Tag Archives: hikmah

Jangan Durhaka! 10 Hadits Ini Jelaskan Kedudukan Mulia Seorang Ibu


Jakarta

Dalam ajaran Islam, ibu adalah sosok yang wajib dihormati. Seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua, termasuk kepada ibunya.

Sebelum ajaran Islam datang, tepatnya di zaman Jahiliah, perempuan dipandang sebagai sosok rendahan. Perempuan tidak berhak bersuara, tidak berhak berkarya dan bahkan tidak berhak memiliki harta. Semua berubah ketika Islam datang membawa ajaran yang penuh kasih sayang.

Mengutip buku Kemuliaan Perempuan dalam Islam oleh Prof. Dr. Siti Musda Mulia, disebutkan ketika Islam datang, perempuan dipandang sebagai sosok yang memiliki harkat dan martabat setara dengan laki-laki. Bahkan perempuan dianggap memiliki kedudukan mulia, terlebih seorang ibu.


Dalam Surat Luqman ayat 14, Allah SWT berfirman,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Hadits Tentang Ibu

Menjelang Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember, momen ini sebaiknya dimanfaatkan untuk berusaha menjadi anak yang senantiasa berbakti kepada ibu. Rasulullah SAW juga telah menjelaskan melalui hadits tentang kemuliaan seorang ibu.

1. Anjuran berbuat baik pada ibu

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

Artinya: Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ayahmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

2. Anjuran berbuat baik pada ibu dan ayah

نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

Artinya: Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat. (HR Ibnu Majah)

3. Anjuran memuliakan ibu

إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم

Artinya: Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian. (HR Muslim)

Hadits di atas merupakan pesan Rasulullah SAW kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk mencari seseorang bernama Uwais al Qarni. Umar dan Ali dipesankan untuk meminta Uwais mendoakan pengampunan bagi diri mereka. Uwais al Qarni adalah seorang anak yang sangat memuliakan ibunya.

4. Berbakti kepada ibu menjadi amal baik

عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang lelaki datang menemuinya dan berkata, “Aku meminang seorang perempuan, tetapi ia menolakku. Lelaki lainnya meminangnya, lantas ia menerimanya dan menikah dengannya. Aku pun cemburu, lantas perempuan itu kubunuh. Akankah tobatku diterima?”

Ibnu Abbas balik bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Ia menjawab, “Tidak,” Ibnu Abbas pun berkata kepadanya, “Bertobatlah kepada Allah dan lakukanlah yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

Atha’ bin Yasar yang menuturkan riwayat ini dari Ibnu Abbas pun datang kepadanya. Ia berkata, “Kenapa engkau bertanya apakah ibunya masih hidup?” Ibnu Abbas menjawab, “Karena aku tidak tahu amal baik lain yang lebih mendekatkan orang kepada Allah selain berbakti kepada ibunya.” (HR Bukhari)

5. Anjuran mendoakan orang tua

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْئٌ أَبِرُّهُمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ نَعَمْ، خِصَالٌ أَرْبَعٌ: الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالْإِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ رَحِمَ لَكَ إِلاَّ مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهٰذَا الَّذِى بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا. (رواه ابن ماجه عن أبي أسيد)

Artinya: “Masih adakah kebaktian kepada kedua orang tuaku, setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, masih ada empat perkara, mendoakan ibu bapak itu kepada Allah, memintakan ampun bagi mereka, menunaikan janji mereka, dan meng-hormati teman-teman mereka serta menghubungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kamu kecuali dari pihak mereka. Maka inilah kebaktian yang masih tinggal yang harus kamu tunaikan, sebagai kebaktian kepada mereka setelah mereka meninggal dunia.” (HR Ibnu Majah)

6. Surga di telapak kaki ibu

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ؛ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَدْتُ الْغَزْوَ، وَجِئْتُكَ أَسْتَشِيرُكَ؟ فَقَالَ: “فَهَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ ” قَالَ. نَعَمْ. فَقَالَ: “الْزَمْهَا. فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا ثُمَّ الثَّانِيَةَ، ثُمَّ الثَّالِثَةَ فِي مَقَاعِدَ شَتَّى، كَمِثْلِ هَذَا الْقَوْلِ

Dari Mu’awiyah ibnu Jahimah As-Sulami, bahwa Jahimah pernah datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, saya ingin berangkat berperang (di jalan Allah), dan saya datang untuk meminta nasihat darimu.” Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” Jahimah menjawab, “Ya.” Rasulullah SAW bersabda: Rawatlah ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah telapak kakinya. Kemudian diajukan pertanyaan yang serupa dan jawaban yang serupa untuk kedua kalinya hingga ketiga kalinya di tempat-tempat yang berlainan. Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Juraij dengan sanad yang sama.

