Tag: budget a

  • Eksplorasi Wisata Cirebon, Mulai dari Wisata Religi hingga Sports Tourism



    Jakarta

    Cirebon memiliki beragam destinasi wisata, mulai dari wisata religi, budaya, hingga sports tourism. Kuliner di Cirebon juga tidak bisa diabaikan.

    Dikutip dari situs kemendikbud, menurut P.S. Sulendraningrat dalam Sejarah Cirebon (1985), nama Cirebon diambil dengan pendekatan terminologi ekonomi, yakni Cai Rebon, yaitu air produksi udang rebon atau terasi. Bahkan, produksi terasi sampai kini masih dipertahankan masyarakat Cirebon terutama di Pesisir Kecamatan Harjamukti dan Mundu.

    Udang rebon hasil tangkapan kemudian diolah menjadi berbagai makanan termasuk terasi dan petis. Kini, olahan itu menjadi salah satu ciri khas olahan udang asal Cirebon dan menjadi oleh-oleh setelah pelesiran dari kota itu.


    Sebagai penghasil udang, Cirebon pun dijuluki sebagai kota udang.

    Wisata Kuliner

    Cirebon memiliki banyak kuliner khas. Mulai dari empal gentong, nasi jamblang, pedesan entog, nasi lengko, hingga es cuwing.

    Di antara kuliner itu, empal gentong yang amat lekat dengan Cirebon. Salah satu warung makan empal gentong legendaris di Cirebon adalah Empal Gentong Mang Darma (EGMD) yang sudah berdiri sejak 70 tahun lalu.

    Dikutip dari laman resmi Empal Mang Darma, ada tiga lokasi Empang Gentong Mang Darma, cabang satu di Jalan Inspeksi Nomor 7 depan stasiun kereta api. Kemudian, cabang kedua di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 23 Cirebon (pindahan dari sebelah Bank BTN Krucuk) dan cabang tiga di Jalan Jendral Sudirman Nomor 236 Ciperna, Kecamatan, Talun, Kabupaten Cirebon (Samping SD 2).

    Selain terkenal karena penghasil udang, Cirebon juga terkenal dengan sebutan lainnya yakni Kota Wali. Sebutan ini merujuk pada dahulu Cirebon menjadi salah satu titik penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya kawasan Jawa Barat.

    Wisata Religi

    Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Cirebon, Senin (27/5/2024), tokoh yang berperan besar dalam persebaran agama Islam di Jawa Barat adalah Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal Sunan Gunung Jati. Lahir di Mekah pada tahun 1448 dari ayah yang bernama Syarif Abdullah dan ibu bernama Nyai Rara Santang, sang ibu merupakan putri dari Raja Pajajaran.

    Singkatnya, Syekh Syarif Hidayatullah menjadi Raja Cirebon kemudian mendapatkan gelar Maulana Jati dan sampai saat ini dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Beliau wafat di tahun 1568, peninggalannya pun hingga kini menjadi magnet untuk destinasi wisata religi.

    Berikut beberapa wisata religi yang bisa kamu coba saat melancong ke Kota Cirebon.

    1. Makam Sunan Gunung Jati

    Makam sang penyebar agama Islam ini terletak di Jalan Alun-alun Ciledug No. 53, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lalu lalang pengunjung yang ingin berziarah ke makam Sunan Gunung Jati ini tak pernah sepi setiap harinya dan makam tersebut jadi salah satu destinasi wisata religi yang paling sering dikunjungi di Kota Cirebon.

    2. Masjid Agung Cipta Rasa

    Masjid ini dibangun pada saat kepemimpinan Sunan Gunung Jati di tahun 1498, masjid ini berada di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. Masjid Agung Cipta Rasa ini juga disebut sebagai masjid tertua di Cirebon, selain itu bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang begitu kental.

    Peranan penting Sunan Gunung Jati dalam memprakarsai pembangunan masjid ini tak lepas dari bantuan beberapa pihak seperti penunjukan Sunan Kalijaga oleh Sunan Gunung Jati yang ditunjuk sebagai arsiteknya.

    Konon, masjid itu dibangun hanya dalam satu malam saja dan dulu masyarakat Cirebon juga menamai masjid ini dengan sebutan Masjid Pakungwati karena terletak dalam komplek Keraton Pakungwati.

    Wisata Budaya

    Salah satu peninggalan sejarah yang tak boleh luput dari Kota Cirebon salah satunya adalah Keraton Kasepuhan. Keraton Kasepuhan dulu menjadi pusat pemerintahan bagi Kesultanan Cirebon.

    Di dalam bangunan itu masih menyimpang berbagai pusaka-pusaka bersejarah warisan budaya Cirebon. Di dalam keraton ini terdapat banyak bangunan dan memiliki nama dan fungsi masing-masing. Di antaranya bangunan di bagian depan keraton yang dinamai Mande Semar Tinandu, Mande Malang Semirang, Mande Karesman, dan Mande Pandawa Lima.

    Selain itu, terdapat dua buah patung macam putih. Dua patung macan putih itu merupakan simbol bagi Kesultanan Cirebon.

    Selain itu, Keraton Kasepuhan juga memiliki sebuah museum yang menyimpan berbagai macam pusaka bersejarah peninggalan Kesultanan Cirebon. Salah satunya adalah Kereta Singa Barong.

    2. Goa Sunyaragi atau Taman Sari Sunyaragi

    Goa ini berada di tengah kota Cirebon. Fasadnya mencolok di antara permukiman dan di tepi jalan raya.

    Fasad goa ini merupakan perpaduan dinding batu dengan alam pepohonan di sekitarnya yang berwarna hijau.

    Gua Sunyaragi merupakan sebuah situs bersejarah di Kota Cirebon. Nama Sunyaragi berasal dari kata sunya yang berarti sepi dan ragi artinya raga. Sebab, goa ini dulu digunakan oleh para Sulta Cirebon untuk meditasi mengatur strategi perlawanan terhadap Belanda.

    Jika ingin berkunjung, lokasi Goa Sunyaragi berada di Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat. Jaraknya dari pusat Kota Cirebon sekitar 2,4 kilometer (km) atau 8 menit berkendara

    Sports tourism

    Dikutip dari Antara, Pemerintah Kota Cirebon saat ini sedang mengembangkan sports tourism yang ditandai dengan ajang balap sepeda ‘Cycling de Jabar 2024’ (25/5). Pj Wali Kota Cirebon Agus Mulyadi mengatakan perhelatan itu sebagai ajang promosi bagi pariwisata di Cirebon karena mampu memperkenalkan destinasi menarik melalui sajian olahraga.

    Para pegowes start dari Balai Kota Cirebon, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon dan finis di Pangandaran. Dengan ajang balap sepeda itu, setidaknya jalan raya Cirebon wajib mulus agar peserta tidak terhambat saat gowes.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tumpeng Menoreh, Restoran di Atas Bukit Milik Vokalis Band Endank Soekamti



    Kulon Progo

    Tumpeng Menoreh bukan tempat makan biasa. Restoran ini berada di tiga kawasan dan menawarkan view sembilan gunung.

    Tumpeng Menoreh tercatat secara administrasi berada di Desa Wisata Nglinggo, Kulon Progo, Yogyakarta. Tetapi, karena terletak di perbatasan, restoran itu masuk dalam tiga kawasan, yakni Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo.

    Restoran itu sekaligus menjadi objek wisata dengan fasilitas lengkap, mulai dari restoran hingga penginapan dan glamping.


    “Ciri khas Tumpeng Menoreh menonjolkan best sunrise di sisi bagian timur. Kalau cerah bisa melihat pemandangan 9 gunung, Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Slamet, dan gunung gunung kecil seperti Telomoyo dan Andong,” kata Udin, manager Tumpeng Menoreh dalam perbincangan dengan detikTravel, Senin (27/5/2024).

    Di sini traveler akan dimanjakan dengan pemandangan barisan bukit yang membentang dan lembah yang luas. Memang paling cocok jika berkunjung kemari adalah saat pagi hari atau berburu sunrise, bahkan jika beruntung traveler bisa menyaksikan lautan awan.

