Tag Archives: jakarta

Mengenal Salak Khas Jakarta yang Langka di Cagar Buah Condet



Jakarta

Maskot Jakarta ternyata bukan hanya ondel-ondel dan Monumen Nasional (Monas). Ternyata, di masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin salak condet menjadi salah satu ikon kota ini.

Salak condet ditetapkan sebagai maskot Jakarta karena keberadaannya yang langka dan hanya ada di kota ini.

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1796 Tahun 1989, yang menyebutkan penetapan salak condet (Salacca zalacca) dari jenis flora dan burung elang bondol (Haliastur indus) dari jenis fauna sebagai identitas atau maskot Jakarta.


Saat ini, salak condet memang sudah jarang untuk ditemui di pasar-pasar bahkan boleh dibilang sulit untuk menjumpainya, tak seperti jenis salak lainnya, seperti salak pondoh. Pusat budidaya salak condet pun satu-satunya hanya terdapat Agrowisata Cagar Buah Condet di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Cagar Buah Condet menjadi titik terakhir perkebunan buah asli Jakarta ini, keberadaannya yang langka membuat tempat ini begitu spesial. Karena masyarakat bisa langsung melihat dan merasakan bagaimana kekhasan buah dengan kulit bersisik ini.

Di Cagar Buah Condet terdapat ribuan pohon salak dan beberapa pohon salak di sini telah berumur puluhan tahun. detikTravel berkesempatan untuk menyambangi kebun salak ini, Selasa (28/5/2024).

Kebun yang luasnya kurang lebih 3,5 hektar itu tak hanya ditanami pohon salak saja tetapi terdapat beberapa pohon lainnya seperti Duku Condet (yang sama-sama buah khas Jakarta), pohon buah kecapi, durian, alpukat, buni, dan masih banyak lainnya.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Tentunya yang menjadi fokus agrowisata ini adalah pohon salak condet dan duku conder. Dua buah itu merupakan buah endemik yang hanya ada di Kota Jakarta. Menyoal rasa, memang salak condet memiliki rasa unik dan berbeda dengan jenis salak lainnya.

Syahrudin, koordinator petugas di Cagar Buah Condet, menyebutkan terdapat rasa yang khas dari salak condet. Dia menerangkan kalau rasa buahnya memiliki rasa yang berbeda-beda dengan sensasi rasa kesat yang minim.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Rasa penasaran pun hadir untuk mencoba buah Salak Condet ini, namun sayang pohon salak condet saat detikTravel sambangi belum semuanya berbuah. Hanya beberapa pohon saja yang sudah mulai berbuah dan belum matang, Syahrudin pun memberikan salak condet yang tingkat kematangannya baru 40% untuk menghilangkan rasa penasaran.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Terpikir sejenak buah salak yang belum matang maksimal pasti memiliki rasa yang super asam dengan rasa pahit dan kesat. Tapi ternyata saat mencicipi, salak condet yang belum matang maksimal itu memiliki rasa yang dominan manis.

Untuk kamu warga Jakarta yang penasaran dengan buah asli kota ini bisa langsung datang untuk melihat dan mencicipi jika sudah ada yang berbuah. Syahrudin menjelaskan tak bisa memastikan kapan pohon-pohon salak ini berbuah karena tergantung cuaca, ia hanya bisa memperkirakan panen Salak Condet akan tiba pada akhir tahun nanti.

“Ya paling ini sekitar enam bulan dari sekarang dah,” ujar Syahrudin.

Agrowisata Cagar Buah Condet

Jam Operasional : Buka setiap hari, pukul 07.00 – 16.00 WIB

Tiket Masuk : Gratis

Lokasi : Jalan Kayu Manis No. 37, RT 7/RW 5, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cagar Buah Condet, Benteng Terakhir Salak Condet Khas Jakarta



Jakarta

Salak condet merupakan buah asli Jakarta, tetapi justru semakin langka dan sulit ditemukan. Agrowisata Cagar Buah Condet yang masih membudidayakannya.

Sejak dulu pamor salak condet sudah masyhur, khususnya di kawasan Jakarta. Namun, yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah tak banyak tempat yang membudidayakan buah tersebut.

Kini, salak condet hanya terdapat di Agrowisata Cagar Buah Condet yang terletak di Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Berada di tengah perkampungan padat, kebun salak itu memang tak tampak dari jalanan.


Pengunjung perlu jeli untuk menemukan pintu masuk kebun salak tersebut. Setelah berhasil masuk ke kawasan itu, jangan heran jika belum melihat secara langsung pohon-pohon salak.

Sedikit menuruni beberapa anak tangga, di situlah tempat pohon-pohon buah khas Jakarta itu bertempat. Sekitar 3,5 hektar luas kebun ini penuh dengan pohon-pohon berduri, salak condet-lah yang jadi bintang utamanya agrowisata itu.

Karena penasaran dengan salak condet, detikTravel pun menyambangi dan menjelajahi kebun yang luas itu pada Selasa (28/5/2024). Sejauh mata memandang terlihat pohon-pohon berduri di sekeliling, namun tak terlihat sedikit pun tanda-tanda buah salak condet yang muncul.

Setelah masuk lebih dalam lagi di area perkebunan ini, tampaklah tiga orang petugas yang sedang ngaso. Dari tiga orang petugas itu di antaranya adalah Bapak Syahrudin, yang merupakan koordinator petugas di Agrowisata Cagar Buah Condet.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Budidaya salak condet di di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Bersama Syahrudin, detikTravel diajak berkeliling melihat-lihat pepohonan yang ada di Cagar Buath Condet. Selain buah salak, di tempat ini ternyata memiliki beberapa pohon-pohon buah yang sudah jarang ditemui, seperti pohon buah kecapi, buni, dan duku condet, yang sama seperti salak condet, menjadi buah khas Jakarta.

Ia bercerita sedari kecil memang tumbuh besar di kawasan in. Dan, sejak ia kecil pun kawasan itu sudah menjadi kebun salak condet. Syahrudin mengatakan beberapa pohon salak di Cagar Buah Condet sudah berusia puluhan tahun.

“Sejarahnya ini bahkan kata orang tua saya dulu denger-denger dari cerita, zaman presiden kita yang pertama tuh Bung Karno sempet jadi hidangan ke istana,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Lahan kebun itu dulu memang dimiliki oleh warga, Syahrudin mengatakan kebun itu dulu milik sang kakek yang dibebaskan dan dialih kelola oleh pemerintah pada tahun 2006. Kawasan perkampungan sekeliling Cagar Buah Condet ini dulu memang merupakan kebun salak, namun seiring waktu mulai berganti menjadi rumah-rumah.

“Kebanyakan orang kan jualin (tanah) tahu sendiri orange Betawi kan, apa-apa pengen naik haji atau pengen ngawinin anak terus pesta dengan cara gimana? Ya, jual tanahnya. Nah, dari pihak Pemda dan Pemprov DKI khususnya gimana caranya maskot DKI Jakarta tuh jangan sampai musnah, ya sisanya ini alhamdulilah 3,5 hektar dibebasin,” kata dia.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Salak Condet makin sulit ditemui di pasar, berbeda dengan salak pondoh yang ada di mana-mana. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di hamparan yang luas kebun Cagar Buah Condet, Syahrudin menyebut terdapat sekitar 1.500 pohon salak condet, 150 pohon duku condet, dan beberapa pohon buah lainnya.

Ia menerangkan keistimewaan salak condet tersebut dengan menyebut rasanya yang berbeda dari salak-salak lainnya.

Syahrudin kemudian membawa detikTravel ke pohon yang ia sebut sebagai pohon andalan ketika ada tamu yang berkunjung. Selayaknya pohon salak yang lain, tak ada yang membedakan dengan pohon salak pilihannya, tapi ia berucap bahwa salak di pohon ini rasanya lebih enak dibandingkan salak dari pohon lain.

Betul saja, saat mencicipi salaknya, yang belum matang sempurna, ternyata salak dari pohon tersebut terasa manis dan hanya sedikit rasa asam. Selain itu, tekstur yang renyah membuat Salak Condet itu semakin nikmat.

Kemudian, ia mengajak detikTravel ke pohon selanjutnya dan kembali menyodorkan salak untuk dicicipi agar mengetahui perbedaannya.

“Coba rasain apa yang bikin beda? Ini tuh (kematangan) sama kaya salak yang tadi belum terlalu mateng,” kata dia.

Rasa salak condet yang kedua memang berbeda dengan yang pertama. Kali ini, rasa asam dan sensasi kesat bercampur aduk di dalam mulut. Rasa manis pun terasa tipis yang diakhiri dengan pahit, itulah keistimewaan Salak Condet khas Jakarta.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah, itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata dia.

Saat ini, dengan banyaknya macam buah-buahan, eksistensi salak condet memiliki tantangan ekstra. Tetapi, dengan Agrowisata Cagar Buah Condet masih akan terus terjaga.

Tetapi, rasanya pilu saat Syahrudin mengatakan fakta tentang salak condet.

“Banyak sampai saat ini orang Jakarta yang nggak tahu kalau Salak Condet tuh masih ada,” kata Syahrudin.

