Category: Pluang

  • Mengenal Fibonacci Retracements Cara Menggunakannya Untuk Trading

    Sobat Cuan pernah dengar tentang fibonacci retracements? Indikator analisis teknikal ini menggunakan ilmu matematika kuno yakni golden rasio fibonacci untuk membantu kamu cuan saat trading.

    Nama indikatornya terkesan mewah sekali ya, Sobat Cuan! Bahkan tak hanya namanya yang terkesan elegan, namun informasi yang disajikan dari indikator ini pun terkesan “mahal”.

    Sebab, fibonacci retracements adalah indikator yang menerawang titik support dan resistance, sehingga kamu bisa menentukan kapan harus masuk ke pasar untuk mendulang cuan dan menentukan titik stop loss.

    Biasanya, fibonacci retracements digunakan oleh trader di pasar foreign exchange (forex). Namun belakangan, analisis ini juga sering digunakan dalam analisis teknikal cryptocurrency.

    Penasaran seperti apa manfaat memahami Fibonacci retracements? Yuk pelajari lebih jauh!

    Fibonacci, Ilmu Matematika Kuno yang Tetap Relevan Hingga Saat Ini

    Deret fibonacci yang kamu pelajari semasa sekolah dulu ternyata betulan bermanfaat lho, Sobat Cuan. Terutama kalau kamu sedang menjajal peruntungan lewat trading.

    Leonardo Pisano Fibonacci adalah orang Italia yang terkenal akan satu ilmu yang disebut deret Fibonacci. Yakni, deret angka yang dimulai dari 0, di mana angka berikutnya merupakan hasil penjumlahan dari dua angka sebelumnya.

    Contohnya, deret angka Fibonacci di awal-awal adalah 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89,144, 233, 377 dan seterusnya.

    Lantas, apa yang membuat deret ini spesial?

    Nah, setiap angka yang berada di dalam deret Fibonacci selalu bernilai 1,618 kali lebih besar dibanding angka sebelumnya. Sementara itu, setiap angka di deret ini selalu punya nilai 0,618 kali lebih rendah dibanding angka sesudahnya.

    Angka 1,618 dan 0,618 tersebut pun kemudian disebut sebagai rasio emas (golden ratio) atau disebut phi. Rasio ini menjadi idola di kalangan matematikawan karena bisa menjelaskan seluruh hal di alam semesta ini, mulai dari jumlah urat dalam satu daun hingga resonansi magnetik di kristal kobalt.

    Penggunaan Deret Fibonacci dalam Finansial

    Nah, ternyata, beberapa analis menemukan bahwa golden ratio serupa juga ditemukan di dalam ilmu finansial.

    Mereka percaya bahwa pergerakan harga suatu aset juga memiliki pola yang selalu berulang, di mana nilai pergerakannya pun terbilang konsisten. Meski memang dibutuhkan kalkulasi matematis tambahan di dalamnya.

    Agak berbeda dengan deret Fibonacci yang orisinil, deret angka yang digunakan dalam trading instrumen finansial terdiri atas 0,236, 0,382, 0,618, 1,618, 2,618, dan 4,236. Namun, jika angka-angka tersebut diubah ke dalam bentuk persentase, maka deret Fibonacci-nya akan menjadi 23,6%, 38,2%, 61,8%, 78,2%, dan seterusnya.

    Dengan demikian, maka trader bisa berharap bahwa pergerakan harga aset bisa bergerak sebesar 0,236 hingga 4,236 kali lipat dibanding posisi harganya saat ini.

    Misalnya seperti ini. Anggap saja harga saham perusahaan A naik dari Rp10.000 per lembar menjadi Rp20.000 per lembar, maka pergerakan harga berikutnya bisa ditelaah menggunakan deret angka di atas. Anggap saja, kali ini kita menggunakan level 23,6%.

    Dengan demikian, maka pergerakan harga berikutnya setelah Rp20.000 bisa jadi adalah Rp17.640. Hal ini didapatkan atas rumus seperti berikut:

    Harga berikutnya = Harga Atas – (Selisih Harga Atas dan Bawah x Deret Fibonacci)

    Sehingga, untuk contoh kasus di atas, maka harga setelah posisi Rp20.000 adalah

    Rp20.000 – (Rp10.000 x 23,6%) = Rp17.640

    Selain itu, kamu juga perlu memahami bahwa harga atas dan harga bawah yang digunakan bukanlah titik yang didapat sembarang. Namun, keduanya adalah titik yang disebut swing high dan swing low.

    Swing high adalah titik harga aset tertinggi sebelum memperlihatkan penurunan. Sementara itu, swing low adalah titik harga terendah yang dicapai sebuah aset sebelum akhirnya memantul kembali.

    Apa Itu Fibonacci Retracements?

    Penggunaan Fibonacci dalam trading pun terbagi dua, yakni Fibonacci Extensions dan Fibonacci Retracement. Tapi, kali ini kita hanya akan membahas detail soal Fibonacci Retracement saja, ya.

    Dalam dunia trading, retracement dikenal sebagai kemunduran kecil (pullback) dari tren harga suatu aset. Biasanya, mereka bersifat temporer dan tidak membahayakan. Dengan demikian, maka Fibonacci Retracement menggambarkan besaran penurunan harga aset secara temporer berikutnya berdasarkan deret angka Fibonacci. 

    Nah, di dalam analisis teknikal, deret angka Fibonacci ini kemudian “ditempel” ke dalam grafik harga aset dalam bentuk garis horizontal. Garis-garis ini kemudian disebut sebagai Fibonacci Retracement Levels.

    Biasanya garis fibonacci yang ditarik membentuk level berada pada persentase 23,6%, 38,2%, 61,8% dan 78,6%. Selain itu, rasio 50% juga digunakan meski tidak termasuk dalam kelompok angka fibonacci. Contohnya bisa terdapat di grafik harga ETH/USDT di bawah ini.

    Fibonacci Retracement
    Sumber: Tradingview

    Konon katanya, saat harga mendekati area fibonacci, besar kemungkinan trennya akan berubah. Meski begitu, ingat bahwa kemungkinan ini tidak mutlak. Kamu perlu indikator lain untuk membantumu membuat kesimpulan.

    Baca juga : Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Kegunaan Garis Fibonacci

    Kamu bisa menggunakan level fibonacci retracements untuk menentukan titik support dan resistance berikutnya. Jika kamu bisa mengetahui hal itu, maka kamu akan tahu pada harga berapa kamu akan keluar masuk pasar. Tak hanya itu, kamu pun jadi bisa merencanakan ancang-ancang kapan harus stop loss atau menyetel harga.

    Lantas, bagaimana cara membaca garis-garis tersebut?

    Jika harga tetap bergerak naik saat menyentuh level fibonacci-nya, kemungkinan besar harga tersebut dapat terus naik.

    Begitu pun, jika harga gagal menembus level fibonacci, kemungkinan besar harga akan berbalik arah sehingga kamu dapat menargetkan stop loss di level ini.

    Fibonacci retracements bekerja lebih akurat saat uptrend. Selain itu, kamu juga dapat menyandingkannya dengan indikator lain.

    Perlu dipahami bahwa fibonacci retracements adalah level yang statis. Tidak seperti moving average yang kerap berubah, level statis ini bisa membantu kamu memgambil keputusan cepat dengan mudah.

    Subjektivitasnya terdapat pada persepsi kamu mengenai dua titik yang menjadi tolok ukur awal garis fibonacci yang kamu gunakan untuk menganalisis. Alias, si titik swing high dan swing low.

    Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Cara Menggunakan Fibonacci Retracements

    Kamu tidak perlu khawatir akan menemukan rumus-rumus sulit fibonacci seperti saat di bangku sekolah dulu. Sebagian besar aplikasi trading sudah menyediakan indikator ini berikut dengan perhitungannya.

    Setelah fibonacci retracements terbentuk dalam chart analisis kamu, kamu akan menemukan secara ajaib bahwa tiap kali harga mendekati garis level, trennya jadi berubah.

    Meskipun populer digunakan oleh trader forex, fibonacci retracements sebetulnya bisa dipakai untuk memprediksi apa saja dalam bentuk chart.

    Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Konsep Total Value Locked di Kancah DeFi!

    Strategi Trading dengan Fibonacci Retracements

    Tidak ada restriksi dalam menggunakan indikator berfaedah ini. Kamu bisa menggunakannya untuk membaca pola apa saja dalam rentang waktu yang ingin kamu ketahui.

    Jika kamu sudah dapat melihat pola berulang tiap kali instrumen yang kamu analisis memasuki garis level, kamu bisa mengambil keputusan dengan cepat.

    Tentukan sejak awal dimana kamu akan stop loss dan di mana kamu ingin cuan. Untuk hasil terbaik, pastikan juga kamu menggunakan indikator lain agar simpulan kamu terkonfirmasi dengan lebih akurat ya.

    Namun, trader biasanya menggunakan strategi ini untuk melakukan taktik bernama strategi trend-trading. Yakni, sebuah strategi yang memanfaatkan titik retracement level dan tren harga aset demi mendulang cuan.

    Bagaimana contohnya? Yuk, simak dulu grafik trading forex EUR/USD berikut!