    Tumpeng Menoreh berdiri di atas Gunung Kukusan dan Gunung Lancip.

    Penamaan Tumpeng Menoreh diambil dari bentuk gunung yang mengerucut bak tumpeng serta sebagai ucapan rasa syukur masyarakat dalam menarik minat wisatawan yang datang.

    Dibuka selama 24 jam, Tumpeng Menoreh merupakan hasil inovasi warga sekitar justru saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak warganya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak. Restoran itu diinisiasi oleh Melki dan musikus ternama Erix Soekamti, vokalis band Endank Soekamti, serta warga lokal.

    “Pembangunanya membutuhkan waktu enam bulan untuk restoran dan dek. Semua material diangkat naik ke bukit manual oleh warga lokal,” kata Udin.

    Dengan misi utama sebagai pemberdayaan warga, Tumpeng Menoreh selalu melibatkan warga Desa Wisata Nglinggo. Tercatat seluruh karyawan 100% merupakan warga asli desa sekitar. Serta khusus untuk Restoran Tumpeng Menoreh, makanan disajikan oleh ibu-ibu warga sekitar.

    “Makanan di restoran Tumpeng Menoreh berasal dari warga. Jadi daro setiap pagi jam 07.00 ibu-ibu warga mengantarkan makanan ke sini. Adapun, untuk Tumpeng Ayu makanan dimasak langsung oleh kokinya,” kata Udin.

    Bangunan destinasi ini berbentuk Piramid dengan bertumpu pada batuan gunung. Di area bawah traveler akan menemukan parkir, Kereta gantung, dan Playland.

    Kemudian, naik sedikit akan bertemu dengan Restoran dan selasar yang tersedia banyak meja kursi untuk menikmati pemandangan. Di bagian paling atas terdapat Rooftop dengan pemandangan 360 derajat beralaskan rumput sintetis, cocok untuk mengobrol santai dengan orang tersayang.

    Ada pula vila di bagian bawahnya. Serta terdapat area khusus bernama Tumpeng Ayu. Menariknya, untuk menuju area tersebut traveler perlu melewati inclinator lift elektrik.

    “Kami inovasi utamanya memang fasilitas berbasis elektrik yang digarap langsung oleh warga lokal dan dipimpin oleh Pak Melki,” Kata Udin.

    Inovasi-inovasi tersebut membuahkan sejumlah prestasi mulai dari kereta gantung elektrik pertama di Jogja serta inclinator lift elektrik terpanjang dan pertama di Jogja. Selain itu ada pula infinity pool pertama di bukit yang ada di kawasan Jogja.

    Menuju lokasi Tumpeng Menoreh memang memerlukan usaha ekstra atas kendaraan yang traveler naiki. Selain karena lokasinya yang berada di kawasan bukit, jalan yang ada memiliki lebar yang tidak terlalu luas.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Melihat Bekas Rumah Laksamana Muda Maeda yang Kini Jadi Munasprok



    Jakarta

    Wisata sejarah di Jakarta begitu berlimpah. Salah satunya adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok). Mari simak kisah bekas rumah Laksamana Maeda!

    Di tempat ini, traveler bisa napak tilas tentang perencanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang digaungkan oleh para tokoh Indonesia kala itu.

    detikTravel mengunjungi bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Laksamana Muda Maeda berperanan penting dalam perumusan proklamasi kemerdekaan Indonesia.


    Ia memberikan izin kepada Ir. Sukarno dan tokoh lainnya untuk menggunakan rumah tersebut sebagai tempat untuk merumuskan naskah proklamasi. Rumah dengan luas sekitar 1.138 meter persegi dan terdiri dari dua lantai ini memberikan banyak informasi terkait proses tersebut.

    Di lantai dasar terdapat beberapa ruangan penting yang dipakai pada saat itu seperti meja yang dipakai oleh Laksamana Muda Maeda beserta Ir. Sukarno dan yang lainnya untuk membahas naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    “Bangunan ini terdiri dari dua lantai, nah lantai satu itu kita sebut ada empat ruangan utama dan lantai dua sebenarnya lebih kepada fungsinya. Jadi semua proses perumusan naskah proklamasi itu terjadi di lantai satu,” kata educator Munasprok Aidil Fitra kepada detikTravel, Rabu (22/5/2024).

    Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

    Sembari menerangkan dan menjelajahi ruangan demi ruangan, Aidil menjelaskan pada saat Laksamana Muda Maeda menempati bangunan ini, lantai dua memang jadi area privat sang Laksamana Jepang saat itu. Berbeda dengan lantai satu yang areanya banyak disambangi oleh kolega dan tamu-tamunya pada saat itu.

    Dalam museum ini pengunjung juga bisa merasakan dan melihat bagaimana proses demi proses para tokoh bangsa dalam merumuskan naskah proklamasi, terlebih saat berada di lantai satu museum.

    “Ruangan di lantai satu itu memang memang kita atur ruangan-ruangannya berdasarkan tempat-tempat yang menjadi urutan peristiwanya itu seperti ini ruang tamu atau ruang pertemuan,” kata Aidil.

    Kemudian dilanjut ke ruang perumusan, di sinilah ketiga tokoh nasional ini merumuskan naskah, ada Ir. Sukarno, Moch. Hatta, dan Ahmad Soebardjo.

    Di ruang makan ini terdapat meja makan yang kerap dipakai oleh Laksamana Muda Maeda, karena Ir. Sukarno meminta ruangan khusus untuk merumuskan naskah maka meja makan ini pun jadi ruang khususnya.

    “Jadi naskah proklamasi itu memang dibuat di atas meja makannya Tadashi Maeda,” ujar dia.

    Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

    Aidil melanjutkan dari peristiwa di meja makan ini, Laksamana Maeda lantas meninggalkan ketiga tokoh ini ke ruangannya untuk beristirahat. Jadi tak ada campur tangan pihak lain dalam perumusan naskah ini, Laksamana Muda Maeda hanya memberikan ruangannya saja.

    Sambil bercerita, Aidil pun mengarahkan menuju ruangan di mana teks proklamasi yang telah ditulis oleh Ir. Sukarno diketik ulang oleh Sayuti Melik di ruangan ini. Ia pun menceritakan peristiwa pengetikan ini.

    Setelah selesai mengetik ulang naskah tersebut, Sayuti Melik pun lantas membuang teks berupa tulisan tangan Ir. Sukarno terkait proklamasi.

    Di sinilah peran penting BM. Diah, ia mengambil dan menyimpan tulisan asli tersebut hingga saat ini bisa diketahui tulisan asli Ir. Sukarno pada naskah proklamasi.

    Dilanjut ke ruangan keempat adalah ruang pengesahan. Walaupun tempat ini disebut demikian, Aidil menyebut sebetulnya naskah proklamasi ditandatangani di atas piano yang yang berada di area ruangan ini. Hingga pada akhirnya ruangan ini disebut ruang pengesahan.

    “Karena memang naskah proklamasi itu ditandatangani di atas piano. Jadi karena pianonya terletak di bagian ruangan ini jadi kita sebut dengan ruang pengesahan,” kata Aidil.

    Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

    Bangunan ini resmi dijadikan sebagai museum pada tahun 1992, sementara Laksamana Muda Maeda terakhir menempati rumah dinasnya ini pada tahun 1945. Dan saat itupun Indonesia menerima bangunan ini kembali dalam keadaan yang kosong alias tak ada perabotan sama sekali.

    Pada saat itulah untuk kembali mengingat peristiwa-peristiwa bersejarah ini, pemerintah saat ini mendatangkan mantan asisten rumah tangga Laksamana Muda Maeda yang bernama Satsuki Mishima. Itu untuk memberikan gambaran tata letak dan furniture yang ada pada saat Laksamana Muda Maeda menempati bangunan ini.

    “Nah jadi waktu pengkajian untuk dijadikan museum, tentunya kita butuh sumber utama untuk kita jadikan rujukan jadi ketika itu kita sempat mendatangkan mantan asisten rumah tangga Maeda namanya Nyonya Satsuki Mishima itu didatangkan langsung dari Jepang,” ujar Aidil.

