Tag: stablecoin

  • XRP Menuju $2: Momentum RLUSD di Tengah Aturan Baru Stablecoin

    Harga XRP mulai menunjukkan tanda stabilisasi setelah sempat turun ke level $1,31 di tengah tekanan pasar kripto secara keseluruhan. Aset ini masih berada dalam tren melemah sejak mencapai puncaknya di sekitar $2,40 pada Januari lalu. Namun, munculnya regulasi baru melalui draft CLARITY Act mulai mengubah sentimen pasar, khususnya terkait persaingan stablecoin.

    Tekanan pasar terbaru dipicu oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed setelah rilis data tenaga kerja AS yang kuat. Hal ini membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil. Investor kini juga menantikan rilis data inflasi (CPI) pada 10 April yang berpotensi kembali memengaruhi arah pasar. Di tengah kondisi ini, Bitcoin berada di kisaran $68.000 dan Ethereum di sekitar $2.000 setelah mengalami koreksi.

    CLARITY Act Ubah Peta Persaingan Stablecoin

    Dilaporkan Coingape, draft terbaru CLARITY Act mengusulkan larangan pemberian imbal hasil (yield) bagi pemegang stablecoin secara pasif. Kebijakan ini secara langsung memukul model bisnis seperti USDC yang sebelumnya menawarkan imbal hasil sekitar 4% melalui platform seperti Coinbase.

    Sebaliknya, RLUSD milik Ripple justru berada di posisi yang lebih diuntungkan. Stablecoin ini tidak mengandalkan insentif yield, melainkan fokus pada utilitas seperti transaksi lintas negara, settlement institusional, dan penggunaan sebagai collateral. Dalam 15 bulan, RLUSD telah mencapai kapitalisasi pasar lebih dari $1,25 miliar.

    Selain itu, langkah Ripple yang mengajukan lisensi bank melalui OCC juga berpotensi memberikan keunggulan regulasi dibanding kompetitor seperti Circle. Jika aturan ini disahkan, tren stablecoin berbasis utilitas diperkirakan akan semakin dominan dibanding model berbasis insentif.

    Dari sisi XRP, kejelasan regulasi ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka panjang, meskipun pergerakan harga dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi faktor makro.

    Likuiditas Turun, Volatilitas XRP Meningkat

    Di sisi lain, XRP menghadapi tekanan dari sisi likuiditas. Data CryptoQuant menunjukkan indeks likuiditas 30 hari di Binance turun ke level 0,062, sementara volume transaksi menyusut ke sekitar $4,46 miliar.

    Penurunan likuiditas ini meningkatkan risiko volatilitas karena pasar menjadi lebih sensitif terhadap perubahan permintaan dan penawaran. Sejak pertengahan Maret, XRP bergerak dalam tren menurun dengan resistance kuat di sekitar $1,35.

    Secara teknikal, indikator MACD masih menunjukkan momentum yang lemah dengan tekanan bearish yang dominan. RSI berada di kisaran 42, mengindikasikan kondisi netral cenderung lemah, di mana minat beli belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan signifikan.

    Jika XRP mampu menembus level $1,38, potensi kenaikan ke $1,45 hingga $1,50 terbuka. Namun, jika gagal bertahan di atas $1,30, risiko penurunan ke $1,25 atau lebih rendah masih cukup besar.

    Baca juga: Volume XRP Terendah 2026, Akankah Level $1,40 Bertahan?

    Dampak Regulasi Bersifat Jangka Panjang

    Tim Research Tokocrypto menilai bahwa CLARITY Act berpotensi menjadi turning point dalam industri stablecoin, dengan mendorong pergeseran dari model berbasis insentif menuju model berbasis utilitas. Dalam konteks ini, RLUSD memiliki positioning yang lebih kuat dibanding USDC jika regulasi tersebut benar-benar diterapkan.

