Category Archives: Domestik

Menilik Indahnya Beragam Karya Lukisan di Semesta’s Gallery


Jakarta

Semesta’s Gallery merupakan salah satu tempat yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Galeri seni ini mengusung konsep open space sehingga membuat pengunjungnya merasa betah berlama-lama di sini.

Daya tarik utama dari Semesta’s Gallery adalah pameran lukisan karya seniman Ardiandra Achmadi Semesta atau kerap disapa Andra Semesta. Karya lukis yang dipamerkan di sini dilengkapi dengan keterangan, sehingga pengunjung bisa mengetahui makna dari lukisan tersebut.

Jika penasaran, travelers bisa datang langsung ke Semesta’s Gallery yang terletak di Jalan Taman Sari I Nomor 77, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Oh ya, selain melihat pameran seni, detikers juga bisa bersantai menikmati suasana yang asri dan sunyi.


Dibuka pada 2022, Dirancang oleh Arsitek Ternama

Semesta’s Gallery dibuka untuk umum pada Oktober 2022. Saat itu, pembukaan galeri bertepatan dengan pameran pertama yang diadakan di sana, yaitu ‘Rasasastra Union Art Festival’. Pameran itu digelar oleh art collective & curatorial platform, Rasasastra.

“Pembangunan galeri sudah in progress dari tahun 2018. Arsiteknya adalah almarhum Ahmad Djuhara, yang pernah menjabat sebagai ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI),” kata Andra Semesta saat dihubungi detikTravel.

Menilik indahnya lukisan karya Andra Semesta di galeri seni miliknya, yaitu Semesta's Gallery.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Menurut Andra, tujuan dari menciptakan Semesta’s Gallery adalah agar bisa menjadi wadah untuk berbagai macam seniman dan kesenian. Tak hanya seni rupa, namun juga bisa seni musik maupun seni performance lainnya.

“Kami harap gallery/venue kami terus bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berbagai macam seniman untuk bisa mengekspresikan diri mereka. Semoga selalu ada komunikasi yang baik antara seniman dan penikmat seni, dari segala umur dan background. Yang pasti kita mau menunjukkan karya-karya yang inspiratif dan unik, menunjukkan keindahan dalam segala variasinya,” ujar Andra.

Di Semesta’s Gallery juga terdapat studio seni pribadi milik Andra Semesta. Harapannya, ia ingin mengembangkan kesenian miliknya sambil membantu menjadi host untuk berbagai pameran acara yang digelar di tempatnya.

“Saya tidak bisa hanya berhenti untuk membuat studio pribadi, why not membuka ruang untuk masyarakat yang berkesenian bisa berekspresi dan menikmati seni di sini juga,” ungkapnya.

Untuk melihat berbagai lukisan karya Andra Semesta, travelers perlu mengunjungi lantai 2 dan 3 Semesta’s Gallery. Sebab, di lantai 1 merupakan kedai kopi yang menjual berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau.

Saat berkunjung ke sana, tim detikTravel melihat berbagai lukisan karya Andra yang begitu memukau. Dalam salah satu keterangannya, lukisan Andra disebut sebagai proyek Music Mandalas Painting.

Ada makna dibalik kata ‘Mandala’ dalam proyek karya seninya. Jadi, ‘Mandala’ dalam arti murninya berarti lingkaran. Secara tradisional, seni mandala yang biasanya memiliki 4 atau 8 sisi dan penuh dengan gambar tokoh dewa-dewa, umumnya digunakan untuk meditasi atau praktisi spiritual dalam agama Hindu atau Buddha.

“Music Mandala Paintings adalah proyek di mana saya melukiskan apa yang saya rasakan Ketika mendengarkan berbagai macam jenis musik. Biasanya sambil mendengarkan album spesifik, berbagai macam playlist, atau melukis sebagai performance art, sambil suatu live show berjalan, berkolaborasi dengan musisinya. Biasanya menggunakan kanvas lingkaran,” jelas Andra kepada detikTravel.

Sebagian besar karya lukis di galeri seninya muncul sebagai lukisan abstract-expressionist, yang menurut Britannica, merupakan seni lukis abstrak yang populer pada tahun 1950-an di kawasan Barat.

“Saya cukup terinspirasi dengan keindahan dan desain Mandala tradisional, tetapi jenis Mandala yang mendorong saya untuk akhirnya banyak berkarya adalah praktik Mandala psikologikal yang dimulai oleh psikiater Carl Jung.”

“Carl Jung sempat melakukan praktisi di mana dia menggambar apapun yang dirasakan mengikuti bawah sadarnya di atas bentuk lingkaran setiap hari, dan berbagai macam bentuk dan simbol yang keluar di dalam lingkaran-lingkaran tersebut menjadi titik refleksi diri,” kata Andra.

Andra mengatakan, praktik Mandala psikologikal ini telah dilakukan sejak masih duduk di bangku SMA, sekitar tahun 2007-2009. Hal tersebut membuat Andra jadi kerap menggambar apapun yang dirasakannya di atas lingkaran hampir setiap hari.

Memasuki 2010, Andra mengaku ada banyak hal dari dalam dirinya yang perlu diekspresikan. Kala itu, ada sejumlah album musik yang dirasa cocok dengan hal-hal yang perlu ‘ditumpahkan’ ke dalam bentuk gambar.

“Lalu saya coba nyalakan album-album (lagu) itu sambil melukis di kanvas lingkaran. Karya yang muncul menurut saya begitu indah dan ekspresif dan saya merasakan flow berkarya yang mengalir lebih baik dari sebelumnya. Sejak saat itu, Music Mandalas menjadi suatu konstan dalam kehidupan saya sebagai seniman,” ungkapnya.

Dari sekian banyak karya lukis yang telah dibuat, salah satu lukisan favorit Andra dalam proyek Music Mandala Paintings adalah sambil mendengarkan album Pink Floyd pertama, yaitu The Piper at the Gates of Dawn yang dirilis pada 1967.

“Melodi-melodi, lirik-lirik, dan eksperimen musik frontman Pink Floyd pada saat itu, Syd Barrett, sangat menginspirasi saya, dan pembuatan lukisan ini mengalir dengan flow yang susah dijelaskan,” ujar Andra.