    Chart showing example of Fibonacci retracement levels
    Sumber: Investopedia

    Dari contoh di atas, kita mengetahui bahwa tren penurunan mulai terjadi di titik A. Nilai Euro kemudian melonjak drastis, namun gagal menembus level 38,2% (titik B), sehingga tren harganya mengalami retracement. Beberapa saat kemudian, harga pun kemudian mencapai level 38,2% di titik C.

    Sehingga, yang kamu perlu lakukan dalam kasus di atas adalah menunggu momen yang tepat. Ketika harga melewati titik B, alias gagal menembus 38,2%, maka ini adalah waktu emas dalam akumulasi aset sampai melihat harga melewati level retracement yang awal (23,6%).

    Jika trennya naik, kamu bisa menanti harga aset tersebut, apakah ia akan menembus 38,2% kembali atau tidak. Hanya saja, harga aset kembali gagal menembus angka tersebut, sehingga kamu perlu buru-buru memasang posisi jual ketika harga mencapai level fibonacci 38,2%.

    Bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap trading menggunakan indikator ini?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Warior Trading



    Sumber : pluang.com

  • Short Call dan Short Put Options

    Dalam artikel sebelumnya, kita telah memahami bahwa Short Options berarti menjual (writing) kontrak options, yang memberikan kita kewajiban dan hak untuk menerima Premi di awal.

    Dua posisi dasar Short Options adalah Short Call (menjual kontrak Call Option) dan Short Put (menjual kontrak Put Option). Kedua strategi ini memiliki mekanisme dan profil risiko yang berbeda.

    1. Short Call (Menjual Kontrak Call Option)

    Ketika Sobat Cuan mengambil posisi Short Call, kamu menjual hak kepada pembeli (Long Call) untuk membeli Underlying Asset dari kamu pada Strike Price yang ditentukan. Tujuan kamu melakukan Short Call adalah agar kontrak options tersebut kedaluwarsa tanpa nilai, sehingga Premi yang diterima menjadi keuntungan maksimal yaitu ketika harga underlying asset bergerak stagnan, turun, atau naik tapi tidak melewati strike price.

    Bayangkan kamu memiliki pandangan bahwa harga saham Tesla (TSLA) tidak akan naik terlalu tinggi dalam waktu dekat. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, Anda memutuskan untuk menjual (write) kontrak Call Option.

    Misalkan, harga saham TSLA saat ini adalah $200 per lembar. Kamu menjual kontrak Call Option dengan Strike Price $205 yang akan berakhir bulan depan. Harga premi yang diterima untuk kontrak tersebut adalah $5 per lembar.

    Skenario Untung (Profit)

    Sobat akan mendapatkan keuntungan maksimum ketika harga TSLA pada tanggal kedaluwarsa berada di bawah Strike Price. Dalam skenario ini, pembeli options tidak akan mengeksekusi kontraknya karena mereka akan mengalami kerugian sehingga kontrak options tersebut kedaluwarsa tanpa nilai (Worthless).

    • Harga TSLA turun ke $200:
      Keuntungan Maksimum: Jumlah premi yang diterima.
      Profit/Loss = Premium Diterima

      = $5 x 100 lembar
      = $500 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham).

    Skenario Breakeven

    Titik breakeven adalah saat keuntungan dari premi yang diterima sama persis dengan kerugian yang timbul karena harga aset naik, sehingga kamu tidak mengalami keuntungan maupun kerugian.

    Harga Breakeven = Strike Price + Premi Diterima

    = $205 + $5
    = $210

    Artinya kamu akan mulai rugi ketika harga saham TSLA naik melampaui $210.

    Skenario Rugi (Loss)

    Kerugian Anda akan terjadi ketika harga TSLA naik di atas Breakeven Point ($210). Perlu diingat, kerugian Short Call berpotensi tidak terbatas.

    • Harga TSLA naik menjadi $215:
      Profit/Loss = (Premium Diterima) – (Harga Saham Saat Ini – Strike Price)
      = $5 – ($215 – $205)
      = $5 – $10
      = -$5 = $5 x 100
      = -$500 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham)

    Menutup Posisi Short Call (Buy to Close)

    Dalam praktiknya, trader sering menutup posisi Short sebelum kedaluwarsa dengan melakukan Buy to Close (membeli kembali kontrak yang sudah dijual). Hal ini biasa dilakukan untuk take profit atau cut loss sebelum tanggal kedaluwarsa untuk menghindari risiko assignment.

    Cara menghitung untung atau rugi adalah dengan menghitung selisih antara harga premi yang diterima dengan harga premi saat ingin menutup posisi (premi saat ini). Sobat Cuan akan untung jika premi turun, dan rugi jika premi naik.

    • Premi yang diterima: $5
    • Skenario Profit (Premi Turun):
      Misal harga TSLA tetap $200, dan premi turun menjadi $2.
      Profit/Loss = Premium diterima – Premi saat ini
      = $5 – $2 = $3 per lembar
      = $300 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham)
    • Skenario Loss (Premi Naik):
      Misal harga TSLA naik tajam, dan premi naik menjadi $8.
      Profit/Loss = Premium diterima – Premi saat ini
      = $5 – $8 = -$3 per lembar
      = -$300 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham)

    2. Short Put (Menjual Put Option)

    Ketika Sobat Cuan mengambil posisi Short Put, kamu menjual hak kepada pembeli (Long Put) untuk menjual Underlying Asset kepada kamu pada Strike Price

    Sekarang bayangkan harga saham NVDA saat ini adalah $450 per lembar. Kamu memutuskan menjual kontrak Put Option dengan Strike Price $440 yang akan berakhir bulan depan. Harga premi yang diterima untuk kontrak tersebut adalah $10 per lembar.

    Skenario Untung (Profit)

    Keuntungan maksimum terjadi jika harga NVDA pada tanggal kedaluwarsa berada di atas Strike Price. Pembeli Put Option tidak akan mengeksekusi karena akan mengalami kerugian sehingga kontrak akan kedaluwarsa tanpa nilai (worthless).

    • Harga NVDA di atas $440 (misal $450):
      Keuntungan Maksimum: Jumlah premi yang diterima.
      Profit/Loss = Premi Diterima
      = $10 per lembar
      = $10 x 100 lembar
      = $1,000 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham).

    Skenario Impas (Breakeven Point)

    Titik breakeven adalah saat keuntungan dari premi yang diterima sama persis dengan kerugian yang timbul karena harga aset turun, sehingga kamu tidak mengalami keuntungan maupun kerugian.

    Harga Breakeven = Strike Price + Premi Diterima

    = $440 – $10
    = $430

    Artinya kamu akan mulai rugi ketika harga saham NVDA turun di bawah $430.

    Skenario Rugi (Loss)

    Kerugian Anda akan terjadi ketika harga NVDA turun di bawah Breakeven Point ($430). Perlu diingat, kerugian Short Put terbatas hingga harga aset turun ke nol, tetapi bisa sangat besar.

    • Harga TSLA turun menjadi $400:
      Profit/Loss = (Premium Diterima) – (Strike Price – Harga Saham Saat Ini)
      = $10 – ($440 – $400)
      = $10 – $40
      = -$30 = $30 x 100
      = -$3,000 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham)

    Menutup Posisi Short Put (Buy to Close)

    Sama seperti Short Call, menutup posisi Short Put dengan Buy to Close adalah cara umum untuk merealisasikan P&L sebelum tanggal kedaluwarsa.

    • Premi yang diterima: $10
    • Skenario Profit (Premi Turun):
      Misal harga NVDA stabil atau naik, dan premi turun menjadi $4.
      Profit/Loss = Premium diterima – Premi saat ini
      = $10 – $4 = $6 per lembar
      = $600 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham)
    • Skenario Loss (Premi Naik):
      Misal harga NVDA turun mendekati atau di bawah strike price, dan premi naik menjadi $15.
      Profit/Loss = Premium diterima – Premi saat ini
      = $10 – $15 = -$5 per lembar
      = -$500 per kontrak (karena satu kontrak merepresentasikan 100 lembar saham)

    Posisi Short Call dan Short Put adalah inti dari Options Trading yang berorientasi pada penerimaan premi. Kamu telah melihat bahwa keuntungan dari posisi ini terbatas, sedangkan risiko kerugiannya, terutama pada Short Call, berpotensi tidak terbatas. Inilah sebabnya mengapa Short Options membutuhkan disiplin yang sangat tinggi, pandangan kuat terhadap kondisi pasar, dan pengaturan strategi penutupan posisi (Buy to Close) yang disiplin.



    Sumber : pluang.com

  • Gaji Pertama Bisa Nabung? Bisa Banget, Simak 5 Langkah Berikut!

    Selamat bagi Sobat Cuan yang baru lulus kuliah! Setelah melalui badai skripsi dan sidang, kini kamu sudah resmi masuk angkatan kerja dan mulai mencari-cari pekerjaan pertamamu.

    Memang, yang namanya gaji pertama, pasti jumlahnya belum dua digit, apalagi tiga digit. Tapi, hal itu seharusnya tidak menghalangimu untuk mengatur keuanga secara tepat. Yang perlu kamu lakukan adalah mengamalkan tips menabung, investasi, dan juga penganggaran dengan baik!

