Tag: nft

  • Ini Dia Program Senpai Anime Sebuah Kolaborasi NFT dan Anime

    Pengadopsian NFT telah memasuki hampir seluruh sektor. Setelah berhasil booming pada teknologi dan seni, kini kabar pengadopsian NFT pada ranah pop culture pun juga mencuat. Sebut saja JYP dan SM Entertainment, sebagai sedikit bagian dari yang telah bergabung dan merilis NFT KPop-nya. Di sisi lain, anime sebagai salah satu pop culture dari Jepang yang banyak peminatnya ini pun turut menghadirkan NFT. Senpai anime adalah aliran anime dipilih yang kemudian menjadi titik awal proyek yang bernama Project Senpai.  

    Supaya gak penasaran, yuk, baca terus artikel ini!

    Baca Juga: Tak Mau Kalah, JYP dan SM Entertainment Ikut Rilis NFT KPop

    Kenalan dengan Senpai Anime

    Sebelum berbicara mengenai Proyek Senpai-nya, mari kita bahas anime terlebih dahulu. Anime adalah animasi atau kartun dari Jepang yang mempunyai keunikannya tersendiri.  Istilah senpai sendiri sangat sering ditemui di anime. Sebenarnya senpai sendiri adalah ungkapan panggilan yang dikhususkan untuk seseorang yang dianggap lebih lama atau tua. Biasanya, ini ditujukan untuk menunjukkan rasa hormat. 

    Dilansir dari Honey’s Anime, terdapat beberapa senpai anime punya karakter yang kuat dan terkenal. Salah satunya adalah Tomoe Mamie dari anime Madoka Magica. Senpai anime yang telah rilis di tahun 2011 ini memiliki 12 episode. Tomoe Mamie melakukan bagiannya sebagai senpai untuk Madoka dan Sayaka. Di anime ini Mamie, mengajari keduanya untuk menjadi gadis penyihir.

    Proyek Senpai? Apa tuh?

    Project Senpai anime

    Sumber: https://whitepaper.projectsenp.ai/

    Dilansir dari NewsBTC.com, Proyek Senpai adalah penciptaan ekosistem NFT pada anime bersama kripto, yang juga dilengkapi dengan beberapa fitur Decentralized Finance (DeFi). Proyek ini berdiri di blockchain Ethereum, sehingga pada ekosistemnya mencakup token utilitas ERC20 bernama SENPAI dan token sekundernya bernama KOHAI. Gak hanya itu, pada proyek ini pun terdapat kartu NFT anime Waifus ERC-1155 serta desain cat air anime yang terlihat nyata. 

    Berdasarkan Official Website-nya, proyek ini bermula dari pengumpulan konsep dan ide di bulan Januari 2020. Seiring berjalannya waktu dan pengembangannya, akhirnya NFT pertama terjual di bulan Maret tahun ini. Masih di bulan yang sama, token utilitasnya yang bernama SENPAI pun dibuat, dijual, dan di-listing pada platform Uniswap, Coinmarketcap, dan juga Coinpaprika . Barulah selang sebulan berikutnya, token SENPAI juga listing di Coingecko. 

    Apa yang Bisa Dilakukan pada Proyek Senpai?

    Anime Senpai chan

    Sumber: Photo Credit by Whitepaper Project Senpai

    Nah, setelah tahu proyeknya, lalu apa aja sih yang bisa kita lakukan di Proyek Senpai, program penggabungan NFT dan anime tersebut?

    Saat ini, setidaknya ada 2 hal utama yang bisa Anda lakukan di proyek ini. Pertama, Anda bisa mengoleksi kartu NFT dan juga melakukan proyek pada tokennya, SENPAI. Sedangkan itu, hal lain yang masih menjadi pengembangan dari proyek ini adalah hadirnya Club Senpai

    1. Koleksi NFT 

    Pertama-tama, rasanya gak lengkap kalau kita gak berbicara tentang koleksi NFT yang ada di Proyek Senpai! Nah, pada proyek ini ada dua format berbeda yang bisa Anda pilih untuk dikoleksi. Pertama, koleksi NFT yang bergaya chibi, dan kedua adalah koleksi yang berbentuk desain cat air (namun masih bergaya chibi). 

    Yang menarik adalah keduanya tetap dibuat dengan style khas Jepang. dibuat dengan tangan, dan tentunya terbatas. Setidaknya, tiap desain butuh waktu mulai dari 2 hingga 4 minggu, lho! Lalu, kartu NFT ini diklasifikasikan ke dalam 4 kategori sesuai dengan kelangkaannya: perunggu (50 mint), perak (25 mint), emas (5 mint), dan hitam (1 mint).  

    2. Proyek pada Token SENPAI

    Adapun 3 cara yang bisa Anda lakukan pada token SENPAI antara lain, staking token SENPAI, trading card game, dan holding token SENPAI. Pertama, pada staking SENPAI nantinya Anda akan mendapatkan insentif untuk memegang setiap token SENPAI dan mendukung ekosistem proyek. Nah, staker akan menerima token KOHAI yang baru dicetak. 

    Kedua adalah dengan NFT trading card game, di mana Anda akan memperoleh SENPAI dengan farming menggunakan token SENPAI. 

    Terakhir, pemegang token SENPAI akan berpotensi mendapatkan hadiah token SENPAI holding di masa yang mendatang setelah proyek ini terus berkembang. Nah, SENPAI holding ini akan terdiri dari token KOHAI dan juga ETH (diperoleh dari pembelian NFT KOHAI saja), serta persentase dari biaya yang diperoleh dari penjualan NFT marketplace di NFT OpenSea. 

