Beberapa hari yang lalu, HTC, produsen telepon selular asal Taiwan mengumumkan “CryptoPhone” terbarunya, HTC Exodus 1s. Model ini adalah model termurah dari model pertama, yakni Exodus 1. Tak tanggung-tanggung Exodus 1s diklaim sebagai “HP Bitcoin” karena mampu menangani “tugas berat”, yakni Bitcoin Full Node, yang selama ini lazim dijalankan di komputer desktop atau laptop atau perangkat khusus.
HTC Exodus 1s.
Exodus 1s pada prinsipnya sama dengan ponsel biasa, yakni bersistem operasi Android Oreo dan berkekuatan Qualcomm® Snapdragon 435. System on a chip(SOC) itu pun sebenarnya tak terlalu baru, karena diluncurkan pertama kali pada tahun 2016 silam dan kini lazim ditanam di sejumlah ponsel-ponsel kelas medium.
Mengingat ponsel ini adalah ponsel blockhain, atau yang disebut HTC adalah CryptoPhone, maka amat sangat bergantung pada mutu wallet-nya agar transaksi Bitcoin dan semua jenis aset kripto aman sentosa. Dalam hal ini HTC menyerahkan tugas itu pada Zion, yang punya Trusted Execution Environment (TEE) untuk melindungi private key dan data penting pengguna.
Nah, setiap transaksi terjadi, maka TEE ini secara otomatis aktif dan mengisolasinya untuk sementara dari sistem operasi Android. Dengan kata lain, Android yang senantiasa terhubung dengan Internet tidak bakal disusupi oleh peretas nakal, sehingga ia bisa masuk ke wallet dan menyalin private key.
Dan asal tahu saja ada dua orang cukup ternama di balik Exodus ini, yakni Elizabeth Stark (pendiri Lightning Lab) dan Charlie Lee (Pendiri dan Direktur Litecoin Foundation).
Bitcoin Full Node di HP?
Dalam konteks Internet (Interconnected Network), yang disebut node adalah semua perangkat elektronik yang terhubung dengan jaringan tersebut. Ponsel Anda ketika membuka situs web ini misalnya adalah node terhadap jaringan yang saling terhubung itu. Jika lemari es Anda bisa punya fitur WiFi dan bisa mengakses internet melalui browser (peramban), maka lemari es itu juga adalah sebuah node.
Dalam konteks blockchain Bitcoin, setidaknya ada 4 jenis node, yakni Full Nodes, Super Nodes, Light Nodes dan Mining Nodes. Peran dan fungsi dasar Full Nodes, Super Nodes dan Light Nodes adalah sama.
Bitcoin Full Node dan Super Node atau Simpul Penuh Bitcoin adalah salah satu bagian terpenting dari sistem uang elektronik peer-to-peer Bitcoin. Sebuah simpul yang disebut “full” adalah semua perangkat elektronik yang mampu menyimpan semua data blockchain (data transaksi), mulai dari block awal (block 0) hingga blok terakhir dan terhubung dengan jaringan Bitcoin melalui Internet. Berdasarkan data dari Blockchain.com, per 17 Oktober 2019, total ukuran blockchain Bitcoin mencapai 245.000 MB (245 GB) dan akan terus bertambah seiring waktu.
Data terakhir dari bitnodes.earn.com disebutkan, jumlah Bitcoin Full Node mencapai 9.310 node yang tersebar di 97 negara. Lebih dari seperempat berada di Amerika Serikat (AS) dan ada dua node di Indonesia. Tapi ditaksir jumlahnya lebih daripada itu, karena tidak semua address IP komputer Bitcoin Full Node itu bisa dijangkau dan terdata di sistem bitnodes.earn.com. Setidaknya kita memiliki acuan dan bukti bahwa Bitcoin Full Node itu ada dan merupakan bagian terpadu dari sistem blockchain Bitcoin.
Jikalau Anda ingin menjadi Bitcoin Full Node, maka Anda diharuskan mengunduh, menyimpan ratusan GB data blockchain tersebut di komputer Anda. Salah satu peranti lunak yang dapat digunakan adalah Bitcoin Core alias Bitcoin Qt. Dengan kecepatan unduh yang cukup cepat dan stabil, perlu lebih dari 14 hari untuk selesai mengunduhnya. Fungsi lain dari Bitcoin Core pun sebenarnya adalah dompet elektronik (wallet) Bitcoin “untuk menyimpan Bitcoin” dengan cara menghubungkan public key dan private key dan data terunduh dengan jaringan blockchain Bitcoin. Fungsi lain tentu saja Bitcoin Core digunakan untuk menambang Bitcoin. Tetapi penambang Bitcoin saat ini menggunakan software lain yang berfungsi serupa.
Sedangkan Mining Nodes berperan lebih khusus dalam fungsinya dalam proses “Penambangan Bitcoin”, yakni memvalidasi dan mengonfirmasi setiap transaksi Bitcoin dan “produksi Bitcoin” sebagai bentuk imbalan per 10 menit (per block).
Yang terakhir, Light Nodes adalah simpul yang tidak sepenuhnya mengunduh semua data blockchain ratusan GB itu. Light Nodes cukup “memanggil” data header pada block bilamana dibutuhkan. Cold wallet Ledger dan Trezor misalnya menggunakan Light Nodes. Cara ini lebih pada kepraktisan, tetapi tetap aman.
Dari sekian banyak jenis node itu, Full Nodes/Super Nodes adalah yang paling aman, karena semua data blockchain terunduh, tersimpan dan terhubungkan.
Nah, mari mengulik soal HTC Exodus 1s yang disebut bisa berperan sebagai Bitcoin Full Node itu. Secara teknis iya, semua perangkat elektronik termasuk ponsel bisa berperan sebagai Bitcoin Full Node, tetapi ada sejumlah syarat. Pertama, perangkat itu harus mampu menyimpan data blockchain Bitcoin lebih dari 200 GB. Di website, HTC menyebutkan Exodus 1s sudah dilengkapi Micro SD berkapasitas 400 GB dan di dalamnya sudah tersimpan sebagian data blockchain.
Masalahnya yang belum terungkap adalah spesifikasi Micro SD itu. Belum ada informasi soal kecepatan baca (read speed) dan kecepatan tulis (write speed) Micro SD-nya. Lazimnya, media simpan di komputer berteknologi SSD (Solid Secure Disk), read speed dan write speed sudah mencapai ribuan Byte per detik. Untuk menjadi Bitcoin Full Node biasanya minimal media simpannya harus punya read speed dan write speed lebih dari 100 MB per detik. Selain itu RAM minimal 4GB, yang mana sudah dipenuhi oleh Exodus s1
Dalam konteks Micro SD sebagai media simpan, hingga detik ini sangat jarang Micro SD berkekuatan seperti itu. Belum lagi kita belum tahu kemampuan Micro SD Reader Exodus 1s itu.
Berdasarkan penelusuran Blockchainmedia.id, salah satu Micro SD yang memenuhi syarat minimal itu adalah SanDisk 400GB Extreme microSDXC yang diklaim punya read speed mencapai 160 MB per detik dan write speed 90 MB per detik. Untuk mencapai besaran itu, maka Micro SD Reader yang digunakan di Exodus 1s pun harus sesuai.
Di awal pengiriman, Exodus 1s sudah tersedia di Eropa, Taiwan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Untuk negara lain segera menyusul dan belum ada kepastian apakah bisa masuk ke Asia, termasuk Indonesia.
Harus diakui HTC memanglah perintis soal “HP Bitcoin” seperti ini dan barangkali hendak menjadi trend setter. Jikalau disambut pasar dengan baik, bisa jadi diikuti oleh produsen HP lainnya. Kita menanti dan bukan sekadar marketing gimmick. [Vins]
Bitcoin yang dijadikan token adalah cara yang memungkinkan penggunaan BTC di blockchain lain, seperti Ethereum. Namun, sebelum kita membahas lebih lanjut, marilah kita mengingatkan diri kita bahwa Bitcoin, dalam bentuknya yang murni, sudah memiliki reputasi yang kokoh.
Memang benar, Bitcoin telah terbukti sebagai aset kripto yang solid, dan bahkan diakui sebagai bentuk “emas digital” dalam dunia mata uang digital. Namun, saat yang sama, sifat dasar Bitcoin yang bersifat statis memerlukan inovasi untuk mengikuti perkembangan teknologi blockchain yang terus berkembang.
Mengapa kita perlu memikirkan cara lain untuk memanfaatkan Bitcoin? Sebagian komunitas Bitcoin berpendapat bahwa kita seharusnya tidak melakukan perubahan apa pun dan tetap memperlakukan Bitcoin sebagai aset cadangan semata. Di sisi lain, ada juga pendapat bahwa kita perlu mengeksplorasi cara-cara baru untuk menggunakan Bitcoin di berbagai blockchain lain. Inilah tempat di mana konsep Bitcoin yang dijadikan token di blockchain Ethereum muncul ke permukaan.
Tetapi mengapa kita harus melakukan tokenisasi Bitcoin? Apakah ini adalah langkah yang masuk akal? Bagaimana proses penciptaan token Bitcoin ini bekerja? Dan bagaimana kita dapat memperoleh token BTC ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita telusuri lebih dalam topik ini.
