Tag Archives: hikmah

Hadits Berkata Baik atau Diam, Anjuran Menjaga Lisan dari Rasulullah SAW


Jakarta

Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk selalu berkata baik. Jika tidak mampu, maka lebih baik diam yang artinya sama dengan menjaga lisan.

Lisan diibaratkan sebagai pisau yang apabila dipergunakan secara asal akan melukai orang lain. Allah SWT bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa menjaga lisannya dan menggantinya dengan berzikir sebagaimana firman-Nya dalam surah An Nisa ayat 114,

۞ لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”


Mengutip buku Sejumlah Amalan Penting Penghuni Surga saat di Dunia oleh Ahmad Abi Al-Musabbih, banyak perbuatan yang mulanya dari lisan dan berujung dosa. Contohnya seperti ghibah, mengadu domba, pembicaraan yang tidak bermanfaat dan candaan yang berlebihan.

Hadits Berkata Baik atau Diam

Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya menganjurkan kaum muslimin untuk mengatakan hal-hal baik, jika tidak mampu maka sebaiknya diam.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR Al Bukhari)

Dijelaskan dalam buku Syarah Hadits Arba’in oleh Muhyiddin Yahya, berkata baik dalam hadits tersebut mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum Muslim terkait amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kaum muslimin dianjurkan untuk mendamaikan saudaranya dan mengatakan kebaikan kepada manusia, tentunya harus didasari dengan ilmu pengetahuan dan agama yang memadai.

Syekh Ibnu Daqiq al-Id mengutip pendapat pengarang Kitab al-Ifshah mengatakan bahwa kata-kata yang baik lebih baik daripada diam. Sementara itu, berdiam diri lebih baik daripada berkata buruk.

“Karena Rasul memerintahkan berkata baik lebih dahulu lalu berdiam diri.” bunyi keterangan dalam kitab tersebut.

Kumpulan Hadits Berkata Baik dan Menjaga Lisan

Dalam sejumlah hadits disebutkan juga terkait anjuran berkata baik dan menjaga lisan. Berikut beberapa haditsnya yang dinukil dari buku 1100 Hadits Terpilih susunan Muhammad Faiz Almath.

1. Hadits Allah Membenci Muslim yang Berkata Tanpa Dasar

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila menyembah Allah dan tidak mempersekutukannya, berpegang teguh pada tali (agama) dan tidak terpecah belah. dan Allah membenci kalian bila kalian suka berkata tanpa dasar, banyak bertanya yang tidak bermanfaat, serta menyia-nyiakan harta.” (HR At-Tirmidzi)

2. Hadits Menjaga Lisan

“Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah Ta’ala yang ia tidak menaruh perhatian padanya namun mengakibatkan dijerumuskan ke dalam neraka jahanam.” (HR Bukhari)

3. Hadits Larangan Menceritakan Aib Sendiri

“Setiap umatku mendapat pemaafan kecuali orang yang menceritakan aibnya sendiri. Sesungguhnya diantara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah SWT kemudian di pagi harinya dia sendiri membuka apa yang ditutupi Allah itu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

3 Doa ketika Cuaca Panas dan Terik sesuai Sunnah, Yuk Amalkan!


Jakarta

Ada doa yang dapat dibaca umat muslim ketika mengalami cuaca panas dan terik. Rasulullah SAW mengajarkan doa ini sebagai ungkapan untuk memohon perlindungan dari marabahaya.

Pada zaman Rasulullah SAW, pernah terjadi cuaca panas dan musim kemarau yang melanda. Menghadapi cuaca yang ekstrem, Rasulullah SAW memanjatkan doa agar Allah SWT senantiasa melindunginya.

Doa ketika Cuaca Panas

Melansir laman NU Online, ada beberapa bacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW ketika mengalami cuaca panas.