7. Amalan yang dicintai Allah SWT

أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى الله قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّالْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

Artinya: Abu `Amru Asy Syaibani berkata; telah mengabarkan kepada kami pemilik rumah ini, sambil menunjuk kerumah Abdullah dia berkata; saya bertanya kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam; “Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: “Shalat tepat pada waktunya.” Dia bertanya lagi; “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dia bertanya; “Kemudian apa lagi?” beliau menjawab: “Berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

8. Larangan durhaka kepada orang tua

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَمَنْعًا وَهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Artinya: Dari Al Mughirah bin Syu`bah dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua, tidak suka memberi namun suka meminta-minta dan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan membenci atas kalian tiga perkara, yaitu; suka desas-desus, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari) [ No. 5975 Fathul Bari] Shahih.

9. Ibu jadi orang yang paling utama

، عَنِ الْأَشْعَثِ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي يَرْبُوعٍ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ يُكَلِّمُ النَّاسَ يَقُولُ: “يَدُ الْمُعْطِي [الْعُلْيَا] أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ، ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ”

Dari Asy’as ibnu Salim, dari ayahnya, dari seorang lelaki dari kalangan Bani Yarbu’ yang mengatakan bahwa ia pernah datang kepada Nabi SAW dan mendengarkan beliau sedang berbicara dengan orang-orang. Antara lain beliau bersabda: Orang yang paling utama menerima uluran tangan(mu) ialah ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian saudaramu yang terdekat, lalu yang dekat (denganmu).

10. Mendapat doa dari Rasulullah SAW

Berbakti kepada ibu juga memiliki keutamaan didoakan Rasulullah SAW. Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, kemudian beliau mengucapkan kalimat Amin sebanyak tiga kali. Maka ketika ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau aminkan?” Maka Rasulullah SAW menjawab:

“أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ”

Jibril datang kepadaku, lalu mengatakan, “Hai Muhammad, terhinalah seorang lelaki yang namamu disebut di hadapannya, lalu ia tidak membaca sholawat untukmu. Ucapkanlah ‘Amin’.” Maka saya mengucapkan Amin, lalu Jibril berkata lagi, “Terhinalah seorang lelaki yang memasuki bulan Ramadan, lalu ia keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan masih belum beroleh ampunan baginya. Katakanlah, ‘Amin’.” Maka aku ucapkan Amin. Jibril melanjutkan perkataannya, “Terhinalah seorang lelaki yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah seorangnya, lalu keduanya tidak dapat memasukkannya ke surga. Katakanlah, ‘Amin’.” Maka aku ucapkan Amin.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

5 Hadits tentang Niat, Disebut Lebih Penting daripada Amal


Jakarta

Hadits tentang niat menjelaskan pentingnya niat dalam Islam. Bahkan, niat tergolong sebagai syarat sah dari sejumlah amalan.

Niat dikatakan sebagai pondasi dari segala perbuatan manusia, entah itu perbuatan baik maupun buruk. Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya amal perbuatan itu diiringi dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap insan akan memperoleh menurut apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dibenarkan hijrahnya itu oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya untuk dunia yang hendak diperoleh atau wanita yang hendak dipersunting, maka ia akan mendapatkan apa yang diingini itu saja.” (HR Bukhari dan Muslim)


Dalam buku Fiqih Niat susunan Umar Sulaiman Asyqar, niat diartikan sebagai keinginan untuk melakukan sesuatu yang diikuti dengan perbuatan. Setiap ibadah dalam Islam selalu menjadikan niat sebagai rukun pertamanya.

5 Hadits tentang Niat

Berikut sejumlah hadits tentang niat yang dikutip dari buku Quran Hadist oleh Asep B R dan Fiqih Islam wa Adillatuhu karya Prof Wahbah Az Zuhaili.

1. Niat Baik Berpengaruh pada Kehidupan Dunia dan Akhirat

Dari Ibnu Mas’ud, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Siapa yang menjadikan seluruh tujuannya menjadi satu cita-cita, yaitu cita-cita akhirat, Allah mencukupi tujuan dunianya. Siapa yang tujuannya bercabang-cabang dalam berbagai masalah dunia, Allah tidak akan peduli di lembah mana ia meninggal.” (HR Ibnu Majah, sanad haditsnya hasan li ghairih)

2. Pahala dan Siksa Dicatat dari Niat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbesit dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.”

3. Niat Lebih Penting daripada Amal

Niat juga disebut lebih penting daripada amal. Terkait hal ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:

“Niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya.” (HR Al-Baihaqi)

4. Niat Dapat Meluaskan Rezeki

“Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan membayarkannya. Siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud untuk merusaknya, maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

5. Niat Berbuat Baik untuk Mendapat Pahala

Dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi Muhammad bersabda:

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat sampai kelipatan yang banyak.

Barangsiapa berniat berbuat buruk tetapi dia tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Itulah sejumlah hadits yang membahas tentang niat. Dalil-dalil di atas membuktikan betapa pentingnya niat dalam agama Islam.

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa setelah Sholat Dhuha dan Artinya, Yuk Amalkan!