Menilik indahnya lukisan karya Andra Semesta di galeri seni miliknya, yaitu Semesta's Gallery.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Karya lukisan tersebut pernah dipajang di Semesta’s Gallery dari November sampai Desember 2023. Namun untuk saat ini karyanya sedang disimpan di gedung Semesta’s Home, yang masih satu area dengan Semesta’s Gallery.

Apabila sedang tidak ada pameran khusus dari seniman atau kolektif seni lainnya, Andra memajang berbagai macam karya di ruang-ruang exhibition Semesta’s Gallery. Rata-rata merupakan proyek Music Mandalas, tetapi ada juga karya lainnya seperti seri semi-abstract ‘Animal Symmetry’.

Selain itu, ada juga seri konseptual gabungan fan art pokemon dan tribute untuk seniman-seniman yang telah menginspirasi Andra Semesta, yakni ‘Art-type Stones Eeveelutions’.

Target dan Harapan Andra Semesta

Sejak dibuka pada 2022, banyak masyarakat khususnya anak muda yang berkunjung ke Semesta’s Gallery. Selain melihat karya seni, pengunjung juga banyak yang berfoto-foto di dalam galeri seni atau sekadar menikmati pemandangan hijau di sekitarnya.

Oh ya, di area Semesta’s Gallery juga terdapat sejumlah coffee shop. Daya tarik lainnya dari tempat ini adalah terdapat mini zoo yang dihuni hewan-hewan seperti rusa, burung, dan ayam.

Walau sudah memiliki galeri seni sendiri, Andra Semesta masih memiliki target ke depannya. Ia berharap Semesta’s Gallery dapat terus digunakan sebagai ruang untuk mengekspresikan hal-hal seunik mungkin dari berbagai seniman.

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

“Sebagai seorang seniman saya ingin terus berkembang dan bisa membuat berbagai macam karya dan proyek kesenian lainnya. Bukan hanya seni rupa tapi dalam alternatif lainnya juga,” jelasnya.

“Saya berharap berbagai macam seniman akan terus bisa menggunakan ruang dalam dan luar Semesta’s Gallery untuk ekspresi-ekspresi yang seunik mungkin,” pungkas Andra.

Di 2024, ada sejumlah display koleksi terbaru yang dipamerkan di Semesta’s Gallery, di antaranya:

  1. Instalasi Music Mandala scarves yang dikaitkan di ceiling ruang display open space lantai 2. Hal ini dapat memberi efek melambai-lambai ketika ditiup angin.
  2. Instalasi komposisi Mandala kayu di open space lantai 2.
  3. Tenun Sumba karya Naomi Njamur yang merupakan koleksi Ria Pasaman, ibu dari Andra Semesta, yang dipajang di exhibition room indoor lantai 2.

So, tertarik untuk berkunjung ke Semesta’s Gallery? Jika iya, jam operasional galeri seni ini buka sejak pukul 10.00-17.00 WIB (Selasa-Jumat) dan 09.00-18.00 WIB (Sabtu-Minggu). Sebagai pengingat, setiap Senin galeri tutup untuk umum.

Namun, selama Ramadhan ada perubahan jam buka Semesta’s Gallery menjadi pukul 11.00-16.00 WIB yang berlaku setiap Selasa-Minggu. Lalu, galeri seni akan tutup selama libur lebaran dari tanggal 5-19 April 2024.

Oh ya, tidak ada biaya tiket masuk alias gratis saat berkunjung ke Semesta’s Gallery. Jadi, kamu bisa mengajak teman atau pasangan untuk menikmati suasana sambil melihat karya lukisan Andra Semesta.

Demikian pembahasan mengenai Semesta’s Gallery. Kalau bingung menghabiskan waktu di akhir pekan, langsung saja datang ke galeri seni ini ya, travelers!

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Kafe Estetik di Tuban, Punya View Hutan Mangrove



Badung

Tak banyak yang tahu, kafe satu ini mempunyai view hutan mangrove yang cantik dan estetik. Namanya Koffietons Mangrove, Tuban.

Dari luar, kafe ini terlihat seperti kafe pada umumnya. Memiliki tema cozy yang didominasi dengan warna hitam dan tumbuhan hijau di depannya.

Meskipun berlokasi di kawasan Tuban yang ramai, Koffietons menawarkan suasana yang berbeda. Ketenangan yang berpadu dengan indahnya pemandangan hutan mangrove dapat traveler temui di sini.

Koffietons Mangrove, Tuban, Badung, BaliKoffietons Mangrove, Tuban, Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Memasuki kafe, traveler akan disambut dengan ramah oleh resepsionis kafe dan disajikan mineral water dingin dengan cuma-cuma. Konsepnya yang cozy modern dengan suasana yang tenang membuat Koffietons menjadi tempat favorit untuk nongkrong dan bekerja atau mengerjakan tugas.

Terdapat banyak pilihan tempat duduk. Namun tempat duduk yang paling menarik di Koffietons Tuban adalah tempat duduk yang menghadap langsung ke hutan mangrove. Lebatnya pohon mangrove dan ketenangan airnya akan membuat traveler betah berlama-lama di kafe ini.

Tak jarang spot ini menjadi spot favorit pengunjung untuk hunting foto yang kece. Bahkan harus berebutan untuk mendapatkan tempat duduk yang menghadap langsung ke hutan mangrove ini. Cuma ada empat kursi loh!

Koffietons Mangrove, Tuban, Badung, BaliKoffietons Mangrove, Tuban, Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Berlokasi di Jalan Bypass Ngurah Rai Tuban 33a-34b, Kabupaten Badung, Koffietons Tuban menawarkan pilihan menu beragam. Mulai dari kopi yang strong, kopi susu, hingga menu non kopi lainnya. Tidak lupa traveler juga bisa menikmati pilihan makanan ringan seperti Basque Cheese Cake dan makanan berat seperti Dory Sambal Matah.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Untuk menu minuman mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu dan menu makanan mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 110 ribu. Koffietons Tuban buka setiap hari mulai pukul 11.00 – 21.00 WITA.


Dengan segala yang disuguhkan oleh Koffietons Tuban, tidak mengherankan bahwa tempat ini menjadi idola bagi para penggemar kopi dan pecinta spot estetik. Atmosfer yang tenang, pemandangan yang menenangkan, serta hidangan yang menggugah selera, semuanya menyatu dalam sebuah paket komplit di kafe ini.

