Author: 38

  • Rusia Bangun Sistem Pemantauan Transaksi Kripto Gunakan AI

    Rusia baru-baru ini dilaporkan sedang mengembangkan sistem menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam melacak dan menganalisis transaksi yang melibatkan mata uang kripto, seperti Bitcoin, Dash, dan Monero.

    Protipe sistem tersebut telah dibuat dan saat ini sedang dalam tahap pengujian. Berita ini menyusul penandatangan terkait dengan regulasi kripto yang disahkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin menjadi UU yang sah.

    Baca Juga: Cara Menukarkan Bitcoin ke Rupiah di Tokocrypto

    Sistem Pemantauan Kripto di Rusia

    Pemerintah Rusia sedang merencanakan sistem baru dalam melacak transaksi mata uang kripto. Hal ini dilansir dari media lokal RBC yang mengutip surat kepada Parshin Maxim Viktorovich, Wakil Menteri Pengembangan Digital, Komunikasi dan Media Massa Rusia. Surat itu menjelaskan rencana Layanan Pemantauan Keuangan Federal Federasi Rusia (Rosfinmonitoring) dalam memantau transaksi mata uang kripto.

    Rosfinmonitoring bertugas mengumpulkan dan menganalisis transaksi keuangan untuk memerangi pencucian uang domestik dan internasional, pendanaan teroris, dan kejahatan keuangan lainnya. Menurut surat tersebut,

    Rosfinmonitoring berencana mengembangkan sistem dalam menganalisis transaksi mata uang kripto menggunakan kecerdasan buatan (AI).

    Blockchain Transparan

    Proyek, yang disebut “Transparent Blockchain” atau Blockchain Transparan akan “menghapus sebagian anonimitas pengguna transaksi mata uang kripto dalam sistem Bitcoin, Ethereum, Omni, Dash, dan Monero,” penjelasan dalam surat itu.

    Pihak berwenang, Bank Rusia, dan organisasi keuangan akan dapat menggunakan sistem tersebut dalam memantau dan menganalisis pergerakan mata uang kripto, mengindentifikasi penyedia layanan, dan melakukan penyelidikan terkait peredaran ilegal.

    Surat itu juga merinci jika “kebutuhan mendesak” dibutuhkan oleh Rosfinmonitoring dalam memantau transaksi kripto. Hal ini memberikan kendali pemerintah atas peredaran mata uang kripto dan dapat mencegah penggunaan aset kripto pada “skema ilegal” seperti perdagangan narkoba, penggelapan pajak, kejahatan dunia maya, penyalahgunaan kontrak, penjualan informasi dari basis data tertutup, (dan) pembiayaan terkait aktivitas ekstremis.

    Lebih lanjut, Nikita Kulikov, anggota dewan ahli State Duma dan pendiri Organisasi Nirlaba Otonomi Pravorobotov, mencatat bahwa Rosfinmonitoring berencana membuat sistem AI untuk “memantau seluruh jaringan internet dalam mencari tindakan ilegal dengan aset kripto” seperti tanda-tanda pencucian uang dan pendanaan teroris.

    Baca Juga: Regulasi Crypto Pertama di Rusia Mulai Berlaku pada Awal 2021

    Uji Coba Sistem Pemantauan

    Lebih dari itu, surat tersebut juga menjelaskan bahwa prototipe sistem ini sudah dalam tahap pembuatan dan pengujian di bidang pengendalian peredaran narkoba. Sistem ini dikembangkan oleh Lebedev Physical Institute of the Russian Academy of Sciences, salah satu institut penelitian terkemuka Rusia dengan spesialisasi fisika.

    Sejauh ini, sistem tersebut dikembangkan tanpa pendanaan federal. Namun, jika proyek ini diambil alih, diperkirakan proyek tersebut akan memakan dana sebesar 760 juta rubel atau setara Rp154 miliar dari anggaran federal.

    Regulasi mengenai mata uang kripto telah ditandatangani oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun, hanya sebatas sebagai mata uang legal dan tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Paling Tidak Ada 3 Negara Mulai Bangun Mata Uang Digital Sendiri

    Menurut sebuah laporan, ada tiga hingga lima negara di seluruh dunia yang sedang membangun sistem dasar dari mata uang digital bank sentral (CBDC) mengganti mata uang fiat kertas. Laporan ini memprediksi CBDC tersebut akan rilis paling tidak pada tahun 2030 nanti.

