Category Archives: Domestik

Jejak Batulayang, Kabupaten yang Hilang di Jawa Barat dalam Peta



Bandung

Provinsi Jawa Barat punya kabupaten yang hilang yaitu Batulayang. Begini jejak kabupaten yang hilang itu di dalam peta:

Batulayang rupanya bukan hanya sekedar desa yang masuk administrasi Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jauh sebelum Indonesia merdeka, Batulayang pernah menyandang status sebagai kabupaten di Tanah Priangan.

Saat Batavia (Jakarta) dan Priangan (Jawa Barat) masih dalam kekuasaan Kolonial Hindia Belanda, Batulayang menjadi salah satu kabupaten di wilayah tersebut. Wilayah itu menjadi daerah perkebunan kopi yang diandalkan Bangsa Eropa.


Arsip tentang Kabupaten Batulayang pun masih tersimpan rapi dalam laporan seorang arsiparis bernama Dr Frederik de Haan Tahun 1910. de Haan juga pernah menjabat sebagai pemimpin Landsarchiev, atau Lembaga Kearsipan Hindia Belanda.

Dalam laporannya yang dibukukan berjudul ‘Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811’, de Haan turut mencantumkan gambar peta wilayah Priangan. Gambar berjudul ‘Overzichtskaartje Bij Priangan’ itu dicantumkan dengan skala 1:2.000.000.

Laporan de Haan dari laman Courts Foundation tersebut diketahui merupakan hasil kerja sama antara Proyek Sejarah Digital di awal 2010 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Di peta yang dicantumkan de Haan dalam laporannya, terlihat Kabupaten Batulayang dikelilingi oleh sejumlah pegunungan di Priangan pada masa itu. Ryzki Wiryawan dalam bukunya berjudul Pesona Sejarah Bandung: Perkebunan di Priangan, lalu menulis perbatasan-perbatasan saat Batulayang masih menjadi kabupaten.

“Batulayang sebagai Kabupaten muncul sejak abad ke-18. Wilayahnya terdiri dari tiga distrik: Kopo, Rongga dan Cisondari (sekarang meliputi daerah: Cililin, Ciwidey dan Gununghalu),” tulis Ryzki dalam bukunya di halaman ke-59 sebagaimana disadur, Rabu (6/3/2024).

Batulayang dibatasi oleh Gunung Wayang dan Linggaratu di sebelah Timur; Sungai Ci Sokan dan Cianjur di barat; Gunung Tilu dan Ci Tarum sampai ke muara Ci Sokan di sebelah utara, Gunung Patuha dan Ci Sokan di sebelah selatan.”

Saat masih berstatus sebagai kabupaten, Batulayang memiliki Ibu Kota bernama Gajah atau Gajah Palembang yang berada di tepi Ci Tarum (sebelah Margahayu sekarang).

Rizky dalam bukunya mengatakan, pemberian nama Gajah itu ditengarai terjadi karena penguasanya zaman dulu yang bernama R Moh Kabul atau Abdul Rohman, pada 1770 membawa oleh-oleh seekor gajah saat pulang usai ditugaskan VOC ke Palembang.

Jejak Kabupaten Batulayang yang terekam arsip Leiden UniversityJejak Kabupaten Batulayang yang terekam arsip Leiden University Foto: KITLV

Sekedar informasi, terdapat sebuah desa yang bernama Gajah Mekar. Desa tersebut secara administratif berada di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Dahulu wilayah ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Batulayang.

Sebelum menjadi kabupaten, Batulayang sempat masuk dalam status keprabuan di bawah kuasa Kerajaan Pajajaran. Menariknya, Abdul Rohman juga membuat tempat pemandian gajah yang kemudian di wilayah tersebut dinamakan Leuwigajah, sebuah kelurahan yang kini masuk administrasi Kecamatan Cimahi Selatan di Kota Cimahi.

Pada medio 1770-an, Batulayang dipimpin seorang bupati bernama Tumenggung Rangga Adikusumah. Namun ia meninggal dan status kepemimpinannya tidak berlangsung lama.

Jabatan Bupati Batulayang kemudian diserahkan kepada Bupati Bandung pada 1785, lantaran penerusnya, Raden Bagus, anak dari Tumenggung Rangga Adikusumah, saat itu masih berusia 12 tahun.

Pada 1794, Raden Bagus akhirnya diangkat sebagai Bupati Batulayang dengan gelar Tumenggung Rangga Adikusumah II (sumber lain menyebutkan Dalem Tumenggung Anggadikusumah). Tapi, petaka kemudian datang saat sang pewaris tahta tak sekompeten ayahnya dalam memimpin Batulayang.

Dalam tulisannya, Ryzki menyebut Tumenggung Rangga Adikusumah II begitu buruk dalam memimpin Batulayang. Ia menelantarkan perkebunan kopi di sana, yang saat itu masih jadi primadona Hindia Belanda, bahkan punya kebiasaan tak wajar lantaran gemar mengkonsumsi opium dan minuman keras.

“Berdasarkan laporan Pieter Engelhard pada 1802, Tumenggung Anggadikusumah memimpin Batulayang dengan buruk, membiarkan perkebunan kopi menjadi hutan belantara dan semak-semak. Bahkan berdasarkan laporan tanggal 24 Desember 1801, muncul usulan untuk memberhentikan Sang Bupati karena kegemarannya mengonsumsi opium dan minuman keras,” ucap Ryzki dalam tulisannya.

Karena kondisi itu, Tumenggung Rangga Adikusumah II akhirnya diberhentikan pada 1802. Praktis kemudian, Batulayang sebagai kabupaten akhirnya dihilangkan.

Wilayah Batulayang lalu digabungkan dengan Kabupaten Bandung. Sementara sang pewaris tahta, diasingkan ke Batavia hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Mangga Dua.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Siapa Sangka, Masjid Megah Bergaya Timur Tengah Ini Ada di SPBU Tasikmalaya



Tasikmalaya

Siapa sangka, masjid megah dengan gaya Timur Tengah ini berada di sebuah SPBU di Tasikmalaya. Seperti apa penampakannya?

Tempat ibadah menjadi salah satu fasilitas dasar SPBU di samping toilet, isi angin ban dan lainnya. Di Kota Tasikmalaya, ada salah satu masjid SPBU yang mencuri perhatian, karena bangunan masjidnya megah dan tampak estetik.

