Tag Archives: muhammad saw

3 Doa Nabi Muhammad Ketika Mengalami Kesulitan


Jakarta

Nabi Muhammad SAW adalah teladan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menghadapi kesulitan dan ujian. Ketika Rasulullah SAW mengalami tantangan berat, beliau senantiasa bersandar kepada Allah SWT melalui doa.

Doa menjadi salah satu cara untuk memohon pertolongan, kekuatan, dan ketenangan hati. Berikut beberapa doa yang dilafalkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi kesulitan.

Doa Rasulullah SAW Ketika Mengalami Kesulitan

Doa ini diajarkan Rasulullah SAW untuk menguatkan hati dan memohon pertolongan Allah SWT dalam situasi yang sulit. Doa ini disebut sebagai doa qurb.


Menukil buku Syamsuddin Noor yang berjudul Dahsyatnya Doa Para Nabi, berikut bacaan doa qurb lengkap dengan arab, latin dan terjemahannya.

**لَا إِلَهَ إِلََا اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاْ إِلَهَ إِلََا اللهُ رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيْمِ، لاْ إِلَهَ إِلََا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ العَرْشِ الْكَرِيْمِ**

Bacaan latin: Laa ilaaha illallahul ‘adzhiimul haliim, laa ilaaha illallaahu rabbil ‘arsyil ‘adzhiim, laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim.

Artinya: “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai Arsy yang agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Tuhan Arsy yang mulia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa Nabi Muhammad SAW saat Menghadapi Masalah Hidup

Selain doa qurb, ada banyak lagi doa-doa indah yang bisa kita panjatkan saat menghadapi kesulitan. Salah satunya adalah doa sapu jagat yang sangat populer.

Dalam buku Al-Adzkar karya Imam Nawawi, kita juga menemukan doa-doa lainnya yang bisa menenangkan hati dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

Tak hanya doa qurb, masih ada sejumlah doa yang bisa dilafalkan ketika seseorang mengalami masalah hidup dan kesulitan. Berikut bacaannya yang dikutip dari Al-Adzkar: Buku Induk Doa dan Zikir karya Imam Nawawi.

1. Doa Sapu Jagat

رَبّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَة وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Arab latin: Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah. Wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (Riwayat dari Anas bin Malik, HR Bukhari & Muslim).

2. Doa Menghadapi Kesulitan

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الكَرِيمُ العَظِيمُ، سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Arab latin: Laa ilaaha illallaahul kariimul ‘adzhiim, subhaanahu tabaarakallaahu rabbul ‘arsyil ‘adzhiim, Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, Maha Suci Dia, maha Berkah Allah, Rabb Arasy yang Agung, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,” (Riwayat dari Ali bin Abi Thalib, HR Nasa’i & Ibnu Sinni).

3. Doa ketika Diterpa Permasalahan

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Arab latin: Yaa hayu yaa qayyuumu birahmatika astaghiits

Artinya: “Wahai Yang Hidup Abadi, wahai yang mengurus makhluk-Nya secara terus menerus, aku memohon pertolongan dengan rahmat-Mu,” (Riwayat dari Anas bin Malik, HR Tirmidzi).

(hnh/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa setelah Sholat Taubat Beserta Dzikirnya: Arab, Latin, dan Terjemahan


Jakarta

Memanjatkan doa setelah sholat Taubat merupakan bagian penting yang melengkapi kesempurnaan proses pertobatan. Hal ini dianjurkan sebagai permohonan ampun dari segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.

Untuk mengamalkannya, simak bacaan doa dan dzikir setelah sholat Taubat di artikel berikut ini, beserta penjelasan mengenai perintah bertaubat dalam Islam.

Perintah Bertaubat dari Perbuatan Dosa

Semua manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Maka wajib hukumnya untuk bertaubat atas dosa yang telah dilakukan, menyesalinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Mengutip Ensiklopedia Shalat Taubat oleh Rafi’udin, S.Ag., Allah Ta’ala melalui Nabi Muhammad SAW menyeru kaum musyrikin untuk memohon ampun atas dosa yang telah diperbuat, kembali kepada Allah dan melakukan segala perintahnya, serta berjanji tidak akan mengulangi dosa lagi.

Perintah taubat ini sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 3:

وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّيُؤْتِ كُلَّ ذِيْ فَضْلٍ فَضْلَهٗۗ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيْرٍ ۝٣

Artinya: Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kesenangan yang baik kepadamu (di dunia) sampai waktu yang telah ditentukan (kematian) dan memberikan pahala-Nya (di akhirat) kepada setiap orang yang beramal saleh. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu (akan) ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).

Shalat taubat merupakan salah satu amalan utama dalam proses bertaubat. Sama dengan sholat sunnah lainnya, sholat taubat dikerjakan sebanyak dua rakaat. Setiap muslim setidaknya pernah melakukan sholat taubat sekali seumur hidupnya.

Doa setelah Sholat Taubat

Dianjurkan untuk membaca serangkaian doa dan dzikir setelah melakukan sholat Taubat. Mengutip buku Panduan Salat Sunah Syukril Wudhu, Taubat, Hajat & Dhuha Karya Ibnu Watiniyah, setelah sholat Taubat, hendaknya membaca doa sebagai berikut:

اسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمُ الَّذِي لا إله إلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأتُوبُ إِلَيْهِ تَوْبَةً عَبْدٍ ظَالِم لا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مونا وَلاحَيَا وَلاحَيَاةَ وَلَا نُشُورًا

Astaghfirullaahal azhiim, alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuuniu wa atuubu ilaih taubata ‘abdin zhaalimin laa yamliku linafsihii dharraw wa laa naf aw wa laa mawtaw wa laa hayaataw wa laa nusyuuraa.

Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Hidup dan terus Terjaga. Aku bertaubat kepada-Nya, taubatnya seorang hamba yang banyak berbuat dosa, yang tidak mempunyai daya upaya untuk berbuat mudharat atau manfaat, untuk mati, atau hidup, atau bangkit nanti.”

