Tag Archives: hikmah

Cara Mengamalkan Doa Nabi Yusuf AS Agar Anak Tampan dan Bercahaya



Jakarta

Ada sebuah tradisi di kalangan muslimin ketika ingin memiliki anak yang tampan dan bercahaya, yaitu dengan membaca doa Nabi Yusuf AS. Berikut adalah cara mengamalkan doa Nabi Yusuf tersebut!

Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Mereka akan mempersiapkan segalanya bahkan sejak sebelum sang buah hati lahir. Mulai dari perlengkapan kelahiran bayi, baju, mainan, dan lain sebagainya.

Tak lupa, orang tua juga selalu mendoakan bayi yang masih ada di dalam kandungan agar diberi kesehatan, kecerdasan, saleh, dan lain-lain. Tak jarang, para orang tua juga berdoa untuk ketampanan atau kecantikan sang bayi.


Biasanya, para orang tua akan berdoa dengan doa Nabi Yusuf AS agar mendapat rida Allah SWT dan diberikan keturunan yang rupawan tampan bagai nabi paling tampan tersebut.

Berikut cara mengamalkan doa Nabi Yusuf AS agar anak tampan dan saleh berdasarkan buku Mukjizat Surat Yusuf dan Maryam karya Rizem Aizid.

Persiapan Mengamalkan Doa Nabi Yusuf AS

Perlu diketahui terlebih dahulu, membaca doa Yusuf AS agar anak berparas rupawan tidak ada syariat atau tuntunan maupun sunahnya. Namun sebagian orang tetap mengamalkan ini sebagai bentuk ikhtiar.

Adapun syarat-syarat dalam membaca surah Yusuf agar harapan dan doa memperoleh anak tampan layaknya Nabi Yusuf AS adalah sebagaimana berikut:

1. Bersuci

Sebelum mengamalkan doa Nabi Yusuf AS dan memegang Al-Qur’an, hendaknya seorang muslim bersuci terlebih dahulu, baik dengan cara mandi besar maupun wudhu.

Al-Qur’an adalah kitab suci. Oleh karena itu, sudah sepantasnya orang yang akan memegang kitab suci itu haruslah dalam keadaan yang suci pula.

2. Memperhatikan Adab Membaca Al-Qur’an

Jika ingin mengamalkan doa Nabi Yusuf AS atau membaca surah Yusuf, maka seseorang harus memperhatikan adab dalam membaca Al-Qur’an. Seperti memegangnya dengan tangan kanan dan tidak merusaknya.

3. Memilih Tempat Bersih dan Suci

Agar harapan terkabul, maka seseorang harus memilih tempat yang bersih dan suci ketika membacanya. Hindari tempat-tempat kotor dan buruk seperti kamar mandi, kuburan, dan lain sebagainya.

4. Menghadap Kiblat

Meski sepele, menghadap kiblat sebelum mengamalkan doa Nabi Yusuf AS juga tidak boleh dilewatkan. Hal ini dianjurkan oleh syariat.

5. Membaca Surah Yusuf dengan Tartil

Bagian yang tak kalah penting adalah membaca surah Yusuf atau doa Nabi Yusuf AS dengan tartil. Artinya, seseorang harus tenang dan meresapi setiap maknanya.

6. Resapi Makna dan Artinya

Keenam, resapilah betul-betul makna dan arti dari setiap ayat yang dibaca. Hal ini sangat penting bagi perkembangan psikologi sang buah hati.

Cara Mengamalkan Doa Nabi Yusuf AS

Agar mengamalkan doa Nabi Yusuf AS lebih baik lagi, maka seorang muslim harus memperhatikan tiga hal di bawah ini.

1. Mengamalkan doa Nabi Yusuf AS di malam hari

Agar doa lebih terkabul maka seseorang perlu membaca doa Nabi Yusuf AS di malam hari. Sebab, Allah SWT telah memposisikan waktu sepertiga malam dan salat tahajud sebagai waktu terbaik untuk berdoa.

Allah SWT sudah menjanjikan bahwa apabila ada seorang hamba-Nya yang berdoa di malam hari, maka tidak akan terjadi kecuali doa tersebut dikabulkan oleh-Nya.

Di saat seperti inilah waktu yang tepat untuk meminta keturunan yang baik hatinya, amalnya, dan juga rupanya.

2. Yakin Doa Nabi Yusuf AS Bisa Menjadi Wasilah

Cara mengamalkan doa Nabi Yusuf yang kedua adalah dengan meyakini sepenuh hati bahwa surah Yusuf itu dapat menjadi perantara atau wasilah dikabulkannya doa oleh Allah SWT.

Jika keinginan yang dipanjatkan adalah seorang anak yang tampan dan saleh, maka ia harus meyakini dengan membaca surah Yusuf, akan lahir seorang anak yang tampan lahir dan batinnya.

3. Tawakal kepada Allah SWT

cara mengamalkan doa Nabi Yusuf yang terakhir adalah dengan bertawakal kepada Allah SWT.

