Tag Archives: hikmah

Kisah Haji Pertama Rasulullah Sekaligus yang Terakhir



Jakarta

Rasulullah SAW melaksanakan haji sekali seumur hidup. Beliau menunaikan haji pertama sekaligus terakhirnya pada 10 H.

Sebelum itu, belum diwajibkan dan Nabi Muhammad SAW juga tidak pernah melaksanakan haji setelah Haji Wada. Hal itu sebagaimana dijelaskan Said Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma’a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah.

Sementara itu, dalam Jawami as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hazm al-Andalusi dikatakan, Rasulullah SAW berhaji dan berumrah berkali-kali sebelum kenabian dan setelahnya, tetapi sebelum hijrah. Setelah hijrah ke Madinah, beliau hanya berhaji satu kali.


Para sahabat menyebut haji yang dilaksanakan Rasulullah SAW sebagai Hajjatul Islam (haji pertama dalam Islam) atau Hajjatu Rasulillah (haji wajib yang dilaksanakan Rasulullah SAW).

Kisah haji pertama dan terakhir Rasulullah SAW yang juga disebut dengan Haji Wada ini juga dijelaskan dalam Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dan Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.

Diceritakan, memasuki bulan Zulkaidah, Rasulullah SAW bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah haji dan memerintahkan kaum Muslimin untuk mempersiapkan perbekalan.

Ibnu Ishaq mendengar dari Abdurrahman bin Qasim, dari ayahnya, Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, istri Nabi yang mengatakan, “Rasulullah berangkat untuk menunaikan ibadah haji pada tanggal 25 Zulkaidah.”

Pada saat itu, Rasulullah SAW mengangkat Abu Dujanah as-Saidi sebagai pemimpin sementara di Madinah. Pendapat lain mengatakan bahwa yang ditunjuk adalah Siba bin Urfuthah al Ghifari.

Allah SWT menghendaki Rasulullah SAW bisa menyaksikan buah dakwah yang beliau perjuangkan melawan beragam kesulitan selama lebih dari dua puluh tahun. Maka beliau mengumpulkan berbagai kabilah Arab di pinggiran Kota Makkah untuk ditanyai tentang syariat dan hukum-hukum agama.

Beliau minta persaksian mereka bahwa beliau telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, dan menasihati umat. Nabi mengumumkan niatnya untuk melaksanakan Haji Wada yang mabrur.

Mendengar pengumuman itu, orang-orang berdatangan ke Madinah Mereka semua ingin ikut bersama Rasulullah SAW. Pada hari Sabtu, lima hari sebelum berakhirnya bulan Zulkaidah, Nabi berkemas siap untuk berangkat. Beliau menyisir rambut, memakai jubah, dan memakai minyak wangi. Beliau membawa unta dan berangkat selepas zuhur

Setelah fajar menyingsing, beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Malam ini aku didatangi oleh utusan Tuhanku. la berkata, ‘Salatlah di lembah yang diberkahi ini dan katakan, umrah beserta haji.'” (HR Bukhari dari Umar)

Sebelum salat Zuhur, beliau mandi untuk berihram. Aisyah RA lalu memercikkan minyak dzariyah dan minyak yang bercampur kesturi di tubuh dan kepala Nabi Muhammad SAW hingga kilaunya terlihat di kening dan jenggot beliau.

Wewangian itu dibiarkan saja dan tidak dibasuh. Setelah itu, beliau memakai jubah dan selendang. Perjalanan Rasulullah sampai di dekat Makkah. Beliau bermalam di Dzu Thuwa lalu memasuki Makkah setelah shalat subuh dan mandi pada hari Ahad 4 Zulhijah 10 H.

Perjalanan ini ditempuh selama delapan hari, setelah memasuki Masjidil Haram, beliau tawaf di Baitullah dan melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.

Beliau tidak bertahallul karena yang dilakukan adalah haji qiran. Dalam rombongan itu digiring pula hewan-hewan kurban. Selanjutnya beliau beristirahat di Hajun dan tidak lagi melakukan thawaf kecuali thawaf untuk haji.

Para sahabat yang tidak membawa hewan kurban diperintahkan agar menjadikan ihramnya sebagai umrah. Lalu mereka melakukan tawaf berkeliling Ka’bah, disusul melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah kemudian bertahallul dengan sempurna.

Setelah itu, Rasulullah SAW melanjutkan ibadah hajinya, memperlihatkan kepada mereka tata cara ibadahnya, mengajari mereka sunnah-sunnah haji, dan berpidato di depan orang banyak untuk menjelaskan segala sesuatu yang perlu dijelaskan.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Kisah Nuaiman dan Hadiah Madu untuk Rasulullah SAW



Jakarta

Nabi Muhammad SAW memiliki sahabat yang terkenal jahil dan sering membuat orang lain tertawa. Nu’aiman bin Ibnu Amr bin Raf’ah namanya, ia merupakan sahabat Rasulullah yang berasal dari kalangan Anshar.

Dalam beberapa catatan sejarah, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad kerap tertawa dan gembira bila berada di dekat Nu’aiman saking jenakanya pria tersebut. Berkaitan dengan itu, ada sebuah kisah lucu mengenai Nu’aiman memberikan hadiah madu untuk Rasulullah.

Mengutip dari buku Janibal Ma’rifat tulisan Dafiq Rohman, suatu hari Nu’aiman membeli madu dari seorang Badui. Tanpa membayarnya, dia mengajak orang tersebut menghadap Rasulullah SAW dan menyerahkan madu tersebut kepada beliau sebagai tanda hadiah.


