Category Archives: Domestik

Ada Wisata Kuliner Seafood Baru di Tangsel, Harganya Kaki Lima



Tangerang Selatan

Di Tangerang Selatan, ada wisata kuliner seafood yang baru dibuka. Harganya diklaim kaki lima, dengan kualitas bintang lima.

Seafood Bakaran itulah nama tempat wisata kuliner yang didirikan duo TikToker, Aidan Mirza dan Ivan Laf. Seafood Bakaran yang resmi dibuka Sabtu (9/3) itu berlokasi di Jalan Ciputat, Jombang Nomor 102, Serua Indah, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan.

Sejumlah content creator TikTok yang tergabung dalam LLTTFOC, mulai dari Benjamin Master Adhisurya (Iben MA) dan Michael Simanjuntak (Mike) pun hadir dalam acara grand opening Seafood Bakaran tersebut.


“Seafood Bakaran dimulai dari pandangan orang yang beranggapan untuk makan di restoran seafood yang higienis dan enak perlu merogoh kocek yang tidak sedikit,” ucap Aidan Mirza pada saat acara grand opening, Sabtu (9/3/2024).

“Berangkat dari masalah tersebut, kami ingin membuktikan makan seafood dengan harga terjangkau, namun tetap higienis dan nyaman. Di Seafood Bakaran terjamin kebersihannya, rasanya, kualitas makanannya, dan tempat makan yang luas untuk konsumen berkumpul bersama keluarga,” lanjutnya.

Seafood BakaranSeafood Bakaran Foto: (dok. Istimewa)

Memiliki tagline, The Real Seafood Bintang Lima Harganya Kaki Lima, Seafood Bakaran menyajikan makanan hidangan laut berkualitas terbaik, tetapi dengan harga yang terjangkau. Resto ini juga memiliki bumbu khas yang tak dimiliki tempat jajanan seafood lainnya, yakni bumbu Khas Bakaran dan Bumbu Jimbaran.

“Seafood Bakaran menawarkan aneka makanan laut seperti udang, kepiting, hingga berbagai jenis kerang. Tidak hanya makanan laut, kami juga memiliki menu lain untuk masyarakat yang tidak dapat menikmati hidangan laut kami karna alasan kesehatan,” imbuh Ivan Laf.

“Di sini kami juga menyediakan hidangan non-seafood seperti ayam, bebek, nasi goreng, dan mie goreng. Harga yang ditawarkan Seafood Bakaran relatif murah dan bervariasi mulai dari Rp 12 ribu,” sambung pria yang memiliki 11,5 juta followers di Tik Tok tersebut.

Beragam penawaran spesial diberikan saat pembukaan Seafood Bakaran, mulai dari makan gratis untuk 100 pengunjung pertama hingga doorprize sepeda motor.

Seafood BakaranAidan Mirza dan Ivan Laf di Seafood Bakaran Foto: (dok. Istimewa)

Setelah membuka outlet pertama di Bintaro, Seafood Bakaran berencana untuk melebarkan sayapnya. Dalam waktu dekat bakal dibuka empat cabang baru Seafood Bakaran, dan ditargetkan mencapai 20 resto pada tahun ini.

“Target utama yang ingin kami capai adalah memberi pelayanan dan kepuasan terbaik untuk seluruh masyarakat indonesia. Untuk cabang baru Seafood Bakaran, sudah kami persiapkan empat resto yang akan dibuka pada tahun ini,” kata Aidan.

“Ke depan kami targetkan akan membuka 20 outlet lagi pada tahun ini. Kami butuh dukungan masyarakat agar lebih banyak lagi masyarakat yang dapat menikmati seafood berkualitas dengan harga terjangkau,” harap TikToker yang identik dengan konten ngeprank tersebut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menanti Wajah Baru Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg sedang menjalani revitalisasi dan pemeliharaan. Seperti apa wajah baru museum di Yogyakarta ini ya?

Untuk mengoptimalkan fungsi Museum Benteng Vredeburg sebagai destinasi wisata edukasi dan ruang publik yang menyenangkan bagi masyarakat, program revitalisasi dan pemeliharaan pun dilakukan oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesia Heritage Agency (IHA).

Proyek transformasi Museum Benteng Vredeburg meliputi revitalisasi infrastruktur dengan pembaruan dan pemeliharaan area terbuka, serta ruang tata pamer museum.


Selanjutnya, pembangunan fasilitas pengunjung seperti museum shop dan ruang anak pun dilakukan, untuk mengoptimalkan pengalaman publik yang lebih edukatif dan interaktif.

Plt Kepala BLU Museum dan Cagar Budaya (MCB), Ahmad Mahendra menyatakan, transformasi Museum Benteng Vredeburg bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung yang lebih baik lagi ke depannya.

“Kami berharap museum ini tidak hanya menjadi ruang edukasi sejarah, tetapi menjadi tempat yang nyaman untuk rekreasi. Untuk itu, MCB terus berkomitmen untuk terus mendukung transformasi museum yang profesional melalui berbagai agenda revitalisasi untuk menjadikan museum sebagai ruang yang nyaman untuk semua,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Senin (11/3/2024).

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg Foto: (dok. IHA)

Museum Benteng Vredeburg terletak di Kota Yogyakarta. Museum ini memiliki lebih dari 7.000 benda bersejarah, mulai dari peralatan rumah tangga sampai peralatan perang.

Menempati bangunan kolonial yang dibangun pada tahun 1760, museum yang beralamat di Jalan Margo Mulyo No 6 ini menjadi destinasi wisata sejarah yang memiliki nilai historis dan edukatif bagi para pengunjung.

