Tag Archives: rasulullah saw

4 Doa Orang Menikah agar Rumah Tangga Penuh Berkah



Jakarta

Ketika ada sepasang pengantin yang baru menikah, Nabi SAW menganjurkan umatnya untuk mendoakan mereka dengan berbagai kebaikan dan keberkahan.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam buku Tuntunan Pernikahan Islami menyebutkan bahwa mendoakan orang yang menikah merupakan sunnah nabi.

Adapun maksud mendoakan mempelai juga sebagai bentuk kepedulian seseorang atas jalinan hubungan yang baru terikat itu. Di mana keduanya akan mengarungi bahtera rumah tangga sehingga sepatutnya berdoa untuk keharmonisan dan kelanggengan hubungan tersebut.


Rasulullah SAW dalam sejumlah hadits juga kerap mencontohkan doa serta ucapan yang beliau panjatkan kepada para sahabatnya yang menikah agar kaum muslim turut mengikuti kebiasaannya itu.

Seperti halnya ketika Jabir bin Abdullah menikahi seorang janda. Nabi SAW menuturkan, “Semoga Allah memberkahi engkau.” Dalam riwayat lain beliau mengucapkan, “Semoga Allah memberikan kebaikan untukmu.” (HR Bukhari)

Kepada Ali bin Abi Thalib yang menikahi anak gadisnya, Fatimah, Rasulullah SAW tak hanya mendoakan mereka, bahkan beliau mengucapkan selamat datang kepada Ali.

Maksud ucapan selamat datang, yakni Nabi SAW menyambut hangat Ali yang bergabung dengan keluarga beliau karena pernikahannya dengan Fatimah.

Doa untuk Pasangan yang Baru Menikah

Berikut doa untuk pengantin baru yang Rasul SAW ajarkan melalui sejumlah hadits, dinukil dari buku Keutamaan Doa & Dzikir Untuk Hidup Bahagia Sejahtera oleh M. Khalilurrahman Al-Mahfani dan kitab Al-Adzkar susunan Imam Nawawi:

1. Doa untuk kedua mempelai

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ

Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khairi

Artinya: “Semoga Allah memberkahimu, semoga Allah memberkahi engkau dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad, Baihaqi, & Hakim, dari Abu Hurairah)

2. Doa untuk pengantin pria

بَارَكَ اللهُ لَكَ

Baarakallahu laka

Artinya: “Semoga Allah memberkahimu.” (HR Bukhari & Muslim, dari Anas bin Malik)

3. Doa untuk masing-masing mempelai

بَارَكَ اللهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْكُمَا فِي صَاحِبِهِ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Baarakallaahu likulli wahidin min kumaa fii shaahibihi wa jama’a bainakumaa fii khairin

Artinya: “Semoga keberkahan Allah atas tiap-tiap dari kalian dalam perjodohannya dan semoga Allah mengumpulkan antara kalian berdua dalam kebaikan.”

4. Doa bagi orang yang menikah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Allahumma innii as’aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa ‘alaihi wa a’uudzu bika mn syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa ‘alaihi

Artinya: berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu akan kebaikannya berikut kebaikan karakternya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya berikut kejahatan karakternya.” (HR Abu Dawud & Ibnu Majah)

Itulah doa untuk orang menikah yang dapat dilafalkan, semoga bermanfaat!

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa Sapu Jagat dan Manfaatnya, Bacaan yang Disukai Rasulullah



Jakarta

Doa sapu jagat adalah doa untuk memohon kebaikan di dunia dan akhirat. Kebaikan yang dimaksud dapat bersifat umum dan universal seperti kesehatan, rezeki, keridaan, keamanan, keberuntungan, keberhasilan, dan semua hal yang bersifat kebaikan.

Doa sapu jagat ini dibaca setelah kita memanjatkan doa dan permohonan kita atau sebagai penutup. Doa ini disebutkan termasuk dalam daftar doa kerap diamalkan oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan melalui Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, menyampaikan:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


Artinya: “Doa yang paling banyak dibaca oleh Nabi Muhammad SAW, adalah ‘Allaahumma aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar’.” (HR Muttafaq Alaih)

Bacaan Doa Sapu Jagat dalam Arab, Latin, dan Artinya

رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

Bacaan latin: Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanataw wa fil aakhirati hasanataw waqinaa ‘adzaaban naar

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga menggunakan bentuk doa yang mirip, bunyinya:

“Allahummaaatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar,”

Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dikutip melalui buku Pendar-pendar Kebijaksanaan karya Husein Muhammad dijelaskan melalui ahli bahasa dan tafsir besar Al-Alusi yang menyimpulkan pandangan para ulama, “Kebaikan di dunia ini mencakup segala perihal yang diidamkan atau diimpikan oleh setiap orang:

اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ وَعَافِيَةٌ وَكَفَافُ وَعِلْمُ وَعِبَادَةً وَمَالُ صَالِحُ وَأَوْلَادُ أَبْرَارُ وَثَنَاءُ الْخَلْقِ وَصُحْبَةُ الصَّالِحِيْنَ.

