Tag: bitcoin

  • Direktur Fidelity: Bitcoin Unggul Dibanding Emas

    Jurrien Timmer, Direktur Makro Global di perusahaan layanan keuangan Fidelity yang mengelola aset lebih dari US$3,3 trilyun, mengatakan Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas.

    Bulan lalu, Timmer menerbitkan tulisan yang menyatakan manajer investasi sebaiknya melihat Bitcoin sebagai pengganti emas atau obligasi.

    “Investor mungkin ingin menambah Bitcoin dan alternatif lain sebagai satu komponen sisi obligasi dalam portofolio 60/40 saham dan obligasi,” katanya.

    Baca Juga: Warga Amerika Latin Ingin Belanja Pakai Bitcoin Cs

    Timmer menyoroti fitur Bitcoin yang menjadikannya bernilai, yaitu kelangkaan, kurva penambahan suplai yang berkurang, reputasi dan menuruti Hukum Metcalfe (Network Effect) yang menyatakan nilai jaringan tumbuh lebih cepat dengan bertambahnya pengguna.

    uncaptioned

    Direktur Fidelity itu berpendapat berinvestasi Bitcoin selain emas masuk akal, sebab sama-sama langka dan berfungsi sebagai alat simpan nilai (store of value).

    Timmer menekankan, sistem moneter dunia tidak didukung oleh emas dan ekonomi global semakin bergantung kepada kebijakan moneter bank sentral.

    Dalam era fiat money ini, semakin sedikit emas yang mendukung sistem moneter ketika uang baru diterbitkan dengan sangat cepat dan dalam jumlah banyak, tambahnya.

    “Bagi sebagian orang, hal ini menjadikan emas semakin menggiurkan, dan akhir-akhir ini Bitcoin mulai diperbincangkan sebagai bentuk emas digital,” jelas Timmer.

    Baca Juga: 4 Cara Mendapatkan Uang dari Internet dengan Cepat

    Sambil menegaskan pendapatnya hanya satu di antara yang lain, Timmer menambahkan Bitcoin bukan investasi yang aman. Kendati emas dan Bitcoin sama-sama langka, Bitcoin bersifat digital dan dapat diregulasi ketat.

    “Percaya sesuatu yang konseptual dan belum terbukti dapat bersaing dengan kelangkaan nyata yang telah dihargai selama ribuan tahun butuh keyakinan tinggi,” kata Timmer.

    Tetapi Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas. Pasokan Bitcoin dirancang terbatas, ketika pasokannya mendatar, produksi emas tetap konstan. Emas langka tetapi tidak semakin langka, sebut Timmer.

    Baik emas dan Bitcoin perlu dipertimbangkan investor ketika investasi dalam surat utang (obligasi) berimbal hasil rendah mendekati nol.

    Pekan lalu, investor milyarder Warren Buffett berkata investor obligasi menghadapi masa depan yang suram.

    Menurut Timmer, Bitcoin belum tentu lebih baik dari saham, terutama untuk jangka pendek, sebab harga Bitcoin sangat volatil.

    Saham menawarkan imbal hasil dan membayar deviden sehingga hasil investasi bertambah seiring waktu. Hanya, di saat hiperinflasi emas dan Bitcoin lebih unggul.

    Terlepas dari itu, karakteristik Bitcoin dan pasar kripto yang berkembang menjadikannya alternatif menarik selain emas atau obligasi.

    Bitcoin semakin dipercaya, dan sebagai emas digital, Timmer meyakini Bitcoin akan mengambil pangsa pasar lebih besar seiring waktu.

    Kini, manajer portofolio tidak lagi bertanya untuk berinvestasi Bitcoin atau tidak, melainkan bertanya seberapa banyak beli Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Sentuh Rp719,3 Juta, Pertanda Mulai Pulih?

    Bitcoin baru saja kembali menyentuh daerah Rp719,3 Juta akibat sentimen positif dari beberapa perusahaan besar.

    Semua ini terjadi pada 1 Maret 2021 setelah daerah Rp629,89 berhasil terjaga beberapa hari terakhir.

    Bitcoin Kembali Naik ke Rp719,3 Juta

    Apresiasi pada awal bulan tersebut terlihat lebih dari 16% yang membawa Bitcoin berhasil keluar dari batas atasnya.

    Pergerakan ini dibuat lebih kuat setelah kemarin, Michael Saylor, CEO dari MicroStrategy membuat pernyataan melalui Twitter.

    Pernyataan tersebut adalah publikasi bahwa MicroStrategy telah kembali membeli 90.859 Bitcoin senilai Rp214,7 Miliar pada harga Rp644,2 Juta.

    Pembelian oleh MicroStrategy adalah salah satu cerminan bahwa investor institusional mulai kembali membeli Bitcoin.

    Baca juga: JPMorgan Sarankan Kepemilikan Bitcoin di Portofolio untuk Lindung Nilai

    Namun, perhatian utama nampaknya masih tertuju pada Goldman Sachs akibat pengumuman untuk kembali melakukan perdagangan crypto.

    Selain itu, sentimen positif nampak juga tertuju pada Citigroup yang baru saja mengumumkan kepercayaannya terhadap Bitcoin.

    Citigroup baru saja membuat laporan dengan 105 halaman mengenai kepercayaan dan komentarnya tentang mata uang crypto utama ini.

    Citigroup menyatakan bahwa Bitcoin memiliki potensial yang sangat besar terutama untuk adopsi perdagangan internasional.

    Tapi, perusahaan tersebut tetap menyatakan bahwa Bitcoin memiliki beberapa permasalahan terutama dalam volatilitasnya.

    Walau begitu, tiga sentimen ini nampak menjadi penyebab mengapa Bitcoin kembali pulih yang juga memperkuat bukti kepercayaan investor institusional.

    Beberapa Pihak Belum Yakin

    Sayangnya walau sudah banyak sentimen positif, masih terdapat beberapa tokoh besar yang belum yakin bahwa Bitcoin sudah mulai pulih.