Selama proses revitalisasi, Museum Benteng Vredeburg akan tutup dari tanggal 4 Maret 2024. Kendati demikian, bagi publik yang ingin mengeksplorasi koleksi museum dapat mengakses kegiatan “Vredeburg Virtual Visit” yang diselenggarakan setiap hari Senin untuk umum atau individu dan Rabu untuk kelompok atau sekolah pukul 09.00-11.00 WIB secara gratis.

Penanggung Jawab Unit Museum Benteng Vredeburg, M. Rosyid Ridlo menjelaskan, rencananya museum secara fisik akan kembali dibuka untuk publik dengan wajah barunya pada pertengahan tahun 2024.

“Walau secara fisik museum tutup, tetapi kami tetap hadir secara virtual. Hal ini penting bagi kami, karena tugas kami adalah untuk membuka akses masyarakat terhadap bangunan, artefak dan benda bersejarah yang dapat diolah menjadi produk pengetahuan sejarah dan berguna untuk pemahaman bangsa mengenai warisan budaya Nusantara dan semangat perjuangan bangsa Indonesia,” tutupnya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gedung Bergaya Eropa di Medan yang Misterius, Belasan Tahun Tak Berpenghuni



Medan

Di Medan, ada sebuah gedung mewah bergaya Eropa yang misterius. Sudah belasan tahun lamanya gedung ini tidak berpenghuni. Bagaimana kisahnya?

Gedung mewah itu letaknya strategis persis di persimpangan Jalan S Parman dan Jalan Kejaksaan Medan. Banyak pengendara yang melirik ke bangunan itu ketika melintasi kawasan tersebut.

Gedung bercat coklat ini memiliki desain megah bergaya Eropa klasik. Ada begitu banyak jendela tinggi berwarna emas yang diselingi pilar coklat yang menjulang tinggi.


Walaupun berdiri megah, namun tak satupun aktivitas yang tampak dari bangunan tersebut. Akses jendela maupun pintu tertutup rapat. Selain itu, tak ada kendaraan yang tampak terparkir di sekitaran gedung tersebut.

Beberapa warga Medan mengaku penasaran dengan fungsi bangunan tersebut. Lantaran misterius, banyak masyarakat yang sering menebak fungsi gedung tersebut.

“Itu letaknya di Medan, dari aku kecil udah ada ini gedung tapi sampai sekarang aku dah besar pun gitu-gitu aja gedungnya, entah buat apa pun nggak tahu,” kata warga Medan, Starla.

“Dulu setiap pulang sekolah terus lewat situ pasti dalam hati langsung bilang ‘ini gedung apa sih, kok nggak siap-siap dibangun, terus ini untuk apa?’,” kata warga Medan lainnya, Chika.

Berdasarkan data yang dihimpun, bangunan megah ini dibangun sejak awal tahun 2000-an namun hingga belasan tahun kemudian belum diketahui fungsi bangunan tersebut.

“Dulu tahun 2008 masih kerja di Mal Paladium selalu lewati itu. Tapi sampai sekarang udah punya anak dua, itu gedung misterius banget ya gitu-gitu aja terus,” ucap Mariati, warga Medan yang menceritakan pengalamannya.

Selain penasaran, banyak juga warga yang melintasi bangunan tersebut terkesima dengan konsep dan desain mewah yang begitu mencolok di antara bangunan sekitarnya.

“Tapi itu desainnya megah dan mewah banget loh, kayak ala-ala luar negeri gitu. Aku lihat detail-detailnya bagus banget ya aku suka lihatnya tiap lewat bangunan itu,” ujar Mellynia.

Sementara itu, tim detikSumut juga bertanya terhadap warga sekitar yang banyak menyebut bangunan ini akan dibuat apartemen. Namun, mereka juga turut penasaran alasan belum dioperasionalkan hingga saat ini.

“Katanya itu gedung dulunya mau buat hotel tapi kekurangan dana gitu, terus karena di sekitarnya juga ada hotel yang lebih bagus jadi belum dilanjutkan lagi bangunannya,” kata Irma.

Camat Medan Petisah Arafat yang menyebut gedung misterius tersebut masih belum beroperasi. Dia pun tak tahu peruntukan bangunan itu.

“Sampai saat ini bangunan tersebut belum dihuni sehingga saya belum tahu peruntukan bangunan tersebut. Nanti saya coba cek melalui dinas terkait izin awal bangunan sebagai apa peruntukannya,” ucap Arafat.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Batulayang, Sebuah Kabupaten di Jawa Barat yang Hilang



Bandung

Di Provinsi Jawa Barat, ada sebuah kabupaten yang hilang. Namanya Batulayang. Bagaimana kisah kabupaten yang hilang ini?

Batulayang, saat ini diketahui berstatus sebagai desa di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Wilayahnya memiliki luas 6,54 kilometer persegi dan dihuni oleh 11.558 penduduk, berdasarkan catatan BPS pada tahun 2021.

Namun ternyata, jauh saat masa kolonial Hindia Belanda, Batulayang merupakan nama salah satu kabupaten di Jawa Barat. Catatannya tertuang dalam tulisan seorang pemerhati sejarah asal Bandung, M Ryzki Wiryawan, dalam buku berjudul Pesona Sejarah Bandung: Perkebunan di Priangan.


Ryzki Wiryawan, bahkan secara spesifik menulis pembahasan tentang kabupaten itu dengan judul, Musnahnya Kabupaten Batulayang. Saat masih dalam penguasaan Hindia Belanda pada abad ke-18, wilayah Batulayang ditulis Rizky mencakup 3 distrik yaitu Kopo, Rongga dan Cisondari yang sekarang meliputi Cililin, Ciwidey dan Gununghalu.

“Batulayang dibatasi oleh Gunung Wayang dan Linggaratu di sebelah Timur; Sungai Ci Sokan dan Cianjur di barat; Gunung Tilu dan Ci Tarum sampai ke muara Ci Sokan di sebelah utara, Gunung Patuha dan Ci Sokan di sebelah selatan,” tulis Ryzki dalam bukunya.

