Author: 38

  • 10 Altcoin Ini Capai All-Time-High Baru di Tengah Pergolakan Bitcoin dan Ethereum

    Pekan lalu, harga Bitcoin turun dari tertinggi $ 9.800 ke terendah $ 8.900. Ethereum turun lebih dari 10% dari $ 248 menjadi $ 215. Di lain sisi, sementara aset crypto populer tersebut harganya tampak terus menurun, beberapa altcoin dengan kapitalisasi rendah mencatat rekor all-time-high baru mereka.

    Apa sebenarnya yang menyebabkan altcoin yang diunggulkan ini mengalami rally sedangkan aset crypto utama terus berjuang di bawah kondisi pasar yang sama?

    Bitcoin dan Ethereum Terus Berjuang Dengan Perlawanan

    Bitcoin dan Ethereum terus berjuang dengan perlawanan masing-masing di atas $ 10.000 dan $ 250. Kabar buruk yang ada sekarang ini kedua aset cryptocurrency utama yang mendominasi pasar ini, sedang mengalami kesulitan dengan level di bawahnya.

    Adanya ketidakpastian pasar saham dan munculnya kasus-kasus baru dari krisis pandemi Covid-19 ini membawa kekhawatiran kembali terjadi di pasar crypto.

    Peluang pemulihan berbentuk V memudar dari hari ke hari. Alih-alih, sebagian besar aset utama tidak melakukan apa pun selain menetapkan tinggi harga rendahnya, yang merupakan tanda tren turun yang akan datang.

    Harga lebih rendah dari terendah hari ini bisa saja terjadi di kemudian hari, membenarkan adanya tren turun yang lebih dalam lagi. Risiko seperti itu saja telah mengurangi momentum bullish yang dimiliki aset-aset ini pada awal tahun 2020 dan dalam beberapa minggu terakhir.

    Lebih lanjut, sementara aset crypto yang paling populer ini mengalami kesulitan, altcoin dengan kapitalisasi rendah telah melonjak dalam kondisi dan sentimen yang sama. Mengapa hal ini terjadi?

    Baca Juga: Tahun 2020, Debat Bitcoin vs Altcoins Kembali Memanas!

    10 Altcoin dengan Kapitalisasi Pasar Rendah Menciptakan Rekor All-Time-High Baru Selama Tren Turun Crypto

    Pekan lalu, sementara Bitcoin dan Ethereum tampaknya semakin tenggelam, altcoin dengan kapitalisasi pasar rendah tidak hanya melonjak, mereka membuat rekor baru. Menurut data, 10 altcoin tersebut berada di enam bursa berbeda menetapkan rekor all-time-high baru.

    10 Altcoin itu meliputi:

    • Universal Market Access (UMA)
    • Ren (REN)
    • DMM: Governance (DMG)
    • Synthetic Network Token (SNX)
    • Celsius Network (CEL)
    • THORChain (RUNE)
    • Reserve Rights Token (RSR)
    • pNetwork (PNT)
    • Balancer (BAL)
    • Aleph.im (ALEPH)

    Hanya sedikit dari daftar yang telah memasuki seratus cryptocurrency teratas berdasarkan kapitalisasi pasar. Jika digabungkan, kesepuluh cryptocurrency di atas bahkan tidak bernilai $ 1 miliar dalam kapitalisasi pasar dengan total lebih dari $ 775 juta.

    Selain sebagai altcoin dengan kapitalisasi rendah, aset-aset ini memiliki beberapa kesamaan. Dengan sedikit korelasi, tampaknya tidak ada rima atau alasan tertentu mengapa aset crypto ini terus naik sementara Bitcoin dan Ethereum mengalami penurunan lebih jauh.

    Daya pikat peluang di tempat lain pada pasar crypto mungkin mendorong aksi ambil untung dalam Bitcoin dan Ethereum. Teori lain hanya menunjuk pada aset likuiditas rendah ini terdorong naik melalui suntikan modal yang sangat sedikit.

    Dengan total modal di bawah $ 1 miliar, dan dengan beberapa proyek senilai hanya $ 1 juta dalam kapitalisasi pasar, dibutuhkan sedikit uang untuk menggerakkan harga aset-aset ini.

