Tag: bitcoin

  • Persiapan Halving Bitcoin SV – Tokocrypto News

    Salah satu aset crypto ternama, Bitcoin Satoshi Vision (BSV), akan mengalami halving pertamanya di minggu kedua April ini. Bagaimanakah harganya akan terpengaruh? Akankah meroket atau malah anjlok?

    Analisa Teknikal BSV

    Sebelum memperkirakan bagaimana harga akan bergejolak menjelang dan sesudah halving nanti, mari kita lihat bagaimanakah pergerakan harganya belakangan ini secara teknikal.

    Jika dilihat dari price action-nya, sejak pertama kali diluncurkan, BSV sangat mematuhi garis trend yang terbentuk di timeframe mingguan dengan trend yang mulai naik sejak 3 minggu terakhir.

    Akankah trend ini akan berlanjut?

    Namun jika dilihat di timeframe yang lebih kecil, BSV, seperti Bitcoin dan aset crypto lainnya masih belum menunjukkan pertanda bullish yang kuat.

    Kenaikan harga yang ditunjukkan beberapa hari ke belakang semakin lama semakin lemah. Menunjukkan bahwa para “bull” mulai kehilangan momentum untuk menaikkan harga lebih jauh.

    Ditambah lagi, harga BSV berada di pola rising wedge yang merupakan pertanda bearish dan sedang mendekati resistance di fibonacci 0.382 pada gambar (sekitar 198 USD)

    Kemungkinan bearish masih ada, sehingga saya simpulkan, waktu terbaik untuk membeli dan berinvestasi BSV bukanlah sekarang, melainkan menunggu kepastian setelah harga keluar dari pola rising wedge dan turun lagi.

    Kesempatan “Belajar” dari BSV

    Apapun yang terjadi saat halving BSV, dan BCH (salah satu aset crypto lainnya yang merupakan hardfork dari bitcoin), dapat dijadikan acuan bagaimana harga Bitcoin akan bergerak saat halving bulan depan nanti.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bloomberg: Kapan Bitcoin Mencapai $100.000?

    Menurut indikator permintaan Bloomberg, Bitcoin bisa memakan waktu lima tahun atau lebih untuk mencapai level harga $ 100.000.

    Bitcoin (BTC) telah memiliki sejarah menambahkan nol pada harganya ketika Bitcoin pertama kali diperdagangkan pada $ 1.000, butuh 4 tahun untuk menambahkan nol lagi, untuk mencapai $ 10.000.

    Bloomberg memperkirakan agar Bitcoin menambahkan nol lagi, mencapai $ 100.000, itu akan terjadi sekitar tahun 2025, dengan mempertimbangkan pematangan alami. Laporan crypto terbaru Bloomberg berbunyi:

    “Sekitar empat tahun setelah awalnya mencapai $ 1.000, itu menambahkan nol. Mempertimbangkan pematangan normal, sekitar dua kali lipat kerangka waktu dari $ 1.000 menjadi $ 10.000 akan datang sekitar tahun 2025, agar Bitcoin berpotensi menambah nol lagi.”

    Grafik Bloomberg juga menunjukkan bahwa ukuran tahunan volatilitas 260 hari sedang menuju ke bawah, dengan sebagian besar permintaan dan langkah-langkah adopsi menunjukkan fakta bahwa Bitcoin akan tetap berada di jalur Bullish.

     

    Baca Juga: 30 Cara Mendapatkan Uang Dari Internet Tanpa Modal Di Tahun 2020

    Baca Juga: 27 Aplikasi Penghasil Pulsa dan Penghasil Uang Gratis Di 2020

    Indikator permintaan Bloomberg menunjukkan bahwa harga Bitcoin berada di jalur menuju Resistance Bitcoin di level $ 14.000.

    Dengan pasokan terbatas Bitcoin yang unik, pasokan crypto utama ini tidak dapat dipengaruhi oleh harga. Oleh karena itu, adopsi cryptocurrency terbesar di dunia adalah metrik penilaian utama untuk Bitcoin. Pasokan Bitcoin juga menurun berdasarkan persentase tahunan, yang juga dapat meningkatkan harga dan permintaannya.