Kemudian dilanjutkan dengan doa berikut:

اِلٰهِىْ عَبْدُكَ الْاٰ بِقُ رَجَعَ اِلٰى بَابِكَ. عَبْدُكَ الْعَاصِىْ رَجَعَ اِلَى الصُّلْحِ. عَبْدُكَ الْمُذْنِبِ اَتَاكَ بِالْعُذْرِفَاعْفُ عَنِّىْ بِجُوْدِكَ وَتَقَبَّلْ مِنِّىْ بِفَضْلِكَ وَانْظُرْاِلَىَّ بِرَحْمَتِكَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ مَاسَلَفَ مِنَ الذُّنُوْبِ وَاعْصِمْنِىْ فِيْمَابَقِىَ مِنَ الْاَ جَلِ فَاِنَّ الْخَيْرَكُلَّهُ بِيَدِكَ وَاَنْتَ بِنَارَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Ilaahii ‘abdukal aabiqu raja’a ilaa baabika, ‘abdukal ‘aashii raja’a ilash-shulhi ‘abdukal mudznibu ataaka bil’udzri fa’fu ‘anniii bijuudika wataqabbal minnii bifadhlika wandzhur ilayya birahmatika. Allaahummagh firlii maa salafa minadz-dzunuubi wa’shimnii fiimaa baqiya minal ajali fainnal khaira kullaahu biyadika wa anta binaa ra-uufurrahiimun.

Artinya: “Tuhanku, Hamba-Mu yang melarikan diri telah kembali ke pintu-Mu. Hamba-Mu yang telah berbuat maksiat telah kembali kepada perbaikan. Hamba-Mu yang berdosa telah datang kepada-Mu memohon maaf. Oleh karena itu maafkanlah aku dengan kemurahan-Mu, terimalah permohonanku dengan keutamaan-Mu, dan pandanglah aku dengan rahmat-Mu.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lampau, dan peliharalah sisa-sisa umurku, karena sesungguhnya semua kebaikan ada dalam kekuasaan-Mu dan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang terhadap kami.”

Setelah membaca doa sholat taubat, dianjurkan untuk memperbanyak Sayyidul Istighfar, sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَاإِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَاصَنَعْتُ أَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtnii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wawa’dika mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii, faghfirlii fa innahu laa yagfirudzdzunuuba illa anta

Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku pun dalam ketentuan serta janji-Mu yg sedapat mungkin aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yg telah aku lakukan, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab tiada yg dapat memberi ampunan kecuali Engkau sendiri. Aku memohon perlindungan Engkau dari segala kejahatan yg telah aku lakukan.”

Setelah membaca doa-doa di atas, amalkanlah juga dzikir setelah sholat taubat. Dirangkum dari buku Hidup Tanpa Masalah karya H.M. Amrin Ra’uf, berikut bacaan dzikir yang dimaksud:

1. Istighfar 1000 Kali

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمِ

Astaghfirullaahal ‘azhiim.

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

2. Ya Tawwaab 440 Kali

يا تَوَّابُ

Yaa Tawwab.

Artinya: “Wahai Dzat Yang Menerima Taubat.”

3. Yaa ‘Afuwwu 187 Kali

يَا عَفُوٌّ

Yaa ‘Afuwwu.

Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Pemaaf.”

4. Ya Haadi 251 Kali

يَا هَادِى

Ya Haadi.

Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Pemberi.”

5. Yaa Bashiir 333 Kali

يَا بَصَيْرُ

Yaa Bashiir.

Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Melihat.”

Demikianlah bacaan doa dan dzikir setelah sholat taubat. Semoga bermanfaat.

(hnh/inf)



Sumber : www.detik.com

Sosok Sahabat Nabi yang Paling Kuat, Dulunya Preman Quraisy



Jakarta

Sosok sahabat Nabi SAW paling kuat adalah Umar bin Khattab. Ia adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Melansir buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Sujai Fadil, Umar bin Khattab dijuluki Al-Faruq oleh Rasulullah SAW karena bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Biografi Singkat Umar bin Khattab

Umar bin Khattab lahir di Makkah, Jazirah Arab pada 583 M. Ia wafat pada 25 Zulhijah atau 23 Hijriyah, tepatnya pada 3 November 644 M.


Letak makam Umar bin Khattab tepat di sebelah kiri makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah. Umar bin Khattab memiliki gelar selain Al-Faruq yaitu Amirul Mukminin yang artinya pemimpin orang-orang yang beriman.

Masih dalam buku yang sama, juga menjelaskan mengenai profil dari Umar bin Khattab. Ia berasal dari bani Adi yang masih satu rumpun dari suku Quraisy dengan nama lengkap Umar bin al-Khattab bin Abdul Uzza.

Keluarga Umar bin Khattab termasuk dalam keluarga kelas menengah. Ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang sangat jarang sekali terjadi. Bukan hanya itu saja, Umar bin Khattab juga dikenal memiliki fisik yang kuat bahkan ia juga menjadi juara gulat di Makkah.

Umar bin Khattab tumbuh menjadi pemuda yang sangat disegani dan ditakuti pada masa itu. Ia memiliki watak yang keras hingga dijuluki sebagai “Singa Padang Pasir”. Ia termasuk pemuda yang amat keras dalam membela agama tradisional Arab yang saat itu masih menyembah berhala serta menjaga adat istiadat mereka.

Kebiasaan Umar bin Khattab sebelum Masuk Islam

Merangkum buku Akidah Akhlak karya Harjan Syuhada dan buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Sujai Fadil dikisahkan bahwa sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab dikenal sangat gigih dalam membela agama nenek moyangnya.

Bahkan, ia dikenal sebagai peminum berat namun setelah menjadi muslim ia tidak lagi menyentuh alkohol (khamr) sama sekali, meskipun saat itu belum diturunkan larangan meminum khamr secara tegas. Umar bin Khattab dulu juga tidak membiarkan siapapun mengusik agama nenek moyangnya. Itulah mengapa ketika Rasulullah SAW mulai mendakwahkan Islam Umar bin Khattab menjadi salah satu yang sangat memusuhi Rasulullah SAW.

