Tag: bitcoin

  • Pemred Forbes: Bitcoin Kelak Menjadi Store-of-Value Seperti Emas

    Steve Forbes, Pemimpin Redaksi Forbes Media mengatakan bahwa Bitcoin kelak bisa menjadi store-of-value seperti emas.

    “Bitcoin belum bisa menjadi emas baru sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Emas, kendati harganya tertekan dibandingkan harga Bitcoin, tetap mempertahankan nilai intrinsiknya. Emas lebih baik daripada aset lainnya di muka bumi, karena teruji selama 4 ribu tahun. Ketika Anda melihat harga emas dalam dolar berfluktuasi, nilai emas tidak berubah, melainkan nilai dolar itu sendiri. Nilai emas terbilang konstan. Itulah yang tak terjadi pada Bitcoin,” ujar Forbes di Forbes.com, 4 Desember 2020 lalu.

    Baca Juga: S&P Dow Jones Luncurkan Indeks Crypto di 2021, Bakal Dorong Bitcoin Lebih Tinggi?

    Steve berpendapat, bahwa fluktuasi yang sangat tinggi pada harga Bitcoin, tidak memungkinkan kelas aset baru itu sebagai store-of-value alias menjaga nilai uang di masa depan.

    “Bitcoin terlalu volatil sebagai aset store-of-value jangka panjang. Bahkan pasokan terbatas Bitcoin menjadi tantangan tersendiri soal kegunaannya di masa depan. Lihat pasokan emas yang sekitar 2 persen setiap tahun. Itu yang membuatnya langka, tetapi tak terlalu langka. Jadi, belum saatnya Bitcoin sebagai emas baru. Justru emaslah saat ini sebagai aset terbaik untuk melawan inflasi,” ungkapnya.

    Sejak 1 Januari-5 Desember 2020, imbal hasil emas hanya 20,98 persen (US$1835 per oz). Di saat yang sama, Bitcoin naik gila-gilaan hingga 165 persen (US$19.000 per BTC). Indeks dolar AS sendiri tertekan hebat hingga minus 5 persen (90,81).

    Steve Forbes memang terkenal mengapresiasi Bitcoin sebagai kelas aset baru. Pada Juni 2020 misalnya ia mengatakan bahwa Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya adalah pelindung dari ketidakpastian kebijakan keuangan saat ini.

    Steve juga percaya bahwa aset kripto Bitcoin membantu menstabilkan sistem keuangan yang dikendalikan pemerintah dan mendesak pengembangan teknologi blockchain Bitcoin.

    Hal itu ia sampaikan pada dalam satu wawancara dengan US Center for Natural dan Artificial Intelligence pada 12 Juni 2002 lalu.

    “Aset kripto adalah sebuah respons ketika bank sentral mengeluarkan kebijakan pelonggaran kuantitatif dan pinjaman murah untuk merevitalisasi ekonomi mereka. Namun, kebijakan untuk menambah pasokan uang ke dalam pasar itu justru menyebabkan ketidakstabilan keuangan dalam jangka panjang,” kata Steve.

    Steve mencontohkan Jepang. Mereka menjalankan program pelonggaran kuantitatif pada akhir 1980-an, yang mengarah ke “The Lost Decade” dari 1990-2000, sebuah periode penurunan output ekonomi dan inflasi.

    Jepang sejatinya masih belum pulih, bahkan tiga puluh tahun setelah program itu. Para kritikus mengatakan, Amerika menuju nasib yang serupa seperti Jepang, jika langkah-langkah penanangan tidak segera dilakukan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Sudah Senilai Apple dan Amazon?

    Beragam prediksi harga Bitcoin akhir-akhir ini dilemparkan tanpa konteks. Menanggapi hal itu, kanal berita AmbCrypto membahas pencapaian Bitcoin dibandingkan dengan nilai aset tradisional, seperti nilai saham Apple dan Amazon.

    Hal pertama adalah kemiripan Bitcoin dengan emas. Kapitalisasi pasar serta rasio stock to flow emas lebih tinggi daripada Bitcoin. Untuk mencapai kapitalisasi pasar yang sama, maka harga Bitcoin perlu berada di angka US$600 ribu per BTC.

