Whale misterius yang menjadi pemborong Bitcoin terbesar ketiga di dunia telah memasuki ‘mode akumulasi’ atau serok menyerok aset dengan pembelian BTC dalam jumlah sangat besar.
Menurut data yang dilansir BitInfoCharts, whale dengan entitats non-exchange tersebut telah menyerok 2.822 Bitcoin dalam tujuh hari terakhir.
Penyerokan ini diduga karena harga Bitcoin yang tengah ambles di minggu kemarin dengan diperdagangkan di bawah $ 40 ribu . Namun untungnya, BTC alami sedikit pemulihan minggu ini dan pada penulisan sudah bernilai $ 41.381.
Dengan penambahan 2.822 Bitcoin baru atau setara dengan $117.144.042, menandakan whale raksasa tersebut telah mengakumulasi $5.202.214.689 dalam BTC yang tersimpan pada walletnya.
Bagaimana Tanggapan Analis Mengenai Akumulasi Ini?
Salah satu analis crypto terkemuka bernama Benjamin Cowen, menunjukkan bahwa akumulasi yang dilakukan whale misterius itu tidak seperti kebanyakkan entitas teratas lainnya yang befokus untuk menimbun aset.
Menurut Cowen, whale yang satu itu tampaknya telah memperdagangkan kisaran dalam aksi harga Bitcoin, membeli penurunan dan menjual harga tertinggi lokal.
Sederhananya, ia hanya fokus pada keuntungan jangka pendek.
Karena biasanya, strategi perdagangan whale yang relatif aktif menurut Cowen adalah, mayoritas Bitcoin wallet terkaya cenderung membeli hanya sesekali ketika fase-fase koreksi besar, bukan koreksi sedikit.
MicroStrategy, perusahaan piranti lunak asal Amerika Serikat, memastikan pihaknya akan terus membeli Bitcoin (BTC) sebanyak mungkin. Perusahaan pimpinan Michael Saylor ini yakin pembelian Bitcoin adalah strategi ampuh untuk mempertahankan nilai perusahaannya.
Dokumen itu pada prinsipnya adalah materi Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang dijadwalkan digelar pada 22 Mei 2022, di mana aksi pembelian Bitcoin disebutkan akan terus dilakukan. MicroStrategy sendiri mengakumulasi kripto itu sejak tahun 2020, walaupun beberapa tahun sebelumnya sangat pesimis dengan kelas aset baru itu.
Dalam dokumen itu sang CEO, Michael Saylor juga berjanji bahwa MicroStrategy, perusahaan publik dengan jumlah kepemilikan bitcoin terbanyak, akan terus membeli lebih banyak BTC dan tetap menyediakan layanan intelijen perangkat lunaknya ke basis pelanggan yang lebih luas.
Saylor menguraikan strategi Bitcoin perusahaan sebagai “pelengkap untuk perangkat lunak analitik dan bisnis layanan kami,” cara yang akan meningkatkan pertumbuhan basis pelanggan perusahaan.
Selain memperkuat strategi bisnisnya untuk mengejar visi Intelligence Everywhere, perusahaan menganggap strategi paralelnya untuk memperoleh dan menyimpan Bitcoin adalah satu titik penting.
Strategi Saylor untuk mengakuisisi BTC telah terdiversifikasi menjadi penggunaan hasil transaksi utang dan ekuitas sejak 2011. Perusahaan intelijen bisnis ini mulai mengumpulkan Bitcoin pada Agustus 2020 melalui kelebihan arus kas dari operasinal perusahaan.
Kemudian, perusahaan memperkuat laju akumulasinya dengan menggunakan penawaran wesel konversi, penawaran saham, dan pinjaman dengan jaminan kripto untuk membeli lebih banyak Bitcoin yang menjadi bagian dari neraca keuangan. Belum lama ini MicroStrategy mendapatkan pinjaman dari Silvergate Bank untuk membeli Bitcoin tambahan.
Saylor juga menggambarkan perusahaannya sebagai “inovasi dalam DNA perusahaan kami.”
Dia mencatat bahwa MicroStrategy memelopori perangkat lunak penambangan data pada 1980-an, awal revolusi web pada 1990-an, dan mendukung analitik seluler serta analitik berbasis cloud pada 2000-an.