Pendahuluan
Bitcoin biasanya dianggap sebagai “aset cadangan” atau penyimpan nilai dalam dunia mata uang kripto. Sebagai hasilnya, Bitcoin telah mencapai adopsi yang luas, memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, volume perdagangan yang besar, dan tetap menjadi aset kripto teratas berdasarkan kapitalisasi pasar.
Beberapa bahkan berpendapat bahwa Bitcoin adalah satu-satunya kripto yang benar-benar diperlukan. Mereka berargumen bahwa Bitcoin memiliki kemampuan untuk memenuhi semua kasus penggunaan yang ditawarkan oleh koin alternatif.
Namun, dunia teknologi blockchain terus berkembang pesat. Gerakan Keuangan Terdesentralisasi (DeFi) bertujuan untuk membawa aplikasi keuangan ke dunia blockchain. Aplikasi ini, dikenal sebagai DApp, berjalan di jaringan publik yang bersifat desentralisasi dan memungkinkan transaksi keuangan tanpa kepercayaan pada pihak pusat yang mengendalikan. Meskipun DeFi dapat beroperasi di berbagai platform smart contract, sebagian besar aktivitasnya terjadi di jaringan Ethereum.
Bitcoin memegang peran sentral dalam ekosistem mata uang kripto, tetapi tidak dapat memanfaatkan perkembangan di jaringan blockchain lain dalam ekosistem tersebut. Beberapa proyek telah berusaha untuk mengatasi tantangan ini.
Adakah cara untuk menggunakan Bitcoin di lebih banyak tempat daripada yang saat ini terlihat, sambil tetap menjaga keutuhan jaringan Bitcoin? Pertumbuhan token Bitcoin di blockchain Ethereum adalah salah satu jawabannya.
Apa Itu Bitcoin yang Dijadikan Token?
Sebelum kita masuk lebih dalam, ada satu hal yang perlu dijelaskan untuk menghindari kebingungan. Jika Anda pernah membaca artikel “Apa itu Bitcoin?”, Anda mungkin sudah tahu bahwa “Bitcoin” dengan huruf besar adalah jaringan, sedangkan “bitcoin” dengan huruf kecil adalah unit mata uang.
Ide di balik tokenisasi Bitcoin cukup sederhana. Anda mengunci BTC dengan mekanisme tertentu, menciptakan token di jaringan lain, dan menggunakan BTC tersebut sebagai token di jaringan tersebut. Setiap token di jaringan lain menggambarkan jumlah tertentu dari Bitcoin. Keseimbangan antara keduanya harus dijaga, dan proses ini dapat dibalik. Dengan kata lain, Anda dapat menghancurkan token tersebut dan mengeluarkan Bitcoin “asli” ke dalam blockchain Bitcoin.
Dalam konteks Ethereum, ini menghasilkan token ERC-20 yang mewakili Bitcoin. Ini memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi di jaringan Ethereum menggunakan Bitcoin. Selain itu, ini juga memungkinkan Bitcoin untuk diperlakukan seperti token lainnya di Ethereum.
Anda dapat memeriksa jumlah total Bitcoin yang saat ini telah dijadikan token di Ethereum melalui situs web btconethereum.com.
Pertumbuhan BTC yang ditokenkan di Ethereum. Sumber: btconethereum.com.
Pada bulan Juli 2020, jumlah Bitcoin yang dijadikan token di Ethereum mencapai sekitar 15.000 BTC. Meskipun angka ini mungkin tampak kecil jika dibandingkan dengan total pasokan Bitcoin yang beredar sekitar 18,5 juta, ini hanya merupakan awal.
Harap diingat bahwa terdapat juga solusi seperti sidechain dan Layer 2, seperti Bitcoin Lightning Network atau Liquid Network, yang juga berupaya mengatasi tantangan yang sama. Yang menarik adalah jumlah Bitcoin yang dijadikan token di Ethereum sepuluh kali lebih besar daripada yang ada di Bitcoin Lightning Network.
Namun, persaingan antara solusi-solusi ini tidak bersifat nol-sum. Banyak yang percaya bahwa kedua solusi ini dapat saling melengkapi. Proyek-tokenisasi Bitcoin dapat menambah pilihan bagi pemilik Bitcoin, membuka pintu untuk lebih banyak integrasi yang bermanfaat bagi semua pihak.
Jadi, semuanya terdengar menarik, tetapi apa manfaat sebenarnya dari tokenisasi Bitcoin? Mari kita bahas mengapa kita ingin menjadikan Bitcoin sebagai token di berbagai blockchain.
Mengapa Tokenisasi Bitcoin di Ethereum Penting?
Desain Bitcoin memang sengaja dibuat sederhana. Ini telah dirancang untuk menjalankan fungsi-fungsi dasarnya dengan sangat baik. Namun, sifat sederhana ini juga membatasi fleksibilitasnya.
Walaupun Bitcoin adalah aset dengan nilai tertinggi, ia terbatas dalam memanfaatkan inovasi yang terjadi di berbagai jaringan dalam ekosistem mata uang kripto. Meskipun secara teknis mungkin untuk menjalankan smart contract di Bitcoin, kemampuannya sangat terbatas jika dibandingkan dengan Ethereum atau platform smart contract lainnya.
Tokenisasi Bitcoin di berbagai blockchain memberikan banyak manfaat. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Proses ini memungkinkan penggunaan fitur yang tidak dapat didukung oleh Bitcoin dengan cara tradisional. Sementara itu, karakteristik inti dan tingkat keamanan Bitcoin tetap tidak terganggu. Keuntungan tambahan termasuk peningkatan kecepatan transaksi, interopabilitas, dan privasi.
Alasan lain untuk menokenkan Bitcoin adalah terkait dengan konsep komposisi dalam DeFi. Dalam hal ini, semua aplikasi berjalan di atas lapisan dasar yang sama, bersifat publik, open-source, dan tanpa izin. Membawa Bitcoin ke dalam lapisan ini dianggap sebagai langkah yang menarik oleh banyak orang, karena dapat membuka pintu untuk berbagai aplikasi baru yang menggunakan Bitcoin.
Bagaimana Caranya Menokenkan Bitcoin?
Ada beberapa cara yang berbeda untuk menokenkan Bitcoin di Ethereum dan blockchain lainnya. Setiap metode memiliki tingkat desentralisasi yang berbeda, asumsi tentang kepercayaan dan risiko yang berbeda, serta cara berbeda dalam memperlakukan koin yang dipegang sebagai jaminan.
Ada dua jenis utama: kustodian dan non-kustodian. Metode kustodian melibatkan pihak ketiga yang menyimpan Bitcoin Anda dan mencetak token sebagai gantinya. Namun, ini membawa risiko kontrahen karena Anda harus mempercayai entitas tersebut. Di sisi lain, metode ini dianggap lebih aman oleh beberapa orang.
Solusi non-kustodian, di sisi lain, tidak melibatkan entitas tepercaya. Proses pencetakan token dan penguncian aset dilakukan secara otomatis di blockchain. Ini menghilangkan risiko kontrahen, tetapi berpotensi menimbulkan risiko keamanan jika ada kesalahan pengguna atau masalah dengan kontrak cerdas.
Contoh Konkret Tokenisasi Bitcoin
Kustodian
Kustodian telah berperan penting dalam menjadikan Bitcoin menjadi token. Salah satu contohnya adalah Wrapped Bitcoin (WBTC), di mana pengguna mengirimkan Bitcoin mereka ke kustodian yang menyimpannya dalam cold storage wallet yang diawasi oleh beberapa pihak, lalu token WBTC dikeluarkan sebagai gantinya.
Perlu diingat bahwa dalam metode ini, seringkali diperlukan verifikasi identitas untuk mematuhi peraturan KYC/AML. Ini memungkinkan untuk beberapa manfaat keamanan tetapi juga memerlukan tingkat kepercayaan terhadap entitas kustodian.
Binance juga memiliki versi Bitcoin yang ditokenkan (BTCB) yang diterbitkan di Binance Chain dan dapat diperdagangkan di Binance DEX.
Non-kustodian
Solusi non-kustodian sepenuhnya berjalan di blockchain dan tidak memerlukan pihak ketiga tepercaya. Ini mirip dengan WBTC, tetapi proses pencetakan token dan penguncian aset dilakukan oleh smart contract atau mesin virtual. Pengguna dapat mengirim Bitcoin dan menerima token Bitcoin yang ditokenkan tanpa memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga.
Salah satu implementasi non-kustodian yang terkenal adalah renBTC. Bitcoin dikirim ke Ren Virtual Machine (RenVM), yang menyimpannya melalui jaringan node terdesentralisasi dan mencetak token ERC-20 sesuai dengan jumlah Bitcoin yang dikunci.
Sistem lainnya seperti sBTC dan iBTC, meskipun tidak menggunakan Bitcoin secara langsung sebagai jaminan, menggunakan token Synthetix Network (SNX) sebagai jaminan untuk mencetak token sintetis yang melacak harga Bitcoin.
Harap diingat bahwa implementasi non-kustodian adalah teknologi eksperimental dan hanya dianjurkan untuk pengguna yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara kerjanya. Namun, jika Anda ingin berpartisipasi dalam ekosistem ini tanpa harus mengurus proses pencetakan token, Anda dapat membeli dan memperdagangkan token-token ini di bursa kripto.
Manfaat dan Dampak Tokenisasi Bitcoin pada Ethereum
Mengenai apakah tokenisasi Bitcoin pada Ethereum baik atau tidak, pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang sederhana. Mari kita telusuri kedua sisi argumen ini.