Tawakal dalam konteks ini maksudnya adalah memperlihatkan ketidakmampuan seseorang dan menggantungkan semuanya kepada Allah SWT karena hanya Dia Yang Maha Kuasa.

Setelah semua usaha sudah dilakukan semaksimalnya, maka langkah selanjutnya adalah menyerahkan semua hasilnya kepada Allah SWT. Dia-lah yang Maha Mengatur dan paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Doa Bisa Menjadi Obat Segala Penyakit, Ini Haditsnya



Jakarta

Perintah berdoa termaktub dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan dijelaskan pula oleh Rasulullah SAW melalui beberapa hadits. Doa bahkan bisa menjadi obat berbagai penyakit.

Setiap mukmin diperintahkan untuk berdoa dalam berbagai kondisi. Termasuk ketika mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf Ayat 55, Allah SWT berfirman,


ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Setiap Penyakit Ada Obatnya

Melalui buku Terapi Penyakit Hati, Ibnul Qayyim al- Jauzi menjelaskan bahwa doa bisa menjadi cara untuk mengobati penyakit.

Diceritakan, Syaikh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah ditanya, “Wahai Syaikh, seseorang terkena musibah. Sebenarnya ia sadar, jika musibah itu berlangsung terus-menerus, nasibnya rusak di dunia dan di akhirat. Ia telah berusaha sungguh-sungguh mencegah musibah itu dengan berbagai cara, tapi musibah itu makin menjadi-jadi. Bagaimana ia mengatasinya? Bagaimana ia melepaskan diri dari musibah itu?”

Imam Ibnul Qayyim menjawab, “Alhamdulillah. Dengarkanlah wahai Saudaraku. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad riwayat Bukhari, Abu Hurairah menuturkan sabda Nabi Muhammad,

“Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.”

Dalam Shahih Muslim, terdapat sabda Rasulullah riwayat Jabir bin Abdillah,
“Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat sesuai dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah.”

Maksud hadits ini, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakitnya, dan waktunya sesuai dengan ketentuan Allah SWT, atas izin-Nya orang sakit itu akan sembuh.

Dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan sebuah hadis riwayat Usamah bin Syarik, di mana Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan kesembuhan. Dia ajarkan kepada orang yang Dia ajarkan dan tidak Dia pahamkan orang yang Dia bodohkan (yang tidak diberi petunjuk).”

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menimpakan sesuatu penyakit kecuali memberikan pula obatnya, kecuali satu penyakit. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, penyakit apakah itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Penyakit tua’.”

Penyakit yang dimaksud dalam beberapa hadits ini meliputi penyakit hati, ruh dan fisik. Nabi Muhammad mengategorikan kebodohan sebagai salah satu penyakit. Obatnya adalah bertanya atau belajar kepada orang yang pandai atau lebih berilmu.

Abu Daud meriwayatkan penuturan Jabir bin Abdullah, “Kami keluar bepergian. Salah satu dari kami terkena batu sehingga kepalanya terluka. Ketika tertidur, orang itu bermimpi bersenggama dengan istrinya hingga mengeluarkan air mani. Ia pun bertanya kepada teman-temannya, ‘Apakah aku diizinkan untuk bertayamum?’

Mereka menjawab, ‘Engkau tidak perlu bertayamum. Bukankah engkau tahan air? Namun orang itu tetap mandi. Akibatnya, ia meninggal. Setelah tiba di Madinah, kami menghadap Rasulullah memberitahukan masalah yang dialaminya. Rasulullah menjawab, “Kalian telah membunuhnya. Allah akan membalas kalian. Mengapa kalian tidak bertanya apabila tidak mengerti Sesungguhnya obat orang bodoh adalah dengan bertanya. Orang tadi cukup bertayamum. Sedangkan untuk lukanya, jika amat dalam, ambilkanlah sepotong kain dan usapkanlah di atasnya. Selanjutnya ia dapat mencuci seluruh tubuhnya sehingga bagian yang luka tidak perlu terkena air.”

Rasulullah lantas menjelaskan, kebodohan adalah penyakit dan obatnya adalah kemauan untuk bertanya atau mencari ilmu. Allah SWT menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Al-Qur’an adalah asy-syifa (penyembuh).

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Fussilat Ayat 44,

وَلَوْ جَعَلْنَٰهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا۟ لَوْلَا فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥٓ ۖ ءَا۬عْجَمِىٌّ وَعَرَبِىٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ ۖ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ

Artinya: Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Secara keseluruhan, Al-Qur’an adalah Syifa atau penyembuh, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT di atas.

Maksud dari “penyembuh” dalam konteks ini adalah penyembuh hati dari kebodohan dan keraguan. Allah tidak menurunkan penyembuh yang lebih mujarab untuk mengobati penyakit daripada Al-Qur’an.

Doa Adalah Obat Penyakit

Dalam hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Sa’id meriwayatkan, beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW menempuh suatu perjalanan jauh. Ketika tiba di salah satu perkampungan Arab, mereka mohon izin kepada penduduk setempat untuk singgah. Permohonan mereka ditolak. Kemudian mereka pun pergi.

