Tag: bitcoin

  • 4 Aset Kripto yang Berpotensi untuk Investasi di Masa Pandemi

    Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga sekarang membuat semua aspek kehidupan berubah. Salah satunya kini banyak orang yang sudah memulai investasi. Belajar dari situasi yang tidak pasti, investasi di masa pandemi menjadi salah satu hal penting yang harus dilakukan untuk memiliki aset safe haven lainnya. 

    Aset Kripto Diminati di Masa Pandemi

    Dilansir dari Antara News, investor kripto di Indonesia selama pandemi COVID-19 mengalami peningkatan yang amat pesat, khususnya di tahun 2021 ini. Jumlahnya mencapai 8,2 juta investor dan total nilai transaksi menyentuh angka Rp 370 triliun. Ternyata hal ini juga tak hanya terjadi di Indonesia saja, lho! Meningkatnya minat investasi kripto juga terjadi di berbagai belahan dunia. Adapun rata-rata volume perdagangan yang terjadi per harinya mencapai US$109.

    Bagi Anda yang ingin memulai investasi aset kripto di masa pandemi ini, yuk, simak aset kripto mana saja yang bisa Anda pilih!

    4 Aset Kripto yang Meningkat saat Pandemi

    Berikut beberapa aset kripto yang tengah meningkat di masa pandemi dan bisa Anda jadikan investasi di bulan Oktober 2021 ini:

    Aset kripto pertama yang bisa Anda pilih untuk berinvestasi adalah Bitcoin karena ia memiliki kapitalisasi pasar lebih dari US$821 miliar. Bitcoin sendiri pertama kali oleh Satoshi Nakamoto dan diperkenalkan di tahun 2009 dengan harga awal hanya kurang dari US$1. Namun, karena jumlahnya yang terbatas yaitu hanya ada 21 juta koin di dunia membuat harga Bitcoin menjadi terus melonjak. 

    Kini per 30 September 2021, harga satu Bitcoin mampu menyentuh lebih dari US$43.000. Padahal jika kita melihatnya lima tahun yang lalu, harga satu Bitcoin hanya sekitar US$500. Dengan begitu, kini harga Bitcoin bertumbuh hingga 8.600%. 

    Selanjutnya yang menjadi primadona tak lain adalah Ethereum dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$353 miliar. Sama seperti aset kripto lainnya, Ethereum pun juga berjalan di suatu sistem yang bernama blockchain. Alasan lain yang menjadikan Ethereum ini memiliki potensi karena hadirnya NFT atau Non Fungible Token yang berjalan di atas blockchain Ethereum. 

    Nah, Ethereum ini turut mengalami pertumbuhan yang luar biasa, lho! Dengan waktu lima tahun, harganya naik lebih dari 27.000% dari US$11 menjadi US$3.000.

    Selanjutnya ada Tether dengan nilai kapitalisasi pasar lebih dari US$ 68 miliar. Tether sendiri diciptakan oleh Jan Ludovicus van der Velde dan berjalan di blockchain Bitcoin dengan Protokol Layer Omni. Tether merupakan stablecoin, yang berarti nilainya didukung oleh mata uang fiat, yakni Dollar AS.

    Dengan demikian, Tether hadir dengan nilai yang lebih konsisten dibandingkan dengan aset kripto lainnya. Makanya hal inilah yang menjadikan Tether disukai oleh para investor yang waspada dengan volatilitas ekstrim yang terjadi pada koin lain.

    Terakhir, Cardano dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$67 miliar menjadi pilihan aset kripto yang bisa Anda pilih. Cardano dirilis pada tahun 2015 dan tergolong ke dalam generasi ketiga aset kripto, sehingga ia digadang-gadang menjadi aset kripto termutakhir saat ini. 

    Adapun pertumbuhan yang dimiliki oleh token Cardano ini relatif sederhana dibanding dengan aset kripto lainnya. Setidaknya pada 20 September 2021 harga Cardano berada di US$2.10 dan memiliki peningkatan harga lebih dari 10.500% dibandingkan 5 tahun lalu yang hanya memiliki harga US$0.02.