    Menabung memang penting, Sobat Cuan, sebab hal itu bisa mengantarkanmu ke masa depan yang lebih baik. Selain itu, menabung juga merupakan bukti bahwa kamu benar-benar menghargai hasil jerih payahmu sebagai fresh graduate.

    Untuk itu, jangan pernah ragu-ragu untuk menabung dengan gaji pertamamu ya, Sobat Cuan. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan agar mampu menabung dengan gaji pertamamu.

    Tips Menabung dengan Gaji Pertama

    1. Tips Menabung Paling Dasar: Buat Budget Bulanan

    Membuat budget dimulai dengan menghitung pendapatan bersih yang kamu bawa ke rumah atau take home pay. Jumlah ini tentunya setelah dikurangi pajak, asuransi dan iuran pensiun.

    Setelahnya, kamu tinggal mengurangi pendapatanmu dengan pengeluaran yang kamu anggap tetap, esensial, atau fleksibel. Nah, selisih dari pendapatan dengan pengeluaran tersebut tentunya bisa kamu gunakan untuk menabung!

    Ahli perencana keuangan biasanya menyarankan kamu membagi jumlah gaji berdasarkan rasio 50/30/20. Maksudnya, 50% gaji dialokasikan untuk kebutuhan hidup. Sisanya, sebanyak 30% untuk menutup utang dan 20% untuk ditabung.

    Namun, gaji dan kebutuhan setiap orang tentu berbeda-beda. Sehingga, kamu juga tidak usah terlalu ngoyo, Sobat Cuan. Tak usah berpatokan ke pakem di atas kalau kamu tak mampu menabung sebesar 20% dari gajimu. Ingat, seperti kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit.

    Selain itu, kamu juga harus cermat dalam memilah kebutuhan hidup, ya. Kamu tentunya harus bisa memilah mana kebutuhan yang perlu kamu penuhi untuk bertahan hidup dan apa saja pengeluaran yang bersifat keinginanmu saat ini.

    Baca juga: Hai Para Abdi Negara, Simak 5 Jenis Investasi yang Cocok bagi Kantong PNS!

    2. Tips Menabung dengan Dalih Dana Darurat

    Kalau kamu merasa susah menabung dengan gaji pertama karena alasan “malas”, mungkin ada baiknya kamu mencoba tips ini. Yakni, menganggap dana tabunganmu adalah dana darurat.

    Apa sih arti dana darurat? Sesuai namanya, dana darurat adalah dana yang bisa kamu pakai kalau dalam situasi darurat. Misalnya, ketika kamu jatuh sakit atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), kamu masih bisa bertahan hidup tanpa harus berutang.

    Kamu dianjurkan untuk memiliki dana darurat sejumlah kebutuhan hidup berikut liabilitas seperti cicilan utang kamu selama 3-6 bulan. Asumsinya, jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kamu punya waktu selama itu untuk hidup tanpa penghasilan.  Kamu bisa mencari sumber penghasilan lain dengan bertahan hidup dari dana darurat.

    Sudah terbayang kan urgensi dana darurat ini? Nah, jadikan situasi-situasi “kedaruratan” itu sebagai motivasi untuk menyisihkan uang dari penghasilanmu, ya. Apalagi di tengah situasi yang tak menentu seperti saat ini, tentu kamu sangat membutuhkan kehadiran dana darurat.

    Nah, agar tabungan dana daruratmu tidak terpakai, kamu bisa menempatkannya di instrumen lain. Salah satu contohnya adalah menempatkannya di reksadana pasar uang.

    Baca juga: Daripada Sewain Pacar, Mending Sewakan Benda Ini Untuk Nambah Penghasilan!

    3. Mau Nabung? Yuk, Utangnya Dibayar Dulu

    Dapat gaji pertama memang nikmat ya, Sobat Cuan. Tapi ada baiknya kamu melakukannya setelah melunasi kewajiban finansialmu paling utama, yakni bayar utang.

    Membayar utang tidak boleh ditunda-tunda. Sebab, semakin lama kamu menunggaknya, maka bunga yang dibebankan pun akan semakin membengkak. Makanya, ada baiknya kamu melunasinya terlebih dahulu biar merasa lega. Setelahnya, kamu sudah bisa leluasa menabung.

    Namun, ada kalanya kamu masih terbebani utang keluarga yang mengantarmu lulus bangku kuliah. Atau utang-utang lain bernilai jumbo yang harus kamu bayar secara cicilan

    Kalau kondisinya demikian, maka porsi pembayaran utang sebaiknya tidak melebihi 30% dari total pemasukan bulananmu ya, Sobat Cuan.

    Rasio 30% penghasilan ini harus kamu pegang terus ya. Jika kamu berencana mengambil cicilan lain, pastikan bahwa total cicilan kamu tidak lebih dari 30% total penghasilan kamu.

    4. Dana Investasi

    Jika kamu masih punya sisa penghasilan setelah menyisihkan uang untuk menabung dan bayar utang, maka kamu jangan menghabiskannya untuk shopping atau nongkrong-nongkrong! Lebih baik, kamu investasikan saja sisa uangmu tersebut.

    Porsi ini penting agar di masa mendatang kamu bisa hidup sejahtera bermandikan pendapatan pasif. Jadi, kamu sebaiknya bisa mulai berinvestasi sekarang dengan instrumen investasi yang aman seperti reksadana dan deposito. Buat pos-pos investasi untuk tujuan khusus sesuai dengan financial goals kamu, ya.

    Ingat, investasi tidak sama dengan spekulasi. Dana ini sebaiknya tidak kamu gunakan untuk berspekulasi di pasar yang terlalu volatile dan berisiko tinggi. Pelan tapi pasti, kamu akan tahu investasi mana yang lebih cocok untukmu.

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak 5 Hal Esensial yang Perlu ada di Financial Planning!

    5. Tips Menabung Sambil Apresiasi Diri Sendiri

    Kamu telah bekerja keras untuk sampai di titik ini. Namun, jangan lupa, bahwa kamu pun akan bekerja lebih keras lagi untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Sehingga, tak ada salahnya kok kamu menabung dengan mindset self-appreciation.

    Yang perlu kamu lakukan adalah membayangkan keinginanmu di masa depan dengan uang jerih payahmu. Apakah kamu ingin selonjoran di kafe-kafe yang menawarkan sunset view di Bali? Atau kamu ingin diving di Raja Ampat? Apapun keinginanmu, tuliskan saja hal itu dan jadikanlah sebagai motivasi menabungmu.

    Kamu bisa menggunakan pola pikir ini ketika menerima gaji pertamamu. Namun sejatinya, kamu akan lebih leluasa melakukan hal ini jika kamu menerima bonus tahunan dari perusahaanmu.

    Dalam hal ini, ahli perencana keuangan menyarankan rasio 50:50. Maksudnya, tiap kali kamu menerima bonus, kamu habiskan 50% dari kenaikan itu untuk mengapresiasi dirimu sendiri. Lalu 50% sisanya untuk ditabung.

    Keduanya, baik uang yang kamu habiskan untuk dirimu sendiri dan kamu sisihkan untuk masa depan, merupakan cara kamu mengapresiasi hasil jerih payahmu.

    Keep up the good work dan selamat menikmati gaji pertamamu!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CBS, The Muse



    Sumber : pluang.com

  • Apa itu Short Options?

    Setelah mempelajari tentang Long Options, yaitu membeli kontrak options (baik Call Option maupun Put Option), saatnya melihat sisi sebaliknya dari Options Trading yaitu Short Options, atau sering disebut juga Selling/Writing Options (menjual kontrak options).

    Sebagai penyegar ingatan, penting untuk diingat bahwa Options Trading adalah permainan Zero-Sum, yang berarti untuk setiap pembeli (Long) yang menghasilkan keuntungan, pasti ada penjual (Short) yang mengalami kerugian, dan sebaliknya. Selain itu, ingatlah istilah kunci:

    • Premium: Harga yang dibayar pembeli kepada penjual untuk kontrak options.
    • Strike Price: Harga yang disepakati dalam kontrak options untuk melakukan transaksi aset dasar (Underlying Asset).
    • Expiration Date: Tanggal kadaluarsa kontrak options.

    Apa Itu Short Options?

    Definisi dan Peran Penjual Options

    Secara sederhana, Short Options adalah posisi di mana trader menjual atau menulis sebuah kontrak options.

    Dalam transaksi Options Trading, pihak yang menjual kontrak options dikenal sebagai Option Writer atau Seller. Ketika kamu mengambil posisi Short, kamu tidak lagi memegang hak seperti pembeli (Long Options), melainkan mengambil kewajiban untuk menjual atau membeli Underlying Asset jika pembeli options (Option Holder) memilih untuk mengeksekusi kontrak tersebut.

    Pada saat pembukaan posisi (Sell to Open), penjual options akan langsung menerima Premium (Premi) dari pembeli options. Premi inilah yang menjadi sumber pendapatan awal, sekaligus laba maksimum yang bisa didapatkan.

    Perbedaan Utama dengan Long Options

    Perbedaan mendasar antara Long Options dan Short Options terletak pada tiga hal: Hak vs. Kewajiban, Penerimaan Premi, dan Ekspektasi Pergerakan Harga.