    Baca Juga: Wajib Tahu, Inilah Ragam NFT Jenis NFT yang Diperjualbelikan!

    Tak hanya keseruan yang dihadirkan pada senpai anime yang menjadikan cikal bakal Project Senpai.  Hadirnya Proyek Senpai yang merupakan proyek penggabungan antara NFT dan anime ini untuk menciptakan ekonomi berbasis NFT pada sektor pop culture. Mengingat, JPop sendiri mempunyai penggemarnya di seluruh dunia dan Indonesia. Jadi, gimana? Tertarik untuk segera terjun untuk koleksi NFT? 

    Yuk, daftarkan diri Anda di NFT marketplace Indonesia, TokoMall milik Tokocrypto sekarang juga! Kunjungi https://mall.tokoscape.com/ untuk informasi lengkapnya. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pahami Apa Itu Karya Seni Mozaik dan Perannya dalam Dunia NFT

    Karya seni mozaik merupakan jenis karya rupa yang memanfaatkan berbagai jenis bahan dalam pembuatannya. Mozaik sangat unik karena merangkai beberapa benda berbeda hingga menjadi suatu kesatuan yang indah. Biasanya, mozaik menggunakan potongan kertas atau kaca untuk membentuk sebuah karya seni. Namun, dalam perkembangannya, mozaik pun hadir dalam format digital.

    Mozaik berformat digital ini bahkan terus berkembang hingga akhirnya merambah ke dunia non-fungible token (NFT). Sebelum melihat seperti apa geliat karya seni mozaik dalam dunia NFT, yuk kenalan dengan karya seni mozaik terlebih dulu!

    Mengenal karya seni mozaik

    Mengenal karya seni mozaik

    Karya seni mozaik pada dasarnya adalah suatu proses kreatif untuk menyatukan beberapa benda yang berbeda, baik dari segi bahan, tekstur, warna, maupun pola hingga menjadi objek baru yang bernilai seni.

    Seni mozaik sendiri memiliki sejarah panjang. Mozaik tertua pernah tercatat ditemukan pada peradaban Mesopotamia, sekitar 3.000 tahun sebelum masehi. Pada zaman dahulu, mozaik bahkan dianggap sebagai karya seni tinggi karena fungsinya sebagai ornamen dekorasi untuk kuil pemujaan atau tempat ibadah seperti gereja dan masjid.  

    Untuk bisa menciptakan mozaik yang indah dan bernilai seni tinggi tentu tidak mudah. Diperlukan ketelitian tinggi terhadap detail bahan yang digunakan. Proses mozaik akan semakin sulit lagi jika Anda menggunakan bahan yang sulit untuk diubah bentuknya seperti keramik atau batu granit.

    Perkembangan mozaik

    Dalam perkembangannya, karya seni mozaik juga hadir dalam format digital dan juga photomosaic (photographic mosaic). Inovasi tersebut muncul saat Joseph Francis menciptakan sebuah poster bertajuk Live from Bell Labs. Poster tersebut menampilkan potret seorang perempuan yang dibentuk dari beberapa foto berukuran kecil.

    Live from Bell Labs - Karya seni Mozaik

    Jika potret tersebut diperbesar, maka akan tampak beberapa foto yang ukurannya lebih kecil. Rangkaian foto-foto tersebut bisa membentuk sebuah objek baru karena disusun berdasarkan warna yang sesuai. Misalnya, untuk membentuk wajah manusia, maka dipilihlah beberapa foto dengan warna dasar coklat.

    Baca juga: Lakukan Strategi Berikut Sebelum Mulai Minting NFT!

    Karya seni mozaik dalam NFT

    Mozaik digital kembali populer saat NFT ramai dibicarakan publik. Beberapa digital artist yang berkecimpung di dunia NFT memang menawarkan karya seni berupa mozaik digital. Popularitas mozaik di dunia NFT mencapai puncaknya saat Everydays: the First 5000 Days, sebuah karya seni mozaik dari Beeple, terjual dengan harga fantastis sekitar USD 69 juta pada Maret 2021 lalu.

    Karya seni mozaik dalam NFT

    Everydays: the First 5000 Days sendiri merupakan sebuah mozaik yang mulai dirancang Mike Winkelmann (sosok di balik Beeple) sejak tahun 2013. Karya seni tersebut telah terhubung dengan NFT yang bertindak sebagai “sertifikat autentikasi digital” dan dikelola oleh teknologi blockchain.

    Uniknya, karya mozaik tersebut tidak memiliki identifikasi fisik apa pun. Keseluruhan karya beserta sertifikasinya hadir dalam bentuk digital melalui NFT. Meski begitu, mozaik digital tersebut berhasil terjual melalui rumah lelang terkenal dunia, Christie’s.

    Seperti yang telah disebutkan, seluruh aspek penjualan Everydays: the First 5000 Days milik Beeple hadir dalam format digital, bahkan dalam proses transaksi penjualannya. Perwakilan dari rumah lelang Christie’s menyebutkan bahwa karya mozaik tersebut bisa dibeli dengan aset kripto, tepatnya Ethereum.

    Opsi tersebut ditawarkan karena Christie’s melihat peluang pada transaksi menggunakan aset kripto. Belakangan ini, pasar kripto memang sedang bagus dan para kolektor tidak ragu mengeluarkan dana lebih untuk mendapatkan karya seni NFT. Hasilnya, Everydays: the First 5000 Days berhasil terjual dengan nilai yang amat fantastis.

