Author: 38

  • Bisakah Bitcoin Tumbuh di Negara Berkembang?

    Bagi warga di negara maju, Bitcoin adalah rencana cadangan jika sistem keuangan konvensional saat ini runtuh atau jika perlu sebagai alat untuk menghindari pantauan pihak berwenang. Bagaiman dengan di negara di berkembang, apakah Bitcoin bisa tumbuh?

    Salah satu negara yang rusak parah adalah Turki. Mata uangnya, lira melemah sebesar 85 persen terhadap dolar AS sejak awal 2008.

    Bank sentral Turki melakukan intervensi, tetapi tidak berhasil menenangkan situasi. Laju depresiasi lira dapat dilawan dengan menaikkan tingkat suku bunga, tetapi dampaknya buruk bagi ekonomi.

    Libanon, yang berada dekat Turki malah bangkrut. Sebelum ledakan besar baru-baru ini yang terjadi di ibukota Beirut, negara tersebut sudah terjerat hutang besar.

    Pound Libanon telah kehilangan lebih dari separuh nilainya terhadap dolar AS, kendati dipatok satu banding satu terhadap mata uang itu.

    Lalu Nigeria yang disebut sebagai Silicon Valley-nya di benua Afrika, tetapi permasalahan inflasi melanda, di mana rakyat tidak pernah merasakan inflasi kurang dari 5 persen sejak 1972.

    Hal serupa dialami warga Kenya, dimana inflasi kurang dari 5 persen hanya terjadi empat kali sejak kurun waktu yang sama.

    Permasalahan ini nyata dihadapi warga negara-negara tersebut. Jika mereka membeli barang yang dijual dalam mata uang asing, sementara mata uang lokal melemah, maka pembelian menjadi serba mahal.

    Akses Kecil
    Bagaimana dengan Bitcoin? Jika seseorang yang membeli di harga puncak sekitar US$20 ribu per BTC tidak akan banyak terganggu oleh penurunan hingga sekitar US$10 ribu saat ini.

    Kendati warga AS merasakan penurunan aset sebesar 50 persen, warga Turki justru memiliki lira 15 persen lebih banyak. Hal ini tidak cukup untuk mempertahankan nilai tabungan warga Turki, tetapi jauh lebih baik dibanding jika tidak menyimpan Bitcoin.

    Bagi warga di negara-negara ini, membeli dolar AS lebih stabil, tetapi tidak semua orang punya akses untuk membelinya.

    Jika pun ada, harga dolar AS lebih mahal dibanding harga tukar resmi. Seperti di Suriah, melalui gabungan sanksi, virus corona, krisis Libanon dan perang, negara itu memasuki resesi parah, sampai-sampai warga Suriah rela menukar uang mereka untuk lira Turki.

    Jarang ada yang bersedia menjual Bitcoin untuk pound Suriah atau lira Turki, sebab itu sedikit sekali modal yang diubah ke Bitcoin atau logam mulia di negara di mana mata uangnya runtuh.

    Selain itu, warga yang semakin miskin tidak akan membeli Bitcoin dan juga masih sedikit yang sadar akan adanya aset kripto itu.

    Permasalahan sebaliknya terjadi di negara maju. Bank sentral gagal mencetak angka inflasi tinggi, seperti di benua Eropa yang mencapai inflasi rata-rata 1,26 persen dalam dua tahun bahkan setelah melakukan pencetakan uang dan suku bunga negatif. Mata uang negara maju relatif lebih stabil dibanding negara berkembang.

    Bagi warga negara maju, Bitcoin adalah eksperimen ekonomi yang inovatif dan membuka akses terhadap pasar modal yang sebelumnya hanya diakses segolongan tertentu.

    Kripto ini menjadi rencana cadangan bila sistem keuangan runtuh, sementara di negara lain hal itu sudah terjadi.

    Mata uang lemah pun mengalami masa-masa stabil. Kendati demikian, rencana cadangan menjadi penting saat kondisi mulai genting. Sebelumnya, rakyat mencari aman dalam bentuk logam mulia, tetapi hal itu kini berubah dimana dunia menjadi lebih digital, otomatis dan cepat.

    Bitcoin cocok sebagai aset masa kekinian, sebab dapat disimpan secara digital. Sebagian besar warga negara berkembang memiliki ponsel yang bisa dipakai untuk bertransaksi Bitcoin.

