Author: 38

  • Senat Australia: Blockchain Akan Bernilai US$3 Triliun Tahun 2030

    Penerapan teknologi blockchain semakin nyata. Buktinya, senat Australia memprediksi teknologi itu akan bernilai US$3 triliun pada tahun 2030.

    Negeri Kangguru itu memang terkenal ambisius bergerak memanfaatkan blockchain untuk pertumbuhan ekonominya.

    Sebelum pengumuman oleh senat itu, Australia sudah menerbitkan roadmap khusus blockchain yang fokus pada perubahan infrastruktur perbankan, ekspor dan pendidikan.

    Selain itu, Bursa Efek Australia sedang membangun sistem penyelesaian (settlement) dan kliring berbasis blockchain. Mereka bermitra dengan iSignthis.

    Dua perkembangan itulah yang mendorong Fraksi Teknologi Keuangan di Senat Australia membuat kajian soal potensi penerapan blockchain di masa depan

    Menurut senat blockchain bisa mendukung kemajuan dalam teknologi keuangan dan teknologi peraturan. Hal itu menyoroti apa yang bisa menjadi peluang yang terlewatkan sejauh ini, yakni akses terhadap modal, yang sangat efektif dikumpulkan melalui penawaran koin awal (ICO).

    Senat juga mencatat angka yang sama yang dinyatakan dalam pengumuman roadmap Blockchain Nasional pada Februari 2020 lalu. bahwa teknologi blockchain akan menghasilkan US$175 miliar dalam nilai bisnis global pada tahun 2025 dan total lebih dari US$3 triliun pada tahun 2030.

    Michael Bacina dari Piper Alderman di hadapan senat mengatakan sebagian besar proyek teknologi keuangan dan teknologi peraturan akan dibangun terutama pada teknologi blockchain atau banyak digunakan dalam 10 tahun ke depan.

    Senat juga mencatat bahwa teknologi blockchain bisa menguntungkan banyak industri Australia. Sementara industri keuangan dan asuransi menduduki puncak daftar, yang lain termasuk “layanan profesional, ilmiah dan teknis dan perdagangan eceran, tetapi bidang lain termasuk perawatan kesehatan dan bantuan sosial, pertanian, serta layanan real estat.

    Memperbaiki kondisi ICO
    Di bagian lain laporan tersebut, senat berfokus pada peningkatan ICO dan modal yang mereka kumpulkan dan mengapa Australia tidak menuai lebih banyak keuntungan darinya.

    Dr Jemma Green, Pendiri dan CEO Power Ledger Australia menyarankan kepada senat bahwa kondisi peraturan saat ini di negara tersebut tidak kondusif untuk menarik para perusahaan yang menggelar ICO.

    “Banyak negara, misalnya Swiss, konsep ICO diadopsi untuk untuk mendapatkan pajak atas modal, termasuk pemasukan pajak. Sedangkan di Australia, ICO malah dikenakan pajak atas pendapatan,” kata Green.

    Baca Juga: Indonesia Disarankan Terapkan Rupiah Digital Berteknologi Blockchain



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bursa Efek Bertenaga Blockchain Diujicoba di Beijing

    Bursa efek bertenaga blockchain diujicoba di Beijing baru-baru ini. Ujicoba itu adalah langkah lanjutan setelah di Shenzhen pada Juli 2020 lalu.

    Dilansir dari media lokal Tiongkok, China Daily, ujicoba itu yang pertama digelar secara regional.

    “Kedua pihak [bursa efek Shenzhen dan Beijing] telah mengembangkan kembali dan membangun sistem pendaftaran dan perdagangan ekuitas (efek) di Pusat Bursa Efek Beijing menggunakan blockchain sebagai basisnya. Pihak bursa mengatakan penerapan teknologi blockchain di bidang perdagangan efek mengurangi biaya asimetri informasi, menstandarkan manajemen saham perusahaan dan memainkan peran yang lebih baik dalam pembiayaan pasar modal,” tulis China Daily mengutip komentar sejumlah narasumber.