Jakarta

Doa setelah sholat Dhuha dan artinya dibaca untuk meraih keutamaan dari ibadah sunnah tersebut. Anjuran sholat Dhuha sendiri tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dzar, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR Muslim)

Sholat Dhuha dikerjakan dua rakaat dengan maksimal tak terhingga sesuai kemampuan. Adapun, waktu pengerjaannya ialah sejak terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari (zawal), sementara waktu terbaiknya ketika matahari mulai terasa hangat seperti dikutip dari Buku Pintar Salat, Doa, dan Zikir Sesuai Tuntunan Rasulullah oleh Darul Insan.


Sesudah melaksanakan amalan sunnah tersebut, kaum muslimin dianjurkan membaca doa setelah sholat Dhuha. Menukil dari buku Doa & Zikir Muslimah tulisan Tim Redaksi Qultummedia, berikut bacaannya.

Doa setelah Sholat Dhuha dan Artinya

اللهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاتُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاتُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رزقي في السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِراً فَيَسِّرَهُ وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ.

Arab latin: Alloohumma innadh dhuhaa’a dhuhaa uka wal bahaa`a bahaa`uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal qudrota qudrotuka wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Alloohumma in kaana rizqii fis samaa’i fa anzilhu wa in kaana fil ardhi fa akhrijhu wa in kaana mu’siron fa yassirhu wa in kaana harooman fa thohhirhu wa in kaana ba’iidan fa qorribhu bi haqqi dhuhaa ika wa bahaa ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudrotika aatinii maa aataita ‘ibaadakash shoolihiin.

Artinya: “Ya Allah, waktu dhuha ini adalah waktu dhuha-Mu. Keelokan ini adalah keelokan-Mu. Keindahan ini adalah keindahan-Mu. Kekuatan ini adalah kekuatan-Mu. Kekuasaan ini adalah kekuasaan-Mu. Perlindungan ini adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku masih di langit, maka turunkanlah. Jika rezekiku ada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sulit, maka mudahkanlah. Jika rezekiku haram, maka sucikanlah. Jika rezekiku masih jauh, maka dekatkanlah. Semuanya berkat dhuha-Mu, keagungan-Mu, keelokan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu. limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Selain berdoa, kaum muslimin juga dapat berzikir dengan lafaz sebagai berikut yang dikutip dari buku Penuntun Mengerjakan Shalat Dhuha karya Huriyah Huwaida. Zikir tersebut dibaca sebanyak 100 kali.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ

Arab latin: Robbighfirlii watub ‘alayya `innaka antat tawwaabul ghofuur. (dibaca 100 kali)

Artinya: “Ya Rabbi, ampunilah aku dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat dan ampunan.”

Keutamaan Membaca Doa setelah Sholat Dhuha

Disebutkan dalam buku Ampuhnya Fadhilah Dzikir & Doa setelah Shalat Fardhu & Sunnah karya H M Amrin Ra’uf, doa setelah sholat Dhuha mengandung sejumlah keutamaan, antara lain ialah:

1. Menyehatkan Badan

Dengan mengerjakan sholat Dhuha, maka badan seseorang akan terasa lebih sehat. Rasulullah SAW bersabda,

“Sholat Dhuha itu sholat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim)

2. Dibukakan Pintu Rezeki oleh Allah SWT

Mengerjakan sholat Dhuha dan membaca doa setelahnya akan membuka pintu rezeki. Rezeki akan terus bertambah jika digunakan dengan baik dan diperoleh secara halal.

3. Dijauhkan dari Tipu Daya

Ada banyak bentuk tipu daya di dunia yang dapat menghampiri manusia. Mengerjakan sholat Dhuha serta membaca doa setelahnya niscaya akan dijauhkan dari segala bentuk tipu daya oleh Allah SWT.

Itulah doa setelah sholat Dhuha dan artinya. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa Memulai Pekerjaan, Dibaca agar Mendapat Kemudahan dan Rezeki Berkah



Jakarta

Doa memulai pekerjaan bisa dibaca sebelum ataupun saat beraktivitas mencari rezeki. Doa ini menjadi ungkapan syukur sekaligus permohonan agar mendapatkan rezeki halal dan penuh berkah.

Anjuran untuk bekerja termaktub dalam beberapa surat Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 105,

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ


Artinya: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Tak hanya itu, anjuran untuk bekerja juga dijelaskan dalam surat Al-Jumu’ah Ayat 10

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Mengutip buku Bekerja Dengan Senang, Beribadah Dengan Tenang (Upaya Menggapai Kebahagian Dunia dan Akhirat) oleh Mushofa, S.Pd.I, M.Ag, menjelaskan dua ayat tersebut secara tegas menjelaskan bahwa Allah SWT tidak hanya menyuruh hamba-Nya untuk sholat sebagai bentuk ritual ibadah, melainkan Allah SWT juga menyuruh manusia bertebaran di muka bumi mencari rezeki yang telah Allah SWT tebar di penjuru dunia.

Melalui firman-Nya ini, Allah SWT mengajarkan sebuah keseimbangan hidup manusia. Setelah manusia memenuhi kebutuhan ruhaniyah, kemudian diperintahkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya.

