko yang tinggi untuk dapat bertahan dari rollercoaster volatilitas.

    Baca juga: Mengapa Volume Transaksi Sangat Penting bagi Pergerakan Harga Kripto?

    2. Kamu Memiliki Dana Darurat yang Cukup

    Karena aset kripto sangat berisiko, Sobat Cuan penting untuk memastikan ketersediaan dana darurat yang sehat sebelum berinvestasi.

    Kamu mungkin akan terpaksa menjual investasi kripto kamu jika tidak memiliki dana darurat dan dihadapkan dengan pengeluaran tak terduga. Malahan, kamu bisa berakhir lebih buntung lagi. Sebab, kamu bisa berakhir dengan menjualnya di saat harga berada di titik terendah

    Dana darurat dalam hal ini adalah tabungan yang cukup untuk menutupi setidaknya tiga sampai enam bulan biaya hidup kamu. Dengan begitu, jika kamu mengeluarkan biaya tak terduga, kamu dapat membiarkan investasi kripto kamu tanpa perlu merugi.

    Mau tahu caranya menyimpan dana darurat? Yuk, klik artikel tips mengumpulkan dana darurat ini!

    Baca juga: Sudah Siap Cuan? Yuk Simak 3 Katalis Positif Harga ETH di Juni Berikut!

    3. Kamu Telah Melakukan Riset Tentang Investasi Cryptocurrency

    Tidak semua aset kripto diciptakan sama, jadi penting untuk melakukan riset saat memutuskan mana yang akan dibeli.

    Bitcoin, misalnya, memiliki rekam jejak terpanjang. Contoh lainnya, Ethereum, memiliki potensi dalam beberapa hal. Sementara itu, Dogecoin mungkin merupakan cryptocurrency paling berisiko dari semuanya.

    Sebelum kamu menginvestasikan uang, tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan kritis tentang setiap mata uang yang dipertimbangkan. Apakah koin yang kamu pilih memiliki keunggulan kompetitif di industri kripto? Bagaimana kegunaannya di dunia nyata? Apakah koin jagoanmu punya potensi pertumbuhan jangka panjang?

    Semakin banyak riset yang kamu lakukan sebelum berinvestasi, maka semakin baik peluang untuk memilih aset kripto terbaik.

    Baca juga: El Salvador Resmi Adopsi Bitcoin Sebagai ‘Uang’. Harga Bitcoin Bakal Naik?

    4. Kamu Memiliki Portofolio yang Terdiversifikasi

    Portofolio yang terdiversifikasi sangat penting. Bahkan, hal ini akan terasa lebih penting ketika kamu investasi cryptocurrency. Jika investasi kripto memburuk, kamu akan membutuhkan portofolio saham, reksadana, atau emas yang kuat untuk dijadikan sandaran.

    Salah satu cara termudah untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi adalah berinvestasi dalam reksadana indeks atau ETF, seperti Pluang S&P 500. Dengan cara ini, Sobat Cuan mendapatkan eksposur luas ke ratusan saham kuat di berbagai industri.

    Jika kamu lebih suka berinvestasi di saham individu, cobalah berinvestasi di setidaknya 10 hingga 15 saham dari berbagai industri. Idealnya, kamu akan memiliki portofolio inti dari saham yang kuat dan stabil sebelum menambahkan aset kripto ke dalam campuran.

    Atau, kalau mau lebih aman lagi, kamu bisa mendiversifikasikan aset kriptomu dengan emas. Jika mau lebih nyaman, maka kamu bisa mendiversifikasikan aset kriptomu dengan aset lain dalam satu platform investasi saja.

    Nah, dalam hal ini, kamu bisa melakukan diversifikasi investasi cryptocurrency di Pluang! Selain memiliki Bitcoin dan Ethereum, kamu juga mendiversifikasikannya ke di emasS&P 500, dan reksa dana . Yuk, diversifikasikan aset kriptomu di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Fool



    Sumber : pluang.com

  • Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Strategi dalam investasi sangat menentukan hasil akhir dari investasi tersebut. Termasuk dalam berinvestasi reksadana. Meski dipandang cukup mudah dilakukan, investasi reksadana pun membutuhkan strategi mumpuni agar cuan yang didapat bisa maksimal.

    Nah, di dalam berinvestasi reksa dana, terdapat dua strategi investasi yang dipakai secara umum: Dollar Cost-Averaging (DCA) dan Lumpsum. Masing-masing memiliki keuntungan dan kekurangan yang akan berefek pada investasimu.

    Penasaran seperti apa dua jenis strategi tersebut? Pastikan membaca sampai tuntas ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Anti Pompom, Ini Alasan Reksadana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!

    Dollar Cost-Averaging (DCA)

    Strategi investasi di reksadana dengan Dollar Cost-Averaging cukup populer. Sebab, tekniknya cukup simpel. Kamu hanya perlu menginvestasikan dana dalam jumlah tetap pada reksadana yang sama selama kurun waktu tertentu.

    Selama itu pula, kamu menyetorkan dana dalam interval yang tetap sehingga di akhir jangka waktu yang ditetapkan jumlahnya membesar seperti bola salju.

    Cara ini akan membuat dana kamu berputar dan terakumulasi seperti kamu investor aktif yang membeli saat harga rendah dan menjualnya saat sedang tinggi. Meskipun, kamu melakukannya secara reguler tanpa memperhatikan apakah saat itu pasar sedang membaik atau memburuk.

    Kamu tentu tidak bisa mengontrol pasar, tapi kamu bisa mengontrol dirimu untuk disiplin berinvestasi.

    Keuntungan Strategi Investasi Reksadana DCA

    Memilih strategi ini akan memberikanmu beberapa keuntungan diantaranya kapital yang snowballing. Maksudnya, saat kamu membeli unit NAB di harga rendah, maka jumlahnya akan lebih banyak dibanding orang lain yang membeli NAB saat harga lebih tinggi, meski jumlah uang yang diinvestasikannya sama.

    Artinya, dengan menaruh investasimu secara berkala kamu akan menikmati naik dan turunnya harga NAB tanpa harus terlalu banyak merugi.

    Di sisi lain, kamu tidak perlu terus menerus memperhatikan pergerakan pasar. Kamu bisa mengalihkan fokusmu pada hal lain sementara sistem DCA bekerja untukmu.

    Kamu juga bisa mengatur berkala jumlah yang akan diinvestasikan tiap bulan berikut dengan intervalnya. Beberapa produk reksadana bahkan sudah menyediakan opsi autodebet sehingga nominal itu akan ditarik otomatis dari rekeningmu.

    Makanya, tak heran jika strategi ini sangat disarankan bagi investor pemula, yang biasanya masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai pasar dan momentum penempatan dana.

    Strategi Investasi Reksadana Lumpsum

    Berbeda dengan DCA, strategi lumpsum dilakukan dengan menginvestasikan danamu sekaligus. Danamu akan ditempatkan dalam satu produk reksadana  dalam jangka waktu tertentu tanpa setoran berkala setelahnya.

    Karenanya, strategi ini sangat bergantung pada momentum. Kamu harus menempatkan danamu di saat yang tepat, yakni ketika harganya sedang rendah dengan potensi dan fundamental yang baik. Asumsinya, investasi ini nanti akan berkembang pesat saat pasar bergairah.

    Baca juga: Yuk, Simak 5 Cara Efektif Bagi Kamu dalam Mengumpulkan Dana Kesehatan!

    Keuntungan Strategi Investasi Reksadana Lumpsum

    Strategi ini memiliki keuntungan pada rendahnya biaya admin dan fee yang biasa dikenakan saat membeli reksadana. Sebab, ketika kamu menginvestasikan uangmu sekaligus, maka kamu tak akan dibebani dengan biaya-biaya yang muncul ketika kamu menyetorkan uang ke manajer investasimu.

    Jika kamu membeli dengan DCA, kamu akan dikenakan biaya ini tiap kali kamu menambah dana investasimu. Namun dengan lumpsum, kamu hanya melakukannya sekali. Karenanya kamu hanya perlu membayar biaya tersebut sekali saja.

    Biasanya strategi ini digunakan oleh pemain besar yang sudah paham dinamika pasar. Mereka sudah tahu kapan waktu terbaik menempatkan dana secara lumpsum. Mereka juga sudah paham resikonya dan tau cara mengendalikan resiko tersebut.

    Baca juga: Sobat Cuan, Yuk Simak 5 Tips Memilih Deposito Anti Kecewa Berikut!

    DCA vs Lumpsum: Mana yang Lebih Baik?

    Strategi mana yang lebih baik untuk diterapkan saat akan membeli reksadana? Semua tergantung pada selera risiko kamu dan momentumnya.

    Kalau kamu investor pemula atau sedang tidak yakin pada analisismu saat akan berinvestasi, DCA mungkin pilihan yang tepat untukmu. Kamu bisa menginvestasikan sedikit demi sedikit dulu dan menyimpan sisanya pada instrumen yang lebih aman seperti deposito.