Sejauh ini MicroStrategy bersama dengan anak perusahaannya, saat ini memegang 129.218 BTC, dengan total biaya pembelian US$3,97 miliar dengan rata-rata harga US$30.700 per BTC.
Di konferensi Bitcoin Miami 2022, ia sependapat dengan pandangan CEO Ark Invest Cathie Wood. Saylor mengatakan dia lebih bullish daripada sebelumnya terhadap Bitcoin dan setuju dengan prediksi Wood bahwa BTC dapat mencapai US$1 juta per BTC pada tahun 2030, berdasarkan fakta bahwa adopsi pasar kripto dan Bitcoin kian luas. [ps]
Pendiri PayPal, Peter Thiel beberkan alasan Bitcoin gagal tembus $ 100.000 yang menurutnya disebabkan oleh beberapa ‘musuh’. Thiel menyebut-nyebut Warren Buffet, Larry Fink, dan Jamie Dimon sebagai orang-orang yang menghambat pertumbuhan aset digital nomor satu ini.
Thiel diketahui marah-marah kepada ketiga orang tersebut di Konferensi Bitcoin yang diselenggarakan di Miami. Thiel bahkan menyebut Warren Buffet sebagai ‘musuh nomor satu’ dan dengan berani serta secara terang-terangan menuliskan kata-kata ‘racun tikus’ pada layar tampilan saat sedang berpidato dalam acara tersebut.
Lebih parahnya lagi, ketika suasana semakin panas, Thiel bahkan menyebut Buffet sebagai ‘kakek sosiopat dari Omaha’. Aksi Thiel ini disebabkan oleh komentar Buffet yang menurutnya merugikan pertumbuhan Bitcoin, lantaran komentar tersebut dinilai Thiel telah menimbulkan kekhawatiran pada calon investor.
“Saya tidak memiliki apa pun dan tidak akan pernah,” komentar Buffet tentang Bitcoin dalam sebuah wawancara. Buffet juga menyebutkan bahwa Bitcoin tidak punya nilai intrinsik dan bukan alat pertukaran yang tahan lama. Sementara salah satu mitranya, Chalie Munger, menyebut Bitcoin sebagai ‘penyakit kelamin’.
Selain Buffet, CEO JPMorgan, Jamie Dimon juga tak lepas dari caci maki Thiel. Dimon disebut Thiel sebagai ‘bias banker New York’. Sementara ketua BlackRock, Larry Fink disebut-sebut juga oleh Thiel karena dianggap sudah menyimpan sentiment anti-Bitcoin.
Baru-baru ini, surat pemegang saham justru menunjukkan bahwa Fink meningkatkan penggunaan Bitcoin dan crypto setelah gejolak geopolitik Russia – Ukraina pecah.
Dalam pidatonya, Thiel berpendapat bahwa kritikus yang dia sebutkan itu menjadi alasan utama kenapa Bitcoin gagal mencapai $100K. “Mengapa Bitcoin belum naik menjadi $100K hingga satu juta dolar? Mengapa tidak menyatu dengan emas atau bahkan dengan pasar ekuitas secara lebih luar?” tanya Thiel dalam acara tersebut.
Selama acara berlangsung, Thiel cenderung memberikan pidato politis dan merenungkan apakah ‘gerakan musuh akan berhasil’ dalam menghentikan pertumbuhan Bitcoin ke $100K.
Akhir pidatonya, Thiel menyeret-nyeret Fed dan ketua SEC, Gary Gensler karena telah memilih untuk bersikap tidak peduli sehingga mereka harus membayar konsekuensinya di tahun-tahun mendatang.
Ada sejumlah titik penting bagi Bitcoin agar bisa menguat lagi, terkait erat dengan kebijakan The Fed, jika bank sentral AS itu gagal mengendalikan inflasi dan ekonomi menuju resesi.
Ketika artikel ini ditulis, Senin (11/4/2022) malam, nilai pasar aset kripto terdepak menjadi $ 1,8 triliun. Harga Bitcoin (BTC) sendiri tersengal-sengal gagal naik lebih tinggi daripada $ 43.000 per BTC. Senin malam kemarin, harga BTC bahkan ambrol hingga $ 40.800 per BTC. Kripto 20 besar lainnya setali tiga uang terhempas karena aksi jual massal.
