Category: Pluang

  • Mau Beli Rumah Bermodal Investasi Reksadana? Simak Caranya di Sini!

    Sobat Cuan yang baru saja melepas status lajang, sekarang mungkin sedang berburu rumah untuk persiapan kehidupan yang lebih mandiri. Namun kadang kala, hal itu sering terkendala dengan kenaikan harga rumah fantastis setiap tahunnya.

    Menggunakan tabungan di bank kok rasanya lama dan tidak meningkatkan aset keuangan. Terutama dewasa ini, ketika bank sentral masih memberlakukan suku bunga rendah. Nah ada salah satu produk investasi, yakni reksadana yang bisa dijadikan rujukan untuk mewujudkan mimpimu memilki rumah idaman.

    Mengapa Menabung Tidak Cukup Untuk Membeli Rumah?

    Berdasarkan data Housing Finance Center (HFC), harga rumah terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Per Maret tahun ini saja, peningkatannya sudah mencapai 5,24% secara tahunan. Artinya, jika kamu mengandalkan dana tabungan atau deposito untuk mengejar kenaikan harga rumah setiap tahunnya, masih besar pasak dari pada tiang.

    Pasalnya rata-rata suku bunga deposito di Indonesia berkisar di angka 4% per tahun, sementara suku bunga tabungan masih dibawah suku bunga deposito. Sehingga, yang kamu perlu lakukan adalah mencari instrumen lain agar kamu bisa menabung demi hunian impianmu.

    Mengapa Investasi Reksadana Bisa Membantumu Beli Rumah?

    Ternyata, selain tabungan, terdapat beberapa instrumen investasi lain yang bisa kamu gunakan untuk membeli rumah. Salah satunya adalah reksadana.

    Sebab, imbal hasil reksadana memang terbilang lebih mumpuni dibanding produk tabungan. Bahkan, nilai return-nya jauh lebih besar dibanding kenaikan harga rumah tersebut.

    Jika kamu masih belum yakin, yuk tengok kinerja reksadana 2020 berdasarkan jenisnya berikut!

    Nah, jika dilihat di atas, kita bisa membaca bahwa reksadana pendapatan tetap rata-rata bisa memberi imbal hasil mencapai 10% per tahun.

    Secara matematika, maka sudah barang tentu jumlah dana yang kamu investasikan bisa mengungguli kenaikan harga rumah setiap tahunnya. Maklum, reksadana selama ini memang dikenal sebagai instrumen investasi yang jago dalam menghalau kepungan inflasi.

    Selain itu, investasi reksa dana juga tergolong sangat murah, kamu bisa mulai berinvestasi dengan jumlah minimal Rp15 ribu lho. Apalagi, kamu tidak berinvestasi secara langsung. Sebab, ada kehadiran manajer investasi yang akan mengelola dana investasimu.

    Tentukan Mekanisme Pembelian Rumah Sebelum Investasi Reksadana!

    Dalam dunia keuangan, penting sekali untuk menentukan tujuan investasi sebelum memutuskan untuk membeli produknya.

    Begitu pun halnya dengan menggunakan investasi reksadana untuk membeli rumah. Kamu perlu paham mengenai sejauh apa tujuan kamu berinvestasi reksadana ketika membeli rumah. Apakah kamu ingin menggunakan reksadana hanya untuk menabung uang muka (DP) rumah? Ataukah kamu benar-benar ingin meminangnya secara tunai?

    Kamu perlu mengetahui tujuan tersebut agar kamu paham jenis reksadana apa yang harus kamu pilih. Nah, agar kamu tak bingung, yuk simak penjelasan dan simulasinya di bawah ini!

    Baca juga: Atur Risiko Investasi Melalui Reksadana, Ini 5 Hal Dasar yang Wajib Kamu Pahami!

    1. Membeli Rumah via KPR

    Jika kamu ingin membeli rumah secara kredit, maka kamu tentu harus menabung uang mukanya terlebih dulu.

    Kini, Bank Indonesia memberlakukan relaksasi uang muka sebesar 0% dari total harga rumah. Namun, pada kondisi lumrah, jumlah uang muka biasanya sekitar 20% dari total harga tempat tinggal.

    Nah, membayar DP rumah bisa kamu lakukan dengan investasi reksadana lho! Untuk lebih lengkapnya, yuk simak simulasi berikut:

    Abang Jago adalah seorang karyawan swasta yang ingin membeli rumah senilai Rp500 juta. Namun, ia perlu membayar uang muka sekitar 20% alias Rp100 juta yang harus ia kumpulkan dalam delapan tahun.

    Sayangnya, penghasilan Bang Jago hanya Rp8 juta per bulan. Tapi, ia punya profil risiko yang cukup moderat ke arah agresif. Lantas, bagaimana cara ia menabung DP rumah tersebut?

    Dalam mencari instrumen investasi yang pas, kita perlu tahu proyeksi inflasi selama delapan tahun mendatang. Gunanya untuk melihat berapa jumlah DP yang benar-benar Bang Jago bayar di periode tersebut.

    Anggap saja Bang Jago mengasumsikan inflasi sebesar 5% per tahun hingga delapan tahun mendatang. Maka, DP yang harus ia bayar delapan tahun kemudian adalah Rp140,7 juta.

    Sehingga, ia perlu mencari instrumen investasi yang tepat, salah satunya adalah reksadana pendapatan tetap. Sebab, sesuai grafik di atas, ia adalah instrumen dengan kinerja moncer yakni 10% per tahun — jika hanya dilihat pada setahun belakangan saja.

    Nah, sesuai kalkulator reksadana yang berbasiskan perhitungan compound interest, maka Bang Jago bisa menabung reksadana pendapatan tetap di awal sebesar Rp6,5 juta. Kemudian, ia perlu menabung reksadana rutin per bulan sebesar Rp860.000 alias 10,75% dari gajinya per bulan demi membayar DP yang dimaksud.

    Namun selain reksadana pendapatan tetap, sejatinya Bang Jago juga bisa menggunakan reksadana saham. Sebab, imbal hasillnya yang lebih baik dibandingkan jenis reksadana lainnya, meski memang risikonya juga lebih tinggi. Tapi, Sobat Cuan perlu memilih produk reksadana saham yang basisnya adalah saham perusahaan berfundamental oke, ya!

    2. Pembelian Secara Tunai

    Sekarang, anggap saja Bang Jago ingin membeli rumah secara tunai 15 tahun lagi dengan asumsi inflasi 5% per tahunnya. Maka, 15 tahun kemudian, rumah impian Bang Jago menjadi Rp1,04 miliar.

    Kemudian, mari asumsikan Bang Jago juga menggunakan reksadana pendapatan tetap sebagai pilihan investasinya.

    Dengan menghitung menggunakan kalkulator compound interest, maka Bang Jago perlu berinvestasi di awal sebesar Rp115 juta dan menabung Rp1,3 juta per bulan dalam 15 tahun mendatang. Memang, tabungan bulanan ini mengambil 16,25% dari gaji Bang Jago saat ini, namun persentasenya akan turun seiring kenaikan Bang Jago di kemudian hari.

    Namun, sebelum memutuskan untuk membenamkan dana di reksadana, pelajari dulu dengan baik bagaimana reksadana bekerja dan risiko apa yang membayanginya. Karena yang namanya investasi, faktor risiko selalu melekat seiring dengan imbal hasil yang diberikan.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Jadi tertarik berinvestasi reksadana pendapatan tetap? Yuk, investasi sekarang di aplikasi Pluang!

    Baca juga: Yakin Gak Mau Investasi Reksa Dana? Ini Lho 8 Manfaatnya!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Schroders, Liputan6



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal IPO: Peluang Emas Investor untuk Memiliki Saham Perdana

    Jika Sobat Cuan tertarik dengan investasi saham, Sobat Cuan pasti pernah mendengar istilah IPO atau Initial Public Offering. IPO adalah momen di mana sebuah perusahaan swasta pertama kalinya menjual sahamnya kepada publik. Bagi investor, IPO adalah kesempatan unik untuk menjadi pemilik saham perdana sejak awal, sebelum saham tersebut diperdagangkan di pasar reguler.

    Apa itu IPO?

    Secara sederhana, IPO adalah proses di mana sebuah perusahaan “Go Public” di bursa. Artinya, perusahaan yang tadinya hanya dimiliki oleh sekelompok kecil orang (misalnya pendiri atau investor awal) kini menawarkan kepemilikannya kepada masyarakat umum.