1. Doa saat cuaca panas

Berikut ini adalah doa yang dikutip dari pembukaan khutbah Shalat Istisqa Rasulullah SAW,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

Arab Latin: Alhamdulillāhi rabbil ālamīn. Arrahmānir rahīm. Māliki yaumid dīn. Lā ilāha illallāhu yaf’alu mā yurīd. Allahumma antallāhu. Lā ilāha illā anta. Antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. Anzil ‘alainal ghaitsa waj’al mā anzalta ‘alainā quwwatan wa balaghan ilā hīn.

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Kau adalah Allah. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Engkau. Kau Maha Kaya. Sementara kami membutuhkan-Mu. Maka turunkanlah hujan kepada kami. Jadikanlah apa yang telah Kauturunkan sebagai kekuatan dan bekal bagi kami sampai hari yang ditetapkan,” (HR Abu Dawud).

2. Doa ketika kekeringan

Berikut ini doa yang dibaca Rasulullah SAW saat sedang khutbah Jumat. Seorang sahabat datang ke dalam masjid menceritakan bencana kekeringan dan meminta Rasulullah yang sedang khutbah Jumat untuk berdoa kepada Allah.

اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَ

Arab Latin: Allāhumma agitsnā, allāhumma agitsnā.

Artinya: “Ya Allah, tolonglah kami. Ya Allah, tolonglah kami,” (HR Muttafaq Alaih).

3. Doa memohon hujan

Berikut ini adalah lafal doa istisqa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW ketika mengharapkan turunnya hujan. Doa ini diriwayatkan Abu Awanah dari Sahabat Sa’ad ra.

اَللَّهُمَّ جَلِّلْنَا سَحَابًا, كَثِيفًا, قَصِيفًا, دَلُوقًا, ضَحُوكًا, تُمْطِرُنَا مِنْهُ رَذَاذًا, قِطْقِطًا, سَجْلًا, يَا ذَا اَلْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Arab Latin: Allāhumma jallilnā saḥāban, katsīfan, qashīfan, dalūqan, dhaḥūqan, thumthirunā minhu radzādzan, qith-qithan, sajlan, yā dzal jalāli wal ikrām.

Artinya, “Ya Allah ratakanlah hujan di bumi kami, tebalkanlah gumpalan awannya, yang petirnya menggelegar, dahsyat, dan mengkilat; sebuah awan darinya Kauhujani kami dengan tetesan deras hujan yang kecil, rintik-rintik, yang menyirami bumi secara merata, wahai Dzat yang Maha Agung lagi Maha Mulia,” (HR Abu Awanah).

Ketika menghadapi cuaca yang panas dan terik, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berteduh dan sebisa mungkin mengusahakan agar tubuh tetap terlindungi.

Dalam sebuah hadits dijelaskan,

فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ الْحَرِّ وَهُوَ صَائِمٌ

Artinya: “Sungguh aku melihat Nabi Muhammad SAW menuangkan air ke atas kepala beliau sendiri lantaran panasnya cuaca dan saat itu beliau sedang berpuasa.” (HR Ahmad)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

Artinya: “Apabila cuaca panas ekstrim, maka tundalah sebentar pelaksanaan shalat hingga cuaca agak dingin karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.” (HR Bukhari)

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com

Doa Aqiqah Anak sesuai Sunnah: Arab, Latin dan Artinya



Jakarta

Doa adalah salah satu sarana yang sangat penting dalam Islam. Dalam berbagai momen penting dalam hidup seorang Muslim, doa digunakan sebagai cara untuk berkomunikasi dengan Allah SWT, mengungkapkan rasa syukur, dan memohon petunjuk serta berkah-Nya.

Demikian juga ketika momen aqiqah, umat muslim dianjurkan melantunkan doa.

Aqiqah adalah satu momen penting dalam kehidupan seorang Muslim yang merupakan tradisi sunnah dalam Islam.