    Pada Juli 2020, Komisi Sekuritas China mengeluarkan izin ujicoba bursa efek bertenaga blockchain di 5 bursa, yakni Beijing, Shanghai, Jiangsu, Zhejiang, Shenzhen. Ini adalah program percontohan perdana di Negeri Panda itu.

    Dalam ujicoba di Beijing itu, Ge Yimiao, Kepala Pusat Informasi Komisi Sekuritas Tiongkok, mengatakan, bahwa Bursa Efek Beijing dan Shenzhen akan terus memantapkan penerapan teknologi blockchain di sektor pasar modal ini.

    Mitra dagang Tiongkok, Venezuela, juga melakukan hal serupa pada beberapa hari lalu. Venezuela mulai mengujicoba platform perdagangan efek (saham dan obligasi/sekuritas) bertenaga blockchain. Setiap unit saham ditokenisasi selayaknya aset kripto agar lebih mudah ditransaksikan dan berdayajangkau global.

    “Kami memberikan wewenang kepada platform Bursa Efek Desentralistik Venezuela (BDVE) untuk mengujicoba selama 90 hari. Jikalau berhasil, maka izin penuh akan diberikan,” sebut Pengawas Sekuritas Nasional Venezuela beberapa hari lalu.

    Bagi Venezuela, cara ini memungkinkan negara itu mengakses modal masuk ke pasar sahamnya dari luar negeri tanpa menggunakan dolar AS dari sejumlah negara.

    Baca Juga: Ehud Barak: Blockchain Penting, Bitcoin Skema Ponzi

    Penerapan
    Penerapan blockchain di bursa efek memang bukanlah isapan jempol. Sejumlah studi serius telah mengemuka sejak beberapa tahun terakhir.

    Sejumlah negara yang mengujicoba bursa efek berbasis blockchain, Sumber: OECD (20218).

    Pada tahun 2018, misalnya, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (EOCD) menyebutkan bahwa blockchain sangat unggul dan tepat guna dimanfaatkan untuk platform perdagangan efek (pasar modal).

    “Bursa saham secara global termasuk di Asia mulai bereksperimen dengan teknologi blockchain untuk kliring dan penyelesaian, pasca perdagangan, serta dalam penerbitan sekuritas (sebagian besar adalah surat utang perusahaan),” sebut EOCD.

    Ketika laporan itu diterbitkan sejumlah negara telah mengujicoba pasar efek bertenaga blockchain, di antaranya Hong Kong, India, Jepang, Myanmar dan Korea Selatan.

    Baca Juga: Indonesia Disarankan Terapkan Rupiah Digital Berteknologi Blockchain



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pertama di Dunia, Stablecoin Bank Digunakan Sebagai Alat Pembayaran Transaksi Online

    Lembaga keuangan yang berfokus pada aset digital telah berhasil menyelesaikan transaksi E-Commerce pertama di dunia dengan menggunakan Stablecoin yang diterbitkan oleh Bank.

    Baca Juga: Adopsi Stablecoin: DAI dalam Kartu Visa, Tether Melihat Penggunaan dalam E-Commerce

    Sygnum Digital Swiss Franc (DCHF), yang dipatok dengan harga 1:1 mata uang fiat, digunakan sebagai alat pembayaran Apple iPad di Digitec Galaxus, E-Commerce terbesar di Swiss. Transaksi ini dapat berlangsung dengan menggunakan platform mata uang digital, Coinify yang terhubung ke Galaxus.

    Menurut Sygnum, mata uang digital dengan lisensi perbankan Swiss ini, sistem DCHF memungkinkan penggunanya tidak lagi menggunakan sistem kartu kredit dan debit. Hal ini dapat mengurangi biaya dan juga potensi penipuan yang akan merugikan profitabilitas penjual, serta memungkinkan transaksi dapat diproses secara real time.

