Category: Pluang

  • Apa itu Crypto Futures?

      Ringkasan:

    • Crypto Futures memungkinkan trader berspekulasi pada harga aset kripto tanpa harus memiliki asetnya.
    • Trader dapat memperoleh keuntungan dari pasar yang naik maupun turun serta meningkatkan potensi keuntungan melalui Leverage.

    Seiring berkembangnya pasar aset kripto, Crypto Futures menjadi fokus utama bagi trader yang ingin memaksimalkan trading mereka. Crypto Futures menawarkan keuntungan unik dibandingkan trading pada umumnya, memungkinkan trader untuk meningkatkan potensi keuntungan dengan modal yang lebih sedikit serta memanfaatkan fluktuasi harga aset kripto.

    Crypto Futures adalah kontrak finansial yang memungkinkan kamu berspekulasi pada harga kripto, seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL). Nilai kontrak ini didasari pada harga aset acuannya sehingga kamu dapat memperoleh keuntungan dari pergerakan harga tanpa harus memiliki aset kriptonya secara langsung.

    Pluang kini menawarkan kontrak futures perpetual, jenis Crypto Futures yang tidak memiliki tanggal kadaluwarsa. Artinya, kamu dapat mempertahankan posisi trading-mu tanpa batas waktu selama memenuhi jaminan (Margin) yang cukup. 

    Dalam Crypto Futures, Sobat Cuan dapat:

    • Mengambil posisi Long jika kamu memprediksi harga kripto akan naik.
    • Mengambil posisi Short jika kamu memprediksi harga kripto akan turun.

    Selain itu, Crypto Futures memungkinkan kamu untuk menggunakan Leverage yang dapat membantu kamu mengendalikan posisi lebih besar dengan modal lebih kecil. Meskipun Leverage dapat memperbesar keuntungan, ingat bahwa risiko juga ikut meningkat.

    Kelebihan:

    • Potensi Keuntungan Dua Arah: Kamu dapat mengambil keuntungan dari pasar yang naik (posisi Long) maupun turun (posisi Short).
    • Memperbesar Potensi Keuntungan dengan Leverage: Leverage memungkinkan kamu mengendalikan posisi lebih besar dengan modal yang lebih kecil.
    • Hedging: Kamu dapat melindungi nilai asetmu dari volatilitas harga dengan mengambil posisi Crypto Futures yang berlawanan.

    Kekurangan:

    • Risiko Lebih Tinggi Akibat Leverage: Leverage tidak hanya memperbesar keuntungan, tetapi juga kerugian. Hal ini menyebabkan kemungkinan kerugian yang lebih besar dari pada modal awal.
    • Biaya Berkala: Memegang posisi Crypto Futures dapat dikenakan Funding Payment yang bisa bertambah seiring waktu dan mengurangi hasil trading.
    • Risiko Likuidasi: Jika pasar bergerak jauh melawan posisi yang memiliki Leverage tinggi, likuidasi paksa bisa terjadi. Hal ini menyebabkan hilangnya seluruh modal awal.
    • Kepemilikan: Trading Spot berarti benar-benar memiliki aset kripto yang dibeli, sedangkan Crypto Futures hanya berspekulasi pada pergerakan harga tanpa kepemilikan aset.
    • Potensi Keuntungan & Kerugian: Spot hanya menghasilkan keuntungan dari kenaikan harga, sementara Crypto Futures memungkinkan posisi leverage, memperbesar baik keuntungan maupun kerugian.
    • Pergerakan Pasar: Spot hanya menguntungkan saat harga naik, sedangkan Crypto Futures memungkinkan keuntungan dari pergerakan harga ke arah naik dan turun.

    Crypto Futures adalah alat trading yang efektif. Menawarkan potensi keuntungan lebih besar dan strategi trading dua arah. Memahami perbedaan antara Spot dan Crypto Futures membantu Sobat Cuan menavigasi pasar dengan lebih efektif serta memanfaatkan peluang yang ada. Yuk pelajari lebih lanjut tentang Crypto Futures untuk memaksimalkan produk ini!



    Sumber : pluang.com

  • Apa itu Long & Short?

      Ringkasan:

    • Crypto Futures memungkinkan Sobat Cuan untuk mengambil posisi Long dan Short pada aset kripto.
    • Posisi Long menghasilkan keuntungan ketika harga kripto naik.
    • Posisi Short menghasilkan keuntungan ketika harga kripto turun.

    Saat trading Crypto Futures, kamu memiliki dua posisi untuk dipilih: Long dan Short. Memahami kedua istilah ini sangat penting bagi siapa saja yang ingin melakukan trading Crypto Futures karena keduanya memungkinkan kamu untuk memperoleh keuntungan, baik ketika pasar bergerak naik maupun turun. Mari kita bahas lebih lanjut:

    Posisi Long berarti kamu berspekulasi bahwa harga suatu aset kripto akan naik. Setelah membuka posisi Long, kamu akan memperoleh keuntungan jika harga naik melebihi level pada saat kamu memasuki posisi.

    Posisi short adalah kebalikannya—kamu berspekulasi bahwa harga aset kripto akan turun. Setelah membuka posisi Short, kamu akan memperoleh keuntungan jika harga turun di bawah level pada saat kamu memasuki posisi.

    Bayangkan kamu memperkirakan harga emas akan naik dari $1.800 per gram. Daripada membeli emas secara langsung, kamu “meminjam”nya melalui bursa dengan membuka kontrak futures perpetual dengan posisi Long pada aset emas. Ini memungkinkan kamu untuk setuju membeli emas pada harga $1.800. Jika harga naik menjadi $1.900, kamu menjualnya di harga yang lebih tinggi dan mendapatkan selisihnya. 

    Sebaliknya, jika kamu memperkirakan harga akan turun, kamu bisa “meminjam” emas untuk dijual pada harga $1.800 per gram, meskipun kamu tidak memilikinya. Jika harga turun menjadi $1.700, kamu membelinya kembali dengan harga yang lebih rendah dan mendapatkan keuntungan dari selisih $100 per gram. Mekanisme ini memungkinkan kamu untuk memperoleh keuntungan baik dari pasar yang naik maupun turun, tanpa harus memiliki emas secara langsung.

    Dalam pasar tradisional seperti Spot, kamu biasanya hanya mendapatkan keuntungan ketika harga naik. Namun dengan Crypto Futures, kamu dapat memperoleh keuntungan baik ketika pasar bergerak naik maupun turun.



    Sumber : pluang.com

  • Bagaimana Pengaruh COVID-19 Delta Terhadap Pasar Saham AS?

    Pandemi COVID-19 seolah-olah tak menemui ujung meski sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya. Peristiwa ini bikin ekonomi global porak poranda, tak terkecuali pasar saham AS beserta tiga indeks saham utamanya: Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq.

    Kini, kekhawatiran pasar kembali memuncak setelah hadirnya varian virus COVID-19 yang lebih parah. Yakni, COVID-19 varian delta. Kini, varian yang dianggap cukup berbahaya ini sudah menyergap 96 negara, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat.

    Mengapa pasar cukup khawatir? Sebab, penyebaran COVID-19 varian delta ditakutkan akan bikin negara-negara melakukan pembatasan sosial untuk ke-sekian kalinya.

    Alhasil, kegiatan ekonomi akan mandeg dan berdampak besar ke kinerja beberapa perusahaan. Adapun lesunya kinerja beberapa korporasi itu tentu menjadi alasan fundamental melemahnya nilai saham-sahamnya.

    Tapi, seberapa takutkah investor akan peristiwa tersebut saat ini?

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak 3 Tanda Kamu Belum Siap Investasi S&P 500!

    Apakah Ketakutan COVID-19 Varian Delta Sudah Merambah Pasar Saham AS?

    Masih hangat dari ingatan bagaimana indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq mencatat penurunan terparah sejak krisis finansial 2008. Bahkan, indeks Dow Jones sempat turun 1.191 poin, yang menjadi penurunan terparah dalam 12 tahun terakhir.

    Kini, kekhawatiran serupa pun melanda Wall Street yang ditandai dengan merahnya seluruh kinerja indeks saham AS pada pekan kedua Juli tersebut.

    Ya, pelaku pasar saat ini memang sangat fokus memperhatikan dampak varian COVID-19 ini. Bahkan, hal ini pun bikin kinerja saham AS memerah pada Kamis (9/7).

    Di hari itu, indeks Dow Jones turun 259,86 poin. Sementara itu, nilai indeks S&P 500 turun 0,86% secara harian meski masih ditutup di atas level 4.300. Seluruh penurunan itu disebabkan oleh anjloknya nilai-nilai saham yang seharusnya mendulang untung kala ekonomi tercatat membaik.

    Sebut saja saham-saham perusahaan jasa transportasi seperti United Airlines dan Delta Airlines yang melorot 1%. Atau, nilai saham-saham perusahaan penyedia chip seperti Nvidia yang turun 2,3% dan Intel yang turun 1%. Biasanya, saham perusahaan penyedia chip ini memang mencatat cuan dari kuatnya pemulihan ekonomi global.

    Pertanyaannya, apakah kondisi ini bisa menjadi gerbang anjloknya kinerja pasar saham AS dalam beberapa saat mendatang.