Tanpa sepengetahuan Rasulullah dan orang lain yang hadir, Nu’aiman berkata kepada orang Badui tersebut, “Mintalah bayarannya di sini,”

Setelah menerima hadiah itu, Nabi Muhammad pun merasa senang. Terlebih madu merupakan makanan kesukaan beliau.

Hadiah dari Nu’aiman itu kemudian dibagikan kepada orang yang hadir sampai habis. Sementara orang Badui yang menjual madu menunggu pembayaran madu yang dibeli Nu’aiman, tetapi hal itu tak kunjung ia terima hingga akhirnya bertanyalah dia kepada Rasulullah,

“Apa maduku tidak akan dibayar?”

Mendengar pertanyaan orang Badui tersebut, Rasulullah tersadar bahwa tidak ada yang berani melakukan hal ini kecuali sahabatnya yang usil, yaitu Nu’aiman. Beliau lalu menghampiri Nu’aiman dan bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut.

“Aku ingin berbuat baik kepadamu, tetapi aku tidak memiliki apa-apa,” jawab Nu’aiman.

Alih-alih marah, Nabi Muhammad justru tertawa mendengar jawaban sahabatnya yang jahil itu. Beliau lalu segera membayar madu yang telah habis dibagikan itu.

Di kesempatan yang lain, ada juga kisah mengenai Nu’aiman yang menyembelih unta milik tamu Nabi Muhammad SAW. Menurut kisah yang diceritakan oleh Abu as-Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq an-Nabi wa Adalubuhu, suatu ketika ada ada orang Arab pedalaman yang datang mengendarai untanya dan berhenti di depan pintu Masjid Nabawi.

Setelahnya, orang tersebut masuk menemui Rasulullah. Sementara Hamzah ibn Abdul Muthalib tengah duduk bersama beberapa Muhajirin dan Anshar, Nu’aiman menjadi salah satunya.

Kemudian, mereka berkata kepada Nu’aiman, “Hebat, untanya itu gemuk. Maukah kamu menyembelihnya karena kita benar-benar ingin makan daging? Andaikan kamu melakukannya, pastilah Rasulullah SAW akan berutang untuk membayarnya, dan kita pun bisa makan daging,”

Mendengar itu, Nu’aiman berkata, “Tapi jika aku melakukannya dan kalian memberitahukan perbuatanku kepada Rasulullah SAW, pastilah beliau memarahiku,”

“Kamu (kami anggap) tidak melakukan apa-apa!” jawab mereka.

Tanpa pikir panjang, Nu’aiman segera menyembelih unta tersebut lalu pergi buru-buru. Dia melewati Miqdad bin Amru yang baru selesai menggali sebuah lubang, ia berkata

“Wahai Miqdad, sembunyikan aku di dalam lubang ini. Tutupilah aku dan jangan tunjukkan tempatku kepada siapa pun karena aku telah melakukan sesuatu,”

Miqdad menuruti Nu’aiman, ketika orang Arab itu keluar, betapa terkejutnya ia mendapati untanya sudah mati. Rasulullah lalu keluar dari rumahnya dan bertanya siapa yang melakukan hal tersebut.

Para sahabat lantas menjawab bahwa itu perbuatan Nu’aiman. Kemudian Rasulullah dan para sahabat mencari Nu’aiman, setelah ditemukan ia lantas berkata,

“Demi Dia yang mengutusmu membawa kebenaran yang telah menyuruhku melakukannya adalah Hamzah dan teman-temannya. Mereka mengatakan begini dan begitu,”

Nabi Muhammad lalu meminta orang Arab pedalaman itu agar merelakan untanya, ia juga bersabda:

“Unta ini menjadi urusan kalian (harus kalian bayar), dan mereka pun memakannya,”

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com

Kala Paman Rasulullah Berdoa Meminta Turunnya Hujan



Jakarta

Abbas bin Abdul Muthalib namanya. Paman nabi yang satu ini disebut sebagai orang yang paling kesepian usai wafatnya Rasulullah SAW.

Abbas merupakan saudara bungsu dari ayah Nabi Muhammad. Mengutip dari buku Abbas bin Abdul Muthalib yang ditulis oleh Arief Priambudi, perbedaan umur Abbas dan Rasulullah hanya berkisar dua sampai tiga tahun.

Keduanya sangat akrab, terlebih usia mereka tidak terpaut jauh. Sosok Abbas dikenal sebagai seorang yang pemurah, selalu menjaga dan menghubungkan tali silaturahmi.


Selain itu, Abbas juga disebut sebagai orang yang cerdas. Saking cerdasnya, Abbas memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Quraisy, ia tak gentar membela Nabi Muhammad dari berbagai bencana dan kejahatan kaum Quraisy.

Berkaitan dengan Abbas, ada sebuah kisah menarik. Diceritakan dalam buku Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, dan Jihad Para Sahabat Nabi yang Kaya Raya susunan Ustaz Imam Mubarok Bin Ali, pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab terjadi paceklik yang hebat bersamaan dengan kemarau ganas.

Masyarakat berbondong-bondong datang kepada khalifah Umar untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang menimpa daerahnya masing-masing. Umar lantas meminta para kaum muslimin untuk membantu sesama, penguasa di berbagai daerah diperintahkan mengirim kelebihan daerah ke pusat.

Ka’ab lalu menemui Umar bin Khattab sambil berkata, “Wahai amirul mukminin! Biasanya Bani Israil kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka,”

Mendengar hal itu, Umar lalu menjawab, “Inilah paman Nabi Muhammad SAW dan saudara kandung ayahnya. Lagi pla, ia adalah pimpinan Bani Hasyim,”

Paman Rasulullah yang dimaksud ialah Abbas bin Abdul Muthalib. Selanjutnya, Umar segera pergi menemui Abbas dan menceritakan kesulitan yang dialami oleh masyarakat.