    Perubahan ini sudah mulai terjadi, dimana Nigeria menjadi negara yang paling banyak menelusuri istilah Bitcoin, disusul oleh Afrika Selatan dan Venezuela.

    Bukan hanya soal transaksi keuangan, Bitcoin membantu menyimpan tabungan yang sulit disita dan juga menjadi komoditas untuk diperdagangkan.

    Bitcoin juga demokratis dan siapapun bisa berpartisipasi. Kendati penipuan aset kripto masih marak terjadi, hanya soal waktu sebelum revolusi Bitcoin mulai merebak di negara berkembang yang membutuhkannya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dewan Penasihat Syariah Malaysia: Crypto Punya Potensi Besar

    Setelah Dewan Penasihat Syariah Malaysia mengizinkan perdagangan aset digital pada Juli 2020 lalu, pertumbuhan mata uang crypto di Malaysia tampak bullish. Warga Malaysia mulai terbuka menjadikan aset digital sebagai aset investasi.

    Dilansir dari The Malaysian Reserve, Dr. Modh Daud Bakar meyakini bahwa perkembangan aset digital termasuk crypto memiliki potensi yang sangat besar. Namun, tantangan yang saat ini harus dihadapi adalah kurangnya pemahaman mengenai kelas aset. Sehingga menghambat adanya adopsi yang besar terhadap mata uang crypto ini.

    Baca Juga: Terungkap! Inilah Alasan Kenapa Pasar Crypto DeFi Naik Tajam Sejak Juni

    Ketua Dewan Penasihat Syariah Komisi Sekuritas Malaysia tersebut juga menyampaikan bahwa hanya 2% warga Malaysia yang memiliki pengetahuan mengenai mata uang crypto. Hal ini disampaikan ketika menjadi pembicara di SCxSC Fintech Conference 2020 di Kuala Lumpur pada 6 Oktober 2020 lalu.

    Lebih lanjut, ia juga menambahkan saat ini mata uang crypto belum dianggap sebagai alat pembayaran yang sah menurut hukum agama di Malaysia. Di sisi lain, crypto secara resmi telah menjadi aset komoditas yang dapat diperjual/belikan, tetapi dengan syarat tidak mendukung sesuatu yang ribawi. Nilainya harus dapat diukur seperti emas dan perak.

    “Ini adalah alat tukar, dan kami tidak bisa menghentikan orang lain untuk menggunakan komoditas sebagai alat tukar. Ini sama baiknya dengan membeli tiket elektronik atau komoditas di pasar.”

    Tidak hanya itu, ia juga menambahkan bahwa adopsi aset digital di Malaysia akan membuka banyak area menarik lainnya. Termasuk potensinya untuk terus berkembang seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital dunia.

    Baca juga: Dewan Syariah Malaysia Izinkan Investasi dan Perdagangan Cryptocurrency

    Setelah kenaikan harga Bitcoin yang drastis pada 2017 silam, membuat perdebatan terkait izin mengenai crypto dalam hukum Islam. Dikutip dari Cointelegraph, CEO FinTek di Indonesia Matthew Martin berpendapat bahwa crypto lebih mungkin diizinkan berdasarkan hukum Islam dibandingkan dengan fiat. Mengingat crypto memiliki dasar Proof-of-work daripada hutang.

    Meskipun Malaysia merupakan negara sekuler, tetapi lebih dari 60% warganya mempraktikan Islam dalam sudut pandang bermasyarakat.

    Dengan adanya kejelasan regulasi dan hukum terkait crypto di malaysia, Dr. Bakar juga menambahkan,

    “Ini akan membuka peluang untuk memanfaatkan crypto sebagai komoditas atau sebagai investasi di perusahaan.”

    Saat ini, sudah ada tiga bursa pertukaran mata uang crypto berlisensi, seperti Luno Malaysia, Tokenize Malaysia, dan Sinegy Technologies.

    Informasi ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin akan Capai $ 400.000 Dalam Siklus Bulls Berikutnya Jika Sejarah Berulang

    Banyak spekulasi sudah beredar mengenai level tertinggi baru sepanjang masa yang mungkin akan dicapai Bitcoin (BTC) disepanjang siklus Bullish barunya.

    Ya, tidaklah aneh jika memang spekulasi semacam ini telah selalu ada untuk menggambarkan betapa antusias kepercayaan komunitas terhadap crypto utama.