Artinya: “Istri (atau suami) yang shalih, sehat, sederhana, berpengetahuan luas, rajin ibadah, harta yang halal, anak-anak yang baik, dihormati masyarakatnya, dan dekat dengan orang-orang shalih.”

Selain itu secara lebih spesifik, diutarakan melalui hadits lain:

أَرْبَعُ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةِ وَالْمَسْكَنِ الْوَاسِعِ وَالْجَارِ الصَّالِحِ وَالْمَرْكَبِ الْهَنِيْء.

Artinya: “Ada empat hal yang (biasanya) diinginkan banyak orang untuk menjadi bahagia: istri (atau suami) yang shalih (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih, dan kendaraan yang nyaman.”

Setelah mengetahui doa sapu jagat yang mampu memberikan kita kebaikan atas kuasa Allah SWT, tentunya kita harus mengetahui bahwa semua itu adalah milik dan kekuasaan-Nya semata. Kepada mereka yang melupakan hal penting ini, Allah SWT memberikan peringatan melalui firman-Nya, Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 179, bunyinya:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya, Kami telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (memenuhi neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (petunjuk Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat (buruk) lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

Senada dengan Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, yaitu:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.””

Melalui tafsir Quran Kemenag, pada ayat ini dijelaskan, dalam mensyukuri rahmat Allah SWT kita bisa melakukannya dengan berbagai cara. Pertama, dengan ucapan yang setulus hati; kedua, diiringi dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut untuk tujuan yang diridai-Nya.

Itulah pembahasan mengenai doa sapu jagat yang mampu memberikan manfaat luar biasa terhadap segala hal urusan manusia di dunia hingga akhirat. Semoga dengan mengetahui manfaat dan kekuasaan-Nya kita menjadi lebih beriman kepada Allah SWT.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Antara Adzan dan Iqomah, Waktu Mustajab Berdoa yang Sering Terlewat



Jakarta

Kaum muslim yang menginginkan kehendaknya terkabul oleh Allah SWT perlu memperhatikan sejumlah adab berdoa, termasuk kapan doa itu dipanjatkan. Salah satu waktu mustajab berdoa yang dinyatakan oleh Nabi SAW adalah antara adzan dan iqomah.

Saat tibanya waktu salat yang ditandai dengan adzan, banyak umat Islam yang hanya bergegas menunaikan ibadah. Mereka kerap kali melupakan atau bahkan tidak menyadari bahwa terdapat waktu yang jika berdoa maka Allah SWT akan memperkenankannya.

Ya, antara adzan dan iqomah. Ketika adzan telah berhenti dikumandangkan dan sebelum iqomah dilafalkan, kaum muslim hendaknya berdoa pada saat tersebut. Sebagaimana sabda Rasul SAW dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata:


“Sesungguhnya seorang laki-laki berujar, ‘Wahai Rasulullah, sungguh orang-orang yang adzan telah mendapat kelebihan atas kami.” Kemudian Nabi SAW menuturkan, ‘Ucapkanlah seperti yang mereka ucapkan. Apabila telah selesai maka berdoalah, niscaya engkau akan diberi.’ (HR Abu Dawud)

Dalam riwayat Anas bin Malik, Rasul SAW bersabda pula:

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الآذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

Artinya: “Doa tidak ditolak antara adzan dan iqomah, maka berdoalah.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud)

Selain itu, Sahl bin Saad As-Sa’idi juga meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi SAW mengenai waktu antara adzan dan iqomah yang menjadi tempat diperkenankannya doa.

يْتَتَانِ لَا تُرَدَّانِ، أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النَّداءِ، وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

Artinya: “Dua perkara tidaklah ditolak, atau sangat jarang ditolak; doa ketika adzan dan ketika perang saat pasukan membabat satu sama lain.” (HR Abu Dawud)

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 mengemukakan doa yang hendaknya dipinta oleh umat Islam. Menurutnya doa kebaikan dunia ahirat dan apa-apa yang seseorang inginkan, dapat dipanjatkan pada waktu antara adzan dan iqomah.