Jadi, bagi traveler yang lagi cari tempat nongkrong estetik dan nyaman, Koffietons Tuban adalah jawabannya. Ingat datang lebih awal ya, jangan sampai kehabisan spot terbaik di Koffietons Tuban.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Bugel Banten (Bugle Beach Mega Camara), Surga Tersembunyi di Pandeglang



Pangandaran

Pantai selalu memberikan suasana yang menyegarkan, menenangkan, dan menyenangkan. Anginnya yang sepoi-sepoi dan pemandangannya yang indah sangat cocok untuk kamu yang ingin rehat setelah seminggu penat bekerja.

Pantai Bugel Banten, merupakan salah satu pantai yang menyuguhkan surga indah tersembunyi yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Pantai ini memiliki garis pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang berpadu dengan karang. Langsung saja berikut ulasannya untuk kamu yang pengin liburan ke sini.


Daya Tarik Pantai Bugel Banten

Pantai Bugel Banten (Bugel Beach Mega Camara, eks Mega Camara Golf Course) bisa dibilang memiliki lokasi yang unik karena letaknya yang tersembunyi. Kamu akan melewati hutan dan tanah sebelum akhirnya menemukan pantai yang indah dan cukup tersembunyi ini.

Selain itu jika di pantai umumnya banyak pohon kelapa, berbeda dengan pantai satu ini, kamu akan disuguhkan dengan hamparan rumput hijau di setiap bibir pantai yang bercampur dengan batu karang.

Tempat ini sangat cocok untuk liburan bersama keluarga di akhir pekan. Anak-anak akan sangat senang karena bisa bermain air atau pasir yang ada di bibir pantai ini.

Untuk kamu yang ingin berkemah, tempat ini juga sangat cocok karena pemandangan malamnya yang menawan. Gratis untuk mendirikan tenda, dan tidak ada batasan waktu yang diberikan untuk berkunjung.

Kamu juga tidak perlu repot-repot mempersiapkan makanan untuk berkemah, karena di sana juga terdapat warung yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan.

Lokasi dan Aksesibilitas Pantai Bugel Banten

Pantai ini berjarak sekitar 2 jam dari Pandeglang melewati Tanjung Lesung dan Pantai Batu Hideung dengan pemandangan jalan yang sangat indah.

Kondisi jalan menuju lokasi juga masih cukup bagus tanpa kendala. Kemudian jika sudah sampai di gerbang pintu masuk, lokasi menuju bibir pantai sekitar 5-10 menit.

Harga Tiket dan Jam Buka Pantai Bugel Banten

Harga tiket masuk untuk pengunjung pantai ini mulai dari Rp 10.000,00.

Pantai ini juga buka selama 24 Jam, sehingga tidak perlu khawatir karena kamu bisa menikmati keindahan pantai ini setiap saat.

Nah itu dia sedikit ulasan mengenai Pantai Bugel Banten yang merupakan surga tersembunyi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Jangan lupa untuk mengajak teman, keluarga, atau pasanganmu ke sini untuk menghabiskan akhir pekan bersama.

(inf/inf)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Unik di Probolinggo, Berbentuk Kubah tapi Tanpa Tembok



Probolinggo

Di Probolinggo, ada sebuah masjid unik. Masjid ini berbentuk kubah, tapi tidak memiliki tembok. Inilah Masjid Al-Ikhlas alias Masjid Kurung.

Bagi pengguna jalan yang melintas di jalur pantura Probolinggo-Situbondo, tepatnya di Kecamatan Pajarakan, pasti sudah tidak asing lagi dengan masjid ini.

Masjid ini unik, berbeda dengan masjid lainnya. Masjid itu bernama Masjid Al-Ikhlas atau orang-orang mengenalnya sebagai Masjid Kurung.


Itu lantaran bentuknya menyerupai kurungan atau kubah sangkar tanpa adanya dinding di pinggirannya. Masjid kurung ini dibangun tahun 1979 oleh Pabrik Gula (PG) Pajarakan.

Saat itu, masjid ini dijadikan tempat ibadah untuk para pekerjanya. Sebelum dibangun masjid, mulanya tempat tersebut musala lalu dikembangkan dan dibangun menjadi masjid.

“Sebelum dibangun jadi masjid, awalnya hanya musala kecil dan memang digunakan untuk ibadah bagi warga yang bekerja di PG Pajarakan. Karena itu kurang lebih pada tahun 1979 oleh pihak pabrik dibangun menjadi masjid,” kata Takmir Masjid Kurung, Suyono, Sabtu (16/3) akhir pekan lalu.

Masjid Kurung Prajarakan ProbolinggoMasjid Kurung Prajarakan Probolinggo Foto: M Rofiq

Pembuatan masjid kurung tanpa dinding ini, lanjut Suyono, diinisiasi pimpinan PG Pajarakan kala itu bernama Ir Djoko Suandono. Seluruh konstruksi bangunannya mengadopsi dari bangunan Masjid Agung Kabupaten Jember.

“Hanya saja perbedaannya kalau Masjid Agung di Jember itu menyerupai kura-kura, kalau Masjid Al-Ikhlas di sini atau Masjid Kurung ini menyerupai batok atau kurungan,” jelas Suyono.

Sejak awal dibangun, hingga saat ini, bentuk konstruksi masjid berkapasitas 400 orang ini tidak pernah diubah sedikitpun.

Hanya saja, pengurus atau pengelola masjid biasanya sebatas mengganti atau memperbarui cat hingga melakukan penambahan pagar di sekeliling masjid.

“Perlengkapan yang ada di dalam masjid juga tidak berubah mulai dulu. Seperti mimbar, lampu gantung di tengah-tengah dan lain-lainnya. Jadi mulai awal dibangun sampai sekarang, perawatannya lebih fokus perbaruan cat atau pergantiannya saja,” ungkapnya.

Sementara itu, selama bulan Ramadan, masjid tersebut tetap beroperasi seperti biasa. Salah satu aktivitasnya yaitu membagikan takjil, tarawih dan tadarus.

