Tag Archives: rasulullah saw

Doa Tolak Bala di Bulan Safar, Bisa untuk Rebo Wekasan


Jakarta

Doa tolak bala di bulan Safar dapat diamalkan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar mendapat perlindungan diri dari segala bahaya, bencana alam, hingga segala bala. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan muslim untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat,

عَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

Artinya: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya qadha serta kesenangan musuh atas musibah yang menimpa kalian.” (HR Bukhari)


Di samping itu, firman Allah SWT dalam Al-Qur’an juga menganjurkan muslim untuk memohon pertolongan melalui doa. Salah satunya yang termaktub dalam surah Gafir ayat 60,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

3 Pilihan Doa Tolak Bala di Bulan Safar dan Artinya

1. Doa Tolak Bala Versi Pertama

Ustman bin Affan RA pernah mendengar Rasulullah SAW menganjurkan bacaan doa tolak bala berikut.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bacaan latin: Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i, wa huwassamii’ul ‘aliim

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang dengan sebab nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan (mendatangkan mudharat). Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

2. Doa Tolak Bala Versi Kedua

Dinukil dari laman Kemenag Kanwil Surabaya, doa tolak bala lainnya yang dapat dipanjatkan adalah sebagai berikut,

اللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَسِرِّ الْفَاتِحَةِ يَا فَارِجَ الْهَمِّ وَيَاكَاشِفَ الْغَمِّ، يَامَنْ لِعِبَادِهِ يَغْفِرُوَيَرْحَمُ، يَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَا اَللّٰهُ، وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحْمٰنُ وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحِيْمُ

Bacaan latin: Allohumma bihaqqil fatihah, wasirril fatihah, yaa faarijal hamma, wa yaa kasyifal ghomma, yaa man li ibaadihi yaghfiru wa yarham, yaa dafi’al bala-i yaa allah, wa yaa dafi’al bala-i ya rohman, wa yaa dafi’al bala-i yaa rohiim.

Artinya: “Ya Allah, dengan kebenaran Al-Fatihah dan rahasia Al-Fatihah, Wahai sang pembedah kegelisahan. Wahai Sang Penyingkap Kebingugnan. Wahai Dzat yang mengampuni dan mengasihi para hamba-Nya, Wahai Sang Penolak Bala, Ya Allah. Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai Sang Penolak Bala, Tuhan Yang Maha Penyayang,”

3. Doa Tolak Bala Versi Ketiga

Ada juga doa tolak bala yang sering kita dengar dibaca usai salat berjamaah. Doa tersebut berbunyi,

اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ القُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ العَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الجَنَّةِ اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَاوَعَذَابَ الآخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

Bacaan latin: Allāhummaftah lanā abwābal khair, wa abwābal barakah, wa abwāban ni’mah, wa abwābar rizqi, wa abwābal quwwah, wa abwābas shihhah, wa abwābas salāmah, wa wa abwābal ‘āfiyah, wa abwābal jannah. Allāhumma ‘āfinā min kulli balā’id duniyā wa ‘adzābil ākhirah, washrif ‘annā bi haqqil Qur’ānil ‘azhīm wa nabiiyikal karīm syarrad duniyā wa ‘adzābal ākhirah. Ghafarallāhu lanā wa lahum bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūn, wa salāmun ‘alal mursalīn, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Artinya: “Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak Al Quran yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai, zat yang maha pengasih. Maha suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”

Doa tolak bala di bulan Safar ini dapat diamalkan dalam tradisi Rebo Wekasan. Dikutip dari buku Kitab Doa-Doa Tolak Bala oleh Siti Nur Aidah, tradisi tersebut berkembang di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura pada Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Masyarakat setempat meyakini, tradisi Rebo Wekasan dapat menolak bala atau bencana yang ada di daerah mereka. Bahkan, pendapat Syekh Abdul Hamid Kudus dalam kitab Kanzun Najah was Surur tentang adanya musibah dan kesialan pada hari Rabu terakhir bulan Safar menjadi dasar dilakukannya ritual Rebo Wekasan.

Meski tidak ada dalam tuntunan sunnah, tradisi tersebut juga dapat dijadikan momen untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Khususnya dalam hal memohon perlindungan kepada-Nya.

(rah/erd)



Sumber : www.detik.com

Tanda Doa Dikabulkan Allah SWT Menurut Ulama


Jakarta

Pada hakikatnya, semua doa didengar oleh Allah SWT. Sebab, sebagaimana disebutkan dalam salah satu firman-Nya surah Gafir ayat 60, Allah SWT menyukai orang-orang yang berdoa dan memohon kepada-Nya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”


Hal serupa juga disebutkan dalam ayat lain yakni surah Al Baqarah ayat 186,

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Artinya: Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Dikutip dari Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar, Rasulullah SAW dalam hadits shahihnya pernah menekankan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa dari setiap muslim. Hal ini dijelaskan oleh salah satu riwayat dari Ubbadah bin Ash-Shamit dalam Sunan At-Tirmidzi.

