Tag: btc

  • FBI Menyita Kripto Setara Rp488 Miliar dari Warga Florida

    Pada 4 April 2022, Departemen Kehakiman (DOJ) dan Kantor Kejaksaan AS Florida Selatan mengungkapkan bahwa FBI telah menyita aset kripto senilai US$34 juta (Rp488 miliar) dari seorang pria, warga Florida.

    Menurut aparat pria tersebut diduga melakukan lebih dari 100 ribu transaksi di pasar darknet, menjual informasi akun daring yang terkait dengan akun Netflix, HBO dan Uber milik orang lain.

    DOJ dan Kantor Pengacara Florida Selatan mengumumkan pada hari Senin bahwa US$34 juta dalam bentuk kripto itu telah diserahkan kepada pemerintah federal, dilansir dari Bitcoin.com.

    Baca juga: 19 Juta Bitcoin Telah Ditambang dan Tersisa 2 Juta Lagi, Apa Dampaknya?

    Dana tersebut berasal dari penduduk Florida Selatan yang diduga menjual informasi secara daring, seperti rincian keuangan yang terkait dengan layanan web tertentu seperti Netflix, Uber, HBO dan banyak lainnya.

    Dilaporkan, pria tersebut menawarkan data informasi pribadi ke pasar darknet di Internet menggunakan browser Tor. Data itu dijual menggunakan kripto.

    Pria yang tak disebutkan namanya itu dituduh melakukan lebih dari 100 ribu penjualan dengan informasi curian.

    Sementara otoritas federal menyita aset kripto senilai US$34 juta, dari tersangka dari kota pinggiran Parkland, Florida.

    Penegakan hukum AS memang mengatakan itu adalah salah satu tindakan penyitaan kripto terbesar yang pernah diajukan oleh Amerika Serikat.

    Baca juga: Ini Aturan Lengkap Pajak Aset Kripto di Indonesia, Berlaku Mulai 1 Mei 2022

    Menurut siaran pers DOJ, tersangka di Parkland itu diduga menggunakan layanan “crypto mixing” untuk mengaburkan jejak transaksi.

    Penyitaan berdasarkan operasi khusus yang dijuluki “TORnado,” dan melibatkan sejumlah besar lembaga penegak hukum federal, negara bagian, dan lokal.

    Selain DOJ, “RS-CI, FBI, DEA, Investigasi Keamanan Dalam Negeri (HSI), dan Layanan Inspeksi Pos AS (USPIS) menyelidiki kasus ini” juga.

    Penegakan hukum AS, khususnya DOJ, belakangan disibukkan dengan berbagai kasus kriminal yang melibatkan aset kripto.

    Pada akhir Maret, DOJ mengungkapkan bahwa agensi tersebut mendakwa dua orang dalam penipuan “NFT rug pull” bernilai jutaan dolar.

    Pada pertengahan November 2021, DOJ membuka kasus US$56 juta dana Bitconnect yang disita yang berasal dari “promotor nomor satu” Ponzi kripto. DOJ juga terlibat dengan penyitaan 94.636 BTC baru-baru ini yang berasal dari peretasan Bitfinex 2016. [ps]

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Aset Kripto Akan Meningkat pada Kuartal 2 Tahun 2022?

    Bitcoin memasuki pergerakan yang lebih tinggi sejak 3 Maret. Pada saat penulisan, aset crypto raksasa tersebut berhasil menetapkan level harga $ 46.499. 

    Dengan relinya BTC, deretan altcoin terkemuka seperti Ethereum dan Cardano juga mendapat sentimen positif. Sikap bullish ini telah terbentuk pada grafik crypto setelah dampak invasi Rusia ke Ukraina yang membawa pandangan bearish.

    Akankah aset crypto akan melanjutkan kenaikan harga mereka pada kuartal 2 2022? Simak artikel di bawah ini untuk mendapatkan jawabannya.

    Bitcoin Akan Semakin Reli di Kuartal 2?

    Harga Bitcoin saat ini telah mencapai level tertingginya selama tiga minggu. Pada 1 Maret lalu, BTC diperdagangkan di rentan $ 43.000 dengan resistance harga $ 45.000 yang akhirnya berhenti pada supportnya di sekitar wilayah $ 39.000 pada tanggal 6 Maret.

    Pergerakan harga di periode tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan perselisihan antara Rusia dan Ukraina, karena sejak peperangan berlangsung memang banyak sentimen yang dengan cepat mendorong dan menjatuhkan harga aset.

    Pergerakan Harga Bitcoin. Sumber: TradingView

    Sementara momentum harga BTC selama beberapa hari terakhir sebagian besar berkaitan dengan fenomena di market saham, termasuk perombakan Wall Street minggu lalu.

    Baca juga: Siap! Transaksi Crypto di Indonesia Akan Dikenakan Pajak 0,1%

    Sebuah perusahaan bank investasi Goldman Sachs belum lama ini mengumumkan, bank yang berbasis di AS telah melakukan transaksi over-the-counter (OTC) revolusioner di Bitcoin, di mana mereka membeli opsi non-deliverable (NDO) dari Galaxy Digital.

