Category: Pluang

  • Emas 101

    Harga emas global secara resmi ditetapkan dua kali sehari dalam mata uang Dolar AS, yakni pada 10.30 dan 15.30 waktu London, Inggris. Nilai emas tersebut ditetapkan oleh London Bullion Metals Association (LBMA). LBMA merupakan asosiasi dagang yang terdiri dari sekitar 150 perusahaan dari seluruh dunia yang bergerak di rantai penyediaan emas, mulai dari penambang, pemurni […]



    Sumber : pluang.com

  • Sempat Jadi Katalis Positif Harga BNB, Apa Itu Binance Smart Chain?

    Sobat Cuan tentu sudah dengar mengenai Binance Coin (BNB), kan? Memang, pamor aset kripto satu ini cepat melejit sepanjang 2021. Kini, kapitalisasi pasar BNB sudah mencapai US$49,63 miliar dan menempati posisi ke-empat cryptocurrency terpopuler sejagat.

    Nah, tapi apakah kamu sudah pernah mendengar tentang “rumah” BNB yakni Binance Smart Chain (BSC)? Teknologi blockchain besutan perusahaan exchange kripto Binance ini wajib kamu perhatikan perkembangannya. Sebab, segala hal yang terjadi di dalamnya akan mempengaruhi permintaan BNB dan tentu saja bisa menggerakkan harganya.

    Untuk itu, yuk berkenalan lebih jauh dengan Binance Smart Chain!

    Baca juga: 5 Alasan Mengapa Prospek Binance Coin Akan Cerah di Masa Depan

    Apa Itu Binance Smart Chain?

    Binance Smart Chain adalah teknologi blockchain besutan Binance yang berjalan beriringan dengan teknologi milik Binance lainnya bernama Binance Chain (BC). Lantas, kenapa Binance harus memiliki dua rantai blockchain di dalam jaringannya?

    Awalnya, Binance meluncurkan Binance Chain pada April 2019 dengan fokus untuk memfasilitasi trading cryptocurrency dengan cepat dan terdesentralisasi. Salah satu aplikasi (dApps) yang dibangun di atas jaringan Binance Chain adalah Binance DEX, sebuah platform exchange kripto terdesentralisasi yang populer. Binance Chain juga merupakan kediaman BNB untuk pertama kalinya.

    Hanya saja, jaringan ini banyak kelemahannya. Salah satunya adalah perkara fleksibilitas.

    Binance Chain dibangun agar pengguna bisa melakukan trading secara cepat. Namun, fokus tersebut membuat BC tidak fleksibel seperti blockchain lain, yakni bisa digunakan untuk membangun beberapa program di atasnya memanfaatkan teknologi smart contract.

    Namun, jika BC memasang teknologi smart contract, maka kecepatan transaksi di atasnya bisa semakin lambat. Hal itu tentu akan menurunkan pamor Binance Chain sebagai jaringan transaksi tercepat. Apalagi, skalabilitas transaksi selalu menjadi tantangan terberat dalam pengembangan blockchain.

    Nah, oleh karenanya, Binance meluncurkan Binance Smart Chain yang berisikan teknologi smart contract di dalamnya. Sehingga, pengguna Binance bisa memanfaatkan kecepatan transaksi yang dimiliki BC sekaligus memanfaatkan teknologi smart contract di BSC.

    Karena kedua blockchain berjalan beriringan, maka Binance Smart Chain bukanlah teknologi lapis kedua Binance Chain, begitu pun sebaliknya. Keduanya adalah blockchain independen yang saling bisa menyokong satu sama lain ketika salah satu diantaranya mengalami mati total.

    Apa Fungsi Binance Smart Chain?

    Layaknya teknologi blockchain berbasis smart contract lainnya, BSC bisa digunakan pengembang untuk mengembangkan aplikasi terdesentralisasi. Bahkan, teknologi BSC terbilang kompatibel dengan Ethereum Virtual Machine, yakni teknologi yang bisa menerjemahkan smart contract ke dalam instruksi yang bisa dibaca komputer.

    Selain itu, Binance Smart Chain juga berfungsi agar pengguna Binance bisa mengatur digital asetnya secara cross-chain dengan delay yang rendah dan kapasitas besar. Intinya, kehadiran BSC bisa dibilang memperkaya ekosistem Binance yang sebelumnya dikenal punya kecanggihan dalam bentuk waktu transaksi yang cepat.

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak Sejarah Altcoin dalam Satu Dekade Terakhir di Sini!

    Apa Hubungan Binance Smart Chain dan Harga BNB?

    Seperti yang telah disinggung di atas, BSC memiliki koin native yakni Binance Coin.

    Koin ini dipergunakan untuk menjaga keandalan dan keamanan sistem blockchain BSC, mengingat teknologi blockchain BSC menggunakan algoritma konsensus Proof of Stake. Di dalam algoritma ini, pengguna harus memiliki koin BNB untuk memvalidasi setiap transaksi yang akan ditambahkan ke buku besar blockchain BSC.

    Selain itu, BNB juga digunakan pengembang untuk membayar biaya transaksi (gas fees) atas seluruh kegiatan yang terjadi di atas teknologi ini.

    Lantas, apa hubungan harga BNB dengan teknologi blockchain BSC?

    Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa salah satu penyebab kenaikan harga suatu barang adalah permintaannya. Jika permintaan naik, maka bisa jadi harga barang tersebut juga akan melonjak dengan asumsi suplainya tidak berubah.

    Salah satu hal yang mendorong permintaan BNB adalah penggunaan koin tersebut di teknologi BSC. Jika banyak pengembang merangsek masuk Binance Smart Chain, sudah barang tentu permintaan BNB akan kian deras. Hal itu tentu akan mengerek harga BNB di masa depan.