    Selain itu, DCA juga tepat jika dana investasimu diperuntukkan untuk jangka panjang. Jika kamu membeli pada interval yang tidak menguntungkan, maka berinvestasi dalam jangka panjang akan mengembalikan keuntunganmu saat pasar sedang baik.

    Di sisi lain, kalau kamu hanya berinvestasi pada jangka menengah, mungkin strategi lumpsum adalah ide yang bagus. Apalagi, kalau kamu tahu momentum yang tepat untuk menjual dan membeli unit reksadana dengan danamu sekaligus.

    Investor DCA mungkin akan ketinggalan momentum terbaiknya saat pasar sedang murah. Sementara investor lumpsum akan menang besar dari momentum ini.

    Tapi ini berlaku juga saat merugi. Investor DCA tidak akan menderita kerugian yang parah seperti investor lumpsum. Karena dana mereka diinvestasikan perlahan-lahan dalam fluktuasi pasar di kurun waktu tertentu.

    Nah, kalau kamu pilih yang mana, Sobat Cuan? Apapun strategi investasi yang kamu pakai, pastikan kamu berinvestasi reksadana di Pluang ya!

    Di Pluang, kamu bisa berinvestasi di reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang. Dua produk tersebut pastinya aman dan terjangkau, karena kamu bisa berinvestasi mulai dari Rp15.000 saja!

    Yuk, segera investasi reksa dana di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Memperkenalkan Hamish Daud dan Chelsea Islan, Dua Brand Ambassador Pluang!

    Sobat Cuan, apakah kamu tahu bahwa kini Pluang punya dua Brand Ambassador yang kece? Ya, betul! Sekarang, Pluang menggandeng dua publik figur kenamaan Indonesia, Chelsea Islan dan Hamish Daud sebagai Brand Ambassador Pluang.

    Pluang memilih dua sosok tersebut karena mereka dinilai bisa menginspirasi masyarakat Indonesia dalam menabung dan berinvestasi. Apalagi, keduanya memiliki kesadaran finansial tinggi yang patut dijadikan teladan bagi masyarakat Indonesia.

    Nah, di artikel kali ini, yuk kenalan lebih jauh dengan Hamish dan Chelsea!

    Hamish Daud

    Siapa yang tak kenal Hamish Daud? Pria yang lahir tanggal 8 Maret 1980 ini dikenal sebagai aktor yang memiliki segudang filmografi yang luar biasa. Beberapa film yang ia bintangi di antaranya adalah Critical Eleven dan Trinity, The Nekad Traveler.

    Namun, di tengah kesuksesannya sebagai aktor kawakan tanah air, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa hal itu ia tidak dapatkan secara instan.

    Hamish, yang menghabiskan masa kecilnya di Australia, memang sudah hidup mandiri sedari dini. Ia sudah paham mengenai berjibaku dalam mencari nafkah dengan melakoni beberapa pekerjaan seperti pencuci piring di kafe, tukang kebun, hingga menjual furnitur. Bahkan, ia melakukan semuanya sejak usia 11 tahun!

    Mengingat uang yang dihasilkan merupakan buah kerja kerasnya, tak heran jika Hamish saat ini sangat menghargai dan memaknai uang berapapun jumlahnya. Salah satu bentuk apresiasi atas kerja kerasnya selama ini adalah dengan menabung dan menginvestasikannya ke berbagai kelas aset, seperti reksa dana pendapatan tetap.

    Selain bentuk penghargaan terhadap kerja kerasnya selama ini, Hamish menyadari bahwa menabung dan berinvestasi adalah salah satu cara bagi dirinya untuk menggapai tujuan finansialnya. Salah satunya adalah membiayai hobinya, yakni traveling dan berekspedisi dengan tujuan edukasi.

    Ia mengaku bahwa biaya yang dibutuhkan untuk memuaskan kegemarannya cukup menguras uang. Hal tersebut menuntunya untuk mengatur arus keuangannya secara cermat, sehingga ia memutuskan untuk menabung secara konsisten.

    Kisah hidup Hamish memang cukup inspiratif ya, Sobat Cuan. Hal tersebut membuat Pluang menggandeng Hamish sebagai salah satu Brand Ambassador. Tujuannya, agar Hamish bisa menginspirasi generasi seusianya dan keluarga Indonesia bahwa berinvestasi dan menabung adalah kunci menuju kemandirian finansial mumpuni di masa depan.

    “Saya memang sudah memikirkan masa depan saya sedari dini, namun saya pun harus menyeimbangkannya dengan kepuasan pribadi saya sendiri. Makanya, saya rutin menabung di beberapa kelas aset salah satunya yang terdapat di Pluang,” jelas Hamish.

    “Pluang menawarkan diversifikasi aset yang beragam dan berlisensi, sehingga saya yakin tabungan masa depan saya dan tabungan bagi budget traveling saya akan tetap aman dalam berbagai situasi.”

    Chelsea Islan

    Masyarakat juga pasti sudah tidak asing ketika mendengar nama Chelsea Islan. Wanita kelahiran 2 Juni 1995 ini juga dikenal sebagai aktris berbakat. Bahkan, ia sempat dua kali menerima nominasi piala Citra atas aktingnya yang memukau di film Di Balik 98 dan Rudy Habibie.

    Chelsea tak hanya memiliki kemampuan akting yang ulung. Ia pun ternyata juga memiliki kemampuan perencanaan keuangan yang baik. Siapa yang menyangka bahwa di usianya yang masih muda, Chelsea memiliki segudang penghasilan dari berinvestasi di beragam kelas aset.

    Chelsea mengaku bahwa dirinya adalah investor dengan profil risiko konservatif. Sehingga, ia cenderung “main aman” dalam berinvestasi dan memilih untuk mendulang pendapatan pasif. Oleh karenanya, tak heran jika ia memilih instrumen seperti reksa dana dan obligasi sebagai tujuan penempatan dananya.

    Selain berinvestasi di instrumen keuangan, Chelsea juga menginvestasikan uangnya di sektor properti yang ia rintis sejak 2016 silam. Properti yang ia beli saat itu pun merupakan buah yang ia petik dari menabung selama bertahun-tahun.

    Chelsea percaya bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Setiap orang tentu mendapat cobaan dalam hidup yang terkadang datang secara mendadak. Makanya, ia percaya bahwa setiap orang harus “sedia payung sebelum hujan” dengan memiliki back up plan. Nah, salah satu back up plan yang baik adalah dengan memiliki perencanaan keuangan yang juga apik.

    Atas sikap dan pandangan hidupnya tersebut, Pluang memutuskan untuk menggandeng Chelsea sebagai Brand Ambassador. Chelsea diharapkan dapat menginspirasi generasi milennial lainnya untuk segera memiliki perencanaan keuangan yang baik demi menggapai kemandirian finansial di masa depan.

    “Setiap orang punya impian masing-masing dan mereka harus bekerja keras untuk menggapainya. Salah satunya adalah dengan menabung dan berinvestasi. Saya telah membuktikan bahwa sukses finansial di usia muda bisa tercapai jika kita konsisten menabung dan berinvestasi sejak dini,” jelas Chelsea.

    Hamish dan Chelsea telah membuktikan bahwa menabung dan berinvestasi adalah kegiatan yang bermanfaat dan bisa dilakukan semua golongan masyarakat tanpa melihat usia, latar belakang, dan pendidikan. Hal tersebut selaras dengan visi Pluang, yakni untuk membantu setiap orang di Indonesia untuk bisa berinvestasi dan menabung di beragam aset investasi.

    Kalau Hamish dan Chelsea mempercayakan investasinya di Pluang, kenapa kamu tidak? Yuk, segera berinvestasi di Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Investasi Pilihan di 2021

    Investasi Pilihan Yang Bakal Booming di Tahun 2021

    Tahun 2020 segera berakhir, dan inilah beberapa investasi pilihan yang akan booming di tahun 2021.

    Katanya tahun depan disebut tahunnya kerja keras dan disiplin. Siapa yang kerja keras, sabar, dan disiplin, bakal kaya raya. Sebaliknya, yang bermalas-malasan, bakal merugi.

    Selain bekerja, kamu juga harus pintar memutar gaji atau penghasilan. Supaya duit tidak habis, tetapi malah berkembang biak.

    Caranya dengan investasi. Begitulah strategi orang-orang tajir. Maka dari itu, uang mereka terus bertambah banyak. Apalagi kalau investasinya di pasar modal, khususnya investasi pilihan saham. Cuannya lebih gede.

    Jika ada yang sudah mantap terjun sebagai investor saham atau mau investasi tetapi masih bingung, simak nih penjelasan tentang kondisi dan tren pasar di 2021, strategi investasinya, serta beberapa pilihan yang patut dilirik.