Abu Nur Ahmad al-Khafi Anwar bin Shabri Shaleh Anwar dalam bukunya Aqiqah (Tata Cara & Doanya) mengartikan aqiqah secara istilah adalah penyembelihan hewan kurban karena kelahiran seorang bayi dalam suatu keluarga merupakan rasa syukur atas karunia Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: كُلُّ غُلامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُخْلَقُ وَ يُسَمَّى

“Dari Sumurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda: ‘Setiap bayi dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari tujuh, dicukur dan diberi nama.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lainya)

Doa Aqiqah

Mengutip buku Panduan Muslim Sehari-hari oleh Dr. KH. M. Hamdan Rasyid, MA dan Saiful Hadi El-Sutha, bacaan niat aqiqah dapat dibacakan bagi orang tua maupun wali dari sang bayi. Bacaan niat yang dilafalkan Rasulullah SAW untuk cucunya saat hendak menyembelih hewan aqiqah di antaranya sebagai berikut:

…. بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] هَذِهِ عَقِيْقَةُ

Bacaan latin: Bismillâhi wallâhu akbar allahumma minka wa laka hadzihi ‘aqiqatu (sebutkan nama bayi yang hendak dilakukan aqiqah)

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, milikmulah hewan aqiqah ini. Inilah aqiqahnya (sebutkan nama bayi yang hendak dilakukan aqiqah),”

Kemudian saat mengadakan walimah aqiqah, bisa dilanjutkan dengan membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ احْفَظْهُ مِنْ شَرِّ الْحِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُودَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ النَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِمَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتِنَا مِنْ حُقُوقِ رُبُوْبِيَتِكَ الْكَرِيمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطَّغْيَانِ

Bacaan latin: Allaahummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyaani wa min jamii’is sayyiaati wal ‘ishyaani wahrishu bihadhaanatika wa kafaalatika al-mahmuudati wa bidawaami ‘inaayatika wa ri’aayatika an-nafiidzati nuqaddimu bihaa ‘alal qiyaami bimaa kalaftanaa min huquuqi rububiyyaatika al-kariimati nadabtanaa ilaihi fiimaa bainanaa wa baina khalqika min makaarimil akhlaaqi wa athyabu maa fadhdhaltanaa minal arzaaqi. Allaahummaj’alnaa wa iyyaahum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur’aani wa laa taj’alnaa wa iyyaahum min ahlisy syarri wadh dhairi wadz dzalami wath thughyaani.

Artinya: “Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada di antara kami makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”

Hikmah Disyariatkannya Aqiqah

Dikutip dari buku Panduan Muslim Sehari-hari karya Hamdan Rasyid, hikmah disyariatkannya aqiqah yaitu,

– Aqiqah adalah wujud pengorbanan dari kedua orang tua bayi untuk mendapatkan dirinya kepada Allah SWT, pada saat-saat pertama bayi mereka saat lahir ke dunia

– Aqiqah merupakan fidyah atau tebusan untuk menyelamatkan sang bayi dari segala penyakit ataupun bencana.

– Aqiqah merupkan pintu pembuka gadaian anak, supaya sang anak dapat memberian syafa’at kepada kedua orangtuanya di akhirat kelak.

– Aqiqah menjadi perwujudan dari kebahagiaan, keriangan, kegembiraan dan suka cita dengan cara menegakkan syariat Islam. Diharapkan agar bayi yang baru lahir akan senantiasa berada dalam keimanan dan selalu menegakkan syari’at Islam.

– Menyembelih hewan aqiqah atas kelahiran anak mengandung pengertian kurban, syukur atas nikmat, syukur atas nikmat, dan bersedekah, hal tersebut sama halnya dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT

– Aqiqah hendaknya dilakukan demi menguatkan tali ikatan kekeluargaan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Deretan Doa Pengantin Islami, Amalkan untuk Rumah Tangga yang Berkah



Jakarta

Ada beberapa doa pengantin islami yang bisa dibaca bagi pasangan pengantin baru. Doa ini menjadi tanda syukur sekaligus untuk memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diberi nikmat dan keberkahan dalam menjalani rumah tangga.

