Category: Pluang

  • Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Yield Farming dan Liquidity Mining?

    Yield faming vs liquidity mining, mana yang lebih menguntungkan untuk kamu para pemburu cuan?

    Baik yield farming maupun liquidity mining merupakan aktivitas yang bisa membuat aset kripto kamu terus berkembang biak. Tapi, jangan sampai tertukar ya! Sebab, keduanya merupakan aktivitas yang sebetulnya berbeda, lho.

    Lantas, apa saja perbedaannya?

    Baca juag: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Yield Farming vs Liquidity Mining.

    Dunia decentralized finance berkembang pesat beberapa tahun belakangan dilihat dari semakin banyaknya aset yang terkunci (Total Value Locked/TVL) di dalamnya. Aset-aset tersebut dikunci oleh para pemburu cuan dalam berbagai aktivitas DeFi seperti yield farming dan liquidity mining.

    Bak pinang dibelah dua, keduanya merupakan aktivitas yang serupa tapi tak sama. Intinya, kamu menaruh sejumlah liquiditas berupa koin atau token DeFi kepada sistem yang disebut liquidity pools untuk mendapatkan lebih banyak koin atau token sebagai imbalannya.

    Yield Farming

    Di dunia DeFi kamu bisa menaruh aset kripto kamu dalam protokol smart contracts lalu melarungnya kepada liquidity pools. Nantinya, pengguna lain akan mengeksekusi smart contracts kamu sehingga kamu dapat memperoleh cuan setelah transaksinya dieksekusi.

    Aktivitas ini dinamakan yield farming. Kamu memerlukan platform DeFi terpercaya seperti Sushiswap, Uniswap, Compound dan Curve.

    Saat melakukan yield farming, kamu bertindak sebagai penyedia dana (liquidity provider/LP).

    Beberapa protokol DeFi seperti Uniswap dan Sushiswap mengizinkan kamu melakukan deposit lebih dari satu jenis aset. Protokol lain seperti Compound dan Curve hanya menyerima satu jenis aset di tiap liquidity pools yang mereka selenggarakan.

    Cuan yang kamu dapat biasanya berupa token LP senilai yang telah disepakati. Aktivitas ini cukup berisiko jika kamu tidak memilih protokol terpercaya saat akan melakukannya.

    Liquidity Mining

    Meski dilakukan dengan mekanisme yang mirip yield farming, liquidity mining mengganjar kamu dengan koin native dari blockchain baru tempat kamu menambang.

    Liquidity mining biasanya dilakukan pada platform baru yang ingin mendistribusikan token governance-nya. Platform ini biasanya menunjuk platform lain penyedia liquidity pools seperti Uniswap untuk menarik para provider.

    Kamu hanya perlu memberikan likuiditas yang kamu miliki kepada pool tersebut, dan nantinya kamu akan menerima token sebagai imbalan yang dijanjikan. Selama likuiditas kamu masih berada di sana, kamu akan menerima 0,3% swap dan token baru yang berhasil ditambang dari tiap block baru yang terbentuk.

    Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Yield Farming Vs Liquidity Mining, Apa Bedanya?

    Perbedaan paling jelas dari keduanya adalah aktivitas kamu pada liquidity pools.

    Yield farmers mendapat lebih banyak keuntungan dengan semakin banyaknya transaksi dieksekusi dengan likuiditas yang dia miliki. Artinya, kalau kamu melakukan yield farming, kamu perlu berulang kali memasukkan likuiditas kamu ke dalam protokol dan melarungnya pada pools yang paling menguntungkan.

    Setelah smart contracts kamu dieksekusi di satu pools, kamu dapat segera mencari pools lain untuk menggandakan cuan kamu.

    Sementara itu, penambang dalam liquidity mining tetap memperoleh bagiannya selama likuiditasnya tetap berada pada pools yang ditentukan oleh platform baru tersebut.

    Kamu akan menerima semuanya setelah kamu melakukan redeem. Tetapi, menjadi penyedia likuiditas tetap disana pun tidak akan merugikan.

    Baca juga: Sobat Cuan, Yuk Kenalan dengan 7 Proyek Decentralized Finance Berikut!

    Risiko Yield Farming Vs Liquidity Mining

    Pada dasarnya, keduanya memiliki tingkat resiko yang sepadan. Namun dapat dimitigasi bisa kita mengenali risiko-risiko yang ada.

    Risiko Pada Yield Farming

    Pada yield farming, developernya bisa saja impostor yang bersembunyi dibalik anonim. Meski cukup jarang terjadi, bukannya tidak mungkin likuiditas yang kamu pinjamkan pada liquidity pools bakal digondol oleh sang developer.

    Kamu juga berisiko meleset saat meng-input protokol smart contracts. Hal ini dapat membuat protokol kamu punya celah yang terbaca oleh peretas.

    Selain itu, risiko juga terdapat pada penurunan harga aset selama terkunci dalam protokol smart contracts. Volatilitas harga aset kripto membuat risiko ini akan selalu membayangi.

    Risiko pada Liquidity Mining

    Terkadang ada beberapa pengembang nakal yang berusaha mengelabui provider likuiditas mereka dengan cara yang manipulatif. Mereka menggelar presale lalu mengobral koin atau token di awal.

    Mereka melakukan ini untuk tujuan marketing. Platformnya kemudian akan ditawarkan secara luas pada berbagai sosial media. Dengan banyaknya insentif, tentu banyak yang tertarik untuk jadi penyedia likuiditas.

    Lalu, mereka menjual semua token dan koin yang mereka punya hingga terinflasi. Hal ini akan membuat provider kebanjiran token yang tidak lagi berharga.

    Mitigasi Risiko

    Semua risiko tentu ada mitigasinya. Kamu bisa meneliti dulu developer dari pools yang hendak kamu masuki. Biasanya developer yang sudah punya track record, projek sebelumnya sukses lebih berat hati untuk melakukan kecurangan.

    Beberapa proyek DeFi juga menyelenggarakan audit. Tentu ini memudahkan kamu untuk membaca lebih jelas projek dimana kamu berpartisipasi.

    Developer yang baik biasanya mengunci liquiditas milik mereka dalam smart contracts selama beberapa bulan atau tahun. Tapi dalam beberapa kasus ada juga yang menjualnya untuk tujuan tertentu.

    Kamu bisa membuat strategi terlebih dulu sebelum melakukan yield farming maupun liquidity mining. Tentukan sejauh mana kamu dapat mentoleransi risikonya.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Wolf, Medium



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Lebih Dekat Pasar Saham Indonesia: Bursa Efek Indonesia (BEI)

    Apa Itu Bursa Efek Indonesia (BEI)?

    Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah satu-satunya penyelenggara perdagangan efek (termasuk saham, obligasi, dan reksa dana) di Indonesia. BEI berperan sebagai fasilitator yang menyediakan infrastruktur bagi investor dan perusahaan untuk bertemu dan bertransaksi secara aman dan efisien.

    Sejarah Singkat dan Peran Strategis BEI

    Pasar modal Indonesia memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak 1912 pada masa kolonial. Namun, BEI yang kita kenal saat ini adalah hasil penggabungan dua bursa, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) pada tahun 2007.

    Tujuan Pendirian dan Peran Strategis:

    1. Mobilisasi Dana: BEI menjadi sarana bagi perusahaan (Emiten) untuk memperoleh dana jangka panjang dari masyarakat (Investor).
    2. Indikator Ekonomi: Pergerakan indeks saham (seperti IHSG) di BEI sering digunakan sebagai cerminan kondisi perekonomian nasional.
    3. Tempat Investasi: Menyediakan berbagai instrumen investasi yang likuid bagi masyarakat.

    Fungsi Utama BEI:

    • Menyediakan Platform Perdagangan: Memastikan seluruh transaksi saham berjalan secara teratur, wajar, dan efisien.
    • Mengawasi Perdagangan: Memantau setiap transaksi untuk mencegah praktik-praktik yang tidak sah.
    • Menyebarkan Informasi: Menyediakan data dan informasi yang transparan kepada publik, termasuk harga saham dan laporan keuangan.

    Emiten: Pemain Utama di Bursa Efek

    Istilah Emiten merujuk pada entitas (perusahaan, pemerintah, atau organisasi lain) yang menawarkan efek kepada publik melalui pasar modal. Emiten adalah perusahaan yang sahamnya bisa kita beli.

    Jenis-Jenis Emiten

    Meskipun sebagian besar emiten di BEI adalah Perusahaan Publik (Tbk.) yang mencatatkan sahamnya, secara umum, emiten dapat dikategorikan berdasarkan skala dan kepemilikan:

    1. Perusahaan Publik (Tbk.): Perusahaan yang telah melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) dan sahamnya diperdagangkan di BEI, seperti BBCA, BBRI, dan GOTO.
    2. Badan Usaha Milik Negara (BUMN): Perusahaan negara yang telah menjadi emiten, contohnya TLKM dan PGAS.
    3. Perusahaan Swasta/Multinasional: Perusahaan swasta non-BUMN, termasuk anak perusahaan multinasional yang mencatatkan saham di BEI.

    Struktur Pasar Modal: Hubungan BEI, OJK, dan Pelaku Pasar

    Pasar modal Indonesia diatur dalam sebuah struktur yang kuat untuk memastikan keamanan dan keadilan.

    Pelaku Pasar

    Peran Utama

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

    Regulator dan pengawas tertinggi seluruh aktivitas sektor jasa keuangan, termasuk pasar modal. OJK membuat aturan main.

    Bursa Efek Indonesia (BEI)

    Penyelenggara dan fasilitator perdagangan. BEI menyediakan tempat bertransaksi.

    Emiten (Perusahaan Tercatat)

    Pihak yang menerbitkan dan menjual efek (saham/obligasi) untuk mendapatkan dana.

    Perusahaan Sekuritas

    Perantara perdagangan efek (Broker). Menjembatani investor dengan BEI. Wajib memiliki izin OJK.

    Investor

    Pihak yang menanamkan modal di pasar modal (individu maupun institusi).

    Sektor-Sektor Saham di BEI (IDX-IC Lengkap)

    BEI mengelompokkan perusahaan tercatat ke dalam 11 sektor berdasarkan klasifikasi IDX Industrial Classification (IDX-IC) untuk mempermudah investor menganalisis kinerja suatu industri.

    No.

    Sektor (Kode)

    Penjelasan Singkat

    Contoh Emiten Populer (Kode)

    1

    Energi (Energy)

    Perusahaan di bidang minyak, gas, batubara, dan energi terbarukan.