Bagaimana tokenisasi Bitcoin bisa memberikan manfaat bagi Bitcoin itu sendiri? Dapat dikatakan bahwa tokenisasi meningkatkan utilitas Bitcoin. Walaupun beberapa berpendapat bahwa Bitcoin tidak memerlukan tambahan fungsionalitas, faktanya, beberapa peningkatan dibutuhkan.
Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, ini bisa mencakup peningkatan dalam kecepatan transaksi, kesepadanan, privasi, dan pengurangan biaya transaksi. Peluncuran ETH 2.0 juga diharapkan akan meningkatkan kecepatan dan mengurangi biaya transaksi di Ethereum, yang akan menguntungkan Bitcoin yang ditokenkan di sana.
Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa tokenisasi bisa membawa risiko bagi pemegang Bitcoin yang ditokenkan. Proses tokenisasi BTC bisa mempengaruhi tingkat keamanan yang kuat yang diberikan oleh Bitcoin. Misalnya, jika BTC yang ditokenkan dicuri atau terkena bug dalam smart contract, bisa saja tidak ada cara untuk mengembalikan Bitcoin ke jaringan Bitcoin.
Perlu juga mempertimbangkan aspek biaya. Beberapa berpendapat bahwa jika sejumlah besar pengguna mulai bertransaksi menggunakan BTC yang ditokenkan di Ethereum, biaya transaksi di jaringan Bitcoin bisa turun.
Dalam jangka panjang, Bitcoin seharusnya hanya didukung oleh biaya transaksi. Jika sebagian besar biaya ini mengalir ke ekosistem Ethereum, maka keamanan jaringan Bitcoin bisa terpengaruh. Meskipun ini masih dalam jangka waktu yang sangat jauh dan bukan masalah mendesak saat ini.
Bagaimana tokenisasi bisa memberikan manfaat bagi Ethereum? Jika Ethereum dapat menarik sejumlah besar nilai Bitcoin, ini bisa meningkatkan kegunaan Ethereum sebagai jaringan global untuk transfer nilai. Menurut penelitian Etherscan, sebagian besar dari 15.000 BTC yang telah ditokenkan terkunci dalam ekosistem DeFi Ethereum.
Bitcoin yang ditokenkan juga dapat meningkatkan utilitas DeFi di Ethereum. Bagaimana ini bisa terjadi? Mungkin akan muncul layanan keuangan terdesentralisasi yang didenominasikan dalam Bitcoin yang ditokenkan. DEX berbasis BTC, pasar peminjaman, pool likuiditas, dan berbagai layanan DeFi lainnya dapat menggunakan BTC sebagai aset dasarnya. Keberhasilan Bitcoin yang ditokenkan juga dapat mendorong jenis aset lain untuk bermigrasi ke jaringan Ethereum.
Kebanyakan proyek ini masih berada dalam tahap awal pengembangan, dan teknologinya harus terus ditingkatkan. Namun, masa depan pasti akan menyuguhkan perkembangan menarik dalam hal ini.
Kesimpulan
Tokenisasi Bitcoin sebagai token ERC-20 bertujuan utamanya adalah untuk meningkatkan utilitas Bitcoin. Jika Ethereum mampu menangkap sebagian besar transaksi Bitcoin, ini bisa memiliki implikasi besar di masa depan.
Pertanyaan tentang apakah “flippening” akan terjadi dan sejauh mana pasokan Bitcoin akan ditransaksikan di Ethereum masih menjadi pertanyaan besar. Namun, perkembangan yang menciptakan jembatan antara dua jaringan kripto terbesar ini bisa memberikan manfaat bagi seluruh industri blockchain.
Whaleatau sebutan bandar karena punya potensi mempengaruhi harga suatu aset tertentu sedang melakukan pergerakan besar dengan Bitcoin. Dalam laporan data on-chain baru-baru ini mengungkapkan bahwa whale tertentu telah terbangun dari tidurnya selama tiga tahun, memindahkan BTC mereka untuk pertama kalinya sejak tahun 2020.
Pada titik ini, penyedia data on-chain populer Santiment mengatakan bahwa dompet Bitcoin berukuran menengah dan besar menerima 71.155 BTC senilai US$ 1,95 miliar dalam 6 minggu terakhir.
Santiment menambahkan, jumlah BTC ini mendekati 90.000 BTC yang dipegang oleh whale berukuran sedang dan besar pada November 2021.
“Dompet Bitcoin berukuran menengah dan besar telah mempercepat akumulasi BTC mereka, menambahkan 71.155 BTC (US$ 1,95 miliar) dalam 6 minggu terakhir saja. Total aset alamat ini hanya berjarak 0,59% dari 15,29 juta, atau 90 ribu BTC, yang dimiliki pada November 2021.”
Pada titik ini, para ahli yang mengomentari pembelian BTC oleh paus berpendapat bahwa akumulasi ini mungkin merupakan sinyal kenaikan untuk harga Bitcoin.
Akumulasi besar-besaran Bitcoin oleh whale atau pemegang besar aset kripto ini telah menciptakan berbagai spekulasi dan analisis di dalam pasar. Para analis dan ahli keuangan sering kali mengaitkan pergerakan besar seperti ini dengan potensi pengaruhnya terhadap harga Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.
Tindakan pembelian besar-besaran seperti yang terjadi dalam 6 minggu terakhir ini telah membuat banyak pihak menganggapnya sebagai tanda bullish atau positif untuk harga Bitcoin. Namun, penting untuk diingat bahwa pasar kripto sangat volatil, dan banyak faktor yang dapat mempengaruhi harga Bitcoin, termasuk faktor fundamental, sentimen pasar, dan peristiwa global.
Mengapa Bisa Bullish?
Beberapa alasan mengapa akumulasi Bitcoin oleh whale dapat dianggap sebagai sinyal bullish meliputi:
Keyakinan dalam aset: Whale yang melakukan pembelian besar-besaran menunjukkan keyakinan dalam jangka panjang terhadap Bitcoin. Mereka yakin bahwa nilai aset ini akan terus naik, sehingga mereka berinvestasi secara signifikan.
Penyedia likuiditas:Whale memiliki potensi untuk menjadi penyedia likuiditas yang signifikan dalam pasar. Dengan memegang jumlah besar Bitcoin, mereka dapat membantu menjaga stabilitas pasar dan mengurangi volatilitas yang ekstrim.
Sentimen positif: Tindakan pembelian besar-besaran dapat menciptakan sentimen positif di antara investor lainnya. Ketika investor melihat pemegang besar aset melakukan investasi besar, mereka mungkin merasa lebih percaya diri untuk ikut serta dalam pasar.
Efek domino: Akumulasi oleh whale dapat memicu efek domino, di mana investor lainnya yang ingin mengikuti tren juga mulai berinvestasi lebih banyak. Hal ini dapat menciptakan permintaan yang lebih tinggi untuk Bitcoin, yang pada gilirannya dapat mendorong harga naik.
Meskipun akumulasi oleh whale dapat dianggap sebagai sinyal bullish, tidak ada jaminan bahwa harga Bitcoin akan terus naik. Pasar kripto tetap sangat spekulatif, dan harga dapat berfluktuasi secara dramatis dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penting untuk melakukan riset dan analisis yang teliti sebelum membuat keputusan investasi dalam pasar kripto.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
The Fed dilaporkan kembali pertimbangkan kenaikan suku bunga kembali sebelum 2023 berakhir. Hal ini dipicu setelah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengadakan pertemuan pada Rabu (11/10),untuk meninjau angka inflasi karena data PPI AS lebih tinggi dari perkiraan.
Keinginan The Fed ini memberikan sinyal peringatan untuk aset-aset berisiko tinggi, seperti Bitcoin (BTC) dan pasar kripto yang lebih luas bakal berada di bawah tekanan jual lebih lanjut.
FOMC Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga
Sesuai laporan, pejabat Fed sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun. Meskipun ada beberapa pendapat yang bertentangan, semua anggota dengan suara bulat sepakat mengenai pentingnya mempertahankan kenaikan suku bunga sampai bukti substansial membuktikan kembalinya inflasi ke tingkat tahunan yang diinginkan sebesar 2%.
Ringkasan pertemuan kebijakan bulan September berbunyi: “Mayoritas peserta menilai bahwa satu kali kenaikan lagi dalam target suku bunga dana federal pada pertemuan mendatang kemungkinan akan tepat, sementara beberapa pihak menilai kemungkinan kenaikan lebih lanjut tidak diperlukan.”
Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
Keputusan pengetatan moneter lebih lanjut dapat memberikan tekanan pada ekuitas dan pasar kripto. Pada hari Kamis (12/10), Departemen Tenaga Kerja AS akan merilis lebih banyak data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai tindakan The Fed di masa depan.
Pasar kripto yang lebih luas berada di bawah tekanan dengan harga Bitcoin merosot di bawah US$ 27.000. Pada saat berita ini dimuat, Bitcoin diperdagangkan turun 1,07% dengan harga US$ 26.828 dengan kapitalisasi pasar US$ 523 miliar.
Harga Bitcoin Lesu
Dilaporkan Coingape, Santiment, sebuah platform analitik on-chain, menyatakan bahwa meningkatnya jumlah kontrak berjangka dan opsi Bitcoin yang beredar mungkin menjadi faktor dalam kinerja pasar kripto yang relatif lesu di bulan Oktober.