Cagar Buah Condet ini terbuka untuk umum, tujuannya untuk mengenalkan lebih luas kepada masyarakat tentang buah yang pernah menjadi maskot Kota Jakarta.

“Tujuannya kan pemda bebasin ini supaya anak-anak sekarang, terutama di DKI Jakarta, jangan cuman pernah denger cerita ‘dulu punya maskotnya buah salak’. Alhamdulilah kurang lebih 3,5 hektar ini masih ada jadi mereka bisa tahu,” kata dia.

Dengan adanya Cagar Buah Condet menjadi suatu pengharapan agar buah khas Jakarta itu bisa terus lestari dan bisa dinikmati di masa mendatang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Angker, Justru Decak Kagum Saat Menyusuri Museum Taman Prasasti



Jakarta

Kesan angker saat menjejak bekas lahan pemakaman lawas memang tak terhindarkan karena mitos dan urban legend-nya selalu melekat. Namun sedikit berbeda dengan bekas pemakaman orang-orang asing yang tinggal di Batavia ini, di Museum Taman Prasasti.

Dahulu kala saat Belanda berada di Indonesia, area ini merupakan sebuah pemakaman modern. Makam itu dibangun pada 28 September 1795.

Kerennya, pemakaman modern itu disebut-sebut menjadi pemakaman modern pertama di dunia.


Saat menjajaki kawasan museum, detikTravel dipandu oleh Eko Wahyudi sebagai guide untuk mengelilingi museum dengan konsep open air ini, Rabu (29/5/2024).

‘Dibangun di atas tanah seluas 5,5 hektar pemakaman ini menjadi pemakaman yang prestisius akhirnya orang Belanda menyebutnya Kerkhof Laan atau pemakaman gereja. Kalau orang kita menyebutkan Kebon Jahe Kober,” kata Yudi pada detikTravel.

Pemakaman itu masih benar-benar menjadi pemakaman selama kurang lebih 180 tahun hingga kemudian perubahan dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1975.

Ali memerintahkan untuk memindahkan seluruh jenazah di pemakaman ini ke Pemakaman Menteng Pulo, Tanah Kusir, dan ada juga yang dibawa oleh keluarga.

Dari situlah cikal-bakal Museum Taman Prasasti hadir hingga saat ini.

Museum Taman Prasasti di JakartaMuseum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Yudi kembali meneruskan ceritanya. Dia bilang setelah pemindahan seluruh jenazah di tahun 1975, dua tahun kemudian prasasti nisan yang ada di pemakanan ini ditata ulang dalam area 1,3 hektar serta diresmikan menjadi museum pada 9 Juli 1977.

“Awalnya sih kalau tidak salah hanya untuk taman, (untuk) serapan karena kan di Jakarta susah ya mencari tanah serapan. Tetapi, di dalamnya ada benda-benda cagar budaya yang harus dilestarikan dan dilindungi, kemudian baru diresmikan jadi Museum Prasasti,” kata Yudi.

Di pemakaman itu banyak sekali orang-orang penting di zamannya mulai dari para pejabat-pejabat VOC hingga pelaku sejarah. Notabene nisan prasasti yang berada di sini memiliki nama-nama orang asing, namun ada juga dua orang Indonesia, yakni Soe Hok Gie dan Miss Riboet.

Sembari mengelilingi kawasan, Yudi bercerita tentang berbagai prasasti nisan yang ada di sini. Pertama adalah nisan berbentuk patung yang disebut crying lady. Cerita kelam membaluti prasasti nisan ini karena patung tersebut merupakan ilustrasi dari kesedihan seorang perempuan yang ditinggal mati oleh pasangannya, tak kuat menahan kesedihan itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Patung crying lady ini dibuat langsung oleh pemahat yang bernama Antonio Carminati dari Milan, Italia. Dia mendapatkan pesanan bahwa ada seorang dari keluarga yang meninggal, untuk mengenang putrinya yang tewas karena bunuh diri,” kata Yudi.

Tak ayal kemegahan nisan-nisan di Museum Taman Prasasti ini begitu keren karena merupakan mahakarya seni yang dibuat oleh para pemahat Eropa. Yudi juga menyebut ini lah yang membuat museum ini begitu unik dan istimewa karena terdapat koleksi nisan yang begitu indah.

“Ya kalau di sini sih kita menampilkan batu-batu nisan yang merupakan karya seni orang-orang Eropa di tahun itu, dibuat antara tahun 1600-an sampai 1900-an. Dan mungkin untuk saat ini agak sulitnya untuk menemukan hal-hal seperti itu karena batu nisan sendiri bahanya merupakan bahan marmer Carrara yang diimpor langsung dari Pegunungan Carrara di Italia, untuk orang-orang Hindia-Belanda atau yang lebih mayoritas beragama Katolik,” kata dia.

Museum Taman Prasasti di JakartaMakam Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Ia juga menambahkan kalau untuk orang-orang VOC yang mayoritas menganut agama Protestan nisan yang digunakan masih berbahan baku batu andesit yang diimpor langsung dari India Selatan.

Kembali menyusuri nisan demi nisan, prasasti nisan tokoh penting lainnya adalah nisan Direktur STOVIA (School Tot Opleiding Van Indlandshe Arsten atau Sekolah kedokteran Bumi Putera) pertama yang bernama Dr. Hermanus Frederik Roll dan di makam yang sama dengan H.F Roll terdapat juga makam sang anak, yakni Frits Roll.

Adapun prasasti nisan dari pencetus berdirinya Kebun Raya Bogor yaitu Olivia Marianne Raffles yang merupakan istri pertama dari Gubernur Letnan Thomas Stamford Raffles. Olivia begitu gemar dengan tumbuhan-tumbuhan yang memutuskannya untuk tingga di Buitenzorg atau Bogor bersama sang suami.

Olivia meninggal karena penyakit malaria yang diidapnya, diketahui bahwa penyakit malaria saat itu memang tengah merajalela. Kepindahannya ke Bogor juga saat Olivia sedang dalam masa pemulihan penyakitnya dan Raffles pun membawa ahli taman dari Inggris untuk membuat dan menata ulang taman di pekarangan rumahnya.

Dan tempat yang paling disukai oleh Olivia adalah danau di depan rumahnya, yang kini dikenal sebagai danau yang berada di depan Istana Bogor.

“Sampai akhirnya kesehatan Olivia semakin memburuk, enam bulan menjelang kematiannya Olivia meminta suaminya untuk menemani full di area Istana Bogor. Sampai dia menghembuskan nafas terakhir di bulan November 1814 ya,” ujar Yudi.

Masih banyak lagi prasasti nisan dan peninggalan tokoh-tokoh yang berkaitan erat dengan sejarah Indonesia, museum ini memang terkesan menyeramkan karena memamerkan sekira 1.100 prasasti nisan. Namun ketika masuk dan mendapatkan informasi terkait sejarahnya, kesan tersebut menjadi hilang dan berubah jadi decak kagum.

Museum Taman Prasasti yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat ini buka dari hari Selasa-Minggu. Mulai dari jam 09.00-15.00 WIB. Dengan biaya masuk dewasa Rp 10.000 (weekend naik jadi Rp 15.000), mahasiswa Rp 5.000, anak-anak Rp 5.000, dan wisatawan asing Rp 50.000.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sejarah Jakarta Pernah Jadi Kantor Gubernur Jabar-Tempat Eksekusi Mati



Jakarta

Museum Sejarah Jakarta yang terletak di kawasan Kota Tua itu ternyata pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat. Gedung putih itu juga menjadi saksi perkembangan Jakarta dari masa ke masa.

Gedung itu dibangun pada tahun 25 Januari 1707 dan diresmikan pada tahun 10 Juli 1710 kendati belum rampung secara keseluruhan. Di tahun 1712 lah gedung yang bergaya Neoklasik itu utuh. Gedung itu dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara, juga area eksekusi hukum mati.


Tanggal 10 Juli 1710 gedung balai kota itu diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sesuai dengan Prasasti yang ada di Museum Sejarah Jakarta. Pada awal berdirinya, gedung ini berfungsi sebagai” StadHuis” (balai kota) dan ” Raad Van Justitie ” (Dewan Pengadilan)

Saat detikTravel berkunjung ke museum itu ada hal menarik yang didapat, ternyata gedung itu Ternyata, tidak hanya pernah menjadi balai kota Batavia, tetapi juga pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat pada saat Belanda berada di Nusantara.

Didik Cahyono, pemandu yang mengajak detikTravel berkeliling, menceritakan kisah itu.

Di masa kekuasaan Belanda dan sebelum Jepang menduduki tanah ini bangunan tersebut pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat.

“Mulai 1925 sampai 1942 (gedung ini) digunakan untuk kantor gubernur Provinsi Jawa Barat, ini masih zaman Belanda. Jadi kantor gubernur Provinsi Jawa Barat nah itu masih zaman kekuasaan Belanda, terus Jepang masuk 1942 sampai 1945 gedung ini dijadikan kantor logistik Dai Nippon (kekaisaran Jepang),” kata Didik, Kamis (6/6/2024).

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memiliki kebijakan untuk menyatukan Banten, Batavia, Cirebon, dan Priangan menjadi satu wilayah atau yang disebut provinsi. Di masa peralihan balai kota yang baru itulah bangunan tersebut dijadikan sebagai kantor gubernur Jawa Barat.