Adapun Rasulullah SAW juga mengungkapkan doa yang bisa diucapkan saat waktu mustajab berdoa itu, yang tercantum dalam riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاة صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ في الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Artinya: “Apabila kamu mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bersholawatlah atasku, karena barang siapa bersholawat atasku satu kali, Allah akan bersholawat atasnya dengan sebab itu sepuluh kali. Kemudian mintalah pada Allah untukku wasilah. Sungguh ia adalah tempat di surga yang tidak patut kecuali kepada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barang siapa meminta untukku wasilah niscaya halal baginya syafaat.” (HR Muslim)

Lafaz Doa yang Dibaca antara Adzan dan Iqomah

Buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 menukil hadits dari Jabir bin Abdullah untuk doa yang dianjurkan untuk dipanjatkan antara adzan dan iqomah, sebagai berikut:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Allahumma rabba hadzihi ad-da’wati at-taammati wash sholaatil qaa’imati aati muhammadan al-wasiilata wal fadhiilata wab’atshu maqaaman mahmuudan alladzi wa’adtah

Artinya: “Ya Allah, pemilik seruan yang sempurna ini, dan salat yang akan didirikan, berilah Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkan untuknya kedudukan terpuji yang Engkau janjikan.” (HR Bukhari)

Shalawat Ibrahimiyah: Paling Utama Dibaca antara Adzan dan Iqomah

Tak hanya doa di atas, Nabi SAW pula mensyariatkan untuk melafalkan sholawat. Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam bukunya menyebutkan sholawat Ibrahimiyah yang paling anjurkan untuk dibaca antara adzan dan iqomah. Berikut bacaannya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ جَيْدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘ala muhammadin wa ‘ala aali muhammadin, kamaa shallayta ‘ala ibraahiim wa ‘ala aali ibraahiim, innaka hamiidun majiid, Allahumma baarik ‘ala muhammadin wa ‘ala aali muhammadin, kamaa baarakta ‘ala ibraahiim wa ‘ala aali ibraahiim, innaka hamiidun majiid

Artinya: “Ya Allah, limpahkan sholawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan sholawat atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung. Ya Allah, berkahilah atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.”

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa setelah Pemakaman Lengkap dengan Artinya



Jakarta

Menguburkan jenazah merupakan kewajiban terhadap orang yang meninggal dunia. Salah satu adab dalam menguburkan jenazah adalah membaca doa setelah pemakaman.

Ali Mas’ud Ahmad dalam bukunya Panduan Praktis Perawatan dan Shalat Jenazah, menjelaskan mengenai sunnah setelah pemakaman yaitu dengan membaca doa untuk jenazah dan membaca talqin. Hal tersebut diriwayatkan dari sahabat Rasulullah SAW, Utsman RA, ia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ


Artinya: “Apabila Nabi Shallallahu alaihi wasallam telah selesai dari menguburkan mayit, beliau berkata, ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim)

Sementara itu, talqin memiliki fungsi untuk mengingatkan bagi orang yang masih hidup atau pelayat akan pentingnya mengingat kematian karena pada dasarnya semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian.

Doa setelah Pemakaman Arab, Latin, dan Artinya

Mengutip Kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, berikut bacaan doa setelah pemakaman Arab, latin, dan artinya:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمُ

Arab latin: Minhaa Khalaqnaa kum

Artinya: “Dari tangan itulah kami menciptakan kalian”

وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ

Arabt latin: Wa fiiha nu’iidukum

Artinya: “Dan daripadanya Kami akan mengembalikan kalian.”

وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Arab latin: Wa fiiha nukhrijukum taratan ukraa

Artinya: “Dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kalian pada kesempatan lain”

Imam an-Nawawi juga menyebut sebuah riwayat dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi SAW menganjurkan untuk membaca Al-Qur’an ketika menghadiri pemakaman. Dari Ali RA, ia mengatakan,

“Kami berada di pemakaman Baqi’ul Ghurfah, kemudian Rasulullah SAW mendatangi kami dan beliau duduk-duduk bersama kami, di tangan beliau memegang tongkat kecil. Kemudian beliau menghujamkan tongkatnya ke tanah lalu bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditentukan tempatnya di neraka atau di surga.” Kemudian para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah SAW, apakah tidak lebih baik kalau kita menyandarkan pada ketentuan tersebut?’ Kemudian beliau bersabda: ‘Beramalah kalian, karena semuanya akan dimudahkan dengan apa yang diperbuat..’

Masih dalam buku yang sama, Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah mengatakan: “Ketika itu disunnahkan membaca sebagian dari beberapa ayat Al-Qur’an, mereka mengatakan: ‘Jika sampai menghatamkan, maka itu lebih baik.”