Dalam buku Umar bin Khathab RA karya Abdul Syukur al-Azizi turut dikatakan bahwa Umar bin Khattab dikenal sebagai jawara kota Makkah alias preman di kota itu. Pada masa mudanya, ia senang berkelahi dan menantang siapa pun yang berbeda pendapat dengannya.

Ia memiliki sifat temperamen, keras, arogan, dan mudah emosi. Ia juga dikenal sebagai pegulat yang biasa bertanding pada pekan tahunan Ukaz dan menyabet predikat jawara.

Kisah Umar bin Khattab Memeluk Islam

Pada waktu awal dakwah Islam di Makkah, bersama dengan Abdul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), Umar bin Khattab merupakan tokoh Quraisy yang sangat ditakuti oleh kaum Muslimin. Hingga pada puncak kebenciannya terhadap Rasulullah SAW ia mencoba untuk membuhun Nabi Muhammad SAW.

Namun, sebelum melaksanakan niatnya, dalam perjalanan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah dan memberikan kabar bahwa saudara perempuan Umar bin Khattab telah memeluk Islam.

Karena kabar tersebut, Umar bin Khattab menjadi terkejut dan kembali ke rumah. Dalam riwayatnya, Umar bin Khattab menjumpai saudarinya yang kebetulan sedang membaca Al-Qur’an surah At-Thaha ayat 1-8. Hal ini membuatnya semakin marah dan memukul saudarinya.

Hingga ia merasa iba saat melihat saudarinya berdarah, ia kemudian meminta agar ia melihat bacaan tersebut. Hingga ia menjadi sangat terguncang saat melihat isi Al-Qur’an dan beberapa waktu setelah kejadian itu Umar bin Khattab akhirnya menyatakan masuk Islam dan membuat semua orang terkejut.

Hingga pada akhirnya, Umar bin Khattab masuk Islam setelah Nabi Muhammad SAW menjadi rasul selama enam tahun. Ia pun menjadi Khalifah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Selama di bawah pemerintahan Umar bin Khattab kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat.

Islam mengambil alih Mesopotamia dan Persia dari tangan Dinasti Sassanid, serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari Kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adidaya, yaitu Persia dan Romawi, namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam di bawah pimpinan Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab juga melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat mengenai kebijakan publik termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Kisah Nu’aiman, Sahabat Nabi yang Suka Menjahili Rasulullah SAW



Jakarta

Nu’aiman adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal suka bercanda. Meski demikian, Nu’aiman pernah ikut serta menjadi bagian pasukan Islam dalam Perang Badar yang dipimpin Rasulullah SAW.

Dikutip melalui buku Saring Sebelum Sharing karya Nadirsyah Hosen, salah satu kisah Nu’aiman yang menarik untuk diceritakan yakni saat ia mengerjai Rasulullah SAW. Nu’aiman bin Ibnu Amr bin Raf’ah adalah nama lengkapnya. Nu’aiman diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ia akan memasuki surga dengan keadaan tertawa.

Saat Nu’aiman Mengerjai Rasulullah SAW

Kisah ini dimulai ketika Nu’aiman mendatangi Nabi Muhammad SAW dengan membawakan buah-buahan sebagai hadiah. Tak lama kemudian ternyata datanglah seorang penjual buah-buahan yang menagih uang pembayaran buah-buahan tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.


Rasulullah SAW yang terkaget sontak bertanya kepada Nu’aiman, “Bukankah engkau memberikan buah-buah ini sebagai hadiah kepadaku?”

Tanpa disangka ternyata Nu’aiman berhutang terlebih dahulu kepada penjual buah-buahan tersebut. Ia ternyata berkata kepada penjual tersebut bahwa buah-buahan itu sudah dibebankan tagihan atas nama Rasulullah SAW.

Nu’aiman menjawab pertanyaan Rasulullah SAW tadi, “Benar, ya Rasulullah, aku sungguh ingin memakan buah-buahan ini bersamamu, akan tetapi aku sedang tidak memiliki uang.”

Respons suri tauladan umat Islam ini tertawa, lalu ia membayar harga buah yang ditagihkan kepadanya itu.

Saat Nuaiman ‘Menjual’ Sahabatnya

Kisah selanjutnya yang juga masih diceritakan dari buku yang sama, dipastikan sumbernya melalui Ibnu Majah. Pada suatu hari Nu’aiman pernah diajak untuk berjualan bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq juga dengan sahabat lainnya ke Negeri Syam. Negeri Syam dapat dikatakan menjadi salah satu negeri paling maju saat itu.

Salah satu dari sahabat itu namanya adalah Suwaibith bin Harmalah. Dikisahkan ketika hari beranjak siang, Nu’aiman yang sedang merasa kelaparan menghampiri Suwaibith yang saat itu ditugaskan untuk menjaga makanan.

Suwaibith yang bersikap patuh serta amanah kemudian menolak dengan tegas saat Nu’aiman hendak meminta satu potong roti untuknya. Hingga Nu’aiman berkata, “Kalau memang begitu, artinya kamu setuju saya buat ulah yang membuatmu marah!”

Ulah yang dimaksudkan oleh Nu’aiman adalah ketika ia bertemu dengan sekelompok kafilah, ia bertanya kepada mereka, “Apakah kalian hendak membeli budak? Saya memiliki budak yang tangkas dan pandai bicara,” ujarnya.

Kafilah yang tertarik dengan budak yang ditawarkan Nu’aiman itu kemudian membayarnya dengan sepuluh ekor unta. Dengan cerdik seakan membaca masa depan Nu’aiman berkata, “Budak itu nantinya akan berkata, ‘Saya adalah orang merdeka dan bukan budak!’ Apabila demikian, jangan hiraukan perkataannya,”

Setelah beberapa saat para kafilah itu datang ke tempat Suwaibith berada dan berkata “Kami telah membelimu!” Suwaibith pun menjawab “Dia (Nuaiman) itu pembohong, saya adalah seorang lelaki merdeka!”