Hingga Jepang datang, kantor gubernur Jawa Barat itu kembali beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan logistik Kekaisaran Jepang.

Dan pada 30 Maret 1974, gedung itu diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta diresmikan oleh Gubernur DKI Bapak Ali Sadikin.

Interior Gedung Terjaga Keasliannya

Selain itu, di Museum Sejarah Jakarta juga banyak segudang informasi yang telah tersaji bagi pengunjung. Bagaimana perjalanan dari mulai zaman prasejarah, masa emas Sunda Kelapa, era penjajahan Belanda-Jepang, hingga setelah kemerdekaan.

Didik pun membawa detikTravel ke setiap ruangan yang ada di gedung ini, semua interior dalam gedung pun masih terjaga keasliannya.

“Ini ya aslinya seperti ini kalau interior 90 persen lebih masih asli karena kayu-kayu ini nggak kena panas dan hujan jadi awet bisa ratusan tahun jadi ini juga dikonservasi. Kalau ngepel juga pake minyak lopi jadi ada minyak khusus supaya nggak dimakan serangga,” kata dia.

Dengan lantai yang terbuat dari kayu dan pintu-pintu besar yang kokoh membuat bangunan ini masih terasa seperti dulu kala saat masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan. Terdapat bangku, meja, lemari hingga lukisan zaman dulu tersimpan baik jadi menambah kesan yang mendalam.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikcom

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini memberikan pengalaman yang menarik tentang perjalanan panjang Kota Jakarta. Di bagian atas, Didik menunjukkan salah satu spot yang pernah dipakai oleh orang-orang penting zaman dahulu untuk memantau dan melihat eksekusi mati.

Terletak di area balkon yang menghadap ke area terbuka di tengah-tengah kawasan Kota Tua, di sinilah para tokoh saat itu melihat eksekusi mati yang berada di area bawa balkon tersebut.

“Ini digunakan untuk para hakim dan gubernur jenderal untuk melihat proses eksekusi hukuman mati dan,” ujarnya sembari menunjukkan tempat di mana eksekusi dilakukan.

Selagi detikTravel berkeliling gedung ini, terlihat wisatawan tak henti-hentinya mendatangi gedung ini. Beberapa rombongan wisatawan mancanegara pun penasaran dengan sejarah yang terdapat di Museum Sejarah Jakarta.

Menurut Didik banyak wisatawan mancanegara yang datang ke museum ini, terutama wisatawan mancanegara yang berasal dari Belanda. Alasannya karena ada ikatan emosional, sekaligus napak tilas nenek moyangnya yang dimakamkan di Indonesia.

“Kalau di sini pengunjung (asing) kebanyakannya dari Belanda karena ada hubungan emosional ya dengan Belanda jadi banyak yang ke sini. Banyak juga orang Belanda yang datang ke sini nyari makam-makam leluhurnya, saya pernah ketemu generasi ke-6 Antonio van Diemen (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ke-9). Jadi pengen lihat jejak-jejaknya gitu loh,” katanya.

Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk

Ternyata memang museum ini menjadi salah satu museum yang banyak didatangi oleh wisatawan setiap harinya, dari Senin sampai Minggu. Didik mengatakan sebelum pandemi lalu kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta bisa mencapai 15 ribu orang.

“Weekdays itu kalau lagi ramainya bisa dua ribu lebih, kalau musim liburan lebih rame lagi. Dan weekend itu pernah waktu sebelum pandemi sampai 15 ribu satu hari, nah kalau setelah pandemi ini paling-paling lima ribuan lah,” ujar dia.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Untuk kamu yang penasaran dengan Museum Sejarah Jakarta waktu yang pas untuk datang ke sini adalah ketika hari kerja karena tak begitu ramai. Jam operasional museum ini dimulai pukul 09.00 – 15.00 WIB pada Selasa sampai Minggu.

Untuk biaya masuk museum di hari kerja berkisar Rp 5.000 untuk mahasiswa, pelajar, dan anak-anak, sementara untuk dewasa dikenakan biaya Rp 10.000, dan untuk wisatawan mancanegara dibanderol Rp 50.000. Kemudian, jika berkunjung di hari libur biaya masuk untuk dewasa naik menjadi Rp 15.000, sementara yang lainnya harga normal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jelajah Museum di Tengah Kebun, Koleksi Barang Unik dan Antik


Jakarta

Museum di Tengah Kebun adalah bangunan estetik milik pengusaha periklanan Syahrijal Djalil. Seperti namanya, pengunjung benar-benar merasakan suasana di tengah kebun saat mengunjunginya.

Banyaknya pohon besar dan rindang di area museum membuat pengunjung merasa sejuk dan rileks. Ditambah koleksi barang antik dan penataan wilayah yang sangat estetik, Museum di Tengah Kebun adalah hidden gem bagi siapa saja yang mencari ketenangan di Jakarta.

Teras depan di Museum di Tengah Kebun.Teras depan di Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Sejarah dan Keunikan Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun awalnya adalah hunian pribadi tokoh periklanan Indonesia Syahrijal Djalil. Bangunan ini digagas sejak 1975 dan mulai dicari lahan yang pas pada 1976. Tahap selanjutnya adalah perancangan dan pembangunan rumah.


“Bapak mulai mengumpulkan puing rumah ini tahun 1978, kebetulan beliau sering ke luar negeri. Jadi sambil kunjungan beliau cari gedung tua untuk diambil puing bata, engsel, atau kayunya,” ujar tour guide Museum di Tengah Kebun Azam, saat ditemui detikcom.

Bangunan Museum di Tengah Kebun.Bangunan Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Bangunan Museum di Tengah Kebun memiliki 65 ribu batu bata yang berasal dari puing bangunan VOC dan Pasar Ikan. Selain itu, ada 15 ribu batu bata lain dari bongkaran gedung meteorologi yang berusia 128 tahun. Untuk pintunya digunakan 100 engsel dari bangunan penjara wanita di Bukit Duri.

Kebun di area museum tak hanya diisi pohon hidup, tapi juga fosil berusia ribuan tahun. Di lahan seluas 3.500 m2 tersebut ada 56 batang kelapa, 100 batu kali besar, dan 51 fosil pohon zaman Triassic berusia 248 juta tahun. Tepat 1 Oktober 1980, rumah mulai dihuni dan dirawat dengan sangat baik.

Koleksi Barang Antik Museum di Tengah Kebun

Gedung Museum di Tengah Kebun memiliki 15 ruangan, yang dinamai sesuai koleksi utama di ruangan tersebut. Berikut nama ruangan dan beberapa koleksi museum:

Koleksi barang antik di Museum Tengah Kebun.Koleksi barang antik di Museum Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

1. Halaman Depan

Area halaman depan berupa lorong hijau penuh tumbuhan dan pelataran luas berbentuk joglo. Di sini, pengunjung wajib mengisi buku tamu dan menggunakan sandal yang disediakan untuk masuk area museum. Tas dan kamera wajib dititipkan selama mengikuti museum tour.

2. Ruang Loro Blonyo (Lorong Rumah)

Ruangan ini menjadi perantara menuju ruang tengah yang didominasi koleksi mebel dan arca kuno dari Jawa Tengah. Loro Blonyo adalah simbol kesuburan, kemakmuran, keharmonisan, dan Keberuntungan.

3. Ruang Buddha Myanmar (Ruang Keluarga)

Area ruangan ini ada di bagian tengah rumah yang langsung menghadap kebun. Di sini ada arca perunggu Buddha Myanmar dari abad 17 dengan posisi memanggil bumi.

Seluruh barang di ruangan ini disimpan dalam lemari kuno asal Jawa Tengah dengan koleksi terakota lengkap dari Perancis, Jerman, Yordania, Spanyol, bahkan abad ke-2 Dinasti Han China.

4. Ruang Dewi Sri (Ruang Makan)

Perabot meja makan di ruang Dewi Sri berasal dari kayu mahogani Amerika yang dibuat di Denmark. Dekorasi di ruang makan terbilang kompleks karena menggabungkan arca Dewi Sri khas Jawa dan lukisan dari kayu tempera, yang berasal dari Rusia di abad 19.

5. Kolam Nandiswara

Kolam ini adalah penghubung ruang keluarga dan prasejarah dengan konsep semi outdoor. Di atas aliran air dan batu alam diletakkan koleksi Arca Dewa Siwa dan Dewa Wisnu. Penamaan kolam didasarkan dari wahana atau kendaraan milik dewa Siwa.

6. Ruang Prasejarah

Bagi penyuka sejarah ruangan ini akan menjadi favorit, karena menyimpan tempat air dari China yang telah berusia 4.800 SM. Di sini juga ada patung The Quest For Eternity yang dibuat sepasang, dengan salah satunya di Indonesia.

7. Ruang Singagaruda

Ruang Singagaruda berukuran paling besar pada Museum di Tengah Kebun, yang dulu difungsikan sebagai kamar mandi. Di ruang ini ada bak mandi kuno berusia 32 tahun dan 19 karpet dengan gaya geometrik elephant foot dan camel foot buatan Pakistan.