Saat itu, kepala kampung dipatuk ular hingga pingsan. Warga sibuk berupaya mengobatinya, namun gagal. Seorang warga berkata, “Bagaimana jika kita mendatangi para musafir itu, barangkali ada di antara mereka yang dapat mengobati?”

Beberapa warga pun datang menemui para sahabat dan berkata, “Wahai Tuan-tuan musafir! Kepala dusun kami tersengat ular berbisa. Kami telah berusaha sekuat tenaga, namun tak berhasil menyembuhkannya. Barangkali ada di antara kalian yang bisa berbuat sesuatu.”

Salah seorang sahabat berkata, “Ya, aku akan mengobatinya walau kalian telah menolak kami untuk singgah di tempat ini. Aku akan mengobatinya dengan syarat kalian memberi kami sesuatu.”

Mereka pun setuju dan berjanji memberikan beberapa ekor kambing.

Salah seorang sahabat itu pun berupaya menyembuhkan sang kepala dusun. Ia membaca Surah Al-Fatihah sampai selesai. Atas izin Allah SWT, kepala dusun yang sakit itu pun bangkit dan sembuh total, seakan tak pernah terkena apa-apa.

Sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat, orang yang mengobati itu diberi beberapa ekor kambing seperti yang dijanjikan. Para musafir menghendaki agar kambing itu dibagi-bagikan.

Namun, orang yang mengobati berkata kepada teman-temannya, “Kita tidak akan melakukan apa-apa hingga kita bertemu dengan Rasulullah SAW. Kita akan menceritakan apa yang telah kita lakukan dan menunggu keputusan beliau.”

Mereka pun menghadap Rasulullah dan menceritakan kejadian itu. Beliau berkata, “Siapa yang memberitahumu bahwa Al Fatihah itu ruqyah? Engkau telah tepat melakukannya. Bagi-bagikan kambing itu dan berilah aku sebagian.”

Bacaan Al-Qur’an tersebut ternyata mampu menyembuhkan dan mengatasi penyakit secara total, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Al-Fatihah merupakan doa yang bisa dijadikan obat yang paling mudah. Seandainya dipakai untuk pengobatan secara baik, seseorang tentu akan melihat hasil menakjubkan.

Seorang sahabat Nabi pernah menuturkan, “Aku tinggal di Kota Makkah selama beberapa waktu. Aku menderita berbagai macam penyakit dan tidak menjumpai dokter maupun obat. Maka, aku mencoba mengobati diriku sendiri dengan Surah Al-Fatihah. Ternyata aku sembuh.

Karena itu, aku menyampaikan hal itu setiap kali ada orang yang mengeluh sakit. Setelah mempraktikkannya, kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.”

Pelajaran yang dapat diambil dari beberapa kisah ini adalah bahwa segala macam zikir, ayat, dan doa bisa menjadi obat bermanfaat untuk penyembuhan.

Tapi terkabulnya doa sangat ditentukan oleh kekuatan dan kemauan keras orang yang bersangkutan. Datangnya kesembuhan sangat dipengaruhi oleh pelakunya.

Tidak terkabulnya suatu doa, kadang akibat adanya penghalang kuat yang menghalangi kemanjuran obat tersebut.

Ada beberapa sebab yang membuat doa terkabul, baik dalam menolak hal-hal yang tidak dikehendaki maupun mendapatkan hal-hal yang diharapkan.

Ketika berdoa mengharapkan kesembuhan atas suatu penyakit, hendaknya menanamkan dalam hati bahwa hanya Allah SWT Sang Maha Penyembuh.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

3 Bacaan Doa Nabi Daud, Panjatkan untuk Meluluhkan Hati Seseorang


Jakarta

Terdapat sebuah doa yang dapat dibaca untuk meluluhkan hati seseorang. Doa ini dibaca oleh Nabi Daud AS.

Beliau merupakan nabi yang dikaruniai ilmu pengetahuan yang luas. Bahkan, banyak doa yang dipanjatkan olehnya sebagaimana sabda Nabi SAW yang berbunyi,

“Di antara doa Nabi Daud, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, cinta-Mu, dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.’ Rasulullah SAW menggelari Nabi Daud dengan sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi)


Lantas, seperti apa doa Nabi Daud yang dibaca untuk meluluhkan hati seseorang?

Bacaan Doa Nabi Daud untuk Meluluhkan Hati Seseorang

Menukil buku Setiap Doa Pasti Allah Kabulkan tulisan Abu Ezza, berikut doa Nabi Daud untuk meluluhkan hati seseorang.

1. Doa Nabi Daud untuk Meluluhkan Hati Seseorang Versi Pertama

اَللَّهُمَّ لَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ لَيِّنْتَ لِدَاوُدَالْحَدِيْد

Arab latin: Allahumma laiyinli qalbahu, laiyinta li Daudal hadid

Artinya: “Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau melembutkan Daud (akan) besi.”