    Bagi XRP, dampak regulasi ini lebih bersifat jangka panjang, terutama dalam meningkatkan kepercayaan terhadap ekosistem Ripple secara keseluruhan. Namun dalam jangka pendek, pergerakan harga masih akan sangat dipengaruhi oleh faktor makro seperti kebijakan suku bunga, inflasi, dan kondisi geopolitik.

    Penurunan likuiditas yang terjadi saat ini menjadi perhatian penting karena dapat memperbesar fluktuasi harga. Hal ini menunjukkan bahwa pasar XRP masih berada dalam fase konsolidasi dengan risiko pergerakan tajam ke dua arah.

    Tim Research Tokocrypto juga melihat bahwa peluang XRP untuk kembali ke level $2 dalam waktu dekat masih cukup terbatas, kecuali terdapat katalis kuat seperti perbaikan sentimen makro atau perkembangan signifikan dari sisi regulasi.

    XRP saat ini berada di persimpangan antara tekanan jangka pendek dan potensi jangka panjang. Regulasi baru melalui CLARITY Act memberikan angin segar bagi ekosistem Ripple, namun kondisi makro dan likuiditas masih menjadi tantangan utama.

    Pergerakan harga dalam waktu dekat kemungkinan akan tetap volatil, dengan investor menunggu kepastian arah dari faktor ekonomi global maupun kebijakan regulasi yang sedang berkembang.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Volatil, Investor Serbu Tether Gold (XAU₮) sebagai Pelindung Aset

    Minat terhadap emas kembali melonjak di tengah ketidakpastian global, bahkan kini merambah lebih dalam ke ekosistem kripto. Produk gold spot yang baru, XAU₮ diluncurkan di Binance langsung mencatat volume signifikan hanya dalam beberapa hari.

    Volume tembus $80 juta dalam waktu singkat

    Setelah resmi diperkenalkan, perdagangan gold spot XAU₮ di Binance menunjukkan respons pasar yang sangat cepat. Volume harian sudah melampaui $40 juta, dan secara kumulatif mencapai hampir $80 juta per 30 Maret.

    Sebelumnya, produk gold futures di Binance juga mencatat kesuksesan besar dengan total volume lebih dari $80 miliar sejak awal 2026. Kini, pasar spot mulai menunjukkan potensi yang tidak kalah kuat.

    Hal ini menandakan bahwa minat investor terhadap emas tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang ke platform digital.

    Baca juga: Tether Gold (XAU₮): Solusi Stabil di Tengah Volatilitas Kripto

    Geopolitik dorong kembali minat ke emas

    Dilaporkan Crypto Quant, lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya terkait konflik di Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global dan meningkatkan risiko inflasi.

    Dalam situasi seperti ini, emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai yang lebih stabil. Meskipun sempat mengalami koreksi sekitar 15%, permintaan terhadap emas tetap kuat karena dianggap mampu menjaga nilai di tengah ketidakpastian.

    Kurangnya visibilitas terhadap arah ekonomi global juga menjadi faktor yang terus mendorong minat terhadap aset safe haven ini.

    Tim Research Tokocrypto menilai ini sinyal penting bahwa aset safe haven tradisional mulai mendapatkan distribusi yang lebih nyata di infrastruktur exchange kripto.

    “Kalau tren ini berlanjut, integrasi emas ke ekosistem exchange bisa menjadi jembatan kuat antara arus modal defensif dan pasar aset digital, terutama saat ketidakpastian geopolitik terus tinggi,” jelasnya.

    Integrasi emas dan kripto semakin nyata

    Masuknya emas ke dalam ekosistem kripto melalui platform seperti Binance menunjukkan adanya perubahan besar dalam lanskap keuangan. Investor kini memiliki lebih banyak opsi untuk mendapatkan eksposur terhadap aset tradisional melalui infrastruktur digital.

    Fenomena ini juga mencerminkan semakin dekatnya hubungan antara pasar keuangan tradisional dan kripto, di mana batas antara keduanya mulai semakin kabur.