    “Jadi koleksi yang ada di lantai satu semua (barangnya) replika. Replika tapi sesuai dengan bentuk aslinya berdasarkan dari arahan Nyonya Satsuki Mishima tadi,” ujar dia.

    Itulah jejak-jejak peristiwa bersejarah yang berada di Munasprok. Banyak informasi yang akan kamu tahu tentang perumusan naskah proklamasi jika berkunjung ke tempat ini.

    Dengan harga tiket masuk yang murah hanya Rp 1.000 untuk anak-anak dan Rp 2.000 untuk dewasa, kamu sudah bisa merasakan bagaimana suasana bersejarah ini.

    (wsw/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Fakta Kebon Vintage Cars dan Jam Operasional



    Jakarta

    Kebon Vintage Cars Bali di Denpasar, Bali dibuka untuk umum, lho. Jam operasional dan harga tiketnya bisa cek di sini ya.

    Tempat itu menjadi rumah 190 mobil klasik milik Jos Dharmawan, yang seorang pehobi ratusan mobil klasik. Dia mulai hobi mengoleksi mobil klasik sejak 1996.

    Jos mengatakan awalnya ia hanya memiliki sebuah garasi pribadi untuk menyimpan seluruh koleksi mobilnya, kemudian dibuka untuk umum setelah pandemi Covid-19.


    Kini, Kebun Vintage Cars mengoleksi 190 mobil antik. Namun, total mobil antik yang sudah dimiliki oleh Jos sekitar 250 mobil antik. Sebagian sedang disiapkan untuk masuk ke Kebun Vintage Cars.

    Beberapa mobil yang dapat traveler temukan di sini adalah Dodge Brothers Spesial Series 116 Four Door tahun 1924, Austin A90 Atlantic tahun 1949-1952, Packard 200 8 cyline tahun 1951, Cadillac Fleetwood 75 Limousine tahun 1953, serta Volvo 960 Limousine tahun 1991.

    Tak hanya menjadi ‘rumah’ ratusan mobil antik, setiap sudut garasi mobil ini sip banget untuk jadi spot foto.

    Simak fakta-fakta yang menjadi daya tarik Kebon Vintage Cars. Simak juga harga tiket dan jam operasionalnya.

    Daya Tarik Kebon Vintage Cars

    1. Menyimpan 190 Mobil Antik

    Jos, pemilik Kebun Vintage Cars, mulai menggeluti hobi mengoleksi mobil antik pada 1996. Hingga kini, Kebun Vintage Cars sudah mengoleksi 190 mobil antik yang dipajang.

    Tidak semua mobil antik milik Jos disimpan di sana. Dia memiliki 250 mobil antik dan sedang disiapkan mengisi setiap sudut Kebun Vintage Cars.

    Beberapa mobil yang dapat traveler temukan di sini seperti, Dodge Brothers Spesial Series 116 Four Door tahun 1924, Austin A90 Atlantic tahun 1949-1952, Packard 200 8 cyline tahun 1951, Cadillac Fleetwood 75 Limousine tahun 1953, serta Volvo 960 Limousine tahun 1991.

    2. Ada Mobil Berusia 107 Tahun

    Salah satu mobil tertua yang ada di Kebon Vintage Cars adalah Ford model T berwarna biru, keluaran tahun 1917. Uniknya lagi, mobil berwarna biru yang sudah berusia 107 tahun itu masih bisa menyala dan digunakan.

    3. 50% Mobil Masih Menyala

    Dari 190 mobil yang ada di Kebon Vintage Car, 50% mobil masih bisa menyala dan 30% mobil di sini juga masih bisa digunakan. Bahkan, tak jarang mobil-mobil antik ini dibawa untuk mengikuti touring ke berbagai daerah.

    “Nah mobil di sini 50% masih bisa hidup, tapi untuk yang bisa hidup dan jalan itu 30% dari semua mobil. Kadang kita bawa untuk touring juga, tapi akan dicek dulu kondisinya agar aman jika dibawa touring jauh,” kata Jos.

    4. Simpan Mobil Milik Ibu Negara Indonesia, Fatmawati

    Beberapa mobil antik yang dipajang di Kebon Vintage Cars Bali memiliki kisah tersendiri. Salah satunya mobil berwarna hitam dengan merek Plymouth Hudson Hornet keluaran tahun 1948.

    Pada Surat BPKB nya tertera nama Fatmawati yang merupakan istri presiden RI pertama, Sukarno. Mobil ini didapatkan oleh Jos pada tahun 2006 dengan harga Rp 9 juta.

    5. Spot Foto Estetik

    Menampilkan ratusan mobil antik dengan warna dan bentuk yang beragam, membuat Kebun Vintage Cars juga cocok untuk spot foto. Tak hanya mobil, traveler juga akan menemukan beberapa barang antik.

    Jos menyebut setiap sudut Kebun Vintage Cars sangat oke menjadi spot foto. Namun ia merekomendasikan beberapa spot, seperti di bagian outdoor terdapat beberapa mobil jeep dengan latar belakang drum dan dekat dengan box-box telepon zaman dulu.

    Ruangan di Kebon Vintage Cars

    Kebon Vintage Cars memiliki luas sekitar 8 are dan memiliki beberapa ruangan yang menjadi garasi bagi mobil-mobil klasik koleksi Jos Dharmawan. Mulai dari Hall 1, hall 2, hall 3, dan bagian outdoor.

    Setiap ruangan memiliki koleksi mobil yang berbeda, sesuai dengan tahun dan mereknya. Ada hall khusus mobil pre-warr, hall khusus tahun 1940 hingga 1948, tahun 1950 hingga 1957, hall khusus truk, hingga hall khusus Chevrolet, dan hall khusus jeep.

    Menurut Jos, isi dari setiap hall juga akan diubah atau dirotasi setiap tiga bulan. Jadi traveler akan menemukan konsep Kebon Vintage Cars yang berbeda setiap tiga bulan.

    Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Masuk

    Garasi mobil klasik ini berlokasi tak jauh dari pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tegal Harum No 13, Biaung, Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

    Untuk melihat berbagai koleksi mobil antik ini, setiap pengunjung dikenakan harga Rp 100.000 untuk dewasa, Rp 50.000 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak di bawah enam tahun.

    Kebon Vintage Cars buka setiap hari, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WITA. Jos mengatakan bagi traveler yang berkunjung diperkenankan untuk menyentuh mobil. Namun dilarang untuk naik atau masuk ke dalam mobil, untuk menghindari kerusakan.

    Sudah tau kan ada apa saja di Kebon Vintage Cars? Bagi traveler penghobi otomotif dan kolektor mobil klasik, Kebon Vintage Cars surganya mobil klasik. Jangan lupa selalu patuhi aturan ya traveler!

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • 22 Tempat Wisata Modern di Jakarta Ini Patut Kamu Kunjungi


    Jakarta

    Jakarta penuh dengan tempat wisata yang bisa memuaskan penduduk Jakarta maupun traveler yang sedang berkunjung. Jakarta yang terus berbenah dan berkembang pun menjadi kaya akan tempat wisata modern.

    Sebagian dari tempat wisata modern tersebut sudah berdiri sejak lama dan terus diperbarui. Ada juga yang baru muncul akhir-akhir ini.

    Banyaknya destinasi wisata modern di Jakarta membuat detikers tak akan kehabisan tempat untuk dikunjungi.


    Tempat Wisata Modern di Jakarta

    Berikut beragam tempat wisata modern di Jakarta yang seru untuk dikunjungi. Perlu diingat, jam operasional dan harga tiket masuknya dapat berubah sewaktu-waktu.

    1. Hutan Kota GBK

    Warga mengunjungi Hutan Kota GBK, Jakarta, Selasa (25/4/2023) di hari terakhir cuti bersama.Foto: Andhika Prasetia

    Mengutip situs resmi Kementerian Sekretariat Negara, dulunya Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK) merupakan area komersil, yaitu Senayan Golf Driving Range seluas 4,5 hektar. Pada tahun 2016, tempat ini disulap menjadi area hijau terbuka di tengah Jakarta.