    Menurut pakar industri populer yang menggunakan akun Twitter Tytan Inc., Bitcoin tengah bersiap untuk mencatat keuntungan serupa seperti yang terjadi pada 2016-2017.

    Baca Juga: Whale Bitcoin: Strategi Sederhana Yang Membuat Anda Kaya

    Pada grafik pertama yang dia bagikan, dia menguraikan bahwa harga telah melalui pola yang sama dan berada di ambang breakout.

    Dia juga menunjukkan persentase kenaikan BTC secara keseluruhan sejak peristiwa tersebut berlangsung hingga level tertinggi sepanjang masa sebelumnya di sekitar $ 20.000 dari Desember 2017. Saat itu, harga melonjak total 3.415%.

    Mengingat bahwa BTC saat ini diperdagangkan sekitar $ 11.300, kenaikan serupa berarti harganya akan mencapai $ 400.000. Ini juga akan membuat total kapitalisasi pasar Bitcoin sekitar $ 7,3 triliun.

    Ia juga menguraikan bahwa Bitcoin keluar dari Bullish Pennant sekitar September 2016, dan itu hanya akan mengarah ke potensi Bullish terbaru!

    Menurut ahli, ketika pola ini ditembus pada tahun 2016, butuh waktu sekitar satu tahun dan tiga bulan untuk harga naik hignga 3.415%.

    Jika sejarah berulang, Bitcoin akan mencapai harga $ 400.000 pada akhir 2021 atau pada awal 2022.

    Ini bukan pertama kalinya seseorang menjadi begitu Bullish di BTC. Sebelumnya, analis terkemuka lainnya yang condong ke Bulls mengatakan bahwa cryptocurrency ini mungkin akan terbang tinggi ke level $ 430.000 pada akhir 2021.

    Apakah Mungkin Ini Terjadi?

    Menurut tim Cryptoharian, harga BTC tidak mungkin ke $400.000-an. Paling tinggi di $20.000-an, atau paling realistis di $14.000-$15.000. Dan, ini-pun harus melihat apakah BTC bisa menjadikan $12.000 support kuat (saat ini masih key resistance).

    Dan yang perlu dicatat ialah, ini mendasarkan penilaiannya pada sejarah grafik, dengan mempertimbangkan kinerja BTC pada 2013 dan pertengahan 2016, dimana sikap global dan adopsi massal kemungkinan akan menjadi peran utama untuk skema Bullish ini yang tentu patut dijadikan bahan pertimbangan investasi. Bagaimana menurut Anda?

    Baca Juga: Bank Sentral Menginginkan CBDC Karena Mereka Takut pada Bitcoin

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korsel Ujicoba Penerbitan dan Transaksi Won Digital pada Tahun Depan

    Bank Sentral Korea Selatan (Korsel) siap mengujicoba penerbitan dan transaksi won digital pada tahun depan. Langkah itu adalah lanjutan, setelah bulan lalu membentuk Dewan Penasihat Hukum.

    Baca Juga: Inilah Strategi Veteran Bitcoin Yang Menghasilkan Keuntungan $ 10 Miliar

    “Ujicoba itu akan serupa dengan proses peredaran uang kertas,” kata seorang pejabat Bank Sentral Korsel, dilansir oleh media lokal, KoreaHerald, 7 Oktober 2020.

    Bank sentral mengatakan langkah terkait tidak dimaksudkan untuk mempersiapkan penerbitan won digital yang sebenarnya, tetapi bank membuat persiapan yang diperlukan untuk berjaga-jaga.

    Sejumlah bank sentral di banyak negara mempercepat penelitian mereka tentang mata uang digital (CBDC) untuk mengantisipasi penurunan permintaan uang tunai (fisik/giral) dan munculnya aset kripto alias mata uang kripto oleh sektor swasta.

    Bank sentral Tiongkok tampak lebih agresif dalam mempersiapkan penerbitan CBDC. Negeri Panda itu telah meneliti dan mengembangkan yuan digital sejak tahun 2014 dan mulai mengujicoba sejak medio tahun 2020. Mereka juga berencana mengujicoba lebih luas pada Olimpiade mendatang.

    CBDC adalah wujud digital uang dan mata uang yang fisik. Kelak akan melengkapi dan menggantikan 10 persen uang giral itu, selayaknya uang elektronik yang masif sejak beberapa tahun terakhir.