Masjid tersebut bernama Masjid Jami Al Hidayah yang berada di kompleks SPBU 34.46128 Cikurubuk yang terletak di Jalan EZ Muttaqin Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.


Banyak masyarakat pengguna jalan di Tasikmalaya dan sekitarnya yang terkesan dengan keindahan arsitektur masjid berkelir putih ini, hingga menjadi magnet bagi warga untuk singgah dan beribadah.

Kesan megah langsung muncul ketika pertama kali masuk ke area SPBU yang tak jauh dari Pasar Cikurubuk ini. Masjid dua lantai tersebut langsung mencuri perhatian.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Konstruksi bangunan masjid dua lantai ini terlihat kokoh, gaya arsitekturnya mirip masjid di Timur Tengah. Ornamen-ornamen hiasan bangunan terlihat cantik dengan dominasi warna putih.

Satu kubah besar dengan lafaz Allah SWT menyembul di bagian atas bangunan, seakan menegaskan bahwa bangunan megah ini adalah rumah Allah SWT.

Beberapa batang pohon kurma terlihat menghiasi pelataran masjid, semakin menambah keindahan lanskap juga memperkuat suasana Timur Tengah.

Hawa sejuk dan adem langsung terasa ketika memasuki masjid ini. Sistem ventilasi bangunan ditata dengan baik, ditambah lantai marmer mengkilap boleh jadi turut membuat bagian dalam masjid terasa adem.

Pembangunan masjid ini rupanya belum 100 persen selesai, masih ada beberapa pekerja yang terlihat mengerjakan bagian-bagian detail bangunan. Meski demikian masjid ini sudah dapat digunakan.

“Sudah dipakai, salat Jumat, salat tarawih sudah ramai,” kata salah seorang jamaah.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Selain masjid yang megah, pihak pengelola juga sedang membangun toilet masjid yang desainnya tak kalah menarik. Desain toilet masjid yang dibangun terpisah itu juga mengusung konsep arsitektur Timur Tengah, sehingga tampak senada dengan bangunan masjid.

Rizal petugas pengawas SPBU Cikurubuk mengatakan pembangunan atau renovasi masjid ini sengaja dilakukan oleh majikannya pemilik SPBU.

“Iya dibangun oleh Bu Haji Tiktik, majikan kami yang punya SPBU ini,” kata Rizal.

Dia menjelaskan renovasi masjid dilakukan mulai tahun 2023 lalu.

“Asalnya memang masjid, kemudian direnovasi. Pembangunannya terbilang cepat. Hanya setahun sudah jadi semegah ini, waktu di awal-awal pembangunan pekerjanya banyak sekali,” kata Rizal.

Rizal menambahkan majikannya sengaja membangun masjid megah untuk melaksanakan wasiat atau pesan mendiang suaminya.

“Jadi katanya renovasi masjid ini untuk melaksanakan pesan almarhum Pak Haji Wawan, suaminya. Lebih dari itu ya sebagai fasilitas ibadah bagi pelanggan SPBU dan masyarakat,” kata Rizal.

Rizal mengakui banyak masyarakat yang terpikat oleh kemegahan masjid ini. Banyak yang menjadikan masjid ini sebagai spot foto atau dijadikan konten media sosial.

“Ya memang jadi ramai, banyak yang singgah. Banyak yang foto-foto, apalagi kalau malam kan indah sekali. Tapi ada satu larangan yaitu bagi mereka yang mau foto prewedding, itu tidak boleh,” kata Rizal.

Larangan dijadikan lokasi pemotretan pasangan pranikah itu, menurut Rizal karena dianggap melanggar etika kesopanan di dalam masjid.

“Masalahnya sering kali pasangan foto prewedding itu berfoto mesra, padahal mereka kan belum suami istri. Makanya kami melarang masjid ini digunakan untuk prewedding,” kata Rizal.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Anak Sunan Gunung Jati Nyaris Dihukum Mati karena Sujud 7 Hari



Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid legendaris yang ada di Cirebon. Berdiri pada tahun 1480, dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati yang dibantu oleh Sunan Kalijaga bersama Raden Sepat dari Majapahit sebagai arsiteknya.

Meski sudah berusia ratusan tahun, Masjid Agung Sang Cipta Rasa masih kokoh berdiri. Selain arsitekturnya yang unik, Masjid Sang Cipta Rasa juga memiliki segudang kisah yang menarik untuk diulas lebih jauh.

Salah satu adalah kisah tentang Pangeran Jaya Kelana yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati yang hampir dihukum mati.


Pegiat sejarah dan naskah kuno, Farihin bercerita, Pangeran Jaya Kelana merupakan saudara dari Pangeran Brata Kelana yang tewas di lautan. Mereka berdua merupakan anak Sunan Gunung Jati dari istrinya yang bernama Syarifah Baghdad. Adik dari Pangeran Panjunan.

Berbeda dengan saudaranya, Pangeran Jaya Kelana dikenal sebagai anak yang memiliki kemampuan khusus alias majdub. Majdub diartikan sebagai seseorang yang dekat dan cinta dengan Allah SWT. Hal ini membuat beberapa sikap dari Pangeran Jaya Kelana yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Salah satu sikap Pangeran Jaya Kelana yang membuat bingung masyarakat Cirebon adalah ketika Pangeran Jaya Kelana menjadi imam di Masjid Sang Cipta Rasa. Ketika melakukan gerakan sujud, Pangeran Jaya Kelana tidak kunjung bangun dari sujudnya. Konon, selama tujuh hari Pangeran Jaya Kelana tidak bangun dari sujudnya.

“Dalam situasi masyarakat ataupun orang-orang baru masuk Islam dihadapkan dengan kasus seperti itu, ini kan membingungkan umat,” tutur Farihin belum lama ini.

Melihat sikap Pangeran Jaya Kelana yang membingungkan umat, Sunan Gunung Jati dan para jaksa Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Kejaksaan, hampir menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Jaya Kelana.

Padahal, Pangeran Jaya Kelana statusnya putra mahkota yang akan melanjutkan takhta Kesultanan Cirebon setelah Sunan Gunung Jati wafat. Namun, hukuman mati tersebut diurungkan, mengingat beliau melakukan hal tersebut dalam kondisi tidak sadar.

