Cara menghasilkan uang bisa dari mana saja di era digital saat ini. Terlebih, munculnya platform media sosial, seperti TikTok tentu memudahkan kreator konten mendapatkan cuan.
Forbes melaporkan bahwa seorang pengguna TikTok bisa menhasilkan uang lebih dari satu juta dolar AS per tahun dengan memposting video pendek di platform media sosial yang sangat populer itu. Tak mengherankan TikTok menjadi platform orang mencari aliran pendapatan baru dan potensi penghasilan.
Dengan lebih dari 1 miliar unduhan dari Apple App Store dan Google Play Store, TikTok menghadirkan peluang besar bagi influencer untuk berinteraksi dengan lebih dari 500 juta pengguna dan menggunakan keterlibatan mereka untuk mendapatkan keuntungan dari platform.
Tanpa berlama-lama, mari kita langsung masuk ke pembahasan yang penting untuk mendapatkan keuntungan dari TikTok. Berikut adalah beberapa cara menghasilkan uang dari TikTok yang bisa kamu coba:
Cara Dapat Uang dari TikTok
1. Buat Persona atau Brand Image yang Kuat
Bermain media sosial yang diikuti oleh jutaan orang pasti akan sulit untuk menjadi pusat perhatian. Untuk itu, kamu harus membuat persona atau brand image yang berbeda dengan lainnya untuk mencuri atensi orang banyak.
Tentukan juga siapa yang akan menyukai konten kamu. Untuk TikTok, ini berarti kamu harus memiliki gagasan tentang jenis video yang akan diposting dan konsisten. Apakah membuat video yang menghibur dan lucu? Atau konten edukasi dan lainnya.
2. Posting Konten yang Ingin Ditonton Orang
Seperti semua platform media sosial, kamu harus membuat konten yang bagus dan sesuai target market. Menjadi influencer media sosial, baik itu di Instagram, Twitter, atau TikTok membutuhkan banyak perjuangan. Konten kamu harus segar, menarik, unik, dan diperbarui. Ini berarti beberapa video baru diposting setiap hari.
3.Dapatkan Follower
Ini mungkin langkah yang paling penting, dan ini berasal dari melakukan langkah 1 dan 2 di atas dengan sangat baik. Perkiraan berkisar dari 10.000 hingga satu juta follower diperlukan sebelum kamu benar-benar dapat memonetisasi akun TikTok.
Cara terbaik untuk mendapatkan follower adalah dengan memahami apa yang ingin dilihat oleh target pasar kamu, dan mengunggah konten berkualitas kepada mereka beberapa kali sehari.
Ilustrasi membuat konten TikTok. Foto: Shutterstock.
Merek akan membayar kamu untuk menampilkan produk dan layanan mereka yang disebut konten bersponsor atau endorsement. Kamu tidak perlu menjadi influencer dengan follower yang berjumlah fantastis. Brand yang masih kecil akan membayar untuk bekerja dengan micro-influencer yang memiliki komunitas yang kuat, walaupun jumlah follower-nya tidak terlalu besar atau belum.
5. Promosikan Lagu
Dapatkan bayaran untuk menambahkan lagu ke video kamu. Hampir setiap video di TikTok memiliki lagu latar yang mengiringi para pembuat konten untuk menyelaraskan bibir dan menari. Jika kamu memiliki pengikut dan keterlibatan yang cukup besar, musisi akan membayar untuk mempromosikan musik mereka di konten kamu.
Mereka tahu jika video kamu menjadi viral, lagu mereka juga mendapatkan exposure berarti lebih banyak unduhan, tiket konser, dan merchandise.
6. Jual Produk Melalui TikTok Shopping
TikTok memperkenalkan TikTok Shopping pada tahun 2021 untuk memberdayakan bisnis agar dapat menjual produk secara langsung di platform dan tidak perlu lagi mengirim pengikut ke tempat lain untuk membeli barang kamu.
TikTok Shopping menambahkan tab belanja ke profil, memungkinkan pengguna melihat produk dari katalog. Kamu juga dapat menandai produk di konten organik yang dipublikasikan untuk mengirim pemirsa ke toko Anda.
Jangan malu. Sebutkan produk kepada audiens kamu. Cobalah untuk tidak berlebihan dan terlalu promosi, tetapi juga ingat untuk memberi toko TikTok Anda teriakan sesekali.
7. Terima Virtual Gift dari Live Streaming
Saat kamu melakukan live streaming di TikTok, follower dapat mengirimi sumbangan koin atau virtual gift yang dapat ditukar dengan uang tunai. Buat live streaming yang luar biasa, tarik banyak penonton, dan saksikan koin mulai mengalir masuk.
Namun, ketahuilah bahwa meminta hadiah secara aktif adalah hal yang sangat dilarang menurut pedoman komunitas TikTok. Pertukaran harus alami dan organik.
Kamu membutuhkan lebih dari 1.000 follower dan setidaknya harus berusia 16 tahun untuk ditayangkan di TikTok, dan harus berusia 18 tahun ke atas untuk mendapatkan poin hadiah.
8. Ikut Kontes TikTok Star
Siapa bilang jadi influencer TikTok itu susah? Kamu bisa banget nih jadi TikTok Star bersama Tokocrypto. Kamu tidak cuma bisa dapat uang jutaan rupiah dengan buat konten TikTok, tapi berkesempatan jadi bagian dari Tokocrypto.
Jadilah bintang TikTok Star Tokocrypto dengan membuat video kreatif kamu yang sedang mempromosikan Tokocrypto dengan tema:
A day in my life: gimana caranya kamu cari cuan, masukkan part Tokocrypto
Ceritakan awal mula kamu memilih trading aset kripto
Post video yang sudah kamu buat di akun TikTok-mu dan mention serta tag akun Tokocrypto. Periode pengumpulan video tahap audisi 12-26 Agustus 2022. Audisi tahap seleksi TikTok Star Tokocrypto dan akan dipilih tiga orang pemenang utama di akhir periode di Bulan Desember 2022.
Bagi Anda yang memahami seluk-beluk dunia kripto, pasti sudah tak asing lagi dengan berbagai istilah di dalamnya. Namun, jika Anda baru terjun ke dunia kripto, Anda mungkin akan bingung saat menemukan istilah seperti mining.
Mining merupakan salah satu cara untuk mendapatkan Bitcoin. Saat ini, ada banyak cara yang dapat membantu Anda melakukan mining. Salah satunya adalah dengan kalkulator Bitcoin. Apa itu Bitcoin dan kegiatan mining? Lalu, apa itu kalkulator Bitcoin yang dapat membantu kegiatan mining? Simak pembahasannya di sini!
Serba-Serbi Bitcoin
Teknologi yang semakin berkembang dengan pesat menciptakan hal baru, yang kini salah satunya adalah aset digital atau aset kripto. Salah satu aset kripto yang populer hingga saat ini adalah Bitcoin. Mata uang digital ini dibuat dan disimpan secara online. Hingga saat ini, Bitcoin tidak memiliki otoritas yang mengatur peredarannya. Teknologi blockchain-lah yang mengesahkan seluruh transaksi Bitcoin dalam jaringannya. Peredarannya pun transparan sehingga publik dapat merasa aman.
Bitcoin muncul pada akhir 2008 lalu. Seorang pengguna dengan nama Satoshi Nakamoto mengeluarkan makalah berjudul ‘Bitcoin: A Peer-to Peer Electronic Cash System’. Dari sanalah berkembangnya Bitcoin. Hingga akhirnya pada 2009, Bitcoin resmi dirilis dan bahkan dapat digunakan secara anonim.
Sampai akhir 2009, Bitcoin belum memiliki nilai tukar. Namun, berkat kepopulerannya yang terus meningkat, pada 2015 lalu, satu Bitcoin bernilai setara dengan 384 Dolar Amerika. Nilai tukar Bitcoin pun semakin meningkat sejak 2017.
Bitcoin bisa dimiliki dengan kegiatan ‘menambang’ atau mining. Aset kripto ini diperoleh dan disimpan dalam sebuah jaringan yang bisa diakses kapan saja. Orang akan menggunakan mesin komputer untuk melakukan proses perhitungan rumit dengan imbalan Bitcoin tersebut.