    Peter Brandt, trader yang cukup terkenal di pasar keuangan, menyatakan bahwa ia belum yakin bahwa koreksi sudah selesai.

    Pernyataan ini disetujui oleh David Lifchitz, Kepala Bidang Investasi ExoAlpha.

    Ia menyatakan bahwa saat ini masih terlalu awal untuk menyatakan bahwa koreksi sudah selesai.

    Baca juga: Bitcoin dan Musim Pajak, Ini Hubungannya

    Tapi, ia yakin bahwa Rp629,89 Juta telah menjadi batas bawah yang kuat walau masih terdapat keraguan akibat Maret menjadi bulan relatif negatif.

    Lifchitz juga percaya bahwa musim pajak masih signifikan akibat keperluan membayar pajak akan mendorong penjualan crypto. Ia menyatakan,

    “Saat ini musim pajak memberi dampak signifikan akibat penjualan untuk membayar pajak keuntungan sebelumnya. Namun walau terjadi koreksi 20%, saat ini pergerakan masih terlihat naik sejak Oktober 2020. Semua fokus masih tertuju pada penambang akibat tekanan jualnya.”

    Pernyataan tersebut menandakan bahwa saat ini risiko terbesar berasal dari penambang yang nampak memberi risiko jangka pendek akibat perannya sebagai penjual.

    Surat Utang Negara Mulai Stabil

    Surat utang negara terlihat mulai stabil dalam keuntungan dan transaksinya yang sebelumnya menjadi sentimen negatif untuk Bitcoin dan crypto.

    Stabilisasi ini terjadi akibat dorongan dari dana bantuan pemerintah dan juga vaksin Covid-19 yang memberi harapan positif terhadap perekonomian.

    Pasar saham Amerika terlihat mengalami apresiasi yang signifikan dengan penutupan yang positif pada ketiga indeks utama.

    Baca Juga: Citi: Bitcoin di Awal Perubahan Besar-besaran, Kian Popular!

    Semua juga terjadi akibat dukungan dari mayoritas bank sentral di dunia yang terlihat masih mendorong kebijakan ekspansif.

    Dengan positifnya pandangan terhadap perekonomian, saat ini beberapa mata uang crypto juga terlihat mulai pulih bersama Bitcoin.

    Binance Coin (BNB) naik sekitar 21% ke Rp3,55 Juta, bersama Ethereum (ETH) yang naik 9.46% menuru Rp21,8 Juta.

    PancakeSwap (CAKE) dan Fantom (FTM) berhasil naik sekitar 36% dan saat ini berada di sekitar Rp176.083 dan Rp7.988 secara berurutan.

    Saat ini keseluruhan kapitalisasi pasar crypto berada di Rp21.759 Triliun dengan dominasi Bitcoin yang berada di 61%.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Citi: Bitcoin di Awal Perubahan Besar-besaran, Kian Popular!

    Citi, perusahaan multinasional mengatakan, bahwa Bitcoin saat ini berada di awal perubahan besar-besaran, kian popular yang belum terjadi sebelumnya.

    “Bitcoin kini berada di titik penting dan bisa menjadi mata uang (currency) pilihan dalam perdagangan internasional. Bitcoin juga menghadapi ‘ledakan spekulatif,” sebut seorang analis Citi, dilansir dari Reuters, Senin (1/3/2021).

    Citi menyandarkan analisisnya pada dukungan besar Bitcoin oleh Tesla dan Mastercard.

    Baca Juga: Di Australia, Bitcoin Lebih Digemari Daripada Emas

    “Inilah yang menjadikan Bitcoin mendapatkan waktu tepat sebagai awal dari transformasi besar-besaran dan menjadi arus utama,” sebut Citi.

    Keterlibatan yang tumbuh dari investor institusional dalam beberapa tahun terakhir, jauh berbeda dengan dominasi kalangan ritel dalam satu dekade terakhir.

    Jelas Citi, meningkatnya popularitas Bitcoin juga dilengkapi dengan penerbitan “mirip stablecoin” oleh bank sentral, alias Central Bank Digital Currency (CBDC).

    CBDC juga disebut sebagai “digital fiat money” yang sebagian menggunakan teknologi mirip seperti blockchain, yakni Decentralized Ledger Technology (DLT).

    Baca Juga: 5 Crypto Potensial Saat Pasar Turun

    Lonjakan minat mendorong Bitcoin ke rekor tertinggi US$58.354 pada beberapa hari lalu. Kapitalisasi pasarnya pun genap menjadi US$1 triliun untuk kali pertama sejak ia dibidani oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008.

    “Sejumlah risiko dan hambatan memang masih menghalangi popularitas Bitcoin. Tapi, dalam jangka panjang, peluangnya masih sangat besar,” jelas Citi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Momentum Bitcoin Masih Terus Berlanjut Sepanjang Februari

    Bitcoin kembali mencetak rekor tertinggi dengan nilai $ 50,000 per 16 Februari kemarin, menyusul berita bullish selama seminggu ini termasuk Tesla yang ikut membeli aset BTC dan MicroStrategy yang berencana untuk mengumpulkan $600 juta lagi untuk membeli Bitcoin. Data dari TradingView menunjukkan BTC / USD naik lebih dari 5% dalam beberapa jam pada hari Selasa setelah BNY Mellon mengonfirmasi bahwa mereka menyimpan crypto untuk manajemen aset klien dan juga rumor yang berputar di sekitar Morgan Stanley. 

    Langkah ini menempatkan Bitcoin di jalur untuk mencapai angka yang signifikan yaitu dinilai $ 50.000 sekali lagi setelah beberapa hari gerakan menyamping yang cenderung stagnan saat perselisihan antara paus muncul. 