Batulayang Memiliki Ibu Kota Bernama ‘Gajah’

Saat masih berstatus sebagai kabupaten, Batulayang memiliki Ibu Kota bernama Gajah atau Gajah Palembang yang berada di tepi Ci Tarum (sebelah Margahayu sekarang). Rizky dalam bukunya mengatakan, pemberian nama Gajah itu ditengarai terjadi karena penguasanya zaman dulu yang bernama R Moh Kabul atau Abdul Rohman, pada 1770 membawa oleh-oleh seekor gajah saat pulang usai ditugaskan VOC ke Palembang.

Sekedar informasi, terdapat sebuah desa yang bernama Gajah Mekar. Desa tersebut secara administratif berada di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung.

Dahulu, wilayah ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Batulayang. Sebelum menjadi kabupaten, Batulayang juga sempat masuk dalam status keprabuan di bawah kuasa Kerajaan Pajajaran.

Menariknya, Abdul Rohman juga membuat tempat pemandian gajah yang kemudian di wilayah tersebut dinamakan Leuwigajah, sebuah kelurahan yang kini masuk administrasi Kecamatan Cimahi Selatan di Kota Cimahi.

Ryzki turut mencatat silsilah penguasa Batulayang dari berbagai versi. Sejumlah nama seperti Tumenggung Suradirana hingga Tumenggung Adikusumah, silih berganti memimpin Batulayang dari zaman kerajaan tahun 1740-an hingga masa pendudukan Hindia Belanda pada tahun 1800-an.

Pada medio tahun 1770-an, Batulayang dipimpin seorang bupati bernama Tumenggung Rangga Adikusumah. Namun ia meninggal dan status kepemimpinannya tidak berlangsung lama.

Jabatan Bupati Batulayang kemudian diserahkan kepada Bupati Bandung pada 1785, lantaran penerusnya, Raden Bagus, anak dari Tumenggung Rangga Adikusumah, saat itu masih berusia 12 tahun.

Pada tahun 1794, Raden Bagus akhirnya diangkat sebagai Bupati Batulayang dengan gelar Tumenggung Rangga Adikusumah II (sumber lain menyebutkan Dalem Tumenggung Anggadikusumah). Tapi, petaka kemudian datang saat sang pewaris tahta tak sekompeten ayahnya dalam memimpin Batulayang.

Hancurnya Perkebunan Kopi di Batulayang

Dalam tulisannya, Ryzki menyebut Tumenggung Rangga Adikusumah II begitu buruk dalam memimpin Batulayang. Ia menelantarkan perkebunan kopi di sana, yang saat itu masih jadi primadona Hindia Belanda, bahkan punya kebiasaan tak wajar lantaran gemar mengkonsumsi opium dan minuman keras.

“Berdasarkan laporan Pieter Engelhard pada 1802, Tumenggung Anggadikusumah memimpin Batulayang dengan buruk, membiarkan perkebunan kopi menjadi hutan belantara dan semak-semak. Bahkan berdasarkan laporan tanggal 24 Desember 1801, muncul usulan untuk memberhentikan Sang Bupati karena kegemarannya mengonsumsi opium dan minuman keras,” ucap Ryzki dalam tulisannya.

Karena kondisi itu, Tumenggung Rangga Adikusumah II akhirnya diberhentikan pada 1802. Praktis kemudian, Batulayang sebagai kabupaten akhirnya dihilangkan. wilayahnya lalu digabungkan dengan Kabupaten Bandung. Sementara sang pewaris tahta, diasingkan ke Batavia hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Mangga Dua.

Meski tak secakap ayahnya dalam memimpin, Ryzki menulis kehilangan Kabupaten Batulayang begitu disesalkan. Pemicunya karena nasib perkebunan kopi tetap sama di bawah kuasa Bupati Bandung. Ini kemudian Ryzki tuangkan sebagaimana laporan C.W Thalman, G.F Smit dan J.G Bauer pada 1807.

Ryzki sendiri melihat tindakan Tumenggung Rangga Adikusumah II sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Ia menduga, Tumenggung Rangga Adikusumah II telah memulai perang urat saraf dengan Pieter Engelhard lalu akhirnya melawan dengan cara menelantarkan perkebunan tersebut.

“Berdasarkan laporan di atas, bisa disimpulkan bahwa ada faktor lain yang membuat Bupati Batulayang terakhir dihukum, kemungkinan karena ia bermasalah dengan Pieter Engelhard dan melawan dengan cara menelantarkan perkebunan kopi,” kata Ryzki.

Bupati Batulayang Lalu Diasingkan

Selanjutnya, kebijakan budidaya kopi menurut Ryzki, saat itu memang membebani rakyat. Ia pun menulis bahwa perlawanan Bupati Batulayang sebagai fenomena unik yang menggambarkan keberanian seorang pejuang.

Menutup tulisannya, Ryzki lalu menyinggung satu nama dalam perjuangan melawan kolonial yang akhirnya ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Ia adalah Otto Iskandar Di Nata, pejuang yang merupakan keturanan asli dari Batulayang.

“Semangat perlawanan terhadap penjajah nantinya akan dicerminkan dalam perjuangan politik abad ke-20 oleh seorang keturunan Batulayang yang bernama Otto Iskandar Di Nata alias sang Jalak Harupat,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Meriahkan Hari Raya Nyepi, Ini 6 Ogoh-Ogoh Spektakuler di Kota Denpasar



Jakarta

Masyarakat Bali tengah menyambut hari raya Nyepi dengan pawai ogoh-ogoh. Karya seni patung yang gambarkan Bhuta Kala. Berikut enam ogoh-ogoh spektakuler.

