Category Archives: Domestik

Tugu Juang Siliwangi, Nasibmu Kini….



Bandung

Tugu Juang Siliwangi nasibnya memprihatinkan. Usang dan terlupakan. Padahal, tugu ini adalah saksi bisu perjuangan warga Bandung Selatan. Bagaimana kisahnya?

Tugu Juang kini telantar di tengah hiruk-pikuknya kehidupan masyarakat Bandung Selatan. Monumen ini diresmikan Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi dan Letnan Jenderal TNI Raden Himawan Soetanto pada 20 Mei 1975.

Bangunan yang didirikan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional itu, dibuat untuk mengenang para pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.


Namun saat ini, banyak sampah memenuhi area sekitar tugu. Ada pula coretan-coretan di dinding monumen, tingginya semak belukar yang menutupi monumen, hingga oknum-oknum yang sering menaiki area patung pejuang.

Bangunan setinggi 20 meter ini, mempunyai simbol kujang di atasnya. Menurut budaya Indonesia, kujang merupakan senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis.

Dalam hal ini, Tugu Juang Siliwangi mempunyai nilai sakral akan peristiwa sejarah saat itu. Adanya Tugu Juang Siliwangi berhubungan dengan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api.

Menurut pengamat sejarah, Drs. Andi Suwirta, M.Hum. menuturkan bahwa pada masa revolusi, musuh Indonesia bukan hanya Belanda, tetapi tentara sekutu dari negara Inggris.

Tugu Juang Siliwangi di Baleendah, Kabupaten Bandung.Tugu Juang Siliwangi di Baleendah, Kabupaten Bandung. Foto: Dok. Pribadi

Tentara sekutu menduduki kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Kota Bandung. Pada masa itu, kebijakan politik pemerintah pusat mengharuskan Kota Bandung untuk melakukan diplomasi dengan sekutu, dengan membantu tugas tentara sekutu untuk mengembalikan tentara Jepang yang kalah perang ke negaranya.

“Pada saat itu, tentara sekutu mengatakan bahwa mereka mendapatkan gangguan dari laskar-laskar, dari kekuatan-kekuatan yang nampaknya ingin mengajak perang. Karena itu, Bandung harus dikosongkan dari laskar-laskar atau para pemuda ekstrimis supaya mereka mau menyingkir ke luar Kota Bandung. Supaya Bandung menjadi kota yang aman karena tentara sekutu mau memulangkan tentara Jepang,” kata Andi Suwirta, Kamis (14/12) lalu.

Kondisi Terkini Tugu Juang Siliwangi

Di bawah menjulangnya Tugu Juang, terdapat lima patung tanpa identitas yang mengenakan pakaian pejuang. Kelima patung tersebut menghadap ke Jalan Dipatiukur dan di salah satu patungnya menunjuk ke arah Dayeuhkolot.

Kini kondisi kelima patung tersebut memprihatinkan, terdapat bagian-bagian patung yang hilang, seperti tangan dan kepala patung yang tidak sempurna. Cat yang sudah memudar, serta air kolam pun sudah menguning.

“Tugu ini juga tidak ada yang menjaga, sehingga orang bisa keluar masuk dengan bebas, sampai-sampai banyak dijadikan tempat yang tidak-tidak,” ujar Elsa (21), warga setempat, Jumat (22/12).

Elsa (21), warga yang tinggal di sekitar Tugu Juang Siliwangi juga merasakan keprihatinan akan kondisi monumen perjuangan yang sudah tidak terawat.

“Saya tidak banyak mengetahui mengenai sejarah di balik dibangunnya Tugu Juang Siliwangi, tetapi saya melihat tugu tersebut banyak sampah, ditempati gelandangan, dan sesekali ramai di hari Minggu karena ada Pasar Minggu”, tuturnya.

Hari, saksi sejarah Tugu Juang Siliwangi yang lahir dari keluarga pejuang di zaman dahulu juga menyesalkan Tugu Juang Siliwangi yang kurang terpelihara, terutama oleh masyarakat setempat.

“Apalah daya dibangunnya tugu, jika tidak dipelihara baik. Tidak sampai arti-arti perjuangan di dalamnya,” tutup Hari.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Cuma Galeri Seni, Superlative Gallery Punya Kafe Mungil



Kuta

Traveler yang berkunjung ke Superlative Gallery nggak hanya bisa keliling menikmati karya seni dan berfoto. Di lantai dua traveler bisa menemukan sebuah kafe mungil untuk nongkrong.

Sejak 2021, di daerah Legian, Kuta, Bali memiliki sebuah destinasi wisata baru dengan suguhan seni digital. Superlative Gallery, galeri NFT pertama di Asia Tenggara, menyajikan 11.100 rangkaian NFT.

Superlative Gallery menjadi galeri indoor yang mewadahi seniman Indonesia dalam menggabungkan seni konvensional dan seni digital. Galeri yang satu ini cocok untuk traveler yang kepo dan ingin mempelajari lebih jauh karya-karya NFT.

Pada 5 Januari 2024 hingga 5 Februari 2024 ada suguhan pameran temporer. Yakni, solo exhibition dari salah satu seniman bernama Edi Bonetski dengan tajuk “Mata Garis”.

Galeri ini memiliki dua lantai yang siap traveler jelajahi. Lantai satu traveler bisa menemukan berbagai karya seni digital dan konvensional dari seniman Indonesia. Nggak cuma lukisan, traveler juga akan dibuat terpukau dengan banyak sudut dan spot foto yang instagramable.
Superlative Gallery ini juga menggunakan video mapping untuk menyuguhkan karya para seniman.