    Bank yakin aset digital baru ini dapat membuat gebrakan baru dalam industri E-Commerce saat ini dengan nilai hingga $3,5 triliun. Terlebih dengan adanya sistem baru ini, dapat membangun dan mengembangkan hubungan langsung antara konsumen dan penjual online.

    Dilansir dari Modern Consensus, saat ini opsi pembayaran dengan sistem DCHF ini hanya tersedia untuk “klien Sygnum tertentu”.

    Kembali ke Masa Lalu

    Mark Højgaard, CEO Coinify, mengatakan dalam sebuah postingan blog pada 27 Agustus lalu,

    “Dengan DCHF dan mata uang digital lainnya masa depan uang akan kembali ke akarnya; dipertukarkan antara dua pihak, secara instan dan sederhana. Ini menunjukkan banyak hal terkait dengan potensi mata uang digital terpercaya dan dengan harga stabil di dalam industri E-Commerce.”

    Sygnum terlihat lebih menonjol dibandingkan penerbit stablecoin lainnya seperti Tether, alasannya karena DCHF ini diatur oleh Bank. Ini juga berarti satu franc Swiss dijadikan jaminan yang telah terverifikasi untuk setiap DCHF yang beredar.

    Bank Sentral Swiss mengungkapkan,

    “Kami yakin stablecoin yang diterbitkan dari bank yang teregulasi dan diaudit dengan memiliki jumlah fiat yang setara di Bank Sentral memberikan tingkat transparansi dan kepercayaan tertinggi. Ini merupakan salah satu faktor penting untuk adopsi yang lebih luas lagi.”

    Masalah transparansi ini memang menjadi hambatan besar untuk adopsi stablecoin secara luas dibandingkan dengan permasalahan teknis lainnya.

    Cara pendekatan seperti ini juga akan memungkinkan pengembangan terhadap versi digital dari perdagangan aset seperti saham perusahaan dan real estate dengan aman dan dibayar serta dikirim secara instan.

    Melakukan Pendalaman Terhadap Mata Uang Crypto

    Ini bukan kali pertama, Digitec Galaxus melakukan transaksi dengan crypto. Perusahaan ini telah lama menguji coba aset digital sebagai alat transaksi di platformnya. Perusahaan ini mulai menerima mata uang crypto sebagai metode pembayarannya sejak Maret 2019 silam. Platform ini mendukung Bitcoin , Ether, XRP, Litecoin, dan sejumlah altcoin lainnya sebagai alat pembayaran. Pada awalnya, crypto hanya dapat digunakan untuk transaksi dengan pembelian lebih dari 200 CHF atau setara Rp2,9 juta, tetapi batas minimum ini kemudian dihapus 4 bulan kemudian.

    Alex Hämmerli, juru bicara dari Galaxus, mengatakan penambahan DCHF ke dalam platform ini akan memungkinkan konsumen dapat meningkatkan pilihan (transaksi pembayaran) dan kenyamanan mereka.

    Meskipun eksperimen ini berjalan sesuai yang diharapkan, perlu beberapa waktu sebelum aset ini tersedia untuk publik.

    Platform ini telah berhasil melakukan transaksi sebesar 1 juta CHFT atau Rp1,6 miliar dalam aset digital sejak tahun lalu, dengan Bitcoin dan Ether sebagai pilihan paling populer.

    Terlepas dari itu semua, pilihan ini juga memiliki efek lain. Menurut Hämmerli, mata uang crypto masih termasuk ke dalam opsi pembayaran yang mahal. Hal ini mengingat nilai tukar hanya berlaku selama 15 menit, yang berarti pembeli harus membayar biaya transaksi setinggi mungkin sehingga transaksi yang dilakukan dapat dikonfirmasi dengan cepat. Coinify sebagai platform yang memfasilitasi pembayaran ini juga mengenakan tarif konversi sebesar 1,5%.

    Pilihan Lain yang Tersedia di Pasar

    Mata uang crypto akan memainkan peran yang jauh lebih besar lagi dalam industri E-Commerce di masa mendatang. Hal ini mengingat ada banyak platform E-Commerce lainnya yang mulai menjadikan mata uang crypto sebagai opsi pembayaran yang ada.