“Tapi karena mempertimbangkan beliau mengimami seperti itu bukan karena kesadaran beliau. Tapi karena ketidaksadaraan, yang masuk dalam posisi fana. Akhirnya hukuman mati dibatalkan,” tutur Farihin.

Sebagai ganti dari hukuman mati. Setelah bermusyawarah, para jaksa Kesultanan Cirebon bersepakat agar Pangeran Jaya Kelana, diwajibkan untuk membayar diyat atau denda berupa emas seberat badan Pangeran Jaya Kelana. Hukuman yang diberikan kepada Pangeran Jaya Kelana didasarkan pada kitab hukum bernama Kitab Adilullah.

Menurut Farihin, tegasnya sikap Sunan Gunung Jati kepada anak sendiri, karena ditakutkan sikap Pangeran Jaya Kelana yang seperti itu akan ditiru oleh masyarakat umum.

“Sementara kalau Sunan Gunung Jati mazhabnya Syafii yang sangat begitu ketat dengan urusan syariat. Sehingga, hampir dihukum mati yah karena parah. Meskipun tidak sengaja, tapi tidak bisa lepas dari hukum juga,” tutur Farihin.

Kisah Jaya Kelana yang sujud tidak bangun-bangun. Membuat ada satu pesan Sunan Gunung Jati yang sampai sekarang masih dipercayai, yakni jangan menjadi imam di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut Farihin, pesan itu keluar dalam konteks membicarakan anaknya Pangeran Jaya Kelana.

“Nah mungkin waktu itu konteksnya anaknya beliau Jaya Kelana,” pungkas Farihin.

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit With A View, Ini Menoreh Dreamland Kulon Progo



Kulon Progo

Kulon Progo punya segudang tempat wisata untuk ngabuburit. Bukan sekedar menunggu waktu berbuka, pemandangannya bikin pikiran adem.

Inilah Menoreh Dreamland, tempat wisata dengan view hutan pinus. Menoreh Dreamland terletak di kawasan perbukitan menoreh wilayah Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo. Dari pusat Kota Jogja, jarak yang ditempuh untuk sampai ke sini berkisar 35 km atau 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Dibuka sejak Desember 2023 lalu, tempat yang berbatasan langsung dengan wilayah Kaligesing, Purworejo ini mengusung konsep wisata kuliner terpadu. Di mana wisatawan bisa menyantap aneka kuliner sembari menikmati keindahan hutan pinus yang ada di sekitar. Selain itu, juga tersedia beragam wahana permainan yang bisa diakses oleh masyarakat umum.


Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3).Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3). Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

“Jadi Menoreh Dreamland merupakan wahana wisata yang dilengkapi dengan cafe kekinian. Tempat kami menyediakan rainbow slide, kereta hutan, permainan rumah balon, kamera 360, taman play ground, outbond, hingga kolam renang,” ungkap Tri Sugianto, selaku Direktur Menoreh Dreamland saat ditemui detikJogja di lokasi Sabtu (16/3).

Wahana permainan itu bisa dijumpai di area hutan pinus sekitar Cafe Menoreh Dreamland. Biaya masuknya sebesar Rp10.000 per orang. Harga yang sama berlaku untuk penggunaan wahana seperti rainbow slide dan kereta hutan.

Bagi pengunjung yang ingin ke sini disarankan untuk datang pada sekitar pukul 16.00 WIB. Sebab, pada saat itu akan muncul kabut yang menambah syahdu suasana sewaktu ngabuburit.

“Sebenarnya cafe ini lebih mengedepankan pada kenyamanan. Jadi teman-teman yang datang ke sini akan menikmati suasana hutan pinus, nah kalau jam 4 sore kita bisa pastikan ada kabut, sehingga membuat suasana kian syahdu, jadi direkomendasikan datang sore karena untuk ngabuburit sangat cocok,” ujarnya.

Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3).Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3). Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

Tak hanya menjual suasana dan wahana permainan, Menoreh Dreamland juga menyajikan kuliner yang tergolong lengkap. Mulai dari aneka ayam goreng, olahan nasi, kentang, mie, camilan dan menu andalan yaitu sop buntut.

“Unggulan di sini adalah sop buntut, karena diracik dengan aneka bumbu yang dapat menggugah selera berbuka,” ucap Tri.

Pun demikian dengan minuman yang beraneka ragam. Termasuk beragam varian kopi yang cocok bagi pecinta minuman berkafein tersebut.

Untuk harga sendiri tergolong masih ramah di kantong. Baik makanan maupun minuman kisaran harganya mulai dari Rp10.000 hingga Rp50.000-an.

Salah satu pengunjung Ando, asal Jogja mengaku sengaja datang ke sini untuk mengisi waktu jelang berbuka puasa. Menurutnya tempat ini cocok untuk nongkrong karena suasana yang dihadirkan bisa jadi obat penenang dari penatnya hiruk pikuk perkotaan.

“Memang niatnya mau ngabuburit sih. Pilih di sini karena direkomendasikan oleh teman, terus pas sampai wah ternyata suasananya nyaman ya. Apalagi bisa lihat pemandangan hutan pinus dan hawanya dingin jadi semacam healing dari padatnya kota,” ujarnya.

Soal rasa kuliner yang disajikan, Andi menyebut cukup nikmat. Apalagi menu sop buntut yang menurutnya pas bagi lidah masyarakat Indonesia.

“Paling jos sop buntutnya sih, campuran rempahnya pas, jadi ada kombinasi gurih, manis, asinnya. Cocok untuk lidah saya,” ucapnya.

**

Baca artikel selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Ini Hidden Gem di Pangandaran, tapi Dilarang Berenang



Pangandaran

Namanya adalah Pantai Legokjawa di Pangandaran. Pantai ini mulai digemari sebagai tempat nongkrong karena keindahannya.

Pantai Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat mulai bersolek. Di pesisirnya dibangun warung-warung untuk menyambut wisatawan yang hadir.

Meski waktu libur Lebaran masih lama, warga setempat sejak musim munggahan sudah bersiap dan menata pantai Legokjawa. Pantai juga dibersihkan dari sampah.


Pantai yang berlokasi samping Pacuan Kuda Legokjawa tersebut memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Di tempat tersebut terdapat batuan karang yang bisa dijadikan spot foto.