“Tidak ada seorang muslim pun di dunia ini yang berdoa kepada Allah dengan suatu permohonan, kecuali Allah akan memberikan permohonan itu atau menggantinya dengan perlindungan dari sesuatu yang tidak diinginkan, selama dia tidak berdoa dengan dosa atau memutuskan hubungan silaturahmi.” Seorang pria bertanya, ‘Apakah artinya kita harus semakin banyak berdoa?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Allah justru lebih banyak memberi.’ (HR Tirmidzi)

Tanda Doa Dikabulkan Allah SWT

Menurut Sa`id Ibn al-Musayyab dalam Dar Al-Ifta Al-Misriyyah, Allah SWT memberi pentujuk bila doa dan ibadah yang diamalkan oleh kita diterima-Nya. Salah satunya terlihat saat muslim senantiasa melakukan ketaatan setelah ketaatan lainnya.

“Misalnya, jika seseorang (ibadah) salat Dzuhur, kemudian ada keinginan melanjutkan untuk menunaikan salat Ashar, maka itu tandanya salat Dzuhur-nya diterima karena Allah telah membimbingnya untuk menunaikan ketaatan berikutnya setelah yang pertama,” jelasnya.

Tanda lain bahwa doa dikabulkan Allah SWT menurut Sa’id Ibn al-Musayyab adalah senantiasa berhusnuzan atau berprasangka baik kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang berbunyi, “Aku seperti yang prasangka hamba-Ku,” (HR Muttafaq’alaih)

Selain itu, beberapa tanda doa dikabulkan Allah SWT juga pernah disebutkan oleh Syaikh Abdullah Hajjaj yang diterjemahkan Haidar Musyafa dalam buku Hidup Berkah dengan Doa. Berikut di antaranya:

1. Semakin merasa takut pada Allah SWT. Sebab, hanya orang-orang yang beriman dan bertakwa pada Allah SWT yang selalu merasa takut kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 9,

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Artinya: Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).

2. Hati semakin tenteram, damai, dan yakin. Hal itu pun membuatnya semakin rajin memuji dan mengagungkan-Nya melalui zikir dan melafalkan kalimat yang disukai Allah SWT.

3. Menjadi pribadi yang cekatan dalam bertindak hingga cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Orang yang dikabulkan doanya maka ia telah dekat dengan Allah SWT sehingga segala yang dilakukannya sesuai dengan ajaran-Nya.

4. Semakin dermawan sebagai bukti rasa syukur kepada Allah SWT.

5. Semakin bersyukur kepada Allah SWT.

Allah SWT memiliki cara tersendiri untuk mengabulkan doa-doa dari hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Rasulullah SAW dalam haditsnya menjelaskan beberapa cara Allah mengabulkan permintaan dari hamba-Nya.

Dari Abu Sa’id, Rasulullah SAW bersabda bahwa ada doa yang langsung dikabulkan, ada doa yang disimpan di akhirat, dan ada doa yang diganti untuk menghindarkan keburukan baginya. Berikut bunyi haditsnya,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Rasulullah lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR Ahmad)

Syaikh Bakar Abdul Hafizh Al-Khulaifat dalam Tafsir dan Makna Doa-doa dalam Al Quran menyebut, doa adalah meminta pertolongan dan memohon. Dari segi istilah, doa bermakna ibadah.

Doa juga dikatakan sebagai perkataan yang dipanjatkan untuk menunjukkan rasa memohon dengan ketundukan hati. Adapun hakikat dari doa adalah suatu permohonan pertolongan dari seorang hamba kepada Allah SWT.

(rah/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa untuk Orang Sakit, Sesuai Ajaran Rasulullah SAW



Jakarta

Menjenguk dan mendoakan orang sakit merupakan anjuran yang diajarkan Rasulullah SAW. Saat menjenguk ini juga bisa dibarengi doa untuk memohon kesembuhan.

Ujian dari Allah SWT sangat beragam bentuknya, termasuk dalam bentuk sakit. Seorang muslim yang mengalami sakit patut tetap bersyukur dan bersabar karena ujian Allah SWT ini pasti membuahkan hikmah.

Menjenguk saudara atau kerabat yang sakit merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW. Dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan sejumlah riwayat yang menceritakan Rasulullah SAW saat menjenguk sahabatnya yang sakit.


Ketika menjenguk kerabat yang sakit, Rasulullah SAW mendoakan kesembuhan dengan berbagai doa yang dibacakan untuk mengharapkan kesembuhannya.

Doa Rasulullah SAW untuk Kesembuhan Orang Sakit

Ada beberapa doa yang dibacakan Rasulullah SAW untuk mengharap kesembuhan orang yang sakit.

Doa ini sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

Arab latin: Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman.

Artinya, “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.”

Dalam riwayat lain, sebagaimana dilansir dari laman NU Online, Rasulullah SAW membaca doa ini ketika meruqyah salah seorang sahabat.

امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِك الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا أَنْتَ

Arab latin: Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta.

Artinya, “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Engkau.”

Abu Dawud dan At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan baca doa berikut ini sebanyak 7 kali di hadapan orang yang sakit. Dengan doa ini, diharapkan bahwa Allah SWT akan mengangkat penyakit yang diderita orang tersebut.

أَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَ العَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Arab latin: As’alullāhal azhīma rabbal ‘arsyil ‘azhīmi an yassfiyaka.

Artinya, “Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu.”

Doa ini dapat dilafalkan sambil menyebut nama orang yang sakit. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah SAW saat menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash sebagaimana riwayat Imam Muslim berikut.

اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا

Arab Latin: Allāhummasyfi Sa’dan. Allāhummasyfi Sa’dan. Allāhummasyfi Sa’dan.