    Apakah Investor Pasar Saham AS Perlu Khawatir dengan COVID-19 Delta?

    Sesuai data terakhir US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), varian Delta telah mengambil 20% dari total kasus COVID-19 di negara adidaya tersebut.

    Tentu saja, hal ini bisa berujung pada penutupan kembali kegiatan ekonomi jika memang penyebarannya tak terkendali. Ujung-ujungnya, nilai saham di indeks utama AS bisa saja terus melorot.

    Hanya saja, perusahaan investment bank JP Morgan memberi jawaban yang berbeda. Di dalam memonya kepada investor awal pekan lalu, mereka justru mengatakan bahwa varian baru ini malah bisa mendorong nilai saham-saham value stocks. Memang, secara karakteristik, saham yang tergolong value stocks sangat menggantungkan harapan ke siklus ekonomi.

    Di samping itu, JP Morgan meyakini bahwa tingkat vaksinasi yang kencang di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden tidak serta-merta membuat kegiatan ekonomi AS langsung ditutup, seperti yang terjadi tahun lalu. Sehingga, kinerja keuangan perusahaan-perusahaan AS, kalau pun anjlok, tidak akan separah tahun lalu.

    Adapun hingga 9 Juli, sebanyak 55,4% penduduk AS sudah menerima vaksin setidaknya satu dosis.

    Selain itu, mereka juga meyakini bahwa indeks pasar saham AS masih akan mendapat angin segar dari kebijakan pro-stimulus milik Biden. Hal itu diharapkan bisa meningkatkan permintaan barang dan jasa, yang tentu saja berdampak positif ke keuangan perusahaan-perusahaan AS di tahun ini.

    Baca juga: Pekan ini, Earning Season dan Laporan Ekonomi Bikin Indeks Saham AS Lepas Landas

    Indeks S&P 500 Akan Teruskan Momentum

    Sementara itu, founder dari Sundial Capital Research Jason Goepfert mengatakan bahwa S&P 500 sedang mengalami “momentum” kuat setelah menunjukkan reli dalam lima bulan berturut-turut. Dan sesuai kajian data historis yang dilakukan perusahaannya, momentum itu tak akan bisa “diputus” oleh disrupsi apapun begitu saja.

    Memang, terdapat beberapa kasus di mana indeks S&P 500 langsung terjun parah setelah mengalami reli lima bulan, seperti 2020 dan 2018. Di mana, nilai indeks yang berisikan 500 perusahaan top AS itu anjlok 6,5% dan 5,4% dua bulan setelah reli berakhir.

    Namun menurut Goepfert, reli ini berbeda. Sebab, dalam lima bulan ke belakang, indeks ini terus-terusan mencetak rekor tertingginya sepanjang masa. “Sejauh yang kami tahu, momentum ini tidak akan selesai dengan cepat,” tutur dia.

    Komentar setali tiga uang dilontarkan founder Bespoke Investment Group Paul Hickey. Melihat tren sejarah, menurutnya indeks S&P 500 jarang “mengempis parah” setelah melalui reli yang hebat selama berbulan-bulan. Biasanya, semakin lama reli yang dialami S&P 500, maka akan semakin kokoh pula indeks tersebut ketika diterpa badai hebat.

    Ia mencontohkan kondisi yang terjadi saat ini. Nilai indeks S&P 500 ternyata menorehkan kinerja positif, yakni naik lebih dari 5%, selama lima kuartal berturut-turut.

    Kondisi ini sebenarnya serupa dengan tahun 1954 silam. Pada saat itu, reli diakhiri dengan penurunan nilai singkat sebesar 6%, namun tetap menorehkan pertumbuhan kuartalan sebesar 1,7%.

    Data tersebut, ditambah dengan kebijakan pro pertumbuhan pemerintah AS, seharusnya memang disikapi dingin oleh para investor. Nah, kalau kamu sendiri bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu juga khawatir berinvestasi di indeks pasar saham AS di masa seperti ini atau tidak?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Barrons, Market Watch



    Sumber : pluang.com

  • Panduan Singkat Mengenai Jenis dan Kategori Cryptocurrency Saat Ini

    Sobat Cuan pasti paham kalau jagat cryptocurrency berukuran sangat luas. Betapa tidak, terdapat sekitar lebih dari 10.000 aset kripto yang terdapat di dalamnya.

    Mungkin, kamu sudah mengenal sang raja aset kripto yakni Bitcoin. Atau, kamu mungkin saja sudah familiar dengan Ethereum, sang pengekor Bitcoin paling utama. Tetapi, terdapat pula jenis cryptocurrency lainnya yang memiliki nama berbeda dan bahkan mungkin jarang kamu dengar sebelumnya.

    Kondisi di atas mungkin bikin kamu bertanya-tanya: Apakah sifat semua cryptocurrency sama? Apa sih yang membedakan satu aset kripto dengan lainnya? Kemudian, apakah Bitcoin bersifat sama dengan Litecoin, DOT, atau ADA?

    Sejatinya, satu aset kripto punya karakteristik dan kegunaan yang berbeda dibanding lainnya. Makanya, kancah cryptocurrency mengenal kategorisasi koin-koin kripto berdasarkan nilai gunanya.

    Kamu pun tentunya juga perlu memahami kategori ini. Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang, maka tentunya tak afdol jika kamu tak memahami dengan benar seluk beluk aset kripto aset jagoanmu.

    Penasaran seperti apa kategorisasi aset kripto yang terdapat saat ini? Namun, sebelum melangkah ke sana, ada baiknya pun memahami alasan di balik banyaknya jumlah aset kripto yang beredar saat ini.

    Baca juga: Yuk, Kenalan Dengan 2 Jenis Indikator Ekonomi yang Pengaruhi Investasi

    Alasan Mengapa Banyak Jenis Cryptocurrency

    Sebelas tahun lalu, jagat ini hanya mengenal satu cryptocurrency. Yakni, tak lain dan tak bukan, adalah Bitcoin.

    Pengembang Bitcoin, Satoshi Nakamoto, saat itu berharap bahwa Bitcoin bisa menjadi mata uang digital yang bisa digunakan untuk transaksi daring. Di mana, seluruh transaksi tersebut dibangun di atas sebuah teknologi yang bernama blockchain.

    Pastinya Sobat Cuan sudah familiar sudah teknologi blockchain bukan? Ya, teknologi ini memungkinkan penggunanya bertransaksi dan memanfaatkan jasa keuangan tanpa harus melalui peran perantara (intermediaries) seperti di jasa keuangan konvensional.

    Teknologi ini pun terbilang cukup aman. Sebab, meski bisa diakses bebas, teknologi blockchain hanya bisa diutak-atik melalui satu algoritma konsensus tertentu. Kebetulan, untuk Bitcoin, algoritma tersebut bernama Proof of Work.

    Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi blockchain pun tak hanya sekadar digunakan untuk transaksi. Teknologi tersebut kemudian menjelma menjadi proyek jasa keuangan, penyimpanan data pribadi, machine learning, dan lainnya. Sehingga, masing-masing blockchain tersebut pun akhirnya punya cryptocurrency-nya tersendiri dengan fungsi sebagai “motor” teknologi tersebut.

    Intinya, banyaknya aset kripto mewakili keragaman fungsi blockchain yang ada saat ini. Namun, terdapat pula alasan lain yang mendasari banyaknya jenis cryptocurrency beredar dewasa ini.

    1. Imbal Hasil yang Besar

    Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa maraknya cryptocurrency disebabkan oleh suksesnya Bitcoin. Kesuksesan tersebut tercermin dari kenaikan harganya yang fantastis, bahkan mencapai di kisaran US$33.000 seperti saat ini.

    Awalnya, memang banyak pihak yang sangsi dengan Bitcoin. Tapi, delapan hingga sembilan tahun kemudian, mereka pun melihat banyak sekali pihak yang mendulang cuan hanya dengan menggenggam aset kripto satu ini.

    Maka dari itu, tak heran jika banyak pengembang yang “menunggangi” kesuksesan Bitcoin dengan meluncurkan banyak koin. Hanya saja, beberapa di antaranya mungkin tidak memiliki manfaat atau nilai guna yang jelas.

    Baca juga: Harga Bitcoin, Ethereum, dan Cryptocurrency Lain Diprediksi Meroket

    2. Forking

    Forking juga bisa menjadi alasan kenapa banyak sekali jenis cryptocurrency di jagat kripto.

    Seperti yang kita tahu, forking terjadi ketika pengembang merasa bahwa aspek fundamental dari sistem blockchain yang ada saat ini harus diubah. Faktor pendorong perubahan itu bisa bermacam-macam, mulai dari masalah keamanan, nilai guna, dan lainnya.

    Perubahan itu bisa terjadi menjadi dua, yakni soft fork dan hard fork. Nah, penciptaan aset kripto baru biasanya terjadi dalam proses hard fork. Yakni, proses di mana perubahan protokol blockchain yang baru membuat pengguna tidak bisa kembali mengakses protokol versi sebelumnya.

    Beberapa contoh aset kripto baru yang terbentuk dari forking adalah Ethereum Classic dan Ether Zero dari hard fork Ethereum. Terdapat pula Bitcoin Cash dan Bitcoin Gold, yang merupakan “pencabangan” dari Bitcoin.