Jika traveler sudah lelah menjelajahi setiap sudut galeri, traveler bisa naik ke lantai dua dan ngopi santai di cafe mungil bernama Society Cafe. Tak lepas dari unsur seni, di cafe inipun traveler bisa melihat beberapa karya seni yang dipajang disekitar cafe.

Ikhsan Muttaqin, manager Superlative Gallery, menyebut hingga saat ini Society Cafe hanya menyediakan beverage, baik itu coffe based ataupun noncoffee.

“Untuk Society Coffe kita saat ini hanya menjual beverage, mulai dari coffe based hingga minuman yang manis, seperti coklat dan matcha, jadi belum ada makanan,” kata Ikhsan.

Beberapa menu minuman yang dapat traveler coba di Society Cafe, seperti society coffe, matcha, redvelvet, taro, coklat, caramel latte, vanilla latte, hazelnut latte, mochacino, americano, dan capucino.

Sesuai dengan namanya, menu andalan di cafe mungil ini adalah Society Coffee. Perpaduan kopi espresso dengan gula aren yang siap menemani traveler untuk menikmati keindahan seni di Superlative Gallery.

Ikhsan menyebut lebih dari 50% pengunjung yang datang ke Superlative Gallery pasti bersantai sambil ngopi di Society Cafe. Pengunjung yang membawa kopi masih diizinkan untuk berkeliling galeri, asal selalu menjaga kebersihan ya traveler!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Asyiknya… Nge-Grill di Tepi Sungai Usai Berenang di Nukad Tampaksiring



Gianyar

Nukad Tampaksiring bisa menjadi pilihan traveler untuk berakhir pekan. Di sini, traveler bisa berenang dan makan with a view.

Bagi traveler yang mendengar kata Nukad pasti masih asing dengan makna nama restoran yang satu ini. Wayan Swastika, manager Nukad Tampaksiring, menjelaskan nama Nukad diambil dari bahasa Bali yang berarti pergi ke tukad (sungai).

“Nama Nukad ini berarti segala sesuatu yang dilakukan di Tukad (sungai). Akhirnya mengambil nama Nukad yang berasal dari kata Tukad,” kata dia.

Restoran yang satu ini mulai dibangun ketika pandemi Covid-19 melanda, tepatnya akhir tahun 2019. Pemilik Nukad yang sering bepergian ke sungai akhirnya mencetuskan ide untuk membuat sebuah usaha kecil-kecilan di tepi sungai.

“Nukad awalnya mulai dibangun ketika pandemi karena banyak bisnis yang tutup dan dirumahkan. Akhirnya kita berinisiatif untuk mengecek tanah yang ada di dekat sungai, sekalian mandi di sungai juga dan kita bersihkan. Akhirnya iseng bikin warung kecil-kecilan,” ujar dia.

Letaknya yang tepat berada di tepi sungai membuat Nukad Tampaksiring memiliki pemandangan yang indah dan alami. Ditambah pepohonan yang hijau membuat udara sekitar menjadi semakin segar. Di sini traveler bisa merasakan sensasi kuliner lezat sembari menikmati jernihnya air sungai dan sejuknya udara.

Nukad Tampaksiring di Gianyar, Bali, restoran tepi sungai nan instagramableNukad Tampaksiring di Gianyar, Bali, restoran tepi sungai nan instagramable Foto: Ni Made Nami Krisnayanti

Menurut Wayan Swastika, daybed menjadi spot favorit dari pengunjung. Bahkan banyak pengunjung yang rela menunggu agar bisa bersantap di daybed dengan view langsung ke sungai. Wayan Swastika juga merekomendasikan bagi traveler yang ingin bersantai di daybed bisa melakukan reservasi terlebih dahulu melalui akun @nukad.tampaksiring.

“Kalau pengunjung favoritnya sih di daybed. Kadang banyak juga yang di gazebo, terutama untuk keluarga. Di gazebo itu minimum spendnya Rp 300 ribu per gazebo, untuk daybed tidak ada minimum spend,” ujar dia.


Aktivitas Menarik di Nukad Tampaksiring

Nggak cuma bersantai dan menyantap hidangan di restoran ini, traveler juga bisa memesan paket grill yang menjadi menu favorit dari pengunjung Nukad Tampaksiring. Traveler bisa menghabiskan waktu dengan ngegrill di pinggir sungai.

Jika sudah selesai bersantap, traveler diperbolehkan untuk mandi dan berendam di sungai. Arus sungai yang tidak terlalu deras, sip banget untuk berenang. Ditambah airnya yang jernih dan segar. Tak perlu khawatir, Nukad Tampaksiring sudah menyediakan kamar bilas dan ganti.

“Kalau dari pengunjung selama sudah berbelanja, diperbolehkan berenang sepuasnya. Asal tetap menjaga keselamatan,” katanya.

Menurut Wayan Swastika, banyak pengunjung yang datang lebih dari sekali karena ingin makan sambil berenang di Nukad Tampaksiring.

Varian Menu di Nukad Tampaksiring dan Harganya

Nukad Tampaksiring di Gianyar, Bali, restoran tepi sungai nan instagramableNukad Tampaksiring di Gianyar, Bali, restoran tepi sungai nan instagramable Foto: Ni Made Nami Krisnayanti

Traveler yang ingin bersantap di Nukad Tampaksiring, restoran yang satu ini memiliki menu andalan yang selalu dicoba oleh pengunjung adalah Nukad Grill dan beberapa masakan Bali.