“Untuk kegiatan keagamaan sama seperti masjid yang lain, untuk bulan Ramadan kali ini selain untuk berjamaah ada agenda buka puasa bersama, bagi-bagi takjil, salat tarawih dan tadarus,” tandasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tongkat KH Hasyim Asy’ari dan Kisahnya Bisa Dilihat di Museum Ini



Jombang

Tongkat Kiai Hasyim Asyari dan ratusan koleksi tentang penyebaran Islam di Nusantara bisa traveler lihat di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha) Jombang.

Tongkat itu konon menjadi simbol restu sang guru untuk mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Saat ini, baru beberapa memorabilia KH Hasyim Asy’ari yang dipajang di ruangan khusus di Minha.

Memorabilia itu antara lain tongkat kayu, kursi, centong nasi, serta kitab kuno. Di antara koleksi tersebut, tongkat Mbah Hasyim-lah yang paling menarik.


Koordinator Minha, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, tongkat Mbah Hasyim yang dipajang saat ini hanya replikanya. Tongkat kayu jati itu berdimensi panjang 87 cm, diameter atas 2,5 cm, sedangkan diameter bawahnya 1,4 cm.

“Tongkat asli hanya diperlihatkan saat peresmian Minha oleh Presiden pada 2018. Setelah itu, tongkat diganti replika dengan alasan keamanan,” kata Wicaksono.

Menurut Wicaksono, kitab-kitab kuno koleksi Mbah Hasyim juga menarik. Koleksi tersebut dipinjam dari perpustakaan Ponpes Tebuireng, yakni pesantren yang didirikan Mbah Hasyim. Terdapat tulisan tangan Mbah Hasyim pada kitab tersebut.

“Ada catatan-catatan kecil yang ditulis Mbah Hasyim sendiri di dalam naskah. Kalau dikaji menarik karena menggambarkan pemikiran Mbah Hasyim saat itu,” terangnya.

Museum KH Hasyim Asy'ari yang menyimpan sejumlah koleksi. Salah satunya tongkat milik pendiri NU tersebut.Tongkat milik pendiri NU di MINHA. Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Saat ini, Minha mempunyai 317 koleksi tentang sejarah masuknya Islam ke nusantara dari abad 11 sampai 19 masehi, serta perkembangan Islam di Indonesia abad 20-21 masehi.

Ke depan, Wicaksono berencana menambah koleksi tentang ketokohan Mbah Hasyim dan cucunya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Tahun ini kami berencana mencari koleksinya Mbah Hasyim dan Gus Dur. Rencana kami, karena museum ini juga melayani perziarah Makam Gus Dur, kami akan membuat ruang pamer sendiri menyajikan informasi ketokohan dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur,” ujarnya.

Asisten Kurator Minha, Ari Setiawan menjelaskan, Mbah Hasyim mempunyai beberapa tongkat untuk aktivitas sehari-hari. Salah satunya tongkat pemberian guru Mbah Hasyim, Syaikhona Kholil dari Bangkalan, Madura.

Menurut cerita, lanjut Ari, gagasan mendirikan NU datang dari KH Wahab Chasbullah, pengasuh Ponpes Tambakberas, Jombang. Kiai Wabah menyampaikan ide tersebut kepada Mbah Hasyim yang kala itu menjadi rujukan para ulama di Jawa dan Madura.

Mbah Hasyim pun meminta petunjuk kepada Allah SWT. Petunjuk yang datang kepadanya kala itu berupa restu dari gurunya, Syaikhona Kholil.

Sang guru mengutus santrinya, KH As’ad Syamsul Arifin menyerahkan tongkat kepada Mbah Hasyim pada 1923. NU didirikan 3 tahun setelahnya, yakni pada 1926.

“Jadi, tongkat ini diberikan Syaikhona Kholil kepada Mbah Hasyim sebagai simbol restu pendirian NU,” jelasnya.

Minha juga memajang kitab kuno koleksi Mbah Hasyim. Menariknya, terdapat tulisan tangan Mbah Hasyim dalam Bahasa Arab pada sampul dalam kitab kuno ini.

“Mbah Hasyim menulis beliau beli seharga Rp 6 pada 20 Jumaditsaniyah 1343 hijriyah,” tandas Ari.

Jam Buka dan Lokasi MINHA

Bagi traveler yang tertarik berkunjung ke Minha, lokasinya masih satu kompleks dengan Wisata Religi Makam Gus Dur di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang. Museum 3 lantai ini buka setiap hari pukul 09.00 WIB-14.30 WIB.

Koleksi di lantai 1 berupa kitab-kitab kuno para ulama nusantara, mahkota dan kipas berbahan emas, perhiasan, mata uang islam, prasasti, pakaian, rempah-rempah yang dijual saudagar Islam kala itu hingga porselin dan tembikar dari Banten.

Beragam koleksi tersebut dibagi berdasarkan area masuknya Islam ke Nusantara abad 11-19 masehi. Mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Maluku, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Sedangkan lantai 2 sejarah Islam dalam melawan kolonialisme, lantai 3 tentang Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tips Penting dan Apa Saja yang Dilarang


Jakarta

Suku Baduy memiliki daya tarik wisata yang kuat hingga banyak turis yang ingin berkunjung ke tempat tinggal mereka di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Karena mereka masih memegang teguh adat istiadat, maka pengunjung juga harus mengikuti aturan di sana. Sebelum berwisata ke Desa Kanekes, kamu harus tahu tips penting dan hal-hal yang dilarang di sana.

Tips Penting Berkunjung ke Desa Baduy

Berikut ini sejumlah tips penting jika kalian berkunjung ke Desa Baduy:


1. Persiapkan Badan Bugar

Saat berkunjung ke tempat tinggal suku Baduy, persiapkan fisik yang sehat dan bugar. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu 2-4 jam jalan kaki. Buat kamu yang tidak terbiasa berjalan jauh, lebih baik melatih fisik rutin sebelum berangkat.

2. Kenakan Alas Kaki Nyaman

Siapkan alas kaki yang nyaman karena medan di sana adalah perbukitan dengan jalan berbatu licin. Meski orang Baduy nyaman tanpa alas kaki, sebaiknya kamu tidak perlu menirunya. Pakailah sepatu untuk trekking agar tidak mudah terpeleset dan cedera.

3. Pakai Pakaian Sopan dan Nyaman

Jangan sampai salah kostum. Orang Baduy masih sangat menjaga adat istiadat. Gunakanlah pakaian yang sopan dan nyaman.