2. Doa Nabi Daud untuk Meluluhkan Hati Seseorang Versi Kedua

اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَبِيْرُ وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ الَّذِيْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ، اللَّهُمَّ سَخِّرْ لِيْ كَمَا سَخَّرْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى وَلَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُدَ فَإِنَّهُ لَا يَنْطِقُ إِلَّا بِإِذْنِكَ نَاصِيَتُهُ فِيْ قَبْضَتِكَ وَقَلْبُهُ فِيْ يَدِكَ جَلَّ ثَناَءُ وَجْهِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Arab latin: Allaahumma innaka antal azizul kabir. Wa anaa abduka adhdhoiifudzdzaliil. Alladzii laa haula wa laa quwwata illaa bika. Allaahumma sakhkhir lii … (sebut nama orang dimaksud) kama sakhkhorta firauna li musa. Wa layyin li qolbahuu kama layyantalhadiida li dawuda. Fa innahu la yantiqu illa bi idznika. Nashiyatuhuu fii qobdhatika. Wa qolbuhuu fi yadiKka. Jalla tsanau wajhik. ya arkhamar rakhimiin.

Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan aku hamba-Mu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan keculi karena Engkau. Ya Allah, tundukkanlah… (sebut nama orang yang dimaksud) padaku, sebagaimana Engkau telah menundukkan Fir’aun pada Musa AS. Dan luluhkan hatinya untukku, sebagaimana Engkau telah meluluhkan besi untuk Daud AD. Karena sungguh dia takkan berbicara kecuali dengan izin-Mu. Ubu-ubunnya dalam genggaman-Mu, dan hatinya di tangan-Mu. Pujian wajah-Mu telah Agung, wahai yang lebih sayang para penyayang.”

3. Doa untuk Meluluhkan Hati Seseorang Versi Lainnya

Selain itu, ada juga doa lain yang dapat dipanjatkan untuk meluluhkan hati seseorang seperti dikutip dari buku Doa Rindu Jodoh & Momongan: Doa Sehari-hari, Aplikatif, dan Mudah susunan Mohammad Irsyad.

Allahumma laa sahla illaa maa ja’althu sahlan wa anta taj’ alul hazna idza syi’ta sahlan

Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan, terkecuali sesuatu itu telah Engkau jadikan kemudahan. Dan Engkau dapat menjadikan tanah yang keras menjadi mudah jika engkau berkehendak.”

Itulah doa Nabi Daud yang dapat dibaca untuk meluluhkan hati seseorang. Semoga bermanfaat.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Kumpulan Doa Meraih Kemenangan, Muslim Amalkan Yuk!


Jakarta

Doa meraih kemenangan dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Pada dasarnya, umat Islam diperintahkan untuk berdoa kepada Allah SWT.

Dalam surah Al Mukmin ayat 60, Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Doa termasuk ke dalam ibadah, sebagaimana disebutkan dalam buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki tulisan KH Sulaeman bin Muhammad Bahri. Berdoa atau menyampaikan permohonan adalah ciri ibadah seseorang kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits juga menjelaskan terkait pentingnya doa, beliau bersabda:

“Tiap muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah atau dijauhkan Allah daripadanya suatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang.” (HR At Turmudzi)

Doa Meraih Kemenangan Berbagai Versi

Mengutip buku Doa dan Zikir Orang Sukses oleh Zaki Zamani, berikut sejumlah doa meraih kemenangan yang bisa dibaca oleh kaum muslimin.

1. Doa Meraih Kemenangan Versi Pertama

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالْفَوْزَ بالْجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ

Arab latin: Allahumma inni as’aluka mujibati rahmatika, wa ‘aza’ima maghfiratika, was-salamata min kulli ithmin, wal-ghanimata min kulli birrin, wal-fawza bil- jannati, wannajata mina-nar

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang menyebabkan turunnya rahmat-Mu, segala sesuatu yang memastikan ampunan-Mu, keselamatan dari segala dosa, keberuntungan dari setiap perbuatan baik, kemenangan dengan meraih surga dan keselamatan dari neraka,”

2. Doa Meraih Kemenangan Versi Kedua

Dalam buku Pegangan Hadits Arba’i An-Nawawi susunan Tim Mutiara, ada juga doa kemenangan versi lain yang dapat dibaca yaitu:

Rabbanaa wa syi’ ta kulla syai-ir rahmataw wa ‘ilman faghfir lil ladziina taabuu wattaba’u sabiilaka waqihim ‘adzaabal jahiim. Rabbanaa wa-adkhilhum jannaati adninillati wa’attahum wa man shalaha min aabaa-ihim wa azwaajihim wa dzurriyyaatihim innaka antal’aziizul hakiim. Waqihimus sayyiaati wa mantaqis sayyiaati yaumaidzin faqad rahimtah, wa dzaalika huwal fauzul ‘adhiim.