    Ditambah lagi, sudah lebih banyak perusahaan investasi crypto yang mulai bertindak sebagai mitra bank likuiditas untuk Bitcoin futures trading desk. 

    Hal ini menandakan transaksi Bitcoin kini sudah lebih mainstream dilakukan, yang mana investor tidak perlu ragu lagi untuk mengadopsi aset.

    Jika sentimen berlanjut, kemungkinan harga Bitcoin akan membaik di kuartal 2 tahun ini dan mendorong harga altcoin lainnya.

    Bagaimana Nasib Altcoin?

    Jika membahas tentang performa, kinerja Ethereum bahkan telah melampaui BTC. Pada saat penulisan, Ethereum telah berkonsolidasi di harga $3.490 dengan pergerakan harga seperti yang diilustrasikan pada grafik di bawah ini.

    Pergerakan Harga Ethereum

    Sentimen positif ini dihasilkan dari desas-desus seputar migrasi jaringan Ethereum ke Proof-of-Stake yang saat ini menggunakan Proof-of-Work. 

    Penggabungan ini telah dicoba dan terbukti efektif di testnet ‘Kiln’ yang secara luas dianggap sebagai pengubah permainan untuk ekosistem Ethereum.

    Dengan pemberitaan upgrade tersebut saja, sentimen investor telah meningkat secara positif. Dan sekarang, pengembang tengah mencari solusi yang baru untuk memasok permintaan Ethereum yang akan segera terjadi.

    Akahkan skenario tersebut akan di jalankan pada kuartal 2 tahun ini?

    Baca juga: 5 Crypto Potensial Pekan Ini: KAVA, MBOX, SNP, EOS, IRIS

    Menutup soal Ethereum, kini saatnya berpindah ke grafik Cardano yang juga mengikuti reli Bitcoin dengan kenaikan 5,9% selama seminggu, dan menetapkan harga $1,18 pada saat penulisan.

    Indikator MA-7 dan 21 pada Cardano berpotongan di level $1,2 yang menandakan reli naik berkelanjutan mengawali periode kuartal 2 ini.

    Cardano sendiri terus membangun keuntungannya dengan peningkatan jaringan yang akan segera terjadi. Selain itu, pengembang Cardano, IOG, baru-baru ini mengumumkan proposal untuk meningkatkan memori skrip Plutus jaringan.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tiga Alasan Kenapa Harga Bitcoin Bisa di Atas Level $ 47.000

    Pada 28 Maret 2022, harga Bitcoin mampu menembus level $ 47.000 untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir.

    Banyak yang telah terjadi pada aset crypto utama dalam waktu yang relatif singkat. Dalam tujuh hari terakhir saja, harga Bitcoin meledak ke level tertinggi 3 bulan.

    Ini menambah total peningkatan sekitar 14% karena Bitcoin (BTC) diperdagangkan di atas $ 47.000 mulai 28 Maret.

    Seluruh kapitalisasi pasar crypto melonjak sebesar $ 120 miliar dalam 24 jam terakhir, dan ada tiga alasan potensial untuk peningkatan harga BTC lebih lanjut.

    Berikut, merupakan tiga alasan utama yang telah Jelajahcoin rangkum mengenai harga BTC yang bisa melaju lebih tinggi dari level $ 47.000.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 30 Maret 2022: Pasar Kripto Terus Bullish atau Mulai Lesu?

    Tiga alasan harga Bitcoin bisa menembus level $47k

    #1: Sentimen Pasar Berubah Positif

    Bitcoin, serta seluruh pasar crypto dengan ekstensi, sebagian besar tetap berkorelasi dengan Wall Street.

    Selama lima hari terakhir, beberapa indeks terbesar di AS, termasuk: S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average, semuanya diperdagangkan di zona hijau.

    Terlebih lagi, perusahaan teknologi seperti Tesla juga mencatat keuntungan yang cukup besar. Saham TSLA naik untuk hari ke-9 secara berturut-turut, meningkat sebesar 35% pada periode yang sama.

    Ini mungkin berarti bahwa investor menjadi lebih rentan terhadap perdagangan berisiko, dan Bitcoin sesuai dengan definisi itu.

    Secara keseluruhan, penting untuk tetap sangat berhati-hati karena harga saat ini melayang di sekitar penutupan tahunan.

    #2: Terra beli Bitcoin, mendukung harga menembus level saat ini

    CEO Terra (LUNA), Do Kwon, tampaknya menjadi katalis utama untuk kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini karena pembelian BTC yang berkelanjutan.

    Do Kwon, mengungkapkan niat untuk membeli Bitcoin senilai $10 miliar USD dari waktu ke waktu (secara berkelanjutan).

    Sementara banyak yang tidak menganggap ini serius, Kwon juga mengatakan bahwa mereka “memiliki dana $10 triliun USD yang siap untuk menyemai cadangan ini.”

    Beberapa hari kemudian dan pembelian Bitcoin mulai bergulir. Terra telah membeli dalam batch $ 125 juta Bitcoin.