Hari raya Nyepi adalah tahun baru Saka yang dirayakan oleh umat Hindu. Pada 2024, hari raya Nyepi jatuh pada Senin (11/03/2024). Umat Hindu akan melakukan tapa brata penyepian atau empat pantangan.

Rangkaian hari raya Nyepi terdiri dari tiga hari, hari Pengerupukan, hari raya Nyepi, dan Ngembak Geni.

Di Bali, hari raya Nyepi identik dengan pembuatan dan pawai ogoh-ogoh yang dilakukan oleh seka teruna teruni di setiap banjar. Nantinya ogoh-ogoh yang sudah dibuat diarak keliling desa ketika Hari Pengerupukan.

Ogoh-Ogoh juga termasuk seni patung yang berasal dari kebudayaan masyarakat Bali yang menggambarkan kepribadian dari Bhuta Kala. Ogoh-ogoh merupakan sebuah benda yang besar dan berbentuk boneka raksasa.

Penasaran dengan kemegahan ogoh-ogoh di Kota Denpasar?

Berikut ogoh-ogoh spektakuler yang ada di Kota Denpasar:

1. Sura Kasuran karya ST. Eka Pramana Banjar Merta Rauh

Banjar Merta Rauh berlokasi di Jalan Trijata II No.10, Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali. Banjar Merta Rauh dengan ST. Eka Pramana pada tahun 2024 membuat ogoh-ogoh bertajuk “Sura Kasuran” dan berhasil meraih Juara III di Kecamatan Denpasar Utara.

Ogoh-ogoh “Sura Kasuran” menceritakan tentang dua sifat kegelapan yang menjadi dasar munculnya sifat-sifat kegelapan lainnya. Kemabukan (Sura) akan Keberanian (Kasuran) membuat manusia menjadi angkuh. Dua sifat itulah yang membuat manusia jauh dari ajaran Dharma (kebaikan).

2. Teja Lawa karya ST Yowana Werdhi Banjar Batanbuah

ST Yowana Werdhi dari Banjar Batanbuah pada tahun 2024 berhasil meraih Juara II di Kecamatan Denpasar Timur. Dengan ogoh-ogoh bertajuk “Teja Lawa”. Banjar Batanbuah berlokasi di Jl. Sulatri No.7, Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali.

Teja Lawa bermakna keberlangsungan hidup setiap makhluk di dunia, bergantung pada teja sebagai komponen utama dalam memproduksi oksigen. Sehingga teja dianggap sebagai gerbang kehidupan yang disebut “lawa”.

Teja sebagai penanda sang kala, menjadi gerbang keberlangsungan aktivitas manusia. Teja sebagai tanda hidup & matinya segala makhluk yang ada. Tatkala sang teja bersinar tak semestinya itulah tanda gerbang pralaya dibuka. Apabila teja dalam tubuh manusia melebihi yang semestinya, sifatnya akan menyerupai raksasa dan mengantarkannya pada kehancuran juga. Begitupun tumbuhan apabila tidak mendapatkan teja sang surya maka tak akan ada pangan yang diterima. Semua yang bersinar adalah miliknya yang bercahaya (acintya).


3. Wayabya karya ST. Eka Cita Banjar Abian Kapas Kaja

Banjar Abian Kapas Kaja berlokasi di Jl. WR Supratman No.115, Sumerta, Kecamatan Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali. Tahun 2024, Banjar Abian Kapas Kaja dengan ST. Eka Cita mengusuh tajuk “Wayabya” pada ogoh-ogoh yang dibuat.

Wayabya mengupas tentang pelindung rumah atau pekarangan dalam kehidupan sosial religius masyarakat Bali. Wayabya merupakan salah satu kekuatan alam maha agung yang diyakini sebagai tempat memohon perlindungan dan kekuatan atau kawisesan. Adapun yang dipuja adalah Ida Hyang Durga Manik kairing antuk Sang Kala Raksa tumut pareng Sang Bhuta Hulu Kebo.

4. Bebali Sidakarya karya Banjar Pebean

Banjar Pebean berlokasi di Jl. Wr. Supratman Gg. Gunung Kawi, Kesiman, Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali. Tahun 2024, Banjar Pebean mengangkat ogoh-ogoh bertajuk “Bebali Sidakarya”. Bebali sidakarya adalah sebuah referensi atau manuskrip yang membahas perihal bagaimana, siapa, dan untuk apa adanya sidakarya.

Sidakarya yang dimaksud dan ditegaskan pada manuskrip ini adalah ” Perputaran Hyang Rawi Tanpa Tindih Ye Ta Mengaron Maha Kala Sidakarya Puja Ya Ta ” artinya pergerakan matahari yang tidak terbendungkan, itulah disebut Maha Kala yang disebut Sidakarya, karena yang menyelesaikan siang dan malam.

Mitologi ini di visualkan pada seorang brahmana yang bernama Mpu Kayu Manis yang ibunya dari masab siwa dan ayahnya masab budha yang berusaha menjelaskan kepada seorang raja yang bernama Raja Batatipati. Sidakarya itu sebenarnya adalah Maha Kala.

5. Podgala karya Banjar Abian Kapas Tengah

Banjar Abian Kapas Tengah yang berlokasi di Jl. Nusa Indah No.57, Sumerta, Kecamatan Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali mengangkat ogoh-ogoh bertajuk “Podgala”. Ogoh-ogoh ini memakan waktu pembuatan sekitar dua bulan, mulai Januari hingga Februari 2024.

Podgala berarti penyucian diri. Berawal dari upacara madiksa yang mempunyai tujuan mulia yaitu meningkatkan kesucian diri guna mencapai kesempurnaan dumadi menjadi manusia. Upacara Madiksa ini bermakna seseorang yang dilahirkan kembali untuk dijadikan pemimpin suci bagi umat Hindu di Bali.