Untuk memetakan penyebabnya, sejatinya cukup sederhana, yakni penguatan dolar AS. Pangkalnya adalah kebijakan Bank Sentral AS alias The Fed yang diprediksi akan jauh lebih agresif untuk menjual asetnya dan menaikkan lebih besar lagi suku bunga acuan.
Mari kita uraikan satu per satu, berdasarkan struktur fundamental yang umum. Pertama, relasi nilai dolar AS dan Bitcoin. Nilai Bitcoin tetap berpatokan pada nilai dolar AS, mengingat mata uang ini masih menjadi idaman banyak negara dan masih digunakan dalam perdagangan internasional, walaupun selama dua dekade banyak negara yang mulai membuang mata uang itu dari cadangan devisanya, seperti Rusia dan Tiongkok dan beberapa negara di Afrika. Pelemahan dolar sejak 1982 adalah fakta yang sulit dibantah.
Dinamika dolar AS ini dapat dengan mudah diukur dari indeks dolar AS (DXY). Artinya, jika indeks dolar melemah secara signifikan, maka itu akan menguatkan pasar kripto, termasuk Bitcoin. Dan sebaliknya, jika indeks DXY menunjukkan penguatan, maka pasar kripto tertekan. Relasi ini terjadi lebih sering daripada tidak, secara historis.
Rumusan sederhana ini dapat diterapkan pula pada pasar saham dan pasar jenis lainnya, termasuk emas.
Relasi seperti ini sudah terjadi, setidaknya antara Desember 2016 dan Desember 2017 silam. Pada 16 Desember 2016 indeks dolar mencapai kisaran 103,829, setelah melaju dari kisaran 71,211 pada 17 Maret 2008. Ini adalah capaian yang luar bisa bagi dolar, setelah melalui krisis ekonomi global kala itu.
Nilai 103,829 adalah resisten yang amat kuat yang sulit ditembus (termasuk ketika menguat pada medio Maret 2020), hingga akhirnya rontok di 88,727 pada 14 Februari 2018.
Apa yang terjadi pada Bitcoin kala itu adalah ledakan harga, menjulang dari kisaran US$708,50 per BTC menjelang akhir 2016, lalu memuncak di 20.000 per BTC pada 17 Desember 2017. Pada tanggal itu indeks dolar berada di kisaran 94, menjelang dolar AS menemui support level, yakni 88,601 pada 16 Februari 2018, lalu menguat.
Dan faktanya sejak awal tahun 2018 itu harga pasar kripto dan Bitcoin memanglah rontok karena green back sedang mengambil alih. Pada 15 Desember 2018 saja harga Bitcoin menemui kisaran US$3.288.
Nah, sejauh ini Anda bisa menemukan pola dari relasi Bitcoin dan dolar AS ini, dalam konteks narasi Bitcoin adalah “a new gold in a digital form“: langka, berseberangan dengan dolar AS sebagai akibat dari kebijakan The Fed.
Kedua, pasokan dan dinamika nilai dolar. Melemahnya dolar berpangkal dari banyaknya jumlah pasokan mata uang itu di dalam ekonomi. Ekonomi pasar bebas mengambil alih kendalinya, bahwa dolar yang banyak itu harus dialihkan ke aset yang lebih menguntungkan.
Perhatikan bahwa tahun 2008 masa di mana bank sentral AS menggelontorkan banyak dolar ke pasar demi menyelamatkan ekonomi. Itulah alasan lahirnya Bitcoin dari tangan Satoshi Nakamoto.
Jadilah pasokan dolar yang tak terkendali, menjurus kepada inflasi yang besar-besaran, ditambah datangnya pandemi pada Maret 2020, dolar rontok dan Bitcoin mulai dilirik lagi. Pandemi itu juga yang memaksa AS menggelontorkan dolar lagi ke ekonomi dengan menambah aset ke neraca keuangannya.
Hingga Desember 2021 The Fed sebenarnya sudah tidak bisa lagi menahan untuk mengendalikan situasi. Pasalnya inflasi di AS sudah mencapai lebih dari 7 persen secara year-on-year. Itu yang tertinggi sejak tahun 1982 di periode serupa. Parah! Para ahli pun menyudutkan The Fed, bahwa lembaga moneter raksasa itu sangat terlambat untuk mengatasinya, terlena dengan kebijakan pelonggarakan kuantitatif dan suku bunga acuan hampir nol persen.