8. Kamar Gudang Myanmar

Area ini awalnya adalah kamar tidur pemilik Museum di Tengah Kebun. Hal ini masih terlihat dari ranjang antik bergaya khas Keraton Surakarta yang menjadi pusat perhatian. Di ruang ini juga ada koleksi piringan hitam dan arca bodhisatwa.

9. Ruang Dinasti Tang (Ruang Penyimpanan)

Ruangan ini diisi koleksi gerabah dan keramik dari seluruh wilayah Asia. Pengunjung juga bisa melihat berbagai perlengkapan dari batu (stoneware) dengan informasi lengkap di tiap koleksi museum.

10. Ruang Dinasti Ming (Ruang Tamu I)

Di sini, pengunjung bisa kembali menyaksikan berbagai koleksi keramik porselen replika masa dinasti Ming dengan tone biru putih. Ruangan ini dilengkapi dipan kecil dengan rancangan khas Keraton Surakarta.

11. Ruang Majapahit

Ruangan ini berada di dalam kamar tamu yang penuh koleksi arca tanah liat khas Kerajaan Majapahit. Di ruang Majapahit juga ada lukisan yang menceritakan wafatnya Bunda Maria.

12. Ruang Dinasti Qing (Ruang Tamu II)

Seperti ruang tamu sebelumnya, areal ini memiliki beragam koleksi keramik yang meliputi hiasan dan peralatan makan. Koleksi di areal ini terlihat lebih modern dengan warna mencolok daripada Ruang Dinasti Ming.

13. Ruang Kaisar Wilhelm II

Koleksi Museum di Tengah Kebun ini bisa dikatakan sangat autentik karena diperoleh langsung dari Jerman. Di sini ada peralatan makan lengkap asli dari zaman Kaisar Wilhelm II beserta patung kepalanya yang berasal dari abad 20. Di ruangan ini juga terdapat koleksi miniatur buah-buahan seberat 10 gram dari gading gajah.

14. Kebun Ganesha

Patung Ganesha Museum di Tengah Kebun.Patung Ganesha Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Seperti namanya, kebun Ganesha memiliki arca tokoh mitologi berwujud gajah sebagai koleksi utama. Arca dari Magelang, Jawa Tengah, ini memiliki bobot mencapai 3,5 ton. Koleksi lain di ruangan ini adalah patung mitologi Yunani dan arca fashion style zaman dulu.

15. Ruang Cirebon

Ruang Cirebon menyimpan berbagai ukiran kayu dari Cirebon dan Jepara. Di ruangan ini ada ukiran unik yang merupakan stilasi tersembunyi dari gajah yang berbentuk bunga. Selain itu, terdapat panel dinding yang menggambarkan kisah Mahabarata dan Panji yang terkenal di wilayah Jawa.

“Koleksi Museum di Tengah Kebun saat ini sekitar empat ribu buah. Tidak semua dipajang, tetapi masuk dalam katalog yang disusun detail,” tutur Azam.

Harga Tiket dan Jam Buka Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun tidak menetapkan harga tiket. Namun, pengunjung wajib memberikan uang deposit untuk menjamin kedatangan wisatawan di jadwal yang telah ditentukan.

Uang deposit sebesar Rp 100 ribu tersebut dibayarkan sebelum pengunjung datang ke Museum di Tengah Kebun. Jika kunjungan sudah selesai, uang dikembalikan pada rekening pribadi milik pengunjung. Uang deposit akan hangus jika kunjungan batal.

Bangunan Museum di Tengah Kebun.Bangunan Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Museum di Tengah Kebun buka setiap Sabtu dan Minggu dengan 2 sesi:

  • Sesi 1: 09.30-11.30 WIB
  • Sesi 2: 12.30-14.30 WIB.

Pada perayaan hari besar yang bertepatan dengan hari Sabtu dan Minggu, Museum di Tengah Kebun akan tutup. Sedangkan hari Senin hingga Jumat digunakan untuk pembersihan dan perawatan bangunan.

Lokasi dan Rute Perjalanan Museum di Tengah Kebun

  • Lokasi: Jl. Kemang Timur No.66 7, RT.7/RW.3, Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Museum di Tengah Kebun bisa ditempuh dengan transportasi umum. Jika dari arah Pancoran, detikers bisa naik Transjakarta dari halte Ragunan dan turun di halte Kemang Timur XVII. Hanya butuh 1 menit berjalan kaki untuk sampai di museum ini.

Sedangkan bagi pengguna KRL dapat turun di stasiun terdekat yaitu Pasar Minggu. Pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan Transjakarta hanya dengan satu kali perjalanan atau menggunakan ojek online dengan biaya kurang lebih Rp 15.000.

“Museum juga bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi, tersedia parkir sepeda motor dan mobil yang cukup luas,” kata Azam.

Panduan Berkunjung ke Museum di Tengah Kebun

Poin-poin berikut harus ditaati pengunjung Museum di Tengah Kebun sehingga bisa menikmati keunikan, kesejukan, gaya aestetik sang pemilik:

  1. Buka dan klik bio Instagram @museumditengahkebun untuk reservasi
  2. Cermati peraturan kunjungan yaitu minimal 7 orang
  3. Isi formulir dan pilih hari serta sesi kunjungan
  4. Membayar uang deposit sebesar Rp 100.000 sebagai jaminan yang akan dikembalikan setelah selesai tour museum
  5. Tulis jumlah pengunjung, penanggungjawab, nomor handphone, dan bukti transfer
  6. Tunggu konfirmasi maksimal 2 hari setelah pengisian untuk mengetahui jadwal kedatangan.

Perlu diketahui jika minimal waktu reservasi adalah H-2 dari kunjungan. Anak-anak di bawah 12 tahun boleh berkunjung asalkan didampingi oleh orang tua. Siswa maupun instansi pendidikan yang ingin berkunjung dalam jumlah besar, harap melakukan konfirmasi dengan tour guide untuk pengaturan sesi kunjungan.

“Untuk anak-anak SD atau TK biasanya kami pastikan dulu untuk jumlah peserta dan pendampingnya. Tetapi kunjungan tetap dilakukan hari Sabtu atau Minggu, begitu juga 8 duta asing yang pernah saya dampingi dulu,” kata Azam.

Peraturan Berkunjung ke Museum di Tengah Kebun

  • Setiap tamu wajib menulis nama di buku tamu
  • Mengganti sepatu dengan alas kaki yang disediakan pengelola
  • Meletakkan tas di rak yang disediakan
  • Tidak mengambil foto di dalam ruangan museum kecuali di area kebun
  • Mengikuti kegiatan tour museum dengan tertib
  • Tidak menyentuh dan berdesak-desakan untuk menghindari kerusakan pada barang koleksi
  • Disediakan sesi istirahat lengkap dengan minuman sebelum ke destinasi terakhir
  • Pengunjung dapat menukarkan alas kaki dan mengambil tas kembali
  • Pengembalian dana akan dilakukan di hari yang sama dengan kunjungan.

Spot Instagramable Museum di Tengah Kebun

Hampir seluruh sudut Museum di Tengah Kebun layak untuk tempat atau Instagramable. Nuansa hijau sudah terasa bahkan sebelum masuk ke wilayah kebun museum. Berikut spot instagrammable Museum di Tengah Kebun untuk feeds media sosial.

1. Gerbang Depan Museum

Gerbang museum dibuat dari kayu dan engsel penjara kuno yang tampak estetik. Beberapa topeng juga dipajang dengan tanaman gantung di bagian samping. Ikon Museum di Tengah Kebun juga terpampang di kanan dan kiri gerbang masuk.

Jalan menuju Museum di Tengah Kebun.Jalan menuju Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Spot ini tampak seperti nuansa jalan setapak di vila wilayah perkampungan Bali. Terdapat jalan yang cukup untuk satu jalur mobil dengan pohon kelapa di kanan dan kiri. Rerumputan di bawahnya juga tampak hijau dan rapi sehingga tidak terasa seperti sedang di Jakarta.

3. Serambi Rumah

Serambi Museum di Tengah Kebun.Serambi Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Pengunjung dapat melihat hamparan hijau kebun dan kolam di area teras. Beberapa koleksi diletakkan di meja dan dinding sehingga cocok untuk foto estetik ala Gen Z. Setiap sudut teras memiliki ciri khas tersendiri sesuai koleksi yang dipajang.

4. Kebun

Kebun Museum di Tengah Kebun.Kebun dalam Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Area kebun menjadi spot paling menarik untuk berfoto dengan adanya Arca Ganesha. Sesi istirahat di gazebo tengah kebun adalah pengalaman paling menyenangkan dan menenangkan disini. Suasana juga semakin syahdu dengan suara kicauan burung dan gemericik air dari area kolam renang.

“Selain menjadi koleksi paling berat disini, arca Ganesha juga punya cerita unik. Bapak mendirikan sekolah di daerah Magelang untuk bisa membawa pulang arca ini,” ujar Azam di akhir sesi tour museum.

Dengan pesona dan penataannya Museum di Tengah Kebun berhasil mendapatkan berbagai penghargaan seperti Anugerah Purwakalaghra Museum Awards 2013 Kategori Museum Terbaik DKI Jakarta dan Penataan Koleksi, Anugerah Purwakalaghra Museum Award 2014 Kategori Museum Cantik (Engaging Museum), dan Penghargaan dari Direktorat Jenderal Imigrasi.