    CBDC yang sebagian besar berteknologi blockchain ataupun distributed ledger technology memastikan efisiensi dari segi waktu, biaya dan jangkauan mata uang, sebagaimana yang terjadi pada stablecoin USDT yang bernilai dolar.

    Baca Juga: Kembangkan Teknologi Blockchain, Agen CIA Bisa Dapat Cuan



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah GAP CME Bitcoin yang Baru Dibentuk yang Kemungkinan akan Segera Terisi

    Prospek teknis Bitcoin telah sangat meningkat selama beberapa hari terakhir, dengan kemampuan Bulls untuk mendorong crypto utama ini dari posisi terendah $ 10.600 dan melewati level Resistance $ 11.200 yang memberikan struktur pasarnya dengan dorongan yang serius.

    Di mana trend selanjutnya kemungkinan besar akan bergantung pada reaksinya terhadap level Resistance kunci berikutnya di $ 11.600, dimana level ini terlihat cukup signifikan dan dapat menyebabkan kerugian penting jika kenaikan tidak dapat berlanjut diatasnya!

    Naiknya BTC, juga membawa altcoin naik melambung tinggi.

    Baca Juga: Apakah Altseason Akan Kembali Datang untuk Mencerahkan Altcoin Utama?

    Penting untuk diingat bahwa momentum cryptocurrency saat ini berakar pada perkembangan berita Bullish seputar keputusan Square untuk membeli BTC senilai $ 50 juta untuk disimpan sebagai aset cadangannya.

    Banyak investor percaya bahwa lebih banyak perusahaan akan mengikuti, menciptakan krisis likuiditas sisi jual yang berpotensi mendorong Bitcoin lebih tinggi secara signifikan.

    Ada satu GAP di CME yang baru terbentuk yang mungkin harus diisi oleh BTC sebelum dapat melihat momentum lebih lanjut.

    Seorang trader menunjuk ke level ini sebagai target mundurnya jangka pendek, mencatat bahwa rebound di sini dapat mengkatalisasi kenaikan serius yang mendorong Bitcoin melewati Resistance yang saat ini sedang diusahakan untuk ditembus.

    Saat berbicara tentang potensi trend Bitcoin dalam waktu dekat, seorang analis mencatat bahwa dia mengarahkan pandangannya pada penurunan menuju GAP pada CME yang baru-baru ini terbentuk di level $ 11.110.

    Dia mencatat bahwa penurunan di sini akan memberikan probabilitas tinggi bahwa kenaikan lebih lanjut akan segera terjadi karena Support kuat yang berada tepat di bawahnya.

    “Telah menempatkan beberapa tawaran di sekitar GAP pada CME di 11.110. Berharap mereka mengisi tutup mingguan atau Senin pagi. Kemungkinan besar yang kami lakukan itu bisa menjadi perdagangan yang mudah (saya harap).”

    Meski GAP biasanya dianggap sebagai peluang yang jelas, nyata, dan mudah, tentu saja sentimen keseluruhan pasar masih perlu dipertimbangkan untuk mengantisipasi seberapa jauh harga akan mencoba turun, bisa dari aksi penutupan GAP dan juga aksi Taking Profit yang perlu diwaspadai juga.

    Baca Juga: Whale Bitcoin: Strategi Sederhana Yang Membuat Anda Kaya

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Whale Bitcoin: Strategi Sederhana Yang Membuat Anda Kaya

    Seorang Whale Bitcoin yang dikenal karena telah membuat pendapatnya bisa dibaca oleh publik, telah mempromosikan strategi investasi yang menurutnya telah diabaikan oleh sebagian besar trader crypto.

    Trader pseudonim yang dikenal sebagai ‘Joe007’ mengatakan bahwa trader pintar perlu memantau pergerakan harga jangka panjang Bitcoin, menjual posisi mereka ketika BTC telah meningkat 10x dan membeli ketika Bitcoin telah turun 5x dari puncaknya.

    Baca Juga: Cara Staking Aset Crypto untuk Mendapatkan Passive Income

    Joe007, yang dikenal karena menempatkan taruhan besar di bursa Bitfinex, menyebut metode ini sebagai “strategi investasi sederhana dan efektif yang memungkinkan siapa pun menjadi Whale dalam jangka waktu yang wajar.”

    Meskipun hasil yang berkurang pada akhirnya akan menendang dan menghilangkan kelangsungan strategi tersebut.

