Category Archives: Pluang

Menjelajahi Solana, Sang Jaringan Pembunuh Ethereum

Mengenal Jaringan Solana

Solana adalah jaringan lapisan 1 blockchain berbasis teknologi smart contract yang berniat menjadi “pembunuh Ethereum”. Uniknya, jaringan ini memanfaatkan delapan inovasi blockchain, misalnya sistem timestamp bernama Proof of History yang digadang bisa memproses 65.000 transaksi per harinya, plus beberapa inovasi lainnya.

Kemudian, berbeda dengan platform smart contract lain seperti Ethereum dan Polkadot, jaringan Solana bisa mencapai tingkat skalabilitas mumpuni hanya di blockchain lapisan 1 saja tanpa harus mendelegasikan sebagian beban transaksinya ke blockchain lapisan kedua.

Namun, kenapa jaringan yang didirikan oleh mantan insinyur Qualcomm, Intel, dan Dropbox di akhir 2017 ini disebut sebagai “pembunuh Ethereum”?

“Pembunuh Ethereum” adalah julukan bagi proyek-proyek blockchain yang punya impian untuk menyalip Ethereum sebagai pemain utama platform smart contract sejagat.

Awalnya, komunitas kripto tak benar-benar serius menganggap julukan tersebut lantaran belum ada bukti bahwa eksistensi Ethereum akan menghadapi ancaman nyata. Namun, pada pertengahan 2021, mereka perlahan percaya bahwa dominasi Ethereum sepertinya bakal segera terkalahkan oleh platform lain, utamanya oleh jaringan Solana.

Nah, pamor Solana yang meroket sebagai pemain utama kancah smart contract terjadi berkat sistem yang bernama Proof of History. Apakah itu?

Mengenal Proof of History, Ciri Khas Jaringan Solana

Proof of History adalah “jam terdesentralisasi” alias sumber waktu tunggal dan terpercaya di jaringan blockchain, yang didesain untuk mengatasi masalah inkonsistensi pencatatan waktu transaksi. Namun, apa alasan Solana memanfaatkan sistem tersebut?

Asal tahu saja, salah satu masalah dari jaringan blockchain yang terdesentralisasi adalah keterangan waktu yang buram. Dalam artian, jaringan blockchain terdiri dari ribuan komputer yang saling terhubung satu sama lain untuk memverifikasi transaksi, namun masing-masing dari mereka menggunakan sistem waktunya sendiri dan tidak punya satu standar waktu yang digunakan.

Alhasil, masing-masing validator kemudian harus berkomunikasi lagi antara satu sama lain hanya demi menyepakati waktu transaksi yang digunakan sebelum memverifikasi transaksi dan memproduksi blok transaksi baru. Namun imbasnya, waktu verifikasi transaksi pun semakin lamban dan justru membuat arus transaksi di jaringan blockchain menjadi macet.

Sayangnya, masalah ini semakin parah seiring komputer yang terhubung di jaringan blockchain tumbuh dari angka ribuan menjadi jutaan. Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa jaringan Bitcoin dan Ethereum hanya mampu menghasilkan blok transaksi baru masing-masing selama 10 menit dan 15 detik.

Nah, Proof of History hadir untuk memecahkan masalah tersebut.

Dalam sistem ini, seluruh validator di dalam jaringan Solana menggunakan jam kriptografi untuk tetap update dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di jaringan tersebut. Akibatnya, masing-masing validator tak perlu lagi berkomunikasi satu sama lain untuk mencatat waktu transaksi yang dikehendaki. Sehingga, waktu verifikasi dan validasi transaksi di jaringan Solana bisa menjadi lebih cepat.

Untuk mempermudah pemahamanmu mengenai Proof of History, yuk simak analogi berikut.

Coba bayangkan jaringan blockchain sebagai taman bermain Disneyland, sementara proses transaksi di dalamnya sebagai cara untuk masuk ke lokasi tersebut.

Ketika Disneyland mengawali jam operasinya, pengelola taman bermain tersebut tentu akan membariskan pengunjung sesuai urutan agar semua orang bisa antre untuk masuk ke dalamnya. Untuk menentukan pengunjung yang bisa masuk ke Disneyland paling awal, petugas gerbang  akan saling berkoordinasi satu sama lain terkait hal tersebut lewat radio.

Nah, hal itulah yang sejatinya terjadi di dalam jaringan blockchain normal, seperti Ethereum. Namun, Solana punya mekanisme berbeda ketika mempersilakan pengunjung memasuki “taman bermainnya”.

Dalam hal ini, jaringan Solana memiliki mesin cetak tiket di setiap gerbangnya. Setiap tiket mencantumkan keterangan waktu yang terdiri dari jam, menit, dan detik ketika sang pengunjung tiba di gerbang tersebut.

Nantinya, setiap pengunjung akan memasuki taman bermain Solana sesuai waktu yang termuat di dalam tiket tersebut. Oleh karenanya, setiap pengunjung tidak bisa begitu saja masuk ke Solana jika waktu yang tercantum di tiketnya lebih lambat dibanding pengunjung lainnya.

Hal di atas merupakan analogi yang sangat simpel atas sistem Proof of History. Jaringan Solana mencatat keterangan waktu setiap transaksi secara real-time, sehingga jaringan bisa terus memproses transaksi secara terus menerus tanpa perlu menunggu konfirmasi atas transaksi sebelumnya.

Apa Keunikan Jaringan Solana?

Hanya saja, keunikan jaringan Solana sejatinya bukan hanya terdapat di sistem Proof of History semata.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Solana memanfaatkan delapan inovasi jaringan blockchain agar bisa memproses 65.000 transaksi per detik dan waktu penciptaan blok transaksi sebesar 400ms. Nah, kedelapan inovasi inilah yang menjadi daya tarik utama jaringan Solana ketimbang jaringan lainnya.

Delapan inovasi blockhain tersebut terinspirasi dari optimalisasi performa piranti lunak. Maklum, hal ini tak terlepas dari latar belakang tim pendiri jaringan yang bergulat di bidang teknologi piranti lunak.

Lebih lanjut, dengan berbekal inovasi tersebut, jaringan Solana tak perlu bergantung dengan “pecahan blockchain” atau solusi blockchain lapisan kedua untuk menjaga kecepatan dan skalabilitas transaksinya.

Selain Proof of History, lantas apa saja inovasi-inovasi blockchain yang terdapat di jaringan Solana? Yuk, temukan jawabannya berikut!

1. Tower BFT

Jaringan Solana menggunakan algoritma konsensus bernama Tower Byzantine Fault Tolerance (BFT). Melalui algoritma ini, validator di jaringan Solana bisa melakukan verifikasi dan validasi transaksi dengan memanfaatkan sinkronisasi waktu yang diproses oleh sistem Proof of History.

Adapun manfaat Tower BFT adalah demi mengurangi banyaknya arus informasi dan kemacetan transaksi di jaringan Solana. Lho, kok bisa? Untuk memahaminya, mari simak konsep Tower BFT berikut.

Setiap kali node di dalam jaringan melakukan pemungutan suara terkait satu fork, maka pemungutan suara tersebut terbatas pada satu jangka waktu hash tertentu yang disebut dengan slot. Kemudian, jaringan akan kembali ke kondisi semula (rollback point) setiap 400 ms.

Namun, setiap voting yang terjadi setelahnya kemudian akan memasuki rollback point setelah prosesnya memakan waktu dua kali lipat lebih lama dibanding voting sebelumnya.

Sebagai contoh, anggap saja setiap validator telah melakukan pemungutan suara 32 kali dalam 12 detik terakhir. Nah, voting 12 detik yang lalu tersebut akan memiliki timeout sebesar 400ms. Tetapi, jika validator melakukan voting setelahnya, maka timeout-nya akan memakan waktu 800ms kemudian.

2. Turbine

Dalam jaringan blockchain lain, data terkait setiap blok transaksi baru akan dikirimkan oleh node utama ke node-node lain yang terdapat di jaringan tersebut. Kemudian, node-node tersebut akan menyimpan salinan blok transaksi baru tersebut di perangkatnya masing-masing.

Namun, aktivitas ini akan memakan waktu dan daya seiring berkembangnya kepadatan jaringan blockchain tersebut. Nah, untuk mengatasi hambatan yang dimaksud, Solana menggunakan protokol distribusi blok transaksi yang disebut dengan Turbine.

Turbine akan memecah data blok transaksi ke beberapa paket-paket data yang lebih mini, di mana masing-masingnya berukuran maksimal 64kb saja, untuk kemudian didistribusikan ke node-node lainnya. Setelah itu, paket-paket data ini nantinya akan diteruskan kembali ke node-node lainnya hingga seluruh pihak di dalam jaringan tersebut menggenggam data blok transaksi baru.

Sejauh ini, node utama di jaringan Solana akan menghasilkan 2.000 paket data, masing-masing sebesar 64kb, jika ukuran data transaksi tersebut berukuran 128 MB.

Seluruh 2.000 paket data itu kemudian akan ditransmisikan ke validator-validator berbeda. Setiap validator tersebut lantas akan mengirimkan kembali paket-paket data tersebut ke regu-regu node lainnya, masing-masing berisi 200 nodes, yang dijuluki neighborhood. Setiap neighborhood lalu bertanggung jawab untuk mengirimkan sebagian datanya ke tingkatan neighborhood yang lebih kecil.

Sebagai analogi, anggap saja terdapat seorang guru yang merangkum catatan-catatan pelajarannya di dalam satu kertas. Kemudian, ia menggunting catatan tersebut ke beberapa bagian dengan ukuran yang sama.

Setelah itu, sang guru kemudian akan membagikan potongan catatan tersebut ke seorang siswa yang duduk di bangku paling depan. Kemudian, siswa tersebut akan menyalin catatan tersebut dan kemudian menyerahkannya ke teman sebangkunya jika telah selesai menulis catatan pelajaran yang dimaksud. Aktivitas itu akan terjadi berulang kali sampai semua siswa di kelas bisa menyalin catatan pelajaran sang guru.

3. Gulf Stream

Di dalam jaringan Solana, setiap validator sudah mengetahui urutan-urutan node utama yang akan diproses. Nah, agar validasi transaksi bisa dengan cepat berpindah dari satu node utama ke node utama berikutnya, jaringan Solana memanfaatkan sistem yang bernama Gulf Stream.

Dengan Gulf Stream, klien dan validator di jaringan Solana bisa meneruskan transaksi ke node utama, bahkan sebelum waktu validasinya tiba. Sehingga, validator bisa mengeksekusi transaksi terlebih dulu, mengurangi waktu konfirmasi, dan mengurangi kapasitas memori mempools, yakni lokasi penyimpanan transaksi-transaksi yang belum terkonfirmasi atau tertunda di jaringan blockchain.

4. Sealevel

Sealevel adalah mesin pemroses transaksi yang didesain untuk memaksimalkan skalabilitas transaksi antar Graphic Processing Unit (GPU) dan perangkat penyimpanan komputer (Solid-state Drive/SSD) secara paralel.

Saat ini, hanya jaringan Solana saja yang mampu mengeksekusi transaksi secara paralel, hal itu tentu saja berkat kehadiran Sealevel. Dengan inovasi tersebut, Solana bisa memproses ribuan smart contract secara paralel alih-alih memprosesnya secara satu per satu.

Sebagai gambaran, di jaringan blockchain lain, setiap smart contract akan membaca atau menulis data melalui transaksi. Namun, jika pengguna menjalankan beberapa smart contract secara sekaligus melalui kegiatan transaksi yang berjumlah banyak, maka pengguna rentan terpapar risiko data error lantaran ia menyunting data yang sama di waktu bersamaan.

Untungnya, jaringan Solana memiliki inovasi Sealevel. Teknologi ini bisa menelusuri seluruh transaksi yang tidak tumpang tindih yang terjadi di satu blok transaksi. Sehingga, pengguna bisa mengeksekusi seluruh smart contract tersebut secara paralel.

5. Pipeline

Pipeline adalah aktivitas optimisasi pemrosesan validasi transaksi di jaringan Solana di komputer pengguna. Proses pipeline terjadi ketika terdapat data yang perlu diproses jaringan secara berurutan, namun masing-masing data tersebut tersimpan di perangkat komputer yang berbeda-beda.

Dalam jaringan Solana, sistem pemrosesan transaksinya (Transaction Processing Unit/TPU) akan mengambil data dalam bentuk paket-paket kecil dari tingkatan kernel, yakni penghubung piranti lunak aplikasi dengan perangkat keras komputer. Data-data tersebut kemudian akan diverifikasi di tingkatan GPU, disimpan di CPU, dan kemudian dicatat lagi di level kernel.

6. Cloudbreak

Cloudbreak adalah sebuah inovasi yang didesain untuk mengoptimalisasi memori SSD ketika pengguna memproses transaksi. Dengan kata lain, setiap memori penyimpanan di piranti lunak akan mendapatkan ekstra kapasitas memori secara on-chain.