    Baca juga: PayPal Konfirmasi Pengembangan Layanan Crypto

    Terlebih ada rumor bahwa PayPal akan mulai menjual Bitcoin pada platformnya. Belum lagi, jika stablecoin Libra diluncurkan, ini akan memperluas pengadopsian mata uang digital, crypto, dan stablecoin sebagai alat pembayaran.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penulis Rich Dad Poor Dad: Bitcoin Bisa Membuatmu Kaya dan Pintar

    Penulis buku terkenal Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki kembali memberikan pandangannya soal Bitcoin. Menurut Kiyosaki, Bitcoin bisa membuat investor lebih pintar dan lebih kaya.

    ” BITCOIN mendidik anak muda. Bitcoin memberi tahu generasi baru tentang mengapa orang tua menyukai emas. Orang tua tidak suka FED yang Korup. Kemudian Investor muda anti-Fed. Dengan emas, perak & Bitcoin membuat orang lebih kaya, lebih kuat melawan Fed,“ cuitnya.

    Minat Terhadap Bitcoin

    Minat Kiyosaki pada Bitcoin semakin meningkat awal tahun ini ketika bitcoin mengalami tekanan pasokan, yang dikenal sebagai halving. Sama seperti Federal Reserve AS dan bank sentral lainnya di seluruh dunia meningkatkan pencetakan uang untuk menopang perekonomian yang yang labil karena Covid-19. Ia justru melihat kalau Bitcoin dan cryptocurrency lainnya sekarang sedang menantang dominasi dolar AS dan fiat lainnya.

    “ Bank-bank sentral, mereka menciptakan ‘uang palsu’ dan meminjamkannya kepada pemerintah. Bitcoin dii sisi lain, sepenuhnya terdesentralisasi yang berarti bahwa tidak ada yang dapat memanipulasi pasar, “  ungkap pria berusia 63 tahun ini.

    Baca Juga: Laporan Terbaru Tunjukkan Investor Mulai Berburu Bitcoin

    Popularitas Bitcoin Meningkat

    Popularitas Bitcoin terus meningkat, dilansir dari survey yang dilakukan oleh Adamant Capital pada 2019 lalu. Responden yang memiliki pandangan positif tentang Bitcoin sebagai inovasi baru dal am teknologi keuangan naik dari 34% menjadi 43%. Persentase orang yang mengindikasikan bahwa mereka kemungkinan akan membeli Bitcoin dalam 5 tahun ke depan naik dari 19% menjadi 27%.

    Bukan hanya namanya yang makin beken, Bitcoin pun berhasil membuktikan kalau dia bukan investasi abal-abal. Soalnya harga aset ini sudah mulai mengalami perbaikan meski harus hancur saat Maret lalu. Tapi di bulan Juli harga Bitcoin cukup baik dan stabil, bahkan diakhir bulan harganya berhasil tembus ke angka $11.000-an atau jika di rupiahkan setara Rp160 juta.

    Baca juga: Harga Bitcoin Rally 13% Menembus $11.000

    Perbaikan harga BTC yang sangat cepat dibandingkan aset lain ini pun membangkitkan minat investor untuk mulai membeli Bitcoin. Ketenaran dan ketahanan Bitcoin ini pun turut dirasakan oleh investor tradisional yang dulu mengalokasikan dananya ke saham, emas atau properti.

    Hal ini makin dirasakan di tengah kondisi global yang masih tidak stabil. Apalagi mulai banyak negara yang masuk jurang resesi dan bank sentral mengambil langkah sangat drastis untuk meminimalisir kerusakan ekonomi karena pandemi.

    Penulis buku terkenal Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki  pun telah memperingatkan investasi yang dulunya populer yakni “real estate dan emas sedang dihapuskan dan akan digantikan oleh Bitcoin yang akan timbul ke permukaan.