Nah, tindakan The Fed apa? Seperti biasa yakni menarik dolar AS itu dari ekonomi dengan cara menjual aset keluar dari neraca keuangannya serta meningkatkan suku bunga acuan. Nah, karena pasokan dolar jauh lebih langka daripada sebelumnya, maka nilai dolar terdongkrak naik.
Ilustrasi Bitcoin.
Pada November 2021 misalnya, indeks dolar masuk wilayah 93,985 melampaui resisten Maret 2020, yakni 93. Dan pada 8 April 2022 naik terus hingga di kisaran 100, mencoba membidik penguatan 20 Maret 2020, yakni 103.
Ingat, bahwa pada Januari 2021, walaupun indeks dolar masuk di wilayah support 90 dan mencoba menaik ke atas, Bitcoin malah ikut serta. Dalam hal ini belum ada sinyal dari kuat The Fed untuk mengantisipasi keadaan ekonomi dan dolar masih membanjiri pasar.
Lantas pada harapan pasar kripto di situasi yang belum terjadi sebelumnya seperti ini? Bahwa jika dolar terus menguat dan pasar kripto rontok, di titik mana ia akan berbalik arah?
Catatan awal untuk menjawab ini adalah dikembalikan lagi apakah kebijakan The Fed dalam relasi dengan harga Bitcoin ini, apakah akan sukses mengendalikan inflasi atau sebaliknya? Pasalnya, jikalau terlalu lambat ataupun agresif untuk menaikkan suku bunga misalnya, justru yang terjadi ada resesi gila-gilaan.
Ingatlah, dampak pandemi saja belum usai, ditambahkan parah oleh aksi militer Rusia ke Ukraina. Ini berdampak buruk pada naiknya harga energi di negara-negara barat. Inflasi parah! The Fed sejatinya dalam posisi dilematis dan terus terpojok.
Sejauh ini, sejumlah pengamat memperkirakan The Fed akan lebih agresif lagi untuk menaikkan suku bunga acuan dibandingkan di awal yang dimulai pada Maret 2022 lalu.
Jajak pendapat Reuters, 4-8 April 2022 lalu mengungkapkan, bahwa lebih dari 100 ekonom memperkirakan dua kenaikan setengah poin suku bunga tahun ini. Ini adalah langkah pertama sejak 1994 menjadi 1,25 persen-1,50 persen. Ini bisa terjadi pada Juni 2022.
Dari jajak pendapat yang sama, 85 dari 102 ekonom memperkirakan kenaikan sebesar 50 basis poin pada Mei 2022, dan mayoritas 56 yang masih solid mengatakan The Fed akan menindaklanjuti dengan 50 basis poin juga pada Juni. Singkat kata kebijakan ini sangat monumental dari sisi sejarah dalam konteks dan kondisi berbeda.
Ilustrasi aset kripto, Bitcoin.
Dari fakta itulah, para ekonom yakin jika kenaikan suku bunga sebesar itu benar-benar terjadi demi mengatasi inflasi yang tak terkendali, maka kemungkinan akan terjadi resesi, karena komponen pasar dipaksa untuk menghemat pengeluaran dalam investasi alias tidak ada ekspansi.
Potensi itu pun ditegaskan oleh Bank of America beberapa hari yang lalu. Bagi mereka, jika resesi terjadi, maka pasar valas, obligasi termasuk Bitcoin menjadi lirikan sejumlah besar pihak. Saham diperkirakan akan rontok besar. Artinya, arus modal keluar dari pasar saham dan akan masuk ke pasar kripto, karena The Fed gagal.
Hal senada disampaikan pula oleh Mohamed El-Erian Ekonom di Allianz beberapa hari lalu. Menurutnya kebijakan menaikkan suku bunga secara agresif kemungkinan akan menjadi kesalahan kebijakan yang lebih besar daripada salah menilai inflasi. The Fed berisiko mendorong ekonomi ke dalam resesi.
Benang merah inilah yang diuntai oleh pendukung pasar kripto, setidaknya oleh Mike Novogratz Pendiri Galaxy Digital. Asal tahu saja, perusahaan ini banyak menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan investasi papan atas dalam menciptakan sejumlah produk investasi bernilai kripto.