    Lembaga yang berfokus pada FinTek di Belanda, dGen merilis laporan tersebut berdasarkan tren geopolitik CBDC pada 9 September 2020 lalu. Berjudul “CBDC: Geopolitical Ramifications of a Major Digital Currency”, laporan tersebut membahas lebih dalam terkait status mata uang fiat global utama seperti Dolar US, Euro, dan Yuan China.

    Dihimpun dengan sumber referensi dari lembaga-lembaga seperti Bank Sentral Eropa (ECB), Standard Chartered Bank, dan Frankfurt School, lapora ini membuat beberapa prediksi ke depan terkait dampak CBDC pada sistem keuangan global.

    Berdasarkan hal tersebut dGen memperkirakan setidaknya ada tiga hingga lima negara di seluruh dunia yang akan sepenuhnya mengganti mata uang nasional mereka ke dalam CBDC dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

    Meski demikian, laporan tersebut tidak memberikan gambaran pasti terkait negara mana yang akan mengalihkan mata uang fianya ke dalam uang digital. Laporan tersebut juga menguraikan kemajuan signifikan dalam CBDC dari segi hukum dan regulasi di beberapa negara. Setidaknya China telah berhasil membangun mata uang Yuan digitalnya, dan Swedia dengan pembangunan E-Krona serta rencana negara tersebut untuk bebas tunai pada tahun 2025.

    Kemajuan yang sangat pesat dari Yuan digital juga membuat dGen memperkirakan bahwa kekuatan Euro akan digantikan dengan Yuan jikan Eropa tidak segera mengembangkan CBDC-nya sendiri.

    Baca juga: 4 Jenis Investasi yang Harus Dicoba Sebelum Memasuki Usia 30 Tahun

    Philipp Sandner, ketua Frankfurt School Blockchain Center, mengkritik ECB karena dirasa terlalu lambat menanggapi perkembangan pesat CBDC ini dengan mengatakan,

    “Reaksi ECB terlalu lambat. Terutama, melihat manfaat dari CBDC untuk industri, misalnya saja, uang yang dapat diprogram, hal ini seperti diabaikan begitu saja. Terlebih ada Libra dan DC/EP (Yuan Digital), ECB seharusnya bereaksi cepat untuk mempertahankan posisi geopolitiknya.”

    Dalam laporan tersebut, dGen juga menyampaikan pendapatnya terkait perkembangan Yuan Digital. Menurutnya, Yuan Digital cepat atau lambat akan menggeser popularitas dolar US saat ini.

    CBDC sendiri merupakan representasi digital dari mata uang fiat suatu negara. Tujuannya untuk menyediakan transaksi tanpa uang tunai, mempercepat pembayaran, dan mengurangi biaya terkait pencetakan mata uang kertas.

    Baca Juga: Perusahaan Publik AS Ini Tempatkan Asetnya $425 Juta ke dalam Bitcoin

    artikel ini dapat anda baca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Baru Rilis, UNI Sudah Jadi 20 Token DeFi Teratas!

    Token UNI dari Uniswap yang dibagikan kepada para pengguna lama Uniswap, membuat nilai token tersebut terus meningkat. Terdapat beberapa prediksi yang mengatakan nilai token tersebut akan turun, mengingat 75.235 pengguna sejauh ini berlomba-lomba untuk mencaikan token UNI atau menukarkannya dengan koin lain. Namun, nilai UNI masih tetap berada di kisaran $3,80 hingga $5,40 dalam 12 jam terakhir.

    Berita Terkait: Efek UNISWAP, Return Token Dalam Protokol Melambung Tinggi

    Nilai Token UNI Terus Melonjak

    Token UNI yang baru beberapa hari rilis ini langsung masuk ke 3 besar token DeFI berdasarkan kapitalisasi pasar DeFi. Menurut DeFi Pulse, peringkat Uniswap sebagai protokol DeFi menjadi yang pertama dengan total value locked sebesar 1,40 miliar USD meningkat 81.10% dalam sehari.

    Terlebih, dengan kinerja yang sangat baik dari Uniswap selama ini, tidak mengherankan jika harga UNI terus melonjak.

    Dalam satu hari, UNI telah terdaftar di lebih dari 12 bursa pertukaran, dan memiliki hampir lebih dari 40 pairing, dan telah berhasil mendapatkan lebih dari $1,8 miliar volume perdagangan. Kondisi ini membuat UNI menjadi aset crypto yang masuk tujuh besar aset crypto yang paling banyak diperdagangkan dalam 24 jam terakhir menurut CoinGecko.