    Kinerja Bitcoin mengalahkan emas selama tahun 2020. Sejak awal tahun, Bitcoin meningkat 7,5 kali lebih tinggi dibanding emas. Kendati demikian, bukan berarti Bitcoin sepenuhnya menang atas emas.

    Data dari Bloomberg memberikan arus masuk modal ke Exchangetraded Products (ETP) emas dan Bitcoin. Sesuatu terjadi pada musim panas 2020 saat arus masuk emas tiba-tiba longsor dan arus masuk Bitcoin meroket.

    Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa Bitcoin lebih diminati dibanding emas. Tetapi, hal tersebut juga bisa berarti sebagian modal yang keluar dari ETP emas masuk ke Bitcoin, kendati belum pasti.

    Jika Bitcoin mencapai harga US$600 ribu, maka kapitalisasi pasarnya lebih besar dari neraca Bank Sentral AS, aset yang dikelola perusahaan investasi BlackRock, kekayaan Jeff Bezos, valuasi Apple, Amazon, Microsoft dan lainnya.

    Tetapi hal tersebut mungkin sulit dicapai, atau butuh waktu lama dan bukan merupakan jaminan. Angka yang lebih realistis adalah Bitcoin US$100 ribu per BTC. Target ini sudah diprediksi banyak analis dan investor pasar aset kripto.

    Jika Bitcoin berhasil tiba di harga tersebut, artinya adopsi Bitcoin sudah menginfiltrasi beragam lapisan dibanding saat ini. Bitcoin akan melampaui kekayaan Jeff Bezos, kapitalisasi pasar JP Morgan, Facebook, Microsoft, Amazon, PayPal, Visa, Google, Tesla dan lainnya.

    Di masa depan, bukan tidak mungkin kanal-kanal berita akan melaporkan Bitcoin telah melampaui kapitalisasi pasar aset atau perusahaan tertentu. Fundamental Bitcoin semakin kuat, tetapi soal skalabilitas [lambat dan transaksi sedikir per detik–] belum dipecahkan sepenuhnya.

    Kendati demikian, skalabilitas bukanlah prioritas, sebab Bitcoin menjadi standar emas untuk disimpan sebagai alat simpan nilai, bukan sebagai sistem transfer dana setara VISA. Jika Bitcoin berhasil mencapai skalabilitas on-chain, adopsi Bitcoin sebagai alat tukar dan unit perhitungan akan terjadi secara alamiah.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Lagi! Robert Kiyosaki Sarankan Beli Bitcoin

    Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, berpendapat soal tiga aset pelindung terhadap inflasi, yaitu perak, emas dan Bitcoin. Kiyosaki dikenal sebagai penulis yang mengusung pentingnya pendidikan keuangan dan membangun kekayaan melalui investasi aset, properti serta bisnis.

    Kiyosaki telah berulang kali mengkritik tanggapan Federal Reserve terhadap masalah ekonomi akibat pandemi. Ia mendesak para pengikutnya untuk melindungi diri dari inflasi tinggi di masa depan dengan cara membeli perak, emas dan Bitcoin.

    Dalam podcast oleh Anthony Pompliano pada April 2020 lalu, Kiyosaki diwawancara mengenai aset perlindungan terhadap inflasi. Ia mengatakan emas dan perak adalah uang dari Tuhan, Bitcoin adalah uang “open source” dari rakyat.

    Pada 26 November 2020 lalu, Kiyosaki mengatakan kepada 1,4 juta pengikutnya di Twitter bahwa Bitcoin akan “meroket ke bulan” dan juga menyarankan membeli perak jika harganya jatuh ke US$19 per ons dan emas bila harganya mencapai US$1.750 per ons.

    Kendati Kiyosaki menyukai ketiga aset tersebut, ia mengakui Bitcoin memiliki kinerja jauh di atas perak dan emas.

    Ia mengatakan lebih baik membeli Bitcoin sebanyak mungkin sekarang, sebab dolar mulai mati. Seiring runtuhnya dolar, yang penting adalah seberapa banyak emas, perak dan Bitcoin yang dimiliki investor.