4. Bawa Botol Minum

Siapkan botol minum sendiri agar tubuh tetap terhidrasi selama perjalanan jauh. Jangan bawa botol sekali pakai karena lingkungan di sana terbebas dari sampah plastik.

5. Bawa Payung atau Jas Hujan

Wilayah Desa Kanekes sering hujan. Ingat untuk membawa payung atau jas hujan agar tidak kehujanan di jalan.

6. Bawa Uang Tunai

Selalu bawa uang tunai untuk membeli makanan atau oleh-oleh. Sebagian UMKM sudah menggunakan QRIS, tapi banyak penjual yang masih menggunakan transaksi tunai.

Hal yang Dilarang di Desa Baduy

Dikutip dari buku Cerita dari Suku Baduy (2020) terbitan Kemdikbud yang disusun Tuti Adhayati dan Mantox Studio, serta dari situs indonesia.travel, berikut ini 14 hal yang tidak boleh dilakukan saat berkunjung ke Desa Baduy:

1. Bicara Kotor

Saat masuk ke Desa Baduy, kalian harus menjaga kesopanan, termasuk dalam perkataan. Jangan sampai berbicara kotor, meski itu hanya candaan yang biasa dilakukan dengan teman.

2. Pria-Wanita Tidur Satu Ruangan

Bagi tamu rombongan yang menginap, maka pria dan wanita akan ditempatkan di ruang terpisah, kecuali pasangan suami-istri.

3. Bertindak Asusila

Melakukan tindakan asusila juga dilarang keras dilakukan di Desa Kanekes atau Baduy. Tetap jaga etika ketika masuk wilayah orang lain.

4. Membuang Sampah Sembarangan

Desa Baduy sangat menjaga kelestarian lingkungannya. Maka pengunjung jangan membuang sampah sembarangan, khususnya sampah plastik dan kaleng. Ini juga termasuk puntung rokok.

5. Bawa Wadah Nasi dari Plastik dan Kertas

Jika ingin membawa bekal nasi dari rumah, jangan menggunakan wadah dengan unsur plastik dan kertas. Pakailah daun pisang sebagai pembungkusnya.

6. Membawa dan Menggunakan Sabun, Sampo, dan Pasta Gigi

Untuk menjaga kelestarian alam, pengunjung tidak boleh membawa dan menggunakan sabun, sampo, serta pasta gigi saat berkunjung ke Desa Baduy. Kandungan kimianya bisa mengotori air sungai.

7. Memotret dan Merekam Video

Memotret dan merekam video masih diperbolehkan di Baduy Luar. Namun, di lingkungan Baduy Dalam (Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana), tidak diperbolehkan memotret dan merekam video.

8. Membawa Radio dan Pengeras Suara

Pengunjung dilarang membawa radio, tape, dan pengeras suara ketika masuk ke kawasan Baduy karena bisa mengganggu ketenangan masyarakat Baduy.

9. Membawa Gitar

Piknik biasanya lebih seru jika membawa gitar. Namun hal ini tidak diperbolehkan di Desa Baduy. Mereka memiliki beberapa alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, seperti celempung, angklung buhun, karinding kuskus, dan suling.

10. Membawa Senjata

Tempat wisata mana pun melarang pengunjung membawa senjata tajam dan senjata api. Ini bisa mengganggu ketertiban serta membahayakan diri sendiri dan orang lain.

11. Menebang/Mencabut Tanaman

Pengunjung dilarang menebang atau mencabut tanaman di kawasan Baduy. Selama perjalanan jangan iseng memetik atau mencabut tanaman, meskipun kecil.

12. Masuk ke Hutan Lindung

Wisatawan dilarang masuk ke hutan lindung dan hutan tutupan/leuweung kolot. Hutan ini sangat dilindungi kelestariannya, sehingga tidak boleh sembarangan masuk.

13. Membawa Miras dan Narkoba

Minuman keras (miras) dan narkoba dilarang dibawa masuk ke kawasan Baduy. Jika nekat, tentu pengunjung yang bersangkutan bisa berurusan dengan kepolisian.

14. Masuk ke Baduy Dalam di Bulan Kawalu

Di bulan Kawalu sesuai penanggalan Baduy, masyarakat luar dilarang berkunjung ke Baduy dalam selama 3 bulan berturut-turut.

Itulah tadi berbagai tips penting bagi kalian yang ingin berwisata ke Desa Baduy, lengkap dengan hal apa saja yang dilarang di sana.

(bai/inf)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Pohon Angsana di Kulon Progo, Dipercaya Tongkatnya Sunan Kalijaga



Kulon Progo

Sebuah pohon angsana raksasa di Kulon Progo dipercaya warga sebagai jelmaan tongkat Sunan Kalijaga. Bagaimana kisahnya?

Pohon angsana yang juga punya nama lain Sonokembang ini bisa dijumpai traveler di Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo.

Lokasi persisnya berada di dalam area pemakaman umum yang terletak tepat di belakang masjid peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Kedondong atau biasa disebut Masjid Kedondong.


Wujud pohon angsana ini terlihat mencolok jika dibandingkan dengan tumbuhan lain yang ada di area pemakaman itu. Selain karena menjadi satu-satunya pohon angsana yang tumbuh di sana, ukuran pohon yang raksasa juga jadi alasannya.

Ketinggian pohon ini nyaris seukuran menara sutet dan lebar batangnya mencapai lebih dari 1,5 meter. Sementara daunnya tumbuh rimbun hingga hampir menutupi sekujur pohon. Namun sayang, belum ada penelitian tentang berapa usia pohon ini.

Pohon raksasa ini mempunyai cerita tak biasa. Sebab, tanaman itu diyakini merupakan peninggalan Wali Songo, tepatnya berasal dari tongkat yang ditancapkan oleh Raden Said atau dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Imam Masjid Kedondong, Solihudin bercerita, kisah pohon angsana ini bermula ketika Sunan Kalijaga bersama muridnya, Adipati Teroeng atau Panembahan Bodho, sedang dalam perjalanan menuju wilayah Demak, Jawa Tengah.

Di tengah perjalanan, Sunan Kalijaga mengajak Adipati Teroeng untuk rehat. Lokasi peristirahatan berada di tepi Sungai Tinalah, Semaken.