    Bulls awalnya mengambil kendali BTC setelah pembelian Bitcoin senilai $1,5 miliar dari Tesla, yang mana hal itu terungkap pada 8 Februari. Pada saat yang sama, Bank Sentral Eropa adalah salah satu penentang, mengklaim bahwa bank sentral secara keseluruhan tidak akan berinteraksi dengan Bitcoin di masa depan.

    Bitcoin telah menunjukkan tanda-tanda bahwa momentum keseluruhannya tidak akan bisa dihentikan sepanjang bulan ini. Dengan Tesla dan kemudian Mastercard sebagai katalis, traders yakin akan kekuatan kenaikan Bitcoin saat ini. 

    Baca Juga: Prinsip dan Kiat Trading Bitcoin Cs

    Pengumuman pembelian dan penerimaan Mastercard Tesla diumumkan pada hari kerja (weekdays) setelah KTT “Bitcoin untuk Perusahaan” yang mengaplikasikan MicroStrategy berhasil menarik audiens sekitar 8.000 eksekutif. Sebetulnya, Tesla sudah membuat rencana acara ini sejak beberapa waktu yang lalu, implikasi dari acara tersebut jelas – perusahaan berencana untuk menambahkan Bitcoin ke neraca mereka.

    Simon Peters, seorang analis aset kripto di platform investasi multi aset eToro, mengatakan bahwa dia memperkirakan Bitcoin akan mencapai $70.000 pada tahun 2021, “Bitcoin dan rekan-rekannya, sederhananya, akan menjadi bagian dari dunia keuangan arus utama lebih cepat daripada nanti. Saya memperkirakan permintaan akan melonjak dan melihat harga Bitcoin mencapai setidaknya $ 70.000 pada akhir tahun ini. ”.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Memasuki Tahun Kerbau, BTC Mampu Menembus Area Resistensi

    Harga Bitcoin (BTC) menembus rekor tertinggi pada hari Valentine kemarin. Bitcoin mencetak rekor terbaru dengan angka di atas $ 49,000. Ada 3 indikasi yang menyebabkan harga Bitcoin melonjak ke rekor terbarunya, yaitu; aliran masuk stablecoin yang tinggi, Resistensi $ 38,000 breakout bersih, dan fase konsolidasi yang berkepanjangan.

    Berikut beberapa analisa yang dihimpun trader analyst Tokocrypto : 

    Arus masuk Stablecoin yang tinggi

    Selama beberapa hari terakhir, meskipun Bitcoin konsolidasi di bawah $ 38.000, analis on-chain

    menunjukkan peningkatan terus menerus dalam aliran masuk stablecoin. Menurut data dari CryptoQuant, platform analitik data, Rasio Pasokan Stablecoin (SSR) naik secara signifikan saat reli dari level pertengahan $30.000. Indikator SSR menunjukkan rasio kapitalisasi pasar Bitcoin relatif terhadap kapitalisasi pasar gabungan stablecoin. Ketika harga Bitcoin naik seiring dengan rasio SSR, maka besar kemungkinan Bitcoin di dorong kembali oleh modal yang tersisihkan untuk masuk kembali ke pasar. Hal ini juga didukung pada fakta bahwa reli tidak hanya didorong oleh pasar berjangka yang over-leverage. Faktanya, permintaan asli dari pasar lah yang memimpin tren ini naik. Di atas rasio stablecoin yang tinggi, analis juga menunjukkan penurunan tekanan jual yang datang dari para traders. Kombinasi dari tekanan jual yang lebih rendah dari para traders dan peningkatan aliran masuk stablecoin ke bursa mengkatalis reli Bitcoin yang sedang berlangsung.

    Berita Terkait: Inilah Keuntungan Investasi Bitcoin di 2021!

    Resisten $38.000 breakout dengan sempurna

    Bitcoin berkonsolidasi di bawah area resistensi $38.000 untuk waktu yang lama. Hal ini menyebabkan risiko siklus bull Bitcoin jangka pendek. Ketika harga Bitcoin berada di bawah area resistensi untuk waktu yang lama, hal itu meningkatkan kemungkinan likuiditas BTC turun ke area yang lebih rendah. Hal ini merupakan sebagian alasan mengapa Bitcoin secara teratur turun menjadi sekitar $44.000 sebelum reli impuls akhirnya di atas $38.000.

    Konsolidasi panjang bermanfaat untuk penembusan harga baru BTC

    Periode konsolidasi yang relatif lama biasanya mengarah pada dua skenario: breakdown parah atau breakout besar. Jika Bitcoin memulai reli tanpa fundamental yang kuat, ada kemungkinan lebih besar konsolidasinya mengarah pada koreksi yang dalam. Tetapi, dalam kasus Bitcoin dalam tiga hari terakhir ini, fase konsolidasi di bawah $ 38.000 didukung oleh arus masuk stablecoin yang meningkat, premium Coinbase yang tinggi, dan volume perdagangan yang umumnya tinggi di pasar spot dan futures. Oleh karena itu, meskipun pasar berjangka tetap memiliki cakupan yang tinggi dan ramai, BTC mampu menembus area resistensi meskipun ada resiko tekanan.

    Bukan hanya para pasangan saja yang merayakan hari Valentine kemarin, namun nampaknya hari Valentine juga membawa momentum yang besar untuk Bitcoin, terlebih ternyata Bitcoin yang lahir di tahun 2009, di tahun kerbau.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ethereum Harga Tertinggi Baru Bersama Kencangnya Apresiasi Bitcoin

    Ethereum saat ini sedang bergerak naik membentuk harga tertinggi barunya di sekitar $1.825 bersama dengan Bitcoin.

    Diprediksi bahwa harganya masih akan terus naik bersama banyaknya sentimen positif di sekitar Ethereum.

    Ethereum Harga Tertinggi Baru Bersama Bitcoin

    Sejak 8 Februari 2021 pukul 19.00 WIB, harga Bitcoin terlihat mengalami apresiasi yang signifikan sekitar 22,8%.

