Author: 38

  • Cartesi Token Resmi Diperdagangkan di Tokocrypto

    Jakarta, 14 Juli 2020 – Tokocrypto, pedagang aset kripto teregulasi di Indonesia resmi memperdagangkan Token Cartesi (CTSI), Sistem Operasi untuk DApps yang menjembatani perangkat lunak open-souce Linux dengan teknologi Blockchain. Cartesi mulai dapat diperjual belikan pada hari ini, 14 Juli 2020 pukul 10.00 WIB dan dapat diperdagangkan dengan Bitcoin (BTC) maupun USD Tether (USDT). 

    Baru-baru ini, Cartesi meluncurkan Portal Dokumentasi Pengembangan Perangkat Lunak Descartes (Descartes SDK Documentation Portal) yang siap menghadirkan kenyamanan dan skalabilitas bagi para pengembang aplikasi yang didesentralisasi (decentralized applications). 

    “Kami sangat senang menyambut kehadiran Cartesi, sebuah proyek yang bertujuan untuk memecahkan masalah skalabilitas dan kegunaan industri Blockchain. Ini merupakan salah satu dari tujuan kami untuk memberikan lebih banyak pengalaman menarik di dunia kripto bagi para nasabah Tokocrypto”, kata Pang Xue Kai, CEO Tokocrypto. 

    Erick Demoura, CEO Cartesi mengatakan,”Kami sangat senang bisa membawa Cartesi di Pasar Indonesia melalui kolaborasi dengan Tokocrypto. Kerjasama ini adalah salah satu dari berbagai inisiatif kami untuk membawa token CTSI lebih dikenal secara global”. 

    Pada Februari 2020, Cartesi juga mengumumkan DApp pertamanya, Creepts, infrastruktur game terdesentralisasi pertama di dunia yang dibangun dengan Linux. Cartesi ditempatkan untuk menjadi sistem operasi bagi jutaan aplikasi open-source Linux di blockchain. 

    Tentang Cartesi

    Cartesi adalah didirikan pada tahun 2018 oleh Erick de Moura, Augusto Teixeira, Diego Nehab dan Colin Steil yang saat ini sedang membangun sistem operasi DApps. Cartesi memungkinkan aplikasi terdesentralisasi untuk berjalan dalam lingkungan Linux. Proses yang complex dapat dijalankan off-chain, bebas dari batas komputasi blockchain dan biaya yang sesuai tanpa mengurangi desentralisasi. Cartesi telah menerima pendanaan dari investor terkemuka seperti SNZ, SOSV, Artesian Capital dan baru-baru ini menyelesaikan acara public-sale dengan Binance. Visi dari tim ini adalah untuk membuat pengembangan DApps yang mudah, terukur dan hemat biaya dengan menggabungkan alat yang sudah digunakan oleh para developer

    Tautan Cartesi:

    Telegram – Indonesia       Website      Twitter      Telegram      Discord      GitHub

    Tentang Tokocrypto

    Tokocrypto adalah pedagang asset kripto No.1 di Indonesia yang terpercaya. Kami adalah pedagang asset kripto pertama yang terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI).  

    Didirikan pada akhir tahun 2017, Tokocrypto bekerjasama dengan Binance, pedagang asset kripto terbesar di dunia untuk memperbaharui platform kami menjadi Tokocrypto v2.0 dengan keamanan dan teknologi terbaru. Hal ini memungkinkan user mengakses finansial mereka dengan cara yang efisien, transparan dan terukur, tentunya dengan jaminan keamanan dan likuiditas tingkat industri.

    Tokocrypto juga merupakan pusat pendidikan dan berita tentang teknologi blockchain, melalui kolaborasi erat dengan komunitas blockchain, universitas, dan pemerintah di Indonesia dan Asia Tenggara. 

    Baca Juga: Staking, Cara Mudah Dapat Passive Income dari Aset Kripto





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ekonomi Memburuk, Argentina Pecahkan Rekor Perdagangan Bitcoin

    Pekan lalu, perdagangan Bitcoin di Argentina meledak hingga mencapai rekor volume 101 juta peso Argentina (atau sekitar $ 1,4 juta). Nilai All-Time-High sebelumnya pada volume BTC mingguan, diukur dalam mata uang lokal, mencapai hampir setengahnya pada kisaran 69 juta. Lonjakan perdagangan BTC ini meningkat di tengah adanya potensi resesi ekonomi terburuk dalam sejarah Argentina.