Saat sedang rehat, Sunan Kalijaga berpikiran untuk membangun sebuah masjid. Ide ini muncul karena dia ingin agar agama Islam bisa lebih dikenal masyarakat.

“Sewaktu beristirahat di dekat Sungai Tinalah ini, kemudian Sunan Kalijaga berinisiatif membangun suatu tempat ibadah agar bisa digunakan warga desa, sehingga Sunan Kalijaga memerintahkan Adipati Teroeng untuk membangun masjid,” ujar Solihin saat ditemui di lokasi, Selasa (19/3).

Kondisi Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami' Sunan Kalijaga Kedondong, Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo, Selasa (19/3).Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

Sunan Kalijaga lalu menancapkan sebuah kayu sebagai patok awal lokasi masjid yang akan dibangun oleh Adipati Teroeng. Selanjutnya Sunan Kalijaga meninggalkan muridnya untuk melanjutkan perjalanan menuju Demak.

“Kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Demak. Namun, sebelum berangkat itu Sunan Kalijaga memberi tanda berupa tongkat yang jadi patokan lokasi berdirinya masjid,” ujarnya.

Karena dapat mandat dari gurunya, maka Adipati Teroeng lantas memulai proses pembangunan masjid. Namun sebelum itu Adipati Teroeng mengecek dulu apakah lokasinya sudah pas.

Setelah diteliti ternyata patok lokasi yang dipilih Sunan Kalijaga terlalu dekat dengan sungai. Menurut Adipati Teroeng, lokasi ini dinilai tidak aman karena berpotensi abrasi sehingga titiknya digeser menjauhi sungai.

“Jika tetap dibangun sesuai patok, ada potensi lokasi terkikis aliran sungai. Sehingga Adipati Teroeng berinisiatif menggeser titik lokasi agak ke timur sejauh 100 meter dari titik awal tadi,” terang Solihudin.

Masjid Ini Sudah Ada Sejak Abad 15

Singkat cerita Masjid Kedondong akhirnya berdiri. Dalam catatan sejarah, masjid ini sudah ada sejak abad 15 atau tepatnya tahun 1477 Masehi.

Bersamaan dengan perkembangan Masjid Kedondong, muncul sebuah pohon angsana yang tumbuh di sisi barat atau belakang masjid. Pohon ini berdiri di sekitar patok awal tempat di mana masjid Kedondong seharusnya didirikan.

Oleh karena itu, warga meyakini jika pohon angsana tersebut merupakan tongkat kayu milik Sunan Kalijaga. Keyakinan warga kian menguat setelah mengetahui hanya ada satu pohon angsana di lokasi itu.

“Jadi kemudian tongkat yang ditancapkan Sunan Kalijaga, ternyata tumbuh jadi pohon angsana. Anehnya pohon ini tidak bisa berkembang biak, di sini cuma ada satu pohon tersebut yang letaknya ada di belakang masjid,” pungkas Solihudin.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Batu Parsidangan, Tempat Hukuman Mati Pelanggar Adat di Samosir



Jakarta

Pulau Samosir yang indah itu punya cerita yang menarik. Di sana terdapat sebuah batu, yang digunakan sebagai tempat persidangan orang yang melanggar adat.

Namanya Batu Kursi Persidangan Huta Siallagan. Sesuai namanya, batu ini dijadikan tempat hukuman mati di Huta Siallagan, Samosir.

Batu Kuris Persidangan dipaparkan juga dalam MUKADIMAH Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial berjudul ‘Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Objek Wisata Sejarah Batu Kursi Persidangan Siallagan, Desa Siallagan Pindaraya, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir’ oleh Deliana Sinaga, Arkilaus Wabia & Aidina Rizky Salsabilah.


Batu Kursi Persidangan Huta Siallagan diperkirakan sudah berusia 200 tahun dan dikelilingi dengan batu-batu yang disusun setinggi 1,5 meter. Dahulu, batu persidangan digunakan untuk mengadili pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat.

Batu Kursi Persidangan di Huta Siallagan, Samosir. (instagram.com/hutasiallagan)Batu Kursi Persidangan di Huta Siallagan, Samosir. (instagram.com/hutasiallagan) Foto: Batu Kursi Persidangan di Huta Siallagan, Samosir. (instagram.com/hutasiallagan)

Batu kursi di kampung Siallagan ditempatkan di dua lokasi sesuai aturan dan fungsi yang berbeda. Kelompok batu pertama diletakkan di tengah Huta Siallagan sebagai tempat rapat bagi raja atau pengetua adat untuk membicarakan dan mengadili perkara kejahatan.

Sementara itu, kelompok batu kedua diletakkan di bagian timur dari batu kursi pertama sebagai kursi untuk raja, penasihat raja, tokoh adat serta masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati.

Pelaksanaan hukuman di Batu Persidangan

Konon, hukuman mati juga dilaksanakan tidak disembarangan hari. Biasanya, dilakukan pada hari baik atau di ‘hari buruknya’ si pelaku kejahatan. Biasanya, yang melakukan kejahatan berat adalah orang-orang yang punya ilmu hitam.

Beberapa waktu lalu, detikcom berkunjung ke Huta Siallagan. Kejahatan ringan hingga berat diputuskan di batu ini. Ada lima orang yang akan memutuskan hukuman, yaitu dua penasehat korban, dua penasehat terdakwa dan satu penasehat kerajaan.

“Mencuri, itu dipanggil kemari. Kalau mau bebas harus tebus, itu keputusan raja, dua tindak pidana umum, membunuh, memperkosa. Perkelahian antar kampung, kalau tidak ada hubungan dengan kewibawaan kerajaan biasanya keputusannya di tangan kelima penasehat ini,” kata Tour Guide Batu Siallagan, Gading Jonson.

Batu Persidangan di Huta Siallagan Samosir (Farid/detikSumut)Batu Persidangan di Huta Siallagan Samosir (Farid/detikSumut) Foto: Farid Achyadi Siregar

Hukuman tertingginya adalah dipenggal oleh raja. Warga yang mendapatkan keputusan hukuman mati di antaranya mereka yang mengganggu kewibawaan kerajaan, panglima perang musuh yang tertangkap, serta orang yang mengganggu keluarga atau istri raja.