    Selain itu, Bloomberg menekankan lagi bahwa Bitcoin semakin menjadi seperti emas, karena korelasi Bitcoin-ke-emas telah mencapai titik tertinggi baru sejak 2010.

    Karena permintaan untuk Bitcoin akan meningkat, seperti emas versi digital, Tether dapat melampaui Ethereum dalam hal kapitalisasi pasar.

    Baca Juga: Cara Mengamankan Akun Bitcoin Anda di Platform Exchange

    Dan dalam laporan Bloomberg juga dinyatakan, karena adopsi stablecoin meningkat, mata uang digital bank sentral (CBDC) akan terjadi. Laporan itu menambahkan:

    “Perlu sesuatu yang signifikan untuk menghentikan peningkatan adopsi Tether, stablecoin teratas, yang berada dalam kecepatan untuk menyamai kapitalisasi Ethereum dalam waktu kurang dari setahun, berdasarkan trend regresi sejak awal 2019.”

    Kebutuhan akan BTC adalah katalis utama menurut pandangan Bloomberg, sehingga tingkat adopsi yang mulai terus bertumbuh bisa menjadi sinyal positif untuk potensi harga jangka menengah dan panjang bagi sang crypto utama ini.

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga BTC Turun Rp 8 Juta

    Bitcoin (BTC) telah melihat beberapa sikap Bullish luar biasa selama beberapa hari terakhir, dengan kenaikan yang sangat signifikan dari Rp 111 juta-an menjadi Rp 140 juta-an.

    Kenaikan tersebut telah menutup trend bearish yang terjadi di pertengahan bulan Maret yang membuat harga menjadi Rp 65 juta-an. Banyak yang meyakinkan bahwa harga tersebut adalah bottom ( harga terendah) dalam trend bearish.

    Ditengah bencana ekonomi saat ini, Bitcoin (BTC) adalah aset yang berkinerja paling baik.

    Pada saat pers, harga Bitcoin turun 4% dalam 24 jam, dari Rp 140 juta menjadi Rp 128 juta.

    Baca Juga: QCP Quick Market Update 30 April 2020

    Level tertinggi ini ditetapkan semalam ketika Bulls mendorong setinggi mungkin. Tetapi, dorongan ini kehilangan momentum dengan cepat, yang membuat harga turun.

    Kemampuan Bitcoin untuk bertahan kuat di wilayah atas Rp 120 juta merupakan tanda Bullish yang kuat, karena level ini menunjukkan bahwa para Bulls mulai membangun beberapa Support penting dalam area ini.

    Namun, ada beberapa analis tidak percaya dengan trend bullish tersebut.

    Baca Juga: 15 Tips Trading Forex atau Cryptocurrency Untuk Pemula 2020

    Josh Rager, co-founder Blockroots.com, memprediksi jika BTC tidak bisa menutup $9.300 (Rp 142 juta) dalam grafik 4 jam, ada kemungkinan bahwa BTC akan melakukan pullback. Disisi lain, harga masih terlihat bullish untuk low time frame.

    Baca Juga: 16 Hari Sebelum Halving, Apakah Anda Siap Menjadi OKB?

    Mr.Anderson, analis populer lainnya di Twitter, men-Tweet:

    Bulls harus memegang $8.528 (Rp 130 juta) dan kehilangan $7.885 (Rp 120 juta) akan membuat BTC ke $6.600 (Rp 100 juta).

    Ahli makroekonomi dan trader Henrik Zeberg baru saja memperingatkan para follower di Twitter bahwa fase likuidasi akan masuk ke pasar utama, termasuk juga Bitcoin.

    Dia menegaskan bahwa Dolar A.S masih menjadi raja selama pandemik Covid-19 dan akan banyak orang melikuidasi aset mereka.

    Dalam masa ini, cash is the king, uang cash adalah raja.

    Namun, momen halving masih ditunggu-tunggu oleh pemegang Bitcoin, mengharapkan harga akan melambung lebih tinggi. Secara historis, momen halving membuat harga BTC naik dalam 6-12 bulan. Kita lihat saja.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Minat Boomer Terhadap Bitcoin Melonjak

    Terdapat sebuah data dari Mode Banking di Inggris yang menunjukkan peningkatan minat dari generasi dengan umur 40an ke atas atau yang biasa disebut Boomer dan Gen-X terhadap investasi Bitcoin pada aplikasi perdagangan crypto sejak awal pandemi dan sejak adanya pembatasan sosial.