    Peluang mozaik dalam NFT di masa depan

    Karya seni Mozaik dalam NFT di masa depanKesuksesan Beeple dalam menjual Everydays: the First 5000 Days dengan harga yang sangat tinggi membuka kesempatan bagi para seniman karya seni mozaik untuk ikut serta mengadopsi NFT. Melihat pada saat itu, Christie’s sebagai rumah lelang seni konvensional dengan sengaja membuka penerimaan pembayaran dalam bentuk aset kripto. Terlebih, tidak ada batasan aliran seni dalam NFT. Anda bisa berkreasi sebebas mungkin, bahkan menggabungkan mozaik dengan jenis karya seni lainnya pun tidak menjadi masalah. 

    Selama karya seni yang Anda terbitkan adalah orisinil dan memiliki nilai keunikan tersendiri, juga dibantu dengan promosi di berbagai komunitas NFT, dijamin NFT Anda pasti akan menemukan kolektornya tersendiri.

    Ingin mulai memamerkan karya seni mozaik Anda dalam bentuk NFT? TokoMall siap memberi dukungan terbaik untuk Anda. Sebagai salah satu pelopor NFT marketplace di Indonesia, TokoMall memungkinkan pengguna untuk mengoleksi, merilis, dan memamerkan NFT.

    Dengan mengusung konsep yang memungkinkan dunia digital untuk bertemu dengan realita, TokoMall menyediakan platform bagi Anda para Official Merchant (Kreator) untuk bisa mendapatkan exposure karya seni yang lebih luas. Yuk, daftarkan diri Anda dan tunjukkan kreasi karya seni mozaik bersama TokoMall sekarang juga!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah 4 Mural Artists yang Berhasil Menjual Karyanya Sebagai NFT

    Istilah ‘mural’ tidak jarang menimbulkan konotasi negatif. Padahal, mural merupakan jenis karya seni, lho, dan tidak semua berkaitan dengan vandalisme. Para mural artists juga memiliki keterampilan khusus dalam menggambar, tidak kalah dengan seniman rupa. Terbukti dengan banyak di antara mereka yang sudah mulai berkiprah di dunia NFT dan berhasil meraup banyak dari penjualan karya seninya. Penasaran siapa saja?

    Eits, sebelum itu, mari kita bahas mengenai mural secara umum terlebih dulu. Yuk, baca terus artikel ini!

    Apa Itu Mural?

    Mengutip situs Imural, mural adalah sebuah karya seni berupa gambar atau lukisan yang memanfaatkan media yang luas dan ‘terlihat’, seperti pada dinding, tembok, hingga tidak sedikit pula yang melakukannya di atas jalanan. Seniman di balik mural biasanya disebut dengan mural artists. Sudah banyak seniman mural yang terkenal di dunia, seperti Banksy, Lady Pink, dan masih banyak lagi.

    Mural sendiri masuk ke dalam golongan street art, di mana umumnya karya seni ini dibuat sesuai dengan hukum alias legal, meskipun sebenarnya peraturannya tetap bergantung pada masing-masing negara. Selain itu, mural juga lebih memungkinkan para seniman untuk mendapatkan bayaran atas karya seni miliknya tersebut. 

    Sebagai contoh, kini mural sudah berkembang tidak hanya digambar di dinding bangunan bagian luar saja, tetapi juga bagian dalam dari bangunan atau ruangan. Sudah banyak bisnis dari berbagai sektor yang menggunakan jasa mural artists untuk meramaikan ruangan miliknya. Selain itu, seniman mural juga sudah banyak yang ikut merambah ke seni digital.

    Perbedaan Mural dan Graffiti

    Perbedaan Mural dan Graffiti

    Dikarenakan menggunakan media yang sama dengan graffiti, masih banyak yang belum mengetahui bahwa mural sebenarnya berbeda dengan graffiti. Dilansir dari situs Columbia Edu, seni graffiti sudah ada sebelum munculnya street art dan mural. Namun, keduanya memang saling berkaitan karena inspirasi gaya seni mural juga tak lepas dari graffiti.

    Perbedaan lainnya adalah dalam pendekatannya. Jika mural lebih terstruktur dan mengutamakan gambar, maka graffiti lebih mengambil pendekatan teks sebagai ekspresi langsung dari masyarakat. Hal inilah yang membuat graffiti memiliki pengaruh besar dalam perkembangan budaya. Mayoritas graffiti juga digambar secara bebas dan tidak selalu memiliki makna yang jelas, bergantung pada keinginan pembuatnya.

    Partisipasi Street Art dalam NFT Melalui Mural

    Seiring perkembangan teknologi terlebih blockchain, banyak seniman yang memperluas jangkauannya, salah satunya dengan menjual karya seni miliknya lewat NFT. Tidak hanya seniman rupa hingga visual saja, tetapi juga sudah mulai banyak street artist yang ikut terjun ke NFT, lho! Hal ini menunjukkan bahwa adopsi seni terhadap NFT sebenarnya bersifat tidak terbatas.

    Baca juga: Atasi Era Digital dengan Digitalisasi Karya Seni 2 Dimensi

    Migrasi street art ke NFT ini tentunya diawali dengan banyaknya mural artists ternama yang menjual mural miliknya ke dalam NFT. Jadi, dilakukan digitalisasi karya seni untuk kemudian menerbitkannya ke dalam NFT. Umumnya, para seniman menaruh karya seni tersebut dalam sebuah lelang. Hal ini tentunya menambah daftar adopsi NFT oleh seni konvensional, dalam hal ini adalah street art.