Dalam melahirkan sesuatu yang baik tentunya ada sesuatu kepribadian yang harus bisa dikendalikan seperti tiga sifat dasar pada diri manusia yaitu Tri Guna yang terdiri dari Sattwam (sifat dewasa), Rajas (nafsu, keinginan), dan Tamas (sifat malas,egois, kurang empati). Tiga sifat inilah yang harus dikendalikan atau ditempatkan pada situasi yang tepat. Agar tidak menyalahkan dari arti penyucian diri atau PODGALA.

6. Laliaran karya ST Gemeh Indah Banjar Gemeh

Banjar Gemeh berlokasi di Jalan Mayjen Sutoyo, Dauh Puri Kangin, Kecamatan Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali. Pada tahun 2024, Banjar Gemeh membuat ogoh-ogoh yang bertajuk “Laliaran”.

Ogoh-ogoh bertajuk “Laliaran” diambil dari cerita astronomi yang merupakan ilmu paling tua yang dipelajari manusia. Kegiatan gerak matahari bulan dan bintang membentuk pola pada segala yang bergerak dan tak bergerak di bumi. Selama ribuan tahun pengetahuan ini telah dirumuskan dan ditulis sebagai panduan hidup manusia.

Di bali hal serupa dilakukan secara spesifik dengan cara menghitung yang tak hanya menghitung salah satu sumbu putaran dari Sang Hyang Rwa Wisesa Surya (matahari) atau Candra (bulan), tapi keduanya yang menjadi tiga bentuk pengingat: hari, wuku, sasih yang saling bertemu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pulau Buru Surga Tersembunyi Bekas Lokasi Pengasingan Tapol



Jakarta

Pulau Buru memiliki keindahan alam yang memukau. Identik sebagai tempat pengasingan tahanan politik G30S. Juga, menjadi nama untuk empat roman karya Pramoedya Ananta Toer.

Pulau Buru merupakan salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku dan masuk dalam daftar Provinsi Maluku. Pulau yang penuh misteri sejarah karena menjadi lokasi pengasingan para tahanan politik pada zaman pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto.

Nama pulau itu dikenal lewat salah satu karya dari penulis Pramoedya Ananta Toer. Dia dibuang ke Pulau Buru dan menjadi tahanan politik di sana. Di antara karyanya, Pramudya menghasilkan empat buku dan dinamai Tetralogi Pulau Buru. Pramoedya menceritakan suasana Pulau Buru saat menjadi tapol.

Baru-baru ini, Pulau Buru kembali diperbincangkan. Gara-garanya, hiasan masjid berupa emas 2,6 kg senilai Rp 3 miliar dicolong. Masjid itu masjid warga.

Penasaran di manakah pulau itu berada dan apa saja fakta menarik Soal Pulau Buru?

Lokasi Pulau Buru

Pulau Buru adalah salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku. Dengan luas 8.473,2 km², dan panjang garis pantai 427,2 km. Menurut data BPS pada tahun 1997, jumlah penduduk Pulau Buru ialah 105.222 jiwa.


Pulau ini dihuni oleh beberapa kelompok etnis, seperti etnis asli, yakni Buru, dan etnis pendatang, yakni Ambon, Maluku Tenggara, Ambalau, Kepulauan Sula, Buton, Bugis, dan Jawa.

5 Fakta Pulau Buru

Nggak cuma menyajikan keindahan alam yang menawan, Pulau Buru ternyata juga menyimpan sejumlah fakta menarik dibaliknya.

Berikut deretan fakta menarik soal Pulau Buru yang dirangkum detikTravel.

1. Lokasi Pengasingan Tahanan Politik

Tahun 1969 hingga 1979, Pulau Buru dikenal sebagai lokasi pengasingan bagi para tahanan politik pada masa Orde Baru di Indonesia. Pulau Buru dijadikan tempat pembuangan para tapol yang diduga kuat terlibat dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Pulau ini pun dianggap sebagai gulag (tempat pembuangan) untuk menindas oposisi pada rezim Orde Baru.

Banyak tahanan politik, termasuk penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer, juga diangsingkan di pulau ini. Mereka diasingkan ke Desa Savana Jaya, Kecamatan Waepo, tanpa melalui proses siding terlebih dahulu.

2. Tertuang dalam Karya Tetralogi Pulau Buru

Penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer menjadi salah satu orang yang ikut diasingkan ke Pulau Buru. Ia diduga bersikap oposisi dan melawan pemerintahan Orde Baru. Pengasingan di Pulau Buru tak mematikan kreativitas dari sang penulis, Pramoedya Ananta Toer.

Selama diasingkan ia mampu menulis karya yang bertajuk Tetralogi Pulau Buru. Empat series novel Indonesia, terdiri dari novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

3. Menyimpan Peninggalan Sejarah

Pulau Buru ternyata juga menyimpan peninggalan bersejarah, berupa benteng VOC. Terletak di Negeri Kayeli, Kecamatan Waepo. Benteng ini dibangun oleh Portugis dan direbut oleh Belanda.

Pada 1785 benteng ini dibangun kembali oleh Belanda. Bangunan berbentuk segi empat ini berbahan dasar batu bata. Pernah menjadi saksi biru masa kejayaan Kayeli sebagai pusat pemerintahan Belanda.

4. Punya Keindahan Alam yang Menawan

Pulau Buru memiliki panorama alam yang sangat indah dan masih sangat asri. Mulai dari pantai hingga bukitnya yang menawarkan pemandangan memukau.

Salah satu destinasi wisata andalan Pulau Buru adalah Pantai Jikumerasa yang terletak di Desa Jikumerasa, Kecamatan Lilialy. Pantai dengan pasir putih dan lumba-lumba yang melompat dari air menjadi daya tarik utama dari pantai ini.