    Mode Banking melaporkan investor-investor dari generasi Baby Boomers (yang lahir pada tahun sekitar 1946-1964) dan Gen-X (yang lahir sekitar tahun 1965-1980) ini menginvestasikan sebagian besar kekayaan mereka ke dalam Bitcoin sejak awal terjadinya pandemi COVID-19.

    Dengan data yang diambil dari bulan Februari lalu sebagai garis dasarnya, menunjukkan bahwa investasi dari generasi ini meningkat 2,24 kali pada bulan Maret, 4,49 kali pada bulan April, dan 8,88 kali pada bulan Mei lalu.

    Sayangnya, laporan tersebut tidak mengutip nilai dolar apa pun dari jumlah total yang diinvestasikan, sehingga hal ini mempersulit penentuan seberapa signifikan data tersebut diperoleh.

    Baca Juga: Generasi Milenial, Generasi Investor Bitcoin

    Chief Product Officer Mode, Janis Legler menyatakan:

    “Kami percaya temuan ini sangat menarik, dan meskipun demikian alasan di balik ini bisa bermacam-macam, mereka berpotensi mengungkapkan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya mengenai jalan yang ditempuh para investor saat ini, sebagai hasil dari adanya pandemi global.”

    Boomer dan Gen-X Tunjukan Minat pada Bitcoin

    Angka-angka dari Mode ini menunjukkan angka investasi dari generasi yang lebih muda, seperti Milenial dan Gen-Z pada aplikasi berjumlah dua kali lipat dari generasi lain bahkan sudah sejak bulan-bulan sebelum terjadinya pandemi.

    Baca Juga: Bitcoin, Kenormalan Baru untuk Generasi Z

    Lebih lanjut, sebelum adanya pembatasan sosial di Inggris, generasi yang lebih tua hanya menghabiskan 61 persen uang mereka untuk berinvestasi dengan Bitcoin, tetapi selama pandemi mereka tumbuh hingga mencapai rata-rata 107 persen berdasarkan data dari bulan-ke-bulan.

    Legler mengatakan peningkatan minat ini sangat penting dalam kesuksesan pasar crypto yang berkelanjutan karena mayoritas kekayaan masih dimiliki oleh Boomers dan Gen-X.

    “Kami berharap Milenial akan terus membeli mata uang crypto, tetapi melihat lebih banyak investor yang berpengalaman juga semakin tertarik pada Bitcoin membuat hal ini sangat menjanjikan bagi pertumbuhan industri ini.”

    Baca Juga: Tokocrypto dan Binance Gelar Kompetisi Trading Aset Kripto, Total Hadiah 151Juta BIDR

     

    Salah satu pendiri Morgan Creek Digital Jason Williams mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan sentimen ini dan mengatakan di Twitter pribadinya bahwa generasi yang lebih tua akan dengan cepat memiliki lebih banyak aset digital daripada generasi milenial:

    “Boomer dan Generasi-X akan memiliki sejumlah besar #Bitcoin dan mengendalikan lebih banyak aset secara eksponensial daripada milenial, ketika seharusnya yang terjadi sebaliknya.”

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ini Penampakan Faucet Bitcoin Gratis Zaman Now

    Di tahun 2020 ini, banyak yang masih suka dengan faucet Bitcoin untuk mendapatkan BTC secara gratis. Faucet terawal digagas oleh Gavin Andressen pada tahun 2014 melalui website. Dan sempat pula ada wujud fisiknya. Tetapi, zaman nowada seorang programmer membuat faucet Bitcoin dalam bentuk fisik yang lebih aduhai. Ini penampakannya. Dan Anda bisa rakit sendiri.

    Lazimnya faucet Bitcoin berupa website. Anda biasanya ditugaskan untuk mengisi kode Captcha, lalu Anda mendapatkan Bitcoin secara gratis. Bagaimana kalau faucet itu dibuat dalam bentuk fisik? Tanya itu kepada Tbruno25.Dalam keterangan lengkapnya di Github, alat faucet ini memerlukan beberapa komponen utama, yakni komputer mini Raspberry Pi Zero W, layar sentuh LCD 2,8 inci dan Pi Cam (kamera khusus komputer Pi).

    demodemo

    Untuk kode program dan hal-hal terkait peranti lunak, juga disiapkan di Github itu.