    “Saya pikir ini penting, terutama bagi orang-orang tua seperti saya, untuk memahami dunia crypto. Karena dunia itulah yang mulai terlihat saat ini dan real estat serta emas sedang dihapuskan dan Bitcoin yang akan terlihat oleh dunia,” ujar Kiyosaki mengatakan kepada pendengar acara radionya, dilansir dari Forbes.

    Prediksi Bitcoin $75.000

    Kiyosaki pun juga sempat memprediksi jika lewat tweet16 Mei lalu jika harga BTC bisa menyentuh $75.000 dalam tiga tahun, atau setara dengan 1 Milyar Rupiah.

    Ia juga berbagi ketakutannya terhadap ekonomi yang sekarat telah membuatnya membeli lebih dari tiga aset yang ia anggap berharga di luar sistem keuangan tradisional: Emas, Perak, dan Bitcoin (BTC).

    Secara angka, prediksi ini mencerminkan peningkatan tahunan yang diperkirakan masing-masing sekitar 76%, 19%, dan 97% untuk emas, perak, dan Bitcoin. Ini menunjukkan bahwa, setidaknya berdasarkan perhitungan Kiyosaki, Bitcoin memiliki potensi keuntungan paling besar dari tiga aset itu.

    Baca juga: Seberapa Profit Bitcoin Dibandingkan Emas Dalam 10 Tahun?

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hester Peirce: SEC Uji Coba Regulasi DeFi

    Dalam sebuah wawancara, Hester Peirce, regulator yang dikenal sebagai “Crypto Mom” yang bulan lalu dilantik sebagai komisaris di Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menyatakan rencananya untuk lima tahun ke depan dan mengungkapkan beberapa hal terkait dengan regulasi DeFi.

    Keuangan terdesentralisasi atau DeFi memang menjadi topik hangat di kalangan pemangku kepentingan dan juga industri mata uang kripto. Ini mengingat proyek-proyek DeFi menjadi proyek berharga miliaran dolar bahkan lebih dan masih terbilang sangat baru.

    SEC sendiri merasa topik ini akan sulit untuk ditangani terkait dengan sistem protokol pinjaman non-kustodian, aset dan bursa sintetis, dan belum lagi referensi-referensi lainnya. Beberapa pengacara mengajukan kajian terkait dengan distribusi aset dalam DeFi. Namun, jelas DeFi mengusung protokol desentralisasi, yang kontrol dan kendali dalam jaringan bukan dibebankan kepada hanya satu entitas.

    Baca Juga: Perbedaan Decentralized Finance (DeFi) dan Keuangan Tradisional

    Prioritas Utama Hester Peirce

    “Tujuan DeFi, dari perspektif yang saya pahami, adalah untuk menghilangkan perantara dan memungkinkan orang untuk terlibat satu sama lain secara langsung,” ujar Hester Peirce. “Dan biasanya, cara regulator mengatur sistem keuangan adalah dengan mengatur perantara (yang terlibat) tersebut.”

    Dikenal sebagai salah satu pendukung mata uang kripto, Pierce ingin mengubah peraturan yang ada, untuk lebih memudahkan masyarakat Amerika dalam mengakses pasar mata uang kripto yang telah diregulasi. Nantinya, regulasi ini akan membuat lebih banyak perusahaan kripto untuk mengatur dan menggalang dana dalam kerangka kerja yang wajar.

    “Prioritas utama saya, terkait banyak hal, dan bukan hanya mencakup lingkup kripto, adalah membuat cara untuk memungkinkan banyak orang di pasar untuk terlibat dalam transaksi yang saling menguntungkan.” ujarnya.

    Salah satu rencata utama Peirce untuk lingkup kripto adalah melakukan revisi draf kebijakan “safe harbor” yang akan memberikan perusahaan mata uang kripto waktu selama tiga tahun untuk mengalihkan kekuasaannya kepada komunitas yang mereka miliki.