    Visinya adalah menjadikan Hutan Kota GBK sebagai kawasan olahraga terintegrasi, modern, ramah lingkungan, dan unggul di dunia.

    Hutan Kota GBK beralamat di Pintu Tujuh Senayan, Jalan Jenderal Sudirman, RT.1/RW.3, Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

    Hutan Kota GBK buka dari hari Selasa hingga Minggu, pukul 06.00 sampai 10.00. Lalu buka lagi dari pukul 15.00 sampai 18.00.

    Masuk ke sini pun gratis, lho. Detikers bisa menjadikan Hutan Kota GBK sebagai tempat menghirup udara segar di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

    2. Taman Ismail Marzuki

    Taman Ismail Marzuki: Sejarah, Lokasi, Fasilitas, Cara BerkunjungFoto: Rifkianto Nugroho

    Taman Ismail Marzuki kerap mengadakan berbagai macam acara kesenian dan kebudayaan sehingga cocok bag detikers yang ingin berwisata sambil mengapresiasi seni dan budaya.

    Pengunjung juga bisa menikmati berbagai fasilitas, seperti perpustakaan dan wisma seni, teater halaman, sampai planetarium.

    Letak Taman Ismail Marzuki yang biasa disebut TIM ini adalah di Jalan Cikini Raya No. 73, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

    Menurut akun Instagram resminya, Taman Ismail Marzuki buka setiap hari dari pukul 09.00 sampai 20.00. Biaya masuk pun gratis dan tanpa registrasi, kecuali untuk acara-acara tertentu.

    3. Taman Suropati

    Taman Suropati, Menteng, JakartaFoto: Natasha Kayla Ananta/detikcom

    Destinasi wisata modern Jakarta selanjutnya adalah Taman Suropati yang bisa jadi tempat jogging, bersepeda, atau sekadar berkumpul dengan teman sambil menikmati udara segar serta pemandangan tanaman dan hamparan rumput hijau.

    Mengutip Jakarta Tourism, taman ini juga semakin hidup karena kehadiran berbagai komunitas. Komunitas seni dan olahraga adalah dua kelompok utama yang sering menggunakan taman ini sebagai tempat berkumpul.

    Lokasi Taman Suropati adalah di Jalan Taman Suropati No. 5, RT.5/RW.5, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

    Taman Suropati terbuka untuk umum secara gratis dan dibuka dari jam 07.00 sampai 17.00.

    4. Taman Patung Diponegoro

    Taman Patung Diponegoro, Jakarta, tampak dirawat dengan baik. Taman ini indah dan asri serta banyak dihuni oleh kupu-kupu.Foto: Agung Pambudhy

    Tak jauh dari Taman Suropati, terdapat satu taman lain, yaitu Taman Patung Diponegoro.

    Taman Patung Diponegoro adalah taman tematik berukuran kecil yang dikelilingi oleh tanaman warna-warni serta jalur jalan kaki yang kecil. Di tengah taman berdiri patung ikonik, yaitu patung perunggu Pangeran Diponegoro berkuda.

    Taman ini juga memiliki kolam biru kecil tepat di bawah patung. Lokasinya yang kecil membuat taman ini jadi tempat bersinggah saja, tetapi tetap bisa menjadi spot foto yang menarik. Taman ini terletak di Jalan Imam Bonjol No.1, RT.5/RW.5, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

    5. Taman Margasatwa Ragunan

    Suasana Ragunan di long weekend (Taufiq Syarifudin/detikcom)Foto: Taufiq Syarifudin/detikcom

    Taman zoologi ini dikenal juga dengan Kebun Binatang Ragunan. Awalnya dibangun pada tahun 1864 di Cikini, taman ini kemudian pindah ke Ragunan pada tahun 1964.

    Dengan area seluas 147 hektar, kebun binatang ini menjadi rumah bagi lebih dari 2000 hewan dari Indonesia dan seluruh dunia, mewakili lebih dari 270 spesies. Taman ini juga ditumbuhi lebih dari 20.000 pohon.

    Taman Margasatwa Ragunan terletak di Jalan Harsono RM. No. 1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Taman ini buka setiap hari kecuali hari Senin dari jam 07.00 sampai 16.00.

    Harga tiket masuknya pun sangat terjangkau. Menurut situs resminya, harga tiket masuk orang dewasa adalah Rp 4000 per orang. Sementara anak-anak cukup membayar Rp 3000 per orang untuk tiket masuk.

    6. Senayan Park

    Pengunjung melihat pemandangan dari Skywalk Senayan Park, Jakarta, Senin (27/12/2021). Kawasan tersebut menjadi salah satu objek wisata ibu kota yang ramai dikunjungi oleh warga dengan menyajikan pemandangan lanskap perkotaan. ANTARA FOTO/Fauzan/hp.Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN

    Senayan Park adalah mall yang bisa jadi tujuan detikers yang suka wisata belanja dan kuliner. Mall yang disingkat Spark ini juga hits karena memiliki skywalk yang estetik di rooftopnya.

    Mengutip situs resminya, 60% dari total area Spark adalah area outdoor. Terdapat juga danau di mana pengunjung bisa menikmati sunset di tengah-tengah kota.

    Lokasi Senayan Park adalah di Jalan Gerbang Pemuda No.3, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mall ini buka dari jam 10.00 hingga 22.00.

    7. Playtopia Adventure Senayan Park

    Biasanya Playtopia adalah area bermain untuk anak. Tetapi di Playtopia Senayan Park, orang dewasa pun bisa ikut bermain, lho. Playground ini terletak di lantai 1 Mall Senayan Park. Jika detikers mencari playground untuk tempat bermain sekeluarga, tempat wisata yang satu ini patut dikunjungi.

    Menurut akun Instagram resminya, harga tiket masuk Playtopia Adventure Senayan Park adalah Rp 150.000 dari hari Senin sampai Kamis, dan Rp 180.000 untuk hari Jumat sampai Minggu dan hari libur nasional. Harga ini berlaku untuk bermain selama 2 jam.

    8. Tebet Eco Park

    Suasana Tebet Eco Park (Taufiq/detikcom)Foto: Taufiq/detikcom

    Tebet Eco Park adalah taman kota yang cukup baru. Menurut situs resminya, taman ini mengusung konsep harmonisasi antara fungsi ekologi, sosial, edukasi dan rekreasi.

    Terdapat 8 zona di Tebet Eco Park, semuanya dirancang untuk mengambil peran penting dalam keberlangsungan lingkungan dan interaksi sosial, mulai dari menjaga kualitas alamiah lingkungan hingga meningkatkan kualitas hidup pengunjung dan masyarakat sekitarnya.

    Tebet Eco Park terletak di Jalan Tebet Barat Raya, RT.1/RW.10, Tebet Bar., Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Waktu beroperasinya setiap hari dari pukul 06.00 sampai 11.00, lalu dari pukul 13.00 sampai 18.00. Masuk ke taman ini tak dipungut biaya.

    9. Mall Taman Anggrek

    Pengunjung mal harus sudah divaksin di Mall Taman AnggrekFoto: Karin Nur Secha/detikcom

    Mall Taman Anggrek menjadi alternatif destinasi wisata bagi yang suka berbelanja. Tak hanya tenant untuk berbelanja, mall ini juga memiliki daya tarik berupa tempat ice skating yang bisa dinikmati sekeluarga atau bersama teman.

    Mall Taman Anggrek terletak di Jalan Letjen S. Parman No.Kav 21, RT.12/RW.1, Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

    Menurut akun Instagram resminya, waktu beroperasinya adalah setiap hari dari pukul 10.00 hingga 22.00.

    10. Taman Kota Cattleya

    Setelah puas berbelanja di Mall Taman Anggrek, Taman Kota Cattleya bisa menjadi destinasi wisata selanjutnya.

    Taman ini dapat digunakan sebagai tempat hang out, berfoto, jogging, hingga sarana rekreasi keluarga. Pengunjung bisa menikmati berbagai jenis tanaman hias dan pohon yang tumbuh di sekitar taman, sehingga taman ini juga jadi tempat hunting foto yang Instagrammable.