    Dengan kapitalisasi pasar yang rendah dan volume perdagangan yang ada, aktivitas apa pun dalam aset ini dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar. “Paus” yang ada telah mengetahui hal ini dan bisa menggunakan altcoin tersebut dalam meningkatkan kepemilikan BTC dan ETH mereka sebelum akhirnya breakout.

    Pada akhirnya, pengambilan laba dikatakan mengalir keluar dari altcoin-altcoin tersebut, ke altcoin dengan kapitalisasi menengah. Dari sana, uang akhirnya kembali ke altcoin besar seperti Ethereum, lalu kembali ke Bitcoin. Saat itulah pasar bull dapat dimulai, dan kemudian siklus akan berulang kembali.

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini

    Baca Juga: Harga Bitcoin Turun, Bagaimana Analisis Selanjutnya?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kinerja Bitcoin versus Aset Kripto Lain di Sektor DeFi

    Bitcoin bolehlah sebagai aset kripto perkasa berdasarkan kapitalisasi pasarnya. Namun, kinerjanya jauh lebih mantap daripada aset kripto yang ada di sektor DeFi (Decentralized Finance).

    Menurut penyedia data DeFiPulse , nilai kumulatif aset kripto yang “tersimpan” dalam aplikasi DeFi telah melonjak dari US$1 miliar pada 15 Juni 2020 menjadi US$1,65 miliar pada 26 Juni 2020. Ia tumbuh 65 persen dalam sebelas hari saja.

    Pada saat yang bersamaan, harga aset kripto yang terkait sektor DeFi itu, juga tumbuh cepat. Taha Zafar, analis aset kripto mengatakan, kinerja Bitcoin jauh lebih unggul dibandingkan aset kripto di DeFi, seperti Aave (LEND), Kyber Network (KNC) dan Maker (MKR).

    “Data menunjukkan, sementara Bitcoin naik 80 persen dalam tiga bulan terakhir, aset kripto di DeFi tampil lebih lebih baik, dengan kinerja lebih dari 100 persen dalam jangka waktu 90 hari,” kata Zafar.

    Bahkan pada 26 Juni 2020, Coinmarketcap mencatat bahwa 6 dari 10 aset kripto berkinerja terbaik di 100 teratas, berfokus pada DeFi.

    Kendati DeFi masih popular, Zafar memperkirakan Bitcoinakan mengalami reli, ketika sektor DeFi ini mengalami koreksi alias pelemahan. [Forbes/red]

    Baca Juga: Apa Itu Bitcoin Forks? Panduan untuk Pemula



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CCID Tempatkan Bitcoin di Peringkat ke-12 sebagai Blockchain Terbaik Sedunia

    Beda pihak beda pula cara menakarnya. Itulah yang dilakukan oleh Center for Information and Industry Development (CCID) di Tiongkok. Mereka menempatkan Bitcoin di peringkat ke-12 sebagai blockchain terbaik sedunia.

    Menggunakan kategori kapitalisasi pasar, Bitcoin memang nomor wahid sedunia. Tetapi, tidak dengan takaran lain oleh CCID. Pada Global Public Blockchain Technology Assesment Index CCID ke-18 beberapa hari yang lalu, blockchain Bitcoin malah tidak masuk 10 besar dengan 106,2 poin. Maklumlah, CCID memang fokus pada kriteria yang amat berbeda.

    Sumber: CCID via Chainnews.

    Serupa dengan paparan indeks sebelumnya, CCID menggunakan kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi teknologi blockchain, yang meliputi teknologi dasar, penerapan, fitur, kinerja, keamanan, kreativitas dan desentralisasi.

    Serupa dengan pemeringkatan sebelumnya, EOS tetap memimpin dengan 156,1 poin, diikuti oleh TRON dengan 138,43 poin dan Ethereum dengan 136,4 poin. Cryptocurrency terkemuka mencetak 20,4 poin dalam penerapan dan 24,7 dalam kreativitas, sementara tempat kedua masing-masing 28,4 dan 15,5 poin.