Lalu, para kafilah itu menjawab, “Dia telah mengatakan kepada kami bahwa engkau akan berkata yang sedemekian itu.” Mereka pun menghiraukan perkataan Suwaibith kemudian mengikatkan tali di lehernya dan langsung pergi.

Ketika beberapa waktu, Abu Bakar yang datang Negeri Syam kemudian diberi tahu akan kejadian tersebut. Ia dan para sahabat pun akhirnya bergegas pergi untuk menemui kafilah untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya.

Setelah berunding, kafilah pun sepakat untuk mengembalikan Suwaibith dan dikembalikan juga sepuluh ekor unta yang dibayarkan mereka untuk ‘budak’ Suwaibith.

Setelah beberapa lama, Rasulullah SAW pun juga mendengarkan mengenai kisah ini. Ketika kisah ini diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau merespons dengan tertawa karena kelucuan atas aksi jahil Nuaiman tersebut.un

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Kisah Abu Lubabah, Sahabat Nabi yang Berkhianat dan Menghukum Dirinya Sendiri



Jakarta

Abu Lubabah adalah salah satu sahabat Nabi sekaligus pahlawan muslim yang telah menegakkan agama Islam.

Disebutkan dalam buku Tokoh-Tokoh yang Diabadikan Al-Qur’an karya ‘Abd al-Rahman Umairah, Abu Lubabah dilahirkan di Kota Yatsrib (Madinah) dan termasuk orang pertama yang masuk Islam. Ia menjadi Islam saat beberapa orang Anshar berjumpa dengan Mush’ab bin Umair di Yatsrib lalu mereka percaya kepada Rasulullah SAW.

Tatkala terjadi Perang Badar, Abu Lubabah diamanatkan Rasulullah SAW untuk mewakilinya sebagai pemimpin di Madinah untuk memelihara keamanan, keselamatan penduduk, menjaga perkebunan, hingga daerah perbatasannya.


Abu Lubabah mematuhi perintah dan arahan Rasulullah SAW serta ikut membantu mempersiapkan bekal yang dibutuhkan oleh pasukan perang dengan menggalakkan pembuatan senjata perang bagi kaum muslimin.

Jika melihat kisah tersebut, terlihat bahwa Abu Lubabah adalah seorang mukmin yang jujur serta pejuang yang ikhlas kepada Nabi dan Rabbnya. Namun dalam kisah hidupnya, Abu Lubabah pernah berkhianat kepada Rasulullah SAW kemudian menghukum dirinya sendiri.

Kisah Abu Lubabah yang Berkhianat

Ketika terjadi penyerbuan Rasulullah SAW ke perbentengan Yahudi Bani Quraizhah, Abu Lubabah ikut bersama beliau, sementara pimpinan pemerintahan di Madinah diserahkan pada Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah SAW bersama para sahabat mengepung benteng Bani Quraizhah selama 25 malam sehingga mereka hidup dalam kekurangan dan ketakutan.

Namun, Bani Quraizhah tetap tidak mau meninggalkan hukum Taurat dan meminta Abu Lubabah dikirimkan kepada mereka untuk dimintai pendapatnya sebab mereka adalah sekutu golongan al-Aus seperti istri Abu Lubabah.

Rizem Aizid dalam bukunya Terbang Menjemput Rahmat dengan Sayap Taubat, menceritakan ketika Abu Lubabah diantar oleh Rasulullah SAW untuk berunding dengan Bani Quraizhah.

Perundingan tersebut dilakukan sebab Bani Quraizhah telah mengkhianati perjanjian sebelumnya dan membuat kesepakatan jahat untuk mencelakai umat Islam. Maka dari itu, Rasulullah SAW memerintahkan Abu Lubabah untuk mendatangi Bani Quraizhah sebagai wakil beliau untuk berunding.

Pada saat Abu Lubabah tiba, semua laki-laki yang berada di sana segera bangun dan berdiri, sedangkan para perempuan dan anak-anak datang kepadanya dalam keadaan sedih sembari menangis.

Melihat situasi itu, Abu Lubabah menjadi lembut hatinya. Lalu, mereka bertanya kepada Abu Lubabah, “Wahai Abu Lubabah, apakah sekiranya kami patut mengikuti hukum Nabi Muhammad SAW?”

Akan tetapi, Abu Lubabah tidak menjawab ataupun berkata-kata. Ia hanya merentangkan tangannya ke tengkuk yang mengisyaratkan bahwa mereka akan dibunuh. Hal tersebut menjadi peristiwa di mana Abu Lubabah telah berkhianat dan mendurhakai Rasulullah SAW sebab tidak melakukan perundingan sebagaimana perintah beliau.

Abu Lubabah Menghukum Diri Sendiri di Tiang Masjid

Sebelum Abu Lubabah memulai perkataannya kepada Bani Quraizhah, ia merasa sangat bersalah karena telah menghianati Allah SWT dan rasul-Nya. Setelah itu, ia segera meninggalkan tempat tersebut dan mengikat dirinya di salah satu tiang masjid.

Saat mengikat diri, Abu Lubabah turut berkata bahwa ia tidak akan meninggalkan tempat itu hingga ampunan Allah SWT datang kepadanya. Ia juga berjanji untuk tidak berpijak di tempat Bani Quraizhah yang menjadi tempat dirinya berkhianat kepada Rasulullah SAW.

Masih dalam sumber yang sama, disebutkan dari sumber lain bahwa Abu Lubabah berdiam diri di bawah terik matahari tanpa makan dan minum selama satu hari penuh. Lantas, ia berkata, “Aku akan terus begini hingga meninggal dunia atau Allah SWT mengampuniku.” Sementara itu, Rasulullah SAW terus memperhatikannya siang dan malam.

Atas peristiwa tersebut, Allah SWT kemudian menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW berupa teguran atas perbuatan Abu Lubabah yang mengikat dirinya selama enam hari di masjid. Wahyu tersebut termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 27, sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 27).