Sementara itu, Muhammad Sholikhin dalam buku Panduan Lengkap Perawatan Jenazah menjelaskan mengenai doa setelah pemakaman. Tastbit, dalam sebagian tradisi masyarakat dilaksanakan melalui talqin yang dirangkai dengan doa.

Istighfar dan tastbit yang disunnahkan Nabi SAW sebagai berikut,

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ نصف المله، اللهم ثبته عند السؤال باقيها

Artinya: “Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah ia pada satu sisi. Ya Allah, mantapkanlah ia ketika ditanya (Malaikat Munkar dan Nakir) pada sisi lain.” (HR Abu Dawud)

Masih dalam buku yang sama, dijelaskan pula mengenai sunnah bagi pengantar mayat untuk berhenti sejenak dan mendoakan, dengan memintakan ampun dan meminta supaya mayat diberi ketetapan/keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur.

Paling tidak sekitar satu jam sesudah penguburan, diutamakan membaca surah Yasin atau Tabarak (Al-Mulk) yang pahalanya diperuntukkan bagi si mayat, sebagaimana dikatakan Syaikh Shalih Al-Samarani dalam buku Munjiyat.

Bagi yang menghadiri pemakaman juga disunnahkan untuk duduk sejenak setelah selesai menguburkan jenazah dengan kira-kira lamanya penyembelihan domba dan membagikan dagingnya, dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an , mendoakan mayit, mauidhah hasanah, menceritakan orang-orang baik, dan hikayah-hikayah orang saleh.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa setelah Sholat Subuh agar Dimudahkan Rezeki oleh Allah SWT



Jakarta

Terdapat doa setelah sholat Subuh agar dimudahkan rezeki. Amalan ini berlandaskan dari beberapa firman Allah SWT, salah satunya adalah Surah Al-Hajj ayat 58-59, yaitu:

وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ٥٨لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُّدْخَلًا يَّرْضَوْنَهٗۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَعَلِيْمٌ حَلِيْمٌ ٥٩

Artinya: “Sesungguhnya hanya Allah (adalah) sebaik-baik pemberi rezeki. Sungguh, Dia (Allah) pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk yang mereka sukai (surga). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”


Senada dengan ayat di atas, Allah SWT akan melapangkan rezeki bagi siapapun yang Ia kehendaki. Hal ini tertuang dalam firman-Nya pada Surah Saba ayat 36, yaitu:

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ࣖ ٣٦

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad SAW), “Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki kepada siapapun yang Ia kehendaki dan menyempitkan(-nya). Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui(-nya).””

Selain itu, adanya anjuran membaca doa setelah sholat Subuh pernah diungkap oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya. Sebab, Rasulullah SAW tidak suka dengan perilaku tidur setelah sholat Subuh.

إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه

Artinya: “Sungguh jika aku mendengar bahwa seseorang itu tidur di waktu pagi maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya.” (HR Ibnu Abi Syaibah).

Doa setelah Sholat Subuh dan Artinya agar Dimudahkan Rezeki

Berikut adalah bacaan doa yang bisa dibaca setelah sholat Subuh, bacaannya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

Arab latin: “Allahumma inni ashbathu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika wa malaikatika wa jami’a khalqika annaka antallahu la ilaha illa anta wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasuluka.”

Artinya: “Ya Allah, aku telah berpagi, aku persaksikan Engkau, dan aku persaksikan kandungan ‘arys-Mu, malaikat-malaikat-Mu serta seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan selain-Mu dan sesungguhnya Muhammad (SAW) adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu. (HR Abu Daud, Sunan Abi Dawud, Kitab Al-Adab, Bab Ma Yaqulu Idza Ashbaha, nomor: 4407).

Selain doa di atas, dikutip dari buku Amalan-amalan untuk Mempercepat Datangnya Rezeki karya Nasrudin dijelaskan terdapat doa agar mendapatkan rezeki yang tak pernah putus yang bisa diamalkan juga setelah melakukan sholat Subuh, yaitu:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ رَزَقَنِيْ هَذَا مِنْ خَيْرٍ حَوْلٍ مِنِّي وَلَاقُوَّةٍ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ.

Arab latin: “Alhamdu lillaahil ladzii rozaqonii haadzaa min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin, Alloohumma baarik fiihi.”

Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan rezeki kepadaku dengan tidak ada daya dan kekuatan bagiku. Ya Allah, semoga Engkau berkahi rezeki kepunyaanku.”