Penghargaan untuk Museum di Tengah Kebun.Penghargaan untuk Museum di Tengah Kebun. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Demikian sejarah, koleksi, panduan berkunjung, dan spot Instagramable Museum di Tengah Kebun. Apakah detikers tertarik merasakan pengalaman mengagumkan dengan berkunjung ke museum ini?

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Daya Tarik Setu Babakan, Jelajahi Kampung Budaya Betawi Gratis


Jakarta

Sedang mencari tempat refreshing murah meriah di Jakarta? Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan bisa jadi pilihan. Areanya cocok sebagai spot wisata bersama keluarga.

Di sini kamu juga bisa berwisata sambil mengenal budaya Betawi, lho. Kira-kira seperti apa perkampungan Betawi di Setu Babakan dan apa saja aktivitas yang bisa dilakukan? Berikut ulasannya.

Gerbang Setu Babakan.Gerbang Setu Babakan. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Sejarah Perkampungan Betawi Setu Babakan

Peresmian berdirinya Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan diawali dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur DKI Jakarta era 1997-2007 Sutiyoso. “Peletakan batu pertama itu ada di satu area yang sekarang disebut sebagai Kampung Embrio.” ujar petugas Satuan Pelaksana Edukasi, Informasi dan Pelayanan Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPKPBB) Jaka Yudha Permana, saat ditemui detikcom.


Pembangunan Perkampungan Budaya Betawi dilatarbelakangi wacana kepedulian dari masyarakat dan tokoh Betawi, dan pemerintah daerah untuk mengadakan satu tempat yang khusus untuk melestarikan budaya Betawi. Pada akhirnya dipilih kawasan Srengseng Sawah sebagai lokasi Perkampungan Budaya Betawi.

Sesuai Peraturan Pemerintah Daerah nomor 3 Tahun 2005, sekitar 289 hektar wilayah Srengseng Sawah dikelola menjadi Perkampungan Budaya Betawi. Area seluas 289 hektar ini terdiri dari zona kampung Muhammad Husni Thamrin, kampung Abdulrahman Saleh, kampung Ismail Marzuki, kampung KH Noer Ali dan kampung Embrio.

Tak hanya menawarkan wisata budaya, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan juga menyuguhkan wisata Air, Budaya dan Agro bagi pengunjung. Berkat daya tarik wisatanya, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan berhasil masuk dalam daftar 50 Desa Wisata Terbaik di Indonesia pada 2021 lalu.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Setu Babakan

Nggak perlu takut mati gaya kalau berkunjung ke Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, karena tempat ini menawarkan sejumlah aktivitas seru yang bisa dilakukan bareng keluarga atau teman. Berikut ini beberapa rekomendasi kegiatannya:

1. Mengunjungi Museum Betawi

Museum Betawi di Setu Babakan.Museum Betawi di Setu Babakan. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Ingin berwisata sembari menambah wawasan tentang budaya Betawi? Museum Betawi tempatnya. Museum yang terdiri dari 3 lantai ini menampilkan bermacam-macam koleksi yang dikemas dengan tema 10 Siklus Kehidupan Masyarakat Betawi dan 7 Unsur Budaya Betawi, juga terdapat memorabilia yang dihibahkan oleh beberapa tokoh legendaris Betawi untuk tujuan edukasi.

Salah satu koleksi yang istimewa dari nilai sejarahnya adalah kostum penari topeng peninggalan maestro tari topeng Betawi. Selain itu, ada juga topeng Bapak Jantuk yang sering dipakai seniman legendaris Haji Bokir.

Sebagai informasi, pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk ke museum ini. Saat berkunjung, wisatawan cukup scan kode QR yang ada di meja resepsionis untuk melakukan registrasi kunjungan. Lalu, untuk kunjungan rombongan sekolah, kampus, atau komunitas, pemohon dapat mengirimkan surat permohonan terlebih dulu ke email upkpbbsetubabakan@gmail.com dengan format berikut ini:

  • Maksud dan tujuan
  • Tanggal dan Waktu kunjungan
  • Jumlah peserta
  • Nomor kontak HP.

Permohonan akan diproses 3 hari kerja dimulai setelah surat diterima. Hal ini sebagaimana yang tertera pada unggahan resmi di akun Instagram @pbbsetubabakan.

2. Menyaksikan Pagelaran Kesenian Tradisional Betawi

Apabila berkunjung di hari Minggu, pengunjung dapat menikmati pagelaran kesenian tradisional Betawi yang diadakan reguler setiap minggunya. Pagelaran ini menyuguhkan berbagai penampilan seni, seperti tari, teater, musik gambang kromong, tanjidor, rebana, dan ondel-ondel.

Selain pagelaran kesenian reguler, Perkampungan Betawi Setu Babakan juga mempunyai acara hajat yang biasa digelar pada momentum peringatan seperti hari ulang tahun kota Jakarta dan momentum perayaan lainnya. Untuk melaksanakan acara-acara tersebut, Kampung Budaya Betawi Setu Babakan turut melibatkan warga, penggiat seni setempat, dan sanggar tari yang sudah resmi terdaftar.

3. Workshop dan Wisata Agro

Kegiatan lainnya yang diadakan secara rutin di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan adalah workshop pengenalan budaya Betawi. Kegiatan yang diusung oleh workshop ini pun bervariasi, mulai dari membuat bir pletok, kembang goyang, bermain alat musik, hingga membuat ondel-ondel.

Selain itu, Perkampungan Betawi Setu Babakan juga menyediakan workshop yang diadakan/difasilitasi oleh Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi dan ada juga kegiatan workshop yang bisa dipesan ke sanggar dengan biaya untuk instruktur dan ganti bahan.

“Kalau misalnya workshop, kan ada instruktur, berarti akan ada honor untuk instruktur. Kalau mau yang sifatnya makanan atau kuliner, ada bahan pengganti.” ujar Jaka.

Satu lagi kegiatan andalan yang ditawarkan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan adalah wisata agro. Melalui wisata agro, pengunjung akan diajak mengeksplor pohon-pohon khas Betawi yang ditanam di area kampung MH. Thamrin dan khususnya di pulau yang berada di tengah danau/Setu Babakan (kampung Ismail Marzuki).

4. Menaiki Wahana Sepeda Air

Sepeda air di Setu Babakan.Sepeda air di Setu Babakan. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Kalau datang bersama keluarga, detikers bisa banget ajak anak-anak menikmati suasana danau dengan menaiki wahana sepeda air. Untuk anak usia 3-12 tahun, tarif yang dikenakan sebesar Rp 10.000. Sedangkan tarif untuk anak di atas 12 tahun seharga Rp 15.000. Satu wahana sepeda air berkapasitas 2 orang.

5. Olahraga dan Naik Sepeda

Kawasan sekitar Setu Babakan yang begitu luas, menjadikan tempat wisata ini sebagai spot favorit penduduk sekitar untuk berolahraga atau berkeliling naik sepeda. Disini, kamu bisa jogging atau sekadar nongkrong santai menikmati suasana danau yang meneduhkan.

Spot Foto di Setu Babakan

Bagi detikers yang ingin eksis di sosial media, tenang saja karena Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan memiliki berbagai spot foto outdoor menarik yang instagramable. Berikut diantaranya:

1. Area Jembatan

Jembatan di Setu Babakan.Jembatan di Setu Babakan. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Spot foto pertama yang menjadi favorit pengunjung adalah jembatan bernuansa hijau yang terletak di antara contoh rumah tradisional adat Betawi. Jembatan ini bisa jadi latar belakang yang kece untuk foto OOTD ataupun foto beramai-ramai bersama keluarga dan sahabat. Pencahayaan pada foto akan semakin maksimal saat cuaca cerah.

2. Rumah Adat Betawi

Rumah adat Betawi di Setu Babakan.Rumah adat Betawi di Setu Babakan. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Masih di sekitar jembatan, kamu juga bisa menonjolkan suasana khas Perkampungan Betawi dengan berpose di depan Rumah Adat Betawi beraksen kayu yang tampak tradisional namun tetap aesthetic.

3. Amfiteater

Amfiteater di Setu Babakan.Amfiteater di Setu Babakan. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

Kemudian, tepat di depan rumah adat, terdapat pelataran amfiteater dengan latar belakang bangunan Museum Betawi yang megah. Agar tidak terlalu panas, sebaiknya datang menjelang sore hari ketika cahaya matahari mulai teduh.

Kuliner Setu Babakan

Di sepanjang area Setu Babakan, detikers bisa menemukan beragam variasi kuliner khas Betawi. Mulai dari camilan hingga makanan berat, berikut beberapa kuliner ikonik Betawi yang dijajakan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan:

Kuliner Betawi di Setu Babakan.Kuliner Betawi di Setu Babakan. (Kirana Ratu Sekar Kedaton dan Fathia Ariana Salima/detik.com)

1. Kerak Telor

Warga Jakarta mungkin sudah tidak asing dengan hidangan gurih satu ini. Kerak telor merupakan makanan khas Betawi berbahan dasar telur dengan teknik memasak yang unik, di mana telur dibakar dan dibolak balikkan dalam nampan. Jajanan ini dibanderol seharga Rp 20.000-Rp 26.000.