    Letak Taman Kota Cattleya adalah persis di seberang Malll Taman Anggrek, lebih tepatnya di Jalan Letjen S. Parman RT.15/RW.1, Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat. Taman ini buka dari pukul 07.00 hingga 22.00.

    11. TWA Mangrove Angke Kapuk

    mangroveFoto: Wahyu/detikTravel

    Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove Angke Kapuk adalah kawasan konservasi mangrove yang juga berfungsi sebagai tempat wisata dan rekreasi alam. Tak hanya konservasi mangrove, ada berbagai fauna yang bisa ditemukan di TWA Mangrove Angke Kapuk ini.

    Pengunjung juga bisa menikmati wisata air dan bahkan mengikuti aktivitas penanaman dan konservasi mangrove.

    Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk beralamat di Kamal Muara, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Menurut situs resminya, jam operasionalnya adalah pukul 09.00 sampai 17.00 untuk hari kerja dan pukul 08.00 sampai 17.00 di akhir pekan.

    Untuk harga tiket, orang dewasa dikenakan biaya Rp 30.000 per orang pada hari kerja, dan Rp 35.000 per orang pada akhir pekan dan hari libur nasional. Bagi anak-anak, harga tiketnya sebesar Rp 15.000 per orang untuk hari kerja dan Rp 20.000 per orang pada akhir pekan dan hari libur nasional.

    12. Setu Babakan

    Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan, Jakarta, menjadi wisata edukasi mengenai sejarah Betawi. Yuk lihat.Foto: Muhammad Lugas Pribady

    Setu Babakan bisa menjadi alternatif destinasi wisata bagi pengunjung yang suka mempelajari budaya, khususnya budaya Betawi.

    Mengutip situs resminya, di sini pengunjung bisa berinteraksi dengan budaya Betawi melalui kesenian, adat istiadat, pakaian, hingga kuliner yang bisa ditemukan di kampung budaya ini. Wilayah Setu Babakan juga memiliki 2 danau yang menjadi sarana wisata air.

    Setu Babakan terletak di Jalan RM. Kahfi II, RT.13/RW.8, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jam operasionalnya dari pukul 08.00 hingga 17.00 setiap hari. Tak ada tiket masuk untuk mengunjungi tempat wisata ini.

    13. Pos Bloc

    Empat warga bersantai di kawasan Gedung Filateli Pos Bloc, Jakarta, Senin (11/3/2024). Berdasarkan keputusan Gubernur DKI Jakarta Nonor 475 Tabun 1993, Gedung Filateli Jakarta telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan digunakan sebagai ruang kreatif dan tempat nongkrong yang bernama Pos Bloc. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/wpa.Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

    Pos Bloc cocok jadi tempat hang out dengan estetika yang unik. Sebab, tempat ini memanfaatkan Gedung Pos yang dialihfungsikan menjadi ruang publik. Terdapat berbagai kedai makanan dan tempat nongkrong yang bisa jadi pilihan anak muda.

    Alamat Pos Bloc yakni berada di Jl. Pos No. 2, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

    Berdasarkan akun Instagram resminya, Pos Bloc beroperasi dari pukul 10.00 sampai 22.00 pada hari kerja dan pukul 07.00 sampai 24.00 pada akhir pekan. Tidak ada tiket masuk untuk nongkrong di tempat wisata yang satu ini.

    14. Neo Soho

    Neo Soho adalah shopping center modern yang cocok sebagai destinasi wisata belanja dan kuliner. Mall ini memiliki 8 lantai yang penuh dengan tenant untuk shopping, entertainment, kuliner, dan lain-lain.

    Neo Soho terletak di Jalan Let. Jend. S.Parman Kav. 28, Kel. Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Berdasarkan akun Instagram resminya, waktu beroperasi Neo Soho adalah dari pukul 10.00 hingga 22.00.

    15. Jakarta Aquarium Safari

    Pengunjung beraktivitas di Jakarta Aquarium & Safari, Jakarta, Sabtu (25/5/2024).Foto: Rifkianto Nugroho

    Jakarta Aquarium Safari adalah akuarium indoor terbesar di Indonesia. Mengutip situs resminya, pengunjung bisa melihat lebih dari 3500 spesies hewan akuatik dan non-akuatik. Pengunjung bahkan bisa berinteraksi langsung dengan hewan-hewan tersebut.

    Pengunjung juga bisa menikmati pertunjukan dan atraksi hewan. Terdapat juga restoran serta gift shop untuk kenang-kenangan.

    Jakarta Aquarium Safari terletak dalam Mall Neo Soho, tepatnya di Podomoro City Floor. Jam operasionalnya adalah dari pukul 10.00 hingga 21.00 setiap harinya.

    Tiket masuk ke Jakarta Aquarium Safari berbeda-beda tergantung hari dan fasilitas reguler dan premium yang bisa didapatkan. Harga tiketnya dimulai dari Rp 142.500 untuk orang dewasa dan Rp 109.250 untuk anak-anak.

    16. Museum Macan

    Museum MACANFoto: Chelsea Olivia/detikcom

    Museum Macan merupakan singkatan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Museum ini menyimpan berbagai karya seni modern dan kontemporer yang memanjakan mata.

    Museum Macan terletak di AKR Tower Level M, Jalan Panjang No.5, Kb. Jeruk, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

    Menurut situs resminya, waktu operasionalnya adalah hari Selasa sampai Minggu, mulai pukul 10.00 hingga 18.00. Harga tiket berbeda-beda tergantung pameran yang sedang diselenggarakan.

    17. Moja Museum

    Museum MOJA di GBK.Foto: @mojamuseum/Instagram

    Moja Museum merupakan salah satu wisata malam di Jakarta Pusat. Museum ini mengusung konsep yang kekinian dengan 14 ruangan warna-warni yang dijelajahi dengan menggunakan sepatu roda.

    Alamatnya yaitu di Zona Biru 8-9, RT.1/RW.3, Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

    Mengutip situs resminya, harga tiket setiap ekshibisi berbeda-beda serta tergantung hari, dimulai dari Rp 125.000. Jam operasional Moja Museum dari Senin sampai Minggu mulai pukul 11.00 sampai 19.30.

    18. M Bloc Space

    Ruang publik M Bloc Space telah kembali dibuka untuk umum. Salah satu tempat nongkrong milenial ini sebelumnya ditutup imbas pandemi COVID-19.Foto: Grandyos Zafna

    Tempat wisata modern di Jakarta selanjutnya adalah M Bloc Space yang juga penuh mural dan karya seni. Tempat ini juga terkadang menjadi tempat diselenggarakannya berbagai event, mulai dari talk show sampai konser live music.

    M Bloc Space terletak di Jalan Panglima Polim Nomor 37, RW 1, Melawai, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Menurut akun Instagram resminya, M Bloc Space beroperasi dari jam 09.00 sampai 24.00 setiap hari. Tetapi, waktu beroperasi tenant F&B di sini bisa berbeda-beda.

    19. Museum Bahari

    Jelajahi Sejarah Jakarta di Museum BahariFoto: Tiara Rosana/detikcom

    Menurut situs resmi Asosiasi Museum Indonesia, Museum Bahari menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Misalnya, terdapat koleksi perahu tradisional beragam bentuk hingga miniatur kapal-kapal modern.

    Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara.

    Menurut akun Instagram resminya, harga tiket masuk Museum Bahari bagi orang dewasa adalah Rp 10.000 pada hari kerja dan Rp 15.000 pada akhir pekan. Bagi pelajar dan mahasiswa, harga tiket masuknya adalah Rp 5000 per orang setiap harinya.

    Museum Bahari tutup pada hari Senin dan beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu, pukul 08.00 sampai 15.00.

    20. Sarinah

    Kondisi Sarinah malam iniFoto: Dwi/detikcom

    Tempat wisata modern di Jakarta selanjutnya adalah Sarinah, destinasi perbelanjaan dan kuliner di Jakarta Pusat. Menurut situs resminya, Sarinah adalah department store modern pertama di Indonesia yang beroperasi sejak tahun 196.