    Joe percaya aturan 10x / 5x akan bertahan setidaknya untuk beberapa siklus berikutnya. Ia pun yakin kalau saat ini harga masih terlalu tidak stabil untuk mengambil pendekatan “beli dan jangan pernah jual.”

    Joe mengatakan, gelombang High dan Low yang berulang cocok dengan desas-desus yang ada tentang BTC.

    “Beli BTC ketika turun, semua orang akan menggonggong tentang bagaimana itu akan segera nol, dan jual ketika naik dan tetangga boomer akan meminta Anda untuk tips bagaimana masuk ke ‘Bitcoin berikutnya’.”

    Ia pun juga mengatakan kalau halving Bitcoin akan mulai mengurangi masalah siklus-ke-siklus.

    “Halving mungkin telah menjadi pendorong utama ketidakseimbangan penawaran / permintaan pada siklus awal, tetapi seiring waktu perubahan di sisi permintaan akan memainkan peran yang jauh lebih besar.”

    Dalam hal portofolio pribadinya, ia mengatakan bahwa selain Bitcoin, ia menyimpan sejumlah uang di Tether (USDT) untuk melindungi nilai dari “kegagalan sistem perbankan.”

    Baca Juga: Apakah Dorian Nakamoto Adalah Satoshi Nakamoto?

    Bisa dikatakan, untuk jangka panjang, Joe007 menganut sebuah sistem gelombang (mirip Elliot Wave) yang sistematis untuk meraih keuntungan dipasar Bitcoin, dimana penurunan 5x bisa disebut sebagai Corrective Wave (Koreksi), dan kenaikan 10x bisa disebut sebagai Motive Wave (kelanjutan trend), sehingga ia akan cenderung mengabaikan hal-hal diluar ini dengan memilih untuk menunggu dan mengamati saja (wait and see). Bagaimana menurut Anda?

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Merosot Gara-Gara Trump Tunda Stimulus Covid-19 Kedua

    Donald Trump tunda paket stimulus Covid-19 kedua hingga pemilu AS 2020 rampung digelar. Pengumuman ini datang di saat genting, yaitu jelang pemilu AS yang ditetapkan akan terlaksana pada 3 November mendatang.

    Trump yang sedang dalam masa pemulihan ini memposting sebuah tweet :

    “Kami membuat tawaran yang sangat murah hati sebesar $ 1,6 Triliun dolar dan, seperti biasa, dia (Nancy Pelosi) tidak bernegosiasi dengan itikad baik.”

    Tweet Trump lebih lanjut, “Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk berhenti bernegosiasi sampai setelah pemilihan ketika segera setelah saya menang, kami akan mengesahkan RUU Stimulus utama yang berfokus pada pekerja keras Amerika dan Bisnis Kecil.”

    Menurut CNBC, Trump nampak bertentangan dengan dirinya sendiri, setelah mendesak partai Democratic dan Republican menyepakati paket stimulus pada 3 hari lalu.

    Negosiasi stimulus Covid-19 telah berlangsung selama berbulan-bulan di AS, karena ekonomi AS yang memburuk dan jutaan warga AS jadi pengangguran dampak dari pandemi virus corona.

    Baca Juga: Mengapa Bitcoin Bisa Bernilai?

    Meski Nancy Pelosi sebagai Ketua DPR AS dan Steven Mnuchin sebagai Menteri Keuangan AS telah berbulan-bulan mendiskusikan hal ini, tapi dilaporkan bahwa Trump belum juga terlibat dalam hal ini.

    Tak lama setelah tweet presiden AS tersebut, tren pasar saham terpancing dengan Dow Jones Industrial Average yang turun sebesar 1,3%.

    Sementara pasar crypto juga bergejolak dimana harga Bitcoin turun hingga 1,4% dalam 7 hari terakhir. Dan, harga semua altcoin turun, termasuk DeFi YFI, turun lebih dari 55% dalam 30 hari terakhir.

    Hal tersebut membuktikan bahwa ruang crypto masih berkorelasi dengan pasar saham. Beberapa analis berspekulasi kalau crypto butuh waktu beberapa tahun untuk memisahkan diri dari pasar saham tradisional. Tetapi fiat khususnya dolar AS masih jadi patokan dan referensi nilai cryptocurrency.

    Trader mengantisipasi kesepakatan stimulus ekonomi kedua ini, karena banyak bisnis yang berjuang untuk bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19.