    Kemudian pada Agustus 2020, ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$11.770 dan emas sekitar US$2.032 per ons, Kiyosaki memrediksi Bitcoin akan menjadi kuda yang lebih cepat.

    Baca Juga: AllianceBernstein: Bitcoin adalah Store of Value Jangka Panjang

    “Emas naik 35 persen di 2020. S&P hanya naik 3 persen. Perak masih terbaik, 30 persen di bawah all time high, dan terbatas kuantitasnya, digunakan di industri serta dapat dibeli oleh investor dengan dana terbatas. Tetapi Bitcoin bisa menjadi kuda paling cepat,” cuit Kiyosaki.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • AllianceBernstein: Bitcoin adalah Store of Value Jangka Panjang

    Divisi penelitian perusahaan manajemen aset, AllianceBernstein, asal New York berubah sikap. Kali ini mereka menegaskan bahwa Bitcoin berperan besar dalam portofolio investor, khususnya sebagai store of value jangka panjang.

    Baca Juga: Lima Koin Teratas Mulai Bangkit dari Sell Off!

    AllianceBernstein cukup ternama dengan total aset dikelola mencapai US$631 milyar. Dalam catatan penelitian yang diberikan kepada kliennya, Kepala Tim Strategi Portofolio Bernstein Research, Inigo Fraser Jenkins, mengatakan pihaknya sebelumnya tidak menganggap Bitcoin sebagai instrumen investasi, pada Januari 2018 silam ketika harga Bitcoin mulai longsor dari harga tertingginya.

    Tetapi, perubahan kebijakan akibat pandemi, tingkat utang dan opsi diversifikasi bagi investor, perusahaan akhirnya mengakui Bitcoin memegang peran penting dalam alokasi aset untuk periode jangka panjang.

    Jenkins menjelaskan, berkurangnya volatilitas harga Bitcoin menjadikannya menarik, baik dari sisi alat simpan nilai (store of value) dan sebagai alat pertukaran.

    Selama pandemi, korelasi Bitcoin dengan aset besar lain meningkat. Di sisi lain, Bitcoin adalah aset likuid yang bisa dijual cepat, seperti yang terjadi saat market crash pada Maret 2020 lalu, lalu rebound tak kalah cepatnya.

    “Dari sudut pandang empiris, berkurangnya volatilitas Bitcoin menjadikannya lebih menarik, tetapi korelasi yang meningkat menunjukkan arah sebaliknya,” sebut Fraser Jenkins.

    Soal perlindungan terhadap inflasi, Bitcoin kiranya mirip seperti emas. Kendati demikian, aset kripto tersebut tidak akan bergerak sepenuhnya untuk melawan inflasi dalam mata uang fiat

    Isu lain seperti penggunaan aset kripto dalam tindak kriminal dan konsumsi energi penambangan Bitcoin yang berat disebut sebagai kekhawatiran mengenai aset itu, dan juga soal pengawasan pemerintah.

    Baca Juga: Perusahaan Australia Ini Beralih ke Bitcoin dari Emas

    Jenkins berpendapat, jika jadi ada isu lain untuk Bitcoin di masa depan. Pandemi membuat pemerintah lebih berkuasa dan berperan mengelola ekonomi, sehingga jika aset kripto semakin besar, regulator bisa merasa terganggu oleh kehadirannya.

    “Aset kripto berperan dalam alokasi aset, selama mereka legal,” tegas Jenkins.

    Bernstein Research menyarankan investor menyimpan Bitcoin sebanyak 1,5 hingga 10 persen dari portofolio investasi, tergantung kepada imbal hasil bulanannya.

    “Hasil alokasinya rendah, tetapi dalam kerangka optimasi sederhana ini, alokasi terhadap aset lain bisa mencapai nol, sehingga Bitcoin tampaknya signifikan,” pungkas Jenkins.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Mungkin akan Mengalami Volatilitas Harga Besar pada Awal Desember

    Faktor-faktornya adalah ketidakpastian umum seputar harga BTC, aktivitas perdagangan berjangka (Futures) tertinggi dan Open Interest, serta grafik mingguan yang kuat.