    ADRO, PTBA, MEDC

    2

    Barang Baku (Basic Materials)

    Perusahaan yang memproduksi bahan dasar untuk industri lain (kimia, logam, semen, pertambangan).

    ANTM, TPIA, INTP

    3

    Perindustrian (Industrials)

    Perusahaan yang memproduksi barang industri berat, otomotif, penerbangan, dan jasa pendukung.

    ASII, UNTR, ACES

    4

    Barang Konsumen Primer (Consumer Non-Cyclicals)

    Kebutuhan pokok sehari-hari yang permintaannya stabil (makanan, minuman, rokok, farmasi).

    ICBP, UNVR, GGRM

    5

    Barang Konsumen Sekunder (Consumer Cyclicals)

    Barang non-primer yang permintaannya tergantung siklus ekonomi (pakaian, kosmetik, pariwisata).

    HMSP, LPPF, MAPI

    6

    Kesehatan (Healthcare)

    Perusahaan di bidang layanan kesehatan, obat-obatan, dan alat medis.

    PRDA, HEAL, KLBF

    7

    Keuangan (Financials)

    Perbankan, asuransi, pembiayaan, dan jasa keuangan lainnya. Sektor terbesar di BEI.

    BBCA, BBRI, BMRI, BNI

    8

    Properti & Real Estat (Property & Real Estate)

    Perusahaan pengembang properti, real estat, dan kawasan industri.

    BSDE, PWON, SMRA

    9

    Teknologi (Technology)

    Layanan digital, e-commerce, perangkat lunak, dan teknologi informasi.

    GOTO, BUKA, ARTO

    10

    Infrastruktur (Infrastructures)

    Telekomunikasi, utilitas (listrik/air), konstruksi, dan transportasi.

    TLKM, PGAS, JSMR

    11

    Transportasi & Logistik (Transportation & Logistics)

    Layanan transportasi dan pendukungnya (pelabuhan, penerbangan, logistik).

    INDY, ASSA, BIRD

    Regulasi Penting di BEI

    Untuk menjaga pasar tetap adil dan aman, BEI memiliki berbagai peraturan yang harus dipatuhi:

    • Papan Pencatatan (Listing Board): BEI membagi saham ke dalam Papan Utama (perusahaan besar dan mapan), Papan Pengembangan (perusahaan berprospek), dan Papan Akselerasi (perusahaan kecil/menengah).
    • Batasan Harga Harian (Auto Rejection): Batas atas (ARA) dan batas bawah (ARB) untuk pergerakan harga saham dalam satu hari perdagangan guna mencegah volatilitas ekstrem.
    • Aturan Free Float: Persentase saham tertentu wajib dimiliki oleh publik untuk menjaga likuiditas.

    Kesimpulan

    Memahami peran Bursa Efek Indonesia (BEI) bukan hanya sekadar mengetahui tempat bertransaksi, melainkan juga memahami fondasi dan regulasi yang menjamin keamanan investasi Sobat Cuan. Dengan mengenali 11 sektor IDX-IC dan para pemain utama seperti Emiten, OJK, dan Sekuritas, kamu telah memiliki peta jalan yang solid. Ingatlah, investasi yang sukses dimulai dengan pengetahuan yang tepat, disiplin, dan kesiapan untuk terus belajar. Mulailah perjalanan kamu di pasar modal dengan langkah yang terinformasi!



    Sumber : pluang.com

  • Ada Produk Indeks SP 500 ETF, Futures, dan Fund. Apa bedanya?

    Investasi di indeks S&P 500 banyak dianggap sebagai jalan pintas untuk memupuk aset keuangan.

    Betapa tidak, 505 perusahaan yang tergabung dalam indeks tersebut adalah perusahaan-perusahaan beraset jumbo dan memiliki kinerja mentereng. Tak heran jika Warren Buffett menyarankan kamu untuk berinvestasi di indeks S&P 500 agar kaya di masa depan.

    Berinvestasi indeks juga bisa menjadi gerbangmu ke pasar saham jika kamu masih ragu-ragu atau bingung berinvestasi di saham tunggal. Terlebih, return S&P 500 memang terbilang mumpuni terlihat dari laju pertumbuhannya antar periode.

    Namun, layaknya banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan untuk berinvestasi di S&P 500. Saat ini, investor bisa berinvestasi indeks saham tersebut melalui S&P 500 Fund, S&P 500 Exchange-Traded Fund (ETF), dan juga S&P 500 Index futures

    Ketiganya bisa kamu jadikan pilihan untuk tambahan portofolio investasi dan cocok untuk kamu investor pemula. Tapi, apa saja sih perbedaan ketiga produk tersebut? Yuk, simak artikel ini ya!

    Baca juga: Apa Itu Index Futures?

    Mengenal Produk Indeks S&P 500

    1. S&P 500 ETF

    ETF atau Exchange-Traded Fund adalah sebuah produk keuangan yang bisa dipertukarkan layaknya saham. Artinya, produk ETF bisa dibeli dan dijual kembali dalam hari yang sama. Biasanya, aktivitas jual beli instrumen ini dilakukan di papan perdagangan utama.

    Produk-produk ini merupakan wadah yang berisi kumpulan aset atau obligasi. Nah, dalam hal ini, maka ETF S&P 500 memiliki underlying asset berupa saham-saham perusahaan yang berada di bawah indeks S&P 500.

    Cara kerja ETF adalah sebagai berikut. Penjual ETF memiliki underlying asset, kemudian menciptakan wadah pendanaan (fund), dan menjual fraksi-fraksi dari underlying asset tersebut ke investor. Nantinya, investor bisa mendapatkan porsi dari ETF, namun mereka tidak bisa memiliki underlying asset dari produk tersebut.

    Meski begitu, investor ETF bisa mendapatkan pembayaran dividen secara langsung atau melakukan reinvestasi di saham-saham yang membentuk komponen indeks tersebut.

    Secara prinsip, ETF berfungsi layaknya reksa dana namun bisa diperjualbelikan di pasar utama. Namun, nilai yang tertera dalam ETF adalah kontrak investasi kolektif yang unit penyertaan dicatat dan diperdagangkan di bursa saham.

    ETF memiliki sifat yang lebih likuid dibandingkan dengan reksadana karena tergantung dari likuiditas pasar. Di samping itu, produk ETF juga disebut lebih murah dibanding reksa dana pada umumnya.

    Dalam kondisi pasar yang sedang fluktuatif, ETF dapat dijadikan pilihan. Pasalnya, kamu bisa membelinya di pagi hari saat pembukaan perdagangan dan menjualnya kembali sebelum penutupan perdagangan.

    Risiko yang harus ditanggung juga menjadi lebih kecil, karena kamu tidak perlu melakukan riset mendalam tentang single stock yang akan diburu dan terus mencermati pergerakan harganya. Terlebih, pergerakan harga saham tidak bisa diprediksi pasti naik dan turunnya.

    Selain itu, ETF juga cocok untuk kamu yang memilki dana terbatas. Seperti dalam ETF Indeks misalnya, kamu bisa memiliki seluruh saham yang ada di indeks tersebut dengan harga yang jauh lebih murah, ketimbang kamu membeli 505 saham perusahaan yang ada di indeks tersebut secara mandiri.

    2. S&P 500 Fund

    S&P 500 Fund, atau yang dikenal dengan, reksa dana Indeks S&P 500, adalah produk reksa dana yang memiliki basis portofolio berupa saham yang tergabung dalam indeks S&P 500.

    Konsepnya hampir mirip dengan ETF. Hanya saja, reksa dana indeks tidak diperdagangkan di bursa. Konsep investasi reksa dana indeks S&P 500 adalah untuk jangka panjang dan bersifat pasif.

    Kamu hanya bisa membeli reksa dana indeks S&P 500 di perusahaan sekuritas dengan cara pembelian reksa dana pada umumnya. Selain itu, nilai yang tertera pun mirip dengan reksa dana lainnya, yakni berasal dari nilai aktiva bersih (total dana kelolaan) dibagi unit penyertaan.

    Adapun, nilai aktiva bersih akan selalu berubah, tergantung kondisi saat penutupan perdagangan saham di hari itu.

    Sama seperti ETF, reksa dana ini memiliki biaya yang rendah dengan imbal hasil yang memukau. Apalagi, jika yang tergabung di dalamnya adalah saham-saham berkapitalisasi jumbo seperti S&P 500.

    Jenis investasi ini juga cocok untuk kamu investor pemula yang bingung untuk memilih saham mana yang paling baik pergerakannya.

    Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan instrumen ini kalau kamu tak punya waktu memperhatikan pergerakan indeks saham. Sebab, seluruh instrumenmu akan dikelola oleh Manajer Investasi (MI), yang setiap bulannya kamu akan menerima laporan hasil investasi yang dikirimkan ke alamat e-mail.

    3. S&P 500 Index Futures

    Terakhir, ada juga yang dinamakan S&P 500 Index Futures.

    Berbeda dibanding keduanya, instrumen ini disandarkan pada kontrak derivatif yang memberikan harga investasi di masa depan. Jadi, harga yang tercermin dalam S&P 500 Index Futures bukanlah harga saat ini melainkan proyeksi harga produk tersebut di masa yang akan datang.

    Investor biasanya menggunakan produk ini untuk berspekulasi dalam menentukan nilai masa depan S&P 500. Oleh karenanya, tak heran jika banyak investor selalu melihat nilai produk ini untuk menakar nilai masa depan indeks S&P 500.

    Cara kerja kontrak futures adalah sebagai berikut. Layaknya kontrak derivatif lainnya, penjual dan investor meneken perjanjian di awal terkait kapan sang penjual harus membeli atau menjual instrumen futures tersebut di masa depan.

    Selain itu, penyelesaian transaksi S&P 500 Index Futures tidak hanya didasarkan pada harga saham semata, melainkan juga harga tertimbang.

    Dua Jenis Indeks S&P 500 Futures

    Karena produk ini merupakan kontrak berjangka, maka tak heran jika kamu hanya bisa mendapatkannya di pasar derivatif.

    Adapun saat ini, penyelesaian transaksi dan pencatatan S&P 500 Index Futures bisa dilakukan di The Chicago Merchantile Exchange (CME). Dalam menelurkan produk futures ini, CME juga membaginya ke dalam dua jenis: Kontrak besar (SP) dan E-mini (ES).

    CME meluncurkan kontrak besar S&P 500 berjangka pada 1982. Bursa itu kemudian menambah opsi E-mini pada 1997. Lantas apa bedanya kontrak SP dan juga ES?