    • Tujuan Perusahaan: Perusahaan melakukan IPO untuk menggalang dana segar dari publik. Dana ini biasanya digunakan untuk ekspansi bisnis, membayar utang, atau membiayai proyek-proyek baru. IPO juga meningkatkan citra dan kredibilitas perusahaan di mata publik.
    • Tujuan Investor: Bagi investor, beli saham IPO menawarkan kesempatan untuk membeli saham dengan harga penawaran yang sudah ditetapkan. Ada potensi keuntungan (capital gain) yang besar jika harga saham naik signifikan setelah masuk ke pasar reguler.

    Tahapan Proses IPO

    Proses IPO bukanlah hal yang instan, melainkan serangkaian tahapan yang ketat dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    1. Penunjukan Penjamin Emisi: Perusahaan menunjuk Penjamin Emisi Efek (Underwriter), yaitu perusahaan sekuritas yang akan membantu seluruh proses IPO.
    2. Penyampaian Pernyataan Pendaftaran: Perusahaan dan underwriter mengajukan dokumen pendaftaran ke OJK untuk mendapatkan izin.
    3. Masa Penawaran Awal (Bookbuilding): Perusahaan menawarkan saham kepada investor institusi untuk mengetahui minat pasar dan menentukan harga penawaran yang paling optimal.
    4. Penetapan Harga Penawaran: Setelah mendapatkan gambaran dari bookbuilding, perusahaan menetapkan harga final untuk saham yang akan dijual kepada publik.
    5. Masa Penawaran Umum Perdana: Inilah momen bagi investor ritel (individu) untuk memesan saham pada harga yang telah ditetapkan.
    6. Penjatahan (Allotment): Setelah masa penawaran selesai, saham didistribusikan kepada investor yang memesan. Jika terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed), saham akan dijatah secara proporsional.
    7. Pencatatan dan Perdagangan: Saham secara resmi dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mulai diperdagangkan di pasar reguler.

    Studi Kasus GoTo: IPO Terbesar di Indonesia

    Untuk memberikan gambaran nyata mengenai IPO besar di Indonesia, IPO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada tahun 2022 adalah contoh yang menonjol.

    GoTo, hasil merger dua raksasa teknologi, Gojek dan Tokopedia, melaksanakan IPO yang menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah BEI.

    • Relevansi: IPO GoTo menarik perhatian luas, tidak hanya dari investor domestik, tetapi juga global, menunjukkan betapa besarnya potensi perusahaan teknologi di Indonesia.
    • Pembelajaran: Studi kasus ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan valuasi perusahaan, risiko persaingan industri, dan potensi pertumbuhan jangka panjang saat berinvestasi di IPO perusahaan rintisan (startup) besar.

    Mengenal E-IPO

    Dulu, pemesanan IPO dilakukan secara manual melalui formulir kertas. Namun, kini seluruh proses pemesanan IPO telah terintegrasi dalam sistem digital yang disebut E-IPO (Electronic Initial Public Offering).

    • Kemudahan Akses: Melalui E-IPO, investor dapat memesan saham IPO secara online melalui platform sekuritas yang terdaftar. Prosesnya menjadi lebih mudah, cepat, dan transparan.
    • Jangkauan Lebih Luas: E-IPO memungkinkan investor dari seluruh wilayah Indonesia untuk berpartisipasi dalam penawaran umum, tanpa harus datang ke kantor sekuritas.

    Langkah-Langkah Praktis Mengikuti E-IPO

    Bagi investor ritel yang ingin berpartisipasi, berikut adalah langkah-langkah singkat dan praktis untuk menggunakan platform E-IPO:

    1. Buka Rekening Sekuritas: Pastikan kamu memiliki Rekening Efek dan Rekening Dana Nasabah (RDN) di perusahaan sekuritas yang berizin OJK.
    2. Daftar di Platform E-IPO: Akses situs resmi E-IPO yang dikelola BEI dan daftarkan diri.
    3. Pilih Saham IPO: Telusuri daftar perusahaan yang sedang melakukan penawaran dan pelajari prospektusnya.
    4. Lakukan Pemesanan: Masukkan jumlah lot saham yang ingin dipesan pada harga yang telah ditetapkan dalam masa penawaran umum perdana.
    5. Kunci Dana (Lock Dana): Dana senilai pesanan kamu akan dikunci (di-lock) di RDN kamu.
    6. Pantau Hasil Penjatahan: Setelah masa penawaran berakhir, periksa hasil penjatahan (allotment). Jika ada sisa dana karena penjatahan yang tidak penuh, dana akan dikembalikan ke RDN kamu.

    Risiko dan Pertimbangan Tambahan

    Meskipun IPO menawarkan potensi keuntungan yang menarik, penting untuk menyadari risikonya agar edukasi investasi lebih komprehensif.

    1. Risiko Volatilitas Harga:
    • Auto Rejection Bawah (ARB): Harga saham IPO bisa turun drastis dan menyentuh batas bawah harian di hari-hari awal perdagangan jika minat pasar tidak sesuai ekspektasi. Begitu juga dengan Auto Rejection Atas (ARA) yang merupakan batas kenaikan harian.
    • Risiko Bubble: Euforia pasar dapat mendorong harga naik tidak wajar di awal, yang rentan terhadap koreksi tajam.
  • Risiko Lock-up Period:
    • Pemegang saham awal (pendiri, investor pra-IPO) biasanya terikat dengan periode kunci (lock-up) di mana mereka tidak boleh menjual sahamnya selama waktu tertentu (misalnya 6-12 bulan). Setelah lock-up berakhir, ada potensi tekanan jual yang bisa menekan harga saham.
  • Risiko Bisnis Perusahaan Belum Teruji:
    • Sebagai perusahaan yang baru go public, kinerja dan fundamental perusahaan di bawah tekanan publik belum teruji sepenuhnya. Risiko bisnis, manajemen, dan keuangan perusahaan mungkin lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang sudah lama terdaftar.
  • Informasi Terbatas:
    • Meskipun prospektus tersedia, informasi mendalam tentang prospek industri dan strategi perusahaan mungkin masih terbatas dibandingkan perusahaan existing.

    Kesimpulan

    Berpartisipasi dalam IPO, apalagi dengan kemudahan E-IPO, adalah kesempatan emas untuk memiliki bagian dari perusahaan yang berpotensi tumbuh besar, seperti yang ditunjukkan oleh GoTo. Namun, investasi cerdas selalu didasari oleh riset mendalam. Pelajari prospektus, pahami risikonya, dan hindari euforia pasar. Dengan strategi yang tepat, Sobat Cuan dapat memaksimalkan peluang keuntungan sambil memitigasi risiko volatilitas pasar saham perdana. Selamat berburu saham IPO!



Sumber : pluang.com

  • Waspada Bahaya Impermanent Loss Saat Yield Farming! Apakah Itu?

    Sobat Cuan lagi menggandrungi yield farming untuk mendapatkan pendapatan pasif dari aset kripto? Nah, nampaknya kamu perlu waspada, mengingat ada satu risiko bernama impermanent loss yang perlu kamu hadapi.

    Tapi, kamu tidak usah khawatir. Risiko yang satu ini tetap bisa dimitigasi kok, asal kamu tau cara menyikapinya. Untuk itu, yuk cari tahu, apa sih yang dimaksud dengan impermanent loss?

    Apa Itu Impermanent Loss?

    Sebelum kamu dapat memahami lebih jauh konsepsi impermanent loss, kamu perlu terlebih dulu mengerti skema Automated Market Makers (AMMs).

    Dikenalkan pertama kali oleh salah satu pendiri blockchain paling fenomenal yakni Ethereum, Vitalik Buterin menjelaskan skema terbentuknya pasar dalam blockchain tanpa adanya penawaran dan permintaan.

    Skema tersebut menciptakan pasar yang dikendalikan oleh software. Pelaku pasarnya akan diganjar fee dan yield lewat aktivitas berladang cuan seperti staking dan yield farming dari token protokol baru yang terbentuk, atau berdasarkan syarat-syarat yang disepakati lewat smart contracts.

    Skema ini dipandang ideal bagi ekosistem terdesentralisasi. Namun, bukan berarti skema ini tidak memiliki kekurangan.

    Selaku liquidity provider, saat berpartisipasi dalam AMMs, kamu bisa saja mengalami impermanent loss.

    Sesuai dengan namanya, tentu saja kerugian ini tidak bersifat selamanya. Meski demikian, kalau kamu tidak tahu cara menanggulanginya dengan tepat, bukan mustahil jika kerugian yang kamu alami jadi permanen.

    Bagaimana Impermanent Loss Bisa Terjadi?

    Impermanent loss terjadi saat harga token yang kamu simpan di dalam protokol DeFi ternyata lebih rendah dari harga di pasar.