    Peringkat ke-4 dan ke-5 ditempati oleh IOST dan LSK masing-masing dengan 130,3 dan 119,3 poin, sedangkan Ripple berada di peringka ke-14 dengan hanya 105 poin.

    Sebenarnya kali ini Bitcoin bisa lebih bersenang hati. karena peringkatnya lebih tinggi daripada indeks yang lalu, yakni ke-17. Pada saat itu, Bitcoin hanya bernilai 43 poin dalam hal inovasi dan 19,9 poin untuk penerapannya. [red]

    Berita Terkait: Jual atau Beli Bitcoin Untuk Saat Ini?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jual Atau Beli Bitcoin Untuk Saat Ini?

    Fase konsolidasi Bitcoin (BTC) menunjukkan beberapa tanda pelemahan dalam waktu dekat. Bencmark crypto masih diperdagangkan dalam wilayah yang lebih rendah dari level $ 9.000 (Rp 127 juta), dan Support tepat dibawah level harga ini.

    Seorang analis mengatakan bahwa ada tiga faktor yang tampaknya menunjukan adanya potensi bagi harga BTC untuk jatuh dalam bebeberapa hari atau minggu mendatang.

    Penting untuk dicatat bahwa banyak analis telah mengklaim bahwa pergolakan dalam pola sideways saat ini adalah cara BTC untuk mengumpulkan kekuatan sebelum membuat gerakan besar-besaran kesalah satu arah.

    Secara historis, perdagangan sideways yang intens seperti yang terlihat saat ini, biasanya diikuti oleh pergerakan besar.

    Dengan demikian, bagaimana rentang perdagangan saat ini, itu akan cenderung menentukan potensi trend Bitcoin dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.

    Seorang analis baru-baru ini membagikan grafik yang menunjukkan bahwa ia tengah mengantisipasi bencmark cryptocurrency untuk turun dengan drastis menuju $ 7.500 dalam waktu dekat.

    Dia menjelaskan bahwa tiga upaya terakhir untuk melampaui $ 10.000 (Rp 142 juta) telah menghasilkan rejeksi tegas yang patut diwaspadai.

    Meskipun dia percaya bahwa menembus level ini adalah tentang “kapan, bukan jika,” dia masih berpikir itu BTC akan mengalami beberapa downside jangka pendek. Ia mengatakan:

    “Ada sangat sedikit keraguan bahwa 10ribu adalah Resistance untuk ditembus dan bahkan dengan Retracement di sini, itu adalah pertanyaan kapan, bukan jika. 3 upaya dalam 9 bulan terakhir, masing-masing sama tinggi menghasilkan konsolidasi yang lebih lama pada Resistance sebelum tertahan. Jangan percaya [upaya] ke-4 BTC.”

    Baca Juga: Cara Membeli Bitcoin Di Indonesia Dan Luar Negeri

    Byzantine General, seorang analis dan juga trader cryptocurrency di Twitter, mengatakan bahwa BTC KELIHATAN di posisi bearish.

    Ketiga alasannya adalah:

    1. Formasi Rounded Top seperti di bulan Februari
    2. Volume jual > volume beli
    3. Dibawah local Point Of Control (POC)

    Dia juga mengatakan banyak perspektif bull dan bearish untuk setiap trader, artinya pasar diberada ketidakpastian. Dan, yang terbaik adalah untuk tidak trading pada saat ini.

    Jika anda membeli BTC dibawah Rp 100 juta, jual sekarang. Jika anda seorang trader, bukan investor, jangan lakukan perdagangan.

    Baca Juga: Bitcoin Berkolerasi dengan S&P 500, Analis Percaya Bahwa Nilai Pasar BTC Adalah $18.000



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengapa Harga Bitcoin Relatif Lekat dengan Pasar Saham?

    Beberapa pekan terakhir laju gerak harga Bitcoin relatif lekat dengan pasar saham. Pertanyaan pun membuncah, apakah Bitcoin adalah aset berisiko atau aset penyimpan nilai (store of value)?