    Aspek

    Long Options (Pembeli options)

    Short Options (Penjual/Writer options)

    Posisi

    Membeli (Long)

    Menjual/Menulis (Short)

    Peran

    Option Holder (Pemegang Hak)

    Option Writer/Seller (Pemegang Kewajiban)

    Aliran Dana Awal

    Membayar Premi (Uang keluar)

    Menerima Premi (Uang masuk)

    Potensi Keuntungan

    Tidak terbatas (tergantung pergerakan harga)

    Terbatas (maksimal sebesar Premi yang diterima)

    Potensi Kerugian

    Terbatas (maksimal sebesar Premi yang dibayar)

    Berpotensi Tidak Terbatas (risiko utama Short Options)

    Ekspektasi Pasar

    Membutuhkan pergerakan harga yang kuat dan cepat.

    Mendapat keuntungan jika harga tidak bergerak sesuai harapan pembeli, atau bahkan bergerak berlawanan.

    Mekanisme Kerja Short Options

    Bagaimana Short Options bekerja? Mari kita lihat dua skenario utama: Short Call dan Short Put.

    1. Short Call (Menjual Call Option)

    • Aksi: Kamu menjual (write) sebuah Call Option dan menerima Premi.
    • Kewajiban: Jika Option Holder mengeksekusi kontrak, kamu sebagai penjual kontrak wajib menjual Underlying Asset kepada pembeli seharga Strike Price.
    • Ekspektasi Keuntungan: Kamu berharap harga Underlying Asset tetap di bawah Strike Price hingga Expiration Date, atau bahkan turun. Jika itu terjadi, Call Option akan kedaluwarsa tanpa nilai (Worthless), dan Premium yang diterima menjadi keuntungan bersih.
    • Risiko: Jika harga Underlying Asset melonjak tajam di atas Strike Price, kamu diwajibkan menjual Underlying Asset dengan harga Strike Price, yang jauh lebih murah daripada harga pasar (Market Price), dan kerugian bisa tidak terbatas.

    2. Short Put (Menjual Put Option)

    • Aksi: Kamu menjual (write) sebuah Put Option dan menerima Premi.
    • Kewajiban Anda: Jika Option Holder mengeksekusi kontrak, kamu sebagai penjual kontral wajib membeli Underlying Asset dari pembeli seharga Strike Price.
    • Ekspektasi Keuntungan: Kamu berharap harga Underlying Asset tetap di atas Strike Price hingga Expiration Date, atau bahkan naik. Jika itu terjadi, Put Option akan kedaluwarsa tanpa nilai, dan Premi yang diterima menjadi keuntungan bersih.
    • Risiko: Jika harga anjlok di bawah Strike Price, kamu diwajibkan membeli Underlying Asset dengan harga yang jauh lebih mahal daripada harga pasar (Market Price). Kerugian kamu berpotensi besar, tetapi terbatas hingga harga Underlying Asset turun ke nol.

    Mengapa Trader Melakukan Short Options?

    Meskipun memiliki potensi risiko yang besar, Short Options adalah strategi yang populer di kalangan trader dan investor berpengalaman. Berikut adalah alasan utamanya:

    1. Mendapatkan Tambahan Penghasilan (Income Generation)

    Tujuan utama menjual options adalah untuk mengumpulkan Premi. Penjual options menerima uang tunai di awal transaksi, dan jika options tersebut kedaluwarsa tanpa dieksekusi, seluruh Premi tersebut menjadi profit. Ini sering digunakan oleh trader yang ingin mendapatkan profit tambahan dari aset yang sudah mereka miliki, misalnya sudah memiliki lebih dari 100 lembar saham NVDA, dibandingkan dengan membiarkannya diam saja atau turun, trader bisa menjual kontrak Short Call dan mendapatkan penghasilan tambahan dari premi yang didapatkan.

    2. Mengambil Keuntungan di Pasar yang Stagnan

    Long Options membutuhkan pergerakan harga yang besar dan cepat untuk menghasilkan keuntungan. Short Options justru sebaliknya. Penjual options mendapat keuntungan dalam kondisi:

    • Harga bergerak stagnan (tidak naik atau turun secara signifikan).
    • Harga bergerak sedikit berlawanan dengan harapan pembeli.

    Sebab, selama harga aset tetap di sekitar atau melenceng dari Strike Price sedemikian rupa sehingga options tersebut tidak menguntungkan bagi pembeli untuk dieksekusi, penjual akan menang.

    Catatan Penting Mengenai Risiko

    Harus ditekankan kembali: Risiko utama dalam Short Options adalah potensi kerugian yang tidak terbatas (pada Short Call) atau berpotensi besar (pada Short Put).

    Untuk membuka posisi Short Options, trader perlu menyisihkan sejumlah sahamnya (minimal 100 lembar, karena 1 kontrak mewakili 100 lembar saham) dan/atau uang sebagai jaminan (collateral) untuk menutupi kewajiban mereka jika pembeli mengeksekusi options. Oleh karena itu, Short Options umumnya tidak direkomendasikan untuk investor pemula tanpa pemahaman risiko dan strategi manajemen risiko yang mendalam.



    Sumber : pluang.com

  • Apa Itu Saham? Memahami Dasar Investasi di Pasar Modal Indonesia

    Memahami investasi di pasar modal Indonesia dapat membantu kamu dalam beberapa hal seperti menghindari keputusan spekulatif, memahami risiko dan potensi keuntungan, dan memilih saham yang sesuai dengan tujuan keuangan pribadi.

    Apa itu Saham dan Pasar Modal?

    Secara sederhana, saham adalah bukti kepemilikan seseorang atas suatu perusahaan. Ketika sebuah perusahaan membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnisnya, mereka bisa menjual sebagian kepemilikannya kepada publik. Inilah yang disebut dengan “Go Public” atau Penawaran Umum Perdana atau dikenal juga dengan Initial Public Offering (IPO).

    Sebagai contoh, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA) adalah salah satu perusahaan terbuka di Indonesia. Ketika kamu membeli satu lembar saham BBCA, kamu secara sah menjadi salah satu pemilik dari bank tersebut, meskipun hanya dalam porsi yang sangat kecil. Sebagai pemilik, kamu berhak mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan (dividen) dan memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

    Tempat di mana saham-saham ini diperjualbelikan disebut Pasar Modal. Di Indonesia, Pasar Modal difasilitasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Di sinilah para investor bisa membeli dan menjual saham perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar. Pergerakan harga saham di BEI diukur dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

    Mengapa Investasi di Saham Indonesia?

    Investasi saham di Indonesia menawarkan beberapa keunggulan unik sebagai aset investasi:

    • Potensi Pertumbuhan Ekonomi: Indonesia adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi yang stabil mendorong kinerja perusahaan-perusahaan lokal. Dengan berinvestasi di saham Indonesia, kamu secara tidak langsung turut berpartisipasi dan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi nasional.
    • Akses ke Berbagai Sektor Unggulan: BEI memiliki banyak perusahaan dari berbagai sektor yang kuat dan fundamentalnya baik. Kamu bisa berinvestasi di sektor perbankan (misalnya BBCA, BBRI), telekomunikasi (TLKM), barang konsumsi (UNVR, INDF), hingga energi dan pertambangan (ADRO, PTBA). Diversifikasi ini memungkinkan kamu menyebar risiko dan memanfaatkan peluang di berbagai industri.
    • Perlindungan Investor: Pasar modal Indonesia diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setiap transaksi jual beli saham dilakukan melalui perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi ketat. Hal ini memberikan jaminan keamanan dan perlindungan bagi para investor.

    Saham Indonesia Dibandingkan Dengan Kripto dan Emas

    Untuk memahami kekuatan saham, penting untuk membandingkannya dengan aset investasi populer lainnya:

    • Saham vs. Kripto:
      • Saham: Memiliki nilai intrinsik karena didukung oleh kinerja perusahaan yang nyata, seperti aset fisik, produk, dan profitabilitas. Saham diatur dan diawasi oleh OJK.
      • Kripto: Aset digital yang nilainya sangat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Meskipun memiliki potensi keuntungan tinggi, risikonya juga jauh lebih besar dan regulasinya masih berkembang.
    • Saham vs. Emas:
      • Saham: Berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang yang lebih tinggi melalui kenaikan harga dan dividen. Saham bersifat produktif karena uang kamu digunakan perusahaan untuk berekspansi, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan keuntungan.
      • Emas: Bertindak sebagai penyimpan nilai yang baik (safe haven) saat ekonomi tidak stabil. Keuntungan dari emas hanya didapatkan dari kenaikan harganya, tidak ada dividen. Emas cenderung tidak menghasilkan imbal hasil setinggi saham dalam jangka panjang.

    Bagaimana Cara Mendapatkan Keuntungan dari Investasi Saham?

    Sobat Cuan bisa mendapatkan keuntungan dari investasi saham melalui dua cara utama:

    1. Capital Gain: Ini adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga jual dan harga beli saham. Jika kamu membeli saham dengan harga Rp 1.000 per lembar dan menjualnya saat harganya naik menjadi Rp 1.500, maka kamu mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 per lembar.
    2. Dividen: Dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham. Pembagian dividen biasanya dilakukan setahun sekali atau lebih, tergantung kebijakan perusahaan. Kamu akan menerima dividen sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki, tanpa harus menjualnya.