    Di luar semua hal tersebut, banyak orang di dunia kripto berharap Peirce akan menjadi penyelamat industri ini. Namun, Peirce sendiri hanya bisa mengikuti kebijakan yang ada. Terlebih masih banyak rekan komisaris lain yang sikapnya kurang mendukung industri ini.

    Baca Juga: Rusia Bangun Sistem Pemantauan Transaksi Kripto Gunakan AI

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Paus Ethereum Bertambah Saat Penurunan Harga Terjadi

    Selama penurunan harga beberapa hari ini, setidaknya ada 68 “paus” Ethereum baru yang masuk ke dalam jaringan.

    Menurut pengguna Twitter Crypto Ali Martinez, data dari situs analitik Santiment menunjukan jumlah investor yang memegang Ether (ETH) dengan jumlah antara 1.000-10.000 Ether bertambah sebanyak 68 investor sejak 31 Agustus 2020 lalu. Hal ini terjadi bertepatan dengan penurunan harga ETH lebih dari 30% ke level terendah di $316,77, menurut data dari Coinmarketcap.

    Pasar DeFi yang saat ini sedang berkembang pesat mendorong peningkatan permintaan untuk ETH semenjak bulan Juni lalu. Di sisi lain, hal ini juga membuat kenaikan biaya gas hingga mencapai ke tertingginya di 485 Gwei pada 1 September lalu.

    Baca Juga: Laporan: Pengguna Aktif Ethereum Berlipat Ganda di Kuartal Dua 2020

    Saat ini, harga tersebut kembali menurun dan berada di kisaran 98 Gwei per transaksi menyusul penurunan harga mata uang crypto saat ini. Ditambah, proyek SUSHI yang anjol hingga 88% dalam 5 hari terakhir.

    Selain itu, ETH tetap menjadi aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar dengan nilai hingga mencapai $39,7 miliar, disusul dengan Tether (USDT) yang menempati posisi ketiga dengan kapitalisasi pasar sebesar $14,17 miliar.

    Baca Juga: Apa sih Yield Farming Itu? Panduan Untuk Pemula!

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Walaupun Terdampak Covid-19, Industri Penerbangan Tetap Gandeng Blockchain

    Perusahaan terbesar di industri penerbangan Rusia, S7 Airlines akan mulai menjual tiket pesawat miliknya lewat blockchain yang dikembangkan oleh Sberbank, bagian dari bank raksasa milik Rusia. Proyek bersama ini memungkinkan agen penjualan tiket pesawat dengan akun di Sberbank melakukan penyelesaian pemesanan atau pembelian tiket melalui smart contract dengan menggunakan token.

    Bila menggunakan sistem yang lama, agen penjual tiket harus menggunakan jaminan bank dan uang muka untuk mendaftarkan tiket pesawat, dan proses penyelesaian sendiri masih menggunakan surat, rekonsiliasi dan transfer uang yang bisa memakan waktu 10 hari.

    Baca Juga: Cara Blockchain Menumpas Korupsi Agar Menciptakan Pemerintah yang Bersih

    Namun, dengan blockchain yang dikembangkan oleh Sberbank. Proses rumit tersebut akan disederhanakan dan memberikan kecepatan transaksi hingga 20 detik.

    Uang yang berasal dari akun perantara yang diberikan token dan ditransfer ke S7 sesuai dengan perintah yang ditentukan dalam smart contract. Token tersebut akan ditautkan kepada akun pelanggan sebenarnya, dan Sberbank bertugas sebagai penjamin kesepakatan.

    Pembelian tiket pesawat S7 baru ini akan terapkan pada September 2020 dan menargetkan klien dari korporat karena masih dalam tahap pengembangan. Pengembangan blockchain antara S7 dan Sberbank sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

    Selain itu, sebagai perusahaan maskapai terbesar di Rusia, S7 melakukan pembelian platform pertama di dunia untuk penjualan tiket pesawat lewat platform blockchain, saat itu bekerja sama dengan Alfa Bank pada 2017. Pada Juli 2019, total transaksi yang telah dilakukan lewat platform blockchain tersebut sudah memproses lebih dari $1 juta pembayaran.