Bekerja adalah bagian dari ajaran Agama Islam. Sekali lagi Allah sangat menyerukan kepada umat manusia untuk membangun usaha dan perekonomian yang maju. Manusia diperintahkan memaknai ayat-ayat itu dan mengamalkan dalam kehidupan nyata.

Doa Memulai Pekerjaan

Imam al-Thabrani dalam kitab ad-Du’a menuliskan doa sebelum bekerja. Doa ini bisa diamalkan sebelum atau ketika beraktivitas. Berikut bacaan doanya:

َّأَللَّهٌمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَعَطَائِكَ رِزْقًا طَيِّبًا مٌبَارَكًا، اَللَّهُمَّ إِنَّكَ أَمَرْتَ بِالدُّعَاءِ وَقَضَيْتَ عَلَىَّ نَفْسَكَ بِالْاِسْتِجَابَةِ وَأَنْتَ لَا تٌخْلِفٌ وَعْدَكَ وَلَا تٌكَذِّبُ عَهْدَكَ اَللَّهُم مَا أَحْبَبْتَ مِنْ خَيْرٍ فَحَبِّبْهٌ إِلَيْنَا وَيَسِّرْهُ لَنَا وَمَا كَرَهْتَ مِنْ شَئْ ٍفَكَرِهْهُ إِلَيْنَا وَجَنِّبْنَاهُ وَلَا تُنْزِعْ عَنَّا الْإِسْلَامَ بَعْدَ إِذْ أَعْطَيْتَنَا

Arab Latin: Allahumma innii as’aluka min fadhlika wa athaa’ika rizkan thayyiban mubaarakan. Allahumma innaka amarta bid du’aa’i wa qadhaita alayya nafsaka bil istijaabah wa anta laa tukhlifu wa’daka wa laa tukadzzibu ahdaka. Allahumma ma ahbabta min khairin fa habbibhu ilaina wa yassirhu lanaa wa maa karahta min syaiin fa karihhu ilaina, wa jannibnaahu wa laa tunzi’ annal islaam ba’da iz a’thaitanaa.

Artinya :”Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dari keutamaanmu dan pemberianmu, rizki yang baik lagi berkah. Ya Allah sesungguhnya engkau memerintahkan untuk berdoa dan memutuskan atasku pengabulan doa, dan engkau Zat Yang tidak melanggar janji dan tidak mendustainya. Ya Allah, tidak ada kebaikan yang engkau sukai, kecuali Engkau jadikanlah kami mencintai kebaikan tersebut dan mudahkanlah kami mendapatkannya. Dan tidak ada sesuatu yang Engkau benci kecuali Engkau jadikan kami benci terhadap sesuatu tersebut dan jauhkanlah kami darinya. Dan janganlah Engkau cabut dari kami keislaman kami setelah Engkau berikan.

Kemudian bisa dilanjutkan dengan bacaan doa berikut:

اَللّهُمَّ ارْزُقْنِيْ رِزْقًا حَلاَلاً طَيِّباً, وَاسْتَعْمِلْنِيْ طَيِّباً. اَللّهُمَّ اجْعَلْ اَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدَ كِبَرِ سِنِّيْ وَانْقِطَاعِ عُمْرِيْ. اَللّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ, وَاَغِْننِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ رِزْقًا وَاسِعًا نَافِعًا. اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ نَعِيْمًا مُقِيْمًا, اَلَّذِيْ لاَ يَحُوْلُ وَلاَ يَزُوْلُ.

Arab Latin: Alloohummarzuqnii rizqon halaalan thoyyibaa, wasta’milnii thayyibaa. Alloohummaj’al ausa’a rizqika’alayya’inda kibari sinnii wanqithoo’i’umrii. Alloohummakfinii bihalaalika’an haraamika. wa aghninii bifadhlika’amman siwaaka. Alloohumma in nii as-aluka rizqon waasi’an naafi’an. Alloohumma innii as-alukan na’iimaan muqiiman, alladzii laa yahuulu wa laa yazuulu.”

Artinya:”Ya Allah, berilah padaku rezki yang halal dan baik, serta pakaikanlah padaku segala perbuatan yang baik. Ya Tuhanku, jadikanlah oleh-Mu rezekiku itu paling luas ketika tuaku dan ketika lemahku. Ya Allah, cukupkanlah bagiku segala rezki-Mu yang halal daripada yang haram dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari yang lainnya. Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu rezeki yang luas dan berguna. Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu ni’mat yang kekal yang tidak putus-putus dan tidak akan hilang.”

Sebagai ungkapan syukur, seorang muslim bisa lanjut membaca doa setelah bekerja. Berikut bacaan doanya:

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَضِلّ اَوْ أُضَلَّ اَوْ اَزِلَّ اَوْ أَظْلَمَ اَوْ أَجْهَلَ اَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.

Arab Latin: Allahuma innii a’uudzubika an adhilla, au udhalla, au azilla, au adzlama, au ajhala, au yujhala ‘alayya. (dibaca 3x)

Artinya: Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadaMu agar tidak tersesat atau disesatkan atau aku tergelincir atau digelincirkan atau aku berbuat dzalim atau didzalimi atau aku berbuat bodoh atau dibodohi (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Hadits tentang Sholat Tahajud, Salah Satu Kebiasaan Orang Saleh


Jakarta

Sholat tahajud adalah amalan sunnah yang dikerjakan setelah Isya hingga fajar. Banyak keutamaan yang terkandung dari ibadah tersebut.