Novogratz bilang begini, seperti yang dikutip dari Kitco: “Meskipun pasar bersiap untuk kebijakan The Fed yang agresif di paruh pertama tahun ini, bank sentral AS kemungkinan harus berhenti sejenak setelah ekonomi AS justru melambat. Inilah saatnya bagi Bitcoin menguat.” Kalimat itu ia gaungkan di acara konferensi akbar Bitcoin 2022 di Miami.
Mudah ditafsirkan, bahwa Novogratz justru sangat mengharapkan kenaikan suku bunga 50 basis poin itu terjadi pada tahun ini, karena ia percaya itu justru membawa dampak buruk pada ekonomi, yakni resesi. Tafsiran seperti ini cukup tercerminkan dari menguat tipisnya harga Bitcoin selama 3 pekan terakhir.
Situasi ini yang mungkin akan membuat The Fed banting setir, enggan melanjutkan kebijakannya menaikkan suku bunga dan berlanjut pada pelonggaran kuantitatif lagi alias menambah dolar AS ke pasar.
Hal ini selaras dengan anjuran El-Erian, bahwa The Fed jangan terpaku pada pasar keuangan yang membuatnya bertindak sangat agresif. Ia menyarankan The Fed untuk memulihkan sektor rill. Nah, secara teoritis ini adalah arah pelonggaran kuantitatif itu dan akan mengarahkan pasar masuk ke pasar kripto. Ini semakin menegaskan relasi antara kebijakan The Fed dan harga Bitcoin.
Namun jika skenarionya adalah kebijakan agresif sepanjang tahun ini, maka dampak positif seperti yang diharapkan The Fed, setidaknya baru bisa dirasakan pada tahun 2023. Ini adalah pola historisnya. Jika ini terjadi, maka dolar akan semakin menguat, melemahkan pasar saham dan kripto. Pun jika terjadi sebaliknya, maka skenario yang di pikiran Novogratz adalah yang terjadi: Bitcoin menuju ke utara.
Jadi, kita masih menantikan di awal Mei dan Juni 2022 ketika hasil rapat para petinggi The Fed diumumkan apakah sangat agresif sehingga berdampak negatif terhadap harga Bitcoin. Di antara hari-hari itu, kita hanya bisa menanti dan memantau.
Francis Suarez, walikota Miami, Florida, mengungkap program “Visi Bagi Bitcoin Amerika 2024.” Ia menekankan AS harus memilih presiden pro-Bitcoin dan mengintegrasikan Bitcoin (BTC) ke dalam setiap aspek masyarakat serta memanfaatkan daya makro Bitcoin.
Suarez menyampaikan hal tersebut pada acara konferensi Bitcoin 2022 yang berlangsung di Miami pekan ini. Walikota pro-Bitcoin tersebut telah menjalankan sejumlah gerakan Bitcoin baik di tingkat kota maupun tingkat negara bagian Florida.
Stadion bola basket Miami Heat Arena diubah menjadi FTX Arena, setelah Komisi Miami-Dade County, Florida, menyetujui niatan bursa aset kripto FTX.com untuk mengubah nama arena itu.
Upah walikota sudah dibayar dalam BTC dan pegawai negeri sipil dapat memilih untuk diupah dalam aset kripto tersebut. Gaji tahunan walikota Miami adalah US$187.500 yang saat ini setara dengan sekitar 4 BTC.
“Saya perlu menyampaikan visi bagi negara ini. Visi ini simpel dan saya sebut Visi Bitcoin Amerika 2024,” jelas Suarez. Berikut adalah tiga poin visi tersebut, dilansir dari News.Bitcoin.com.
Pertama, Amerika harus memilih presiden dan petinggi negara yang pro-Bitcoin. Pasalnya, legislasi federal dapat mendorong AS maju di generasi berikutnya atau mundur ke belakang.
Kedua, Suarez menghimbau agar tahun ini Bitcoin perlu menjadi keseharian setiap lapisan masyarakat. Ia memberikan contoh, seseorang harus dapat memasuki toko dan membeli makanan ringan memakai satoshi.
Ketiga, hal terakhir yang dibutuhkan adalah memanfaatkan daya makro Bitcoin. Bitcoin memiliki kekuatan untuk mendemokrasikan dan menciptakan kekayaan bagi warga yang tidak memilik akses terhadap sistem keuangan.
“Terutama bagi warga miskin yang menjadi korban inflasi serta pembelanjaan negara yang mulai menjadi liar,” tambah Suarez.