    Sayangnya, stimulus nampaknya telah mengeringkan likuiditas yang mendukung pasar. Bagaimana menurut Anda? Apakah keputusan Trump menunda stimulus kedua ini sudah tepat?

    Baca Juga: Begini Prediksi Pengaruh Pemilu AS Terhadap Bitcoin

    artikel ini dapat dibavca kembali disini.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bagaimanakah Prospek Bitcoin Ditengah Krisis Ekonomi?

    Dalam sebuah wawancara, John Vaz, ekonom dan akademis di Monash University menegaskan prospek Bitcoin (BTC) dan cryptocurrency bergantung pada respon pemerintah terhadap krisis ekonomi saat ini.Vaz juga menekankan pentingnya adopsi dan penerimaan terhadap cryptocurrency yang lebih luas lagi. Vaz menyamakan peran Bitcoin sebagai komoditas uang dalam konteks krisis ekonomi yang semakin memburuk dengan keberadaan rokok di dalam penjara.

    Bitcoin Jangka Pendek dan Pasar Utama

    Dalam trading jangka pendek, Vaz tidak terlalu terkejut ketika harga Bitcoin turun, ia juga menambahkan Bitcoin telah menderita dalam krisis likuiditas yang sama seperti kebanyakan pasar lain. “Ketika terjadi kekacauan, orang-orang akan membuangnya”, ujarnya.

    Ekonom ini menekankan bahwa “saat ini, semua hal sedang mengalami penurunan” dan mencatat hanya segelintir “tipe aset komoditas” seperti emas yang dianggap sebagai ‘safe havens’ yang tidak megalami penurunan harga yang sama cepatnya.

    Vaz menggambarkan persepsi terhadap USD sebagai “safe haven” adalah hal yang sangat mengherankan. Hal itu ia sampaikan dengan alasan bahwa mata uang Amerika Serikat tersebut merupakan aset yang paling buruk untuk dikelola.

    “Yang lebih mengherankan lagi, USD dipandang sebagai tempat yang aman, padahal mungkin USD adalah aset yang paling tidak bisa dikelola dengan baik […] mengingat beberapa pengeluaran yang terjadi di AS, seperti pemotongan pajak dengan jumlah besar dibebankan kepada sektor perusahaan dan semacamnya, pengeluaran untuk keamanan yang besar, dan sekarang bahkan pengeluaran yang lebih besar lagi untuk menstimulasi ekonomi. Jadi bagaimana hal itu dapa tertangani dengan baik?”

    Baca juga: Trading Bitcoin Tetap Kuat Meskipun Kondisi Global Terpuruk

    Bitcoin sebagai Alternatif

    Di tengah maraknya pengelolaan ekonomi yang semrawut, Vaz mengidentifikasi “peluang” untuk aset crypto muncul sebagai “mata uang alternatif dengan beberapa stabilitas dan perlindungan dari ruang mata uang lain.”

    Ia berpendapat, kebijakan ekonomi “dalam memotivasi awal terciptanya Bitcoin dan cryptocurrency” sama dengan “kebijakan stimulus yang akan dijalankan pasca-krisis”.

    Dia juga menegaskan, beberapa negara akan memiliki situasi di mana “mereka ingin melindungi mata uang mereka dari devaluasi dan menerapkan kontrol mata uang”. Sebaliknya “cryptocurrency bisa menjadi sangat menarik bagi banyak pasar sebagai cara untuk menumbangkan kontrol mata uang tersebut.”

    Vaz menambahkan, cryptocurrency lebih adil daripada mata uang kertas, “tidak akan ada bank atau pemerintahan yang membajak kerugian dan memprivatisasi keuntungan. Untuk melakukan hal semacam itu, cryptocurrency menawarkan peluang tersebut dan membuatnya berpotensi dalam membentuk uang alternatif.”

    Bitcoin sebagai “Rokok dalam Penjara” di Tengah Krisis Ekonomi

    Keberhasilan Bitcoin bergantung pada apakah cryptocurrency akan segera dapat diadopsi lebih luas lagi, khususnya pada wilayah institusi dan kelembagaan.

    “Secara historis, uang memiliki nilai karena orang menggunakannya dan percaya bahwa uang layak untuk digunakan. Dengan itu, rokok yang punya ciri sebagai ‘uang’ di penjara, tidak ada yang benar-benar menganggapnya sebagai uang tetapi Anda bisa membuat seseorang dipukuli, dibunuh, atau hal jahat apapun hanya untuk sebungkus rokok. Sekarang, nilainya mungkin tidak lebih dari rokok, tetapi jika melihatnya dengan perumpamaan tersebut, Bitcoin mungkin memiliki nilai yang sama baiknya dengan emas.”