    Sesuai namanya, SP adalah kontrak berukuran besar, sehingga nilai pasarnya juga cukup jumbo. Cara menghitung nilai kontrak ini adalah dengan mengalikan nilai indeks S&P 500 saat ini dengan US$250. Sebagai contoh, jika indeks S&P 500 berada di level 4.000, maka nilai pasar dari kontrak tersebut adalah US$1 juta.

    Sementara itu, nilai pasar ES dihitung dengan formula nilai indeks dikali US$50. Sehingga, jika indeks S&P 500 ada di posisi 4.000, maka nilai pasa kontrak tersebut adalah US$200.000.

    Investor kerap menggunakan instrumen ini untuk melakukan spekulasi. Namun, kamu juga bisa menggunakan instrumen ini jika kamu menginginkan cari cuan melalui diversifikasi investasi yang instan.

    Nah, kalau kamu pilih mana, Sobat Cuan? Kalau kamu mau punya S&P 500 index futures, yuk investasi di Pluang!

    Baca juga: Beragam Cara Lindung Nilai Aset Kripto di Saat Harga ‘Ambyar’

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi gdi kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber:Vanguard, Investopedia, Investopedia



    Sumber : pluang.com

  • Apa yang Menggerakkan Harga Saham?

    Harga saham di bursa efek, termasuk di Bursa Efek Indonesia (BEI), tidak pernah bergerak secara acak. Setiap detik, pergerakan naik dan turun mencerminkan interaksi kompleks antara harapan investor, kinerja perusahaan, dan kondisi ekonomi global.

    Secara fundamental, satu prinsip yang mendasari semua pergerakan ini adalah dinamika penawaran dan permintaan (Supply and Demand). Namun, apa saja faktor di balik penawaran dan permintaan itu? Mari kita bedah.

    1. Dinamika Penawaran dan Permintaan: Hukum Pasar

    Prinsip ini sangat sederhana: Ketika jumlah pembeli (permintaan) lebih banyak daripada jumlah penjual (penawaran) pada tingkat harga tertentu, harga saham akan naik. Sebaliknya, jika jumlah penjual (penawaran) melebihi pembeli (permintaan), harga saham akan turun.

    Analogi Praktis: Bayangkan tiket konser band idola yang sangat terbatas. Karena permintaan jauh melebihi jumlah tiket yang tersedia (penawaran), harga tiket di pasar gelap bisa melonjak berkali-kali lipat dari harga aslinya. Hal yang sama berlaku untuk saham: informasi positif apa pun yang meningkatkan minat beli akan mengerek harga.

    2. Kinerja Fundamental dan Manajemen Perusahaan

    Ini adalah mesin utama yang menggerakkan nilai jangka panjang suatu saham. Investor mencari bukti bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk menghasilkan laba yang stabil dan tumbuh.

    Faktor Kunci

    Penjelasan Singkat

    Contoh

    Laba dan Pendapatan (Earnings & Revenue)

    Laporan laba rugi yang melampaui ekspektasi pasar (earnings surprise) meningkatkan optimisme dan permintaan saham.

    BBCA (Bank Central Asia) sering menjadi patokan. Jika BBCA melaporkan laba bersih kuartalan yang jauh lebih tinggi dari perkiraan, ini menunjukkan bisnis yang sehat, dan harga sahamnya cenderung merespons dengan kenaikan.

    Kualitas Manajemen

    Visi, strategi, dan rekam jejak tim manajemen menentukan arah perusahaan. Pergantian CEO yang dinilai kuat atau buruk dapat memicu reaksi pasar yang signifikan.

    Keputusan manajerial yang baik dalam efisiensi operasional atau inovasi produk (seperti layanan digital perbankan) dapat memperkuat kepercayaan investor pada saham BBCA atau BBRI.

    Utang dan Arus Kas

    Kesehatan neraca dan arus kas yang kuat (kemampuan perusahaan menghasilkan uang tunai) memberikan jaminan bahwa perusahaan dapat bertahan dari krisis dan mendanai ekspansi.

    Perusahaan dengan utang terkendali lebih diminati karena risiko kebangkrutan yang lebih rendah.

    3. Deviden dan Aksi Korporasi

    Selain kinerja operasional, tindakan spesifik yang dilakukan perusahaan juga memengaruhi harga saham.

    Deviden (Dividends)

    Deviden adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham. Pembayaran deviden yang konsisten menunjukkan profitabilitas dan kedewasaan perusahaan, menarik investor yang mencari pendapatan pasif.

    • Dampak pada Harga: Sebelum tanggal Cum Date (tanggal terakhir membeli saham untuk mendapatkan deviden), permintaan saham biasanya meningkat, mendorong harga. Namun, pada tanggal Ex Date (sehari setelah Cum Date), harga saham secara teoritis akan terkoreksi turun sebesar nilai deviden yang dibagikan, karena nilai tersebut sudah keluar dari kas perusahaan.

    Aksi Korporasi (Corporate Actions)

    • Stock Split: Memecah satu saham menjadi beberapa saham (misalnya, 1:5). Ini menurunkan harga per lembar saham, membuatnya lebih terjangkau bagi investor ritel, yang sering kali meningkatkan likuiditas dan permintaan. Bank-bank besar seperti BBRI pernah melakukan aksi korporasi ini untuk meningkatkan aksesibilitas sahamnya.
    • Right Issue: Penerbitan saham baru untuk mengumpulkan dana. Jika investor percaya dana ini akan digunakan untuk ekspansi menguntungkan, harga bisa naik; sebaliknya, jika aksi ini dianggap akan mendilusi kepemiluan, harga bisa tertekan.

    4. Kondisi Ekonomi Makro

    Faktor-faktor eksternal yang memengaruhi seluruh pasar, bukan hanya satu perusahaan.

    • Suku Bunga (Interest Rates): Kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral (seperti Bank Indonesia atau The Fed AS) meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan membuat investasi berisiko rendah seperti deposito atau obligasi menjadi lebih menarik. Ini seringkali menyebabkan investor menarik dana dari pasar saham.
    • Inflasi: Inflasi tinggi mengikis daya beli masyarakat, yang dapat mengurangi penjualan dan margin keuntungan perusahaan. Sebagian sektor (terutama komoditas) mungkin diuntungkan, tetapi pasar secara umum cenderung waspada.
    • Pertumbuhan PDB (GDP): Data Produk Domestik Bruto yang kuat menunjukkan ekspansi ekonomi. Dalam ekonomi yang berkembang, perusahaan diharapkan menghasilkan laba yang lebih besar, memicu optimisme yang mendorong harga saham naik.

    5. Sentimen Pasar, Berita, dan Tren Industri

    Persepsi kolektif investor—sentimen pasar—dapat memenangkan atau mengalahkan fundamental dalam jangka pendek.

    • Berita dan Ekspektasi: Sentimen positif (misalnya, kabar gembira dari regulator) atau negatif (investigasi hukum) dapat menyebabkan reaksi berantai. Harga saham bergerak sebelum perusahaan benar-benar terpengaruh, karena investor bertindak berdasarkan ekspektasi di masa depan.
    • Tren Industri: Perubahan struktural dalam suatu sektor dapat memengaruhi semua pemain di dalamnya. Contoh, tren global menuju kendaraan listrik dapat berdampak negatif pada harga saham produsen mobil konvensional dan positif pada saham produsen baterai, terlepas dari kinerja laba kuartalan masing-masing.

    6. Peristiwa Eksternal dan Geopolitik

    Peristiwa besar yang tidak dapat diprediksi ini dapat menyebabkan ketidakpastian massal.

    • Bencana Alam dan Pandemi: Mengganggu rantai pasokan global, mematikan produksi, dan mengubah pola konsumsi secara drastis (seperti pandemi COVID-19).
    • Krisis Geopolitik/Perang: Konflik berskala besar atau ketegangan politik antar negara (misalnya perang dagang) dapat menyebabkan investor beralih ke aset “safe haven” seperti emas atau dolar AS, menarik dana dari pasar saham.
    • Kebijakan Politik: Hasil pemilu atau perubahan kebijakan pajak yang signifikan oleh pemerintah dapat menciptakan ketidakpastian hukum, memengaruhi investasi, dan menekan harga saham.

    Mematahkan Mitos Umum tentang Harga Saham

    Untuk edukasi yang lebih baik, penting untuk memahami beberapa kesalahpahaman umum:

    1. Mitos: Harga Saham Murah Pasti Bagus.
    • Fakta: Harga yang murah (misalnya, saham gocap) mungkin mencerminkan kualitas perusahaan yang buruk atau risiko kebangkrutan. Ukurlah saham berdasarkan rasio valuasi seperti P/E Ratio (Price-to-Earnings), bukan hanya harga nominalnya.
  • Mitos: Deviden Selalu Menjamin Kenaikan Harga.
    • Fakta: Deviden adalah pembagian laba yang sudah terjadi. Setelah perusahaan membayarkan deviden, nilai tersebut keluar dari kas perusahaan, dan harga saham secara natural akan menyesuaikan turun pada Ex Date. Kenaikan harga jangka panjang didorong oleh pertumbuhan laba perusahaan, bukan hanya devidennya.
  • Mitos: Analisis Teknikal adalah Segalanya.
  • Fakta: Analisis teknikal (melihat grafik) bagus untuk memprediksi sentimen jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, harga saham pada akhirnya akan kembali mencerminkan fundamental perusahaan. Kombinasikan analisis teknikal dengan analisis fundamental untuk keputusan investasi yang lebih baik.



Sumber : pluang.com

  • Cara Memilih Saham yang Tepat

    Memilih saham bisa terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami, terutama bagi pemula. Namun, dengan panduan yang tepat, Sobat Cuan bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dan rasional. Memilih saham bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi tentang memahami kualitas bisnis di baliknya.

    1. Memahami Harga Saham dan Dinamikanya

    Sebelum masuk ke analisis, penting untuk memahami apa itu harga saham dan mengapa harganya selalu bergerak.

    Apa Itu Harga Saham? Harga saham adalah nilai sebuah unit kepemilikan di suatu perusahaan yang diperdagangkan di bursa efek. Harga ini pada dasarnya adalah titik temu (keseimbangan) antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) di pasar pada waktu tertentu.