    Hal ini disebabkan karena tiap liquidity pools memiliki mekanisme AMM-nya sendiri yang berjalan tidak beriringan dengan kondisi pasar sebenarnya. Sehingga, saat harga token yang kamu kunci dalam protokol DeFi berubah di pasar, konversi harganya tidak begitu saja diadopsi oleh AMM di liquidity pools dimana kamu berpartisipasi.

    Lantas, mengapa selisih harga tersebut bisa terjadi?

    Nah, Sobat Cuan harus paham bahwa beberapa pools mengelola lebih dari satu jenis aset kripto yang ditempatkan dalam rasio setimbang. Namun, titik kesetimbangan ini dapat bergeser seiring dengan volatilitas harga pasar dari aset-aset yang dirasiokan.

    Algoritma dalam liquidity pools memiliki mekanismenya sendiri untuk setimbang. Saat algoritma ini belum menerjemahkan pergerakan harga di pasar terhadap harga aset kamu di pools, saat itulah kamu mengalami yang disebut dengan impermanent loss.

    Ada alasan mengapa namanya demikian, yakni agar kamu memahami bahwa kerugian yang ini tidak permanen. Mekanisme pasar tetap akan berjalan pada liquidity pools lewat arbitrageurs. Yakni pihak yang melihat selisih harga pada pasar kripto dan liquidity pools lalu mengeksekusinya untuk memperoleh keuntungan.

    Nah, saat mekanisme ini selesai berjalan, nilai aset kripto kamu akan kembali setimbang dengan rasio pools yang kembali seperti semula.

    Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    Bagaimana Cara Menghitung Keseimbangan Nilai Aset di Liquidity Pools?

    Misalnya saja, 1 BNB dihargai 25 CAKE dalam suatu pools. Artinya, pools tersebut menerapkan rasio 1:25 berdasarkan harga yang relatif setimbang dengan pasar saat rasio dibuat.

    Namun, pasar kripto mengalami fluktuasi yang cukup tinggi tiap saat, termasuk saat aset BNB dan CAKE kamu sedang terkunci di protokol sebuah pools. Jika sewaktu-waktu perbandingan antara BNB dan CAKE berubah di pasar hingga memengaruhi rasio aset, kamu selaku provider akan mengalami impermanent loss.

    Sebabnya, perubahan rasio ini belum tentu setara dengan nilai yang berlaku saat itu di pasar CeFi. Konversi harga antara BNB dan CAKE dalam pools terbatas pada mekanisme yang terjadi disana, bukan refleksi atas harga riilnya di pasar.

    Baca juga: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Dampak Impermanent Loss Pada Portofolio

    Impermanent loss pada ekosistem decentralized finance mirip dengan yang kerap kamu alami pada pasar tersentralisasi. Saat portofolio kamu sedang kebakaran, kamu mengalami yang disebut dengan unrealized loss, alias kerugian yang belum terealisasi, yang harus kamu sikapi dengan cermat.

    Saat aset kripto kamu mengalami impermanent loss di pools, portofolio investasimu akan bernilai negatif. Namun tentunya kamu harus bisa melihatnya secara jernih bahwa penurunan portofolio itu bukanlah kerugianmu yang sesungguhnya.

    Jika kamu memutuskan untuk keluar dari pools saat harga asetmu sedang tidak setimbang, kamu akan membuat kerugian tidak permanen ini jadi permanen.

    Ada peluang di lain waktu kesetimbangan akan kembali ke titik semula saat perbandingan harga aset kembali relevan dengan nilai yang kamu investasikan di awal. Tapi, kalau kamu tidak sabar dan mengambil keputusan dengan gegabah, kamu tentu akan kehilangan peluang berharga ini.

    Baca juga: Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Yield Farming dan Liquidity Mining?

    Bagaimana Cara Mitigasi Risikonya?

    Cara tersimpel dalam jangka pendek untuk memitigasi kerugian ini adalah dengan menyuntikkan likuiditas pada pairs agar harganya tetap relatif konstan. Atau sabar menunggu hingga kesetimbangan bergeser lagi.

    Beberapa pools membuat rasio dari aset yang nilainya relatif stabil satu sama lain. Sebut saja sETH/ETH di Uniswap, atau stablecoin seperti DAI/USDC/USDT/sUSD di Curve.

    Kelemahannya adalah, stabilitas berjalan dua arah. Kamu lebih tidak berisiko mengalami impermanent loss, tapi juga lebih tidak berkesempatan mengalami impermanent gain sebab harganya yang stabil. Selain itu, pools seperti ini jumlahnya terbatas.

    Opsi lainnya adalah dengan menggunakan aplikasi seperti Balancer dan Hummingbot Miner 3. Aplikasi ini akan membantu kamu menentukan rasio pools tempat kamu berpartisipasi.

    Balancer mengizinkan liquidity pools membuat rasio untuk asetnya di pools sehingga kamu pun bisa bertaruh pada aset yang lebih berperfroma baik. Sementara itu, Hummingbot Miner 3 memfasiilitasi kamu dengan bot yang memungkinkan kamu melakukan penambangan likuiditas pada banyak pasar di Binance dengan mekanisme AMMs sepenuhnya.

    Bot ini mengeliminasi persoalaan impermanent loss. Tapi, kamu tetap beresiko mengalami penyusutan nilai aset kripto dari fluktuasi pasar meski tidak lagi harus galau saat rasionya di pools berubah.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Trust Wallet, Binance



    Sumber : pluang.com

  • Berkenalan dengan Fitur Limit Order dan Manfaatnya bagi Trading

    Aktivitas trading terkadang merepotkan. Terkadang, kamu harus memelototi pergerakan harga aset setiap saat hanya demi menemukan momentum dan mendulang cuan dari kegiatanmu. Meleset sedikit, bisa-bisa cuan yang kamu dambakan menguap begitu saja.

    Untungnya, di zaman sekarang ini, kamu bisa memanfaatkan fitur bernama limit order. Fitur ini berfungsi agar kamu bisa tertidur pulas dan tak pusing memikirkan volatilitas harga aset saat sedang trading.

    Pernah mengalami gagal cuan lantaran ketinggalan momentum jual dan momentum beli? Nah, kamu perlu mempelajari fitur yang satu ini agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

    Tapi, kamu harus paham cara mengoperasikannya agar fitur yang satu ini bekerja sesuai keinginanmu ya, Sobat Cuan.

    Apa Itu Limit Order?

    Limit order biasanya dilakukan di pasar valuta asing dan pasar berjangka. Tapi sekarang, fitur ini tidak terbatas pada dua pasar tersebut. Bahkan, kini fitur tersebut sudah marak diperkenalkan di platform investasi kripto.

    Limit order dilakukan dengan membuka posisi tawar saat membeli atau menjual pada angka tertentu dalam range yang menguntungkan sesuai keinginanmu. Jika kamu telah menganalisis pergerakan harga, kamu akan menemukan level support dan resistance yang mungkin ditembus pasar.

    Kalau harga komoditas atau valas kamu bisa bergerak lebih tinggi, kamu bisa membuat order jual di level tersebut. Nantinya, aplikasi investasimu akan mengeksekusi tawaran kamu saat harganya mencapai level yang dimaksud.

    Tanpa kamu harus menunggu di depan layar hingga momentumnya tiba, order kamu akan dieksekusi sesuai dengan keyakinanmu. Kalau ternyata perkiraanmu meleset, tentu saja aplikasi tidak jadi mengeksekusi transaksi ini.

    Hanya saja, harga yang dieksekusi saat kamu menjual valas atau komoditasmu bisa lebih tinggi dari perkiraanmu atau tepat di level itu. Begitupun saat kamu akan membeli, aplikasinya bisa diatur agar transaksimu dieksekusi pada level rendah sesuai perkiraanmu atau bahkan lebih rendah lagi.

    Fitur ini memang dirancang untuk memudahkan kamu melakukan trading berdasarkan analisis yang baik tanpa harus kembali direpotkan dengan momentum.

    Jika kamu yakin harga bisa bergerak ke level yang lebih menguntungkan, kamu tinggal mengaturnya dalam limit order lalu melanjutkan aktivitas dengan tenang.

    Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    Manfaat Limit Order

    Menganalisis pergerakan harga dan mengeksekusinya merupakan dua hal berbeda yang cukup merepotkan. Karenanya, aplikasi trading memiliki fitur limit order untuk memudahkan kamu beraktivitas sembari menunggu analisis trading kamu bekerja.

    Perlu kamu catat bahwa limit order beroperasi dalam premis yang berbeda dengan stop order.

    Aplikasi akan mengeksekusi input limit order kamu pada nominal yang lebih rendah untuk opsi beli dan lebih tinggi untuk opsi jual. Sedangkan pada stop order, premis yang berlaku adalah kebalikannya.