    Baca: Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

    Buat yang punya resolusi investasi, Hans Kwee dan Presiden Direktur CSA Institute, Aria Santoso merekomendasikan beberapa saham yang menarik untuk dikoleksi alias investasi pilihan:

    1. Investasi Pilihan Sektor pertambangan

    • Ada PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
    • Lalu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
    • Kemudian PT Timah Tbk (TINS)
    • Dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
    • Ada juga PT Adaro Energy Tbk (ADRO)
    • PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

    2. Investasi Pilihan Sektor keuangan, khususnya perbankan

    • Ada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk / Bank BRI (BBRI)
    • Lalu PT Bank Negara Indonesia Tbk / Bank BNI (BBNI)
    • Kemudian PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
    • Dan PT Bank Central Asia Tbk / Bank BCA (BBCA)

    3. Investasi Pilihan Sektor properti

    • Ada PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
    • Lalu PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)
    • Dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA)

    4. Sektor telekomunikasi

    • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)

    “Di 2021, harga komoditas akan naik, termasuk batubara, nikel untuk produksi baterai kendaraan mobil listrik. Tren bunga menurun, sehingga properti akan bergerak ke atas dan sektor keuangan, yang selalu jadi andalan ketika ada koreksi pasar,” Hans menjelaskan.

    Investasi jangan asal, sebab ada risikonya. Mesti punya strategi biar investasimu untung, bukan buntung. Seperti strategi yang dibocorkan Aria:

    • Pilih perusahaan yang mencetak keuntungan, earning positif
    • Cari saham perusahaan yang masih memiliki peluang tumbuh
    • Membeli saham ketika harga-harga turun, pasar terkoreksi, atau diskon
    • Diversifikasi saham. Miliki 5 sampai 10 saham emiten, tetapi tidak perlu sampai ratusan emiten.

    Baca: Dari 6 Pilihan Investasi Ini, Mana Sih yang Paling Tepat Untuk Pemula?

    Keluar dari Zona Nyaman Dengan Investasi Pilihan

    Mau hidup dengan gaji pas-pasan terus? Kalau ingin mengubah nasib, ayo bergerak. Keluar dari zona nyamanmu. Berani melangkah demi masa depan finansial yang lebih mapan.

    Segera tangkap peluangmu menjadi kaya raya dengan jalan investasi. Kalau niatmu baik, semesta pasti akan mendukung.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Unduh aplikasi Pluang di Google Play Store atau App Store untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam dengan kadar 999,9 mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera unduh aplikasi Pluang!

    Sumber: Forbes.com

    Baca juga:

    Mulai Investasi dari yang Mudah, Ini 6 Produk Investasi Terbaik untuk Pemula

    Dari 6 Pilihan Investasi Ini, Mana Sih yang Paling Tepat Untuk Pemula?

    Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Yuk Kenalan dengan 7 Proyek Decentralized Finance Berikut!

    Dunia decentralized finance (DeFi) adalah dunia yang masih relatif baru di kancah investasi aset kripto. Aktivitas ini merupakan salah satu cara baru bagi masyarakat dalam mendulang cuan aset kripto. Saking barunya dan masih belum terjamah, ranah DeFi masih memiliki banyak ruang untuk bereksplorasi.

    Sesuai namanya, yakni desentralisasi, ternyata Sobat Cuan juga bisa ikut berkecimpung lho di proyek-proyek di dalamnya. Lantas, apa saja sih proyek decentralized finance yang bisa kamu coba?

    Berikut ini kami punya daftarnya. Simak baik-baik ya!

    Sekilas Mengenai Decentralized Finance

    Pada intinya, DeFi merujuk pada sebuah ekosistem aplikasi finansial yang dibangun di atas jaringan blockchain. Nah, aplikasi finansial ini bertindak layaknya produk keuangan konvensional, misalnya pinjam meminjam, asuransi, hingga berinevstasi.

    Bedanya, seluruh kegiatan keuangan di jaringan tersebut tidak diawasi dan diatur oleh otoritas tertentu. Sehingga, kegiatan di dalamnya bersifat bebas akses, transparan, dan tanpa intervensi apapun.

    Adapun, pengguna bisa memiliki kontrol penuh atas aset mereka dan berinteraksi dengan ekosistem ini melalui sistem komunikasi dua arah (peer-to-peer) via aplikasi terdesentralisasi (dApps). Seluruh aplikasi yang berjalan di atas sistem blockchain ini akan menciptakan produk, jasa, serta pasar finansial baru yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

    Dengan demikian, maka bisa dibilang bahwa DeFi bisa digunakan untuk beragam kepentingan. Seluruh kepentingan tersebut diakomodasi melalui proyek-proyek DeFi yang kian hari kian marak. Lantas, apa saja proyek-proyek tersebut?

    Mengenal Jenis-Jenis Proyek Decentralized Finance

    1. Proyek Pinjaman Decentralized Finance

    Pinjam meminjam di dunia finansial adalah urat nadi yang menjadi salah satu basis perekonomian. Hal serupa juga berlaku pada dunia DeFi.

    Bedanya, jika di dunia centralized finance atau ekonomi konvensional, pinjaman perlu dilakukan melalui lembaga perantara (intermediaries). Namun, skema berbeda terdapat di ekosistem DeFi. Produk pinjaman di DeFi mayoritas menggunakan mata uang kripto populer seperti Ether (ETH).

    Tanpa lembaga perantara, proses pinjaman dilakukan melalui protokol DeFi bernama smart contract. Protokol ini juga digunakan untuk mengatur margin, tingkat bunga dan kesepakatan lainnya dalam bahasa pemrograman. Jika seluruh prasyarat terpenuhi, maka transaksi secara otomatis akan tereksekusi.

    Tingkat bunga bukan ditentukan oleh bunga acuan dan peraturan pemerintah sebagaimana yang terjadi di dunia finansial konvensional. Variasi tingkat bunga didapat dari variasi mata uang kripto yang dijadikan kolateral.

    Sejauh ini, projek pinjaman masih menjadi projek terbesar dalam dunia DeFi. Jika kamu tertarik menjajal proyek ini, kamu perlu mengakses platform yang menyediakan layanan seperti Aave, bZx, blockFi, Compound, Nexo, Coinlist, Curve, dydx, yearn, maker dan lain sebagainya.

    Baca juga: Apa itu Yield Farming?

    2. Proyek Decentralized Exchanges dalam DeFi (DEXs)

    Sebagaimana mata uang konvensional, kamu juga bisa menukar aset kripto kamu dengan mata uang lain. Proyek ini dinamanya dexentralized exchanges (DEXs). Kamu bisa menukarnya tanpa harus mentransferkan kustodi yang menjadi underliying kolateral.

    Salah satu sifat Decentralized Finance yang menarik adalah transaksi d idalamnya tidak membutuhkan kepercayaan. Hal itu berkat keberadaan teknologi smart contract yang memungkinkan transaksi interoperable dalam skala luas.

    DEXs semakin berkembang beberapa bulan terakhir dengan semakin banyaknya kapital yang masuk ke dalam sistem. Tertarik mencoba? Kamu bisa mengakses platform seperti oxProtocol, Banchor,  dydx, kyber network dan Uniswap jika tertarik menjajal proyek jenis ini.

    Baca juga: Ragu Sama DeFi? Ini 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Perhatikan Teknologi Ini!

    3. Proyek Derivatif dalam DeFi

    Apa sih arti derivatif? Nah, kamu bisa membaca tentang trading derivatif dalam dunia finansial di sini. Namun, hal itu tak hanya berlaku di dunia keuangan konvensional sebab ekosistem decentralized finance juga menawarkan proyek yang serupa tapi tak sama.

    Terdapat empat tipe kontrak derivatif yakni future, forwards, options dan swaps. Dalam dunia DeFi, investor diuntungkan dari kontrak derivatif yang terbuka, transparan, dan terotomasi dalam bentuk smart contract.

    Smart contract bisa membuat kontrak derivatif berisikan token yang memaksa kedua belah pihak menjalankan kontraknya dengan baik. Beberapa platform menyediakan ruang untuk kamu menjajal projek ini, diantaranya yang paling terkenal adalah synthetix. Selain itu, platform lain sepertu dydx, opium, erasure dan opyn juga bisa kamu gunakan untuk proyek derivatif.

    4. Dompet Digital dalam DeFi

    Dompet digital memiliki peran krusial saat kamu ingin berinteraksi dengan produk DeFi. Bentuknya bisa bermacam-macam dan digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti underlying produk.

    Sejalan dengan pesatnya perkembangan sektor DeFi, dompet digital pun berkembang drastis dari segi akses maupun penggunaan.

    Kamu bisa menggunakan dompet digital melalui platform Coinbase, Authereum, Portis, Magic dan lain sebagainya.