    Sementara itu, para trader telah mengantisipasi kemungkinan Pullback dalam waktu dekat meskipun harga telah rebound dari kisaran level $ 18.552 (Rp 262 juta) pada 30 November.

    Baca Juga: Peneliti Menerbitkan Email yang Belum Pernah Dilihat Antara Satoshi Nakamoto dan Hal Finney

    Ada dua trend utama yang dapat memicu pemulihan BTC. Pertama, Guggenheim Investments, sebuah firma manajemen aset global dengan aset kelolaan lebih dari $ 233 miliar, yang mendapatkan hak untuk menginvestasikan $ 500 juta di Grayscale Bitcoin Trust.

    Di AS, di mana Fund yang diperdagangkan di bursa Bitcoin (ETF) tidak ada, Grayscale Bitcoin Trust adalah titik masuk pertama bagi sebagian besar investor institusional. Deribit melaporkan bahwa berita tersebut memicu aktivitas pembelian yang signifikan di pasar opsi. Perusahaan itu berkata :

    “Laporan dari Fund Behemoth Guggenheim Macro Opps berusaha untuk menetapkan $ 500 juta, diumumkan pada akhir pekan, menangkap short + alokasi mundur TA secara mengejutkan karena BTC memantul 2 ribu dari posisi terendah. Pasar opsi minggu terjadi. Desember Call dibeli, didanai oleh Put; Hedge dibatalkan.”

    Kedua, investor dan Whale dengan kekayaan bersih tinggi mungkin akan membeli penurunan untuk mengantisipasi hari Senin. Dalam beberapa minggu terakhir, seperti yang ditunjukkan oleh pedagang kuantitatif, sebagian besar permintaan pembeli berasal dari AS.

    Beberapa berspekulasi bahwa permintaan tersebut berasal dari algoritma Time-weighted Average Price (TWAP), biasanya digunakan oleh lembaga dan Fund. Karena algoritma TWAP akan diaktifkan kembali pada hari Senin, ini dapat menambah permintaan pembeli untuk BTC.

    Ketiga, para Whale lebih condong masuk kedalam pasar Futures sambil tetap mengamati bagaimana sentimen dan level teknikal utama Bitcoin bekerja untuk menetapkan sinyal trend yang lebih baik pasca tersungkur dari level $ 19.000-an yang masih membingungkan banyak trader dan analis.

    sumber.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pengaruh Vaksin Covid-19 Pada Pasar Cryptocurrency

    Pendukung Bitcoin, Robert Kiyosaki mengatakan jika vaksin Covid-19 ditemukan, Bitcoin dan investasi andalan lainnya, seperti emas dan perak, akan turun harga.

    “Apa yang terjadi ketika vaksin pandemi divalidasi? Bitcoin, emas, perak akan runtuh. Ini berarti kesempatan untuk membeli. Masalah sebenarnya BUKAN Pandemi.

    Masalah sebenarnya adalah jumlah utang AS yang sangat besar. AS bangkrut. Dia memiliki utang neraca 28 triliun dolar. Ada kewajiban sosial di luar neraca $ 120 triliun. Emas, perak, dan Bitcoin adalah investasi jangka panjang terbaik,” kata Kiyosaki di Twitter.

    Kiyosaki juga membuat daftar arah pasar dan pentingnya Bitcoin dalam menghadapi situasi seperti sekarang ini. Menurutnya, kaum Millenial berada dalam situasi yang sulit, berbeda dengan kaum boomer dan Gen Y.

     

    “Generasi tua yang kita sebut generasi BOOMER itu mudah. Banyak pekerjaan – real estate berbiaya rendah – pasar saham yang meningkat. Generasi MILLENNIUM berada dalam situasi yang sulit.

    Krisis 9/11, kehancuran real estat tahun 2008 – sekarang Covid-19. Ada kabar baik juga. Sepertinya Generasi Y paham teknologi. Bitcoin-Blockchain-Mata uang digital memberi Gen Y awal yang baik di masa depan,” Kiyosaki menambahkan.