Artinya, “Tuhanku, sembuhkan Sa’ad. Tuhanku, sembuhkan Sa’ad. Tuhanku, sembuhkan Sa’ad,”

Lafal nama Sa’ad bisa diganti dengan nama orang yang sakit.

Rasulullah SAW juga membacakan doa ketika menjenguk seorang badui yang menderita demam. Dalam riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA.

لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ

Arab latin: Lā ba’sa thahūrun insyā’allāhu.

Artinya, “(Semoga) tidak apa-apa (sakit), semoga suci dengan kehendak Allah,”

Doa Mohon Diampuni Dosa

Sakit merupakan ujian sekaligus penggugur dosa. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 155-156:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ . ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Artinya: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Mereka itu mendapat keberkatan dari Tuhannya dan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Selain doa memohon kesembuhan, dapat juga membaca doa untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Doa ini dibaca oleh Rasulullah SAW ketika menjenguk sahabat Salman Al-Farisi RA sebagaimana riwayat Ibnu Sunni

شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

Arab latin: Syafākallāhu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘āfāka fī dīnika wa jismika ilā muddati ajalika.

Artinya, “Wahai (sebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia.”

Keutamaan Orang yang Sakit

Mengutip buku Sakit Menguatkan Iman yang disusun oleh Prof KH Alie Yafei dkk, disebutkan bahwa sakitnya seorang muslim yang beriman dapat membawa beberapa keutamaan.

Berikut beberapa keutamaan yang diperoleh orang yang sakit:

1. Doa orang sakit mustajab

Doa orang yang sakit termasuk doa yang mustajab sebagaimana doa malaikat.

Dari Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu datang mengunjungi si sakit, maka mintalah ia berdoa untukmu karena doanya seperti doa malaikat (yakni besar kemungkian dikabulkan).” (HR Ibnu Majah)

2. Balasan surga bagi orang yang sakit pada mata

Bagi orang yang menderita sakit atau cacat mata dan ia bersabar, maka Allah SWT menjanjikan balasannya, yaitu surga.

Firman Allah dalam hadits Qudsi:
“Jika Aku menguji hamba-Ku dengan (menghilangkan penglihatan) kedua mata yang sangat dicintainya kemudian ia sabar, Aku akan menggantinya dengan surga.” (HR Ahmad dari Anas dan Thabrani yang bersumber dari Jarir ra.)

Baihaqi meriwayatkan dari Anas ra. bahwa pada suatu waktu, Abdullah bin Ummi Makhtum (seorang sahabat yang tunanetra) datang berkunjung kepada Rasulullah SAW yang sedang duduk bersama sahabat-sahabat yang lain. Rasulullah SAW bersabda,

“Inginkah kalian mendengar apa yang diceritakan Jibril kepadaku? Sesungguhnya Allah berfirman, “Hak pahala bagi orang yang telah kuambil penglihatan kedua matanya yang sangat dimuliakannya tidak lain adalah surga.”

3. Dijadikan penduduk surga

Orang yang bersabar dengan penyakit yang dideritanya termasuk penduduk surga. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Atha bin Ribah bahwa Ibnu Abbas bertanya kepadanya: “Inginkah kamu melihat wanita penduduk surga”? Jawabku, “Tentu saja.”

Kata Ibnu Abbas, “Nah wanita hitam itu, ia pernah datang mengadu kepada Nabi SAW, “Saya ini sering jatuh pingsan dan terbuka aibku, maka doakanlah untukku agar Allah menyembuhkanku.” Ujar Nabi SAW, Jika kamu mau, kamu terima itu dengan sabar, dan sebagai ganjarannya kamu mendapat surga. Atau kalau tidak, saya doakan agar Allah menyembuhkanmu.

Ujar wanita itu, ‘Saya akan bersabar, tetapi saya sering terbuka aib saya kalau pingsan, maka doakanlah untukku agar aibku tidak tersingkap.’ Lalu Nabi mendoakan untuknya.”

4. Dicatat kebaikan pahala saat sedang sakit

Bagi orang yang biasa mengerjakan kebaikan semasa lapang dan sehatnya, akan tetap dicatatkan untuknya pahala kebaikannya jika ia berhalangan mengerjakannya karena sakit.

Firman Allah SWT kepada para malaikat dalam hadits Qudsi:
“Jika Aku menguji salah seorang hamba-Ku yang beriman, lalu ia memuji-Ku atas ujian itu, maka berilah dia pahala sebagaimana pahala yang biasa kalian berikan kepadanya.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Sangat besar rahmat dan karunia Allah SWT bagi orang-orang beriman yang sabar saat diuji dengan sakit.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Wasiat Rasulullah SAW: Jangan Marah, Bagimu Surga



Jakarta

Ada pesan dari Rasulullah SAW untuk semua umat Islam. Beliau berpesan agar muslim dapat menahan amarahnya karena ada balasan surga dari Allah SWT di baliknya.

Keterangan tersebut bersumber dari hadits dalam Kitab Al Mu’jamul Ausath Nomor 2374. Berdasarkan hal itu, Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ


Artinya: “Jangan kamu marah, maka bagimu Surga (akan masuk Surga).” (HR Ath-Thabrani)

Rasulullah SAW bahkan pernah menyebut, orang yang paling dianggapnya kuat dan perkasa adalah orang yang mampu menahan amarahnya (HR Muslim).