Artinya: “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu, dan peliharalah mereka dari siksa neraka yang menyala-nyala. Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua, sesungguhnya. Engkaulah yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan, dan barangsiapa yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar.”

3. Doa Meraih Kemenangan Versi Ketiga

اِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحًا مُّبِيۡنًالِّيَـغۡفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِكَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهٗ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِيۡمًاوَّ يَنۡصُرَكَ اللّٰهُ نَصۡرًا عَزِيۡزًا

Arab latin: Inna fatahna laka fat han mubina, liyoghfiro lakallahuma takodda min zambika wa maa ta’akhoro wa yutimma ni’matahu alayka wa yahdiyaka siroo tommustakii maa wayan surokallahu nasron aziiz.

Artinya: “Sesungguhnya kami telah membentangkan bagimu kemenangan yang gemilang. Agar dia mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang. Dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu. Dan dia memberi petunjuk di jalan yang lurus. Dan Allah akan memberikan pertolongan kepadamu dengan pertolongan yang mulia.”

4. Doa Meraih Kemenangan Versi Keempat

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الفلاح والنجاح

Arab latin: Allahumma inni as’alukal falaaha wannajaaha

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu, keberuntungan dan keselamatan,”

Itulah sejumlah doa yang dapat dibaca untuk meraih kemenangan. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

4 Hadits tentang Pemimpin yang Baik, Salah Satunya Mencintai dan Dicintai Rakyat


Jakarta

Dalam Islam, pemimpin terbaik sepanjang masa ialah Nabi Muhammad SAW. Sebagai utusan Allah SWT, beliau menjadi suri tauladan sekaligus sosok panutan memimpin umat.

Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 59,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dalam buku Al-Ahkam As-Sulthaniyyah: Hukum-Hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syariat Islam tulisan Imam Al Mawardi, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT mewajibkan kaum muslimin mentaati ulil amri di antara kita. Maksud dari ulil amri adalah para imam, khalifah atau pemimpin yang memerintah.

Hadits tentang Pemimpin yang Baik

Mengutip buku Kepemimpinan dalam Perspektif Islam karya Ari Prasetyo, berikut sejumlah hadits yang membahas terkait pemimpin yang baik.

1. Hadits Pemimpin Harus Bersikap Amanah

Amanah merupakan akhlak mulia yang artinya dapat dipercaya. Sifat ini dimiliki oleh Nabi SAW dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan menyiarkan agama Islam.

Karenanya, seorang pemimpin yang baik harus memiliki sifat amanah. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang berbunyi,

“Sesungguhnya kepemimpinan merupakan sebuah amanah, di mana kelak di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan. Kecuali mereka yang melaksanakannya dengan cara baik, serta dapat menjalankan amanahnya sebagai pemimpin.” (HR Muslim)

2. Hadits Pemimpin Harus Bertanggung Jawab

Dari ‘Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Ketahuilah setiap dari kalian adalah seorang pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin orang banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluarga suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, budak juga seorang pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”

3. Hadits Pemimpin yang Mencintai dan Dicintai Rakyat

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits,

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Hadits riwayat Imam Muslim).

4. Hadits Mematuhi Aturan Pemimpin yang Baik

Kaum muslimin juga diminta untuk taat dan patuh pada pemimpin yang baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

“Patuh dan taat itu (pada pemimpin) adalah wajib bagi seseorang dalam hal apa yang ia suka atau benci, selama tidak diperintah berbuat maksiat. Jika diperintah maksiat, maka tidak wajib patuh dan taat.” (HR Bukhari)

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

10 Waktu Tepat Membaca Sholawat, Yuk Amalkan!



Jakarta

Sholawat bisa menjadi salah satu ungkapan terima kasih sekaligus pujian kepada Rasulullah SAW. Sholawat merupakan amalan yang bisa dibaca kapanpun dan di manapun.

Sholawat dapat mendatangkan kebaikan bagi setiap muslim yang rutin mengamalkannya. Seorang yang membaca sholawat bahkan mendapat doa dari malaikat.

Suatu hari Rasulullah SAW datang dengan wajah berseri-seri dan bersabda, “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, ‘Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu sholawat dari seorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya dan sepuluh salam bagiku akan ku balas dengan sepuluh salam baginya.” (HR An Nasa’i)


Waktu yang Dianjurkan Membaca Sholawat

Dirangkum dari buku Keajaiban Sholawat oleh Kamarudin, berikut ini waktu-waktu yang dianjurkan membaca sholawat.

1. Sesudah Azan

Diriwayatkan dalam Hadits Imam Ahmad dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila kamu mendengar muadzin menyerukan azan, maka jawablah dengan jawaban yang sama ia baca. Setelah selesai maka bersholawatlah kepadaku.” (HR Muslim)

Dalam hadits senada, Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir, Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang ketika mendengar Azan atau Iqamat berdoa,’Ya Allah, ya Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, pemilik sholat yang akan dilaksanakan, limpahkanlah sholawat kepada Muhammad SAW, hamba sekaligus utusan-Mu, berikanlah kepadanya wasilah, keutamaan, derajat tinggi, dan syafaat pada hari kiamat.”