Pernikahan merupakan sunah Rasul berdasarkan hadits tentang pernikahan yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dari Abu Ayyub RA, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَرْبَعٌ مِنْ سُـنَنِ الْمُرْسَلِيْنَ: اَلْحَيَـاءُ، وَالتَّعَطُّرُ، وَالسِّوَاكُ، وَالنِّكَاحُ


“Ada empat perkara yang termasuk Sunnah para Rasul: rasa-malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” (HR. At-Tirmidzi)

Doa untuk Pengantin Islami

Ada doa Islami yang bisa diucapkan kepada pengantin dengan beberapa peruntukan. Dikutip dari buku Doa dan Zikir Makbul karya Abu Hurairah Abdul Salam, berikut adalah beberapa di antaranya,

1. Doa untuk Pengantin Baru

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Arab Latin: “Baarokalaahu laka wabaaroka ‘alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin.”

Artinya: “Semoga Allah Memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”

2. Doa Pengantin Pria kepada Pasangannya

Doa ini bisa dibaca setelah pengantin pria mengucapkan ijab kabul atau setelah pasangan pengantin resmi menjadi suami istri. Pengantin pria bisa membaca doa ini sambil memegang kepala pengantin wanita.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Arab Latin: “Alaahumma inni as-aluka khoirohaa, wakhoiro maa jabaltahaa ‘alaihi, wa-a’uuzubika min syarrihaa, wasyarrimaa jabaltahaa ‘alaihi.”

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.”

3. Doa dalam Al-Qur’an untuk Pengantin Baru

Surah Ar Rum ayat 21 adalah salah satu doa yang bisa dipanjatkan oleh pasangan pengantin baru. Doa ini bisa dijadikan sebagai permohonan agar pasangan pengantin memiliki rumah tangga yang baik.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

4. Doa Memohon Berkah bagi Pengantin

Doa memohon berkah sekaligus menggapai ridha Allah SWT adalah termaktub dalam surah Al Mumtahanah ayat 12 yang berbunyi,

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا جَاۤءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰٓى اَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللّٰهِ شَيْـًٔا وَّلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِيْنَ وَلَا يَقْتُلْنَ اَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَّفْتَرِيْنَهٗ بَيْنَ اَيْدِيْهِنَّ وَاَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِيْنَكَ فِيْ مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan baiat (janji setia) bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

5. Doa untuk Pengantin dari Rasulullah

Mengutip riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW mendoakan untuk pengantin yang baru menikah sebagai berikut.

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Artinya: “Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR Abu Dawud)

Demikian beberapa doa yang bisa dipanjatkan untuk pengantin baru. Doa dan harapan ini bertujuan agar rumah tangga yang dijalani akan dinaungi perlindungan dan keberkahan Allah SWT.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa untuk Bayi yang Baru Lahir, Yuk Panjatkan!


Jakarta

Anak adalah anugerah yang dititipkan oleh Allah SWT kepada orang tua. Pada masa kelahirannya, seorang anak disambut dengan suka cita oleh kedua orang tuanya.

Tak jarang, orang tua selalu mengiringi sang anak dengan doa, bahkan ketika ia baru lahir. Doa yang ditujukan kepada anak tentu berisi hal-hal baik seperti harapan agar ia tumbuh menjadi pribadi yang soleh atau soleha.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut setiap anak dilahirkan dengan keadaan yang suci.


“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim)

Anak adalah tanggung jawab orang tua selama hidup. Sejak dalam kandungan, kelahiran, masa kanak-kanak hingga dewasa. Anak menjadi buah dari kerja keras sekaligus doa yang dipanjatkan oleh orang tuanya.

Doa untuk Bayi yang Baru Lahir

Berikut doa yang dapat dipanjatkan untuk bayi yang baru lahir sebagaimana dinukil dari buku Kumpulan Doa Makbul oleh Dra Neni Nuraeni M Ag.