    Kestabilan harga BNB ke depan juga akan didukung dengan mekanisme coin burning. Nah, Sobat Cuan yang belum paham mekanisme tersebut bisa meluncur ke artikel ini, ya!

    Apakah Ada Bukti Penggunaan Teknologi BSC ke Harga BNB?

    Nah, Sobat Cuan mungkin ingat bahwa harga BNB sempat meroket di kuartal I hingga kuartal II tahun ini. Harga BNB tercatat mencapai rekor tertingginya pada 10 Mei 2021 dengan nilai US$690,93 per keping, meski harganya di awal tahun hanya US$37 per keping. Alias, dalam lima bulan, nilai BNB melonjak 1.767,38%!

    Adapun salah satu penyebab lonjakan harga tersebut adalah maraknya pengembang yang berbondong-bondong hijrah ke blockchain BSC. Musababnya adalah harga gas fees dan lambatnya waktu transaksi di rival Binance Smart Chain, yakni blockchain Ethereum.

    Apalagi, di awal tahun, komunitas BSC juga mendiskon biaya gas fees dari 15 Gwei ke 10 Gwei di Februari. Hal ini tentu menjadi daya tarik pengembang yang ingin menciptakan dApps baru namun dengan biaya lebih efisien. Selain itu, investor crypto staking pun lebih memilih jaringan Binance Smart Chain lantaran biaya transaksinya yang juga cukup rendah.

    Seluruh peristiwa itu mendorong permintaan BNB dan sudah bisa ditebak, akhirnya harga BNB pun menanjak di awal tahun ini.

    Bukti maraknya pengembang yang lebih memilih jaringan BNB tercermin dari jumlah aplikasi terdesentralisasi yang diciptakan.

    Per juni 2021, Ethereum menjadi rumah bagi 2.800 dApps, sementara BSC hanya memiliki 810 aplikasi. Jumlah aplikasi BSC memang kecil. Namun, BSC berhasil meraih jumlah tersebut hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, sementara Ethereum sudah hadir lebih dari delapan tahun.

    Hal lainnya juga tercermin dari aktivitas transaksi hariannya. Pada Mei lalu, BSC berhasil mencatat 11 juta transaksi harian seperti yang terlihat dari grafik berikut.

    Grafik transaksi harian Binance Smart Chain. Sumber: bscscan

    Nah, angka tersebut ternyata jauh lebih besar dibanding Ethereum yang tak pernah menyentuh lebih dari 1,8 juta transaksi harian, seperti terlihat di grafik berikut.

    Ethereum
    Grafik transaksi harian blockchain Ethereum. Sumber: Etherscan

    Dengan prospek yang menjanjikan, apakah Sobat Cuan juga tidak tertarik menggenggam BNB? Yuk, miliki BNB di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Binance, Binance, Coinmarketcap, Etherscan, BSCscan



    Sumber : pluang.com

  • Menilik ERC-20, Standar Emas Penciptaan Token-Token DeFi

    Sebagian besar token DeFi dibangun dalam blockchain Ethereum yang memiliki beberapa standar tertentu. Adapun salah satu standar yang paling populer adalah ERC-20.

    Popularitas standar ERC-20 cukup beralasan. Standar ini memungkinkan pengembang membangun aplikasi token yang dapat dioperasikan dengan produk dan layanan lainnya. Nah, lantas seperti apa sih standar token satu ini?

    Token ERC-20

    Protokol token ini dirancang oleh Fabian Vogelsteller, salah satu arsitek blockchain yang cukup terkenal, khususnya pada komunitas Ethereum.

    Vogelsteller membuat rancangan token yang mengimplementasikan Application Programming Interface (API), yakni antarmuka yang dapat beroperasi antar aplikasi.

    Berkat implementasi API, ERC-20 memiliki keunggulan di sisi fleksibilitas. Token ini dapat menyediakan fungsi transfer token dari satu akun ke akun lainnya, baik sebagai saldo token maupun pasokan token jaringan. Selain itu, terdapat juga fungsi operasional, misalnya transaksi token milik sebuah akun yang dapat dieksekusi oleh pihak ketiga.

    Apa saja yang dapat direpresentasikan oleh token berstandar ERC-20? Hampir semua material yang dapat dimiliki dapat dijadikan token. Baik saham, properti, barang seni, hak guna, hingga kendaraan.

    Hal yang perlu dilakukan oleh pengembang saat menjadikannya underlying asset dalam rupa token adalah membuat smart contracts. Kontrak-kontrak ini perlu diciptakan untuk mengakomodir berbagai prasyarat yang telah ditetapkan sebelum “mentransformasikan” aset beneran ke dalam bentuk token.

    Baca juga: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Token yang Mirip dengan Koin Native

    ERC-20 telah muncul sebagai standar teknis yang diterjemahkan lewat smart contracts di blockchain Ethereum. Operasionalnya yang fleksibel membuat penggunaan token berbasis ERC-20 mirip dengan cryptocurrency, sampai-sampai kerap disebut sebagai blueprint cryptocurrency.

    Dalam beberapa sisi, token berstandar ERC-20 punya karakteristik yang sama dengan Bitcoin, Litecoin, dan cryptocurrency lainnya. Yakni, sebagai aset berbasis blockchain yang memiliki nilai dan dapat dikirim dan diterima.

    Perbedaan utama antara keduanya hanyalah platform operasi. Alih-alih beroperasi di blockchain mereka sendiri, token ERC-20 dikeluarkan di jaringan Ethereum.