Dalil sholat tahajud tercantum dalam surah Al Isra ayat 79,

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا – ٧٩


Artinya: “Pada sebagian malam lakukanlah sholat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

Dalam bahasa Arab, tahajud secara harfiah berarti tidur. Dikutip dari buku Sholat Tahajud dalam Al-Qur’an (Manfaat Sholat Tahajud bagi Kesehatan Mental) oleh Muhafizah el-Feyza, tata cara pelaksanaannya sama seperti sholat pada umumnya.

Hadits tentang Sholat Tahajud

Mengutip buku 42 Hadits Shalat Tahajud dan Qiyamullail tulisan Muhammad bin Azzuz, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang sholat tahajud.

1. Termasuk Kebiasaan Orang Saleh

Anjuran sholat tahajud juga terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Kerjakanlah sholat malam, karena sholat malam itu kebiasaan orang-orang yang saleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, juga sebagai penebus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindarkan penyakit dari badan.” (HR Imam Tirmizi & Ahmad)

2. Amalan Terbaik setelah Sholat Fardhu

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Seutama-utama puasa setelah Ramadan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utamanya sholat sesudah sholat fardhu ialah sholat malam.” (HR Muslim)

3. Sholat Tahajud Dilakukan setelah Tidur

Dari Aisyah RA menceritakan ketika ada seorang wanita dari Bani Asad, tiba-tiba Nabi Muhammad SAW masuk menemuinya dan bertanya, “Siapa wanita itu?” Aisyah RA menjawab, “Si Fulanah. Ia tidak tidur malam dan mengerjakan sholat.”

Kemudian Rasulullah bersabda, “Jangan begitu. Demi Allah, lakukanlah amalan-amalan menurut kesanggupan kalian karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sehingga kalian sendiri yang merasa bosan.” (HR Bukhari)

4. Diganjar Kemuliaan

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

“Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya dimuliakan orang lain.” (HR Al-Baihaqi)

(aeb/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Taubat Zina Lengkap dengan Tata Cara Sholatnya


Jakarta

Membaca doa taubat zina merupakan hal yang dianjurkan dalam Islam. Doa ini bisa dibaca setelah melaksanakan sholat taubat.

Sebagaimana yang diketahui, zina termasuk ke dalam perbuatan keji dan kotor dalam Islam. Dalam surah Al Isra ayat 32, Allah SWT berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا


Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi melalui Kitab Minhajul Muslim yang diterjemahkan oleh Fedrian Hasmand mengartikan zina sebagai perbuatan haram dengan melakukan hubungan badan, baik melalui kemaluan atau dubur oleh dua orang yang bukan pasangan suami istri.

Seseorang yang terlanjur berzina bisa mengerjakan sholat taubat dan memanjatkan doa taubat zina. Ahmad Sarwat melalui karyanya yang bertajuk Seri Fiqih Kehidupan (3): Shalat menjelaskan, pelaksanaan sholat taubat disyariatkan bagi mereka yang ingin sadar dan insyaf dari dosa serta maksiat. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, Nabi SAW bersabda:

“Tidaklah ada seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa, lalu ia bersuci dengan baik dan sholat dua rakaat, kemudian memohon ampunan Allah SWT, kecuali pastilah Allah akan mengampuninya.’ Kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri … (QS Ali Imran: 135-136).” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi & Tirmidzi)

Berikut bacaan doa taubat zina yang dipanjatkan setelah sholat taubat.

Doa Taubat Zina: Arab, Latin dan Artinya

Mengutip Buku Pintar Shalat tulisan M Khalilurrahman Al Mahfani, doa taubat zina tercantum dalam surah Al A’raf ayat 23. Berikut bunyinya,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Arab latin: Robbana dholamna Anfusana wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khosirin

Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Al A’raf: 23)

Menurut Tafsir Qur’an Kemenag RI, doa tersebut merupakan doa tobat Nabi Adam AS dan Hawa.

Tata Cara Sholat Taubat Zina

Mengacu pada sumber yang sama, tata cara sholat taubat dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

  1. Membaca niat sholat taubat zina dengan lafaz berikut,

    أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
    Arab latin: Ushalli sunnatat taubati rak’ataini lillaahi ta’aala
    Artinya: “Aku berniat menunaikan sholat sunnah taubat sebanyak dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

  2. Takbiratul ihram
  3. Membaca doa iftitah
  4. Membaca Al-Fatihah
  5. Membaca surah pendek dalam Al-Qur’an
  6. Rukuk
  7. I’tidal dan membaca doa i’tidal
  8. Sujud
  9. Duduk di antara dua sujud dan membaca doa duduk di antara dua sujud
  10. Sujud kedua
  11. Kembali bangun dan lakukan gerakan serta bacaan yang sama untuk rakaat kedua
  12. Tasyahud akhir dan membaca doa tasyahud akhir
  13. Salam