    Karenanya, limit order tidak ideal digunakan untuk menjadi bantalan saat trading. Tetapi, fitur ini sangat membantu saat kamu harus meninggalkan layar beberapa waktu namun takut ketinggalan momentum.

    Limit order adalah fitur yang ideal untuk trader atau investor jangka pendek. Sebaliknya, trader dengan teknik scalping mungkin kesulitan menggunakan fitur ini karena jendela waktu trading-nya yang lebih sempit.

    Selain itu, aplikasi yang lebih familiar untuk pemula bisa membantu kamu meminimalisir kerugian akibat salah input limit order, sementara aplikasi yang lebih canggih akan langsung mengeksekusi order sesuai perintah.

    Karenanya, kamu harus mempelajari baik-baik fungsi dari tiap order agar tidak sampai boncos ya, Sobat Cuan.

    Baca juga: Waspada Bahaya Impermanent Loss Saat Yield Farming! Apakah Itu?

    Cara Menggunakan Limit Order

    Sebelum kamu menggunakan limit order, pertama-tama kamu harus melakukan analisis teknikal dan analisis fundamental untuk menemukan level yang tepat dalam jual beli agar cuanmu makin lebar.

    Jika aset yang ingin kamu beli saat ini berada pada level yang lebih tinggi, namun analisismu menunjukkan bahwa harganya bisa lebih murah, nah saat itulah kamu dapat membuat limit order beli di level yang kamu yakini.

    Sebagaimana disebutkan sebelumnya, algoritma dalam fitur ini mengeksekusi transaksi kamu pada level yang lebih menguntungkan. Jadi, jika harga komoditas tersebut jatuh melampaui limit beli kamu saat transaksi belum dieksekusi, kamu bisa mendapatkannya pada level harga yang lebih murah dari perkiraan kamu.

    Hal serupa juga terjadi saat kamu akan menjual komoditas atau valuta asing yang kamu miliki. Kamu bisa memasang limit jual pada level yang lebih tinggi dari harga saat itu jika kamu yakin harga akan bergerak naik. Kamu bisa saja mendapat cuan lebih lebar dari perkiraanmu jika pasar ternyata bergerak lebih bullish dari analisis kamu.

    Tentunya kamu juga bisa menggunakan fitur ini untuk meleverage cuan jika kamu yakin betul pada analisis pergerakan harga yang telah kamu lakukan. Fitur ini memiliki banyak manfaat asal kamu tau cara memanfaatkannya. Sebab, beberapa aplikasi trading mengeksekusi limit order tepat seperti input yang kamu masukkan.

    Jadi, kalau kamu keliru menginput order jual di harga terendah karena tertukar dengan order beli, aplikasi akan mengeksekusinya dan kamu akan rugi bandar.

    Karena itu, perhatikan baik-baik saat menginput limit order-mu, ya, Sobat Cuan.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Olympia Trust Company, The Trading Bible, Investopedia



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Aksi Korporasi: Peristiwa Penting yang Mempengaruhi Saham dan Strategi Investasi

    Sebagai pemegang saham, Sobat Cuan tidak hanya harus memantau pergerakan harga, tetapi juga memahami apa yang disebut Aksi Korporasi (Corporate Action). Ini adalah jantung dari tata kelola perusahaan publik yang memiliki dampak signifikan terhadap nilai kepemilikan Sobat Cuan.

    1. Definisi dan Tujuan Aksi Korporasi Secara Mendalam

    Aksi Korporasi adalah setiap tindakan atau inisiatif formal yang dilakukan oleh manajemen perusahaan yang terdaftar di bursa efek, yang berdampak langsung pada struktur modal, kondisi keuangan, operasional, dan hak kepemilikan pemegang saham.

    Aksi ini tidak dilakukan tanpa alasan, melainkan memiliki tujuan strategis yang eksplisit, antara lain:

    1. Meningkatkan Nilai Perusahaan (Shareholder Value): Menciptakan sinergi, meningkatkan efisiensi, atau mengurangi utang untuk membuat perusahaan lebih menarik di mata pasar.
    2. Memberikan Keuntungan kepada Pemegang Saham: Mendistribusikan keuntungan (misalnya melalui dividen) atau memberikan peluang investasi tambahan (misalnya melalui right issue).
    3. Restrukturisasi Perusahaan: Mengubah struktur modal, memisahkan unit bisnis yang tidak relevan (divestasi/spin-off), atau memperbaiki neraca keuangan untuk efisiensi.
    4. Meningkatkan Likuiditas Saham: Membuat saham lebih mudah diperdagangkan di pasar (misalnya melalui stock split).

    2. Aksi Korporasi yang Memengaruhi Jumlah dan Harga Saham

    Aksi yang Memengaruhi Jumlah Saham

    Jenis Aksi

    Deskripsi Singkat

    Dampak pada Harga Saham (Teoritis)

    Dampak pada Investor

    Stock Split (Pecah Saham)

    Memecah satu saham menjadi beberapa lembar (misalnya 1:2).

    Harga per lembar turun proporsional (menjadi setengahnya).

    Jumlah saham bertambah, total nilai investasi tetap, likuiditas meningkat.

    Reverse Stock Split (Gabungan Saham)

    Menggabungkan beberapa lembar saham menjadi satu (misalnya 10:1).

    Harga per lembar naik proporsional (menjadi 10 kali lipat).

    Jumlah saham berkurang, total nilai investasi tetap. Dilakukan untuk menghindari delisting atau citra saham ‘murah’.

    Right Issue (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu)

    Perusahaan menawarkan saham baru kepada pemegang saham lama dengan harga diskon.

    Berpotensi turun jika banyak investor melepas haknya (TEEP) atau jika dana hasil right issue tidak digunakan efektif.

    Investor memiliki hak untuk membeli saham baru atau menjual haknya (disebut HMETD/TEEP). Jika tidak digunakan, kepemilikan akan terdilusi.

    Aksi yang Memberikan Keuntungan Langsung

    Jenis Aksi

    Deskripsi Singkat

    Konsekuensi Kunci

    Dividen Tunai (Cash Dividend)

    Pembagian sebagian keuntungan dalam bentuk uang tunai.

    Investor mendapatkan passive income. Harus diperhatikan Cum Date dan Ex Date.

    Dividen Saham (Stock Dividend)

    Pembagian keuntungan dalam bentuk saham tambahan (bukan tunai).

    Jumlah saham bertambah secara gratis. Harga saham disesuaikan pada Ex Date.

    Scrip Dividend

    Pemberian dividen dalam bentuk surat berharga lain (selain tunai atau saham), misalnya obligasi konversi.

    Memberikan fleksibilitas pendanaan kepada perusahaan dan opsi aset lain bagi investor.

    Aksi yang Bersifat Strategis dan Restrukturisasi

    Jenis Aksi

    Deskripsi Singkat

    Fokus dan Dampak

    Merger dan Akuisisi (M&A)

    Merger: Dua perusahaan bergabung menjadi satu. Akuisisi: Satu perusahaan membeli perusahaan lain.

    Bertujuan meningkatkan pangsa pasar dan sinergi. Dampak positif jika sinergi berhasil, negatif jika akuisisi terlalu mahal.

    Shares Buyback (Pembelian Kembali Saham)

    Perusahaan membeli kembali sahamnya yang beredar di pasar.

    Mengurangi jumlah saham beredar, berpotensi meningkatkan Laba per Saham (EPS), sinyal positif manajemen bahwa saham undervalued.

    Divestasi

    Penjualan aset atau unit bisnis oleh perusahaan.

    Tujuannya untuk fokus pada bisnis inti, memperoleh dana segar, atau mengurangi risiko dari bisnis yang merugi.

    Restrukturisasi

    Perubahan fundamental pada struktur perusahaan (termasuk Spin-off, konsolidasi, atau perubahan struktur modal).

    Spin-off: Memisahkan unit bisnis menjadi perusahaan baru yang sahamnya dibagikan kepada pemegang saham lama. Menciptakan dua entitas fokus.

    3. Dampak Aksi Korporasi Terhadap Investor dan Harga Saham

    Aksi Korporasi adalah pemicu utama fluktuasi harga saham jangka pendek dan penentu nilai investasi jangka panjang.