Itu adalah pembahasan kali ini mengenai doa setelah sholat Subuh agar dimudahkan rezeki oleh Allah SWT. Semoga kita dapat selalu melaksanakannya agar mendapatkan keberkahan dari kasih-Nya.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Dijauhkan dari Sifat Takabur, Yuk Baca Setiap Hari!



Jakarta

Istilah takabur berasal dari bahasa Arab takkabbara-yatakabbaru yang artinya sombong atau membanggakan diri. Takabur merupakan sifat yang buruk dan harus dihindari, salah satunya dengan berdoa memohon perlindungan Allah SWT.

Takabur sering kali diartikan sebagai sikap mental dan perbuatan yang merasa dirinya lebih benar, lebih tinggi, lebih pandai, atau lebih segalanya dan memandang orang lain lebih rendah dan buruk.

Orang yang takabur seringkali angkuh, merasa benar sendiri, dan keras kepala. Dalam seuat riwayat, Rasulullah SAW bersabda, “Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan menganggap hina kepada orang lain.” (HR. Muslim).


Macam-Macam Sifat Takabur

Berdasarkan buku Para Musuh Allah: Golongan Manusia yang Menjadi Musuh Allah di Akhirat yang disusun oleh Rizem Aizid, terdapat dua macam sifat takabur, yakni takabur batin dan takabur zhahir.

Takabur batin merupakan akhlak (sifat) dalam jiwa, yaitu kecenderungan memandang diri sendiri lebih tinggi dari orang lain. Sementara takabur zhahir merupakan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh organ-organ tubuh, dan perbuatan tersebut merupakan buah dari akhlak.

Adapun apabila dilihat berdasarkan objeknya, takabur dapat dibagi menjadi tiga yakni takabur terhadap Allah, takabur terhadap Rasulullah, dan takabur terhadap manusia. Takabur terhadap Allah adalah perbuatan yang paling tercela.

Dengan melanggar perintah-Nya, menyekutukan-Nya, dan juga mengingkari-Nya dengan tidak mau mengakui segala kebaikan dari Allah, maka seorang muslim akan dianggap sebagai musuh-Nya dan tidak mendapatkan rahmat dari-Nya.

Sama halnya dengan takabur terhadap Rasulullah selaku utusan Allah. Apabila seorang muslim tidak mau menuruti sunnah dan ajaran dari Rasulullah, maka ia akan dianggap sebagai musuh Allah juga.

Sedangkan takabur terhadap manusia sama saja dengan melawan ketetapan Allah. Semua derajat manusia sama di mata Allah, yang membedakan hanya ketakwaan dan keimanan. Apabila merasa lebih daripada manusia yang lain, maka ia juga dianggap sebagai musuh Allah.

Dampak Buruk Sifat Takabur

Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin menyebutkan bahwa takabur akan menjadi penghalang jalan menuju surga karena takabur menghalangi seseorang dengan sifat orang-orang mukmin. Sifat orang mukmin yakni mencintai dengan tulus dan rendah hati. Orang yang takabur dianggap tidak sanggup tawadhu’, tidak meninggalkan rasa iri dengki.

Takabur juga merupakan sifat iblis. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa iblis tidak mau melaksanakan perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam AS. Iblis merasa dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam AS diciptakan dari tanah.

Seseorang yang takabur juga cenderung meremehkan perkara ibadah. Bahkan hal-hal yang sifatnya wajib kerap kali ditinggalkan karena merasa dirinya sudah hebat dan mampu hidup dalam kenyamanan tanpa bantuan dari Allah. Padahal, rezeki yang didapat semata-mata adalah pemberian Allah.

Muslim yang memelihara sifat takabur tidak akan memiliki daya di akhirat, seperti kawanan semut yang mudah diinjak orang. Hal tersebut sebagaimana riwayat dari At Tirmidzi, Ahmad, Al-Baghawi, dan Ibnul Mubarak, “Orang-orang yang lalai dan sombong akan dihimpun pada hari kiamat dalam rupa semut. Orang-orang menginjak-injak mereka karena kehinaan diri mereka di hadapan Allah.”

Dikarenakan membawa banyak mudharat, Allah bahkan telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 18, terkait larangan bersifat takabur.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Artinya: Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.

Allah mencoba menegaskan pada hamba-Nya bahwa takabur adalah sifat tercela yang tidak pantas dilakukan. Bagaimanapun, Allah telah mengutus Rasulullah sebagai pembimbing umat muslim ke jalan yang benar. Hendaknya, sifat yang diteladani adalah sifat-sifat Rasulullah.

Doa Agar Dijauhkan dari Sifat Takabur

Untuk menghindari sifat takabur, Rasulullah menganjurkan rutin membaca doa untuk tetap bersikap tawadhu’, obat dari takabur. Berikut ini adalah lafadz doa agar dijauhkan dari sifat takabur.

اَللّٰهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِيْنًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِيْ زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Arab-latin: Allahuma ahyini miskinan, wa amitni miskinan, wahsyurni fi zumratil masakin

Artinya: Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu dan rendah hati, dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu dan rendah hati, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu dan rendah hati.

Umat muslim juga dapat mengamalkan doa Nabi Musa yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al Ghafir ayat 27,

وَقَالَ مُوْسٰىٓ اِنِّيْ عُذْتُ بِرَبِّيْ وَرَبِّكُمْ مِّنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَّا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ

Arab-latin: Wa qāla mụsā innī ‘użtu birabbī wa rabbikum ming kulli mutakabbiril lā yu`minu biyaumil-ḥisāb

Artinya: Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”

Demikian penjelasan terkait takabur, macam-macam takabur, dampak buruk takabur, hingga bacaan doa agar terhindar dari takabur. Semoga kita semua dapat menjaga sikap tawadhu’ yakni rendah hati dalam situasi apapun sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Hadits Para Nabi Masih Hidup di Alam Kubur, Apa Maksudnya?



Jakarta

Salah satu riwayat shahih menyebutkan bahwa para nabi masih hidup di dalam kubur mereka. Para Nabi tersebut disebutkan sedang dalam keadaan mengerjakan salat.

Hadits yang menjelaskan hal itu bersumber dari sahabat Anas bin Malik RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW. Berikut bacaan hadits yang kemudian dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah,

الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون


Artinya: “Para nabi itu hidup di dalam kubur mereka dalam keadaan mengerjakan salat.” (HR Abu Ya’ala dalam Kitab Masma’u Al Zawa’id)

Dalam riwayat lain juga disebutkan hal serupa sebagaimana Nabi Musa AS pernah disaksikan oleh Rasulullah SAW sedang mengerjakan salat dalam kuburnya. Dari sahabat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda,

مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ

Artinya: “Aku melewati Musa AS pada malam Isra di samping bukit pasir yang berwarna merah dalam keadaan berdiri mengerjakan salat dalam kuburnya.” (HR Muslim)

Berkenaan dengan amalan yang dilakukan para nabi tersebut, Anas bin Malik RA juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW yang pernah berkata pada sahabatnya, “Para nabi tidak dibiarkan di dalam kubur mereka setelah empat puluh hari, tetapi mereka bersembah sujud di hadapan Allah SWT hingga saat sangkakala ditiup (pada hari kiamat).”

Al Baihaqi berpendapat seperti diterjemahkan A. Shihabuddin dalam buku Membongkar Kejumudan bahwa hadits-hadits di atas bersanad shahih. Ia berkata bahwa kehidupan para nabi setelah wafat memang sudah banyak diberitakan oleh hadits shahih.

Selain itu, Ibnu Taimiyah menambahkan, Nabi Musa AS yang dilihat Rasulullah SAW mengamalkan salat di dalam kubur dan saat melewati lapisan langit ketika Isra Mi’raj bukanlah suatu fakta yang bertentangan. Sebab, sosok yang dilihat Rasulullah SAW itu adalah roh dari Nabi Musa AS yang disetarakan dengan keadaan malaikat.

“Roh itu kondisinya sama halnya dengan malaikat yang dalam sekejap dapat naik dan turun, kondisi roh itu tidaklah sama dengan kondisi badan,” terang Ibnu Taimiyah.

Senada dengan itu, dalam buku Tanya Jawab Islam yang disusun oleh Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah KTB (PISS-KTB) menjelaskan, roh yang mendominasi keadaan para nabi di alam kubur sebagaimana jasad yang mendominasi saat dalam keadaan hidup di dunia. Mereka dapat berpindah dengan cepat seperti kasus Nabi Musa AS yang dilihat oleh Rasulullah SAW.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam buku Ibrahim menjelaskan, sudah sepatutnya bagi muslim cukup mengimani sabda Rasulullah SAW dalam hadits tersebut tanpa mempertanyakan caranya. Namun, keimanan tersebut perlu diiringi dengan keyakinan bahwa kehidupan para nabi yang dimaksud adalah kehidupan alam barzakh bukan alam dunia.