    Mengapa Harga Saham Naik-Turun? Pergerakan harga saham hari ini, atau kapan pun, dipengaruhi oleh tiga faktor utama:

    1. Fundamental Perusahaan: Kinerja bisnis (laba, pendapatan, utang). Jika perusahaan mencetak laba yang lebih tinggi dari ekspektasi, sentimen positif akan mendorong harga naik.
    2. Sentimen Pasar (Supply & Demand): Ini adalah faktor psikologis kolektif investor. Berita positif, isu akuisisi, atau rekomendasi dari analis dapat memicu lonjakan permintaan, sehingga harga saham naik. Sebaliknya, ketidakpastian ekonomi atau berita buruk dapat memicu penjualan massal (penawaran tinggi), yang akan menekan harga.
    3. Faktor Makroekonomi: Kebijakan pemerintah, tingkat suku bunga Bank Sentral, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi global memengaruhi minat investor secara keseluruhan, yang dampaknya terasa di semua harga saham.

    2. Lakukan Analisis Fundamental

    Analisis fundamental adalah metode untuk menilai “nilai intrinsik” atau nilai wajar suatu saham berdasarkan kondisi keuangan dan prospek bisnis perusahaan. Ini adalah cara terpenting untuk memastikan Sobat Cuan berinvestasi di perusahaan yang sehat.

    A. Pahami Laporan Keuangan

    Tiga laporan utama yang harus kamu lihat adalah Laporan Laba Rugi (untuk melihat pendapatan dan laba), Neraca (untuk melihat aset dan utang), dan Laporan Arus Kas. Pastikan perusahaan memiliki laba yang konsisten dan utang yang terkendali.

    B. Perhatikan Rasio Keuangan Kunci

    Gunakan rasio-rasio berikut untuk menilai kesehatan dan valuasi perusahaan:

    Rasio

    Singkatan

    Kegunaan dan Interpretasi Singkat

    Price to Earning Ratio

    P/E Ratio

    Mengukur seberapa mahal harga saham dibandingkan labanya. P/E yang lebih rendah dari rata-rata industri sering dianggap undervalued.

    Return on Equity

    ROE

    Mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari modal sendiri. Semakin tinggi ROE (di atas 15% sering dianggap baik), semakin efisien perusahaan.

    Debt to Equity Ratio

    DER

    Mengukur perbandingan total utang dengan modal sendiri. DER di bawah 1 (atau 100%) menunjukkan perusahaan memiliki utang yang lebih kecil daripada modalnya, yang merupakan tanda kesehatan finansial yang baik.

    Price to Book Value

    PBV

    Membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. PBV mendekati atau di bawah 1 menunjukkan harga saham relatif murah dibandingkan aset bersihnya (namun harus dilihat konteks industrinya).

    Net Profit Margin

    NPM

    Mengukur persentase laba bersih dari total pendapatan. Semakin tinggi NPM, semakin efisien perusahaan dalam mengendalikan biaya.

    Dividen Yield

    DY

    Mengukur persentase dividen yang kamu terima dari harga saham. Cocok untuk investor yang mencari pendapatan pasif.

    C. Batasan Analisis Fundamental

    Perlu diingat, analisis fundamental memiliki batasan. Ia sangat baik untuk memprediksi nilai jangka panjang, tetapi tidak bisa memprediksi sentimen pasar jangka pendek. Harga saham bisa saja turun dalam waktu singkat meskipun fundamental perusahaan kuat.

    3. Studi Kasus Singkat: BBCA (Bank Central Asia)

    Menggunakan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebagai contoh adalah cara yang bagus untuk menerapkan analisis fundamental bagi pemula, karena BBCA sering dianggap sebagai salah satu blue chip terbaik di Indonesia .

    BBCA sering dianggap cocok untuk pemula karena memiliki karakteristik berikut:

    1. Kinerja Laba Konsisten: BBCA hampir selalu mencetak laba bersih yang tumbuh stabil dari tahun ke tahun, bahkan di tengah krisis.
    2. ROE & DER yang Kuat: BBCA memiliki ROE yang solid (seringkali di atas 15%) dan DER yang sangat rendah (jauh di bawah rata-rata industri perbankan), menandakan modal yang kuat dan utang yang terkendali.
    3. Market Leader: Sebagai bank dengan kapitalisasi pasar terbesar dan pemimpin pasar di sektor perbankan, BBCA memiliki pondasi bisnis yang sangat kokoh dan relatif tahan banting.

    Rasio Fundamental BBCA (Contoh Sederhana)

    Nilai Umum

    Interpretasi

    Laba Bersih

    Tumbuh Konsisten

    Laba yang terus naik adalah penanda bisnis sehat.

    ROE

    >15%

    Perusahaan sangat efisien dalam mengelola modal.

    DER

    Sangat Rendah

    Risiko utang sangat kecil.

    PBV

    >3x

    Dianggap mahal, tapi wajar untuk bank dengan kualitas dan dominasi pasar tinggi.

    Dividen

    Teratur

    Menawarkan pendapatan pasif.

    4. Cara Membaca Harga Saham Hari Ini

    Investor pemula perlu mengerti istilah-istilah yang disajikan pada papan informasi saham (Running Trade) di aplikasi sekuritas atau website finansial:

    Istilah

    Keterangan

    Relevansi Praktis

    Open (Harga Pembukaan)

    Harga saat perdagangan saham dimulai pada hari itu.

    Menunjukkan sentimen awal pasar di hari tersebut.

    Close (Harga Penutupan)

    Harga penutupan pada hari perdagangan sebelumnya.

    Menjadi titik acuan pergerakan harga hari ini.

    High (Tertinggi)

    Harga tertinggi yang dicapai saham pada hari itu.

    Menunjukkan tingkat optimisme maksimal pembeli.

    Low (Terendah)

    Harga terendah yang dicapai saham pada hari itu.

    Menunjukkan batas maksimal tekanan jual.

    Volume

    Jumlah lembar saham yang ditransaksikan.

    Semakin tinggi volume, semakin likuid saham tersebut.

    Contoh Interpretasi: Jika harga saat ini berada mendekati High dan volume tinggi, berarti sedang terjadi banyak pembelian dan sentimen positif (bullish) sedang kuat pada saham tersebut.

    5. Kenali Sektor dan Bisnisnya

    Lebih mudah berinvestasi di saham dari perusahaan yang kamu pahami. Pilih saham dari industri yang familiar bagi kamu dan yang memiliki prospek jangka panjang.

    • Pilih Sektor yang Stabil: Sebagai pemula, kamu bisa memulai dengan saham-saham dari sektor Barang Konsumen Primer (seperti makanan dan minuman contohnya saham UNVR, ICBP, dan lainnya) atau Keuangan (bank contohnya BBRI, BBCA, dan lainnya), yang kinerjanya cenderung stabil.
    • Fokus pada Market Leader: Pertimbangkan untuk berinvestasi di perusahaan yang merupakan pemimpin di industrinya. Mereka umumnya memiliki fundamental yang lebih kuat, reputasi yang baik, dan lebih tahan terhadap persaingan.

    6. Sentimen, Spekulasi, dan Diversifikasi

    • Baca Sentimen Pasar dan Berita: Harga saham juga dipengaruhi oleh sentimen kolektif investor dan berita yang beredar.
      • Ikuti Berita Makro: Perhatikan berita tentang kebijakan pemerintah, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi.
      • Waspadai Berita Khusus Perusahaan: Pantau pengumuman laba, berita akuisisi, atau isu-isu yang bisa memengaruhi reputasi perusahaan.
    • Hindari Saham yang Terlalu Spekulatif: Sebagai pemula, sebaiknya hindari saham-saham dengan pergerakan harga yang sangat fluktuatif dan tidak didukung oleh fundamental yang jelas (“saham gorengan”).
      • Cek Likuiditas: Pilih saham yang memiliki volume perdagangan harian yang tinggi.
      • Lihat Papan Pencatatan: Saham di Papan Utama cenderung lebih aman.
    • Diversifikasi Portofolio Kamu: “Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.” Sebarlah investasi Sobat Cuan ke berbagai saham dari sektor yang berbeda.

    Kesimpulan

    Memilih saham bukan sekadar keberuntungan, melainkan adalah proses yang membutuhkan analisis fundamental yang cermat dan kesabaran. Dengan memahami dinamika harga, menguasai rasio-rasio keuangan, dan berpegangan pada checklist praktis, Sobat Cuan akan lebih siap untuk berinvestasi pada perusahaan berkualitas. Ingatlah, investasi adalah maraton, bukan sprint. Mulailah dengan modal yang Sobat Cuan pahami dan teruslah belajar dari setiap pergerakan pasar untuk mencapai tujuan finansial jangka panjang kamu.



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Simak Kiat dan Teori Manajemen Risiko di Pasar Kripto!

    Pasar cryptocurrency adalah pasar yang selalu bergerak aktif. Selama 24 jam, pelaku pasar silih berganti memperdagangkan aset kripto, sehingga tak aneh jika pergerakan harganya kadang penuh risiko dan bak roller coaster dalam sekejap.

    Oleh karenanya, maka maklum saja jika pasar cryptocurrency terbilang cukup berisiko. Namun, hal ini seharusnya jangan bikin kamu kian menjauh dari aset kripto. Yang perlu kamu lakukan adalah memitigasi risikonya agar “permainan” kriptomu tak bikin kamu buntung.

    Satu hal yang harus kamu pahami adalah investasi serta perdagangan aset kripto tidak melulu soal cuan. Kamu juga perlu belajar tentang bagaimana mengatur risiko yang mungkin muncul. Sehingga, cuan yang kamu hasikan memang keuntungan yang dihasilkan dari kepiawaian kamu mengelola keuangan, bukan cuan karbitan.

    Nah, di artikel ini, kita akan membahas berbagai risiko apa saja yang mungkin muncul dalam investasi atau trading aset kripto. Tentu saja, kamu akan dibekali beribu cara untuk memitigasi risiko-risiko tersebut.

    Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut!

    Mengenal Risiko Cryptocurrency

    Sebelum melangkah ke cara mengatur risiko aset kripto, tentunya kamu harus mengetahui macam-macam risiko yang ada di depan mata ketika kamu terjun ke kancah cryptocurrency. Berikut adalah jenis-jenis risiko tersebut.

    1. Risiko Kredit

    Risiko ini bisa muncul ketika platform exchange cryptocurrency gagal memenuhi kewajibannya. Namun, hal ini biasanya disebabkan oleh rentannya platform tersebut atas peretasan dan fraud. Salah satu contohnya adalah peretasan Binance pada 2018, yang menyebabkan kerugian penggunanya hingga US$40 juta.