    • Dampak Harga Saham: Aksi seperti stock split dan dividen saham secara teknis akan menurunkan harga saham secara proporsional pada Ex Date. Namun, ekspektasi pasar (misalnya, dividen yang lebih besar dari perkiraan atau buyback yang masif) seringkali sudah mendongkrak harga saham jauh sebelum aksi itu terealisasi.
      • Contoh Nyata (Ilustrasi): Ketika sebuah bank besar di Indonesia mengumumkan stock split 1:2, harga sahamnya langsung disesuaikan pada Ex Date. Namun, karena aksi ini memberikan sinyal likuiditas dan keterjangkauan yang tinggi, volume perdagangan meningkat drastis, seringkali diikuti dengan kenaikan harga setelah penyesuaian.
    • Dampak pada Keputusan Investasi:
      • Dividen: Memberikan pendapatan pasif. Investor value biasanya mencari perusahaan dengan rekam jejak dividen yang stabil.
      • Right Issue: Investor harus memutuskan apakah akan menggunakan haknya (membeli saham baru dengan harga diskon) atau menjual haknya. Jika investor tidak bertindak, kepemilikannya akan terdilusi.
      • M&A/Buyback: Menandakan perubahan fundamental. Investor perlu menganalisis apakah aksi ini akan menciptakan nilai atau justru membebani perusahaan.

    4. Kenapa Investor Perlu Memahami Aksi Korporasi?

    Pengetahuan ini bukan sekadar informasi tambahan, melainkan alat strategis:

    1. Pengambilan Keputusan yang Tepat: Memungkinkan trader bereaksi secara rasional, bukan panik, ketika harga saham tiba-tiba turun (misalnya karena Ex Date dividen, yang merupakan penyesuaian wajar).
    2. Mitigasi Risiko Dilusi: Memastikan trader tidak kehilangan persentase kepemilikan (dilusi) akibat right issue atau penerbitan saham baru.
    3. Memaksimalkan Keuntungan: Mengenali peluang keuntungan, baik dari penjualan hak right issue atau dari kenaikan harga saham akibat buyback yang sukses.

    5. Proses atau Tahapan Umum Aksi Korporasi

    Meskipun setiap aksi memiliki detail unik, alur umumnya mengikuti tahapan berikut:

    1. Pengumuman Resmi: Perusahaan mengumumkan rencana aksi (seringkali setelah RUPS) kepada BEI dan publik.
    2. Tanggal Cum Date (Cumulative Date): Hari terakhir perdagangan saham di mana investor berhak mendapatkan manfaat dari aksi korporasi tersebut (misalnya, berhak mendapatkan dividen).
    3. Tanggal Ex Date (Ex-Dividend Date/Ex-Rights Date): Hari pertama perdagangan saham di mana investor yang membeli saham pada tanggal ini tidak lagi berhak mendapatkan manfaat dari aksi korporasi sebelumnya.
    4. Tanggal Recording Date (Tanggal Pencatatan): Tanggal pencatatan kepemilikan yang berhak menerima manfaat (dividen, saham baru, dll.).
    5. Tanggal Pembayaran/Realisasi: Tanggal di mana manfaat aksi korporasi (uang dividen, saham baru, dll.) diterima atau dilaksanakan.

    6. Tips Praktis untuk Investor Cerdas

    Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk mengoptimalkan strategi investasi kamu sehubungan dengan aksi korporasi:

    • Selalu Cek Pengumuman Resmi: Sumber informasi paling valid adalah situs web BEI (Keterbukaan Informasi) dan situs resmi perusahaan. Abaikan rumor yang tidak berdasar.
    • Pahami Konsekuensi Pajak: Dividen tunai tunduk pada pajak penghasilan. Pahami kewajiban pajak kamu agar perhitungan return akurat.
    • Jangan Langsung Ambil Keputusan: Pikirkan jangka panjang. Jangan terburu-buru menjual saham hanya karena ada stock split atau reverse stock split. Analisis fundamental perusahaan tetap menjadi kunci.
    • Lihat Tujuan, Bukan Hanya Dampak Harga: Aksi korporasi harus dinilai berdasarkan tujuan strategisnya. Apakah aksi tersebut akan memperkuat fundamental perusahaan atau hanya kosmetik?

    Kesimpulan

    Memahami seluk-beluk Aksi Korporasi adalah keharusan bagi setiap investor yang ingin sukses di pasar modal. Keputusan perusahaan untuk membagi dividen, menggabungkan saham, atau melakukan restrukturisasi bukanlah sekadar berita harian, melainkan cerminan dari strategi bisnis jangka panjang yang akan menentukan apakah investasi Sobat Cuan akan bertumbuh atau tidak. Teruslah belajar dan ikuti berita pasar modal dengan kritis. Jika kamu merasa ragu, jangan segan berkonsultasi dengan penasihat keuangan atau ahli investasi profesional sebelum mengambil langkah.



    Sumber : pluang.com

  • Cara Trading Saham Indonesia di Pluang

    Setelah memahami apa itu saham, jenis-jenisnya, dan risikonya, kini saatnya Sobat Cuan tahu bagaimana cara memulainya. Investasi saham Indonesia kini sudah hadir di Pluang. Mari simak langkah-langkah trading saham Indonesia di Pluang.

    Membuka Rekening Dana Nasabah (RDN)

    Langkah pertama yang harus Sobat Cuan lakukan adalah membuka Rekening Dana Nasabah (RDN). RDN adalah rekening khusus yang berfungsi sebagai ‘dompet’ digital kamu untuk bertransaksi di pasar modal. Dana di RDN terpisah dari rekening bank pribadi kamu, sehingga keamanannya lebih terjamin.

    • Siapkan Dokumen: Kamu hanya perlu menyiapkan beberapa dokumen penting, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) jika ada, dan rekening bank pribadi.
    • Proses Pembukaan: Unduh aplikasi, ikuti instruksi yang ada, dan isi formulir pendaftaran secara online. Proses ini biasanya memakan waktu 1-3 hari kerja hingga RDN kamu aktif.

    Menghubungkan Bank dan Melakukan Deposit Awal

    Setelah RDN kamu aktif, langkah selanjutnya adalah menyetorkan dana.

    • Hubungkan Rekening Bank: Hubungkan rekening bank pribadi kamu dengan RDN. Pastikan nama pemilik rekening bank sama dengan nama pemilik RDN untuk menghindari masalah verifikasi.
    • Lakukan Deposit: Pindahkan dana dari rekening bank pribadi kamu ke RDN.

    Aturan Dasar Perdagangan Saham

    Sebelum kamu melakukan trading, penting untuk memahami aturan main di Bursa Efek Indonesia (BEI).

    • Jam Perdagangan: Pasar saham memiliki jam operasional yang ketat. Sesi perdagangan umumnya berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, dengan jeda istirahat pada siang hari.
    • RDN (Rekening Dana Nasabah): Seperti yang sudah kita bahas, RDN adalah rekening bank khusus yang menampung dana kamu untuk bertransaksi saham. Kamu hanya bisa membeli saham jika saldo di RDN mencukupi.
    • Lot: Transaksi saham di Indonesia menggunakan satuan lot, di mana 1 lot setara dengan 100 lembar saham. Jadi, saat kamu membeli 1 lot saham, kamu sebenarnya membeli 100 lembar saham.
    • Orderbook: Ini adalah daftar berisi semua penawaran beli (bid) dan penawaran jual (offer) dari investor lain. Kamu akan melihat harga dan jumlah saham yang sedang diantrekan oleh para pembeli dan penjual.

    Mengenal Tipe Order Saat Bertransaksi

    Saat kamu menempatkan order beli atau jual, ada beberapa tipe order yang bisa kamu pilih.

    • Limit Order (Memesan Harga): Ini adalah tipe order yang paling umum. Kamu menetapkan harga maksimal saat membeli atau harga minimal saat menjual. Misalnya, jika ingin membeli saham BBCA di harga Rp 9.000, kamu bisa memasang limit order di harga tersebut. Transaksi akan dieksekusi hanya jika harga pasar menyentuh atau lebih baik dari harga yang kamu tentukan.
    • Market Order (Langsung Beli/Jual): Jika kamu ingin transaksi langsung tereksekusi tanpa menunggu, kamu bisa menggunakan market order. Order ini akan membeli atau menjual saham langsung di harga terbaik yang tersedia di pasar saat itu.

    Panduan Jual dan Beli Saham di Pluang

    Platform investasi digital seperti Pluang membuat proses jual beli saham menjadi sangat sederhana, bahkan untuk pemula. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya.