Selain itu, lapang pacuan kuda di pesisir itu menambah eksotis dan memperkaya latar belakang untuk swafoto.

Tokoh Pemuda Legokjawa Kiki Masuki mengatakan, Pantai Legokjawa dibersihkan atas inisiasi warga, karena melihat peluang banyak pengunjung yang sering nongkrong.

Suasana Pantai Legokjawa yang jadi lokasi 9 santri terseret ombakSuasana Pantai Legokjawa (Aldi Nur Fadillah/detikJabar)

“Akhirnya sejumlah warga pun berinisiasi membuka peluang dengan berdagang,” kata Kiki kepada detikJabar.

Menurutnya, pantai Legokjawa kini berubah sedikit lebih rapih. Sebelumnya hanya pohon-pohon pandan dan kelapa yang menghiasi kawasan pantai tersebut.

“Dulu kumuh, sekarang di tahun 2024 bersih dan banyak pedagang, lebih mendingan,” kata Kiki

Kiki menambahkan, apalagi sekarang bulan Ramadan, pantai pacuan Legokjawa cocok untuk ngabuburit.

“Lokasinya pas untuk tempat ngabuburit sambil menunggu magrib, kami juga di sini sediakan takjil kalau sudah sore,” ujarnya.

Pantainya Tidak untuk Berenang

Kepala Desa Legokjawa Ahrudin menambahkan sepanjang area pantai Legokjawa tidak bisa untuk berenang. Mengingat di titik tersebut merupakan pantai terbuka yang gelombangnya cukup besar.

“Kalau untuk berenang nggak bisa, tapi untuk pemandangan dan panorama alamnya nggak kalah indah,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Menurut dia, dari Pantai Legokjawa langsung terhubung ke Pantai Madasari jaraknya tidak terlalu jauh. “Akses jalan sudah bagus ke Pantai Madasari dekat masih satu jalur,” ucapnya.

Ahrudin mengaku, senang ada banyak masyarakat inisiatif membersihkan sepadan pantai tersebut. “Namun tetap kami bimbing, karena ada beberapa lahan yang tidak boleh dibangun,” katanya.

Kendati demikian, kata Ahrudin, pihaknya meminta para pedagang menjaga ketertiban terutama kebersihan. “Supaya pesisir pantai tetap indah dan lestari,” ucapnya.

***

Baca berita selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Kebun Kelulut Sangatta, Sensasi Menyesap Madu Langsung dari Sarang Trigona



Sangatta

Pengen tahu gimana rasanya madu hutan murni yang benar-benar asli? Datang saja ke Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, karena di sana detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona.

Butuh effort lebih untuk menjangkau destinasi wisata edukasi ini. Karena lokasinya berdampingan dengan Taman Nasional Kutai (TNK) tepatnya di KM 4 S Desa Sangatta Selatan, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur. Jalanan tanah sejauh 26 KM dari pintu masuk TNK dengan kontur naik turun dan berkelok harus dilalui.

Namun hamparan hijau pepohonan besar dengan beragam vegetasi di dalamnya bisa dinikmati traveler sepanjang perjalanan. Derit dahan diterpa angin, menyemarakkan suasana hutan yang riuh oleh nyanyian aneka ragam burung yang menyatu dengan alam bebas.


Setelah perjalanan panjang itu, traveler bisa beristirahat melepas penat di Kebun Kelulut Sangatta. Di sini, pengunjung bisa menikmati pemandangan rumah lebah di sela-sela pohon karet. Di atas lahan seluas dua hektar ini, ada banyak pelajaran tentang seluk beluk lebah dan manfaatnya bagi manusia. Seperti mengenal beragam jenis lebah terutama Trigona, yang hidup berdampingan dengan warga sekitar.

Trigona Sp yakni salah satu genus dari jenis melponini atau jenis lebah madu yang tidak bersengat (stingless bee). Orang awam lebih mengenalnya dengan nama Klanceng di Jawa atau Kelulut bagi warga Kalimantan. Kalimantan adalah salah satu habitat Kelulut di wilayah tropis Indonesia. Lebah ini bisa dikatakan hampir punah, karena jumlahnya yang makin sedikit bisa ditemui di hutan.

Bagi petani Sangatta, lebah kelulut sebenarnya telah mereka ketahui sejak lama. Namun keberadaan lebah kelulut sempat menghilang, akibat masifnya pembakaran sekam dan lahan usai panen padi oleh petani sekitar hutan. Kelompok Tani Trigona Reborn yang menemukan koloni Trigona lalu mengamankannya dan mempelajari lebih banyak tentang madu ini di internet.

Budidaya lebah kelulut ini dimulai tahun 2017 lalu. Dari semula hanya tiga rumah lebah, bertambah banyak menjadi 150 sarang. Selain di kawasan wisata Kebun Kelulut, anggota kelompok tani juga membudidayakan lebah kelulut ini di lahan mereka masing-masing.

Mereka menyiapkan lokasi ini menjadi sentra pelatihan budidaya lebah kelulut atau Kelulut Learning Centre (KLC) bagi warga Kutai Timur. Selain sebagai lokasi transfer pengetahuan, lokasi ini juga ditata apik agar para pengunjung nyaman. Di lahan milik salah satu anggota tani Trigona Reborn, ditata sedemikian rupa sarang lebah di antara pepohonan karet. Sebuah gazebo dibangun sebagai tempat anggota berkumpul untuk diskusi dan berbagi ilmu.

Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona.Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim Foto: Erliana Riady

Beberapa spot selfie didirikan untuk menarik minat wisatawan datang. Dan satu keistimewaan di Kebun Kelulut Sangatta, pengunjung bisa merasakan sensasi menghisap madu langsung dari dalam sarang lebah. Amazing… Karena pengalaman seperti ini tidak dijumpai di tempat lain. Spot ini, punya misi khusus yang ingin menyampaikan, bahwa madu kelulut produksi kelompok tani Trigona Reborn dijamin kemurniannya!.

Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona.Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona. Foto: Erliana Riady

Menurut Fuad, satu diantara anggota kelompok tani itu, konsep marketing ini mereka pelajari ketika pembeli merasakan madu kelulut yang rasanya didominasi asam. Karena masyarakat selama ini tahunya rasa madu itu pasti manis. Mereka menduga, madu di Kebun Kelulut Sangatta kadaluarsa atau dicampuri bahan-bahan lainnya.