2. Bir Pletok

Berbeda dengan bir pada umumnya, bir pletok aman dikonsumsi karena terbuat dari rempah-rempah. Pembuatan minuman ini terinspirasi dari bir beralkohol yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Belanda pada zaman kolonial untuk menghangatkan badan.

“Kalau orang Betawi yang mayoritas Islam ya, dilarang mengonsumsi alkohol, nah dibuat sesuatu minuman yang reaksinya sama menghangatkan badan, tapi tidak ada alkoholnya. Akhirnya, rempah-rempah dimasak dan dijadikan satu minuman.” tutur Jaka.

3. Laksa

Kuliner khas Betawi berikutnya yang dapat detikers santap ketika berkunjung ke Setu Babakan adalah laksa. Secara singkat, laksa merupakan hidangan mie yang disajikan bersama kuah gurih dan aneka lauk pauk seperti ayam, udang, telur, dan lain-lain. Untuk menikmati seporsi laksa khas Betawi, detikers cukup merogoh kocek Rp 18.000 saja.

4. Soto Betawi

Satu lagi hidangan berkuah otentik Betawi yang tak kalah sedap yaitu soto Betawi. Cita rasa kuah soto Betawi yang kental berempah ditambah isian daging serta jeroan sapi sebagai pelengkap sangat nikmat disantap selagi hangat. Bagi detikers yang penasaran, kamu bisa menjajal menu makanan ini di Rumah Makan Betawi Setu Babakan dengan harga Rp 30.000 per porsinya.

5. Es Selendang Mayang

Selendang mayang adalah sejenis puding tradisional Betawi yang terbuat dari tepung beras warna-warni. Karena lapisan pudingnya yang berwarna-warni bak selendang penari inilah, penganan ini kemudian disebut selendang mayang. Di tengah panas terik Jakarta, menyeruput semangkuk selendang mayang yang manis nan segar merupakan kenikmatan hakiki.

Berada di kawasan Jagakarsa, tempat wisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan mudah diakses dengan transportasi umum. Jika menaiki moda transportasi KRL, kamu bisa turun di Stasiun Pancasila lalu lanjut menggunakan ojek online dengan jarak 4 km dan waktu tempuh sekitar 10 menit.

Sementara itu, detikers yang bepergian via busway bisa menjajal bus Transjakarta koridor D21 (Universitas Indonesia-Lebak Bulus), 4B (Universitas Indonesia-Stasiun Manggarai), atau 9H (Universitas Indonesia-Blok M) dengan titik pemberhentian di halte Universitas Pancasila. Setelah itu, lanjut menaiki ojek online sejauh 2,8 km dengan waktu tempuh berkisar 7 menit.

Harga Tiket Masuk, Jam Operasional, dan Lokasi Setu Babakan

  • Lokasi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan berada di Jl. Moch Kahfi 2, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Wisata Perkampungan Setu Babakan dapat dikunjungi siapa saja tanpa dikenakan tiket masuk alias gratis. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan buka mulai hari Selasa sampai Minggu pada pukul 09.00-15.00 WIB mengikuti jam operasional museum. Namun, area sekitar danau Setu Babakan dibuka sampai dengan 18.00 jam setiap harinya.

Akhir kata, Jaka berpesan pada kalangan muda untuk ikut berpartisipasi dalam melestarikan kearifan lokal budaya Betawi. Salah satunya melalui Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan dan komunitas budaya yang telah ada.

Jaka berharap generasi muda tidak merasa berat hati dalam usaha melestarikan budaya. Apalagi upaya pelestarian kini bisa memanfaatkan teknologi dengan jangkauan yang lebih luas pada dunia internasional.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

8 Ikon Budaya Betawi yang Resmi Diakui Perda Jakarta



Jakarta

Jakarta memiliki delapan ikon budaya yang resmi diakui dalam peraturan serah. Apa saja ya?

Jika menyebut nama Jakarta yang sering terlintas pastilah kehidupan modern yang sibuk, tetapi nyatanya Jakarta bukan hanya tentang gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk kota. Betawi sebagai suku asli Jakarta, ternyata kaya akan budaya dan menarik untuk ditelusuri.

Meskipun memiliki banyak kebudayaan yang khas, dalam Peraturan Daerah No.4 Tahun 2015 tentang pelestarian budaya Betawi baru ada delapan kebudayaan yang masuk ke dalam ikon budaya Betawi.


Bersama jktgoodguide dengan dipandu oleh Rony selaku guide, detikTravel berkesempatan mengenal lebih dekat dengan delapan ikon budaya Betawi, berikut ringkasannya.

1. Ondel-Ondel

Siapa yang tak kenal dengan ikon satu ini, ondel-ondel memang lekat kaitannya dengan budaya Betawi. Ondel-ondel adalah sepasang boneka besar dengan tinggi sekitar 2.5 meter-3 meter dengan diameter tubuh hingga 80 cm. Anggota tubuhnya terbentuk dari bambu dan bagian wajahnya terbuat dari pahatan kayu cempaka, rambutnya dari ijuk, dan busananya dari kain.

Mulanya ondel-ondel disebut dengan nama ‘barongan’. Nama ondel-ondel muncul setelah Benyamin Sueb menciptakan dan menyanyikan lagu berjudul ‘Ondel ondel’.

“Muncul nama ondel-ondel itu setelah Bang Benyamin menyanyikan lagu ondel-ondel,” kata Rony.

Pada awal abad ke-20, nama barongan pun berganti nama menjadi ondel-ondel. Kata ondel-ondel diambil dari bahasa Betawi klasik yang memiliki arti lincah dan fleksibel.

Sebelum menjadi sarana hiburan, barongan atau ondel-ondel digunakan sebagai ritual pengusiran roh jahat dan malapetaka seperti gagal panen atau ancaman wabah penyakit kala itu dengan struktur wajah yang menyeramkan. Seiring perkembangan zaman, wajahnya berubah menjadi tidak lagi menyeramkan karena alih fungsinya menjadi seni pertunjukan.

2. Kembang Kelapa

Banyak orang yang menganggap bahwa dekorasi berbentuk lidi yang dihiasi dengan kertas warna-warni hanyalah pemanis semata. Padahal pajangan atau dekorasi tersebut adalah salah satu bagian dari delapan ikon budaya Betawi.

Kembang Kelapa adalah salah satu bagian dari dekorasi yang tak pernah terlewat dalam setiap rangkaian acara Betawi. Biasanya juga ditemukan dalam rangkaian ondel-ondel. Ornamen ini dipilih karena melambangkan pohon kelapa yang memiliki manfaat di setiap bagian pohonnya mulai dari akar hingga daunnya.

“Kenapa ada kembang kelapa dalam ornamen Betawi karena filosofi pohon kelapa itu sendiri. Kalau temen-temen perhatiin pohon kelapa itu kan semua bagian kepake, nah seperti fungsi dari pohon kelapa kita sebagai manusia itu harus berfungsi dari semua aspek jangan sampai kita nggak bermanfaat,” ujar Rony.

3. Kerak Telor

Kerak telor juga jadi salah satu makanan khas terkenal di Jakarta. Makanan ini mudah sekali ditemukan di kawasan hiburan atau wisata Jakarta.

Menurut sejarah, kerak telor adalah salah satu makanan yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada tahun 1970 kerak telor tercipta menjadi suatu hidangan atas insiden tidak disengaja. Kerak telor tercipta setelah masyarakat Betawi saat itu mencoba-coba membuat berbagai makanan dengan memanfaatkan kelapa sebagai bahan dasar utamanya lalu terciptalah makanan unik ini.

Makanan ini terbuat dari beras ketan putih (direndam semalaman), srundeng, telur ayam atau bebek, merica, ebi, dan bawang goreng. Dalam pembuatannya, kerak telor membutuhkan alat mulai dari wajan bergagang, kayu rotan, kipas, dan anglo.

Pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, kerak telor mulai gencar dipromosikan hingga terus berlanjut sampai saat ini. Selain menjadi salah satu identitas dari budaya Betawi, kerak telor juga jadi salah satu hidangan wajib setiap festival kebudayaan Betawi diselenggarakan.

Ternyata ada makna khusus di balik kudapan gurih ini lho. Kerak telor ternyata menggambarkan pergaulan hidup manusia yang harmonis. Sebagai sisi kehidupan manusia yang mengalami berbagai perubahan.

4. Bir Pletok

Minuman khas Betawi yang identik dengan warna merah ini terbuat dari campuran 13 jenis rempah-rempah. Dengan kandungan tersebut, bir pletok dinilai memiliki banyak khasiat bagi tubuh. Uniknya, meskipun mengandung kata ‘bir’ minuman ini justru tak memiliki kandungan alkohol.

Terdapat dua versi asal usul nama bir pletok. Yang pertama berasal dari kata birun atau abyar dalam Bahasa Arab yang berarti sumber mata air. Versi lain mengatakan bahwa pada saat itu karena mayoritas penduduk Betawi umat muslim maka kebanyakan masyarakat Betawi tak bisa bergabung dalam budaya ‘minum bir’ Belanda.