Setelah itu, Umar dan Abbas naik ke atas mimbar seraya berdoa, “Ya Allah, kami menghadapkan diri kepada-Mu bersama dengan paman nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunnkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa,”

Kemudian, Abbas memulai berdoa dengan memuja Allah SWT,

“Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan, dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuhan dan suburkanlah semua air susu. Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa, Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali lantara taubat. Kini, umat ini sudah menghadapkan diri kepada-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami,” (HR Bukhari dari Anas bin Malik).

Atas izin dan kuasa Allah, setelah doa tersebut dipanjatkan turunlah hujan lebat. Orang-orang lalu bersyukur dan mengucapkan selamat kepada Abbas, “Selamat kepadamu wahai Saqi Haramain yang mengurusi minuman orang di Makkah dan Madinah!”

Dijelaskan dalam buku Pelajaran Agama Islam yang ditulis oleh Hamka bahwa memohon kepada Allah SWT dengan memakai seseorang sebagai perantara diperbolehkan. Hal ini disebut dengan wasilah yang artinya perantara.

Dalam surat Al Maidah ayat 35, Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Arab latin: Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtagū ilaihil-wasīlata wa jāhidụ fī sabīlihī la’allakum tufliḥụn

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan,”

Hal inilah yang juga mendorong Umar bin Khattab untuk mempersilahkan Abbas selaku paman Rasulullah untuk membacakan doa permohonan turunnya hujan. Doa tersebut diriwayatkan dari hadits riwayat Bukhari.

Itulah kisah mengenai paman Nabi Muhammad yang diminta Umar untuk berdoa agar hujan turun. Semoga cerita di atas dapat mempertebal keimanan kita, Aamiin.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Saat Rasulullah Menegur Sahabat Akibat Panjangnya Bacaan Salat



Jakarta

Menurut keterangan hadits, diketahui ternyata Rasulullah SAW pernah menegur salah seorang sahabatnya. Teguran itu bermaksud mengingatkan sahabatnya akan panjangnya bacaan surah saat menjadi imam.

Hadits tersebut bersumber dari Jabir bin Abdullah RA. Berdasarkan riwayatnya, sahabat yang bernama Muadz bin Jabal tersebut bahkan membuat seorang makmum memisahkan diri dari barisan salat berjamaah.

Dikisahkan, Mu’adz pernah salat bermakmum kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, dia lalu mendatangi kaumnya dan mengimami mereka salat dengan membaca surah Al Baqarah.


Jabir berkata, “Saat itu lalu ada seorang makmum yang memutuskan diri dari berjamaah, lalu mengerjakan salat sendirian secara ringkas,” sebagaimana dikutip dari Shalatul Mu’min Bab Imamah karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani.

Kejadian ini pun lalu sampai kepada Mu’adz. Ia pun berkata, “Sungguh dia itu munafik,”

Omongan Mu’adz ini lalu sampai kepada laki-laki tersebut. Laki-laki itu lalu mendatangi Nabi Muhammad SAW dan mengadukan hal itu pada beliau. Ia berkata,

“Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ini adalah orang yang bekerja dengan tangan kami sendiri dan kami menyirami sendiri tanah kami dengan bantuan unta, dan sesungguhnya semalam Mu’adz mengimami kami salat dengan membaca surah Al-Baqarah, kemudian aku memisahkan diri, kemudian dia mengatakan bahwa aku munafik (bagaimana ini?),”

Rasulullah SAW yang mendengar kisah dari lelaki tersebut pun mendatangi Mu’adz. Beliau pun menegurnya dengan lembut mengingatkan Mu’adz untuk mempertimbangkan kondisi makmum dalam salat.

“Wahai Mu’adz, apakah engkau seorang yang suka menimbulkan kesulitan kepada orang lain? Apakah engkau seorang yang suka menimbulkan kesulitan kepada orang lain? Apakah engkau seorang yang suka menimbulkan kesulitan kepada orang lain? Oleh karena itu, bacalah surat Asy-Syams dan Al-A’la atau surat lain yang kurang lebih sama panjangnya.” (HR Bukhari)

Kisah ini juga termaktub dalam Shahih Muslim dengan redaksi serupa. Berikut hadits selengkapnya.

“Dia (Mu’adz) pernah mengerjakan salat Isya’ bersama Rasulullah. kemudian mendatangi kaumnya dan mengimami mereka salat tersebut.

Suatu malam ia mengerjakan salat Isya’ bersama Nabi Muhammad SAW, kemudian mendatangi kaumnya dan mengimami mereka dengan membaca surat Al Baqarah, lalu ada seseorang yang membatalkan salatnya, kemudian mengerjakan salat sendirian dan setelah itu ia lalu pergi…” (HR Muslim)

Dalam hadits Anas RA seperti yang dikeluarkan Imam Ahmad juga menyampaikan kisah serupa. Anas berkata.

فَلَمَّا رَأَى مُعَاذَا طَوَّلَ تَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ وَحَقَ بِنَخْلِهِ يَسْقِيهِ….

Artinya: “Ketika orang tersebut mengetahui Mu’adz memanjangkan bacaannya, dia lalu memperpendek salatnya, berpaling dari salat berjamaah itu, lalu bergegas untuk menyirami tanaman kurmanya…” (HR Ahmad)

Dijelaskan Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani, makmum memisahkan diri hal lantaran imam terlalu memanjangkan bacaan salatnya adalah termasuk uzur syar’i.