2. Ketika masuk dan keluar masjid

Disunnahkan juga membaca sholawat ketika masuk ataupun keluar masjid. Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadits.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila masuk ke masjid, ucapkanlah ‘salam’ kepadaku. Sesudah itu, hendaklah membaca, ‘Allahummaftah li abwaba rahmatik (Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku segala pintu rahmatmu). Dan apabila hendak keluar, hendaklah membaca (sesudah bersholawat) ‘Allahumma inni asaluka min fadhlika (Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu limpahan Rahmat-Mu)’. HR Abu Dawud)

3. Sesudah membaca tasyahud akhir

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seseorang dari kamu bertasyahud dalam sholat, maka hendaklah dia membaca: Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Kama Sholaita ala ibrahim, wa ala ali Ibrahim. Innaka hamidummajid.” (HR Al-Baihaqi)

4. Ketika sholat jenazah

Menurut Imam Syafi’i, “Sunnah Nabi SAW dalam melaksanakan sholat jenazah ialah bertakbir pada permulaannya, sesudah itu membaca Al-Fatihah dengan tidak mengeraskan suara, kemudian sesudah takbir kedua membaca sholawat, sesudah bersholawat bertakbir lagi, takbir ketiga. Sesudah takbir yang ketiga ini membaca doa dengan penuh keikhlasan untuk jenazah itu. Dalam sholat jenazah tidak dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah itu bertakbir lalu memberi salam dengan suara yang tidak dikeraskan.”

5. Pada permulaan dan akhir doa

Salah satu adab dalam berdoa yaitu mengucapkan sholawat di awal dan akhirnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya doa itu berhenti antara langit dan bumi, tiada naik barang sedikit juga dari padanya sehingga engkau bersholawat atas nabimu.” (HR Tirmidzi).

6. Ziarah ke makam Nabi Muhammad

Sebagaimana sabda Rasulullah: “Tiadalah seseorang dari pada kamu yang mengucapkan salam kepadaku yaitu di sisi kuburku melainkan Allah mengembalikan ruhku padaku untuk menjawab salammu itu.” (HR Abu Daud).

7. Ketika hendak memulai urusan penting

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap pekerjaan baik jika tidak dimulai dengan bersholawat maka pekerjaan atau urusan itu terputus dan hilang keberkahannya.”

8. Pada malam dan hari Jumat

Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah membaca sholawat pada malam Jumat dan siangnya, karena sholawat itu dikemukakan kepadaku.” (HR At Thabrani)

9. Setiap memulai majelis

Dalam haditsnya, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak duduk suatu kaum dalam suatu majelis, sedang mereka tidak berdzikir dan tidak bersholawat melainkan akan menderita kekurangan maka jika Allah Menghendaki, niscaya Allah akan mengazab mereka dan jika Allah menghendaki, niscaya akan mengampuni mereka.” (HR At Tirmidzi dan Abu Dawud)

10. Ketika dilanda kesulitan

Dari Ubay bin Ka’ab bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu sekiranya saya jadikan sholawat saya untuk engkau semua? Beliau menjawab, “Kalau demikian, Allah akan memelihara engkau dari segala yang membimbangkanmu, baik mengenai duniamu maupun akhiratmu.” (HR Ahmad)

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa untuk Kedua Orang Tua dan Adabnya yang Harus Dipahami Muslim


Jakarta

Doa kedua orang tua menjadi bentuk bakti seorang anak. Berdoa menjadi cara berterima kasih kepada orang tua karena telah merawat dan membesarkan kita.

Allah SWT berfirman dalam surah Luqman ayat 14,

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ


Arab latin: wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Syaikh Bakar Abdul Hafizh dalam karyanya, Al-Ad’iyah fi Al-Qur’an Al-Karim, Tafsiruha wa Ma’aniha, mendefinisikan kata doa secara bahasa berarti memanggil dengan suara, dan ucapan.

Doa Kedua Orang Tua: Arab, Latin dan Terjemahannya

Doa untuk kedua orang tua tercantum dalam surah Al Isra ayat 24 yang berbunyi,

رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً

Arab latin: Rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

Artinya: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

Selain itu, ada juga doa kedua orang tua versi lainnya yang dapat dibaca. Berikut lafaznya yang dirangkum dari arsip detikHikmah,

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Arab latin: Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā

Artinya: “Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.”

Adab pada Kedua Orang Tua

Mengutip buku Pelajaran Adab Islam 2 oleh Ahmad dan Abdul Fatah, berikut sejumlah adab yang harus diperhatikan pada kedua orang tua.

1. Taat kepada Kedua Orang Tua

Seorang muslim harus taat kepada kedua orang tua yang membesarkannya selama mereka tidak mendurhakai Allah SWT. Bahkan, hukum menaati kedua orang tua menjadi kewajiban bagi seorang muslim.