    CoinGecko juga memberi peringkat Uniswap sebagai token DeFi terbesar ke-16 berdasarkan kapitalisasi, berada di bawah Kyber Network (KNC) dan di atas Balancer (BAL).

    Baca Juga: Perbedaan Forex Dan Cryptocurrency Yang Wajib Anda Ketahui

    artikel ini dapat anda baca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kapitalisasi Pasar Tether Meningkat 4X Lipat Selama 2020

    Dengan melonjaknya aktivitas di sektor DeFi, membuat Tether sebagai basis token pertukaran dengan token-token tersebut mengalami lonjakan. Bulan lalu saja $3 miliar Tether dirilis ke dalam jaringan yang mendorong kapitalisasi pasarnya menjadi lebih dari $15 miliar.

    Pada awal tahun ini saja, ada lebih dari $4 miliar USDT beredar di dalam jaringan, dan terus meningkat hingga $15 miliar. DeFi telah menjadi pendorong kuat dibalik penggunaan Tether besar-besaran karena semakin banyak kolam likuiditas yang menerima stablecoin tersebut sebagai dasar operasinya.

    Baca Juga: Ketahui Cara Trading yang Simple Tapi Untung

    Menurut beberapa laporan, nilai transfer harian rata-rata Tether telah melampaui PayPal dengan permintaan yang terus melonjak.

    Tether juga membagikan cuitan tersebut di Twitter resmi mereka

    Infografis dari Flipsidecrypto.com menggambarkan pergerakan Tether antara pengguna dan pertukaran pada bulan ini. Pertukaran terpusat besar seperti Binance dan Bitfinex masih menjadi jalan bagi pengguna untuk mendapatkan Tether dengan nilai lebih dari $2 miliar.

    Menurut Laporan Tether Transparancey, jumlah USDT di Ethereum meningkat melebih $10 miliar, disusul $4,2 miliar di jaringan Tron, dan $1,3 miliar di jaringan Omni.Tether juga terus melakukan pemindahan dirinya pada protokol lain mengingat biaya gas dan kepadatan lalu lintas beberapa protokol. USDT sendiri saat ini sudah tersedia di Layer 2 OMG Network dan diluncurkan pada blockchain Solana berkeceptan tinggi.

    Baca Juga: Pria Ini Sukses Menghasilkan Profit $10 Miliar dari Bitcoin, Apa Rahasianya?

    artikel ini dapat anda baca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aplikasi Chat LINE, Luncurkan Program Hadiah Token!

    LINE, aplikasi chat asal Jepang dengan lebih 90 Juta pengguna di Indonesia, memulai program rewards berupa token LINK (token asli dari blockchain LINE) kepada para pengguna layanan digital tersebut. Kabar ini diumumkan pada hari Jumat lalu, dengan juga meluncurkan halaman peluncuran terkait LINK Rewards Program tersebut.

    Baca Juga: Uniswap Rilis Token UNI dan Bagikan Cuma-cuma Kepada Pengguna

    Untuk saat ini, program rewards ini hanya tersedia untuk pengguna LINE di Jepang. Nantinya, pengguna akan diberikan semacam penghargaan/rewards berupa LINK dengan syarat telah menghubungkan akun LINE ke dalam tiga aplikasi seluler lainnya. Terdiri dari LINE Pay berupa produk pengiriman uang, Line Securities berupa produk investasi, dan Line Score berupa produk evaluasi kredit.  LINE Securities sendiri saat ini mulai bekerja sama dengan Nomura Holdings, salah satu pialang saham terbesar di Jepang.

    Program rewards ini merupakan bentuk dari promosi terkait dengan pembangunan jaringan blockchain LINE sendiri. Pada 2018 lalu, perusahaan tersebut membuat laboratorium internal yang berfokus pada pengembangan aplikasi terdesentralisasi (dApps) dengan dasar LINE Blockchain yang telah dipatenkan.

    Program ini sudah dijalankan tertanggal 18 September 2020 lalu. Berdasarkan laporan dari LINE, 10.000 pengguna yang memiliki kartu kredit keluarga LINE yang diterbitkan oleh LINE Pay akan menerima token LINK senilai 2.000 YEN atau setara dengan Rp283.000. Sementara pengguna LINE Securities akan mendapatkan hingga 500 YEN atau setara Rp70.500 dalam token LINK.