    4 Mural Artists yang Menjual Karyanya Menjadi NFT

    Nah, berikut ini terdapat 4 seniman mural Artists yang menjual karyanya menjadi NFT:

    1. Loro Masnah (Another Flex on the Wall)

    Pada Oktober lalu, seorang seniman mural asal Kolombia bernama Loro Masnah bersama timnya menggambar mural di tembok di Williamsburg, berupa replikasi dari koleksi NFT ternama yang telah terjual sebelumnya. Proses penggambaran mural ini tentunya bisa terjadi setelah mendapatkan izin dari para pemilik gedung juga kolektor NFT.

    The wall

    “Street Cool Cat “The Beast” 2665” oleh Another Flex on the Wall

    Masnah membuka kesempatan bagi para kolektor untuk mendapatkan jatah karya seni mural di atas tembok tersebut, dengan cara membeli koleksi NFT spesialnya yang diberi nama “Another Flex on the Wall” terlebih dulu. Beberapa koleksi NFT yang berhasil di-recreate oleh Masnah, antara lain “Cool Cat “The Beast” 2665” dan “Board Ape “CryptoPainter” #768”.

    2. Pascal Boyart

    Seniman mural yang satu ini awalnya dikenal dengan muralnya yang bertajuk “Liberty Leading the People”. Tidak hanya di atas tembok saja, ia kemudian mengubah karya seni tersebut ke dalam versi digital dan di-mint menjadi NFT. 

    Nft project

    “Contemplations of the Red Jester” oleh Pascal Boyart

    Tidak sampai situ saja, Boyart juga menjual versi digital dari muralnya yang lain ke dalam bentuk NFT yang bertajuk “Contemplations of the Red Jester”. NFT tersebut berhasil terjual di harga USD 112.000 pada akhir Februari lalu. Hingga saat ini, Boyart sudah mendigitalisasi lebih dari 10 mural miliknya menjadi NFT.

    3. Jason Peterson

    Seniman yang satu ini sebenarnya merupakan seorang fotografer asal Amerika Serikat, tetapi berhasil berkolaborasi dengan seniman Tubszilla dalam menggambar sebuah mural dengan konsep potret dari Kanye West. Untuk mengapresiasi jutaan pengunjung yang telah mendatangi lokasi mural di West Loop Chicago, Peterson akhirnya memutuskan untuk menjadikan mural tersebut menjadi NFT.

    Mural NFT art street

    “41°53’07.9″N 87°39’04.9″W Mural NFT” oleh Jason Peterson

    Hal unik dari NFT ini adalah Peterson juga menyediakan QR code pada mural, yang jika di-scan maka akan muncul siapa saja para pemilik dari NFT tersebut. NFT ini berhasil dilelang pada bulan Oktober lalu dan terjual di harga 1512 AVAX atau sekitar 119.296 USD (harga fluktuatif).

    4. Austin Zucchini-Fowler

    Pada Maret lalu, seniman mural Austin Zucchini-Fowler meluncurkan NFT berupa versi digital dari mural miliknya yang sangat terkenal, bertajuk “Healthcare Hero”. Mural yang terletak di Colfax Avenue ini mengisahkan perjuangan tenaga kesehatan dalam melawan pandemi COVID-19.

    Mural digital

    “Healthcare Hero” oleh Austin Zucchini-Fowler

    Zucchini-Fowler kemudian menjadikan mural tersebut ke dalam versi digital dan melelangnya sebagai NFT. Pelelangan ini berlangsung mulai tanggal 31 Maret hingga 12 April 2021 lalu. Hingga kini, Zucchini-Fowler telah merilis banyak NFT yang merupakan versi digital dari mural miliknya.

    Ternyata, partisipasi para mural artists terhadap blockchain khususnya NFT sudah mulai meningkat. Hal ini membuktikan bahwa NFT tidak terbatas hanya untuk seniman rupa saja, tetapi seniman lain juga bisa ikut serta menjual karya seninya dalam bentuk digital. Bagi Anda yang tertarik dengan NFT, segera daftarkan diri Anda sebagai Official Partner (Kreator) dan juga Creator (Kolektor) di TokoMall!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tiga Altcoin Platform Smart Contract yang akan Moncer di 2022

    Decentralized Finance (DeFi) mendapat lampu sorot yang besar sepanjang tahun 2021. Di samping NFT yang juga tak kalah meriahnya di sepanjang tahun ini. Tapi, jangan lupakan platform smart contract, di mana kedua ekosistem tersebut akan berjalan jika ada blockchain layer-1 yang menawarkan layanan smart contract.

    Hingga saat ini, Ethereum masih menjadi blockchain layer-1 yang banyak digunakan dalam ekosistem crypto. Meski, belakangan ini banyak yang mengeluhkan tentang biaya gas yang terlampau tinggi. Di samping, saat ini banyak platform layer-1 yang menawarkan biaya gas lebih rendah seperti Avalanche, Binance Smart Chain, dan lainnya.

    Persaingan platform kontrak pintar di tahun 2022 nampaknya akan semakin ketat. Sejumlah jaringan saat ini tengah berbenah dan terus upgrade teknologi mereka untuk bersaing menjadi platform yang menguasai ekosistem crypto.

    Berikut beberapa protokol layer-one berperforma baik di Q4 2021 dan bagaimana potensi mereka di tahun 2022:

    Baca jugaDua Alasan Solana akan Menjadi Aset Paling Diperhitungkan di 2022

    Algorand

    Algorand (ALGO) adalah jaringan blockchain layer-one proof-of-stake (PoS) murni yang dirancang secara mandiri namun sangat scalable. Jaringan ini mampu menangani beban transaksi yang berat dengan biaya minimal.