    5. Proyek Asset Management dalam DeFi

    Seiring berkembang pesatnya produk DeFi, manajemen aset juga sangat diperlukan agar para pengguna bisa mengelola asetnya. Sejalan dengan itu, proyek asset management juga dilakukan dengan cara berbeda dibanding dunia finansial konvensional lantaran ekosistem DeFi yang tak diawasi oleh otoritas jasa keuangan.

    Kamu bisa melacak asetmu dari berbagai jenis token, produk, penyedia jasa ini dengan mudah melalui platform yang ada. Adapun platform yang menyediakan layanan ini adalah Balancer, DeFi saver, instaDapp, Sablier, Set Protocol, Zerion dan Zapper.

    Baca juga: Masih Belum Paham Beda DeFi vs CeFi? Yuk, Belajar di Artikel Ini!

    6. Proyek Asuransi dalam DeFi

    Protokol DeFi memungkinkan penggunanya untuk menerapkan aturan dalam smart contracts, dana atau bentuk lainnya. Saat ini sektornya masih terbilang kecil, namun nantinya saat sektornya membesar, keberadaan asuransi akan memegang peranan penting.

    Saat ini masih terbatas platform yang menyediakan proyek asuransi, diantaranya Nexus, Opyn dan Opium

    7. Tabungan

    Bukan hanya meminjamkan, kamu juga bisa sekedar menabung uang kripto kamu di DeFi. Kamu juga bisa dapat margin dari tabungan sebagaimana menabung di bank. Bedanya, margin dalam DeFi didapat dengan cara yang unik dan baru.

    Tertarik mencoba? Kamu bisa memakai platform DAI, Dharma dan Pool Together jika ingin mencobanya ya, Sobat Cuan. Atau, kalau kamu penasaran ingin mendapatkan pendapatan pasif dari tabungan aset kriptomu, tak ada salahnya kamu mencoba Pluang Cuan di aplikasi Pluang!

    Di Pluang Cuan, kamu bisa mendapatkan imbal hasil maksimal sebesar 3,5% per tahun hanya dengan menabung Bitcoin atau Ethereum milikmu. Untuk saat ini, imbal hasil tersebut tercatat lebih besar dibanding menabung di produk tabungan perbankan, lho!

    Tertarik mencoba Pluang Cuan? Yuk, tabung Bitcoin dan Ethereum-mu sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Panik Akibat The Fed? Simak Cara Tenang Investasi SP 500 Saat Cuaca Mendung!

    The Fed sudah mulai memperlihatkan sinyal untuk melakukan perubahan kebijakan moneter. Setelah berjibaku untuk memulihkan ekonomi Amerika Serikat dengan pelonggaran kebijakan moneter, bank sentral AS tersebut kini menyiratkan “lampu hijau” untuk mengetatkannya.

    Hal ini tentu akan berdampak keras terhadap pasar modal AS, khususnya indeks S&P 500. Adapun, pengaruh kebijakan moneter The Fed terhadap pasar modal AS bisa Sobat Cuan baca di artikel ini. Nah, di saat seperti ini, bagaimana caranya tips investasi S&P 500 dengan tenang?

    Perkembangan Terbaru Kebijakan The Fed

    Sebelum melangkah ke tips investasi S&P 500 yang dimaksud, ada baiknya Sobat Cuan memahami perkembangan moneter terbaru yang dilempar The Fed.

    Pada rapat bulanan The Fed yang dihelat pada Rabu (16/6), otoritas moneter ini masih akan melangsungkan rezim suku bunga acuan rendah demi memulihkan ekonomi AS yang porak poranda akibat pandemi COVID-19. Hanya saja, langkah dovish yang selama ini dipertahankan sepertinya bakal berbalik menuju hawkish.

    Hal itu terlihat dari pernyataan The Fed yang berencana meningkatkan prospek suku bunga pada 2023 menjadi 0,6% dari proyeksi sebelumnya 0,1%.

    Hal itu membuat kepanikan di kalangan investor, karena dapat diartikan bahwa bakal ada dua kali kenaikan suku bunga 0,25% dalam dua tahun mendatang. Tidak hanya itu, The Fed juga merevisi ke atas perkiraan pertumbuhan ekonomi dan juga inflasi.

    Alhasil, pasar sontak gaduh. Indeks S&P 500 langsung terjerembab 0,61%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average juga susut 0,59% atau sebesar 201 poin and Nasdaq Composite juga ikut melemah 0,08%

    Saham-saham yang biasanya menawarkan keuntungan tinggi, seperti induk Google Alphabet, Microsoft, Amazon dan Facebook menjadi tidak menarik.

    Nah, kondisi di atas tentu membuat Sobat Cuan investor indeks S&P 500 ikutan panik. Namun, kamu tetap perlu tenang dan hindari panic selling.

    Kamu perlu paham bahwa fluktuasi saham akibat kebijakan moneter adalah hal biasa. Selain itu, menurut data historis, kapitalisasi pasar saham akan terus bertumbuh antar waktu. Alias, investasi saham pada akhirnya akan bikin kamu cuan di jangka panjang.

    Biar kamu makin tenang, yuk simak tips investasi S&P 500 berikut agar kamu nyaman meskipun pasar sedang dihantam badai!

    Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

    3 Tips Tenang Investasi S&P 500 Saat Pasar Morat-Marit

    1. Naik Turunnya Kondisi Pasar Saham Adalah Hal Lumrah

    Sobat Cuan harus bisa memahami bahwa pasar bergerak secara dinamis. Tidak ada pasar saham yang terus mencatatkan kenaikan setiap harinya. Jadi, tetap kuasai emosi dan tarik nafas dalam untuk bisa tenang.

    Sejarah pun membuktikan bahwa pasar saham suatu saat akan membaik meski diterjang gelombang besar. Sejak tahun 1928, sudah terjadi koreksi sebanyak 21 kali, dimana indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sampai 20%. Namun, setelah koreksi selesai, pasar tetap kembali pulih dan melanjutkan reli kenaikannya.

    Jadi, teruslah fokus pada masa depan dan tetap tenang supaya Sobat Cuan tidak membuat keputusan yang impulsif yang pada akhirnya malah membuat kerugian.

    2. Hindari Panic Selling

    Saat melihat pasar amblas, kadang pikiran untuk mengambil cut loss kerap terlintas di benak Sobat Cuan. Padahal, hal itu merupakan bentuk panic selling lantaran melihat harga saham yang terus melorot.

    Nah, Sobat Cuan perlu menghindari hal tersebut! Sebab, nantinya kamu akan masuk kembali ketika pasar bergairah. Alias, ketika harga kembali masuk di harga yang tinggi.

    Ketika pasar ambruk, memang harga saham yang sudah dikoleksi menjadi tidak berharga. Namun ingat, ketika kondisi ekonomi mulai pulih dan pasar kembali bergairah, maka investasi yang dimiliki Sobat Cuan juga akan terdongkrak seiring dengan pertumbuhan yang ada.

    Dalam kondisi seperti ini, lebih baik untuk tidak menyentuhnya sama sekali dan tunggu hingga pasar kembali pulih, bukan?

    Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

    3. Tips Investasi S&P 500 – Punya Dana Lebih? Lakukan Average Down

    Kondisi pasar saham yang ambruk memang ngeselin ya, Sobat Cuan. Tapi, kondisi ini justru menjadi waktu terbaikmu untuk mengakumulasi aset. Karena, kapan lagi Sobat Cuan bisa mendapatkan harga murah untuk saham yang baik?

    Jika memang saham yang dikoleksi saat ini memiliki fundamental baik dan Sobat Cuan memliiki dana dingin yang cukup, maka kamu mungkin bisa mempertimbangan untuk masuk di harga yang lebih murah.

    Dengan begitu, harga rata-rata yang dimiliki Sobat Cuan juga menjadi semakin rendah dan berpotensi mendapatkan cuan yang lebih lebar.

    Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mengoleksi saham, lakukan riset mendalam tentang fundamental perusahaan tersebut. Sehingga, kamu bisa tetap tenang meskipun pasar bergejolak.

    Nah, bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu makin tenang berinvestasi di S&P 500? Yuk, segera investasi indeks S&P 500 di aplikasi Pluang sekarang!

    Baca juga: Apa Sih, Perbedaan Investasi Reksadana dan Investasi Saham?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

    Sumber: Investing.com, The Motley Fool



    Sumber : pluang.com

  • Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

    Peningkatan jaringan Bitcoin pertama dalam empat tahun berjuluk Taproot, baru saja disetujui oleh penambang di seluruh dunia. Ini adalah momen konsensus yang langka di antara para pemangku kepentingan. Sobat Cuan wajib simak nih, soalnya ini adalah momen penting bagi perkembangan Bitcoin ke depan.