    1. Cara Beli Saham
    1. Buka Aplikasi Pluang: Pastikan kamu sudah memiliki akun dan saldo RDN yang mencukupi.
    2. Cari Saham yang Diinginkan: Gunakan fitur pencarian dan masukkan kode saham (misalnya, BBCA, TLKM, atau ASII) atau nama perusahaan misalnya (Mandiri, Unilever, atau GoTo)
    3. Masuk ke Halaman Transaksi: Pilih opsi “Beli” atau “Buy”.
    4. Tentukan Jumlah: Kamu bisa memilih untuk membeli berdasarkan jumlah lot atau berdasarkan nominal uang (misalnya, Rp 100.000).
    5. Pilih Tipe Order: Pilih antara Limit Order (jika kamu ingin menunggu di harga tertentu) atau Market Order (jika kamu ingin order langsung tereksekusi).
    6. Konfirmasi: Periksa kembali detail pesanan, lalu konfirmasi. Saham akan masuk ke portofolio kamu setelah pesanan tereksekusi.
    1. Cara Jual Saham

    Proses menjual saham hampir sama dengan membeli, tetapi kamu akan memilih opsi “Jual” atau “Sell”.

    1. Pilih Saham di Portofolio: Dari daftar saham yang kamu miliki, pilih saham yang ingin dijual.
    2. Masuk ke Halaman Transaksi: Pilih opsi “Jual” atau “Sell”.
    3. Tentukan Jumlah: Masukkan jumlah lot yang ingin kamu jual.
    4. Pilih Tipe Order: Pilih Limit Order (untuk menetapkan harga jual yang diinginkan) atau Market Order (untuk langsung menjual saham di harga pasar terbaik).
    5. Konfirmasi: Setelah konfirmasi, dana hasil penjualan akan masuk ke RDN kamu setelah transaksi selesai.

    Memulai investasi saham tidak harus dengan modal besar. Dengan proses yang mudah dan modal minimal, kamu sudah bisa menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.



    Sumber : pluang.com

  • Yuk, Coba Diversifikasi Investasi dengan Teori Markowitz. Apakah Itu?

    Diversifikasi dalam portofolio investasi mutlak diperlukan, tapi tetap harus pakai strategi. Menyusun strategi diversifikasi memang sulit, namun sekalinya berhasil, sang penyusun strategi bisa-bisa diganjar hadiah Nobel!

    Nah, strategi diversifikasi investasi pemenang Nobel itu ditemukan oleh ekonom Amerika Serikat Harry Markowitz. Sebab, ia menciptakan cetak biru teknik diversifikasi investasi anti boncos lho, Sobat Cuan.

    Strategi yang ia kemukakan bukanlah strategi kaleng-kaleng. Ini lantaran strategi tersebut telah teruji saat krisis besar melanda pasar investasi di negara Paman Sam pada 2008 lalu.

    Padahal, saat Ia mempublikasikannya dalam sebuah jurnal di tahun 1952 dengan judul ‘Portofolio Selection‘, karyanya tidak terlalu disorot. Selang empat dekade setelahnya, Markowitz baru mendapat Novel Prize karena teorinya ini.

    Seperti apa sih teori diversifikasi investasi yang disebut-sebut mampu mereduksi resiko tanpa mengurangi peluang cuan ini?

    Sekilas Teknik Diversifikasi Investasi ala Markowitz

    Harry Markowitz menerima Nobel Prize di tahun 1990 untuk jurnal yang dipublikasikannya di tahun 1952. Menurutnya, jurnal tersebut terinspirasi dari buku karya John Burr Williams berjudul Theory of Investment Value.

    Buku tersebut mengajukan argumen bahwa ekspektasi seseorang atas nilai investasinya di masa depan adalah instrumen dalam melihat harganya di masa ini. Namun, Markowitz menyangkalnya sebab satu-satunya hal yang pasti di masa depan adalah ketidakpastian. Ketidakpastian ini merupakan peluang dua arah, yakni peluang untuk cuan atau peluang untuk rugi.

    Ia menawarkan pendekatan lain sebagai alternatif dalam melihat portofolio investasi. Yakni, dengan memandang risiko dan keuntungan sebagai dua mata koin yang tidak terpisahkan saat membuat portofolio investasi.

    Jika kamu bisa melihat dari sudut pandang ini, yakni bahwa potensi kamu cuan dari satu instrumen sebanding dengan risikonya, maka kamu akan paham betapa pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi.

    Konsep inilah yang ditawarkan oleh Markowitz dalam jurnalnya. Karenanya, dia berpandangan saat kamu berinvestasi tanpa mendiversifikasi aset, maka kamu sedang melakukan hal yang tidak masuk akal. Nah, teknik diversifikasi milik Markowitz ini kemudian diberi tajuk Modern Portofolio Theory (MPT).

    Tindakan pelaku ekonomi dalam berinvestasi secara logis adalah mencari pareto optimal untuk menyeimbangkan kombinasi risiko dan keuntungan dalam portofolionya. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan mendiversifikasi aset-aset investasi kamu.

    Baca juga: Apa Itu Kurva Lorenz?

    Seperti Apa Aplikasi Teori Diversifikasi Markowitz?

    Investor perlu sadar dua hal dasar dalam memahami teori ini:

    Pertama, teori ini menggunakan kerangka dasar berpikir bahwa risiko dan imbal hasil investasi tidak dilihat secara terpisah. Namun, investor harus memikirkan bagaimana risiko atau cuan satu instrumen bisa mempengaruhi keseluruhan nilai portofolionya.

    Kedua, teori ini mengasumsikan bahwa semua investor cenderung menghindari risiko (risk averse). Alias, mereka lebih memilih berinvestasi di portofolio yang berisiko mini ketimbang berisiko tinggi.

    Nah, berdasarkan dua hal dasar tersebut, investor bisa membentuk portofolio berisi beragam aset yang bisa memaksimalkan cuan. Namun, masing-masing asetnya wajib memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda tergantung tujuan berinvestasi Sobat Cuan.

    Dalam hal ini, teori MPT bisa membantu kamu mencapai dua hal, yakni:

    1. Membangun portofolio investasi yang bisa memaksimalkan eksepktasi cuan berdasarkan tingkatan risiko pasar yang diinginkan.
    2. Membangun portofolio yang minim risiko sehingga kamu bisa mencapai level ekspektasi imbal hasil yang diinginkan.

    Bagaimana Menghitung Alokasi Aset Sesuai Diversifikasi Markowitz?

    Namun, untuk menghitung alokasi uang yang perlu kamu tempatkan di setiap aset memang perlu kerja keras, Sobat Cuan. Sebab, Markowitz menggunakan indikator statistik variance dan nilai korelasi antar aset untuk menentukan tingkat diversfikasi yang paling optimal.

    Bahkan, untuk mengukur ekspektasi risiko pun formulasinya lebih ribet lagi. Sebab, selain menggunakan dua indikator statistik di atas, investor juga perlu melihat standar deviasi antara risiko yang diharapkan dengan return yang didambakan (expected risk vs expected return).

    Masih menyoal risiko, Markowitz juga menggunakan asumsi bahwa ada dua jenis risiko yang kamu hadapi dalam investasi.

    Risiko pertama adalah risiko sistematis. Yakni, risiko pasar yang tidak bisa diatnggulangi hanya dengan melakukan diversifikasi portofolio saja. Ini terjadi jika pasar dan sistem perekonomian mengalami kerugian yang memengaruhi portofolio investasi.

    Risiko kedua ialah risiko spesifik, yakni risiko yang dapat dimitigasi dengan diversifikasi portofolio inbvestasi. Mengenali risiko spesifik dari tiap instrumen dalam portofolio investasi kamu akan membantumu mereduksi risiko dengan kombinasi yang tepat.

    Terlihat rumit, bukan? Tidak heran memang jika strategi ini sampai dihadiahi Nobel. Namun, sebagai langkah mudah menggunakan teori MPT, kamu bisa melakukan hal berikut:

    Kamu bisa berinvestasi di aset berisiko tinggi, misalnya cryptocurrency, namun kamu juga harus menyeimbangkan risikonya dengan kumpulan aset-aset berisiko rendah yang bisa “melahap” seluruh risiko cryptocurrency tersebut.

    Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Hal yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Melakukan Teknik Diversifikasi Investasi

    Tertarik mengaplikasikan teori tersebut? Eits, jangan gegabah, Sobat Cuan! Ada baiknya kamu memperhatikan dulu beberapa hal berikut sebelum diversifikasi.

    1. Jangka Waktu Investasi

    Jangka waktu investasi sangat terkait dengan tujuan kamu berinvestasi. Jika kamu berinvestasi untuk dana pensiun atau pendidikan anak, kamu harus punya horizon yang panjang. Lain halnya jika kamu adalah Manajer Investasi (MI) yang dikejar target cuan bulanan.

    2. Sumber Keuntungan dalam Portofolio Investasi

    Dari mana saja asal sumber keuntunganmu harus diidentifikasi. Apakah berasal dari pertumbuhan kapital saham, imbal hasil surat utang, atau selisih harga. Sumber-sumber ini harus dikalkulasikan dengan baik.