Namun, mengapa Solana membutuhkan inovasi ini?

Sekadar informasi, setiap blockchain tentu membutuhkan skalabilitas komputasi yang besar. Namun, hal tersebut akan menyusutkan kapasitas daya penyimpanan, yang pada akhirnya akan menghambat kecepatan transaksi di jaringan Solana.

Nah, oleh karenanya, Solana menggunakan Cloudbreak untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sehingga, pengguna bisa memproses transaksi dengan lebih cepat sekaligus menambah pemrosesan beberapa data secara sekaligus.

7. Archivers

Dalam kapasitas penuhnya, Solana diproyeksikan untuk memproses data seberat 1 Gigabyte (GB) per detik alias 4 juta GB, atau 4 Petabytes, data per tahun. Sebagai gambaran, ukuran data tersebut setara dengan flashdisk berukuran 1GB yang dijejali ke 368 lapangan bola. Ukuran data yang cukup besar bukan?

Nah, untuk bisa menampung kapasitas data tersebut, Solana melepas beban penyimpanan data validator ke sebuah jaringan berisi nodes disebut archivers.

Di jaringan Solana, data-data akan dipecah ke dalam beberapa bagian dan kemudian akan diproteksi melalui kodifikasi. Kemudian, para archivers akan menyimpan pecahan-pecahan data tersebut.

Namun, setelah itu, jaringan akan meminta para archivers untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar menyimpan data yang seharusnya mereka simpan. Hal ini dilakukan demi menjaga keamanan data yang berada di jaringan Solana.

Selain itu, mereka yang terlibat sebagai archivers tidak berpartisipasi di dalam konsensus.

Aspek Tokenomics SOL

Jaringan Solana memiliki satu token utilitas asli bernama SOL. Token tersebut punya tiga manfaat utama, di antaranya:

  1. Staking. Pengguna Solana bisa melakukan stake atas SOL mendukung kelancaran jaringan. Sebagai imbalannya, mereka bisa meraih imbal hasil (rewards). Selain itu, pengguna juga perlu melakukan staking SOL demi menjadi node.
  2. Biaya transaksi. SOL digunakan sebagai alat tukar ketika bertransaksi di jaringan Solana. Selain itu, kadang token SOL dibakar demi menstabilkan biaya transaksi di jaringan melalui mekanisme perubahan permintaan dan penawaran.
  3. Tata kelola. Token SOL digunakan untuk menentukan pengembangan jaringan Solana ke depan.

Kelebihan dan Kritik Terhadap Jaringan Solana

Kelebihan

  1. Salah satu jaringan blockchain yang punya waktu proses transaksi tercepat.
  2. Salah satu blockchain utama yang benar-benar menjadi penantang Ethereum.
  3. Didukung oleh delapan teknologi blockchain sehingga Solana mampu memproses 65.000 transaksi per detik.
  4. Ekosistem Solana saat ini tengah berkembang dengan pesat.
  5. Didukung oleh pentolan jagat kripto dan penemu FTX, Sam Bankman-Fried.
  6. Disokong oleh investor kawakan, misalnya:
    1. Andreessen Horowitz
    2. Polychain Capital
    3. Alameda Research
    4. Multicoin Capital
    5. Foundation Capital
    6. Blocktower Capital
    7. Rockaway Ventures.

Kritik

  1. Jaringan Solana sering padam beberapa kali. Jaringan bahkan tercatat mengalami down sebanyak empat kali antara September 2021 hingga Januari 2022.
  2. Meski jaringan Solana memiliki inovasi yang menjanjikan, namun sebagian besar di antaranya masih belum diujicobakan.
  3. Banyak pihak berpendapat bahwa jaringan Solana belum memecahkan masalah trilema blockchain sama sekali. Pasalnya, jaringan Solana dianggap mengorbankan semangat desentralisasi dan keamanan jaringan demi meraih skalabilitas transaksi yang oke.
  4. Distribusi token buruk mengingat sebagian besar token mengalir ke “orang dalam” dan modal ventura.

Mengulik Kelemahan Jaringan Solana

Meski berhasil naik daun sepanjang 2021 sebagai pesaing Ethereum, namun jaringan Solana tak lepas dari berbagai kontroversi terkait aspek fundamental teknologinya. Nah, berikut adalah tiga kecacatan fundamental di jaringan Solana yang selalu menjadi sorotan komunitas kripto.

1. Jaringan Solana Sering ‘Down’, Ada Apa?

Seperti yang disebut di atas, salah satu kelemahan Solana paling utama adalah seringnya jaringan dalam mengalami down. Berikut adalah daftar pemadaman mendadak yang pernah terjadi di jaringan Solana sejak September 2021.

  1. 14 September 2021: Solana mengalami pemadaman jaringan selama 17 jam setelah Grape Protocol meluncurkan Initial Dex Offering (IDO) yang kemudian disusupi oleh bots.
  2. 10 Desember 2021: Jaringan Solana mengalami serangan DDos.
  3. 4 Januari 2022: Jaringan Solana padam selama empat jam
  4. 3 Februari 2022: Jaringan Wormhole, yang menjadi jembatan antara jaringan Solana dan Ethereum, dibajak dan menimbulkan kerugian US$320 juta.

Mungkin kamu berpikir bahwa pemadaman jaringan selama beberapa jam tidak akan menjadi masalah besar.

Hanya saja, Solana bukanlah situs internet biasa. Jaringan ini berisikan 100 aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang seluruhnya menggantungkan hidup dari protokol Solana. Sehingga, jika jaringan Solana down, maka dampak negatifnya juga akan dirasakan ribuan pengguna dApps tersebut. Misalnya, pengguna tidak bisa melikuidasi aset kriptonya yang dikunci di aplikasi-aplikasi tersebut.

Tak hanya itu, namun nilai SOL juga bakal terjun bebas jika jaringan Solana terpantau offline

Lantas, apa sebenarnya biang keladi yang menyebabkan jaringan Solana byar-pet berulang-ulang kali? Yuk, tengok alasannya secara lebih dekat.

a. Sistem Proof of History Terbilang Masih ‘Cacat’

Seluruh serangan di jaringan Solana, kecuali serangan di Wormhole, dipercaya bermula dari kelemahan fundamental di sistem Proof of History. Mengapa demikian?

Jaringan blockchain lainnya, misalnya Ethereum, menggunakan sistem algoritma non-deterministic ketika menghasilkan satu blok transaksi baru. Adapun sistem non-deterministic adalah proses penciptaan blok transaksi yang bisa menghasilkan output berbeda meski data-data input-nya terbilang sama.

Sistem penciptaan blok baru ini digadang punya aspek keamanan kuat dan punya sikap anti-sensor yang tinggi. Sebab, penggunanya tidak bisa memprediksi siapa saja yang bakal menghasilkan blok transaksi berikutnya. Sehingga, jika ada pengguna iseng yang ingin bikin sistem blockchain tersebut byar-pet, maka ia harus benar-benar menyerang sistem blockchain tersebut secara utuh.

Di sisi lain, Solana menggunakan sistem Proof of History, sebuah sistem yang punya mekanisme penciptaan blok baru yang bersifat deterministic. Namun, karena sistem ini memberi nomor urutan transaksi sesuai keterangan waktunya, maka beberapa pihak pun bisa memprediksi siapa-siapa saja produsen blok berikutnya di jaringan Solana.

Sehingga, jika terdapat oknum tak bertanggung jawab yang ingin membuat runyam satu jaringan Solana, maka ia akan melancarkan aksinya ke node-node utama transaksi tersebut alih-alih terhadap seluruh jaringan Solana.

Dengan kata lain, mereka yang punya niat jahat bisa membuat down jaringan Solana dengan mudah. Sebab, mereka bisa memadamkan jaringan Solana hanya dengan menyerang 100 produsen blok berikutnya alih-alih menyerang keseluruhan satu jaringan Solana!

Nah, kelemahan inilah yang mungkin membuat sistem Proof of History tidak dicontoh oleh jaringan lain. Namun, mengingat sistem Proof of History adalah bagian fundamental dari blockchain Solana, maka pemadaman jaringan sepertinya akan tetap terjadi kecuali jika sang pengembang mengubah cara kerja blockchain Solana.

b. Teknologi Solana Tidak Didukung Riset Akademis yang Mumpuni

Semua inovasi teknologi Solana, termasuk sistem Proof of History, adalah terobosan anyar di kancah blockchain. Sayangnya, inovasi-inovasi tersebut tidak didukung oleh kajian-kajian akademis yang cukup kuat.

Hal tersebut sejatinya bukan menjadi perhatian utama bagi sang pengembang blockchain. Namun, mengingat jaringan Solana yang padam berkali-kali, maka isu ini bisa berkembang menjadi sekumpulan masalah yang cukup serius di masa depan, di antaranya adalah:

  1. Jaringan blockchain lain enggan menyalin dan mengadopsi sistem Proof of History ke protokolnya masing-masing. 
  2. Minimnya ketertarikan akademis menjadi indikasi bahwa peneliti-peneliti jaringan blockchain tidak menemukan Proof of History sebagai subjek penelitian yang menarik.
  3. Jika tidak ada penelitian akademis terkait Proof of History, maka kelemahan-kelemahan di jaringan Solana malah tidak bisa diperbaiki di masa depan. Dengan kata lain, kecacatan di jaringan Solana akan tetap ada tanpa ada yang bisa mengatasinya.

Lembaga Grayscale Investment juga mengkategorikan perkara minimnya riset akademis ini sebagai risiko potensial dari jaringan Solana.

“Mekanisme konsensus Solana menggunakan teknologi blockchain anyar yang masih belum umum digunakan dan bahkan mungkin belum berfungsi seperti sesuai yang diinginkan. Mungkin ada beberapa kecacatan kriptografi yang berada di protokol Solana, termasuk kelemahan yang bisa mempengaruhi fungsi dari jaringan Solana, sehingga protokol tersebut sangat rentan terkena serangan,” jelas Grayscale Investment.

2. Distribusi Token Tidak Berpihak Pada Pengguna

Selain masalah pemadaman jaringan, komunitas kripto juga menyoroti pembagian token SOL yang dianggap kurang adil. Sebab, sebagian besar token tersebut mengalir deras ke “orang dalam” serta perusahaan modal ventura.

Sobat Cuan bisa membandingkan distribusi awal token Solana dengan jaringan blockchain utama lainnya. Kamu bisa melihat bahwa sistem distribusi SOL terbilang bermasalah dan bahkan lebih buruk dibanding kompetitornya yang lain.

Padahal, distribusi token di jaringan blockchain terbilang penting karena dua alasan utama, yakni:

  1. Desentralisasi. Agar jaringan blockchain menjadi sukses, maka ia harus menerapkan semangat desentralisasi yang kuat. Semangat itu pun harus tercermin ke pembagian token yang terdapat di dalamnya. Bayangkan, jika satu entitas (misalnya perusahaan modal ventura) memiliki token lebih banyak dibanding para pengguna jaringan, maka mereka akan punya kekuatan besar yang bisa mengontrol seisi jaringan tersebut.
  2. Mencegah pihak-pihak tertentu untuk memanipulasi harga token SOL. Bayangkan jika token dikuasai oleh segilintir kelompok tertentu. Mereka bisa saja memanipulasi harga token dan kemudian “membuang” tokennya ke investor ritel jika misinya sudah selesai.

3. Klaim Solana Soal Kecepatan Transaksi Jadi Tanda Tanya Besar

Seperti yang dijelaskan di atas, Solana diperkirakan bisa memproses 65.000 transaksi per detik. Namun, ternyata klaim tersebut tidak sepenuhnya benar. Kok bisa?

Usut punya usut, kecepatan transaksi 65.000 per detik tersebut ternyata juga mencakup jumlah suara validator yang mengambil porsi 90% dari jumlah transaksi tersebut. Sementara itu, transaksi “benerannya” justru hanya 10% dari angka tersebut, alias sekitar 6.500 transaksi per detik saja.

Nah, biasanya, blockchain lain menggunakan kecepatan transaksi “beneran” ini untuk mengukur kecepatan transaksi asli di jaringannya. Namun, entah kenapa, Solana lebih menggemborkan kecepatan transaksi di protokolnya dengan ikut menghitung suara yang dihasilkan jaringan validator.

Jadi, apakah Solana secara teknis bisa memproses 65.000 transaksi? Ya.

Namun, apakah klaim itu keliru? Itu juga benar. Klaim tersebut terdengar seperti Solana hanya fokus ke hype dan pemasaran semata alih-alih membiarkan teknologinya membuktikan sendiri keandalannya.

Selain keliru tentang klaim kecepatan transaksi, komunitas kripto juga menyoroti kekeliruan klaim Solana soal suplai tokennya. Hal tersebut termuat secara lengkap di sini.