    3. Inovasi Baru

    Inovasi teknologi blockchain yang kian variatif pun memunculkan aset kripto yang baru untuk digunakan di dalamnya. Biasanya, blockchain baru ini muncul untuk menutupi kekurangan yang terjadi pada blockchain-blockhain lain yang sudah ada.

    Anggap saja blockchain Cardano, di mana algoritma konsensus Proof of Stake miliknya dianggap bisa menutupi kekurangan algoritma Proof of Work di Bitcoin atau Ethereum.

    Mengenal 5 Jenis Cryptocurrency

    Nah, seluruh cryptocurrency yang beredar disebut kemudian digolongkan ke dalam beberapa kategori tertentu. Kategori-kategori ini tentu saja disusun berdasarkan nilai gunanya (use case) dan manfaatnya.

    Apa saja jenis-jenis aset kripto yang beredar saat ini?

    1. Penyimpan Kekayaan (Store of Value)

    Contoh: Bitcoin dan Bitcoin Cash

    Jenis cryptocurrency dalam kategori ini dianggap mampu mempertahankan nilai kekayaan seseorang jauh lebih baik dibandingkan uang tunai, bahkan emas sekali pun. Hal tersebut bisa didapatkan karena memang sifat aset kripto ini mirip seperti uang fiat dan juga suplainya yang cenderung langka di muka bumi ini.

    Terdapat tiga keunggulan mengapa cryptocurrency bisa berfungsi sebagai alat pelindung kekayaan.

    1. Penyimpanan cenderung murah dan aman dibandingkan dengan instrumen lain, seperti tabungan tunai dan emas. Yang dibutuhkan hanyalah wallet untuk menyimpan koin-koin tersebut.
    2. Kelangkaan suplai. Harga jenis crptocurrency satu ini memang ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Namun, karena suplainya yang kian menipis antar tahun, hukum ekonomi menyebut bahwa harganya bisa bernilai di masa depan. Asal, permintaan dan likuiditasnya juga semakin deras.
    3. Pelindung Nilai Harta dari inflasi. Sampai saat ini, belum ada penelitian yang menerangkan korelasi pergerakan harga aset kripto dengan tingkat inflasi. Sehingga, masyarakat bisa membenamkan dananya ke kategori aset kripto saat ini saat inflasi meradang.

    Baca juga: Mengenal Jenis Obligasi Pemerintah, Underlying Asset Reksadana Pendapatan Tetap

    2. Mata Uang Digital (Digital Currencies)

    Contoh: Litecoin, Dash, Monero, Zcash

    Jenis cryptocurrency ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari. Tidak seperti mata uang kripto yang berkategori penyimpan kekayaan, mata uang digital ini tidak begitu peduli dengan mempertahankan daya beli pemiliknya di jangka panjang.

    Mereka memiliki pesaing utama, yakni transaksi digital yang digawangi oleh dua payment gateway terkenal yaitu Mastercard dan Visa. Memang, terlihat sulit bagi digital currencies untuk bersaing dengan keduanya. Hanya saja, mereka bisa lebih unggul karena:

    1. Biaya transaksi yang lebih hemat dibandingkan penggunaan kartu kredit Visa atau Mastercard. Selama ini, biaya transaksi elektronik lewat kartu debit atau kredit dikenakan biaya hingga 1-2% untuk merchant. Bank digital seperti Koho, Revolut, Monzo menghasilkan sebagian besar pendapatannya dari pertukaran kartu debit. Nah, di sini aset kripto yang berfungsi mata uang digital berpotensi lebih hemat dibandingkan tawaran bank-bank digital tersebut. Terutama untuk transfer uang dalam jumlah besar (biaya transaksi aset kripto biasanya merupakan biaya tetap yang berskala lebih baik dengan pembayaran besar).
    2. Jenis-jenis aset kripto dalam kategori mata uang digital menjaga privasi penggunanya lebih baik. Pembelanjaan dengan aset kripto tidak terlacak, sehingga ideal untuk merchants yang menjalankan bisnis di pasar gelap/grey market. Itulah mengapa Monero, mata uang digital yang mengutamakan privasi, sangat populer digunakan dalam transaksi ilegal.

    3. Koin Utilitas (Utility Coins)

    Contoh: Ethereum, Binance Coin, Cardano, Polkadot

    Intinya, koin-koin ini merupakan mata uang yang berlaku untuk membayar barang atau jasa yang tersedia di satu jaringan tertentu. Biasanya, koin-koin ini digunakan untuk tetap menjaga keandalan sistem-sistem blockchain yang memiliki fitur smart contract.

    Sebagai contoh, Ethereum meminta penggunanya untuk membayar sekian Ether (ETH) untuk menjaga keandalan sistem jaringannya. Begitu pun Polkadot yang juga mengharuskan penggunanya membayar biaya transaksi agar bisa berinteraksi dengan smart contract.

    Cryptocurrency jenis ini biasanya akan melancarkan penawaran umum perdana (Initial Coin Offering/ICO) untuk menggalang dana awal dalam “memanaskan” sistem blockchain yang mereka miliki. Selebihnya, mereka akan mensubsidi ongkos operasi dan pengembangan blockchain tersebut ke depan.

    Namun, agar koin-koin ini punya daya nilai yang menarik, maka pengembang juga harus pintar-pintar merayu pecinta aset kripto dalam memanfaatkan jaringan blockchain baru miliknya. Makanya, masing-masing pengembang pun berlomba-lomba menciptakan teknologi blockchain atau smart contract yang mutakhir, sehingga koin mereka pun pada akhirnya akan memiliki nilai guna yang tinggi.

    Berbeda dengan Bitcoin yang dibatasi jumlahnya sebanyak 21 juta keping saja, suplai koin utilitas terbilang tidak dibatasi (uncapped). Sayangnya, hal ini membuat jenis cryptocurrency tersebut rentan terhadap inflasi yang menyebabkan devaluasi koin.

    4. Koin Sekuritas (Security Coins)

    Contoh: USDT, BCap

    Koin sekuritas adalah representasi digital dari aset “beneran” yang terdapat di dunia nyata, untuk kemudian dicatat di dalam transaksi blockchain. Koin jenis ini merupakan subjek dari regulasi yang ada saat ini.

    Namun, mengapa sih pengguna aset kripto melakukan tokenisasi atas aset nyata yang ada di dunia ini?

    1. Meningkatkan likuiditas. Mayoritas aset sektor swasta tidak likuid dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Misalnya, real estate dan sekuritas swasta biasanya sangat mahal untuk diperdagangkan. Biasanya butuh waktu lama untuk menemukan pembeli/mitra penjual yang cocok untuk menjalankan transaksi. Sementara, token sekuritas relatif dapat langsung diperdagangkan di bursa.
    2. Kepemilikannya tersebar dalam pecahan (fractional). Saat aset berharga diberi token, maka kepemilikannya dapat dipecah menjadi banyak bagian pecahan (fractional pieces). Ini memungkinkan jenis aset ini menjadi lebih terjangkau dan dapat diakses oleh investor ritel karena mereka dapat membeli sebagian kecil aset dengan harga lebih rendah.
    3. Pengelolaan dapat terpisah (unbundling). Tokenisasi sekuritas dapat memungkinkan jenis asetnya untuk memisahkan fitur-fitur tertentu untuk menjamin privasi yang lebih terjaga.

    5. Koin Meme (Meme Coins)

    Contoh: Dogecoin, Shiba Inu

    Keberadaan koin satu ini memang cukup kontroversial. Sebab, sesuai namanya, koin ini merupakan representasi dari guyonan atau meme yang tersebar di jagat maya.

    Dogecoin, misalnya, adalah pionir dari golongan koin yang satu ini. Koin ini sendiri terinspirasi dari meme doge yang cukup terkenal di internet. Memang, koin jenis ini berjalan di atas blockchain-nya sendiri. Hanya saja, banyak yang masih meragukan nilai inherennya serta manfaatnya yang utama.

    Belakangan, nilai meme koin meroket berkat asupan endorse influencer, pemberitaan media yang berlebihan, hingga postingan media sosial.

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak 6 Cara Memilih Altcoin yang Tepat Untukmu!

    Jenis Cryptocurrency Apa yang Paling Populer Saat Ini?

    Untuk mengetahui hal ini, Sobat Cuan tinggal mencari jumlah kapitalisasi pasar masing-masing kategori di dalam peta panas (heatmap) berikut ini

    Jenis Cryptocurrency
    Jenis-Jenis Cryptocurrency Populer. Sumber: Coinmarketcap

    Dari grafik di atas, diketahui bahwa aset kripto yang paling digenggam pengguna aset kripto adalah koin-koin yang berfungsi sebagai alat penyimpan kekayaan, dengan porsi hampir mencapai 50%. Tentunya, hal ini bisa terjadi karena peran Bitcoin, cryptocurrency dengan kapitalisasi pasar nomor wahid di dunia.