Pelaksanaan hukuman pancung dilakukan di Batu Parsidangan kedua, dimana ada batu panjang untuk tempat memenggal orang. Terdakwa akan ditutup matanya, tangannya diikat ulos. Jika menyimpan ilmu kebal atau ilmu gaib, kemampuannya akan dihisap oleh raja dengan semacam tongkat sakti.

Setelah itu, barulah dia akan dipenggal oleh algojo. Tidak hanya dipenggal, jantung dan hatinya diambil. Nah, ada cerita, di zaman dahulu, daging terdakwa dibagikan kepada seluruh hadirin yang menonton pengadilan itu untuk dimakan.

Namun, jangan lantas ini dianggap praktek kanibalisme yang liar ya. Dahulu memang ada kepercayaan untuk memakan daging, hati, jantung dan darah terdakwa untuk mendapatkan ilmu tinggi.

Sekarang batu ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Samosir. Lokasinya di Desa Siallagan Pindaraya, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

(sym/sym)





Sumber : travel.detik.com

Misteri Telaga Warna dan Mitos Dieng yang Masih Dipercaya


Jakarta

Telaga Warna dan Dieng menyimpan misteri yang masih banyak dipercaya masyarakat. Inilah misteri Telaga Warna dan mitos-mitos yang ada di Dieng.

Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng adalah salah satu tempat wisata menarik di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dinamakan demikian karena warna telaga ini bisa berubah ubah, dari warna hijau, kuning, hingga pelangi.

Di balik keindahannya, ada misteri Telaga Warna dan mitos-mitos tentang Dieng yang masih banyak dipercaya oleh sejumlah masyarakat. Hal ini termasuk asal-usul, tempat keramat, hingga tradisi adat yang masih dijalankan.


Misteri Telaga Warna dan Asal-usulnya

Ada sejumlah versi cerita rakyat mengenai asal-usul Telaga Warna ini. Sebagian masyarakat mempercayainya dan sebagian menganggapnya sebagai dongeng belaka.

Berikut ini beberapa cerita mengenai misteri Telaga Warna dan penjelasan ilmiahnya:

1. Pakaian Ratu dan Putri

Perubahan warna pada Telaga Warna diyakini berasal dari pakaian ratu dan putri.

Suatu hari, seorang putri dan ratu mandi di sebuah telaga. Setelah melepas dan menggantung pakaiannya di pohon, tiba-tiba angin kencang menerbangkan pakaian mereka ke telaga.

Kemudian warna air telaga berubah sesuai dengan warna pakaian yang dikenakan sang ratu dan putri.

2. Cincin Bangsawan

Legenda lain mengisahkan sebuah cincin bangsawan yang menyebabkan air Telaga Warna berubah warnanya.

Suatu hari, cincin bangsawan tersebut jatuh ke dalam telaga. Konon, cincin tersebut sangat sakti sehingga bisa membuat warna air telaga berubah-ubah.

3. Kalung Putri Raja

Ada juga kisah tentang kalung putri raja yang membuat warna telaga berubah-ubah. Kisah ini sering dipentaskan dalam drama Telaga Warna.

Kisahnya tentang Putri Gilang Rukmini yang diberikan hadiah kalung untuk ulang tahunnya yang ke-17. Akan tetapi sang putri menolak dan membuang kalungnya.

Tingkah laku Putri Gilang Rukmini ini membuat permaisuri dan rakyat menangis. Bersamaan dengan peristiwa ini, tiba tiba muncul mata air yang tiada henti hingga menenggelamkan kerajaan. Warna di telaga ini pun berubah-ubah karena pantulan dari permata kalung sang putri.

4. Cupumanik Astagina

Masyarakat juga ada yang mengaitkan Telaga Warna dengan kisah Karmapala tentang Cupumanik Astagina, pusaka milik Batara Surya yang diberikan kepada Dewi Indradi. Namun, Dewi Indradi menunggu pujaan hatinya, Resi Gotama, yang sedang berperang memperebutkan dirinya.

Kemudian Batara Surya menyamar menjadi Resi Gotama dan memadu kasih dengan Dewi Indradi. Setelah menunjukkan wujud aslinya, Batara Surya memberikan cupumanik itu kepada Dewi Indradi.

Cupumanik itu disimpan oleh Dewi Indradi. Dewi Indradi lalu menikah dengan Resi Gotama dan melahirkan tiga orang anak, yaitu Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa. Namun keberadaan cupumanik itu diketahui Resi Gotama dan akhirnya dibuang.

Cupumanik itu jatuh terpisah di dua telaga, yaitu telaga Sumala dan Telaga Nirmala. Perubahan warna di Telaga Warna diyakini karena tumpahan dari isi pusaka tersebut.

5. Penjelasan Ilmiah

Secara ilmiah, perubahan warna telaga tersebut terjadi karena kandungan sulfur atau belerang yang cukup banyak di dalam telaga. Saat sinar matahari mengenai telaga, maka warna permukaan air akan tampak berwarna warni.

Mitos-mitos dan Misteri Dieng

Berikut ini sejumlah mitos dan misteri terkait Dataran Tinggi Dieng:

1. Gunung Kosmik

Dikutip dari buku Dieng: Data Geografis dan Wacana Umum (2021) oleh Otto Sukatno, Dieng diyakini sebagai gunung kosmik atau gunung primordial di masa purba. Tinggi gunung ini tidak terkira besarnya.

Akibat proses geologis dan vulkanologis, gunung itu terpenggal. Sisa-sisa penggalan itu membentuk Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi ini sangat luas hingga muncul banyak puncak bukit dan puncak gunung di sekeliling Dieng.

2. Makhluk Penjaga Hutan Telaga Warna

Di sekitar Telaga Warna terdapat hutan yang masih dianggap keramat. Dikutip dari buku Bawana Winasis Dieng: Budaya Tak Terkatakan (2021) terbitan Kemdikbud, ada makhluk penjaga hutan bernama Kebondaru berbentuk kerbau dengan telinga yang menjalar ke bawah dengan badan dan tanduk yang besar.

Hutan ini merepresentasikan jagad alam tempat sumber air, makanan, dan sumber penghidupan lainnya. Kepercayaan ini membuat warga tetap melestarikan dan menjaga hutan dari perusakan oleh manusia.