Sumber : pluang.com

Simak 3 Alasan Kenapa Investor Pemula Harus Masuk ke Indeks SP 500

Bagi beberapa investor pemula, investasi di pasar saham adalah momok yang menakutkan. Pasalnya, ada banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari sentimen pasar, fundamental perusahaan, dan segala faktor lainnya yang membuat harga saham bergerak volatil.

Tetapi, lain halnya dengan investasi di indeks S&P 500. Indeks saham yang berisi perusahaan dunia beraset jumbo itu adalah tempat yang baik untuk bisa menghasilkan cuan, khususnya bagi Sobat Cuan yang berstatus investor pemula. Mengapa demikian?

Penjelasan Singkat Indeks S&P 500

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya Sobat Cuan mengenal S&P 500 secara singkat, padat, dan jelas.

Indeks S&P 500 sendiri adalah indeks saham yang dihuni oleh 505 perusahaan berkapitalisasi jumbo yang berada di Amerika Serikat (AS). Saham-saham seperti Google, Facebok, Amazon, dan raksasa perusahaan dunia lainnya yang ada di dalam indeks S&P 500.

Karena berisi perusahaan-perusahaan yang top, tak heran jika penghuni indeks ini mewakili sekitar 80% kapitalisasi pasar Amerika Serikat. Atau, segala dinamika yang terjadi di indeks ini akan berpengaruh signifikan ke pasar saham AS.

Selain itu, tidak sembarang perusahaan bisa masuk ke dalam Indeks S&P 500. ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh mereka, mulai dari kapitalisasi pasar minimal US$9,9 miliar, berhasil mencetak laba selama empat kuartal terakhir atau paling tidak di kuartal keempat setiap tahunnya, dan deretan syarat yang tidak mudah lainnya.

Sehingga, tak heran jika banyak yang beranggapan bahwa berinvestasi di indeks S&P 500 sama dengan berinvestasi di aset yang berkualitas. Kondisi ini tercermin dari pesatnya laju nilai indeks S&P 500 setiap waktunya.

Indeks S&P 500 pertama kali menembus level 1.000 pada 1998 silam. Dibutuhkan waktu 16 tahun lamanya sampai akhirnya indeks saham bonafide AS itu menembus level 2.000 di tahun 2014.

Namun, apakah S&P 500 membutuhkan waktu 16 tahun lagi demi mengeret nilainya dari 2.000 ke 3.000? Jawabannya adalah tidak. Malahan, jangka waktunya kian cepat.

Sebab, S&P 500 hanya membutuhkan waktu lima tahun saja untuk mencapai posisi 3.000 di 2019. Kemudian, ia hanya butuh kurang dari dua tahun untuk mencapai posisi 4.000, tepatnya pada April 2021 silam.

Tokcernya kinerja indeks S&P 500 pun bikin begawan saham Warren Buffett turut berkomentar. Menurutnya, cara tepat masyarakat agar menjadi kaya adalah dengan berinvestasi di indeks S&P 500, seperti yang dijelaskan di artikel ini.

Alasan Singkat Mengapa Pemula Perlu Investasi Indeks S&P 500

Sobat Cuan para investor pemula perlu memahami bahwa pergerakan saham tiap perusahaan memang tidak bisa diprediksi secara pasti. Kadang saham A berkinerja baik, namun keesokan harinya, malah saham B yang berkinerja mumpuni.

Hal tersebut tentu akan membuat kamu kesulitan dalam memilih saham jagoan dalam berinvestasi. Apalagi bagi pemula, hal itu bisa bikin kamu keder duluan sebelum nyemplung ke investasi.

Namun, hal serupa tidak akan kamu temukan dalam berinvestasi di indeks S&P 500. Sebab, ketika Sobat Cuan berinvestasi dalam indeks, kamu tidak perlu repot-repot mengkaji performa masing-masing saham yang terdapat di dalamnya.

Asal tahu saja, indeks saham terdiri dari beragam saham lintas sektor, sehingga secara tidak langsung kamu mempraktikkan ilmu diversifikasi investasi. Indeks S&P 500 sendiri terdiri dari perusahaan yang berlatar belakang 11 sektor berbeda, di mana penjelasan utamanya bisa kamu temukan di artikel ini.

Sementara itu, diversifikasi sendiri adalah hal esensial yang perlu dilakukan oleh investor pemula. Ini lantaran kegiatan tersebut bisa melindungi portofolio investasimu dari risiko-risiko investasi yang beragam.

Nah, pentingnya diversifikasi investasi juga bisa kamu baca selengkapnya di artikel berikut!

Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

Alasan Lain Investasi Indeks S&P 500 Cocok Bagi Pemula

Sudah asetnya berkualitas, imbal hasilnya cuan banget, dan menyediakan sarana diversifikasi yang efektif, mungkin kamu berpikir bahwa manfaat indeks S&P 500 hanya itu saja, bukan?

Wah, jangan salah Sobat Cuan! Masih banyak lagi lho, manfaat investasi S&P 500 buat investor pemula. Apa sajakah manfaat-manfaat tersebut?

1. Tidak Perlu Repot Riset

Dalam investasi, tidak ada yang namanya bebas risiko. Begitu juga dengan investasi di indeks S&P 500. Tetapi, kamu bisa mengelolanya lebih mudah tanpa harus memantau pergerakan satu persatu saham jika masuk ke S&P 500.

Karena ketika satu saham sedang bergejolak, mungkin saja ada saham lain yang sedang mengalami reli harga hingga mencapai belasan persen. Ditambah, S&P 500 merupakan indeks saham yang diakui dunia sebagai salah satu representasi dari pasar saham keseluruhan.

Soal imbal hasil tidak perlu diragukan lagi. Secara historis, rata-rata tingkat pengembalian tahunannya mencapai 10% sejak didirikan. Bikin ngiler ya, Sobat Cuan!

2. Bisa Pulih dengan Cepat Setelah Terjadi Gejolak

Saat pasar sedang bergejolak, indeks S&P 500 dipercaya mampu lebih cepat pulih dibanding indeks saham lainnya.

Hal itu juga sudah dibuktikan secara historis bahwa indeks saham ini mampu bertahan dan terus melanjutkan kenaikannya ketika dunia  sedang bergejolak.

Seperti terjadinya The dot com-bubble yang terjadi di Amerika Serikat (AS) yang akhirnya menyebabkan ekuitas perusahaan teknologi melesat liar. Penjelasan tentang dotcom bubble bisa kamu baca di sini ya, Sobat Cuan!

Tak hanya itu, indeks S&P 500 juga tahan dari resesi hebat yang sempat mendera dunia dan beberapa kejadian luar biasa lainnya selama 20 tahun terakhir. Hasilnya, indeks S&P 500 justru terus naik hingga 165,8% dalam kurun waktu tersebut.

3. Investasi yang Terjangkau

Indeks S&P 500 yang dihuni oleh saham-saham pilihan dan mendunia membuat Sobat Cuan seakan memiliki manajer investasi ketika masuk ke dalamnya.

Ya, karena perusahaan yang ada di dalam S&P 500 sendiri adalah perusahaan yang memang sudah baik secara fundamental maupun secara historisnya. Bahkan, beberapa diantaranya adalah perusahaan yang legendaris.

Bayangkan, kalau kamu mau berinvestasi di masing-masing 500 saham perusahaan S&P 500, berapa besar modal yang perlu kamu keluarkan? Nah, di indeks S&P 500, semuanya sudah terkumpul menjadi satu, sehingga sobat cuan hanya perlu masuk dan menunggu cuan yang diberikan.

Tetapi tetap waspada dengan sentimen dan faktor eksternal lainnya, ya! Karena sekali lagi, tidak ada investasi yang tidak berisiko.

Nah, sekarang, kamu tak perlu lelah pergi ke AS hanya untuk berinvestasi indeks S&P 500. Sebab, kamu bisa melakukannya di Pluang! Kamu bisa berinvestasi di micro e-mini S&P 500 futures index hanya dalam satu genggaman saja. Yuk, investasi di Pluang S&P 500!

Baca juga: Mau Jadi Kaya dengan Rebahan di Masa Tua? Yuk, Investasi di S&P 500!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



Sumber : pluang.com

Masih Belum Paham Beda DeFi vs CeFi? Yuk, Belajar di Artikel Ini!

Apa Kelebihan dan Kekurangan CeFi vs DeFi?

Untuk mengkaji lebih dalam CeFi vs DeFi, yuk kita tengok masing-masing keunggulan dan kekurangan dua sistem keuangan ini!

1. Keunggulan dan Kekurangan CeFi

Sistem terpusat menyuguhkan fleksibilitas konversi antar mata uang. Baik uang fiat maupun uang kripto dapat dikonversi dengan mudah lewat skema ini.

Sistem ini diklaim lebih adil sebab pesanan dan penjualan dilakukan terpusat. Pengguna CeFi adalah subjek dari aturan yang dibuat central exchange, sehingga baik penjual maupun membeli mematuhi hukum yang sama saat bertransaksi.

Sistem juga menyediakan pihak ketiga dan lembaga kliring yang menjamin integritas tiap transaksi layaknya di pasar modal konvensional.

Tak hanya itu, CeFi juga memungkinkanmu untuk melakukan trading antar mata uang kripto dari mulai Litecoin, Bitcoin, hingga XRP. Namun, meski banyak manfaat, sistem ini pun punya segudang kekurangan.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Central Exchange akan meminta data-datamu. Sayangnya, sistem Central Exchange sangat rentan diretas. Meski memang, keberadaannya membuat transaksimu lebih fleksibel, utamanya kalau kamu mau membeli kripto dengan uang fiat.

Selain itu, kekurangan penggunaan CeFi lainnya adalah banyaknya biaya-biaya transaksi dan admin yang perlu kamu keluarkan.

2. Keunggulan dan Kekurangan DeFi

Sementara itu, DeFi memungkinkan kamu untuk memiliki kendali penuh atas aset kripto milikmu sendiri.

Selain itu, kamu tidak perlu otorisasi pihak ketiga dalam transaksimu, yang kamu butuhkan adalah tata aturan yang diterjemahkan dalam algoritma smart contract-mu. Protokol itu akan mengeksekusi transaksimu jika pihak kedua memenuhi semua prasyarat dalam protokol yang sudah kamu buat. Saat itu terjadi, perintah tidak dapat diralat transaksimu pasti tereksekusi.

Artinya, kamu tak perlu membayar biaya admin dan biaya transaksi yang dibayar ke lembaga intermediaries tersebut. Selain itu, segala transaksi pun dijalankan secara transparan, sehingga sistem DeFi minim penyalahgunaan yang parah.

Lebih lanjut, karena sistem DeFi berlangsung di dApps, dan aplikasi-aplikasi DeFi sendiri terus berevolusi antar waktu, maka layanan jasa keuangan di Decentralized Finance terbilang lebih beragam dibanding sistem CeFi.

Hanya saja kekurangan dari sistem DeFi adalah kompleksitas protokol smart contract, sehingga kamu tak bisa melakukan trading aset kripto atau membeli aset kripto langsung dengan uang fiat.

Kesimpulan CeFi vs DeFi

Intinya, perihal CeFi vs DeFi hanyalah masalah kepada siapa kamu akan mempercayakan pengelolaan aset kriptomu? Apakah kamu mau mempercayakan aset kriptomu ke lembaga terpusat? Atau justru mempercayakannya ke teknologi smart contract?

Perbedaan paling mendasar dari CeFi dan DeFi adalah kepada siapa kamu sebagai penggunanya lebih bisa memercayakan pengelolaan asetmu? Jika CeFi masih digerakkan oleh otoritas manusia, DeFi dijalankan oleh teknologi berupa protokol smart contract.

Kemudian, masalah CeFi vs DeFi juga berkaitan dengan kenyamanan kamu dalam memilih ekosistem keuangan.

Di satu sisi, CeFi adalah sistem yang sudah mapan yang sudah digunakan di kegiatan keuangan konservatif selama bertahun-tahun. Hanya saja, jumlah variasi jasa keuangannya pun terbatas.

Di sisi lain, DeFi menawarkan ekosistem yang terus berinovasi dengan cepat. Satu kapabilitas baru yang dikembangkan DeFi dapat segera tergantikan dengan kapabilitas lain yang tengah dikembangkan. Bukan tidak mungkin di masa depan transaksi antar block independen dimungkinkan untuk dilakukan dengan protokol juga.

Jadi, siapa yang lebih pantas kamu percaya Sobat Cuan? DeFi atau CeFi?



Sumber : pluang.com

Apa Saja Kegunaan NFT?

Mengenal Pemanfaatan NFT

Kancah NFT memang baru berusia seumur jagung, sehingga tak ada seorang pun yang memprediksi potensi penuh dari aset digital satu ini di masa depan.