    Dengan tren ini, emas tidak lagi hanya menjadi aset konvensional, tetapi juga bagian dari inovasi finansial yang berkembang di dunia digital.

    Baca juga: Tokenized Gold: Solusi Investasi Emas yang Fleksibel dan Modern


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • World Rilis MiniKit 2.0: Akses Aplikasi Web3 Kini Hanya 200 Milidetik!

    World kembali memperkuat posisinya di industri Web3 dengan meluncurkan MiniKit 2.0 di jaringan World Chain.

    Upgrade ini dirancang untuk menyederhanakan pengembangan aplikasi lintas platform, sekaligus mempercepat pengalaman pengguna melalui peningkatan performa jaringan.

    Langkah ini menunjukkan bahwa World mulai bertransformasi dari sekadar proyek identitas digital menjadi platform distribusi aplikasi dan pembayaran berbasis blockchain.

    Baca Juga: Harga World Liberty Financial (WLFI) Meroket 12%, Apa Pendorongnya?

    Standarisasi Pengembangan Aplikasi Web3

    MiniKit 2.0 hadir dengan sejumlah fitur penting yang mempermudah developer dalam membangun aplikasi, baik untuk web maupun integrasi langsung ke World Chain.

    Menurut laporan Cryptobriefing, upgrade ini membawa beberapa fitur utama yang diperkenalkan, antara lain:

    • Kompatibilitas EIP-1193, standar untuk koneksi wallet Ethereum
    • Gas sponsorship, memungkinkan pengguna bertransaksi tanpa biaya langsung
    • Dukungan stablecoin lokal, membuka peluang pembayaran yang lebih relevan secara regional
    • Integrasi Flashblocks, teknologi yang memangkas waktu konfirmasi

    Dengan kombinasi fitur ini, World mencoba mengurangi hambatan teknis yang selama ini menjadi tantangan utama dalam adopsi aplikasi Web3.

    Konfirmasi Super Cepat: 200 Milidetik

    Salah satu peningkatan paling signifikan dari MiniKit 2.0 adalah integrasi Flashblocks yang mampu memangkas waktu konfirmasi transaksi dari sekitar 2 detik menjadi hanya 200 milidetik.

    Kecepatan ini mendekati pengalaman aplikasi Web2, yang selama ini menjadi standar kenyamanan pengguna.

    Dengan latensi yang jauh lebih rendah, aplikasi berbasis World Chain berpotensi lebih responsif, cocok untuk use case real-time, dan lebih mudah diterima oleh pengguna non-kripto.

    Aktivitas Pengguna Tunjukkan Pertumbuhan

    Data penggunaan menunjukkan bahwa ekosistem World sudah memiliki tingkat aktivitas yang cukup tinggi.

    Dalam tujuh hari terakhir saja, tercatat lebih dari 12,1 juta open mini app dengan total penggunaan mencapai 2,2 miliar opens.

    Angka ini menunjukkan bahwa World tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga mulai menciptakan distribution layer yang nyata untuk aplikasi.

    Namun, penting untuk dicatat bahwa metrik “opens” belum tentu mencerminkan penggunaan aktif atau retensi jangka panjang.

    Perluasan Fungsi: Dari Identitas ke Platform

    Awalnya dikenal dengan konsep proof-of-humanity, World kini memperluas fokusnya ke arah platform yang lebih luas.

    Dengan MiniKit 2.0, World berupaya menjadi infrastruktur distribusi aplikasi, platform pembayaran berbasis stablecoin, hingga ekosistem yang menghubungkan developer dan pengguna

    Transformasi ini membuka peluang utilitas yang lebih besar bagi token ekosistemnya.

    Perspektif Industri: Arah Baru yang Lebih Fundamental

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, peluncuran ini menjadi langkah penting dalam evolusi World.