3. Candi Tertua di Jawa

Berdasarkan situs indonesia.go.id, Dieng juga menyisakan misteri adanya candi yang diyakini sebagai candi tertua di Jawa, sedikit lebih tua dari Kompleks Candi Gedong Songo di Gunung Ungaran dan lebih tua dari Borobudur.

Tidak banyak prasasti yang ditemukan di sini. Satu-satunya prasasti adalah yang ditemukan di dekat Candi Arjuna. Disebutkan bangunan candi ini dibuat tahun 808-809 M. Namun, siapa yang membangun candi ini masih belum terungkap.

Awalnya diperkirakan ada puluhan bahkan mungkin mencapai 100 candi. Karena banyak peristiwa alam, candi yang ditemukan hanya tersisa 8 buah ketika ditemukan pada awal 1800-an. Pemerintah Hindia Belanda lalu merekonstruksi bangunan tersebut.

4. Banyak Gua Keramat

Ada banyak gua keramat di kawasan Dieng, seperti Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur, dan Gua Penganten yang berada di dekat Telaga Warna.

Gua Semar dipercaya sebagai tempat paling keramat. Konon, tempat ini digunakan raja-raja Jawa terdahulu untuk bersemedi dan mendapatkan wahyu.

Ada juga Gua Jaran yang konon dijaga oleh seorang resi bernama Kendali Seto (penunggang kuda putih). Gua ini sering jadi tempat tujuan ziarah pasangan yang kesulitan memiliki keturunan.

Gua Pengantin juga dipercayai masyarakat sebagai tempat keramat bagi pasangan yang ingin menikah.

5. Sumber Mata Air Suci

Banyak pula sumber mata air di Dieng yang dianggap keramat dan suci oleh masyarakat. Sumber mata air ini berwujud tuk, sendang, sungai, sumur, atau telaga.

Salah satunya adalah Tuk Bimo Lukar yang merupakan tempat penyucian diri yang telah ada sejak dibangunnya candi-candi di Dieng. Tuk Bimo Lukar ditemukan setelah dilakukan babad alas Dieng.

Tumenggung Kolodete saat itu membuka kembali dan bertapa di sana. Dari pertapaan itu, ia menemukan tujuh tuk lainnya.

Tuk Bimo Lukar juga menjadi tempat penyelenggaraan acara paling besar, yaitu ruwat desa atau bersih-bersih desa. Biasanya warga Dieng yang berada di luar daerah atau merantau ikut pulang kampung untuk merayakannya.

6. Ruwatan Rambut Gimbal

Di Dieng terdapat ritual yang wajib dilakukan yaitu ruwat rambut gembel. Tradisi ini adalah mencukur rambut anak berambut gembel yang dilakukan setahun sekali. Dalam ritual ini, orang tua harus memberikan hadiah sesuai permintaan anak.

Pencukuran rambut gembel dulunya dilakukan berkeliling desa. Tapi kini pencukuran rambut dilakukan di pelataran Candi Arjuna bersamaan dengan acara Dieng Culture Festival.

Anak rambut gembel diyakini sebagai simbol keberkahan yang tak ternilai harganya. Munculnya anak rambut gembel bermula dari adanya anak yang demam tinggi hingga berhari-hari. Kemudian rambut si anak gimbal dengan sendirinya.

Setelah si anak sembuh, orang tuanya membiarkan rambut anak tersebut panjang sampai si anak meminta sendiri agar rambutnya dicukur.

Nah detikers, itulah tadi aneka misteri Telaga Warna dan mitos-mitos Dieng yang masih dipercaya hingga sekarang oleh sebagian orang.

(bai/inf)



Sumber : travel.detik.com

Lebih Tua dari RI, Masjid Tiban di Pasuruan yang Sudah Berusia 216 Tahun



Pasuruan

Di Pasuruan, ada masjid tua bernama Masjid Jamik Baitul Atiq. Masjid ini sering disebut masjid tiban karena saking tuanya. Usianya konon sudah 216 tahun.

Masjid yang berada di Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Winongan, Pasuruan ini dibangun pada tahun 1216 Hijriah, atau 216 tahun silam. Usia itu mengacu pada tulisan kaligrafi yang tertera di atas tempat imam.

Takmir masjid Biatul Atiq, Abdul Rochim (68) mengatakan, masjid dengan ornamen mayoritas berwarna hijau tersebut saat ini sudah direnovasi total.


Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa masjid itu sudah eksis ratusan tahun. Bukti itu masih disimpan dan dirawat dengan baik.

“Ada kendi atau gentong, mimbar tempat khotib khotbah dan ukiran kaligrafi dari kayu,” ujar Rochim.

Di areal masjid ini terdapat makam Habib Sholeh Semendi. Keberadaan makam ulama penyebar Islam ini tidak bisa dipisahkan dengan masjid. Adanya makam aulia ini semakin mengukuhkan tuanya usia masjid.

“Kenapa seperti itu, karena Mbah Semendi ini kan ulama penyebar Islam, maka otomatis membangun masjid. Bangunnya di mana ya di masjid ini, karena di Winongan masjid pertama itu ya Masjid Jamik ini,” jelas Rochim.

Masjid tiban di PasuruanMasjid tiban di Pasuruan Foto: Muhajir Arifin/detikJatim

Menurut Rochim, berdasarkan sumber turun-temurun, awalnya masjid dibangun dengan ukuran 18 X 25 meter. Namun saat ini ukuran luasnya telah mencapai 25 X 25 meter karena mengalami renovasi beberapa kali.

“Bayangkan saja, seluruh warga di desa yang berasal di Kecamatan Winongan dulu kalau Jumatan semuanya ke sini,” tutur Rochim.

Terkait gentong atau kendi yang ada di masjid ini disebutkan Rochim merupakan kubah pertama di masjid tersebut. Saat renovasi, gentong tersebut berada bagian paling atas masjid.

“Dulu kendi ini dipasang di atas kubah masjid,” tandas Rochim.

Di gentong tersebut terdapat tulisan berhuruf China. Tulisan di gentong itu diyakini warga peninggalan zaman Dinasti Qing yang berkuasa di China pada tahun 1636 hingga 1911.

“Berdasarkan penelusuran anak-anak Remas (remaja masjid) yang bertanya ke orang-orang China serta beberapa sumber, gentong dari dinasti Qing,” tandas Rochim.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com