    Biasanya, setelah pengembang memiliki sumber daya untuk membangun jaringan blockchain-nya sendiri, token tersebut akan dipindah jaringannya menjadi koin native dengan standar yang masih mirip ERC-20. Banyak token digital terkenal menggunakan standar ERC-20, termasuk Maker (MKR), Basic Attention Token (BAT), Augur (REP), dan OmiseGO (OMG).

    Baca juga: Waspada Bahaya Impermanent Loss Saat Yield Farming! Apakah Itu?

    Aturan Token ERC-20

    Aturan terstandar yang dirancang oleh Vogelsteller memiliki peranan yang sangat penting, yakni mendefinisikan daftar aturan umum yang harus dipatuhi oleh semua token Ethereum. Beberapa aturan tersebut antara lain mengatur tentang bagaimana token dapat ditransfer, bagaimana transaksi disetujui, bagaimana pengguna dapat mengakses data tentang token, hingga berapa banyak total persediaan token.

    Lantas, apa sebab token-token tersebut harus mematuhi standar yang dimaksud? Tujuannya, agar token-token tersebut bisa diterima oleh komunitas kripto. Penggiat aset kripto pasti hanya akan menggunakan aset digital jika sudah paham mengenai manfaat token dan bagaimana token itu berfungsi di dalam sistem Ethereum yang lebih besar.

    Hanya saja, token-token baru yang menggunakan standar ERC-20 tidak perlu merancang ulang fungsionalitasnya masing-masing. Mereka hanya perlu mengikuti format yang sudah ada, selama masih dalam koridor yang ditetapkan ERC-20 dalam smart contracts, agar token tersebut bisa kompatibel dengan jaringan utamanya.

    Aturan ini juga memudahkan operasional token-token yang ada. Sebab, antara satu token dan lainnya telah kompatibel dan dapat ditransaksikan dengan lancar karena sama-sama dibangun di atas standar ERC-20.

    Jika kamu berencana membeli mata uang digital apa pun yang diterbitkan sebagai token ERC-20, kamu juga harus memiliki wallets yang kompatibel dengan token ini.

    Berkat popularitasnya, mencari wallet yang kompatibel dengan standar ERC-20 pun cukup mudah saat ini. Ada banyak pilihan wallets yang tersedia di market untuk disesuaikan dengan kebutuhan kamu.

    Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    Fitur dan Karakteristik ERC-20

    Fitur utama yang membuat operasional ERC-20 dianggap user friendly adalah kemudahan dalam membuat smart contracts untuk token ini. Karenanya, token ERC-20 banyak digunakan sehingga mudah ditransaksikan.

    Token ini juga memiliki karakteristik yang fleksibel dan kompatibel. Selain mudah ditransaksikan, token ini juga kompatibel dengan banyak platform, proyek DApps, serta aplikasi tersentralisasi yang menyediakan platform jual beli kripto. Hal ini membuat transaksi penerimaan dan pengiriman aset kripto berupa token jadi lebih sedehana.

    Hingga saat ini, ERC-20 masih menjadi protokol terbaik di blockchain Ethereum, meski desas-desus menyebutkan bahwa protokol pembaharunya sedang dikembangkan. Salah satu catatan penting yang masih jadi pekerjaan rumah pada protokol ERC-20 adalah bugs yang terkadang mengganggu jalannya transaksi.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Ethereum, Investopedia, Bit Panda



    Sumber : pluang.com

  • Saham 101

    Karena saham mewakili kepemilikan dalam perusahaan, maka kinerja saham sangat tergantung dengan perkembangan perekonomian, kondisi sektor usaha, dan faktor-faktor lain yahg mempengaruhi keadaan perusahaan tersebut.

    Tujuh risiko utama yang dihadapi adalah risiko ekonomi, risiko dari perubahan kebijakan makroekonomi, risiko sektor usaha atau industri, risiko persaingan usaha, risiko usaha, risiko waktu masuk-keluar pasar, dan risiko likuiditas.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal CBOE Volatility Index, Ukuran Volatilitas Nilai SP 500

    Pekan ini, investor indeks S&P 500 merasa agak deg-degan. Sebab, indeks volatilitas CBOE Volatility Index bergerak mendekati angka 25 pada Senin (19/7), menembus titik reratanya dalam 200 hari alias 200 Simple Moving Average (SMA).

    Kabar tersebut pun muncul di beberapa portal berita ternama. Tak heran, jika pelaku pasar pun sedikit panik akibat kenaikan nilai indeks tersebut. Meski sempat panik, namun kekhawatiran mereka mereda seiring penurunan nilai indeks tersebut menjelang akhir pekan.

    Nah, reaksi investor seperti demikian tentu bikin kamu bertanya-tanya: Mengapa sih pelaku pasar merespons keras angka indikator CBOE Volatility Index? Apakah memang angka tersebut begitu pentingnya di pasar saham Amerika Serikat?

    Untuk mengetahuinya, yuk simak artikel berikut ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Apa Itu Reksadana Indeks (Index Fund)?

    Mengenal CBOE Volatility Index

    Yang namanya pasar saham, pergerakan harganya tentu sangat volatil meski menjanjikan keuntungan segudang. Termasuk indeks S&P 500. Volatilitas harga sifatnya sangat penting untuk diamati lantaran bisa membuatmu untung atau justru buntung berinvestasi di dalamnya.

    Investor pasar modal AS tentu harus jago dalam menakar volatilitas tersebut. Salah satu indikator untuk melihat volatilitas itu adalah dengan memantau CBOE Volatility Index atau biasa disebut indeks VIX.

    The CBOE Volatility Index atau Chicago Board Option Exchange Volatility Index adalah indeks yang bersifat real time. Indeks ini diturunkan dari harga-harga kontrak derivatif indeks S&P 500, yang rata-rata bertenor jangka menengah.