    Jadi, gimana? Apakah Anda sudah menetapkan aset kripto mana yang akan dijadikan investasi di masa pandemi ini? Namun, satu yang tetap harus digarisbawahi adalah investasi harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda sendiri. Yuk, daftarkan diri Anda dan selesaikan KYC Anda segera di www.tokocrypto.com!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Jadi Aset Wajib Dimiliki oleh Investor di 2025

    Sebagai aset digital yang digadang-gadang akan menggantikan emas fisik, Bitcoin diprediksi akan menjadi salah satu aset yang menjadi bagian dari portofolio investasi setiap investor pada 2025 mendatang. Apakah kamu percaya akan hal itu?

    Mungkin saat ini Bitcoin memang mendapatkan perlakukan khusus dari investor di luar sana, lantaran menjadi salah satu aset investasi paling cuan sepanjang tahun 2020. Namun, potensi Bitcoin hanya sebatas sebagai jenis instrumen investasi alternatif saja. Ketika instrumen investasi lainnya sedang mengalami tekanan gegara adanya faktor pasar.

    Di sisi lain, indikator bahwa Bitcoin bisa menjadi emas digital di masa depan bisa dilihat dari volatilitas Bitcoin yang menurun beberapa waktu lalu. Di mana, volatilitas yang cukup rendah memang menjadi makanan empuk bagi paus “Bitcoin” yang lebih menyukai kondisi pasar seperti itu. Karena tidak terlalu fluktuatif sehingga berpotensi untuk menahan aset digital dalam jumlah besar dalam waktu yang cukup lama.

    Baca juga: 4 Persamaan Emas dan Bitcoin

    Jika benar-benar akan menjadi aset safe haven di masa depan tentunya Bitcoin akan menggantikan emas fisik sebagai aset investasi yang kebal inflasi, dimana hal ini sudah dibuktikan di tengah ketidakpastian ekonomi seperti sekarang, banyak investor yang mengalihkan dananya ke dalam Bitcoin karena dianggap lebih aman dibanding hanya menyimpan uang dalam bentuk uang tunai saja.

    Baca juga: Seberapa Profit Bitcoin Dibandingkan Emas dalam 10 Tahun?

    Menurut CEO Bitpanda, Eric Demuth, dalam waktu 5 tahun mendatang Bitcoin akan bertransformasi menjadi suatu hal yang mainstream atau umum. Karena akses langsung kepada Bitcoin akan lebih mudah, lantaran adanya perkembangan regulasi yang semakin jelas tentang keberadaan mata uang virtual Bitcoin dkk. Sehingga, baik itu investor kecil maupun investor besar akan menempatkan dananya di Bitcoin dalam portofolio investasi mereka pada 2025. Hal ini didorong oleh regulasi yang meningkatkan kredibilitas Bitcoin dkk di mata investor.

    Selain itu, pandemi menjadi momen kebangkitan dari  Bitcoin. Di mana, di saat pandemi permintaan akan cryptocurrency satu ini meningkat gegara banyak bisnis yang tutup akibat Covid-19, yang membuat pekerja harus bekerja dari rumah namun tidak melupakan pentingnya investasi dan Bitcoin menjadi salah satu opsinya.

    Baca Juga: Hal yang Harus Diketahui Sebelum Membeli Bitcoin atau Aset Kripto Pertamamu!

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Seiring Harganya yang Naik, Aktivitas Transaksi Blockchain Bitcoin Semakin Moncer

    Aktivitas transaksi harian Bitcoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa sejak 6 Oktober. Total transaksi yang diselesaikan secara on-chain selama kurang lebih satu pekan di jaringan Bitcoin mencapai $31 miliar.

    Penyelesaian transaksi di jaringan Bitcoin ini menandai rekor peningkatan volume harian sekitar 40 kali sejak awal tahun 2020.

    Analis on-chain Willy Woo mengomentari peningkatan aktivitas dan nilai penyelesaian selama akhir pekan ini. Ia  membuat cuitan yang menyatakan bahwa volume uang yang bergerak di blockchain Bitcoin saat ini berada di atas jaringan pembayaran terpusat seperti Visa dan Mastercard di Amerika Serikat.

    Baca jugaShiba (SHIB) Naik Lebih dari 427 % Dalam Satu Bulan, Apa Pemicunya?

    “[Jaringan Bitcoin] saat ini menghasilkan ~$190rb per detik. Bandingkan ini dengan $130rb per detik oleh Visa untuk pelanggan AS dan $55rb per detik untuk Mastercard,” ujar Willy Woo, 9 Oktober 2021.