Untuk melakukan kegiatan mining ini, Anda membutuhkan komponen yang beragam seperti perangkat yang canggih dan daya listrik besar. Jika Anda memiliki alat yang memadai, maka menghasilkan Bitcoin akan mudah dilakukan. Namun, jika tidak, maka kegiatan ini akan sangat memakan waktu dan hasilnya belum tentu setimpal dengan modal yang Anda keluarkan. Karenanya, muncullah metode kalkulator Bitcoin yang bisa membantu Anda dalam melakukan mining.
Kalkulator Bitcoin adalah sebuah layanan yang dapat Anda gunakan untuk memberikan gambaran keuntungan serta pengeluaran yang dibutuhkan ketika mining Bitcoin. Saat ini, sudah banyak platformatau website yang memberikan layanan ini dengan mudah dan gratis.
Anda akan melihat simulasi perhitungan keuntungan yang dihasilkan saat melakukan mining berdasarkan hashrate, harga Bitcoin, dan daya listrik yang digunakan.Hashrate sendiri adalah daya komputasi yang digunakan saat mining. Anda bisa menggunakan website coinwarz atau 99bitcoins untuk melakukan perhitungan ini.
Jika Anda menggunakan layanan yang mereka berikan, Anda akan mendapat gambaran jelas. Anda bisa memahami apakah mining yang Anda lakukan sudah menggunakan cara tepat. Tak hanya tepat, namun juga menguntungkan bagi Anda.
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, perhitungan kalkulator Bitcoin didasari oleh beberapa komponen atau faktor. Hashrate dan harga Bitcoin akan sangat memengaruhi keuntungan mining.
Hashrate di jaringan Bitcoin setidaknya tumbuh 0,452% setiap hari. Meskipun hashrate meningkat setiap hari, harga Bitcoin bisa saja membantu menutupi sebagian kerugian. Kenaikan harga Bitcoin per harinya tak lebih tinggi dari hashrate. Perlu Anda pahami juga bahwa kalkulator Bitcoin ini hanya memprediksi dalam jangka waktu tertentu, setidaknya satu tahun saja saat block rewards berada di angka 6.25.
Nah, apakah Anda sudah mulai mendapatkan gambaran apa itu kalkulator Bitcoin dan kegunaannya? Anda bisa mendapatkan lebih banyak pengetahuan mengenai Bitcoin dan dunia kripto lewat Tokocrypto! Kunjungi website Tokocrypto dan jangan lupa untuk bergabung di komunitas Tokocrypto di Telegram dan Discord sekarang juga!
Setelah awal yang kuat di bulan Oktober dan melewati US$ 28,000, harga Bitcoin (BTC) telah memasuki retracement besar dengan penurunan sebesar 1,87% dan diperdagangkan sekitar US$ 27.576 pada waktu berita ini dimuat. Penurunan harga baru-baru ini terjadi karena lonjakan imbal hasil obligasi telah mengurangi permintaan akan investasi berisiko.
Pada hari Senin (2/10), Bitcoin melampaui angka US$ 28.500, didorong oleh meningkatnya optimisme mengenai adopsi kripto yang lebih luas setelah peluncuran dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) AS berdasarkan kontrak berjangka Ethereum. Namun, produk-produk ini tidak menghasilkan antusiasme sebesar produk-produk Bitcoin yang diperkenalkan pada tahun 2021.
Berbicara tentang perkembangannya, Cici Lu McCalman, pendiri penasihat blockchain Venn Link Partners berkata :
“Peningkatan harga hanya berlangsung singkat karena kondisi makro masih hawkish terhadap suku bunga. Kenaikan imbal hasil Treasury AS membebani Bitcoin.”
Imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10-tahun mendekati tingkat yang belum pernah terjadi sejak tahun 2007, mencerminkan meningkatnya antisipasi terhadap kenaikan suku bunga jangka panjang oleh Federal Reserve (The Fed) untuk memerangi inflasi. Kondisi keuangan yang lebih ketat ini menimbulkan tantangan bagi aset seperti saham dan kripto.
Menurut Presiden The Fed Cleveland, Loretta Mester, ada kemungkinan menaikkan suku bunga Fed sekali lagi pada tahun ini. Dia menekankan bahwa keputusan kebijakan akan dipengaruhi oleh kemajuan aktual menuju tujuan mandat ganda The Fed.
Hal tersebut termasuk mengevaluasi apakah kemajuan substansial dalam inflasi di AS yang diamati selama tiga bulan terakhir terus berlanjut dan apakah kondisi pasar tenaga kerja, meskipun moderat, tetap kuat.
Ada Nasib Baik Buat Bitcoin Kali Ini?
Secara historis, kuartal keempat merupakan periode yang baik bagi Bitcoin (BTC) dan pasar kripto yang lebih luas untuk jangka waktu yang lama. Bitcoin telah mengalami lonjakan nilai sebesar 67% pada tahun ini, menandai pemulihan sebagian dari penurunan signifikan pada tahun 2022. Namun, nilai tersebut masih jauh dari nilai tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 69.000 yang dicapai selama pandemi.
Analis merasa nyaman dengan tren musiman historis Bitcoin, dengan Oktober secara historis menjadi bulan yang kuat untuk mata uang kripto. Selama dekade terakhir, Bitcoin rata-rata mengalami peningkatan sebesar 24% di bulan Oktober, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.
Ilustrasi aset kripto Bitcoin dan XRP. Sumber: FX Empire.
Menurut Kaiko, dominasi Bitcoin dalam lanskap perdagangan kripto AS semakin meningkat, menyumbang 71% volume perdagangan di bursa Amerika pada bulan September. Angka ini melampaui angka 66% yang tercatat selama turbulensi perbankan di bulan Maret.
Salah satu kemungkinan alasan pergeseran ini adalah pedagang institusional berpotensi beralih ke Bitcoin karena meningkatnya imbal hasil riil dan memburuknya sentimen risiko global, seperti yang dikemukakan oleh Kaiko.
Pada hari Senin, Bitcoin memberikan terobosan kuat di atas US$ 28.000 meningkatkan harapan untuk reli berikutnya ke US$ 31.000 . Namun, penurunan hari Selasa (3/10) ini di bawah US$ 27.900 menunjukkan bahwa kenaikan tidak sepenuhnya terkendali.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Pasar kripto menyambut gembira bulan Oktober 2023 dengan harapan bisa terjadi momen bullish yang cukup lama. Dibanding bulan sebelumnya, September yang relatif netral untuk pasar kripto. Hal ini terlihat dalam kasus Bitcoin (BTC) dan berbagai altcoin.
Oktober diharapkan menjadi bulan yang lebih positif untuk altcoin yang memiliki potensi untuk masuk ke momen bullish. Bahkan beberapa di antara altcoin teratas dapat mencapai level tertinggi (all-time high/ATH) baru sepanjang masa.
Meskipun begitu di sisi lain, bulan Oktober yang dimulai dengan peningkatan yang signifikan, ada sejumlah kripto yang juga potensi bearish, karena memiliki pandangan negatif dan menunjukkan bahwa kondisi terburuk masih akan datang.
Berikut adalah daftar aset kripto yang potensi naik dan turun di Oktober 2023 yang dikutip dari BeInCrypto.
Harga INJ mengalami kenaikan signifikan sejak awal tahun. Pergerakan ke atas menyebabkan penembusan garis tren resistensi menurun, yang sebelumnya telah terjadi sejak titik tertinggi sepanjang masa. Setelah itu, altcoin mencapai level tertinggi tahunan baru di US$ 9,97 pada bulan April.
Sejak itu, harga Injective telah berkonsolidasi di dalam segitiga simetris, yang dianggap sebagai pola netral . Namun, karena segitiga terjadi setelah pergerakan ke atas, penembusan dari segitiga tersebut adalah skenario harga yang paling mungkin terjadi di masa depan.
Selain itu, jumlah Eliott Wave mendukung peningkatan yang berkelanjutan. Untuk menentukan arah suatu tren, analis teknikal menggunakan teori Elliott Wave, yang melibatkan mempelajari pola harga jangka panjang yang berulang dan psikologi investor.
Jika hitungannya benar, maka harga INJ mendekati akhir gelombang keempat, setelah itu diperkirakan akan terjadi kenaikan kelima dan terakhir. Prediksi harga INJ yang bullish ini akan menjadi tidak valid jika tembusnya garis support segitiga di US$ 6,50. Jika hal ini terjadi, INJ bisa turun 40% menjadi US$ 4,25.