Ada juga Air Terjun Waetina di desa Bara, Kecamatan Airbuaya. Air terjun ini memiliki tiga tingkatan yang membentuk sebuah kolam. Airnya pun tampah sangat jernih, ditambah lingkungan yang asri.

Bukit Tatanggo juga oke untuk traveler yang mau menikmati momen matahari terbenam di Pulau Buru. Oke banget jadi tempat healing.

5. Ada Danau Keramat nan Indah, Danau Rana

Pulau ini ternyata nggak hanya menyimpan wisata yang indah, namun juga konon keramat. Salah satunya ada Danau Rana, danau yang terletak di ketinggian sekitar 700 MDPL.

Danau yang dinobatkan menjadi danau terbesar di Provinsi Maluku ini juga menjadi salah satu pusat peradaban budaya di Pulau Buru. Danau Rana dikenal keramat oleh masyarakat sekitar.

Kekayaan budaya dan kearifan lokal setempat menjadi sisi menarik dari Danau Rana. Traveler tak hanya menikmati keindahan danau tapi juga belajar tentang peradaban di sekitar danau yang masih lestari.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Lihat Anjing Laut dalam Akuarium Mall



Jakarta

Di awal bulan Ramadan dan libur panjang ini, Jakarta Aquarium & Safari kedatangan anggota baru, yaitu seekor anjing laut. Traveler bisa nih melihatnya langsung, mengisi long weekend ataupun ngabuburit.

Anjing laut bernama Holy ini sangat menggemaskan. Akuarium pun didesain khusus menyambut anjing laut ini, dengan nuansa sea shore yang estetik. Jadi, traveler dapat duduk santai sambil melihat dia berenang, makan dan berputar-putar.

“Kami sangat senang sekali menyambut kehadiran Seal di Jakarta Aquarium & Safari. Untuk melengkapi liburan akhir pekan dalam menyambut Ramadan, kami mengajak kalian untuk melihat secara dekat dan belajar tentang singa laut,” kata Natalia Poetri Handayani, Marketing Communication Manager, Jakarta Aquarium & Safari, dalam keterangannya, Selasa (12/3/2024).


Selain berjumpa dengan Holy, pengunjung juga dapat mengikuti challenge ‘Pose, Post & Get FREE Sticker’ di photo booth ‘Seal-iously Adorable’. Bayangkan kamu menjadi mermaid di antara Seal di atas bebatuan pesisir pantai. Jika sudah berfoto, pastikan tag & mention @jakartaaquarium dan dapatkan free sticker karakter Seal special launch edition.

Anjing laut dalam Jakarta AquariumAnjing laut dalam Jakarta Aquarium Foto: (dok Jakarta Aquarium)

Beragam kegiatan menarik yang bisa dilakukan di JAQS untuk ngabuburit:

1. Keliling akuarium dan interaksi dengan hewan

Jakarta Aquarium & Safari memiliki ragam koleksi, tak hanya ikan saja namun juga ada burung dan reptil untuk edukasi para pengunjung. Di sini terdapat lebih 3.500 spesies hewan akuatik hingga ragam satwa lainnnya.

Traveler juga bisa merasakan pengalaman Animal Encounter dan berfoto bersama ular, burung macaw, bamboo shark, kecoa madagaskar, crocodile skink, bintang laut dan masih banyak lagi.

Nah, kamu juga bisa mencoba memberi makan satwa secara langsung dan lebih dekat lho. Mulai bisa memberi makan ikan pari, binturong dan pinguin humboldt sambil melihatnya berenang dengan gembira di air biru yang jernih. Jangan lewatkan juga teater putri duyung (Mermaid Show) spektakuler gabungan darat dan laut ‘Guardian of The River’ dan ‘Pearl of The South of the Sea’.

Momen 17 Agustus di Jakarta Aquarium.Pertunjukan mermaid di Jakarta Aquarium. Foto: (dok Jakarta Aquarium)

2. Mencoba ragam wahana dan permainan seru

Traveler yang suka berfoto harus mencoba swirl tank (aquarium 360 derajat), dekorasi tunnel, serta permainan Step It Up yang super seru. Wajib juga mencoba Aquatrekking dan Funtasy Diving yaitu menyelam bersama ribuan satwa akuatik.

3. Dinner romantis

Traveler yang ingin memberi kejutan untuk orang tersayang, bisa nih aquarium date sembari menikmati underwater dining romantis dengan latar belakang hiu dan pari besar. Nikmati ragam hidangan spesial sambil memberi makan penguin di Pingoo Restaurant, serta membawa pulang oleh-oleh cantik dari Ocean Wonder!.

Cara menuju JAQS

Jakarta Aquarium & Safari berada di dalam Mal Neo Soho. Menuju tempat ini mudah kok, bisa naik Transjakarta dan turun di Halte S.Parman Podomoro City lalu berjalan kaki menuju mal sekitar 5 menit.

Bagi pengguna KRL, bisa turun di Stasiun Pamerah atau Stasiun Grogol, lalu menyambungnya dengan ojek atau taksi online. Traveler yang punya kendaraan pribadi, bisa langsung saja menuju mal.

Harga tiket JAQS

Untuk harga tiket, saat weekday Rp 147.000 untuk dewasa dan Rp 112.700 untuk anak-anak. Sedangkan saat weekend Rp 171.500 untuk dewasa dan Rp 147.000 untuk anak-anak.

Tiketnya bisa traveler beli secara online melalui websitenya atau aplikasi pemesanan, dan bisa juga dibeli langsung di lokasi.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Berkunjung ke Masjid di Atas Awan



Jakarta

Tahukah traveler bahwa ada masjid di atas awan di Indonesia. Ya, destinasi religi ini berada di kawasan pegunungan.

Masjid peninggalan Sunan Muria atau Raden Umar Said cukup unik karena berada di puncak Pegunungan Muria. Warga menyebut bangunan itu sebagai ‘Masjid di Atas Awan’. Seperti apa penampakannya?