Paket Grill di Nukad Tampaksiring terdiri dari 5 paket, berikut rinciannya.
• Package Small A (1-2 orang) (Ayam fillet) dengan harga Rp 120 ribu.
• Package Small B (1-2 orang) (Beef slice) dengan harga Rp 135 ribu.
• Package Small C (1-2 orang) (Pork slice) dengan harga Rp 135 ribu.
• Package Medium (3-4 orang) dengan harga Rp 215 ribu.
• Package Large (5-7 orang) dengan harga Rp 250 ribu.

Nukad Tampaksiring juga menyediakan menu khas Bali seperti bubur Bali dan nasi sela. Untuk minuman andalan dari Nukad Tampaksiring adalah daluman khas Bali. Harga menu di Nukad Tampaksiring berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 250 ribu.

Lokasi dan Jam Operasional Nukad Tampaksiring

Nukad Tampaksiring di Gianyar, Bali, restoran tepi sungai nan instagramableNukad Tampaksiring di Gianyar, Bali, restoran tepi sungai nan instagramable Foto: Ni Made Nami Krisnayanti

Nukad Tampaksiring berlokasi di Jalan Pertiwi Brata, Tampaksiring, Gianyar. Untuk sampai di lokasi ini traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan menempuh perjalanan sekitar 41 kilometer dari Kota Denpasar atau sekitar satu jam 17 menit.

Nukad Tampaksiring buka setiap hari mulai pukul 10.00 – 18.00 WITA. Setiap harinya Nukad Tampaksiring bisa kedatangan ratusan pengunjung, terutama ketika cuaca mendukung.

Nukad Tampaksiring telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti parkiran luas, kamar ganti dan bilas, hingga toilet. Selain itu, pastinya ada restoran, bean bag, alat dan tempat grill, hingga spot foto estetik yang wajib traveler coba.

Bosan dengan suasana restoran yang monoton, traveler wajib mencoba berkunjung ke Nukad Tampaksiring. Nggak cuma bersantap, traveler bisa langsung mandi dan bermain air sungai yang segar dan jernih. Jangan lupa mengabadikan momen di setiap spot foto yang instagramable.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

4 Spot Wisata Rengasdengklok dan Sekitarnya



Jakarta

Rengasdengklok merupakan salah satu kecamatan di Karawang yang dikenal karena sejarah. Berkunjung ke sini, traveler bisa berwisata di beberapa wisata sekitarnya.

Rengasdengklok menjadi salah satu saksi bisu kemerdekaan Indonesia. Di sanalah tempat Sukarno dan Hatta dibawa oleh kaum muda.

Saat itu, mereka berdua diculik untuk didesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu, diculiknya Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok juga dimaksudkan agar mereka terbebas dari intervensi Jepang.


Hasilnya, kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tak terlepas dari andil kejadian tersebut.

Berkunjung ke Rengasdengklok, traveler bisa berwisata hingga napak tilas ke beberapa spot wisata di sekitarnya.

Berikut 4 spot wisata di sekitar Rengasdengklok.

1. Rumah Djiauw Kie Siong

Rumah Djiaw Kie Siong (Andi Saputra/detikcom)Rumah Djiaw Kie Siong (Andi Saputra/detikcom) Foto: Rumah Djiaw Kie Siong (Andi Saputra/detikcom)

Salah satu yang paling lekat dengan Rengasdengklok adalah keberadaan rumah Djiauw Kie Siong. Rumah inilah yang menjadi tempatnya Sukarno sekeluarga dan Hatta diculik.

Berkunjung ke sini, traveler bisa napak tilas sejarah awal kemerdekaan dengan mendengarkan penuturan sejarah dari keluarga pemilik rumah ini.

Letaknya berada di Dusun Bojong, Rengasdengklok, berdekatan dengan sungai Citarum yang menjadi batas antara Rengasdengklok di Kabupaten Karawang dan Kedungwaringin yang sekarang masuk Kabupaten Bekasi.

Rumah ini dibangun pada 1920, artinya rumah ini telah berusia sekitar 103 tahun. Namun kini, rumah itu telah dipindahkan dari lokasi aslinya pada 1957 karena abrasi.

“Dulu rumah ini ada di dekat sungai. Tapi tahun 1950 itu ada banjir, karena abrasi, rumah dipindah, dicopot satu per satu kayunya dan dibangun ulang di sini,” kata Yanto, selaku cucu Djiauw Kie Siong, mengutip detikJabar, Senin (22/1/2024).

2. Monumen Kebulatan Tekad

Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok.Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok. (Irvan Maulana/detikJabar)

Salah satu wisata yang identik dengan gerakan perjuangan di Rengasdengklok adalah Monumen Kebulatan Tekad. Itu karena monumen ini berada di bekas markas PETA (Pelindung Tanah Air).