    Kesimpulan

    Saham adalah salah satu instrumen investasi paling kuat untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang. Dengan memahami dasar-dasar ini dan memilih saham perusahaan yang memiliki fundamental baik, kamu tidak hanya berinvestasi untuk masa depan finansial kamu, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Artikel ini hanya berupa fondasi dalam perjalanan memahami Saham Indonesia, jangan lupa untuk pelajari artikel-artikel selanjutnya untuk mengenal saham Indonesia lebih jauh lagi!



    Sumber : pluang.com

  • Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Koin dan Token di Kancah Kripto?

    Sobat Cuan mungkin saat ini lagi tertarik masuk ke ranah dunia kripto, apalagi setelah reli besar-besaran Bitcoin dan altcoin season pada awal 2021. Namun, begitu masuk ke pasar kripto, kamu kemudian puyeng melihat banyaknya ragam aset kripto di dalamnya.

    Kamu kemudian makin bingung ketika menemukan bahwa tidak hanya cryptocurrency saja yang berada di dalam pasar kripto. Namun, ada pula aset digital lain yang disebut dengan token. Lantas, apa perbedaan koin dan token? Mengapa harus ada dua istilah berbeda untuk merujuk ke aset kripto?

    Ibarat dua anak kembar yang sering mengalami salah sebut nama, koin dan token juga mengalami kondisi serupa. Apalagi, jika kamu pergi mengecek besaran kapitalisasi pasar aset kripto di, misalnya, coinmarketcap, pasti kamu akan melihat koin-koin kripto berbaur dengan token

    Nah, daripada bingung membedakannya, yuk simak artikel ini ya, Sobat Cuan!

    Penjelasan Singkat Mengenai Perbedaan Koin dan Token

    Meski memang terlihat mirip, namun koin dan token memiliki perbedaan secara fundamental, Sobat Cuan! Jadi, jangan pernah merujuk koin sebagai token. Apalagi, merujuk token sebagai koin kripto.

    Intinya, perbedaan token dan koin tidak hanya terletak dari namanya. Namun juga terletak di fungsinya, asal muasalnya, serta manfaatnya. Berikut adalah penjelasan koin dan kripto.

    Baca itu: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Apa itu Koin?

    Koin dalam dunia kripto merujuk pada aset digital yang dibangun di jaringan blockchain independen miliknya sendiri.

    Aset digital satu ini memang diterbitkan langsung oleh mereka yang mengembangkan protokol blockchain yang dimaksud. Makanya, koin sering disebut sebagai aset kripto native, alias “penduduk asli” di jaringan blockchain tersebut.

    Sebagai contoh, kamu pasti sudah tidak asing dengan Bitcoin (BTC) sang jawara di dunia aset digital. Ya, BTC merupakan koin karena dia dibangun di atas jaringannya sendiri. Lalu terdapat pula Ether (ETH) yang merupakan koin native dari jaringan Ethereum.

    Berikut ini adalah karaketristik dari koin kripto.

    1. Terdesentralisasi. Alias, jumlah peredarannya tidak tergantung dengan satu lembaga atau otoritas tertentu.
    2. Dibangun di atas sistem blockchain atau jenis tekonologi buku besar (ledger) digital lainnya.
    3. Menggunakan kriptografi sebagai jaring keamanannya.

    Kegunaan Koin

    Lantas, apa saja sih kegunaan koin-koin tersebut?

    Seperti yang kita tahu, asal muasal koin kripto berasal dari Bitcoin yang diluncurkan 2009 silam. Kala itu, sang pengembangnya yang beridentitas anonim Satoshi Nakamoto berniat menjadikan Bitcoin sebagai alat tukar terdesentralisasi, yang tentu saja bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa.

    Dengan kata lain, niat penciptaan koin kripto pada awalnya adalah medium pembayaran layaknya uang fiat. Makanya, koin kripto generasi awal seperti BTC, XRP, dan LTC memiliki sifat seperti demikian.

    Hanya saja, kini tidak semua negara mau mengakui pembayaran Bitcoin. Bahkan, baru El Salvador saja yang melegalkan penggunaan Bitcoin demi keperluan transaksi.

    Namun, bukan berarti nilai manfaat koin kripto hilang begitu saja. Sebab, koin kripto pun memiliki dua fungsi lain di zaman sekarang.

    1. Aset Investasi

    Saat ini, sebagian pelaku aset kripto telah menganggap beberapa jenis aset kripto sebagai aset investasi. Contoh paling kentara bisa Sobat Cuan lihat di perkembangan Bitcoin.

    Kini, komunitas kripto dan beberapa analis menganggap Bitcoin sebagai “emas digital” lantaran ia memiliki sifat penyimpan nilai seperti uang fiat (Store of Value). Hanya saja, suplainya terbatas, yakni hanya 21 juta keping saja.

    Akibatnya, nilai Bitcoin bisa terapresiasi di masa depan dan dianggap “tempat aman” untuk menaruh kekayaan dari gerusan inflasi.

    2. Penjaga Sistem Blockchain

    Komunitas kripto juga menggunakan koin sebagai penjaga keberlangsungan jaringan blockchain.

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa teknologi blockchain terus berkembang. Blockchain yang dulunya hanya mencatatkan transaksi secara desentralisasi kini bisa digunakan untuk jasa keuangan lainnya, seperti pinjam meminjam dan menabung, berkat kehadiran teknologi smart contract.

    Jika komunitas kripto semakin sering menggunakan teknologi blockchain, maka mereka harus memberi kompensasi ke pengembang untuk menjaga keandalan teknologi tersebut. Nah, makanya komunitas kripto wajib membayar “ongkos sewa blockchain” ke pengembang, yang tentu saja dibayar dengan koin native tersebut.

    Contoh mudahnya adalah Ethereum. Komunitas kripto senang mengembangkan berbagai aplikasi terdesentralisasi di jaringan blockchain-nya lantaran memiliki teknologi smart contract yang mumpuni. Namun, di saat yang sama, mereka juga wajib menyetor ETH ke pengembang sebagai “balas jasa” atas teknologi Ethereum tersebut.

    Apa Itu Token?

    Sementara itu, token adalah aset digital yang dibangun di atas jaringan blockchain milik pihak lain. Jika koin adalah “penduduk asli” dari sebuah sistem blockchain, maka token adalah “penduduk pendatang” di sana.

    Biasanya, token kripto memiliki empat prinsip seperti berikut:

      1. Programmable. Token-token tersebut digunakan di atas protokol piranti lunak, yang dimotori dari beberapa smart contract yang berasal di blockchain utamanya.
      2. Permissionless. Semua orang bisa menggunakan token tersebut tanpa izin dari pihak manapun.
      3. Trustless. Tidak ada satu otoritas pun yang mampu mengendalikan peredaran token.
      4. Transparency. Seluruh kegiatan yang menggunakan token bisa diawasi dan dicatat oleh pihak manapun.

    Token diciptakan dari berbagai platform yang berada di atas suatu blockchain tertentu. Biasanya, namun tidak selalu, token-token ini diciptakan di atas sistem blockchain Ethereum.

    Ketika menciptakan token-token tersebut, pengembang harus patuh pada standar-standar penciptaan token tertentu agar bisa digunakan di sistem blockchain utamanya.

    Di Ethereum, misalnya, pengembang biasanya mengacu pada standar ERC-20 agar token-token mereka bisa silang operasi dengan aplikasi terdesentralisasi lainnya di jaringan blockchain Ethereum. Selain itu, terdapat pula standar ERC-271 yang biasanya dipatuhi pengembang untuk menciptakan Non-Fungible Token (NFT).

    Saat ini, ada ribuan token yang beredar di pasar. Mulai dari Tether (USDT), USD Coin (USDC), DAI, UMA, dan Basic Attention Token (BAT) adalah beberapa token digital yang banyak digunakan oleh investor.

    Kegunaan Token

    Sama seperti koin, token juga memiliki fungsi transfer nilai. Namun, terdapat kelebihan lain dari token selain sebagai media pembayaran, misalnya seperti:

    1. Token sekuritas. Ini merupakan representasi dari aset-aset beneran yang terdapat di dunia nyata. Misalnya, seperti instrumen surat berharga dan obligasi.
    2. Token utilitas. Aset digital ini didesain sebagai sarana pengguna untuk mendapatkan produk atay jasa di platform tersebut.
    3. Stablecoins. Token ini memiliki nilai yang ditautkan ke mata uang fiat, seperti dolar AS atau Euro
    4. Non-fungible Token. Token ini merupakan representasi dari benda yang unik dan hanya ada satu-satunya di dunia.
    5. Token pembayaran. Fungsi ini sama seperti koin digital karena digunakan untuk pembayaran barang dan jasa.

    Terkadang, token juga digunakan sebagai “surat suara” dalam melakukan voting tertentu. Biasanya, voting ini dilakukan antar pengguna dalam menentukan pembaruan protokol atau kebijakan baru terkait kebijakan platform-platform aplikasi terdesentralisasi.