    Di sini pengunjung bisa melihat eskalator pertama di Indonesia, lho. Turis lokal dan mancanegara juga bisa membeli berbagai produk buatan lokal, mulai dari busana hingga pajangan rumah.

    Alamat Sarinah yakni di Jalan M. H. Thamrin 11, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Sementara waktu beroperasinya adalah pukul 07.00 sampai 22.00, dikutip dari akun Instagram resminya.

    21. Taman Mini Indonesia Indah

    Sejumlah wisatawan mengantre menaiki kendaraan pengantar ke anjungan-anjungan provinsi dan museum di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (12/4/2024). Pada hari ketiga lebaran, TMII diprediksi dipadati lebih puluhan ribu orang wisatawan yang akan datang.Foto: Grandyos Zafna

    Menurut situs resminya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) diresmikan pada tahun 1975 sebagai kawasan pelestarian dan pengembangan budaya bangsa. Keragaman provinsi-provinsi di Indonesia dikemas dalam bentuk miniatur kepulauan Nusantara dan berbagai anjungan daerah.

    Alamat TMII yakni di Jalan Raya Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. TMII beroperasi setiap hari dari pukul 06.00 sampai 20.00. Harga tiketnya adalah Rp 35.000 per orang.

    22. Central Park

    Menurut situs resminya, Central Park diresmikan pada tahun 2009 sebagai bagian dari Integrated Mega Projects Podomoro City. Mall ini memiliki beragam tenant untuk shopping, entertainment, dan kuliner yang bisa memuaskan keinginan pengunjung.

    Central Park terletak di Jalan Letjen S. Parman No.Kavling 28, Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Jam operasionalnya dari pukul 10.00 hingga 22.00.

    Jakarta memiliki tempat wisata modern yang tak habis-habisnya. Apakah detikers tertarik mengunjungi tempat-tempat wisata di atas?

    (fds/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ada Luka dan Makna Filosofis di Monumen Tragedi 12 Mei 1998 Universitas Trisakti



    Jakarta

    Menjulang kokoh di depan Universitas Trisakti (Usakti), Monumen Tragedi 12 Mei 1998 menjadi simbol pergolakan sejarah bangsa. Lebih dari sekadar tugu peringatan, monumen ini memancarkan filosofis yang mendalam tentang makna reformasi dan perjuangan demokrasi.

    Di balik megahnya arsitektur karya Muchrifin, ST dan ir. Mohammad Deny Hermawan monumen itu menyimpan luka mendalam tragedi Mei 1998. Empat mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur ditembak aparat keamanan.

    Monumen itu berdiri sebagai pengingat akan kekejaman dan pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi, sekaligus menjadi luka bangsa yang tak boleh terlupakan.


    detikTravel menyusuri gedung dan jejak sejarah di kawasan Grogol, Jakarta Barat itu bersama Keluyuran Ngopi Jakarta. Dalam penjelajahan itu, disampaikan pula makna filosofis Monumen Tragedi 12 Mei 1998.

    Berikut 6 makna filosofis dari Monumen Tragedi 12 Mei 1998:

    4 pilar gambarkan jumlah korban

    Pada monumen tersebut terdapat 4 buah pilar pipih yang menggambarkan jumlah korban asal Universitas Trisakti yang meninggal dunia dari peristiwa tersebut. Korban-korban tersebut ialah yakni Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan.

    Memiliki pilar dengan tinggi 10-12 meter

    Tinggi pada pilar-pilar tersebut juga dibuat berbeda-beda mulai dari 10-12 meter. Tinggi pilar itu menggambarkan runtutan tanggal peristiwa yang terjadi mulai tanggal 10 Mei 1998 dan puncaknya yang terjadi pada 12 Mei 1998 yang membuat keempat korban mahasiswa asal Usakti ini meninggal dunia.

    Kerusuhan berlanjut hingga tanggal 13-15 Mei 1998 yang bahkan membuat Kota Jakarta pada saat itu lumpuh total.

    Lubang pada setiap pilar, simbol luka peluru

    Dalam setiap pilar yang kokoh tinggi menjulang itu, terdapat bagian-bagian yang berlubang dengan posisi yang berbeda beda. Sebagian berada pada atas dan tengah pilar, hal ini menggambarkan posisi luka tembakan dari para korban.

    Lubang-lubang tersebut juga menyimbolkan luka dari tembakan peluru aparat yang menembus tubuh dari para korban.

    “Ada bagian dimana itu seperti peluru, ya memang itu disimbolkan sebagai peluru yang menembus tubuh mereka,” Kata Rey, salah satu guide dari Ngopi di Jakarta.

    Terdapat 98 batu pada alas monumen dan 5 sisi pada setiap pilarnya

    Pada monumen tersebut terdapat 98 buah batuan pada bagian alasnya. Jumlah batuan tersebut menggambarkan tahun kejadian peristiwa kerusuhan yakni 1998. Selain itu pada setiap pilar nya terdapat 5 sisi yang menggambarkan bulan kejadian yakni bulan Mei.

    Bongkahan balok yang menggambarkan suasana kerusuhan

    Pada bagian bawah terdapat balok-balok yang disusun secara abstrak. Menurut Rey, balok tersebut menggambarkan bongkahan sisa-sisa bangunan yang rubuh karena kerusuhan tersebut.

    “Bagian-bagian di bawah ini sebagai bentuk kekacauan yang terjadi. Jadi bangunan-bangunan yang ada itu rubuh dengan balok-balok batu yang berserakan,” kata Rey.

    Ujung pilar yang runcing

    Setiap pilar memiliki ujung pada bagian atas yang semakin meruncing dengan posisi bagian puncak yang miring. Itu menggambarkan perjuangan mereka yang telah terhenti karena telah gugur, namun perjuangan itu dapat terus dilanjutkan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang masih hidup.

    “Kalau dia lancip ke atas kan masih bisa diteruskan, jadi perjuangan dia sudah berakhir tapi cita-cita reformasi itu terus berlanjut. Jadi itu filosofis dari monumen ini,” kata Sofyan yang juga merupakan guide dari Ngopi di Jakarta.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mengenal Salak Khas Jakarta yang Langka di Cagar Buah Condet



    Jakarta

    Maskot Jakarta ternyata bukan hanya ondel-ondel dan Monumen Nasional (Monas). Ternyata, di masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin salak condet menjadi salah satu ikon kota ini.

    Salak condet ditetapkan sebagai maskot Jakarta karena keberadaannya yang langka dan hanya ada di kota ini.

    Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1796 Tahun 1989, yang menyebutkan penetapan salak condet (Salacca zalacca) dari jenis flora dan burung elang bondol (Haliastur indus) dari jenis fauna sebagai identitas atau maskot Jakarta.


    Saat ini, salak condet memang sudah jarang untuk ditemui di pasar-pasar bahkan boleh dibilang sulit untuk menjumpainya, tak seperti jenis salak lainnya, seperti salak pondoh. Pusat budidaya salak condet pun satu-satunya hanya terdapat Agrowisata Cagar Buah Condet di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Cagar Buah Condet menjadi titik terakhir perkebunan buah asli Jakarta ini, keberadaannya yang langka membuat tempat ini begitu spesial. Karena masyarakat bisa langsung melihat dan merasakan bagaimana kekhasan buah dengan kulit bersisik ini.

    Di Cagar Buah Condet terdapat ribuan pohon salak dan beberapa pohon salak di sini telah berumur puluhan tahun. detikTravel berkesempatan untuk menyambangi kebun salak ini, Selasa (28/5/2024).

    Kebun yang luasnya kurang lebih 3,5 hektar itu tak hanya ditanami pohon salak saja tetapi terdapat beberapa pohon lainnya seperti Duku Condet (yang sama-sama buah khas Jakarta), pohon buah kecapi, durian, alpukat, buni, dan masih banyak lainnya.

    Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Tentunya yang menjadi fokus agrowisata ini adalah pohon salak condet dan duku conder. Dua buah itu merupakan buah endemik yang hanya ada di Kota Jakarta. Menyoal rasa, memang salak condet memiliki rasa unik dan berbeda dengan jenis salak lainnya.