Kendati demikian, NFT saat ini ternyata sudah dimanfaatkan untuk beberapa hal, yang mungkin sejatinya masih belum bisa dicerna pemikiran masyarakat awam pada umumnya.

Berikut adalah kilasan mengenai potensi masa depan NFT plus pemanfaatan NFT oleh masyarakat saat ini

1. Aset Gaming dan Metaverse

Saat ini, banyak pihak yang tak henti-hentinya memuja metaverse.

Beberapa sosok-sosok cemerlang di dunia, seperti punggawa Facebook Mark Zuckerberg, menganggap bahwa metaverse adalah masa depan dunia. Selain itu, Greyscale juga mendapuk metaverse sebagai potensi bisnis bernilai US$1 triliun setelah penggunanya meningkat 10 kali lipat antara Januari hingga Juli 2021.

Sobat Cuan memang tak perlu mempercayai pendapat tersebut sepenuhnya. Tapi, kamu juga tak bisa menafikkan fakta bahwa game digital seperti Axie Infinity ternyata dimainkan oleh 2 juta pengguna di seluruh dunia dan kini punya valuasi sebesar US$3 miliar. Tentu saja, jutaan pemain tersebut telah membeli aset digital di jagat Axie Infinity dalam bentuk NFT. Potensi ekonomi yang cukup besar, bukan?

Nah, di dalam kancah metaverse, NFT dan teknologi blockchain adalah dua motor utamanya. Sebab, di dalam metaverse, nilai tukar resminya berbentuk mata uang kripto sementara asetnya hadir dalam bentuk NFT. Tapi, mengapa dua hal tersebut dimanfaatkan di metaverse?

Seperti yang Sobat Cuan ketahui, semua yang terjadi di jagat kripto memiliki semangat desentralisasi. Sehingga, alat tukar dan asetnya pun tidak boleh dikendalikan atau diatur oleh satu entitas tertentu.

Dari segi alat tukar, misalnya, sirkulasi uang fiat tentu diatur dan dikendalikan oleh bank sentral. Dengan sifat yang demikian, maka uang fiat tak cocok digunakan sebagai alat tukar resmi di dunia metaverse. Sehingga, metaverse tentu akan memilih menggunakan mata uang kripto sebagai alat tukar resminya.

Hal yang sama juga berlaku untuk kepemilikan aset di metaverse. Sebab, bentuk desentralisasi dari aset di jagat maya, tentu saja, adalah NFT.

Selain itu, kehadiran NFT di game digital pun sejatinya membantu pemain untuk memiliki item-item yang tak bisa mereka miliki sebelumnya.

Kelebihan tersebut, ternyata, merupakan solusi atas salah satu isu paling “kronis” dari permainan game digital Web2. Yakni, ketidakmampuan pemainnya untuk benar-benar memiliki item-item game tersebut meski mereka sudah menghabiskan sekitar US$40 miliar per tahun untuk berbelanja aset game virtual.

Hal ini terjadi lantaran perusahaan pengembang permainan virtual masih menguasai kepemilikan atas benda-benda tersebut. Padahal, pemainnya sudah menggelontorkan uang yang tak sedikit untuk membeli item-item game yang dimaksud.

Kondisi tersebut tentu akan merugikan pemain jika game Web2 tiba-tiba berhenti beroperasi secara mendadak. Sebagai contoh, jika Roblox tiba-tiba berhenti beroperasi esok hari, maka seluruh aset game Roblox yang dimiliki sang gamer akan berpotensi ikut hilang tanpa jejak di saat yang sama.

Nah, kondisi mengenaskan itu tak akan terjadi jika para pemain game tersebut juga mampu memiliki item game virtual yang sudah dibeli untuk dirinya sendiri. Caranya, pengembang game perlu memanfaatkan NFT sebagai representasi kepemilikan benda-benda yang dimaksud.

Di samping itu, kehadiran NFT juga mengubah paradigma umum mengenai game digital.

Setelah kemunculan NFT, banyak pengembang menciptakan game berdasarkan aset-aset yang telah dimiliki oleh para pemainnya. Misalnya, anggap saja Sobat Cuan kini mampu membeli lahan virtual, memasang avatar, skins, artefak, dan lain-lain yang sebelumnya tidak bisa dimiliki di game tradisional.

Nah, potensi tersebut bisa mengubah kekayaanmu di game yang selama ini kamu anggap fana menjadi kekayaan “nyata” yang benar-benar bisa dimanfaatkan di kegiatan ekonomi normal.

Lebih lanjut, salah satu kesempatan paling seru dari Web3 adalah integrasi antara protokol dan token di dalamnya.

Sobat Cuan mungkin sudah melihat hal ini di jagat decentralized finance (DeFi), di mana masing-masing protokolnya dibangun di atas protokol DeFi yang sudah ada. Hal tersebut ternyata terbukti membawa inovasi-inovasi baru terkait pemanfaatan jaringan blockchain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Hal serupa ternyata digadang juga bisa terjadi di industri metaverse dan gaming. Siapa tahu, nantinya akan ada inovasi-inovasi baru terkait pemanfaatan NFT di sektor tersebut. Saat ini, Loot dan ekosistem yang berada di sekitarnya sudah menjadi pionir atas hal yang dimaksud.

2. Seni

Salah satu masalah terbesar dari industri seni adalah kehadiran barang bajakan dan bukti kepemilikan yang tidak jelas. Untungnya, masalah tersebut bisa terpecahkan oleh kehadiran NFT dan blockchain. Sebab, NFT memungkinkan karya seni, beserta data historisnya, tersimpan di jaringan blockchain selamanya.

Selain itu, kehadiran NFT juga memungkinkan seniman untuk mendapatkan royalti jika karya seninya dijual kembali oleh seorang kolektor ke kolektor lainnya. Adapun sebelumnya, seniman tidak bisa memungut royalti atas penjualan karya seni fisik ciptaannya yang terjadi di pasar sekunder.

Kemudian, pemanfaatan NFT di kancah seni juga melahirkan satu cabang seni rupa dua dimensi baru bernama seni generatif. Seni generatif merupakan satu bidang seni di mana karya-karyanya dihasilkan dari proses algoritma pemrograman yang sebelumnya sudah diprogram oleh sang artis. Sobat Cuan bisa melihat salah satu contohnya melalui lukisan Fidenza karya Tyler Hobbs di bawah ini.

Proses penciptaan karya seni generatif pun terbilang cukup menarik. Ketika sang kolektor melakukan mints atas satu karya seni digital, maka algoritma pemrograman tersebut akan dioperasikan demi menghasilkan karya tersebut. Hasil akhir karya seni tersebut akan “dibungkus” dalam bentuk NFT dan akan dikirimkan langsung ke sang kolektor.

Uniknya, tidak ada seorang pun yang tahu hasil akhir karya seni dari algoritma tersebut hingga karya seni tersebut benar-benar rampung. Makanya, banyak yang menggemari hasil karya seni generatif karena hasil akhirnya terbilang mengejutkan. Hasil akhir yang tidak bisa ditebak ini juga menjadi daya tarik utama dari karya-karya seni generatif.

Banyak orang beranggapan bahwa karya seni generatif saat ini, khususnya yang diciptakan oleh seniman kawakan, akan menjadi benda-benda bernilai sejarah yang signifikan di masa depan. Ibaratnya, benda-benda ini akan memiliki status yang kurang lebih sama dengan karya lukisan milik Leonardo da Vinci atau Vincent van Gogh di masa depan.

Pelaku pasar utama yang memanfaatkan NFT untuk karya seni terdiri dari Art Blocks, The Blocks of Art, dan GEN.ART

3. Musik

Banyak pihak memprediksi bahwa pemanfaatan NFT untuk seni musik akan berkembang, seperti layaknya industri seni rupa dua dimensi. Pasalnya, baik di kancah seni rupa maupun seni musik, penciptanya selama ini hanya memperoleh royalti yang kecil atas karya yang mereka ciptakan.

Beberapa musisi seperti Shawn Mendes, Grimes, dan Snoop Doggs telah menjejaki NFT sebagai cara bagi mereka untuk memonetisasi musik sekaligus berinteraksi dengan penggemarnya. Sementara itu, band rock Kings of Leon masih belum nyaman merilis album dalam bentuk NFT, namun mereka sangat antusias saat mengetahui bahwa karya seninya dalam bentuk NFT diputar di luar angkasa.

NFT karya musik juga menjadi satu aset kelas baru bagi investasi. Hal ini memungkinkan pencipta karya musik untuk membagi pendapatan royalti lagunya dan memungkinkan masyarakat awam untuk berinvestasi dalam menciptakan lagu atau meluncurkan musisi baru.

Dalam kancah NFT musik, Audius dan Opulous adalah pemimpin pasarnya.

4. Event dan Penjualan Tiket

Seiring perkembangan zaman, penjualan dan percetakan tiket event, baik musik maupun pameran, pun bergeser dari tiket fisik menjadi tiket digital. Bahkan, kini NFT pun dipergunakan untuk mendukung digitalisasi tiket tersebut.

Namun, apa untungnya membeli tiket sebuah acara dalam bentuk NFT? Untuk memahaminya, mari simak ilustrasi berikut.

Bayangkan jika Sobat Cuan ingin datang ke konser band Coldplay. Karena Coldplay adalah grup musik yang cukup kondang, tak heran jika banyak fans yang ingin menonton konser mereka. Hanya saja, para penggemar tersebut mungkin akan berujung membeli tiket palsu atau terjebak penipuan saking ngebetnya menonton penampilan band asal Inggris tersebut.

Nah, masalah itu bisa terpecahkan jika tiket konser yang dimaksud dijual dalam bentuk NFT. Pasalnya, oknum-oknum tak bertanggungjawab akan kesulitan untuk memalsukan tiket-tiket konser tersebut mengingat satu NFT dengan NFT lain bersifat tak identik,.

Kemudian, terdapat manfaat lain yang bisa didapatkan fans jika mereka membeli tiket Coldplay dalam bentuk NFT, yakni:

  1. Mendapatkan tiket dengan desain grafis ala Coldplay berkualitas tinggi dibanding tiket fisik.
  2. Bisa dikoleksi sebagai memorabilia yang, bisa saja, bernilai tinggi di masa depan. Apalagi, bentuk tiket digital tidak akan kusam dimakan waktu lantaran tersimpan di dompet-dompet kripto.
  3. NFT bisa digunakan untuk membeli kudapan atau minuman di dalam event.
  4. Jika Sobat Cuan membeli tiket NFT premium alias VIP, maka kamu bisa mengakses backstage Coldplay atau mendapatkan akses eksklusif ke cendera mata digital yang jumlahnya terbatas.
  5. Tiket NFT membuka peluang bisnis baru. Sama seperti penggunaan NFT di belantika musik, masyarakat tidak hanya sekadar menjadi penonton konser Coldplay. Namun, mereka juga menjadi “pemegang saham” atas konser tersebut. Sehingga, mereka berkemungkinan untuk memperoleh keuntungan konser Coldplay meski dalam persentase kecil.
  6. Tiket dalam bentuk NFT tersebut bisa digunakan oleh masyarakat untuk menentukan lagu apa saja yang harus diputar Coldplay atau menentukan konsep konser yang seharusnya Coldplay mainkan saat perhelatan itu berlangsung. Hal ini menjadi mungkin lantaran tiket dalam bentuk NFT tersebut memungkinkan masyarakat untuk menjadi bagian dari Decentralised Autonomous Organization (DAO) konser Coldplay.
  7. Berkat kehadiran smart contracts, hasil penjualan tiket NFT konser Coldplay bisa didistribusikan secara merata. Misalnya, 40% dari pendapatan tersebut untuk membayar Coldplay, sementara sisanya digunakan untuk membayar kru panggung, tata panggung, tata cahaya, dan pihak lain yang terlibat dalam konser tersebut.

Terdapat beberapa perusahaan yang mulai menggeluti konsep ini. Salah satunya adalah klub basket Dallas Mavericks yang menerbitkan NFT sebagai hadiah kepada pengunjung pertandingan mereka. Selain itu, terdapat pula Sony dan AMC yang memberikan NFT kepada beberapa pembeli pertama tiket film Spiderman.

5. Komunitas NFT dan Identitas Digital

Lebih lanjut, NFT juga bisa menjadi benda yang mempersatukan satu orang dengan orang lain untuk bergabung ke dalam satu organisasi atau komunitas tertentu. Sehingga, masing-masing individu bisa saling bertemu dengan individu lain yang memiliki kepercayaan, visi, atau kegemaran yang sama.

Nah, NFT bagi kepentingan komunitas sudah dimanfaatkan oleh pengusaha AS, Gary Vaynerchuck. Ia menerbitkan NFT bernama VeeFriends NFT yang bisa digunakan pemiliknya untuk mengakses VeeCon dan bertemu Vaynerchuck secara langsung dan eksklusif.