    Sementara itu, berdasarkan data Bitinfocharts , nilai rata-rata transaksi yang dieksekusi di jaringan Bitcoin pun terus meningkat selama tiga bulan terakhir menjadi $732.000 — meningkat 273% sejak awal Juli.

    Baca jugaKolaborasi Tokocrypto dan CryptoHero, Aplikasi Bot Crypto Untuk Mempermudah Trading Aset Kripto

    Bitcoin Masih di Jalur Banteng

    Di samping itu, pergerakan harga Bitcoin pun berada pada jalur bullish. Analis Portalkripto.com, Arly Fauzi mengatakan, saat ini BTC masih dalam area bullish channel.

    “Minor trend ngebentuk pola ascending wedge , mudah-mudahan confirm breakout,” katanya.

    Menurutnya, major resistance Bitcoin (BTC) saat ini berada pada harga $64,8k. Apabila pergerakan harga Bitcoin (BTC) mampu breakout major resistance-nya, maka target bullish pertama berdasarkan fibo.retracement nya berada pada area harga $73,117-85,058.

    Saat laporan ini ditulis, harga Bitcoin berada pada level $56,535, naik 1,6 dalam 24 jam terakhir. Harga BTC naik sekitar 18,52% selama sepekan terakhir. Sedangkan, kapitalisasi pasarnya masih berada di kisaran $ 1 triliun. Dominasi atas altcoin pun meningkat ke level 45,8%.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Venezuela Uji Coba Bursa Efek Bertenaga Blockchain

    Venezuela mulai mengujicoba platform perdagangan efek (saham dan obligasi/sekuritas) bertenaga blockchain. Setiap unit saham ditokenisasi selayaknya aset kripto agar lebih mudah ditransaksikan dan berdayajangkau global.

    Baca Juga: Mengenal Toko Token (TKO): Inisiatif DeFi Pertama di Indonesia

    “Kami memberikan wewenang kepada platform Bursa Efek Desentralistik Venezuela (BDVE) untuk mengujicoba selama 90 hari. Jikalau berhasil, maka izin penuh akan diberikan,” sebut Pengawas Sekuritas Nasional Venezuela beberapa hari lalu.

    Bagi Venezuela, cara ini memungkinkan negara itu mengakses modal masuk ke pasar sahamnya dari luar negeri tanpa menggunakan dolar AS dari sejumlah negara.

    Maklumlah, negara pimpinan Nicolas Maduro itu terkena sanksi ekonomi oleh AS, yang tidak memungkinkan transaksi keuangan menggunakan keluar-masuk dari negaranya.

    Berdasarkan keterangan di platform itu, bahwa efek (sekuritas) yang diperdagangkan di berupa token berjenis ERC-223 atau ERC-721.

    Kendati tidak disebutkan secara eksplisit berjalan di blockchain Ethereum, penggunaan standar token seperti itu adalah indikasi kuat, bahwa platform memang memanfaatkan blockchain sejuta umat itu. Struktur platform itu sendiri sepertinya berjalan di blockchain, selayaknya decentralized exchange.

    Namun demikian, mereka tidak menyebutkan apakah aset kripto nasional Venezuela yang didukung minyak, yakni Petro, akan digunakan bursa itu.

    Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada hari yang sama mengumumkan rancangan undang-undang (RUU) sanksi yang baru untuk mengurangi dampak sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh AS.

    RUU tersebut, yang saat ini sedang ditinjau oleh Majelis Konstituante Nasional Venezuela, mencatat bahwa aset kripto yang didukung oleh swasta dan negara dapat digunakan untuk melakukan perdagangan di luar jangkauan sanksi AS.

    Penerapan
    Penerapan blockchain di bursa efek memang bukanlah isapan jempol. Sejumlah studi serius telah mengemuka sejak beberapa tahun terakhir.

    Sejumlah negara yang mengujicoba bursa efek berbasis blockchain, Sumber: OECD (20218).

    Pada tahun 2018, misalnya, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (EOCD) menyebutkan bahwa blockchain sangat unggul dan tepat guna dimanfaatkan untuk platform perdagangan efek (pasar modal).

    “Bursa saham secara global termasuk di Asia mulai bereksperimen dengan teknologi blockchain untuk kliring dan penyelesaian, pasca perdagangan, serta dalam penerbitan sekuritas (sebagian besar adalah surat utang perusahaan),” sebut EOCD.