    Kesimpulan Perbedaan Koin dan Token

    Sebagai ringkasannya, berikut adalah kesimpulan inti dari perbedaan koin dan token:

    1. Koin diciptakan dari jaringan blockchain utama. Token berasal dari platform-platform yang didirikan di atas jaringan blockchain tersebut.
    2. Koin bisa digunakan untuk proses pembayaran. Token lebih cocok digunakan untuk keperluan yang lebih beragam.
    3. Penciptaan koin lebih susah daripada token. Sebab, koin berasal dari blockchain, sementara token hanya “menumpang” blockchain yang sudah ada.

    Kalau kamu lebih suka mana, Sobat Cuan? Koin? Atau token?

    Baca juga: Harga Bitcoin, Ethereum, dan Cryptocurrency Lain Diprediksi Meroket

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Liquid, Gemini, Bitdegree



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Berbagai Tipe Saham: Blue Chip, Growth, dan Value Stocks

    Apa Itu Saham dan Indeks Saham di Indonesia

    Kita sudah membahas apa itu saham pada artikel sebelumnya, sekarang akan kita bahas apa perbedaannya dengan indeks saham.

    1. Apa itu Saham?
      Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Ketika kamu membeli selembar saham, kamu secara resmi menjadi bagian dari pemilik perusahaan tersebut (disebut pemegang saham). Sebagai pemilik, kamu berhak atas potensi keuntungan (dividen atau kenaikan harga jual) dan risiko kerugian perusahaan.
    2. Apa itu Indeks Saham?
      Indeks saham, seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), adalah indikator statistik yang mengukur pergerakan rata-rata harga dari sekelompok saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ini berfungsi sebagai termometer atau barometer untuk menilai kinerja pasar saham secara keseluruhan.

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): Pengertian dan Manfaatnya

    IHSG adalah indeks utama yang menjadi acuan bagi investor di Indonesia. Memantau IHSG sangat penting karena alasan berikut:

    1. Indikator Sentimen Pasar: IHSG mencerminkan suasana hati (sentimen) kolektif investor. Kenaikan IHSG (disebut pasar bullish) menunjukkan optimisme investor, sedangkan penurunan IHSG (pasar bearish) mengindikasikan sentimen negatif atau pesimisme.
    2. Cerminan Kondisi Ekonomi: IHSG sering dianggap sebagai barometer kesehatan ekonomi Indonesia. Perubahan IHSG yang signifikan dapat dipicu oleh peristiwa makroekonomi (misalnya, perubahan suku bunga acuan) atau isu politik penting, yang pada akhirnya memengaruhi keputusan investasi.
    3. Tolok Ukur Kinerja: Investor menggunakan IHSG sebagai pembanding (benchmark) untuk mengukur apakah kinerja portofolio investasi mereka di atas, setara, atau di bawah kinerja pasar secara umum.

    Daftar Indeks Saham Populer di Bursa Efek Indonesia (BEI)

    Selain IHSG, BEI memiliki beberapa indeks penting lainnya yang membantu investor fokus pada kategori saham tertentu:

    Nama Indeks

    Kriteria Utama atau Cakupan

    Fungsi Bagi Investor

    IHSG

    Mengukur pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di BEI (indeks paling luas).

    Indikator utama kondisi pasar modal Indonesia.

    LQ45

    45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar.

    Pilihan untuk investor yang mencari saham Blue Chip yang paling aktif diperdagangkan.

    IDX30

    30 saham yang berasal dari LQ45, dengan kriteria yang lebih ketat.

    Fokus pada 30 saham paling besar dan likuid.

    Jakarta Islamic Index (JII)

    30 saham dengan likuiditas tinggi dan memenuhi prinsip syariah.

    Pilihan bagi investor yang ingin berinvestasi sesuai prinsip Islam.

    Mengenal Berbagai Tipe Saham Utama di BEI

    Mengenali tipe saham sangat penting, sebab setiap saham memiliki karakteristik risiko dan potensi keuntungan (cuan saham) yang berbeda.

    A. Saham Blue Chip (Lapis Satu)

    Istilah Blue Chip merujuk pada saham perusahaan besar dengan reputasi dan fundamental yang sangat kokoh. Saham jenis ini adalah pilihan utama untuk investasi jangka panjang karena stabilitasnya.

    Ciri-ciri Utama Saham Blue Chip:

    • Kapitalisasi Pasar Besar: Mereka adalah perusahaan dengan nilai pasar hingga ratusan triliun rupiah dan merupakan Market Leader di industrinya.
    • Kinerja dan Dividen Konsisten: Mereka memiliki laba yang stabil dan dikenal rutin membagikan dividen tunai kepada pemegang saham.
    • Penggerak Pasar: Banyak saham Blue Chip merupakan anggota indeks LQ45 dan menjadi motor penggerak IHSG utama di BEI.

    Studi Kasus: Dampak Pergerakan IHSG terhadap BBCA dan BBRI (4)

    PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) adalah dua saham Blue Chip perbankan yang memiliki bobot kapitalisasi pasar terbesar di IHSG.

    • Ilustrasi Dampak: Karena bobotnya yang besar, pergerakan harga BBCA dan BBRI sangat memengaruhi Indeks. Jika terjadi kenaikan sentimen positif terhadap sektor perbankan—misalnya, karena stabilnya suku bunga—IHSG dapat melaju kencang, terutama didorong oleh lonjakan harga BBCA dan BBRI. Sebaliknya, saat terjadi peristiwa politik yang memicu ketidakpastian, IHSG akan terkoreksi, dan saham-saham besar seperti BBCA dan BBRI juga akan ikut terkoreksi, meskipun fundamental kedua bank tersebut tetap kuat.

    Keuntungan dan Risiko Saham Blue Chip

    • Keuntungan: Risiko relatif rendah, likuiditas sangat tinggi, dan memberikan pendapatan pasif berupa dividen stabil.
    • Risiko: Potensi kenaikan harga saham (capital gain) cenderung terbatas dan lebih lambat karena perusahaan sudah sangat besar.

    B. Growth Stocks (Saham Pertumbuhan)

    Growth Stocks adalah saham dari perusahaan yang laba dan pendapatannya diperkirakan tumbuh jauh di atas rata-rata industri (seperti saham teknologi, contohnya GOTO). Perusahaan ini fokus pada ekspansi agresif dan cenderung menginvestasikan kembali seluruh labanya, sehingga biasanya tidak membagikan dividen. Investor mengharapkan keuntungan dari kenaikan harga saham yang signifikan di masa depan.

    C. Value Stocks (Saham Nilai)

    Value Stocks adalah saham yang dinilai “murah” atau diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Investor jenis ini mencari saham yang diremehkan pasar, berharap pasar akan “menyadari” nilai sesungguhnya dari perusahaan yang fundamentalnya kuat. Saham ini sering memiliki valuasi yang rendah (P/E atau P/B rendah).

    Sektor-Sektor Saham Utama di BEI

    Saham di BEI dikelompokkan ke dalam beberapa sektor:

    • Keuangan: Pendorong utama IHSG, meliputi BBCA, BBRI, dan BMRI.
    • Barang Konsumen Primer: Saham yang dikenal defensive (tahan resesi), seperti perusahaan makanan dan minuman (UNVR, INDF).
    • Energi: Sangat dipengaruhi harga komoditas global, seperti batubara (ADRO) dan migas.
    • Teknologi: Dikenal memiliki pertumbuhan cepat tetapi volatilitas tinggi.

    Masih banyak lagi sektor lainnya yang akan kita bahasa satu persatu di artikel berikutnya.

    Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan merupakan saran investasi saham. Investasi saham memiliki risiko capital loss dan fluktuasi harga saham. Selalu lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko Sobat Cuan sebelum membuat keputusan investasi.



    Sumber : pluang.com

  • Mending Mana? Investasi di Obligasi atau Reksadana Pendapatan Tetap?

    Berinvestasi di obligasi atau reksadana obligasi, mana yang lebih menguntungkan ya?

    Kedua instrumen ini, yakni obligasi dan reksadana obligasi, alias pendapatan tetap, tergolong instrumen investasi dengan tingkat risiko yang rendah lho, Sobat Cuan. Meski begitu, keduanya merupakan produk yang jauh berbeda.

    Namun, kenapa produk ini bisa berbeda? Padahal bukankah keduanya sama-sama mengusung nama “obligasi” di dalamnya? Untuk lebih jelasnya, yuk simak artikel berikut!

    Obligasi vs Reksadana Obligasi

    Sebelum kamu memutuskan lebih jauh instrumen mana yang akan jadi pilihanmu dalam berinvestasi rendah resiko, kenali dulu yuk perbedaan keduanya.

    Baca juga: Mau Investasi Jangka Pendek Saat Pandemi? Simak Pilihan Aset Berikut!

    Apa Itu Obligasi?

    Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), obligasi adalah surat utang jangka menengah maupun jangka panjang yang dapat diperjualbelikan. Obligasi berisikan janji dari pihak yang menerbitkan efek untuk membayar imbalan berupa kupon pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada akhir waktu yang telah ditentukan kepada pembeli obligasi.

    Karena adanya kupon ini, obligasi jadi termasuk ke dalam instrumen investasi berpendapatan tetap yang bertujuan untuk memberikan tingkat pertumbuhan nilai investasi yang stabil. Kamu bisa membeli obligasi saat penawaran perdana maupun di pasar sekunder.