    Seperti yang kita tahu, harga kontrak derivatif merupakan harga yang disepakati penjual atau pembeli saat tenggat waktu yang disepakati di masa depan. Oleh karenanya, tak heran jika pergerakan nilai indeks ini digunakan investor dalam melihat ekspektasi pasar terhadap volatilitas nilai S&P 500 dalam 30 hari ke depan.

    Volatilitas sendiri adalah istilah yang menggambarkan seberap cepat harga sebuah aset naik-turun. Secara umum, hal ini digunakan untuk melihat sentimen pasar secara umum. Namun secara khusus, indikator ini dimanfaatkan untuk mengukur tingkat “ketakutan” para pelaku pasar dalam berinvestasi di indeks S&P 500.

    Intinya, semakin dramatis ayunan harga dalam instrumen CBOE Volatility Index, maka semakin tinggi tingkat volatilitasnya. Begitu pula sebaliknya.

    CBOE Volatility Index dianggap sebagai indikator penting di dalam dunia trading dan investasi. Sebab, indeks ini menyediakan ukuran risiko pasar dan sentimen investor dalam bentuk angka.

    Baca juga: Yuk, Mengenal Produk-Produk Investasi!

    Bagaimana Cara Mengukur Volatilitas?

    Lantas yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana volatilitas harga bisa diukur? Nah, terdapat dua metode yang menjadi alat ukurnya.

    Pertama adalah metode yang disandarkan pada perhitungan statistik harga historis. Kalkulasi ini mencakup kalkulasi angka-angka statistik seperti angka rata-rata, variance, dan standar deviasi dari data-data historis harga aset tersebut. Biasanya, hasil dari standar deviasi tersebut dianggap sebagai risiko atau volatilitas harga dari aset tersebut.

    Perhitungan kedua adalah perhitungan yang berbasis harga opsi. Opsi sendiri adalah instrumen derivatif yang harganya tergantung oleh kemungkinan pergerakan nilai satu saham tertentu dalam mencapai satu titik harga khusus. Biasanya, hal ini disebut sebagai strike price.

    Nah selain VIX, CBOE juga menawarkan beberapa varian lain untuk mengukur volatilitas pasar secara luas. Seperti Indeks Volatilitas Jangka Pendek Cboe (VXSTSM), yang mencerminkan volatilitas dalam sembilan hari kedepan dari Indeks S&P 500, Indeks Volatilitas 3 Bulan Cboe S&P 500 (VXVSM), dan Indeks Volatilitas 6 Bulan Cboe S&P 500 (VXMTSM).

    Produk lainnya yang berdasarkan indeks pasar lainna adalah Indeks Volatilitas Nasdaq-100 (VXNSM), Indeks Volatilitas CBOE DJIA (VXDSM), dan Indeks Volatilitas Cboe Russell 2000 (RVXSM).

    Meskipun tidak ada metode sempurna dalam melihat volatilitas pasar, namun seluruhnya memberikan hasil serupa. Yakni, mengukur volatilias secara kuantitatif.

    Baca juga: Apa Itu Altcoin Index?

    Bagaimana Cara Menghitung CBOE Volatility Index?

    Indeks ini dihitung berdasarkan kontrak-kontrak opsi S&P 500 yang dipertukarkan di CBOE dan biasanya akan kedaluwarsa dalam 23 hari hingga 37 hari mendatang.

    Memang, formulasi dalam menghitung indeks ini terbilang rumit. Tapi intinya, indeks ini dihitung berdasarkan agregasi dari seluruh rerata harga yang tercipta dari aksi puts dan calls kontrak derivatif S&P 500.

    Apa Gunanya Memahami CBOE Volatility Index?

    Karena harga yang tertera bersifat proyeksi selama 30 hari ke depan, maka kamu bisa memperhatikan arah pergerakannya.

    Jika pergerakan indeks tersebut stabil, artinya Indeks S&P 500 kemungkinan bisa bergerak sama, lantaran pasar tidak menyikapi berbagai sentimen yang ada.

    Sifatnya yang maju satu bulan lebih dulu membuat kamu bisa bersiap untuk menghadapi berbagai risiko yang ada. Sehingga, bisa dikatakan bahwa CBOE Volatility Index mampu dijadikan sebagai informasi pendukung ketika kamu akan masuk ke S&P 500.

    Cara membaca indeks tersebut adalah dengan melihatnya secara terbalik, Jadi ketika investor merasa khawatir akan isu tertentu, biasanya nilai Indeks VIX akan naik, yang artinya pasar dalam keadaan jatuh.

    Sedangkan ketika Indeks VIX bergerak melandai, biasanya menyiratkan kondisi bahwa pasar saham dalam keadaan riuh.

    Sebuah studi yang dilakukan sejak tahun 1990 mengungkapkan, ketika pasar secara keseluruhan, diwakili oleh indeks S&P 500 (Grafik Oranye) melonjak yang mengarah ke nilai VIX (Grafik Biru) turun sekitar waktu yang sama, dan sebaliknya.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap memperhatikan indeks ini untuk cuan di S&P 500?

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak 3 Tanda Kamu Belum Siap Investasi S&P 500!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Nasdaq, Stockhead



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Konsep Algoritma Konsensus Dalam Blockchain. Apakah Itu?

    Sobat Cuan yang sering membaca berita atau analisis cryptocurrency mungkin sering memperhatikan istilah proof of work atau proof of stake di dalamnya. Ya benar, Sobat Cuan, keduanya adalah jenis algoritma konsensus yang digunakan teknologi blockchain.