    Baca juga: 3 Tips Sukses Cuan dalam Investasi Saham

    2. Risiko Hukum

    Ya, kamu tentunya sudah mengetahui, bahwa ada beberapa negara yang melarang perdagangan atau bahkan menggenggam aset kripto. Contohnya adalah aksi gencar pemerintah China yang membidik transaksi hingga penambangan aset kripto.

    3. Risiko Likuiditas

    Dalam konteks cryptocurrency, risiko likuiditas adalah risiko yang menyangkut susahnya mengonversi koin atau token ke dalam mata uang fiat. Misalnya, dolar AS, poundsterling Inggris dan mata uang lainnya.

    4. Risiko Pasar dan Operasional

    Namanya juga pasar perdagangan, selalu ada tawar menawar terkait aset koin kripto yang diperjualbelikan. Nah kamu sebagai investor berada dalam posisi yang selalu terbuka, sehingga kadang ketika terjadi volailitas harga, risiko ini bisa muncul dan mempengaruhi jumlah portofolio investasi yang dimilki.

    Cara Manajemen Risiko Cryptocurrency

    Seluruh risiko di atas tentu bisa bikin kamu buntung di kancah cryptocurrency. Sayangnya, tidak ada cara yang jitu agar kamu bisa menghindari kerugian dari bermain aset kripto.

    Di sebuah titik, kamu pasti akan terkena yang namanya kerugian berapapun jumlahnya. Namun, kamu harus berpegang teguh pada satu prinsip bahwa “Kamu tak boleh terpapar risiko yang tidak dapat kamu hadapi”.

    Makanya, yang perlu kamu pikirkan adalah bukan untuk menghindari risiko sepenuhnya, tapi bagaimana risiko-risiko tersebut tak berdampak besar ke nilai portofolio aset kriptomu.

    Nah, dalam kancah cryptocurrency, terdapat tiga strategi manajemen risiko yang bisa kamu terapkan. Yakni, menetapkan rasio risk/reward, position-sizing, dan juga menetapkan titik stop loss dan take profit.

    Seperti apa penjelasan masing-masing strategi tersebut?

    Baca juga: Pentingnya Financial Ratio Bagi Investor

    1. Tentukan Titik Stop Loss dan Take Profit

    Stop loss merujuk pada satu titik harga tertentu di mana kamu memutuskan untuk keluar dari pasar. Sementara itu, take profit adalah kebalikannya. Kamu harus menentukan di titik harga mana kamu akan menjual asetmu untuk mendulang cuan.

    Sobat Cuan harus paham bahwa ini adalah langkah manajemen risiko paling simpel. Segera susun titik-titik ini sebelum pasar kripto membunuhmu.

    2. Rasio Risk/Reward

    Rasio risk/reward (risiko terhadap imbal hasil) adalah rasio yang membandingkan tingkat risiko sesungguhnya dengan tingkat return potensialnya.

    Tentu saja, semakin berisiko posisi yang kamu ambil, maka potensi kamu untuk cuan juga terbilang besar. Maka dari itu, kamu perlu memahami rasio risk/reward agar kamu paham kapan waktu yang tepat masuk atau keluar pasar cryptocurrency yang sesuai dengan selera risikomu.

    Rasio risiko dan imbal hasil yang baik, menurut beberapa trader, adalah 1:1 atau kurang dari angka tersebut. Hal itu mengindikasikan bahwa imbal hasil yang kamu terima harus setara atau lebih besar dibanding risikonya.

    Lantas, bagaimana cara menghitung rasio risk/reward? Kamu hanya perlu mengikuti contoh berikut.

    Asumsikan kamu sedang mempertimbangkan masuk pasar Bitcoin, di mana harga saat ini tercatat US$30.000 per keping. Kamu sendiri berharap akan menjual Bitcoin-mu di harga US$32.000. Lantas, di titik berapa kamu harus segera keluar pasar kripto (stop loss) kalau tidak mau buntung yang teramat sangat?

    Berdasarkan asumsi di atas, maka kamu bisa menghitung rasio risk/reward sebagai berikut:

    Rasio risk/reward = (Target harga – harga awal masuk trading) / (Harga awal saat masuk – stop loss)

    Sehingga:

    1 (rasio risk/reward optimal) = (US$32.000 – US$30.000) / (US$30.000 – x)

    Dengan menggunakan rumus aljabar, maka bisa diketahui bahwa:

    US$30.000 – x = US$32.000 – US$30.000

    x = US$28.000

    Sehingga, ketika kamu masuk pasar aset kripto saat harga US$30.000, maka kamu perlu memasang stop loss di angka US$28.000 atau lebih dari level tersebut.

    3. Position Sizing

    Strategi ini bertujuan untuk memberitahumu berapa banyak koin atau token yang kamu harus beli di awal terjun dunia kripto.

    Memang, semakin tinggi posisimu, maka semakin besar pula potensimu untuk cuan atau buntung. Hanya saja seperti kata pepatah, jangan pernah tempatkan uangmu di satu keranjang saja.

    Lantas, bagaimana caranya kamu melakukan position sizing? Sejauh ini ada dua cara yang bisa kamu lakukan, yakni enter amount vs risk amount dan Kelly Criterion.

    Yuk, kita bahas satu-satu!

    Baca juga: Apa Itu Rasio Utang Terhadap Ekuitas?

    1. Enter Amount vs Risk Amount

    Pendekatan ini menggunakan dua variabel yang berbeda. Pertama, adalah jumlah uang yang akan kamu investasikan (enter amount). Kedua, adalah jumlah uang yang bisa kamu “relakan” jika kamu gagal trading (risk amount).

    Pertama, kamu harus menentukan besaran enter amount sebagai berikut:

    Enter amount = ((Jumlah modal kamu * risiko per perdagangan) / (Harga awal – titik stop loss milikmu)) * harga saat kamu masuk di pasar

    Sebagai contoh mudahnya, mari asumsikan bahwa kamu ingin membeli BTC di harga US$30.000 dengan harapan untuk menjualnya US$32.000 ke depan.

    Sementara itu, kamu memiliki modal investasi sebesar US$5.000 dengan risiko per perdagangan sebesar 2%. Mengapa 2%? Angka ini merupakan angka optimal risiko penurunan nilai dalam pembelian aset sesuai anjuran pakar trading, Alexander Elder.

    Kemudian, kamu juga menetapkan titik stop loss di angka US$29.000.

    Maka, menilik rumus di atas, maka jumlah uang yang perlu kamu masukkan di awal adalah

    ((US$5.000*0,02) / (US$30.000 – US$29.000)) * US$30.000 = US$3.000

    Sehingga, kamu harus memasang modal awal di angka US$3.000 untuk membeli BTC, atau 60% dibanding modal awal.

    2. Kelly Criterion

    Kelly Criterion adalah formula yang dikembangkan oleh John Larry Kelly pada 1956 silam. Ini merupakan pendekatan position-sizing yang menekankan pada persentase antara modal awal dan besar “pertaruhan” trader dalam trading.

    Berikut adalah rumus dari Kelly Criterion, yang ternyata lebih rumit dari pendekatan sebelumnya.

    A = (Persentase Kesuksesan Trading / Rasio Kerugian Saat Stop Loss) – ((1 – persentase kesuksesan) / Rasio Untung Saat Titik Take Profit)

    Sebagai contoh, mari kembali asumsikan keterangan dengan kondisi yang serupa di pendekatan sebelumnya.

    Kamu ingin membeli BTC di harga US$30.000 dengan harapan untuk menjualnya US$32.000 di masa depan. Sementara itu, kamu memiliki modal investasi sebesar US$5.000 dengan rasio sukses trading 60% dan stop loss di angka US$28.000.

    Maka, hasil dari Kelly Criterion adalah sebagai berikut

    A = (0,6 / 1,07) – ((1 – 0,6) / 1,07) = 0,27

    Artinya, kamu tidak boleh mempertaruhkan lebih dari 27% dari total modal awalmu sebesar US$5.000 jika ingin mendapatkan hasil yang optimal dari beberapa seri trading.

    Pendekatan Lain Manajemen Risiko Cryptocurrency

    Selain langkah di atas, tentu kamu juga bisa melakukan manajemen risiko cryptocurrency secara mudah melalui beberapa langkah berikut:

    1. Tentukan Persentase Modal 10% Untuk Investasi

    Rasio paling aman adalah 10% dari total pendapatan bulanan untuk dijadikan modal investasi. Setelah itu, kamu bisa memulai cara aman untuk berinvestasi aset kripto dengan tidak membenamkan seluruh uangmu di satu aset digital saja.

    Sebar dana yang dimiliki ke beberapa aset, dengan begitu kamu juga sudah membagi risiko yang mungkin muncul ke beberapa aset. Setelah itu, pahami juga untuk selalu menyiapkan rasio risiko dalam setiap perdagangan.

    Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

    2. Buat Tangga Keuntungan

    Maksudnya adalah, untuk kamu yang melakukan perdagangan aset kripto secara harian, kamu harus tentukan batas keuntungan setiap kali harga aset kripto yang dimiliki naik.

    Misalnya, koin kripto yang kamu miliki sudah naik 10%, maka kamu harus gunakan fitur stop order. Lalu ketika naik lagi, gunakan fitur yang sama sesuai dengan analisis kamu hingga akhirnya akan berbentuk layaknya grafik yang terus menanjak perlahan. Semakin ketat keuntungan yang ditetapkan, semakin sedikit modal yang dipertaruhkan.

    3. Gunakan Skema DCA

    Buat kamu yang ingin berinvestasi jangka panjang dalam aset kripto, bisa menggunakan skema dollar cost averaging (DCA).

    Terpenting adalah kamu sudah membuat tujuan investasi dulu sebelumnya, jadi bisa ditentukan kapan saatnya menjual dan kapan saatnya untuk masuk.

    Misalnya, kamu berniat untuk menghabiskan modal investasi sebesar US$1.000 dalam jangka waktu 1 tahun. Setelah itu, tentukan waktu pembelian, bisa setiap minggu atau setiap bulan. Jika setiap minggu, maka kamu hanya perlu membagi jumlah modal investasimu dengan 52 minggu.

    Lewat mekanisme seperti itu, kamu akan bisa tetap bertahan meskipun kondisi pasar sedang surut dalam jangka pendek. Sebab, kamu sedang mencapai tujuan cuan di jangka panjang, bukan sekadar ambil aksi untuk di jangka pendek.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Coinsider, Cryptocurrencyfacts



    Sumber : pluang.com

  • Meski Jadi Pionir Altcoin, Mengapa Harga Litecoin Masih Terbilang Murah?