Dalam Islam, marah adalah perbuatan yang dilarang karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berpendapat, kondisi seseorang yang marah merupakan pintu bagi setan untuk memasuki hati seseorang dan menguasainya.

“Saat setan telah menguasai hati kita melalui pintu amarah, segalanya akan berubah menjadi kacau dan kita kehilangan fungsi pengendalian diri, sepenuhnya dikuasai atas kehendak setan,” jelasnya yang diterjemahkan ‘Aabidah Ummu ‘Aziizah dkk dalam buku Kuliah Adab.

Menahan Diri dari Amarah

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang jarang marah maupun berkata kasar. Diceritakan dalam riwayat hadits dari Al Hasan bin Ali yang bersumber dari pamannya, diketahui, amarah Rasulullah SAW biasanya dialihkan dengan memalingkan wajah.

Selain itu, Rasulullah SAW pernah menganjurkan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meredam amarah. Dikutip dari buku Merajut Kehidupan karya Muhammad Tafsir, langkah pertama adalah membaca Ta’awudz untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar tidak terpengaruh oleh setan.

“Sesungguhnya aku tahu satu perkataan apabila dibaca tentu akan menghilangkan rasa marahnya, jika ia ingin membacanya, ‘A’udzubillahi minas-syaithani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya kemarahan yang dialaminya hilang.'” (HR Bukhari)

Kedua, ketika amarah membara, menahan lisan untuk tidak berkata dan berbicara merupakan langkah terbaik. Imam Ahmad meriwayatkan hadits, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR Ahmad)

Selanjutnya, Rasulullah SAW menyarankan bagi seorang yang sedang marah untuk mengambil wudhu, karena emosi itu akan padam karena terkena air. Dari Athiyyah as-Sa’di RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR Abu Dawud)

Terakhir, orang yang merasa marah dapat segera mengubah posisi badan. Dengan kata lain, Bila seseorang marah saat berdiri maka duduk menjadi posisi paling pas untuk meredakannya. Namun bila duduk tidak mempan juga maka disarankan untuk berbaring.

Dari Abu Dzarr RA, Nabi SAW bersabda, “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR Abu Dawud)

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Maulid Nabi Muhammad Arab, Latin, dan Artinya


Jakarta

Sebentar lagi umat Islam akan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, yakni pada 12 Rabiul Awal. Dalam menyambut hari tersebut, umat Islam bisa memanjatkan bacaan doa Maulid Nabi Muhammad SAW.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW biasa disebut dengan Maulid Nabi. Semua umat Islam mengetahui bahwa hari ini diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal. Orang-orang bahkan sudah merayakannya sejak awal bulan Rabiul Awal, jelas Yusuf Al-Qaradhawi dalam Ibnul Qaryah wal Kuttab, Malamih Sirah wa masirah.

Perayaan Maulid Nabi dilakukan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari menyedekahkan makanan atau sembako kepada orang sekitar, membacakan kisah-kisah semasa hidup Rasulullah SAW, ataupun dengan membaca doa Maulid Nabi Muhammad SAW.


Doa yang dipanjatkan ketika memperingati hari lahir Rasulullah SAW biasanya berupa sholawat. Bacaan sholawat itu bisa berupa sholawat Maulid Simtudduror, Maulid Ad-Diba’i, Maulid Al-Barzanji, Maulid Azab, sholawat Bushairi, dan Maulid Ad Diya’ullami, seperti dijelaskan dalam buku Berkah Pena Bertinta Emas karya Zainal Ilmi.

Bacaan Doa Maulid Nabi Muhammad: Sholawat Maulid Simtudduror

Dinukil dari buku yang berjudul Kitab Shalawat Terbaik & Terlengkap oleh Ustadz Rusdianto, berikut bacaan sholawat Maulid Simthud Durar.

Sholawat Pembuka

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bismillahirrahmanirrahim

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

مَا لَاحَ فِي الْأُفْقِ نُورُ كَوْكَبٌ

Latin: Maa laaha fil ufuqi nuuru kaukab

Artinya: Selama cahaya bintang bersinar di ufuk

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

الْفَاتِحِ الْخَاتِمِ الْمُقَرَّبْ

Latin: Al-faatihil khaatimil muqarrab

Artinya: Pemuka, penutup, dan hamba yang didekatkan

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

الْمُصْطَفَى الْمُجْتَى الْمُحَبَّبْ

Latin: Al-mushthafal mujtabal muhabbab

Artinya: Insan pilihan dan hamba yang terkasih

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

مَا لَاحَ بَدْرُ وَغَابَ غَيْهَبْ

Latin: Maa laaha badrun wa ghaaba ghaihab

Artinya: Selama bulan purnama bersinar dan kegelapan hilang

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

مَا رِيحُ نَصْرِ بِالنَّصْرِ قَدْ هَبْ

Latin: Maa riiha nashrin bin nashri qad hab

Artinya: Selama angin pertolongan menghembuskan pertolongan

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

مَا سَارَتِ الْعِيْسُ بَطْنَ سَبْسَبْ

Latin: Maa saaratil ‘iisu bathna sabsab

Artinya: Selama unta masih berjalan di padang sahara

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَكُلِّ مَنْ لِلْحَبِيْبِ يُنْسَبْ

Latin: Wa kuli man lilhabiibi yunsab

Artinya: Dan, setiap orang yang bernasab kepada beliau

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَكُلِّ مَنْ لِلنَّبِي يَصْحَبْ