    “Ada banyak faucet Bitcoin di Internet. Tetapi tidak ada kehadiran fisik di sana. Saya membuat ini sebagai eksperimen yang mungkin bermanfaat,” kata Tbruno25.

    Komponen-komponen itulah yang Anda siapkan untuk merakit faucet fisik Bitcoin. Khususnya kerangka (body)-nya Anda harus mencetaknya dengan Printer 3D. File-nya sudah disiapkan oleh Tbruno25 untuk Anda unduh. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Dominasi Pasar Crypto Tahun 2020

    Pada perjalanan bulan ini, Bitcoin naik hampir 14% seperti nilai return awal tahun 2020. Pemulihan pada Bitcoin terjadi lebih cepat dibandingkan aset-aset tradisional dan menurut penelitian tren ini akan terus berlanjut.

    Dominasi Bitcoin pada Pasar Crypto

    Ethereum (ETH) berada di posisi atas minggu ini, dalam hal keuntungan yang didapat, dan Litecoin (LTC) memimpin demonstrasi sebelumnya, tetapi para peneliti di situs Blockchain.com mengantisipasi Bitcoin akan terus mendorong pergerakan harga keseluruhan di pasar cryptocurrency.

    Dalam newsletter bulanan terbarunya, pertukaran cryptocurrency dan penyedia dompet ini merangkum bahwa pasar crypto telah pulih sejak pertengahan Maret. Buletin tersebut juga menambahkan bahwa dominasi Bitcoin, yang saat ini ada pada 62,5 persen menurut Tradingview.com, akan terus meningkat sepanjang tahun ke depan.

    Penelitian yang dilakukan Blockchain.com tersebut mengkaitkan secara positif metric on-chain Bitcoin dengan hal ini dan menyatakan bahwa tingkat hash sudah mulai pulih, berkat pemulihan harga Bitcoin dan menurunnya penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan terhadap masalah yang berkembang baru-baru ini.

    Tingkat hash diperkirakan akan naik kembali lebih dari EH/s, yang tidak jauh dari puncak all-time mereka.

    Laporan tersebut juga menambahkan miners yang kurang efisien mungkin dengan terpaksa harus menjual lebih banyak bitcoin karena tingkat harga yang tertekan dan peristiwa halving yang akan datang kurang lebih 35 hari lagi.

    Baca juga: Cara Bitcoin Bergerak Lebih Kuat Setelah Krisis Ekonomi

    Di lain sisi, hal tersebut akan memiliki efek positif pada miners yang lebih “kuat” pada ekosistem mining ini, karena mereka mungkin akan menghadapi lebih sedikit tekanan dalam melikuidasi kepemilikan mereka, yang dapat menekan harga ke bawah.

    Metrik lain, seperti pita hash, juga menunjukkan bahwa tidak akan ada kapitulasi mining lebih lanjut dan miners yang “lemah” mungkin telah mematikan komputer mereka ketika menunggu pemulihan harga.

    Laporan ini juga mengaitkan teori ‘emas digital’ dan status Bitcoin sebagai nilai lindung makro pada performa Bitcoin ke depan. Kematangan blockchain, jika dibandingkan dengan aset digital lainnya dan lebih banyak fiat on-ramps merupakan faktor yang berkontribusi terhadap dominasi aset untuk tahun yang akan datang.

    Masih Menjadi Safe Haven

    Dalam newsletter tersebut disimpulkan bahwa bulan Maret lalu adalah salah satu bulan paling bergejolak dalam sejarah pasar keuangan. Bitcoin berhasil mengungguli ekuitas tetapi dikalahkan oleh meningkatnya harga emas yang menjadi Safe Haven teraman di dunia.

    Analis lain, seperti guru chart Willy Woo, masih mempertahankan pendapatnya mengenai Bitcoin sebagai sebuah Safe Haven. Dalam grafik terbarunya, ia membandingkan pertumbuhan nilai Bitcoin dengan aset lainnya dan perencanaan berdasarkan algoritma logis selama dekade terakhir.