    Itu mendorong beberapa analis untuk percaya bahwa ada kejutan pasokan yang masuk. Dan, informasi Ini akan membawa kita ke alasan nomor tiga.

    Baca juga: Harga Cardano (ADA) Rebound 60% Dalam Sebulan Terakhir

    #3: Pasokan semakin tipis

    Mengomentari hal di atas adalah pendukung crypto populer, dan komentator industri Pentoshi, yang menguraikan hal berikut dalam kaitannya dengan pembelian Bitcoin oleh Terra:

    “2,5k – 3k BTC per hari pasokan dihapus dalam jangka waktu yang lama sama dengan dampak besar. Mereka yang pendek harus menutupi lebih tinggi di beberapa titik karena pasokan itu sendiri menghilang.”

    Intinya, apa yang dibicarakan analis adalah konsep kejutan penawaran di mana permintaan sangat melebihi pasokan, pada dasarnya menekan harga naik.

    Selain itu, data pasar menunjukkan bahwa bearish kurang siap untuk langkah ini. Seperti yang laporkan sebelumnya:-

    Volatilitas Bitcoin menghapus lebih dari $ 410 juta likuidasi dalam 24 jam terakhir, dan sekitar 80% di antaranya adalah posisi short.

    Pada saat penulisan, harga Bitcoin sedang berada di $ 47,674, naik 1.70% sejak 24 jam terakhir, menurut data dari CoinMarketCap.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Berapa Target Harga Bitcoin Saat Ini Menurut 4 Analis?

    Bitcoin diprediksi akan keluar dari kesulitannya selama beberapa minggu terakhir setelah berhasil melewati reli $ 45.000. Cryptocurrency utama ini sekarang diperdagangkan senilai $ 47.500 atau naik sebesar 15.7 persen dalam 7 hari terakhir menurut Coingecko.

    Selama run-up, total volume transaksi di pasar crypto melebihi $ 110 miliar dalam 24 jam terakhir, artinya terjadi peningkatan sebesar 63,07 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Data dari CoinMarketCap, total nilai pasar melonjak hingga $ 2,13 triliun atau nilai kenaikan rata-rata per bulan menjadi sebesar 4,75 persen.

    Ketidakseimbangan antara pembeli dan penjual menjadi kekuatan di balik meroketnya Bitcoin bagi trader berpengalaman – yang memandang ‘pola segitiga terbalik’ sebelum Bitcoin akhirnya menembus resistensi $ 45.000. Pola ini mudah dikenali untuk masuk, stop loss, dan untuk waktu mengambil keuntungan yang tepat. 

    Seorang trader terkenal Peter Brandt, berbagi pola segitiga naik pada tahun 2019. Ini adalah pola yang serupa tapi berbeda. Pola segitiga terbalik klasik memiliki bagian atas yang datar.

    Baca juga: Bappebti: Aset Kripto Tidak Diatur Bisa Lemahkan Ekonomi Negara

    Titik terendahnya menunjukkan bahwa pembeli lebih kuat dari pada penjual, ini merupakan fenomena sangat penting dalam ekspektasi dan memprediksi harga. 

    Target keuntungan untuk pola seperti itu adalah $ 61.000 (terlihat dari panah kuning kedua yang merupakan duplikasi dari yang pertama). Brandt memperingatkan, “grafik tidak memprediksi masa depan. Grafik bahkan tidak menawarkan probabilitas. Grafik menyarankan kemungkinan dan berguna dalam mengelola risiko dalam perdagangan. Pola dapat berfungsi, gagal, atau berubah. Maka waspadalah.”

    Baca jugaTiga Alasan, Mengapa Bitcoin Melonjak Melewati $47.000

    Menurut Tech Dev, BTC akan terbang lebih tinggi dari ATH karena adanya indikator yang hanya terjadi 5x selama 10 tahun terakhir. 4 dari ini selalu ada naik secara signifikan.

    Namun, menurut Crypto Michael di Youtube-nya, harga BTC kemungkinan akan mengalami koreksi.

    Dia mengatakan selama BTC tidak turun lebih dari $ 45.000, maka BTC tetap bisa naik ke $ 50.800. Harga tersebut adalah resistensi yang kuat dan kemungkinan akan mengambil posisi short.

    Menurut analis lainnya, Rekt Capital, target harga saat ini adalah $ 52.000.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Puncak Harga Tertinggi 3 Bulan, Bitcoin Sentuh $ 46.500

    Pada Minggu kemarin (27/03), Bitcoin (BTC) berhasil menyentuh puncak harga tertinggi 3 bulan. BTC melesat melewati $46.500, naik lebih dari 4% selama periode dua jam untuk mencapai level tertinggi tiga bulan.

    Pada saat penulisan, pergerakan grafiknya masih alami kenaikkan sekitar 4,8% dengan menetapkan harga $46.811.

    Selain Bitcoin, sederet Altcoin utama juga mendapat sentimen harga positif di periode ini. Ethereum mengikuti pola yang mirip dengan BTC pada hari Minggu dan menetapkan harga di atas $3.250, level tertinggi sejak awal Februari.