    Taproot akan mulai berlaku pada bulan November. Ketika itu terjadi, hal itu akan berarti privasi dan efisiensi transaksi yang lebih besar. Dan yang terpenting, hal ini akan membuka potensi kontrak pintar (smart contract), fitur utama dari teknologi blockchain yang menghilangkan perantara, bahkan dari transaksi yang paling kompleks sekalipun.

    “Taproot penting, karena membuka peluang yang luas bagi pengusaha yang tertarik untuk memperluas utilitas Bitcoin,” kata Alyse Killeen, Pendiri dan Mitra Pengelola Stillmark, perusahaan ventura yang berfokus pada Bitcoin.

    Tidak seperti peningkatan Bitcoin pada 2017 yang disebut sebagai “perang saudara terakhir” karena perbedaan ideologis yang memisahkan penganutnya, Taproot memiliki dukungan yang hampir universal. Hal itu karena perubahan ini merupakan peningkatan bertahap pada kode Bitcoin.

    Baca juga: Fans Bitcoin Wajib Baca! Ini Prediksi Bitcoin Selama 2021 Dari 10 Pakar Top!

    Apa Itu Bitcoin Taproot?

    Taproot Bitcoin akan memberi ruang bagi Bitcoin untuk berkembang. Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, fitur kontrak pintar diimplementasikan pada Bitcoin, sebuah fitur yang selama ini hanya terjadi di ekosistem Ethereum.

    Oleh karenanya, upgrade Taproot akan berfokus di perbaikan keamanan transaksi. Nah, makanya tak heran jika sasaran utama perbaikan jaringan ini berada di soal keamanan tanda tangan digital.

    Mengapa tanda tangan digital menjadi penting?

    Hal ini dianggap penting lantaran tanda tangan digital di dalam sistem cryptocurrency dianggap sebagai sebagai sidik jari yang ditinggalkan seseorang pada setiap transaksi yang mereka lakukan.

    Saat ini, cryptocurrency menggunakan sesuatu yang disebut “Elliptic Curve Digital Signature Algorithm”, yang dibuat dari kunci pribadi yang mengontrol dompet Bitcoin dan memastikan bahwa Bitcoin hanya dapat dibelanjakan oleh pemilik yang sah. Nah, di dalam upgrade Taproot, tanda tangan digital akan beralih ke sesuatu yang dikenal dengan tanda tangan Schnorr.

    Pentingnya Sistem Tanda Tangan Baru di Sistem Blockchain Bitcoin

    Menurut Wakil Presiden perusahaan pool penambangan Bitcoin Hong Kong Poolin Alejandro De La Torre, tanda tangan Schnorr akan membuat transaksi multi-tanda tangan tidak dapat dibaca.

    Dalam praktiknya, itu berarti privasi yang lebih besar, karena password kamu tidak akan memiliki banyak eksposur pada tiap-tiap rantai transaksi (chain) yang berada di dalam sistem blockhain.

    “Anda bisa menyembunyikan siapa diri Anda sedikit lebih baik, itu bagus,” kata Brandon Arvanaghi, yang sebelumnya merupakan insinyur keamanan di bursa kripto Gemini.

    Hal tersebut dianggap bisa menutupi kelemahan jaringan blockchain Bitcoin selama ini. Mengapa demikian?

    Ketika transaksi Bitcoin dicatat di dalam sistem blockchain, maka catatan-catatan tersebut akan bersifat publik. Termasuk mengekspos detail-detail terkait pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut.

    Sayangnya, hal ini bikin beberapa pihak semakin mudah menjejak data-data pihak yang bertransaksi dengan Bitcoin, termasuk pemerintah. Padahal, sesuai semangatnya, Bitcoin dan cryptocurrency lainnya adalah ekosistem yang seharusnya terdesentralisasi.

    Baca juga: Tergiur Aset Kripto? Simak 4 Tanda Kesiapan Kamu dalam Investasi Kripto!

    Cara Kerja Bitcoin Taproot dan Manfaatnya

    Sistem Taproot akan membuat seluruh pihak yang bertransaksi di jaringan blockchain Bitcoin terlihat transaksi standar — meskipun berisikan transaksi kompleks di dalamnya. Mereka bisa melakukan hal itu dengan mengombinasikan kunci-kunci publik (public keys) dan mengombinasikan tanda tangan digital mereka menggunakan tanda tangan Schnorr.

    Akibatnya, sistem blockchain Bitcoin hanya membutuhkan sedikit data untuk memproses transaksi. Sehingga, ongkos kontrak pintar bisa lebih murah dan dilakukan dalam skala yang lebih kecil. Sehingga, tak heran jika peningkatan fungsionalitas dan efisiensi ini dinilai menghadirkan “potensi yang menakjubkan.”

    Mengapa demikian? Alasannya mudah saja, Sobat Cuan. Kamu pasti sudah melihat bagaimana teknologi smart contract berjalan di sistem Ethereum, bukan? Di mana, sistem tersebut bikin token-token aset kripto bisa menjalankan fungsi “nyata” layaknya mata uang biasa.

    Nah, oleh karenanya, sistem Taproot nantinya memperbolehkan pengguna Bitcoin menggunakan tokennya untuk transaksi apapun. Mulai dari membayar sewa setiap bulan, bahkan hingga mendaftarkan nomor kendaraan.

    Baca juga: Mengapa Volume Transaksi Sangat Penting bagi Pergerakan Harga Kripto?

    Akankah Taproot Mengerek Harga Bitcoin?

    Upgrade sistem Taproot tentu saja bisa menjadi katalis positif bagi harga Bitcoin.

    Alasan pertamanya adalah kenaikan nilai guna. Ketika jaringan blockchain Bitcoin sudah bisa digunakan untuk smart contract, maka nilai manfaat Bitcoin pun akan bertambah. Sehingga, semakin banyak orang mungkin akan mengadopsi teknologi ini untuk kegiatan ekonomi mereka.

    Kalau sudah demikian, artinya permintaan Bitcoin bisa meningkat, bukan?

    Selain itu, Taproot juga diharapkan membawa privasi dan transparansi yang lebih baik. Sehingga hal itu bisa membuat penggunanya semakin percaya dengan keandalan sistem blockchain Bitcoin.

    Kabar soal Taproot sempat menjadi penyebab naiknya harga Bitcoin di pekan lalu, bahkan bikin sang raja aset kripto ini mendekati US$40.000. Meski memang, hype taproot mereda, dan kini (Senin (21/6)) harga Bitcoin pun luruh ke angka US$34.000 per keping.

    Jika implementasi Taproot berjalan dengan baik, ada kemungkinan Bitcoin akan mencapai atau melewati harga tertinggi dalam sejarah. Karena peningkatan sistem teknologi adalah alasan paling sering untuk menaikkan harga Bitcoin.

    Seru sekali ya, Sobat Cuan. Nah, mumpung ada sentimen bagus bagi harga Bitcoin ke depan, kenapa kamu tak investasi Bitcoin sekarang? Yuk, investasi Bitcoin di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CNBC, Decrypt, Indodax



    Sumber : pluang.com

  • Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

    Sobat Cuan yang doyan trading tentu tak asing dengan Relative Strength Index (RSI). Ya, indikator satu ini memang satu dari empat indikator penting yang memang kamu harus pahami saat utak-atik strategi trading kamu. Termasuk, trading aset kripto.

    Hanya saja, trader pemula mungkin kesulitan mencari cara menggunakan RSI lantaran terbilang asing. Padahal, indikator ini esensial bagi mereka untuk menganalisis pergerakan harga crypto, lho.

    Nah, apakah kamu juga adalah trader pemula? Dan apakah kamu juga penasaran dalam menggunakan indikator ini secara tepat untuk mendulang cuan aset kripto? Yuk, simak artikel ini sampai habis, ya!

    Sekilas Tentang RSI

    Secara singkat Relative Strength index adalah indikator yang dipublikasikan oleh penemunya, J Welles Wilder Jr dalam buku berjudul New Concept in Technical Trading Systems di tahun 1978.

    instrumen analisis teknikal ini mengukur kecepatan relatif perubahan harga. Sehingga, kamu bisa tahu apakah aset kamu sedang dalam posisi jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold).

    Lantas, bagaimana caranya kamu tahu harga sebuah aset kripto overbought dan oversold? Caranya adalah dengan menggunakan skala 0 hingga 100 di grafik RSI tersebut. Berikut adalah arti-arti angka tersebut:

    1. Jika RSI mendekati angka 0, maka aset tersebut mengalami fase jenuh jual (oversold). Oversold adalah suatu kondisi di mana sebuah aset diperdagangkan di bawah harga intrinsiknya sehingga memiliki potensi unuk memantul kembali.
    2. Jika RSI mendekati angka 100, maka aset tersebut mengalami fase jenuh beli (overbought). Overbought adalah kondisi di mana sebuah aset diperdagangkan di level harga tinggi, bahkan lebih tinggi dibanding nilai intrinsiknya. Nantinya, harga aset tersebut dipercaya akan terkoreksi setelahnya.
    3. Jika RSI berada di kisaran 50%, maka pasar sedang tidak bisa menentukan apakah mereka ingin membeli atau menjual asetnya. Nah, oleh karenanya, trader harus menganalisis kondisi tersebut dengan bantuan indikator lain seperti level support dan resistance, volume, Moving Average, dan lain-lain sebelum menentukan langkah trading selanjutnya.