    Terlihat  dalam grafik ini, setidaknya Bitcoin telah menjadi sebuah investasi yang lebih stabil dengan pertumbuhan nilai yang lebih besar bila dibandingkan dengan S&P 500 dan lahan yasan.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Faktor yang Menyiratkan Bitcoin Naik

    Bitcoin (BTC) dan pasar crypto telah memberikan sinyal beragam kepada investor terkait beberapa momen yang ada maupun kondisi global yang melanda keseluruhan pasar tradisional.

    Realitanya, BTC tahun ini condong bergerak dalam volatilitas yang rendah dan likuiditas yang turun sehingga lebih banyak bergerak sideways, tidak ada penunjukkan trend yang pasti.

    Disisi lain, Altcoin telah banyak mengalami lonjakan dengan kenaikan yang sangat memuaskan bagi para investornya. Seperti Dogecoin, Algo, LINK, Cardano, dll.

    Banyak investor BTC memprediksi bahwa BTC season akan mulai ketika Altcoin season berakhir.

    Harga Bitcoin juga kian naik dari Rp 130 juta-an ke Rp 135 juta-an dalam beberapa minggu terakhir. Namun, BTC masih tidak bisa keluar ke 5 digit angka ($10.000).

    Level ini adalah level resistasi yang kuat untuk Bitcoin. Harga yang patut diperhatikan adalah $9.700-$10.000. Dimana, BTC bisa menutup mingguan, maka harga akan naik.

    Satu metrik yang menunjukkan pertumbuhan yang dilihat Bitcoin ini adalah jumlah BTC yang saat ini dimiliki di bursa.

    Data menunjukkan bahwa pialang masih memindahkan kepemilikan mereka dari dompet pertukaran dengan cepat ke Cold Storage yang menunjukkan bahwa mereka mengadopsi strategi investasi jangka panjang (HODL).

    Pengumpul data Unfolded telah mengungkapkan dalam cuitan Twitter-nya, sambil menawarkan grafik dari Glassnode yang menunjukkan adanya penurunan saldo di bursa.

    Inia artinya adalah dengan pengurangan BTC di pialang, penjualan BTC juga akan berkurang dan tekanan penjualan otomatis berkurang. Ini adalah sinyal bullish untuk Bitcoin.

    Baca Juga: Boss Binance: Peretasan Twitter Positif Untuk Kripto Karena Alasan Ini

    Hal ini juga konsisten dengan data pada tahun 2017, dimana harga BTC mencapai $20.000-an.

    Salah satu analis di Twitter mengatakan ada beberapa faktor yang bisa membuat trend bull kembali ke Bitcoin:

    1. Harga diatas MA100 Hari dan 200 Hari,

    2. Akumulasi volume yang gila,

    3. Penurunan volume lebih besar dari gerakan besar yang muncul,

    4. Saat kami mengambil semua posisi terendah, break ke atas lebih mungkin terjadi.

    Baca Juga: Bitcoin Sebagai Emas Digital





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Sebagian Besar Investor Crypto Mayoritas Memegang Bitcoin Lebih dari Altcoin

    Sebuah survei yang menarik mengungkapkan bahwa mayoritas investor crypto telah menyimpan sebagian besar kepemilikannya di Bitcoin, bukan di Altcoin.

    Karena harga Bitcoin (BTC) mencatat harga tertinggi tahunan baru, sebagian besar peserta dalam survei tersebut telah berbagi bahwa mereka memegang sebagian besar kepemilikan mereka di Bitcoin daripada Altcoin.

    Para trader Bitcoin meraup keuntungan karena Oktober telah menjadi bulan yang baik untuk BTC.

    Baca Juga: Kabar PayPal Dukung Crypto, Buat Bitcoin Melambung ke $13.000!

    Komentator dan analis crypto Josh Rager melakukan cuitan di Twitter untuk bertanya kepada pengguna crypto berapa banyak portofolio mereka yang dialokasikan untuk Bitcoin. Para pemilih harus memilih salah satu dari empat opsi yang paling menggambarkan portofolio mereka.

    Hasilnya pun cukup menarik. Sebanyak 35% responden mengungkapkan bahwa mereka mendedikasikan kurang dari 10% portofolio mereka untuk mata uang crypto utama tersebut. Kategori ini Bullish di Altcoin dan memiliki jumlah suara tertinggi dalam jajak pendapat.