Pergerakan harga OKB mirip dengan INJ, terutama karena jumlah gelombangnya. Dengan cara yang sama seperti Injective, harga diperdagangkan di dalam segitiga simetris, yang kemungkinan merupakan gelombang empat dari lima gelombang pergerakan ke atas.
Harga dengan cepat mendekati akhir pola, yang pada saat itu kemungkinan besar akan terjadi pergerakan yang menentukan. Jika ini terjadi, kemungkinan area puncak berikutnya adalah US$ 72. Targetnya ditemukan dengan memproyeksikan panjang segitiga ke level breakout (garis putih) dan retracement Fib eksternal 1.61 dari penurunan terbaru. Targetnya 67% di atas harga saat ini.
Toncoin (TON)
Grafik Mingguan TON/USDT. Sumber: TradingView.
Harga TON telah berada di bawah garis tren resistensi menurun sejak awal tahun. Hal ini menyebabkan level terendah US$ 0,96 pada 11 Juni. Namun, harga menciptakan sumbu bawah yang sangat panjang (ikon hijau) dan terus meningkat sejak saat itu. Pada bulan September, TON keluar dari garis resistensi menurun yang disebutkan di atas, mencapai level tertinggi US$ 2,60.
Jika kenaikan terus berlanjut, perpanjangan Fib 1.61 dari penurunan terbaru adalah US$ 4,08. Ini adalah 85% di atas harga saat ini dan sedikit di bawah harga tertinggi sepanjang masa di US$ 4,90. Jika reli kehilangan momentum, TON bisa turun 27.50% dan mencapai garis resistance menurun di US$ 1,60.
Daftar Kripto Potensi Bearish
Apecoin (APE)
Grafik Harian APE/USDT. Sumber: TradingView.
Harga APE telah jatuh di bawah garis tren resistensi menurun sejak 12 April. Garis tren telah divalidasi berkali-kali, terakhir pada tanggal 14 Agustus (ikon merah). Penolakan tersebut mempercepat laju penurunan dan menyebabkan titik terendah baru sepanjang masa di US$ 1,06 pada tanggal 17 September. Sejak saat itu, harga telah meningkat.
Meski meningkat, APE belum mencapai garis tren resistance menurun. Selain itu, ia diperdagangkan di bawah area horizontal US$ 1,40, yang kemungkinan akan memberikan resistensi. Namun, jika harga gagal menembus resistance US$ 1,40, harga dapat turun sebesar 12% dan jatuh ke area support horizontal US$ 1,05 .
Sama halnya dengan APE, harga CHZ telah jatuh di bawah garis tren resistensi menurun sejak awal tahun. Penurunan tersebut mencapai titik terendah US$ 0,055 pada 11 September. Harga melambung setelahnya dan terus meningkat sejak itu.
Chiliz hampir mencapai resistensi horizontal utama di US$ 0,065. Area tersebut kadang-kadang bertindak sebagai support dan resistance sejak bulan Juni. Jadi, sangat penting bagi harga untuk melewatinya agar tren dianggap bullish.
Penolakan dari area US$ 0,065 kemungkinan besar akan menyebabkan penurunan 10% hingga support terdekat di US$ 0,057.
EOS (EOS)
Grafik Mingguan EOS/USD. Sumber: TradingView.
Harga EOS telah menurun di bawah garis resistensi menurun sejak Juni 2021. Baru-baru ini, harga tersebut ditolak oleh garis tersebut pada bulan April 2023 dan mempercepat laju penurunannya.
Kemudian, harga turun dari area support horizontal US$ 0,90 di bulan Juni. Terobosan tersebut menyebabkan harga terendah US$ 0,50 di bulan Agustus, hanya sedikit di atas harga terendah sepanjang masa di US$ 0,47.
Jika harga EOS menembus area US$ 0,50, harga bisa turun sebesar 80% dan mencapai support Fib berikutnya di US$ 0,12. Namun, jika harga tembus, harga bisa naik 50% ke area US$ 0,90.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Dalam era yang terus berkembang di dunia digital, sering kali muncul pertanyaan tentang hubungan antara blockchain dan konsep Web3. Kata-kata ini telah menjadi pusat perbincangan dalam diskusi tentang masa depan internet, teknologi, dan finansial. Dalam artikel ini, kami akan menyelidiki secara mendalam keterkaitan yang erat antara blockchain dan konsep Web3, serta bagaimana keduanya bekerja bersama-sama untuk membentuk landasan baru dalam evolusi internet dan teknologi.
Pendahuluan
Aset digital dapat dianggap sebagai bagian esensial dari Web3, yang mewakili visi internet baru yang bertujuan mengatasi masalah-masalah yang ada dalam Web saat ini, seperti dominasi beberapa platform media sosial yang terpusat dan eksploitasi data pribadi pengguna. Keberadaan blockchain yang bersifat terdesentralisasi dan tanpa izin memiliki peran sentral dalam mendistribusikan kekuatan dalam komunikasi online. Dengan teknologi ini, kita tidak perlu lagi bergantung pada otoritas pusat untuk mengambil keputusan yang memengaruhi kita.
Selain membawa kemungkinan pembayaran digital asli ke dalam ekosistem Web3, aset digital juga dapat berfungsi sebagai token yang dapat diprogram untuk menjalankan berbagai peran dalam ekonomi digital. Selain itu, blockchain dan kriptokurensi juga dapat memperkuat sifat berbasis komunitas dari Web3 melalui organisasi otonom terdesentralisasi (DAO).
Apa Bedanya Web3 dengan Web2?
Evolusi internet sering kali digambarkan sebagai serangkaian fase kualitatif, seperti Web1, Web2, dan Web3. Pada era Web1, pengguna hanya dapat mengonsumsi konten yang ada dan tidak dapat berpartisipasi dalam pembuatan konten atau mengunggah konten mereka sendiri ke dalam situs web. Pada saat itu, internet terdiri dari halaman HTML statis yang memberikan pengalaman satu arah yang terbatas, seperti membaca forum informasi.
Web1 memungkinkan konsumsi konten dan interaksi yang sederhana. Kemudian, era Web2 datang dengan perlahan sebagai fase internet yang lebih interaktif, di mana pengguna mulai aktif dalam pembuatan konten. Fasilitas interaksi online yang kuat ini umumnya disediakan oleh platform media sosial, yang kemudian menciptakan beberapa raksasa teknologi yang terpusat.
Saat ini, ekosistem Web2 sedang mengalami perubahan untuk mengatasi sejumlah masalahnya. Pengguna internet semakin peduli dengan isu-isu seperti pelacakan data dan kepemilikan data pribadi, serta masalah sensor dan pembatasan. Kekuatan perusahaan-perusahaan besar yang mengendalikan platform-platform Web2 menjadi jelas ketika mereka mulai mengeluarkan larangan terhadap pengguna dan organisasi tertentu dari platform mereka. Perusahaan-perusahaan ini juga memanfaatkan data pengguna untuk menjaga pengguna tetap terikat pada platform mereka dan untuk keuntungan pihak ketiga. Incentive ekonomi ini dapat mendorong perusahaan-perusahaan ini untuk bertindak sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, bukan kepentingan pengguna.
Visi Web3 adalah melangkah menuju internet yang lebih baik. Salah satu janji utamanya adalah memberikan platform online yang terdesentralisasi, tanpa kebutuhan kepercayaan pihak ketiga, dan terbuka bagi semua. Web3 juga berusaha untuk menghadirkan konsep kepemilikan digital, pembayaran digital asli, serta ketahanan terhadap sensor sebagai standar dalam produk dan layanan online.
Bagaimana Blockchain dan Kriptokurensi Berperan dalam Web3?
Terdesentralisasi: Seperti yang telah disebutkan, salah satu masalah utama dalam Web2 adalah konsentrasi kekuatan dan data dalam tangan beberapa perusahaan besar. Blockchain dan kriptokurensi membantu mendesentralisasi Web3 dengan memfasilitasi distribusi informasi dan kekuatan yang lebih luas. Web3 dapat mengimplementasikan buku besar terdistribusi publik yang didukung oleh teknologi blockchain untuk mencapai tingkat transparansi dan desentralisasi yang lebih tinggi.