Walikota pro-Bitcoin itu menegaskan Bitcoin membantu masyarakat untuk mentransfer uang ke luar sistem perbankan secara efisien dan cepat. Hal ini memberikan kebebasan bagi warga yang berada di negara rezim sosialis dan komunis.
“Masyarakat dapat membelanjakan uang dengan bebas di negara sendiri dan membeli barang kebutuhan tanpa harus khawatir uang yang mereka pakai dikendalikan pemerintah yang mengawasi setiap keputusan mereka,” kata Suarez.
Walikota tersebut ingin menciptakan dunia yang memiliki kesejahteraan dan kedamaian. Bitcoin telah menjadi faktor yang mendukung hal tersebut di seluruh dunia.
Langkah adopsi Bitcoin tampak akan kian semakin luas berkat dompet Lightning Network, Strike, yang telah bermitra dengan Shopify, NCR dan Blackhawk Network.
Jack Mallers, sosok di balik wallet Strike, mengatakan bahwa semua situs yang menggunakan transaksi kartu online Shopify, akan bisa memproses pembayaran menggunakan Bitcoin melalui Lightning Network.
Tentu saja, ini adalah dasar adopsi yang lebih luas bagi crypto utama, yang akan mengakar pada fundamental yang lebih kuat.
Mallers pun mengatakan:
“Setiap pedagang online yang menggunakan Shopify dapat menerima pembayaran tanpa jaringan boomer 1949, menerimanya secara instan, pembayaran tunai, tanpa perantara, tanpa biaya 3%.”
Selain itu, ada sajian yang mengungkapkan bahwa Bitcoin juga akan merambah perusahaan ritel besar seperti Walmart, McDonalds dan Best Buy.
Dan juga, NCR dan Blackhawk juga melayani Starbucks, Staples dan masih banyak lagi ritel besar di AS.
Meski secara rinci belum ada penjelasan mengenai bagaimana dan kapan Bitcoin akan hadir sebagai opsi pembayaran di perusahaan ritel tersebut, tetapi Mallers mengatakan bahwa sudah ada lebih dari 40.000 bisnis yang siap menerima BTC melalui Lightning Network.
Memang, mengadopsi jaringan layer-2 Lightning Network akan lebih baik lagi untuk menggunakan Bitcoin sebagai opsi pembayaran.
Mengapa? Itu karena jaringan ini mampu mempercepat proses transaksi sekaligus menekan biaya gas.
Ini mampu mendukung upaya Bitcoin untuk menjadi mata uang digital, sehingga tidak ada lagi keluhan terkait biaya dan kecepatan, meski sebenarnya BTC sendiri sudah jauh lebih cepat dibandingkan pengiriman uang tradisional, terlebih jika untuk pengiriman lintas negara.
Mallers meyakini pula bahwa Lightning Network bisa menjadi solusi pembayaran sehari-hari, yang telah mendapatkan dukungan kuat dari pemuja Bitcoin, Jack Dorsey, CEO dari Twitter dan Block.
Mike Novogratz sekali lagi menegaskan dukungannya atas prediksi masa depan senilai $500.000 untuk Bitcoin.
CEO Galaxy Digital yang baru-baru ini menghadiri konferensi Bitcoin 2022 di Miami tersebut bahkan memberikan prediksinya disana, namun tentu saja ini bukan pertama kalinya ia mengungkapkan itu.
Mike Novogratz Yakin BTC Bernilai $500,000
Mike Novogratz telah menempatkan prediksi Bitcoin senilai $500.000 dalam setengah dekade. Di tahun 2022 ini, miliarder tersebut akhirnya berbagi pemikiran di balik prediksi itu.
“Menurutnya, salah satunya faktor yang akan secara konsisten mendorong harga Bitcoin di masa depan adalah permasalahan ekonomi dan tingkat inflasi yang terus meningkat.
Seperti yang kebanyakan orang tahu, Federal Reserve telah bekerja tanpa henti untuk meningkatkan suku bunga dan hal-hal lain, tetapi miliarder itu mencatat bahwa begitu The Fed mulai mengambil jeda dari semua ini, maka aset digital akan melanjutkan pergerakannya ke atas.
Inilah yang diharapkan Novogratz akan mendorong harga Bitcoin setinggi prediksi $500.000-nya.