Monumen ini berdiri setelah kemerdekaan, tepatnya 1950 dan diresmikan pada 17 Agustus 1950. Monumen ini memiliki beberapa arti yang melambangkan perjuangan kemerdekaan, antara lain:

  • Tundangan tugu: Menggambarkan perjuangan seluruh masyarakat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan
  • Badan tugu: Memiliki bentuk segi empat yang melambangkan kesatuan perjuangan bangsa.
  • Bulatan tugu: Memiliki bentuk bulat, menggambarkan bulatnya tekad dalam merebut kemerdekaan.
  • Kepalan tangan kiri: adalah aksen paling ikonik yang melambangkan perlawanan dan memegang teguh kemerdekaan.
  • Rantai dan tiang: selain sebagai penjaga monumen, melambangkan pula sebagai ikatan kokoh dan kuat dari seluruh rakyat Indonesia.

Berkunjung ke sini traveler dapat melakukan napak tilas era kemerdekaan hingga berburu foto di beberapa spot di sini.

3. Taman Hud-hud

Wisata Taman Hud-hud KarawangWisata Taman Hud-hud Karawang. (Irvan Maulana/detikJabar)

Berkunjung ke Rengasdengklok, traveler juga bisa mampir ke Taman Hud-hud. Tempat wisata ini memiliki beberapa hal menarik seperti kolam renang hingga taman burung dan beberapa wahana lainnya.

“Di sini ada kolam renang anak, outdoor dan semi indoor, ada lukisan 3D, wahana sepeda, ATV, kolam ikan, mini danau, taman burung, rumah pohon, karaoke di kapal, serta gazebo,” kata pemilik Taman Hud-hud, Iqbal Jamalulail, dikutip dari detikJabar, Senin (22/1/2024).

Menariknya, Taman Hud-hud disebut terinspirasi dari kisah Nabi Sulaiman AS.

Gus Iqbal menjelaskan dahulu Nabi Sulaiman dianugrahi mukjizat salah satunya dapat berbicara dengan hewan, “Kala itu ada seekor burung yang mengabarkan adanya seorang ratu cantik bernama Balqis penyembah matahari, pembawa kabar itu ialah burung Hud-hud,” kata dia.

Atas peristiwa itu, ratu Balqis kemudian menjadi istri Nabi Sulaiman berawal dari burung Hud-hud sebagai pembawa kabar. Oleh karenanya burung Hud-hud disebut sebagai burung pembawa kabar bahagia.

“Seperti namanya burung Hud-hud mengisyaratkan sebagai pembawa kabar yang bahagia, kita namai taman ini dengan nama burung itu,” kata Gus Iqbal.

Taman ini merupakan wisata ramah keluarga dengan luas sekitar 1,2 hektare. Lokasinya di Jalan Proklamasi, Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Biaya tiketnya yakni Rp 30 ribu (weekday) dan Rp 50 ribu (weekend).

4. Kompleks Percandian Batujaya

Candi di KarawangCandi Batujaya Karawang. (Luthfiana Awaluddin)

Tak jauh dari Rengasdengklok, terdapat objek wisata yang menarik untuk didatangi, yakni Kompleks Percandian Batujaya.

Kompleks ini ditemukan disebut-sebut sebagai yang tertua di Indonesia dan lebih tua dari Candi Gedong Songo di Semarang. Puluhan candi kuno ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan diduga dibangun pada abad ke-4 Masehi.

Kompleks Percandian Batujaya terletak di hamparan seluas 500 hektar. Saking luasnya, hamparan candi tersebar. di antara tiga desa dan dua kecamatan.

Awalnya, situs ini terkubur di bukit kecil. Bukit tersebut menonjol di antara hamparan tanah dan sawah yang luas. Hingga akhirnya beberapa warga menemukan batu bata berwarna merah dan dilakukan ekskavasi dari tahun 1992 hingga 2000.

Selain melihat candi, berkunjung ke sini traveler juga bisa cuci mata lewat panorama hamparan sawah yang luas. Berkunjung ke sini disarankan naik kendaraan pribadi ataupun kendaraan sewaan.

Namun, jika traveler ingin menggunakan transportasi umum bisa naik dari Terminal Tanjungpura, Karawang dan memilih angkot jurusan Tanjungpura-Rengasdengklok. Dari pasar Rengasdengklok, traveler perlu melanjutkan dengan angkot jurusan Rengasdengklok-Batujaya. Lokasi kompleks candi ini berada sekitar 18 km dari Rengasdengklok.

(wkn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Percaya Tidak, Lapangan Keren di Garut Ini Dulu Kuburan Belanda



Garut

Di Garut, ada sebuah lapangan bola yang keren dan menawan. Tapi percaya tidak, di zaman dulu, lapangan ini adalah sebuah kuburan Belanda.

Lapangan Kerkhof di Kabupaten Garut, jawa Barat lebih menawan usai diberi sentuhan rumput sintetis impor. Sebelum dikenal sebagai tempat untuk warga olahraga, lapangan ini mempunyai sejarah panjang.

Lapangan Kerkhof rupanya kuburan orang-orang Belanda dan Eropa hingga tahun 1981. Di tahun tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut kemudian memindahkan makam-makam tersebut ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Santiong, yang berada di Kecamatan Karangpawitan.


Kemudian, pada masa kepemimpinan Bupati Taufik Hidayat (1983-1988), Pemkab Garut mengubah fungsi Kerkhof dari kuburan Belanda menjadi arena pacuan kuda.

Setelah puluhan tahun berlalu, barulah pada tahun 2003, Bupati Dede Satibi mengubah fungsi lapangan Kerkhof menjadi sarana olahraga, dan mengubah namanya menjadi SOR Merdeka.

Sarana olahraga seluas dua hektar ini berada di Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Lokasinya berada dekat dengan SMAN 1 Garut yang ada di sebelah timur, dan bundaran Leuwidaun yang ada di barat.