أعِيْدُ كَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَآمَةٍ

Arab latin: U’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaithaaniw wa haammatiw wamin kulli ‘ainil laammah

Artinya: “Aku memohonkan perlindungan untukmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari godaan setan dan binatang yang berbisa dan dari setiap mata yang jahat.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas)

Rangkaian Doa dan Dzikir untuk Bayi yang Baru Lahir

Dalam al-Wasail al-Syafi’ah fi al-Adzkar al-Nafi’ah wa al-Aurad al-Jami’ah susunan Sayyid Muhammad bin Ali al-Tarimi dipaparkan juga sejumlah doa dan dzikir yang diperuntukkan bagi bayi yang baru lahir. Seperti apa? Berikut rangkaiannya.

1. Membaca adzan pada telinga bayi sebelah kanan
2. Membaca iqamah pada telinga bayi sebelah kiri
3. Membaca doa berikut pada telinga bayi sebelah kanan:

اللهم اجْعَلْهُ بَارًّا تَقِيًّا رَشِيْدًا وَأَنْبِتْهُ فِي الْإِسْلَامِ نَبَاتًا حَسَنًا

Arab latin: Allâhummaj’alhu bârran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islâmi nabâtan hasanan

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik.”

4. Membaca surah Al Ikhlas pada telinga bayi sebelah kanan
5. Membaca surah Al Qadr pada telinga bayi sebelah kanan
6. Membaca ayat QS Ali Imran (3: 36) pada telinga bayi sebelah kanan,

وَإِنّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Arab latin: Wa innî u’îdzu bika wadzurriyyatahâ minasysyaithânir rajîm

Artinya: “Aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada setan yang terkutuk.”

7. Membaca doa berikut pada telinga bayi sebelah kanan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَآمَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَآمَّةٍ

Arab latin: A’ûdzu bikalimatiLlâhi at-tâmmati min kulli syaithânin wa hâmmatin wamin kulli ‘ainin lâmmatin
Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari segala setan, kesusahan, dan pandangan yang jahat.”

Demikian sejumlah doa yang dapat dipanjatkan untuk bayi yang baru lahir. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Hadits Larangan Marah dalam Islam, Muslim Pahami Yuk!


Jakarta

Marah adalah satu dari sekian banyak ekspresi yang dimiliki oleh manusia. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya rasa marah.

Islam sendiri tidak pernah melarang manusia untuk marah karena hal itu manusiawi. Hanya saja, ada sejumlah keutamaan yang diraih bagi kaum muslimin apabila dapat menahan dan mengendalikan amarahnya.

Dalam surah Ali Imran ayat 133-134, Allah SWT berfirman:


وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (134)

Arab latin: Wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u’iddat lil-muttaqīn. Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Selain dalil Al-Qur’an, ada sejumlah hadits yang membahas tentang larangan marah dan keutamaannya. Simak bahasannya seperti dinukil dari buku Ihya Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali dan arsip detikHikmah.

Hadits Larangan Marah

Larangan marah di sini bukan berarti benar-benar tidak boleh marah. Melainkan lebih kepada menahan diri ketika marah atau naik pitam, sebab ekspresi marah yang berlebihan dapat merugikan diri sendiri hingga orang lain.

1. Hadits Jangan Mudah Marah

Dari Abu Hurairah RA bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW,

“Berilah wasiat kepadaku,” Sabda Nabi SAW: “Janganlah engkau mudah marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, “Janganlah engkau mudah marah.” (HR Bukhari)

2. Hadits Anjuran Menahan Amarah

“Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Dosa apa yang besar di sisi Allah?’ ‘Membuat murka Allah,’ jawab Nabi Muhammad saw. Ia bertanya lagi, ‘Apa yang dapat menjauhkanku dari murka-Nya?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Ahmad)

3. Hadits Menahan Marah sebagai Penyelamat Murka Allah

“Dari Abdullah bin Amr RA bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘(Wahai Rasulullah), apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah saw,” (HR At-Thabrani dan Ibnu Abdil Barr)

4. Hadits Anjuran Diam ketika Marah

Dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda:

“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad dan Bukhari)

5. Hadits Orang yang Menahan Marah Niscaya Diganjar Surga

Dari Abu Darda RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani)

Demikian sejumlah hadits yang membahas tentang larangan marah. Semoga bermanfaat!