    Kemungkinan besar token nanti yang akan digunakan bisa berasal dari stablecoin yang sedang dipertimbangkan untuk diluncurkan oleh Sberbank dipatok 1:1 dengan mata uang Rusia. Jenis token ini layaknya seperti USDT dan IDRT. Sebab, hingga saat ini Sberbank masih belum mengutarakan jenis token seperti apa yang nantinya akan digunakan.

    Di mana, sistem baru pembelian tiket blockchain ini akan menjadi token virtual pertama yang digunakan untuk pembayaran dan settlement di Rusia, dan menghilangkan proses transaksi yang cukup lama hingga 10 hari dalam pembelian tiket di industri penerbangan dengan melibatkan para agen penjualan tiket.

    Baca Juga: MIT Bantu Fed Rancang CBDC untuk Penggunaan Massal

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Takut Ketinggalan, Trader Cina Pindahkan BTC dan ETH ke DEX untuk Yield Farming

    Traders di Cina dilaporkan menarik kepemilikan ETH, USDT, dan crypto mereka serta berbondong-bondong beralih dari Centralized Exchange (CEX) menuju Decentralized Exchange (DEX) untuk melakukan yield farming.

    Menyusul masalah sulitnya penarikan koin pada 6 September lalu di Cina, sebuah sumber mengungkapkan terdapat beberapa kampanye terkait dengan gerakan memindahkan akun dari CEX ke DEX di Cina.

    Berita Terkait: Apa Sih Yield Farming Itu? Panduan Untuk Pemula!

    Breaking: pada 6 September lalu, banyak bursa di Cina mengalami kesulitan terkait dengan withdrawal koin ataupun tutup (operasionalnya). Komunitas di Cina meluncurkan ‘kampanye penarikan koin’. Kampanye ini menyerukan untuk menarik semua USDT dan crypto di bursa dan menghapus akun mereka.”

    Ada laporan bahwa DeFi di Cina “baru saja dimulai”. Menurut Kepala Pemasaran Hash Key Hub, beberapa pengguna menggunakan kumpulan dana untuk membuat dana “farming pool”.

    Dovey Wan, penasihat CoinDesk, menimpali hal ini dengan mengatakan, “Bitcoiners pragmatis menggunakan Bitcoin alpha untuk menghasilkan lebih banyak BTC.”

    Yield Farming, Sesuatu yang Tidak Dapat Ditolak

    DEX, atau sederhananya DeFi adalah topik yang saat ini sedang hangat diperbincangkan di industri crypto. Pasalnya, aktivitas ini mendorong peningkatan di jaringan Ethereum dan menjanjikan return yang sangat tinggi bagi para penggunanya.

    Tidak seperti CEX yang kendalinya masih dipegang oleh entitas pusat, Yield farmingatau yang disebut juga liquidity farming dalam DEX ini hanya melibatkan para traderyang memiliki kuasa penuh atas aset yang mereka miliki. Contoh DEX yang saat ini banyak diperbincangkan adalah Uniswap, Compound, dan masih banyak lagi.

    Terlebih, DEX ini biasanya menjanjikan return dan hasil yang lebih baik dari CEX, bahkan ada yang mencapai hingga 600 persen hanya dengan berkontribusi memasukan ETH yang dimiliki pengguna tersebut ke dalam jaringan.

    Baca Juga: Trading di Uniswap Lewat Twitter? Sekarang Bisa!

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Presiden Bank Sentral Eropa: Pandemi Percepat Adopsi Mata Uang Digital

    Pandemi membuat tren dan pengadopsian pembayaran digital semakin meningkat, jelas Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde.

    Lebih dari itu, Lagarde juga mengindikasikan jajaran petinggi bank sentral akan segera mengumumkan putusan terkait dengan mata uang digital bank sentral Eropa dalam waktu dekat.