    Padahal secara historis publik mengamini bahwa Bitcoin selayaknya emas sehingga ia disebut sebagai store of value asset seperti emas. Namun, yang terjadi sebaliknya, yang disebut sebagai karakter “cointegrated” karena tidak berbanding terbalik dengan pasar saham.

    Hal itu disebut oleh PlanB, nama samaran yang merancang model “Bitcoin Stock to Flow“. Katanya, Bitcoin dan pasar saham (indeks S&P 500) memiliki korelasi hingga 95 persen.

    Di atas kertas, korelasi itu terjadi ketika dua aset (Bitcoin dan saham) bergerak bersama-sama, baik secara positif (naik) atau negatif (turun). “Cointegrated” mengukur penyebaran harga jangka panjang antara dua aset, yaitu kedua aset akhirnya kembali ke penyebaran historisnya meskipun ada pelebaran berkala.

    Christopher Brookins di Forbes menyebutkan Bitcoin dan S&P 500 secara historis terkointegrasi. Ini menyiratkan bahwa Bitcoin adalah aset berisiko yang diuntungkan dari faktor makro dan moneter yang sama yang mendorong pasar modal, dalam penyebaran historisnya.

    “Namun, memperpendek dataset pengujian ke beberapa tahun terakhir, kami tidak mendapati adanya kointegrasi itu. Pada secara statistik sangat lemah. Satu penjelasan yang mungkin untuk ini adalah bahwa Bitcoin secara historis berperilaku sebagai aset berisiko, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin telah mulai beralih ke penyimpanan aset bernilai. Validasi lebih lanjut untuk hipotesis ini adalah analisis antara emas (GLD) dan S&P 500 yang tidak menunjukkan kointegrasi dan hubungan yang juga lemah,” sebut Brookins.

    Namun, Brookins beranggapan Bitcoin bisa berperilaku sebagai store of value asset, jikalau Bank Sentral AS alias The Fed mengalami kegagalan struktural dalam kebijakan moneternya (money printing), seperti yang terjadi di Jepang. [Forbes/red]

    Baca Juga: Bitcoin Disebut Lebih Popular Daripada Bank-Bank Besar 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Berkorelasi dengan S&P 500, Analis Percaya bahwa Nilai Pasar BTC Adalah $18.000

    PlanB, pencipta Stock-to-Flow (S2F), telah menegaskan bahwa ada korelasi yang pasti antara Bitcoin dan pasar saham, termasuk indeks S&P 500.

    Dalam serangkaian cuitan Twitter-nya, PlanB menulis bahwa berdasarkan situasi di pasar saham saat ini, BTC harusnya bernilai $ 18.000, dimana level harga ini terakhir terbentuk pada tahun 2017 silam.

    Dia mengatakan bahwa alternatifnya adalah saat pasar saham jatuh karena data yang tersedia, itu akan menunjukkan bahwa kedua pasar memiliki pola yang sama.

    Dalam cuitan pada 17 Juni, PlanB menyatakan bahwa kedua pasar juga berkoordinasi dengan “R Squared” pada nilai 95%.

    Dia mengutip kejadian pada bulan Maret lalu ketika harga Bitcoin bereaksi bersamaan dengan S&P 500 yang menyoroti fiturnya sebagai variabel dependen yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan di pasar saham.

    Harga Bitcoin turun dan kemudian pulih pada bulan Maret, mengikuti pola yang juga terlihat di pasar modal.

    PlanB mencatat bahwa “ini konsisten dengan model S2FX: $ 288ribu BTC di S2F56 -> itu menyiratkan S $ 4.300,” dengan mengutip bahwa nilai proyeksi Bitcoin diproyeksikan pada koin yang beredar dan juga pada pasokan yang ada.

    Menariknya, S2F menyatakan bahwa dengan mempertimbangkan bahwa mata uang digital memiliki persediaan tetap, terlepas dari minat dalam penambangan, koin tersebut akan bernilai $ 288.000 atau lebih selama Halving berikutnya pada 2024.

    Dan juga, PlanB bukanlah analis pertama yang menunjukkan korelasi harga pasar Bitcoin dengan pasar saham.