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Meminta Hujan Lengkap dengan Arab, Latin dan Arti


Jakarta

Doa meminta hujan dapat diamalkan oleh kaum muslimin jika hujan tak kunjung turun. Sebagaimana yang kita ketahui, hujan merupakan anugerah sekaligus rahmat yang dilimpahkan Allah SWT kepada makhluk hidup.

Bahkan, hujan disebut sebagai salah satu tanda atas kebesaran dan rahmat Allah SWT. Turunnya hujan bahkan membuat pikiran dan perasaan seseorang berubah dan lebih mengingat Tuhan serta bersyukur, seperti dijelaskan dalam buku Indahnya Doa Rasulullah oleh Masriyah Amva.

Belakangan ini, panas matahari cukup terik dan menyengat kulit. Kondisi tanah juga kering dan hujan jarang turun.


Berkaitan dengan itu, ada sebuah doa yang dapat dipanjatkan untuk meminta hujan. Seperti apa bacaannya?

Doa Meminta Hujan: Arab, Latin, dan Arti

Mengutip buku 5 Shalat Pembangun Jiwa susunan Nasrudin Abd Rohim, berikut doa meminta hujan yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin.

اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا سرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

Arab latin: Allahummasqinaa ghoitsan mughiitsan mariyyan sarii’an naafi’an ghoiro dhoorrin, ‘aajilan ghoiro aajilin.

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat.”

Selain doa di atas, ada juga versi lainnya yang mengacu pada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Arab latin: Allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa

Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”

Kapan Sebaiknya Doa Turun Hujan Dibaca?

Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf melalui karyanya yang berjudul Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat mengatakan hendaknya doa meminta hujan dibaca sebanyak-banyaknya usai melakukan salat istisqa. Salat tersebut merupakan ibadah memohon turunnya hujan.

Lalu, doa meminta hujan dapat dibaca pada waktu-waktu mustajab doa. Ketika hujan sudah turun, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam membaca doa lainnya sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT yang berbunyi,

قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ ‏.‏ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

Artinya: “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, maka orang itu beriman kepada-Ku (Allah SWT) dan tidak beriman kepada bintang-bintang. Sebaliknya orang yang berkata, ‘Kita diberi hujan oleh binatang ini atau bintang itu’, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku (Allah SWT) dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR Muslim).

Demikian bacaan doa meminta hujan dan informasi terkaitnya. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Hadits tentang Bahaya Riya, Salah Satunya Dapat Membatalkan Amal Saleh


Jakarta

Riya atau pamer adalah perbuatan tercela yang harus dihindari oleh manusia. Kata riya berasal dari bahasa Arab ra’a-yara-ruyan-wa ru’yatan yang artinya melihat.

Menukil Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 4 tulisan Syaikh Muhammad al-Utsaimin, riya dalam Islam identik dengan mereka yang beribadah kepada Tuhannya agar dilihat orang lain dan menuai pujian. Mereka yang riya tidak ikhlas semata mengharap ridha Allah SWT dalam mengerjakan amalnya.

Padahal, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dengan hati yang tulus sebagaimana dikatakan dalam surah Al Bayyinah ayat 5,


وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Artinya: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”

Adapun, terkait larangan riya juga disebutkan dalam surah Al Baqarah ayat 264 dengan bunyi sebagai berikut,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.”

Selain surah Al-Qur’an, ada juga sejumlah dalil dari Al-Hadits yang menyebutkan tentang riya. Ini menunjukkan betapa bahayanya riya bagi umat manusia.

Hadits tentang Bahaya Riya

Mengutip buku Kumpulan Hadits Qudsi Pilihan oleh Syaikh Fathi Ghanim, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang riya.