    Apresiasi ini terjadi akibat Tesla yang baru saja membeli Bitcoin senilai $1,5 Miliar atau setara dengan Rp21 Triliun.

    Dana tersebut merupakan 7,7% dari keseluruhan dana kas yang dimiliki oleh Tesla.

    Baca juga: Tesla Beli Bitcoin $1,5 Miliar, Apple Bakal Ikutan?

    Apresiasi dari Bitcoin nampaknya memberikan dorongan positif untuk beberapa mata uang crypto lainnya, terutama Ethereum.

    Di saat yang bersamaan dengan apresiasi Bitcoin, harga Ethereum naik sekitar 10% hingga harga tertinggi barunya.

    Oleh karena itu, dengan masih kencangnya apresiasi Bitcoin, diprediksi bahwa Ethereum akan terus naik bahkan mencapai angka signifikan.

    Potensi Sentimen Positif EIP-1559

    Salah satu sentimen positif utama yang nampaknya akan mendorong Ethereum naik lebih tinggi adalah Proposal bernama EIP-1559.

    Proposal ini akan menghilangkan masalah biaya transaksi Ethereum yang berasal dari mahalnya biaya gas.

    Ethereum telah mencapai biaya transaksi tertingginya pada $25 walau telah bergerak di sekitar $23 dan $25 saat ini.

    Baca juga: Ini Dia Waktu yang Tepat untuk Transaksi dengan Gas Fee Rendah

    Akibat apresiasi biaya ini, penambang Ethereum dilihat paling diuntungkan.

    Pendapatan penambang naik ke nilai tertinggi pada $55 Juta dalam satu hari akibat dari naiknya biaya transaksi.

    Biaya transaksi yang tinggi ini menjadi salah satu permasalahan besar yang berpotensi menghalang pertumbuhan Ethereum ke depannya.

    Namun, akibat proposal baru ini, kemungkinan masalah tersebut akan hilang.

    Jika masalah tersebut hilang, Ethereum memiliki potensi untuk naik, bahkan mencapai $20.000 atau Rp28 Juta.

    Prediksi tersebut dibuat oleh Ryan Berckmans, pendiri dari Predictions.Global yang yakin akibat adanya beberapa hal.

    Yang pertamabiaya transaksi yang tinggi namun sedang ditangani, membuat banyak pihak berubah menjadi investor atau hodler.

    Oleh karena itu, kemungkinan besar tekanan jual terhadap Ethereum akan terlihat berkurang yang akan menjaga stabilitas apresiasi dalam jangka panjang.

    Baca Juga: Kisah Inspiratif 2 TKO Angels Setelah Investasi di Tokocrypto

    Proposal EIP-1559 juga menjadi penyebab utama mengapa Ethereum dapat terus mengalami apresiasi.

    Selain mengurangi biaya, sistem ini akan mengurangi persediaan Ethereum akibat penerapan sistem proof-of-stake (POS).

    Dengan sistem ini, para penambang akan berubah menjadi investor akibat jika dibandingkan dengan saat ini mereka tidak perlu menjual hasil tambangannya sebanyak sekarang untuk menutup biaya.

    Hasilnya dengan berkurangnya tekanan jual bersama investor ritel, harga Ethereum memiliki potensi untuk naik lebih tinggi.

    Dengan EIP-1559 yang sudah mulai diuji coba dan direncanakan untuk diluncurkan tahun ini, sentimen positif menjadi sangat kuat.

    Bersama volume perdagangan Ethereum yang pekan lalu menggarap 80% dari keseluruhan volume transaksi di pasar crypto, kemungkinan besar apresiasi ke $20.000 menjadi sangat mungkin.

    Namun jika ingin membeli Ethereum, manajemen risiko dan penggunaan “uang dingin” tetap harus dilakukan untuk menjaga kondisi finansial pribadi jika terjadi kerugian.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Menapaki Jejak Perjalanan Bitcoin – Tokocrypto News

    Menapaki jejak perjalanan Bitcoin secara satu persatu memang tak cukup termaktub dalam satu artikel pendek ini. Tapi, setelah 12 tahun berjalan, kelas aset baru itu sukses menjadi buah bibir, sebagai instrumen investasi amat bernilai. Artikel ini hanya secuil penapakan kita, sebagai penyegar pemikiran.

    Sejak muncul pertama kali pada tahun 2008 kehadiran Bitcoin sukses menghadirkan kejutan bagi para investor dan seluruh kalangan di berbagai belahan dunia.

    Harganya yang kini mencapai ratusan juta rupiah, meski bergerak begitu dinamis, menjadikan Bitcoin banyak dilirik oleh berbagai kalangan.

    Bahkan tak sedikit yang percaya bahwa aset kripto—sebagian lebih suka menyebutnya mata uang alias currency—ini telah membantu membuka jalan bagi munculnya aset kripto lain. Pada akhirnya itu mengubah cara pandang dunia soal definisi alat tukar.

    Baca Juga: Pasar Crypto Mulai Hijau, Altcoins Ini Diprediksi Naik 1.000 Kali Lipat

    Langkah Awal Bitcoin
    Ide awal Bitcoin pertama kali diutarakan pada 31 Oktober 2008 oleh Satoshi Nakamoto melalui makalah ilmiah-nya “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”. Sosok asli Nakamoto masih misteri hingga detik ini.

    Gagasan dasar Nakamoto pada dasarnya sederhana, yakni menciptakan sistem uang elektronik yang berada di luar sistem negara.

    Dalam sistem itu ada dua komponen utama, yakni sistem transfer, penciptaan unit nilai uangnya (monetary unit), juga disebut Bitcoin (BTC) dan sistem moneternya (kendali jumlah unit uangnya yang sangat terbatas).

    Untuk mewujudkan gagasan itu, tulis Nakamoto, semua data transaksi (ledger) harus dibuat terbuka dan disimpan serupa oleh semua pihak yang berada di jaringan itu.