Setelah turunnya teguran dari Allah SWT, datang kembali wahyu yang menyatakan bahwa taubat Abu Lubabah telah diterima sehingga Rasulullah SAW melepaskan tali yang mengikat tubuh Abu Lubabah. Wahyu tersebut adalah surat At-Taubah ayat 102, Allah SWT berfirman:

وَءَاخَرُونَ ٱعْتَرَفُوا۟ بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا۟ عَمَلًا صَٰلِحًا وَءَاخَرَ سَيِّئًا عَسَى ٱللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS At-Taubah: 102).

Demikianlah kisah pertaubatan sahabat Nabi Abu Lubabah yang berkhianat dan menghukum diri sendiri setelah memberi tanggapan buruk kepada orang-orang Bani Quraizhah hingga Allah SWT mengampuni dosanya.

Semoga umat muslim dapat memetik hikmah dari kisah ini untuk menyegerakan diri dalam bertaubat kepada Allah SWT setelah melakukan kesalahan dan maksiat.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Tentang Paman Nabi Muhammad yang Menentang Dakwah Islam



Jakarta

Paman Nabi Muhammad SAW yang menentang dakwah beliau adalah Abu Lahab. Perihal keterangan ini banyak dikisahkan dan diterangkan dalam Al-Qur’an.

Berikut adalah kisah Abu Lahab yang dikutip melalui Buku Senangnya Belajar Agama Islam untuk SD Kelas 6 tulisan Hj. Hindun Anwar.

Kisah Paman Nabi Muhammad yang Menentang Dakwahnya

Abu Lahab merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Meskipun demikian, Abu Lahab selalu menentang dakwah yang dilakukan oleh keponakannya itu. Abu Lahab kuat bersama istrinya menentang Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah.


Salah satu peristiwa konfrontasi Abu Lahab adalah ketika Nabi Muhammad SAW mengundang kaum kerabat serta kaum Quraisy. Maksud dan tujuan Rasulullah SAW adalah untuk berdakwah secara perlahan dan halus agar Islam dapat diterima.

Setelahnya, Abu Lahab yang ikut turut hadir sontak menentang Nabi Muhammad SAW sembari memaki, “Celakalah engkau sebenar-benarnya! Hanya untuk inikah kamu mengundang kami kemari?”

Abu Lahab bersama istrinya pada saat itu juga menolak dengan keras ajaran Islam. Hal ini terabadikan dalam firman Allah SWT pada Al-Qur’an surah Al Lahab ayat 1 sampai 5.

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ١

مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ٢

سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ٣

وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ٤

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ٥

Artinya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dengan benar-benar binasa dia! Tiada satu hal yang berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Pasti besok dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (berlaku juga bagi) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya terdapat tali dari sabut yang dipintal.

Dilansir melalui Tafsir Tahlili dari Quran Kemenag, ayat ini menerangkan tentang ganjaran bagi Abu Lahab dan istrinya atas perbuatan buruk mereka. Ayat pertama menjelaskan kerugian yang diterima Abu Lahab baik di dunia maupun di akhirat sebagai penghuni neraka.

“Abū Lahab akan diazab pada hari Kiamat dengan neraka yang menyemburkan bunga api dan suhunya yang sangat panas, Azab itu disediakan Allah untuk orang-orang seperti Abū Lahab dari kalangan orang-orang kafir yang menentang Nabi, selain azab di dunia dengan kegagalan usahanya,” demikian penjelasan dari Tafsir Tahlili tersebut.

Surah ini juga menjelaskan betapa Abu Lahab membenci Rasulullah SAW dan paling gigih mengajak orang menentangnya. Dikisahkan dalam salah satu riwayat hadits yang dikisahkan dari Rabā’ah bin ‘Ubbād RA. Ia berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فِى سُوْقِ ذِي الْمَجَازِ وَهُوَ يَقُوْلُ: قُوْلُوْا لَا إِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ تُفْلِحُوْا، وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُوْنَ عَلَيْهِ، وَرَاءَهُ رَجُلٌ وَضِيْءُ الْوَجْهِ اَحْوَلُ الْعَيْنَيْنِ ذُوْ غَدِيْرَتَيْنِ يَقُوْلُ إِنَّهُ صَابِئٌ كَاذِبٌ، يَتْبَعَهُ حَيْثُ ذَهَبَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوْا: هٰذَا عَمُّهُ أَبُوْ لَهَبٍ. (رواه أحمد)

Artinya: Saya melihat Nabi Muhammad saw pada masa Jahiliah di pasar Żū al-Majāz bersabda, “Ucapkanlah tiada Tuhan melainkan Allah niscaya kamu akan berbahagia!” Orang-orang berkumpul di sekitar beliau. Di belakang beliau seorang laki-laki, putih warna mukanya, juling matanya, mempunyai dua untaian rambut di kepalanya, berkata, “Dia (Muhammad) beragama Ṣābi’ dan pembohong.” Ia mengikuti Nabi ke mana saja beliau pergi, lalu saya bertanya, “Siapakah orang itu?” Mereka menjawab, “Itu adalah pamannya sendiri Abū Lahab.” (HR Aḥmad)

Selain Abu Lahab, surah ini juga menunjukkan keburukan perbuatan istri Abu Lahab, kerendahan budi pekerti serta kejelekan amal perbuatannya. Pada lehernya akan selalu ada seutas tali yang kuat, digunakannya untuk memikul duri-duri yang akan diletakkannya pada jalan yang dilalui Nabi Muhammad SAW.

Usaha yang dilakukan oleh istri Abu Lahab begitu keras untuk menyalakan permusuhan antara manusia, sehingga Allah SWT mengisahkan dia sebagai seorang perempuan yang membawa kayu bakar yang digantungkan pada lehernya ke mana saja ia pergi. Ini adalah gambaran seburuk-buruknya bagi seorang perempuan.