    Sobat Cuan pasti tahu bahwa Litecoin adalah salah satu altcoin paling pionir yang ada di dunia ini. Apalagi, Litecoin pun terkenal dengan julukan versi perak dari Bitcoin, yang dianggap sebagai “emas utama” di kancah cryptocurrency.

    Meski demikian, nasib Litecoin nampaknya bertolak belakang dengan Bitcoin. Utamanya dari sisi pergerakan harganya. Sejak dulu, ada satu pertanyaan yang masih menjadi perhatian komunitas aset kripto: Kenapa harga Litecoin murah?

    Saat ini, satu keping Litecoin dibanderol US$135. Jika menjejak harganya di awal 2013 yang hanya di kisaran US$4 per keping, maka nilai aset kripto besutan Charlie Lee ini tumbuh 3.275% dalam rentang tujuh tahun.

    Sementara itu, Bitcoin sendiri di awal 2013 tercatat di kisaran US$13 per keping dan kini sudah menyentuh kisaran US$31.000. Alias, dalam waktu yang sama, harga Bitcoin melesat 238.300%.

    Lantas, kenapa sih harga Litecoin masih “murah” dan belum bisa mengejar Bitcoin meski digadang sebagai versi perak dari sang raja aset kripto tersebut? Yuk, kita baca penjelasannya berikut!

    Apa Itu Litecoin?

    Sebelum beranjak ke pembahasan tersebut, ada baiknya kita mengenal Litecoin, cryptocurrency yang merupakan “adik tiri” dari Bitcoin.

    Litecoin diciptakan oleh mantan insinyur Google Charlie Lee yang berawal dari “keisengan” dia dalam mereplikasi jaringan blockchain Bitcoin.

    Baik Litecoin dan Bitcoin menggunakan algoritma konsensus yang sama, yakni proof of work, dan sama-sama memiliki suplai yang terbatas meski jumlahnya berbeda. Adapun jumlah suplai Bitcoin di angka 21 juta keping sementara Litecoin berjumlah 84 juta keping.

    Bedanya, sistem jaringan blockchain Litecoin dianggap lebih aman peretasan karena berbasiskan teknologi bernama Scrypt. Yakni, teknologi yang mengharuskan penggunanya menyelesaikan teka-teki sebelum bisa membuat transaksi baru di blockchain tersebut.

    Selain itu, waktu pembuatan blok transaksi di Litecoin pun terbilang cepat, yakni hanya 2,5 menit saja. Bandingkan dengan Bitcoin yang membutuhkan 10 menit hanya demi menyelesaikan kegiatan yang dimaksud.

    Secara kasat mata, sistem blockchain Litecoin terlihat lebih daripada Bitcoin, bukan? Namun, kenapa harga Litecoin seolah-olah murah dan tidak bisa mengungguli Bitcoin?

    Jangankan soal harga, nilai kapitalisasi pasar Litecoin pun kalah jauh dibanding Bitcoin. Per 21 Juli 2021, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin ada di angka US$562,19 miliar, sementara “saudara tirinya” Litecoin hanya mengambil US$7,31 miliar.

    Baca juga: Mengapa Harus Investasi Emas?

    Teori Ihwal Kenapa Harga Litecoin Murah

    Pertanyaan mengenai nilai Litecoin yang sulit melesat memang sudah menjadi buah bibir di komunitas kripto selama bertahun-tahun lamanya. Dan untuk menjawab hal ini, terdapat beberapa asumsi mengapa hal itu bisa terjadi.

    Perlu diketahui bahwa alasan-alasan di bawah ini adalah pendapat komunitas kripto. Sehingga, asumsi-asumsi ini masih perlu diuji lebih jauh lagi.

    1. Litecoin adalah Jiplakan Bitcoin

    Teori ini adalah yang sering dijadikan argumen komunitas kripto dalam mengkaji kenapa harga Litecoin masih murah meski jadi salah satu punggawa altcoin.

    Komunitas aset kripto menganggap bahwa konsep Litecoin tidak orisinil. Ia mengikuti konsep soal algoritma konsensus proof of work dilengkapi dengan tujuan sebagai alat tukar digital di dunia maya.

    Dengan kondisi teknologi blockchain, pun dengan karakteristik koin, yang serupa, tak heran jika komunitas kripto masih lebih memilih Bitcoin.

    Apalagi, pamor Bitcoin kemudian lambat laun menjelma sebagai alat penyimpan kekayaan (store of value) karena suplainya yang terbatas. Pasokan Litecoin yang empat kali lipat dari Bitcoin menjadikannya sulit menyamai posisi Bitcoin sebagai aset penyimpan kekayaan yang utama.

    Hal itu kemudian menyebabkan permintaan Bitcoin jauh lebih besar dari Litecoin. Yang ujungnya, tentu mempengaruhi harga Litecoin sebagai aset kripto.

    Baca juga: Kenapa Investasi Emas Online Lebih Praktis dari Emas Fisik?

    2. Munculnya Teknologi Blockchain yang Lebih Canggih

    Seperti yang disinggung sebelumnya, teknologi blockchain Litecoin kurang lebih mirip layaknya Bitcoin. Sayangnya, hal itu menghambat permintaan Litecoin ketika banyak teknologi blockchain baru bermunculan setelahnya.

    Terlebih, seluruh teknologi blockchain tersebut memiliki nilai manfaat yang lebih baik dibandingkan blockchain besutan Litecoin.

    Sebagai contoh adalah Ethereum. Sistem blockchain Ethereum dilengkapi teknologi smart contract sehingga bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi sehari-hari. Mulai dari kegiatan simpan-pinjam, asuransi, bahkan hingga investasi. Apalagi, sistem blockchain Ethereum menjadi cikal bakal aktivitas ekonomi baru yang disebut sebagai ekonomi terdesentralisasi (DeFi).

    Nah, minimnya inovasi di blockchain Litecoin membuat komunitas kripto lebih selera untuk mengerubungi sistem blockchain baru ini. Terlebih, sistem Ethereum juga muncul pada 2013, dua tahun setelah proyek Litecoin resmi diluncurkan. Sehingga, kehadiran Litecoin dianggap “layu sebelum berkembang”.

    Apalagi kini posisi Litecoin kian terancam setelah munculnya blockchain baru lebih canggih, seperti yang ditawarkan oleh Polkadot atau Cardano. Alhasil, permintaan Litecoin pun terpengaruh dan tentu saja bikin harganya stagnan.

    Adapun terpojoknya Litecoin tercermin dari posisi kapitalisasi pasarnya. Setahun silam, Litecoin masih menduduki posisi lima besar cryptocurrency berkapitalisasi pasar jumbo. Kini, pada Juli 2021, Litecoin menduduki peringkat ke-13.

    3. Sentimen Anti Litecoin Bikin Kenapa Litecoin Murah

    Hal ini mungkin menjadi alasan paling kontroversial dalam menjawab kenapa harga Litecoin terbilang murah meski kalibernya sebagai pionir altcoin.

    Sentimen ini bermula pada Oktober 2017, di mana harga Litecoin sempat menyentuh angka tertingginya yakni US$310 per keping. Sayangnya, peristiwa tersebut bertepatan dengan keputusan Lee untuk menjual seluruh keping-keping Litecoin-nya.

    Hal ini membuat orang menuduh Lee melakukan pompom harga Litecoin demi keuntungan pribadinya. Namun di sisi lain, Litecoin sendiri berdalih bahwa aksi itu dilakukan Lee demi menghindari konflik kepentingan. Sebab, kala itu Lee melepas posisiya di Litecoin demi menjabat posisi sebagai insinyur di Coinbase.

    Namun, malang tak dapat dihindari, sebab komunitas kripto memilih untuk tidak mau menggenggam Litecoin lagi.

    Setelahnya, banyak thread bertebaran di forum Reddit yang kian memanaskan situasi tersebut. Adapun sebagai dugaan sementara, thread-thread tersebut juga ditunggangi oleh mereka yang mengaku sebagai kelompok Bitcoin maximalist. Alias, fans garis keras yang menganggap bahwa blockchain Bitcoin adalah blockchain mata uang kripto terbaik.

    Baca juga: Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

    Kenapa Litecoin Masih Layak Digenggam Meski Murah?

    Hanya saja, di tengah kontroversi tersebut, masih banyak analis yang menganggap Litecoin masih layak digenggam. Lantas, apa alasannya?

    Tentu saja alasannya adalah potensi kenaikan harganya. Beberapa analis menilai bahwa harga Litecoin bisa saja menyentuh US$1.000 dalam lima tahun ke depan. Beberapa analisis itu berasal dari WalletInvestor, Trading Beasts, dan The Economy Forecast Agency.

    Memang, mereka semua menilai bahwa Litecoln mirip seperti Bitcoin, yakni sebagai aset pelindung nilai mengingat jumlah pasokannya yang terbatas. Tentu saja, aset-aset dengan karakteristik seperti ini akan laris manis di kala tingkat inflasi meradang. Kebetulan, saat ini inflasi Amerika Serikat memang tengah memuncak imbas pemulihan ekonomi selepas dihantam pandemi COVID-19.

    Selain itu, pelaku pasar pun masih menimbang Litecoin sebagai aset pelindung nilai yang jauh lebih murah dibandingkan Bitcoin. Hal ini bisa menjadi katalis positif bagi Litecoin ke depan.

    Di samping itu, kini Lee pun sudah “pulang kampung” ke Litecoin, sebuah peristiwa yang disebut komunitas aset kripto bisa memulihkan lagi kredibilitas Litecoin.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Apakah juga tertarik menggenggam Litecoin? Yuk, segera dapatkan Litecoin di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Trading Education, Trading Education, Inverse.com



    Sumber : pluang.com

  • Risiko Investasi Saham dan Strategi Kelola untuk Pemula

    Setiap bentuk investasi pasti memiliki risiko, dan investasi di saham tidak terkecuali. Memahami risiko adalah langkah pertama untuk menjadi investor yang bijak. Dengan mengetahui apa saja risikonya, Sobat Cuan bisa mempersiapkan diri dan membangun strategi untuk menghadapinya. Investor pemula wajib memahami hal ini sebelum terjun ke pasar modal.