    Karena catatan transaksi didistribusikan secara peer-to-peer, maka sifat desentralistik bisa dimunculkan.

    Itulah sebabnya tidak ada entitas terpusat yang menguasai sistem itu, yang belakangan kita sebut dengan blockchain, karena sekumpulan data terkait secara kronologis

    Berkat jaringan peer-to-peer itu pulalah, potensi double spending terhadap unit uangnya bisa ditekan semaksimal mungkin dan BTC bisa ditransfer secara langsung tanpa melalui lembaga keuangan.

    Penegasan soal itu, menurut Kris Marszalek, CEO Crypto.com, BTC pada prinsipnya secara langsung dikirimkan tanpa melibatkan pihak perantara.

    Baca Juga: Setelah Harga ETH Tembus Rp21 Juta, Apalagi?

    Nilai Awal
    31 Oktober 2008 adalah sekadar pengenalan gagasan besar Nakamoto. Baru pada 3 Januari 2009, block Bitcoin perdana (genesis block) ditambang.

    Itu penanda penting awal sistem blockchain Bitcoin itu berjalan, sekaligus penciptaan unit uangnya, yakni 50 BTC.

    Meski demikian, menurut Profesor Mark Grabowski di Universitas Adelphi, ketika itu BTC masih belum memiliki nilai tukar apapun.

    Seluruh transaksi yang melibatkan pengiriman Bitcoin kala itu dilakukan tak lebih dari sebatas “bersenang-senang” atau sekadar eksperimen teknologi komputer bersalut kriptografi.

    Setidaknya butuh lebih dari setahun kemudian untuk mencatatkan nilai ekonomi pertama dari aset kripto itu, ketika 10.000 BTC ditukar dengan 2 loyang pizza porsi besar bermerek Papa John.

    Transaksi itu terjadi pada 22 Mei 2010 silam oleh Laszlo Hanyecz di Florida, Amerika Serikat melalui Bitcointalk. Ketika itu harga dua loyang pizza setara US$25 (Rp350 ribu dengan kurs hari ini).

    Berpatokan pada transaksi itu, menurut Grabowski, maka nilai awal Bitcoin setidaknya sekitar US$0,0025 per BTC.

    Lantas peristiwa fenomenal itu kelak diperingati setiap tanggal 22 Mei sebagai “Bitcoin Pizza Day” oleh pendukung Bitcoin.

    Bursa Bitcoin Pertama
    Sebelum transaksi pizza itu, pada 15 Januari 2010, seorang pengguna di Bitcointalk membuka bursa Bitcoin pertama, yakni Bitcoinmarket.com. Nilai BTC pun dipatok dengan nilai dolar AS yang disesuaikan dengan permintaan dan penawaran.

    Dari yang awalnya hanya bernilai US$0,0025, per 20 Desember 2020 saja, nilai 1 BTC setara dengan US$23.548,90.

    Dengan valuasi setinggi itu, tidaklah berlebihan jika Bitcoin dianggap sukses mendominasi pasar mata uang kripto. Nyatanya demikian dan sulit dibantah.

    Gejolak Harga Bitcoin
    Ada satu hal yang pasti mewarnai perjalanan sejarah Bitcoin, yaitu harganya yang bergerak demikian dinamis, naik turun alias volatil.

    Menurut penuturan Learncrypto, per Februari 2011 silam, nilai Bitcoin tercatat berhasil menembus US$1. Ini untuk kali pertama sepanjang sejarah. Namun, hanya butuh 4 bulan yakni, pada Juni 2011 harganya meroket ke US$31.

    Momen itu sekaligus menandai “penggelembungan” harga Bitcoin yang terjadi untuk pertama kalinya.

    Dua tahun berselang, pada April 2013, nilainya kembali merangkak naik ke US$200. Nilainya kemudian kembali naik secara signifikan menjadi US$1.000 pada November di tahun yang sama. Setelah beranjak 4 tahun, nilainya menjadi 10 kali lipat.

    Kini, 12 tahun berselang, sejak konsep awalnya dikemukakan, Bitcoin telah mencatat nilai rekor, US$42.000 per BTC (Rp588 juta).

    Nilai tukarnya yang demikian tinggi membuat aset kripto yang satu ini diincar oleh banyak kalangan, tapi bukan berarti harga Bitcoin terus mengalami kenaikan.

    Tercatat di awal tahun 2018, aset kripto ini mencatatkan penurunan nilai tukar secara drastis.

    Beberapa kalangan menyebut bahwa hal itu terjadi di tengah ketidakpastian akibat tingginya tingkat penipuan menggunakan Bitcoin yang terjadi kala itu.

    Di samping itu, awal tahun 2018 juga ditandai dengan rendahnya rasa percaya di antara para penambang Bitcoin.

    Besarnya ketidakpastian di dunia Bitcoin kala itu juga yang kemudian mendorong para pelaku perbankan di berbagai negara untuk mulai masuk ke ranah uang digital itu. Langkah ini kemudian terbukti berdampak positif.

    Hal ini bisa dilihat dari kondisi pasar Bitcoin yang semakin matang. Sistem transaksi Bitcoin menjadi semakin canggih, efisien dan beragam. Pasar spot dibarengi dengan pasar derivatif oleh perusahaan besar seperti CME Groups.

    Para pelaku yang terlibat mulai menerapkan praktik-praktik inti setara lembaga perbankan. Hal ini dilakukan untuk menerapkan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk membangun pasar Bitcoin yang tidak hanya berkesinambungan, tetapi juga layak untuk seluruh aktivitas perdagangan dan investasi Bitcoin.

    Sebuah Ikhtisar
    Perjalanan panjang Bitcoin sungguh menarik untuk disimak, karena belum perlu ada tanda titik yang perlu ditorehkan. Pasalnya, karena Bitcoin mampu mengundang kita untuk kembali mempertimbangkan dua hal penting terkait uang.