    Di Q4, developer meluncurkan Algorand Virtual Machine yang memungkinkan aplikasi terdesentralisasi (DApps). Pengembangan ini secara langsung akan mendukung proyek DeFi dan NFT dalam jaringan Algorand.

    Potensi Algorand ini pun terlihat dari sejumlah stable coin yang telah diluncurkan dalam jaringan tersebut seperti Theter (USDT) dan USD Coin (USDC). Sehingga, platform DeFi jaringan ini  akan relatif lebih mudah dalam meningkatkan likuiditas.

    Selain itu, peluncuran 150 juta ALGO Viridis Fund oleh Algorand Foundation juga dirancang untuk mempercepat pengembangan ekosistem DeFi di jaringan.

    Proyek ini juga didukung oleh sejumlah investor institusional. Borderless Capital telah menyuntikan dana $500 juta untuk membantu mengembangkan DApps di Algorand. Selain itu, Hivemind Capital Partners juga memilih protokol tersebut sebagai mitra teknologi pertamanya.

    Elrond (EGLD)

    Elrond (EGLD) adalah platform blockchain untuk aplikasi terdistribusi yang bertujuan menjadi ekosistem teknologi untuk “internet baru”.

    Berdasarkan website resmi proyek, Elrond menggunakan teknologi sharding untuk memungkinkan pemrosesan 15.000 transaksi per detik (TPS) dengan biaya transaksi rata-rata $0,001.

    Reli harga akhir tahun yang terlihat pada token EGLD asli protokol terjadi setelah peluncuran program insentif likuiditas $1,29 miliar oleh pertukaran desentralisasi Maiar (DEX) yang berbasis di Elrond.

    Sebelum peluncuran program likuiditas, harga EGLD meningkat berkat peningkatan penggunaannya sebagai bentuk pembayaran digital, termasuk kemitraan dengan festival musik Rumania Untold , yang mengumumkan bahwa tiket untuk festival tahun 2021 dapat dibeli menggunakan EGLD.

    Baca jugaHydra Bakal Bawa Cardano Naik Dua Kali Lipat?

    Tezos (XTZ)

    Tezos ( XTZ ) adalah blockchain proof-of-stake fleksibel yang dirancang untuk berkembang dari waktu ke waktu tanpa perlu menjalani hard fork. Di Q4, entitas keuangan tradisional seperti Arab Bank Swiss bermitra dengan protokol untuk meluncurkan layanan staking, trading, dan kustodian untuk token native jaringan ini, XTZ.

    Pada 7 Desember, proyek tersebut menjadi berita utama setelah memperluas ekosistem NFT dengan bermitra dengan Ubisoft, sebuah perusahaan game besar. Platform Ubisoft Quartz menggunakan blockchain Tezos , dan para pemain Ghost Recon: Breakpoint akan dapat membeli dan memperdagangkan NFT khusus game di pasar.

    Pada 15 Desember, Rarible, pasar NFT yang populer, juga mengumumkan integrasi blockchain Tezos ke dalam ekosistemnya. Ini berarti pengguna Rarible dapat membeli, menjual, dan memperdagangkan NFT Tezos di lingkungan yang jauh lebih murah daripada pasar berbasis Eter Rarible.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengapa Karya Seni Berbasis NFT Digandrungi?

    2021 menjadi tahun dimana karya seni digital mengalami ledakan popularitas. Hal itu didukung teknologi NFT yang memungkinkan bukti kepemilikan benda di dunia virtual.

    NFT memanfaatkan blockchain dan berdampak besar terhadap keuangan, seni, musik, properti intelektual serta barang-barang mewah. Berkat blockchain, semua transaksi karya seni dilacak setelah penjualan terjadi sehingga memudahkan pembayaran royalti.

    Sebagai contoh, Robert Zumkeller, desainer grafis yang membuat ilustrasi digital, menerima royalti 10 persen atas setiap transaksi karya seninya. Hal itu tidak mungkin terjadi melalui karya seni berwujud fisik, jelas Zumkeller.

    Di alam digital, karya seni berbentuk berkas data yang dapat memiliki banyak salinan. Berkat NFT, kepemilikan atas karya asli dapat dibuktikan kendati karya tersebut berbentuk digital.

    Baca jugaIntel: Metaverse Perlu Pembaruan Besar-besaran

    Secara keseluruhan, pasar NFT melambung selama 12 bulan terakhir dengan peningkatan 700 persen dari kuartal kedua hingga kuartal ketiga menurut platform analisa Dappradar.

    Gelembung ini mengkonfirmasi sifat spekulatif aplikasi blockchain dan kripto, dimana Bitcoin (BTC) meningkat 100 ribu kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir.

    Claudio Tessone, profesor teknologi blockchain di Universitar Zurich, berkata keputusan desain pada teknologi NFT menyebabkan maraknya spekulasi, sebab itu NFT digandrungi.

    “Penciptaan aset kian mahal sehingga mendorong peningkatan nilai mereka, mirip seperti minyak tanah yang naik ketika semakin sulit digali. Hal ini mengakibatkan insentif untuk berinvestasi di blockchain dan menjadi pola yang mendukung spekulasi,” jelas Tessone.

    Konsumsi energi aplikasi blockchain menjadi topik yang diperbincangkan. Teknologi proof of stake menjadi harapan arsitektur baru bagi blockchain agar konsumsi listrik hampir tidak ada.

    Kendati demikian, berkata arsitektur baru ini bisa menghasilkan problem baru. Blockchain proof of stake memberi imbalan bagi pengguna yang menaruh deposit sehingga mendorong spekulasi.