Pergerakan Harga Bitcoin
Meski target tersebut masih jauh dari harga Bitcoin saat ini yang masih diperdagangkan pada rentan $43.000, sang CEO bahkan tidak menghentikan angannya pada $500.000 aja.
Pendukung dan maksimalis Bitcoin juga menjelaskan bahwa ia mengharapkan mata uang crypto raksasa tersebut pada akhirnya mencapai 1 juta Dollar.
Sementara itu, meski terobsesi pada Bitcoin, nyatanya aset tersebut bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian Novogratz selama konferensi Miami.
Ia juga menyinggung Dollar Amerika Serikat dan mengutarakan harapan bahwa mata uang fiat itu akan terus menguat dengan pengelolaan yang baik dari ekonom negara setempat.
“Saya terus berdia dan mengharapkan para pengelola ekonomi AS tidak mengacaukannya.”
Generasi milenial tampaknya telah lebih melek soal kehidupan di hari tua, ataupun masa depan mereka, dengan berinvestasi jangka panjang, di antaranya adalah di aset kripto.
Investopedia telah melakukan sebuah survei yang melibatkan beberapa generasi, yakni Gen Z, Milenial, Gen X dan Boomer.
Menariknya, ada perubahaan sudut pandang yang drastis untuk menangani masa pensiun dari para generasi muda.
Survei yang disebut “ Literasi Keuangan Investopedia 2022” itu melibatkan 4.000 orang sebagai peserta, dengan masing-masing generasi adalah 1.000 orang.
Pertanyaan-pertanyaan dalam survei tersebut meliputi pengetahuan keuangan, kebiasaan, hal-hal yang membuat mereka khawatir dan rencana pensiun.
Yang menarik perhatian adalah, generasi muda rupayanya berpegang pada aset berisiko untuk mendanai masa tua mereka kelak.
Dalam satu survei, didapatkan informasi bahwa 38% milenial memiliki kemungkinan yang sama untuk diinvestasikan dalam mata uang cryto seperti halnya di pasar saham.
25 persen dari itu mengatakan bahwa mereka mengandalkan crypto untuk membantu mendanai rencana pensiun mereka.
Dan bagi generasi muda, sumber informasi terkait keuangan, justru banyak didapatkan dari Youtube dan TikTok, yang sebenarnya adalah aplikasi hiburan dan tayangan.
Para generasi muda ini pun menyadari bahwa skor kredit adalah sangat penting, sehingga ini adalah fakta baru yang menarik karena di masa lalu, jumlah untuk pemaham skor kredit masihlah rendah.
Caleb Silver, Pemimpin Redaksi Investopedia mengatakan bahwa, hubungan generasi muda dan di atasnya dengan uang, investasi dan perencanaan keuangan telah berubah drastis hanya dalam beberapa tahun ke belakang ini.
Kelas aset baru seperti crypto dan NFT juga telah muncul tepat ketika jutaan orang mengambil langkah pertama mereka untuk berinvestasi.
Baginya, perubahan ini memerlukan pendekatan yang uptodate untuk pendidikan keuangan, serta segala tentang produk dan layanan keuangan baru yang bisa dipahami semua orang di berbagai lingkup usia, karena crypto benar-benar sedang berkembang.
Caleb pun merasa bertanggungjawab untuk urusan literasi ini karena Investopedia memang ada untuk mendidik siapa saja yang tertarik dengan kelas aset investasi, termasuk crypto.
Intel mengumumkan peluncuran chip generasi kedua alat tambang Bitcoin bernama Intel Blockscale ASIC. Chip ini fokus kepada efisiensi energi dan keberlanjutan serta beroperasi dengan daya 26 J/TH. Chip ini diklaim lebih hemat daripada pesaingnya.
Chip tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi energi penambangan Proof of work (PoW). Intel memakai pengalaman penelitian dan pengembangan selama puluhan tahun di bidang chip.
Bitcoin Magazinemelaporkan, Jose Rios, General Manager Solusi Bisnis dan Blockchain Grup Sistem Komputasi dan Grafik Terakselesari Intel, mengatakan Blockscale ASIC akan berperan besar membantu perusahaan penambangan Bitcoin mencapai sasaran keberlanjutan dan penambahan hash rate di masa depan.