    Adapun indikator RSI biasanya berupa garis yang bergerak di antara skala 0 hingga 100 tersebut. Lalu, berdasarkan konsensus, kamu bisa menilai kapan asetmu harus dibeli atau dijual berpatokan pada garis yang berada di nilai indeks tersebut. Contoh RSI bisa kamu lihat di grafik berikut.

    Cara Menggunakan RSI
    Contoh RSI harga ETH/USDT. Sumber: Trading View

    RSI biasanya digunakan secara bersamaan dengan indikator lain seperti Moving Average (MA). Namun RSI sendiri bermanfaat untuk membantumu menemukan momentum terbaik dalam membeli ataupun menjual aset kripto andalanmu.

    3 Alasan Pentingnya Analisis dengan RSI

    Ada tiga alasan utama mengapa indikator ini sangat penting digunakan saat kamu hendak menganalisis pergerakan harga crypto kamu, Sobat Cuan.

    1. Pertama, RSI memiliki pola yang sama dengan closing chart. Sehingga, kamu bisa mengonfirmasi prediksi dan asumsi kamu saat trading.
    2. Kedua, RSI memberi dukungan informasi yang lebih baik mengenai tren harga dibanding closing chart umum. Saat harga sedang downtrend, kamu mungkin berpikir bahwa saat itu sudah oversold. RSI dapat membantumu mengonfirmasi apakah harga betul-betul oversold atau hanya downtrend biasa. Dengan begitu, kamu bisa melakukan trading dengan informasi yang lebih valid.
    3. Ketiga, kamu juga bisa mengetahui lebih cepat saat harga berbalik arah atau berubah tren. Jika harga downtren gagal menembus area di bawah 30 dan berbalik arah namun tidak sampai menyentuh garis 70, maka tren mungkin sedang melambat. Begitupun sebaliknya. Adapun fenomena ini disebut divergensi.

    Intinya, RSI membantumu mengetahui momentum dimulai atau berakhirnya downtrend dan uptrend. Hal ini tentu akan membantumu melakukan trading dengan efisien, bukan?

    Baca juga: Simak 4 Indikator Analisis Teknikal Dasar Bagi Pemula Berikut!

    Cara Menggunakan RSI

    Sebagaimana disebutkan sebelumnya, RSI adalah osilator momentum yang berguna memberitahu kapan crypto kamu berada pada titik jenuh, baik di titik jual maupun beli. Wilayah overbought dan oversold dalam RSI ditentukan berdasarkan konsensus. Namun, biasanya skala yang dipakai adalah 30 hingga 70.

    Maksudnya, crypto kamu bisa dikatakan oversold saat berada di ambang wilayah 30. Namun, bila harganya berada di wilayah ambang 70 ke atas, artinya crypto kamu sedang oversold.

    Cara Menggunakan RSI Saat Overbought

    Meski grafik RSI rata-rata menggunakan patokan 70 untuk overbought, kamu bisa mengatur batas kamu sendiri saat menganalisis pergerakan kripto.

    Penting diingat, overbought adalah situasi yang rawan koreksi harga. Jika sudah terlalu jenuh, tren harga biasanya berbalik turun makanya kamu harus memanfaatkan momentum overbought untuk cuan secepatnya!

    Sinyal bullish biasanya terjadi saat harga berada di atas ambang 50. Jadi, kamu bisa mulai bersiap-siap mengambil momentum begitu harga aset kriptomu berada di level ini.

    Contoh overbought beserta koreksi harganya bisa kamu lihat di grafik berikut.

    Market Wrap: Bitcoin Steady Near $54K; RSI Indicator Warns of Limited  Uptrend - CoinDesk
    Contoh overbought. Sumber: Coindesk

    Baca juga: Lagi Coba Main Saham? Ini 7 Indikator untuk Pahami Analisis Teknikal!

    Cara Menggunakan RSI Saat Oversold

    Sebaliknya, kamu harus sudah mulai waspada jika harga berada di bawah garis 50. Sebab, harga aset kriptomu mungkin terindikasi sedang bearish dan angka indeks RSI bisa saja terus melandai menembus garis oversold.

    Oversold secara harfiah terjadi saat harga berada di bawah nilai interinsiknya. Maka situasi ini berpotensi disusul dengan sinyal rebound yakni saat harga berangsur pulih.

    Sebagai trader, kamu harus bisa memakai momentum ini untuk menimbun aset kriptomu. Dengan perhitungan yang matang, RSI bisa leverage cuan kamu saat harga aset membaik, Sobat Cuan!

    Berikut contoh titik-titik di mana kondisi oversold terjadi.

    Bitcoin Holds Support at $56K; Resistance at $60K-$63K
    Contoh oversold. Sumber: Coindesk

    Divergensi

    Sobat Cuan harus memperhatikan kapan divergensi terjadi, yakni saat tren mulai kehilangan momentum. Baik momentum bullish maupun bearish, keduanya akan kehilangan momentum yang membuat harga berbalik arah. Nah, kesempatan ini dapat memperlebar margin cuan kamu jika tangkas membacanya.

    Divergensi terjadi saat harga naik tapi RSI tidak mengikutinya. Karena RSI merupakan data historis, maka garisnya tentu berbeda dengan data terkini. Tren divergensi ini memberitahu kamu bahwa tren sudah melemah dan siap berbalik arah secara tajam, jadi hati-hati ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Apa Itu Crypto Faucet?

    Membaca Sinyal Jual dari RSI

    Mendulang cuan di trading sangat erat kaitannya dengan timing menjual asetmu. Nah, bagaimana caranya kamu bisa melihat momentum itu lewat RSI?

    Cara menggunakan RSI untuk menilai kapan kamu harus menjual dilakukan dengan memperhatikan dua indikasi yang bisa kamu jadikan patokan. Yakni saat harga sedang oversold dan saat bearish divergence terjadi.

    Berbeda dengan sinyal oversold yang mudah terbaca dalam grafik, bearish divergence membutuhkan skill yang lebih mumpuni. Kamu akan membutuhkan bantuan indikator MA untuk melihatnya dalam grafik RSI. Sebab, bearish divergence terjadi saat harga mencetak rekor tertinggi namun trennya turun berdasarkan garis MA.

    Jika divergensi bearish terjadi, kamu harus cepat-cepat menjual crypto kamu sebelum terlambat. Ketimbang mesti cut loss terlalu banyak nantinya.

    Jadi bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap menggunakan RSI untuk trading aset kriptomu? Yuk, coba dulu dengan Bitcoin dan Ethereum hanya di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

    Sobat Cuan investor aset kripto mungkin pernah mendengar soal Polkadot. Nah, koin dan jaringan yang masih ‘saudara’ dengan Ethereum ini disebut-sebut punya masa depan yang cerah lho!

    Tapi, kalau kerap disandingkan dengan Ethereum, apakah memang Polkadot sama seperti Ethereum? Jika tidak, lantas apa sih bedanya Polkadot vs Ethereum? Yuk, simak penjelasannya berikut!

    Baca juga: Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

    Penjelasan Singkat Tentang Polkadot

    Polkadot didirikan oleh Web3 Foundation di Swiss dan merupakan web open source terdesentralisasi yang dibuat oleh mantan CTO Ethereum Gavin Wood, Robert Habermeier dan Peter Czaban.

    Ia adalah protokol jaringan yang memungkinkan data arbitrer—bukan hanya token—untuk ditransfer melintasi blockchain. Ini berarti Polkadot adalah ekosistem aplikasi multi-chain sejati, di mana hal-hal seperti pendaftar cross-chain (beda jaringan) dan komputasi cross-chain dimungkinkan.

    Polkadot dapat mentransfer data ini melalui blockchain publik, terbuka, dan tanpa perlu otorisasi tertentu untuk menggunakannya. Hal ini memungkinkan siapapun untuk membangun aplikasi yang mendapatkan data yang diizinkan dari blockchain pribadi dan menggunakannya di blockchain publik.

    Misalnya, sekolah dapat menggunakan teknologi Polkadot untuk mengirimkan catatan akademik guna verifikasi gelar muridnya melalui kontrak pintar dengan blockchain publik.

    Penjelasan Singkat Tentang Ethereum

    Sementara itu, Ethereum dibuat untuk memungkinkan pengembang membangun dan menerbitkan kontrak pintar dan aplikasi terdistribusi (dApps) yang dapat digunakan tanpa risiko waktu henti, penipuan, atau gangguan dari pihak ketiga.