    3. Sumber Ekspektasi Keuntungan

    Jika memandang pada masa depan, ekspektasi adalah navigasi yang memuliki dua mata pisau. Instrumen dalam portofolio yang saat ini berperfoma baik belum tentu mengulangi performanya tahun depan. Namun, memiliki ekspektasi yang terukur terhadap ekspektasi keuntungan kamu akan membuat diversifikasi yang tepat.

    4. Sumber Ekpektasi Kovarian Satu Sama Lain

    Tiap instrumen memiliki data historis yang dapat kamu gunakan untuk menganalisis variabel ini. Bagaimana kovarian antar portofolio bekerja meminimalisir risiko di masa depan dapat tergambar dari datanya secara historis.

    5. Sumber Ekspektasi Rasio dari Keuntungan dan Risiko

    Saat menerjemahkan data-data historis ke dalam kurva, kamu bisa menemukan rasio kesetimbangannya. Pilih saja portofolio yang paling efisien dalam menyeimbangkan risiko dan keungtungan.

    6. Hambatan dalam Portofolio Investasi

    Kendala atau constrain merupakan faktor penting yang mendefinisikan bagaimana diversifikasi portofolio yang tepat untukmu. Investor memiliki kendala yang berbeda-beda dalam membangun portofolionya, baik itu dari segi hukum, peraturan, atau budaya.

    Untungnya, teknik diversifikasi investasi ini mengakomodasi berbagai jenis kendala, baik berdasarkan bobot absolut, bobot relatif, atau transaksi.

    7. Memaksimalkan Utilitas

    Langkah-langkah sebelumnya akan menghasilkan efficient frontier yang juga mengakomodir constrain kamu. Kamu tinggal memilih titik di perbatasan kurva yang memaksimalkan utilitas yang diharapkan, sebuah formula yang menyatakan preferensi kamu mengenai keuntungan dan risiko.

    Baca juga: Sobat Cuan, Ini 4 Indikator Analisis Teknikal Utama dalam Melihat Tren!

    8. Rebalance

    Menyeimbangkan kembali bobot portofolio optimal kamu secara berkala akan memungkinkan portofolio kamu lebih menguntungkan. Kamu dapat menjual aset yang harganya sedang relatif tinggi dan membeli saat harganya relatif rendah. Seiring waktu, kamu akan semakin diuntungkan dengan risiko yang semakin kecil.

    9. Review Portofolio Investasi

    Teknik ini sensitif terhadap asumsi. Jika kondisi pasar berubah sehingga kamu menganggap asumsi tentang risiko dan keuntungan tidak lagi mencerminkan keyakinan kamu saat ini, lakukan kembali proses di atas.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Guided Choice



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Ini 4 Hal yang Perlu Kamu Pikirkan Sebelum Membeli Altcoin

    Kiprah Bitcoin (BTC) sebagai dedengkot aset kripto sudah tidak diragukan lagi. Sejak muncul 2009 lalu, aset digital ini membawa keriuhan dalam perkembangan ekonomi digital hingga sekarang. Hal itu tercermin dari banyaknya aset kripto yang bermunculan dan mengikuti jejak sukses Bitcoin, atau akrab disebut sebagai altcoin.

    Berdasarkan data Coinmarketcap, saat ini terdapat 5.398 koin dan token aset kripto yang mencoba menyaingi dominasi Bitcoin. Apalagi, melihat perkembangan beberapa waktu terakhir, pertumbuhan beberapa nilai altcoin dipandang lebih baik dibanding Bitcoin berkat altcoin season.

    Menggenggam altcoin terbilang menggiurkan, bukan? Tapi, jangan mudah terkecoh, Sobat Cuan. Banyaknya koin alternatif yang beredar tentu bikin kamu puyeng sebelum menjajal peruntungan di kancah kripto. Pertanyaan seperti koin apakah yang perlu kamu genggam hingga prospek altcoin ke depan pasti singgah di benakmu saat ini.

    Sehingga, kamu perlu membekali dirimu dengan beberapa pertimbangan sebelum nyemplung ke kolam altcoin. Nah, untuk mempermudah pertimbanganmu, berikut ada lima pertanyaan yang harus kamu ajukan ke diri sendiri sebelum memutuskan menggenggam satu koin alternatif tertentu.

    Baca juga: Harga Bitcoin, Ethereum, dan Cryptocurrency Lain Diprediksi Meroket

    5 Pertimbangan Sebelum Terjun ke Altcoin

    1. Apa Sih Tujuan Bisnis dari Altcoin Tersebut?

    Sama seperti perusahaan, setiap pengembang koin beserta teknologi blockchain-nya tentu punya tujuan bisnis tertentu. Dan seharusnya, tujuan bisnis itu adalah menjadi solusi atas permasalahan dunia keuangan saat ini. Sebab, jika tidak, maka artinya koin-koin tersebut “tidak bernilai” lantaran tidak punya manfaat yang jelas.

    Sehingga, pertanyaan pertama yang perlu kamu cari tahu sebelum menggenggam altcoin adalah “Apakah teknologi blockchain dan koin yang mau saya genggam benar-benar memiliki nilai guna yang jelas?’.

    Sebagai contoh, kamu bisa berkaca kepada pengembangan Polkadot dan Cardano. Dua teknologi blockchain ini menawarkan solusi atas beberapa “kecacatan” teknologi Bitcoin dan Ethereum. Sehingga tak heran, jika kedua koin mereka, DOT dan ADA, diprediksi bisa bernilai di masa depan karena nilai gunanya bagi komunitas aset kripto.

    Selain itu, kamu juga perlu melihat sosok pengembang yang berada di balik penciptaan koin tersebut. Sebab, hal ini bisa mencerminkan reputasi dan keandalan teknologi yang mendasari aset kripto tersebut.

    Kebanyakan koin baru yang berkinerja moncer, biasanya dikembangkan oleh tim yang sudah lebih dulu sukses di dunia kripto. Dalam hal ini, lagi-lagi kita berkaca ke DOT dan ADA, yang notabene dikembangkan oleh pengembang Ethereum.

    2. Berapa Jumlah Suplai dan Sirkulasi Altcoin Tersebut Saat Ini?

    Suplai adalah jumlah maksimum koin yang terdapat di dunia. Sementara itu, sirkulasi adalah jumlah koin yang tersedia di pasaran saat ini. Lantas, kenapa dua hal tersebut penting untuk kamu perhatikan?

    Jawabannya, tentu saja karena suplai mempengaruhi harga aset kripto yang kamu genggam. Sesuai hukum ekonomi, ketatnya suplai suatu barang yang dibarengi dengan permintaan tinggi tentu akan meroketkan harga barang tersebut, bukan?

    Contoh paling sederhananya adalah Bitcoin. Saat ini, sang raja aset kripto itu dianggap sebagai aset penyimpan kekayaan karena jumlahnya terbilang terbatas, yakni 21 juta keping saja.

    Kini, Bitcoin yang ditambang sudah mencapai 18,76 juta koin. Hal ini bikin analis percaya bahwa aspek kelangkaan akan membawa terbang harga Bitcoin di masa depan.

    Kondisi lain ditunjukkan oleh Dogecoin (DOGE). Saat ini, total suplai DOGE di angka 129,5 juta keping, atau enam kali lipat lebih banyak dari Bitcoin.

    Hal ini bikin analis percaya bahwa melimpahnya suplai tersebut bikin harga DOGE sulit menembus US$1 per keping meski permintaannya tengah gila-gilaan. Adapun, saat ini harga DOGE masih di kisaran US$0,19 per kepingnya.

    Nah, oleh karenanya, kamu perlu memahami seluk beluk pasokan altcoin-mu, ya! Agar lebih amannya, kamu bisa bermain dengan altcoin yang hard-capped lantaran peluang mempertahankan nilainya lebih besar dibandingkan aset kripto yang punya persediaan tak terbatas.

    3. Bagaimana Tren Harga Aset Kripto Tersebut?

    Bagi kamu investor pemula, jangan mudah terjebak dengan aset kripto yang memiliki kapitalisasi pasar kecil. Tetapi, kamu juga harus perhatikan bagaimana riwayat harganya.

    Kamu bisa melihatnya berdasarkan grafik harga. Kamu bisa memeriksa berapa lama waktu yang dibutuhkan agar sang aset kripto bisa mencapai harga puncaknya. Atau, jangan-jangan altcoin itu tidak pernah sama sekali menunjukkan grafik kenaikan harga.