    SolanaCardano, dan Avalanche, juga berperforma baik dengan semuanya mencatat kenaikan. Koin meme populer Dogecoin dan Shiba Inu, masing-masing naik sekitar 6% dan 3%.

    Baca Juga: Mengenal ApeCoin, Kripto Unik & Eksklusif dari Pendiri NFT Bored Ape Yacht Club

    Berada di Puncak Harga, Apa Kata Analis?

    Seorang analis berbasis Twitter dengan pengikut lebih dari 500 ribu orang bernama panggung Pentoshi, ikut menanggapi fenomena kenaikan harga BTC baru-baru ini.

    “Masih menunggu untuk melihat bagaimana harga diperdagangkan di sekitar pembukaan tahunan. Kali sebelumnya saya menargetkannya, kami gagal tetapi menjadi sangat dekat. Meskipun kali ini terlihat lebih baik untuk BTC” katanya dengan merilis dua buah grafik.

    Pentoshi menambahkan, ia berencana untuk menilai kembali dan melihat bagaimana Bitcoin bereaksi setelah BTC mencapai target short-term.

    Baca Juga: Tokocrypto Raih Gold Winner Marketeers Youth Choice Award 2022

    Menurut sang analis, kenaikan harga Bitcoin juga didorong oleh sentimen positif dari tekanan beli besar-besaran yang datang dari Do Kwon, selaku co-founder dari Terra (LUNA).

    “2.500-3.000 BTC per hari dari pasokan yang dihapus dalam jangka waktu yang lama = dampak yang sangat besar.”

    Sumber: Twitter

    Pekan lalu, Do Kwon telah mengumumkan di Twitter bahwa pembelian BTC senilai $3 miliar oleh Terra sudah berlangsung.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Melonjak Jadi US$47.700, Inikah Penyebabnya?

    Pada artikel 23 Maret 2022 kami memproyeksikan bahwa harga Bitcoin (BTC) berpotensi melonjak mulai akhir Maret 2022. Dan pagi hari ini, Senin (28/3/2022), harga kripto nomor wahid ini sukses mencetak US$47.700 melampaui level 2 Januari 2022 di time frame harian. Berikutnya menuju US$50 ribu? Dan apa saja penyebabnya?

    “Dengan kecenderungan indikator MACD saat ini, maka potensi dimulainya bull run Bitcoin setidaknya dimulai pada 28 Maret 2022 atau 4 April 2022 mendatang, dengan garis MACD mencoba menembus ke atas garis sinyal MACD dan harga BTC mencoba merangsek di atas MA 50,” dikutip Blockchain media.id pada 23 Maret 2022.

    Ketika itu, histogram MACD berwarna merah pudar sudah mulai muncul sejak 31 Januari 2022 dan terus memendek hingga 21 Maret 2022. Ini adalah tanda kuat akumulasi memang berlangsung cukup panjang sekitar 8 minggu pada time frame mingguan.

    Histogram merah pudar yang terus memendek akan diikuti dan beralih dengan histogram hijau pekat, yang menandakan harga berbalik arah.

    Dan hari ini, Senin (28/3/2022) membuka awal pekan menjelang akhir bulan, histogram MACD, mingguan sudah berwarna hijau pekat (lihat grafik di bawah). Sebelumnya, munculnya histogram seperti ini pada 16 Agustus 2021, ketika harga Bitcoin mingguan ditutup positif dari US$44.281 menjadi US$50.275.

    Baca Juga: Begini Tips Menghindari Investasi Berkedok Skema Ponzi

    Penegasan positif lainnya adalah ketika garis MACD (biru) sudah menyilang dan berada di atas garis sinyal MACD (jingga).

    Berdasarkan indikator Moving Average juga menunjukkan sinyal positif, di mana candlestick berada di atas MA 50, menegaskan kenaikan pekan sebelumnya (lihat grafik di bawah).

    Posisi candlestick seperti ini terakhir terlihat pada 6 Desember 2021 namun dalam trend turun sejak November 2021.

    Sedangkan pada tren sebaliknya, terjadi pada 26 Juli 2021 yang sukses mengantarkan Bitcoin mencetak harga tertinggi sepanjang masa, US$69 ribu (8 November 2021).

    Masih pada time frame mingguan, berdasarkan indikator Parabolic SAR dan RSI sinyal positif kian mengental (lihat grafik di bawah). Parabolic SAR masih memunculkan sinyal kenaikan yang dimulai sejak 28 Februari 2022 (sebagai local support terbaik). Sedangkan RSI, garis RSI naik ke wilayah 53 (di atas nilai median) di atas garis sinyal yang merupakakan hasil kontribusi sejak masuk ke wilayah 43 sejak 7 Maret 2022.

    Secara teknikal, berdasarkan RSI harga yang masuk di atas wilayah 50 menunjukkan sentimen bullish di antara trader. Pola RSI serupa seperti ini terjadi pada 26 Juli 2021 ketika BTC diperdagangkan di kisaran US$43 ribuan lalu memuncak di US$69 ribu pada pekan pertama November 2021.