    Kadang, perkembangan atau seluruh hal yang menyangkut dua hal tersebut menjadi sorotan komunitas kripto. Sebab, sebagai bagian dari teknologi blockchain, tentu saja perkembangan terhadapnya bisa bikin seorang penggiat aset kripto mendekati atau menjauhi aset kripto yang berasal dari blockchain tersebut.

    Masih hangat di ingatan, bagaimana penggunaan algoritma konsensus proof of work di blockchain Bitcoin sempat bikin peminat cryptocurrency menjauh dari sang raja aset kripto. Musababnya adalah konsensus proof of work dinilai tidak ramah lingkungan lantaran mengonsumsi listrik dalam jumlah besar.

    Lantas, apa itu algoritma konsensus? Dan mengapa hal itu sangat penting di teknologi blockchain? Yuk, simak selengkapnya!

    Mengenal Algoritma Konsensus

    Secara singkat, algoritma konsensus adalah mekanisme yang digunakan oleh komputer dan sistem blockchain dalam menyetujui tambahan data baru di dalamnya.

    Masih bingung, Sobat Cuan? Yuk, simak ilustrasinya.

    Jika diibaratkan buku besar (ledger), maka blockchain adalah lembaran-lembaran transaksi yang saling bertumpuk. Nah, satu transaksi (block) akan berkaitan dengan transaksi lainnya sehingga membentuk satu rantai (chain) transaksi.

    Buku besar ini memang bisa diakses dan dilihat semua orang, namun sangat sulit untuk disunting. Pengguna blockchain tidak bisa mengedit transaksi yang ada di dalamnya, namun mereka bisa menambahkan satu blok transaksi baru. Namun, blok transaksi baru itu hanya bisa ditambahkan jika algoritma konsensus menyetujui penambahan transaksi tersebut.

    Lantas, mengapa mekanisme ini dibutuhkan di sistem blockchain?

    Nah, seperti yang kita tahu, tidak ada satu otoritas yang mengawasi jalannya aktivitas di jagat kripto. Seluruh sistemnya dibuat secara terdesentralisasi sehingga pengambilan keputusan, verifikasi, hingga otentifikasi di dalam blockchain tersebut harus melibatkan seluruh pengguna yang ada di dalamnya.

    Namun, melibatkan ratusan ribu, bahkan jutaan pengguna, pun membutuhkan satu sistem yang efisien, adil, andal, dan aman agar seluruh pihak yang terlibat di dalamnya bisa memiliki “suara”. Nah, untuk itulah algoritma konsensus dibutuhkan di sistem blockchain.

    Di samping itu, algoritma konsensus juga menjadi sumber kebenaran utama (single source of truth) menyangkut apakah transaksi yang dilakukan seorang pengguna adalah transaksi beneran. Hal ini untuk mencegah pengguna melakukan pencatatan transaksi secara dua kali, atau kerap disebut double spending.

    Bagaimana Cara Kerja Algoritma Konsensus?

    Di dalam ranah kripto, seluruh saldo cryptocurrency milik pengguna tercatat di sebuah basis data yakni blockchain. Seluruh data tersebut kemudian akan diduplikasi di dalam sebuah gawai yang bernama node.

    Node sendiri adalah titik-titik akhir dari sebuah komunikasi antarjaringan, seperti komputer. Dalam hal ini, node yang dimaksud adalah komputer pengguna jaringan blockchain.

    Nantinya, ketika ada sebuah transaksi baru akan ditambahkan ke blockchain, maka pengguna blockchain tersebut akan memvalidasi kegiatan tersebut melalui node yang dimaksud.

    Sementara itu, pengguna yang ingin menjadi validator transaksi blockchain wajib menyediakan sebuah stake. Stake sendiri adalah nilai yang pengguna harus “taruhkan” sebagai jaminan bahwa mereka tidak akan bertindak tak jujur dalam mencatat transaksi. Jika ketahuan curang, maka mereka akan kehilangan stake yang mereka taruh.

    Namun, jika mereka berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, maka mereka akan menerima imbalan. Balas jasa tersebut kadang terdiri dari cryptocurrency native protokol blockchain tersebut yang berasal dari fees yang dibayar pengguna lain.

    Baca juga: Apa Itu Blockchain?

    Macam-Macam Algoritma Konsensus

    Setiap blockchain tentu memiliki jenis algoritma konsensus masing-masing. Pun dengan mekanisme yang tentunya berbeda-beda. Nah, apa saja jenis-jenis algoritma konsensus tersebut?

     

    1. Proof of Work

    Konsensus Proof of Work adalah “bapak” dari segala jenis algoritma konsensus. Algoritma ini pertama kali digunakan oleh blockchain Bitcoin dan diikuti oleh sebagian besar altcoin generasi pertama.

    Di dalam konsep Proof of Work, yang bertindak sebagai validator transaksi adalah para penambang. Mereka bisa menambah blok baru di blockchain kalau berhasil memecahkan teka-teki matematika yang kompleks. Jika sudah berhasil dan bisa memberikan “bukti kerja keras mereka” (alias proof of work), maka mereka bisa menambah blok baru di dalamnya.

    Sayangnya, kegiatan algoritma ini menghasilkan ongkos besar. Setiap penambang membutuhkan sistem komputer yang mumpuni agar bisa berpacu dengan penambang lainnya saat menambang cryptocurrency. Sehingga, mereka perlu merogoh kocek dalam hanya untuk membeli piranti kerasnya.

    Tak hanya investasi perangkat keras, mereka juga perlu membayar listrik yang mahal. Ini lantaran proses pemecahan teka-teki tersebut bisa berlangsung sangat lama.

    2. Proof of Stake

    Algoritma konsensus lainnya adalah Proof of Stake (PoS). Algoritma ini diusung oleh koin-koin baru seperti Cardano dan Ethereum ketika nanti sudah hijrah ke Ethereum 2.0.