Begitulah pembahasan kali ini mengenai paman Nabi Muhammad yang menentang dakwah beliau. Semoga tulisan ini dapat membantu kita untuk belajar dari kisah Abu Lahab dan mendapatkan perlindungan serta arahan dari Allah SWT selalu agar tidak tersesat. Aamiin yaa Rabbalalamiin.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Saat 700 Muslim Lawan 3.000 Quraisy di Perang Uhud



Jakarta

Jumlah pasukan kaum muslimin ketika terjadi perang Uhud adalah 700 orang yang melawan tiga ribu orang pasukan Quraisy. Mulanya, dikutip dari buku Sang Panglima Tak Terkalahkan Khalid Bin Walid karangan Hanatul Ula Maulidya, jumlah pasukan muslim ada seribu orang yang keluar dari kota Madinah menuju medan perang.

Berkurangnya jumlah pasukan kaum Muslimin ini terjadi karena salah satu pemimpin Bani terbesar dari kaum Quraisy, Abdullah bin Ubay, membelot dan berhasil membawa kurang lebih 300 orang pasukan muslimin. Mereka gentar mengetahui jumlah musuh yang besar.

Meskipun sempat dihinggapi perpecahan, namun 700 orang pasukan muslim akhirnya tegap berangkat untuk menghadapi perang Uhud.


Terjadinya Perang Uhud

Perang Uhud menjadi tonggak sejarah dan mengandung banyak pelajaran berharga bagi umat Islam pada masa itu hingga masa kini. Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke-3 Hijriah.

Perang ini terjadi karena keinginan balas dendam kaum Quraisy yang menerima kekalahan pada perang sebelumnya yaitu perang Badar. Hal ini lantaran ketika perang Badar, kaum muslimin berhasil membunuh banyak pemimpin kaum Quraisy.

Meskipun dengan ketimpangan jumlah pasukan yang luar biasa, pasukan muslim pimpinan Nabi Muhammad SAW terlihat unggul ketika peperangan berlangsung. Pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan terlihat mulai kewalahan ketika menghadapi pasukan muslim.

Menurut buku Islam at War karya George F. Nafziger, keunggulan pasukan muslim dikarenakan strategi Rasulullah SAW yang menempatkan 150 pasukan pemanah di atas bukit untuk melindungi pasukan yang berada di bawah bukit. Rasulullah AW menginstruksikan kepada pasukan pemanah dalam perang Uhud ini untuk tidak berpindah dari posisi mereka dan selalu waspada, apapun yang terjadi.

Praktis, ketika melihat pasukan Quraisy yang kewalahan dan mulai banyak korban, pasukan pemanah kaum muslim berbondong-bondong untuk turun dan berebut tidak ingin kehabisan harta rampasan perang. Meskipun sempat diinstruksikan berulang kali oleh Rasulullah SAW untuk kembali ke posisinya, imbauan ini tidak dihiraukan.

Oleh karena itu, korban dari kaum muslim banyak berjatuhan karena kaum Quraisy yang tadinya sudah mundur kemudian kembali lagi karena aman dari ancaman pemanah. Korban yang tercatat dalam perang Uhud adalah yang terbanyak selama Nabi Muhammad SAW masih hidup, yaitu berjumlah 72 orang.

Bahkan, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai Singa Allah, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib ikut gugur. Ia dibunuh oleh Wahsyi bin Harb, seorang budak Quraisy asal Ethiopia yang dalam lanjutan kisah hidupnya kemudian masuk Islam.

Melalui buku yang sama, dijelaskan bahwa Khalid bin Walid yang memimpin pasukan Quraisy untuk menyergap kelengahan kaum muslim yang teralihkan dengan harta rampasan perang. Khalid bin Walid dengan cepat dan seksama menginstruksikan untuk pasukan Quraisy menyerang dari arah belakang pasukan muslim.

Strategi cepat ini membuat pasukan muslim kalah dalam perang Uhud. Namun, ini adalah momen yang diperhatikan Nabi Muhammad SAW dengan saksama karena strategi dan pengambilan keputusan cepat yang dilakukan oleh Khalid bin Walid.

Singkat cerita Khalid bin Walid kemudian menjadi tangan kanan Rasulullah SAW setelah masuk Islam. Kemudian ia dikenal sebagai panglima paling berhasil dan menjadi andalan bagi Rasulullah SAW.

Itulah ringkasan mengenai perang Uhud yang mengisahkan bagaimana 700 orang pasukan muslim harus menghadapi kaum Quraisy yang berjumlah lebih dari empat kali mereka. Dengan memahami kisah ini, sebagai umat Islam kita bisa meniru semangat dan perjuangan yang tanpa putus ketika bersandar kepada Allah SWT.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Sahabat Nabi yang Diberi Julukan ‘Pintu Ilmu’, Siapakah Dia?



Jakarta

Sahabat yang disebut Nabi sebagai pintu ilmu adalah Ali bin Abi Thalib. Sebagai salah satu sahabat, Ali bin Abi Thalid dianugerahi gelar Babul ‘Ilm atau pintu ilmu pengetahuan karena kepribadian dan dedikasinya yang luar biasa di mata Rasulullah SAW.

Kisah yang terkait dengan Ali bin Abi Thalib sebagai pintu ilmu, disampaikan salah satunya melalui Buku Oase Spiritual 1 karya M. Syaiful Bakhri. Kisah tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

Kisah Ali bin Abi Thalib, Sang Pintu Ilmu

Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan, “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya.” Ketika orang-orang Khawarij (penentang Ali bin Abi Thalib) mendengar hadits ini, mereka menjadi tidak suka kepada Ali. Sepuluh orang pembesar Khawarij segera berkumpul.


Mereka semua kemudian berkata, “Kami hendak bertanya kepada Ali tentang satu masalah agar bisa meyakinkan kami, bagaimana kira-kira jawaban Ali. Apabila Ali dapat menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang berlainan, maka kami percaya bahwa Ali adalah seorang yang banyak pengetahuannya, sebagaimana ucapan Nabi Muhammad SAW.”

Kemudian datanglah satu demi satu dari mereka dan bertanya, “Ya Ali, manakah yang lebih utama apakah ilmu ataukah harta?” Ali lantas menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.” Kemudian orang itu bertanya lagi “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Ilmu adalah peninggalan para Nabi sedangkan harta adalah warisan Qarun, Syaddat, Fir’aun, dan lain- lainnya.”