Sebab itu pula, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menegaskan, tidak dibenarkan bila muslim meminta bantuan atau segala bentuk permintaan apapun kepada para nabi tersebut di dalam kubur. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Yunus ayat 106,

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya: “Janganlah engkau sembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu, sebab jika engkau lakukan (yang demikian itu), sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”

(rah/kri)



Sumber : www.detik.com

2 Bacaan Doa Buka Puasa Ganti Bulan Ramadan, Arab, Latin dan Artinya



Yogyakarta

Salah satu sunnah saat berpuasa yaitu menyegerakan berbuka dengan membaca doa buka puasa. Waktu berbuka menjadi waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa.

Bahkan, Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk membaca doa ketika berbuka puasa, baik dengan doa buka puasa maupun doa-doa lainnya.

ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل والمظلوم


Artinya: “Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berdoa, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi.” (HR Tirmidzi).

Selain itu, dijelaskan oleh Ustaz Arifin Ibnu Jumani dalam buku Magnet Rezeki Keluarga, bahwasannya Rasulullah SAW pun menganjurkan umat muslim untuk menyegerakan waktu berbuka. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits berikut:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَلُوا الْفِطْرَ

Artinya: Sahl bin Said menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Saat melakukan puasa ganti bulan Ramadan atau puasa qadha, umat muslim juga dianjurkan membaca doa saat berbuka. Bacaan doa buka puasa ganti bulan Ramadan sama seperti bacaan doa buka puasa yang lainnya, berikut bacaannya:

Bacaan Doa Buka Puasa Ganti Bulan Ramadan

Dikutip dari buku Doa dan Zikir Makbul karya Abu Hurairah Abdul Salam, ada dua bacaan doa buka puasa ganti bulan Ramadan yang bisa diamalkan.

1. Doa Buka Puasa Versi Pertama

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin: Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in sya Allah.

Artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insyaAllah.”

2. Doa Buka Puasa Versi Kedua

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَي رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin: Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘ala rizqika afthortu bi rahmatika ya arhamar rahimin.

Artinya: “Ya Allah, hanya kepada-Mu hamba berpuasa, hanya kepada-Mu hamba percaya, dan hanya dengan rezeki dari-Mu hamba berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.”

Tata Cara Melaksanakan Puasa Qadha Ganti Bulan Ramadan

Berdasarkan buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-Hari dari Kandungan hingga Kematian yang ditulis oleh Dr. Muh. Hambali, berikut ini adalah beberapa tata cara melaksanakan puasa qadha ganti bulan Ramadan.

· Membaca niat puasa qadha di dalam hati dengan bacaan sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa-i fardhi ramadhaana lillahi ta’aalaa.

Artinya: “Saya niat berpuasa pada esok hari untuk mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

· Mempercepat waktu qadha, yaitu menyegerakan mengganti puasa bulan Ramadan yang dilakukan setelah bulan Ramadan sampai akhir bulan Sya’ban.

· Diperbolehkan mengganti puasa bulan Ramadan dengan cara berturut-turut maupun secara terpisah.

· Apabila seseorang tidak mengganti puasanya hingga masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya, padahal ia dalam keadaan mampu dan sempat, maka ia akan berdosa.

· Orang yang meninggal dunia dan belum sempat mengganti hutang puasanya di bulan Ramadan, padahal ia mampu, maka ahli warisnya wajib membayar tunggakan itu.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa Berbuka Puasa Ramadan Sendiri dan Bersama, Ini Bacaannya



Jakarta

Membaca doa berbuka puasa adalah adab sunnah dalam berbuka puasa. Belum lagi, berbuka puasa termasuk dari salah satu waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi,” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).


Dilansir dari buku Puasa Ibadah Kaya Makna karangan Dr. H. Miftah Faridl bahwa jelang berbuka, kita tetap diharapkan untuk dapat mengendalikan diri. Begitu adzan magrib berkumandang, kita telah diperbolehkan untuk berbuka dan menyantap apa saja kesukaan kita.

Namun, buku tersebut mengingatkan agar muslim tidak lupa berdoa serta mengucapkan rasa syukur atas kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita. Sebagaimana sebuah hadits yang dibahas dalam buku ini bahwa orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, salah satunya ketika tengah berbuka.

Dilansir melalui buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki karya KH. Sulaeman bin Muhammad Bahri, doa berbuka puasa adalah sebagai berikut.

Doa Berbuka Puasa Ramadan

ذَهَبَ الظُّلْماً وَابْتَلتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتِ الْأَحْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

Arab Latin: Dzahabazhzhamaa’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatil ajru insyaa allaahu ta’aalaa.

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi pertolongan kepadaku hingga aku dapat berpuasa dan memberikan rizki hingga aku dapat berbuka.”