    Dengan capaian US$47.700 pada hari ini, maka resisten besar berikutnya adalah US$49.200 yang bisa membuka pintu menuju US$50 ribu lagi.

    Baca Juga: Ini Titik Penting Agar Bitcoin Melenting Lebih Tinggi

    Harga Bitcoin Melonjak, Spekulasi Faktor Penyebab

    Kenaikan signifikan Bitcoin juga diikuti oleh kripto lain, Polkadot (DOT) naik 7 persen dalam 24 jam, Dogecoin (DOGE) naik 6 persen, Solana (SOL) naik 5 persen, Avalanche (AVAX) naik 4 persen, XRP naik 3  persen dan Cardano (ADA) naik 3 persen.

    Kenaikan Bitcoin sebagai “penentu arah” kripto lainnya setidaknya didorong oleh beragam sebab yang cenderung spekulatif, mulai dari inflasi di Amerika Serikat yang kian tak terbendung, walaupun sudah ada kebijakan penaikan suku bunga acuan The Fed. Bank Sentral AS itu diperkirakan akan menaikkan lebih besar dalam tempo lebih cepat lagi.

    Pun lagi spekulasi bahwa belanja US$1,5 triliun pada pekan lalu dianggap sebagai masuknya lagi dolar AS ke dalam pasar sehingga pasar lebih likuid.

    Hal lainnya adalah akumulasi Bitcoin oleh Terra Foundation terus berlanjut. Saat ini nilainya mencapai US$1 miliar dari sasaran jangka pendek adalah US$3 miliar dan jangka panjang adalah US$10 miliar.

    Mengingat korelasi pasar saham dan pasar kripto memuncak positif pada akhir 2021 lalu, selama sepekan berturut-turut pada Maret 2022, indek S&P 500 telah meningkat selama dan korelasi Bitcoin dengan saham berada pada level tertinggi 17 bulan.

    Saldo Bitcoin di bursa juga berada pada titik terendah dalam lebih dari tiga tahun menurut Glassnode, menandakan peningkatan permintaan dan minat untuk memindahkan Bitcoin dari bursa ke coldwallet.

    Faktor mungkin lainnya adalah hasil survei oleh bank multinasional Goldman Sachs menunjukkan, bahwa 60 persen klien yang menjadi responden ingin meningkatkan investasi kripto mereka. Sejak tahun Goldman Sachs gencar menyiapkan produk investasi bernilai kripto kepada kliennya.

    Sebuah survei yang diperoleh media siber The Block dari raksasa perbankan investasi Goldman Sachs menunjukkan bahwa investor terus optimis tentang kripto.

    Bahkan Rusia terbuka menerima Bitcoin (BTC) untuk ekspor sumber daya alam. Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Energi parlemen, Pavel Zavalny, dalam konferensi pers pada Kamis (24/03/2022).

    Dorongan lainnya datang dari raksasa keuangan BlackRock. CEO BlackRock, Larry Fink, berkata konflik Rusia-Ukraina dapat mempercepat aset digital/kripto sebagai alat untuk menyelesaikan transaksi internasional. Sebab, konflik tersebut mengakhiri globalisasi yang melaju selama tiga dekade terakhir.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Arus Keluar Bitcoin Besar-besaran dalam 7 Hari dari Bursa, Sinyal Mega Bullish?

    Arus keluar Bitcoin (BTC) secara besar-besaran selama 7 hari terakhir dari bursa kripto, memberikan sinyal bahwa mungkin mega bullish akan terjadi dalam waktu dekat, di tengah-tengah potensi tekanan lagi akibat menguatnya dolar AS karena kebijakan penaikan suku bungan acuan oleh The Fed.

    Bitcoin telah mengalami pertumbuhan harga dan adopsi yang eksplosif dalam 2 tahun terakhir. Baik investor institusional maupun ritel mengakui Bitcoin sebagai aset yang langka dan aman untuk dipegang. Namun, harga bitcoin telah mengalami tren turun selama 5 bulan terakhir. Apakah kita mengalami bearish berikutnya atau pembalikan ultra-bullish yang akan datang?

    Ada satu metrik Bitcoin penting yang menunjukkan bahwa ada potensi mega bullish dalam waktu dekat. Jumlah Bitcoin yang ada di bursa kripto bisa menjadi indikator yang baik tentang apa yang akan dilakukan trader terhadap kripto nomor satu ini.

    Biasanya, selama aksi jual pasar, jumlah Bitcoin di bursa bertambah, karena trader bersiap untuk menjual.

    Jika Anda tidak berencana untuk menjual dalam waktu dekat, hal yang logis adalah membawa BTC Anda ke dompet penyimpanan pribadi atau cold wallet. Ini terjadi pula pada bull run 2018 silam.

    Maka, melacak arus masuk dan keluar BTC dari dan ke bursa kripto, memberikan cukup sinyal tentang pergerakan harga di masa depan. Pelacakan secara mudah ini tentu saja berkat transparansi blockchain itu sendiri.