    Pendukung Bitcoin yang terkenal ini percaya bahwa Bitcoin, emas, dan perak bisa membuat orang pintar menjadi lebih kaya.Harga Bitcoin melambung tinggi karena banyak orang membeli untuk menjadi aset nilai lindung.

    Baca Juga: Ethereum Dapat Membantu Ekonomi Global Sembuh Dari Resesi COVID-19

    Guru investasi dan penulis buku “Rich Dad, Poor Dad” ini mengatakan bahwa ‘Fed Yang Korup’ telah mempertemukan mantan investor emas dan pemuda-pemuda penggemar Bitcoin. Kiyosaki juga beranggapan bahwa Fed AS sebenarnya bekerja untuk Wall Street, bukan untuk kepentingan umum.

    Jadi Kiyosaki menilai Bitcoin, emas, dan perak yang disebut-sebut sebagai lindung nilai inflasi, kini ia sebut bisa membuat orang pintar semakin kaya dan kuat untuk melawan Fed.

    Buktinya, Microstrategy, membeli Bitcoin sebanyak $425 juta dalam dua bulan terakhir. Perusahaan ini percaya bahwa Bitcoin adalah aset bagus menjadi nilai lindung dan juga investasi.

    Disisi lain, vaksin Covid-19 adalah sesuatu yang harus segera dikeluarkan demi masyarakat banyak. Adanya virus ini, membuat semua hidup orang susah.

    Baca Juga: Blockchain Permudah Penyimpanan Hasil Test Covid-19

     





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apakah Harga Bitcoin (BTC) Akan Naik?

    Investor institusi memang sudah sejak lama diharap-harapkan oleh para pecinta crypto untuk memasuki pasar cryptocurrency, khususnya Bitcoin (BTC), dimana berbagai spekulasi lonjakan harga selalu menyertainya sehingga jika memang terjadi, maka ini bisa menjadi angin segar untuk masa depan BTC.

    Dan belum lama ini, Ryan Watkins, analis dari Messari, telah mengungkapkan suaranya dengan memperkirakan bahwa, jika investor Institusi memasuki pasar crypto, dengan 1% saja dari dana mereka, maka BTC ia perkirakan akan melonjak hingga $ 50.000 (Rp 700 juta) dan kapitalisasi pasar akan menyentuh angka  $ 1 Triliun!

    Pada saat pers, harga Bitcoin turun Rp 2 juta dalam 24 jam, dari Rp 136 menjadi Rp 134 juta.

    Mengacu pada berita menghebohkan sebelumnya, saat investor kelas kakap Paul Tudor Jones, memiliki kekayaran $5.1 Miliar mengungkapkan bahwa ia menempatkan sekitar 2% dari portofolionya ke Bitcoin dan juga mengajak investor institusi lainnya untuk mempertimbangkan potensi BTC.

    Ryan pun menguji skenario dari perkiraannya tersebut untuk melihat dampaknya terhadap Bitcoin. Dia menghitung bahwa saat ini, $ 1 Triliun ada di aset reksadana, dana pensiun, dan lainnya, dan jika 1% saja diambil dan ditempatkan ke Bitcoin, maka itu akan memasukan dana segar sebesar $ 480 Miliar ke pasar.

    Meski begitu, ini masihlah hanya sekedar perkiraan, dimana Ryan menulis dalam artikelnya kalau hingga saat ini, realitanya, investor institusi hanya menginvestasikan sebagian kecil saja dari aset mereka ke Bitcoin karena masih khawatir dengan ketidakpastian regulasi, ketidaksiapan infrastruktur, pandangan negatif dari masyarakat perihal aksi penipuan dan peretasan.

    Baca Juga: Ulasan Bityard: Tempat Trading Kontrak Uang Kripto Termudah

    Lalu bagaimana jika ini semua terjadi?

    Sebelumnya, Ryan pun mengatakan bahwa “Chris Burniske telah menjelaskan mengalir masuk dan keluar dari suatu aset tidak serta merta menghasilkan 1 ke 1 pergerakan harga aset, dan dapat diamplifikasi menjadi pergerakan harga yang jauh lebih besar, sekitar 2-25x dari harga sekarang.”