Secara historis, ketika open interest Bitcoin melampaui US$ 7 miliar, hal ini sering kali menandakan tingkat keserakahan investor. Saat ini, tingkat bunga terbuka berada di US$ 6,19 miliar.
Menurut analis kripto yang dikenal sebagai Altcoin Sherpa, kondisi Bitcoin saat ini menyerupai periode yang ditandai dengan volatilitas yang signifikan, tanpa adanya terobosan yang jelas.
Analis tersebut membandingkan dengan tahun 2019, ketika harga Bitcoin menunjukkan fluktuasi, bergerak di atas dan di bawah EMA 200 hari, disertai dengan lonjakan harga yang sporadis. Altcoin Sherpa mengantisipasi bahwa masa-masa menarik akan tiba pada tahun 2024-2025 dan menyarankan untuk bertahan hingga saat itu.
Semua perhatian akan tertuju pada data makro menjelang minggu ini yang dapat memberikan kejelasan lebih baik ke depannya.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Dominasi Bitcoin telah meningkat menjadi 51,2%, mendekati level tertinggi dalam dua tahun sebesar 52% yang terlihat pada bulan Juni. Dengan data ini, bagaimana pergerakan harga BTC selanjutnya?
Meskipun Bitcoin turun sedikit setelah ketegangan antara Israel dan Hamas dimulai, BTC berusaha mempertahankan level US$ 27.000.
Sementara BTC berusaha mempertahankan levelnya saat ini, dominasi BTC telah mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Dominasi Bitcoin
Menurut data TradingView, dominasi Bitcoin telah meningkat menjadi 51,2%, mendekati level tertinggi dalam dua tahun sebesar 52% yang terlihat pada bulan Juni.
Mengevaluasi peningkatan dominasi Bitcoin, para ahli mengatakan bahwa peningkatan ini menunjukkan bahwa investor berbondong-bondong beralih ke Bitcoin, aset kripto pertama dan terbesar di dunia, daripada altcoin.
Para ahli sebagian besar mengaitkan peningkatan ini dengan ketidakpastian ekonomi akibat krisis Timur Tengah yang sedang berlangsung dan mengatakan bahwa wajar jika Bitcoin, yang dipandang sebagai tempat berlindung yang aman di pasar kripto, meningkatkan dominasinya, terutama di saat ketidakpastian.
Apa Itu Dominasi Bitcoin?
Dominasi Bitcoin adalah parameter penting dalam dunia cryptocurrency karena mencerminkan seberapa besar peran Bitcoin dalam ekosistem tersebut. Dengan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang BTC.D, kita dapat melihat bagaimana perilaku investor dan perubahan pasar dapat memengaruhi seluruh ekosistem kripto.
Ketika BTC.D rendah, ini sering menunjukkan bahwa investor lebih tertarik pada altcoin atau mata uang kripto lainnya. Mereka mungkin melihat potensi pertumbuhan yang lebih besar dalam altcoin daripada dalam Bitcoin.
Selain itu, kondisi seperti ini dapat disebabkan oleh ketidakpastian atau keraguan terhadap Bitcoin, sehingga uang dialihkan ke aset kripto alternatif. Sebaliknya, ketika dominasi Bitcoin meningkat, hal itu bisa menunjukkan bahwa investor kembali ke Bitcoin sebagai tempat berlindung.
Hal ini sering terjadi ketika Bitcoin mengalami kenaikan harga yang signifikan atau ketika pasar secara umum mengalami volatilitas yang tinggi. Investor mungkin memandang Bitcoin sebagai aset yang lebih stabil atau aman dalam situasi seperti ini.
Namun, penting untuk diingat bahwa dunia kripto sangat dinamis, dan perubahan dalam dominasi Bitcoin bisa terjadi cepat. Perilaku pasar, pengumuman berita, atau perkembangan teknologi baru dapat mempengaruhi arah uang yang mengalir dalam ekosistem tersebut. Oleh karena itu, para investor dan pelaku pasar harus selalu memantau BTC.D dan berbagai faktor lainnya untuk membuat keputusan investasi.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Sejumlah data menunjukkan Amerika Serikat di ambang resesi ekonomi berikutnya, yang bisa berdampak secara global. Sejumlah ahli bahkan berpendapat resesi itu akan terjadi pada tahun 2020. Bagaimana nasib Bitcoin yang disebut-sebut sebagai safe haven? Nah, mengingat Bitcoin belum teruji dalam situasi resesi global, namun sejumlah data historis menunjukkan Bitcoin memberikan imbal hasil lebih tinggi ketika situasi ekonomi sedang lesu. Di sinilah bukti bahwa ketika uang fiat meradang, bitcoin tak tergoyang.
Dilansir dari CNBC Indonesia, pada November 2018, disebutkan pasar saham anjlok, karena investor pindah ke obligasi negara dan imbal hasil utang perusahaan yang membengkak lebih tinggi. Pandangan investor, pada kenyataannya, mungkin, bahkan lebih suram daripada para ekonom. Goldman Sachs dan JP Morgan melihat pertumbuhan melambat menjadi di bawah 2 persen pada paruh kedua tahun 2019. Tetapi pada saat yang sama, kedua perusahaan itu memperkirakan Federal Reserve menaikkan suku bunga empat kali, sementara para ekonom lainnya percaya The Fed mungkin harus bergerak dengan lebih lambat. Para ekonom menunjukkan sejumlah faktor pertumbuhan yang lebih lambat, tetapi pemuncak daftar faktor yang menakutkan bagi pasar adalah kenaikan suku bunga The Fed serta dampak dari tarif impor dan perang perdagangan. Para ekonom tidak memperkirakan resesi terjadi pada tahun 2020.
Daftar Isi
“Itu tergantung pada Fed. Jika mereka terus mengikuti lintasan saat ini (kenaikan suku bunga), saya pikir (ada resesi di) paruh pertama tahun 2020,” kata Joseph LaVorgna, kepala ekonom Amerika di Natixis, dilansir dari CNBC International. LaVorgna memperkirakan pertumbuhan 2,5 persen tahun depan, meskipun lebih lambat di paruh kedua.
Dalam situasi resesi, harga indeks saham akan jatuh cukup dalam dan investor mengalihkan uangnya ke jenis aset lain, seperti emas. Resesi ekonomi di Negeri Paman Sam itu tentu membawa dampak pada situasi ekonomi global termasuk Indonesia, seperti resesi tahun 2008 silam, di mana sejumlah mata uang negara lain mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Emas masih menjadi pilihan utama. Namun, sejak tahun 2013 harga emas justru trun dan kini relatif stabil. Bagaimana dengan Bitcoin? Bitcoin diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008sebagai sistem pembayaran lintas negara melalui Internet secara peer-to-peer. Karena Bitcoin tidak dikendalikan oleh negara, maka nilainya relatif independenterhadap situasi ekonomi mikro dan makro. Artinya ia berdiri sendiri berdasarkan hukum permintaan dan penawaran.
Mudahnya sebut saja ia spekulatif, tetapi diadopsi secara mantap oleh sejumlah besar perusahan, seperti Ameritrade, E*trade, Fidelity Investment, CME, Nasdaq. Adopsi ini kian menguatkan tingkat likuiditasnya di tingkatan global. Artinya Bitcoin tahun 2019 jelas berbeda dengan tahun 2017, di mana pemain ritel lebih banyak. Hari ini sejumlah produk terkait Bitcoin juga digemari oleh kalangan institusi sebagai kelas aset baru yang menjanjikan.
Namun, mengingat karakteristik Bitcoin seperti emas, yakni ada pengurangan suplai dan jumlahnya terbatas, maka nilai Bitcoin sangatlah unik. Ini berbeda dengan uang fiat yang sejatinya tak terbatas, sehingga rentan terhadap inflasi dan menekan nilainya ketika ada gejolak ekonomi, terlebih-lebih uang fiat digunakan di pasar modal, di mana ada uang publik yang dipertaruhkan di dalamnya.
Berdasarkan penelitian Grayscale terbaru, untuk menandai besaran krisis, dapat mengacupada derajat liquidity risk (resiko sejumlah aset turun besar berbanding harga belinya). Salah satu komponen untuk mengukurnya adalah besaran utang dalam sistem keuangan. Grayscale mengacu pada rasio utang global tahun 2018, yang sudah mencapai US$250 triliun dan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 300 persen. Jelas Grayscale, kendati volatilitas mengecil pada beberapa tahun belakang, namun resiko likuiditasnya masih tinggi.
Nah, bagaimana performa Bitcoin terhadap resiko likuiditas aset-aset lain? Grayscale mengambil 5 contoh terbaik berikut ini.
Utang Tinggi Yunani
Peristiwa ditutupnya semua bank di Yunani selama 3 minggu pada tahun 2015, gara-gara semakin banyak warga Yunani yang menarik uang secara tunai. Hal itu disebabkan Pemerintah Yunani gagal membayar utang luar negerinya, ditambah isu Yunani ingin keluar dari Uni Eropa. Kekacaubalauan terjadi hingga tiga bulan lamanya. Ketika sebagian besar harga indeks saham dan mata uang ikut merosot, Bitcoin malah mampu cetak untung hingga 28 persen pada periode 20 April-10 Juli 2015. Sedangkan aset lainnya rata-rata minus 1,7 persen. Bitcoin hanya bersaing dengan poundsterling dengan raihan 4,1 persen.