    Baca jugaJoin Mataverse, Nike Beli Perusahaan Sneakers Virtual!

    Tessone berpendapat saat ini sulit membayangkan blockchain tanpa spekulasi. Ia ingin komunitas kripto lebih memerhatikan ekonomi kripto dengan ekonomi yang berfungsi di masa depan.

    Sebagian besar berita NFT menyoroti sisi spekulasi. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya percobaan untuk kegunaan ideal menurut Catherine Tucker, profesor MIT.

    Satu permasalahan soal anonimitas pada teknologi blockchain adalah penipuan finansial. Sebagai contoh, seorang seniman dapat berkonspirasi dengan pembeli untuk mendorong harga karyanya.

    Kendati demikian, Tucker berkata NFT tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Hal tersebut adalah gejala pengguna di lingkungan yang belum jelas dengan biaya transaksi tinggi.

    “Pada akhirnya, teknologi hanyalah teknologi,” tandas Tucker.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Join Mataverse, Nike Beli Perusahaan Sneakers Virtual!

    Nike yang direpresentasikan sebagai raksasa produk apparel olahraga, kini resmi bergabung dengan Metaverse. Pernyataan itu dinyatakan pihak perusahaan kemarin, tepatnya pada Senin 13 Desember 2021.

    Dengan mengakuisisi sneakers virtual ternama,RTFKT, perusahaan menunjukan ambisinya untuk segera memperluas jangkauan mereka dalam dunia Metaverse, yang saat ini tumbuh dengan cepat.

    Menurut laporan Cointelegraph, sejak 2 November silam perusahaan telah mengajukan permintaan untuk Nike dengan mematenkan branding mereka agar dapat digunakan untuk Metaverse.

    Baca jugaTurun Lagi! Harga Bitcoin Diprediksi 600 Jutaan Saja

    Pengajuan tersebut disertai dengan dua lowongan pekerjaan baru, untuk calon desainer materi virtual. Hal ini tentu menandakan niat perusahaan untuk memasuki Metaverse yang sebenarnya sudah ada sejak lama.

    Nike Ingin Menyelidiki Ekosistem Metaverse Terlebih Dulu

    Meski telah resmi bergabung dengan Metaverse, Nike menegaskan jika langkah perusahaan mengakuisisi RTFKT adalah bentuk dari perwujudan minat Nike untuk menyelidiki ekosistem perusahaan.

    “Kami sangat bersemangat untuk mengembangkan brand yang sepenuhnya terbentuk di metaverse di masa depan. Akuisisi ini merupakan langkah lain yang mempercepat transformasi digital Nike dan memungkinkan kami untuk melayani atlet dan pencipta di persimpangan olahraga, kreativitas, permainan, dan budaya,” Ungkap John Donahoe, selaku presiden dan CEO Nike

    Masuknya Nike ke dalam dunia metaverse dan blockchain, menandai pergeseran besar telah terjadi dalam industri olahraga.

    Baca jugaTesla Siapkan Dogecoin (DOGE) Sebagai Alat Pembayaran Cinderamata

    Karena sebelumnya juga sudah banyak klub sepak bola yang juga telah memasuki dunia blockchain. Mesi memang, belum ada yang memasuki dunia Metaverse.

    Sementara itu, Adidas adalah brand olahraga ternama yang membuka jalan ‘teman-temannya’ untuk bergabung ke Metaverse.

    Adidas bergabung dengan metaverse setelah kemitraanya dengan perusahaan nonfungible token (NFT), termasuk Bored Ape Yacht Club, gmoney NFT, dan PUNKS Comic.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • UNICEF Terbitkan NFT di Ethereum, Buat Apa?

    Organisasi dunia yang terfokus pada anak-anak, United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF). Diketahui telah menerbitkan token non-fungible (NFT) di jaringan Ethereum.

    Ini adalah langkah terbaru dari UNICEF dalam merangkul industri kripto, di mana sebelumnya organisasi ini telah menggunakan Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) untuk donasi.

    Meski menerima dana donasi dalam bentuk aset kripto, dalam penyalurannya itu akan dikonversikan menjadi uang fiat.

    Baca jugaAda Solana (SOL) di Browser Opera, Tahun Depan

    UNICEF Terbitkan NFT 

    Belum lama ini, berdasarkan dari tweet resminya, UNICEF telah mengumumkan peluncuran aset NFT mereka untuk memperingati hari jadi ke-75 dari badan PBB.

    Gambar yang disajikan dalam tweet tersebut pun menarik, yang digagas oleh artis visual Nadieh Bremer, dengan menggabungkan bentuk-bentuk geometris yang disukai anak-anak, menjadi sebuah set kota.

    “Dalam visual terakhir, setiap sekolah menjadi kotak kecil, saling terkait dengan sekolah lain untuk membentuk kerajaan, terbagi antara yang terhubung dan tidak terhubung ke internet,” ujar Bremer.

    Diketahui, peluncuran dalam bentuk pameran digital yang dinamai “Patchwork Kingdom” tersebut secara resmi akan dilakukan pada Januari 2022 mendatang.

    Baca jugaAda Shiba Inu (SHIB) di Travala, Buat Apa?

    Pengadaan Internet Bagi Anak-Anak di Dunia

    Nantinya, hasil keuntungan dari penjualan NFT akan digunakan organisasi tersebut untuk mendukung banyak proyek. Salah satunya adalah proyek “Giga Initiative” untuk pengadaan akses internet bagi anak-anak di seluruh dunia.