    1. Jenis-jenis Risiko Investasi Saham di Indonesia

    Artikel ini akan mengulas risiko inti dan risiko tambahan yang perlu diketahui setiap investor, khususnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

    A. Risiko Inti Pasar

    1. Volatilitas Pasar: Ketika Harga Saham Naik Turun

    Volatilitas adalah fluktuasi atau naik turunnya harga saham dalam periode waktu tertentu. Pergerakan harga ini bisa terjadi sangat cepat dan drastis. Pasar saham Indonesia, yang pergerakannya diukur oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sangat rentan terhadap sentimen domestik maupun global.

    • Risiko: Harga saham yang kamu beli hari ini bisa jadi turun drastis besok, atau sebaliknya. Pergerakan cepat ini sering membuat investor panik. Meskipun ada batasan harga harian seperti ARA (Auto Rejection Atas) dan ARB (Auto Rejection Bawah), fluktuasi tetap menjadi tantangan utama.
    1. Risiko Kehilangan Modal (Capital Loss)

    Ini adalah risiko terbesar yang dihadapi setiap investor saham: kehilangan sebagian atau seluruh modal investasi kamu.

    • Risiko: Capital loss terjadi ketika Sobat Cuan menjual saham dengan harga lebih rendah dari harga beli. Dalam kasus ekstrem, seperti kebangkrutan perusahaan, nilai saham kamu bisa menjadi nol.
    1. Risiko Sistematis (Makroekonomi)

    Risiko ini disebut juga risiko pasar, yaitu risiko yang memengaruhi seluruh pasar secara bersamaan.

    • Risiko: Ketika terjadi berita besar seperti kenaikan suku bunga bank sentral, krisis geopolitik, atau perlambatan ekonomi global, seluruh pasar akan terdampak, terlihat dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Risiko ini tidak bisa dihindari hanya dengan diversifikasi antar saham.

    B. Jenis Risiko Tambahan yang Perlu Diwaspadai

    1. Risiko Likuiditas (Sulit Menjual Saham)

    Risiko ini terjadi saat saham yang Sobat Cuan miliki sulit dijual atau dibeli kembali di pasar. Hal ini sering terjadi pada saham lapis dua atau lapis tiga (saham small-cap) yang kurang diminati.

    • Risiko: Jika kamu perlu mencairkan dana dengan cepat, kamu mungkin terpaksa menjual saham tersebut di harga yang jauh lebih rendah (diskon) hanya untuk mendapatkan pembeli.
    1. Risiko Delisting (Penghapusan Saham)

    Ini adalah situasi di mana saham sebuah perusahaan dihapus paksa dari bursa (forced delisting) karena melanggar peraturan bursa, misalnya: perusahaan mengalami kerugian besar secara terus-menerus atau tidak memenuhi syarat kepatuhan lain.

    • Risiko: Investor yang memegang saham tersebut akan kesulitan menjualnya dan harus menunggu mekanisme penjualan di luar bursa, yang seringkali memakan waktu lama dengan harga yang tidak menguntungkan.
    1. Risiko Inflasi (Daya Beli Menurun)

    Meskipun investasi kamu untung (mendapatkan return), risiko inflasi tetap mengintai.

    • Risiko: Jika tingkat imbal hasil (return) investasi saham kamu lebih rendah dari tingkat inflasi tahunan, secara riil, daya beli uang kamu justru menurun.
    1. Risiko Kebangkrutan Perusahaan

    Ini adalah risiko saat perusahaan penerbit saham secara finansial gagal dan dinyatakan bangkrut.

    • Risiko: Dalam kasus ini, nilai saham cenderung jatuh mendekati nol. Investor saham berada di urutan terakhir untuk mendapatkan aset yang tersisa setelah seluruh utang dan kewajiban lainnya dilunasi.

    2. Studi Kasus: Risiko dan Potensi Saham BBCA

    Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sering dianggap sebagai salah satu saham blue chip atau big-cap yang paling aman di Indonesia karena fundamentalnya yang sangat kuat. Namun, bahkan saham sekaliber BBCA pun tidak kebal terhadap risiko pasar.

    Mengapa BBCA dianggap relatif aman, tetapi tetap berisiko:

    1. Sensitif terhadap Suku Bunga: BBCA adalah saham perbankan. Kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral (seperti Bank Indonesia) dapat meningkatkan beban bunga kredit, namun juga memengaruhi biaya dana. Kebijakan moneter ini sering menyebabkan pergerakan harga BBCA, meskipun dalam jangka panjang fundamentalnya tetap kokoh.
    2. Risiko Sistematis: Sama seperti saham lainnya, BBCA pasti akan turun jika IHSG anjlok karena sentimen makro, misalnya saat pandemi COVID-19 pada Maret 2020. Saat itu, harga BBCA sempat anjlok hampir 40% dari puncaknya karena sentimen pasar global.
    3. Data Historis Sederhana: Sebagai contoh, dalam 5 tahun terakhir (misalnya 2019-2024), harga BBCA mungkin telah tumbuh rata-rata X% per tahun, namun investor perlu ingat bahwa saham ini juga pernah mengalami penurunan signifikan (misalnya Y% dalam hitungan minggu) akibat sentimen kepanikan pasar. Ini membuktikan bahwa volatilitas selalu ada.

    3. Cara Mengelola Risiko Saham untuk Pemula

    Mengelola risiko adalah kunci kesuksesan jangka panjang. Selain Diversifikasi dan Mengenali Profil Risiko (Toleransi Risiko), terapkan tips praktis berikut:

    A. Kenali Toleransi Risiko (Risk Tolerance)

    Toleransi risiko adalah tingkat kenyamanan trader dalam menghadapi potensi kerugian. Ini sangat subjektif.

    • Strategi: Jika kamu memiliki toleransi risiko rendah, fokuslah pada saham blue chip yang lebih stabil dan alokasikan sebagian besar dana ke instrumen non-saham (seperti obligasi atau emas).

    B. Strategi Pengelolaan Risiko Praktis

    1. Lakukan Riset Mendalam (Analisis Fundamental & Teknikal): Jangan membeli saham hanya karena rumor atau rekomendasi tanpa dasar. Pelajari kesehatan keuangan perusahaan (fundamental) dan manfaatkan analisis teknikal untuk mencari harga beli dan jual terbaik (mencari margin of safety).
    2. Gunakan Fitur Batas Kerugian (Cut Loss/Auto-Order): Aplikasi sekuritas modern menyediakan fitur auto-order untuk membatasi kerugian. Pasang batas harga jual (cut loss) otomatis. Strategi ini sangat penting untuk menekan potensi kerugian yang tidak terduga, terutama untuk trading jangka pendek.
    3. Selalu Memantau Berita Ekonomi dan Sentimen Pasar: Harga saham sangat dipengaruhi oleh berita ekonomi makro (misalnya data inflasi, kebijakan bank sentral) dan sentimen pasar global. Pemahaman ini membantu kamu bereaksi lebih rasional daripada sekadar panik.
    4. Memiliki Horizon Investasi Jangka Panjang: Terutama untuk saham blue chip dengan fundamental solid, fokuslah pada investasi jangka panjang (minimal 5-10 tahun). Ini membantu meredam efek volatilitas harian dan memaksimalkan potensi pertumbuhan nilai perusahaan seiring waktu.

    4. Pentingnya Edukasi dan Literasi Investasi

    Di dunia pasar modal yang terus berkembang, edukasi adalah senjata terbaik kamu melawan risiko.

    • Edukasi Berkelanjutan: Jangan pernah berhenti belajar. Ikuti seminar/webinar dari sumber terpercaya (seperti BEI atau sekuritas resmi), dan rutin membaca laporan keuangan perusahaan.
    • Waspada Rumor: Pasar saham sering diramaikan oleh rumor dan ajakan beli yang tidak berdasar (pom-pom saham). Investor yang teredukasi akan menggunakan kerangka berpikir kritis dan tidak mudah tergiur janji keuntungan instan.

    Kesimpulan:

    Investasi saham menawarkan potensi cuan yang menarik, tetapi kamu harus siap menghadapi risikonya. Dengan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai jenis risiko, studi kasus nyata seperti BBCA, dan disiplin dalam mengelola risiko melalui riset dan strategi jangka panjang, kamu dapat menjadi investor yang bijak. Ingat, kesuksesan bukan tentang menghindari risiko, tetapi tentang mengelolanya secara disiplin dan terencana.



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Ini 4 Indikator Analisis Teknikal Utama dalam Melihat Tren!

    Sobat Cuan baru nyemplung di dunia trading? Nah, inilah saatnya kamu berteman akrab dengan yang namanya analisis teknikal. Sebab, analisis ini bisa menjadi petunjuk untukmu dalam mengumpulkan pundi-pundi cuanmu dari aksi jual-beli instrumen.

    Adapun salah satu teknik populer dalam analisis teknikal adalah analisis tren. Teknik ini memprediksi tren harga aset ke depan berdasarkan data historis, dengan asumsi bahwa pola-pola yang dibentuk data tersebut akan berulang ke depan.

    Mungkin, kamu sudah paham bahwa terdapat dua tren trading yang dikenal secara umum yakni tren bullish dan bearish. Namun, bagaimana sih cara kamu membaca tren tersebut?

    Yuk, simak artikel ini hingga habis ya, Sobat Cuan!

    Trend Analysis Dalam Analisis Teknikal

    Trend diartikan sebagai arah pergerakan harga di pasar dalam kurun waktu tertentu.
    Sementara analisis tren adalah proses mengamati trend saat ini untuk memprediksi tren di masa depan.

    Trend dapat diprediksi kapan akan berbalik arah, terus melesat atau turun lewat metode-metode analisis teknikal. Analisis ini pun tergolong dalam analisis komparatif, yakni dengan membandingkan tren yang sedang berlangsung, data historisnya, dan prediksi tren di masa depan.

    Komparasi juga dapat dilakukan antar sektor agar kamu dapat memprediksi sektor mana yang sedang menjanjikan dan sektor mana yang trennya akan berubah.

    Sebagai trader, wajib hukumnya bagi kamu untuk memahami tren. Sebab, tren bisa menjadi penentu apakah kamu perlu masuk atau keluar dari satu pasar instrumen tertentu.

    Misalnya, kamu pasti menyesal kan melakukan aksi beli saat harga tinggi namun tiba-tiba harganya anjlok beberapa saat kemudian? Nah, kamu perlu memahami tren ini agar tak salah langkah dalam trading.

    Baca juga: Apa Itu Centralized Market?

    Periode dalam Analisis Teknikal

    Tidak ada batasan periode waktu yang dapat digolongkan dalam suatu tren. Tetapi, semakin panjang data historis suatu intrumen tercatat, maka akan semakin akurat pula prediksinya.