Perawi hadits Imam Ahmad dalam buku Panduan Shalat Praktis & Lengkap oleh Ustaz Ust. Syaifurrahman El-Fati juga berpendapat , seorang imam salat sebaiknya membaca membacakan surat pendek. Tujuannya, agar amalan ibadah tidak memberatkan jamaah lainnya. Dengan catatan, ukuran berat ringannya bacaan surat Al-Qur’an tergantung kebiasaan imam dan makmum di daerah tersebut.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Kisah Utsman bin Affan dan Kedermawanannya dalam Berbagi



Jakarta

Utsman bin Affan merupakan sosok sahabat Rasulullah SAW yang dikenal akan kedermawanannya. Dia juga termasuk ke dalam golongan yang pertama memeluk Islam atau biasa disebut Assabiqunal Awwalun.

Usia Utsman dengan Nabi Muhammad terpaut 6 tahun lebih muda. Dirinya juga merupakan sosok pemimpin ketiga setelah Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Utsman memeluk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi, usia Utsman kala itu masih 34 tahun.


Nama lengkapnya Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umaiyah bin Abdusy Syams bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwa’i bin Ghaib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan. Ia lahir di Thai kawasan Hijaz, sebuah wilayah bagian barat laut Arab Saudi.

Sebagai sosok yang dermawan, Utsman bin Affan tidak pernah ragu dalam menyumbangkan hartanya di jalan Allah dan membantu sesama. Dijelaskan dalam buku Utsman bin Affan RA susunan Abdul Syukur al-Azizi, Syurahbil bin Muslim RA menuturkan bahwa Utsman pernah memberi makan banyak orang dengan makanan para bangsawan.

Setelahnya, Utsman masuk ke rumahnya untuk makan cuka dan minyak samin. Dia memberikan makanan yang baik-baik kepada orang lain sementara dirinya hanya memakan cuka dan minyak samin.

Mengutip dari buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga tulisan Luthfi Yansyah, kedermawanan dan kemurahan hati Utsman tidak ada yang menandingi. Ketika masjid Nabawi terasa sempit karena banyak jemaah yang ikut salat, Rasulullah SAW bermaksud membeli tanah milik seorang sahabat untuk keperluan perluasan masjid, beliau berkata:

“Siapa yang membeli tanah keluarga Fulan lalu menambahkannya ke masjid, maka dia akan memperoleh kebaikan dari tanah itu di surga,”

Tanpa pikir panjang, Utsman segera membelinya dari harta pribadi senilai 25 ribu dinar. Dia juga membeli sebuah sumur yang dinamai Sumur Rumah seharga 1000 dirham.

Sumur itu lantas diserahkan kepada kaum muslimin dari berbagai kalangan, baik itu kaya, sederhana, miskin, ataupun mereka yang kehabisan bekal perjalanan. Begitu dermawannya sosok Utsman bin Affan.

Pernah pada suatu ketika di masa kekhalifahan Umar bin Khattab terjadi musim paceklik. Sawah dan ladang menjadi kering sampai-sampai masa itu disebut sebagai tahun Ramadah atau debu.

Kaum muslimin merasa sangat kesulitan hingga banyak nyawa manusia yang terancam. Umar berkata kepada mereka,

“Bersabarlah dan berharap pahala-lah kalian kepada Allah! Aku amat berharap semoga Allah memudahkan kesulitan kalian pada petang ini,”

Di penghujung hari, datanglah kabar bahwa kafilah Utsman bin Affan datang dari Syam dan rombongan tersebut tiba di Madinah pada pagi hari. Usai salat Subuh, masyarakat berbondong-bondong menyambut kedatangan mereka.

Tak disangka-sangka, rombongan yang terdiri dari 1000 unta itu membawa gandum, minyak, dan anggur kering. Kafilah unta tersebut berhenti di depan pintu rumah Utsman.

Bersamaan dengan itu, para budak menurunkan muatan yang ada di punggung unta. Para pedagang segera menemui Utsman dan berkata kepadanya,

“Juallah kepada kami segala yang kau bawa, wahai Abu Amr (panggilan Utsman)!”

Ia lalu menjawab, “Aku akan menjualnya dengan senang hati kepada kalian, akan tetapi berapa harga yang hendak kalian tawarkan kepadaku?”

“Setiap dirhak yang engkau bayarkan akan kami ganti dua dirham!”

“Aku akan mendapatkan lebih dari itu,” ujar Utsman.

Para pedagang akhirnya menambahkan harga tawaran mereka. Namun, Utsman berkata, “Sesungguhnya aku akan mendapatkan lebih dari harga yang kalian tambahkan,”

“Wahai Abu Amr, sesungguhnya tidak ada pedagang lain di Madinah selain kami. Dan tidak ada seorang pun yang mendahului kami datang ke tempat ini. lalu siapa yang telah memberikan tawaran kepadamu melebihi harga yang kami tawarkan?”

“Allah SWT akan memberikan 10 kali lipat dari setiap dirham yang aku bayarkan. Apakah kalian dapat membayar lebih dari ini?” jelas Utsman.

Pedagang itu kemudian menjawab, “Kami tidak sanggup untuk membayarnya, wahai Abu Amr!”

Lalu, Utsman langsung berkata, “Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku akan menjadikan semua barang bawaan yang dibawa oleh kafilah ini sebagai sedekah untuk kaum fakir dan miskin. Aku tidak pernah berharap satu dirham ataupun satu dinar sebagai gantinya,”

Saking dermawannya Utsman, ia rela memberikan bantuan pangan yang ada pada 1000 unta itu. Dia tidak mengharapkan uang sebagai ganti, melainkan ridha dan balasan dari Allah SWT.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Perjuangan Uwais Al Qarni Gendong Ibunya dari Yaman untuk Naik Haji



Jakarta

Uwais al Qarni adalah seorang pemuda fakir yang berbakti kepada sang ibu. Ia menggendong ibunya dari Yaman ke Makkah agar bisa menunaikan haji.