    Nantinya, Pengguna akan dapat mengubah token tersebut menjadi mata uang fiat melalui layanan perdagangan aset kripto LINE, Bitmax, dan lainnya dengan mendaftarkan diri pada platform-platform tersebut.

    Dengan adanya program ini, perusahaan ini bertujuan untuk mendorong penggunanya untuk ikut berpartisipasi dalam token economy dari LINK. Hal ini akan membuat banyak orang untuk menggunakan LINK sebagai alat pembayaran dan meningkatkan kegunaannya.

    Baca Juga: DeFi Semakin Tokcer, Koin Digital Ini Diprediksi Subur

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Efek UNISWAP, Return Token Dalam Protokol Melambung Tinggi

    Sebuah laporan dari penyedia data crypto, Cross Angle, mengklaim token-token yang berada dalam protokol Uniswap saat ini secara konsisten memberikan return rata-rata 208% setelah terdaftar oleh platform exchange mata uang crypto terpusat / Centralized Exchange (CEX).

    Baca Juga: Uniswap Rilis Token UNI dan Bagikan Cuma-cuma Kepada Pengguna

    Hal ini mengingatkan slogan yang sering terdengar seperti “efek Coinbase” dan “efek Binance”, ketika harga token mengalami lonjakan drastis setelah masuk ke dalam daftar mata uang crypto platform tersebut. Namun kali ini efeknya sedikit berbeda.

    Laporan tersebut menyebutkan sejumlah token mengalami lonjakan harga setelah terdaftar dalam token di bursa terdesentralisasi Uniswap.

    “Return rata-rata proyek teratas yang terdaftar di Uniswap yang juga masuk ke dalam daftar CEX sangat mengejutkan + 208% (YFI, YFII, REN, RSR, ZAP, AMPL, OM, BAL, SNX, UMA). Harga token, volume, jumlah wallet, dan jumlah wallet yang aktif, semuanya mengalami peningkatan secara signifikan.”

    Menurut Cross Angle, pemenang terdepan adalah stablecoin terdesentralisasi dengan sebutan “Reserved Rights / Hak Cadangan”, yang memperoleh return lebih dari 700%. Namun, belum diketahui metedologi lebih lanjut terkait perhitungan di dalam laporan tersebut.

    Pada 16 September 2020 lalu, Uniswap secara resmi mengeluarkan token UNI sebagai token tata kelola protokolnya dan membagikan secara cuma-cuma kepada para penggunanya yang telah ikut berpartisipasi secara aktif di dalam protokol sebelum tanggal 1 September.

    Baca Juga: Cara dan Saat yang Pas untuk Jual Bitcoin

    artikel ini dapat anda baca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Visa Gunakan Blockchain, Bantu Integrasi Mata Uang Digital Bank Sentral

    Dilansir dalam wawancara bersama Forbes, dua eksekutif Visa, Cuy Sheffield, yang menjabat sebagai Direktur dan Kepala bagian cryptocurrency, dan Terry Angelos, Kepala FinTek Global SVP di Visa, sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya dari perusahaan dalam meningkatkan adopsi pembayaran berbasis blockchain pada klien visa.

    Rencananya perusahaan ini juga akan membantu bank-bank sentral dunia dalam memanfaatkan peluang dari pengintegrasian sistem Mata Uang Digital Bank Sentral ini.

    Terry mengakui perusahaan nantinya akan terlibat langsung dengan perkembangan pembangunan produk berbasis blockchain dan memberikan peluang untuk para kliennya sebagai aktor yang berperan secara tidak langsung dalam pembangunan mata uang digital ini.

    Baca Juga: Whales Pindahkan Aset Setara $300 Juta Saat Pasar Rebound

    Tidak hanya itu, nantinya perusahaan juga akan berfokus pada jaringan yang akan terus bekerja dalam membantu peningkatan dalam layanan Visa. Cuy Sheffield juga menambahkan Visa nantinya akan terus mengembangkan teknologi berbasis blockchain di dalam sistem operasinya, seiring juga dengan meningkatkan opsi pembayaran dengan mata uang crypto.

    Meningkatnya Adopsi Mata Uang Crypto

    Dengan Visa yang terus meningkatkan teknologinya berbasis blockchain dan layanan mata uang crypto. Ini menunjukan bahwa ada peningkatan minat yang signifikan terhadap mata uang crypto. Visa sendiri merupakan perusahaan layanan keuangan terbesar di dunia dengan 60 juta transaksi perdagangan setiap harinya di dalam jaringan. Saat ini, setidaknya Visa telah mendukung sekitar 25 perusahaan blockchain termasuk wallet dan exchange crypto di seluruh dunia.