    Namun, perlu kamu catat baik-baik bahwa prediksi berdasarkan analisis sekalipun tidak punya jaminan akurasi.

    Periode dalam teknikal analisis ada tiga jenis, yakni jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Namun, sepanjang apa periode dapat dikatakan jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang, itu semua tergantung pada gayamu sendiri saat trading.

    Beberapa metode bahkan menggunakan analisis teknikal dalam periode sangat pendek yakni menit dan detik. Metode lainnya membantumu memprediksi pasar jauh ke depan hingga hitungan tahun.

    Indikator Trending Analysis dalam Analisis Teknikal

    Memprediksi arah tren memang susah-susah gampang, Sobat Cuan. Apalagi, jika pasar sedang volatile seperti sekarang ini. Tapi, empat indikator paling populer dalam analisis teknikal ini akan membantu kamu membaca tren dengan mudah lho. Apa saja indikator tersebut?

    1. Moving Average

    Contoh Moving Average (garis merah). Sumber: Tradingview.

    Moving average menggunakan data rata-rata harga secara progresif dalam kurun waktu tertentu. Sehingga, indikator yang satu ini memang sangat populer dalam analisis teknikal, termasuk saat kamu ingin menggunakan teknik trend analysis.

    Indikator sejuta umat ini memang bertujuan untuk memberi petunjuk kepada mereka tentang arah tren harga sebuah aset di masa depan. Moving average sendiri terdiri dari beberapa variasi tergantung fokus sang trader. Apakah memang ia ingin melihat tren secara keseluruhan atau memberikan bobot dan perhatian lebih besar terhadap satu titik tertentu di dalam pergerakan harga aset tersebut.

    2. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

    MACD (lokasi yang berada di bawah grafik). Sumber: Tradingview

    Salah satu jenis moving average yang akan membantu kamu menganalisis trend adalah moving average convergence and divergence (MACD). Indikator berosilasi ini berfluktuasi disekitar titik nol yang menjadi tolok ukur momentum dan tren.

    Logika yang digunakan MACD mirip dengan simple moving average (SMA) dengan tambahan fitur untuk memberi kamu gambaran yang lebih baik mengenai pergerakan harga. Simpelnya, jika MACD bergerak ke arah positif, hal ini dapat diartikan sebagai sinyal beli. Sebaliknya, jika MACD bergerak ke arah negatif berarti sinyal untuk menjual.

    Namun, MACD kerap digunakan sebagai komplementer indikator lainnya. Jadi, kamu perlu mengkompilasi beberapa indikator dalam analisis teknikal sekaligus untuk mendapat gambaran akurat mengenai tren.

    Baca juga: Masih Belum Paham Beda DeFi vs CeFi? Yuk, Belajar di Artikel Ini!

    3. Relative Strength Index (RSI)

    Contoh indikator RSI yang berada di bawah grafik harga. Sumber: Tradingview.

    Indikator berosilasi lainnya yang kerap digunakan untuk melihat tren adalah relative strength index (RSI). Informasi yang diberikan RSI berbeda dengan MACD meskipun prinsipnya mirip.

    RSI beroperasi dalam skala 0 hingga 100, tapi biasanya trader membuat area overbought dan oversold dengan skala 30 banding 70.

    Artinya, saat harga pada histogram berada di wilayah di atas 70, kamu dapat mengartikannya sebagai overbought. Sedangkan saat harga berada di wilayah di bawah 30 pada histogram kamu dalam mengartikannya sebagai oversold.

    Pada tren yang kuat, harga kerap bertahan di wilayah overbought maupun oversold dalam waktu yang cukup panjang untuk kamu mengambil keputusan. Tapi seringnya, harga hanya bertahan sesaat di area ini sehingga kamu harus mengambil keputusan cepat atau menganalisis sebelumnya untuk me-leverage cuan kamu.

    Adapun cara terbaik untuk menggunakan RSI adalah dengan mengomparasinya bersama MACD.

    Baca juga: Apa Itu Kurva Lorenz?

    4. On-Balance Volume (OBV)

    Area On Balance Volume di bawah grafik harga. Sumber: Tradingview

    Volume penawaran sendiri merupakan indikator yang berharga dalam analisis teknikal. Karenanya, dikembangkanlah indikator yang secara khusus mengukur komplasi volume dalam satu grafis. Indikator ini mengukur volume kumulatif pembelian dan penjualan dengan menambah formulasi khusus.

    idealnya, OBV dapat mengonfirmasi trend. Kenaikan harga harusnya diikuti dengan kenaikan OBV, begitu pun sebaliknya. Jika tidak terjadi sebagaimana premis ideal, umumnya harga akan mengikuti OBV sehingga kamu dapat membuat prediksi berdasarkan hal ini.

    Adapun premis idealnya adalah, ketika OBV naik dan harganya tidak, kemungkinan harga akan mengikuti OBV di masa depan dan mulai naik.

    Namun, jika harga naik dan OBV datar atau turun, harga mungkin mendekati puncak. Jika harga turun dan OBV datar atau naik, harga bisa mendekati dasar.

    Jadi bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap mendulang cuan berbasis analisis tren harga aset?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Warrior Trading



    Sumber : pluang.com

  • Kamus Investor: Istilah-Istilah Penting dalam Dunia Saham

    Berada di dunia investasi saham rasanya seperti masuk ke sebuah komunitas baru. Ada banyak istilah unik yang sering digunakan oleh para investor, mulai dari istilah teknis hingga bahasa gaul sehari-hari. Memahami terminologi ini sangat penting agar Sobat Cuan tidak salah langkah dan dapat mengikuti percakapan serta berita saham di pasar saham dengan lebih mudah. Mari kita bedah satu per satu!

    I. Istilah Pergerakan Harga & Regulasi Pasar

    A. ARA (Auto Rejection Atas) dan ARB (Auto Rejection Bawah)

    ARA (Auto Rejection Atas) dan ARB (Auto Rejection Bawah) adalah mekanisme perlindungan otomatis yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menjaga perdagangan tetap wajar, teratur, dan efisien.

    Fitur

    ARA (Auto Rejection Atas)

    ARB (Auto Rejection Bawah)

    Definisi

    Batas maksimum kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan.

    Batas maksimum penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan.

    Mekanisme

    Jika harga saham menyentuh batas ini, sistem akan otomatis menolak seluruh order beli yang masuk (limitasi kenaikan).

    Jika harga saham menyentuh batas ini, sistem akan otomatis menolak seluruh order jual yang masuk (limitasi penurunan).

    Tujuan

    Mencegah kenaikan harga yang tidak wajar akibat euforia berlebihan (euphoria buying) atau spekulasi liar.

    Mencegah penurunan harga tajam yang memicu kepanikan (panic selling) dan menjaga stabilitas pasar.

    Fungsi dan Manfaat ARA/ARB

    ARA dan ARB berfungsi sebagai “rem darurat” di bursa. Manfaat utamanya adalah:

    1. Menjaga Stabilitas Harga: Mencegah volatilitas ekstrem dalam satu hari.
    2. Perlindungan Investor: Melindungi investor, khususnya pemula, dari lonjakan atau anjloknya harga yang terlalu cepat, sehingga memberikan waktu untuk berpikir ulang sebelum mengambil keputusan.
    3. Mencegah Manipulasi: Menyulitkan pihak-pihak yang mencoba memanipulasi harga saham (price rigging) dalam waktu singkat.

    Tabel Batas Persentase ARA dan ARB (Peraturan BEI Terbaru)

    Batas persentase ARA dan ARB di BEI tidak sama untuk semua saham. Batas ini ditentukan berdasarkan harga penutupan saham di hari sebelumnya (harga acuan).

    Harga Acuan (Harga Penutupan Kemarin)

    Batas ARA (Kenaikan Maksimal)

    Batas ARB (Penurunan Maksimal)

    Rp 50 – Rp 200

    35%

    7%

    >Rp 200 – Rp 5.000

    25%

    7%

    >Rp 5.000

    20%

    7%

    Saham Papan Akselerasi

    10%

    10%

    Simulasi Kasus Perhitungan Batas Harga

    Studi Kasus: Misalkan Saham XYZ ditutup pada harga Rp 400 kemarin.

    1. Cek Rentang Harga: Rp 400 masuk dalam rentang >Rp 200 – Rp 5.000.
    2. Batas ARA: 25% dari Rp 400 = Rp 100.
    • Harga ARA: Rp 400 + Rp 100 = Rp 500
  • Batas ARB: 7% dari Rp 400 = Rp 28 (dibulatkan ke kelipatan terdekat).
  • Artinya, dalam hari perdagangan ini, harga saham XYZ tidak boleh lebih dari Rp 500 dan tidak boleh kurang dari Rp 372.

    B. Istilah Kondisi Pasar Lainnya

    II. Mengenal Saham Gorengan (High Risk, High Return)

    Saham Gorengan adalah istilah populer untuk saham-saham yang pergerakan harganya tidak didasarkan pada fundamental atau kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya, melainkan didorong oleh spekulasi, rumor, dan potensi manipulasi harga.

    Ciri-Ciri Utama Saham Gorengan

    1. Volatilitas Ekstrem: Harga sangat mudah naik tajam (ARA) dan turun tajam (ARB) dalam waktu singkat.
    2. Fundamental Buruk: Kinerja keuangan (pendapatan, laba) perusahaan cenderung merugi atau stagnan.
    3. Nilai Transaksi Kecil: Sahamnya kurang likuid dan jarang diperdagangkan oleh investor institusi besar.
    4. Banyak Rumor/Pom-pom: Pergerakan harga sering kali diawali oleh kabar burung atau ajakan dari pihak-pihak tertentu (pom-pom).
    5. Sering Kena ARA/ARB: Karena spekulasi liar, saham ini menjadi target ideal bagi bandar untuk dimainkan, menyebabkan harga sering menyentuh batas ARA/ARB.

    IV. Istilah Transaksi & Strategi Lainnya

    V. Istilah Kondisi Psikologis & Sentimen

    VI. Istilah Perusahaan & Produk

    Kesimpulan

    Memahami istilah-istilah di atas adalah modal awal yang krusial untuk berinteraksi di pasar saham Indonesia. Dengan menguasai “bahasa” pasar, terutama seluk-beluk ARA, ARB, dan Saham Gorengan, kamu akan menjadi investor yang lebih percaya diri, mampu menganalisis situasi dengan lebih baik, dan siap membuat keputusan investasi yang cerdas.



    Sumber : pluang.com