Yuan Dilemahkan Sang Tuan
Pada Agustus 2015-Desember 2016, Bank Sentral Tiongkok memutuskan memotong suku bunga acuannya sebesar 1,9 persen. Tapi investor pasar modal di negeri itu sudah keburu menjual aset-aset berisikonya. Pada periode 20 Agustus 2015-20 Januari 2016, Bitcoin memberikan imbal hasil hingga 53 persen (10 Agustus-20 Januari 2016). Sedangkan kelas aset lainnya rata-rata minus 10 persen. Hingga Desember 2016 pula nilai mata uang yuan melemah hingga 11 persen terhadap dolar AS. Inilah pendorong pembelian Bitcoin untuk melindungi nilai uangnya.
Gerimis “Brexit” di Inggris
Pada 24 Juni 2016 Inggris membuat dunia terperanjat, ketika hasil referendum menunjukkan bahwa rakyat Inggris ingin terpisah dengan Uni Eropa (Brexit). Satu hari setelah pengumuman itu, harga poundsterling ambruk hingga minus 8,1 persen dan euro jatuh tak terbendung hingga minus 2,4 persen. Sementara itu Bitcoin bullish dengan imbal hasil hingga 7,1 persen. Bitcoin hanya bersaing ketat dengan Indeks harga emas COMEX, yakni 4,7 persen dan yen 3,9 persen. Hingga akhir tahun 2016, poundsterling dan euro terus melemah.
September-Desember 2016 terjadi gonjang-ganjing politik seputar pemilihan Presiden Amerika Serikat plus situasi geopolitik global. Dua bulan sebelum pemilu presiden, suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS melebihi ekspektasi para pelaku pasar. Aksi jual saham dan aset berisiko tinggi lainnya pun tak terbendung. Pada periode 7 September 2016-10 November 2016 Bitcoin mampu memberikan imbal hasil hingga 17,2 persen. Di posisi kedua ditempati oleh Bloomberg Comodity Index 0,5 persen, selebihnya justru rata-rata minus 3,5 persen.
Goyangan Perang Dagang
Ketegangan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok turut mendorong banyak orang membeli Bitcoin. Sebenarnya ketegangan itu dimulai pada 2017, lalu dipertegas pada 5 Mei 2019, di mana Presiden Trump memerintahkan kenaikan bea masuk barang-barang impor dari Tiongkok dari 10 persen menjadi 25 persen. Hal itu mendorong kenaikan Bitcoin hingga memberikan imbal hasil hingga 47 persen pada periode 5 Mei-31 Mei 2019. Yen Jepang hanya memberikan 2,1 persen, sedangkan yang lainnya rata-rata minus 2 persen. Grayscale menyimpulkan, kendati Bitcoin menguat, khususnya ketika terjadi devaluasi mata uang fiat, bukan berarti Bitcoin dapat disebutkan sebagai “investable asset“. Tetapi, fakta demikian menunjukkan Bitcoin sangat tangguh menghadapi situasi makro ekonomi yang melemah dan Bitcoin memberikan imbal hasil lebih tinggi berbanding jenis aset lain dan mata uang fiat lain.
Tommy Yu, investor saham kawakan asal Indonesia mengakui potensi Bitcoinsebagai alat investasi masa depan. Katanya, Bitcoin saat ini masih dalam tahap sangat awal, selayaknya surat elektronik (e-mail) atau Internet ketika pertama kali muncul.
“Menurut saya Bitcoin sebagai alat investasi yang bagus selain saham dan emas. Agar Bitcoin dapat berkembang, Bitcoin harus mendapatkan trust yang lebih besar dari para pendukung baru dan komunitasnya. Semakin banyak penerimaan dan kepercayaan terhadap Bitcoin, maka nilainya akan semakin naik. Menurut saya itulah tantangan bersama,” kata Tommy, pengasuh kanal Youtube JSXPRO IDini kepada Blockchainmedia.id hari ini, Senin, (27/05).
Menyinggung perihal cara trading Bitcoin, Tommy mengakuinya sangatlah mudah. Tapi, katanya, yang perlu diperhatikan adalah soal volatilitas harganya yang sangat tinggi.
“Saya harus mengakui volatilitas harga Bitcoin itu sangat tinggi, bahkan melebihi saham. Kalau di saham ada batas atas dan bawah (autoreject). Sedangkan di kripto ini tidak ada batasan dan murni karena supplyand demand. Kemudian dibandingkan dengan valas, terkadang volatilitas Bitcoin ini malah lebih ekstrem. Hal ini menurut saya wajar, sebab likuiditasnya yang jauh lebih kecil daripada perdagangan valas,” tegasnya.
Namun demikian, Tommy menyebutkan, itu dikembalikan kepada risk tolerance masing-masing trader dalam memilih instrumen investasi.
“Jika risk tolerance-nya rendah, mungkin lebih cocok di saham. Sedangkan jika risk tolerance-nya cukup besar, crypto trading bisa jadi alternatif,” ujarnya. [vins]
INBLOCKS 2018 Menjadi Tonggak Penting Dalam Kehadiran Tokocrypto di Indonesia
Bertempat di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Tokocryptosecara resmi mengumumkan kehadirannya di Indonesia. Mulai beroperasi sejak April 2018, Tokocrypto memiliki visi untuk menjadi bursa dagang aset digital terbesar di Indonesia.
Untuk itu, Tokocrypto melakukan berbagai isiatif, mulai dari melakukan edukasi kepada publik, menjalin relasi dengan komunitas dan media, serta secara aktif melakukan komunikasi dengan pihak pemerintah sebagai pembuat regulasi.
“Teknologi blockchain telah berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan tidak sedikit yang menyatakan blockchain merupkan teknologi revolusioner berikutnya. Tokocrypto hadir untuk menjadi bursa dagang aset digital terdepan di Indonesia. Kami pun secara aktif menjalin hubungan dengan komunitas, pemerintah, dan tentu saja dengan media. Melalui peran aktif ini, kami ingin menyalurkan informasi, edukasi, dan penyembangan terkait digital aset dan blockchain di Indonesia,”– Pang Xue Kai, Co-Founder & CEO Tokocrypto.
Tokocrypto sadar bahwa isu keamanan dan pengetahuan publik masih sangat terbatas, khususnya terkait bursa dagang terbatas untuk aset digital. Karena itulah Tokocrypto menghadirkan platform yang sederhana dan mudah dipahami, dapat melakukan transkasi secara cepat, dan tentu saja aman.
Sebagai bentuk nyata menjadikan platform ini terdepan dalam hal perdagangan aset digital, Tokocrypto memperkenalkan Tokocrypto Ekosistem.
Tokocrypto Ekosistem
Ekosistem yang dimaksudkan adalah 3 fungsi penting yang saat ini telah berjalan dan akan terus dikembangkan, yaitu News, Outreach, serta Launchpad.
Toko News
Toko News bertujuan untuk menghubungkan orang Indonesia dengan informasi terkini terkait aset kripto, dan akan berkolaborasi dengan media untuk menghadirkan konten yang dapat diandalkan dalam Bahasa Indonesia. Selain tentang aset kripto, Toko News juga akan memberikan informasi dan tips untuk mengoptimalkan berbagai fitur yang ada di Tokocrypto.
Toko Outreach
Inisiatif Toko Outreach memungkinkan individu maupun kelompok komunitas untuk berkumpul dan berbagai pengetahuan teknis tentang aset digital dan teknologi blockchain.
Tokocrypto juga siap berkerjasama dengan berbagai universitas untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pemanfaatan teknologi blockchain. Dan apabila ada mahasiswa yang tertarik untuk magang di Tokocrypto, kami pun siap menerima untuk ilmu yang relevan.
Selain itu, Tokocrypto juga akan bekerjasama dengan komunitas blockchain dan aset kripto di Indonesia, seperti Etherium Indonesia, IBN, ICN, dan lainnya.
Tokocrypto juga bekerjasama dengan partner lainnya, salah satunya Infonesia, yang memungkinkan Tokocrypto untuk melakukan komunikasi dua arah dengan publik. INBLOCKS 2018 sendiri merupakan salah bentuk nyata dari inisiatif kedua ini.
Toko Launchpad
Melalui Toko Launchpad, publik diharapkan mendapatkan akses untukberpartisipasi dalam proyek aset digital yang ada di Indonesia maupun di luar, serta juga memberkan platform bagi para pelaku blockhain maupun aset digital di Indonesia untuk memulai proyek mereka sendiri.
Launchpad diharapkan dapat menjadi jembatan bagi mereka yang masih awamuntuk mengenal lebih jauh dunia aset digital. Toko Launchpad akan memanfaatkan keahlian dalamhal teknis, pemasaran, operasi dan pengembangan bisnis dari seluruh dunia untuk memberikan panduan kepada proyek-proyek yang potensial.
Bitcoin telah menjadi perdebatan yang sengit dalam dunia keuangan dan investasi, dipertanyakan apakah cryptocurrency ini benar-benar bisa berperan sebagai penyimpan nilai yang sebanding dengan aset-aset konvensional seperti emas atau properti. Walaupun awalnya diciptakan untuk memfasilitasi transaksi online, banyak yang kini menganggap Bitcoin sebagai potensi penyimpan nilai yang kuat.