6. Fesyen

Dewasa ini, masyarakat semakin sering menghabiskan waktu secara daring. Oleh karenanya, jangan heran jika mereka tak hanya membeli barang-barang fisik, namun juga semakin banyak mengoleksi barang-barang digital di masa depan.

Lagipula, akan muncul kecenderungan di mana masyarakat juga akan mengoleksi versi digital dari benda-benda yang mereka sudah miliki dalam bentuk fisik.

Sebagai ilustrasi, bayangkan jika Sobat Cuan membeli sepasang sepatu Air Jordan.

Sepatu tersebut tentu bakal membuatmu berpenampilan lebih kece di dunia nyata. Hanya saja, sepatu mahal tersebut tak bisa membuatmu tampil penuh gaya di kancah metaverse. Solusinya? Tentu saja kamu akan membeli sepasang sepatu Air Jordan yang baru, namun dalam versi digital.

Melihat fenomena tersebut, beberapa jenama fesyen tersohor kini juga menyediakan versi NFT dari produk-produk besutannya, yang penjualannya acapkali dipaketkan dengan versi fisik dari produk-produk fesyen tersebut.

Salah satu contoh jenama yang memanfaatkan NFT adalah rumah adibusana Dolce & Gabbana. Pada September 2021, Dolce & Gabbana menjual satu koleksi busana berisikan sembilan setel pakaian, plus versi NFT dari koleksi tersebut, yang diberi nama “Collezione Genesi” dengan harga US$5,7 juta.

Sama seperti yang terjadi di kancah musik dan event, NFT juga bisa membuka jalan baru bagi perancang busana untuk memonetisasi karyanya dengan lebih baik dan memungkinkan masyarakat untuk berinvestasi langsung di industri fesyen.

7. Digitalisasi Barang-Barang Fisik Lainnya

Seiring bergesernya aktivitas dunia ke ranah digital, maka bukan tidak mungkin jika kepemilikan aset fisik masyarakat akan terwakili secara daring dalam bentuk NFT. Berikut adalah beberapa contohnya.

a. NFT DeFi

Jika masyarakat memiliki aset fisik yang didigitalisasi dalam bentuk NFT, maka mereka bisa menggunakannya sebagai agunan dalam meminjam aset kripto di platform DeFi.

Agar memudahkan pemahamanmu, bayangkan jika kamu bisa meminjam uang dari Aave dengan mengajukan agunan berupa CryptoPunk. Bagaimana jika kamu terjebak dalam situasi gagal bayar? Nah, berkat teknologi smart contract, CryptoPunk milikmu akan dikirimkan secara otomatis ke platform DeFi yang bertindak sebagai kreditur.

b. NFT untuk Menyimpan Identitas dan Data Pribadi

Banyak pihak beranggapan bahwa Web2 telah gagal dalam mengelola data pribadi penggunanya. Sebagai buktinya, kamu tentu sering mendengar kasus di mana seorang atau beberapa oknum tak dikenal sukses membobol keamanan database web2 dan membocorkan data-data pribadi penggunanya, seperti informasi pribadi, identitas, dan kata sandi, ke internet.

Bahkan, faktanya, jumlah orang yang datanya belum “dicolong” akan melebihi jumlah orang yang sudah pernah menjadi korban pembocoran data di masa depan. Kondisi ini tentu akan menjadi ladang bisnis menggiurkan bagi oknum-oknum yang punya niatan jahat.

Untungnya, hal itu diharapkan tak akan terjadi di jaringan Web3.

Di jaringan tersebut, pengguna memiliki kontrol penuh atas data-datanya masing-masing yang tersimpan di dunia maya. Dengan kata lain, Web3 tak memiliki database tersentralisasi, sehingga memangkas kemungkinan beberapa pihak untuk membajak atau menjual data-data pribadi penggunanya.

Selain itu, data-data yang tersimpan di Web3 bakal memiliki sifat interoperabilitas di masa depan. Artinya, Sobat Cuan bisa menyimpan sebagian data pribadimu ke dalam NFT. Selain itu, kamu juga bisa membatasi beberapa situs tertentu untuk melihat data pribadimu secara keseluruhan.

Bahkan, ada kemungkinan history di akun mesin pencarian dan preferensimu di beberapa aplikasi juga bakal memiliki sifat interoperabilitas.

Sebagai contoh, bayangkan kamu menggunakan dua platform streaming, Netflix dan Disney+. Kemudian, history tontonan beserta rekomendasi filmmu di Netflix bisa kamu pindahkan seluruhnya ke akun Disney+ milikmu jika kamu login menggunakan data yang sama. Keren banget kan, Sobat Cuan?



Sumber : pluang.com

Kinerjanya Lagi Disorot, Yuk Kenalan dengan Cyclical Stocks di SP 500!

Tanda-tanda pemullhan ekonomi kini mulai terlihat di Amerika Serikat. Biasanya, ketika masa-masa seperti ini, investor pasar modal AS mulai melirik saham-saham siklikal, atau biasa disebut cyclical stocks, terutama dalam investasi di indeks S&P 500.

Ya, investor memantau ketat saham-saham ini lantaran biasanya aktif merespons terhadap kebijakan atau data ekonomi anyar yang dikeluarkan oleh pemerintah. Apalagi, setelah data-data makroekonomi dirilis. Seperti yang terjadi belakangan ini.

Pada pekan lalu, Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data bahwa dunia usaha mampu menyerap 559.000 tenaga kerja baru pada Mei, atau melesat dibanding 388.000 di April.

Sementara itu, pada pekan ini, Biro Statistik AS merilis data bahwa inflasi tahunan Mei berada di angka 5%, atau lebih kencang dibanding April sebesar 4,2%.

Nah, karena momennya tepat, maka mengenal cyclical stocks di dalam indeks S&P 500 bisa memandumu dalam menggaet cuan yang lebih besar dalam investasi ini. Yuk, kita kenalan lebih jauh dengan cyclical stocks!

Baca juga: Memahami Saham Growth Stocks dan Value Stocks di S&P 500. Apakah Itu?

Apa Itu Cyclical Stocks?

Secara sederhananya, cyclical stocks adalah saham-saham yang pergerakannya dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi.

Saham – saham ini mengikuti semua perkembangan yang terjadi. Saat pertumbuhan ekonomi sedang agresif, biasanya pergerakannya juga akan positif.

Namun, ketika ekonomi sedang buruk, kinerjanya sangat tergantung dengan langkah kebijakan yang akan dijalankan oleh pemerintah. Misalnya, keringanan pajak, stimulus moneter, dan lain-lainnya.

Kemudian, saham-saham yang masuk dalam cyclical stocks biasanya adalah saham perusahaan yang memproduksi barang-barang non kebutuhan pokok. Mengapa demikian? Hal ini kembali lagi ke kinerja ekonomi suatu negara, Sobat Cuan.

Kala ekonomi sedang berkembang, daya beli masyarakat pun sedang tokcer-tokcernya. Makanya, permintaan mereka akan barang-barang non-kebutuhan pokok pun juga akan melesat. Hal ini tentu akan mendongkrak kinerja keuangan perusahaan, dan ujungnya akan mempengaruhi kinerja saham-sahamnya.

Sebaliknya, masyarakat akan menahan konsumsinya saat resesi atau pertumbuhan ekonomi sedang tiarap. Hasilnya, mereka akan lebih memfokuskan pengeluarannya ke barang kebutuhan pokok dibanding barang-barang lainnya.

Alhasil, permintaan barang non kebutuhan akan melorot dan menyeret turun kinerja perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang seperti demikian.

Karakteristik Cyclical Stocks

Di indeks S&P 500 sendiri, saham-saham seperti Nike dan Starbucks adalah saham-saham yang masuk dalam kategori cyclical stocks. Yakni, saham-saham berkategori consumer discretionary, yang merupakan satu dari 11 sektor di indeks S&P 500 seperti tertera di artikel ini.

Cyclical stocks biasanya memiliki volatilitas harga yang sangat tinggi, seiring dengan sentimen yang diterimanya. Namun, investor percaya bahwa imbal hasil yang diberikannya juga bisa tinggi selama dalam periode pemulihan ekonomi.

Ya, saham-saham ini bergerak naik dan turun seiring dengan siklus ekonomi. Sehingga, perihal timing menjadi hal yang utama saat memutuskan untuk masuk ke saham jenis ini.

Kemudian, kinerja saham-saham jenis ini sangat sensitif dengan dua data makroekonomi yang menjadi katalis perbaikan ekonomi dan daya beli masyarakat. Yakni, inflasi dan data ketenagakerjaan. Nah, alasan mengapa data ini penting bisa kamu simak di artikel ini, ya!

Dua data tersebut menjadi rujukan pasti bagi para investor dalam membuat keputusan investasinya di pasar saham. Sehingga, pantas rasanya jika begitu data tidak sesuai dengan ekspektasi atau justru berada di atas ekspektasi, pergerakan saham-saham sektor ini bisa liar.

Baca juga: Apa Itu Saham Blue Chip?

Lebih Baik Mana: Cyclical Stocks atau Saham Lainnya di Indeks S&P 500?

Nah, kebalikan dari saham cyclical adalah saham defensif. Yakni, saham-saham yang diterbitkan oleh perusahaan produsen bahan pokok.

Namun pertanyaannya, saham mana yang punya kinerja lebih baik?

Sobat Cuan perlu paham bahwa masing-masing saham memilki peran masing-masing dalam meraup cuan. Karena ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu, saham-saham yang masuk dalam kategori defensif layak dikoleksi sebagai penyeimbang sekaligus lindung nilai terhadap kerugian yang timbul saat ekonomi melambat.

Mengapa saham-saham ini bisa bertahan meski sedang mengalami perlambatan ekonomi? Ya, namanya barang pokok, pasti permintaannya akan selalu deras kapan pun. Sehingga, mau ekonomi sedang dalam sulit atau tidak, barang produksinya tetap menjadi buruan.

Hanya saja, memang imbal hasil yang diberikan tidak seagresif saham cyclical. Beberapa contoh saham cyclical adalah seperti Ford, Netflix, Walt Disney dan beberapa bisnis yang sangat tergantung dengan siklus ekonomi lainnya.

Baca juga: Apa Itu Cyclical Stock?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Barrons



Sumber : pluang.com

Mengapa NFT Bernilai Tinggi?

Alasan Di Balik Mahalnya Harga NFT

Seperti yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, NFT memiliki kegunaan yang beragam. Apalagi, terdapat berbagai jenis NFT yang tersebar di dunia maya. Nah, karena masing-masing NFT punya nilai guna yang berbeda, maka harganya pun berbeda.

Konsep ini sejatinya mirip di aset kripto. Nilai Bitcoin dan Ethereum berbeda satu sama lain lantaran masing-masing memiliki nilai guna yang berbeda satu sama lain. Nah, berkaca pada hal tersebut, maka kadar kemahalan NFT sebenarnya terletak dari nilai intrinsiknya.

Oleh karenanya, tak heran jika harga karya seni seperti Bored Ape, Digital Real Estate, dan Fidenza masing-masing berbeda satu sama lain. Sebab, masing-masing di antaranya punya “nuansa” seni yang berbeda pula.

Kendati demikian, terdapat pula beberapa alasan lain yang menentukan mahal-murahnya harga NFT. Berikut penjelasannya!

1. Ukuran Komunitas dan Kegunaan NFT

Harga sebuah NFT bisa saja ditentukan oleh kemampuannya untuk mengantar pemiliknya ke satu komunitas yang punya skala besar. Mereka yang bergabung ke dalam komunitas tersebut pun tentu akan mendapatkan manfaat-manfaat eksklusif, yang nilainya pun ikut disertakan ke dalam kalkulasi harga NFT.

Ambil contoh NFT Bored Ape. Secara kasat mata, Bored Ape sepertinya hanya menjual foto-foto profil sekelompok kera yang terlihat sedang bosan dengan hidupnya. Namun, jika Sobat Cuan teliti lebih jauh, NFT Bored Ape sebenarnya adalah kartu keanggotan klub NFT paling hits sejagat bernama Bored Ape Yacht Club.

Adapun manfaat yang bisa Sobat Cuan terima jika bergabung dengan Bored Ape Yacht Club antara lain:

  1. Airdrop gratis bernilai US$10.000.
  2. Mendapatkan aset kripto gratis untuk ikut serta di tata kelola jaringannya.
  3. Akses gratis dan luas untuk bertemu sosok-sosok tersohor.
  4. Bisa menjalin koneksi langsung dengan individu-individu yang memiliki kekayaan bersih bernilai jumbo.
  5. Mendapatkan akses merchandise yang bisa bernilai tinggi jika dijual kembali.