    Ketika laporan itu diterbitkan sejumlah negara telah mengujicoba pasar efek bertenaga blockchain, di antaranya Hong Kong, India, Jepang, Myanmar dan Korea Selatan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bisakah Bitcoin Tumbuh di Negara Berkembang?

    Bagi warga di negara maju, Bitcoin adalah rencana cadangan jika sistem keuangan konvensional saat ini runtuh atau jika perlu sebagai alat untuk menghindari pantauan pihak berwenang. Bagaiman dengan di negara di berkembang, apakah Bitcoin bisa tumbuh?

    Salah satu negara yang rusak parah adalah Turki. Mata uangnya, lira melemah sebesar 85 persen terhadap dolar AS sejak awal 2008.

    Bank sentral Turki melakukan intervensi, tetapi tidak berhasil menenangkan situasi. Laju depresiasi lira dapat dilawan dengan menaikkan tingkat suku bunga, tetapi dampaknya buruk bagi ekonomi.

    Libanon, yang berada dekat Turki malah bangkrut. Sebelum ledakan besar baru-baru ini yang terjadi di ibukota Beirut, negara tersebut sudah terjerat hutang besar.

    Pound Libanon telah kehilangan lebih dari separuh nilainya terhadap dolar AS, kendati dipatok satu banding satu terhadap mata uang itu.

    Lalu Nigeria yang disebut sebagai Silicon Valley-nya di benua Afrika, tetapi permasalahan inflasi melanda, di mana rakyat tidak pernah merasakan inflasi kurang dari 5 persen sejak 1972.

    Hal serupa dialami warga Kenya, dimana inflasi kurang dari 5 persen hanya terjadi empat kali sejak kurun waktu yang sama.

    Permasalahan ini nyata dihadapi warga negara-negara tersebut. Jika mereka membeli barang yang dijual dalam mata uang asing, sementara mata uang lokal melemah, maka pembelian menjadi serba mahal.

    Akses Kecil
    Bagaimana dengan Bitcoin? Jika seseorang yang membeli di harga puncak sekitar US$20 ribu per BTC tidak akan banyak terganggu oleh penurunan hingga sekitar US$10 ribu saat ini.

    Kendati warga AS merasakan penurunan aset sebesar 50 persen, warga Turki justru memiliki lira 15 persen lebih banyak. Hal ini tidak cukup untuk mempertahankan nilai tabungan warga Turki, tetapi jauh lebih baik dibanding jika tidak menyimpan Bitcoin.

    Bagi warga di negara-negara ini, membeli dolar AS lebih stabil, tetapi tidak semua orang punya akses untuk membelinya.

    Jika pun ada, harga dolar AS lebih mahal dibanding harga tukar resmi. Seperti di Suriah, melalui gabungan sanksi, virus corona, krisis Libanon dan perang, negara itu memasuki resesi parah, sampai-sampai warga Suriah rela menukar uang mereka untuk lira Turki.

    Jarang ada yang bersedia menjual Bitcoin untuk pound Suriah atau lira Turki, sebab itu sedikit sekali modal yang diubah ke Bitcoin atau logam mulia di negara di mana mata uangnya runtuh.

    Selain itu, warga yang semakin miskin tidak akan membeli Bitcoin dan juga masih sedikit yang sadar akan adanya aset kripto itu.

    Permasalahan sebaliknya terjadi di negara maju. Bank sentral gagal mencetak angka inflasi tinggi, seperti di benua Eropa yang mencapai inflasi rata-rata 1,26 persen dalam dua tahun bahkan setelah melakukan pencetakan uang dan suku bunga negatif. Mata uang negara maju relatif lebih stabil dibanding negara berkembang.

    Bagi warga negara maju, Bitcoin adalah eksperimen ekonomi yang inovatif dan membuka akses terhadap pasar modal yang sebelumnya hanya diakses segolongan tertentu.

    Kripto ini menjadi rencana cadangan bila sistem keuangan runtuh, sementara di negara lain hal itu sudah terjadi.

    Mata uang lemah pun mengalami masa-masa stabil. Kendati demikian, rencana cadangan menjadi penting saat kondisi mulai genting. Sebelumnya, rakyat mencari aman dalam bentuk logam mulia, tetapi hal itu kini berubah dimana dunia menjadi lebih digital, otomatis dan cepat.