    “Untuk WLD, ini upgrade yang penting karena value jaringan mulai bergeser dari identitas saja ke platform distribusi aplikasi dan pembayaran lokal berbasis stablecoin,” kata Tim Research Tokocrypto.

    “Kalau developer benar-benar masuk lewat Build 3 dan MiniKit 2.0, World bisa punya jalur utilitas yang jauh lebih kuat daripada sekadar spekulasi biometrik, tapi pasar tetap butuh bukti retensi dan monetisasi aplikasi, bukan hanya angka opens yang bombastis,” ujarnya.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun arah pengembangan sudah tepat, validasi pasar tetap menjadi kunci utama.

    Tantangan: Retensi dan Monetisasi

    Meskipun angka penggunaan terlihat impresif, tantangan utama World ke depan adalah memastikan bahwa aktivitas tersebut benar-benar berkelanjutan.

    Beberapa faktor yang perlu diperhatikan:

    • Retensi pengguna, apakah mereka kembali menggunakan aplikasi
    • Monetisasi, apakah aplikasi menghasilkan nilai ekonomi nyata
    • Adopsi developer, apakah ekosistem terus berkembang

    Tanpa faktor-faktor ini, pertumbuhan bisa bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.

    Baca Juga: XLM Jebol US$0,20! Tapi Data On-Chain Stellar Justru Melonjak

    Peluncuran MiniKit 2.0 di W callorld Chain menjadi langkah strategis dalam mendorong adopsi aplikasi Web3 yang lebih luas.

    Dengan fitur seperti gas sponsorship, dukungan stablecoin, dan konfirmasi super cepat, World berupaya menghadirkan pengalaman yang lebih mendekati aplikasi tradisional.

    Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kemampuan ekosistem untuk mempertahankan pengguna dan menciptakan nilai nyata di luar sekadar angka penggunaan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ripple Gandeng Convera Perluas Pembayaran Stablecoin Global

    Ripple kembali membuat gebrakan dengan menggandeng Convera, perusahaan fintech yang sebelumnya merupakan bagian dari Western Union, untuk mengembangkan sistem pembayaran lintas negara berbasis blockchain dan stablecoin.

    Kerja sama ini dinilai sebagai langkah besar dalam upaya menggabungkan sistem keuangan tradisional dengan teknologi kripto.

    Kolaborasi untuk percepat pembayaran global

    Dikutip The Block, Convera merupakan perusahaan yang menangani lebih dari 140 mata uang di hampir 200 negara. Dengan jaringan sebesar ini, kolaborasi dengan Ripple membuka potensi besar dalam meningkatkan efisiensi pembayaran internasional.

    Dalam kerja sama ini, kedua perusahaan akan menggunakan model yang disebut “stablecoin sandwich”. Artinya, transaksi dimulai dan diakhiri dalam mata uang fiat, namun menggunakan stablecoin di tengah proses untuk mempercepat dan menekan biaya transaksi.

    Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan teknologi blockchain tanpa harus berhadapan langsung dengan kompleksitas aset kripto.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, ini cerita adopsi yang kuat karena blockchain tidak dijual sebagai produk spekulatif, tetapi sebagai rel backend untuk FX dan cross-border payments skala enterprise.

    “Kalau model seperti ini berhasil, nilai praktis stablecoin akan makin jelas bagi korporasi yang mau efisiensi tanpa harus memegang aset digital secara langsung,” katanya.

    Baca juga: Ripple Akuisisi Perusahaan Australia Demi Lisensi

    Stablecoin jadi jembatan sistem lama dan baru

    Kolaborasi ini menunjukkan tren yang semakin jelas, yaitu integrasi antara sistem pembayaran tradisional dan teknologi blockchain. Stablecoin menjadi komponen kunci karena mampu menghubungkan dua dunia tersebut secara efisien.

    Ripple sendiri terus memperluas jaringan globalnya, termasuk melalui stablecoin RLUSD dan pengembangan XRP Ledger. Sebelumnya, Ripple juga terlibat dalam inisiatif bank sentral Singapura untuk menguji pembayaran lintas negara berbasis blockchain.