    Berita mengenai lonjakan perdagangan Bitcoin ini dilaporkan oleh pertukaran Bitcoin peer-to-peer LocalBitcoins melalui Twitter, yang menggambarkan kejadian tersebut sebagai “catatan absolut” baru bagi negara tersebut. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.

    Dalam istilah fiat, orang Argentina beralih dari memperdagangkan Bitcoin senilai 59 juta peso pada sekitar minggu di tanggal 27 Juni lalu dan pada minggu berikutnya negara itu memecahkan rekor hingga 100 juta peso. Jika dihitung menggunakan dolar AS, volume meroket dari yang tadinya hanya $ 500.000 dalam volume BTC mingguan menjadi $ 808.000, menurut situs analitik Useful Tulips. (Tingkat konversi dari Morningstar membuat peso dihargai sedikit lebih tinggi, yang menempatkan volume BTC di Argentina naik dari $ 800.000 menjadi $ 1,4 juta.)

    Baca juga: Laporan Opsi Bitcoin Tunjukkan Banyak Institusi Tertarik pada Kripto

    Namun, dalam hal jumlah aktual Bitcoin yang diperdagangkan, 92 BTC bergerak minggu lalu, meskipun peningkatan signifikan minggu ke minggu, artinya jika dibandingkan dengan catatan absolut ada 228 BTC yang bergerak pada April 2016. Pada sisi lain, sejak saat itu, Argentina belum pernah mencapai angka tersebut hingga hitungan minggu lalu. Tetap saja jika dilihat dari segi mana pun, volume perdagangan Bitcoin di negara ini telah berlipat ganda sejak akhir Juni lalu.

    Namun, tonggak sejarah itu tidak terlalu mengejutkan, mengingat keadaan ekonomi Argentina saat ini sedang mengalami kesulitan. Pedagang di negara ini mungkin mencari aset safe haven (atau, setidaknya, aset yang relatif lebih aman) ketika krisis keuangan semakin dalam.

    Masalah ekonomi di Argentina walau dengan kebijakan baru tampaknya belum juga menghasilkan hasil luar biasa seperti yang diharapkan oleh banyak orang. Sementara itu, hal ini juga membuktikan Bitcoin memperoleh dukungan di Argentina dan dipandang sebagai mata uang alternatif dan penyimpan nilai.

    Informasi ini diolah dan disunting kembali dari Decrypt.co

    Baca Juga: Analisis Blockchain: Bitcoin Dapat Hentikan Krisis Keuangan Masa Depan





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Laporan: Pengguna Aktif Ethereum Berlipat Ganda di Kuartal Dua 2020

    Kuartal kedua 2020 mungkin merupakan titik capaian tinggi aplikasi desentralisasi pada jaringan Ethereum.

    Berdasarkan laporan kuartal dua tahun 2020 dari Dapp.com, pengguna aktif pada aplikasi berbasis Ethereum berlipat ganda dalam hanya satu kuartal dengan total kumulatif lebih dari 1 juta pengguna.

    Aplikasi DeFi mendukung peningkatan ini, dengan volume transaksi mencapai $ 5,7 miliar di bulan Juni dan mencakup lebih dari 97% aktivitas di blockchain Ethereum. Laporan tersebut menunjukkan betapa pentingnya Ethereum bagi keberhasilan keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan banyak DeFi mendominasi jaringan Ethereum dalam beberapa bulan terakhir.

    Rilisnya token Compound COMP pada Juni lalu membantu mendorong kenaikan DeFi di kuartal kedua ini, lebih dari dua kali lipat total volume transaksi DeFi dibandingkan dengan Mei lalu dan mendorong total volume DeFi Ethereum menjadi lebih dari $ 10,3 miliar pada kuartal penuh. EOS dan TRON, dua pesaing terdekat Ethereum di dunia DeFi, masing-masing mencatat volume $ 1,89 miliar dan $ 260 juta setiap kuartalnya.

    Pengguna Aktif Jaringan Ethereum Berlipat Ganda

    Di semua jaringan blockchain, volume transaksi 24-Jam DeFi mencapai tertinggi sepanjang masa lebih dari $ 600 juta pada 21 Juni 2020.