Merujuk dari buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syaikh Muhammad Sa’id Mursi, Uwais al Qarni memiliki nama lengkap Uwais bin Amir bin Jaza’ bin Malik al Qarni. Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga besar Qarn, salah satu silsilah keluarga dari bani Murad di Yaman.

Ia memang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW tetapi tidak pernah bertemu dengan beliau. Mengenai Uwais al Qarni, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Umar bin Khattab RA,


“Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama dengan pasukan bantuan dari bani Murad, kemudian dari Qarn. Ia adalah orang yang menderita penyakit kusta, lalu penyakitnya sembuh, kecuali tempat seluas mata uang dirham. Ia adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya. Jika kamu bisa memintanya untuk memohon ampunan untukmu, maka lakukanlah!”

Ketika banyak pembebasan wilayah baru pada masa pemerintahan Umar bin Khattab RA, Uwais datang bersama dengan beberapa orang dari Yaman dalam rangka untuk berjihad di jalan Allah SWT. Ketika Umar bin Khattab RA bertemu dengan Uwais ia memintanya untuk memohon ampunan kepada Allah SWT lalu Uwais pun melakukannya.

Mengenai Uwais, salah seorang warga Kufah pernah berkata, “Ia hidup sangat sederhana dan bersahaja. Ia suka bergabung bersama kami dalam halaqah dzikir. Jika ia berdzikir menyebut nama Allah, maka dzikirnya tersebut sangat merasuk dalam hati sanubari kami.”

Ia hidup di Kufah di tengah-tengah komunitas awam. Tidak seorang pun di antara mereka yang mengenal identitasnya. Bahkan, terkadang di antara mereka tidak ada yang mengenal Uwais al Qarni. Bahkan di antara mereka ada yang suka mengejeknya, hingga akhirnya Umar bin Khattab RA menceritakan tentang jati diri Uwais.

Setelah itu, identitas Uwais diketahui oleh publik luas, kemudian ia pergi meninggalkan Kufah, dan bergabung bersama Ali bin Abi Thalib RA dalam Perang Shiffin.

Mengenai kebaktian Uwais al-Qarni ini dijelaskan pula dalam buku Unconditional Marriage karya Mega Anindyawati.

Uwais Al-Qarni adalah seorang pemuda dari Yaman yang begitu taat kepada ibunya. Semua permintaan sang ibu yang buta dan lumpuh selalu ia penuhi. Namun, ada satu keinginan ibunya yang belum bisa dikabulkan yaitu ingin pergi haji ke Makkah.

Uwais yang merupakan seorang pemuda miskin tidak memiliki biaya untuk memberangkatkan haji ibunya. Sehingga setiap hari ia menggendong seekor kambing yang ia gembala untuk naik turun bukit. Orang-orang banyak yang mengira bahwa ia sudah gila.

Ternyata, saat musim haji tiba Uwais yang sudah lebih kuat dan berotot menggendong ibunya untuk pergi ke Makkah. Ia menempuh jarak ratusan kilometer selama berhari-hari demi baktinya kepada sang ibu. Hal itulah yang membuat Uwais al Qarni menjadi seseorang yang tidak terkenal di bumi namun terkenal di langit.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Kisah Pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum, Putri Rasulullah SAW



Jakarta

Utsman bin Affan bukan hanya dikenal sebagai sahabat setia Rasulullah SAW. Ia juga menantu Rasulullah SAW karena menikah dengan dua putrinya yakni Ruqqayah dan Ummu Kultsum.

Pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kulsum terjadi setelah sang kakak, Ruqqayah, meninggal dunia. Artinya Ruqqayah dan Ummu Kultsum tidak menjadi istri Utsman bin Affan dalam waktu bersamaan.

Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan Ummu Kultsum adalah salah seorang putri Rasulullah SAW dari pernikahannya dengan Khadijah.


Said bin Al-Musayab mengatakan, “Utsman bin Affan ditinggal wafat Ruqayah binti Rasulullah dan Hafshah binti Umar ditinggal wafat suaminya. Umar datang kepada Utsman dan berkata, “Apakah kamu mau menikah dengan Hafshah?” Utsman telah mendengar Rasulullah yang menyebut Hafshah. Karena itu, Utsman tidak menanggapi tawaran Umar ini.

Umar kemudian menuturkan hal ini kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Apakah kamu menginginkan yang lebih baik daripada itu? Aku menikahi Hafshah dan aku menikahkan Utsman dengan perempuan yang lebih baik daripada Hafshah, (yakni) Ummu Kultsum.”

Dalam riwayat Al-Bukhari menyebutkan bahwa Umar berkata, “Hafshah binti Umar ditinggal wafat Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, salah seorang sahabat Rasulullah. Ia meninggal di Madinah. Umar berkata, “Aku mendatangi Utsman bin Affan. Aku menawarkan Hafshah binti Umar kepadanya. Aku berkata, “Jika kamu mau, maka aku menikahkanmu dengan Hafshah.”

Utsman berkata, “Aku akan menimbang-nimbang urusanku.” Aku diam beberapa malam. Lalu Utsman menemuiku dan berkata, “Tampaknya aku tidak menikah sekarang” Umar berkata, “Aku menemui Abu Bakar Ash Shiddiq, Aku berkata, “Jika kamu mau, maka aku menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar. Abu Bakar diam dan tidak memberikan balasan apa apa kepadaku. Aku merasa kesal terhadapnya sebagaimana kesal terhadap Utsman. Aku diam beberapa malam. Kemudian Rasulullah meminangnya dan aku menikahkannya dengan beliau. Abu Bakar menemuiku dan berkata, “Barangkali kamu merasa kesal denganku ketika kamu menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak memberikan balasan apa-apa.”