Tanpa Izin: Proyek-proyek berbasis blockchain menggantikan model kepemilikan perusahaan konvensional dengan kode yang terbuka untuk umum. Sifat tanpa izin dari aplikasi yang dibangun di atas blockchain memungkinkan siapa saja, di mana saja di dunia ini, untuk mengakses dan berinteraksi tanpa batasan.
Tanpa Kepercayaan: Blockchain dan kriptokurensi menghilangkan kebutuhan untuk mempercayai pihak ketiga, seperti bank atau perantara individu. Pengguna Web3 dapat bertransaksi tanpa harus mengandalkan entitas lain selain jaringan itu sendiri.
Infrastruktur Pembayaran: Aset kripto dapat berperan sebagai infrastruktur pembayaran digital asli dalam ekosistem Web3. Aset digital ini berpotensi memperbaiki infrastruktur pembayaran yang mahal dan rumit dari era Web2. Kriptokurensi bersifat nirbatas dan tidak memerlukan perantara.
Kepemilikan: Kriptokurensi telah memberikan alat seperti dompet kripto dengan kendali mandiri kepada pengguna, memungkinkan mereka menyimpan dana mereka tanpa perantara. Pengguna juga dapat mengintegrasikan dompet mereka dengan aplikasi terdesentralisasi untuk menggunakan dana mereka dalam berbagai cara atau menampilkan kepemilikan digital mereka. Informasi kepemilikan dana dan aset tersebut dapat diverifikasi oleh siapa saja melalui buku besar publik yang transparan.
Ketahanan Terhadap Sensor: Blockchain dirancang untuk menciptakan ketahanan terhadap sensor. Artinya, tidak ada pihak yang dapat dengan mudah menghapus atau mengubah catatan transaksi setelah ditambahkan ke dalam blockchain. Fitur ini membantu mencegah upaya penyensoran oleh pemerintah dan perusahaan.
Apakah Blockchain dan Kripto Esensial untuk Web3?
Ketika membahas masa depan Web3, pertanyaan muncul apakah blockchain dan kriptokurensi adalah elemen yang mutlak diperlukan atau apakah Web3 dapat mengadopsi teknologi lain yang tidak berkaitan dengan blockchain dan mata uang kripto. Teknologi seperti realitas berimbuh (AR), realitas virtual (VR), internet of things (IoT), dan metaverse juga memiliki peran penting dalam menggiring internet ke era baru ini. Sementara blockchain mungkin berperan sebagai infrastruktur Web3, teknologi dan solusi di atas mampu menciptakan pengalaman internet yang lebih imersif dan terhubung dengan dunia nyata.
IoT memungkinkan perangkat untuk terhubung melalui internet, AR dapat menambahkan elemen visual digital ke dunia fisik, dan VR membangun lingkungan buatan komputer yang penuh dengan aset digital. Dengan peningkatan integrasi dan penggabungan teknologi ini, metaverse bisa menjadi wajah dari Web3.
Kriptokurensi memberikan jalur pembayaran asli secara digital dan beragam fitur lainnya. Token utilitas, sebagai contoh, dapat membawa berbagai macam manfaat penting bagi ekosistem Web3. Selain itu, non-fungible token (NFT) dapat memverifikasi identitas dan kepemilikan di dunia digital tanpa mengorbankan kontrol pengguna atas data pribadi mereka.
Tampilan Web3 dengan Kripto dan Blockchain
Meskipun blockchain bisa menjadi salah satu fondasi Web3, bagi pengguna, ini mungkin tidak begitu terlihat. Jika aplikasi yang berjalan di blockchain dirancang dengan baik, ramah pengguna, dan intuitif, maka infrastruktur dasarnya tidak akan menjadi perhatian utama. Hal ini mirip dengan cara kita jarang memikirkan server data dan protokol internet yang mendukung platform media sosial yang kita gunakan sehari-hari.
NFT memiliki potensi untuk memungkinkan pengguna menampilkan koleksi barang digital kepada pengguna lainnya serta membantu dalam pembentukan dan pemeliharaan identitas digital yang unik. Selain itu, NFT juga bisa memenuhi berbagai keperluan fungsional, seperti mendukung berbagai aspek dalam industri permainan daring.
Blockchain dan kripto juga bisa mengubah cara pengguna Web3 berkolaborasi dan mengambil tindakan kolektif melalui organisasi otonom terdesentralisasi (DAO). DAO memberikan wewenang kepada individu untuk mengatur kepentingan bersama tanpa adanya otoritas pengambil keputusan sentral. Pemilik token dalam DAO memiliki hak untuk memberikan suara dalam penentuan keputusan bersama. Selain itu, semua aktivitas dan keputusan dapat dilacak secara transparan melalui blockchain. Hal ini menjadikan DAO sebagai faktor penggerak Web3 yang lebih terdesentralisasi, transparan, dan berfokus pada komunitas.
Kesimpulan
Web3 memiliki potensi untuk mengatasi tantangan besar dalam ekosistem internet saat ini dan mengurangi dominasi raksasa teknologi. Meskipun masih dalam tahap visi, perkembangan teknologi yang dapat mengubah paradigma internet sudah dalam perjalanan.
Blockchain dan kripto sering dianggap sebagai kunci untuk menghasilkan revolusi Web3, karena keduanya didesain untuk memungkinkan interaksi yang terdesentralisasi, tanpa izin, dan tanpa kepercayaan. Selain itu, teknologi ini dapat berintegrasi secara harmonis dengan teknologi lainnya seperti AR, VR, dan IoT. Gabungan dari semua ini memiliki potensi untuk menciptakan solusi yang sangat menjanjikan untuk masa depan internet.
Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan antara Web2 dan Web3 serta merenungkan pertanyaan penting: manakah yang lebih baik? Dalam era internet saat ini, Web2 telah menjadi norma, digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Namun, kendati populer, Web2 tidak terlepas dari kekurangan yang telah lama menjadi perhatian, seperti kepemilikan data yang terpusat, penyensoran, dan masalah keamanan. Inilah yang mendorong konsep inovatif Web3, yang didukung oleh teknologi seperti blockchain, kecerdasan buatan, dan realitas berimbuh, dengan tujuan memberikan solusi yang lebih baik untuk permasalahan tersebut.
Dunia internet telah mengalami evolusi yang signifikan sejak awal diperkenalkannya sebagai Web1. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna yang terus berkembang, kita sekarang memiliki Web2, dan bahkan Web3 sedang diusulkan sebagai masa depan internet.
Web1 adalah awal dari segalanya, memungkinkan kita untuk mengonsumsi konten online dengan cara yang sederhana. Web2 datang sebagai revolusi berkat peningkatan teknologi seluler dan akses internet yang lebih mudah, memungkinkan pengguna untuk tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga menciptakannya. Kini, mari kita lihat bagaimana Web3 berpotensi mengubah lanskap internet sekali lagi.
Sejarah Singkat Web
Untuk memahami perbedaan antara Web2 dan Web3, kita harus terlebih dahulu memahami perkembangan internet sejauh ini. Ada dua tahap utama dalam perkembangan internet: Web1 dan Web2.
Web1
Web1, juga dikenal sebagai Web 1.0, adalah fase awal internet. Pada masa ini, web terdiri dari halaman-halaman HTML statis yang menampilkan informasi secara online. Web1 berjalan di atas infrastruktur yang terdesentralisasi sepenuhnya, di mana siapa pun dapat membuat server, mengembangkan aplikasi, dan mempublikasikan informasi tanpa batasan. Pengguna Web1 menggunakan browser web untuk mencari informasi.
Namun, kelemahan utama Web1 adalah kurangnya interaktivitas. Pengguna hanya dapat menjadi penonton, dengan sedikit peluang untuk berinteraksi dengan konten atau dengan pengguna lain. Komunikasi terbatas pada messenger dan forum obrolan sederhana, membuat pengalaman internet terasa sangat pasif.
Web2
Web2, yang muncul pada akhir tahun 1990-an, menciptakan perubahan besar dalam cara kita berinteraksi dengan internet. Internet menjadi lebih interaktif, terpusat, dan lebih fokus pada pembuatan konten. Database, pemrosesan server-side, formulir, dan media sosial secara kolektif membentuk Web2 atau Web2.0. Web ini memberikan platform untuk pembuatan konten, memungkinkan individu untuk dengan mudah menciptakan dan berbagi karya mereka dengan dunia.