    Dapp.com mengukur pengguna dapp aktif sebagai total kumulatif semua pengguna yang berinteraksi dengan aplikasi dapp pada keseluruhan kuartal. Pengguna dapp aktif di Ethereum tumbuh dari sekitar 637.000 pada kuartal pertama menjadi lebih dari 1,25 juta pada kuartal kedua. Pengguna DeFi aktif setiap hari, dengan kategori alamat dompet yang secara teratur berinteraksi dengan produk DeFi berbasis Ethereum, juga tumbuh dari sekitar 7.700 di kurtal pertama menjadi lebih dari 11.200 pengguna di kuartal kedua.

    Laporan Pasar Kuartal Dua Tahun 2020 ini juga mencatat bahwa token BAT dari browser Brave menduduki puncak peringkat dalam total volume transaksi pada kuartal tersebut, dengan jumlah masuk lebih dari $ 930 juta. Volume yang mengesankan ini dipicu oleh ‘hasil panen’ yang diambil dari keuntungan diakibatkan adanya semacam keriput kecil di sistem distribusi COMP dalam meningkatkan pendapatan mereka.

    Aktivitas rahasia ini menghasilkan pemilihan tata kelola baru dalam menyesuaikan distribusi COMP untuk mendorong lebih banyak volume dan likuiditas yang diarahkan ke token dengan kasus penggunaan yang lebih luas, seperti DAB dan stablecoin USDC.

    Baca Juga: Ethereum, DeFi Pecahkan Rekor Juni 2020, Bagaimana dengan Kategori Lain?

    Kategori DeFi Lainnya

    Jaringan Ethereum sendiri digunakan pada 45 aplikasi baru yang diluncurkan pada kuartal kedua ini, sedangkan pesaing terdekat berikutnya, TRON, mencatat 33 aplikasi baru. Data ini menunjukkan pengembang mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu pada aplikasi yang sudah ada daripada merilis yang baru. Hal ini mengingat hanya 99 aplikasi baru yang dirilis di semua jaringan blockchain pada kuartal kedua, dibandingkan dengan 135 aplikasi selama kuartal pertama 2020.

    Kuarta kedua ini juga menjadi dominasi lain dari jaringan Ethereum. Hal ini mengingat ia berhasil mencatatkan peningkatan besar dalam pengguna dan transaksi harian baik secara berurutan atau juga dengan dibandingkan dengan protokol saingan seperti TRON dan EOS. Dengan peningkatan dan momentum DeFi berbasis Ethereum yang terus meningkat, tampaknya akan semakin sulit bagi penantang lain untuk menggeser posisi DeFi Ethereum ini dari posisinya saat ini.

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini

    Baca Juga: Pernyataan dari COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda terkait Perlindungan Pelanggan Aset Kripto di Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pernyataan dari COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda terkait Perlindungan Pelanggan Aset Kripto di Indonesia

    Salam!

    Saat ini, Indonesia adalah salah satu dari sekian negara yang meregulasi digital asset/ cryptocurrency sebagai komoditi atau yang lebih dikenal dengan jual beli aset kripto. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 99 Tahun 2018 tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto:

    Aset kripto resmi legal di Indonesia sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka, bukan sebagai mata uang atau alat pembayaran. Untuk pembinaan, pengawasan dan pengembangan dari aset kripto diatur oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)

    Secara lebih khusus, pengaturan mengenai pelaksanaan bisnis aset kripto di Indonesia juga diatur didalam Peraturan BAPPEBTI No.5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka.

    Tidak hanya mengatur tentang perdagangan aset kripto, terdapat juga beberapa pasal terkait Perlindungan Pelanggan Aset Kripto: <baca disini>

    Peraturan ini menjadi salah satu dasar kepastian hukum dan perlindungan hukum baik bagi pedagang (exchange) maupun pelanggan (nasabah) aset kripto di Indonesia.

    Dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) no 11 Tahun 2018 juga diatur mengenai kewajiban dalam menyertakan informasi yang lengkap dan benar terkait syarat kontrak, produsen dan produk yang ditawarkan. Hal ini demi menjamin agar tidak ada pelanggan fisik aset kripto yang dirugikan akibat minimnya pengetahuan akan resiko dari aset kripto.