Umar berkata, “Ya” Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku tidak memberikan balasan apa-apa karena aku telah mengetahui bahwa Rasulullah telah menyebutnya. Aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah. Andaikata Rasululah meninggalkannya, maka aku akan menerimanya.”

Pernikahan Utsman bin Affan dan Ummu Kultsum

Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar menceritakan kisah pernikahan Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan. Ia mengatakan, “Ketika Nabi menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, beliau bersabda kepada Ummu Aiman, “Persiapkanlah putriku Ummu Kultsum dan antarkanlah kepada Utsman serta iringilah dengan rebana.” Ummu Aiman lantas melaksanakan perintah Rasulullah.

Kemudian Rasulullah SAW datang kepada Ummu Kultsum tiga hari setelah pernikahan. Beliau bertanya, “Wahai putriku, bagaimana kamu mendapati suamimu?” Ummu Kultsum menjawab, “la adalah sebaik-baik suami.”

Utsman meminang Ummu Kultsum di bulan Rabiul Awal tahun 3 H.

Ummu Kultsum Meninggal Dunia

Pernikahan Utsman bin Affan dan Ummu Kultsum berlangsung selama 6 tahun tanpa dikaruniai anak. Keduanya terpisahkan karena Ummu Kultsum meninggal dunia pada bulan Syaban tahun 9 Hijriyah.

Ummu Kultsum meninggal dunia dikarenakan sakit yang menyerangnya. Kabar duka ini mengundang kesedihan bagi Rasulullah SAW, sang ayah, dan juga tentunya bagi Utsman bin Affan, sang suami

Rasulullah SAW menshalatkannya dan duduk di atas kuburnya. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ia melihat Nabi duduk di kubur Ummu Kultsum

la berkata, “Aku melihat kedua matanya mengalirkan air mata. Lalu beliau bersabda, “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang tadi malam tidak berbuat dosa?”

Abu Thalhah berkata, “Aku.” Beliau bersabda, “Turunlah di kuburnya.”

Laila binti Qaif Ats-Tsaqafiyah mengatakan, “Aku termasuk orang yang memandikan Ummu Kultsum binti Rasulullah ketika wafat. Sesuatu yang diberikan pertama kali oleh Rasulullah kepada kami adalah kain penutup badan, lalu pakaian rumah, baju kurung, dan selimut tebal. Kemudian jasad ditutupi dengan baju yang lain.”

Ia mengatakan, “Rasulullah berada di pintu bersama dengan kain-kain kafan Ummu Kultsum. Beliau memberikannya kepada kami satu per satu.”

Ibnu Saad menyebutkan bahwa Ali bin Abu Thalib, Al-Fadhl bin Abbas, dan Usamah bin Zaid ikut turun di liang kubur Ummu Kultsum bersama Abu Thalhah. Dan, yang memandikannya adalah Asma binti Umais dan Shafiyah binti Abdul Muthalib.

Utsman merasa terpukul dengan kematiannya dan merasa sangat sedih karena berpisah dari belahan hatinya. Rasulullah dapat melihat Utsman berjalan dengan kesedihan. Kesedihan yang dapat terbaca dengan jelas dari raut wajahnya.

Maka beliau mendekati Utsman dan bersabda, “Jika kami memiliki putri yang ketiga, maka kami akan menikahkannya denganmu wahai Utsman.”

Hal ini menunjukkan kecintaan Rasulullah SAW terhadap Utsman dan menunjukkan kesetiaan serta penghormatan Utsman terhadap beliau.

Karena menikah dengan dua putri Rasulullah SAW, Utsman mendapat julukan Dzun Nurain atau pemilik dua cahaya. Julukan ini diberikan karena Utsman menikah dengan kedua putri Rasulullah SAW.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Kisah Meninggalnya Umar bin Khattab, Jasadnya Dimakamkan di Samping Rasulullah SAW



Jakarta

Umar bin Khattab merupakan seorang sahabat sekaligus mertua Rasulullah SAW yang menjadi bagian dari Khulafaur Rasyidin. Sosok Umar bin Khattab yang kuat, tegas, berani, dan bijaksana itu membekas di ingatan para kaum muslimin di masa itu sehingga kisah meninggalnya Umar bin Khattab hal yang selalu dikenang dan tak lekang oleh waktu.

Dikutip dari buku Teori dan Implementasi Kepemimpinan Strategis yang disusun oleh Tri Cicik Wijayanti, penyebab kematian Umar bin Khattab adalah karena dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) yakni seorang budak yang fanatik. Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk pada saat menjadi imam sholat subuh pada Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M.

Abu Lukluk sendiri merupakan orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan oleh Umar bin Khattab dalam rangka ekspansi atau perluasan wilayah Islam. Pembunuhan tersebut dilatarbelakangi oleh rasa sakit hati Abu Lukluk atas kekalahan Persia yang kala itu merupakan negara adidaya.


Sementara itu, Afdhal, dkk. menyebutkan dalam buku Sejarah Peradaban Islam bahwa sebelum Abu Lukluk melancarkan aksinya untuk membunuh Umar bin Khattab, terdapat penyebaran konspirasi yang dirancang oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Persia. Menurut berbagai sumber, Umar bin Khattab ditusuk dengan belati beracun.

Wasiat-wasiat dari Umar bin Khattab

Sebelum meninggal, Umar bin Khattab memilih enam sahabatnya yakni Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash dan berwasiat pada mereka agar memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah selanjutnya.

Lalu, setelah peristiwa tertusuknya Umar bin Khattab dan ia tengah merasa semakin dekat dengan kematian, Umar mengutus putranya Abdullah bin Umar untuk pergi mengunjungi Aisyah istri Rasulullah SAW untuk menyampaikan salamnya pada Aisyah dan permohonannya agar diperkenankan dimakamkan di samping Rasulullah SAW.