Setelah salam umat Islam bisa melanjutkannya dengan membaca doa taubat zina seperti termaktub dalam surah Al A’raf ayat 23. Ada juga yang berpendapat, doa tersebut dibaca setelah niat sholat taubat dan sebelum takbiratul ihram. Pendapat lain menyebut doa taubat bisa dibaca dalam sholat, tepatnya setelah tasyahud akhir dan sebelum salam.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa Mau Ujian, Amalkan agar Diberi Kemudahan dan Kelancaran


Jakarta

Doa mau ujian dibaca ketika akan menghadapi ulangan. Meski kaum muslimin sudah belajar dengan sungguh-sungguh, doa dapat menjadi salah satu usaha untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surah Gafir ayat 60,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Doa Mau Ujian: Arab, Latin dan Terjemahannya

Mengutip dari Kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi dan Kitab Doa Mustajab Terlengkap susunan Ustaz H Amrin Ali Al-Kasyaf, berikut sejumlah doa yang dapat dibaca ketika akan melaksanakan ujian.

1. Doa Mau Ujian Versi Pertama

اللَّهُمَّ الْطُّفْ بِنَا فِي تَيْسِيرِ كُلِّ عَسِيرٍ فَإِنَّ تَيْسِيرُ الْعَسِيْرِ عَلَيْكَ يَسِيرٌ وَنَسْتَلُكَ الْيَسِيرُ وَالْمُعَافَةَ فِي الدُّنيا وَالآخِرَة

Arab latin: Allaahummalthuf binaa fii taisiiri kulli ‘asiirin fa inna taisiiral ‘asiiri ‘alaika yasiirun wa nas-alukal yasiira walmu’aafaata fiddunya wal aakhirati.

Artinya: “Ya Allah, berilah kami taufiq dalam mempermudah segala sesuatu yang sukar, karena sesungguhnya mempermudah yang sukar amatlah mudah bagi Engkau, dan kami memohon kepada Engkau sesuatu yang mudah dan ampunan di dunia dan akhirat.”

2. Doa Mau Ujian Versi Kedua

بِسْمِ اللهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلا حَوْلَ وَلا قوَّةَ إِلا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ عَدَدَ كُلِّ حَرْفٍ كُتِبَ وَيُكْتَبُ أَبَدَ الْأَبِدِيْنَ وَدَهْرَ الدَّاهِرِينَ

Arab latin: Bismillaahi wa subhaanallaahi wal hamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimil ‘aziizil ‘aliimi ‘adada kulli harfiin kutiba wa yuktabu abadal abidiina wadahrad daahiriina.

Artinya: “Dengan menyebut asma Allah, Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas izin Allah Yang Maha Mulia, Maha Agung, Maha Perkasa, dan Maha Mengetahui bilangan huruf yang telah ditulis dan sedang serta akan ditulis sepanjang masa.”

3. Doa Mau Ujian Versi Ketiga

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَأَعِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا وَ عَلَّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الحَكِيمُ

Arab latin: Subhaanakallaahumma laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa wa’allimnaa maa yanfa’unaa wa baarik lanaa fii maa ‘allamtanaa innaka antal ‘aliimul hakiimu.

Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, kami tidak akan memiliki ilmu kecuali Engkau mengajari kami, maka ajarilah kami ilmu yang bermanfaat bagi kami dan berkahilah kami dalam apa yang telah Engkau ajari untuk kami. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.”

4. Doa Mau Ujian Versi Keempat

اللَّهُمَّ بِحُبِّ ذَاتِكَ تَحَصِّنَّ يَا اَللهُ لا إلهَ إِلَّا اللَّهُ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ حَقًّا وَصِدْقًا

Arab latin: Allaahumma bihubbi dzaatika tahashshinna yaa allah, laa ilaaha illallahu sayyidunaa muhammadur rasuulullaahi haqqan wa sidqan.

Artinya: “Ya Allah, dengan mencintai Dzat-Mu, kuatkanlah kami ya Allah, tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang benar dan yang haq.”

5. Doa Mau Ujian Versi Kelima

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ مَا عَلَّمْتَنِيْهِ فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِي إِلَيْهِ وَلَا تَنْسِنَاهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Arab latin: Allaahumma innii astaudi’uka maa ‘allamtaniihi fardud hu ilayya ‘inda haajatii ilaihi wa laa tunsinaahu yaa rabbal ‘alaamiina.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku titipkan kepada-Mu apa yang Engkau telah mengajarkannya kepadaku. Maka kembalikanlah ia kepadaku sewaktu aku menghendakinya. Dan, janganlah Engkau melupakannya dariku, wahai Dzat Yang Menguasai seluruh alam.”