    Dengan perkembangan industri aset kripto yang pesat menunjukkan pentingnya edukasi mengenai aset kripto baik untuk pelanggan aset kripto maupun masyarakat yang belum mengenal aset kripto. Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya penipuan atau tindak kejahatan dunia maya (cybercrime).

    Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Indonesia sudah sangat aktif dalam melindungi Pelanggan Aset Kripto melalui peraturan dan undang-undang yang telah berlaku di Indonesia. Untuk mencegah kerugian yang dialami oleh pelanggan fisik aset kripto, sebaiknya pilihlah pedagang fisik aset kripto yang terdaftar di BAPPEBTI untuk menjamin perlindungan terhadap pedagang fisik aset kripto. hal ini membantu nasabah untuk lebih memahami mengenai aset kripto dan mencegah terjadinya kerugian di masa yang akan datang. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Blockchain: Bitcoin Dapat Hentikan Krisis Keuangan Masa Depan

    Tampaknya Bitcoin kebal terhadap pencetakan uang berlebihan baru-baru ini yang dilakukan oleh Federal Reserve (Fed) di Amerika. Pernyataan ini dilontarkan oleh analis blockchain dari Weiss Crypto Ratings yang mengecam keputusan terbaru yang dilakukan oleh Fed dalam membeli junk bonds (obligasi sampah) korporasi dengan leverage 7 banding 1.

    Tindakan pencetakan uang ini diumumkan pada bulan lalu. Dengan dana talangan yang akan ditambahkan ke pasar kredit korporasi berjumlah hingga 750 miliar USD. Uang itu akan memberikan tambahan likuiditas dan kredit pada perusahaan-perusahaan besar.

    Sedangkan, analis dalam naungan Weiss ini, Bruce Ng dan Juan Villaverde, berpendapat dalam sebuah posting pada 1 Juli lalu bahwa langkah tersebut tidak akan memperbaiki gagalnya ekonomi di Amerika yang disebabkan karena pandemi virus corona.

    Baca Juga: Bitcoin, Alternatif di Tengah Krisis Ekonomi

    “Membeli hutang perusahaan besar yang terhubung secara politis (yang akan bangkrut jika bukan karena dana talangan yang tak ada habisnya tersebut) juga tidak akan menciptakan lapangan kerja baru,” kata para analis di Weiss. Mereka juga menambahkan “Juga tidak akan menghasilkan miliaran laba yang hilang akibat adanya pembatasan sosial dari krisis pandemi ini.”

    Para analis berpendapat, adanya dana talangan seperti itu justru akan menjadi hal pendorong, untuk orang-orang mulai melihat Bitcoin dan mata uang digital lainnya.

    Baca Juga: Regulasi Crypto Dapat Mencegah Krisis Keuangan

    Mereka melanjutkan: “Inilah mengapa Bitcoin (dan aset crypto lainnya) akan menjadi masa depan uang. Bank-bank sentral sekarang menghancurkan mata uang kertas utama dunia — dan tidak ada kekuatan di bumi ini yang dapat menghentikan mereka. ”

    Bagaimana Bitcoin Dapat Menghentikan Krisis Keuangan di Masa Depan?

    Jawabannya, menurut Weiss, adalah bahwa komunitas Bitcoin bertanggung jawab atas kebijakan moneternya, bukan hanya para penambangnya, seperti yang diasumsikan oleh banyak orang.

    Baca juga: Analis: Harga Bitcoin Terkini Mungkin Dipengaruhi Penambang

    “Penambang Bitcoin tidak menetapkan kebijakan moneter. Hal itu dilakukan berdasarkan konsensus SELURUH anggota komunitas yang menggunakan Bitcoin,” tulis para analis.

    “Inilah sebabnya mengapa sangat sulit mengubah bahkan detail terkecil terkait dengan bagaimana Bitcoin beroperasi,” tulis Weiss. Ia juga menambahkan “Mayoritas pengguna harus setuju. Atau tidak akan ada yang terjadi.”

    Sebagai buktinya, orang tidak perlu menghadapi lebih jauh drama baru seputar “pajak penambang” Bitcoin Cash (BCH), atau rencana pendanaan infrastruktur (IFP), yang akan mendanai pengembangan jaringan dengan mengenakan pajak kepada para penambang.