    Baca Juga: Inilah Harga Bitcoin yang Perlu diperhatikan Untuk Jangka Menengah

    Cuitan yang bermunculan seminggu ini telah menjadi sorotan. Disitu mengatakan bahwa pandemi corona mungkin menjadi faktor penyulit mengingat intervensi oleh bank sentral yang telah meningkatkan pasokan.

    Dia menyiratkan bahwa pasar akan koreksi pada titik ini. Dikatakan juga bahwa koreksi akan jatuh tempo dalam beberapa minggu ke depan.

    Ini berarti bahwa kekuatan makro akan terus memainkan peran besar dalam pasar koin, terutama Bitcoin.

    Pada September tahun lalu pun, PlanB mengatakan bahwa Bitcoin adalah aset yang berkorelasi tetapi menyatakan bahwa situasi stres akan membuktikan seberapa tangguh trend yang dimiliki.

    Pandemi corona telah memberikan ‘uji stres’ yang menekankan posisi itu.

    Dia mengatakan bahwa korelasi menjadi jelas baru-baru ini karena Bitcoin tidak pernah berkorelasi dengan aset lain dalam 10 tahun terakhir.

    “Bitcoin telah menjadi aset tidak berkorelasi 10 tahun terakhir, tetapi tes sesungguhnya adalah situasi stres (resesi), yang belum pernah kita alami sejak 2008, tetapi [itu] sudah dekat.”

    Ini adalah alasan mengapa bank sentral belum menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk diversifikasi, ujarnya. (Coinspeaker)



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perusahaan Tiongkok Tetap Dukung Blockchain, Kendati COVID-19 Masih Mencekam

    Sekitar 70 persen perusahaan di Tiongkok masih tetap mendukung teknologi blockchain, kendati COVID-10 masih mencekam dan mengancam ekonomi. Data itu berdasarkan hasil survei terbaru oleh media Xinhua milik pemerintah pusat Tiongkok.

    Krisis akibat COVID-19 membuat banyak perusahaan memikirkan ulang strategi agar bertahan di masa depan.

    Baca Juga: Negara Tirai Bambu Percaya dengan Blockchain, Bagaimana Dampak ke Bitcoin?

    Saat sebagian besar perusahaan mempertahankan layanan pelanggan dengan fokus pada tujuan serta biaya seputar tenaga kerja dan investasi, perusahaan-perusahaan Tiongkok mempertahankan dukungan mereka terhadap teknologi blockchain di tengah masa-masa sulit ini.

    Pada Oktober tahun lalu, Presiden Xi Jinping menjadi salah satu yang pertama mengusung penggunaan teknologi blockchain dan mendesak sektor swasta untuk menggarap setiap peluang dan memaksimalkannya. Tidak lama setelah itu, lebih dari 500 perusahaan Tiongkok mendaftarkan diri sebagai “perusahaan blockchain”.

    Turut serta dalam tren, perusahaan raksasa teknologi Tencent memimpin inisiatif blockchain dengan cara menggelontorkan dana US$70 miliar demi mendukung riset dan pengembangan teknologi baru, termasuk blockchain. Usaha ini adalah bagian dari strategi infrastruktur demi mengatasi dampak COVID-19.

    Menurut survei yang melibatkan 350 perusahaan sebagai responden, 70 persen masih meyakini potensial blockchain dan berpendapat teknologi itu akan berperan penting menopang ekonomi kembali pulih. Sekitar 20 persen responden bahkan mengajukan investasi tambahan ke blockchain demi mengurangi dampak COVID-19.

    Dengan fitur desentralisasi dan transparansi serta imutabilitas, blockchain menjadi sumber data yang dapat diandalkan ketika beragam pemangku kepentingan terlibat. Hal ini tidak ada di pangkalan data yang bersifat sentralistik yang relatif rentan pada peretasan dan trust. [cryptopolitan.com/ed]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Disebut Lebih Popular Daripada Bank-Bank Besar

    Bitcoin disebut-sebut lebih popular daripada bank-bank besar. Ya, setidaknya itu versi media siber Tokenist, berdasarkan hasil survei mereka belum lama ini. Survei itu melibatkan 4.852 responden dari 17 negara.