    Pertama, sejarah Bitcoin mengajarkan kita bahwa uang pada dasarnya adalah sebuah barang (komoditi), seperti uang dolar di pasar valas.

    Dan Kedua, uang tidaklah muncul begitu saja, melainkan dari sebuah proses pasar yang berkelanjutan, hingga kita menggambarkan nilainya untuk masa depan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Elon Musk: Saya adalah Pendukung Bitcoin

    Elon Musk Pendiri dan CEO SpaceX tegas mengatakan bahwa dirinya adalah pendukung Bitcoin.

    “Saya adalah pendukung bitcoin. Saya memang terlambat menyambutnya, tetapi saya adalah seorang pendukung. Saya pikir Bitcoin saat ini berada di ambang penerimaan luas oleh orang-orang di keuangan tradisional. Dan saya pikir Bitcoin adalah hal yang baik,” kata Musk di ruang obrolan Clubhouse hari ini, 1 Februari 2021, dilansir dari Forbes dan Reuters.

    Musk juga mengatakan bahwa banyak orang mengajaknya masuk lebih dalam ke Bitcoin sejak tahun 2013, ketika harga Bitcoin masih di bawah US$100.

    Pernyataan Musk menyusul penyematan tanda pagar #bitcoin di profil Twitter-nya pada 29 Januari 2021 lalu.

    heboh tagar bitcoin di profil twitter elon musk

    Setelah tagar itu,  tidak ada pernyataan terang benderang di Twitter-nya, apakah dia memang mendukung Bitcoin.

    Heboh Tagar Bitcoin di Profil Twitter Elon Musk
    Apapun polah kata Elon Musk di Twitter mampu membuat warganet gempar. Hari ini Elon Musk mengubah bagian profil akun Twitternya dengan tagar #Bitcoin. Ini sekaligus mengingatkan kita terkait akunnya yang pernah diretas pada tahun lalu.

    Gara-gara tagar itu sontak dunia Twitter pun geger, khususnya para pecinta aset kripto nomor wahid itu.

    Entah terkait itu atau tidak, harga Bitcoin pun langsung terkerek ke US$38 ribu pada pukul 16:30 WIB hari ini dari US$32 ribuan pada pukul 15:30 WIB.

    elon musk
    Bitcoin terbang ke US$38 ribu pada pukul 16:00 WIB hari ini. Sumber: Tradingview.com.

    CEO Tesla, Elon Musk baru saja mengubah profil Twitter-nya dengan menghapus kata ‘Dogecoin’ dan memasukkan tagar Bitcoin. Dogecoin merujuk pada aset kripto DOGE yang harganya naik selangit, lebih dari 350 persen dalam tempo 24 jam saja.

    Seperti biasa, cuitan Elon Musk terkait aset kripto selalu bernada samar. Ini bisa dimaklumi karena dia adalah tokoh publik dan setiap huruf dan kata yang disampaikannya bisa mengubah situasi secara signifikan. Lihat saja follower-nya lebih dari 43 juta.

    Baca Juga: Kemudahan Trading Aset Kripto dengan Aplikasi Tokocrypto

    Pomp: Tesla Mungkin Akan Beli Bitcoin
    Menyusul tanda pagar (tagar) Bitcoin di profil Twitter Elon Musk, pengamat Bitcoin, Anthony “Pomp” Pompliano mengatakan perusahaan Tesla mungkin akan membeli Bitcoin.

    Hal itu dikumandangkan oleh Pompliano, Pendiri Morgan Creek Digital, menyusul penyematan tagar Bitcoin di profil Twitter Elon Musk, bos besar Tesla.

    “Tesla dan SpaceX yang menambahkan Bitcoin ke neraca keuangan mereka, tidak bisa dihindari,” kata Pompliano berspekulasi, sembari menyitir cuitan Musk, setelah tagar Bitcoin itu ditambahkan.

    Pompliano seakan-akan menyiratkan bahwa Musk mungkin “sudah sadar” bahwa Bitcoin semakin penting dipandang sebagai instrumen investasi demi melawan inflasi, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh MicroStrategy dan sejumlah perusahaan besar lainnya sejak tahun 2020 lalu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa Teknikal 16 September: Bitcoin dan Ethereum

    Dalam beberapa hari lalu, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) telah mencoba pulih dari tekanan kuat Bears pada minggu sebelumnya, yang menyiratkan upaya bertumbuh dari para optimisme crypto, sehingga peluang inilah yang akan menjadi dasar analisa teknikal kita kali ini.

    Pada analisa ini, kita akan mencoba melihat masih ada tidaknya peluang bagi Bullish untuk melanjutkan upaya pemulihan beberapa hari lalu.

    Dan dalam artikel ini, kami akan berbagai pandangan kami dalam analisa teknikal untuk peluang trend BTC dan ETH untuk beberapa hari kedepan.

    BTCUSD

     

    Dalam analisa kami, pada time frame Daily, BTC pulih secara konsisten setelah mampu bertahan diatas level $ 10.000, sang Support kunci kita pada analisa minggu lalu.Ini menyiratkan upaya pemulihan dari level Lower High jangka menengah, sehingga dalam analisa kami, Resistance kunci, $ 11.000, akan menjadi titik validasi utama kita untuk kekuatan Bullish yang akan dibentuk dari reaksi pasar terhadap pemulihan sebelumnya ini.

    Baca Juga: 6 Terobosan Proyek Harmony

    Perlu digarisbawahi, harga menguat saat RSI belum membentuk Oversold, sehingga kita perlu mewaspadai kembalinya RSI ke ranah bawah jika harga mencoba bergerak kurang kuat dalam aksi beli dikisaran level $ 11.000, dimana breakout kuat pada level ini, bisa membawa potensi untuk mencapai Resistance kunci lainnya, yaitu di level $ 12.000.

    Dari time frame 4 jamnya, BTC berlanjut dalam struktur Bullish dari pergerakan ranging sebelumnya, hingga memasuki Area Resistance kunci yang akan menjadi kunci untuk beberapa hari kedepean.