    Keterlibatan Visa dengan Mata Uang Digital Bank Sentral

    Cuy Sheffield selanjutnya mengatakan keterlibatan Visa dengan bank sentral di seluruh dunia terbilang sangat erat, ditambah mata uang digital bank sentral yang kian diminati. Terlebih, informasi terkait dengan aksesibilitas, penerimaan oleh para pedagang, dan kegunaan mata uang tersebut akan memberikan peluang besar bagi perusahaan untuk masuk dan mengambil andil dalam pembangunan sistem operasi ini.

    Perusahaan tersebut juga berencana akan mengajukan hak paten terkait dengan mata uang digital berbasis blockchain dengan sistem komputer terpusat.

    Baca Juga: Perbedaan Bitcoin dan Altcoin, Mana yang Lebih Aman?

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu Yearn Finance? Panduan untuk Pemula!

    Yearn Finance merupakan sebuah platform aggregator yield yang berbasis jaringan blockchain Ethereum. Protokol ini dibuat oleh Andre Cronje sebagai solusi dalam mengoptimalkan return atau interest dari mata uang crypto yang dimiliki oleh penggunanya.

    Yearn Finance sendiri masuk ke dalam protokol Decentralized Finance (DeFi) yang menawarkan kegiatan yield farming. Sebagai aggregator, Yearn Finance ini juga menggunakan protokol DeFi lain seperti Curve, Compound, Aave, dan dYDX untuk mengoptimalkan peminjaman token.

    Sebelum Yearn Finance diciptakan, seorang pengguna harus secara manual memeriksa, melihat hasil, dan memasukan mata uang crypto mereka ke dalam protokol-protokol tersebut. Namun, hal itu dibuat mudah dengan Yearn Finance ini.

    Sederhananya, protokol ini merupakan jembatan canggih yang mengalihkan likuiditas ke berbagai sektor protokol DeFi untuk pada akhirnya mendapatkan keuntungan terbaik yang dapat dihasilkan.

    Baca Juga: Whales Pindahkan Aset Setara $300 Juta Saat Pasar Rebound

    Lantas, apa yang membuatnya bisa terhubung ke berbagai protokol? Andre Cronje membuat semacam token yang dapat menjembatani token dari protokol ke protokol disebut yToken.

    Bagaimana yToken Bekerja?

    Ketika seorang pengguna menyimpan token melalui Yearn Finance, token tersebut akan dikonversikan menjadi yToken, seperti yUSDC, yUSDT, dan yDAI. Dari yToken ini penggunanya akan mendapatkan hasil dari biaya pinjaman dan juga biaya tradingpada protokol yang ia pilih. Proses ini membuat Yearn Finance dapat menghasilkan return tahunan dengan interest yang besar kepada penggunanya.

    Selain dari yToken, Yearn Finance juga menghasilkan uang untuk penggunanya dari beberapa hal lainnya, seperti COMP dari Compound, CRV dari Curve.finance, yCRV trading fee, likuiditas, biaya ySwap, bonus likuiditas yLiquidate, dan biaya lainnya.

    Banyak dari para analis yang memuji, Yearn Finance ini, mengingat platform ini dapat memberikan suku bunga pinjaman terbaik.

    Tidak sampai situ, Yearn Finance sendiri mendukung stablecoin seperti DAI, USDC, USDT, TUSD, sUSD, dan banyak token/koin lainnya untuk dipindah alihkan ke dalam platform seperti Compound, Aave, dYdX, dan Curve. Ini tergantung kepada pengguna platform tersebut memilih pools yang menawarkan hasil lebih tinggi.

    Di luar itu, Yearn Finance sendiri memiliki token tata kelola protokolnya yang berbeda dari yTokens tersebut.

    Apa itu Token YFI?

    Token YFI merupakan token ERC-20 yang mengatur ekosistem yearn.finance ini. Token ini didistribusikan kepada penyedia likuiditas (LP) yang memasok yToken tertentu. Tujuan token ini bukan digunakan sebagai alat tukar di dalam protokol, tetapi sebagai hak suara ketika protokol melakukan konsensus.

    Token YFI ini bisa didapatkan dari menggunakan protokol Yearn Finance ataupun membelinya dari bursa pertukaran mata uang crypto global maupun lokal. Lantaran supply token yang hanya berjumlah 30.000 token dengan satu tokennya berfungsi sebagai satu suara di dalam protokol, harga token YFI ini berhasil melampaui nilai Bitcoin sebagai mata uang crypto yang memiliki harga tertinggi saat ini.