“Nah untuk meyakinkan mereka, kami suruh merasakan dengan menghisap madu itu langsung dari sarangnya. Mereka bisa melihat sendiri, ketika sarang kami buka, akan tampak propolisnya, beepollennya di sarang yang ada ratunya. Dan kami menyediakan pipet supaya pembeli menghisap madu langsung dari sarang yang baru kami buka,” tutur Fuad, Minggu (17/3/2024).

Mungkin, inilah fasilitas langka yang hanya bisa dijumpai di beberapa lokasi wisata madu di Indonesia. Dan sensasi menyesap madu langsung dari sarang lebah, menjawab rasa penasaran banyak pengunjung bagaimana rasa madu yang benar-benar asli hutan dan murni tanpa bahan campuran.

“Ternyata madu klanceng murni itu rasanya kecut, agak pahit tapi segar. Madunya juga cair, gak kental atau pekat seperti yang dijual kebanyakan itu. Beda banget dengan madu-madu yang judulnya murni, tapi rasanya sangat manis,” aku Purwahono, pengunjung asal Yogyakarta.

Sensasi ini menjadi nilai jual tersendiri bagi Kebun Kelulut Sangatta. Tak heran jika tiap akhir pekan, rombongan karyawan baik swasta atau negeri sampai pelajar TK memenuhi tempat ini. Pengelola bahkan sampai membatasi jumlah kunjungan, jika dirasa volume madu di rumah lebah berkurang.

“Lebahnya gak nakal kok. Jadi Ayasa gak takut. Madunya asem rasanya, tapi aku suka,” kata Ayasa, seorang siswi TK Sangatta Utara yang berkunjung bersama teman-temannya.

Namun para pengunjung tak perlu kuatir. Produk madu Kelulut Sangatta terpajang berderet di rak gazebo siap dibawa pulang. Bahkan untuk pengunjung dari luar pulau, Fuad dan kawan-kawannya siap mengirim dengan jumlah pembelian tidak terbatas. Ada yang dikemas dalam botol ukuran 250ml, ada juga yang sachetan dengan harga ekonomis.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Pura Bukit Gumang, Ratusan Anak Tangga dan Gerbang Raksasa Seolah Menuju Nirwana



Karangasem

Pura Bukit Gumang berada di atas bukit. Untuk mencapai pura, pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga dan melewati sebuah gerbang raksasa.

Pura Bukit Gumang dikenal juga dengan Pura Bukit Batu Kursi berada di Desa Adat Bugbug. Pura itu merupakan istana Ida Bhatara Gumang yang juga bernama Sang Hyang Sinuhun Kidul. Dia memiliki permaisuri Dewi Ayu Mas.

Pura Bukit Gumang berhawa sejuk. Pura itu berada di sekitar 305 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pura itu juga termasuk Dang Kahyangan di Desa Bugbug.

Rai, koordinator penjaga gapura di Pura Bukit Gumang, menyebut sebelum masuk ke dalam pura dan berfoto, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk dan menggunakan sarung (kamen) serta selendang. Pengunjung juga diimbau untuk mengenakan pakaian yang sopan.

Melihat dari luar pintu masuk, Pura Bukit Gumang memiliki candi bentar atau gapura kembar dengan ukuran raksasa, tinggi menjulang dan begitu megah. Candi bentar itulah yang menjadi spot favorit wisatawan untuk berfoto.

Untuk menuju candi bentar itu, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga. Tetapi, jangan khawatir sepanjang perjalanan traveler akan disuguhkan pemandangan pepohonan hijau dan bebukitan.

Menurut Rai, wisatawan yang berkunjung diperbolehkan naik hingga ke areal pura. Tetapi ada batasannya. Pengunjung yang sedang menstruasi, tidak diperbolehkan untuk naik ke pura.

“Pura Bukit Gumang ini tinggi, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga. Kalau pengunjung kuat, diperbolehkan naik sampai ke areal pura. Namun, di sini ada ketentuan kalau sedang menstruasi tidak diperbolehkan untuk naik,” kata Rai.

Jangan kaget, jika nanti traveler bertemu dengan monyet-monyet yang ada di sekitar pura. Tapi tenang saja, karena monyet di sini tidak agresif, kecuali pengunjung membawa makanan.


Daya Tarik Pura Bukit Gumang

Pura Bukit Gumang menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib traveler kunjungi di Bali timur. Berikut beberapa daya tarik yang dimiliki oleh Pura Bukit Gumang.

1. Arsitektur Pura yang Megah

Arsitektur Pura Bukit Gumang memang tak dapat disangkal keindahannya. Pura ini menampilkan kekayaan seni arsitektur tradisional Bali yang megah. Salah satu ciri khasnya adalah adanya candi bentar atau gapura yang besar dan megah di pintu gerbang.

Struktur bangunan yang kokoh dan hiasan-hiasan tradisional Bali yang menghiasi setiap sudut pura menambah keagungan dan keelokan tempat ini. Keindahan arsitektur Pura Bukit Gumang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung yang ingin mengagumi keajaiban seni bangunan khas Bali.

2. Pemandangan Alam Memukau

Selain keindahan arsitektur, Pura Bukit Gumang juga menawarkan pemandangan alam yang memukau. Terletak di ketinggian, pura ini menawarkan panorama indah yang meliputi hamparan perbukitan yang hijau yang luas dan menakjubkan.

Pengunjung dapat menikmati kesegaran udara sambil menikmati keindahan alam yang mempesona. Pemandangan alam yang menakjubkan ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung yang datang ke Pura Bukit Gumang.

3. Bisa Saksikan Sunset dan Berburu Spot Foto

Pura Bukit Gumang punya banyak spot foto, dengan konsep khas Bali. Terutama di gapura atau candi bentarnya yang megah. Hingga ke areal pura. Salah satu momen yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi Pura Bukit Gumang adalah kesempatan untuk menyaksikan matahari terbenam. Dengan lokasinya yang berada di bukit, pura ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler.

“Spot foto favorit itu dari bawah sampai atas juga jadi spot foto favorit. Apalagi di pura, itu banyak sekali bisa dapat view, terutama saat sunset. Itu cantik banget,” ujarnya.

Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Pura Bukit Gumang berlokasi di Kabupaten Karangasem tepatnya di Jalan Raya Bugbug, Sengkidu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Pura ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 – 19.00 WITA.

“Kalau bulan-bulan liburan, biasanya pengunjung banyak. Bisa sampai ratusan pengunjung yang datang. Biasanya ramai pada waktu siang hari,” kata Rai.

Pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 10.000 untuk domestik dan Rp 20.000 untuk mancanegara. Untuk menyewa satu set kamen dan selendang, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 untuk pengunjung domestik dan Rp 20.000 untuk wisatawan mancanegara.

Nah, demikian tadi ulasan mengenai Pura Bukit Gumang di Karangasem Bali yang bisa menjadi pilihan traveler untuk berlibur di Bali Timur. Jangan lupa gunakan pakaian yang sopan dan siapkan fisik yang prima ya traveler!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Pondok Pesantren di Subang yang Didirikan di Lingkungan Komunis



Subang

Pondok Pesantren Pagelaran III di Desa Gardusayang adalah ponpes tertua di Subang. Dahulu, ponpes ini didirikan di lingkungan komunis. Seperti apa sejarahnya?

Ponpes Pagelaran III yang sudah ada sejak tahun 1962 didirikan oleh salah satu tokoh agama di Jawa Barat yaitu Kiai Haji Muhyiddin. Ponpes Pagelaran III ini pun sekarang sudah berkembang pesat dan terkenal di masyarakat khususnya di Subang.

Menurut pengasuh Ponpes Pagelaran III Kiai Haji Arie Gifary, Ponpes yang didirikan oleh Kiai Haji Muhyiddin tersebut terbagi menjadi 3.


Ponpes Pagelaran I yang terletak di Cimeuhmal, Tanjungsiang, Subang, Ponpes Pagelaran II berada di Kabupaten Sumedang, serta Ponpes Pagelaran III di Cisalak, Subang.

“Jadi sebelum didirikan Pagelaran III sudah didirikan Pagelaran I dan II. Pagelaran I didirikan padah tahun 1918 sudah satu abad lebih, Pagelaran II 1950 dan yang terakhir di Pagelaran III ini. Kiai Haji Muhyiddin ini terkenal sebagai ulama yang kharismatik di Jawa Barat dan seorang pejuang kemerdekaan,” ujar Arie belum lama ini.

Arie mengatakan, bukan hanya menjadi ulama di Jawa Barat, sosok dari pendiri Ponpes Pagelaran Kiai Haji Muhyiddin ini juga merupakan salah satu pejuang tanah air yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Beliau dulu bergabung dengan Hizbullah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan telah diajukan menjadi salah satu pahlawan nasional di Provinsi Jawa Barat karena telah berjuang bersama dengan santri-santrinya pada saat pertempuran di Bandung,” katanya.

Arie menceritakan, berdirinya Ponpes Pagelaran III ini berawal dari Kiai Haji Muhyiddin yang diminta oleh masyarakat Cisalak Subang untuk mendirikan sebuah Ponpes untuk memperbaiki akhlak masyarakat sekitar. Sebab, bukan tanpa alasan, dari sejarah yang ada di lokasi tersebut merupakan salah satu basis dari komunis.

Oleh karena itu, Kiai Haji Muhyiddin yang saat itu masih tinggal di Ponpes Pagelaran II Sumedang hingga akhirnya menyetujui untuk pindah ke Cisalak, Subang dan mendirikan Ponpes Pagelaran III.

“Karena memang di daerah sini dulunya basis komunis sehingga dibutuhkan seorang tokoh atau ulama untuk memperbaiki akhlak masyarakat yang berada di Cisalak ini. Pada tahun 1962 Kiai Haji Muhyiddin berkenan untuk pindah ke sini dan menamai Pondok Pesantren Pagelaran III, dan Allhamdulilah sampai dengan hari ini sudah lebih dari 52 tahun Pondok Pesantren ini masih eksis berdiri,” ucapnya.

Setelah Ponpes Pagelaran III berdiri, lanjut Arie, seiring berjalannya waktu Ponpes Pagelaran III ini pun menjadi salah satu Ponpes yang terbilang berkembang dengan sangat cepat.

Kegiatan santri Ponpes Pagelaran III SubangKegiatan santri Ponpes Pagelaran III Subang Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Hingga saat ini, Ponpes Pagelaran III masih mengusung Ponpes tradisional dengan basis kitab kuning sistem sorogan atau pembelajaran kitab secara individual.

“Jadi Pondok Pesantren Pagelaran III yang didirikan oleh Kiai Haji Muhyiddin ini merupakan Pondok Pesantren tradisional. Pesantren tradisional ini mengedepankan dengan konsep pendidikan berbasis kitab kuning dengan sistem sorogan dan bandongan lah kalau bahasa dulu. Jadi itulah yang diajarkan,” kata dia.

“Selain itu juga mengembangkan kegiatan majlis taklim dan pendidikan ke masyarakat. Seiring perjalanannya dan Kiai Haji Muhyiddin wafat pada tahun 1973 dan dilanjutkan oleh salah satu putranya Kiai Haji Abdul Qoyum itu kebetulan ayah saya almarhum. Pada jaman Kiai Haji Abdul Qoyum perkembangan pesantren begitu pesat dan mulai didirikan pendidikan-pendidikan normal,” ungkapnya.

Arie menuturkan, perkembangan dari dunia pendidikan pun terus berjalan. Kini, Ponpes Pagelaran yang telah memiliki ratusan santriwan maupun santriwati tersebut telah mendirikan sekolah formal dengan tingkat SMP, SMA hingga SMK dengan sistem mondok atau boarding.

“Jadi sistem yang didirikan dan yang dilaksanakan di sini adalah sistem pesantren salafiyah yang mengedepankan pendalaman kitab-kibat tradisional atau kitab-kitab kuning hasil karangan-karangan para ulama Indonesia atau di Dunia,” tuturnya.

“Yang ke dua kita juga sudah mendirikan sekolah formal itu setingkat SMP, SMA, dan SMK tapi semuanya sistemnya boarding atau wajib mondok. Sehingga menjadi sebuah perpaduan antara sistem pendidikan umum dan pendidikan tradisional dan sekolahnya tentu berbasis pesantren atau SDP disebutnya,” sambungnya.