Latin: Wa kuli man linnabiyyi yash-hab

Artinya: Dan, setiap orang yang menjadi sahabat beliau

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَاغْفِرْ وَسَامِحْ مَنْ كَانَ أَذْنَبْ

Latin: Waghfir wa saamih man kaana adznab

Artinya: Ampunilah dan maafkanlah orang yang telah berbuat dosa

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَبَلَّغِ الْكُلَّ كُلَّ مَطْلَبْ

Latin: Wa ballighil kulla kulla mathlab

Artinya: Dan, sampaikanlah semuanya kepada segala yang diinginkan

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَاسْلُكْ بِنَا رَبِّ خَيْرَ مَذْهَبْ

Latin: Wasluk binaa rabbi khaira madzhab

Artinya: Dan, tempuhkanlah untuk kami jalan yang terbaik, ya Tuhan

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَاصْلِحْ وَسَهَلْ مَا قَدْ تَصَعَبْ

Latin: Washlih wa sahhil maa qad tasha’ab

Artinya: Perbaikilah dan mudahkanlah segala yang sulit

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

أَعْلَى الْبَرَايَا جَاهَا وَأَرْحَبْ

Latin: A’lal baraayaa jaahan wa arhab

Artinya: Makhluk yang tertinggi dan terluas kedudukannya

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

أَصْدَقِ عَبْدِ بِالحَق أَعْرَبُ

Latin: Ashdaqi ‘abdin bil haqqi a’rab

Artinya: Hamba yang paling jujur yang menyampaikan kebenaran

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

خَيْرِ الْوَرَى مَنْهَجًا وَأَصْوَبْ

Latin: Khairil waraa manhajan wa ashwab

Artinya: Manusia yang paling baik dan benar manhajnya

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

مَا ظَيْرَ يُمْن عَنِّى فَأَطْرَبْ

Latin: Maa thaira yumnin ghan-nan fa athrab

Artinya: Selama burung keberkahan berdendang dan bernyanyi

Sholawat Kedua

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

اَشْرَفِ بَدْرٍفِى الْكَوْنِ اَشْرَقْ

Latin: Asyrafi badrin fil kauni asyraq

Artinya: Bulan purnama termulia yang bersinar di semesta

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

اَكْرَمِ دَاعٍ يَدْعُوْ اِلَى الْحَقْ

Latin: Akrami daa’in yad’uu ilal-haq

Artinya: Penyeru terbaik yang mengajak kepada kebenaran

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

اَلْمُصْطَفَى الصَّادِقِ الْمُصَدَّقْ

Latin: Almushthafaash shaadiqil mushaddaq

Artinya: Insan pilihan, yang benar dan dibenarkan

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

اَحْلَى الْوَارَى مَنْطِقًاوَاَصْدَقْ

Latin: Ahlal waraa manthiqan wa ashdaq

Artinya: Manusia yang paling manis dan paling tutur katanya

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

اَفْضَلِ مَنْ بِالتُّقَى تَحَقَّقْ

Latin: Afdhali man bit tuqaa tahaqqaq

Artinya: Orang yang paling utama yang mewujudkan ketakwaan

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

مَنْ بِالسَّخَاوَالْوَفَاتَخَلَّقْ

Latin: Man bis sakhaa wal wafaa takhallaq

Artinya: Pemilik akhlak dermawan dan setia

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَاجْمَعْ مِنَ الشَّمْلِ مَاتَفَرَّقْ

Latin: Wajma’ minasy syaamli maa tafarraq

Artinya: Dan persatukanlah setiap yang tercerai dari kumpulannya

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَاصْلِحْ وَسَهّلْ مَاقَدْتَعَوَّقْ

Latin: Washlih wa sah-hil maa qad ta’awwaq

Artinya: Perbaiki dan mudahkanlah segala yang terhambat

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَافْتَحْ مِنَ الْخَيْرِكُلَّ مُغْلَقْ

Latin: Waftah minal khaairi kulla mughlaq

Artinya: Bukalah segala kebaikan yang terkunci

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَاَلِهِ وَمَنْ بِاٌلنَّبِيّ تَعَلَّقْ

Latin: Wa aalihi wa man bin-nabii ta’allaq

Artinya: Dan atas keluarganya serta yang cinta kepada Nabi

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَاَلِهِ وَمَنْ لِلْحَبِيْبِ يَعْشَقْ

Latin: Wa aalihi wa man lilhabbiib ya’syaq

Artinya: Dan atas keluarganya serta yang merindukan beliau

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

وَمَنْ بِحَبْلِ النَّبِيّ تَوَثَّقْ

Latin: Wa man bihablin nabii tawatstsaq

Artinya: Dan yang berpegang dengan tali Nabi

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدُ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaa muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad

يَارَبّ صَلّ عَلَيْهِ وَسَلّمْ

Latin: Yaa rabbi shalli ‘alaihi wa sallim

Artinya: Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada beliau

Selanjutnya dapat membacakan kisah Maulid Nabi.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

10 Hadits Tentang Anjuran Mengingat Kematian



Jakarta

Dalam Islam, kematian dianggap sebagai bagian alamiah dari kehidupan manusia, dan pemahaman yang mendalam tentang kematian memiliki dampak yang mendalam pada cara seseorang menjalani hidup, berinteraksi dengan sesama, dan berhubungan dengan Allah SWT.