    Bitcoin cocok sebagai aset masa kekinian, sebab dapat disimpan secara digital. Sebagian besar warga negara berkembang memiliki ponsel yang bisa dipakai untuk bertransaksi Bitcoin.

    Perubahan ini sudah mulai terjadi, dimana Nigeria menjadi negara yang paling banyak menelusuri istilah Bitcoin, disusul oleh Afrika Selatan dan Venezuela.

    Bukan hanya soal transaksi keuangan, Bitcoin membantu menyimpan tabungan yang sulit disita dan juga menjadi komoditas untuk diperdagangkan.

    Bitcoin juga demokratis dan siapapun bisa berpartisipasi. Kendati penipuan aset kripto masih marak terjadi, hanya soal waktu sebelum revolusi Bitcoin mulai merebak di negara berkembang yang membutuhkannya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Terra Tembus All Time High, Ini 3 Alasannya!

    Terra (LUNA) alami peningkatan besar setelah resmi meluncurkan pembaharuan protokol jaringannya yang disebut Columbus-5. Peluncuran Columbus 5 itu juga menjadi salah satu pemicu Terra kembali raih All Time High.

    Pembaruan protokol menunjukkan dedikasi pengembang untuk memperbaiki bug, menggabungkan permintaan pengguna, serta menambahkan fitur baru yang membuat protokol menjadi kompetitif dan menopang nilai token.

    Menurut data yang dilansir dari TradingView, setelah mencapai level terendah di angka $23,81 pada 21 September kemarin, harga token LUNA melonjak 108% dan mencapai rekor tertinggi baru di angka $49,55 pada 4 Oktober ini.

    Hal itu dikarenakan volume perdagangan 24 jamnya melonjak sebesar $2,5 miliar.

    LUNA/USDT 1-day chart. Source: TradingView

    Dan berikut adalah alasan di balik Terra dengan pencapaiannya kembali meraih All Time High.

    Baca jugaSelamat Datang di Bulan Bitcoin, Altcoin Minggir Dulu

    Peluncuran Columbus-5

    Columbus-5 resmi diluncurkan pada 30 September silam. Menurut pengembang Terra serta beberapa analis independen. Peresmian protokol baru tersebut menjadi peningkatan pada Terra yang paling signifikan hingga saat ini.

    Memodifikasi model tokennomic proyek tersebut adalah penyebab utama token LUNA akhirnya mencetak UST bakar, alih-alih masuk ke kumpulan komunitas.

    Menurut data dari Terra, ada senilai $832 token LUNA yang terbakar pada blok genesis Columbus-5.

    Perubahan ini telah memperkenalkan tekanan deflasi pada pasokan token LUNA dan dapat membantunya meningkatkan harga dalam jangka panjang karena permintaan untuk UST telah tumbuh.

    Standar Komunikasi Antar-Blockchain

    Alasan kedua untuk mendorong momentum LUNA adalah integrasi telah didukung standar Inter-Blockchain Communication (IBC) yang memungkinkan jaringan Terra untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan protokol di ekosistem Cosmos.

    Baca JugaCosmos (ATOM) Terima 1 Juta Transfer Hanya Dalam Satu Bulan!

    Integrasi ini membuka Terra dan stablecoin UST-nya untuk diadopsi secara meluas di seluruh ekosistem Cosmos dan menjadikannya stablecoin pilihan untuk aplikasi dan cross-chain tersebut.

    Dengan kumpulan proyek yang lebih besar yang saat ini telah memiliki akses ke UST. Ini dapat menyebabkan deflasi lebih lanjut dalam pasokan LUNA karena lebih banyak yang perlu dibakar dalam proses pencetakan UST barunya.

    Melonjaknya Nilai yang Terkunci pada Ekosistem Terra

    Alasan ketiga untuk pergerakan harga bullish pada Terra adalah ekosistem jaringannya telah berkembang dalam protokol desentralisasi keuangan (DeFi).

    Hal itu sangat membantu mendorong nilai total yang dikunci pada protokol ke level tertinggi baru sepanjang masa.

    Menurut data dari Defi Llama, nilai total aset yang terkunci di jaringan Terra mencapai rekor $10,07 miliar pada 4 Oktober kemarin dan bertepatan pada harga token LUNA menembus rekor tertinggi baru.

    Total value locked on Terra. Source: Defi Llama

    Saat ini, TVL Terra telah berada di atas $10 miliar dengan platformnya Ancor Protocol (ANC) yang berada di peringkat teratas dengan $3,86 miliar.