Masjid Sunan Muria berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Wisatawan atau peziarah untuk sampai ke lokasi biasanya naik ojek dari pangkalan Desa Colo menuju puncak Makam Sunan Muria.


Jika tidak naik ojek, pengunjung bisa jalan kaki dengan naik ribuan anak tangga agar sampai puncak Masjid dan Makam Sunan Muria salah satu penyebar Agama Islam di Jawa.

Masjid peninggalan Raden Umar Said hingga kini masih rutin digunakan masyarakat untuk kegiatan ibadah. Lokasi masjid bersebelahan dengan makam Sunan Muria. Biasanya ramai peziarah ke makam salah satu Wali Sanga itu.

asjid peninggalan Sunan Muria yang berada di puncak pegunungan tepatnya Desa Colo Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Senin (11/3/2024).Masjid Sunan Muria yang berada di puncak pegunungan tepatnya Desa Colo Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus (Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng)

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur mengatakan Masjid Sunan Muria dikenal banyak orang seperti berada di atas awan. Hal itu karena letak masjid yang berada di atas ketinggian sekitar 800-1.000 mdpl. Apalagi lokasi masjid berada di puncak Pegunungan Muria.

“Akhirnya masjid itu dibakar dan beliau mendirikan masjid yang sederhana ini. Ini ketinggian sekitar 800 mdpl. Luas tanah 19 ribu meter, ya betul kalau dilihat dari atas masjid dari atas awan,” kata Mastur ditemui di lokasi.

Mastur mengatakan ada banyak cerita sejarah mengenai asal usul Masjid Sunan Muria. Di antaranya konon Sunan Muria datang ke Colo mengikuti seekor kerbau. Kerbau itu berjalan membawa Sunan Muria sampai di puncak gunung.

Di puncak itulah Sunan Muria kemudian membangun masjid untuk ibadah masyarakat setempat pada abad ke 15-16 Masehi.

Baca artikel selengkapnya di detikJateng

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Kawasan Pecinan yang Tersembunyi di Kota Bandung



Bandung

Tahukah kamu, di kota Bandung ada sebuah kawasan Pecinan yang tersembunyi. Namanya Komplek Jap Loen. Begini penampakan dan lokasi tepatnya:

Meskipun tidak ada wilayah yang bisa dikatakan kampung Pecinan secara spesifik di Kota Bandung, akademisi sekaligus Pengamat Pecinan di Kota Bandung, Sugiri Kustedja melihat Komplek Jap Loen menjadi titik yang paling mendekati pecinan.

Komplek Jap Loen saat ini lebih dikenal dengan Jalan Ikan Asin di Pasar Andir, Kota Bandung. Sebutan Jalan Ikan Asin merujuk pada penamaan masing-masing jalan, yakni Jalan Kakap, Jalan Teri, Jalan Gabus, dan Jalan Pepetek.


Tak banyak yang tahu, bahwa wilayah tersebut juga disebut dengan Komplek Jap Loen, karena dibangun oleh penduduk etnis Tionghoa yang kaya raya bernama Yap Loen.

“Daerah pasar itu yang bangun orang kaya dulu, namanya Yap Loen. Makanya komplek Yap Loen. Sebaliknya, Yap Loen itu rumahnya di antara Gang Luna sama Jalan Sudirman. Saya bilang Komplek Yap Loen itu paling cocok kalau dikatakan pecinan, meski kecil. Sebab bangunannya itu masih ada sisa-sisa gaya Tiongkok. Di jalan ikan asin itu, Gabus, Pepetek,” kata Sugiri yang juga merupakan dosen Arsitektur di Universitas Maranatha tersebut.

Dalam penelitiannya yang berjudul Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung, Sugiri menuliskan Yap Loen adalah seorang pengusaha tekstil dan properti. Ia aktif pada banyak organisasi Tionghoa, THHK (pendidikan), Siang hwe (perdagangan), Hong Hoat Tong (paguyuban), dan anggota dewan regentschapsraad Bandoeng.

“Yap Lun pada awalnya sebagai pedagang kain keliling. Yap Lun menjadi kaya raya ketika pecah Perang Dunia ke-1 (1914-1918). Ia kaya karena usaha impor kain dalam jumlah besar dari Jepang pada saat Eropa berperang. Sehingga Eropa tidak mampu menyuplai barang ke Hindia Belanda,” kisahnya dalam penelitian itu.

Menelusuri 'Pecinan' di Kota Bandung.Menelusuri ‘Pecinan’ di Kota Bandung. Foto: Anindyadevi Aurellia

Yap Lun menjadi developer Gg Luna (Lun-An; Yap Lun & Kok An), di daerah jalan Waringin, Pasar Andir. Daerah itu kemudian dikenal juga sebagai kompleks Yap-lun, Yaploen straat, Yaploen plein. Perusahaan pengembangnya adalah ‘Jap Loen & Co.’ dan ‘NV Bow Mij Tjoan Seng’.

Dulunya, di daerah itu terdapat sekitar 130 buah ruko satu lantai khas Tionghoa. Sugiri menyebut ruko tersebut mulanya berderet dan seragam. Saat ini wajah pertokoan tersebut sudah berubah, tapi masih ada satu hal yang menjadi ciri khas pecinan di sana.

“Yakni Thiam Tang. Bagian dinding depan ruko yang terdiri dari 3 bidang lembaran konstruksi kayu. Itu menjadi ciri paling khas di situ. Dinding depannya dari kayu, ada tiga segmen. Itu gaya dari Tiongkok Selatan. Pintunya juga kayu dan terbelah dua gitu. Dulu berderet seragam. Kalau dibuka kan, ada yang dia buka atasnya saja, ini artinya publik umum (pembeli) di luar aja,” kata Sugiri sambil memperagakan Thiam Tang tersebut.