1. Hadits Riya Lebih Bahaya dari Fitnah Dajjal

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut bahwa riya lebih berbahaya ketimbang fitnah dajjal. Beliau berkata,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata, “Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya.” (HR Ibnu Majah)

2. Hadits Riya Adalah Perbuatan yang Merusak

Perbuatan riya dikatakan lebih merusak daripada serigala menyergap domba. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi,

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan seorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Darimi, dan yang lainnya dari Ka’ab bin Malik)

3. Hadits Riya Dapat Menghapus dan Membatalkan Amal Saleh

Riya dapat menghapus hingga membatalkan amal saleh yang telah dikerjakan oleh seorang muslim. Salat mereka dikatakan tidak akan diganjar pahala oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda,

“Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

Bagaimana Cara Menghindari Perbuatan Riya?

Mengutip buku Aqidah Akhlak tulisan Taofik Yusmansyah, berikut sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghindari sifat riya.

  • Selalu berbuat baik di hadapan orang banyak maupun tidak ada orang sama sekali. Yakin bahwa Allah SWT Maha Mengetahui
  • Meminta perlindungan dan selalu berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat riya
  • Jangan merasa bangga dengan kelebihan yang dimiliki, jadikan hal tersebut sebagai alasan untuk lebih bersyukur kepada Allah SWT
  • Berbuat sewajarnya dalam berbagai hal, tidak dilebih-lebihkan ataupun dikurangi
  • Tidak membicarakan perbuatan yang pernah dilakukan kepada orang lain, terlebih jika hanya ingin mendapat pujian

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Hadits Tentang Sholat, Sebagai Penolong dan Penghapus Dosa



Jakarta

Sholat adalah ibadah wajib bagi umat muslim. Rasulullah SAW telah menjelaskan pentingnya sholat melalui beberapa hadits.

Sholat merupakan amalan yang pahalanya dihisab paling pertama. Perintah melaksanakan sholat termaktub dalam Al-Qur’an surat An Nisa ayat 103, Allah SWT berfirman

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا


Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Hadits tentang Sholat

Mengutip buku Sifat Shalat Nabi SAW oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin disebutkan sebuah hadits yang menjelaskan Rasulullah SAW sholat dengan menghadap Kakbah.

“Rasulullah SAW melaksanakan sholat wajib maupun sholat sunnah dengan menghadap Kakbah (kiblat). Beliau memerintahkan hal yang demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya sebagaimana sabdanya: “Apabila kamu hendak melakukan sholat, berwudhulah dengan sempurna kemudian menghadap kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Berikut beberapa hadits Rasulullah SAW tentang sholat dan keutamaannya:

1. Sholat sebagai penghibur jiwa

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat menjadi amalan yang bisa menjadi penyejuk hati dan penghibur jiwa. Berdasarkan hadits riwayat An-Nasa’i dan Ahmad Rasulullah SAW bersabda,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Artinya: dijadikan kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikan lah penyejuk hatiku dalam ibadah sholat.

Selain itu, Nabi Muhammad juga meminta sahabatnya Bilal untuk mendirikan sholat. Sebab, ibadah tersebut bisa membuat diri seseorang merasa tenang.

Dalam hadist riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW juga bersabda,

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

Artinya: Wahai Bilal, berdirilah. Nyamankan lah kami dengan mendirikan shalat.

2. Sholat sebagai penggugur dosa

Sebuah hadits Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat bisa membersihkan dosa.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟

Artinya: bagaimana pendapatmu jika di depan pintu rumahmu ada sungai, lalu Engkau mandi sehari lima kali? Apakah tersisa kotoran di badannya?

Para sahabat menjawab,

لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ

Artinya: tidak akan tersisa kotoran sedikit pun di badannya

Rasulullah SAW pun bersabda,

فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

Artinya: itu adalah permisalan untuk shalat lima waktu. Dengan sholat lima waktu, Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa (kecil).

3. Sholat sebagai penolong

Dalam hadist riwayat Abu Dawud, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ، صَلَّى
Artinya: dulu jika ada perkara yang menyusahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendirikan sholat.

Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 45 berfirman:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

Artinya: dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

4. Sholat memberikan banyak kebaikan

Sholat juga dapat memberikan banyak kebaikan bagi umat Islam. Berdasarkan hadist riwayat Ahmad, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW mengingatkan tentang sholat pada suatu hari, kemudian berkata,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

Artinya: Siapa saja yang menjaga sholat maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan, siapa saja yang tidak menjaga sholat, dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.

5. Sholat mencegah perbuatan buruk

Dalil dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabuut ayat 45, Allah SWT berfirman tentang keutamaan sholat untuk mencegah perbuatan buruk.

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian beberapa dalil hadits dan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sholat. Sebagai umat Islam sudah sepatutnya menjaga dan mendirikan sholat fardhu sebagai ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Diserahkannya Urusan Bukan pada Ahlinya



Jakarta

Kiamat adalah hari yang pasti akan terjadi dan sejumlah tandanya telah disebutkan dalam hadits. Salah satunya diserahkannya urusan bukan pada ahlinya.

Tanda kiamat ini termuat dalam Shahih Bukhari dari hadits Atha’ bin Yasar dari Abu Hurairah RA. Hadits ini turut dinukil Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim.

Diceritakan, seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kapan kiamat?” Beliau bersabda, “Jika amanah disia-siakan, tunggulah kehancurannya.” Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau bersabda, “Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari)


Menurut penjelasan dalam Al-Masih Al-Muntazhar wa Nihayah Al-Alam karya Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, urusan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah segala jenis urusan, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat. Pengarang kitab mencontohkan urusan tersebut antara lain peradilan, fatwa, pendidikan, administrasi, kepemimpinan, dan semua kepentingan umum.

Penyalahgunaan amanah ini, kata Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, merupakan tanda dekatnya hari kiamat.

“Hal ini menunjukkan dekatnya kiamat karena terdapat pengkhianatan terhadap pemimpin dan rakyat yang berimplikasi pada penyelewengan hak dan kemaslahatan serta kemarahan publik dan fitnah,” jelas Abdul Wahab Abdussalam Thawilah seperti diterjemahkan Subhanur.

Lebih lanjut dijelaskan, salah satu dampak dari penyerahan urusan kepada orang yang bukan ahlinya adalah hilangnya kepercayaan di tengah manusia. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ ، يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذِّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ قَالَ: السَّفِيْهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di saat itu orang yang berdusta dianggap jujur dan orang yang jujur dianggap berdusta, orang yang berkhianat dipercaya dan orang yang jujur dikhianati, serta ruwaidhah berbicara.” Beliau bertanya, “Apa itu ruwaidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan rakyat.” Redaksi lain menyebut, “Orang yang lemah akalnya berbicara tentang masalah orang-orang kebanyakan.”

Hadits tersebut termuat dalam Musnad Ahmad dan Mustadrak Al-Hakim dengan sanad shahih. Ibnu Majah turut meriwayatkannya. Hadits ini turut dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash Shaghir dan Silsilah Ash-Shahihah.

Berkaitan tentang amanah, ulama Mesir, Yusuf Al Qardhawi dalam kitabnya, Akhlaq Al-Islam, menyebutkan sebuah hadits bahwa kekuasaan adalah amanah yang wajib ditunaikan pada tempatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Abu Dzar RA tentang kekuasaan,

“Sesungguhnya ia adalah amanah. Sesungguhnya ia di hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya secara hak, lalu menunaikan apa yang ditanggungnya pada keduanya.” (HR Muslim)

Masih banyak hadits lain yang menyebutkan tentang tanda-tanda kiamat, selain diserahkannya urusan bukan pada ahlinya. Meski demikian, waktu datangnya kiamat merupakan rahasia Allah SWT sebagaimana Dia berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 63,

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا ٦٣

Artinya: “Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah.” Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.”

Dalam surah Al Hajj ayat 7, Allah SWT juga berfirman,

وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ ٧

Artinya: “Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”

Wallahu a’lam.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com