    Melalui konferensi online yang diselenggarakan Deutsche Bundesbank pada 10 September 2020 lalu, ia menyatakan bahwa penduduk Uni Eropa menerima digitalisasi dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan penjualan melalui e-commerce yang meningkat hingga 20% selama bulan Februari hingga Juni, dengan total penjualan ritel yang menurun sebesar 1,2%.

    “Pandemi hadir sebagai katalis, mempercepat transisi menuju kenormalan baru di industri digital,” ujar Lagarde. “Sebagian besar konsumen berharap untuk terus menggunakan layanan digital lebih sering dari yang mereka lakukan sekarang ini.”

    Sebuah laporan pada bulan Agustus lalu dari Bank DBS Singapura juga menyatakan bahwa “Pandemi mempercepat langkah menuju masyarakat tanpa ketergantungan dengan uang (kertas).”

    Baca Juga: Bank Sentral Thailand Luncurkan Proyek Percontohan Mata Uang Digital

    Tidak sampai di situ, Lagarde juga menyatakan bahwa ECB mendukung perngembangan CBDC lebih lanjut untuk melangkah lebih maju menuju digitalisasi, selain juga mempercepat pengembangan pembayaran lintas batas yang lebih cepat dan lebih murah.

    Beberapa waktu lalu juga, Presiden ECB ini menyatakan dirinya akan fokus memastikan lembaga Uni Eropa beradaptasi dengan lingkungan keuangan yang baru dan terbuka terhadap mata uang crypto lainnya.

    “Eurosystem sejauh ini belum membuat keputusan apakah akan memperkenalkan Euro Digital. Namun, seperti banyak bank sentral lainnya di seluruh dunia, kami sedang melakukan penelitian terkait dengan manfaat, risiko, dan tantangan operasional dari pengimplementasian mata uang digital ini.”

    Ia juga menambahkan hasil ini akan diumumkan dalam “beberapa minggu ke depan”.

    Baca Juga: Bank Sentral Belanda Mulai Kembangkan Mata Uang Digital

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin yang Dikunci dalam Protokol DeFi Terus Bertambah

    Jumlah BTC yang dikunci dalam protokol DeFi meningkat lebih dari 30% dalam seminggu terakhir meski harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) sedang dalam penurunan.

    Dalam sepekan terakhir, Total Value Locked turun dari nilai all-time-high-nya di $9,6 miliar pada 2 September lalu menjadi $6,11 miliar pada 10 September 2020 sebelum naik kembali ke $7,28 miliar.

    Baca Juga: Cara dan Saat yang Pas untuk Jual Bitcoin

    Menurut data dari DefiPulse, jumlah BTC yang dikunci meningkat dari 67.038 BTC pada 2 September lalu ke level all-time-high-nya saat ini di 87.752 BTC. Ini meningkat sebesar 30,9% dan mungkin akan terus bertambah. Lebih dari itu, jumlah ini setara dengan 20 kali lipat jumlah BTC yang dikunci di Lightning Network.

    Lebih dari 50% BTC atau 51,295 BTC yang terkunci di jaringan Ethereum DeFi tersebut berbentuk WBTC. Ini menyumbang 63% peningkatan sejak 2 September lalu dan setara dengan 13.000 WBTC baru masuk ke dalam jaringan.

    Tidak hanya itu, RenVM yang memungkinkan penggunanya untuk memasukan koin BTC mereka di Ethereum telah mengunci sekitar 17.630 BTC, bertumbuh lebih dari 2.500 BTC sejak awal bulan ini.

    Sebaliknya, Lightning Network menyumbang hanya 1,2% atau 1.061 BTC dari total BTC yang terkunci di protokol DeFi. Pertumbuhan dalam Lightning Network hanya sebesar 0,02% atau 4 BTC sejauh bulan September ini.

    Berbeda dari BTC, koin ETH berada di urutan pertama dengan 5,6 juta koin terkunci di dalam protokol DeFi. Nilai ini setara dengan lebih 2 miliar USD.

    Baca Juga: Momentum untuk Bitcoin Jika Tembus Level Ini

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com