Sebagaimana yang tercantum dalam buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi karya Muhammad Nasrulloh, Aisyah kemudian mengiyakan permohonan tersebut sebagai jawaban meski sebenarnya ia sangat menginginkan kelak dimakamkan di samping suaminya Rasulullah SAW dan ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq.

Setelah Abdullah mengabarkan pada ayahnya bahwa Aisyah mengizinkan, bergembiralah Umar sebab tempat itu adalah yang paling diinginkannya ketika meninggal.

Adapun dalam buku Kuliah Adab susunan ‘Aabidah Ummu ‘Aziizah, S. Pd. I, dkk., disebutkan bahwa muslim yang beriman dan taat ketika menghadapi kematian perlu disampaikan kabar gembira sebab seseorang yang saleh dan terkenal baik hendaknya digembirakan dengan pahala dari Allah sebagaimana janji-Nya atas orang-orang yang saleh.

Ketika Umar bin Khattab menghadapi kematian, ia didatangi seorang lelaki dari kaum Anshar. Lelaki itu berkata padanya, “Bergembiralah wahai Amirul Mukminin atas kabar gembira dari Allah yang berupa ampunan atas dosa-dosamu yang terdahulu dengan masuknya engkau dalam Islam, juga dijadikannya engkau sebagai pengganti Rasulullah dan engkau menjadi pemimpin yang adil, dan bergembira pulalah engkau atas nikmat kesyahidan yang sebentar lagi kau dapatkan setelah ini semua.”

Kemudian, Umar bin Khattab menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku berharap cukuplah aku dimatikan dalam keadaan baik.” (al-Munjid: t.t, 9).

Kepemimpinan Setelah Umar bin Khattab

Setelah wafatnya Umar bin Khattab, jabatan khalifah kemudian dipegang oleh Utsman bin Affan. Berbeda dengan karakter Umar bin Khattab yang berbadan kuat lagi kekar serta sangat memperhatikan tanggung jawab dirinya dan bawahannya, Utsman bin Affan memiliki sifat yang lebih lembut dan santun perangainya dalam bermuamalah.

Sikap terpuji dan kebaikan Utsman bin Affan telah berhasil memimpin kaum muslimin. Bahkan menukil buku Kisah-Kisah Islam Yang Menggetarkan Hati oleh Hasan Zakaria Fulaifal, disebutkan bahwa Umar bin Khattab hidup fakir dan meninggal dalam keadaan berhutang sementara yang melunasinya adalah Utsman bin Affan ketika belum seminggu sejak kematian Umar bin Khattab.

Itulah kisah meninggalnya Umar bin Khattab, salah satu khalifah kebanggan umat muslim. Umar bin Khattab membuktikan bahwa kematian bagi orang yang beriman lagi saleh adalah kabar baik karena segala amalan baik yang telah dikerjakannya selama di dunia akan menolongnya di akhirat kelak.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Saat Ali bin Abi Thalib Dobrak Benteng Kuat Khaibar Seorang Diri



Jakarta

Bersama 1.600 pasukan muslimin, Nabi Muhammad SAW bergerak menuju Khaibar. Pada permulaan bulan Rabiulawal tahun ke-7 Hijriah itu, Rasulullah SAW benar-benar merahasiakan pergerakan pasukannya untuk mengagetkan pasukan Yahudi sekaligus mencegah bantuan-bantuan militer yang datang dari kabilah-kabilah Ghathfan.

Menurut buku Kisah-kisah Manusia Suci susunan Sayyid Mahdi Ayatullah, di bawah lindungan kegelapan malam kaum Muslimin mengepung benteng-benteng Khaibar dan mengambil posisi di antara pepohonan kurma. Pada pagi harinya, pertempuran pun pecah dan jatuhlah benteng-benteng tersebut satu demi satu.

Dalam Perang Khaibar ini, ada sebuah kisah menarik mengenai Ali bin Abi Thalib RA yang turut serta di dalamnya. Keberanian Ali RA dibuktikan dengan menerobos gerbang Khaibar tanpa pelindung sebagaimana dijelaskan melalui buku 125 Cerita Fakta Islam yang Unik & Menakjubkan tulisan Alifa Aryatna.


Sebelumnya, kaum Muslimin kesulitan menaklukkan dua benteng tempat kaum Yahudi berkumpul untuk melakukan perlawanan pada kaum Muslimin dengan menggunakan anak panah. Rasulullah SAW kemudian mengutus Abu Bakar RA memimpin sebagian kekuatan pasukan Islam, sayangnya beliau menelan kekalahan.

Akhirnya Nabi Muhammad SAW mengutus Umar bin Khattab RA, namun kaum Muslimin tetap kalah. Hal itu lantas mendorong kaum Yahudi untuk mengolok-olok kekalahan pasukan Islam.

Kemudian, Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh besok aku akan menyerahkan panji-panji kepada seorang lelaki yang mencintai Allah serta rasul-Nya, dan Allah serta rasul-Nya pun mencintainya. Ia akan bertempur terus dan tidak melarikan diri. Karenanya ia tidak akan kembali hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya,”

Mendengar ucapan Nabi Muhammad SAW, pasukan muslim bertanya-tanya siapakah sosok tersebut. Ketika pagi tiba, Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib RA dan menyerahkan panji-panji kepadanya serta mendoakannya meraih kemenangan.

Ali bin Abi Thalib RA mengibarkan panji-panji dan bergerak bersama pasukan muslim untuk menghadapi musuh-musuh. Kaum Yahudi yang tengah terlena karena sebagian kemenangannya, sehingga sebagian kekuatan mereka berada di luar benteng.