Namun, pertanyaannya adalah apakah Bitcoin benar-benar bisa diandalkan dalam peran ini, dan apakah ia dapat mengikuti jejak aset safe-haven tradisional seperti emas dan perak? Dalam artikel ini, kita akan merenungkan argumen yang mendukung dan menentang klaim bahwa Bitcoin adalah penyimpan nilai yang dapat dipercaya, serta dampaknya dalam konteks ekonomi global.
Pendahuluan
Ketika membahas aset safe-haven, emas dan perak mungkin adalah yang pertama terlintas dalam benak kita. Aset-aset ini telah lama diakui sebagai investasi yang aman yang dapat melindungi nilai kekayaan dari turbulensi pasar konvensional.
Namun, pertanyaan muncul mengenai apakah Bitcoin dapat menggantikan peran ini. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi beberapa argumen utama yang mendukung dan meragukan kemampuan Bitcoin sebagai penyimpan nilai atau store of value.
Apa Arti Penyimpan Nilai?
Penyimpan nilai atau store of value adalah suatu bentuk aset yang mampu menjaga nilai intrinsiknya dari waktu ke waktu. Artinya, jika Anda membeli aset penyimpan nilai yang baik hari ini, Anda dapat yakin bahwa nilainya tidak akan merosot dalam jangka waktu yang signifikan. Ketika Anda melihat ke depan, Anda dapat mengharapkan aset tersebut memiliki nilai yang setara atau bahkan lebih tinggi.
Jika Anda berpikir tentang aset safe-haven, emas atau perak mungkin akan menjadi yang pertama kali terlintas dalam benak Anda. Ini adalah pilihan yang masuk akal karena ada beberapa alasan mengapa aset-aset ini secara tradisional dianggap memiliki nilai, yang akan kita bahas dalam waktu dekat.
Ciri-ciri Penyimpan Nilai yang Baik
Untuk memahami apa yang membuat suatu aset dikatakan sebagai penyimpan nilai yang baik, mari kita terlebih dahulu lihat apa yang membuat suatu aset tidak cocok sebagai penyimpan nilai. Ketika Anda ingin menyimpan sesuatu dalam jangka waktu yang panjang, aset tersebut harus tahan lama.
Mari ambil contoh makanan. Buah seperti apel dan pisang memiliki nilai intrinsik karena manusia membutuhkan nutrisi untuk bertahan hidup. Ketika makanan langka, jenis barang-barang ini akan menjadi sangat berharga. Namun, makanan tidak dapat dianggap sebagai penyimpan nilai yang baik karena nilainya akan cepat merosot jika disimpan dalam waktu yang lama, karena makanan akan membusuk.
Tetapi bagaimana dengan sesuatu yang memiliki nilai intrinsik dan tahan lama? Pertimbangkan pasta kering sebagai contoh. Pasta kering memiliki masa pakai yang lebih baik dalam jangka panjang, tetapi bahkan ini tidak dapat dijamin akan tetap mempertahankan nilai. Pasta diproduksi secara murah dan bahan baku selalu tersedia. Sehingga, jika terdapat kelebihan pasokan pasta di pasaran, nilai pasta yang beredar akan menurun karena penawaran melebihi permintaan. Oleh karena itu, untuk menjaga nilai, suatu aset juga harus menjadi langka.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa mata uang fiat seperti dolar, euro, atau yen adalah cara yang baik untuk menyimpan kekayaan karena mereka dapat mempertahankan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Namun, sebenarnya, mata uang fiat merupakan penyimpan nilai yang buruk karena daya beli mereka cenderung menurun seiring berjalannya waktu. Hal ini terjadi karena pemerintah dapat mencetak lebih banyak uang, yang menyebabkan inflasi, yaitu naiknya harga barang dan jasa. Inflasi sering kali disebabkan oleh pencetakan uang berlebihan oleh pemerintah.
Sebagai contoh, bayangkan Anda memiliki 25% dari total pasokan uang senilai $100 miliar, sehingga Anda memiliki $25 miliar. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah memutuskan untuk mencetak tambahan $800 miliar untuk merangsang ekonomi. Akibatnya, bagian Anda tiba-tiba hanya bernilai sekitar 3%. Ini disebabkan oleh adanya penambahan uang beredar, sehingga wajar jika bagian Anda kehilangan daya beli yang dimilikinya sebelumnya.
Lemahnya daya beli dari waktu ke waktu.
Seperti yang telah kita diskusikan sebelumnya, produksi dollar tidaklah mahal. Skenario yang diilustrasikan di atas bisa terjadi dalam hitungan hari. Dalam konteks penyimpan nilai yang baik, sangat sulit untuk membanjiri pasar dengan unit baru. Dengan kata lain, nilai investasi Anda akan mengalami penurunan yang sangat lambat, atau bahkan tidak sama sekali.
Jika kita ambil emas sebagai contoh, kita tahu bahwa pasokannya sangat terbatas. Kita juga menyadari bahwa emas merupakan komoditas yang sangat sulit untuk ditambang. Oleh karena itu, meskipun terjadi lonjakan permintaan, tidak mungkin untuk segera mencetak lebih banyak emas. Sebaliknya, emas harus diekstraksi dari tanah terlebih dahulu sebelum dapat digunakan. Walaupun ada peningkatan permintaan, pasokan emas tidak dapat ditingkatkan secara signifikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Argumentasi yang Mendukung Bitcoin Sebagai Penyimpan Nilai
Sejak awal perkembangan Bitcoin, para pendukungnya telah menganggapnya sebagai “emas digital” daripada sekadar mata uang digital biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, narasi ini semakin ditekankan oleh banyak penggemar Bitcoin.
Tesis yang mendukung Bitcoin sebagai penyimpan nilai berpendapat bahwa cryptocurrency ini merupakan salah satu aset paling stabil yang pernah ada. Para pendukung tesis ini meyakini bahwa Bitcoin adalah cara terbaik untuk menyimpan kekayaan agar tidak mengalami depresiasi seiring berjalannya waktu.
Meskipun Bitcoin dikenal karena volatilitasnya yang tinggi, mungkin terasa agak tidak masuk akal bahwa banyak orang menganggapnya sebagai penyimpan nilai, terutama jika kita mempertimbangkan fluktuasi besar yang pernah terjadi dalam sehari. Namun, bahkan dengan semua kekurangannya, cryptocurrency ini tetap menjadi salah satu aset dengan performa terbaik hingga saat ini. Mengapa begitu banyak yang memuji Bitcoin sebagai penyimpan nilai?
Faktor Kelangkaan
Salah satu argumen paling kuat dalam mendukung tesis Bitcoin sebagai penyimpan nilai adalah kelangkaannya. Seperti yang pernah dibahas dalam artikel kami yang berjudul “Apa Itu Bitcoin?”, tidak akan pernah ada lebih dari 21 juta Bitcoin di dunia ini. Protokol Bitcoin memastikan hal ini melalui aturan yang tidak dapat diubah.
Cara satu-satunya untuk menciptakan Bitcoin baru adalah dengan melalui proses penambangan, yang dapat disamakan dengan menambang emas. Namun, berbeda dengan pengeboran bumi, penambang Bitcoin harus memecahkan teka-teki kriptografi menggunakan kekuatan komputasi untuk mendapatkan Bitcoin baru.
Seiring berjalannya waktu, imbalan bagi penambang berkurang dalam sebuah peristiwa yang dikenal sebagai “halving”. Seperti yang bisa ditebak, halving berarti membagi dua imbalan yang diberikan kepada penambang. Pada awal perkembangan Bitcoin, sistem memberikan 50 BTC sebagai imbalan kepada penambang yang berhasil memvalidasi sebuah blok. Setelah halving pertama, jumlah ini berkurang menjadi 25 BTC. Halving berikutnya memangkas imbalan menjadi 12,5 BTC, dan seterusnya hingga mencapai 6,25 Bitcoin per blok. Proses ini akan berlanjut selama 100 tahun mendatang hingga semua Bitcoin yang telah direncanakan masuk ke dalam peredaran.
Untuk memberikan perbandingan dengan contoh mata uang fiat yang telah disebutkan sebelumnya, bayangkan jika Anda membeli 25% dari pasokan Bitcoin, yaitu sekitar 5.250.000 Bitcoin, beberapa tahun yang lalu. Saat Anda mendapatkan Bitcoin ini, Anda tahu bahwa persentase kepemilikan Anda akan tetap sama karena tidak ada entitas yang mampu menambahkan lebih banyak Bitcoin ke dalam sistem ini.
Tidak ada campur tangan dari pemerintah atau lembaga pengatur tradisional, dan ini adalah salah satu fitur yang menjadi perdebatan, yang akan kita bahas lebih lanjut. Dengan demikian, jika Anda membeli dan menyimpan (atau “HODL”) 25% dari pasokan maksimum pada tahun 2010, Anda akan tetap memiliki persentase yang sama sampai hari ini.
Desentralisasi
Anda mungkin berpikir, “Ini perangkat lunak open-source, saya bisa menyalin kodenya dan menciptakan versi saya sendiri dengan tambahan 100 juta koin.” Tentu, Anda teknis bisa melakukannya. Bayangkan saja Anda membuat klon dari perangkat lunak Bitcoin, melakukan beberapa modifikasi, dan menjalankannya sebagai node.
Semuanya terlihat bagus, tetapi ada satu masalah besar: node Anda tidak akan bisa terhubung dengan node lain di jaringan Bitcoin. Dalam hal ini, ketika Anda mencoba mengubah parameter perangkat lunak, anggota jaringan Bitcoin akan mengabaikan Anda. Anda akan “forked” (cabang jalan), dan program yang Anda jalankan tidak akan dianggap sebagai Bitcoin di mana pun.