    Jenis-jenis Obligasi

    Obligasi yang terbit di Indonesia ada tiga jenis, yakni

    1. Obligasi Pemerintah, yaitu obligasi dalam bentuk Surat Utang Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah RI. Pemerintah menerbitkan obligasi dengan kupon tetap (seri FR- Fixed Rate), obligasi dengan kupon variable (seri VR –Variable Rate) dan obligasi dengan prinsip syariah/ Sukuk Negara.
    2. Obligasi Korporasi, yaitu obligasi berupa surat utang yang diterbitkan oleh Korporasi Indonesia baik BUMN maupun korporasi lainnya. Sama seperti obligasi pemerintah, obligasi korporasi terbagi atas obligasi dengan kupon tetap, obligasi dengan kupon variabel dan obligasi dengan prinsip syariah. Ada Obligasi Korporasi yang telah diperingkat atau ada yang tidak diperingkat.
    3. Obligasi Ritel, yang diterbitkan oleh Pemerintah yang dijual kepada individu atau perseorangan melalui agen penjual yang ditunjuk oleh Pemerintah. Biasanya ada beberapa jenis yaitu ORI atau Sukuk Ritel.

    Reksadana Pendapatan Tetap

    Reksadana obligasi, atau yang lebih dikenal sebagai reksadana pendapatan tetap (RDPT) adalah reksadana yang mengalokasikan minimum pengelolaan dananya sebesar 80% pada obligasi. Selayaknya reksadana, RDPT merupakan produk investasi yang diterbitkan dan dikelola oleh manajer investasi (MI).

    Jika kamu membeli unit reksadana obligasi, nantinya dana kamu tidak hanya akan dialokasikan untuk membeli satu jenis obligasi saja. Artinya, portofolio investasi kamu akan terdiversifikasi dengan baik dalam berbagai surat utang milik pemerintah maupun swasta.

    Kamu juga dapat memilih produk reksadana mana yang akan kamu beli berikut dengan profil alokasi dananya.

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Obligasi Vs Reksadana Obligasi, Mana yang Lebih Baik?

    Setelah memahami perbedaan kedua instrumen investasi tersebut, kira-kira mana yang lebih baik? Semua itu berbalik pada rencana investasi kamu. Tapi, yuk kita bahas satu per satu plus dan minus dari keduanya.

    Fleksibilitas Obligasi Vs Reksadana Obligasi

    Jika ditilik dari aspek fleksibilitasnya, reksadana obligasi tentu lebih unggul ketimbang membeli obligasi secara langsung. Kamu hanya perlu membeli unit RDPT dari MI yang kamu percayai.

    Selain itu, fleksibilitas reksadana obligasi juga unggul dari terkait jumlah investasi minimum. Jika obligasi mensyaratkan investasi minimum Rp1 juta, reksadana obligasi hanya menerapkan nominal minimum Rp10.000 saja atau seharga satu unit RDPT yang berlaku.

    Kamu pun hanya perlu menyetorkan KTP dan rekening bank saat akan membeli reksadana obligasi. Sementara syarat membeli obligasi secara langsung mengharuskan kamu setor NPWP juga.

    Saat akan menjual reksadana obligasi, kamu tidak perlu menunggu tenornya jatuh tempo. Unit reksadana yang kamu pegang dapat dilepas kepada MI tempat kamu membeli kapan saja sesuai ketentuan yang berlaku.

    Dalam hal ini, obligasi juga menawarkan fleksibilitas. Yakni, investor diberi keleluasan untuk menjual obligasi di pasar sekunder sebelum jatuh tempo. Kemungkinan juga kamu akan mendapat margin dari selisih harga jual dan belinya.

    Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

    Imbal Hasil dan Risiko Reksadana Obligasi Vs Obligasi

    Obligasi menawarkan cuan berupa kupon, yield, atau diskonto yang dibayarkan secara berkala sebelum jatuh tempo atau sesuai ketentuan yang berlaku. Besarnya kupon biasanya tergantung pada fundamental dan kebijakan lembaga penerbit obligasi milikmu.

    Surat Utang Negara (SUN) biasanya memberikan imbal hasil 5-7% tergantung kebijakan pemerintah dan kondisi perekonomian, begitu juga dengan obligasi swasta dan ritel.
    Sementara itu, imbal hasil reksadana obligasi bergantung pada kinerja dana kelola.

    Biasanya angkanya tidak jauh berbeda dengan rata-rata imbal hasil obligasi mengingat 80% dana dikelola dalam instrumen itu. Perbedaannya adalah pada reksadana obligasi dana kamu diversifikasi pada sejumlah obligasi dengan tingkat bunga yang beragam.

    Selain itu, MI kerap membeli dalam jumlah besar yang membuatnya punya daya tawar untuk meminta harga lebih murah. Praktik ini mereduksi risiko investasi kamu terkikis biaya-biaya admin maupun perpajakan.

    Pajak

    Perbedaan lain yang tak kalah fundamentalnya antara dua instrumen ini ada kedudukannya di mata otoritas perpajakan.

    Obligasi merupakan objek pajak yang dikenakan pajak penghasilan, sementara reksadana obligasi bukanlah objek pajak. Artinya, imbal hasil yang kamu terima dari obligasi masih dipotong oleh pajak sementara imbal hasil reksadana kamu bisa kamu kantongi utuh!

    Nah, bagi kamu investor yang cari risiko aman dan investasi nyaman, tentu berinvestasi di reksadana pendapatan tetap terlihat lebih menguntungkan, bukan?

    Kalau kamu tertarik berinvestasi pendapatan tetap, kamu bisa mendapatkannya di Pluang! Di Pluang, kamu bisa mendapatkan reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang hanya Rp15.000 saja! Dijamin aman karena sudah diawasi oleh OJK!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bareksa, Reksadana Community



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Flippening, Momen Kala ETH Diramal Akan Salip BTC

    Jagat cryptocurrency kini diduduki oleh dua “penguasa pasar”. Sobat Cuan pasti sudah tahu jawabannya, yakni Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH), yang merupakan token native blockchain Ethereum.

    Kita juga mengetahui bahwa BTC selalu lebih unggul dari ETH dari segi kapitalisasi pasar. Data Coinmarketcap per 15 Juli 2021 menunjukkan bahwa BTC mengambil 45% pangsa pasar kripto sementara ETH mengambil porsi sekitar 17%. Namun, kini komunitas kripto mulai mewanti-wanti kondisi yang disebut sebagai the flippening.

    Apa itu flippening? Dan apakah itu adalah peristiwa yang cukup besar di pasar cryptocurrency?

    Penjelasan Flippening Secara Umum

    Flippening adalah sebuah peristiwa di mana ETH akan menggeser BTC sebagai cryptocurrency dengan kapitalisasi pasar terbesar. Seperti yang sudah kita ketahui, kapitalisasi pasar sendiri adalah

    Sejatinya, istilah flippening tak hanya menggambarkan ETH vs BTC semata, namun seluruh altcoin terhadap BTC. Namun, kini istilah ini dipergunakan dalam menggambarkan duel ETH dan BTC mengingat ETH menduduki peringkat ke-dua cryptocurrency berkapitalisasi pasar terbesar.

    Istilah ini mulai muncul pada 2017, ketika kapitalisasi pasar ETH benar-benar nyaris menyalip BTC.

    Di awal Februari 2017, nilai kapitalisasi pasar BTC mengambil 85% dari total kapitalisasi pasar aset kripto.

    Namun, pada 13 Juni 2017, ternyata dominasi BTC mulai terancam setelah kapitalisasi pasar ETH mengambil 32%. Sementara itu, market cap BTC melorot menuju angka 37%.

    Kondisi ini bikin komunitas kripto percaya bahwa ETH bisa jadi suatu saat akan merebut tahta BTC sebagai raja cryptocurrency.

    Meski memang, flippening urung terjadi setelahnya. Saat ini, BTC terbilang mengambil pangsa pasar 45,45% dari kapitalisasi pasar aset kripto sementara ETH mengambil 17,17%.

    Baca juga: BTC dan ETH Mencoba Rebound Setelah Melalui Pekan ‘Berdarah’

    Mengapa Flippening Tengah Menjadi Buah Bibir?

    Namun, kini komunitas kripto kembali mengantisipasi peristiwa ini. Utamanya, pasca harga ETH reli sejak awal tahun di periode altcoin season.

    Ketika altcoin season terjadi, ETH sempat mencapai rekor tertingginya di angka US$4.196 per keping pada 10 Mei 2021. Angka itu melesat 474,79% jika dibandingkan posisi awal tahun (year-to-date/ytd) di US$790

    Sejatinya, BTC juga mengalami reli hebat di tahun ini dan membuat harganya menyentuh US$60.000 di April lalu. Hanya saja, pertumbuhannya secara ytd kala itu hanya sebesar 106,11% saja, atau tiga kali lebih rendah dibanding ETH.

    Saat ini, memang harga aset kripto pun tengah tergelincir, begitu pun ETH dan BTC, di mana hal tersebut tentu mempengaruhi nilai kapitalisasi pasar keduanya.