Meski sudah berubah fungsi dari kuburan menjadi tempat olahraga, tapi lapangan Kerkhof tak pernah kehilangan nilai sejarahnya. Kerkhof masih menjadi saksi bisu, beragam peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu.

Kisah Heroik Yang Chil Sung

Salah satu momen yang terjadi di Lapangan Kerkhof di masa lalu, adalah eksekusi mati terhadap Yang Chil Sung. Pria asal Korea Selatan, yang saat masa setelah kemerdekaan ikut membela rakyat Garut mengusir penjajah Belanda.

Sejarah ini, bermula ketika Yang Chil Sung, alias Yanagawa Shichisei, alias Komarudin, tertangkap oleh Belanda di Gunung Dora, perbatasan Garut-Tasikmalaya pada 25 Oktober 1948.

Saat itu, selain Yang Chil Sung, ada 4 orang lainnya yang tertangkap. Yakni Masahiro Aoki alias Abubakar, Katsuo Hasegawa alias Usman/Oetman, Guk Jae Man alias Soebardjo, dan seorang pribumi bernama Letnan Djoehana.

Guk Jae Man dieksekusi Belanda lebih dulu, karena konon kabarnya mencoba melarikan diri. Tinggallah 4 orang ini, yang diadili oleh Belanda. Letnan Djoehana yang pandai berbahasa Belanda melakukan pembelaan dan akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan militer.

Sedangkan Yang Chil Sung, Aoki dan Hasegawa dijatuhi vonis mati. Vonis mati itu, kemudian dilaksanakan pada bulan Mei 1949.

Media Belanda, de Vrije Pers dalam sebuah artikel yang terbit di tanggal 25 Mei 1949 mengabarkan Yang Chil Sung dkk, dieksekusi mati pada tanggal 22 Mei 1949.

“Dini hari tanggal 22 Mei, hukuman mati dilaksanakan di Garut terhadap Aoki Jepang alias Abubakar, Hasegawa alias Uetman, dan Yanagawa alias Komaroedin. Yang pada saat itu, telah dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Militer Khusus,” bunyi laporan berbahasa Belanda tersebut.

Perdebatan Soal Waktu Eksekusi

Terkait waktu eksekusi mati ini, masih menjadi perdebatan. Sebab, di batu nisan Yang Chil Sung, Aoki dan Hasegawa sendiri, tertera jika mereka meninggal dunia pada 10 Agustus 1949.

Ada juga beberapa laporan media Belanda jadul, yang menyebutkan jika mereka mati pada tanggal 21 Mei 1949. Salah satunya, seperti laporan yang dirilis Indische Courant voor Nederland yang tayang pada 1 Juni 1949.

“Hukuman mati dilakukan di Garut pada 21 Mei. Warga Jepang, Aoki alias Abubakar, Hasegawa alias Oetman, dan Janagawa alias Komaroedin yang pada saat itu divonis mati oleh pengadilan militer khusus di Garut,” ungkap laporan tersebut.

Terlepas dari misteri tanggal dieksekusi mati ketiga pahlawan tersebut, yang jelas, konon kabarnya, eksekusi mati itu dilakukan di lapangan Kerkhof yang sekarang menjadi SOR Merdeka.

Ada beragam kisah menarik, yang mengiringi gugurnya ketiga pahlawan tersebut. Pertama, mereka diketahui menyampaikan ingin dimakamkan secara Islam, setelah dieksekusi mati. Kemudian, mereka juga konon kabarnya minta agar dipakaikan kemeja putih dan sarung merah, saat ditembak mati.

Lapangan rumput sintetis SOR Merdeka Garut yang punya standar FIFALapangan Kerkhof di Garut Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Kisah mengenai Yang Chil Sung ini, belakangan banyak diperbincangkan di Garut. Setelah pemerintah mengungkap rencana pembuatan film berjudul Tanah Air Kedua yang akan mengisahkan perjuangan Yang Chil Sung dan kawan-kawan.

Kabarnya, film tersebut sekarang sedang berproses, dan akan dibintangi Maudy Ayunda dan aktor kenamaan Korea Selatan, Kim Bum.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Uniknya Candi Songgoriti, Berdiri di Tengah Sumber Mata Air Panas



Kota Batu

Di kota Batu, ada sebuah candi yang unik. Candi Songgoriti namanya. Candi ini berdiri di tengah-tengah sumber mata air panas.

Candi Songgoriti terletak di Desa Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Tepatnya berada di lembah yang memisahkan Gunung Arjuno dengan lereng Gunung Kawi pada ketinggian 1.300 Mdpl.

Candi yang terbuat dari batu andesit itu hanya tersisa bagian batur berbentuk persegi panjang dengan panjang 14,7 meter, lebar 8,25 meter dan tinggi 0,85 meter. Selain batur, kaki dan badan utuh. Sedangkan bagian atapnya telah runtuh.


Menurut sejarawan asal Malang, Suwardono, Candi Songgoriti menyerupai bangunan yang berasal dari abad 9-10 Masehi. Jika melihat dari arca dan arsitekturnya, candi Songgoriti merupakan candi patirthan, dibangun berhubungan dengan sumber air panas yang keluar dari dalam tanah atau artesis.