    Diakhir wawancara, Vaz menyimpulkan “bagaimana pemerintah dan bagaimana ekonomi dikelola akan menjadi sangat penting di dunia Barat saat ini, dan (dapat) menciptakan peluang untuk cryptocurrency.”

    Bagi dirinya, apakah crypto akan berhasil atau tidak, itu “sepenuhnya bergantung pada berapa banyak tahanan yang mau mengambil rokok tersebut”.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah Strategi Veteran Bitcoin Yang Menghasilkan Keuntungan $ 10 Miliar

    Investor Bitcoin legendaris, Chamath Palihapitiya telah menerbitkan rahasianya menghasilkan keuntungan $ 10 miliar dalam Bitcoin. Ia memulai pertaruhannya pada tahun 2012 dan 2013 dan memperoleh 1 juta BTC dengan harga $ 80 saat itu.

    Strateginya adalah bisa membedakan kapan suatu investasi menghasilkan keuntungan dan mengetahui bagaimana mengelola risiko.

    Investasi 101: Jangan bingung membedakan presentase slugging dengan pukulan rata-rata. Palihapitiya menjelaskan bahwa investasi adalah tentang mengetahui produk yang Anda investasikan, meskipun produk tersebut tidak diketahui. Dalam hal ini, indikator MOIC (Multiple of Invested Capital) menjadi alat yang sangat diperlukan untuk mengetahui nilai total investasi atau portfolio.

    Baca Juga: Industri Cryptocurrency dan Blockchain di Indonesia Alami Pertumbuhan Besar-besaran

    Menurutnya, investor hebat fokus pada presentase slugging, yaitu mereka mengetahui investasi mereka dan dapat menambahkan lebih banyak uang untuk investasi tersebut. Mereka tahu bagaimana memanfaatkan atau mengambil risiko serta ‘menunggangi pemenang’.

    Kesimpulannya, investor hebat tahu bahwa memiliki investasi yang baik itu lebih penting, dari pada memiliki banyak bagian dari yang tidak relevan dari banyak pemenang.

    Palihapitiya menambahkan: Luangkan waktu untuk memahami apa yang Anda miliki sehingga Anda bisa menjadi ‘semua’ jika perlu. Seharusnya tidak pernah terjadi tetapi jika Anda memiliki tingkat keyakinan seperti ini, Anda akan mengukur dan menambahkan dengan tepat dan membiarkan persentase slugging Anda yang berbicara.

    Ketika Whitepaper Bitcoin diterbitkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009, mantan eksekutif senior Facebook ini diperkirakan telah memiliki kekayaan $ 1 miliar.

    Melalui perusahaannya, Social Capital, dia telah berinvestasi di Digital Currency Group, sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mempercepat pengembangan sistem keuangan yang lebih baik dengan mendukung perusahaan Bitcoin dan blockchain dengan akses ke modal.

    Bisa dikatakan bahwa sang investor tersebut melihat crypto baru yang berpotensial dan HODL, tidak melakukan perdagangan.

    Menurut para analis, selama Bitcoin masih diatas $10.000, trend masih terlihat bullish. Namun, masih ada CME Gap di $9.600 menghantui BTC. Pada saat pers, harga Bitcoin berada di $10.634 menurut Binance.

    Menurut Whalemap, aktivitas whale Bitcoin menunjukkan dukungan yang kuat di level $ 10.407 dan $ 10.570. ini berarti, whale Bitcoin telah mengumpulkan jumlah yang signifikan di level itu menjadi dukungan yang kuat. Whalemap menyatakan harga Bitcoin harus tetap di atasnya agar pasar tetap bullish.

    Baca Juga: Analisa Teknikal 7 Oktober: Bitcoin dan Ethereum

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengapa Bitcoin Bisa Bernilai? – Tokocrypto News

    Sebagai kelas aset baru, Bitcoin seringkali disalahpahami sebagai aset yang tidak bernilai. Padahal ada banyak aspek fundamental yang membentuknya.

    Salah satu kesalahpahaman soal Bitcoin (BTC) adalah aset kripto itu tidak bernilai, sebab tidak didukung oleh aset fisik. Pemahaman itu disebarkan oleh tokoh-tokoh besar seperti Presiden AS Donald Trump dan investor miliarder Warren Buffett.