Layanan seperti WordPress dan Tumblr menyediakan platform untuk membuat konten, sementara platform media sosial seperti Facebook dan Twitter menghubungkan orang-orang di seluruh dunia. Kemudahan akses internet seluler dan popularitas smartphone membuat konsumsi konten menjadi lebih mudah dari sebelumnya.
Perusahaan teknologi besar, seperti Google dan Facebook, mengambil manfaat besar dari Web2 ini. Selain mendapatkan keuntungan finansial, perusahaan-perusahaan ini juga membangun basis data pengguna yang besar. Melalui akuisisi perusahaan kecil, mereka berhasil mengakumulasi jaringan pengguna global serta data yang sangat berharga.
Kelemahan Web2
Sejak kemunculan Web2, perusahaan-perusahaan besar di dunia internet telah menyadari potensi besar dalam memanfaatkan data pengguna untuk menjaga mereka tetap berada dalam “ekosistem” perusahaan tersebut. Mereka dapat menghasilkan iklan yang sangat ditargetkan atau mencegah interaksi lintas platform, yang pada akhirnya membuat pengguna cenderung terus menggunakan layanan yang sudah mereka kenal sebelumnya.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul masalah etis yang mengganggu banyak pengguna internet, seperti penyensoran, pelacakan data, dan kepemilikan data. Ironisnya, dalam ranah Web2, data pengguna sering kali dianggap milik perusahaan, bukan milik pengguna itu sendiri. Kita telah menyaksikan berbagai insiden di mana perusahaan mengendalikan data pengguna tanpa izin atau kebijakan yang adil. Misalnya, Facebook pada tahun 2010-an mendapat kritik global karena melindungi data penggunanya yang dikumpulkan tanpa persetujuan mereka.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan ini, beberapa pihak telah berusaha menggabungkan aspek-aspek positif dari Web1 dan Web2, yaitu desentralisasi dan partisipasi pengguna. Walaupun belum terlaksana sepenuhnya, inti konsep dari Internet generasi berikutnya yang dikenal sebagai Web3 telah mulai digagas.
Apa Itu Web3?
Jika kita melihat kendala-kendala yang saat ini terdapat pada Web2, maka Web3 dapat dianggap sebagai langkah logis berikutnya dalam optimasi internet untuk kepentingan pengguna. Dengan memanfaatkan teknologi peer-to-peer (P2P) seperti blockchain, realitas virtual (VR), Internet of Things (IoT), dan perangkat lunak sumber terbuka, Web3 bertujuan untuk mengurangi kekuasaan yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan raksasa di Web2. Melalui desentralisasi, Web3 berusaha mengembalikan kendali atas konten dan kepemilikan data kepada pengguna.
Web3: Masa Depan Internet
Sekarang, kita tiba pada Web3, yang dianggap sebagai evolusi lanjutan dari Web2. Web3 bertujuan untuk mengatasi beberapa masalah utama yang ada di Web2, seperti masalah kepemilikan data, penyensoran, dan keamanan. Dengan memanfaatkan teknologi seperti blockchain, kecerdasan buatan (AI), dan realitas berimbuh (AR), Web3 diharapkan mampu memberikan solusi yang lebih baik.
Web3 menciptakan konsep kepemilikan dan kontrol data yang lebih kuat oleh individu. Ini dapat mengubah bagaimana kita berinteraksi dengan internet, memberikan kekuasaan kepada pengguna untuk tidak hanya mengonsumsi dan menciptakan konten, tetapi juga mengontrolnya sepenuhnya.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Web3 benar-benar lebih baik daripada Web2? Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang pasti, karena masih dalam tahap perkembangan. Namun, yang pasti adalah Web3 membawa potensi besar untuk mengubah cara kita berinteraksi dengan internet dan memecahkan beberapa masalah yang telah lama ada.
Fitur Utama Web3
Terdesentralisasi: Karena salah satu masalah mendasar di Web2 adalah sentralisasi, desentralisasi menjadi elemen kunci dalam perubahan ke Web3. Selain memungkinkan pengguna mengendalikan data mereka, perusahaan harus membayar pengguna untuk mengakses data mereka. Desentralisasi ini juga memungkinkan pembayaran menggunakan kripto asli kepada siapa pun, menghilangkan perantara yang mahal dalam infrastruktur pembayaran tradisional Web2.
Permissionless: Alih-alih dibatasi oleh entitas besar yang mengendalikan partisipasi atau membatasi komunikasi antar platform, Web3 memungkinkan siapa pun untuk berinteraksi dengan bebas di seluruh jaringan.
Trustless: Jaringan yang menjadi dasar Web3 dirancang agar pengguna dapat berpartisipasi tanpa harus mempercayai pihak ketiga atau entitas tertentu, karena sistem ini dibangun berdasarkan kepercayaan pada jaringan itu sendiri.
Potensi Manfaat Web3
Keamanan Data yang Ditingkatkan: Data yang disimpan dalam basis data terdesentralisasi jauh lebih aman daripada data yang tersimpan secara terpusat. Ini mengurangi risiko peretasan dan pelanggaran data pribadi.
Kepemilikan Data yang Sebenarnya: Salah satu fokus utama Web3 adalah memberikan pemilik data kendali penuh atas informasi mereka, bahkan memberi mereka kesempatan untuk memonetisasi data mereka jika diinginkan.
Kendali atas Kebenaran: Tanpa kekuatan sentral, pengguna tidak akan mudah terkena penyensoran yang tidak adil. Perusahaan besar akan kesulitan untuk mengendalikan narasi dengan cara yang sama seperti di Web2.
Selain manfaat-manfaat tersebut, Web3 juga berpotensi membawa kebebasan finansial kepada pengguna, memungkinkan akses ke ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan berbagai alat keuangan lainnya. Selain itu, interaksi sosial dapat ditingkatkan melalui teknologi seperti realitas virtual (VR), realitas berimbuh (AR), dan kecerdasan buatan (AI), membuka peluang untuk pengalaman online yang lebih mendalam.
Penutup
Debat antara Web2 dan Web3 dapat dilihat sebagai perbandingan antara sentralisasi dan desentralisasi. Meskipun Web3 masih dalam tahap perkembangan, potensinya untuk mengatasi masalah yang ada di Web2 dan mengembalikan kontrol kepada pengguna sangatlah besar.
Membuka bulan Oktober 2023, pasar kripto duduk nyaman di zona hijau. Hal ini membuat banyak pelaku pasar yakin akan kebangkitan dengan ekspektasi pada bulan Oktober yang bullish, biasa dikenal oleh komunikasi kripto sebagai “uptober”.
Di tengah pasar yang cenderung menunjukkan tren bullish dengan lonjakan harga Bitcoin, ada dua altcoin yang diyakini memiliki potensi untuk mengalami kenaikan harga lebih dari 24% dalam pekan pertama Oktober 2023. Apa saja token tersebut?
Dalam salah satu episode terbaru seri “Sinyal NGOBRAS,” yang dibawakan oleh Trader dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, akan mengulas berbagai aset kripto yang menarik perhatian para pelaku pasar. Beberapa altcoin yang akan kita bahas termasuk Uniswap (UNI), Algorand (ALGO), Axie Infinity (AXS), MAGIC (MAGIC), dan beberapa lainnya.
Daftar kripto yang potensi alami kenaikan pekan ini. Sumber: Tokocrypto.
Fyqieh akan membimbing kita lebih dalam ke dalam analisis teknis, sambil tetap mempertimbangkan faktor-faktor fundamental yang mungkin mempengaruhi kinerja aset digital yang sedang menjadi pusat perhatian. Selain itu, dia akan mengeksplorasi perkembangan terbaru dalam dunia aset digital dan teknologi blockchain yang akan menjadi topik utama dalam diskusi kami.
Namun, penting untuk diingat bahwa dalam dunia investasi, terutama di pasar kripto yang dikenal dengan tingkat volatilitasnya yang tinggi, bijaksana untuk selalu meluangkan waktu untuk melakukan analisis dan penelitian yang mendalam.