    Total Value Locked di dalam Yearn Finance juga terus meningkat. Pasalnya, Yearn Finance terus berinovasi dan membuat banyak layanan pada protokolnya.

    Layanan Protokol Yearn Finance

    1. Earn

    Earn ini merupakan salah satu layanan di dalam protokol Yearn Finance. Penggunanya hanya perlu mendepositkan mata uang crypto yang mereka miliki untuk nantinya secara otomatis mendapatkan return berupa bunga.

    2. Zap

    Zap ini merupakan layanan untuk membantu penggunanya menghemat biaya gas yang diperlukan agar lebih leluasa memindahkan mata uang crypto-nya ke berbagai protokol.

    3. Vaults

    Vaults ini salah satu layanan yang memudahkan penggunanya untuk mencari strategi terbaik dalam memaksimalkan keuntungan yang dari deposito yang dilakukan penggunanya sekaligus mengurangi risiko yang ada.

    4. Yinsure.Finance

    Layanan ini merupakan layanan asuransi dari Yearn Finance dengan dasar Nexus Mutual. Seperti namanya, sistem ini jika dianalogikan secara sederhana bisa diartikan sebagai sistem asuransi dalam protokol Yearn Finance. Sistem ini akan mengurangi risiko jatuhnya nilai dari pools yang “mencurigakan” dan tetap mendapatkan bayaran dari hal tersebut.

    5. StableCredit

    Layanan ini layanan terbaru dari Yearn Finance. StableCredit sendiri nantinya akan menggabungkan stablecoin debt yang sudah ditokenisasi, pinjaman, dan Auto Market Maker Single-Side. Langkah ini dilakukan untuk membuat protokol pinjaman yang sepenuhnya terdesentralisasi.


    Dari awal pembangunan Yearn Finance, Andre Cronje tidak berfokus pada nilai token YFI saja. Justru Andre Cronje memiliki cita-cita agar Yearn Finance ini dapat diadopsi lebih luas lagi dan mempermudah penggunannya dalam mengelola aset crypto mereka.

    Di luar harga token YFI yang terus mengalami kenaikan, pengembang Yearn Finance justru fokus pada inovasi dan pengadopsian terhadap layanan Yearn Finance itu sendiri. Hal ini membuat YFI digadang-gadang sebagai protokol DeFi paling inovatif dari protokol DeFi lainnya.

    Baca Juga: Pelajari Strategi Day Trading Agar Lebih Untung

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Industri Cryptocurrency dan Blockchain di Indonesia Alami Pertumbuhan Besar-besaran

    Beberapa waktu lalu, proyek blockchain Onfo menemukan bahwa cryptocurrency menyebar empat kali lebih cepat di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Salah satu yang penyebarannya paling luas adalah Indonesia. Tim Onfo memulai eksperimen untuk melihat seberapa cepat aset kripto memperoleh popularitas di empat negara berbeda yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Rusia dan Jerman.

    Pendiri Onfo, J.R. Forsyth, mencatat bahwa Indonesia menunjukkan peluang untuk “pertumbuhan besar-besaran”. Data yang dihimpun oleh Coinvestasi dari PPATK dan exchange Indodax menunjukan jumlah trader crypto di Indonesia mengalami kenaikan signifikan hingga 2.263% dari tahun 2015.

    Perkembangan crypto di Indonesia dibandingkan dengan empat negara lain. Sumber: News.Bitcoin.

    Studi yang dilakukan oleh Mckinsey&Company menunjukan jika Indonesia termasuk negara dengan tingkat adopsi digital tertinggi di dunia. Sedangkan riset dari Google dan Temasek mengungkapkan jika Indonesia memimpin pertumbuhan internet ekonomi di Asia Tenggara dengan 40% setahun. Nilai dari ekonomi mencapai Rp596.2 triliun dan diprediksi bisa menyentuh Rp1.937 triliun di 2025.

    Dari data tersebut sangat mungkin jika crypto dan blockchain akan tumbuh subur di Indonesia. Negara ini diprediksi memiliki prospek ekonomi digital yang sangat baik di masa mendatang. Selain itu, regulasi di Tanah Air pun sudah  mengatur perihal Bitcoin dan bursa crypto melalui Bappebti.