    Menurut survei itu jumlah orang yang lebih percaya Bitcoin dibandingkan bank-bank besar, meningkat hingga 29 persen dalam tiga tahun terakhir.

    Sekitar 47 persen responden lebih percaya dengan Bitcoin daripada bank-bank besar yang menyediakan jasa transaksi keuangan lintas negara.

    Survei itu juga menunjukkan perbedaan pandangan generasi soal Bitcoin dan bank tradisional. 51 persen generasi milenial lebih percaya dengan Bitcoin dibandingkan bank, meningkat 24 persen dibanding 2017 silam. Sementara 93 persen generasi di atas usia 65 tahun lebih mempercayai bank besar.

    Sekitar 78 persen responden dari generasi milenial mengaku cukup akrab dengan Bitcoin, dan 14 persen di antaranya memiliki Bitcoin. Bahkan, dalam lima tahun mendatang, 44 persen responden generasi milenial berencana akan membeli lebih banyak Bitcoin lagi.

    Kendati generasi milenial lebih mudah mengadopsi Bitcoin karena lebih melek teknologi, survei itu menunjukkan tingkat pengetahuan dan kepercayaan terhadap Bitcoin meningkat di semua kelompok usia dan jenis kelamin.

    Berita Terkait:  Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi

    Sekitar 60 persen responden merasa Bitcoin adalah inovasi positif di bidang teknologi keuangan, dibanding 27 persen tiga tahun lalu. Lebih dari 45 persen responden lebih memilih Bitcoin sebagai investasi dibanding saham, properti dan emas.

    “Tiga tahun lalu, sebagian besar bursa aset kripto yang memperdagangkan Bitcoin dan aset kripto lainnya masih baru, sehingga tingkat kepercayaannya rendah. Kini, tampak terjadi peningkatan kematangan dan kestabilan para penyedia jasa tersebut, sehingga mendongkrak minat para trader dan investor, ” jelas tim Tokenist. [decrypt.co/ed]

    Berita Terkait: Negara Tirai Bambu Percaya dengan Blockchain, Bagaimana dengan Bitcoin?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Negara Tirai Bambu Percaya Dengan Blockchain, Bagaimana Dampak Ke Bitcoin?

    Sejak tahun lalu, negara tirai bambu sudah melakukan penelitian teknologi blockchain.

    Presiden Tiongkok, Xi Jinping, percaya bahwa teknologi tersebut akan kian digunakan di masa depan.

    Menurut Xinhua, surat kabar nasional di Cina, menunjukkan bahwa 70% dari 350 perusahaan yang disurvei sebelum wabah coronavirus tetap optimis tentang potensi teknologi blockchain.

    20% dari mereka akan berinvestasi lebih banyak lagi untuk mengurangi dampak krisis.

    Siapa saja yang masih bullish terhadap teknologi blockchain?

    Hampir 10 jenis industri tetap yakin dengan teknologi tersebut.

    Seperti yang anda lihat bahwa ekonomi di Cina lebih jatuh dari Indonesia. Economy di Cina turun 6.8%, sedangkan di Indonesia naik 2.97% di kuartal pertama.

    Banyak yang percaya bahwa menggunakan teknologi blockchain dapat membantu perekonomian nasional pulih dari resesi yang sedang terjadi karena pandemic Corona.

    Baca Juga: Elquirex: Investasi Bitcoin Hingga 159%, Pinjaman Dengan Anggunan BTC

    Responden berasal dari 10 industri yang berbeda, termasuk perusahaan spesialis yang terkait dengan blockchain, pabrik, perdagangan, manajemen rantai pasokan dan keuangan.

    Para ahli mengatakan:

    Industri blockchain sangat berguna untuk perusahaan (…) Sebagai jaringan data terpercaya antara perusahaan, blockchain memecahkan masalah yang tidak dapat diatasi oleh data yang tersentralisasi seperti kepercayan kolaborasi antar pihak.

    Para peneliti setuju bahwa blockchain dianggap sebagai cara yang paling efektif.

    Keyakinan mereka tetap tinggi ditengah pandemik. Sangat disayangkan, perusahaan tersebut terpaksa menghentikan pengembangan mereka untuk sementara waktu.