Islam menganjurkan setiap muslim untuk selalu mengingat kematian yang ditulis dalam dalil.

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Jumu’ah ayat 8,


قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ ٨

Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

Hadits tentang Mengingat Kematian

1. Hadits Riwayat Athabrani

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi SAW lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan pebanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.”

2. Hadits Riwayat Ibnu Majah, Thabrani, dan Haitsamiy

Salah satu laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” “Mukmin manakah yang paling cerdas?”, tanya lelaki itu. Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

3. Hadits Riwayat At-Tirmidzi

Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan.” Maksudnya adalah kematian.

4. Hadits Riwayat Bukhari

“Rasulullah SAW menepuk kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau orang yang singgah dalam perjalanan.'” Ibnu Umar berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi. Dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore. Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, dan sewaktu engkau hidup untuk matimu.”

5. Hadits Riwayat Muslim

Rasulullah SAW bersabda, “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, tetapi sekarang berziarah kuburlah!”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsapa hendak berziarah kubur, maka silahkan ia berziarah. Sebab, ziarah kubur itu dapat mengingatkannya pada akhirat.”

6. Hadits Riwayat Al Qurthubi

Rasulullah SAW bersabda, “Kalau seandainya binatang ternak itu mengetahui apa yang kalian ketahui tentang kematian maka kalian tidak akan pernah makan dari binatang itu sekalipun lemaknya.”

7. Hadits Riwayat Al Baihaqi

Rasulullah SAW bersabda, ingatlah kalan akan kematian, sungguh demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya. Kalau seandainya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui tentang kematian itu niscaya kalian akan sedikit saja tertawa dan akan lebih banyak menangis.”

8. Hadits Riwayat Al Haitsami

Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah kematian itu menjadi peringatan bagi seorang hamba.”

9. Hadits Riwayat Al Hakim

“Penghargaan orang mu’min itu adalah kematian.”

10. Hadits Riwayat As Syaukani

Aisyah RA bertanya kepada Rasuullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah kelak pada hari kiamat kami akan dikumpulkan dengan para syuhada?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, yaitu orang-orang yang mengingat kematian dalam sehari-semalam sebanyak dua puluh kali.”

Keutamaan Mengingat Kematian

Dikutip dari buku Mawas diri, Muhasabah, Tafakkur dan Mengingat Mati: Seri Ringkasan Ihya’ Ulumuddin karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, dengan seorang muslim akan mendapatkan beberapa keutamaan berikut jika mengingat akan kematian:

  • Akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang serba menipu
  • Akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
  • Mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiyaan dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk kematian
  • Mengingat kematian akan membantu seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menjauhi larangan Allah SWT.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Hadits Tentang Sholat, Sebagai Penolong dan Penghapus Dosa



Jakarta

Sholat adalah ibadah wajib bagi umat muslim. Rasulullah SAW telah menjelaskan pentingnya sholat melalui beberapa hadits.

Sholat merupakan amalan yang pahalanya dihisab paling pertama. Perintah melaksanakan sholat termaktub dalam Al-Qur’an surat An Nisa ayat 103, Allah SWT berfirman

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا


Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Hadits tentang Sholat

Mengutip buku Sifat Shalat Nabi SAW oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin disebutkan sebuah hadits yang menjelaskan Rasulullah SAW sholat dengan menghadap Kakbah.

“Rasulullah SAW melaksanakan sholat wajib maupun sholat sunnah dengan menghadap Kakbah (kiblat). Beliau memerintahkan hal yang demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya sebagaimana sabdanya: “Apabila kamu hendak melakukan sholat, berwudhulah dengan sempurna kemudian menghadap kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Berikut beberapa hadits Rasulullah SAW tentang sholat dan keutamaannya:

1. Sholat sebagai penghibur jiwa

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat menjadi amalan yang bisa menjadi penyejuk hati dan penghibur jiwa. Berdasarkan hadits riwayat An-Nasa’i dan Ahmad Rasulullah SAW bersabda,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Artinya: dijadikan kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikan lah penyejuk hatiku dalam ibadah sholat.

Selain itu, Nabi Muhammad juga meminta sahabatnya Bilal untuk mendirikan sholat. Sebab, ibadah tersebut bisa membuat diri seseorang merasa tenang.

Dalam hadist riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW juga bersabda,

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

Artinya: Wahai Bilal, berdirilah. Nyamankan lah kami dengan mendirikan shalat.

2. Sholat sebagai penggugur dosa

Sebuah hadits Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat bisa membersihkan dosa.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟

Artinya: bagaimana pendapatmu jika di depan pintu rumahmu ada sungai, lalu Engkau mandi sehari lima kali? Apakah tersisa kotoran di badannya?

Para sahabat menjawab,

لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ

Artinya: tidak akan tersisa kotoran sedikit pun di badannya

Rasulullah SAW pun bersabda,

فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

Artinya: itu adalah permisalan untuk shalat lima waktu. Dengan sholat lima waktu, Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa (kecil).

3. Sholat sebagai penolong

Dalam hadist riwayat Abu Dawud, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ، صَلَّى
Artinya: dulu jika ada perkara yang menyusahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendirikan sholat.

Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 45 berfirman:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

Artinya: dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

4. Sholat memberikan banyak kebaikan

Sholat juga dapat memberikan banyak kebaikan bagi umat Islam. Berdasarkan hadist riwayat Ahmad, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW mengingatkan tentang sholat pada suatu hari, kemudian berkata,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

Artinya: Siapa saja yang menjaga sholat maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan, siapa saja yang tidak menjaga sholat, dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.

5. Sholat mencegah perbuatan buruk

Dalil dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabuut ayat 45, Allah SWT berfirman tentang keutamaan sholat untuk mencegah perbuatan buruk.

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian beberapa dalil hadits dan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sholat. Sebagai umat Islam sudah sepatutnya menjaga dan mendirikan sholat fardhu sebagai ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Hadits tentang Iman dan Ihsan, Saat Jibril Mendatangi Rasulullah SAW


Jakarta

Secara bahasa, iman artinya membenarkan. Dalam Islam, iman dikatakan sebagai satu dasar kepercayaan kaum muslimin.

Setidaknya ada 6 rukun iman yang wajib diyakini seperti dikatakan dalam surah An Nisa ayat 136,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab (Al Quran) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

Mengutip dari buku Islamologi: Arti Iman susunan Maulana Muhammad Ali, iman juga diartikan sebagai percaya. Akar katanya berasal dari amana yang berarti percaya.

Pengertian Iman juga disebutkan dalam hadits dari Umar bin Khatthab, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh Malaikat Jibril, Jibril bertanya pada Rasulullah,

“Beritahukanlah kepadaku apa itu iman.” Rasulullah menjawab, “Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim)

Selain iman, ada juga yang dinamakan ihsan. Ihsan diartikan sebagai kebaikan secara bahasa, sebagaimana dikutip dari buku Aqidah Akhlak oleh Taofik Yusmansyah.

Ilmuwan abad pertengahan, Al-Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ihsan lebih tinggi dari keadilan (keseimbangan antara memberi dan mengambil). Ihsan dikatakan sebagai sifat yang menjadikan pemiliknya memperlakukan orang lain dengan baik meskipun orang tersebut memperlakukannya dengan buruk.

Terkait iman dan ihsan ini juga tersemat dalam sebuah hadits. Seperti apa? Simak bahasannya berikut ini yang dirangkum dari arsip detikHikmah.

Hadits tentang Iman dan Ihsan

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata:

“Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, maka datanglah malaikat Jibril (dalam rupa seorang laki-laki) dan bertanya, apa iman itu? Nabi menjawab: engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, dan hari kebangkitan. Kemudian ia bertanya lagi, apa Islam itu? Nabi menjawab: engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, engkau mendirikan salat, menunaikan zakat, saum di bulan Ramadan dan menunaikan ibadah haji. Kemudian ia bertanya lagi, apa ihsan itu? Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu,” (HR Bukhari).

Hadits serupa dengan redaksi yang berbeda juga terdapat dalam riwayat Muslim. Dari Umar RA, ia berkata:

“Ketika kami berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Lalu, dia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya di atas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata, ‘Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam!’

Rasulullah menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.’

Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’ Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang iman!’

Rasulullah menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

Orang tadi berkata, ‘Engkau benar.’ Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan!’

Rasulullah menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.’

Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang kiamat!’

Rasulullah menjawab, ‘Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Selanjutnya orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!’

Rasulullah menjawab, ‘Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan putrinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lombalah mendirikan bangunan.’

Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Rasulullah berkata, ‘Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu,” (HR Muslim)

Apa Hubungan Iman dan Ihsan?

Selain iman dan ihsan, ada juga Islam. H Masan dalam buku Pendidikan Agama Islam mengatakan hubungan antara iman, Islam dan ihsan layaknya segitiga sama sisi.

Antara sisi satu dan lainnya memiliki hubungan yang sangat erat. Ia mengibaratkan takwa sebagai segitiga sama sisi, yang masing-masing sisinya terdiri dari iman, Islam, dan ihsan.

Demikian pembahasan mengenai hadits iman dan ihsan. Semoga bermanfaat.

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa setelah Sholat Isya dan Bacaan Dzikirnya


Jakarta

Ada bacaan doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah menyelesaikan sholat. Termasuk bacaan doa setelah sholat Isya.

Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berdoa kepada-Nya. Hal tersebut terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, salah satunya surah Al A’raf ayat 55,

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ ٥٥


Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Dzikir dan doa setelah sholat Isya dapat di amalkan oleh setiap muslim karena terdapat keutamaan yang mulia. Rasulullah SAW pernah ditanya, “Doa macam apakah yang paling didengarkan?” Beliau menjawab: “Bagian malam yang akhir setelah sholat fardu.” (HR Tirmidzi)

Bacaan Doa setelah Sholat Isya

Dikutip dari buku Panduan Lengkap Shalat Wajib dan Sunnah Serta Doa Sehari-hari karya Muhammad Fakhri, berikut bacaan doa setelah sholat isya yang dapat di amalkan oleh seorang muslim.

أَسْتَغْفِرُ الله العظيم x٣

Bacaan latin: Astaghfirullah 3x

Artinya: “Aku minta ampun kepada Allah.” (3x)

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

Bacaan latin: Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

Artinya: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدَّ مِنْكَ الجد.

Bacaan latin: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allahumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya, Allah. Tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”

لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النَّعْمَةُ وَ لَهُ الْفَضْلُ وَ لَهُ التَّنَاءُ الحَسَنُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينُ وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.