    Baca Juga: Mengenal Metaverse MetaHorse, Game Interaktif Berfitur NFT

    Berdasarkan data dari Santiment, pasokan Bitcoin di bursa berada pada level terendah sejak Desember 2018. Ini adalah tanggal penting karena menandai wilayah terbawah bear market 2018.

    Ketika itu, BTC diperdagangkan sekitar US$3.100 setelah mencapai puncaknya hampir US$20.000 pada Desember 2017.

    Faktanya, selama 6 bulan berikutnya harga BTC naik lebih dari tiga kali lipat. Dan tak berhenti di tisu, sejak Desember 2018 hingga hari ini, harga Bitcoin tumbuh lebih dari 1000 persen.

    Berdasarkan data dari IntoTheBlock, lebih dari 60.000 BTC keluar dari sejumlah bursa kripto dalam beberapa hari, dengan lebih dari 15.000 BTC mengalir keluar dari bursa pada hari Senin, terbesar sejak 29 Januari 2022.

    Inikah Sinyal Bull Buas Berikutnya?

    Secara historis, arus keluar Bitcoin dari bursa dalam jumlah besar dan berturut-turut adalah tanda awal bull run, karena trader cenderung tidak menjualnya menjadi dolar. Trader lebih berniat menahannya dalam waktu lama, dengan memindahkanya ke wallet pribadi berjenis cold wallet.

    Apakah posisi kita sekarang sama dengan posisi Desember 2018? Jawabannya ya dan tidak. Pasalnya dengan sejumlah alasan berikut ini. Untuk menjawab tidak adalah, ketika kita memahami bahwa likuiditas dolar tidak sebesar pada tahun 2020 silam, berkat kebijakan penaikan suku bunga acuan oleh The Fed beberapa pekan lalu.

    Ini ditafsirkan akan menekan arus beli ke aset berisiko tinggi seperti Bitcoin, kecuali jika kebijakan The Fed itu justru memompa inflasi lebih tinggi lagi, akibat konflik geopolitik antara Rusia-Ukraina.

    Seperti yang terjadi pada tahun 2018, tanpa tekanan jual, bull mungkin menang dan mendorong harga naik.

    Namun demikian, kita saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih baik daripada saat itu. Ini karena Bitcoin sangat matang selama beberapa tahun terakhir.

    Di satu sisi, infrastruktur yang dibangun di belakang BTC telah tumbuh secara eksponensial. Ada lebih banyak bursa dan perusahaan yang memudahkan investor ritel dan institusional untuk naik kereta Bitcoin. Di sisi lain, seluruh cara orang melihat kripto, secara umum, telah bergeser lebih positif.

    Negara pun lebih bisa permisif menerima kedatangan kelas aset baru ini, dipimpin oleh El Salvador yang menjadikannya sebagai alat pembayaran yang sah, bahkan sudah menerbitkan surat utang negara (bond) bernilai BTC.

    Senada dengan itu Presiden Biden, lewat instruksi presiden beberapa pekan lalu dipandang positif, karena lebih mengadopsi kripto ini di sisi bisnis dan inovasi, dengan pengawasan ketat tentu saja.

    Baca Juga: Yuk, Kenalan dengan Aset Kripto HOT Coin dan Cara Kerjanya!

    Investasi oleh perusahaan konvensional di ranah kripto juga semakin tinggi saja. Lihatlah Microsoft dan Softbank yang melaburkan dana jutaan dolar masuk pasar NFT dan metaverse.

    Perusahaan ventura a16z juga tak henti-hentinya mengguyur pasar aset baru ini. Sejumlah perbankan, yang dulunya mencibir, kini malah berbalik arah. Lihatlah HSBC dan JPMorgan yang masuk ke metaverse untuk menunjukkan dukungan mereka.

    Fakta bahwa adopsi dan permintaan BTC terus meningkat dan pasokan likuid di bursa terus turun bisa jadi menunjukkan kelanjutan dari pasar bullish.

    Sumber.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Viral Kisah Pria 23 Tahun Bisa Beli Apartemen dari Investasi Kripto

    Seorang pria asal Australia, Loi Nguyen sedang menjadi sorotan dan banyak masuk pemberitaan, karena kesuksesannya dalam investasi aset kripto. Nguyen yang kini berusia 23 tahun itu, berhasil membeli apartemen impiannya dari keuntungan portofolio kripto miliknya.

    Menurut laporan Cointelegraph, Nguyen memulai perjalanannya sebagai investor aset kripto pada tahun 2017 dengan membeli BTC, ETH dan saham tradisional senilai beberapa ratus dolar. Namun, minat lebih pada kripto mencapai puncaknya saat, dia menjalani pendidikan perguruan tinggi sebagai sarjana ekonomi.

    “Kripto kembali ke dalam hidup saya, ketika saya mengikuti kursus di universitas tentang inflasi. Saya belajar bahwa Bitcoin bisa menjadi disinflasi,” kata Nguyen.