    Jenis cryptocurrency populer kedua adalah utility coins, yang diwakili oleh centralized exchange dan smart contracts di heatmap di atas. Kondisi itu juga bisa terjadi berkat koin-koin top 10 kapitalisasi pasar terbesar seperti ETH, DOT, ADA, dan BNB.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Coinmarketcap, Hodlbot, Bobsguide



    Sumber : pluang.com

  • Terminologi Umum Crypto Futures

    Pelajari

    Terminologi Umum Crypto Futures

    5014 dilihat·Waktu baca: 4 menit

    glossarycryptofutures

    Jangan takut sama bahasa baru yang ada di Crypto Futures! Kenali semuanya di sini! 

    1. Kontrak Futures: Kontrak futures adalah perjanjian keuangan untuk membeli atau menjual aset tertentu pada harga yang telah ditentukan di tanggal yang akan datang. Kontrak ini memiliki tanggal kedaluwarsa yang membuat para trader wajib menyelesaikan ketentuan kontrak.

    2. Kontrak Perpetual: Kontrak perpetual adalah jenis kontrak futures yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Hal ini memungkinkan trader untuk mempertahankan posisi tanpa batas waktu.

    3. Kontrak Futures Perpetual Kripto: Jenis Kontrak perpetual yang nilainya berasal dari aset kripto.

    4. Long: Posisi Long adalah posisi trading yang menghasilkan keuntungan bila harga suatu aset naik. Biasanya, posisi Long diambil ketika trader memprediksi harga aset akan naik.
    5. Short: Posisi Short adalah posisi trading yang menghasilkan keuntungan bila harga suatu aset turun. Biasanya, posisi Short diambil ketika trader memprediksi harga aset akan turun.
    6. Leverage: Leverage memungkinkan trader untuk mengontrol posisi yang lebih besar dengan modal yang lebih kecil menggunakan dana pinjaman. Sebagai contoh, trading dengan Leverage 25x memungkinkan kamu untuk mengontrol posisi trading senilai $1,000 hanya dengan $40 sebagai modal (juga dikenal sebagai margin). Meskipun Leverage dapat memperbesar keuntungan, Leverage juga meningkatkan potensi kerugian, menjadikan manajemen risiko hal yang sangat penting.
    7. Harga Mark: Mark Price adalah harga referensi yang dihitung berdasarkan kombinasi harga Spot dan faktor lainnya seperti Funding Rate dan kondisi pasar. Harga Mark digunakan untuk mencegah likuidasi yang tidak perlu ketika volatilitas pasar sedang tinggi dan membuat posisi trading kurang terpengaruh oleh lonjakan atau penurunan harga secara tiba-tiba.
    8. Margin: Margin adalah jaminan yang diperlukan untuk membuka dan mempertahankan posisi dengan Leverage. Margin menentukan ukuran posisi maksimum yang dapat dimiliki oleh seorang trader.
    9. Jumlah: Total kontrak yang dimiliki dalam posisi terbuka.
    10. Ukuran Posisi: Ukuran dari Jumlah posisi kamu dalam USDT.
    11. Margin Maintenance: Margin Maintenance adalah saldo minimum yang diperlukan dalam Saldo Margin untuk mempertahankan posisi Crypto Futures. Jika margin turun di bawah level ini, semua posisi dapat terlikuidasi. Di Pluang, Maintenance Margin untuk Crypto Futures bergantung pada Leverage dan total Jumlah posisi.
      Contoh: Jika kamu memegang posisi senilai $1,000 di BTCUSDT-PERP dan $2.000 di ETHUSDT-PERP, total ukuran posisi kamu dalam USDT adalah 3,000 USDT. Dengan Leverage 25x, Margin Maintenance% kamu adalah 1%. Jadi, Margin Maintenance = $30 (1% dari $3,000). Jika margin turun di bawah $30, maka semua posisi akan terlikuidasi.

    12. Saldo Margin: Total margin yang tersedia untuk membuka dan mempertahankan posisi. Saldo Margin adalah jumlah dari Saldo Wallet dan Unrealized P&L.
    13. Margin Ratio: Rasio Margin mencerminkan tingkat risiko posisi kamu yang ditunjukkan dengan proporsi Margin Maintenance terhadap jumlah dari Margin Tersedia dan total Margin Maintenance di Wallet kamu. Rasio Margin yang lebih tinggi mengartikan risiko likuidasi yang lebih besar.

    14. Saldo Wallet: Total saldo yang ada di dompet kamu.
    15. Unrealized P&L: Total keuntungan atau kerugian dari posisi terbuka saat ini.
    16. Sedang Digunakan: Margin yang digunakan untuk membuka dan mempertahankan posisi.
    17. Dapat Dipindahkan: margin yang dapat ditarik yang belum digunakan dalam akun margin.

    18. Margin Tersedia: Margin yang dapat digunakan untuk membuka posisi baru. Kamu bisa membuka posisi lebih besar dari jumlah ini Margin Tersedia, tergantung pada leverage kamu.

    19. Margin Call: Margin Call adalah sebuah peringatan yang diberikan ketika rasio margin kamu mencapai 50% dan 75%. Margin Call mendorong kamu untuk menambahkan USDT ke Akun Margin USDT atau menutup beberapa posisi terbuka untuk mengurangi risiko likuidasi.
    20. Likuidasi: Likuidasi terjadi ketika seluruh posisi terbuka otomatis ditutup karena rasio margin menyentuh nilai 100%. Hal ini biasanya terjadi ketika kamu memiliki Unrealized Loss yang berlebihan sehingga Saldo Margin turun di bawah nilai margin Maintenance yang diperlukan.
    21. Harga Likuidasi: Harga likuidasi adalah harga spesifik milik kontrak posisi terbuka kamu yang memicu likuidasi. Ketika harga kontrak mencapai nilai ini, posisi akan otomatis ditutup untuk meminimalkan kerugian lebih lanjut. Sisa margin akan digunakan untuk menutupi kerugian tersebut.
    22. Margin Order: Total margin yang dialokasikan untuk pesanan terbuka. 

    23. Funding Rate: Funding Rate adalah persentase pembayaran yang digunakan pada Funding Payment, proses pembayaran antara pemegang posisi Long dan Short untuk menjaga harga Crypto Futures tetap selaras dengan harga Spot. Pendanaan ini dibayarkan setiap 8 jam dan dihitung dengan mengalikan Funding Rate dengan ukuran posisi. Jika harga Crypto Futures lebih tinggi dari harga Spot, pemegang posisi Long membayar posisi Short, dan sebaliknya.

      Impact Bid Price: Harga rata-rata harga Bid dalam Order Book.
      Impact Ask Price: Harga rata-rata harga Ask dalam Order Book.
      Price Index: Harga rata-rata nilai aset pada harga Spot dari berbagai bursa.

    24. Countdown: Waktu hitung mundur yang menunjukkan kapan Funding Payment berikutnya akan terjadi untuk setiap pasangan trading di kontrak Crypto Futures.
    25. Reduce-Only: Reduce-Only adalah tipe eksekusi order yang hanya mengurangi atau menutup posisi yang terbuka. Misalnya, membuka posisi Short dengan opsi "Reduce-Only" saat memiliki posisi Long hanya akan mengurangi atau menutup posisi Long tersebut tanpa secara tidak sengaja membuka posisi Short baru.
    26. Post Only: Post-Only adalah tipe eksekusi order yang memastikan order kamu ditambahkan ke Order Book sebagai maker order, sehingga menghindari biaya taker dengan berkontribusi pada likuiditas tanpa langsung mencocokkan order yang sudah ada.
    27. Cross Margin: Cross Margin adalah mode yang membagi seluruh saldo yang tersedia di Saldo Margin seorang trader ke semua posisi. Cross Margin memungkinkan Unrealized Profit dari posisi terbuka digunakan sebagai modal untuk membuka posisi baru. Namun, karena semua saldo digabungkan, risiko juga terbagi ke semua posisi.
    28. Isolated Margin: Isolated Margin adalah mode yang mengalokasikan margin ke satu posisi tertentu sebagai jaminan. Isolated Margin membatasi Unrealized Profit dan risiko posisi tersebut untuk mempengaruhi posisi lain. Hal ini dapat melindungi posisi lain dan keseluruhan Saldo Margin dari kemungkinan kerugian yang ada.
    29. Tick Size: Kenaikan harga minimum untuk suatu kontrak, diukur dalam USDT.
    30. Funding Rate Settled: Waktu yang dijadwalkan untuk Funding Fee antara posisi Long dan Short.
    31. Open Interest: Total jumlah kontrak (Long dan Short) yang masih terbuka. Jumlah ini  mencerminkan likuiditas dan aktivitas pasar dari kontrak futures tertentu. Open Interest yang tinggi sering kali menandakan pasar yang lebih aktif.
    32. Insurance Fund: Dana cadangan yang digunakan untuk menutupi kerugian likuidasi yang melebihi saldo akun trader, dengan tujuan untuk menjaga stabilitas pasar dan mengurangi dampak pada trader lain.

    Bagikan artikel ini

    Artikel Terkait



    Sumber : pluang.com

  • Apa itu Leverage di Crypto Futures?