“Di situ (lokasi Candi Songgoriti) awalnya ada mata air panas yang tersembur keluar dari sungai bawah tanah yang diduga bersumber dari Gunung Welirang. Semburan itu sama seperti yang keluar di Cangar,” ujar Suwardono pekan lalu.

Masyarakat Hindu yang mengetahui adanya sumber air panas tersebut kemudian mendirikan sebuah bangunan pemujaan yang kini dikenal dengan sebutan Candi Songgoriti. Menariknya, bagian bawah ruang induk Candi Songgoriti merupakan sumber air panas.

“Sumber air panas itu secara teknis dialirkan melalui sela-sela kaki candi yang diberi pipa dan keluar menyatu dan tertampung sebagai kolam air yang diberi pagar dinding-dinding batu mengitari kolam, yang nantinya air dari kolam buatan itu dialirkan lagi melalui pancuran yang ada dinding-dinding sisi kolam,” terangnya.

Bangunan Candi Songgoriti juga tidak memiliki pintu masuk. Hal itu menandakan, dalam proses pemujaan masyarakat kala itu tidak perlu naik ke candi, cukup berada di pinggir kolam air.

Sehingga Candi Songgoriti berperan sebagai transformator dari air belerang yang dulu dipercaya masyarakat sebagai air suci yang mujarab.

Suwardono sendiri menyebut, terdapat korelasi antara Candi Songgoriti dengan Prasasti Sangguran yang dibuat tahun 928 Masehi. Prasasti yang saat ini berada di Inggris tersebut diketahui pertama kali ditemukan di wilayah Ngandat atau Desa Mojorejo, Kota Batu.

Ia menjelaskan dalam Prasasti Sangguran bertanggal 14 paro terang (suklapaksa) bulan Srawana 850 saka atau bila dikonversikan ke penanggalan Masehi adalah 2 Agustus 928 M atas perintah Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa mengutus patihnya, Rakryan Mapatih Pu Sindok Sri Isanawikrama dari kerajaan Mataram kuno, Jawa Tengah, bahwa Desa Sangguran masuk ke dalam wilayah Waharu.

Desa itu akan dijadikan sima atau desa perdikan yang penghasilannya diperuntukkan bagi kelangsungan bangunan suci para pandai besi (sima kajurugusalyan) di Mananjung.

“Di dalam prasasti itu membicarakan bahwa sima di Ngandat itu ditanami tanaman yang menghasilkan dan hasilnya diperuntukkan bagi kelangsungan bangunan suci para pandai besi bernama sima kajurugusalyan di Mananjung. Saya menganggap bangunan suci para pandai besi itu mengarah pada Candi Songgoriti,” ungkapnya.

Sedangkan untuk lokasi para pandai besi yang disebut mananjung tersebut, dari hasil penelusuran berada di kawasan Belik Tanjung, Kecamatan Batu, Kota Batu. Hal itu, berdasarkan laporan zaman Belanda yang menyebut banyak ditemukan benda-benda bersejarah di Belik Tanjung.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kulineran Malam di Pasar Lama Tangerang, Ada Apa Saja?


Jakarta

Pasar Lama Tangerang merupakan salah satu destinasi wisata kuliner yang selalu ramai dikunjungi. Tak hanya warga Tangerang, banyak juga masyarakat Jakarta yang datang ke sini karena penasaran ingin mencicipi berbagai makanan.

Di sini, terdapat berbagai kuliner mulai dari camilan, makanan berat, hingga minuman manis yang viral. Sekilas, kawasan Pasar Lama Tangerang mirip seperti street food Bangkok di Thailand.

Memangnya, ada jajanan apa saja sih di sana sampai bisa viral dan ramai dikunjungi? Biar nggak penasaran, simak ulasannya dalam artikel ini.


Aneka Jajanan di Pasar Lama Tangerang

Kalau detikers ingin ke Pasar Lama Tangerang, sebaiknya datang sejak sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Sebab, makin malam kawasan kuliner tersebut lebih-lebih dipadati pengunjung.

Apalagi jika detikers memang berniat untuk mencicipi banyak kuliner lezat di Pasar Lama Tangerang, kalau datang sudah terlalu malam bisa jadi kehabisan. Rugi dong sudah datang jauh-jauh?

Kuliner Pasar Lama TangerangKuliner Pasar Lama Tangerang. Foto: Weka Kanaka/detikcom

Adapun sejumlah jajanan yang viral di Pasar Lama Tangerang, mulai dari japanese fluffy pancake, korean fish cake, takoyaki jumbo, leker raksasa, telur gulung, potato twist, hingga cake slice.

Kalau masih lapar, ada sejumlah pedagang yang menjual berbagai makanan berat, seperti sate ayam jepang (dakkochi), toge goreng, bubur ayam, hingga steak ayam. Kalau haus, ada juga penjual minuman seperti es jeruk, es teh manis, dan thai tea yang menyegarkan.

Untuk harga jajanan di Pasar Lama Tangerang cukup terjangkau, mulai dari Rp 5.000 saja. Sedangkan harga makanan beratnya mulai dari Rp 15.000, lalu untuk minuman segar mulai dari Rp 10.000.

Disarankan menyiapkan uang tunai (cash) minimal Rp 100.000 jika detikers ingin mencoba banyak jajanan. Namun, ada sejumlah tenant yang juga menyediakan metode pembayaran QRIS. Kalau kehabisan uang tunai, jangan khawatir karena di sekitar Pasar Lama Tangerang terdapat ATM.