    Langkah ini memperkuat posisi Ripple sebagai salah satu pemain utama dalam infrastruktur pembayaran digital global.

    Arah baru industri keuangan mulai terlihat

    Kerja sama antara Ripple dan Convera mencerminkan perubahan besar dalam industri keuangan. Perusahaan kini mulai mencari solusi yang lebih cepat, fleksibel, dan efisien untuk transaksi global, tanpa harus sepenuhnya beralih ke sistem kripto.

    Dengan meningkatnya adopsi stablecoin dan dukungan dari institusi besar, masa depan pembayaran lintas negara berpotensi menjadi lebih seamless, murah, dan terintegrasi secara digital.

    Kolaborasi ini menjadi sinyal bahwa transformasi sistem keuangan global tidak lagi sebatas wacana, tetapi sudah mulai terjadi secara nyata.

    Baca Juga: RLUSD Jadi Kunci? Masa Depan XRPL di Tangan Stablecoin Ripple


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Volume Kartu Kripto Naik 40x Lipat!

    Penggunaan stablecoin di Asia Tenggara mengalami lonjakan signifikan, namun dengan cara yang hampir tidak terlihat oleh pengguna. Di balik transaksi yang terasa seperti pembayaran biasa, infrastruktur berbasis kripto justru semakin mendominasi sistem pembayaran regional.

    Lonjakan penggunaan kartu kripto melesat tajam

    Dilaporkan Coindesk, perusahaan berbasis Singapura, StraitsX, mencatat pertumbuhan pesat dalam program kartu berbasis stablecoin. Dalam periode 2024 hingga 2025, volume transaksi melonjak hingga 40 kali lipat, sementara jumlah kartu yang diterbitkan meningkat 83 kali.

    Salah satu mitranya, RedotPay, bahkan memproses lebih dari $2,95 miliar transaksi sepanjang 2025. Secara global, penggunaan kartu kripto juga meningkat drastis, dengan volume bulanan naik dari sekitar $100 juta di awal 2023 menjadi lebih dari $1,5 miliar di akhir 2025.

    Teknologi bekerja di balik layar, pengguna tidak menyadari

    Menariknya, pengguna tidak perlu memahami bahwa mereka menggunakan stablecoin. Sistem ini dirancang agar bekerja “tidak terlihat”, di mana transaksi tetap terasa seperti pembayaran biasa menggunakan mata uang lokal.

    Ketika pengguna melakukan pembayaran, stablecoin digunakan sebagai lapisan penyelesaian di belakang layar, sementara merchant tetap menerima pembayaran dalam mata uang fiat secara instan.

    Pendekatan ini menjadi kunci adopsi, karena pengalaman pengguna tidak berubah meskipun teknologi di belakangnya berbeda.

    Baca juga: Coinbase Tolak RUU Kripto AS Terkait Yield Stablecoin

    Ekspansi lintas negara dan masa depan pembayaran digital

    StraitsX juga tengah memperluas jangkauan ke berbagai negara di Asia, termasuk Thailand melalui inisiatif Project BLOOM. Sistem ini memungkinkan pembayaran lintas negara secara seamless, tanpa mengubah kebiasaan pengguna.

    Selain itu, pengembangan stablecoin seperti XSGD dan XUSD di blockchain Solana membuka peluang untuk micropayment antar mesin dengan biaya yang sangat rendah.

    Dengan biaya transaksi yang semakin kecil dan integrasi yang semakin luas, stablecoin berpotensi menjadi fondasi baru dalam sistem pembayaran global, bukan sebagai teknologi yang terlihat, tetapi sebagai infrastruktur yang bekerja diam-diam di balik layar.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, ini adopsi nyata, karena stablecoin mulai menang justru saat user bahkan tidak sadar mereka sedang memakainya.