Keputusan investasi yang bijak harus selalu didasarkan pada riset yang mendalam dan pemahaman yang komprehensif tentang kondisi pasar.
Jika Anda ingin mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang analisis mendalam mengenai aset kripto yang memiliki potensi untuk mengalami kenaikan signifikan dalam seminggu ini, Anda dapat menonton video lengkapnya di bawah ini:
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Binance Smart Chain (BSC), sebagai hasil dari hard fork dari protokol Go Ethereum (Geth), memang memiliki banyak kesamaan dengan blockchain Ethereum. Namun, para pengembang BSC telah melakukan perubahan yang signifikan dalam beberapa aspek utama. Salah satu perubahan paling mencolok adalah mekanisme konsensus BSC, yang menghasilkan transaksi yang lebih terjangkau dan lebih cepat.
Pengantar
Pada pandangan awal, Binance Smart Chain (BSC) dan Ethereum tampak seperti saudara kembar. DApp dan token yang berjalan di BSC dapat beroperasi dengan baik di Ethereum Virtual Machine (EVM), dan alamat dompet publik Anda sama di kedua blockchain ini. Bahkan, terdapat proyek-proyek cross-chain yang berfungsi di kedua jaringan tersebut. Meskipun demikian, terdapat perbedaan yang cukup mencolok di antara keduanya. Jika Anda sedang mempertimbangkan pilihan mana yang paling cocok untuk Anda, penting untuk memahami perbedaannya dengan baik.
Lalu Lintas Blockchain dan Ekosistem DApp
Pada bulan Juni 2021, Ethereum memiliki lebih dari 2.800 DApp yang berjalan di blockchain-nya, sedangkan BSC hanya memiliki sekitar 810 DApp. Meskipun perbedaan ini cukup besar, hal ini sebenarnya mencerminkan pertumbuhan ekosistem BSC yang luar biasa, mengingat BSC masih terbilang muda.
Jumlah alamat aktif juga menjadi parameter on-chain yang penting untuk diperhatikan. Meskipun BSC adalah blockchain yang relatif baru, pada tanggal 7 Juni 2021, BSC mencatat lebih dari 2.105.367 alamat aktif. Angka ini lebih dari dua kali lipat rekor tertinggi Ethereum yang mencapai 799.580 alamat pada tanggal 9 Mei 2021.
Lalu, apa yang mendorong pertumbuhan pesat BSC? Banyak faktor yang memainkan peran di sini, termasuk waktu konfirmasi yang lebih cepat dan biaya yang lebih rendah. Pertumbuhan BSC juga dapat dikaitkan dengan tren yang berkembang seputar NFT dan dukungan yang luas dari dompet kripto populer seperti Trust Wallet dan MetaMask.
Jika kita melihat transaksi harian, perbedaan antara keduanya semakin mencolok. Di BSC, pengguna dapat mentransfer dana mereka dan berinteraksi dengan smart contract dengan lebih cepat dan lebih ekonomis. Puncak transaksi harian BSC mencapai 12 juta, sementara Ethereum belum pernah mencapai angka sebanyak itu. Bagi pengguna yang sering bertransaksi dan memindahkan dana, BSC mungkin menjadi pilihan yang lebih populer. Jumlah transaksi harian perlu juga dilihat dalam konteks jumlah alamat aktif, yang saat ini lebih tinggi di BSC.
Anda dapat melihat puncak transaksi harian BSC sebesar 12 juta dan statusnya saat ini di atas empat juta pada gambar di bawah.
Di sisi lain, Ethereum tidak pernah melampaui 1,75 transaksi harian. Bagi pengguna yang perlu memindahkan dana secara berkala, BSC tampaknya menjadi pilihan yang lebih populer. Transaksi harian perlu dipertimbangkan dalam konteks alamat aktif juga.
Pada saat penulisan artikel ini, BSC memiliki jumlah yang lebih tinggi untuk pengguna yang juga bertransaksi lebih banyak secara rata-rata.
DApp DeFi yang Paling Populer di Ethereum dan BSC
Dalam ranah keuangan terdesentralisasi, terdapat banyak DApp yang melintasi BSC dan Ethereum berkat kompatibilitas blockchain-nya. Pengembang dapat dengan mudah memindahkan aplikasi dari Ethereum ke BSC, dan proyek-proyek baru di BSC seringkali menggunakan kode sumber terbuka dari Ethereum dengan beberapa modifikasi. Mari kita lihat lima DApp DeFi paling populer di Ethereum menurut DAppRadar.
Di daftar ini, kita dapat melihat dua Automated Market Maker DeFi (Uniswap dan SushiSwap), sebuah permainan kripto (Axie Infinity), dan sebuah marketplace peer-to-peer (OpenSea). Jika kita melihat lima teratas di BSC, kita akan menemukan banyak kesamaan.
PancakeSwap, misalnya, merupakan hasil dari hard fork dari Uniswap. Autofarm dan Pancake Bunny adalah platform pertanian hasil, yang merupakan kategori yang tidak ditemui di lima teratas Ethereum. Sementara Biswap dan Apeswap keduanya adalah Automated Market Maker. Dikarenakan biayanya yang lebih rendah di BSC dan proses transaksi yang lebih cepat, platform pertanian hasil cenderung lebih efisien di Binance Smart Chain. Inilah yang menjadikannya pilihan populer di kalangan pengguna BSC.
Namun, ketika berbicara tentang permainan kripto, Ethereum masih tetap menjadi rumah bagi game kripto paling populer. Meskipun ada proyek-proyek serupa di BSC seperti CryptoKitties dan Axie Infinity, mereka belum berhasil mencapai sebesar penggunaan game klasik di Ethereum.
Transaksi Antar-jaringan
Jika Anda pernah melakukan penyetoran BEP-20 atau ERC-20 ke dalam dompet Anda, Anda mungkin pernah melihat bahwa alamat dompet di Binance Smart Chain (BSC) dan Ethereum tampak identik. Ini berarti bahwa jika Anda, misalnya, secara tidak sengaja mengirimkan token dari salah satu jaringan ke jaringan lainnya, Anda masih dapat menemukannya dengan mudah di alamat yang sesuai.
Jika Anda tidak sengaja mengirimkan token ERC-20 ke BSC atau sebaliknya, tidak perlu panik. Dana Anda tidak akan hilang secara permanen. Anda dapat mengikuti panduan yang tersedia, seperti “Cara Memulihkan Kripto yang Ditransfer ke Jaringan yang Salah di Binance,” untuk langkah-langkah yang lebih mendetail.
Biaya Transaksi
Sekarang, mari kita bahas biaya transaksi. Baik BSC maupun Ethereum menggunakan model gas untuk mengukur biaya suatu transaksi berdasarkan kompleksitasnya. Pengguna BSC menentukan harga gas sesuai dengan permintaan jaringan, dan para penambang akan memprioritaskan transaksi dengan harga gas yang lebih tinggi. Namun, Ethereum mengalami perubahan signifikan dengan hard fork London yang menghadirkan mekanisme baru dalam penetapan harga gas, yang kemungkinan akan menghilangkan kebutuhan akan biaya tinggi.
Perubahan ini di Ethereum menciptakan biaya dasar per blok, yang berubah berdasarkan permintaan transaksi. Sehingga, pengguna tidak lagi perlu menentukan harga gas secara manual.
Di masa lalu, biaya gas Ethereum cenderung lebih tinggi daripada BSC. Puncak biaya gas tertinggi terjadi pada bulan Mei 2021, mencapai $68,72. Namun, tren ini mulai berubah, meskipun saat ini Ethereum masih terhitung lebih mahal.
Mari kita perhatikan biaya rata-rata Ethereum dari Etherescan. Tiga angka teratas menunjukkan harga gas saat ini di Ethereum. Penting untuk diingat bahwa satu gwei di BSC dan Ethereum setara dengan 0,000000001 BNB atau ETH. Biaya transaksi yang lebih rendah mungkin berarti transaksi akan membutuhkan waktu lebih lama.
Misalnya, saat ini biaya rata-rata untuk mentransfer token ERC-20 ke dompet lain adalah $2,46. Namun, biaya tersebut dapat meningkat hingga $7,58 saat Anda menggunakan pool likuiditas Uniswap yang melibatkan beberapa transaksi.