    Baca Juga: ZUBR Research: Permintaan Ritel untuk BTC akan Melebihi Pasokan

    Meskipun banyak perusahaan tambang crypto terbesar setuju mengenai proposal tersebut, tetapi yang lain tidak menyetujuinya. Hal ini menyebabkan banyak keributan yang terjadi di media sosial dan menyebabkan penarikan kebijakan moneter BCH.

    Weiss Crypto Ratings mengatakan, cryptocurrency sekarang adalah satu-satunya bentuk uang yang dapat mencapai prestasi seperti itu dan menumbangkan sistem keuangan saat ini.

    “Dan jika mereka melakukannya (bailout) sekali saja, mereka pasti bisa kembali pulih. Hal ini membuat cryptocurrency sebagai satu-satunya alternatif andal pada krisisnya sistem moneter secara moral yang kita miliki saat ini,” pungkas postingan tersebut.

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ZUBR Research: Permintaan Ritel untuk BTC akan Melebihi Pasokan

    Laporan terbaru dari ZUBR Research menjelaskan bahwa pada tahun 2028, permintaan ritel untuk Bitcoin akan melebihi pasokan baru. Dilansir dari Bitcoin.com laporan ini menyoroti bahwa dalam delapan tahun ketika laju pasokan Bitcoin menurun alamat ukuran ritel akan mulai menggunakan semua persediaan baru yang ada sendiri.

    Bahkan ketika halving berikutnya pada  2024 nanti. Laporan tersebut melihat menurut  akuntansi ritel untuk bisa  mengakuisisi 50% Bitcoin yang beredar.

    Belum lama berselang, para pendukung cryptocurrency sudah menyaksikan halving ketiga Bitcoin (BTC) pada 11 Mei 2020. Tepat sebelum BTC ketiga penerbitan pasokan aktif atau tingkat inflasi sekitar 3,8%.

    Baca juga: Halving Bisa Buat Miners Kecil Gulung Tikar

    Hari ini jumlah itu terus menurun dan pada saat publikasi, tingkat inflasi BTC adalah 3,51%. Pada tanggal 29 Juni, sebuah laporan penelitian yang diterbitkan oleh ZUBR Research merinci bahwa dalam delapan tahun, permintaan ritel akan lebih tinggi dari laju penerbitan Bitcoin.

    Studi yang disebut ” “Retail Investors Steady in Physical Bitcoin Snatch-Up” ini menjelaskan bagaimana jaringan BTC telah memasuki “era hadiah berikutnya.”

    “Dengan 90% dari semua Bitcoin sudah ditambang, sisa pasokan diperkirakan akan memakan waktu hampir 120 tahun untuk dipasarkan. Angka ini – 10% sisanya membutuhkan 120 tahun lagi – menunjukkan betapa langka mata uang cryptocurrency, ” tulis ZUBR.

    Pada saatnya, salah satu beban terbesar adalah likuiditas dan “Bitcoin fisik menjadi lebih sulit didapat.”

    ZUBR: COVID-19 Berikan Beberapa Skenario Potensial

    Temuan peneliti juga menunjukkan bahwa Covid-19  memberikan beberapa skenario potensial bagi cryptocurrency. ZUBR Research juga membahas pertanyaan apakah Bitcoin adalah versi emas yang lebih baik atau tidak.

    Studi ini mengatakan bahwa investor harus mempertimbangkan keputusan ini karena permintaan telah menurun untuk emas dan semakin memperluas celah yang tersedia di pasar selama krisis Covid-19.

    “Tidak diragukan lagi, Bitcoin melihat permintaan kuat setelah pandemi Covid-19. Permintaan juga disaksikan untuk emas, ” tulis laporan itu menyoroti.

    Namun, ada perbedaan yang sangat kritis terhadap emas. Kendala pasokan Bitcoin tidak akan disebabkan oleh peristiwa black swan, tetapi sifat abadi permanen dari mata uang kripto yang yang dirancang untuk memotong pasokan baru .

    Studi ini mencatat bahwa para peneliti memanfaatkan data dari perusahaan analisis Chainalysis. ZUBR memperkirakan bahwa permintaan ritel akan terus tumbuh tahun ini dan pada tahun 2028 permintaan akan jauh lebih besar daripada penerbitan.