    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

    Baca juga: Vitalik Buterin Jadi Sampul Majalah Time, Netizen: Terlalu Jelek Buat Orang Kaya

    Terapkan Strategi DCA

    Nguyen mengungkapkan bahwa suku bunga yang lebih rendah (kurang dari 0,5%) yang ditawarkan oleh bank tradisional tidak akan pernah bisa membantunya memiliki properti sendiri. Akhirnya, ia mengikuti strategi investasi dollar-cost average (DCA), untuk terus mendiversifikasi portofolionya ke dalam aset kripto di tengah bear market di tahun 2018.

    “Saya selalu ingin memiliki properti saya sendiri untuk dapat tinggal di dalamnya,” kata Nguyen kepada news.com.au.

    “Cryptocurrency memungkinkan saya untuk melakukan itu lebih awal. Saya menyadari bahwa saya mengambil banyak risiko.”

    Ketika COVID-19 mulai menghantam pasar keuangan tradisional, ia menemukan portofolio kriptonya tumbuh. Dalam beberapa bulan, dia mampu memiliki 1 BTC.

    Apartemen yang dibeli Loi Nguyen.
    Apartemen yang dibeli Loi Nguyen.

    Baca juga: Mengenal AZNVerse, Proyek NFT dari Tokocrypto Tonjolkan Keberagaman Asia

    Beli Apartemen dari Investasi Kripto

    Dengan niat untuk membeli properti, Nguyen menguangkan investasi kriptonya selama November-Desember 2021, ketika BTC mencapai level tertinggi sepanjang masa sebesar $69.000.

    Secara total, pemuda Australia itu menjual kurang dari setengah portofolio kriptonya, mengambil sekitar $ 62.735 (sekitar Rp 898 juta) untuk sebagai bagian dari uang muka. Nguyen membeli apartemen satu kamar tidur di Brisbane, dengan harga $ 314.000 (sekitar Rp 4,5 miliar).

    Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nguyen sempat bekerja penuh waktu selama satu tahun sebagai teller bank tetapi membayar gaji yang rendah sekitar $ 20.400. “Saya melakukan jauh lebih baik sekarang,” pungkasnya.

    Baca juga: Mengenal Hifi Finance & STEPN, Kripto Menarik Banyak Kegunaannya



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Glassnode Sebut Asia Mendominasi Tekanan Jual Crypto

    Laporan terbaru firma analitik Blockchain, Glassnode, mencatat aktivitas on-chain Bitcoin tampaknya masih berada dalam bear market karena investor AS dan Eropa tengah berjuang untuk tetap di depan investor yang berbasis di Asia.

    “Pemanfaatan jaringan Bitcoin dan aktivitas on-chain tetap kuat dalam wilayah bear market, meskipun sedang pulih. Tekanan jual secara menyeluruh didominasi oleh Asia.” Ulasan mingguan Glassnode.

    Analis kemudian menyimpulkan bahwa, ada perbedaan mencolok dalam perilaku rata-rata investor BTC berdasarkan geografi mereka.

    Khususnya, investor yang berbasis di AS dan Eropa yang cenderung menjadi pembeli, sedangkan investor Asia cenderung menjadi penjual. 

    Kecenderungan ini tetap konsisten sejak Maret 2020 dengan pengecualian November lalu ketika kedua belah pihak melakukan pembelian besar-besaran.

    Baca Juga: Sejak EIP-1559 Diluncurkan, 2 Juta Lebih Ether (ETH) Telah di-Burn

    Asia Dominasi Tekanan Jual Crypto -Glassnode

    Analis firma analitik Blockchain tersebut menunjukkan bahwa investor AS dan Eropa telah menawarkan dukungan penawaran umum selama dua tahun terakhir dengan pembelian besar-besaran antara akhir 2020 dan awal 2021.

    Sementara kedua wilayah menyerah sepanjang Mei-Juli dengan Investor Eropa yang memberikan jumlah dukungan terbesar.

    Sebaliknya, Glassnode melaporkan bahwa pasar Asia secara umum menawarkan dukungan beli yang lebih rendah hingga Q1-Q3 2021 dan saat ini menghasilkan tekanan jual yang besar. 

    Namun pada 22 Maret, salah satu pendiri perusahaan investasi crypto bernama Three Arrows Capital Su Zhu men-tweet “Asia secara unironis max bidding BTC.”menunjukkan bahwa kenaikan harga jangka pendek hari ini dipimpin oleh pedagang yang berbasis di Asia.

    Sementara volume transaksi transfer BTC senilai lebih dari $1 juta terus mengikuti tren penurunan tajam sejak puncaknya November lalu. 

    Glassnode juga memperingatkan bahwa penurunan yang lebih dalam mungkin menandakan pengurangan pemanfaatan jaringan.

    Baca Juga: Harga Bitcoin Terancam Menuju $35.000, Begini Kata Analis

    Sumber.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengenal Indikator MACD dalam Analisis Teknikal Kripto

    Jika membahas mengenai analisis teknikal kripto, maka indikator MACD akan menjadi salah satu indikator yang sering digunakan. Lalu, apa itu indikator MACD dan bagaimana cara menggunakannya untuk analisis teknikal kripto?