    Tentu saja, internet saat ini adalah salah satu jendela dunia untuk mempelajari segala hal dengan lebih mudah dan banyak. Anak-anak diharapkan akan mampu lebih mengembangkan potensi diri mereka dengan menyerap informasi yang lebih beragam dan lengkap.

    Sekadar informasi, Giga Initiative adalah proyek yang diluncurkan pada tahun 2019 antara UNICEF dan PBB untuk memberikan akses internet ke sekolah sehingga anak-anak dapat memperoleh banyak manfaat dari informasi dan peluang berbasis web.

    Diketahui, UNICEF telah menggandeng marketplace NFT berbasis Solana, Snowcrash Labs, Ethereum Foundation, Metagood dan lainnya, untuk meluncurkan 1.000 NFT.

    Menariknya, setiap NFT yang dijual akan ditandai dengan data inisiatif yang dikumpulkan dari lebih dari 282.000 sekolah di 21 negara.

    Meski kurang begitu disorot, UNICEF sebenarnya juga sudah cukup akrab dengan industri kripto, di mana organisasi ini telah mendanai beberapa proyek blockchain dan Web3 yang memiliki dampak untuk anak-anak di seluruh dunia.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Microsoft dan Warner Bros Kucurkan Dana US$27 Juta di Bisnis NFT

    Microsoft akhirnya kepincut juga di pasar kripto. Buktinya perusahaan raksasa itu, lewat Microsoft Venture (M12) mengucurkan dan investasi di toko NFT (non-fungible token), Palm NFT Studio.

    Dilansir dari siaran pers resmi Palm NFT Studio, Kamis (9/12/2021), selain Microsoft Venture, mereka mendapatkan dana investasi tambahan dari Griffin Gaming Partners, RRE, Third Kind Venture Capital, Sfermion, the LAO, Warner Bros., SK Inc dan lain sebagainya.

    Dengan dana itu, menurut perusahaan, memastikan penskalaan besar-besaran di sektor NFT, mulai dari seni, film, hiburan hingga periklanan.

    Baca jugaFloki Inu, Pesaing Shiba Inu, Gencar Pasang Iklan di Israel

    Microsoft dan NFT

    “Pendanaan tersebut akan memungkinkan Palm NFT Studio untuk menawarkan platform ini kepada pihak ketiga mana pun yang ingin menerapkan proyek NFT dalam skala besar, dengan penekanan pada orientasi yang mudah bagi pengguna baru, kepatuhan terhadap peraturan, dan kelestarian lingkungan,” kata Dan Heyman, Co-Founder dan CEO Palm NFT Studio.

    Heyman mengatakan, investasi dana menjamin kelanjutan proyek mereka untuk komunitas yang lebih mainstream.

    Palm NFT Studio sendiri adalah proyek gabungan dari ConsenSys, perusahaan di balik pengembangan blockchain Ethereum. Sang pendiri ConsenSys, Joseph Lubin juga terlibat langsung di proyek token sistem sertifikasi aset digital ini.

    Daniel Heyman sendiri, sebelumnya adalah salah satu pendiri PegaSys, satu regu khusus di ConsenSys.

    Palm NFT Studio memang masih terbilang baru, baru 8 bulan yang lalu, jika dibandingkan pesaing kuatnya, seperti OpenSea. Namun, perusahaan ini mendapatkan sumbangan teknologi dan kapital besar dari ConsenSys, terlebih dana segar dari Microsoft Ventures ini.

    Palm NFT Studio tidak menggunakan blockchain Ethereum, melainkan Palm Network, yakni jaringan database sendiri yang menjadi Layer 2 di atas blockchain Ethereum. Alasan di balik itu adalah efisiensi waktu dan biaya. Sebelumnya Marvel menerbitkan sejumlah NFT-nya di Palm Studio.

    Baca jugaEksekutif Crypto Bimbing Kongres Soal Aset Digital

    Apa Itu NFT?

    NFT (non-fungible token) pada prinsipnya adalah sistem sertifikasi terhadap file digital. File itu bisa berupa gambar (berformat JPG), suara (WAV) ataupun video (MP4).

    Dalam hal ini, misalnya berupa gambar yang diperjualbelikan di Internet di situs OpenSea.

    Sertifikat itu memastikan bahwa karya seni itu memang berasal dari sang seniman ataupun kreator dengan cara disimpan secara permanen ke jaringan komputer server yang disebut dengan blockchain.

    Ketika seseorang membeli NFT itu di toko NFT (misalnya di OpenSea), maka token berpindah kepemilikan dari kreator kepada sang pembeli. Data transaksi itu terekam permanen di blockchain.

    Sedangkan file gambar tetap berada di komputer server yang berbeda, ketika gambar itu pertama kali diunggah.

    Berikutnya, sang pembeli NFT bisa menjualnya kepada pihak lain. Data transaksi pembelian itu juga terekam di blockchain, begitu seterusnya.

    Manfaat dari sistem perekaman data seperti ini mempermudah sang kreator melacak ‘perjalanan transaksi’ karya mereka itu dari satu pihak kepada pihak yang lain.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Rapper Snoop Dogg Membangun Mansion di Metaverse SandBox

    Metaverse semakin besar dengan hadirnya seorang musisi ternama asal AS, Snoop Dogg, yang mendukung kuat sektor ini dan NFT, dengan membangun sebuah mansion di metaverse game, SandBox.

    Bernama asli Calvin Cordozar Broadus Jr., rapper yang terkenal memiliki banyak single yang hits tersebut, telah mewujudkan kerja samanya dengan Sandbox dengan membangun sebuah mansion megah di dalam metaverse-nya.