    Sama seperti dengan pasar emas, permintaan bitcoin sambil tetap langka bisa membuat harga BTC melambung tinggi. Membagi dua berikutnya akan menelan banyak permintaan ritel dan investor tetapi separuh kelima akan menjadi tekanan pembelian yang tidak terkendali.

    “Mengekstrapolasi permintaan di masa depan dengan kecepatan ini menunjukkan perubahan yang sangat dramatis pada tahun 2028. Ketika laju pasokan Bitcoin semakin menurun dan alamat ukuran ritel ini mulai memakan semua pasokan baru sendirian,” perkiraan ZUBR.

    Makalah ini diakhiri dengan menekankan:

    Dengan investor ritel yang bekerja keras, kendala pasokan ini mungkin datang lebih cepat daripada nanti jika pertumbuhan permintaan dari investor kecil tetap stabil seperti dalam setengah dekade terakhir.

    Baca Juga: Catat! Sekarang Bitcoin Sering Diperdagangkan Selama Jam-Jam Berikut Ini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Vitalik Buterin Si Pencipta Ethereum Tawarkan Solusi Scaling Transaksi ETH

    Biaya transaksi rata-rata di jaringan Ethereum mencapai titik tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Hal ini terkait dengan masalah di dalam jaringan yang mengalami kemacetan parah.

    Sementara itu, pencipta Ethereum Vitalik Buterin mengkonfirmasi pada tanggal 30 Juni lalu bahwa jaringan masih harus bergantung pada solusi scaling off-chain saat ini untuk paling tidak dua tahun ke depan. Hal itu sampai kemampuan penskalaan yang telah lama direncanakan pada jaringan Ethereum 2.0 berhasil.

    Lonjakan Biaya Transaksi Median Ethereum

    Menurut data dari Bitinfocharts, dalam 48 jam menjelang penutupan bulan Juni, biaya transaksi median pada blockchain Ethereum melonjak hingga 60%, naik dari $ 0,23 menjadi $ 0,37. Lonjakan mendadak ini menandai kelanjutan tren yang pernah menghadapi lonjakan biaya transaksi ETH hingga 510% sejak pergantian tahun ketika biaya rata-rata hanya $ 0,06.

    Saat menghitung biaya transaksi rata-rata, jumlah semua biaya dibagi dengan jumlah transaksi. Data statistik ini dapat menyesatkan jika melihat biaya khas penggunaan Ethereum karena beberapa transaksi besar dapat mendorong jumlahnya.

    Biaya median memberikan gambaran yang lebih baik tentang jenis pembayaran apa yang dibayarkan secara lebih teratur oleh pengguna Ethereum. Dalam hal ini, biaya transaksi median yang terus meningkat menunjukkan peningkatan biaya penggunaan jaringan setiap harinya.

    Ini juga bisa menjadi tanda lebih banyak orang menggunakan Ethereum dalam level dasar. Ini didukung oleh sebagian data yang menunjukkan peningkatan hingga 140 persen dalam jumlah transaksi Ethereum sejak Januari, ditambah dengan penurunan yang stabil dalam nilai transaksi ETH rata-rata sejak 2018.

    Baca juga: Seseorang Pecahkan Rekor Biaya Transaksi ETH Senilai $2,5 Juta!

    Vitalik Buterin Berikan Rencana Scaling Sementara untuk Dua Tahun ke Depan

    Di tengah meningkatnya biaya penggunaan Ethereum, pencipta jaringan blockchain ini, Vitalik Buterin memberikan beberapa informasi mengenai rencana penskalaan jangka pendek pada Ethereum 2.0. Salah satu pendiri Ethereum itu menawarkan ringkasan teknis mengenai bagaimana Ethereum, dan Ethereum 2.0, dapat meningkatkan skala dalam jangka pendek.

    Vitalik Buterin memberikan cuitan pribadinya di Twitter,

    Penskalaan ETH2 pada data akan segera tersedia *sebelum* penskalaan ETH2 pada perhitungan umum. Hal ini menyiratkan bahwa akan ada rollup yang menjadi paradigma penskalaan dominan dengan setidaknya pada beberapa tahun ini: pertama ~ 2-3k TPS dengan eth1 sebagai lapisan data, kemudian ~ 100k TPS dengan eth2 (fase 1). Menyesuaikan dengan hal tersebut.