    ANC sendiri adalah jalan utama untuk mencetak UST dengan menjaminkan Terra atau Ethereum sebagai jaminannya.

    Protokol DeFi terkenal lainnya di jaringan tersebut adalah Lido (LDO), yang memiliki TVL $3 miliar, Mirror (MIR) dengan TVL $1,38 miliar, dan Terraswap yang memiliki TVL $1,32 miliar.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin akan Capai $ 400.000 Dalam Siklus Bulls Berikutnya Jika Sejarah Berulang

    Banyak spekulasi sudah beredar mengenai level tertinggi baru sepanjang masa yang mungkin akan dicapai Bitcoin (BTC) disepanjang siklus Bullish barunya.

    Ya, tidaklah aneh jika memang spekulasi semacam ini telah selalu ada untuk menggambarkan betapa antusias kepercayaan komunitas terhadap crypto utama.

    Menurut pakar industri populer yang menggunakan akun Twitter Tytan Inc., Bitcoin tengah bersiap untuk mencatat keuntungan serupa seperti yang terjadi pada 2016-2017.

    Baca Juga: Whale Bitcoin: Strategi Sederhana Yang Membuat Anda Kaya

    Pada grafik pertama yang dia bagikan, dia menguraikan bahwa harga telah melalui pola yang sama dan berada di ambang breakout.

    Dia juga menunjukkan persentase kenaikan BTC secara keseluruhan sejak peristiwa tersebut berlangsung hingga level tertinggi sepanjang masa sebelumnya di sekitar $ 20.000 dari Desember 2017. Saat itu, harga melonjak total 3.415%.

    Mengingat bahwa BTC saat ini diperdagangkan sekitar $ 11.300, kenaikan serupa berarti harganya akan mencapai $ 400.000. Ini juga akan membuat total kapitalisasi pasar Bitcoin sekitar $ 7,3 triliun.

    Ia juga menguraikan bahwa Bitcoin keluar dari Bullish Pennant sekitar September 2016, dan itu hanya akan mengarah ke potensi Bullish terbaru!

    Menurut ahli, ketika pola ini ditembus pada tahun 2016, butuh waktu sekitar satu tahun dan tiga bulan untuk harga naik hignga 3.415%.

    Jika sejarah berulang, Bitcoin akan mencapai harga $ 400.000 pada akhir 2021 atau pada awal 2022.

    Ini bukan pertama kalinya seseorang menjadi begitu Bullish di BTC. Sebelumnya, analis terkemuka lainnya yang condong ke Bulls mengatakan bahwa cryptocurrency ini mungkin akan terbang tinggi ke level $ 430.000 pada akhir 2021.

    Apakah Mungkin Ini Terjadi?

    Menurut tim Cryptoharian, harga BTC tidak mungkin ke $400.000-an. Paling tinggi di $20.000-an, atau paling realistis di $14.000-$15.000. Dan, ini-pun harus melihat apakah BTC bisa menjadikan $12.000 support kuat (saat ini masih key resistance).

    Dan yang perlu dicatat ialah, ini mendasarkan penilaiannya pada sejarah grafik, dengan mempertimbangkan kinerja BTC pada 2013 dan pertengahan 2016, dimana sikap global dan adopsi massal kemungkinan akan menjadi peran utama untuk skema Bullish ini yang tentu patut dijadikan bahan pertimbangan investasi. Bagaimana menurut Anda?

    Baca Juga: Bank Sentral Menginginkan CBDC Karena Mereka Takut pada Bitcoin

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Selamat Datang di Bulan Bitcoin, Altcoin Minggir Dulu

    Bitcoin menginjak harga tertinggi selama 5 bulan terakhir. Pada perdagangan Rabu, 6 Oktober 2021, Bitcoin menginjak harga $ 55 ribu.

    Kenaikan harga ini pun diikuti oleh menanjaknya Bitcoin dominan yang meneyntuh level 44,9%. Level ini pun menjadi titik tertinggi dominasi Bitcoin terhadap alts selama 4 bulan terakhir.

    Berdasarkan analisa tim analis Portalkripto, secara teknikal pergerakan Bitcoin saat ini berada di jalur banteng. Atas analisa teknikal tersebut,, target resistensi Bitcoin terdekat berada di harga $58,9.