    Tetapi, BTC kini merupakan “mata uang keenam” terbesar di dunia, sehingga pastilah ada sesuatu yang membuatnya bernilai, sehingga bisa diperdagangkan dengan harga yang sangat tinggi.

    Sejarah Singkat Uang
    Dahulu kala, uang kertas dan koin logam dapat ditebus untuk emas fisik asli. Negara-negara maju memakai sistem standar emas, di mana mata uang nasional dipatok terhadap emas.

    Baca Juga: Bitcoin vs Emas, Mana yang Lebih Profit?

    Tetapi setelah era Depresi Besar, kebijakan ini diubah agar pemerintah dapat dengan bebas menambah suplai uang dan menstimulasi ekonomi.

    Amerika Serikat meninggalkan standar emas sepenuhnya pada tahun 1971 dan berubah menjadi standar uang fiat, di mana mata uang nasional tidak didukung oleh emas, tetapi oleh hukum permintaan dan penawaran serta kekuatan pemerintah dan politik.

    Selain itu, pajak harus dibayar dalam uang fiat, dan penghindaran pajak adalah tindak kriminal, sehingga hal ini mendorong kegunaan fiat untuk urusan perpajakan.

    Warga negara percaya kepada uang fiat, sebab dapat dipakai untuk membeli barang dan jasa. Tetapi hal ini belum tentu di masa depan, sebab tanpa didukung komoditas seperti emas, uang fiat dapat kehilangan nilainya seiring waktu seperti yang sudah terjadi di masa lalu.

    Bitcoin juga tidak didukung oleh komoditas apa-apa, tetapi Bitcoin bernilai melalui cara lain. BTC saat ini diperdagangkan di harga US$10 ribu dengan total kapitalisasi pasar senilai US$190 miliar. Hal ini menunjukkan Bitcoin bernilai bagi sekelompok besar orang.

    Basis nilai Bitcoin adalah karena ia didukung oleh algoritma matematika yang menjadi landasan teknologi blockchain dan mengendalikan suplainya.

    Algoritma ini menjamin suplai Bitcoin terbatas dan juga tidak bisa disensor.

    Anthony Pompliano berkata, “Bila Anda tidak percaya Bitcoin, berarti Anda tidak percaya kriptografi.” Pompliano berpendapat teknologi kriptografi blockchain itulah yang memberi nilai intrinsik terhadap Bitcoin.

    Bitcoin juga bernilai, sebab merupakan sistem moneter pertama yang berhasil berjalan tanpa badan pusat yang mengendalikan operasinya dan berada di luar struktur pemerintahan negara manapun, seperti emas.

    Suplainya juga tidak bisa dimanipulasi semena-mena, tidak bisa disita seperti halnya emas pada tahun 1930 di Amerika Serikat, dan menawarkan kebebasan finansial yang tidak bisa dilakukan menggunakan uang fiat manapun.

    Bitcoin juga berguna sebagai alat tukar, di mana ribuan pedagang saat ini menerima BTC sebagai alat pembayaran bagi barang dan jasa mereka.

    Bitcoin dipandang tidak selalu terkorelasi dengan pasar saham, sehingga dapat menjadi aset pelindung nilai di saat tren pasar menurun.

    Keyakinan terhadap mata uang terindikasi dari kegunaannya di dunia. Dolar AS merupakan uang fiat yang dapat dibelanjakan hampir di mana saja, sehingga konsumen cukup yakin terhadap dolar.

    Di sisi lain, Bitcoin masih jauh dari mainstream. Sudah lama sejak transaksi Bitcoin pertama untuk membeli pizza, tetapi adopsi massal belum terjadi.

    Keyakinan terhadap Bitcoin tidak akan tinggi sebelum adopsi massal terjadi dan Bitcoin digunakan sebagai alat bayar seperti uang fiat.

    Kendati berbeda, baik uang fiat maupun Bitcoin sama-sama didukung oleh keyakinan konsumen. Seiring bertumbuhnya sektor kripto, bertumbuh pula keyakinan akan Bitcoin.

    Karena nilai pasar Bitcoin merupakan fluktuasi suplai dan permintaan, maka harganya bisa meningkat pesat saat masa-masa sejahtera dan juga menurun tajam saat masa-masa sulit.



    Sumber : news.tokocrypto.com