Ini serupa dengan mengambil gambar Mona Lisa dan mengklaim bahwa sekarang ada dua Mona Lisa. Anda mungkin dapat meyakinkan diri sendiri bahwa ada dua Mona Lisa, tetapi meyakinkan orang lain adalah tugas yang sangat sulit!
Kami telah mencatat adanya sistem tata kelola dalam Bitcoin yang diciptakan oleh setiap pengguna yang menjalankan perangkat lunaknya. Satu-satunya cara protokol dapat diubah adalah jika mayoritas pengguna setuju dengan perubahan tersebut.
Mengajak mayoritas pengguna untuk setuju untuk menambah pasokan koin adalah tugas yang sangat sulit karena Anda pada dasarnya meminta mereka untuk mengurangi nilai kepemilikan mereka sendiri. Saat ini, bahkan fitur yang dianggap tidak penting bisa memerlukan bertahun-tahun untuk mencapai konsensus di seluruh jaringan.
Seiring dengan pertumbuhan jaringan, upaya untuk mengajukan perubahan akan semakin sulit. Karena itu, pemegang Bitcoin cukup yakin bahwa pasokannya akan tetap terbatas. Meskipun Bitcoin adalah produk manusia, sifat desentralisasi jaringannya membuatnya bertindak lebih seperti sumber daya alam daripada kode yang bisa diubah semau-maunya.
Sifat Uang yang Baik
Pendukung tesis Bitcoin sebagai penyimpan nilai juga berpendapat bahwa Bitcoin bukan hanya harta digital yang langka, tetapi juga memiliki sifat-sifat uang yang telah diterima selama berabad-abad.
Emas telah digunakan sebagai bentuk uang dalam peradaban sejak ditemukannya. Ada beberapa alasan mengapa emas menjadi pilihan. Kami telah membahas sifat tahan lama dan kelangkaannya sebelumnya. Meskipun sifat-sifat ini membuatnya menjadi aset yang baik, belum tentu menjadikannya uang yang baik. Untuk menjadi uang yang baik, suatu aset juga harus memiliki sifat sepadan, portabilitas, dan dapat dibagi.
Kesepadanan
Kesepadanan atau fungibilitas berarti bahwa unit-unit aset tersebut tidak dapat dibedakan satu sama lain. Dengan emas, dua koin emas satu ons yang sama akan memiliki nilai yang sama. Hal ini juga berlaku untuk saham dan uang tunai. Anda tidak perlu khawatir tentang unit mana yang Anda simpan – semuanya akan memiliki nilai yang sama jika jenisnya sama.
Sifat sepadan Bitcoin mungkin agak diperdebatkan. Idealnya, tidak masalah unit Bitcoin mana yang Anda miliki; 1 BTC = 1 BTC. Namun, hal yang membuatnya sedikit rumit adalah bahwa setiap unit Bitcoin dapat ditelusuri kembali ke transaksi sebelumnya. Beberapa kasus telah terjadi di mana bisnis atau entitas mem-blacklist dana yang mereka yakini terkait dengan aktivitas kriminal, meskipun pemilik Bitcoin tidak memiliki pengetahuan tentang sejarah dana tersebut karena menerima Bitcoin tersebut setelahnya.
Apakah ini penting? Sebenarnya, tidak terlalu penting. Ketika Anda membayar dengan uang tunai, baik Anda maupun pedagang tidak tahu sejarah transaksi uang tersebut, dan tidak ada konsep riwayat transaksi. Uang baru tidak memiliki nilai yang lebih tinggi dari uang yang pernah digunakan.
Namun, dalam skenario terburuk, Bitcoin yang memiliki riwayat transaksi lebih lama dapat dijual dengan harga sedikit lebih rendah daripada Bitcoin yang relatif baru. Tergantung pada sudut pandang Anda, hal ini bisa menjadi ancaman besar bagi Bitcoin atau tidak perlu dicemaskan. Untuk saat ini, Bitcoin secara fungsional memiliki sifat sepadan, meskipun ada beberapa insiden di mana Bitcoin dibekukan karena riwayat yang mencurigakan.
Portabilitas
Portabilitas berarti seberapa mudah Anda dapat mengangkut aset tersebut. Misalnya, membawa $10.000 dalam uang kertas pecahan $100 atau minyak senilai $10.000 memerlukan upaya dan biaya yang berbeda.
Mata uang yang baik harus memiliki faktor bentuk yang mudah diangkut, sehingga memungkinkan setiap orang untuk melakukan pembayaran barang dan jasa dengan mudah.
Emas telah lama dikenal karena portabilitasnya. Koin emas standar saat ini memiliki nilai sekitar $1.500. Karena kecil kemungkinannya Anda akan melakukan pembelian senilai satu ons emas penuh, denominasi yang lebih kecil tidak memakan banyak tempat.
Bitcoin, pada kenyataannya, lebih unggul daripada emas dalam hal portabilitas. Bahkan, Bitcoin sama sekali tidak memiliki tampilan fisik. Anda dapat menyimpan triliunan dolar dalam bentuk Bitcoin di dalam perangkat keras seukuran telapak tangan.
Memindahkan satu miliar dolar dalam bentuk emas (yang saat ini akan berat lebih dari 20 ton) akan memerlukan usaha besar dan biaya yang signifikan. Bahkan dengan uang tunai, Anda perlu membawa palet-palet uang kertas $100. Namun, dengan Bitcoin, Anda dapat mengirim jumlah yang sama ke mana saja di dunia ini dengan biaya kurang dari satu dolar.
Dapat Dibagi
Kualitas penting lainnya dari mata uang adalah sifatnya yang dapat dibagi, artinya kemampuan untuk membaginya menjadi unit yang lebih kecil. Dalam hal ini, emas memungkinkan Anda untuk memotong koin emas satu ons menjadi dua koin setengah ons. Meskipun Anda mungkin kehilangan sedikit nilai premi karena merusak desain koin, nilai emasnya tetap sama. Anda dapat terus memotong unit setengah ons tersebut menjadi denominasi yang lebih kecil.
Sifat dapat dibagi juga merupakan salah satu keunggulan Bitcoin. Meskipun hanya ada 21 juta koin Bitcoin, masing-masing unit terdiri dari 100 juta unit yang lebih kecil, yang dikenal sebagai satoshi. Ini mempermudah pengguna untuk melakukan transaksi dengan fleksibilitas tinggi, karena mereka dapat menentukan jumlah yang akan dikirim hingga delapan desimal. Kemampuan ini memungkinkan investor kecil untuk berpartisipasi dengan mudah dalam pasar Bitcoin.
Penyimpan Nilai, Media Pertukaran, dan Satuan Hitung
Tentangan dan persepsi beragam mengenai peran Bitcoin saat ini. Ada yang menganggapnya hanya sebagai alat pembayaran sederhana, yaitu alat untuk memindahkan uang dari titik A ke titik B. Namun, pandangan ini bertentangan dengan gagasan bahwa Bitcoin seharusnya dianggap sebagai penyimpan nilai.
Para pendukung gagasan Bitcoin sebagai penyimpan nilai berpendapat bahwa Bitcoin harus melalui serangkaian tahap sebelum dapat dianggap sebagai mata uang utama. Saat ini, Bitcoin masih berada di tahap koleksi, dilihat sebagai aset yang fungsional dan aman, tetapi belum diterima secara luas. Mayoritas pengguna Bitcoin saat ini masih terdiri dari para penggemar dan spekulan.
Namun, tahap selanjutnya adalah menjadi penyimpan nilai yang dianggap oleh beberapa orang telah tercapai. Pada tahap ini, Bitcoin tidak digunakan secara luas dalam transaksi sehari-hari, karena konsep hukum Gresham, yang berpendapat bahwa uang buruk akan mengusir uang yang baik. Dengan kata lain, jika seseorang memiliki pilihan antara dua jenis mata uang, mereka lebih cenderung menghabiskan mata uang yang dianggap buruk dan menyimpan yang dianggap baik. Sebagian besar pemegang Bitcoin memilih untuk menyimpannya (atau “HODL”) karena mereka percaya bahwa kripto ini akan mempertahankan nilainya di masa depan.
Namun, jika jaringan Bitcoin terus berkembang dan diterima lebih luas, likuiditas akan meningkat, dan harga akan menjadi lebih stabil. Dengan stabilitas yang semakin kuat, insentif untuk menyimpan Bitcoin dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan kemungkinan akan berkurang. Sebagai hasilnya, Bitcoin mungkin digunakan lebih banyak dalam transaksi sehari-hari sebagai media pertukaran yang kuat.
Dengan peningkatan penggunaan tersebut, harga Bitcoin akan menjadi lebih stabil. Pada tahap akhir, Bitcoin dapat menjadi satuan hitung, digunakan untuk menentukan harga aset lainnya. Sebagai contoh, jika Anda saat ini menghargai satu galon minyak seharga $4, di masa depan yang diharapkan, Anda akan menghitung nilainya dalam satuan Bitcoin.
Jika Bitcoin berhasil mencapai ketiga peran moneter ini, para pendukungnya melihatnya sebagai standar baru yang dapat menggantikan mata uang yang saat ini berlaku.