Setiap komunitas yang terhubung dengan NFT tentu memberikan manfaat yang berbeda-beda bagi anggota. Sehingga, harga NFT Bored Ape mungkin akan jauh berbeda dibandingkan NFT komunitas lain yang menawarkan manfaat lebih kecil.

Selain itu, potensi manfaat NFT di masa depan juga terbilang tak terbatas. Pasti Sobat Cuan tak sabar untuk melihat perkembangan NFT berbasis komunitas ini ke depan, bukan?

2. Kemampuan NFT Untuk Mendulang Pendapatan

Seperti yang disinggung di artikel sebelumnya, pemilik NFT bisa mendapatkan manfaat dalam bentuk “bagi hasil” pendapatan atas sebuah karya atau barang tertentu. Nah, seberapa tinggi kemampuan karya tersebut dalam mendulang cuan pun ikut menentukan harga NFT yang bakal dilempar ke publik, lho!

Misalnya, jika Sobat Cuan memiliki NFT milik Lil Pump, maka kamu berkesempatan mendapatkan akumulasi royalti dari hasil streaming, lisensi, dan lainnya. Namun, kamu harus membeli NFT dengan harga lebih mahal jika NFT tersebut juga memungkinkanmu menerima pendapatan dari sumber lain selain streaming dan lisensi.

3. Aset Metaverse dan Kegunaannya

Metaverse adalah versi daring dari segala kegiatan yang umum dilakukan masyarakat di dunia. Berkaca dari premis tersebut, maka penghuni metaverse tentu bisa memiliki aset layaknya kehidupan di dunia nyata.

Nah, aset-aset digital ini tentu dibeli menggunakan aset kripto, sehingga mereka pun punya nilai pasarnya masing-masing. Bahkan, aset-aset tersebut juga memberikan nilai kebermanfaatan di jagat metaverse. Beberapa contoh aset tersebut antara lain:

  1. Benda-benda (item) yang dapat meningkatkan kemampuan karakter di metaverse.
  2. Mobil, kapal pesiar, dan alat transportasi pribadi yang lalu lalang di kancah metaverse.
  3. Hewan virtual yang bisa dikembangbiakkan untuk melahirkan hewan baru yang punya tipe fisik dan karakteristik yang bisa dimodifikasi sesuai keinginan “majikannya”. 

4. NFT Merupakan Representasi dari Real Estat Digital

Kadang, beberapa NFT hadir dalam bentuk, atau terikat, dengan properti yang tersedia di metaverse. Sehingga, nilai NFT yang terkait dengan aset properti akan berharga mahal jika properti metaverse tersebut juga ditaksir bernilai tinggi.

Hanya saja, apakah lahan virtual benar-benar punya nilai layaknya tanah di dunia nyata?

Saat ini, lahan virtual di metaverse terbilang lapang. Namun, banyak pihak percaya bahwa apresiasi harga lahan di metaverse akan meningkat di masa depan seiring pesatnya pertumbuhan jagat investasi kripto.

Nah, dua faktor tersebut bikin orang memborong lahan di metaverse, karena mereka merasa bahwa membeli tanah virtual saat ini ibarat membeli beberapa bidang tanah di Manhattan, New York pada 1750-an silam. Dengan kata lain, apresiasi harga aset tersebut baru akan terasa signifikan di tahun-tahun mendatang.

Terlebih, dunia metaverse seperti Decentraland, The Sandbox, atau Cryptovoxels memiliki suplai lahan yang terbatas. Sehingga, jika permintaan lahan di dunia metaverse meningkat, maka ketatnya suplai tersebut akan membawa harga lahan metaverse membumbung tinggi di masa depan.

Selain karena apresiasi harga tanah yang diramal bakal meroket, komunitas kripto juga memborong lahan metaverse atas alasan monetisasi. Ya, ketika mereka sudah memiliki kavling di metaverse, mereka bisa memanfaatkannya untuk kegiatan komersial, misalnya membangun dan menyewakan kantor virtual atau toko virtual ke penghuni metaverse lainnya.

5. Harga NFT Ditentukan oleh Kemampuannya untuk Membangun Citra Publik Pemiliknya

Jenis NFT seperti foto profil (Profile Pictures/PFP) dan aset metaverse adalah sarana bagi pemiliknya untuk menunjukkan identitas dirinya masing-masing. Selain itu, NFT jenis tersebut juga memungkinkan pemiliknya untuk membangun image publik.

Sebagai contohnya, anggap saja Sobat Cuan memasang foto profil akun Instagram-mu dengan bergaya di atas puncak gunung. Secara tidak langsung, melalui foto tersebut, tentu kamu ingin orang lain menganggap bahwa kamu adalah sosok yang menyukai alam dan petualangan.

Nah, NFT jenis PFPs dan aset di metavese juga punya kemampuan serupa.

Kadang, beberapa pemilik NFT ingin menunjukkan bahwa mereka adalah individu yang pintar, sukses, keren, dan berselera tinggi. Makanya, mereka rela merogoh kocek hingga jutaan Dolar AS hanya demi mendapatkan NFT PFPs yang sesuai dengan citra yang ingin mereka bangun.

Kondisi ini serupa dengan membeli jam Rolex seharga US$50.000. Para pembeli arloji tersebut tentu tidak membeli Rolex karena manfaatnya sebagai penunjuk waktu. Malahan, mereka membeli arloji tersebut sebagai sinyal bahwa mereka adalah orang-orang sukses dan mampu membeli benda-benda mahal.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat pun kini mulai menganggap penting citranya di ranah digital. Memang, mereka tidak bisa memamerkan jam Rolex mewahnya ke orang lain di kehidupan dunia maya. Namun, ketika mereka memasang foto profil seperti Cryptopunk atau Bored Ape, mereka ingin memberitahu orang lain bahwa mereka adalah golongan individu paling awal yang menggunakan NFT di dunia ini.

6. Harga NFT Ditentukan oleh Kelangkaannya

Saat ini, orang-orang tajir sejagat sedang kepincut untuk berkecimpung di jagat kripto. Contoh gampangnya adalah punggawa Tesla sekaligus miliarder Elon Musk yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada dunia kripto.

Layaknya orang kaya pada umumnya, mereka pun tentu akan mengoleksi benda-benda eksklusif dan langka yang tersedia di jagat maya. Misalnya, jika mereka doyan berburu lukisan-lukisan mahal di dunia nyata, maka tentu mereka juga akan melakukan hal tersebut di dunia maya, bukan?

Nah, di jagat kripto, NFT karya seni digital, PFPs, dan aset metaverse kerap dikumpulkan oleh para kolektor lantaran benda-benda tersebut bersifat langka dan punya relevansi secara sejarah. Tak heran jika kemudian kelompok tajir tersebut juga rela menggelontorkan uang yang tak sedikit untuk mengantongi benda-benda eksklusif tersebut.

Namun pertanyaannya, apakah permintaan akan barang-barang langka tersebut benar-benar bakal meningkat di masa depan?

Memang, terdapat beberapa pihak yang sangsi mengenai aspek kelangkaan dari benda-benda koleksi digital. Mereka berargumen bahwa benda-benda tersebut tidak bisa dirasakan secara fisik dan bisa direproduksi dengan mudah karena sifatnya yang digital.

Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa Bitcoin (BTC) juga tak punya bentuk fisik dan nilainya terus bertumbuh sejak pertama kali diluncurkan pada 2009 silam. Hal ini membuktikan bahwa konsep “nilai” atas sebuah benda kini sudah bergeser ke kancah digital.

Apakah NFT Bisa Disalin?

Potensi harga NFT memang menggiurkan ya, Sobat Cuan. Namun, khusus bagi mereka yang tak mampu membeli NFT, apakah mereka secara otomatis bisa mendapatkan NFT (misalnya NFT PFPs) hanya dengan mengambil screenshot atas karya seni itu di ponsel mereka?

Upaya tersebut sejatinya patut diacungi jempol. Tapi, hal itu tak serta merta bikin mereka menjadi pemilik sesungguhnya dari NFT yang dimaksud.

Konsepnya mirip seperti contoh berikut. Anggap saja kamu googling lukisan Mona Lisa di ponselmu dan mengunduhnya. Sementara itu, di waktu yang sama, kamu ternyata juga memiliki teman yang bahkan rela terbang jauh-jauh ke Paris, Perancis hanya untuk mengambil foto Mona Lisa secara langsung.

Setelah melakukan hal tersebut, apakah kamu bisa dibilang sebagai pemilik sah lukisan Mona Lisa? Atau malah temanmu yang pergi ke Paris yang justru dinobatkan sebagai pemilik sah Mona Lisa? Jawabannya, sudah pasti bukan dua-duanya.

Sehingga, kalau pun kamu menjual hasil tangkapan layar atau foto Mona Lisa asli dari Paris ke orang lain, maka harganya pun paling bernilai recehan.

Sekadar informasi, nilai NFT terletak dari aspek kepemilikan NFT orisinilnya. Jadi, kamu boleh saja mengambil tangkapan layar Cryptopunk, tapi hanya pemilik Cryptopunk yang asli sajalah yang mampu menjualnya dengan harga hingga jutaan Dolar AS.

Masih menyoal tentang karya seni, ternyata kehadiran NFT berhasil memecahkan dua masalah “kronis” menyangkut benda-benda koleksi. Masalah tersebut adalah:

  1. Orang lain bisa membuktikan kepemilikan dan keaslian dari benda-benda koleksi. Selama ini, banyak kolektor tertipu dengan benda-benda koleksi bodong. Nah, hal tersebut tak berlaku jika karya seni ditransformasikan ke dalam bentuk NFT.
  2. Karena data terkait kepemilikan dan keaslian benda koleksi berada di blockchain publik, maka semua orang bisa mengakses data-data tersebut.

Kenapa NFT Disebut Sebagai ‘Hal Fenomenal di Masa Depan’?

Memang, tak semua orang awam memahami logika di balik NFT. Mereka pasti berpikir bahwa sebenarnya benda-benda digital tersebut tak berharga lantaran hanya berbentuk digital. Mungkin, mereka juga menganggap bahwa mengoleksi NFT adalah hal percuma lantaran barangnya saja tidak bisa disentuh.

Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa keraguan serupa juga pernah menyerang Bitcoin pada 2011. Saat itu, banyak pihak meragukan kemampuan Bitcoin sebagai aset digital. Tapi, kini kamu bisa melihat sendiri bahwa anak-anak nongkrong di kafe bahkan menginginkan Bitcoin sebagai hadiah ulang tahunnya.

Ini menjadi alasan mengapa banyak pihak menyamakan aksi borong NFT saat ini sebagai aksi beli Bitcoin di 2011 silam. NFT adalah sebuah benda yang tengah berkembang dengan potensi-potensi baru di masa depan yang belum bisa dirasakan umat manusia saat ini. Tentu saja, potensi-potensi tersebut diharapkan akan menghasilkan cuan bagi pemiliknya.



Sumber : pluang.com

Tertarik HODL Aset Kripto? Simak 3 Strategi Jitunya di Sini!

Sobat Cuan investor aset kripto pasti tahu volatilitas di pasar kripto akhir-akhir ini memang agak-agak ngeselin. Namun, jika kamu investor sejati, maka volatilitas adalah teman menuju cuan jangka panjang.

Nah, salah satu “cara aman” dalam berdamai dengan volatilitas pasar, sekaligus mendapatkan cuan jangka panjang tersebut, adalah dengan melakukan strategi HODL alias menahan kepemilikan aset kripto kamu. Penjelasan tentang HODL sendiri bisa kamu baca di artikel ini ya, Sobat Cuan!

Namun, layaknya strategi investasi lain, HODL pun memiliki tips dan triknya tersendiri, lho. Nah, Sobat Cuan mau jadi HODLers sukses? Yuk, simak tiga hal yang harus kamu pertimbangkan ketika memilih untuk berinvestasi dan HODL aset kripto jagoan kamu!

Baca juga: Sudah Siap Cuan? Yuk Simak 3 Katalis Positif Harga ETH di Juni Berikut!

Tiga Kiat dan Strategi HODL Paling Tokcer

1. Memahami Teknologi Agar HODL Sukses

Arsitektur terdesentralisasi dari teknologi blockchain adalah hal revolusioner, namun juga kompleks. Hal ini membawa serta risiko yang signifikan bagi mereka yang tidak sepenuhnya memahami fungsinya.

Hal yang tampaknya sederhana seperti menyiapkan wallet (dompet digital) dan mengirim transaksi dapat menjadi malapetaka jika tidak dilakukan dengan benar.

Makanya, sebelum membeli aset kripto, kamu harus menginvestasikan waktu untuk mempelajari seluk beluk teknologi blockchain. Hal ini mencakup sejarah, fungsionalitas, dan kekurangannya secara menyeluruh.