Dengan memadukan antara pendidikan umum dan tentunya pendidikan akhlak dari para santri, segi pendidikan di Ponpes Pagelaran III pun menjadi komprehensif karena dilaksanakan di lokasi yang berbeda akan tetapi dengan tujuan yang sama.

“Model perpaduan ini tentunya menjadi pendidikan yang komprehensif di mana pendidikan umumnya dilaksanakan di sekolah dan pendidikan akhlak pesantrennya dilaksanakan di pesantren. Sehingga membuat perpaduan dengan kurikulum yang sudah kita kemas sehingga bisa menghasilkan lulusan-lulusan terbaiknya yang alhamdulillah saat ini sudah menyebar di Indonesia,” pungkas Arie.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Semesta’s Gallery, Tempat Asyik untuk Santai sambil Melihat Karya Seni


Jakarta

Dari sekian banyak tempat hits di Jakarta, salah satu yang menarik perhatian banyak orang adalah Semesta’s Gallery. Tempat ini mendadak viral di media sosial beberapa waktu lalu karena bentuk bangunannya yang unik.

Selain itu, suasana di sekitar Semesta’s Gallery begitu asri dan tentram. Pas banget untuk travelers yang ingin healing sejenak namun tak sempat pergi keluar kota.

Ada banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan selama berkunjung ke Semesta’s Gallery. Penasaran? Simak pembahasannya dalam artikel ini.


Bagi yang mengira Semesta’s Gallery berada di luar Jakarta, jawaban detikers salah besar. Galeri seni ini masih berada di kawasan Jakarta, tepatnya di daerah Lebak Bulus.

Sebagai informasi, Semesta’s Gallery adalah galeri seni milik seorang seniman bernama Andra Semesta. Di sini, travelers dapat melihat beragam lukisan seni hasil karya Andra.

Selain itu, masih ada berbagai aktivitas seru lainnya saat berkunjung ke Semesta’s Gallery. Apa saja? Simak berikut ini:

1. Ngopi Santai

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Kalau datang ke Semesta’s Gallery, jangan lupa sempatkan diri untuk mampir ke kedai kopi yang terletak di lantai bawah. Selain bisa melihat pemandangan hijau, kamu bisa menikmati kopi hangat dan berbagai camilan yang harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp 15.000 saja.

2. Melihat Galeri Seni

Tak lengkap rasanya kalau ke Semesta’s Gallery namun tidak melihat karya lukisan dari Andra Semesta. Untuk pameran karya seninya sendiri berada di lantai 2 dan 3 gedung Semesta’s Gallery.

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Saat tim detikTravel mengunjunginya pada Kamis (14/3/2024), suasana di Semesta’s Gallery begitu sepi dan sunyi. Waktu yang pas untuk melihat dan mendalami berbagai karya seni dari Andra Semesta.

Lukisan karya Andra ini disebut sebagai ‘Music Mandala Paintings’. Lukisan ini ia buat sambil mendengarkan berbagai album musik, kompilasi lagu-lagu pribadi, atau pertunjukan musik langsung dengan menggunakan metode ‘bawah sadar’.

3. Berfoto-foto di Sejumlah Spot

Rasanya bukan anak ‘Jaksel banget’ kalau tak menyempatkan diri untuk berfoto di Semesta’s Gallery. Bangunannya yang aesthetic serta suasana hijau di sekitarnya memang sangat cocok untuk foto-foto instagramable.

Tapi perlu diingat, jangan sampai merusak atau menyentuh karya seni dari Andra Semesta. Tetap patuhi semua aturan selama berada di Semesta’s Gallery, ya!

4. Melihat Rusa

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Yap, detikers tidak salah baca. Saat berkunjung ke Semesta’s Gallery, kamu dapat melihat sejumlah rusa yang ada di dalam kandang. Tak hanya itu, kamu juga bisa melihat sejumlah ayam dan burung yang berada di kandang terpisah.

Lokasi kebun binatang mini ini terletak di pintu masuk Semesta’s Gallery. Jadi, jangan sampai terlewat ya

5. Healing Sejenak

Suasana di sekitar Semesta’s Gallery memang begitu hijau dan menenangkan. Kebetulan saat tim detikTravel datang ke galeri seni tersebut sedang diguyur hujan. Alhasil, suasananya begitu syahdu dan benar-benar bikin healing sejenak.

Ada sejumlah pengunjung yang datang ke Semesta’s Gallery untuk bekerja atau istilahnya WFA (Work From Anywhere). Wajar saja, sebab kondisi di sekitarnya yang tenang membuat orang-orang lebih mudah berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas.

Semesta’s Gallery menyediakan sejumlah fasilitas umum demi menunjang para pengunjung, di antaranya:

  • Toilet
  • Tempat parkir
  • Pameran seni
  • Mushola
  • Kedai kopi
  • Bangku taman
  • Spot foto instagramable

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk

Semesta’s Gallery buka dari pukul 10.00-17.00 WIB (Selasa-Jumat) dan 09.00-18.00 WIB (Sabtu-Minggu). Namun selama Ramadhan, jam buka Semesta’s Gallery mengalami perubahan dari pukul 11.00-16.00 WIB (Selasa-Minggu).

Sebagai informasi tambahan, Semesta’s Gallery akan tutup selama libur lebaran dari tanggal 5-19 April 2024.

Bagi pengunjung yang datang ke Semesta’s Gallery tidak dikenakan biaya tiket masuk alias gratis. Jadi, kamu bisa datang langsung ke galeri seni milik Andra Semesta, asalkan jangan datang di hari Senin karena tutup.

Semesta’s Gallery berlokasi di Jalan Taman Sari I Nomor 77, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Bagi kamu yang mengendarai mobil, harap hati-hati ketika masuk di Jalan Taman Sari I karena jalannya cukup sempit.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa datang ke Semesta’s Gallery menggunakan transportasi umum. Tetapi, detikers harus nyambung menggunakan ojek daring agar bisa sampai di Semesta’s Gallery.

Kalau naik MRT, turun di stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Setelah itu pesan ojek daring dengan tujuan Semesta’s Gallery.

Sementara itu, jika menggunakan TransJakarta maka disarankan turun di Halte Lebak Bulus. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan ojek daring untuk sampai di galeri seni.