      Ringkasan:

    • Leverage memungkinkan trader mengontrol posisi yang lebih besar dengan modal lebih kecil, memperbesar keuntungan dari perubahan harga kecil.
    • Leverage bekerja dalam dua arah. Tidak hanya dapat meningkatkan keuntungan, tetapi juga bisa menambahkan kerugian signifikan jika pasar bergerak berlawanan.
    • Leverage membantu memaksimalkan keuntungan dengan modal terbatas, tetapi manajemen risiko yang baik sangat penting karena potensi kerugian yang lebih tinggi.

    Dalam dunia Crypto Futures, Leverage adalah alat yang sangat membantu para trader yang ingin memperbesar potensi keuntungan mereka. Leverage memungkinkan kamu melakukan trading dalam jumlah besar dengan investasi awal yang lebih kecil. Mari kita pelajari lebih dalam tentang mekanisme Leverage.

    Leverage dalam trading mengacu pada peminjaman dana untuk meningkatkan ukuran posisi tanpa harus menyediakan seluruh modal sendiri. Dalam kata lain, Leverage memperbesar daya beli kamu. Sebagai contoh, dengan Leverage 25x, kamu dapat mengontrol posisi senilai $2,000 hanya dengan modal $80 (25 x $80 = $2,000). 

    Leverage Dinamis (Dynamic Leverage) di Pluang 

    Di Pluang, kamu bisa mengatur Leverage yang mau dipakai dalam kelipatan 1, baik 2x, 5x, 10x, ataupun 25x. Dengan fitur ini, Sobat Cuan bebas menyesuaikan tingkat risiko dan strategi trading sesuai kebutuhan—mulai dari gaya konservatif dengan leverage rendah, hingga strategi agresif dengan leverage tinggi untuk memaksimalkan potensi keuntungan. 

    Pelajari lebih lanjut tentang Dynamic Leverage di sini.

    Trader menggunakan Leverage untuk memaksimalkan potensi keuntungan. leverage memungkinkan pergerakan harga kecil menghasilkan keuntungan signifikan, terutama di pasar kripto yang volatil. Dalam Spot, keuntungan kamu terbatas pada persentase perubahan harga aset. Dengan Leverage, dampak pergerakan harga aset terkalikan dengan jumlah Leverage yang digunakan.

    Contoh: Jika kamu menggunakan $80 untuk trading Crypto Futures dan menggunakan Leverage 25x, kamu dapat membuka posisi long senilai $2,000. Jika harga Crypto Futures naik 10%, posisi kamu akan bernilai $2,200. Ini berarti kamu mendapatkan keuntungan sebesar $200—setara dengan pengembalian 250% dari investasi awal $80 kamu, dibandingkan dengan kenaikan 10% tanpa Leverage.

    Perlu diingat bahwa Leverage juga bekerja dua arah. Jika kamu menggunakan $80, menggunakan Leverage 25x untuk membuka posisi $2,000, dan harga aset turun 10%, posisi kamu akan turun nilainya menjadi $1,800. Hal ini mengakibatkan kerugian sebesar $200, yang setara dengan –250% dari investasi awal $80 kamu—lebih besar dari penurunan harga langsung sebesar 10%.

    Jika kamu memilih Leverage 5x dengan modal yang sama, kamu dapat membuka posisi Long senilai $400. Jika harga Crypto Futures naik 10%, posisi kamu akan bernilai $440. Ini berarti kamu mendapatkan keuntungan sebesar $40—setara dengan pengembalian 50% dari investasi awal $80 kamu, dibandingkan dengan kenaikan 10% tanpa Leverage.

    Bila harga aset turun 10%, posisi kamu akan turun nilainya menjadi $360. Hal ini mengakibatkan kerugian sebesar $40, yang setara dengan –50% dari investasi awal $80 kamu—lebih besar dari penurunan harga langsung sebesar 10%. Menggunakan Leverage yang lebih rendah pada modal yang sama dapat menjaga risiko lebih terkendali.

    Margin adalah jumlah dana yang kamu butuhkan di akun untuk membuka dan mempertahankan posisi di Crypto Futures. Untuk memahami bagian ini lebih baik, kenali Margin dan tipe-tipe Margin di sini.

    Perlu diketahui bahwa nilai Margin Maintenance sebuah posisi tidak berubah walaupun memiliki nilai Leverage yang berbeda. Hal ini dikarenakan Margin Maintenance dihitung dari Leverage tersedia yang paling tinggi. 

    Margin Maintenance % = (1/Leverage Tertinggi/4)%

    Margin Maintenance = Harga Entry x Jumlah x Margin Maintenance %

    Sebagai contoh, karena Leverage tertinggi yang tersedia di BTCUSDT-PERP adalah 25x, maka nilai Margin Maintenance% pada semua posisi kontrak tersebut adalah 1%, terlepas dari nilai Leverage yang digunakan (5x, 10x maupun 25x). 

    Bila kamu sudah memiliki posisi terbuka dan mengubah nilai Leverage posisi tersebut, berikut adalah hal-hal yang tidak berubah:

    • Margin Maintenance: Seperti yang sudah dijelaskan di atas, nilai Margin Maintenance dihitung dari nilai Leverage tertinggi yang ada di kontrak tersebut. Artinya, Nilai Margin Maintenance% pada suatu kontrak akan tetap sama, terlepas dari nilai Leverage yang digunakan pada posisi.   
    • Harga Likuidasi: Harga likuidasi dihitung berdasarkan nilai Margin Maintenance pada posisi tersebut. Karena nilai Margin Maintenance tetap sama, perubahan Leverage tidak mempengaruhi harga likuidasi.
    • Rasio Margin: Sama seperti harga likuidasi, nilai Rasio Margin terdiri dari Margin Maintenance yang tetap sama. Maka, perubahan Leverage tidak mempengaruhi harga likuidasi.

    Berikut adalah hal-hal yang akan berubah:

    • Leverage yang digunakan pada kontrak tersebut: Bila kamu mengubah nilai Leverage pada suatu kontrak, nilai Leverage pada posisi-posisi yang sudah terbuka di kontrak tersebut akan berubah. 
    • Leverage pada Open Order: Sama seperti Leverage yang digunakan pada kontrak tersebut, Leverage pada Order Terbuka (Open Order) juga ikut berubah.
    • Margin Awal (Initial Margin): Nilai Margin Awal ditentukan berdasarkan Nilai Posisi dibagi dengan nilai Leverage. Dengan mengubah nilai Leverage, nilai Margin Awal juga tentu berubah.
    • Persentase P&L (P&L%): Persentase P&L dihitung berdasarkan nilai Margin Awal. Dengan berubahnya nilai Margin Awal, Persentase P&L juga ikut berubah mengikuti perubahan nilai Leverage.

    Perlu diingat bahwa meskipun Leverage dapat memperbesar potensi keuntungan, Leverage juga secara signifikan meningkatkan risiko kerugian yang lebih besar jika pasar bergerak tidak sesuai harapan. Manajemen risiko yang efektif dan pemahaman mendalam tentang mekanisme Leverage sangat penting untuk memanfaatkan alat ini dengan bijak serta menghindari tantangan yang dapat muncul.



    Sumber : pluang.com

  • Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    Sobat Cuan yang lagi keranjingan trading cryptocurrency pasti lagi getol-getolnya belajar analisis teknikal. Mungkin, kamu sudah paham gunanya melihat tren menggunakan support dan resistance bahkan hingga Relative Strength Index. Namun, apakah kamu juga sudah mencoba menggunakan satu indikator bernama bollinger band?

    Nah, indikator ini berfungsi untuk menganalisis pergerakan harga cryptocurrency ke depan berdasarkan volatilitas harganya. Tujuannya, tentu saja agar kamu bisa menentukan waktu masuk dan keluar pasar.

    Volatilitas aset kripto memang suka bikin jantungan hingga membuat tradingnya dianggap hanya berspekulasi saja. Analisis teknikal maupun fundamental terhadap aset kripto memang kerap meleset, namun itu bukan mengindikasikan pasar kripto tidak dapat dibaca sama sekali.

    Biasanya, kamu menentukan tren pergerakan ini berbekal tren support dan resistance atau melihat titik-titik Moving Average. Namun, rasanya kurang afdol kalau kamu juga tidak memeriksanya lewat bollinger band. Bisa dibilang, memeriksa tren pergerakan tanpa bollinger band membuat analisismu kurang gurih, ibarat makan bakso tanpa micin.

    Nah, apakah Sobat Cuan penasaran bagaimana menggunakan instrumen ini?

    Baca juga: Jangan Panik! Simak 3 Sikap Hadapi Penurunan Nilai Reksadana!

    Apa Itu Bolinger Bands?

    Bollinger bands diciptakan oleh seorang teknisi pasar investasi bernama John Bollinger di tahun 1980. Dia mengembangkan suatu instrumen yang melengkapi moving average dengan dua pita di area atas dan area bawah yang dinamai pita bollinger.

    Pita bollinger tersebut hanya menambah dan mengurangi perhitungan standar deviasi atas moving average tersebut. Alias, suatu formula matematis untuk mengukur volatilitas harga. Gunanya, agar kamu bisa memiliki gambaran yang baik tentang kondisi pasar lewat volatilitas aset di pasar modal.