Di sisi lain, di BSC, Anda dapat melakukan transaksi dengan biaya sebesar hanya $0,03, yang setara dengan biaya transfer ERC-20 dengan gas yang ditetapkan di Ethereum. BSC menghitungnya dengan mengalikan jumlah gas yang digunakan dalam transaksi (21.000) dengan harga gas (5 gwei).
Waktu Transaksi
Mengukur waktu transaksi rata-rata di blockchain bisa menjadi tugas yang rumit. Sebuah transaksi dianggap selesai setelah penambang memvalidasi blok yang memuatnya, tetapi beberapa faktor dapat memengaruhi waktu transaksi:
Jika biaya yang Anda tetapkan terlalu rendah, para penambang bisa menunda atau bahkan tidak memasukkan transaksi Anda dalam blok.
Transaksi yang melibatkan interaksi yang lebih kompleks dengan blockchain, seperti menambahkan likuiditas ke dalam pool likuiditas, bisa memerlukan beberapa transaksi sebelum selesai.
Banyak layanan hanya menganggap transaksi valid setelah sejumlah konfirmasi tertentu dijaringan.
Jika kita lihat statistik gas untuk Ethereum yang ditampilkan di atas, kita bisa melihat bahwa waktu transaksi berkisar antara 30 detik hingga 16 menit. Ini mencakup transaksi yang berhasil, tetapi belum termasuk persyaratan konfirmasi tambahan.
Sebagai contoh, saat Anda menyetor ETH (ERC-20) ke akun Binance, Anda harus menunggu hingga 12 konfirmasi jaringan. Dengan blok yang ditambang sekitar setiap 13 detik, transaksi tersebut membutuhkan waktu tambahan 156 detik, seperti yang dapat dilihat dalam diagram di bawah.
Di BSC, waktu rata-rata blok hanya 3 detik. Ini memungkinkan BSC untuk lebih cepat sekitar 4,3 kali lipat dibandingkan dengan Ethereum yang memiliki blok berdurasi 13 detik.
Mekanisme Konsensus
Sementara Ethereum saat ini menggunakan mekanisme konsensus Proof of Work (PoW), Binance Smart Chain (BSC) menggunakan Proof of Staked Authority (PoSA). Namun, perlu diingat bahwa Ethereum sedang dalam proses beralih ke Proof of Stake (PoS) melalui Ethereum 2.0.
PoSA di BSC menggabungkan aspek Proof of Authority (PoA) dan Delegated Proof of Stake (DPoS). Dalam sistem ini, ada 21 validator yang secara bergiliran memproduksi blok dan menerima biaya transaksi BNB sebagai imbalan. Untuk menjadi seorang validator, seorang pengguna harus menjalankan node dan melakukan staking minimal 10.000 BNB untuk menjadi kandidat terpilih.
Pengguna lain, yang disebut delegator, dapat melakukan staking BNB di belakang kandidat terpilih. Dari 21 kandidat terpilih berdasarkan jumlah yang masuk staking, yang teratas akan bergiliran memproses blok setiap 24 jam. Para delegator juga menerima bagian dari reward yang dihasilkan oleh validator.
Di sisi lain, PoW di Ethereum melibatkan perlombaan antarpenambang untuk menyelesaikan puzzle komputasional. Siapa pun dapat berpartisipasi, tetapi mereka harus membeli atau menyewa peralatan khusus untuk melakukan mining. Semakin besar daya komputasional yang dimiliki, semakin besar peluang mereka untuk menyelesaikan puzzle dan memvalidasi blok. Penambang yang berhasil akan menerima biaya transaksi dan reward ETH.
Meskipun PoW telah terbukti efektif dalam mencapai konsensus dan menjaga keamanan jaringan, pengembang terus mencari alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dengan demikian, Ethereum akhirnya akan beralih ke PoS, di mana validator akan melakukan staking ETH untuk berkesempatan menghasilkan blok. Validator lain akan memverifikasi blok tersebut dan memeriksa kebenarannya.
Dalam hal ini, jika seorang validator mencoba menghasilkan blok palsu, dia akan berisiko kehilangan semua dana yang telah di-stake-nya. Validator juga akan menerima reward atas blok yang berhasil dihasilkan dan verifikasi yang telah mereka lakukan. Dengan melakukan staking sejumlah besar ETH secara langsung, validator yang bersikap jahat berisiko kehilangan dana mereka.
Penutup
Jelas terlihat bahwa meskipun ada banyak kesamaan antara Binance Smart Chain dan Ethereum, BSC telah mengadopsi perubahan menarik untuk meningkatkan kinerja dan efisiensinya. Mekanisme konsensus Proof of Staked Authority (PoSA) memungkinkan pengguna menikmati transaksi blockchain yang lebih murah dan lebih cepat.
Namun, perubahan dalam perjalanan juga terjadi di Ethereum, yang bergerak menuju Proof of Stake (PoS) melalui Ethereum 2.0. Dengan berbagai perbedaan ini, pengguna memiliki lebih banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam melakukan transaksi di dunia blockchain.
Sepanjang bulan September, pergerakan harga Bitcoin sebagian besar terbatas pada kisaran perdagangan yang sempit, menunjukkan periode konsolidasi. Namun, lonjakan pasar baru-baru ini bisa memperkuat prediksi harga BTC menuju US$ 30.000 atau sekitar Rp 465 juta.
Bitcoin tampaknya membaik pada Oktober, bulan yang terkenal karena menggambarkan pembalikan bullish yang kuat. Sejak tahun 2013, kripto utama ini telah menyelesaikan bulan Oktober dengan kenaikan delapan dari 10 kali lipat, sehingga memicu prospek untuk bulan yang positif.
Miles Deutscher, yang men-tweet grafik kinerja bulanan rata-rata Bitcoin, menyatakan bahwa secara historis, Oktober dan November adalah bulan-bulan dengan kinerja tertinggi untuk Bitcoin.
Komunitas kripto kini mulai bangkit dengan ekspektasi akan adanya bulan Oktober yang bullish, yang dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai “uptober”.
Positif untuk Bitcoin
Performa rata-rata bulanan Bitcoin (BTC). Sumber: Miles Deutscher.
Michael van de Poppe, seorang analis kripto, bersikap bullish pada bulan Oktober serta kuartal yang solid yang mungkin didorong oleh persetujuan ETF dan lonjakan pra-halving, memperkirakan bahwa Bitcoin dapat mencapai US$ 30.000.
Bitcoin baru saja mencatatkan bulan September hijau pertamanya sejak tahun 2016. Bulan September yang lalu ini menandai bulan September terkuat yang pernah dialami Bitcoin dalam tujuh tahun terakhir.
Dikutip U Today, Ran Neurer , seorang trader kripto, menyoroti pentingnya penutupan positif bulan September untuk Bitcoin. “Terakhir kali Bitcoin berakhir pada bulan September di tahun sebelum separuhnya, kami kembali mengalami reli sebesar 70% pada kuartal terakhir tahun ini—yaitu pada tahun 2015,” katanya.
Prediksi Bitcoin
Selama enam minggu terakhir, harga Bitcoin telah menghadapi resistensi dari garis tren overhead ini pada tiga kesempatan terpisah, yang menggambarkan bahwa para pedagang telah memanfaatkan lonjakan bullish untuk menjual. Perdagangan hari ini tidak berbeda; meskipun terjadi kenaikan intraday sebesar 0,7%, harga menghadapi peningkatan tekanan jual di sekitar US$ 27.200.
Hal ini menghasilkan kandil yang panjang dan melengkung, mengisyaratkan kemungkinan terjadinya pembalikan bearish dalam waktu dekat. Jika harga turun di bawah level terendah US$ 26.671 yang ditetapkan pada 29 September, penurunan lebih lanjut menuju level US$ 25.000 akan semakin mungkin terjadi.
Namun, sentimen bullish yang ada menunjukkan potensi hasil lain. Jika candle harian berhasil ditutup di atas level resistensi utama ini, kita dapat melihat harga pulih dengan cepat sebesar 4% untuk mencapai level resistensi berikutnya di US$ 28.200, selaras dengan garis tren menurun dari harga tertinggi sebelumnya.