    Jika dilihat dari fundamental, harga Bitcoin akan sideways untuk sementara waktu, ranging di sekitar resistance. Breakout akan terjadi jika ada berita yang mengejutkan.

    Ini tanggal yang harus anda tahu untuk pergerakan harga BTC:

    ETHUSD

    Dalam analisa kami, pada time frame Daily, ETH telah mampu mengumpulkan kekuatan dengan tetap bertahan diatas level Support kunci $ 310 dan level Resistance kunci sebelumnya, $ 370.

    Baca Juga: Cara Staking Aset Crypto Menggunakan Staking Pool

    Price Action pada $ 370 akan menjadi dasar analisa kita untuk kekuatan trend jangka menengah, dimana faktor DeFi akan juga mempengaruhi ETHUSD dalam sisi fundamental yang jangan sampai diabaikan.

    Pada time frame 4 jam ini, ETH telah bangkit dari Area Support kunci, dimana dalam analisa kali ini, kami telah memetakan adanya Area Resistance kunci yang digambarkan dari titik Swing di histori chart, yang sifatnya jangka pendek / menengah, sehingga reaksi harga pada Area ini akan sangat penting di analisa kami, untuk membaca sinyal trend.Jika dilihat dari fundamental ETH, sangat mungkin harga akan turun, sebelum naik di bulan Oktober-November karena ETH 2.0.

    Note: Artikel ini bukan nasihat investasi, lakukan trading dengan bijaksana.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin Dengan Komputer

    Selama beberapa dekade terakhir, mesin pemelihara jaringan atau penambangan Bitcoin telah mengalami perkembangan teknologi dengan cepat.

    Peralatan penambangan adalah fitur mendasar dari keberhasilan jaringan Bitcoin karena mesin ini menentukan keuntungan bagi para penambang untuk melakukan apa yang mereka lakukan, yaitu memproses perhitungan yang diperlukan untuk menanamkan blok transaksi pada blockchain.

    Meskipun sedikit terabaikan, sejarah peralatan pertambangan bitcoin ini merupakan penjelasan utama mengapa aktivitas penambangan selama bertahun-tahun ini berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar. Industri tersebut terus berkembangan hingga saat ini, meski terlihat adanya tanda-tanda perlambatan pada perkembangan tersebut.

    Pada artikel ini kita akan melihat sejarah lengkap teknologi penambangan Bitcoin, dan ke arah mana selanjutnya inovasi akan bergerak.

    CPU untuk Penambangan

    Pada 3 Januari 2009, dengan nama samaran Satoshi Nakamoto, ia pertama kali menciptakan penambangan blok Bitcoin. Sebagai satu-satunya penambang di jaringan Bitcoin saat itu, Nakamoto tidak memerlukan peralatan khusus untuk meluncurkan blockchain Bitcoin. Dia mampu membuat blok bitcoin menggunakan komputer pribadi rata-rata.

    Komputer-komputer yang misalnya digunakan untuk menjelajah internet, membuat Microsoft Word, atau sejumlah aplikasi lainnya yang tak terhitung jumlahnya tersebut, semuanya mengandung apa yang disebut Central Processing Unit (CPU). Perangkat ini mengontrol bagaimana perintah di komputer diproses dan dijalankan. Karena kurangnya persaingan penambang, pada awal waktu bitcoin ini, energi komputasi yang diperlukan untuk membuat blok baru dan mendapatkan rewards dari penambangan dapat dengan mudah diproses pada perangkat CPU.

    Perangkat keras yang diperlukan untuk menambang koin baru lalu berevolusi seiring berjalannya waktu ketika para penambang baru bergabung dengan jaringan Bitcoin dan mulai bersaing untuk mendapatkan blok rewards.

    grafik bitcoin mining difficulty

    GPU dan FPGA untuk Penambangan

    Inovasi besar pertama untuk perangkat keras penambangan Bitcoin datang tidak lama setelah nilai pasar untuk Bitcoin didirikan.

    Pada 22 Mei 2010, programmer komputer Laszlo Hanyecz membayar sekitar 10.000 BTC untuk dua pizza Papa John. Jika dalam dolar Pizza tersebut bernilai sekitar $25. Menurut penyedia data cryptocurrency, Coin Metrics, harga pasar Bitcoin kemudian naik di bulan Juli menjadi sekitar 8 sen. Pada saat harga Bitcoin mencapai 10 sen pada Oktober 2010, perangkat penambangan pertama yang memanfaatkan Graphics Processing Units (GPU) kemudian dikembangkan.

    Baca juga: Cara Memilih Mining Pool Terbaik untuk GPU dan CPU

    Tidak seperti CPU, perangkat GPU dioptimalkan untuk melakukan berbagai tugas komputasi yang terbatas. Awalnya GPU dibangun untuk aplikasi game dan unggul dalam komputasi operasi matematika sederhana secara paralel, daripada satu per satu, dalam menghasilkan ribuan piksel gambar yang sensitif terhadap waktu. Perangkat ini juga dapat diprogram ulang untuk menghitung operasi matematika lainnya seperti yang diperlukan untuk penambangan Bitcoin baru.

    gpu mining

    Inovasi penambangan Bitcoin pada perangkat GPU ini, membuat produksi blok Bitcoin dan mendapatkan blok reward rata-rata sekitar enam kali lebih efisien menurut analisis yang dilakukan oleh CEO perusahaan konsultan pertambangan Navier, Josh Metnick. Keuntungan efisiensi ini menggunakan biaya rata-rata perangkat GPU hanya dua kali lipat dari rata-rata perangkat CPU.

    Pada tahun berikutnya, tahun 2011, keuntungan tersebut dengan cepat disusul ketika Field-Programmable Gate Arrays (FPGA) dirombak untuk keperluan penambangan Bitcoin.