    “Begitu pembayaran kripto berubah jadi infrastruktur tak terlihat di balik kartu, QR, dan konversi lokal instan, pasar masuk ke fase di mana utilitas stablecoin bisa tumbuh jauh lebih cepat daripada narasi spekulatifnya,” ujarnya.

    Baca Juga: Coinbase Buka Era Agen AI Otonom Bertransaksi di Blockchain


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Misteri Rp39 Triliun Masuk Exchange Saat Pasar Stagnan, Sinyal Bull?

    Arus masuk stablecoin ke exchange Binance melonjak tajam hingga mencapai $2,4 miliar, menandakan kembalinya likuiditas ke pasar kripto. Namun, di tengah lonjakan dana ini, aktivitas trading justru menunjukkan kondisi sebaliknya.

    Likuiditas kembali, tapi belum digunakan

    Dilaporkan BeInCrypto, data terbaru menunjukkan bahwa netflow stablecoin di Binance berbalik dari negatif menjadi positif. Sebelumnya, pasar sempat mengalami arus keluar besar, termasuk $3,4 miliar pada Desember dan $6,7 miliar pada Februari.

    Kini, dana kembali masuk ke exchange terbesar di dunia tersebut. Secara umum, arus masuk stablecoin sering diartikan sebagai sinyal bahwa investor sedang bersiap untuk masuk ke pasar atau membuka posisi baru.

    Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, ini on-chain setup yang aneh tapi penting: uang sudah datang, trader belum berani menembak.

    “Selama stablecoin hanya numpuk di exchange tanpa diikuti spot volume, pasar tetap hidup dalam mode siaga, punya bensin, tapi belum punya keberanian, dan itu bikin setiap move besar tetap rawan jadi ledakan volatilitas ketimbang tren yang benar-benar sehat,” ujarnya.

    Baca juga: Guncang Market! Stablecoin Tak Boleh Lagi Beri Imbal Hasil?

    Volume trading anjlok drastis

    Meskipun likuiditas meningkat, aktivitas trading justru mengalami penurunan signifikan. Volume spot di Binance turun tajam dari $81 miliar menjadi hanya $3,5 miliar sejak awal 2025.

    Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan yang cukup mencolok. Dana tersedia di exchange, tetapi belum digunakan untuk transaksi. Artinya, investor masih menahan diri dan belum memiliki keyakinan untuk masuk ke pasar.

    Para analis menilai bahwa pasar saat ini terlihat tenang di permukaan, namun sebenarnya menyimpan potensi volatilitas yang tinggi jika terjadi pergerakan di level krusial.

    Pasar diliputi kehati-hatian

    Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dunia. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut memengaruhi sentimen pasar, mendorong kenaikan harga minyak dan menekan aset berisiko.

    Meskipun pasar kripto masih relatif bertahan, tekanan eksternal tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

    Untuk saat ini, data menunjukkan bahwa dana memang sudah kembali ke pasar, tetapi belum diikuti oleh keberanian investor untuk mengambil risiko. Pasar kripto pun berada dalam fase menunggu, dengan arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada perubahan sentimen dan kondisi global.

    Baca juga: Paxos Tak Sengaja Cetak Stablecoin $300 Triliun untuk PayPal!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Akses Emas Tokenisasi Kian Luas

    Perusahaan stablecoin terbesar, Tether, resmi memperluas jangkauan produk emas tokenized miliknya, XAUt, dengan meluncurkannya di BNB Chain.

    Langkah ini langsung diperkuat oleh dukungan dari Binance yang menambahkan berbagai pasangan perdagangan (spot pair), termasuk USDT, BTC, USDC, TRY, dan U.

    Ekspansi ini menjadi tonggak penting bagi adopsi aset berbasis emas di dunia kripto, sekaligus memperkuat narasi real-world assets (RWA) yang semakin dominan di pasar.