    Status adopsi blockchain oleh Tiongkok sudah tidak diragukan lagi. Negara tersebut sudah menerapkan sistem tersebut di sektor finansial.

    Sebagai contoh, Mereka memulai program di provinsi Hainan yang bertujuan untuk memperkuat pembayaran lintas batas melalui teknologi blockchain.

    Pada 2 Juni, otoritas Tiongkok mempunyai rencana besar untuk membuat provinsi tersebut menjadi provinsi perdagangan bebas untuk mendorong institusi mengadopsi teknologi blockchain.

    Glenn Woo, kepada perusahaan Ledger Vault untuk Asia, memprediksi bahwa negara Tiongkok adalah negara pertama yang akan mempunyai uang digital yang didukung oleh pemerintah.

    Jika ini terjadi (adopsi blockchain dan uang digital), kemungkinan besar adopsi cryptocurrency akan terjadi dengan skala besar yang menyebabkan harga crypto utama meroket.

    Baca Juga: Bitcoin Masih Berpotensi ke Bawah 3000 USD. Jangan Lengah!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah Harga Bitcoin Yang Perlu Diperhatikan Untuk Jangka Menengah

    Harga Bitcoin (BTC) telah turun drastis dari harga Rp 140 juta-an turun ke Rp 131 juta-an. Penurunan tersebut dengan cepat diserap oleh gelombang kuat pembelian yang membantu harga kembali ke area konsolidasi yang telah terjadi selama beberapa hari terakhir.

    Pada saat pers, harga Bitcoin berada di Rp 136 juta-an, sudah naik Rp 5 juta-an karena adanya tekanan beli.

    Bitcoin kemungkinan akan mengalami beberapa volatilitas dalam waktu dekat karena berada di sekitaran level Support jangka menengah utamanya.

    Bagaimana reaksi harga terhadap level ini akan memberikan kita wawasan tentang keadaan trend makro dan dampaknya pada investor.

    Analis percaya bahwa pembeli masih memiliki keunggulan atas penjual, dan mereka mungkin dapat mengkatalisasi kenaikan tajam untuk menghapus kerugian yang terjadi semalam.

    Baca Juga: 4 Alasan Kenapa Kamu Harus Upgrade ke Tokocrypto 2.0 

    Josh Rager, seorang analis cryptocurrency populer di Twitter, juga menjelaskan bahwa rentang perdagangan jangka menengah Bitcoin jauh lebih besar dari ini, yang ada diantara level $ 8.500 (Rp 119 juta) dan $ 9.800 (Rp 137,7 juta).

    Dia percaya bahwa BTC tidak mempunyai tren yang jelas sampai salah satu level ini bisa tertembus dalam waktu dekat.

    “Harga BTC memiliki kisaran $ 9.400- $ 9.500 yang konsisten selama akhir pekan tanpa mencapai lebih dari $ 9.600 sebelum penurunan. Saya akan melihat untuk menguji ulang Resistance di atas $ 9.250. Masih tidak Bullish kecuali $ 9.800 direklamasi. Masih dalam satu kisaran raksasa, [tetapi] tidak besar sampai kisaran $ 8.500.”

    Dia menambahkan bahwa harga Bitcoin harus mencapai $9.550 dan mengambil $9.800++ untuk Bitcoin berada di uptrend.

    Baca Juga: Elquirex: Investasi Bitcoin Hingga 159%, Pinjaman Dengan Anggunan BTC

    Jika tidak, harga masih tetap berada di tren turun.

    Analis lainnya, TraderXO, juga mengatakan bahwa $8.600 adalah level penting yang harus diperhatikan.

    Penurunan keharga tersebut mengkonfirmasi bahwa Bitcoin sedang membentuk channel downtrend dalam beberapa tahun terakhir.

    Pada saat pers, harga BTC/USD adalah $9.462 (Rp 133 juta) di Binance, berbeda Rp 3 juta jika dibandingkan dengan Indodax.

    Sebagai seorang trader, Risk Management sangat penting. Selalu gunakan stop-loss ketika melakukan perdagangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com