2. Tidak Mendahului dalam Berkata-kata

Mempersilakan serta membiarkan orang tua untuk berkata-kata terlebih dahulu dapat menyenangkan hati orang tua. Hal ini dicontohkan dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar RA, ia berkata:

“Kami pernah bersama Nabi SAW di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang muslim’ Ibnu Umar berkata: ‘Sebetulnya aku ingin menjawab pohon kurma. Namun karena aku yang paling muda di sini maka aku diam,’ Lalu Nabi SAW pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma.” (HR Bukhari)

3. Selalu Mendoakan

Sebagai seorang anak, hendaknya kita selalu mendoakan orang tua sebagaimana yang telah diajarkan Allah melalui Al-Qur’an. Jasa mereka yang besar tentu tidak dapat diukur dengan materi.

Itulah doa kedua orang tua beserta adabnya yang harus dipahami oleh kaum muslimin. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

5 Hadits tentang Pentingnya Menjaga Silaturahmi


Jakarta

Silaturahmi mengandung banyak keutamaan. Dalam Islam, silaturahmi memiliki peran penting bagi kehidupan sehari-hari.

Mengutip buku Keajaiban Shalat, Sedekah dan Silaturahmi oleh Amirulloh Syarbini, para ulama mengartikan silaturahmi sebagai hubungan keluarga yang bertalian darah. Sementara itu, makna dari silaturahmi secara umum ialah menghubungkan sesuatu yang memungkinkan terjadinya kebaikan, serta menolak sesuatu yang memungkinkan terjadinya keburukan dalam batas kemampuan.

Dalil mengenai silaturahmi tercantum dalam surah An Nisa ayat 36,


وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Bahkan dalam sejumlah hadits juga ditekankan mengenai pentingnya menjaga silaturahmi bagi kaum muslimin.

Hadits tentang Pentingnya Menjaga Silaturahmi

Berikut sejumlah hadits mengenai pentingnya menjaga silaturahmi yang dikutip dari buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 karya Syaikh Mahmud Al-Mishri.

1. Perintah untuk Silaturahmi

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orang tua dan saudara.” (HR Bukhari)

2. Silaturahmi Mengandung Banyak Manfaat

Banyak keutamaan yang terkandung dalam silaturahmi, hal ini disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang berbunyi:

“Ketika tamu datang pada suatu kaum, maka ia datang dengan membawa rezekinya. Ketika ia keluar dari kaum, maka ia keluar dengan membawa pengampunan dosa bagi mereka.” (HR Ad-Dailami)

3. Melapangkan Rezeki

Silaturahmi dapat melapangkan rezeki sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“Barangsiapa yang senang agar dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari)

4. Jadi Penghapus Dosa

Dosa manusia yang melakukan silaturahmi akan terhapus. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud,

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

5. Diganjar Surga oleh Allah SWT

Nabi SAW bersabda,

“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR Bukhari)

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Sholat Syuruq, Kapan Sebaiknya Dipanjatkan?


Jakarta

Sholat syuruq adalah ibadah sunnah yang dikerjakan ketika matahari terbit. Seperti sholat pada umumnya, ada bacaan yang dipanjatkan yaitu doa sholat syuruq.

Dalil terkait pengerjaan sholat syuruq tercantum dalam sebuah hadits yang berbunyi,

“Siapa yang sholat Subuh berjamaah, lalu duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian sholat dua rakaat, ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna (diulang tiga kali).” (HR Tirmidzi)


Mengutip dari buku Super Lengkap Shalat Sunah oleh Ubaidurrahim El-Hamdy, isyraq atau syuruq berasal dari kata syarq yang artinya timur, terbit dan menerangi. Secara sederhana, sholat syuruq diartikan sebagai sholat dua rakaat setelah matahari terbit dan meninggi, kurang lebih satu tombak dalam pandangan mata.

Doa Sholat Syuruq dan Waktu Membacanya

Dijelaskan oleh Ibnu Watiniyah dalam Kitab Lengkap Shalat, Shalawat, Zikir, dan Doa bahwa doa sholat syuruq dipanjatkan setelah mengerjakan amalan tersebut. Berikut bacaannya,

أَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عَافِيَةً وَجَاءَالشَّمْسُ مِنْ مَطْلَعِهَا.اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ خَيْرَهَذَا الْيَوْمِ وَادْفَعْ عَنِّيْ شَرَّهُ. اَللَّهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ اْلأَرْضَ بِنُوْرِ شَمْسِكَ اَبَدًا. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Arab latin: Alhamdulillahil ladzi ja’alal yauma ‘afiyataw waja-‘asy syamsu min mathla’iha. Allahummar-zuqni khaira hadzal yaumi wadfa’ ‘annii syarrah. Allahumma nawwir qalbi binuri hidayatika kama nawwartal ardla binuri syamsika abada. Birahmatika ya arhamar rahimin.

Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan hari ini sejahtera dan telah terbit matahari dari tempatnya. Ya Allah, beri lah aku kebaikan hari ini dan jauhkan lah dariku keburukan hari ini. Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya hidayah-Mu, sebagaimana telah Engkau terangi bumi dengan cahaya matahari-Mu terus-menerus. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Paling Pengasih di antara semua yang mengasihi.”

Apakah Sholat Syuruq Sama dengan Sholat Dhuha?

Sejumlah ulama menyamakan sholat syuruq dengan sholat Dhuha. Namun, sebagian lainnya menilai keduanya berbeda.

Masih dari buku yang sama, Imam Al Ghazali berpendapat bahwa sholat syuruq berbeda dengan Dhuha. Sebab, waktunya berbeda meski berdekatan. Ia menyebut waktu sholat syuruq adalah sejak matahari terbit yang mana terlewatnya waktu yang dilarang untuk sholat.

Penamaan syuruq sendiri merujuk pada waktu pelaksanaannya yaitu ketika matahari terbit atau ketika matahari memancarkan sinar. Artinya, sholat syuruq adalah amalan sunnah yang dikerjakan setelah sholat Subuh.

Tata Cara Sholat Syuruq

Berikut tata cara sholat syuruq yang dikutip dari buku Rahasia Kedahsyatan Shalat Sunah Setahun Penuh oleh Ustaz M Kamaluddin S Pd I MM.

1. Membaca niat sholat syuruq dua rakaat dengan lafal berikut,

Usalli Sunnata Isyraq Rak’ataini Lillaahi Ta’aalaa, Allahu Akbar.

Artinya: “Aku niat sholat sunnah syuruq dua rakaat karena Allah ta’aalaa, Allah Maha Besar.”

2. Pada rakaat pertama usai membaca surat Al-Fatihah, bacalah surat An Nur ayat 35,

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Arab latin: Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun ‘alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

Artinya: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

3. Saat rakaat kedua setelah membaca Al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat An nur ayat 36-38

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

Arab latin: Fī buyụtin ażinallāhu an turfa’a wa yużkara fīhasmuhụ yusabbiḥu lahụ fīhā bil-guduwwi wal-āṣāl

Artinya: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS An Nur: 36)

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ

Arab latin: Rijālul lā tul-hīhim tijāratuw wa lā bai’un ‘an żikrillāhi wa iqāmiṣ-ṣalāti wa ītā`iz-zakāti yakhāfụna yauman tataqallabu fīhil qulụbu wal-abṣār

Artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS An Nur: 37)

لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Arab latin: Liyajziyahumullāhu aḥsana mā ‘amilụ wa yazīdahum min faḍlih, wallāhu yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb

Artinya: “(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An Nur: 38)

4. Setelah melaksanakan sholat syuruq, dianjurkan membaca Al-Quran untuk mendapat petunjuk yang akan diperoleh dengan membacanya secara tadabbur. Selain itu, baca juga doa sholat syuruq seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa Sebelum Wudhu: Arab, Latin dan Artinya


Jakarta

Doa sebelum wudhu dipanjatkan ketika hendak membasuh anggota wudhu. Pada dasarnya, wudhu dilakukan untuk membersihkan hadats kecil sebelum mendirikan sholat.

Perintah wudhu tercantum dalam surah Al Maidah ayat 6,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.”

Mengutip buku Fiqih Wudhu Versi Madzhab susunan Sutomo Abu Nashr Lc, wudhu dalam bahasa Arab berasal dari kata al-wadha’ah yang maknanya an-Nadzhafah atau kebersihan. Dari segi istilah, arti wudhu adalah aktivitas khusus yang diawali dengan niat atau menggunakan air pada sebagian anggota badan khusus.

Bacaan Doa Sebelum Wudhu

Berikut doa sebelum wudhu yang dikutip dari Syarah Hishnul Muslim oleh Syaikh Majdi Abdul Wahab Al-Ahmad.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولَهُ

Arab latin: Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”

Dikatakan oleh Imam Nawawi melalui Kitab Al-Adzkar bahwa sejumlah ulama seperti Syekh Abu Fath dan Nashr Al-Maqdisi az-Zahid berpandangan bahwa orang yang berwudhu disunnahkan untuk membaca lafaz tersebut. Pelafalannya dilakukan setelah mengucap basmalah.

Meski demikian, Imam Nawawi menjelaskan doa tersebut tidak ada sandaran dari sunnah Rasulullah SAW. Begitu pun tidak ditemukan pendapat ulama lain selain yang disebutkan di atas.

Niat Sebelum Wudhu

Selain doa sebelum wudhu, ada juga niat yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Dikutip dari buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-hari oleh KH Muhammad Habibillah, berikut bacaannya.

Menukil dari buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-hari karangan KH Muhammad Habibillah, berikut bacaan niat wudhu disertai latin dan artinya.

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Arab latin: Nawaitul whuduua liraf’il hadatsil asghari fardal lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta’ala.”

Itulah bacaan doa sebelum wudhu beserta niatnya. Jangan lupa dipanjatkan ya!

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com