    Di dalam sistem Proof of Stake, validator tidak perlu investasi dalam perangkat keras. Namun, sebagai gantinya, mereka justru harus berinvestasi di cryptocurrency. Apa alasannya?

    Proof of Stake adalah konsep di mana seseorang dapat menambang atau memvalidasi transaksi aset kripto sesuai dengan jumlah koin yang ia pegang. Artinya, semakin banyak koin yang dimiliki penambang, maka mereka punya daya tawar yang tinggi dalam menambang aset kripto.

    Berbeda dengan proof of work yang membutuhkan mesin canggih, proof of stake bisa dilakukan dengan komputer biasa. Namun, kamu perlu mengunci cryptocurrency-mu dalam sebuah wallet. Nah, koin-koin tersebut nantinya bisa digunakan untuk bertaruh (stake) apakah sebuah transaksi baru layak dicatatkan ke blockchain atau tidak.

    Jika transaksi itu disetujui, maka validator bisa mendapatkan imbalan dalam bentuk fees. Namun, jika validator mencoba curang, maka koin-koin yang digunakan untuk staking bisa sirna.

    Proses ini dinilai lebih murah dan lebih cepat ketimbang konsensus PoW. Itu juga yang membuat ADA memiliki kepercayaan yang tinggi dari investor kripto sehingga bisa masuk dalam jajaran 10 koin teratas secara kapitalisasi pasar aset kripto.

    Baca juga: Apa Itu Proof of Activity?

     

    3. Proof of Burn

    Algoritma konsensus Proof of Burn (PoB) adalah konsensus yang menggunakan mekanisme pembakaran koin untuk kemudian meningkatkan nilai dari koin tersebut.

    Konsep ini berbeda dengan proof of work yang mengharuskan pengguna kripto untuk investasi hardware canggih atau proof of stake yang mengharuskan “menabung” cryptocurrency.

    Di dalam proof of burn, validator akan mengirimkan koin ke sebuah alamat sebagai bukti mereka memvalidasi transaksi di blockchain. Semakin banyak koin yang dibakar oleh validator, semakin baik peluang untuk dipilih dalam menambang blok berikutnya. Sayangnya, koin-koin yang sudah dibakar tentunya tidak dapat diakses lagi dan dihitung sebagai koin yang sudah terpakai.

    Mekanisme ini bisa dibilang menyebabkan kerugian di awal, namun bisa menjadi investasi untuk jangka panjang. Beberapa koin kripto yang menggunakan mekanisme ini adalah Slimcoin (SLM) dan Counterparty (XCP)

    4. Proof of Capacity

    Dalam konsensus proof of capacity (PoC), validator berinvestasi dalam kapasitas ruang penyimpanan yang dimiliki.

    Semakin banyak kapasitas yang dimilki oleh validator atau pengguna semakin besar peluang untuk bisa menambang blok berikutnya dan mendapatkan hadiah berupa blok.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Binance, Investopedia, Geeks for Geeks



    Sumber : pluang.com

  • Perencanaan Keuangan 101

    Penyusunan anggaran adalah langkah esensial dalam perencanaan keuangan. Sebab, anggaran ibarat rem yang mampu menahanmu untuk boros belanja.

    Hanya saja, menyusun anggaran memang susah-susah gampang. Tapi, kamu bisa memanfaatkan dua metode berikut untuk melacak pemasukan dan pengeluaranmu.



    Sumber : pluang.com

  • Apa Perbedaan Market Order dan Limit Order dalam Trading?

    Saat trading, kamu menggunakan berbagai jenis order yang kamu input melalui aplikasi sebagai perintah kepada pialang untuk mengekseskusi penawaran kamu. Beberapa di antara jenis order yang populer adalah limit order dan market order.

    Keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam memberi sinyal penawaran. Apalagi, masing-masingnya memberi keunggulan yang akan menguntungkan buat kamu jika digunakan dalam momentum yang tepat.

    Karenanya, kamu perlu lebih mengenal jenis-jenis order yang ada ya, Sobat Cuan. Agar trading kamu lebih menyenangkan, yuk, kenalan dengan limit order dan market order serta kapan kamu harus menggunakannya.

    Baca juga: Profil Jeff Bezos, Pria Tertajir di Dunia yang Pelesiran ke Angkasa

    Apa Itu Limit Order?

    Limit order merupakan fitur yang dapat kamu gunakan untuk menawar harga saham maupun aset lain di pasar tersentralisasi. Fitur ini cocok untuk kamu yang punya segudang kesibukan tapi tetap ingin cuan.

    Kamu bisa menggunakan fitur ini untuk melakukan trading dengan serius tanpa harus berpaku di depan layar menunggu momentum menginput penawaran. Fitur ini memungkinkan kamu memasang harga jual lebih tinggi dari pada harga yang berlaku saat itu, ataupun sebaliknya.

    Harga jual maupun harga beli yang kamu input sesuai dengan perspektif kamu akan dieksekusi oleh pialang saat harga pasaran memasuki level harga tersebut. Tentunya, jika ternyata pergerakan harga meleset dari dugaan kamu, transaksi kamu tidak akan diproses.

    Tapi, kalau kamu menginginkan transaksi yang lebih cepat, kamu bisa menggunakan fitur lain yaitu market order.

    Apa Itu Market Order

    Market order adalah instruksi yang kamu input kepada pialang untuk membeli atau pun menjual saham, surat utang, juga jenis aset lainnya pada harga yang berlaku saat ini. Istilah kerennya ‘HAKA” alias hajar kanan, yakni jenis order yang dapat langsung dieksekusi oleh sang pialang.