Investor baru harus berusaha mempelajari tentang bursa utama, dompet, dan prosedur untuk penyimpanan yang aman. Mereka juga harus mempelajari arti di balik istilah umum seperti “proof of work” dan “block time”. Nah, kalau kamu belum paham istilah tersebut, yuk simak artikel ini!

Lantas, apa pentingnya kamu mempelajari hal-hal tersebut? Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Kalau kamu tak mengenal seluk beluk aset kriptomu, seperti teknologi hingga potensinya di masa depan, maka strategi HODL-mu bisa buyar. Alias, kamu akan gampang tergoda untuk mengikuti arus yang dilakukan trader dan investor lain.

Pastikan kamu memang ingin HODL bukan karena cuan semata, tapi juga karena yakin dengan penggunaan masa depan aset kriptomu ya, Sobat Cuan!

Baca juga: El Salvador Resmi Adopsi Bitcoin Sebagai ‘Uang’. Harga Bitcoin Bakal Naik?

2. Pasang Sikap Skeptis dan Kewaspadaan dalam HODL

Mengingat sifat revolusioner dari teknologi distributed ledger alias pencatatan transaksi, maka menjadi skeptis adalah suatu keharusan. Kamu tak boleh percaya begitu saja atas klaim tentang cuan mudah. Apalagi terkait platform exchange dan wallet yang memberikan janji-janji cuan yang berbunga-bunga.

Asal kamu tahu, investor kripto penganut HODL paling sukses selama sepuluh tahun terakhir adalah mereka yang menghindari platform atau layanan yang sangat berisiko. Mereka hanya menambahkan portofolio aset kripto mereka secara teratur dan menyimpan password dengan aman di wallet mereka sendiri.

Makanya, kamu perlu melakukan strategi HODL dilandasi pendekatan investasi yang konservatif dan wajar, ya!

Baca juga: Ampun Om Elon! Sampai Kapan Pengaruh Elon Musk ke Harga Kripto Berakhir?

3. Giat Menambah Wawasan Terbaru Soal Dunia Aset Kripto

Ruang blockchain berkembang pesat secara teknis, hukum, dan sosial. Nah, karena perkembangannya yang kilat, maka semua pemegang aset harus secara rutin mengikuti berita dan perkembangan tanpa terkecuali. Misalnya, perubahan platform, pembaruan wallet, dan exchange datang dan pergi.

Mengikuti perkembangan hukum dan peraturan juga sangat penting, karena pemerintah sekarang kian memantau aset blockchain. Beberapa negara bahkan meminta aset kripto untuk dilaporkan pada formulir pajak. Sementara yang lain berusaha menekan adopsi blockchain. Masalah-masalah ini sangat relevan bagi siapa saja yang memiliki investasi di aset kripto.

Kemudian, apa pentingnya kamu memahami hal-hal di atas? Nah, perkembangan terbaru di aset kripto tentu akan membuatmu kian bijak dalam menentukan keputusan HODL.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Sampai kapan kamu mau berniat HODL?” hingga “Berapa besar jumlah aset kripto yang perlu kamu HODL?” akan terjawab jika kamu mengetahui perkembangan aset kripto saat ini.

Kesimpulan

Secara umum, HODL memang strategi yang aman dalam berinvestasi aset kripto. Namun, sifatnya yang mudah bukan berarti bikin kamu juga bisa “berpuas diri”.

Tetap bekali dirimu dengan pengetahuan-pengetahuan yang mumpuni demi memupuk rasa konsistensi dalam HODLing. Tidak ada investasi yang boleh dilakukan tanpa studi yang cermat dan bertumpu pada kedewasaan dan kewaspadaan diri.

Nah, kalau kamu berniat HODL yang aman, yuk cobain Pluang Cuan! Hanya dengan menyimpan aset kriptomu di Pluang, kamu bisa mendapatkan imbal hasil hingga 3,5% per tahun dalam bentuk aset kripto! Cocok banget buat kamu yang menjunjung tinggi semangat HODL.

Yuk, investasi di Pluang Cuan sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Bitcoinist



Sumber : pluang.com

Simak 4 Indikator Analisis Teknikal Dasar Bagi Pemula Berikut!

Trading tanpa memahami analisis teknikal yang paling pas buat kamu tentu bukan langkah yang bijak, Sobat Cuan! Selain bakal bikin kamu jadi korban pompom influencer, cuan kamu pun jadi tidak optimal.

Analisis teknikal pada dasarnya mudah dipahami dan dikombinasikan sesuai dengan gaya trading kamu. Setelah menemukan selera resiko dan tujuan investasi kamu, mempelajari dasar-dasar analisis teknikal adalah langkah awal yang baik untuk membanguh portofolio.

Supaya lebih mudah mengaplikasikannya, kamu perlu menyimak artikel ini ya, Sobat Cuan. Soalnya, kamu akan menemukan empat indikator teknikal dasar dan basic yang wajib kamu pahami kalau kamu ingin mengatur strategi trading!

4 Indikator Teknikal Dasar yang Penting Bagi Pemula

1. Analisis Teknikal dengan Moving Average

Contoh Moving Average 50 hari (MA-50). Sumber: Trading View

Salah satu indikator analisis teknikal terbaik yang paling banyak digunakan adalah Moving Average. Penjelasan lebih lanjut soal Moving Average bisa kamu baca di sini ya, Sobat Cuan! Tapi secara garis besar, indikator ini memberi informasi peluang trading dari tren pergerakan harga.

Moving average (MA) menggunakan data historis dalam kurun waktu tertentu untuk menebak pergerakan harga ke depan. Biasanya kurun yang digunakan adalah 20 hari terakhir, 50 hari terakhir dan 200 hari terakhir.

Kamu bisa mengukur harga rata-rata dari tren berdasarkan harga pembukaan, penutupan, tertinggi dan terendah. Jika harga berada di bawah garis MA artinya harga cenderung turun, sementara jika berada di atas MA berarti harga cenderung naik.

Terdapat tiga jenis MA yang dapat kamu gunakan, yakni Simple Moving Average, Weighted Moving Average dan Exponential Moving Average. Namun Simple Moving Average lebih umum dan lebih mudah penggunaannya. Sementara dua jenis lainnya memberi kamu informasi yang lebih luas.

Baca juga: Investasi Lagi Anjlok, Yuk Cari Cuan Lewat Short Selling! Ini Strateginya!

2. Relative Strength Index (RSI)

Contoh RSI. Sumber: Trading View

Metode ini diperkenalkan oleh J Welles Wilder di tahun 1978 melalui sebuah artikel di Future Magazine sebagai metode mengukur kekuatan relatif harga saham. Karenanya, RSI bisa membantu kamu menentukan momentum jual dan momentum beli.

Karena berguna menentukan momentum, RSI tidak hanya digunakan oleh trader melainkan juga oleh investor jangka menengah dan jangka panjang. Manfaatnya agar kamu bisa masuk ke pasar saat harga terendah dan tarik cuan saat harga terlalu tinggi.

Secara sederhana, RSI dipakai sebagai parameter osilator yang menunjukkan nilai dalam area kurva. Aturannya, kamu sebaiknya membeli saat nilai RSI berada di area oversold, atau di bawah nilai 30 dengan candlestick bullish. Lalu, kamu bisa menjualnya saat kurva masuk ke area overbought, atau di atas nilai 70, dengan candlestick bearish.

Meski begitu, kamu harus tetap mewaspadai kondisi gagal ayun atau ketika kurva tidak konsisten menunjukkan bullish dan bearish. Kamu bisa mematok posisi cut loss sedikit di atas titik swing loss terakhir untuk mewaspadai strategi kamu berbalik arah. Mudah bukan?

Nah, kalau kamu penasaran dengan RSI, simak lebih lanjut di artikel ini, ya!

Baca juga: Apa itu Analisis Fundamental Saham?

3. Analisis Teknikal dengan Slow Stochastic

Slow Stochastic. Sumber: Trading View

Mirip dengan RSI, stochastic adalah parameter osilator yang membantumu menentukan momentum jual dan beli. Bedanya, jika kurva RSI menggunakan 30/70, stochastic lebih konvensional yakni 20/80.

Perbedaan lainnya ialah stochastic memiliki dua garis indikator yakni %K dan %D. Secara sederhana, %K mengukur tingkat perubahan harga saat ini sementara %D merupakan Moving Average dari %K.

Kamu sebaiknya membeli saat %K memotong %D dari bawah ke atas dan menjual saat momentumnya terbalik.

Agar lebih akurat, kamu bisa mengonfirmasinya dengan melihat area overbought dan oversold. Jika persilangan bullish terjadi di area oversold, maka itulah peluang emas untuk kamu cuan dengan menjualnya saat persilangan bearish terjadi di area overbought.

4. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

MACD. Sumber: Trading View

Di antara parameter osilator lainnya, MACD kerap disebut-sebut sebagai raja karena kompleksitasnya menentukan peluang cuan.

Penjelasan mengenai MACD bisa kamu baca di artikel ini, Sobat Cuan. Tapi prinsipnya, MACD membaca tren baru ketika garis MA dalam kurun yang lebih singkat berpapasan dengan MA dalam kurun yang lebih lambat.

Namun, tren tidak hanya dibaca dengan persilangan garis MA, melainkan juga dengan menggunakan histogram. Saat persilangan yang terjadi diikuti dengan histogram yang membesar mengindikasikan tren yang kuat. Jika persilangan itu diinisiasi oleh MA cepat ke bawah artinya adalah downtren, begitupun sebaliknya.

Kelemahan indikator MACD adalah momentum yang agak terlambat karena yang dibaca merupakan tren pergerakan. Meski begitu, MACD tetap disukai trader karena akurasinya yang baik.

Atur Strategi Sederhana dan Terapkan!

Setelah mengetahui indikator dan petunjuk sederhana penggunaannya, yang harus kamu lakukan adalah mengatur strategimu sendiri. Kamu harus tahu, di titik mana kamu harus stop loss atau cut loss dan sebesar apa target cuanmu.

Berpegang teguh pada strategi merupakan syarat mutlak sukses trading. Terkadang situasi pasar digerakkan oleh psikologis trader yang mudah terprovokasi. Jika kamu mengikutinya, provokasi pasar akan membuat rencanamu berantakan.

Tentukan strategi yang paling efektif, efisien dan sederhana agar dapat kamu ikuti dengan disiplin. Siap siap cuan, ya! Dan kalau kamu mau coba-coba cuan trading aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, tidak ada salahnya lho mencicipinya di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



Sumber : pluang.com

Mengenal CryptoPunks, Pionir Proyek NFT di Dunia

Sekilas Mengenai CryptoPunk

CryptoPunk adalah salah satu proyek NFT paling awal di dunia yang diluncurkan 2017 silam. Proyek yang diciptakan oleh Larva Labs tersebut merupakan koleksi berisi 10.000 gambar berukuran 24×24 piksel yang memperlihatkan karakter yang disebut “punks”. Masing-masing karakter tersebut punya ciri khas tersendiri, mulai dari jenis kelamin, bentuk kaca mata, hingga penutup kepala.

Karya-karya CryptoPunk awalnya dirilis secara gratis. Namun, kini satu karya CryptoPunk bisa bernilai hingga ratusan ribu Dolar AS. Bahkan, koleksi langka CryptoPunk seperti alien, kera, dan zombies, kini dibanderol jutaan Dolar AS!

Peminat karya seni Cryptopunk pun bukanlah pihak-pihak sembarangan. Raksasa sistem pembayaran Visa, misalnya, membeli CryptoPunk #7610 sebagai bagian dari koleksinya yang bertema “artefak bersejarah”.

Selain itu, selebriti dan tokoh penting dunia berikut juga memiliki CryptoPunk, di antaranya adalah:

  1. Snoop Dogg
  2. Kanye West
  3. Gary Vaynerchuk
  4. Marshmello
  5. Jason Derulo
  6. Jordan Belfort
  7. Serena Williams
  8. Steve Aoki
  9. Logan Paul

Mengapa Cryptopunk Berharga?

Seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya, kolektor karya seni doyan mengumpulkan NFT karya seni digital, PFPs, dan aset metaverse lantaran bersifat langka dan punya relevansi secara sejarah. Kondisi ini juga menarik minat orang-orang tajir untuk ikut berburu benda-benda yang dimaksud.

Layaknya di dunia nyata, mereka yang merupakan kaum berduit akan rela merogoh dalam koceknya hanya demi mengantongi koleksi-koleksi seni eksklusif. Nah, seiring perilaku masyarakat yang kini mulai bergeser ke digitalisasi, maka perilaku yang sama pun ikut mereka terapkan di jagat maya.

Namun, aset digital dan blockchain apa saja yang diburu oleh kaum-kaum tajir tersebut? Jawaban utamanya mungkin adalah CryptoPunk. Sebab, CryptoPunk adalah proyek orisinil dan penting di jagat NFT.