Pada saat itu pula, Ali RA bersama pasukan muslim masuk dan melancarkan serangan tak terduga. Bahkan, Ali RA berhasil membunuh Marhab dan Al Harits yang kala itu merupakan pahlawan Yahudi hingga menimbulkan ketakutan dalam barisan Yahudi.

Setelahnya, pasukan Yahudi menarik diri ke dalam benteng dan mengunci seluruh pintunya. Kaum Muslimin menghalau agar mereka tidak masuk benteng. Namun, ketika pasukan Yahudi masuk dan mengunci pintu benteng, barisan muslimin tidak dapat mendobraknya.

Ali RA kemudian menjulurkan tangannya ke pintu benteng dan menggoyangkan pintu itu sekuat tenaga. Atas izin Allah, dicabutnya pintu tersebut dan dijadikan sebagai jembatan penyeberangan pasukan Islam.

Menyaksikan peristiwa itu, tentara muslim terkejut. Bagaimana bisa Ali RA mendobrak pintu itu seorang diri sementara sebelumnya mereka mencoba mendobrak pintu dengan kekuatan tujuh orang.

Setelah itu, pasukan muslim meraih kemenangan. Kaum Yahudi memohon perdamaian dengan Rasulullah dan meminta untuk tetap diizinkan menghuni rumah-rumah mereka, dengan catatan mereka menyerahkan separuh penghasilan setiap tahun kepada kaum Muslimin.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Mencuri untuk Dibagi ke Orang Miskin



Jakarta

Sunan Kalijaga adalah tokoh wali songo yang di masa mudanya pernah mencuri dan merampok pejabat yang korupsi di kerajaan yang menyelewengkan uang upeti dari masyarakat. Ia kemudian membagikan hasil curian tersebut kepada orang-orang miskin dan terlantar.

Rizem Aizid dalam buku Sejarah Islam Nusantara menceritakan bahwa sebelum menjadi wali, Sunan Kalijaga adalah orang yang nakal dan berandalan. Tetapi, ia kemudian berhasil di insafkan oleh Sunan Bonang.

Sunan Kalijaga termasuk murid dari Sunan Bonang, terdapat dua macam versi cerita mengenai Sunan Kalijaga.


Versi pertama mengisahkan bahwa Raden Said atau Raden Sahid yang merupakan nama asli Sunan Kalijaga adalah seorang yang suka mencuri dan merampok. Namun, hasil curiannya itu tidak digunakan sendiri tetapi dibagi-bagikan kepada rakyat jelata.

Konon, Raden Said sudah disuruh mempelajari agama Islam ketika usianya masih kecil, tetapi karena ia melihat kondisi lingkungan yang kontradiksi dengan ajaran agama itu, maka jiwanya memberontak.

Ia melihat rakyat jelata yang hidupnya sengsara, sementara bangsawan Tuban hidup dalam kemegahan dan berfoya-foya. Rakyat diperas dan diwajibkan membayar upeti. Maka, dalam konteks itulah, Raden Said yang terpanggil hatinya mencuri harta kadipaten untuk kemudian dibagikan kepada rakyat miskin.

Versi kedua, menyebutkan bahwa Raden Said adalah benar-benar seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Menurut versi ini Raden Said merupakan orang yang nakal sejak kecil, kemudian berkembang menjadi penjahat yang sadis.

Ia suka merampok dan membunuh tanpa segan, ia juga suka berjudi. Setiap kali uangnya habis untuk berjudi ia merampok penduduk. Selain itu, digambarkan bahwa Raden Said adalah seorang yang sakti dan mendapat julukan Brandal Lokajaya.

Dikisahkan pula oleh Jhony Hadi Saputra dalam buku Mengungkap Perjalanan Sunan Kalijaga, Raden Said lahir saat kejayaan Majapahit mulai memudar hingga membuat rakyat dari hari ke hari semakin hidup dalam kesengsaraan. Hal tersebut rupanya tidak dipahami dan dipedulikan oleh penguasa Majapahit.

Raden Said kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang merasa prihatin pada keadaan masyarakat. Terlebih sebagai seorang putra Adipati, Raden Said merasa memiliki tanggung jawab hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang pencuri.

Tempat pertama yang ia jarah adalah gudang kadipatennya sendiri. Berbagai bahan makanan yang ia ambil dari gudang tersebut, secara diam-diam ia bagikan kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan.

Masyarakat pun tidak tahu siapa yang membagikan bahan makanan tersebut. Kejadian seperti ini terus berulang-ulang, sehingga masyarakat memberikannya julukan sebagai “maling cluring”. Arti dari maling cluring in ialah pencuri yang mencuri bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk dibagikan kepada orang-orang miskin.

Hingga akhirnya, Raden Said pun ketahuan dan diusir dari istana kadipaten. Ia semakin menjadi-jadi ketika diusir, bahkan mulai merampok orang-orang kaya yang tinggal di wilayah Kadipaten Tuban.

Hal ini semakin membuat ayahnya, Tumenggung Wilatikta kemudian mengusirnya keluar dari wilayah Kadipaten Tuban.

Raden Said tetap melakukan hal yang sama untuk merampas orang-orang kaya yang korupsi dan membagikannya kepada rakyat yang tidak mampu. Namun, ketika bertemu dengan Sunan Bonang ia akhirnya memutuskan untuk menjadi murid Sunan Bonang.

Dari sinilah Raden Said mengetahui bahwa selama ini perbuatannya tidak bisa dikatakan benar dalam Islam. Raden Said akhirnya mengetahui bahwa kebenaran dalam Islam adalah kebenaran yang hakiki, mutlak, dan tidak dapat diperdebatkan karena membawa dampak kebaikan untuk siapa pun yang menjalankan kebenaran itu.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com