Tips Jalan-jalan ke Pasar Lama Tangerang

Sebelum berangkat ke Pasar Lama Tangerang, ada sejumlah tips yang perlu detikers ketahui nih.

Berikut tips jalan-jalan ke Pasar Lama Tangerang dari detikTravel:

  1. Siapkan uang tunai minimal Rp 100.000 untuk membeli berbagai jajanan.
  2. Datang sejak sore hari sekitar pukul 17.00 WIB agar bisa mencoba berbagai kuliner tanpa antre panjang.
  3. Apabila datang saat akhir pekan atau libur panjang, siap-siap pengunjung yang datang membludak. Jadi, usahakan datang lebih awal lagi.
  4. Gunakan pakaian yang nyaman agar tidak merasa gerah dan panas.
  5. Hati-hati dengan barang bawaan berharga mulai dari HP, dompet, hingga kunci kendaraan.
  6. Disarankan untuk datang ke Pasar Lama Tangerang dengan KRL, karena jaraknya sangat dekat dari Stasiun Tangerang.
  7. Biar nggak cepat kenyang, kamu bisa mengajak teman atau pasangan ke Pasar Lama Tangerang, agar masing-masing bisa membeli makanannya sendiri lalu dibagi (sharing) dengan yang lain.

Akses menuju ke Pasar Lama Tangerang sangat mudah kok. Apabila kamu berangkat menggunakan KRL Commuter Line, turun di Stasiun Tangerang dan lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 650 meter (5-10 menit).

Selain itu, kamu juga bisa datang dengan mengendarai mobil ataupun sepeda motor. Tapi, ketika sudah lewat pukul 19.00 WIB biasanya tempat parkir sudah penuh. Alhasil, kamu harus mencari tempat parkir yang agak jauh.

Itu dia ulasan mengenai kawasan Pasar Lama Tangerang yang sekarang menjadi surga kuliner. Apakah travelers sudah pernah berkunjung ke sana?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Mengenal Museum Diponegoro Yogyakarta, Batal Jadi Lokasi Desak Anies



Yogyakarta

Museum Diponegoro Yogyakarta adalah salah satu museum yang bersejarah. Tak hanya karena koleksi, melainkan menjadi saksi bisu kaburnya Pangeran Diponegoro dari kejaran Belanda.

Museum ini awalnya direncanakan menjadi tempat acara Desak Anies di Yogyakarta. Namun, hal itu diurungkan setelah izin acara tersebut dicabut. Adapun kini, Museum Diponegoro dikelola Korem 072/Pamungkas, Yayasan Wiratama dan bekerja sama dengan pihak swasta.

Museum Diponegoro Sasana Wiratama adalah rumah masa kecil Pangeran Diponegoro. Mengutip laman jogjaprov.go.id, Rabu (24/1/2024), menurut sejarah, kompleks ini adalah tempat tinggal nenek buyut Pangeran Diponegoro, yakni Ratu Ageng (Permaisuri Sultan Hamengku Buwana I).


Kemudian, rumah ini menjadi kediaman Pangeran Diponegoro sejak kecil sampai meletusnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (Java Oorlog) pada tahun 1825.

Museum ini punya 413 koleksi yang terdiri dari berbagai jenis benda yang digunakan Pangeran Diponegoro pada masa lampau. Mengutip kebudayaan.jogjakota.go.id, koleksinya berupa senjata asli laskar Diponegoro seperti tombak, bandil, martil baja, serta patrem dan candrasa yakni senjata rahasia yang digunakan prajurit wanita.

Ada pula dua senjata yang dikeramatkan, yakni keris dengan lekukan 21 seorang empu pada masa Kerajaan Majapahit, serta sebuah pedang berasal dari Kerajaan Demak. Kedua senjata keramat ini dipercaya dapat menolak sial.

Karena merupakan bekas rumah pribadi, tak ketinggalan pula koleksi dari peralatan rumah tangga. Lalu ada juga seperangkat alat gamelan milik Sri Sultan Hamengku Buwono II, meriam, dan batu Comboran yang biasa digunakan untuk tempat minum kuda.

Ada juga kereta kepangeranan milik Sri Sultan HB ke VIII yang berperan sebagai duplikat kepunyaan Pangeran Diponegoro. Kereta tersebut didapatkan dari Kraton Yogyakarta pada 1971.

Salah satu yang paling ikonik dari museum ini adalah adanya tembok jebol. Yakni tembok yang dipercaya sebagai jalan Pangeran Diponegoro dan pasukannya ketika meloloskan diri dari sergapan tentara Belanda pada serangan 20 Juli 1825. Banyak yang beranggapan juga bahwa tembok ini dijebol dengan tangan kosong.

Bagi traveler yang penasaran, bisa berkunjung ke museum dengan alamat Jalan HOS Cokroaminoto TR III/430, Tegalrejo, Yogyakarta. Jam bukanya pukul 08.30-15.00 WIB (Senin-Kamis) dan 08.30-13.30 WIB (Jumat). Sayangnya, untuk akhir pekan museum ini tutup.

(wkn/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kenapa Prabumulih Dijuluki Sebagai Kota Nanas?



Prabumulih

Selain Subang di Jawa Barat, Prabumulih di Sumatera Selatan juga mendapat julukan sebagai Kota Nanas. Kenapa demikian? Berikut ulasannya:

Kota Prabumulih berjarak 96 kilometer dari Kota Palembang. Jarak tempuhnya sekitar 2 jam perjalanan. Untuk menuju Prabumulih dari Palembang, traveler akan melintasi dua kabupaten, yakni Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Muara Enim.