    Syahrudin, koordinator petugas di Cagar Buah Condet, menyebutkan terdapat rasa yang khas dari salak condet. Dia menerangkan kalau rasa buahnya memiliki rasa yang berbeda-beda dengan sensasi rasa kesat yang minim.

    “Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

    Rasa penasaran pun hadir untuk mencoba buah Salak Condet ini, namun sayang pohon salak condet saat detikTravel sambangi belum semuanya berbuah. Hanya beberapa pohon saja yang sudah mulai berbuah dan belum matang, Syahrudin pun memberikan salak condet yang tingkat kematangannya baru 40% untuk menghilangkan rasa penasaran.

    Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Terpikir sejenak buah salak yang belum matang maksimal pasti memiliki rasa yang super asam dengan rasa pahit dan kesat. Tapi ternyata saat mencicipi, salak condet yang belum matang maksimal itu memiliki rasa yang dominan manis.

    Untuk kamu warga Jakarta yang penasaran dengan buah asli kota ini bisa langsung datang untuk melihat dan mencicipi jika sudah ada yang berbuah. Syahrudin menjelaskan tak bisa memastikan kapan pohon-pohon salak ini berbuah karena tergantung cuaca, ia hanya bisa memperkirakan panen Salak Condet akan tiba pada akhir tahun nanti.

    “Ya paling ini sekitar enam bulan dari sekarang dah,” ujar Syahrudin.

    Agrowisata Cagar Buah Condet

    Jam Operasional : Buka setiap hari, pukul 07.00 – 16.00 WIB

    Tiket Masuk : Gratis

    Lokasi : Jalan Kayu Manis No. 37, RT 7/RW 5, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cagar Buah Condet, Benteng Terakhir Salak Condet Khas Jakarta



    Jakarta

    Salak condet merupakan buah asli Jakarta, tetapi justru semakin langka dan sulit ditemukan. Agrowisata Cagar Buah Condet yang masih membudidayakannya.

    Sejak dulu pamor salak condet sudah masyhur, khususnya di kawasan Jakarta. Namun, yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah tak banyak tempat yang membudidayakan buah tersebut.

    Kini, salak condet hanya terdapat di Agrowisata Cagar Buah Condet yang terletak di Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Berada di tengah perkampungan padat, kebun salak itu memang tak tampak dari jalanan.


    Pengunjung perlu jeli untuk menemukan pintu masuk kebun salak tersebut. Setelah berhasil masuk ke kawasan itu, jangan heran jika belum melihat secara langsung pohon-pohon salak.

    Sedikit menuruni beberapa anak tangga, di situlah tempat pohon-pohon buah khas Jakarta itu bertempat. Sekitar 3,5 hektar luas kebun ini penuh dengan pohon-pohon berduri, salak condet-lah yang jadi bintang utamanya agrowisata itu.

    Karena penasaran dengan salak condet, detikTravel pun menyambangi dan menjelajahi kebun yang luas itu pada Selasa (28/5/2024). Sejauh mata memandang terlihat pohon-pohon berduri di sekeliling, namun tak terlihat sedikit pun tanda-tanda buah salak condet yang muncul.

    Setelah masuk lebih dalam lagi di area perkebunan ini, tampaklah tiga orang petugas yang sedang ngaso. Dari tiga orang petugas itu di antaranya adalah Bapak Syahrudin, yang merupakan koordinator petugas di Agrowisata Cagar Buah Condet.

    Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Budidaya salak condet di di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Bersama Syahrudin, detikTravel diajak berkeliling melihat-lihat pepohonan yang ada di Cagar Buath Condet. Selain buah salak, di tempat ini ternyata memiliki beberapa pohon-pohon buah yang sudah jarang ditemui, seperti pohon buah kecapi, buni, dan duku condet, yang sama seperti salak condet, menjadi buah khas Jakarta.

    Ia bercerita sedari kecil memang tumbuh besar di kawasan in. Dan, sejak ia kecil pun kawasan itu sudah menjadi kebun salak condet. Syahrudin mengatakan beberapa pohon salak di Cagar Buah Condet sudah berusia puluhan tahun.

    “Sejarahnya ini bahkan kata orang tua saya dulu denger-denger dari cerita, zaman presiden kita yang pertama tuh Bung Karno sempet jadi hidangan ke istana,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

    Lahan kebun itu dulu memang dimiliki oleh warga, Syahrudin mengatakan kebun itu dulu milik sang kakek yang dibebaskan dan dialih kelola oleh pemerintah pada tahun 2006. Kawasan perkampungan sekeliling Cagar Buah Condet ini dulu memang merupakan kebun salak, namun seiring waktu mulai berganti menjadi rumah-rumah.

    “Kebanyakan orang kan jualin (tanah) tahu sendiri orange Betawi kan, apa-apa pengen naik haji atau pengen ngawinin anak terus pesta dengan cara gimana? Ya, jual tanahnya. Nah, dari pihak Pemda dan Pemprov DKI khususnya gimana caranya maskot DKI Jakarta tuh jangan sampai musnah, ya sisanya ini alhamdulilah 3,5 hektar dibebasin,” kata dia.

    Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Salak Condet makin sulit ditemui di pasar, berbeda dengan salak pondoh yang ada di mana-mana. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Di hamparan yang luas kebun Cagar Buah Condet, Syahrudin menyebut terdapat sekitar 1.500 pohon salak condet, 150 pohon duku condet, dan beberapa pohon buah lainnya.

    Ia menerangkan keistimewaan salak condet tersebut dengan menyebut rasanya yang berbeda dari salak-salak lainnya.

    Syahrudin kemudian membawa detikTravel ke pohon yang ia sebut sebagai pohon andalan ketika ada tamu yang berkunjung. Selayaknya pohon salak yang lain, tak ada yang membedakan dengan pohon salak pilihannya, tapi ia berucap bahwa salak di pohon ini rasanya lebih enak dibandingkan salak dari pohon lain.

    Betul saja, saat mencicipi salaknya, yang belum matang sempurna, ternyata salak dari pohon tersebut terasa manis dan hanya sedikit rasa asam. Selain itu, tekstur yang renyah membuat Salak Condet itu semakin nikmat.

    Kemudian, ia mengajak detikTravel ke pohon selanjutnya dan kembali menyodorkan salak untuk dicicipi agar mengetahui perbedaannya.

    “Coba rasain apa yang bikin beda? Ini tuh (kematangan) sama kaya salak yang tadi belum terlalu mateng,” kata dia.

    Rasa salak condet yang kedua memang berbeda dengan yang pertama. Kali ini, rasa asam dan sensasi kesat bercampur aduk di dalam mulut. Rasa manis pun terasa tipis yang diakhiri dengan pahit, itulah keistimewaan Salak Condet khas Jakarta.

    “Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah, itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata dia.

    Saat ini, dengan banyaknya macam buah-buahan, eksistensi salak condet memiliki tantangan ekstra. Tetapi, dengan Agrowisata Cagar Buah Condet masih akan terus terjaga.

    Tetapi, rasanya pilu saat Syahrudin mengatakan fakta tentang salak condet.

    “Banyak sampai saat ini orang Jakarta yang nggak tahu kalau Salak Condet tuh masih ada,” kata Syahrudin.

    Cagar Buah Condet ini terbuka untuk umum, tujuannya untuk mengenalkan lebih luas kepada masyarakat tentang buah yang pernah menjadi maskot Kota Jakarta.

    “Tujuannya kan pemda bebasin ini supaya anak-anak sekarang, terutama di DKI Jakarta, jangan cuman pernah denger cerita ‘dulu punya maskotnya buah salak’. Alhamdulilah kurang lebih 3,5 hektar ini masih ada jadi mereka bisa tahu,” kata dia.

    Dengan adanya Cagar Buah Condet menjadi suatu pengharapan agar buah khas Jakarta itu bisa terus lestari dan bisa dinikmati di masa mendatang.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • This Is Bali, Kafe di Ubud, Nyentrik dan Unik Sejak di Pintu Masuk



    Ubud

    Kafe nyentrik yang satu ini berada di Jalan Goutama, Ubud. Desainnya estetik dan mencolok dengan dominasi warna oranye.