    Baca Juga: Tether Angkat Simon McWilliams sebagai CFO

    XAUt: Pemimpin Pasar Emas Tokenized

    Produk Tether Gold (XAUt) saat ini merupakan token emas terbesar di dunia kripto, dengan kapitalisasi pasar sekitar $3,2 miliar.

    Menurut laporan Cryptobriefing, potensi XAUt untuk ‘bersinar’ cukup besar karena didukung oleh sekitar 1.800 batang emas fisik yang disimpan di vault Swiss. Apalagi, XAUt menguasai sekitar 60% pangsa pasar global gold-backed stablecoin.

    Dengan basis fundamental tersebut, XAUt telah menjadi jembatan antara aset fisik tradisional dan ekosistem digital.

    Integrasi ke BNB Chain: Game Changer Distribusi

    Masuknya XAUt ke BNB Chain membawa dampak signifikan dari sisi distribusi dan aksesibilitas.

    BNB Chain dikenal sebagai salah satu jaringan dengan pengguna aktif terbesar yang punya ekosistem DeFi dan trading yang luas, serta biaya transaksi relatif rendah.

    Dengan integrasi ini, pengguna kini dapat mengakses emas tokenized langsung dari wallet on-chain, memperdagangkan XAUt secara lebih mudah, dan menggunakan XAUt dalam berbagai aplikasi DeFi.

    Artinya, XAUt tidak lagi hanya menjadi produk niche, tetapi mulai masuk ke arus utama pasar kripto.

    Binance Perkuat Likuiditas

    Dukungan dari Binance menjadi faktor kunci dalam ekspansi ini. Dengan penambahan berbagai pasangan trading, likuiditas XAUt berpotensi meningkat secara signifikan.

    Pasangan yang ditambahkan meliputi XAUt/USDT, XAUt/BTC, XAUt/USDC, XAUt/TRY, dan XAUt/U. Langkah ini memungkinkan trader untuk:

    • Mengakses eksposur emas tanpa keluar dari ekosistem kripto
    • Melakukan hedging terhadap volatilitas pasar
    • Diversifikasi portofolio secara lebih efisien

    Momentum Emas dan Narasi Safe Haven

    Ekspansi ini juga terjadi di tengah meningkatnya minat terhadap aset safe haven seperti emas. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global, investor cenderung mencari instrumen yang lebih stabil.

    Dengan XAUt, investor mendapatkan eksposur terhadap harga emas, likuiditas tinggi seperti aset kripto, serta fleksibilitas penggunaan dalam ekosistem digital.

    Ini berarti, XAUt berada di persimpangan antara tradisional finance dan DeFi, menjadikannya produk yang semakin relevan.

    Katalis Adopsi Nyata

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, langkah ini merupakan katalis penting bagi pertumbuhan XAUt.

    “Ini katalis yang cukup kuat buat XAUt karena distribusinya naik kelas dari sekadar produk niche menjadi instrumen yang makin dekat ke arus utama trading kripto,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Menurutnya, saat emas fisik, safe-haven trade, dan RWA bertemu di BNB Chain, XAUt punya peluang besar buat menarik likuiditas baru dari trader yang ingin eksposur gold tanpa keluar dari ekosistem on-chain.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa ekspansi distribusi menjadi kunci dalam mendorong adopsi aset tokenized.

    Dampak bagi Pasar Kripto

    Peluncuran XAUt di BNB Chain membawa beberapa implikasi penting:

    1. Peningkatan Adopsi RWA

    Aset dunia nyata seperti emas semakin terintegrasi ke dalam ekosistem kripto.

    2. Diversifikasi Instrumen Trading

    Trader memiliki lebih banyak pilihan selain aset volatil seperti Bitcoin atau altcoin.

    3. Kompetisi di Sektor Tokenized Assets

    Produk serupa kemungkinan akan muncul untuk bersaing di pasar yang sama.