Setelah mendengar jawaban tersebut, kemudian orang kedua Khawarij datang dan bertanya sebagaimana pertanyaan orang pertama, kemudian Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang itu bertanya lagi, “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Ilmu akan menjaga dirimu, sedangkan harta engkaulah yang harus menjaganya.”

Orang ketiga dari mereka kemudian datang mengajukan pertanyaan sebagaimana pertanyaan orang pertama dan kedua, lalu Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang yang datang ketiga itu menjawab balik, “Tunjukkan dasarnya.” Ali kemudian menjawab, “Kepada si pemilik harta akan mempunyai banyak musuh dan kepada orang yang memiliki banyak ilmu akan mempunyai banyak teman.’

Datanglah orang keempat yang kemudian dia bertanya ilmu ataukah harta yang lebih utama? Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Laki-laki itu minta ditunjukkan dasarnya. Ali menjawab, “Apabila kamu memberikan harta kepada orang lain maka sesungguhnya harta itu menjadi berkurang dan apabila kamu memberikan ilmu maka ilmu itu akan bertambah.”

Kemudian datang orang kelima, dia mengajukanpertanyaan sebagaimana pertanyaan teman-temannya. Ali menjawab bahwasanya ilmu lebih utama daripada harta. Dia juga meminta dasar yang menunjukkan pendapat tersebut. Ali lalu menunjukkan, “Orang yang mempunyai harta mendapat julukan bakhil (pelit) dan tercela, sedangkan orang yang berilmu mendapatkan sebutan terhormat dan mulia.”

Selanjutnya datang lagi orang keenam dan bertanya masih mengenai persoalan yang sama. Maka Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang itu bertanya “Tunjukkan dasarnya.” Ali menjawab, “Harta itu perlu dijaga dari para pencuri sedangkan ilmu tidak perlu dijaga dari pencuri.” Maka orang itu pun pergi dengan membawa jawaban.

Kemudian datang lagi orang ketujuh dan bertanya dengan soal yang sama, selanjutnya setelah terjawab mereka bertanya, “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Orang yang mempunyai harta akan dihisab kelak di hari kiamat, sedangkan ilmu akan memberikan pertolongan pada hari kiamat.”

Lalu datang lagi orang kedelapan dan bertanya, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali menjawab, “Harta akan menjadi musnah jika diendapkan terlalu lama, sedangkan ilmu tidak akan musnah dan tidak menjadi busuk.”

Berikutnya datang lagi orang urutan kesembilan sembari bertanya dengan pertanyaan yang sama, Ali tetap menjawab ilmu lebih utama. Orang itu bertanya, “Apa dasarnya?” Ali menjelaskan bahwa harta dapat mengeraskan hati sedangkan ilmu akan menerangi hati.

Kemudian datang orang terakhir atau kesepuluh, dia kemudian bertanya tentang perihal yang sama. Ali menjawab,”Ilmu lebih utama daripada harta.” Lalu dia juga melanjutkan pertanyaan, “Apa dasarnya?” Ali menjelaskan bahwa, “Orang yang memiliki harta mengagung-agungkan diri karena hartanya, sedangkan ilmu menjadikan manusia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Andaikan semua orang Khawarij bertanya kepadaku tentang pertanyaan di atas, maka akan aku jawab dengan masing-masing jawaban yang berlainan pula sepanjang hidupku, maka justru merekalah yang akan datang dan menjalankan Islam dengan benar.” Subhanallah.

Itulah kisah mengenai sahabat yang disebut Nabi sebagai pintu ilmu yaitu Ali bin Abi Thalib. Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan sekaligus bermanfaat bagi kita semua. Amiin yaa Rabbalalamiin.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Julaibib, Sahabat Nabi yang Dirindukan Bidadari Surga



Jakarta

Nabi Muhammad SAW memiliki seorang sahabat yang tak begitu terkenal namun ia dirindukan bidadari-bidadari surga. Ia bernama Julaibib.

Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam Kitab Mausu’ah min Akhlaq Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan, menurut riwayat Abu Barzah Al-Aslami, Julaibib adalah pria dari kalangan Anshar dan seorang dari sahabat nabi.

Julaibib termasuk sahabat nabi yang mulia. Diceritakan dalam buku Kisah-kisah Inspiratif Sahabat Nabi karya Muhammad Nasrulloh, pernah suatu ketika Rasulullah SAW menanyakan kepada Julaibib kenapa ia tidak menikah.


Julaibib mengatakan dirinya tidak yakin akan ada wanita yang mau menikah dengannya. Sebab, ia tahu bahwa dirinya bukanlah pria bernasab, tidak rupawan, dan tidak memiliki harta.

Kisah mengenai Julaibib sebagai sahabat yang dirindukan bidadari surga ini turut diceritakan dalam buku Tarbiyah Cinta Imam Al-Ghazali karya Yon Machmudi dkk.

Dikatakan, Julaibib merupakan nama yang tidak biasa di kalangan bangsa Arab, namanya juga tidak lengkap dan tidak bernasab. Julaibib terlahir tanpa tahu siapa kedua orang tuanya.

Semua orang pun tak tahu atau tak mau tahu tentang dia, tentang nasabnya, atau dari suku apa ia berasal.

Tampilan fisiknya membuat tak ada yang mau berdekat-dekatan dengannya. Wajahnya jelek, posturnya pendek dan bungkuk, kulitnya hitam, miskin, pakaiannya lusuh, dan kakinya pecah-pecah karena tak beralas.

Julaibib adalah orang yang tidak diharapkan. Namun, bila Allah SWT berkehendak menurunkan kasih sayang-Nya, tak ada yang kuasa menghalanginya.

Allah SWT memuliakan Julaibib dengan hidayah, yang semula hina di antara penduduk bumi menjadi mulia di antara penduduk langit.

Julaibib selalu berada di shaf terdepan dalam salat dan jihad. Meski kebanyakan orang tetap menganggapnya tiada, tapi tidak dengan Rasulullah SAW yang selalu menunjukkan perhatian dan cinta kepada umatnya.