“Sebenernya munculnya bir pletok ini pada 1900-an, termasuk baru. Karena, kalau kita lihat orang Betawi kan dimayoritasi muslim nah bangsa eropa kan suka minum bir, tapi pribumi kan dilarang minum minuman beralkohol. Jadi, diciptakan minuman yang mirip dengan bir dengan konsep menghangatkan. Biar kalau mereka ngumpul bisa sama-sama minum,” kata Rony.

Bir pletok jadi sarana alternatif yang tercipta untuk berkumpul. Meskipun tak mengandung alkohol, bir pletok tetap mampu menghangatkan tubuh. Kata ‘pletok’ tercipta dari sajian bir pletok yang identik dengan penggunaan es batu. Bunyi yang tercipta dari es batu ini lah yang jadi asal usulnya.

5. Gigi Balang

Gigi balang adalah salah satu ornamen khas Betawi. Ornamen ini biasanya ditemukan pada lisplang rumah-rumah adat Betawi. Namun kini, kita bisa dengan mudah menemukannya di berbagai fasilitas publik, dekorasi, hingga gapura di Jakarta.

Bentuknya yang menyerupai segitiga berjajar bak gigi belalang melambangkan kehidupan yang harus diisi dengan kejujuran, rajin, ulet, dan sabar. Itu mencerminkan kerja keras yang dilakukan belalang dalam mematahkan sebuah kayu. Beberapa juga mengartikan bahwa gigi balang menggambarkan pertahanan kuat dan keberanian.

Terdapat lima jenis ornamen gigi balang yakni, tumpal, wajik, susun dua, potongan waru, dan kuntum melati.

6. Batik Betawi

Berbeda dengan batik daerah lainnya, batik Betawi identik dengan warna cerah yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan pengaruh budaya Cina yang kuat di kawasan Betawi.

Motif yang tercipta pada batik ini juga terpengaruh dari budaya Belanda, India, hingga Arab. Namun pada dasarnya, batik Betawi memiliki makna sebagai keseimbangan alam semesta guna memenuhi hidup yang sejahtera dan berkah.

Ada lima motif dalam batik Betawi, yakni motif ciliwung, motif ondel-ondel, motif rasamala, motif salakanagara, dan motif nusa pala. Masing-masing motif punya makna tersendiri yang sebagian besar diambil dari kekayaan alam budaya dan sejarah di tanah Betawi.

Batik ini kerap digunakan sebagai salah satu bagian dari pakaian adat Betawi, hingga berbagai kostum tarian asal Betawi. Kini batik Betawi kerap digunakan sebagai pakaian seragam wajib anak sekolah dan karyawan/karyawati kantor pemerintah/swasta di Jakarta.

7. Pakaian Sadariah

Jika biasa melihat orang Betawi yang menggunakan peci lengkap dengan sarung di lehernya, itu adalah Pakaian Sadariah. Pakaian yang khas dengan celana panjang batik longgar atau celana pantalon ini juga jadi salah satu ikon budaya Betawi lho.

Ciri pakaiannya terbuat dari katun atau sutra dengan kerah tinggi, berkancing pada bagian depan, dan memiliki dua kantong pada bagian bawah kiri dan kanannya. Baju Sadariah juga dilengkapi dengan cukin atau kain sarung yang dilipat dan digantung pada bagian leher, lengkap dengan peci hitam polos, dan menggunakan terompah sebagai alas kakinya.

Uniknya cukin atau sarung itu tak hanya berfungsi sebagai estetika belaka, namun memiliki fungsi khusus yakni sebagai alat sholat sekaligus sebagai senjata ketika berhadapan dengan perampok atau begal yang marak di kawasan jalanan Batavia saat itu.

Mulanya pakaian ini dikenakan masyarakat suku Betawi laki-laki sebagai pakaian sehari-harinya. Namun, kini pakaian sadariah biasa digunakan dalam berbagai acara atau seragam khas masyarakat Jakarta.

8. Kebaya Kerancang

Kebaya yang juga familiar dengan sebutan Kebaya Encim ini jadi salah satu ikon budaya Betawi juga lho. Kebaya Kerancang adalah pakaian wanita Betawi yang terbuat dari kombinasi bahan brokat yang ditutup dengan bordir.

Kebaya kerancang biasanya pendek meruncing kebagian muka kebaya antara 12-30 cm dari dasar dengan model jahitan tangan goeng yang jadi ciri khas nya.

Kebaya itu serasi dipadankan dengan sarung atau kain panjang yang tidak diwiru lengkap dengan selendang dengan warna cerah.

Pada zaman dulu, brokat yang dikenakan dalam kebaya kerancang adalah brokat buatan eropa yang ditutup langsung dengan jahitan bordir agar terlihat serasi. Namun, kini berbagai perkembangan dunia fashion dapat mendapatkan berbagai jenis model brokat dengan mudah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menara Miring Ini Jadi Titik Nol Kilometer Jakarta



Jakarta

Di kawasan Kota Tua, Jakarta terdapat sebuah menara miring tua yang menyimpan sejarah, yaitu Menara Syahbandar (Uitkijk). Menara itu menjadi titik nol kilometer Jakarta.

Menara Syahbandar yang berada di Jl Pasar Ikan, Jakarta Utara itu merupakan saksi bisu perkembangan pesat jalur perdagangan di Jakarta. Dibangun pada tahun 1839 oleh pemerintah Belanda, menara itu awalnya berfungsi sebagai menara pemantau kapal yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

Dari menara itulah para petugas mengawasi lalu lintas kapal, memastikan kelancaran bongkar muat barang, dan memungut pajak dari para pedagang.


Sebelum menara itu didirkan, pada 1645, lokasi itu merupakan tempat benteng pertahanan milik Belanda, bernama Benteng Culemborg.

Salah satu penjaga turut menjelaskan secara singkat kondisi situasi sekitar menara pada masa lampau. Sebagai daerah pusat pemerintahan Belanda, daerah menara yang tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa itu selalu ramai lalu lalang kapal sebagai akses keluar masuk orang-orang Belanda.

“Belanda itu pusat pemerintahannya dulu di sini sebelum ke Cikini, pasar induk itu di sini. Menginjakkan kakinya pertama kali itu ke sini dulu, lewat Pelabuhan Sunda Kelapa. Setelah menguasai dia membangun pemerintahan dan bangun kantor gubernur di Kota Tua, bahkan perahu dulu sampe ke sana (Gedung Fatahillah),” kata penjaga itu.

Menara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer JakartaMenara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Yang bikin unik, Menara Syahbandar sedikit miring. Konon, kemiringan itu justru disengaja dengan tujuan untuk mempermudah pengamatan ke arah laut. Kendati tak separah Menara Pisa di Italia, kemiringan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Menara Syahbandar.

Selain itu, menara tersebut unggul di masa lalu sebagai bangunan tertinggi di Batavia pada masa itu.

Menara Syahbandar tak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi titik nol kilometer Jakarta sebelum akhirnya dipindahkan ke Monumen Nasional. Itu menandakan bahwa menara ini merupakan pusat kota Batavia pada masa lampau.

Titik nol itu berbentuk persegi dengan ukiran tulisan Tionghoa atau biasa disebut Prasasti Tionghoa. Jika diterjemahkan prasasti tersebut bertuliskan kata Kantor Survey, Garis Bujur, dan Titik 0 Batavia. Jika dirangkai jadilah kalimat ‘Garis Bujur Nol Batavia’ (Asal garis bujur berdasarkan kantor jawatan survey).

Menara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer JakartaMenara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Menara Syahbandar terbagi atas tiga bangunan utama, yakni Ruang Titik Nol Batavia, Ruang Menara Syahbandar, dan Ruang Koleksi.

Beberapa waktu yang lalu pengunjung bahkan bisa menaiki tangga kayu yang cukup curam hingga ke puncak menara. Pemandangan memukau kawasan Kota Tua Jakarta dengan deretan bangunan tua dan dermaga Sunda Kelapa akan tersaji di depan mata dari jendela yang empat sisi yang ada.

Sayangnya, saat dikunjungi detikTravel pada Selasa (18/6/24) berdasarkan keterangan salah satu petugas saat ini tangga-tangga sedang dalam tahap perbaikan.

“Oh itu di atas, maintenance lagi ada kerusakan. Udah lama emang dua bulanan, lagi gak bisa dinaikin. Lantai kayu-kayunya sudah mulai lapuk,” kata dia.

Konon, di daerah bawah menara terdapat terowongan bawah tanah yang terkoneksi ke Stadius atau Museum Sejarah Jakarta hingga Benteng Frederik Hendrik yang kini daerahnya telah beralih fungsi menjadi Masjid Istiqlal.

Jika ingin menggali lebih dalam sejarah Menara Syahbandar dan Jakarta secara keseluruhan, traveler bisa mengunjungi Museum Bahari yang terletak tak jauh dari menara. Di museum itu, traveler bisa melihat berbagai koleksi benda-benda bahari dan artefak yang menceritakan tentang sejarah pelayaran dan perdagangan di Nusantara.