    Masuknya investor institusi akan menyeret harga BTC naik bak roket ke level $ 50.000 dan kapitalisasi pasar di angka $ 1 Triliun.

    Saat ini, menurut Pedro Febrero, analis di Quantum Economic, ketertarikan investor institusi terhadap BTC bisa dilihat pada produk perdagangan OTC, karena ini dinilai lebih aman, dan tidak berbaur dengan transaksi pada umumnya dipasar langsung serta tidak begitu memberi dampak pada harga untuk jangka pendek.

    Dan menurut Ryan, investor institusi masih perlu mengubah cara pandang mereka dalam mentransaksikan Bitcoin agar dapat memberi dampak lebih pada harga untuk masa depan Bitcoin yang cerah dan tentunya pasar crypto pada umumnya. Semoga saja ini semua bisa terwujud dalam waktu dekat. (Decrypt)

    Baca Juga: Jual atau Beli Bitcoin Untuk Saat Ini?

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin vs Altcoins Kembali Memanas di Tahun 2020

    Debat Bitcoin vs Altcoins memanas sekali lagi! Hal ini disebabkan karena raja cryptocurrency, Bitcoin yang mendominasi pasar dengan selisih yang sangat jauh.

    Saat ini pangsa pasar raja cryptocurrency Bitcoin, telah mencapai dua kali lipat dari posisi terendahnya atau naik sebesar 33 persen. Hal tersebut menjaga dominasi Bitcoin pada pasar cryptocurrency tetap utuh. Sementara di sisi lain, berbagai macam altcoin telah kehilangan kekuatan mereka karena masalah pendanaan dan tidak adanya rasa ingin tahu publik.

    Namun, hal ini tidak membuat gentar pengembang Altcoins. Secara kumulatif Altcoin-Altcoin yang mungkin sudah bernilai ratusan bahkan ribuan dollar ini, tetap menjanjikan bahwa mereka akan dapat mengungguli Bitcoin atau setidaknya menggeser posisi Bitcoin saat ini.

    Sementara itu dalam menanggapi hal ini, Max Keiser, pada salah satu ‘Keiser Report’ dan salah satu bull BTC paling awal menyatakan bahwa Altcoin itu tidak memiliki nilai bawaan.

    Baca juga: Harga Bitcoin Tak Akan Jatuh Lagi ke US$6 Ribu, Tapi Naik Menjadi US$100 Ribu

    Bitcoin Mungkin Lebih Kuat Daripada Altcoin

    Dalam wawancara terakhir dengan London Actual, Max Keiser tampaknya memperdalam sentimennya mengenai Bitcoin vs Altcoins, hal ini dirasa jika dibandingkan Bitcoin, Altcoins hampir tidak memiliki nilai.

    Agar pendapat Keiser mengenai Bitcoin vs Altcoins ini tidak menambah panas isu yang sedang beredar, hal tersebut merupakan jawabannya saat ditanya oleh pewawancara, Brian Rose. Pertanyaan tersebut mengenai apakah ada mata uang crypto lain yang “sepadan dengan Bitcoin”, kemudian dengan suara biasa saja dan ekspresi tenang Keiser menjawab “Tidak”.

    Selain itu, ia menyatakan bahwa tidak ada koin crypto yang dapat melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Bitcoin atau yang dapat Bitcoin lakukan dalam beberapa waktu ke depan.

    Dia juga menambahkan bahwa keamanan Bitcoin dari sebagian besar energi hash dan bagian besar di pasar crypto membuat Bitcoin menjadi pertaruhan yang lebih baik daripada altcoin apa pun

    Sentimen Luas Bitcoin vs Altcoins

    Keiser bukan satu-satunya yang menggembar-gemborkan sentimen mengenai altcoin lebih “tidak berwarna” dibandingkan dengan Bitcoin, terlepas dari perkembangan teknis dan miliaran dolar pendanaan.