Penembusan pasti di atas titik ini dapat berfungsi sebagai indikator kuat dari pemulihan yang lebih tahan lama, berpotensi mendorong harga BTC melewati tonggak psikologis signifikan sebesar US$ 30.000 atau sekitar Rp 465 juta.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Relative Strength Index (RSI) adalah alat penting dalam analisis teknikal pasar keuangan, termasuk pasar kripto seperti Bitcoin. RSI dirancang untuk membantu trader dan investor mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold, yang mengindikasikan potensi perubahan harga. Dengan memahami dan menggunakan RSI dengan bijak, trader dapat membuat keputusan perdagangan yang lebih informasi dan cerdas di pasar yang serba dinamis.
Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital, mata uang kripto seperti Bitcoin telah menjadi pusat perhatian investor dan trader di seluruh dunia. Namun, ketika menghadapi volatilitas yang tinggi dalam pasar kripto, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi peluang yang menguntungkan?
Jawabannya mungkin terletak pada Indikator RSI (Relative Strength Index). Artikel ini akan membawa Anda lebih dalam ke dalam dunia analisis teknikal dengan fokus pada Indikator RSI dan bagaimana alat ini dapat digunakan untuk mengukur kondisi overbought dan oversold dalam trading Bitcoin.
Mari kita menjelajahi konsep-konsep penting ini dan cara mereka dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan perdagangan yang lebih cerdas di pasar yang serba dinamis ini.
Tentang Indikator RSI
Indikator Relative Strength Index (RSI) adalah salah satu indikator teknikal yang digunakan dalam analisis pasar keuangan, termasuk pasar cryptocurrency seperti Bitcoin dalam periode waktu tertentu.
Indikator RSI dirancang untuk membantu trader dan investor mengidentifikasi kondisi overbought (keadaan di mana harga dianggap terlalu tinggi dan mungkin akan turun) dan oversold (keadaan di mana harga dianggap terlalu rendah dan mungkin akan naik) dalam sebuah aset. Serta memberikan sinyal potensial untuk perubahan tren harga.
RSI menghasilkan nilai antara 0 hingga 100, dengan nilai di atas 70 menunjukkan overbought, dan nilai di bawah 30 menunjukkan oversold. Ini adalah alat penting dalam analisis teknikal untuk trader dan investor.
Mengenal Kondisi Overbought dan Oversold dalam Bitcoin
Kondisi overbought dan oversold adalah konsep penting dalam analisis teknikal yang digunakan oleh trader kripto, khususnya pada aset populer seperti Bitcoin.
Kedua kondisi ini membantu trader untuk mengidentifikasi potensi perubahan tren harga dan membuat keputusan trading yang lebih baik. Mari kita kembangkan pemahaman kita tentang kedua kondisi ini:
Overbought dalam Bitcoin
Overbought mengacu pada situasi di mana harga Bitcoin telah naik terlalu tinggi dalam periode waktu tertentu. Ini bisa terjadi ketika ada lonjakan besar dalam permintaan pembelian, yang mendorong harga naik secara signifikan.
Overbought biasanya ditandai dengan nilai Indikator RSI yang melebihi level 70. Saat Bitcoin dalam kondisi overbought, ada potensi untuk koreksi harga atau perlambatan dalam kenaikan harga. Trader seringkali melihat ini sebagai sinyal untuk menjual atau mengambil keuntungan.
Oversold dalam Bitcoin
Oversold, sebaliknya, merujuk pada situasi di mana harga Bitcoin telah turun terlalu rendah dalam periode waktu tertentu. Ini bisa terjadi ketika ada tekanan jual besar-besaran, yang mendorong harga turun secara signifikan.
Oversold biasanya ditandai dengan nilai Indikator RSI yang di bawah level 30. Ketika Bitcoin dalam kondisi oversold, ada potensi untuk kenaikan harga atau pemulihan dalam tren harga. Ini bisa menjadi sinyal bagi trader untuk membeli atau mengambil posisi panjang.
Penggunaan Indikator RSI dalam Trading Bitcoin
Cara kerja RSI adalah dengan mengukur kekuatan pergerakan harga relatif terhadap perubahan positif dan negatif dalam harga selama periode waktu tertentu. Indikator ini biasanya digunakan dengan periode default 14, tetapi Anda dapat mengatur periode yang berbeda sesuai preferensi Anda.
Berikut adalah cara RSI mengukur kondisi overbought dan oversold pada Bitcoin:
RSI di atas 70
Ketika RSI berada di atas level 70, ini adalah indikasi bahwa Bitcoin mungkin telah mencapai kondisi overbought. Ini berarti harga Bitcoin telah naik terlalu tinggi dalam periode waktu tertentu, dan ada kemungkinan bahwa akan terjadi koreksi atau penurunan harga dalam waktu dekat.
RSI di bawah 30
Sebaliknya, ketika RSI berada di bawah level 30, ini adalah indikasi bahwa Bitcoin mungkin telah mencapai kondisi oversold. Ini berarti harga Bitcoin telah turun terlalu rendah dalam periode waktu tertentu, dan ada kemungkinan bahwa akan terjadi kenaikan harga dalam waktu dekat.
Divergensi RSI
Selain menggunakan level 70 dan 30 sebagai acuan, trader juga dapat mencari divergensi antara pergerakan harga dan RSI. Misalnya, jika harga Bitcoin membuat puncak lebih tinggi tetapi RSI membuat puncak lebih rendah, ini bisa menjadi sinyal potensial bahwa tren naik mungkin kehilangan momentum dan ada potensi untuk koreksi turun.
Konfirmasi dengan analisis lain
Penting untuk diingat bahwa RSI hanyalah salah satu dari banyak alat dalam kotak alat analisis teknikal. Sebaiknya digunakan bersama dengan alat analisis lain, seperti moving average, pola grafik, dan indikator lainnya, untuk mengonfirmasi sinyal dan membuat keputusan perdagangan yang lebih informasi.
Strategi Trading dengan Indikator RSI
Identifikasi Overbought dan Oversold
Salah satu penggunaan paling umum Indikator RSI adalah untuk mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold. Ketika RSI melewati level 70, itu menunjukkan overbought, dan ketika RSI jatuh di bawah level 30, itu menunjukkan oversold.
Strategi yang umum adalah menjual ketika overbought dan membeli ketika oversold. Namun, penting untuk diingat bahwa pergerakan harga selalu memiliki konteks yang lebih luas, jadi konfirmasi dengan indikator lain dan analisis tambahan perlu dilakukan.
Divergensi RSI
Divergensi adalah situasi di mana pergerakan harga dan RSI tidak sejalan. Misalnya, harga Bitcoin membuat puncak lebih tinggi, tetapi RSI membuat puncak lebih rendah. Ini bisa menjadi sinyal potensial bahwa tren naik mulai melemah, dan ada kemungkinan perubahan tren. Divergensi bisa digunakan untuk mengidentifikasi perubahan tren atau potensi koreksi harga.
Konfirmasi Sinyal dengan Pola dan Indikator Lain
Indikator RSI lebih efektif ketika digunakan bersama dengan alat analisis teknikal lainnya. Anda dapat mengkonfirmasi sinyal RSI dengan mengidentifikasi pola harga seperti support dan resistance, pola candlestick, atau menggunakan indikator lain seperti Moving Averages. Ini membantu mengurangi risiko kesalahan sinyal dan meningkatkan kepercayaan dalam keputusan trading.
Menggunakan RSI dengan Time Frame yang Berbeda
RSI dapat digunakan dengan berbagai periode waktu (time frame) untuk trading jangka pendek maupun jangka panjang. RSI pada time frame yang lebih pendek dapat memberikan sinyal cepat untuk day trading, sementara RSI pada time frame yang lebih panjang dapat digunakan untuk trading jangka menengah atau jangka panjang.
Manajemen Risiko yang Bijaksana
Terlepas dari strategi yang digunakan, manajemen risiko yang baik selalu penting dalam trading. Tentukan batasan kerugian Anda (stop-loss) dan tetapkan target keuntungan yang realistis. Jangan terlalu rakus atau terlalu berisiko.
Pastikan kamu hanya terlibat dalam investasi dan perdagangan kripto di platform yang memiliki reputasi baik, seperti Tokocrypto. Dengan beragam fitur yang handal dan ekosistem yang luas, aktivitas perdagangan kripto menjadi lebih simpel dan aman.