    Baca jugaTezos (XTZ) dan Kebebasan Bersuara dalam Blockchain

    Kenaikan harga BItcoin di bulan ini sudah diprediksi oleh sejumlah analis. Oktober akan menjadi tonggak kenaikan harga Bitcoin ke depannya.

    Baca jugaBank of America: Bitcoin dan Industri Kripto Tak Bisa Diabaikan

    Altcoin Minggir dulu

    Berdasarkan indikator ​​blockchaincenter.net, bulan ini menunjukan bahwa Bitcoin akan menguasai pasar. Sedangkan, altcoin akan terpinggirkan untuk sementara waktu hingga pergerakan BTC sideways.

    Seperti pada pergerakan pasar kripto pada umumnya, ketika Bitcoin dominan dan harga BTC sama-sama naik menandakan bahwa altcoin akan cenderung bearish. Altcoin akan kembali pumping ketika harga Bitcoin dominan turun tapi harga BTC terus naik.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah GAP CME Bitcoin yang Baru Dibentuk yang Kemungkinan akan Segera Terisi

    Prospek teknis Bitcoin telah sangat meningkat selama beberapa hari terakhir, dengan kemampuan Bulls untuk mendorong crypto utama ini dari posisi terendah $ 10.600 dan melewati level Resistance $ 11.200 yang memberikan struktur pasarnya dengan dorongan yang serius.

    Di mana trend selanjutnya kemungkinan besar akan bergantung pada reaksinya terhadap level Resistance kunci berikutnya di $ 11.600, dimana level ini terlihat cukup signifikan dan dapat menyebabkan kerugian penting jika kenaikan tidak dapat berlanjut diatasnya!

    Naiknya BTC, juga membawa altcoin naik melambung tinggi.

    Baca Juga: Apakah Altseason Akan Kembali Datang untuk Mencerahkan Altcoin Utama?

    Penting untuk diingat bahwa momentum cryptocurrency saat ini berakar pada perkembangan berita Bullish seputar keputusan Square untuk membeli BTC senilai $ 50 juta untuk disimpan sebagai aset cadangannya.

    Banyak investor percaya bahwa lebih banyak perusahaan akan mengikuti, menciptakan krisis likuiditas sisi jual yang berpotensi mendorong Bitcoin lebih tinggi secara signifikan.

    Ada satu GAP di CME yang baru terbentuk yang mungkin harus diisi oleh BTC sebelum dapat melihat momentum lebih lanjut.

    Seorang trader menunjuk ke level ini sebagai target mundurnya jangka pendek, mencatat bahwa rebound di sini dapat mengkatalisasi kenaikan serius yang mendorong Bitcoin melewati Resistance yang saat ini sedang diusahakan untuk ditembus.

    Saat berbicara tentang potensi trend Bitcoin dalam waktu dekat, seorang analis mencatat bahwa dia mengarahkan pandangannya pada penurunan menuju GAP pada CME yang baru-baru ini terbentuk di level $ 11.110.

    Dia mencatat bahwa penurunan di sini akan memberikan probabilitas tinggi bahwa kenaikan lebih lanjut akan segera terjadi karena Support kuat yang berada tepat di bawahnya.

    “Telah menempatkan beberapa tawaran di sekitar GAP pada CME di 11.110. Berharap mereka mengisi tutup mingguan atau Senin pagi. Kemungkinan besar yang kami lakukan itu bisa menjadi perdagangan yang mudah (saya harap).”

    Meski GAP biasanya dianggap sebagai peluang yang jelas, nyata, dan mudah, tentu saja sentimen keseluruhan pasar masih perlu dipertimbangkan untuk mengantisipasi seberapa jauh harga akan mencoba turun, bisa dari aksi penutupan GAP dan juga aksi Taking Profit yang perlu diwaspadai juga.

    Baca Juga: Whale Bitcoin: Strategi Sederhana Yang Membuat Anda Kaya

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank of America: Bitcoin dan Industri Kripto Tak Bisa Diabaikan

    Bank of America (BoA) menegaskan lagi sikap positifnya terhadap Bitcoin. Kali ini, salah satu bank terbesar di Amerika Serikat itu mengatakan, bahwa Bitcoin dan industri kripto tidak bisa diabaikan.