    Ethereum menggambarkan dirinya sebagai “blockchain yang dapat diprogram di dunia.” Nah, hal inilah yang membedakan dirinya dari Bitcoin sebagai jaringan yang dapat diprogram.

    Ethereum bisa berfungsi sebagai pasar untuk layanan keuangan, game, dan aplikasi. Di mana, semuanya dapat dibayar dalam cryptocurrency Ether (ETH) yang aman dari penipuan, pencurian, atau penyensoran.

    Persamaan Polkadot vs Ethereum

    1. Platform yang Sama-Sama Mendukung Inovasi

    Pada tingkat pengembangan, Polkadot dan Ethereum sebenarnya memiliki sebagian hal yang mungkin terkesan tumpang tindih.

    Polkadot adalah salah satu blockchain generasi baru yang paling dinanti-nantikan, karena berfokus pada pengembangan jaringan ke depan. Polkadot juga bertujuan untuk menyediakan kerangka kerja untuk membangun blockchain kamu sendiri. Ia juga memiliki kemampuan untuk menghubungkan blockchain yang berbeda satu sama lain.

    Sifat itu berbeda dengan sifat blockchain Ethereum, yang merupakan platform untuk mengimplementasikan teknologi smart contract yang tersohor. Di mana, teknologi smart contract tersebut berfungsi sebagai motor dalam menggerakkan fungsi keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi)

    Terlepas dari perbedaan ini, kedua platform dirancang untuk pengembang untuk membangun aplikasi terdesentralisasi. Keduanya mempersilakan pengembang untuk menciptakan inovasi-inovasi keuangan berbasis sistem blockchain di atasnya. Sekaligus, menyertakan fungsionalitas smart contract yang berdasarkan program Solidity (untuk Ethereum) and Ink! (untuk Polkadot).

    Nah, karena sistem blockchain Ethereum dan Polkadot bisa mengakomodasi ragam aplikasi dan inovasi ke depan, tak heran jika keduanya masing-masing disebut sebagai ekosistem tersendiri.

    2. Memiliki Algoritma Konsensus yang Sama

    Selain itu, kemiripan antara Polkadot dan Ethereum akan mulai terasa jika nanti Ethereum sudah sepenuhnya upgrade ke sistem Ethereum 2.0. Kemiripan itu terdiri dari dua aspek: Skala transaksi dan penggunaan algoritma konsensus.

    Sekadar informasi nih, Sobat Cuan, sistem Ethereum saat ini tidak dapat memproses transaksi dalam ukuran besar karena hal itu dijalankan di atas satu rantai (chain) transaksi. Namun, nantinya Ethereum 2.0 bisa melakukan hal tersebut lantaran transaksi akan dilakukan secara multi-chain, persis seperti Polkadot.

    Persamaan kedua adalah algoritma konsensus. Sobat Cuan masih ingat kan, dengan arti algoritma konsensus? Yakni, algoritma yang dibutuhkan di sistem blockchain untuk memverifikasi seluruh transaksi yang berjalan di atasnya.

    Nah, rencananya Ethereum 2.0 akan menggunakan algoritma konsensus Proof of Stake. Hal ini pun serupa dengan algoritma konsensus yang digunakan Polkadot.

    Baca juga: Fans Bitcoin Wajib Baca! Ini Prediksi Bitcoin Selama 2021 Dari 10 Pakar Top!

    Perbedaan Polkadot vs Ethereum

    1. Ethereum: Besar & Berkembang, Namun Punya Tantangan Skalabilitas

    Kekuatan utama Ethereum adalah ekosistem pengembang, pengguna, dan bisnisnya yang besar serta mapan. Semua itu berkat teknologi smart contract, sebuah teknologi yang memang menjadi ciri khas utama dari Ethereum. Karena hal tersebut, Ethereum menjadi platform kontrak pintar de-facto untuk dikembangkan. 

    Nilai jaringan Ethereum juga sama pentingnya, memberikan tingkat keamanan ekonomi yang tinggi berdasarkan nilai token Ether yang mendasarinya.

    Tak hanya itu, sebagian besar DeFi dibangun di atas Ethereum. Beragam produk DeFi memanfaatkan kompatibilitas antara kontrak pintar Ethereum yang berbeda dan dapat saling berinteraksi dalam satu jaringan yang mendukung Ethereum 1.0.

    Namun, Ethereum punya kelemahan sendiri. Yakni, skalabilitas. Karena seluruh transaksi Ethereum dilakukan di satu chain transaksi, maka teknologi blockchain pun akan kewalahan dalam memprosesnya dalam waktu bersamaan.

    Tantangan lain adalah gas fee atau ‘biaya bahan bakar’ yang dibutuhkan untuk menjalankan smart contract. Biaya bahan bakar diperlukan untuk keamanan sistem secara keseluruhan, dan untuk melindungi sistem agar tidak terhenti oleh program yang tidak terkendali.

    Tetapi karena nilai ETH telah meningkat, biaya bahan bakar untuk menjalankan kontrak pintar juga meningkat dan telah membuat jumlah penggunaan tertentu menjadi sangat mahal. Biaya ini terkait dengan skalabilitas, karena jika kapasitas lebih besar, biaya untuk setiap transaksi dapat diturunkan.

    Baca juga: Tergiur Aset Kripto? Simak 4 Tanda Kesiapan Kamu dalam Investasi Kripto!

    2. Polkadot: Dibangun di atas Kerangka yang Fleksibel, Tapi Masih Baru

    Kekuatan terbesar Polkadot adalah Substrat.

    Substrat adalah kerangka kerja Polkadot dalam mengembangkan blockchain yang kompatibel dan menawarkan tingkat abstraksi yang berbeda tergantung pada kebutuhan pengembang.

    Nah, Substrat ini mampu mengurangi waktu, energi, dan dana yang dibutuhkan pengembang untuk membuat blockchain baru. Sehingga, hal ini bisa menjadi keuntungan tersendiri dibanding gas fees Ethereum yang selalu dikeluhkan.

    Di samping itu, Substrat menyediakan sarana yang jauh lebih besar bagi pengembang untuk bereksperimen, dibandingkan dengan platform kontrak pintar seperti Ethereum. Hal-hal yang biasanya tidak dapat dimodifikasi pada platform kontrak pintar standar di Ethereum pun bisa dilakukan di platform ini.

    Desain Polkadot yang memungkinkan keamanan bersama dalam jaringannya, adalah kelebihannya yang lain. Adapun Polkado memlki sistem shared security alias keamanan bersama dan memiliki dua manfaat utama.

    Pertama, sistem keamanan ini terbilang cukup mudah dan aman, sehingga pengembang aplikasi bisa secara leluasa mengembangkan proyeknya di blockchain Polkadot.

    Kedua, shared security menyediakan kerangka kerja bagi parachain untuk berinteraksi satu sama lain. Pada akhirnya hal ini memungkinkan parachain untuk berspesialisasi, sehingga satu pengembang mungkin tidak akan mengembangkan aplikasi serupa dengan lainnya.

    Namun, sebenarnya tiga tantangan teratas untuk Polkadot ada adalah: adopsi, adopsi, dan adopsi. Hal inilah yang membuatnya terbilang “takluk” di hadapan Ethereum, yang selama ini memiliki posisi dominan dan komunitas pengembang terbesar dari semua platform berorientasi developer.

    Tantangan nyata bagi Polkadot adalah mendapatkan daya tarik yang cukup serta membangun cukup ekosistem dan komunitas pengembang. Tujuannya agar efek jaringan dari arsitektur mereka mulai muncul.

    Baca juga: Mengapa Volume Transaksi Sangat Penting bagi Pergerakan Harga Kripto?

    Polkadot Bakal Disebut Jadi ‘Pembunuh Ethereum’?

    Setelah penjelasan di atas, tentu kini kamu memahami bahwa sistem blockchain Polkadot menawarkan inovasi yang lebih luas dibanding Ethereum. Hal inilah yang bikin komunitas kripto jatuh cinta dengan Polkadot, sampai-sampai menyebutnya sebagai pembunuh Ethereum!

    Denko Mancheski, CEO & Co-Founder Reef Finance mengatakan, pembaruan sistem blockchain Ethereum sangat lambat. Sehingga, ia ditakutkan tak bisa mengikuti inovasi-inovasi teknologi yang terdapat di dalam sistem Polkadot.

    Hal senada diungkapkan Daniel Wolfe, Managing Director Halcyon Global Opportunities di Moskow, Rusia. Ia mengatakan, Polkadot dan Ethereum memiliki ambisi yang sama. Di mana, keduanya bertujuan untuk menjadi platform utama untuk kontrak pintar.

    Hanya saja, Polkadot memiliki banyak elemen yang dirancang untuk mengatasi kelemahan Ethereum. Meski memang, ia mengakui bahwa Ethereum adalah platform yang lebih mapan dengan banyak proyek yang sudah dikerjakan.