Alasannya sederhana, Sobat Cuan. Nilai suatu benda akan menjadi bernilai jika statusnya adalah “superstar” dan punya asosiasi publik yang cukup tinggi. Faktor ini yang jadi alasan mengapa pemain NBA Michael Jordan menerima bayaran lebih tinggi dari pemain basket lainnya. Ini juga yang melandasi mengapa Facebook menguasai pangsa pasar industri media sosial saat ini dan akhirnya menjadi salah satu perusahaan paling bonafide sejagat.

Ketika sebuah benda menjadi pusat perhatian, maka benda tersebut akan memperoleh exposure, kesempatan untuk dikenal orang, dan nilai yang lebih tinggi dari sesamanya.

Apalagi, benda-benda yang dianggap sebagai “bintang utama” di jagatnya masing-masing punya citra khusus yang tak bisa dikejar kompetitornya, yang kerap disebut sebagai halo effect. Contoh gampang halo effect adalah Bitcoin vs Ethereum.

Meski Ethereum menawarkan lebih banyak nilai manfaat dibanding Bitcoin, namun Ethereum, hingga saat ini, belum mampu menyalip Bitcoin dari segi kapitalisasi pasar. Lagipula, kamu pasti akan mengatakan “Bitcoin” sebagai koin yang pertama kamu sebut ketika memberi contoh-contoh aset kripto ke temanmu.

Sementara itu, ketika kamu memperkenalkan NFT ke temanmu, mungkin saja kamu akan menyebut CryptoPunk sebagai contoh proyek NFT yang bakal kamu jabarkan. 

Intinya, Cryptopunk adalah pusat dari semesta bernama NFT. Bahkan, ibarat saham, Cryptopunk adalah NFT yang menyandang status “blue chip“.

Bagaimana Cara Menilai CryptoPunk?

Untuk menilai satu NFT Cryptopunk, maka Sobat Cuan harus memahami bahwa satu karya Cryptopunk ternyata 2.100 kali lebih langka ketimbang Bitcoin.

Hanya saja, menilai satu benda yang tak berwujud seperti CryptoPunk tentu tak hanya tergantung dengan kelangkaannya semata. Terlebih, komunitas kripto sejatinya sulit untuk mengukur harga satu aset yang tak berwujud seperti NFT.

Lantas, bagaimana cara Sobat Cuan melakukan valuasi atas CryptoPunk? Nah, untuk memudahkanmu, berikut adalah aspek-aspek yang perlu kamu pertimbangkan.

  1. Seberapa besar permintaan global akan aset-aset langka saat ini?
  2. Seberapa besar kemungkinan bahwa aset digital akan menjadi aset-aset paling berharga di masa depan?
  3. Apakah ada kemungkinan NFT-NFT generasi awal bakal dianggap sebagai aset digital yang paling langka sejagat?

Menimbang kerangka pikir di atas, maka Sobat Cuan bisa memproyeksikan seberapa besar nilai CryptoPunk di masa depan mengingat suplainya hanya 10.000 CryptoPunk saja.

Kendati status superstar-nya di jagat NFT, CryptoPunk sejatinya bukanlah proyek NFT pertama di dunia. Secara teknis, ia adalah proyek NFT ke-17 tertua di dunia.

Meski begitu, Cryptopunk tetap dianggap sebagai proyek NFT yang paling menginspirasi proyek-proyek NFT lainnya untuk terus bermekaran.



Sumber : pluang.com

Mengapa Aturan Pemerintah Berpengaruh ke Harga Aset Kripto?

Sobat Cuan mungkin paham bahwa Bitcoin sedang disorot oleh beberapa negara dalam beberapa saat terakhir. Apalagi, kalau bukan urusan aturan pemerintah dalam meregulasi Bitcoin.

Hal ini pun sempat bikin harga Bitcoin jungkat-jungkit dalam sebulan terakhir. Namun, sebagai pecinta aset kripto, mungkin masih ada satu pertanyaan yang mengganjal: Mengapa regulasi pemerintah bisa bikin harga aset kripto naik-turun?

Contoh Aturan Bitcoin Pemerintah Global

Selama sebulan terakhir, harga Bitcoin memang sempat anjlok gara-gara sinyal “perlawanan” terhadap Bitcoin yang digencarkan oleh beberapa negara.

Salah satu kebijakan pemerintah global yang sempat bikin ketakutan, ketidakpastian, keraguan (Fear, Uncertainty, and Doubt/FUD) di pasar adalah soal aksi keras pemerintah China.

Akhir Mei lalu, pasar kripto diselimuti rasa FUD setelah pemerintah China memasang sikap pasang kuda-kuda untuk menutup pertambangan Bitcoin di negara tersebut.

South China Morning Post menyebut bahwa pejabat tingkat tinggi China berencana untuk menyusun penalti yang kuat bagi mereka yang ketahuan menambang aset kripto. Salah satu hukumannya adalah masuk ke daftar hitam jasa keuangan, sehingga mereka tak bisa mengakses produk-produk perbankan.

Di dalam rancangan peraturan tersebut, hukuman itu tidak hanya berlaku bagi penamban aset kripto namun juga pusat data, perusahaan telekomunikasi, dan bahkan warnet. Setelah kabar itu tersiar, harga Bitcoin pun langsung terjun bebas dari mendekati US$40.000 hingga US$34.000 dalam dua hari saja.

Meski ada negara yang terlihat menabuh genderang perang melawan Bitcoin, namun ada pula negara lain yang menerbitkan regulasi yang pro aset kripto. Salah satunya dilakukan oleh El Salvador pada awal Juni 2021.

Penjelasan lengkap mengenai aturan Bitcoin El Salvador bisa Sobat Cuan baca di artikel ini. Namun intinya, negara Amerika Tengah itu akan menjadi negara pertama yang mengadopsi Bitcoin sebagai alat transaksi sah. Ini terjadi setelah legislatif setempat mengesahkan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan oleh Presiden El Salvador, Nayib Bukele.

Hasilnya, harga Bitcoin pun langsung melonjak 13% setelah aturan itu disahkan.

Konsep Sederhana Hubungan Rencana Aturan Pemerintah dan Harga Bitcoin

Setelah melihat serangkaian peristiwa di atas, tentu kita bisa menarik benang merah antara regulasi pemerintah dengan harga aset kripto. Namun, seperti apa penjelasannya?

Untuk memahami hal ini, Sobat Cuan mesti kembali lagi ke konsep dasar mata uang kripto. Yakni, instrumen yang bisa menjadi alternatif bagi mata uang fiat dengan manfaat guna (use case) yang kurang lebihnya serupa.

Sehingga, jika ada sebuah lembaga, atau mungkin negara, bersikap terbuka kepada aset kripto, maka artinya mereka percaya dengan nilai guna dan manfaatnya di masa depan. Begitu pun sebaliknya. Kalau mereka sinis dengan Bitcoin, artinya mereka sangat skeptis dengan nilai guna aset digital tersebut di masa depan.

Nah, hal ini dibaca oleh para investor dan trader sebagai sentimen esensial dalam menentukan langkah di aset kripto. Mereka tentu akan aktif “bermain” di kripto kalau banyak lembaga atau negara mulai mengadopsinya. Sebab, bisa jadi hal tersebut akan memperkuat potensi permintaannya di masa depan.

Begitu pun sebaliknya. Mereka tentu tidak mau macam-macam dengan aset kripto yang tak punya masa depan jelas dan “dimusuhi” banyak pihak. Sebab, permintaannya di masa depan mungkin akan sedikit. Bahkan, mungkin bisa saja nihil.

Baca juga: Sudah Siap Cuan? Yuk Simak 3 Katalis Positif Harga ETH di Juni Berikut!

Bagaimana Aturan Pemerintah Dapat Mengintervensi Bitcoin?

Ada beberapa cara di mana intervensi pemerintah dapat mempengaruhi harga aset kripto.

  1. Pemerintah dapat mengatur harga aset kripto, seperti mata uang fiat, melalui aksi jual beli di pasar internasional.
  2. Pemerintah dapat mengurangi antusiasme yang berlebihan terhadap kelas aset kripto dengan membebaninya melalui peraturan yang meningkatkan biaya untuk. Contoh dari pendekatan ini adalah regulasi Bitcoin yang sedang dipertimbangkan di berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Sebagian besar negara bagian memerlukan surety bond atau jaminan dengan jumlah yang setara dalam mata uang fiat untuk pertukaran mata uang kripto di dalam yurisdiksi mereka.
  3. Pemerintah juga dapat membuat aset kripto menjadi langka dengan memberlakukan kontrol di atasnya. Contohnya adalah kasus emas, yang memiliki pembatasan impor di beberapa negara.

Ketiga jenis tindakan tersebut berpotensi buruk dalam kasus Bitcoin dan cryptocurrency. Ini karena aset kripto bersifat ekstra-nasional dan memiliki buku besar terdesentralisasi yang tersebar di beberapa negara.

Regulasi akan membutuhkan upaya yang terkoordinasi dengan baik di beberapa negara. Ini mungkin tugas yang sulit, mengingat setiap negara punya sikap yang berbeda-beda terkait aset kripto.

Namun, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa aturan pemerintah mungkin tidak terlalu berdampak terhadap harga Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Dalam sebuah esai tentang Project Syndicate, ekonom terkenal Kenneth Rogoff menulis bahwa Bitcoin tidak akan pernah menggantikan uang yang dikeluarkan pemerintah. Alasannya karena hal itu “akan membuat pemerintah sangat sulit untuk mengumpulkan pajak atau melawan aktivitas kriminal.”

“Akankah harga Bitcoin turun menjadi nol jika pemerintah dapat mengamati transaksi dengan sempurna? Mungkin tidak,” jelasnya.

“Transaksi Bitcoin memang memerlukan pasokan listrik yang sangat tinggi. Namun, dengan beberapa perbaikan, Bitcoin mungkin masih mengalahkan biaya administrasi yang dibebankan bank-bank besar pada kartu kredit dan debit,” tulisnya.

Baca juga: El Salvador Resmi Adopsi Bitcoin Sebagai ‘Uang’. Harga Bitcoin Bakal Naik?

Pendapat Lain: Aturan Pemerintah Tak Pengaruhi Harga Bitcoin

Brian Feinstein dan Kevin Werbach, profesor studi hukum dan etika bisnis Wharton menguji kekhawatiran yang mengintai dari regulasi pemerintah. Mereka meneliti apakah penurunan harga aset kripto mengikuti peraturan di suatu negara.

“Jawabannya adalah, ‘Hampir selalu tidak,’” kata Feinstein.

Temuan itu adalah hasil dari studi lengkap oleh Feinstein dan Werbach tentang aktivitas perdagangan di beberapa bursa di seluruh dunia. Mereka meneliti harga setelah pengumuman peraturan aset kripto utama seperti Bitcoin.

Studi mereka menemukan “hasil yang hampir seluruhnya nol,” yang mereka tulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan 25 April di Journal of Financial Regulation.

“Dari rezim pembuatan perizinan yang dimanipulasi lebih dahulu, hingga dalih tindakan anti pencucian uang dan penegakan anti-penipuan, serta banyak kategori kegiatan pemerintah lainnya, kami tidak menemukan bukti sistemik bahwa tindakan regulasi menyebabkan investor pergi, atau memasuki, yurisdiksi yang terkena dampak,” tulis mereka.

“Penggemar kripto menilai bahwa peraturan yang terbatas bisa mendorong perdagangan di bursa domestik dan dengan demikian menarik aktivitas pengembangan di sekitar teknologi. Sementara peraturan yang tidak menguntungkan akan menyebabkan perdagangan bergerak ke luar negeri,” tulis Feinstein dan Werbach dalam opini baru-baru ini di The New York Times.

Baca juga: Ampun Om Elon! Sampai Kapan Pengaruh Elon Musk ke Harga Kripto Berakhir?

Kesimpulan

Intinya, rencana aturan pemerintah bisa saja berdampak terhadap harga Bitcoin plus cryptocurrency lainnya. Namun, hal itu pun kembali ke persepsi trader dan investor terhadap prospek jangka panjang aset kripto.

Memang, satu regulasi pemerintah bisa bikin investor ragu-ragu dengan masa depan aset kripto. Namun, jika mereka masih percaya dengan prospek aset kripto ke depan, maka kabar miring dan “serangan-serangan” regulasi pemerintah harusnya bukan jadi persoalan yang bikin pusing.

Kalau kamu bagaimana, Sobat Cuan? Apakah kamu juga yakin dengan nilai guna aset kripto di masa depan? Kalau jawabannya “ya”, yuk segera investasi Ethereum dan Bitcoin di Pluang sekarang!

Baca juga: Panik Harga Bitcoin & ETH Anjlok? Yuk, Coba Cari Cuan dengan Strategi Buy the Dip!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Wharton



Sumber : pluang.com