    Fitur ini paling umum digunakan oleh investor di pasar modal, terutama kalau saham maupun instrumen incaran kamu banyak peminatnya. Menggunakan market order akan membuat penawaran tidak perlu mengantre panjang.

    Jadi kamu tidak perlu khawatir kehabisan stok saat menunggu harga berada di level prediksi kamu sebagaimana jika kamu menggunakan limit order. Fitur ini juga bisa kamu gunakan jika kamu tau kapan momentum yang tepat untuk masuk ke pasar. Kamu tinggal menginput market order saat momentum tersebut datang. Praktis dan cepat, bukan?

    Perbedaan Limit Order dan Market order

    Berdasarkan penjelasan di atas, keduanya memiliki perbedaan dalam hal eksekusi. Saat kamu memutuskan untuk membeli salah satu produk investasi lewat pasar tersentralisasi, kamu dapat melakukannya dengan dua cara.

    Cara pertama adalah dengan menentukan harga melalui limit order, dengan catatan bisa saja transaksi kamu gagal jika harga tidak mencapai limit yang kamu perkirakan. Atau, kamu dapat melakukannya dengan cara kedua melalui market order agar pialang dapat segera mengeksekusinya.

    Keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Mengingat pasar tersentralisasi tidak membuka peluang kamu menawar harga sebagaimana pasar tradisional, limit order adalah cara agar kamu tetap dapat penawaran terbaik d isana.

    Meski begitu, jika kamu punya banyak waktu untuk menyusur grafis pasar dan masuk dengan market order pada saat yang tepat, kamu tetap bisa me-leverage cuan.

    Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    Saat yang Tepat Memakai Limit Order dan Market Order

    Penggunaan fitur order yang tepat memang sangat bergantung pada gaya trading kamu. Namun, keduanya memiliki preferensi kapan saat paling tepat untuk digunakan.

    Limit Order

    Beberapa pialang menawarkan fitur limit order hingga tiga bulan. Yang artinya, penawaran kamu masih berlaku selama itu hingga harga aset mencapai level yang kamu inginkan. Karenanya, fitur ini efektif digunakan untuk memastikan kamu masuk dan keluar pasar pada level harga tepat seperti yang kamu inginkan.

    Limit order juga efektif digunakan pada saham atau instrumen yang kurang likuid. Saham yang kurang diminati atau saat pasar sepi biasanya menjemukan untuk diamati. Kamu bisa menggunakan limit order agar kamu dapat meninggalkan pasar tersebut tanpa khawatir dana investasi kamu buntung. Sebab, pialang akan mengeksekusi jika limit kamu tercapai.

    Tapi, kamu juga harus memperhatikan komisi atau fee broker yang biasanya lebih besar jika menggunakan fitur ini. Makanya, fitur ini lebih sering digunakan oleh trader dengan kepemilikan besar. Jika dilakukan dengan volume besar biayanya lebih efisien.

    Market Order

    Pada pasar yang likuid atau instrumen dengan banyak peminat, market order adalah pilihan yang tepat. Volatilitas harga di pasar yang ramai tentu menarik untuk disimak.

    Kamu tidak akan bosan menunggu momentum datang untuk masuk ke pasar lalu menginput harga yang berlaku agar segera dieksekusi oleh pialang. Order ini sangat populer di kalangan investor, terutama investor ritel.

    Jika kamu amat yakin pada fundamental perusahaan tujuan investasi, ataupun aset kripto yang sedang naik daun, buat apa menunda-nunda untuk memilikinya?

    Namun, menggunakan market order saat pasar sepi atau saham kurang diminati kadang malah membuat transaksi kamu dieksekusi pada level harga berbeda. Meski jarang terjadi, kadang hal seperti ini menimbulkan kerugian.

    Sisi baiknya adalah, kamu biasanya dikenai fee dan komisi yang lebih murah jika menawar dengan market order. Selain cepat dieksekusi, fitur ini lebih hemat, makanya lebih diminati terutama oleh trader pemula.

    Baca juga: Waspada Bahaya Impermanent Loss Saat Yield Farming! Apakah Itu?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Nerdwallet



    Sumber : pluang.com

  • Digadang Masa Depan Blockchain, Seperti Apa Smart Contract Cardano?  

    Sobat Cuan mungkin sudah familiar dengan Cardano. Teknologi blockchain ini mengklaim diri sebagai blockchain generasi ketiga, setelah kehadiran blockchain transaksi dan blockchain smart contract.

    Berbekal fitur tersebut, kini Cardano digadang-gadang bisa menantang eksistensi Ethereum. Yakni, teknologi blockchain pertama yang memanfaatkan fitur smart contract di atasnya. Tak heran, jika kini Cardano menenteng gelar sebagai blockchainEthereum Killer“.

    Optimisme komunitas kripto terhadap Cardano pun cukup tinggi. Kini, koin native Cardano, ADA, menempati posisi lima besar aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat dengan nilai US$40,12 miliar.

    Lantas, seperti apa teknologi smart contract yang bakal ditawarkan oleh Cardano? Apakah ia benar-benar bisa menantang kehadiran Ethereum?

    Mengenal Smart Contract Cardano

    Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, pengembang Cardano membagi pengembangan blockchain ini ke dalam lima tahap. Yakni, Byron, Shelley, Goguen, Basho, dan Voltaire.

    Kini, Cardano memasuki fase Shelley. Yakni sebuah fase di mana Cardano mengalami desentralisasi sistem blockchain yang lebih luas. Sebentar lagi, Cardano akan masuk ke fase Goguen, di mana teknologi smart contract akan diberlakukan.