Menara ini buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 09.00-16.00 WIB dengan harga tiket masuk yang terintegrasi dengan Museum Kebaharian Jakarta yakni mulai dari Rp 3.750 ribu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Negeri China, Ini Old Shanghai di Jakarta Timur yang Asyik buat Ngonten



Jakarta

Butuh tempat foto dengan latar bangunan-bangunan khas Negeri Tirai Bambu? Atau butuh tempat baru yang memiliki banyak pilihan makanannya? Old Shanghai bisa jadi tujuan tersebut, tempat ini memiliki konsep yang unik dan bisa memberikan kesan yang menarik saat berkunjung ke sini.

Berada di kawasan Sedayu City, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Old Shanghai jadi tujuan baru masyarakat Jakarta untuk berburu kuliner dengan nuansa khas China. Fasad bangunan-bangunan di kawasan itu menjadi daya tarik.

Arsitektur ala bangunan tradisional China ini keren-keren, cocok untuk diabadikan dan di-upload di sosial media. Jika orang-orang tak tahu dengan tempat ini mungkin akan menyangka traveler sedang berada di daratan China sungguhan.


Ketika pertama kali masuk akan disambut gapura megah nan tinggi menjulang dengan ornamen yang bertuliskan aksara China dan makhluk ikoniknya, naga. Di kedua sisi gapura ini juga terdapat mural-mural yang tak kalah memesona,

Masih berada di area depan, pengunjung juga pastinya bakalan mengabadikan momen terlebih dahulu di gapura tersebut sebelum masuk lebih dalam dan mengeksplorasi setiap sudut di Old Shanghai ini. Berjalan melewati gapura tersebut, detikTravel pun makin terpukau dengan bangunan pagoda berwarna merah yang tepat berada sejajar dengan gapura.

Tempat ini mengingatkan detikTravel dengan film-film kolosal yang kerap diperankan oleh Jet Li, saat berada di sini terasa kita masuk ke tempat kaisar-kaisar China zaman dahulu. Tak perlu mengeluarkan kocek yang mahal traveler akan serasa tengah berlibur berada di China.

Selain bangunan-bangunan ikonik, di Old Shanghai Sedayu City juga terdapat beberapa patung. Salah satunya patung tinggi yang berada dekat pagoda, patung tersebut adalah Dewi Tian Shang Shen Mu atau Dewi Mazu yang merupakan dewi samudera.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

“Satu hal yang juga menjadi sorotan di Old Shanghai yaitu pagoda dan Altar Dewi Mazu di area tengah-tengah Old Shanghai, di mana Altar Dewi Mazu juga dijadikan tempat ibadah di depan patungnya, kami siapkan dupa dan banyak pengunjung yang berdoa disitu,” kata Deputy Division Head Commercial Retail 1 Agung Sedayu Group, Jarenta Sinaga, kepada detikTravel, Rabu (19/6/2024).

Masih banyak lagi bangunan-bangunan keren yang berada di Old Shanghai ini, lawasan yang berdiri seluas 14,515 meter persegi ini juga memiliki banyak tenant-tenant makanan. Ya memang tempat ini selain menyuguhkan keindahan suasana Kota Shanghai juga jadi spot kulineran warga sekitar.

Dalam laman resmi Agung Sedayu Group, sebagai perusahaan yang membidani tempat ini, menyebut terdapat lebih dari 80 tenant kuliner. Untuk masyarakat muslim juga tenang karena di Old Shanghai juga banyak makanan-makanan halal.

“Old Shanghai menyediakan banyak pilihan makanan non halal dan sekitar 70 persen kuliner di Old Shanghai merupakan kuliner halal,” keterangan di laman itu.

Tak cukup dengan suasana dan sajian kulinernya, Old Shanghai juga memiliki supermarket yang juga bernuansa China. Old Shanghai memang masih terbilang muda sebagai sebuah destinasi karena baru tahun 2022 lalu tempat ini resmi beroperasi.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Kendati masih baru tapi pamor tempat ini sudah begitu masyhur, terlihat dari video-video yang berseliweran di media sosial tenant Old Shanghai. Memang tak aneh bila tempat ini jadi magnet untuk para pembuat konten, tempat yang keren serta akses masuk yang mudah.

“Banyak pengunjung yang gemar mencari spot foto yang instagramable dan aesthetic, seringkali juga banyak yang membuat konten vlog ala-ala di sini. Sehingga membuat kita menjadi bertambah exposure dan semakin banyak orang mengenal Old Shanghai,” kata Jarenta.

Untuk bisa masuk ke kawasan ini tak dipungut biaya dan jika ingin berkunjung ke tempat ini, waktu yang pas adalah sore hari. Selain tak terlalu terik, keindahan tempat ini akan semakin meningkat ketika lampu-lampu mulai menyala.

Ini semakin menggugah semangat untuk mengeksplor setiap ikon di Old Shanghai dengan latar bangunan khas China dan lampion-lampion menggantung yang semakin membuat foto jadi keren. Old Shanghai juga bisa didatangi setiap hari, mulai Senin-Jumat buka pada pukul 10.00-22.00 WIB dan Sabtu-Minggu mulai pukul 07.00 WIB sampai 23.00 WIB.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Taman Hutan Kota Penjaringan Peredam Sengatan Matahari dan Kusut Truk Raksasa



Jakarta

Ruang terbuka hijau bisa sedikit menyejukkan saat matahari menyengat tanpa ampun. Salah satunya ada di Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara.

Taman Hutan Kota Penjaringan terletak di kawasan yang panas menyengat oleh matahari dipadu lalu-lalang truk-truk besar. Belum lagi debu jalan yang membuat tak nyaman berlama-lama di jalanan tersebut, hutan kota itu bak oase di tengah gurun.

detikTravel merasakan langsung keteduhan taman itu setelah menerjang panasnya Jakarta Utara dengan debu jalanan, Rabu (26/6/2024).


Hutan Kota Penjaringan ini luasnya sekitar 135.000 meter persegi ini jadi magnet untuk warga sekitar. Juga, bagi pengguna jalanan yang butuh istirahat sejenak.

Selain bisa sebagai tempat ngadem, bermain atau bersantai, Hutan Kota Penjaringan itu juga jadi tempat untuk berolahraga. Dengan luas yang dimiliki hutan kota ini cukup untuk bermandikan keringat jika mengelilingi berkali-kali, dan yang menjadikannya nyaman adalah udara serta cuaca di hutan kota ini begitu bersahabat.

Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta UtaraTaman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

“Ya saya cukup sering jalan di sini karena nggak jauh juga dari rumah,” kata Lidya sembari berjalan.

Walaupun di jalanan begitu terik namun ketika berada di dalam hutan kota ini tidak terasa begitu menyengat, pepohonan yang rimbun dan tinggi menjulang lah yang menjadi penangkalnya. Dengan banyaknya masyarakat yang jogging atau jalan santai, di area lain dengan hamparan rumput yang luas anak-anak dengan serunya bermain sepakbola.

Pemandangan itu mengingatkan pada zaman dulu, anak-anak bermain bola di sore hari merupakan aktivitas lumrah dan ditunggu-tunggu oleh anak-anak setelah pulang sekolah.

“Gocek gue kalau bisa sini!,” teriak salah satu anak.

Warga menikmati tempat itu dengan cara beragam. Ada yang menggelar tikar, duduk-duduk di atas rumput, bahkan ada yang sambil berkaraoke.

Suasana Hutan Kota Penjaringan ini memang begitu nyaman dan sangat mendukung untuk hanya sekadar menurunkan tensi badan dan pikiran.

Sembari berkeliling, ternyata hutan kota itu memiliki labirin yang bisa untuk saat berkunjung ke sini. Labirin tersebut dibuat dari deretan pohon pucuk merah, walaupun tak begitu menantang karena masih terdapat celah di antara deretan pohonnya tapi cukup untuk membuat senang.

Saat masuk ke dalam labirin tak ada rintangan serius, meski tetap harus mencari jalan keluar yang benar tapi kita bisa menembus celah dari pepohonan jika jalannya buntu. Selesai dengan labirin itu, tak jauh dari taman labirin terdapat bangunan menara pengawas yang tinggi.

Masyarakat tak hanya bersantai di bawah pohon saja ternyata, di atas menara pengawas juga terdapat beberapa remaja yang tengah asyik duduk-duduk. Hal itu janganlah ditiru karena berbahaya, lebih baik bersantai di bawah saja walaupun di atas sana bisa melihat sudut pandang yang lebih luas.

Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta UtaraAnak-anak bermain bola di Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Bagi pengunjung yang haus atau lapar, jangan khawatir di pinggiran hutan kota ini juga terdapat warung-warung kecil yang menjual berbagai minuman dan makanan. Jadi tempat ini begitu komplet, secara fasilitasnya pun terdapat toilet dan juga mushola di dekat pintu masuk hutan kota.

Dan yang paling membuat semakin ingin berlama-lama di Hutan Kota Penjaringan yakni adanya Wifi gratis. Walaupun jangkauan sinyalnya hanya 50 meter dari titik pusat tapi cukup berguna untuk berselancar di media sosial.

Hutan Kota Penjaringan ini buka setiap hari dari sejak pukul 05.00 hingga 19.00 WIB. Dan letaknya di Jalan Kepanduan II, Penjaringan, Jakarta Utara, tentunya untuk masuk ke hutan kota ini kamu sama sekali nggak perlu ngeluarin uang alias gratis.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com