    Moving average yang digunakan biasanya berjenis exponential moving average (EMA). Garis EMA merupakan garis tengah yang akan dilapisi oleh dua pita bollinger di bagian atas dan bagian bawahnya. Untuk lebih jelasnya, Sobat Cuan bisa menengok contoh bollinger band di grafik harga ETH terhadap USDT berikut.

    Contoh Bollinger Bands. Sumber: Tradingview

    Pita tersebut membentuk saluran yang menunjukkan standar deviasi dari aset atau instrumen yang sedang kamu analisis. Bollinger bands akan mengembang dan berkontraksi saat volatilitas terjadi atau akan terjadi, di mana contohnya bisa kamu perhatikan di atas.

    Lantaran efektivitasnya dalam mendeteksi kapan harga akan fluktuatif dan kapan akan terjadi kontraksi, bollinger bands pun kini jadi salah satu instrumen populer. Selain itu, instrumen ini juga efektif untuk menganalisis cryptocurrency yang sedang berkembang pesat hingga volatilitas harga tinggi.

    Pergerakan Bollinger Bands

    Cara kerja bolinger bands adalah mendeteksi volatilitas harga dengan membuat deviasi dari garis EMA. Standar deviasi yang diwakili oleh pita bolinger ini akan berkontraksi saat volatilitas rendah dan berekspansi saat volatilitas tinggi.

    Menurut John Bollinger, aset terus berganti fase dari volatilitas tinggi dan volatilitas rendah. Kontraksi pita bollinger memprediksi perubahan tren ini, tapi bukan pergerakan harganya.

    Bollinger bands sendiri ialah instrumen yang digunakan untuk membantu kamu mengidentifikasi tren lebih awal dengan melihat tekanan volatilitas. Sebab biasanya tekanan volatilitas diikuti juga oleh ekspansi volatilitas dalam tataran tren.

    Karenanya, pita bollinger tidak dapat digunakan sendiri melainkan dikomparasikan dengan instrumen lain. Kamu juga harus menentukan support dan resistance kamu sendiri.

    Jelasnya, kamu harus memperhatikan dengan seksama tiap kali pita mengalami kontraksi yang berarti volatilitas sedang rendah. Sebab sewaktu-waktu tren akan berubah entah ke atas maupun ke bawah.

    Baca juga: Kenali 5 Pola Candlestick Sebagai Petunjuk Trading bagi Pemula 

    Fungsi Bollinger Band di Trading Aset Kripto

    Nah, setelah kamu mengetahui cara kerja bollinger band, kini kamu bisa mengaplikasikan indikator ini untuk trading cryptocurrency. Berikut fungsinya!

    1. Menerka Volatility Squeeze di Harga Aset Kripto

    Menurut John Bollinger, volatilitas harga aset yang tengah landai kadang bisa berujung ke volatilitas yang lebih tinggi lagi. Nah, masa-masa volatilitas yang rendah ini disebut sebagai volatility squeeze.

    Untuk memahami lebih lanjut tentang volatility squeeze, yuk perhatikan grafik harga XRP di bawah ini.

    Contoh Volatility Squeeze. Sumber: Cointelegraph

    Gambar di atas memperlihatkan bahwa volatilitas yang kencang (area hijau) terjadi setelah hadirnya volatilitas rendah (area merah). Sehingga, dalam hal ini, kamu bisa memanfaatkan volatility squeeze sebagai ajang borong cryptocurrency jagoanmu.

    Hanya saja, hadirnya volatility squeeze tak selalu mengindikasikan adanya breakout yang positif. Kadang, kondisi yang terjadi justru sebaliknya, seperti yang terlihat di grafik harga Binance Coin (BNB) di bawah ini.

    Contoh Volatility Squeeze. Sumber: Cointelegraph

    Kesimpulannya, volatility squeeze tidak berfungsi untuk melihat pergerakan arah harga, namun bermanfaat bagimu untuk menentukan posisi dalam trading. Sehingga, yang perlu dilakukan olehmu saat periode volatility squeeze adalah menggabungkannya dengan support dan resistance.

    Jika tren pergerakan harga aset selalu melampaui titik resistance sebelumnya di saat volatility squeeze, maka kamu bisa memanfaatkannya untuk melancarkan aksi beli. Namun, kamu bisa melancarkan aksi jual jika harga aset selalu melampaui titik resistance sebelumnya di saat volatility squeeze

    2. Menentukan Buy Signal Saat Pullback

    Selain melihat arah breakout, bollinger band juga bermanfaat untukmu dalam melihat peluang beli ketika tren harga sedang menanjak.

    Melalui indikator ini, Sobat Cuan bisa melihat uptrend yang dimaksud. Caranya adalah dengan memperhatikan, apakah pergerakan harga aset yang terjadi berada di antara pita tengah dan pita atas. Contohnya bisa kamu lihat di contoh grafik LTC/USDT berikut.

    Bollinger bands
    Area paling kiri menunjukkan uptrend, yakni momen di mana pergerakan harga berada di antara pita tengah dan pita atas. Sumber: Cointelegraph

    Nah, setelah harga aset memasuki fase ini, yang perlu trader lakukan adlaah menunggu momentum pantulan sedini mungkin saat harga mendekati pita tengah untuk mulai membeli. Sebab, hal yang terjadi setelahnya kemungkinan adalah tren harga yang kian meningkat.

    Jika kamu menggunakan strategi ini, kamu bisa menempatkan stop loss di bawah pita tengah untuk berjaga-jaga. Strategi stop loss tetap diperlukan, sebab, tidak ada instrumen yang sempurna.

    Bollinger bands akan menunjukkan pada kamu lebih dari satu momentum untuk masuk ke pasar. Jadi, saat kamu terlambat memanfaatkan momentum yang pertama, kamu masih bisa memanfaatkan momentum selanjutnya.

    Saat tren mulai melemah, risiko kamu yang baru masuk ke pasar lebih rendah untuk berakhir jadi tukang cuci piring loh, Sobat Cuan. Satu dari lima peluang yang kamu dapat dari tren bollinger bands masih mungkin meleset. Pastikan kamu sudah punya strategi mencegah kerugian yang lebih besar.

    Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Moving Average bagi Pemula

    Beli Saat Uptrend Dimulai 

    Salah satu strategi cuan paling terkenal adalah mulai membeli saat sinyal uptrend dimulai. Hanya saja, banyak trader kurang sabar untuk menahan cukup lama hingga uptrend mencapai titik optimalnya.

    Salah satu instrumen yang paling jarang meleset dalam memprediksi uptren yang kuat adalah bollinger bands ganda. Caranya, dengan membuat bollinger bands Simple Moving Average (SMA) 20 hari dengan standar deviasi 1. Garis ini akan berpadu dengan bollinger bands EMA yang lebih umum.

    Bollinger bands ganda ini membeli gambaran yang lebih relevan saat akan terjadi uptren. Jika uptren dimulai dengan posisi harga berada di atas pita bollinger baik yang pertama maupun yang kedua, tandanya uptren yang kuat akan terjadi.

    Uptrend kuat lebih menguntungkan kamu dan meminimalisir risiko kamu karena tren seperti ini jarang sekali terkoreksi dangkal saat masih berlangsung. Tapi, strategi ini tidak dapat digunakan ketika harga berosilasi dalam kisaran. Kamu hanya bisa membuka posisi baru ketika harga menembus resistensi teratas yang sebetulmya cukup kaku.

    Pada akhirnya, kekuatan analisis kamu sendiri yang terpenting. Kamu bisa menggunakan pita-pita bollinger dengan cara lain untuk membaca tren yang relevan bagi kamu.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Coin Telegraph



    Sumber : pluang.com

  • Disebut Barang Langka, Bagaimana Kondisi Suplai Permintaan Emas Sekarang?

    Membincang investasi emas seakan tidak ada habisnya. Barang yang sejak dulu sudah menjadi barang berharga itu sampai sekarang tetap mempertahankan kilau harga dan nilainya dengan baik.

    Mungkin karena itu juga emas dianggap sebagai logam mulia, namun selain itu anggapan tersebut juga muncul lantaran kelangkaannya.

    Nah, tapi apakah Sobat Cuan penasaran, seberapa besar sih kelangkaan emas tersebut? Dan apakah benar kelangkaan tersebut bisa bikin harga emas kian mentereng ke depan?

    Melihat Kelangkaan Investasi Emas dari Cadangan dan Produksi

    Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentu kita harus menimbangnya dari dua indikator utama. Yakni, produksi serta cadangan emas. Sebab, kedua hal ini merupakan indikator penting dalam menakar suplai emas yang terdapat di dunia saat ini.

    Menilik Cadangan Emas Dunia

    Pertama, mari bahas soal cadangan emas terlebih dahulu.

    Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS), cadangan terbukti mineral emas pada tahun 2020 lalu mencapai 53.000 ton yang tersebar di hampir seluruh dunia. Di mana, angka ini menurun tipis dibandingkan tahun sebelumnya yakni 54.000 ton.

    Namun, angka tersebut tidak mengindikasikan bahwa cadangan emas memang benar-benar tengah menurun ya, Sobat Cuan. Sebab, jumlah cadangan emas sejatinya bersifat fluktuatif, alias kadang naik dan turun. Hal itu sejalan dengan kemajuan proses eksplorasi guna menemukan cadangan emas baru.