Kayu bagian teratas biasanya ditarik agar matahari bisa masuk ke dalam toko, namun tidak sepenuhnya karena terhalang kayu tersebut. Namun jika para pedagang itu welcome, kata Sugiri, kayu bagian bawah pun akan diangkat sehingga mempermudah akses orang keluar masuk.

Pantauan di lokasi, pertokoan dengan jendela kayu yang khas tersebut masih mudah ditemui dari sepanjang Jalan Kakap menuju ke Jalan Pepetek (pasar basah tempat berjualan sayur dan ikan di belakang Pasar Andir).

Kondisi Komplek Jap Loen tersebut ramai oleh pedagang yang berjualan mayoritas kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, jajanan, ikan asin, daging ayam, sayur, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka menggelar lapak di luar ruko, ada beberapa ruko yang dibuka untuk berjualan tapi ada pula yang tidak.

“Kalau yang tutup mah ya untuk penyimpanan stok biasanya. Kalau yang dibuka bisa untuk transaksi. Ada juga yang memang sudah kosong,” kata salah seorang pedagang yang memberikan keterangan singkat.

Sayangnya, komplek yang bisa menjadi titik pecinan di Kota Bandung ini kurang begitu terawat. Kondisi jalannya tak mulus, lapak-lapak di gelar di pinggir jalan agar memudahkan pembeli membuatnya terkesan kurang rapi. Terlebih jika menengok ke area Jalan Pepetek yang sudah padat kios dan beratapkan seng atau terpal.

Di sisi lain, Jalan Cibadak menjadi ruas jalan yang lebih dikenal sebagai pecinan di Kota Bandung. Hal ini karena mayoritas penduduknya etnis Tionghoa, serta jalanan ini dikenal dengan kulinernya yang beragam dan mudah ditemui kuliner khas atau akulturasi Tiongkok.

Namun, dikatakan Sugiri, wilayah Cibadak dirasa kurang pas jika dikenal sebagai wilayah pecinan.

“Kalau Cibadak itu sudah model arsitektur Belanda semua. Kalau populasinya (Cibadak) memang benar, tapi bangunannya sudah bangunan Belanda semua,” ucapnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah 2 Kepala Harimau di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon



Cirebon

Di Cirebon, ada masjid kuno berusia ratusan tahun, yaitu Masjid Sang Cipta Rasa. Di bagian mimbarnya, ada 2 kepala harimau bermakna filosofis. Seperti apa?

Imam Besar Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon, KH Muhammad menuturkan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang hingga kini masih berdiri tegak dibangun oleh para Wali Songo dengan tempo sehari semalam pada tahun 1480.

“Masjid ini sudah berusia ratusan tahun yang dibangun oleh para wali dibantu 500 orang dari kerajaan Demak, Majapahit dan Cirebon,” terangnya, Rabu (13/3/2024).


Secara arsitektur, ia menjelaskan, bila bangunan masjid ini sudah berkonstruksi anti gempa. Hal itu ditandai dengan tidak ada cabang pada pondasi masjid.

“Kalau melihat dari pondasi yang tidak memiliki cabang bangunan masjid ini anti gempa,” ucapnya.

Selain itu, terdapat banyak juga ornamen dari berbagai etnis di masjid ini sebagai tanda pluralisme mulai dari negara Arab, Cina, dan Portugis.

“Masjid ini punya beberapa ornamen mulai dari negara Arab, Cina, sama Portugis. Sudah sejak lama Cirebon dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi ditandai dengan sejumlah ornamen yang ada di rumah ibadah,” terangnya.

Alasan penamaan masjid tidak menggunakan bahasa Arab, Jumhur menyampaikan karena sebagai simbol nilai pluralisme yang dijunjung tinggi oleh para wali.

“Penamaan masjid pun tidak menggunakan bahasa Arab karena mengikuti zamannya karena sebagai bukti pluralisme,” ujarnya.

Sedangkan di sudut lain, tepatnya pada bagian mimbar, terdapat dua kepala harimau yang memiliki makna filosofi tersendiri.

“Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki keunikan dimana terdapat dua kepala harimau yang terletak di bawah mimbar. Hal ini sebagai bila sudah berbicara harus berani untuk mempertanggungjawabkan,” tegasnya.

Inilah sepenggal bukti akan penyebaran agama islam di kota Udang dan romantisme Sunan Gunung Jati terhadap sang istrinya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa.Masjid Agung Sang Cipta Rasa Foto: Sudirman Wamad

Uniknya lagi, jumlah pintu di masjid ini tidak hanya satu. Melainkan terdapat sembilan pintu dengan desain sederhana namun mempunyai makna yang cukup dalam.

“Kenapa ada 9, karena setiap wali memiliki pintu masuk masing-masing,” paparnya.

Masjid yang didesain langsung oleh Sunan Kalijaga ini banyak memiliki keunikan lainnya. Seperti rendahnya ukuran pintu masjid, ia menuturkan karena memiliki pesan untuk merendahkan diri sebelum menghadap sang kuasa.

“Makna pintu rendah itu jangan sombong kepada sang kuasa apalagi kalau mau menghadap-Nya,” bebernya.

Aktivitas di Masjid Sang Cipta Rasa Selama Bulan Ramadan

Selama bulan Ramadan, biasanya masjid ini selalu dipadati oleh jamaah yang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.

Tidak sedikit juga jamaah yang melakukan tadarus Al Qur’an selama bulan suci Ramadan. Biasanya pada sore hari dan setelah menjalankan ibadah shalat tarawih.

Bilamana sudah masuk pada malam Lailatul Qodar biasanya masjid ini lebih padat lagi dibandingkan sebelumnya. Pasalnya banyak dari jamaah yang melakukan itikaf di masjid yang satu ini.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com