    Selain itu, dalam debat Bitcoin vs Altcoins dengan Kevin Rose, salah satu pendiri Digg, sebuah situs web media digital belakangan ini menjadi penasihat TechCrunch, menyatakan bahwa sekitar 99 persen orang yang terlibat dalam sebuah proyek hanya mengejar keuntungan finansial. Selain itu, ada banyak sampah juga di dalam proyek-proyek tersebut. Seluruh situasi ini pada akhirnya akan menciptakan skenario yang tidak menguntungkan, hal ini disebabkan akan banyak proyek-proyek berkualitas tinggi yang terseret ke bawah, yang pada akhirnya justru akan mencemari ruang cryptocurrency.

    Informasi selengkapnya dapat dibaca di sini

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Meski Turun Tajam, Ini Alasan Bitcoin Masih Bullish

    Bitcoin alami crash beberapa hari lalu. Penurunan tersebut bahkan sempat menginjak Rp43 juta dari nilai tertinggi ke rendahnya. Ditambah, kejadian ini hanya kurang dari 3% dari nilai all-time-high Bitcoin dan membuat likuiditas besar-besaran di beberapa bursa ternama.

    Para analis menjabarkan beberapa alasan terkait dengan penurunan Bitcoin ini.

    Baca Juga: Fidelity: Institusi Semakin Mengadopsi Bitcoin

    1. Leverage yang Berlebihan

    CEO Stack Funds, Matthew Dibb masuk ke dalam jajaran korban dari likuiditas besar-besaran perdagangan leverage dalam bursa derivatif yang terjadi di seluruh bursa utama.

    Menurut sumber data Bybit, posisi derivatif senilai hampir $2 miliar dilikuidasi dalam 24 jam terakhir. Dari jumlah itu, lebih dari $1,6 miliar telah ditutup dalam 12 jam terakhir.

    Lepasnya perdagangan dengan leverage ini diharapkan oleh banyak pihak, mengingat biaya memegang posisi buy di pasar perpetual future atau dikenal sebagai tingkat pendanaan meningkat tajam ke level tertinggi bulanan hingga 0,098% dalam beberapa hari terakhir. Hal ini menjadi tanda dari adanya overleveraging atau overheating di pasar. Tingkat pendanaan ini ditentukan dan dibayarkan setiap delapan jam.

    bitcoin tetap bullishMenurut data Glassnode, dengan penurunan harga Bitcoin ini, tingkat pendanaan telah turun kembali menjadi 0,011%. Ini membuat pemegang leverage berlebih keluar pasar secara “paksa”.

    2. Pullback Teknis

    Jika melihat grafik teknis, rally Bitcoin dari $10.000 menjadi $19.400 selama tujuh minggu terakhir dinilai terlalu bersemangat.

    Hal tersebut mengingat, momentum bagi Bitcoin begitu kuat sehingga raja crypto tersebut secara konsisten diperdagangkan di atas MA 10 hari selama rally. Meski ada overbought pada indeks kekuatan relatif (RSI) 14 hari.

    bitcoin tetap bullishTerlebih, rally berlebih akan cenderung menguntungkan para spekulan yang mencari keuntungan secara berkala. Mata uang crypto biasanya akan mengalami beberapa pullback selama pasar bullish sebelumnya.Penurunan harga ini akhirnya membawa Bitcoin masuk ke bawah rata-rata 10 hari dan memungkinkan RSI menyesuaikan kembali dengan bullish yang ada.

    “Ini pullback yang sehat,” ujar Stack Funds Dibb.

    Menurut analis grafik, rally harga dengan adanya penurunan secara reguler akan membuatnya berkelanjutan daripada rally terus menerus.

    Baca Juga: Cypherpunk Holdings Miliki Bitcoin Terbanyak ke-9 Dunia

    3. Faktor Lain Perkuat Aksi Jual

    Menurut trader dan analis Alex Kruger alasan penurunan harga ini terkait dengan rencana Departemen Keuangan AS yang dikabarkan akan dapat melacak pemilik dompet cryptocurrency yang dihosting sendiri.

    Dilansir dari CoinDesk, Alex Kruger menyatakan,

    “(Masalah peraturan) ini, dengan latar belakang euforia dan leverage tinggi yang tidak berkelanjutan untuk jangka panjang menyebabkan penurunan terbesar selama 24 jam sejak Maret lalu.”