    Baca Juga: Daftar Platform Trading Bitcoin Legal di Indonesia

    Adanya aturan dan hukum yang jelas tentu akan sangat membantu perkembangan mata uang digital di dalam negeri. Misalnya, dengan dibukanya berbagai bursa jual beli Bitcoin hingga banyaknya proyek blockchain yang memberikan inovasi.

    Menurut data dari Asosiasi Blockchain Indonesia, tercatat 13 bursa cryptocurrency sudah terdaftar di Bappebti dan 152 proyek terkait crypto dan blockchain yang ada di Indonesia.

    Baca juga:Indonesia Blockchain dan Cryptocurrency Landscape 2020

    Mike Kennedy, CEO dari Interstellar menyampaikan pendapatnya pada Coinvestasi bahwa Indonesia memiliki potensi kuat sebagai pasar utama cryptocurrency dan blockchain di Asia.

    “Saya sangat yakin bahwa Indonesia adalah pasar utama cryptocurrency dan blockchain. Negara ini memiliki potensi kuat di Asia karena ukuran, ekonomi digital, dan dukungan regulasi yang kuat.”

    Mike Kennedy, CEO Interstellar

    Peluang Besar Crypto di Indonesia Menarik Minat Investor

    Sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, dan teknologi yang masih terus berkembang. Indonesia  tentu memilki peluang yang sangat besar untuk menjadi negara yang ramah terhadap dunia crypto dan blockchain. Oleh karena itu, banyak investor crypto yang tertarik untuk mengembangkan bisnisnya dan mendukung adopsi crypto di Indonesia.

    Baca juga: Bank Sentral Lain Pertimbangkan Mata Uang Digital, Bagaimana dengan Indonesia?

    “ Kami sangat akrab dengan pasar crypto di Asia, tapi ini adalah pertama kalinya kami belajar banyak tentang apa yang terjadi di Indonesia dan menurut kami hal itu sangat menarik. Tujuan kami adalah untuk mengetahui kondisi pasar di sini lebih jauh. Kami juga akan melihat kemungkinan yang terjadi di ruang P2P crypto. Kemudian membuat rencana lebih agresif menangani pengguna di pasar Indonesia, “ jelas Paul Murphy, CEO Cedmark.

    Ia mengatakan ingin melihat produk DeFi yang menggunakan informasi kredit sebagai sarana untuk memberikan produk yang lebih fleksibel dan lebih mudah diakses.

    Produk DeFi memang bisa jadi sangat menarik di dalam negeri. Sebab DeFi membuat proses investasi, pinjaman,dan transaksi lebih mudah tanpa perlu menggunakan rekening bank. Hal ini bisa menjadi solusi  karena di Indonesia tercatat 80% masyarakatnya belum memilki rekening bank.

    “ Mungkin saya hanya seorang optimis kripto, tetapi saya pikir tidak dapat dihindari bahwa layanan keuangan termasuk pinjaman yang dibangun di atas kripto akan berdampak besar pada layanan keuangan. Dalam beberapa kasus akan jauh lebih besar daripada yang tersedia secara tradisional, “ jelas Paul Murphy lagi.

    Teknologi Blockchain dan Crypto Bisa Membantu Proses Transaksi

    Hadirnya teknologi blockchain dan crypto di Indonesia juga bisa membantu proses penyelesaian transaksi yang panjang. Menggunakan teknologi blockchain bisa membuat institusi menggunakan proses yang lebih singkat dan aman. Salah satu penyedia layanan infrasturktur blockchain adalah Stacs yang berasal dari Singapura. Perusahaan ini pun tertarik untuk masuk ke dalam negeri.

    Mereka melihat kasus yang ada di Malaysia, di mana Bursa Malaysia menggunakan kontrak pintar untuk mengelola sekuritas seperti dana, obligasi ekuitas. Mereka menggunakan blockchain untuk mengurangi biaya penerbitan serta mengujinya sebagai registri yang efektif untuk melacak transaksi.

    “ Hal ini dapat diterapkan di Indonesia, katakanlah menerbitkan Sukuk pada blockchain dan mengurangi biaya penerbitan lebih efektif dengan penyelesaian instan. Ini meningkatkan aktivitas sukuk di pasar serta melengkapi strategi pemerintah dalam likuiditas, “  ujar Isabelle Sumarli, Business Development Manager Hashstacs.

    Platform  Hashstacs memungkinkan institusi menggunakan teknologi kontrak pintar untuk mengelola obligasi, dana, serta ekuitas dan keamanan.