    Sebanyak 23,2% responpen menyatakan bahwa Bitcoin memegang persentase yang signifikan dalam portofolio mereka. Menurut hasil, orang-orang ini mendedikasikan antara 51% hingga 89% dari portofolio mereka untuk Bitcoin.

    Kategori tertinggi ketiga terdiri dari maksimalis Bitcoin yang sangat Bullish terhadap Bitcoin. Para pemilih ini, yang menghasilkan 22% dari hasil jajak pendapat, mengatakan bahwa 90 hingga 100% dari portofolio mereka dialokasikan kepada sang crypto utama.

    Terakhir, kategori keempat, yang terdiri dari 18% pemilih, mengatakan mereka mengalokasikan antara 11 hingga 50% untuk BTC.

    Dengan kata lain, hampir 46% responden berbagi bahwa mereka memiliki lebih dari setengah portofolio mereka dalam Bitcoin daripada Altcoin.

    Baca Juga: Perbedaan Bitcoin dan Altcoin, Mana yang Lebih Aman?

    Hal ini menjadi cerminan bahwa kemungkinan, para responden telah memiliki Bitcoin mereka sebelum lonjakan terbarunya, setelah berita Paypal yang akan memasuki ranah crypto, dan juga karena berbagai sentimen positif yang mengiringi BTC telah memicu optimisme tersendiri dari para investor maupun trader. Bagaimana menurut Anda?

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Alasan Investor Baru Pilih ADA Daripada Bitcoin dan Ethereum

    Trader dan analis Crypto popular, Alex Krüger, baru-baru ini menulis sebuah komentar di laman Twitter pribadinya mengenai alasan aset Cardano (ADA) yang mungkin menjadi aset paling dicari para investor baru.

    Alex Krüger juga menghubungkan popularitas Cardano dengan podcast. Meskipun ada banyak podcast kripto yang populer, Krüger lebih merujuk pada podcast yang dipandu oleh Charles Hoskinson.

    Krüger mengakui taktik jitu ala Hoskinson selaku salah satu pendiri dan CEO IOHK, perusahaan di belakang Cardano, memang pintar mempromosikan asetnya melalui media sosial.

    Sementara pencipta Bitcoin saja dirahasiakan identitasnya.

    Hoskinson sendiri diketahui cukup aktif di platform media sosial. Di laman pribadinya, ia menjelaskan konsep yang mencakup proposal pembaruan Cardano, tantangan kripto global, serta melakukan sesi AMA reguler atau ‘ask me anything‘.

    Dengan kata lain, investor pemula yang baru ingin coba-coba investasi akan lebih yakin untuk membeli ADA sebagai pilihannya karena sang CEO yang rutin memberikan update dan kejelasan tentang aset mereka.

    Baca JugaAnalisis Teknikal Menunjukkan Cardano Segera Ungguli Bitcoin

    Namun selain faktor external tersebut, sebenarnya apa sih yang membuat Cardano menjadi naik daun?

    Cardano Memiliki Banyak Pembaharuan

    Cardano berada di bagian depan soal pemutakhiran dan pembaharuan.

    Komunitas mereka merilis pembaruan statusnear-term pada 8 Oktober. Disebutkan bahwa tim sedang mengerjakan pemutakhiran dan pemeliharaan tersebut bersama dengan beberapa penerapan ERC20 lagi.

    Namun sebelum itu, Cardano telah resmi merilis smart contract miliknya pada tanggal 12 September 2021, dan menyiptakan stablecoin yang akan diterbitkan oleh COTI. Koin stabil tersebut bernama Djed.

    Sang pemilik juga telah mencatat bahwa untuk peningkatan desentralisasi. Mereka telah memperbarui dependensi node milik Cardano yang diikuti dengan menerapkan kembali modal konfirmasi transaksi.

    Selain itu, tim Cardano sedang meninjau beberapa testnet seperti Daedalus testnet v.4.3.2 dan berfokus pada debugging (proses menghapus bug di dalam code). Guna men-support peningkatan lainnya.

    Baca jugaPentingnya Strategi Fibonacci Dalam Trading Crypto

    Pandangan Positif Yang Dibangun

    Menurut laporan terbaru dari Grayscale Investments, mereka memperkirakan bahwa jaringan Cardano kerap kali menunjukkan tren fundamental yang positif.