Ingin menikmati suasana dan hasil karya lukisan Andra Semesta di Semesta’s Gallery? Simak tips-tipsnya berikut ini:

  • Datang saat weekday karena lebih sepi
  • Kalau berencana datang di weekend, usahakan datang sejak pagi karena belum ramai pengunjung
  • Bawa payung apabila cuaca sedang turun hujan
  • Persiapkan baterai smartphone dalam kondisi penuh untuk berfoto-foto
  • Ajak teman atau pasangan saat berkunjung ke Semesta’s Gallery.

Demikian pembahasan mengenai Semesta’s Gallery. So, tertarik untuk berkunjung ke sana?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Di Balik Makam Keramat Kudus, Ada Kisah Cinta Tak Direstui Putri Sunan Muria



Kudus

Sebuah makam keramat di Desa Kandangmas, Kudus menyimpan kisah cinta sedih dari Putri Sunan Muria yang tak direstui oleh orang tuanya. Seperti apa kisahnya?

Makam di Dusun Masin, Kecamatan Dawe yang dikeramatkan oleh warga setempat itu, dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.

Raden Ayu Nawangsih adalah putri dari Sunan Muria. Sementara Raden Bagus Rinangku adalah seorang santri keturunan dari Kerajaan Mataram. Keduanya saling jatuh cinta, namun tak mendapatkan restu kedua orang tua mereka.


Ketua Pengurus Makam Keramat Punden Masin, Sumartono pun menceritakan awal mula sepasang kekasih itu bisa jatuh cinta.

Menurut cerita Sumartono, Raden Bagus ditugaskan oleh Sunan Muria untuk mengawasi padi di sawah. Sedangkan, Raden Ayu sering mengirim makanan kepada Raden Bagus saat menjaga padi di sawah. Dari situlah keduanya jatuh cinta.

“Raden Bagus diberikan pekerjaan oleh Sunan Muria untuk jaga padi di wilayah Muria Selatan atau sekarang Masin. Raden Ayu sering datang untuk mengirim makanan, witing tresno jalaran saka kulino, keduanya jadi tertarik,” kisah Sumartono.

Namun sayang di balik hubungan asmara keduanya, ternyata ada santri dari Pati bernama Cibolek yang naksir Raden Ayu. Tapi sayang, Raden Ayu tidak suka dengan Cibolek karena dia jelek. Raden Ayu pun lebih memilih Raden Bagus.

“Cibolek itu jelek, cebol (kecil) memiliki keinginan untuk mempersunting Raden Ayu. Raden Ayu tidak memperhatikan Cibolek, tetapi yang diperhatikan adalah Raden Bagus,” imbuhnya.

Hubungan antara keduanya diawasi oleh Cibolek. Cibolek diam-diam mengawasi keduanya yang sedang menjalin asmara di sawah. Cibolek lalu melapor ke Sunan Muria bahwa keduanya berpacaran di sawah.

“Mereka dilaporkan Cibolek kepada Sunan Muria, ‘Anak panjengan Raden Ayu tidak sopan, di sawah dia pacaran dengan Raden Bagus’. Akhirnya dibuktikan oleh Sunan Muria. Kenyataannya, mereka pacaran. Akhirnya di rumah diberikan arahan oleh Sunan Muria. Namun mereka tetap menjalin hubungan,” lanjut Sumartono yang sudah belasan tahun menjadi Ketua Pengurus Makam Keramat Masin itu.

Setelah peristiwa itu, Cibolek melihat lagi mereka pacaran di sawah. Cibolek melapor lagi ke Sunan Muria. Dia bilang kepada Sunan Muria, bahwa padinya di sawah dirusak, habis dimakan burung.

Tapi saat Sunan Muria datang melihat padinya, ternyata tidak ada yang rusak. Semuanya masih utuh. Sunan Muria malah murka melihat anaknya yang masih menjalin hubungan dengan Raden Bagus.

Sunan Muria bahkan mengancam akan memanah putrinya sendiri. Nahas, ancamannya itu justru menjadi kenyataan dan dia melepaskan anak panah ke putrinya.

Raden Bagus yang melihatnya dan langsung menghadang anak panah itu. Anak panah itu lalu mengenai Raden Bagus hingga ia meninggal dunia.

“Raden Ayu didatangi oleh Sunan Muria, karena anaknya sudah senang dengan Raden Bagus, ‘Saya tidak mau pulang kalau tidak bersama dengan Raden Bagus’. ‘Kalau tidak mau pulang saya jemparing (anak panah)’. Karena berniat jemparing, ada setan, akhirnya lepas. Raden Bagus tahu kalau Raden Ayu mau kena Jemparing, terus dihalangi oleh Raden Bagus, dan akhirnya meninggal. Akhirnya dimakamkan di sini,” terang dia.

Raden Bagus dan Raden Ayu akhirnya dimakamkan di Masin yang sekarang dikenal Desa Kandangmas. Warga pun berdatangan untuk ziarah di makam tersebut, terutama saat hari Rabu, Kamis, dan Jumat.

Makam Itu Dikeramatkan Warga Setempat

Makam Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku kini dikeramatkan oleh warga setempat. Camat Dawe Fammy Dwi Arfana membenarkan hal tersebut.

Para peziarah datang untuk sekadar berdoa, hingga berharap mendapatkan jodoh. Dengan berdoa di makam keramat tersebut, warga berharap mendapatkan berkah dan ridho berkat menggelar sedekah kubur tersebut.

“Kami dari Kecamatan hanya bisa berdoa, semoga mendapatkan keberkahan kita semua. Tujuan untuk bersedekah berharap ridho allah,” katanya ditemui di lokasi.

Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku yang berada di Dukuh Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe, Kamis (7/3/2024).Para peziarah di Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Makam tersebut berada di atas sebuah bukit. Untuk sampai di makam, warga harus berjalan kaki sejauh 300 meter menaiki jalan setapak.

Suasana makam terlihat asri. Di sekitar makam terdapat banyak pepohonan jati yang masih rindang dan lebat. Warga tidak berani mengambil kayu jati itu karena dikeramatkan oleh warga setempat.

“Terus banyak yang datang ke sini. Sudah sore sampai subuh tidak pulang-pulang maka disabda menjadi kayu jati. Jati ini adalah sabda dari orang-orang yang takziah yang tidak mau pulang,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com