    Mengenal Indikator MACD 

    MACD adalah singkatan dari “Moving Average Convergence Divergence“, adalah indikator yang bersifat momentum untuk memperkirakan arah tren harga, apakah bullish atau bearish, dengan menggunakan dua moving average.

    Tentu saja, tidak hanya untuk membaca arah pergerakan tren, MACD juga bisa digunakan oleh trader untuk melihat apakah harga sedang dalam pergerakan yang kuat atau lemah dalam minat transaksi para trader.

    Indikator ini diciptakan pada tahun 1960-an oleh Gerald Appel, pendiri Signalert Asset Management.

    Baca jugaUkraina Terima Donasi Kripto, Capai US$50 Juta Dalam Sepekan

    Rumus MACD 

    Untuk perhitungan indikator ini, rumusnya tidaklah begitu sulit karena bertumpu pada dua moving average yang menjadi “pemeran utama” dalam penggunaannya.

    Moving average (MA) yang digunakan di sini adalah yang berjenis “Eksponensial” alias EMA, yakni yang jangka pendek (12 hari) dan jangka panjang (26 hari).

    Mengapa yang eksponensial? Itu karena MA jenis ini menempatkan bobot dan signifikansi lebih besar pada titik data terbaru. Tentu ini adalah penggunaan yang lebih terlihat update dengan dinamika harga, terlebih yang punya volatilitas tinggi.

    Jika dilihat berdasarkan perumusan matematik, maka akan seperti ini:

    Garis MACD = EMA12 – EMA26

    Elemen Utama 

    Sebelum mengetahui cara penggunaannya untuk analisis teknikal kripto, kita perlu mengetahui dulu elemen utama yang ada pada indikator MACD.

    Seperti yang telah disebutkan di atas, indikator ini menggunakan dua EMA, yang juga menggunakan satu histogram.

    • Signal line secara umum akan berwarna merah, yang dibentuk dari EMA9 sebagai titik persilangan yang akan diduetkan dengan MACD line, namun nilai EMA dan warnanya masih bisa diubah sesuai kebutuhan pengguna.
    • MACD line adalah garis yang didapat dari pengurangan EMA26 dan EMA12 yang menjadi titik utama pembacaan sinyal tren. Dalam pengaturan umum, ini akan berwarna biru. Untuk nilai EMA dan warna juga bisa diubah sesuai kebutuhan.
    • Histogram adalah grafik berbentuk bar yang perhitungannya berasal dari pengurangan antara nilai MACD line dengan signal line.

    Ketiganya adalah elemen utama yang harus dipahami terlebihh dahulu agar memudahkan kita mengetahui “alasan” di balik sinyal yang diberikan nantinya dalam melakukan analisis teknikal menggunakan indikator MACD.

    Baca jugaSurvei: Orang Punya Aset Kripto dan NFT Lebih Gampang Dapat Pacar

    Cara Menggunakan Indikator MACD di Aset Kripto

    Akhirnya, kita sampai di bagian cara menggunakan indikator MACD untuk melakukan analisis dan trading aset.

    Indikator MACD adalah alat yang bersifat global, sehingga bisa digunakan dibanyak aset seperti saham, valuta asing (forex), komoditas dan bahkan kripto.

    Karena ini menganut sifat momentum pada harga dan juga pergerakan di masa lampau, maka selama aset tersebut memiliki grafik harga, maka MACD akan dapat digunakan dengan baik.

    Untuk penggunaannya, berikut kita ambil contoh untuk analisis teknikal pada koin utama kita, Bitcoin (BTC).

    Pada contoh ini, kami menggunakan grafik harga Bitcoin dalam time frame mingguan, alias weekly.

    Untuk melakukan analisis teknikal dan trading menggunakan indikator MACD ini sangat mudah dan sederhana.

    Titik utama dalam menentukan sinyal tren adalah saat MACD line memotong signal line, di mana arah MACD line yang menjadi dasaran untuk arah harga.

    Misalkan, jika melihat indikator MACD pada gambar, di kotak sell, MACD (garis biru) memotong signal line ke arah bawah, yang artinya posisi jual (sell) siap untuk diambil karena menjadi tren bearish.

    Begitupun sebaliknya, saat MACD memotong signal line ke arah atas, maka posisi buy siap untuk diambil karena menjadi tren bullish.

    Untuk meningkatkan akurasi, kita bisa mengkombinasikan dengan histogram, yakni saat bar memasuki titik nol (0).

    Misalkan, pada kotak buy pada gambar, histogram menyusut dari warna merah ke titik nol dan beralih ke bar hijau. Ini adalah momen yang tepat jika terjadi pemotongan MACD line.

    Pada kotak buy, MACD line memotong signal line ke arah atas dan histogram beralih dari bar merah ke bar hijau. Ini memperkuat sinyal beli (buy) yang terbukti dengan kenaikan harga yang cukup manis untuk memberikan keuntungan.

    Pada bagian “tanda tanya” pada gambar, ini adalah tugas Anda untuk memprediksi arah harga menggunakan MACD. Apakah akan membentuk sinyal buy dalam beberapa minggu ke depan atau justru bearish kembali berlanjut.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com