    – vitalik.eth (@VitalikButerin) 30 Juni 2020

    Dalam istilah Layman, Ethereum 2.0 akan dapat menangani data dalam jumlah besar sebelum memiliki kemampuan dalam menghitung data tersebut. Oleh karena itu, untuk sementara, teknologi yang dikenal sebagai ZK-rollups akan digunakan sebagai stop-gap untuk dua tahun ke depan.

    Roll-up ZK beroperasi dengan menumpuk banyak transaksi ke dalam satu smart-contract, tanpa harus divalidasi oleh rantai utama. Kontrak kemudian divalidasi pada rantai utama di kemudian hari. Hal ini bertindak sebagai solusi penskalaan layer-2 pada Ethereum karena pengguna dapat mempertahankan fungsionalitas penuh, sementara tekanan pada blockchain berkurang.

    Buterin kemudian menyarankan bagi orang-orang yang baru saja memindahkan token di Ethereum harus melihat ke dalam jaringan menggunakan alat ZK-rollup ini (banyak yang sudah melakukannya).

    “Siapa pun yang *hanya* memindahkan token ETH / ERC20 / ERC721 harus melihat cara masuk ke rollup hari ini. Harga transaksi pada rantai dasar mungkin akan sangat rendah jika hanya digunakan pada hal-hal yang lebih kompleks,” kata Buterin pada 30 Juni.

    Mengingat bahwa ini akan menyebabkan menurunnya biaya transaksi rata-rata dan rata-rata Ethereum, sebagian besar pengguna Ethereum mungkin akan memiliki sentimen berbeda dari Buterin.

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini

    Baca Juga: Minat Boomer dan Gen-X Terhadap Bitcoin Melonjak Sejak Pandemi



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Faktor Ini Menyiratkan Bitcoin Sudah Berada dalam Downtrend Yang Kuat Untuk Jangka Pendek

    Pergerakan kuat pada Bitcoin (BTC) dalam menyikapi batasan pergerakan ranging mingguannya telah mengaduk-aduk emosi para investor dan pedagang, dimana berbagai pandangan untuk Bulls maupun Bears tercipta sama kuat sehingga pasar seperti dipermainkan bak bola ping pong.

    Aksi harga yang berubah-ubah ini masih terlihat mirip dengan pergerakan harga di pasar saham AS, sehingga asumsi korelasi antara keduanya masih terlihat kuat yang tentu menggambarkan bagaimana pasar melihat posisi BTC ditengah kondisi global saat ini.

    Dan kini, BTC tengah bertahan disekitaran batas bawah dari pola ranging mingguan, dimana menurut analis, batas bawah yang merupakan Support ini tampaknya mulai semakin melemah yang perlu diantisipasi.

    Sekarang, ada faktor yang tampak jelas menunjukan kalau Bitcoin kini telah memasuki Downtrend (trend turun) dan penurunan lebih lanjut bisa saja terjadi!

    Ini terlihat saat para analis mencatat bahwa reaksinya terhadap penurunan yang berpotensi dikisaran level $ 8.600 dapat menentukan nasib BTC dalam beberapa hari, minggu, dan bahkan beberapa bulan ke depan.

    BTC telah diperdagangkan di sekitaran atas level Rp 132 juta-an selama beberapa hari terakhir, tetapi ketidakmampuannya untuk mendorong ke wilayah tengah atau di atas level tersebut tampaknya menunjukkan kelemahan mendasar di antara para pembeli.

    Seorang analis berbicara tentang pentingnya level ini, menjelaskan bahwa pertahanan yang kuat dari level ini bisa cukup untuk mendorong BTC hingga ke level $ 10.500.

    Sebaliknya, penurunan di bawahnya bisa mengagalkan potensi Uptrend multi-bulan dan memaksanya untuk bergerak lebih rendah dengan kuat. Ia mengatakan:

    “Bitcoin: Semua tergantung pada kemampuan $ 8.600-8.800. Jika ya, kita punya Divergensi Bullish tersembunyi (saya tidak melakukan banyak hal dengan mereka secara teratur). Dan HL lainnya. Tes berikutnya sebesar $ 10.500 = kemungkinan besar terjadi breakout. Kehilangan $ 8.600 -> pembatalan.”

    Sementara itu, platform data Coinalyze berbicara tentang kemungkinan Downtrend ini dalam cuitannya dengan menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mampu mendukung gagasan ini.