    Baca jugaKali Pertama, Investasi Dana Ventura Lebih Besar di AS daripada di Asia

    Mansion Snoop Dogg di Metaverse SandBox

    Sekadar informasi, di SandBox, seseorang memang dimungkinkan untuk memiliki sebidang tanah virtual yang dapat dibangun rumah virtual pribadi.

    Berdasarkan tweet resmi yang dibagikan oleh SandBox, hal tersebutlah yang dilakukan oleh Snoop Dogg di SandBox, yang semakin meramaikan jagat virtual ini.

    Berdasarkan laporan dari U Today, Kamis (2/12/2021), apa yang dibangun oleh rapper ternama itu disebut sebagai Snoopverse, yang melelang 122 tanah biasa, 67 tanah premium dan 3 perkebunan.

    Diketahui, siapapun yang memiliki salah satu dari properti yang dilelang tersebut, maka akan mendapatkan izin akses untuk berpartisipasi di berbagai acara (event) yang diadakan di Snoopverse, yang disebut “Snoopverse Early Access Pass”.

    Itu termasuk mendapatkan NFT khusus dari Snoop Dogg, mendapatkan token SAND dari game yang ada di sana, serta melakukan interaksi sosial melalui konser dan acara bersama lainnya.

    Pemilik Early Acess Pass juga bisa mendapatkan akses pertama ke kreasi metaverse sang rapper, seperti patung Snoop dan mobil Brown Sugar.

    Baca jugaCardano Cetak Rekor 20 Juta Transaksi Sejak Diluncurkan

    Masa Depan Cerah?

    Dengan melihat pertumbuhannya yang dapat dibilang cepat, sektor metaverse telah banyak dilihat mampu memberikan sesuatu yang lebih baik di masa depan, terutama terkait sektor kripto dan profesi.

    Menurut Analis dari Bank of America (BoA), Haim Israel, berkat metaverse, aset kripto akan punya kesempatan yang lebih besar untuk menjadi alat pembayaran.

    Meski dia lebih condong ke stablecoin karena harganya yang tidak volatil, itu tetap akan menjadi sebuah pendorong besar bagi industri kripto, seiring bertumbuhnya sektor dunia virtual ini.

    Selain itu, pendiri perusahaan metaverse Journee, Thomas Johann Lorenz, juga berpandangan yang baik mengenai dampak sektor ini terhadap perkembangan bekerja dari rumah, atau lebih popular disebut work from home.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pakar: Profesi Menjanjikan Ada di Metaverse

    Metaverse kian mainstream dan perusahaan-perusahaan mulai memakainya untuk mempekerjakan dan mengelola pegawai. Tetapi penggunaannya untuk perekrutan dapat menyebabkan isu keamanan dan privasi.

    Metaverse dan Profesi yang Menjanjikan

    Bukan hanya tempat bagi gamer dan pegiat teknologi, dunia virtual digadang-gadang akan menjadi evolusi berikutnya bagi internet.

    Bisnis-bisnis serta brand mulai menciptakan lingkungan tempat bekerja dan bermain.

    Di antaranya, Hyundai mulai dengan memakai dunia virtual Zepeto untuk perekrutan pegawai baru. Samsung dikabarkan menggelar bursa kerja virtual melalui platform Gather pada September lalu.

    Baca jugaBurning BNB (Binance Coin): Sistem Baru Sudah Diterapkan

    Budaya work from home yang marak selama pandemi coronavirus dalam 18 bulan terakhir memicu permintaan bagi dunia virtual.

    Thomas Johann Lorenz, pendiri perusahaan meta verse Journee, berkata, “Soal mempertahankan talenta di perusahaan dan budaya bisnis di era kerja jarak jauh, kita butuh perlengkapan lebih dari sekedar surel dan Zoom.”

    Lorenz menjelaskan, metaverse lebih dari pertukaran data dan informasi sebab akan memanfaatkan komunikasi manusia soal hubungan, emosi dan pengalaman.

    Wawancara melalui layar memberikan informasi yang sedikit tentang kandidat pegawai. Tetapi dengan penggunaan avatar dalam metaverse, ada cara-cara baru untuk memahami orang lebih baik.

    Journee telah menciptakan metaverse bagi Siemens, BMB dan Adidas yang bisa diakses melalui perangkat sederhana seperti ponsel dan tidak memerlukan alat virtual reality.

    Di saat Meta besutan Mark Zuckerberg berniat membangun dunia virtual dengan pengalaman menyeluruh, pihak lain berkata metaverse sudah ada pada platform seperti Discord.

    Baca jugaMetaverse Bisa Bermutu Baik, Jika Digital Ownership Lewat Kripto Kian Nyata

    Direktur seni Richard Chen menggelar proyek seni yang berhasil menjual tiga ribu buah NFT dalam enam jam di marketplace OpenSea. Ia melihat pasar NFT sangat baru sehingga belum banyak pakar untuk direkrut dari agensi pemasaran.

    “Talenta-talenta ini tidak bisa ditemukan di dunia nyata atau berada di lokasi dekat. Menemui mereka di metaverse adalah cara terbaik bagi kebutuhan proyek kami,” jelas Chen.

    Di sisi lain, tidak semua orang melihat potensi dari dunia virtual ini. Pendiri konsultan SheBuildsBrands, Kubi Springer, merasa dirinya tidak menguasai teknologi ini dengan baik.

    Ia melihat teknologi metaverse memajukan hidup dengan berbagai cara, tetapi harus disertai dengan penguasaan yang kuat. Bila tidak, Springer merasa metaverse justru yang akan menguasai manusia.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com