    Lebih lanjut dalam waktu dekat, laporan tersebut menyatakan bahwa peluncuran Dapp, NFT, dan token baru dapat menyebabkan pemegang ADA mengalihkan alokasi mereka ke aset ini.

    Sementara itu, jaringan apapun memang tidak pernah lepas dari ancaman persaingan.

    Laporan tersebut menyebutkan bahwa pesaing terbesar ADA adalah blockchain Layer 1 dengan kemampuan smart contract yang juga dimiliki Ethereum, Solana, Internet Computer Protocol, Avalanche, dan lainnya.

    Namun perlu dicatat, bahwa Cardano Foundation baru-baru ini mengumumkan beberapa kemitraan strategis dengan nama-nama seperti COTI, Chainlink, Rival, dll. di Cardano Summit 2021.

    Kemitraan ini diharapkan dapat lebih meningkatkan adopsi dan penggunaan jaringan Cardano dalam beberapa hari mendatang.

    “Mitra ekosistem baru kami mencakup berbagai tantangan dan peluang di garis depan masyarakat global saat ini, termasuk perubahan iklim, NFT, keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan identitas digital, dan mereka akan memainkan peran penting dalam membantu kami mewujudkan visi kami. ” Ungkap Frederik Gregaard, CEO Cardano Foundation.

    Terlepas dari momentum perkembangannya, akhir bulan lalu memanglah bukan waktu yang tepat bagi Cardano.

    Karena rata-rata jumlah transaksi besar secara on-chain telah menunjukkan penurunan yang tajam.

    Laporan arus dana mingguan CoinShares, untuk periode hingga 1 Oktober, menunjukkan bahwa Cardano hanya menerima $1,1 juta dalam arus masuk modal.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Koin DeFi Teratas Merosot, Meski Bitcoin Melaju ke $12.000

    Beberapa hari terakhir ini merupakan hari yang sulit bagi pasar DeFi. Pasalnya, meski kinerja Bitcoin (BTC) relatif kuat dalam beberapa waktu terakhir, koin-koin teratas dari platform keuangan terdesentralisasi (DeFi) sepertinya sulit untuk melaju naik.

    Padahal, dalam tiga hari terakhir BTC bahkan sudah naik lebih dari 5% dari kisaran $11.300 ke nilai tertinggi baru-baru ini di $12.000. Peristiwa ini juga dirasa cukup unik, lantaran altcoin tidak ikut ke dalam aksi harga BTC yang kuat ini untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Analis memperkirakan, hal ini disebabkan terjadi pergeseran terhadap cara investor kripto mengalokasikan modal mereka ke pasaran.

    Baca Juga: 5 Tahun dari Sekarang, Bitcoin Diprediksi $1 juta/BTC

    Koin DeFi Turun Saat Bitcoin Naik

    Saat penulisan artikel, koin DeFi sedang mengalami tren turun meskipun Bitcoin melonjak naik dan berkonsolidasi untuk melaju ke angka $12.000 lebih.

    Sayangnya, bulls tersebut sepertinya hanya untuk BTC dan tidak pada altcoin DeFi lainnya. Menurut data dari Coinmarketcap, pasar DeFi sudah turun sebanyak 28,16% dalam sehari terakhir.

    Kinerja ini dirasa yang terburuk dalam beberapa bulan terkahir setelah kemunculan platform DeFi di dunia crypto.

    Fundamental DeFi Kuat

    Meski banyak yang khawatir akan keberlangsungan koin-koin DeFi ini, banyak dari para analis yang tetap percaya akan dasar dari ruang DeFi ini. Tentunya, beberapa peristiwa seperti pengguna aktif MetaMask yang terus bertambah dan peningkatan tren on-chainpengguna DeFi.

    Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri pun banyak pengiat DeFi yang terus melakukan inovasi. Misalnya saja baru-baru ini kerjasama antara Indodax dan Tokenomy mengeluarkan platform DeFi open source bernama Tadpole Finance beserta koinnya TAD.

    Baca juga: Tadpole Finance, DeFi dari Indonesia Ciptaan Indodax dan Tokenomy

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com