Doa Berbuka Puasa Ramadan Bersama

أَفْطَرَ عندَكُمُ الصَّالِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ المَلائِكَةُ

Bacaan latin: Afthara ‘indakumush shaaimuuna wa akala tha’aamakumul abraaru washallat ‘alaikumul malaaikatu.

Artinya: “Berbukalah orang-orang yang berpuasa di tempat saudara ini dan makanlah makanan yang disuguhkan oleh orang-orang yang berbakti, dan para malaikat mendoakan saudara agar mendapat rahmat.”

Waktu Doa Berbuka Puasa

Mengutip Maryam Kinanti N dalam bukunya yang berjudul Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, dan Thibbun Nabawi, terdapat beberapa perbedaan di kalangan ulama terkait waktu membaca doa berbuka puasa. Sejumlah pendapat dari ulama menyatakan bahwa doa berbuka puasa dibaca setelah seseorang berbuka atau pertama kali membatalkan puasa dengan air, kurma, atau semacamnya.

Pendapat ini dilandaskan dari kata kerja yang tertera dalam doa berbuka puasa yang berbentuk lampau (fi’il madhy). Seperti dalam lafadz kedua yang artinya, “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”

Sementara itu, sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa doa berbuka puasa diucapkan sebelum berbuka puasa dan sebagian yang lain tidak menetapkan waktu yang tepat untuk membacanya.

Itulah pembahasan kali ini mengenai doa berbuka puasa. Semoga membantu mempersiapkan kita dalam menjalani ibadah puasa Ramadan.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa setelah Sholat Witir Lengkap Sesuai Sunnah



Jakarta

Sholat Witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari yang umumnya sebagai penutup qiyamul lail. Umat Islam bisa melanjutkan ibadah ini dengan membaca doa setelah sholat Witir.

Dalil pelaksanaan sholat Witir bersandar pada hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA. Ia berkata,

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ


Artinya: “Rasulullah mewasiatkan kepadaku tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan selama hidupku, yaitu sholat Dhuha, berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, dan sholat Witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jumlah rakaat sholat Witir paling sedikit satu rakaat. Menurut sebuah hadits yang berasal dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menjadikan sholat Witir sebagai penutup rangkaian sholat malam. Beliau SAW bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

Artinya: “Jadikan sholat malammu yang terakhir adalah sholat Witir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menurut Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri dalam Kitab al-Fiqhu al-Madzahib al-Arba’ah, al-Juz’ al-Awwal, Kitab ash-Shalah, sholat Witir memiliki dua waktu dalam pengerjaannya, yakni waktu ikhtiyari (waktu pilihan, luas) dan waktu dharuri (waktu darurat atau sempit).

Waktu ikhtiyari adalah setelah sholat Isya tepatnya setelah hilangnya mega merah hingga terbit fajar. Adapun, waktu dharuri adalah setelah terbit fajar hingga sempurnanya sholat Subuh. Mengerjakan sholat Witir pada waktu dharuri ini makruh hukumnya apabila tanpa ada suatu uzur.

Bagi orang yang mengerjakan sholat Witir pada permulaan malam kemudian bangun di akhir malam dan sholat sunnah, ia tidak perlu lagi mengerjakan sholat Witir, sebagaimana dijelaskan Hasan Ayub dalam Kitab Fikih Ibadah-nya.

Selanjutnya, umat Islam menutupnya dengan membaca doa setelah sholat Witir sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadits. Merangkum detikHikmah, berikut bacaan selengkapnya.

Doa setelah Sholat Witir Arab, Latin, dan Artinya

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ , سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ , سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ

Subhaanal malikil qudduus, Subhaanal malikil qudduus, Subhaanal malikil qudduus

Artinya: “Mahasuci Allah Raja Yang Maha Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Maha Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Mahasuci.” (Nabi mengangkat dan memanjangkan suaranya pada ucapan yang ketiga).” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Selain itu, ada versi lain bacaan doa setelah sholat Witir yang bersandar pada riwayat para penyusun Kitab Sunan. Berikut bacaannya,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Allahumma innii a’uudzu biridhooka min sakhothika, wa bimu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’uudzubika minka laa uhshii tsanaaan ‘alaika’, anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu, dan berlindung kepada-MU dari siksaan-Mu. Aku tidaklah mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau menyanjung atau memuji diri-Mu sendiri.” (HR Ash-Haabus Sunan, Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Sementara itu, menurut Kitab Majmu’ Syarif, doa setelah sholat Witir adalah sebagai berikut,

Subbuuhun qudduusur rabbunaa warabbul malaa’ikati war ruuh. Subhaanallaahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil azhiim

Artinya: “Mahasuci dan Mahakudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Roh. Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar. Dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

(kri/lus)



Sumber : www.detik.com