    Jika sedang berlibur di Ubud, traveler wajib mampir ke salah satu kafe yang sedang viral. Kafe itu namanya This Is Bali.

    Oliver, pemilik This Is Bali, menyebut pemilihan nama kafe itu berawal dari kecintaannya terhadap Pulau Bali dan berbagai makanan tradisional yang ada di Pulau Dewata.

    Dia memang amat mengagumi Bali dan menyebut Bali sebagai tempat yang kaya akan budaya, keindahan alam, dan kelezatan kulinernya. Makanya, dia betah tinggal di Bali. Sudah 10 tahun dia berada di sana.

    “Saya sudah lama tinggal di Bali, dan mengagumi keindahan Bali terutama dari segi kulinernya. Akhirnya dipilih nama Bali, untuk menggabungkan antara kualitas, budaya, dan kelezatan kuliner dalam satu tempat, yaitu di This Is Bali,” kata Oliver.

    Bangunan yang terlihat mencolok, dengan warna putih bercampur oranye membuat traveler mudah menemukan This Is Bali di antara puluhan bangunan di Jalan Goutama. Kesan estetik dan hangat menjadi kesan pertama saat traveler masuk ke kafe ini.

    This is Bali, kafe nyentrik di Ubud, BaliThis is Bali, kafe nyentrik di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Kafe yang baru dibuka selama delapan bulan ini memiliki dekorasi instagramable dengan sentuhan Bali yang terkesan modern. Oliver menceritakan konsep unik dari kafe ini. Ia ingin membuat sebuah kafe yang hangat dan nyaman bak rumah sendiri. Komplit dengan desain unik khas Bali dengan sentuhan modern.

    “Di Ubud sudah banyak kafe, namun saya punya mimpi untuk membangun kafe seperti home sweet home. Tentu dikolaborasikan dengan konsep khas Bali dan western, mulai dari desain dan menu makanan,” ujar Oliver.

    Di sini traveler akan menemukan tempat duduk yang dibuat dengan konsep anti mainstream. Dari bentuk yang tidak simetris hingga ada yang dibuat bak melayang di udara.

    Memiliki desain yang unik nan estetik membuat This Is Bali juga menjadi spot yang sip untuk berburu foto instagramable. Oliver menyebut, sebagian besar pengunjung pasti mengabadikan momen ketika berkunjung ke kafe ini. Tempat duduk yang dibuat melayang menjadi salah satu spot favorit pengunjung di This Is Bali.

    Soal menu makanan, This Is Bali memadukan menu khas Bali dan western. Mulai dari dessert, signature bowls, hingga minuman yang siap menggoyangkan lidah.

    Beberapa menu favorit khas This Is Bali yaitu Real Balinese Bowl, Coconut Brownies, dan Refreshing Tangerine. Semua menu dibanderol dengan harga mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 97 ribu.

    This Is Bali juga menghadirkan pengalaman unik bagi traveler ketika ingin memesan menu. Traveler akan diberikan kartu dan sebuah stempel yang berisi beberapa pilihan menu dessert di This Is Bali.


    This is Bali, kafe nyentrik di Ubud, BaliThis is Bali, kafe nyentrik di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Step 1, traveler diminta untuk mengambil selembar kartu. Step 2, traveler wajib memilih dessert yang ingin dipesan. Setelah menentukan pilihan, traveler bisa langsung menstempel menu pilihan di atas kartu. Unik ya!

    Karena tempatnya yang estetik dan menunya yang tak kalah lezat membuat kafe ini selalu ramai. Setiap harinya, This Is Bali bisa dikunjungi lebih dari 100 orang.

    Oliver juga menyarankan untuk traveler yang ingin berkunjung bisa melakukan reservasi terlebih dahulu agar tak kehabisan kursi. This Is Bali buka setiap hari, mulai pukul 12.00 hingga 23.00 WITA.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Bangunan Megah bak Kastil di Gang Sempit Kotagede



    Yogyakarta

    Membayangkan bagaimana indahnya jika arsitektur budaya Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dipadukan maka Rumah Pesik-lah jawabannya. Lokasinya di Kotagede, Yogyakarta.

    Berdiri kokoh masuk ke dalam gang sempit kawasan tua Kotagede, traveler tidak akan menyangka jika ada sebuah bangunan kuno dengan sentuhan arsitektur eksotis yang magical. Namanya adalah Rumah Pesik. Saat ini difungsikan sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

    “Awalnya buat keluarga aja sih, untuk ayah saya, lebih ke untuk pribadi, keluarga, kawan-kawan. Kadang kadang ada pejabat atau teman dari luar negeri datang, kita ajak ke sini,” kata Roky, anak dari Rudy J Pesik yang sekarang mengelola Rumah Pesik.


    Ya, bangunan itu adalah rumah milik pengusaha ternama Rudy J Pesik. Dia pemimpin perusahaan jasa logistik DHL Indonesia.

    Atas kecintaannya pada seni budaya, Rudy yang juga dikenal sebagai kolektor menyulap Rumah Pesik menjadi bangunan yang tiap sudutnya dihiasi ornamen bernilai seni tinggi.

    Rumah Pesik dikelola menjadi sebuah hotel sejak sebelum pandemi covid-19. Namun, terhenti akibat Covid dan baru dibuka kembali sekitar 1 tahun.

    Dituturkan oleh Roky, dari awal bangunan ini memang tidak didesain sebagai hotel, sehingga jumlah kamar yang banyak bukanlah suatu kesengajaan.

    Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Setelah tutup bertahun-tahun, kini Rumah Pesik dibuka untuk umum. Jika hanya ingin berfoto-foto dan melihat saja, maka pengunjung dikenai biaya masuk Rp 25.000, namun jika menghabiskan waktu di kafenya dan membeli makan atau minuman maka biaya masuknya gratis.

    Masuk ke Gang Soka, Kotagede, Rumah Pesik tidak akan sulit ditemukan. Jika dilihat dari luar bangunan ini mencolok dengan cat warna tembok hijaunya. Kemudian, masuk melewati salah satu dari ketiga pintu yang terbuka, traveler akan disambut bak terlempar ke dalam lorong waktu masa kerajaan.

    Di salah satu pintu terdapat prasasti yang berisi daftar nama-nama tokoh penting dunia yang pernah menginap di sana, termasuk Lech Walesa, mantan Presiden Polandia pada tahun 1990-1995 dan penerima Nobel Perdamaian tahun 1993.

    Sekilas jika dilihat dari luar, Traveler tak akan sangka jika di balik benteng hijau itu menyembunyikan bangunan-bangunan tinggi megah dengan arsitektur kental akan budaya. Terlihat bangunan dengan gaya arsitektur Thailand di dalamnya traveler bahkan akan menemukan patung arca buddha. Dari lantai duanya, pemandangan saat sunset begitu menakjubkan.

    Bergeser ke sebelahnya, berdiri bangunan dua lantai dengan dominasi warna putih dengan gaya da vinci. Di pintu masuknya dijaga oleh dua patung ksatria Romawi yang membawa tombak. Untuk naik ke lantai duanya, traveler harus meniti tangga yang disekeliling temboknya dipenuhi foto keluarga besar Rudy J Persik.

    Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Beralih ke bangunan ketiga, tepat berdiri di belakang kolam air mancur, bangunan dengan arsitektur Jawa penuh pahatan kayu. Lalu di seberangnya terdapat kafe dan resto.

    Terdapat rumah kalang, yang diketahui ternyata menjadi bangunan utama yang bentuknya masih dipertahankan sejak awal berdirinya Rumah Pesik. Rumah itu menjadi mini museum dan memuat koleksi koleksi Rudy mulai dari keris, patung, arca, hingga barang-barang antik peninggalan dari berbagai negara. Museum hanya dibuka by request pengunjung dan harus membayar tiket masuk Rp 25.000

    Setiap sudutnya begitu menawan dengan konsep yang unik dan artistik. Traveler bebas bisa berswaphoto di setiap sudutnya, karena tidak ada pembatasan area bagi pengunjung kecuali masuk ke dalam kamar hotelnya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com