    “Polkadot adalah sesuatu yang kami perhatikan dengan cermat. Ada alasan untuk percaya bahwa ini akan menjadi jaringan yang lebih baik, tetapi kita perlu melihat adopsi yang berkelanjutan. Jika itu terjadi, investor akan pindah dari posisi Ethereum mereka ke Polkadot,” ujarnya.

    Nah, kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap mempercayakan masa depan keuanganmu di sistem Polkadot?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Purestake, Forbes



    Sumber : pluang.com

  • Apakah Strategi DCA Bisa Kamu Terapkan di Investasi Emas? Simak di Sini!

    Selama sepekan lalu, harga emas ambruk 5% lantaran sinyal The Fed yang akan meninggalkan kebijakan dovish-nya. Harga emas terjerembab di level US$1.782,80 per ons pada perdagangan Jumat lalu dan seolah-olah masih gagal bangkit hingga pekan ini.

    Memang, kondisi ini terbilang menyedihkan, Sobat Cuan. Tapi, beberapa analis bahkan mengatakan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menumpuk tabungan emas. Alias mengoleksi emas di saat harga rendah, atau istilah kerennya buy the dip.

    Tapi, kalau kamu masih ragu-ragu dalam melakukan buy the dip, kamu masih bisa menabung emas dengan metode yang dikenal dengan Dollar Cost Averaging (DCA). Nah, bagaimana sih, cara investasi emas menggunakan metode ini? Yuk, simak selengkapnya!

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Penjelasan Singkat Strategi DCA Untuk Tabungan Emas

    Dollar Cost Averaging adalah salah satu strategi investasi, di mana investor bisa membagi modal investasinya dalam rentang satu periode tertentu.

    Dalam mekanisme DCA, Sobat Cuan tidak perlu menunggu harga turun untuk kemudian masuk dan membelinya. Istilah mudahnya, DCA adalah strategi menabung secara rutin dengan jumlah yang sama, bisa dalam jangka waktu setiap minggu atau setiap bulan.

    Begini gambaran gampangnya, Sobat Cuan. Misalnya, kamu punya dana Rp10 juta untuk membeli emas. Tapi, kamu tidak mau langsung menggelontorkannya di depan.

    Nah, dengan strategi DCA, kamu bisa membeli emas senilai Rp1 juta setiap bulan dalam 10 bulan ke depan terlepas dari kenaikan atau penurunan harganya. Mirip sekali dengan menabung, bukan?

    Strategi ini bisa digunakan untuk instrumen investasi seperti emas, reksa dana ataupun saham. Strategi DCA juga membuat Sobat Cuan untuk tidak melakukan panic selling, karena dalam kondisi apapun, Sobat Cuan tetap masuk dan mengoleksi emas.

    Manfaat Strategi DCA

    Kini, kamu sudah tahu strategi DCA. Tapi, apa saja sih, manfaat strategi DCA itu sendiri?

    1. Menambah Portofolio Lebih Baik Dibanding Lump-Sum

    Ini adalah manfaat paling penting dari DCA yang akan membantumu menambah pundi tabungan emasmu. Terutama, saat pasar sedang bearish. Ini yang menjadi kelebihan strategi DCA dibandingkan strategi investasi secara di muka alias lump-sum investment.

    Bingung tidak, Sobat Cuan? Nah, begini contoh gampangnya.

    Anggap saja bahwa kamu punya uang Rp3 juta untuk investasi emas. Kamu kemudian memutuskan untuk menggunakannya dalam jangka waktu tiga minggu ke depan untuk berinvestasi emas menggunakan strategi DCA. Artinya, setiap minggunya kamu akan membeli emas senilai Rp1 juta.

    Kemudian, asumsikan bahwa harga emas di minggu pertama adalah Rp1 juta per gram. Namun, harga emas kemudian turun menjadi Rp750.000 per gram di pekan kedua, sehingga dengan Rp1 juta, kamu bisa mendapatkan 1,3 gram emas. Ternyata, harga emas di pekan ketiga turun lagi menjadi Rp500.000 per gram, sehingga uang Rp1 juta milikmu bisa mendapatkan 2 gram logam mulia.

    Artinya, selama tiga pekan tersebut, kamu berhasil mengoleksi tabungan emas sebesar 4,3 gram emas.

    Nah, dengan asumsi yang sama, sekarang bandingkan hasilnya kalau kamu membeli emas secara lump-sum. Jika di pekan pertama kamu habiskan uang Rp3 juta untuk membeli emas, maka kamu hanya mendapatkan 3 gram saja. Mending pilih mana, Sobat Cuan?

    2. Mengurangi Risiko Investasi

    Strategi DCA membuatmu menebar risiko investasi secara periodik di masa depan. Dengan kata lain, strategi ini akan sangat berguna dalam memitigasi risiko atas kerugian dari volatilitas harga yang bakal terjadi di masa depan.

    Strategi ini berfungsi agar investor tidak terpapar dampak volatilitas harga aset yang terjadi karena beberapa faktor. Lewat cara seperti itu, Sobat Cuan bisa terhindar dari potensi kerugian jika melakukan pembelian secara lump-sum alias langsung.

    Karena pembelian dilakukan secara berkala, maka pada akhirnya harga emas yang dimiliki sobat cuan akan tetap lebih rendah dari harga tertinggi, karena adanya harga rata-rata yang dilakukan lewat pembelian rutin, baik ketika harga naik ataupun turun.

    3. Membantumu Disiplin untuk Menumpuk Tabungan Emas

    Strategi DCA adalah sesuatu yang perlu kamu lakukan secara rutin. Sehingga, hal ini akan membuatmu disiplin untuk menabung emas! Sikap disiplin sangat penting, lho, dalam menumpuk kekayaanmu.

    4. Menghindarimu dari Berinvestasi dengan Emosi

    Saat harga sebuah aset turun, investor dan pelaku pasar biasanya panik dan akhirnya melakukan aksi jual secara besar-besaran. Selain itu, kepanikan juga muncul kala dunia investasi diliputi ketakutan, ketidakpastian, dan keraguan (Fear, Uncertainty, and Doubt/FUD).

    Nah, kalau kamu tak tahan iman, kamu pun bisa ikutan latah dengan menjual asetmu. Padahal, yang namanya harga instrumen investasi pasti akan kembali rebound nantinya.

    Agar kamu tak terjebak panic selling dan hal-hal berbau kepanikan lainnya, maka strategi DCA adalah langkah yang perlu kamu tempuh!

    Mengapa Strategi DCA Cocok Untuk Emas?

    Sobat Cuan mungkin memahami bahwa harga emas selalu naik-turun bak jungkat-jungkit. Di mana, hal tersebut mungkin bisa bikin kamu ketar-ketir sampai berhari-hari.

    Tapi, kamu perlu paham bahwa emas adalah instrumen jangka panjang dengan cuan yang bisa kamu nikmati di tahun-tahun sebelumnya. Makanya, yang perlu kamu lakukan dengan emas adalah menabungnya, bukan diperjualbelikan dalam waktu singkat alias trading.

    Terdapat beberapa faktor yang membuat emas cocok sebagai instrumen menabung. Yang pertama, tentu saja adalah sifat logam mulia yang ada di dalam tubuh emas itu sendiri.

    Sobat Cuan mungkin sudah tahu bahwa emas adalah unsur logam yang tak akan berkarat meski terpapar unsur kimia lainnya. Artinya, bentuk emas sekarang akan tetap sama meski 100 tahun kemudian. Dengan kata lain, emas cocok sebagai instrumen penyimpan kekayaanmu di jangka panjang.

    Makanya, tak heran jika banyak sekali investor yang langsung menempatkan dananya di emas ketika inflasi sedang menanjak. Dengan menempatkan uang di emas, artinya para investor tengah melindungi “kemampuan daya belinya di masa depan” dari gerusan inflasi.

    Selain kemuliaan logamnya, tabungan dalam bentuk emas juga disarankan karena nilainya akan terus meningkat di masa depan. Sebagai barang logam, tentu suplai emas akan menipis antar waktu. Nah, sesuai hukum ekonomi, suplai yang ketat akan mendorong harga suatu barang nantinya.

    Makanya, yuk mulai menabung emas dengan strategi DCA di Pluang! Apalagi, kini kamu bisa mengamalkan strategi DCA di Pluang secara mudah, lho, berkat fitur baru Pluang: Auto Invest Emas!

    Melalui fitur ini, Sobat Cuan bisa menabung emas secara otomatis secara mingguan atau bulanan tanpa perlu masuk ke aplikasi Pluang! Sebab, Pluang yang akan membelikan emas secara langsung untukmu!

    Yuk, menabung emas dengan strategi DCA di aplikasi Pluang sekarang!

    Baca juga: Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

    Sumber: Investopedia, Investopedia, Nerdwallet



    Sumber : pluang.com