Setiap chip Blockscale ASIC memiliki hash rate 580 GH/s dengan efisiensi daya 26 J/TH serta mendukung hingga 256 sirkuit terintegrasi (IC). Selain itu, chip ini memiliki kapabilitas pengukuran suhu dan voltase.
Sistem penambangan yang terdiri dari 256 chip Intel tersebut menghasilkan 148 TH/s dan “hanya” mengonsumsi listrik sebesar 3.860 W. Alat tambang terkemuka saat ini, yakni besutan Bitmain menghasilkan 140 TH/s dengan konsumsi energi 3.010 W dan 21,5 J/TH efisiensi daya.
Sebelumnya, chip tambang Bitcoin generasi pertama Intel mencakup total 4.248 mm persegi silikon yang mampu kekuatan hingga 40 Terahash per detik dengan konsumsi daya 3.600 W. Generasi pertama ini tentu saja belum sanggup berkompetisi ketat dengan Bitmainatau MicroBT asal Tiongkok.
Dengan generasi baru ini Intel hanya menjualnya kepada pihak-pihak tertentu saja, alih-alih mengirim sistem penambangan ASIC lengkap seperti pada umumnya. Argo Blockchain, Block Inc, Hive Blockchain dan GRIID Infrastructure adalah beberapa perusahaan penambang pertama yang akan sudah memesan chip Intel itu.
Industri penambangan Bitcoin mengalami kekurangan pasokan ASIC akibat gangguan rantai pasokan di tengah pandemi. Kendati Intel Blockscale bersaing dengan produsen ASIC lain, penerbitan chip baru ini justru akan membantu pertumbuhan industri penambangan Bitcoin secara jangka menengah.
Langkah Intel tersebut dapat membantu industri aset kripto memenangkan debat lingkungan, sosial dan pengaturan (ESG), terutama persoalan lingkungan. Penambang semakin mendongkrak daya agar tetap kompetitif sehingga menuai pengawasan dari pembuat kebijakan di seluruh dunia.
Dikutip dari Coindesk, pada Maret lalu, Komite Konservasi Lingkungan pemerintah daerah New York memilih untuk mencanangkan aturan melarang penambangan PoW di negara bagian tersebut. Selain itu, sejumlah pembuat kebijakan yang dipimpin Senator Elizabeth Warren mengkritik penambangan kripto akibat dampak terhadap lingkungan. [ed]
Dalam studi yang dilakukan oleh raksasa perbankan Goldman Sachs yang diterbitkan oleh Arcane Research, dari 172 klien institusi, didapatkan 51 persen suara yang menginginkan eksposur ke aset crypto.
Survei tersebut mencatat bahwa minat institusi terhadap aset crypto telah bertumbuh dengan cepat dan kuat, terutama eksposurnya yang naik dari 40 persen pada tahun lalu, menjadi 51 persen pada tahun 2022. Diperkirakan, persentase ini akan kembali meningkat di masa mendatang.
“Dari 172 klien yang disurvei, 60% menjawab bahwa mereka berharap untuk meningkatkan kepemilikan aset digital mereka dalam satu hingga dua tahun ke depan.”
Bersiap akan hal tersebut, Goldman Sachs telah memutuskan untuk masuk ke industri crypto, yang tampaknya akan menjadi tembakan peringatan dimulainya langkah raksasa ini ke aset digital.
Kepala Aset Digital Global baru di divisi manajemen kekayaan pribadi Goldman, March Rich, telah mengungkapkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk memanfaatkan investasi di aset crypto melalui derivatif, Bitcoin fisik, atau moda investasi tradisional.
Tentunya, melalui manajemen kekayaan pribadi, Goldman akan menghadirkan produk pertamanya untuk eksposur institusi ke aset crypto.
March Rich pun mengatakan:
“Beberapa klien Goldman merasa seperti kita sedang duduk di awal Internet baru dalam beberapa hal dan mencari cara untuk berpartisipasi dalam ruang ini.”
Ia pun menegaskan bahwa seluruh tim akan bekerja sama untuk mencari cara yang terbaik dalam menawarkan eksposur tersebut. Dalam waktu dekat, diharapkan ini akan terlaksana.
Regulasi yang kian dimatangkan untuk aset crypto juga diperkirakan akan memperlancar semua langkah besar ini, karena tentu investor akan tetap berpegang pada sisi keamanan sebelum membicarakan potensi keuntungan yang akan didapatkan dari eksposur aset crypto.