    Masih berdasarkan USGS, ternyata dunia kini memiliki 33 ribu ton mineral yang sudah diidentifikasi sebagai emas. Dengan kata lain, mineral tersebut memang masih diduga mengandung emas. Jadi, masih ada kemungkinan bahwa cadangan emas di masa depan akan terus meningkat.

    Menilik Produksi Emas Dunia

    Setelah melihat cadangan, kamu juga bisa melihat sisi kelangkaan emas dari produksinya.

    Masih melansir data USGS, produksi emas dunia pada tahun 2020 lalu diproyeksi mencapai 3.200 ton. Sayangnya, angka ini susut 3,03% dibanding 3.300 ton pada 2019 silam.

    Hanya saja, hal ini bukan berarti produksi emas terus menurun ya, Sobat Cuan. Sebab nyatanya, produksi emas tiap tahun terus merangkak naik, seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.

    Grafik di atas memperlihatkan bahwa produksi emas per tahun telah meningkat 29,55% dalam 15 tahun terakhir. Artinya, produksi sang logam mulia memang secara kasat mata masih mumpuni, bukan?

    Kendati demikian, kamu masih perlu melihat laju produksinya.

    Seperti terlihat di grafik atas, laju produksi emas memang tak tentu. Bahkan, lajunya terbilang anjlok dalam empat tahun terakhir. Hal itu tentu saja akan mempengaruhi suplai emas.

    Pertanyaan berikutnya, apakah menipisnya suplai emas sudah pasti akan bikin harga emas meningkat terus di masa depan?

    Baca juga: Siapkan Dana Cadangan untuk Keadaan Darurat, Ini 6 Langkahnya

    Kelangkaan Investasi Emas dan Harga Emas

    Sesuai hukum ekonomi, harga suatu barang akan meningkat jika suplainya lebih rendah dari permintaannya. Begitu pula sebaliknya.

    Dari data di atas, memang produksi dan cadangan emas sedang turun. Sehingga, untuk mencari tahu dampak hal tersebut ke harga emas, kita pun harus menilik dari sisi permintaannya. Hal itu pun terlihat dari grafik di bawah ini.

    Permintaan emas memang terlihat fluktuatif. Namun, satu yang pasti bahwa angka permintaan emas setiap tahunnya selalu lebih besar dari produksi tahunannya.

    Mekanisme permintaan dan penawaran tersebut pun tercermin dari pergerakan harga emas yang selalu menanjak antar tahunnya.

    Investasi Emas
    Grafik Harga Emas 2000-2021. Sumber: Tradingview

    Mengapa Permintaan dan Penawaran Emas Tidak Seimbang?

    Namun, kenapa sih permintaan emas selalu melebihi dari suplainya? Hal ini pun tentu bisa dijawab dari beberapa sisi.

    Di sisi pertama, beberapa analis mengatakan bahwa naiknya harga emas lebih didorong oleh pandangan investor yang menganggap bahwa emas adalah investasi yang lebih aman dalam ekonomi. Hal ini tak mengherankan, lantaran emas selalu digadang sebagai alat pelindung kekayaan (safe haven).

    Selain dari sisi investasi, permintaan emas juga bisa dilihat dari sisi industri, di mana emas bisa digunakan sebagai bahan baku.

    Namun, ketidakseimbangan suplai dan permintaan ini juga bisa berhulu dari lambatnya proses penemuan cadangan emas baru.

    Proses penemuan tambang baru sejatinya masih terus dilakukan, namun pandangan ahli mengatakan bahwa proses menemukan cadangan emas baru adalah hal langka. Alhasil, produksi emas yang sampai saat ini ada, dan mungkin yang sedang kamu genggam sekarang, adalah emas yang berasal dari tambang tua.

    Jadi bagaimana kesimpulannya? Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tentu kita perlu berpijak lagi ke hukum ekonomi. Suplai emas bisa dikatakan kian menipis yang juga disertai dengan lebih besarnya permintaan daripada penawarannya. Hal itu, tentu saja akan menjadi sentimen bagi harga emas ke depan.

    Nah, setelah membaca penjelasan tersebut, apa yang akan kamu lakukan Sobat Cuan? Apakah kamu juga tertarik membeli emas?

    Jika jawabannya adalah ya, kamu bisa membeli emas digital di Pluang! Sebab, kamu bisa berinvestasi emas mulai dari Rp10.000 saja dan tanpa dikenakan biaya admin!

    Baca juga: Produksi Emas Meningkat, Ini Dia 5 Negara Penghasil Emas Terbesar di Dunia

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Apa itu Funding Rate?

      Ringkasan: 

    • Funding Rate adalah biaya yang dipertukarkan antara trader dengan posisi Long dan Short untuk menjaga harga Crypto Futures tetap mendekati harga Spot aset kriptonya. Mekanisme ini memastikan keseimbangan harga walau kontrak Crypto Futures tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. 
    • Ketika harga Crypto Futures berada di atas harga Spot, trader Long membayar trader Short, dan sebaliknya. 

    Funding Rate dapat berdampak signifikan pada biaya memegang posisi. Trader Long mungkin dikenakan biaya di pasar bullish, sementara trader Short dikenakan biaya di pasar bearish. Memahami Funding Rate adalah kunci untuk mengelola trading dengan efektif.

    Salah satu fitur unik dalam Crypto Futures adalah Funding Payment dan Funding Rate. Mekanisme Funding Fee membantu menyelaraskan harga kontrak perpetual dengan harga Spot dari aset kriptonya. Tidak seperti kontrak futures biasa yang memiliki tanggal kedaluwarsa, harga kontrak perpetual dirancang agar harga kontrak Crypto Futures tetap mendekati harga Spot secara berkelanjutan. Funding Rate berperan penting dalam menjaga keseimbangan ini dengan mengoreksi perbedaan harga.

    Mekanisme pembayaran yang disebut Funding Payment terjadi antara trader Long dan Short. Mekanisme ini dapat dianggap sebagai biaya memegang kontrak. Biaya ini dihitung dengan mengalikan tarif dinamis yang disebut Funding Rate dengan ukuran posisi trading kamu dan secara otomatis dipotong dari (atau ditambahkan ke) Saldo Margin masing-masing trader. Ketika harga Crypto Futures berada di atas harga Spot, trader Long membayar trader Short. Ketika harga Crypto Futures berada di bawah harga Spot, trader Short membayar trader Long. Berikut tabel untuk yang lebih jelas:

    Kondisi Harga

    Funding Rate

    Pembayaran

    Spot > Crypto Futures

    Negatif

    Short membayar long

    Spot < Crypto Futures

    Positif

    Long membayar short

    Funding Rate dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

     

     

    Impact Bid Price: Harga rata-rata harga Bid dalam Order Book.
    Impact Ask Price: Harga rata-rata harga Ask dalam Order Book.
    Price Index: Harga rata-rata nilai aset pada harga Spot dari berbagai bursa. 

    Funding Rate melibatkan pembayaran langsung antara trader di Pluang—tidak mengalir antara trader dan Pluang. Pembayaran dilakukan setiap 8 jam, yaitu sekitar pukul: 07:00, 15:00, dan 23:00 WIB untuk semua kontrak Crypto Futures.

    Funding Rate sangat penting bagi trader kontrak perpetual karena dapat memengaruhi biaya memegang posisi. Bergantung pada kondisi pasar, kamu mungkin perlu mempertimbangkan pembayaran berkala ini saat merencanakan trading kamu. Kamu harus memantau Funding Rate bila memegang posisi dalam waktu yang lama karena Funding Fee bisa menjadi biaya yang signifikan seiring waktu.

    • Trader Long: Di pasar bullish, harga kontrak Crypto Futures sering lebih tinggi dari harga Spot. Dalam pasar ini, trader Long sering membayar Funding Fee kepada trader Short. Hal ini bisa menjadi biaya tersembunyi dalam mempertahankan posisi Long.
    • Trader Short: Di pasar bearish, trader Short mungkin membayar Funding Fee kepada trader Long karena harga kontrak akan sering lebih rendah dari harga Spot. Hal ini menambah biaya tambahan dalam mempertahankan posisi Short.

    Bagi trader, memahami cara kerja Funding Rate sangat penting karena dapat memengaruhi biaya dan keuntungan dalam mempertahankan posisi Long atau Short. Baik kamu yang membayar atau menerima Funding Payment, memantau tarif ini adalah kunci untuk mengelola trading dengan efektif dan memaksimalkan keuntungan.



    Sumber : pluang.com

  • Kenapa Polkadot dan Cardano disebut Ethereum Killer? Simak di Sini!

    Sobat Cuan penggemar aset kripto mungkin sudah kenal baik dengan Ethereum. Ya, sistem blockchain satu ini memang dikenal punya kegunaan yang banyak. Salah satunya adalah sistem smart contract yang memungkinkan komunitas kripto untuk membuat aplikasi terdesentralisasi (dApps) demi kepentingan keuangan terdesentralisasi.

    Namun, seiring perkembangan teknologi blockchain, kehadiran Ethereum “terancam” oleh dua teknologi lainnya, yakni Cardano dan Polkadot. Bahkan, keduanya pun digadang sebagai pembunuh Ethereum, alias “Ethereum Killers”.