    Memilih koin kripto dengan nilai kapitalisasi pasar yang kecil memang menggiurkan. Betapa tidak, dengan hanya beberaa ratus dolar saja kamu sudah bisa mengantongi jutaan koin.

    Mekanisme seperti ini memang menguntungkan, karena ruang pertumbuhannya masih sangat lebar. Ketika banyak investor yang mulai ikut membeli koin anyar tersebut, bukan tidak mungkin harganya bisa meningkat hingga ribuan kali lipat. Tapi permasalahannya, apakah tren itu akan stabil?

    Nah, untuk itu, kamu harus berhati-hati ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Koin dan Token di Kancah Kripto?

    4. Bagaimana Kekuatan Komunitas Altcoin Incaran Kamu?

    Satu lagi yang tidak boleh kamu lewatkan adalah komunitas dari koin yang akan kamu beli. Sobat Cuan bisa melihatnya di akun twitter koin tersebut, berapa banyak followers-nya, bagaimana aktivitasnya, dan diskusi apa saja yang ada di dalam media sosial tersebut.

    Dari situ ada banyak informasi tentang rencana pengembangan koin yang akan dilakukan tim pengembang. Platform lain yang bisa menambah khasanah informasi kamu adalah Reddit.

    Jika interaksi yang ada di media sosial semakin kuat, maka besar kemungkinan koin tersebut juga memiliki potensi yang tidak bisa diremehkan di masa yang akan datang.

    Jadi bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap nyemplung ke altcoin? Jika ya, kamu bisa mendapatkannya lho di Pluang!

    Kamu bisa mendapatkan altcoin berkualitas tinggi seperti ETH, BNB, DOT, XRP, dan ADA hanya dalam satu genggaman saja! Yuk, investasi di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: iMoney



    Sumber : pluang.com

  • Investasi 101

    Sobat Cuan pasti sering mendengar ajakan berinvestasi untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak di masa depan. Apalagi, kini banyak sekali influencer berseliweran memamerkan hasil investasi mereka di media sosial. Namun, apa pengertian investasi sesungguhnya? Apakah investasi sama seperti kegiatan menyimpan uang? Terlebih lagi apakah investasi itu sama dengan kegiatan spekulasi? Apa Itu Investasi? Investasi adalah […]



    Sumber : pluang.com

  • 7 Kiat Memilih Manajer Investasi yang Tepat Untuk Reksadana

    Saat akan membeli suatu produk reksadana, memilih Manajer Investasi yang tepat sangat penting lho, Sobat Cuan.

    Mirip seperti mencari jodoh, memilih MI memang susah-susah gampang. Makanya, kamu perlu melancarkan tips-tips jitu memilih MI agar investasi reksadana kamu bisa sesuai harapan.

    Untuk itu, yuk simak tips memilih MI di artikel ini ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Yuk, Coba Diversifikasi Investasi dengan Teori Markowitz. Apakah Itu?

    Manajer Investasi

    Namun, sebelum menuju ke pakem-pakem dalam memilih MI, ada baiknya kamu kenali peran dan fungsi MI bagi investasi reksadanamu.

    Manajer Investasi (MI) adalah perusahaan atau perorangan yang telah mendapatkan izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan kegiatan usaha pengelolaan dana. Jadi, aset maupun dana investasi kamu akan dihimpun dalam kumpulan dana masyarakat dan dikelola oleh mereka.

    Kredibilitas MI dalam mengelola dana tersebut tentu berperan besar pada kinerja investasi kamu. Bahkan, banyak investor memilih produk reksadana semata karena rasa percayanya pada sang MI.

    Karena ia mengelola investasimu, tentu tugas Mi pun terbilang banyak. Nah, di bawah ini adalah tiga tugas utama manajer investasi yang harus kamu ketahui!

    Tugas Utama Manajer Investasi

    1. Mengelola Aset

    Tugas utama MI adalah mengelola aset dan dana kelolaan yang kamu percayakan kepadanya. Dia akan mmebelanjakan dana investasi kamu pada berbagai instrumen tergantu jenis reksadana yang kamu pilih.

    2. Memilih dan Melepas Instrumen

    Saat memilih dan melepas instrumen investasi dalam portofolio reksadana kamu, MI memiliki wewenang penuh. Dia bahkan tidak perlu meminta izin kamu selaku pemilik dana untuk melakukannya.

    Penjualan dan pembelian instrumen dilakukan berdasarkan analisis MI dan timnya selama dalam koridor yang disepakati di awal. Karenanya, dia bertanggung jawab besar pada kinerja reksadana kamu.

    Baca juga: Berkenalan dengan Fitur Limit Order dan Manfaatnya bagi Trading

    3. Melaporkan Hasil Investasi

    Selaku investor, kamu akan mendapat laporan investasi secara berkala. Umumnya, hasil laporan manajer investasi dapat diakses langsung melalui aplikasi atau situs resmi dari sang manajer investasi tersebut. Di dalam laporan akan dicantumkan berapa nilai unit rata-rata, harga, sampai persentase keuangan dari reksa dana yang dikelolanya.

    Bagaimana Tips Memilih MI Untuk Investasi Reksadana?

    Karena perannya yang sangat besar pada kesuksesan portofolio investasi kamu, penting sekali untuk selektif dalam memilih MI. Berikut ini tips investasi reksadana agar kamu tidak salah memilih MI.

    1. Pastikan Legalitas Manajer Investasi

    MI yang baik memiliki izin usaha yang legalitasnya terjamin. Kamu bisa mengecek izin usaha kandidat MI pilihanmu di laman resmi OJK. Pastikan izin usahanya terdaftar disana ya, Sobat Cuan.

    2. Cek Dana Kelolaan

    Meskipun tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur, tapi kamu bisa berasumsi bahwa MI dengan dana kelolaan besar adalah MI yang cukup kredibel.

    Logikanya, jika banyak orang mempercayakan pengelolaan dana kepada MI yang dimaksud, pasti kinerjanya boleh diadu.

    Tapi, banyak juga lho MI dengan dana kelolaan yang masih terbatas namun kinerjanya patut diacungi jempol. Jadi intinya, faktor dana kelolaan dapat dijadikan salah satu pertimbangan meski bukan syarat mutlak.

    3. Lihat Pengalaman Manajer Investasi

    MI baru dengan pengalaman terbatas belum tentu buruk, tetapi MI yang sudah punya banyak pengalaman adalah nilai tambah untuk pertimbanganmu. Pengalaman di atas lima tahun biasanya sudah cukup memberi kamu rekam jejak yang bisa dilihat data historisnya.

    Semakin tua MI, maka semakin banyak pula pengalamannya. MI yang berhasil mengelola dana di masa krisis juga menjadi poin pertimbangan penting lain yang perlu kamu perhatikan ya, Sobat Cuan.

    4. Cari Tahu Rekam Jejak Manajer Investasi 

    Rekam jejak MI tidak mungkin ditampilkan pada portofolio yang dipampang di laman resminya. Tapi kamu bisa melakukan cross check untuk memastikan MI yang kamu pilih betul=betul berintegritas dan dapat dipercaya mengelola investasi kamu.

    Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    5. Konsistensi Kinerja Manajer Investasi

    Berinvestasi di instrumen seperti reksadana idealnya adalah investasi jangka panjang, sekurangnya tiga tahun. Kamu tentu tidak ingin olah raga jantung selama itu akibat salah memilih MI yang kinerjanya kurang konsisten.

    Sehingga, pastikan konsistensi kinerja MI kamu baik agar kamu dapat hidup tenang menitipkan danamu ke sang manajer investasi.

    6. Transparansi Biaya Manajer Investasi 

    Salah satu faktor penting lainnya ialah perihal biaya.

    Manajer investasi dengan fee yang besar tidak selalu mereka yang kinerjanya terbaik. Kamu bisa mencari manajer dengan fee relevan dan wajar yang mampu mengelola reksadana dengan andal dan konsisten.

    Selain itu, transparansi biaya-biaya lainnya seperti fee dan potongan-potongan juga penting. Ingat, biaya ini akan dibebankan kepada dana investasi kamu sehingga nilai keuntungannya akan susut. Pastikan bahwa timbal baliknya sebanding dengan jumlah yang harus kamu bayar.

    7. Risiko dan Imbal Hasil

    Manajer investasi kamu adalah pembuat keputusan dalam pengelolan investasi kamu. Dia tentu memiliki risk appetite sendiri, juga target serta visi atas dana kelolaannya.

    Kamu harus memastikan bahwa gaya investasi dan selera risikonya selaras denganmu. Dengan begitu, kamu tidak harus selalu mempertanyakan keputusannya saat melepas atau membeli aset tertentu.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bareksa, PFI Mega Life



    Sumber : pluang.com