Bacaan latin: Laa ilaha wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa hawla laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyaah. Lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaaul hasan. Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir benci.”

سُبْحَانَ اللهِ ۳۳× . الْحَمْدُ لِلهِ ۳۳× اللهُ أَكْبَرُ ۳۳× . لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلَّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Bacaan latin: Subhanallah (33x) Alhamdulillah (33x) Allahu akbar (33 x) Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya: “Mahasuci Allah (33x), segala puji bagi Allah (33x), Allah Maha Besar (33x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

اللهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلُ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَ رُكُوعَنَا وَ سُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَ تَضَرُّعَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَعَبُدَنَا وَثَمُمْ تَقْصِيرَنَا يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيمُ.

Bacaan latin: Allaahumma rabbana taqabbal minnaa shalaatanaa washiyaamanaa warukuu’anaa wasujuudanaa waqu’uudanaa watadharru’anaa wa takhasysyu’anaa wata’abbudanaa wa tammim taqshiiranaa yaa Allaah yaa rahmaanu yaa rahiim,

Artinya: “Ya, Allah. Terimalah sholat kami, puasa kami, rukuk kami, sujud kami, duduk rebah kami, khusyuk kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama sholat, Ya, Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارَ، وَأَدْخِلْنَا الْجُنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

Bacaan latin: Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanataw wafil aakhirati hasanataw waqinaa ‘adzaabannaar. Wa adkhilnal jannata ma’al abraari yaa ‘aziizu gaffaar.

Artinya: “Ya, Allah kami. Berilah kami kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat dan jauhkan kami dari siksa api neraka. Dan masukanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Pengampun.”

Neni Nuraeni dalam buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar menyatakan bahwa dengan membaca zikir dan doa setelah sholat, seseorang akan mendapatkan keutamaan seperti diberikan ketenangan hatinya oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Ra’d ayat 28,

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ٢٨

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Tentang Hadits Qauli yang Bersumber dari Perkataan Nabi


Jakarta

Hadits merupakan hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Salah satu jenis hadits yang dikenal dalam ajaran Islam adalah hadits qauli.

Dikutip dari buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap oleh Rizem Aizid, dari segi bahasa, hadits bermakna kabar, berita, atau hal yang diberitakan secara turun-temurun. Sementara menurut istilah, hadits adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, baik perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan), atau hal yang sepadan dengannya.

Hadits Qauli dan Contohnya

Menurut buku Ilmu Memahami Hadits Nabi: Cara Praktis Menguasai Ulumul Hadits & Mustholah Hadits oleh KH. M. Ma’shum Zein, hadits qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan dari Nabi Muhammad SAW dalam bentuk perkataan atau ucapan. Isinya memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan yang berkaitan dengan keyakinan, syariat, akhlak dan lain sebagainya.


Hadits qauli meliputi semua perkataan Nabi Muhammad SAW yang diucapkan dalam berbagai bidang, mulai dari ranah hukum (syariat), akhlak, akidah, pendidikan, dan lain sebagainya. Berikut di antaranya beberapa hadits qauli.

1. Hadits Qauli dalam Bab Syariat

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung dengan niat dan bagi tiap-tiap orang menurut apa niatnya.”

Hadits ini mengandung hukum syariat tentang niat. Niat yang dimaksud merujuk pada kewajiban dalam segala amal perbuatan agar mendapat pengakuan sah dari syara’.

Contoh lainnya yakni:

الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ

Artinya: “(Air laut) itu suci dan dapat dipakai untuk bersuci serta halal bangkainya.”

2. Hadits Qauli dalam Bab Akhlak

نَضَّرَ اللَّهِ امْرَأَ سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلَغَهُ غَيْرَهُ فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهِ لَيْسَ بِفَقِيْهِ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهِ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ. ثَلَاثُ حِصَالٍ لاَ يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا إِخْلَاصُ الْعَمَلِ للَّهِ وَمُنَاصَحَةُ ولَاةِ الْأَمْرِ وَلُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ. رَوَاهَ أَحْمَدُ

Artinya: “Semoga Allah memberikan suatu kebaikan kepada orang yang telah mendengar perkataanku, lalu menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain. Sebab banyak orang berbicara tentang fiqh tapi ia bukan ahlinya. Ada tiga sifat yang karenanya tidak akan muncul rasa dengki dalam diri seorang muslim, yaitu ikhlas beramal semata-mata hanya kepada Allah Swt., menasihati, taat dan patuh kepada pihak penguasa dan setia terhadap jama’ah. Karena sesungguhnya doa mereka akan memberikan motivasi (dan menjaganya) dari belakang.” (HR Ahmad)

Hadits ini mengandung ajaran akhlak agar selalu berakhlak mulia, ikhlas, dan patuh kepada pimpinan.

3. Hadits Qauli dalam Bab Perbuatan Baik

Nabi Muhammad SAW mengatakan melalui hadits qaulinya kepada umatnya agar mau meninggalkan pekerjaan yang tiada gunanya demi membentuk pribadi muslim secara sempurna. Beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْيِ تَرُكْهُ مَا لَا يُعْنِيهِ (رَوَاهُ الثَّرْمُنِي)

Artinya: “Di antara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa- apa yang tidak bermanfaat.”

Demikian pengertian dari hadits qauli dan contohnya. Semoga bermanfaat.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com