    Tidak hanya itu, bursa pertukaran crypto terkemuka OKEx yang sempat dibekukan terkait masalah hukum dan menutup layanan withdrawal, kembali membuka layanan tersebut kepada pengguna.

    Sui Chung, CEO CF Benchmarks menjelaskan,

    “Sebagian besar bitcoin beku (di OKEx) telah diperdagangkan sekitar 70%. Ada banyak keuntungan yang belum direalisasikan yang terkunci di sana. (…) setelah koin-koin ini bebas bergerak, kemungkinan akan ada banyak trader yang menjualnya dengan dolar atau stablecoin lainnya untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini menambah tekanan besar penjualan (bitcoin).”

    Pasar Bitcoin Masih Bullish

    “Penurunan harga terbaru hanyalah sedikit gangguan dari tren bullish yang lebih besar,” ujar Alex Kruger.

    Pasar Bitcoin masih menunjukan faktor makro yang bersifat bullish. Misalnya saja, peningkatan partisipasi perusahaan institusional yang terus berlanjut, pencetakan uang besar-besaran oleh Federal Reserve di Amerika, dan pencarian imbal hasil tetap untuh meskipun harga turun.

    Sentimen bullish juga tetap kuat meski jumlah koin tersimpan di beberapa bursa ternama mencapai nilai terendahnya sejak Agustus 2018.

    bitcoin tetap bullishGrafik dari Glassnode di atas mengindikasikan investor melihat penurunan harga saat ini sebagai pullback besar, tetapi masih yakin terkait dengan prospek jangka panjang mata uang crypto.Ditambah, hilangnya posisi leverage berlebihan di pasar membuat rally di pasar dapat terus berlanjut.

    Heusser dari Crypto Broker mengharapkan raja crypto Bitcoin untuk berkonsolidasi di kisaran saat ini hingga $19.000 sebelum akhirnya melanjutkan trennya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Adopsi Bitcoin Cs, Chainalysis: Indonesia di Peringkat ke-32

    Ranumnya pasar Bitcoin Cs (aset kripto) di Indonesia mungkin bukanlah isapan jempol, setidaknya jika mengacu pada data terkini Chainalysis. Per tahun 2020, Indonesia berada di peringkat ke-32 untuk kategori tingkat adopsi aset kripto, mengalahkan Jerman dan Estonia.

    Chainalysis adalah perusahaan ternama di bidang pengkajian aset kripto. Perusahaan asal Amerika Serikat itu kerap membantu penegak hukum negara itu dalam penyelidikan kejahatan terkait aset kripto, termasuk penyitaan Bitcoin senilai US$1 miliar belum lama ini.

    Berdasarkan data terbaru yang diterbitkan di situs Chainalysis, Indonesia berada di peringkat ke-32 soal adopsi aset kripto. Data itu dikumpulkan Juli 2019-Juni 2020.

    bitcoin indonesia

    Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam memimpin di peringkat ke-10. Sedangkan Filipina di peringkat ke-16.

    bitcoin indonesia

    Di nomor wahid ada Ukraina, disusul oleh Rusia, lalu Venezuela. Sedangkan Tiongkok, sebagai sentra tambang Bitcoin global, berada di peringkat ke-4. Dari 10 besar, hanya Vietnam yang mewakili Asia Tenggara.

    Baca Juga: Fidelity: Institusi Semakin Mengadopsi Bitcoin

    Sedangkan Korea Selatan, yang cukup terkenal ramah aset kripto, hanya berada di peringkat ke-17, satu tingkat di bawah Filipina.

    Negara dari kawasan Asia Tenggara lainnya, yakni Malaysia cukup hepi di peringkat ke-25, mengalahkan Belanda (26) dan Jerman (33).

    Kemudian Singapura yang dikenal cukup matang soal peraturan aset kripto, hanya berada di peringkat ke-50. Berturut-turut, Singapura berada di atas Panama, Iran, El Salvador dan Austria.



    Sumber : news.tokocrypto.com