6. Doa Mau Ujian Versi Keenam

Selanjutnya ada juga doa Nabi Musa AS yang dapat dipanjatkan untuk melancarkan ujian yang tengah dijalani. Doa ini tercantum dalam surah Taha ayat 25-28,

25. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي …
26. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
27. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي
28. يَفْقَهُوا قَوْلِي

Arab latin: … Rabbisyraḥ lī ṣadrī wa yassir lī amrī waḥlul ‘uqdatam mil lisānī yafqahụ qaulī

Artinya: “Ya Rabb-ku, lapangkanlah dadaku, dan ringankanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”

Itulah doa mau ujian yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin ketika akan melaksanakan ulangan. Semoga bermanfaat.

(aeb/aeb)



Sumber : www.detik.com

Doa setelah Wudhu Pendek: Arab, Latin dan Arti


Jakarta

Doa setelah wudhu versi pendek dibaca setelah membasuh anggota tubuh yang disyariatkan. Perintah wudhu sendiri tercantum dalam surah Al Maidah ayat 6,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ketika kamu hendak melakukan salat, maka bersucilah dengan mencuci wajahmu dan tanganmu hingga siku, dan usaplah kepalamu dan basuh kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Jika kamu junub mandilah, dan jika kamu sakit, dalam perjalanan, atau setelah buang air besar atau menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak akan memberatkan kamu, melainkan Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya terhadap kamu agar kamu bersyukur.”


Menurut buku Sifat Wudhu & Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad Fahd dan Syaikh bin Baz, wudhu artinya menggunakan air suci ke atas anggota tubuh tertentu yang telah dijelaskan dan disyariatkan oleh Allah SWT. Wudhu juga sering dimaknai bersuci sebelum mengerjakan sholat.

Usai melaksanakan wudhu, ada anjuran untuk membaca doa. Hal ini merujuk pada Kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi. Dari Umar bin Khattab, Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa yang berwudhu lalu mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,’ maka akan terbuka baginya kedelapan pintu surga. Dia diperkenankan memasuki surga melalui pintu mana pun yang diinginkannya.” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dalam Al-Kubra, Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, Ibnu Majah, dan sumber lainnya)

Bacaan Doa setelah Wudhu Pendek

Menukil buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Berbagai Situasi dan Kebutuhan oleh Ali Akbar bin Aqil, berikut bunyi doa setelah wudhu pendek yang dapat dilafalkan oleh kaum muslimin.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Arab latin: Allahummaj ‘alnii minattawwaabiina waj ‘alnii minal mutathahhiriin.

Artinya: “Ya Allah, jagalah agar aku termasuk dalam golongan yang bertaubat dan yang menyucikan diri.” (HR Tirmidzi)

Selain doa tersebut, ada juga doa setelah wudhu versi panjang yang dapat dibaca,

أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Arab latin: Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu, allaahummaj’alnii minat tawwaabiina, waj’alnii minal mutathahhiriina, subhanakallahumma wa bi hamdika, asyhadu anlaa ilaahaillaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam orang-orang yang bertaubat dan yang menyucikan diri. Engkau Maha Suci, ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Tata Cara Wudhu yang Benar

Mengutip buku Fikih Sunnah Wanita karya Abu Malik Kamal, berikut tata cara wudhu yang benar sesuai sunnah Nabi SAW.

1. Berniat dalam hati untuk berwudhu

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Arab latin: Nawaitul whuduua liraf’il hadatsil asghari fardal lillaahi ta’aalaa

Artinya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta’ala”

2. Membaca basmalah

3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali

4. Berkumur tiga kali

5. Menghirup air ke dalam hidung sebanyak tiga kali

6. Membasuh seluruh bagian wajah yang terlihat sejumlah tiga kali

7. Membasuh kedua tangan hingga siku, mulai dari yang kanan lanjut tangan kiri, sebanyak tiga kali

8.Mengusap kepala tiga kali

9. Membasuh kedua telinga tiga kali, dengan diawali yang kanan lalu kiri

10. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki tiga kali, juga dimulai dari kanan kemudian kaki kiri

11. Membaca doa setelah wudhu

Itulah bacaan doa setelah wudhu pendek dan informasi terkaitnya. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

6 Hadits tentang Menuntut Ilmu, Salah Satunya Memudahkan Jalan Menuju Surga


Jakarta

Dalam Islam, menuntut ilmu jadi perintah yang harus dipahami oleh kaum muslimin. Allah SWT berfirman dalam surah Ar Rahman ayat 33,

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ ۝٣٣

Artinya: “Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”


Menurut buku Agar Menuntut Ilmu Jadi Mudah susunan Abdul Hamid M Djamil Lc, kewajiban menuntut ilmu terbagi ke dalam dua macam yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Ilmu yang masuk ke dalam fardhu ‘ain ialah tauhid, fikih, dan tasawuf.

Adapun, ilmu yang termasuk dalam kategori fardhu kifayah merujuk pada ilmu tafsir, ilmu usul fikih, ilmu hitung, dan lain sebagainya. Saat menuntut ilmu pun, ada sejumlah adab yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin.

Selain dalam ayat Al-Qur’an, menuntut ilmu juga disebutkan dalam sejumlah hadits. Berikut hadits tentang menuntut ilmu yang dikutip dari buku Inilah! Wasiat Nabi Bagi Para Penuntut Ilmu karya Drs Wendi Zarman.