    Mengutip laman resminya, Cardano berencana meluncurkan fitur kontrak pintar yang bisa digunakan untuk membangun aplikasi terdesentralisasi (dApps). Hal ini persis seperti apa yang ditawarkan blockchain Ethereum selama ini.

    Namun bedanya, Cardano menjanjikan seluruh pengguna, baik yang sudah pro maupun awam mengenai cryptocurrency, untuk bisa memanfaatkan kontrak pintar di sistem blockchain-nya. Hal ini akan dimotori oleh Plutus, yakni bahasa pengembangan dan eksekusi smart contract Cardano berbasis bahasa pemrogaman Haskell.

    Selain itu, era Goguen juga akan memperkenalkan Cardano ke audiens yang lebih luas melalui teknologi yang disebut Marlowe. Marlowe sendiri adalah bahasa pemrograman berbasis domain-specific language (DSL) untuk kontrak-kontrak finansial yang dibangun dengan Plutus. Implikasinya, pakar finansial dan bisnis yang tak punya latar belakang insinyur teknologi bisa memanfaatkan fitur smart contracts ini.

    Nantinya, Marlowe akan hadir dengan Marlowe Playground. Yakni, program pengembangan aplikasi yang bisa dioperasikan oleh mereka yang bukan programmer.

    Tak berhenti sampai situ, kontrak pintar Cardano juga nantinya juga bisa digunakan untuk membuat token-token baru. Sangat menjanjikan, bukan?

    Mengapa Smart Contract Cardano Disebut Mengancam Ethereum?

    Menanggapi pertanyaan di atas, komunitas kripto punya beberapa jawabannya.

    1. Menjadi Saingan Ethereum dalam Produksi NFT

    Di kancah kripto, Non-Fungible Tokens (NFT) biasanya dilahirkan di atas kontrak pintar Ethereum dengan standar token ERC-271. NFT sendiri tengah menjadi buah bibir di kalangan komunitas kripto karena bisa merepresentasikan nilai benda-benda unik nan langka dalam bentuk token.

    Sayangnya, Ethereum akan punya pesaing utama, yakni smart contract Cardano. Mengapa demikian?

    Cardano berencana untuk memasukkan buku besar (ledger) antar mata uang, sehingga pengguna bisa menciptakan token-token baru di atasnya. Hal ini juga bisa memicu penciptaan fungible dan non-fungible tokens. Sehingga, pengguna bisa melakukan tokenisasi atas beragam tipe aset fisik dan digital di atas smart contract tersebut.

    Implikasinya, produsen NFT yang selama ini dilakukan di atas smart contract Ethereum bisa-bisa beralih ke kontrak pintar Cardano. Apalagi, pembahasan seperti ini sedang menghangat di komunitas kripto mengingat tengah tingginya biaya transfer di blockchain Ethereum (gas fees) yang sedang meningkat.

    2. Bisa Digunakan Semua Kalangan

    Dengan kehadiran Plutus dan Marlowe, masyarakat awam nantinya akan bisa menggunakan fitur kontrak pintar tersebut. Sehingga, sistem ekonomi terdesentralisasi ini tidak akan hanya dinikmati segelintir orang saja.

    Kondisi di atas pun didukung oleh fakta mengenai lebih tingginya skalabilitas transaksi di blockchain Cardano dibanding Ethereum. Bahkan, skalabilitas Cardano masih akan tetap unggul meski Ethereum akan naik kelas ke Ethereum 2.0 nantinya.

    Sebagai gambaran, Ethereum 2.0 di gadang mampu memproses 100.000 transaksi per detik dan daya konsumsi energi yang 95,95% lebih irit dari jaringan sekarang. Sementara itu, Cardano bisa memproses 1 juta transaksi per detik.

    Dengan berbagai wacana di atas, tak heran jika Cardano disebut sebagai pembunuh Ethereum, bukan?

    Baca juga: Berprospek Cerah, Ini Alasan Kenapa Kamu Harus HODL Cardano Sekarang!

    Kapan Smart Contract Cardano Diluncurkan?

    Hingga saat ini, pengembang belum memastikan tanggal peluncuran Cardano. Namun, komunitas kripto sendiri meramal bahwa Cardano akan memanfaatkan teknologi ini selepas Oktober, atau bisa jadi pada September mendatang.

    Saat ini, Cardano masih melakukan ujicoba atas kontrak pintarnya. Adapun baru-baru ini, tim pengembang Cardano sudah menyelesaikan tahap ke-dua hard fork yang bertajuk Alonzo White.

    Ketika Alonzo White rampung, maka Cardano bisa menghubungkan dirinya dengan sebagian besar aplikasi DeFi. Hard fork ini pun menarik perhatian pengguna, sebab sebanyak 500 di antaranya sudah menikmati uji coba akses blockchain tersebut.

    Banyak analis mengatakan bahwa implementasi kontrak pintar ini akan menjadi katalis positif bagi harga ADA. Sebab, dengan biaya transaksi yang lebih murah dan proses cepat dibanding Ethereum, tentu pengembang dApps dan pencipta NFT akan berbondong-bondong masuk ke blockchain Cardano. Akibatnya, permintaan ADA pun ikut melonjak.

    Nah, kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu juga tertarik menggenggam ADA? Yuk, segera beli ADA di aplikasi Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Roadmap Cardano, The Motley Fool, Yahoo Finance



    Sumber : pluang.com

  • Analisis Teknikal

    Sobat Cuan sudah mengenal terdapat dua indikator teknikal utama, yakni Moving Average (MA) dan oscillator. Dan seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya, terdapat berbagai macam turunan indikator oscillator selain Relative Strength Index (RSI). Lantas, apa saja ragam turunan indikator oscillator tersebut? Yuk, simak artikel ini ya, Sobat Cuan!



    Sumber : pluang.com