    Menurut perhitungan Metnick, FPGA dapat menghitung operasi matematika yang diperlukan untuk menambang Bitcoin dua kali lebih cepat dari GPU kelas tertinggi. Namun, perangkat ini lebih padat karya untuk dibuat.

    FPGA juga memerlukan konfigurasi pada tingkat perangkat lunak dan perangkat keras, yang berarti perangkat harus diprogram untuk menjalankan kode yang disesuaikan, serta dirancang untuk menjalankan kode tersebut secara efisien. Kemampuan dalam menyesuaikan komponen perangkat keras pada FPGA membuat jenis perangkat ini lebih optimal untuk penambangan Bitcoin daripada GPU.

    ASIC untuk Penambangan

    Lalu, selanjutnya ada inovasi besar lain untuk penambangan Bitcoin. Inovasi ini kemungkinan membutuhkan jumlah yang lebih besar pada sumber daya khusus, waktu, dan pengembangan untuk dicapai. Dibandingkan mengubah parameter perangkat lunak dan perangkat keras dari mesin yang ada, terdapat upaya untuk menciptakan mesin baru khusus untuk penambangan bitcoin. Hal ini akhirnya terbayarkan pada tahun 2013, produsen perangkat keras komputer berbasis di Tiongkok bernama Canaan Creative merilis rangkaian pertama Application-Specific Integrated Circuits (ASIC) untuk penambangan Bitcoin.

    Tidak seperti CPU, GPU, dan FPGA, perangkat ini sudah dari awal perancangannya memang dikhususkan untuk menambang Bitcoin. Ini berarti semua komponen perangkat keras dan perangkat lunak dari perangkat ASIC ini telah dirancang dan dioptimalkan untuk menghitung secara ketat perhitungan yang diperlukan untuk membuat blok Bitcoin baru. Keuntungan secara efisien dari ASIC ini tidak dapat ditandingi oleh perangkat-perangkat yang sudah lebih mendahuluinya.

    Sementara itu, Canaan Creative, Produsen ASIC Bitcoin pertama dan produsen seperti Bitamin dan MicoBT juga menghadirkan versi baru perangkat penambangan Bitcoin ASIC dengan perangkat keras yang semakin canggih. Salah satu perkembangan yang paling mencolok dalam teknologi penambangan ASIC sejak 2013 ini adalah pengurangan ukuran chip yang stabil. Ukuran chip ASIC yang mulanya berukuran 130nm pada 2013 telah menyusut menjadi hanya 7nm dalam model perangkat keras terbaru.

    “Tanpa pemasangan teknologi dasar baru yang revolusioner ini, penambang Bitcoin akan segera berhenti aktif melakukan persaingan dasar pada perangkat keras dan peralatan lain seperti yang terjadi selama dekade terakhir”

    Pentingnya ukuran chip akan mengukur pula efisiensi penambangan. Semakin lebar permukaan chip ASIC, semakin besar pula saluran komunikasinya dan oleh karena itu semakin banyak listrik yang diperlukan untuk mengirimkan data pada permukaannya. Menurut perhitungan Metnick, perangkat penambangan Bitcoin ASIC hari ini memiliki 100 miliar kali kecepatan rata-rata CPU pada tahun 2009.

    Baca juga: Transaksi Bitcoin Habiskan Listrik Setara Kebutuhan Rumah Tangga di Inggris Selama 2 Bulan!

    Rakesh Kumar, associate professor Teknik Elektro dan Komputer di University of Illinois, percaya faktor pendorong kuat dari evolusi perangkat keras penambangan selama bertahun-tahun sejak penciptaan Bitcoin ini adalah meningkatnya nilai dolar Bitcoin, yang menjadikan kegiatan penambangan semakin menguntungkan.

    Semakin tinggi nilai pasar dari blok rewards, semakin tinggi pula harga untuk inovasi dalam teknologi penambangan ini yang meningkatkan margin keuntungan penambang seraya mengurangi biaya operasi.

    perkembangan harga bitcoin

    Masa Depan Penambangan Bitcoin

    Sejak 2015, pengurangan ukuran chip pada perangkat penambangan Bitcoin ASIC menjadi lebih lambat dan kurang dramatis dibandingkan tahun 2013 dan 2014. Terlebih lagi, sejak penambang ASIC Bitcoin pertama, belum ada lagi teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi penambangan dengan cara yang sama dengan penambangan GPU untuk penambangan CPU atau penambangan FPGA untuk penambangan GPU.

    asic mining

    “Kami mencapai batas fundamental,” ujar Kumar. “Masalah ini ada di seluruh industri, bukan hanya penambangan (Bitcoin saja), tetapi seluruh industri semikonduktor … Kami membutuhkan perangkat jenis baru.”

    Tanpa teknologi terobosan baru yang revolusioner, penambang Bitcoin akan segera berhenti aktif melakukan persaingan dasar pada perangkat keras dan peralatan lain seperti yang terjadi selama dekade terakhir. Jika perangkat keras penambangan Bitcoin menjadi komoditas di mana keuntungan efisiensi dari satu model sangat berbeda dari model yang lebih baru, penambang akan dipaksa untuk mempertimbangkan bidang lain untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Hal ini dapat terjadi pada inovasi dalam sumber energi, perencanaan keuangan, atau bahkan diversifikasi produk.

    Sementara evolusi perangkat keras penambangan Bitcoin secara historis menjadi sumber peningkatan besar pada efisiensi penambangan, ini mungkin tidak akan terjadi lagi di masa depan, hal itu terutama disebabkan karena inovasi teknologi berbasis perangkat keras menjadi lebih sedikit dan lebih jauh. Persaingan terhadap rewards penambangan Bitcoin akan terus memacu evolusi teknologi. Namun, tidak jelas akan seperti apa lompatan besar berikutnya dalam teknologi pertambangan Bitcoin ini.

    Sumber

     

     



    Sumber : news.tokocrypto.com