    Meski demikian, komunitas kripto ternyata mencermati penurunan dominasi Bitcoin di pasar aset kripto sejak awal tahun. Hal tersebut membuat mereka yakin bahwa flippening bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

    Secara garis besar, kapitalisasi pasar BTC mengambil 70% dari total kapitalisasi pasar cryptocurrency secara total di awal 2021. Namun, nilai tersebut kini sudah melorot ke angka 45% hanya dalam enam bulan saja.

    Hal berbeda ditunjukkan oleh ETH. Di awal tahun, aset kripto besutan Vitalik Buterin cs ini mengambil kapitalisasi pasar 11%. Kini, nilai kapitalisasi pasar ETH malah menanjak ke 17%.

    Baca juga: Alasan Ethereum adalah Cryptocurrency yang Baik untuk Investasi

    Apakah Flippening Bakal Terjadi?

    Beberapa analisis dan komunitas kripto sejatinya juga meramal bahwa flippening mungkin bisa terjadi. Alasan utamanya adalah karakteristik ETH yang dianggap bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi sehari-hari dibandingkan BTC.

    Hal itu akan mendorong permintaan ETH terus bertambah dan, tentu saja, mengerek kapitalisasi pasarnya di masa depan.

    Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah himpunan analisis dari beberapa lembaga keuangan terkait potensi flippening di masa depan.

    1. Goldman Sachs: ETH Lebih Unggul dari BTC

    Perusahaan investment bank asal AS Goldman Sachs mengatakan bahwa ETH bisa mengalahkan BTC untuk menjadi aset digital penyimpan nilai paling utama. Pendapat itu disampaikan dalam sebuah memo kepada investor tertanggal 8 Juli 2021.

    Maraknya penggunaan ETH di masa depan, menurut Goldman Sachs, disebabkan karena masyarakat akan lebih banyak menggunakan blockchain Ethereum ketimbang Bitcoin.

    Alasannya, blockchain Ethereum memiliki teknologi smart contract, yang bisa digunakan untuk keperluan keuangan layaknya jasa keuangan konvensional. Misalnya, seperti menabung, pinjam-meminjam, dan lainnya.

    Sementara itu, blockchain Bitcoin tidak memiliki hal serupa karena hanya berbentuk buku besar semata, sehingga BTC dianggap “tidak memiliki nilai guna bagi kegiatan sehari-hari” seperti ETH.

    Selain itu, Goldman Sachs menilai bahwa komunitas kripto akan marak menggunakan ETH lantaran sistem blockchain Ethereum dianggap lebih “mulus” dibanding Bitcoin.

    Meski Ethereum akan mengalami difficulty time bomb, namun lembaga tersebut mengatakan bahwa sistem blockchain Bitcoin butuh waktu lebih lama untuk memproses transaksi. Mereka menduga bahwa blockchain Bitcoin sepertinya lebih fokus ke keamanan jaringan ketimbang memperbaruinya untuk kegiatan transaksi sehari-hari.

    2. Celsius: Proses Flippening sedang Dimulai

    Pendapat serupa juga dilontarkan oleh platform exchange kripto Celsius.

    Dalam sebuah wawancara dengan Kitco, CEO Celsius Alex Mashinsky mengatakan bahwa proses flippening antara ETH dan BTC memang tengah terjadi. Argumen tersebut ia dasarkan pada jumlah deposit ETH di platform Celsius yang kini sudah lebih besar dibandingkan BTC.

    Mashinsky mengatakan bahwa salah satu alasan utama terjadinya flippening adalah perbedaan penggunaan BTC dan ETH. Ia menyebut bahwa BTC lebih digunakan sebagai alat penyimpan kekayaan, sementara ETH digunakan untuk kepentingan decentralized finance seperto yield farming, crypto staking, dan lainnya.

    Berdasarkan hal ini, ia memprediksi bahwa kapitaisasi pasar ETH akan mengalahkan BTC di 2022 atau 2023 mendatang.

    Baca juga: Ethereum vs Bitcoin: Katanya Sekarang Ethereum Lebih Unggul, Kamu Pilih Mana?

    3. Bank of America: ETH Akan Mendisrupsi Industri Jasa Keuangan

    Dalam sebuah memonya awal tahun lalu, Bank of America pernah menyebut bahwa ETH akan mengungguli BTC karena kenaikan permintaan. Lagi-lagi, derasnya permintaan itu didorong oleh semakin banyaknya penggunaan teknologi DeFi.

    Dengan banykanya proyek DeFi di atas blockchain Ethereum, Bank of America mengatakan bahwa akan ada banyak pengguna yang membanjiri platform ini dan menggenggam Ethereum. Akibatnya, harga Ethereum ke depan akan semakin moncer.

    Analisis Bank of America ini bukanlah prediksi kaleng-kaleng. Mereka berkaca pada kondisi tahun lalu, di mana kenaikan pengguna DeFi yang melonjak juga bikin harga Ethereum melejit.

    Pada 2020, terdapat uang US$19 miliar yang terkunci di dalam protokol DeFi, atau melesat 1.800% dibanding posisi Januari yang hanya US$1 miliar. Di saat yang sama, peristiwa itu juga melejitkan harga Ethereum sebesar 450%.

    “DeFi berpotensi untuk mendisrupsi jasa keuangan dibanding Bitcoin,” ujar Bank of America.

    Nah, kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Pilih BTC atau ETH? Apapun pilihanmu, kamu bisa mendapatkannya di aplikasi Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Nasdaq, Binance, Investor Place



    Sumber : pluang.com

  • Apa Itu Indeks Saham? Memahami Barometer Pasar Modal

    Jika saham adalah “pemain” dalam pasar modal, maka indeks saham adalah “skor” yang menunjukkan performa keseluruhan dari para pemain tersebut. Memahami indeks sangat penting bagi investor karena ini adalah cara termudah untuk mengukur kondisi pasar secara umum.

    Definisi Indeks Saham

    Secara sederhana, indeks saham adalah ukuran statistik yang mencerminkan pergerakan harga sekelompok saham yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Indeks berfungsi sebagai barometer atau indikator yang memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi pasar saham secara keseluruhan.

    Sebagai contoh, ketika kamu mendengar “IHSG naik,” itu berarti rata-rata harga saham dari sebagian besar perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang mengalami kenaikan, karena IHSG adalah Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia. Sebaliknya, jika IHSG turun, ini menandakan sentimen negatif dan mayoritas harga saham sedang melemah.

    Indeks dihitung menggunakan metodologi tertentu, seperti rata-rata tertimbang berdasarkan kapitalisasi pasar. Artinya, saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang lebih besar (seperti BBCA atau BBRI) akan memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap pergerakan indeks dibandingkan saham dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil.

    Contoh-Contoh Indeks Saham di Indonesia

    Di Bursa Efek Indonesia (BEI), ada banyak sekali indeks yang masing-masing memiliki tujuan dan kriteria berbeda. Beberapa indeks yang paling populer dan sering dijadikan acuan adalah:

    • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): Ini adalah indeks paling utama di Indonesia. IHSG mengukur pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Papan Utama dan Papan Pengembangan BEI. IHSG sering disebut “cermin” atau indikator utama ekonomi Indonesia.
    • LQ45: Indeks ini terdiri dari 45 saham unggulan yang dipilih berdasarkan likuiditas transaksi (kemudahan jual-beli) dan kapitalisasi pasar yang besar. Saham-saham yang masuk dalam LQ45 adalah saham-saham “favorit” investor dan sering dianggap sebagai saham blue chip yang kuat.
    • Jakarta Islamic Index (JII): JII adalah indeks yang mengukur pergerakan harga 30 saham syariah yang paling likuid dan memiliki kapitalisasi pasar besar. Indeks ini menjadi acuan bagi investor yang ingin berinvestasi sesuai prinsip-prinsip Islam.
    • Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI): Berbeda dengan JII yang hanya mencakup 30 saham, ISSI mengukur kinerja harga seluruh saham syariah yang tercatat di BEI. Indeks ini adalah barometer yang lebih luas untuk pasar saham syariah di Indonesia.
    • IDX30: Indeks ini adalah versi yang lebih “ketat” dari LQ45, mengukur kinerja 30 saham dengan likuiditas dan fundamental yang sangat baik.
    • Indeks Sektoral: BEI juga memiliki indeks yang mengukur kinerja per sektor, seperti IDX Sektor Keuangan, IDX Sektor Energi, atau IDX Sektor Teknologi. Indeks-indeks ini berguna untuk melihat performa spesifik dari suatu industri.

    Memahami indeks saham dapat memberikan Sobat Cuan perspektif yang lebih luas daripada hanya melihat pergerakan satu saham. Indeks seperti IHSG adalah cermin besar yang menunjukkan kesehatan pasar dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Bagi investor, indeks bukan hanya angka, tetapi juga alat strategis. Kamu bisa menggunakannya sebagai tolok ukur (benchmark) untuk mengukur kinerja portofolio atau sebagai acuan untuk berinvestasi di produk seperti Reksa Dana Indeks (ETF), yang memungkinkan kamu membeli seluruh saham dalam indeks tersebut sekaligus. Dengan demikian, indeks bisa membantu kamu mengambil keputusan yang lebih terinformasi dan terstruktur.



    Sumber : pluang.com