    Hal itu dituangkan melalui sebuah artikel berjudul Digital Assets Primer: Only the first inningArtikel ditulis atas nama Alkesh Shah, Kepala Divisi Global Cryptocurrency and Digital Asset Strategy BoA.

    Alkesh juga memberikan analisis mendalam tentang keadaan industri blockchain saat ini dari kripto hingga DeFi dan NFT (Non-Fungible Token) yang digemari oleh banyak pesohor, termasuk VISA dan Mastercard.

    Baca jugaMain Game Kripto Axie Infinity? Pasang Ronin Wallet Dulu

    Bank of America Kian Yakin dengan Keunggulan Bitcoin

    Inti dari artikel itu adalah, bahwa industri kripto dan layanan keuangan terdesentralisasi telah berkembang. Sehingga, bagi BoA terlalu besar untuk diabaikan.

    Berdasarkan kajian bank itu, hampir 221 juta pengguna menukar kripto menggunakan layanan DeFi (decentralized finance), dengan pertumbuhan yang stabil. DeFi berseberangan dengan entitas bursa kripto sentralistik. DeFi menitikberatkan pada keamanan akses menggunakan akun yang dikendalikan penuh oleh penggunanya.

    Demikian pula, peningkatan partisipasi investor institusional, merupakan indikasi yang jelas bahwa kripto lebih dari sekadar fenomena pendek yang didorong oleh kaum retail alias pemain kecil.

    Sektor DeFi Tumbuh Besar

    BoA  menyoroti bahwa selama paruh pertama tahun 2021 ekosistem DeFi menerima hampir US$17 miyar dalam pendanaan dari investor institusional.

    Dibandingkan tahun lalu, hanya U$5,5 milyar yang tercatat selama tahun 2020. Demikian pula, merger dan akuisisi di industri kripto meningkat dari US$940 juta pada tahun 2020. 2020 menjadi US$4,2 miliar pada 2021.

    Walaupun tetap mendukung keunggulan Bitcoin sebagai kripto pertama di dunia, bank itu meramalkan keungggulan kripto lain di atas Bitcoin.

    “Bitcoin itu penting, tetapi ekosistem aset kripto saat ini jauh lebih penting. Penelitian kami menunjukkan, bahwa semakin banyak  mengeksplorasi implikasi di seluruh industri termasuk keuangan, teknologi, rantai pasokan, media sosial dan game,” sebut Alkesh.

    Hal lainnya diramalkan akan datang di dunia blockchain dan industri kripto secara umum adalah masyaraakt bisa menggunakan teknologi blockchain untuk membuka kunci ponsel, membeli saham, rumah, menerima dividen, meminjam, meminjamkan atau menyimpan uang, atau bahkan membayar bensin atau pizza.

    Hal itu menggambarkan bahwa teknologi blockchain sudah menjadi mainstream dan digunakan luas lintas sektor dan bisnis.

    Bank of America juga menyoroti bahwa pertumbuhan NFT merupakan kejutan bagi semua orang. Para peneliti menekankan ketakutan mereka bahwa penilaian besar dari beberapa bagian NFT seperti karya seni yang difraksinasi atau NFT dari permainan crypto. Loot bisa menjadi gelembung yang mempengaruhi banyak investor yang tidak mengetahui risiko yang mereka hadapi.

    Baca jugaBitcoin Naik Usai Ketua SEC Tegaskan Tidak Melarang Crypto

    Beda Waktu, Beda Sikap

    Bisnis perbankan perlu penelitian yang mendalam, melihat dan menguji secara langsung sektor yang bisa menguntungkan dirinya.

    Itulah sebabnya pernyataan kali sangat kontras dengan pernyataan beberapa tahun sebelumnya. Bank of America pernah berpendapat Bitcoin terlalu volatil dan tidak praktis sebagai aset store-of-value.

    Bahkan pada pada Maret 20201 bank itu merilis sebuah laporan yang memastikan bahwa kenaikan Bitcoin menjadi US$60.000 pada dasarnya didorong oleh spekulasi dan bukan oleh keunggulan yang melekat pada kripto.

    Namun, setelah lonjakan besar pada April 2021 lalu itu. Bank ini justru mendirikan divisi penelitian khusus tentang kripto, mengikuti langkah bank besar lainnya.

    Bahkan pada Juli 2021 lalu, BoA mengatakan berencana akan menerbitkan produk Bitcoin berjangka, yang debutnya dimulai oleh CME pada Desember 2017 silam.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com