    Polkadot dan Cardano masing-masing memiliki kemiripan dengan Ethereum. Terlebih, kedua sistem itu pun dibangun oleh para mantan punggawa Ethereum. Lantas, mengapa kedua teknologi ini dianggap sebagai “pengancam” Ethereum?

    Baca juga: Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

    Ethereum Killer Pertama: Cardano

    Sekilas Mengenai Cardano

    Cardano mendeklarasikan diri sebagai teknologi blockchain generasi ketiga, yakni kelanjutan dari teknologi blockchain generasi pertama (uang terdesentralisasi) dan generasi kedua (smart contract).

    Dalam memvalidasi transaksi di atasnya, sistem blockchain ini menggunakan algoritma konsensus proof of stake. Algoritma konsensus ini dianggap lebih ramah lingkungan dan hemat listrik dibanding algoritma proof of work yang digunakan oleh sistem blockchain Bitcoin dan Ethereum. Alhasil, tarif transaksi di dalamnya pun terbilang lebih murah.

    Selain itu, teknologi blockchain Cardano, yang dikenal dengan protokol Ouroboros, mampu memproses 1 juta transaksi per detik. Skalabilitas transaksinya cukup besar, bukan?

    Sistem blockchain ini memiliki satu koin native yang disebut dengan ADA. Koin ini digunakan oleh setiap pengguna Cardano untuk bertransaksi di protokol Ouroboros tanpa membutuhkan pihak ketiga sebagai perantara.

    Di samping itu, karena Cardano menggunakan algoritma konsensus Proof of Stake, maka penggunanya juga menggunakan ADA untuk melakukan staking demi menjaga keandalan blockchain Cardano.

    Setiap pengguna bisa menyimpan koin ADA di dompet digital yang nantinya bakal dialokasikan ke “kolam staking” (stake pool). Nantinya, pemilik ADA akan mendapatkan imbal hasil atas aksi staking yang dilakukannya.

    Alasan Cardano Disebut Sebagai Ethereum Killer

    1. Skalabilitas Transaksi Lebih Besar Dibanding Ethereum

    Nah, akibat implementasi algoritma konsensus proof of stake tersebut, maka validasi transaksi di dalam blockchain Cardano dianggap lebih efisien dan lebih cepat dibandingkan sistem proof of work.

    Cardano memang sengaja dirancang menggunakan teknologi ramah lingkungan yang bisa memproses transaksi 1 juta transaksi per detik. Kapasitas transaksi ini jauh lebih banyak dibanding Ethereum yang “hanya” bisa memproses 30 transaksi per detik.

    Bahkan, kecepatan transaksi Cardano digadang bisa lebih kencang dibanding sistem Ethereum 2.0, yang rencananya bakal dirilis, yang rencananya bakal bisa menampung 100.000 transaksi per detik.

    Skalabilitas transaksi blockchain Cardano yang mumpuni tentu akan menarik perhatian komunitas aset kripto untuk bertransaksi di dalamnya. Mereka mungkin akan meninggalkan Ethereum, sehingga sistem blockchain Ethereum pun akan “terbunuh” perlahan karena migrasi tersebut.

    2. Smart Contract Saingan Ethereum

    Seolah-olah tak cukup dengan urusan skalabilitas transaksi, Cardano juga digadang akan “menghajar” Ethereum dari segi teknologi smart contract. Apa alasannya?

    Seperti yang kita tahu, sistem smart contract adalah salah satu alasan utama mengapa komunitas kripto tertarik masuk jaringan Ethereum. Teknologi ini bikin mereka mampu mengembangkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan token-token DeFi demi keperluan aktivitas keuangan terdesentralisasi.

    Salah satu produk unggulan smart contract Ethereum adalah Non-Fungible Token (NFT) dengan standar token ERC-721 dan token-token lain yang dirancang sesuai standar ERC-20. Sayangnya, kehadiran Ethereum sebagai “produsen utama” NFT akan terancam oleh kehadiran smart contract milik Cardano.

    Dalam waktu dekat, Cardano akan memasuki fase pengembangan ketiga yang disebut Goguen. Nah, di dalam fase ini, Cardano juga akan mengembangkan teknologi smart contract ke dalamnya, di mana hal tersebut bisa membuka gerbang Cardano ke kancah NFT. Sayangnya, masih belum diketahui kapan teknologi smart contract ini bisa berjalan.

    Dengan konsensus proof-of-stake, maka biaya transaksi NFT di Cardano diprediksi akan lebih murah dibanding Ethereum. Hal ini akan menjadi keunggulan smart contract Cardano dibandingkan Ethereum yang masih menggunakan algoritma konsensus proof-of-work.

    Ethereum Killer Kedua: Polkadot

    Sekilas Mengenai Polkadot

    Berbeda dengan Cardano yang mengklaim diri sebagai blockchain generasi ke-tiga, Polkadot malah mendeklarasikan diri sebagai blockchain generasi berikutnya (next generation). Apa artinya?

    Sistem blockchain Polkadot menghubungkan berbagai jenis jaringan blockchain yang sudah ada. Artinya, sistem blockchain utama ini berfungsi sebagai mediator berbagai jenis data antar blockchain-blockchain cabangnya (parachains) dan bisa menghubungkan komunitas satu blockchain dengan blockchain lainnya.

    Seluruh parachain yang tergabung dalam sistem Polkadot pun tidak perlu tunduk atas aturan blockchain Polkadot. Pengembang Polkadot percaya bahwa hal ini nantinya bisa memberi keleluasaan bagi komunitas aset kripto untuk mengembangkan dApps yang punya nilai guna untuk kebutuhan sehari-hari dan inovasi-inovasi baru teknologi blockchain yang mungkin muncul ke depan.

    Alasan Polkadot Disebut Sebagai Ethereum Killer

    1. Tentu Saja, Kehadiran Sistem Parachain

    Seperti yang disebut di atas, sistem parachain adalah daya tawar utama dari sistem Polkadot. Sistem ini berjalan di atas kerangka Substrat, yakni kerangka kerja yang memungkinkan penggunanya menghadapi tingkat abstraksi kriptografi yang berbeda-beda tergantung kebutuhannya.

    Nah, Substrat ini mampu mengurangi waktu, energi, dan dana yang dibutuhkan pengembang untuk membuat blockchain baru. Sehingga, mereka pun bisa dengan leluasa mengembangkan dApps dan bereksperimen dalam menciptakan aplikasi-aplikasi berbasis blockchain yang bisa memiliki nilai manfaat sehari-hari.

    Banyak pihak menganggap, teknologi tersebut mampu menutupi kelemahan jaringan Ethereum, yakni berbiaya mahal dan lambatnya proses transaksi di atasnya. Dua hal ini selalu digadang sebagai penghambat utama minimnya inovasi-inovasi baru di atas jaringan blockchain Ethereum.

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa biaya transaksi Ethereum (gas fees) memang tengah menjadi momok teknologi besutan Vitalik Buterin tersebut. Makanya, tak heran jika Ethereum akan memperbaiki kondisi ini dengan menerapkan hard fork London pada Agustus mendatang.

    Di samping itu, Ethereum pun masih mendorong semua aplikasi yang bergerak di atasnya dibangun di atas satu jaringan. Sehingga, proses validasinya pun dianggap cukup lama.

    Alhasil, demi menghindari dua hal tersebut, komunitas kripto diramal akan memalingkan wajahnya dari Ethereum ke Polkadot. Ujungnya, dominasi Ethereum sebagai “rumah” dApps pun bisa terancam oleh kehadiran Polkadot.

    Adapun menurut state of dApps, sebanyak 2.812 aplikasi, atau 79,21% dari total 3.550 dApps di kancah kripto saat ini, dibangun di atas sistem Ethereum.

    Baca juga: Berprospek Cerah, Ini Alasan Kenapa Kamu Harus HODL Cardano Sekarang!

    Apakah Koin ADA dan DOT Juga Dianggap Ethereum Killer?

    Baik Polkadot dan Cardano dianggap punya teknologi yang lebih mumpuni dibanding Ethereum. Namun, apakah hal itu juga berarti bahwa masing-masing koin mereka, yakni DOT dan ADA, juga terbukti memiliki performa baik dibanding ETH?

    Nah, untuk mencari tahu jawabannya, mungkin Sobat Cuan harus perhatikan dulu pergerakan harga tiga koin tersebut sejak awal tahun (year-to-date).

    Dari grafik di atas, memang kinerja ADA secara tahun kalender lebih baik dibanding ETH dan DOT. Berbagai analisis mengatakan bahwa harga DOT dan ADA bisa lebih moncer lagi asal teknologi mereka bisa diadopsi secara luas. Namun, tetap saja, tidak ada yang bisa menaksir harga aset kripto ke depan dengan pasti.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu juga optimistis dengan masa depan dua Ethereum Killer berikut?

    Nah, sekarang kamu bisa banget lho dapatkan dua Ethereum Killer ini di aplikasi Pluang! Yuk, install Pluang sekarang dan investasi di Cardano dan Polkadot!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Motley Fool, Hackernoon, Forbes



    Sumber : pluang.com