Julaibib yang tinggal di selasar Masjid Nabawi suatu hari ditegur oleh Rasulullah SAW, “Julaibib, tidakkah engkau menikah?” lembut suara Nabi SAW memekarkan bunga jiwa Julaibib.

“Siapakah orangnya, ya Nabi, yang mau menikahkan anaknya dengan diriku ini?” Julaibib menjawab dengan senyuman. Tidak ada kesan ia menyesali dan menyalahkan takdir. Rasulullah juga tersenyum, dan ia kembali menanyakan hal yang sama kepada Julaibib hingga tiga hari berturut-turut.

Pada hari ketiga itulah Rasulullah SAW mengajak Julaibib ke rumah salah satu pemimpin Anshar. Betapa bahagianya tuan rumah menerima kunjungan kehormatan dari sang Nabi Allah SWT.

“Aku ingin menikahkan putri kalian,” kata Rasulullah SAW kepada pemilik rumah.

“Masya Allah, alangkah indah dan berkahnya. Duhai betapa kehadiranmu akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami”, si wali mengira bahwa Rasulullah akan meminang anak gadisnya.

“Bukan untukku,” aku pinang putrimu untuk Julaibib” kata Rasulullah SAW.

Ayah sang gadis tentu sangat terkejut mendengarnya, sedang istrinya berseru, “Dengan Julaibib? Bagaimana mungkin? Julaibib yang jelek dan hitam, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah, tidak! Tidak akan pernah anak kita menikah dengannya!”

Sementara itu, anak gadisnya yang mendengar percakapan mereka dari balik tirai angkat bicara. Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan segalanya.

Ia menerima pinangan dari Rasulullah SAW dan setuju untuk menikah dengan Julaibib. Cintanya kepada Allah SWT ditunjukkan dengan taat dan patuh kepada Rasul-Nya.

Namun, kebersamaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Julaibib harus gugur saat berperang dan Rasulullah SAW sangat kehilangan.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” kata Rasulullah SAW usai pertempuran.

“Tidak, ya Rasulullah,” serempak para sahabat menjawab.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” kata Rasulullah SAW bertanya lagi. Wajahnya mulai memerah.

“Tidak, ya Rasulullah,” Sebagian sahabat menjawab dengan ragu dan was-was, beberapa melihat sekeliling dan memastikan tidak kehilangan seseorang.

Terdengar helaan nafas yang berat, “Aku kehilangan Julaibib, carilah Julaibib!” kata beliau.

Para sahabat tersadar dengan sosok yang dicari Rasulullah SAW, akhirnya mereka menemukan Julaibib. Ia gugur penuh luka, di sekitarnya terdapat tujuh musuh yang telah ia bunuh. Rasulullah SAW dengan tangannya sendiri mengkafani Julaibib dan mensalatinya.

Julaibib telah lama dirindukan oleh para bidadari surga, meski di dunia ia memiliki istri yang salihah. Julaibib lebih diperhatikan oleh penduduk langit daripada penduduk bumi.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Kesedihan Nabi Muhammad SAW di Penghujung Ramadan



Jakarta

Hanya dalam hitungan hari, bulan suci Ramadan akan segera berakhir. Bersamaan dengan itu, tak sedikit umat Islam yang justru berbahagia karena akhir Ramadan artinya mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Padahal, Ramadan memiliki segudang keistimewaan. Setiap ibadah yang dikerjakan pada bulan tersebut akan diganjar pahala berkali-kali lipat yang mana kemuliaan ini tidak berlaku di bulan-bulan lainnya.

Mengutip dari buku Kumpulan Khutbah Jumat tulisan Abdul Latif Wabula S Sos I MPd, Rasulullah SAW dan para sahabat merasakan kesedihan yang mendalam tiap kali Ramadan akan berakhir.


Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda:

“Apabila tiba akhir malam dari bulan Ramadan, menangislah langit, Bumi dan malaikat karena musibah yang menimpa umat Muhammad SAW,”

Kemudian sahabat bertanya, “Musibah apakah wahai Rasulullah?”

Nabi SAW menjawab: “Berpisah dengan bulan Ramadan, sebab pada bulan Ramadan doa dikabulkan dan sedekah diterima.” (Diriwayatkan Jabir)

Orang-orang saleh terdahulu bahkan sampai menangis dan bersedih pada penghujung Ramadan. Mereka menyadari bulan yang penuh kemuliaann itu akan segera berakhir.

Dijelaskan dalam buku Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun karya Muhammad Khatib SPd I, alasan bersedihnya mereka ketika Ramadan pergi ialah berakhir pula semua keutamaannya. Padahal, Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.

Hanya di bulan Ramadan pula, setan-setan dibelenggu hingga ibadah terasa ringan dan kaum muslimin berada di puncak kebaikan. Keutamaan-keutamaan itu tidak dapat dijumpai lagi di bulan lainnya.

Amalan yang Dianjurkan pada Akhir Ramadan

Syekh Zainuddin Al-Malibari melalui kitab Fathul Mu’in menerangkan sejumlah amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari terakhir Ramadan, antara lain sebagai berikut:

1. Memperbanyak Sedekah

Yang pertama adalah memperbanyak sedekah. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencukupi kebutuhan keluarga, berbuat baik kepada kerabat serta tetangga. Jika seseorang mampu, hendaknya ia menyediakan buka puasa bagi orang yang berpuasa meski hanya segelas air.

2. Membaca Al-Qur’an

Amalan lainnya ialah memperbanyak baca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an di akhir malam lebih utama daripada awal malam, ini sesuai dengan penjelasan Imam An-Nawawi. Sebab, membaca Al-Qur’an di malam hari lebih fokus ketimbang siang hari.

3. Itikaf

Selanjutnya memperbanyak itikaf. Amalan ini sesuai dengan apa yang dikerjakan Rasulullah untuk meningkatkan ibadahnya, beliau beritikaf di masjid pada sepuluh akhir Ramadan.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com