Kenapa Prabumulih Dijuluki Kota Nanas?

Berdasarkan catatan Hortikultura Pertanian Indonesia, tanaman nanas bisa tumbuh dengan subur di Prabumulih. Ada tiga wilayah di Prabumulih yang menjadi penghasil buah nanas yaitu kecamatan Prabumulih Timur, Cambai dan Rambang Kapak Tengah.


Budidaya nanas pada tiga wilayah tersebut masih menggunakan lahan pekarangan dengan sistem kebun campuran. Jenis yang dikembangkan salah satunya nanas queen. Nanas tersebut memiliki rasa manis yang unik dengan brix 13 sebagai keunggulannya.

Menurut situs resmi Pemkab Prabumulih, tercatat luas lahan panen nanas di kota Prabumulih menyentuh angka 18 hektar. Total produksi buah nanas pernah mencapai 45 ribu ton per tahun.

Fakta itu pun menjadi alasan mendasar, mengapa Prabumulih dijuluki sebagai kota nanas. Setiap tahunnya, Prabumulih bisa menghasilkan nanas puluhan ribu ton.

Sebagai kota Nanas, traveler yang melewati jalan lintas Prabumulih-Palembang, akan melihat buah nanas dijejer dengan rapi di halaman rumah warga. Nanas tersebut sengaja dijejerkan untuk dijual kepada para pendatang.

Bukan hanya itu, buah nanas juga sudah dianggap sebagai simbol Prabumulih, karena pemerintah kota sepakat memasukkan gambar nanas dalam logo daerah mereka. Adanya simbol nanas memiliki makna khusus yang berkaitan dengan terbentuknya Prabumulih.

Pada logo Kota Prabumulih terdapat gambar buah nanas utuh yang terdiri dari 21 lembar daun di bagian atas dan enam lembar daun di bagian bawah. Kedua bagian daun diapit dengan 17 butir padi dan 10 buah kapas serta angka 2001 pada bagian bawah.

Simbol tersebut untuk melambangkan UU Pembentukan Kota Prabumulih Nomor 6 tahun 2001 di bulan Juni. Lalu diresmikan pada tanggal 17 Oktober 2001.

Itulah alasan Prabumulih dikenal sebagai kota nanas dari Sumatera Selatan. Jangan lupa mampir ke Tugu Nanas untuk berswafoto ya!

——

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Staycation Paket Lengkap Bandung, Ada Destinasi Wisata Juga



Bandung

Bandung jadi tempat staycation favorit warga Jakarta. Di sini traveler tak cuma staycation tapi juga dekat dengan destinasi wisata.

Kota Bandung tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang indah tapi juga beragam destinasi wisata menarik. Salah satu rekomendasi terbaik untuk staycation adalah mengunjungi Trans Studio Bandung dan menginap di Ibis Bandung Trans Studio Hotel.

Ada beberapa keunggulan yang bisa dirasakan oleh traveler:


1. Menjelajahi Trans Studio Bandung

Liburan tak lengkap tanpa mengunjungi wahana hiburan terkenal, Trans Studio Bandung. Rasakan sensasi kegembiraan di setiap sudutnya! Dari atraksi penuh adrenalin hingga wahana yang cocok untuk keluarga, Trans Studio memiliki semuanya. Yang tak kalah seru, nikmati Trans Snow World untuk merasakan dinginnya salju di tengah tropis Bandung. Pastikan kamera siap mengabadikan momen seru bersama sahabat!

2. Kenyamanan Menginap di Ibis Bandung Trans Studio Hotel

Setelah sehari penuh petualangan, tempat menginap yang nyaman adalah kunci untuk mendapatkan istirahat yang sempurna. Ibis Bandung Trans Studio Hotel menjadi pilihan ideal dengan desain modern dan fasilitas lengkap. Kamar yang nyaman akan membuatmu merasa seperti di rumah sendiri. Selain itu, lokasinya yang strategis memudahkan akses menuju destinasi wisata populer di Bandung.

Fasilitas Trans Studio Bandung sangat lengkap, ada Wi-Fi kencang, kolam renang, dan layanan kamar 24 jam. Hotel ini juga dilengkapi dengan restoran mewah. Traveler bisa menikmati hidangan lezat di restoran hotel yang menawarkan pemandangan kota Bandung. Kemudahan lainnya adalah akses ke Trans Studio, hanya beberapa langkah dari pintu hotel traveler sudah sampai di Trans Studio Bandung.

3. Kulineran Seru di Sekitar Hotel

Saat lapar melanda, jangan khawatir! Di sekitar Ibis Bandung Trans Studio Hotel, terdapat deretan tempat makan yang menarik untuk dieksplorasi bersama sahabat. Lapar malam-malam dan malas keluar hotel? Trans Studio Mall berada tepat di sebelah gedung hotel! Kamu bisa menemukan berbagai brand makanan favorit, pastinya lebih hemat karena nggak perlu pesan makanan online!

Seluruh kebutuhanmu dapat dengan mudah ditemukan di sekitar area Trans Studio Bandung karena letaknya yang strategis! Dengan mengunjungi Trans Studio Bandung dan menginap di Ibis Bandung Trans Studio Hotel, staycationmu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ayo rencanakan staycation seru dan pesan tiket Trans Studio Bandung di www.transentertainment.com!

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com