1. Ilmu Termasuk Warisan Para Nabi

Ilmu adalah warisan para nabi, hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang berbunyi,

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR Abu Dawud)

Orang yang menuntut ilmu diganjar dengan pahala yang berlipat-lipat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits:

“Siapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR Muslim)

3. Ilmu Adalah Amalan Jariyah

Ilmu termasuk ke dalam amalan jariyah. Artinya, ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya meski orang tersebut sudah meninggal dunia.

“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya (tidak bisa lagi menambah pahala) kecuali 3 orang, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim)

4. Rasulullah SAW akan Menyambut Penuntut Ilmu

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

“Selamat datang wahai penuntut ilmu. Sesungguhnya penutup ilmu benar-benar ditutupi para Malaikat dan dinaungi dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka saling bertumpuk-tumpuk hingga mencapai langit dunia (langit paling dekat dari bumi) karena kecintaan mereka (Malaikat) kepada ilmu yang dipelajarinya.” (HR Ath-Thabrani)

Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi kaum muslimin sebagaimana bunyi sabda beliau dalam hadits riwayat Ibnu Majah.

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Itulah sejumlah hadits tentang menuntut ilmu yang dapat dipahami oleh kaum muslimin. Deretan hadits tersebut membuktikan betapa pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia.

(aeb/rah)



Sumber : www.detik.com

Mau Keinginan Cepat Terkabul, Yuk Baca Doa Ini!


Jakarta

Doa menjadi peran penting kehidupan seseorang. Doa juga menjadi sarana untuk berkomunikasi kepada Allah SWT.

Termaktub dalam surah Al-Ghafir ayat 60, Allah SWT berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ ٦٠


Artinya: “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.””

Setiap muslim pasti menginginkan keinginannya terkabul. Terdapat beberapa cara agar apa yang diinginkan terkabul, salah satunya dengan doa.

Lantas, bagaimana doanya? Begini doa agar apa yang diinginkan terkabul.

Doa Agar Keinginan Terkabul

Dikutip dari buku Kitab Munajatun Nisa’: Doa-doa Mustajab Khusus Wanita oleh Ibnu Watiniyah, berikut beberapa doa agar keinginan terkabul,

Al-Fatihah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١ . اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ . الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ . مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ . اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ . اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ ٧

Bacaan latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Ihdināṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Ṣirāṭal-ladhīna an’amta ‘alaihim ghairil-maghḍūbi ‘alaihim walāḍ-ḍāllīn

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

Dilanjutkan Membaca Doa Ini

اللَّهُمَّ أَنْتَ لَهَا وَلِكُلِّ حَاجَةٍ فَاقْضِهَا بِفَضْلِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا).

Bacaan latin: Allahumma anta laha wa likulli hajatin faqdhina bifadhli bismillahirrahmanirrahim (ma yaftahillahu linnasi min rahmatin fala mumsika laha)

Artinya: “Ya Allah, Engkau pemberi manfaat pada Fatihah dan pada setiap kebutuhan, maka kabulkan hajat (kami) dengan keutamaan bismillahirrahmânirrahim (apa yang Allah buka bagi manusia berupa rahmat maka tidak ada yang mampu menahannya).”

Cara Agar Doa Terkabul

Dirangkum dari buku Doa-doa Mustajab Orang Tua untuk Anaknya oleh Aulia Fadhli, berikut beberapa cara agar apa yang diinginkan terkabul:

1. Ikhlas

Seorang muslim yang sedang berdoa harus ikhlas dan yakin bahwa hanya Allah SWT lah yang dapat mengabulkan doanya. Setiap muslim harus meyakini bahwa tidak ada yang dapat memberi manfaat dan mencegah kemudharatan kecuali Allah SWT.

2. Tidak Mempersekutukan Allah SWT

Hanya kepada Allah SWT lah seorang hamba berdoa. Apa yang diinginkan akan terkabul jika seorang hamba tidak menyekutukan Allah SWT.

3. Menyampaikan Doa dengan Merendahkan Diri dan Suara yang Lembut

Termaktub dalam surah Al-A’raf ayat 55, Allah SWT berfirman,

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ ٥٥

Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

4. Berharap Agar Doa Dikabulkan dan Memiliki Rasa Takut kepada Allah SWT

Termaktub dalam surah Al-A’raf ayat 56, Allah SWT berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”

5. Tidak Berdoa dengan Tergesa-gesa

Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, ‘Akan Ku-kabulkan doa seseorang di antara kalian sepanjang ia tidak tergesa-gesa.’ Ia berkata, ‘Aku telah berdoa dan berdoa, namun aku tidak melihat terkabulnya doaku’, sehingga ia pun tidak lagi berdoa'” (HR Bukhari dan lainnya).

6. Berdoa dengan Perasaan Sangat Butuh kepada Allah SWT

Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian itu meminta dan berdoa kepada Allah SWT, maka perbanyaklah dan seringlah memintanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com