Kritik terhadap Bitcoin sebagai penyimpan nilai
Ada juga pandangan kritis terhadap gagasan Bitcoin sebagai “emas digital,” baik dari kalangan penggemar Bitcoin maupun skeptis terhadap mata uang kripto.
Bitcoin sebagai uang digital
Pendukung gagasan Bitcoin sebagai alat pembayaran mengacu pada white paper Bitcoin sebagai panduan awal. Mereka berpendapat bahwa Bitcoin seharusnya digunakan dalam transaksi. Dalam judulnya saja sudah tertera: “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System” (Sistem Pembayaran Elektronik Peer-to-Peer Bitcoin).
Argumen ini menyatakan bahwa nilai Bitcoin hanya ada ketika orang menggunakannya dalam transaksi. Dengan menyimpannya, Anda sebenarnya tidak berkontribusi pada adopsi Bitcoin – bahkan dapat merusaknya. Jika Bitcoin tidak diakui secara luas sebagai alat pembayaran, maka nilainya lebih didasarkan pada spekulasi daripada utilitas.
Perbedaan pandangan ini menyebabkan perpecahan dalam komunitas Bitcoin pada tahun 2017. Sebagian kecil pengguna Bitcoin ingin meningkatkan kapasitas blok untuk mengurangi biaya transaksi. Karena meningkatnya penggunaan jaringan, biaya transaksi menjadi sangat tinggi, terutama merugikan pengguna dengan transaksi bernilai rendah. Jika biaya transaksi rata-rata mencapai $10, maka pengeluaran $3 untuk membeli barang yang sama akan terasa mahal.
Jaringan yang bercabang tersebut sekarang dikenal sebagai Bitcoin Cash. Sementara jaringan Bitcoin asli mengadopsi SegWit, yang meningkatkan kapasitas blok dan memungkinkan pengembangan Lightning Network, yang bertujuan untuk memfasilitasi transaksi berbiaya rendah melalui jalur terpisah.
Namun, saat ini Lightning Network masih belum sempurna. Transaksi Bitcoin konvensional lebih mudah dipahami, sementara manajemen saluran dan kapasitas Lightning Network memerlukan pemahaman yang lebih dalam. Pertanyaannya adalah apakah desainnya dapat disederhanakan atau apakah terlalu rumit untuk diadopsi secara luas.
Karena permintaan akan kapasitas blok yang terus meningkat, biaya transaksi on-chain juga meningkat, terutama pada saat jam sibuk. Oleh karena itu, ada argumen bahwa tanpa peningkatan ukuran blok, Bitcoin dapat kehilangan utilitasnya sebagai alat pembayaran.
Tidak ada Nilai Instrinsik
Untuk banyak orang, perbandingan antara Bitcoin dan emas terdengar agak absurd. Sejarah emas adalah bagian integral dari peradaban manusia selama ribuan tahun. Meskipun peran emas telah berkurang sejak dihapusnya standar emas, tetap merupakan aset safe haven klasik.
Berbeda dengan Bitcoin, yang tidak memiliki nilai intrinsik di luar jaringannya. Anda tidak dapat menggunakan Bitcoin sebagai konduktor listrik atau membuatnya menjadi perhiasan yang mengkilap. Bitcoin mungkin mencerminkan beberapa sifat emas seperti penambangan dan persediaan yang terbatas, tetapi tetap merupakan aset digital.
Secara keseluruhan, semua mata uang bergantung pada keyakinan bersama; dolar memiliki nilai karena pemerintah dan masyarakat mengakui nilainya. Emas memiliki nilai karena dipercayai oleh banyak orang. Bitcoin juga bergantung pada keyakinan, tetapi masih kurang dikenal oleh masyarakat umum. Oleh karena itu, seringkali perlu menjelaskan dengan panjang lebar apa itu Bitcoin kepada banyak orang yang belum mengenalnya.
Volatilitas dan Korelasi
Bagi mereka yang memiliki Bitcoin pada tahap awal, pengalaman mereka mungkin sangat berbeda. Bitcoin dikenal dengan volatilitas yang tinggi dan perubahan harganya yang sulit diprediksi. Dalam hal fluktuasi harga, emas dan perak jauh lebih stabil dibandingkan dengan Bitcoin. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat ini, Bitcoin mungkin belum sepenuhnya berfungsi sebagai penyimpan nilai.
Selain itu, korelasi Bitcoin dengan pasar tradisional juga perlu dipertimbangkan. Meskipun beberapa orang mungkin menyebutnya sebagai “tidak berkorelasi” dengan aset lain, belum ada bukti pasti bahwa Bitcoin akan tetap stabil saat aset lain mengalami penurunan nilai.
Tulip Mania dan Beanie Babies
Beberapa kritikus juga menggunakan analogi seperti Tulip Mania dan Beanie Babies untuk meragukan klaim bahwa Bitcoin adalah penyimpan nilai yang baik. Meskipun analogi ini mungkin lemah, mereka mengingatkan kita pada bahaya gelembung yang bisa meledak.
Dalam kasus Tulip Mania dan Beanie Babies, investor berbondong-bondong untuk membeli barang-barang yang mereka anggap langka dengan harapan mendapatkan keuntungan. Namun, gelembung meledak ketika investor menyadari bahwa mereka telah menilai barang-barang tersebut terlalu tinggi.
Meskipun analogi ini memiliki perbedaan signifikan dengan Bitcoin, seperti keterbatasan pasokan, masih mungkin bahwa investor akan menilai Bitcoin terlalu tinggi di masa depan, yang dapat menyebabkan gelembung.
Penutup
Bitcoin memiliki sebagian besar sifat penyimpan nilai, termasuk pasokan yang terbatas dan desentralisasi yang relatif tinggi. Ini juga dapat digunakan untuk menyimpan dan mentransfer nilai.
Namun, apakah Bitcoin akan berhasil sebagai penyimpan nilai atau tidak masih harus diuji seiring waktu. Kemungkinan akan ada dua arah, di mana Bitcoin akan menggantikan mata uang fiat dalam situasi gejolak ekonomi, atau tetap digunakan oleh kelompok minoritas. Ini adalah masa depan yang akan menentukan.
CEO Binance, Changpeng Zhao, menekankan kehati-hatian di pasar yang bergejolak karena dunia kripto menunggu peristiwa Bitcoin halving. Pasar kripto sangat menantikan Bitcoin halving pada tahun 2024, yang menandai peristiwa penting bagi industri kripto yang lebih luas.
Sementara itu, Binance, pemain utama di dunia kripto, memulai hitungan mundur halving di halaman muka website mereka, sehingga menekankan pentingnya acara tersebut. Selain itu, Zhao berbagi wawasan dari halving di masa lalu, mengakui tantangan dalam memprediksi hasil di masa depan.
Dikutip Coingape, menurut CEO Binance, halving Bitcoin sering kali menimbulkan kegembiraan, diskusi, dan harapan besar dalam dunia kripto. Hal ini ditandai dengan antisipasi, spekulasi, dan pandangan positif secara keseluruhan di kalangan pendukung Bitcoin. Namun, CZ memperingatkan bahwa fase pasca-halving jarang terjadi kenaikan harga dua kali lipat dalam semalam, yang dapat membingungkan mereka yang memperkirakan lonjakan tiba-tiba.
Secara historis, tahun setelah Bitcoin halving telah menyaksikan kripto ini mencapai sejumlah titik tertinggi sepanjang masa (ATH) dalam hal harga. Sementara itu, pola ini sering kali memicu retrospeksi, karena orang-orang bertanya-tanya tentang apa yang menjadi pendorong di balik lonjakan yang luar biasa ini.
CZ menunjukkan bahwa ingatan manusia sering mengabaikan hubungan antara halving dan lonjakan harga, sehingga menimbulkan spekulasi tentang lonjakan yang tidak terduga ini.
Menariknya, tahun setelah halving menghadirkan narasi yang berbeda, yaitu suksesi ATH pada harga Bitcoin. Saat komunitas berhasil melewati keraguan awal pasca halving, mereka merenungkan apa yang mendorong tren bullish ini.
Meskipun wawasan CZ memberikan gambaran sekilas tentang pola historis, dia menekankan bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan, terutama di dunia kripto yang bergejolak.
Pemeriksaan CZ terhadap peristiwa Bitcoin halving berkisar pada sejarah harganya dan faktor psikologis yang mempengaruhi sentimen pasar. Peristiwa halving menghasilkan antisipasi dan sensasi, yang menyebabkan volatilitas karena sentimen positif dan negatif bersaing untuk mendominasi.
Sementara itu, pelaku pasar mencermati kinerja Bitcoin, di tengah meningkatnya kekhawatiran di pasar. Pada saat penulisan, harga Bitcoin diperdagangkan pada US$ 27.094 turun 2.01% selama 24 jam terakhir. Namun, selama 12 bulan terakhir, kripto telah menghasilkan keuntungan sebesar 43,48%, menunjukkan meningkatnya minat terhadap kripto setelah jatuhnya pasar.
Sementara itu, ketika hitungan mundur halving Bitcoin muncul di beranda Binance, wawasan CZ menawarkan gambaran sekilas tentang dinamika emosional dan harga yang kompleks dari peristiwa penting ini. Meskipun harapan dan spekulasi mungkin tinggi, penting untuk bersiap menghadapi perjalanan ini dan memahami bahwa kesabaran sering kali menjadi kunci dalam dunia kripto.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.