    Mereka mencatat bahwa penurunan harga ditambah dengan meningkatnya minat terbuka dan penurunan Volume Kumulatif Volume (CVD), dapat menandakan bahwa penurunan lebih lanjut mungkin akan segera terjadi.

    “Bitcoin 4 jam: Secara teoritis ini adalah trend turun yang kuat. Turunnya harga + pertumbuhan OI + penurunan CVD = trend turun yang kuat.”

    Seperti yang disampaikan oleh Cryptoharian, beberapa analis lainnya, masih merasa bullish terhadap Bitcoin untuk jangka menengah dan panjang.

    Baca Juga: 10 Altcoins ini Capai All-Time-High Baru di Tengah Pergolakan Bitcoin dan Ethereum





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokocrypto Gandeng Shopee Bagi Bagi 5.000 Voucher Cashback

    Kini, semakin banyak keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan daftar dan KYC di Tokocrypto 2.0. Tidak hanya jaminan transaksi yang mudah dan aman, kamu juga berkesempatan mendapatkan voucher cashback koin shopee sebesar 30% jika berhasil melalukan KYC di platform kami. 

    Hal ini merupakan bentuk kerjasama antara Shopee dan Tokocrypto untuk memberikan pengalaman menyenangkan bagi para nasabah dalam bertransaksi di Tokocrypto. Ada 5.000 voucher cashback dari Shopee yang siap dibagikan bagi para nasabah baru maupun nasabah lama Tokocrypto. 

    Promo ini berlaku dari tanggal 1 Juli hingga 1 Agustus 2020. #CobaAjaDulu daftar dan nabung aset kripto di Tokocrypto dan nantikan promo-promo menarik lainnya!

    Syarat dan Ketentuan berlaku. Selengkapnya, baca disini

    Nantikan informasi dan promo menarik seputar Tokocrypto di semua kanal resmi Tokocrypto. 

    Telegram Grup: Telegram Group

    Instagram: @Tokocrypto

    Facebook: Tokocrypto

    Twitter: twitter.com/Tokocrypto

    LinkedIn: Tokocrypto

    Baca Juga: Binance dan Tokocrypto Resmi Perdagangkan BIDR, Stablecoin Berbasis Rupiah





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korelasi Positif Bitcoin-Pasar Modal Kembali Seperti Maret 2020

    Korelasi positif Bitcoin (BTC) dengan pasar modal kembali seperti Maret 2020, setelah periode dasarnya nol sepanjang Mei.

    Seperti yang diukur oleh korelasi Pearson antara imbal hasil indeks saham S&P 500 per jam dan BTC/USD pada di bursa aset kripto Coinbase, korelasi saat ini berada di 0,31.

    Itu memang angka yang rendah, tetapi signifikan secara statistik. Selama Mei 2020, korelasi mencapai 0 yang berarti tidak ada korelasi. Itu sangat kontras dari Januari 2020, ketika Bitcoin menunjukkan korelasi negatif yang rendah tetapi signifikan secara statistik.

    Sebaliknya, korelasi antara S&P 500 dan emas juga melonjak ke tingkat historis pada akhir Maret 2020 dan awal April 2020. Tetapi logam mulia itu tidak berkorelasi.

    Tren terbaru dari korelasi yang tumbuh antara S&P 500 dan Bitcoin tidak ada antara S&P 500 dan emas, seperti yang ditunjukkan grafik kedua di atas.

    Korelasi pasar aset kripto secara umum dan harga Bitcoinsecara khusus dengan dinamika pasar modal kian menjadi perhatian. Pasalnya telah berkali-kali turunnya harga Bitcoin terkait erat atau senada juga dengan turunnya kinerja pasar modal, yakni indeks saham S&P 500.

    Fenomena itu setidaknya bisa dimanfaatkan oleh trader Bitcoin untuk mengantisipasi pasar secara cermat, bahwa pasar saham di AS sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan sejumlah regulator terkait, The Fed misalnya.

    Kebijakan itu dikaitkan dengan pertimbangan pelonggaran ataupun pengetatan aktivitas warga karena pandemi COVID-19. Dengan kata lain, pelonggaran lock-down kelak bisa membawa rebound ke pasar modal, sekaligus pasar aset kripto. [Theblockcrypto/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com