    “ Di Indonesia, badan pusat yang melakukan pencocokan perdagangan atau kustodian yang melayani masalah ini dapat menggunakan platform kami untuk menyelesaikan masalah ini dan menghemat lebih dari 2000 jam kerja penghematan biaya serta membantu mengurangi jeda perdagangan dan memperbaiki perdagangan, “ ungkap Isabelle Sumarli.


    Indonesia memang masih terbilang cukup baru tentang crypto dan blockchain, di negara ini edukasi, pengembangan soal teknologi masih terus berlangsung. Namun dalam lima tahun terakhir ini Indonesia berhasil mengalami peningkatan pesat dan ini adalah hal yang sangat positif. Didukung oleh regulasi, teknologi, investor dalam atau luar negeri tentu perkembangan crypto dan blockchain Indonesia bisa meningkat lebih tinggi lagi di masa depan.

    Bagaimana peningkatannya lima tahun yang akan datang ? Kita harus menunggu untuk mengetahui jawabannya, yang jelas pertumbuhan cryptocurrency di Indonesia tahun ini cukup positif meski kita dihantam pandemi yang berdampak pada ekonomi.

    Baca Juga: Apa itu Yearn Finance? Panduan untuk Pemula!

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ACI Worldwide Bermitra dengan Mastercard Untuk Mengembangkan Solusi Pembayaran Real-Time untuk Bank Sentral

    ACI Worldwide, salah satu dari mitra Ripple, telah mengumumkan kolaborasi strategis yang luas dengan perusahaan layanan keuangan terkemuka Mastercard pada tanggal 29 September lalu.

    Sebagai bagian dari kemitraan, ACI Worldwide dan Mastercard akan menciptakan solusi pembayaran real-time untuk bank sentral dan peserta pasar lainnya.

    ACI dan Mastercard telah bekerja sama untuk menciptakan berbagai solusi pembayaran real-time secara global. Untuk tahap awal, kedua perusahaan akan memodernisasi pembayaran untuk bank sentral, lembaga keuangan, penyedia pembayaran, dan perusahaan lain yang berfokus pada pembayaran real-time.

    Diharapkan, kerjasama ACI dan Mastercard akan menggabungkan infrastruktur, teknologi, dan pengalaman mereka untuk membangun solusi pembayaran “tak tertandingi” yang ditandai dengan opsi penerapan yang fleksibel, pendekatan ISO20022 yang pertama, layanan digital, dan modifikasi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal.

    Baca Juga: Apakah Kita Siap Untuk Pialang Terdesentralisasi?

    Berbicara tentang tujuan bermitra dengan Mastercard pada penawaran baru, Chief Strategy and Transformation Officer, ACI, Craig Saks mengatakan:

    “Mastercard dan ACI memiliki rekam jejak yang luas dan saling melengkapi tentang keberhasilan pembayaran real-time – mendorong kliring infrastruktur pusat global dan skema penyelesaian, dan kemitraan ini menciptakan rangkaian kemampuan waktu nyata yang paling kuat dan lengkap di pasar saat ini. Perusahaan kami adalah pemimpin dalam pembayaran waktu nyata dan menyelaraskan solusi ujung-ke-ujung akan memberikan manfaat besar tidak hanya bagi bank dan infrastruktur pusat tetapi juga bagi pedagang, penagih, fintech, dan perantara – dan pelanggan mereka – juga.”

    Memberikan pemikirannya tentang bekerja dengan ACI, Paul Stoddart, Presiden Platform Pembayaran Baru di Mastercard mengungkapkan:

    “Dengan lebih banyak negara dan wilayah yang memulai modernisasi sistem pembayaran mereka untuk memanfaatkan teknologi waktu nyata dan permintaan pelanggan, peluang pasar menjadi signifikan. Bekerja sama dengan ACI, kami akan mengeksplorasi berbagai peluang untuk mempercepat pengembangan dan penggunaan platform pembayaran waktu nyata dan multi-saluran, mendorong pilihan dan inovasi bagi peserta pasar dan pelanggan akhir.”

    Jika kerjasama ini berjalan dengan baik, maka harga XRP bisa melejit tinggi. Namun, untuk saat ini, harga XRP masih ranging, di Rp 3.500- Rp 3.600.

    Baca Juga: Wow! Penjelajahan Luar Angkasa Kelak Ditenagai Blockchain

    Support kuat yang telah menjadi resistance masih di Rp 4.000-an untuk sepanjang masa.



    Sumber : news.tokocrypto.com