    Baca Juga: Tether Integrasikan USA₮ ke Rumble Wallet, Ekspansi Pembayaran Digital

    Langkah Tether membawa XAUt ke BNB Chain, didukung oleh listing di Binance, menandai fase baru dalam adopsi emas tokenized di dunia kripto.

    Dengan kombinasi likuiditas tinggi, distribusi luas, dan narasi safe haven, XAUt berpotensi menjadi salah satu instrumen utama dalam kategori RWA.

    Jika tren ini berlanjut, emas tokenized tidak hanya menjadi alternatif investasi, tetapi juga bagian integral dari ekosistem keuangan digital global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Coinbase Tolak RUU Kripto AS Terkait Yield Stablecoin

    Perusahaan exchange kripto raksasa, Coinbase, dilaporkan menolak kompromi terbaru dalam pembahasan RUU struktur pasar kripto di Senat Amerika Serikat.

    Penolakan ini berfokus pada klausul yang berpotensi melarang pihak ketiga (termasuk exchange) untuk menawarkan atau membayar yield dari stablecoin kepada pengguna.

    Perkembangan ini menunjukkan bahwa proses legislasi kripto di AS masih jauh dari kata selesai, dengan konflik kepentingan antara industri kripto dan sektor perbankan semakin mengemuka.

    Baca Juga: Coinbase Resmi Luncurkan Futures Kripto di 26 Negara Eropa

    Inti Masalah: Yield Stablecoin

    Salah satu isu paling krusial dalam RUU ini adalah regulasi terkait yield stablecoin. Dalam draf terbaru, terdapat bahasa yang dianggap dapat membatasi.

    Sebut saja exchange dalam memberikan insentif bunga atau yield, model bisnis berbasis stablecoin di platform kripto, hingga distribusi hasil dari produk berbasis likuiditas.

    Padahal bagi industri kripto, yield stablecoin merupakan salah satu fitur penting yang dapat menarik pengguna baru, meningkatkan likuiditas, dan menjadi sumber pendapatan utama.

    Namun bagi perbankan tradisional, fitur ini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap sistem deposito.

    Konflik Kripto vs Perbankan

    Perdebatan ini mencerminkan konflik yang lebih luas antara dua sektor.

    Dari sudut pandang industri kripto, tentu saja ingin mempertahankan fleksibilitas produk untuk mendorong inovasi keuangan berbasis blockchain dan mengembangkan ekosistem DeFi dan CeFi.

    Tapi dari perbankan tradisional, mayoritas khawatir terhadap deposit flight (perpindahan dana nasabah) sehingga mendesak regulator untuk membatasi kompetisi, sekaligus meminta perlindungan terhadap sistem keuangan konvensional.

    Menurut laporan Cointelegraph, tarik-menarik kepentingan inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa kompromi sulit dicapai.

    Senator Alsobrooks, yang difoto pada sebuah acara perbankan di awal Maret, mengatakan bahwa RUU kompromi tersebut mungkin akan membuat baik dunia kripto maupun bank-bank tidak senang. Sumber: American Bankers Association.
    Senator Alsobrooks, yang difoto pada sebuah acara perbankan di awal Maret, mengatakan bahwa RUU kompromi tersebut mungkin akan membuat baik dunia kripto maupun bank-bank tidak senang. Sumber: American Bankers Association.

    Peran Gedung Putih

    Pemerintah AS melalui Gedung Putih dilaporkan telah beberapa kali mempertemukan kedua kubu untuk mencari titik tengah.

    Namun hingga saat ini, belum ada kesepakatan final yang dapat diterima semua pihak. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi kripto semakin menjadi isu politik strategis.

    Maka dari itu, pemerintah berusaha menyeimbangkan inovasi dan stabilitas. Namun sebagai ganjarannya, proses legislasi akan memakan waktu lebih panjang.

    Dampak bagi Industri Kripto

    Penolakan dari Coinbase membawa beberapa implikasi penting:

    1. Ketidakpastian Regulasi

    Pasar masih belum memiliki kejelasan terkait aturan stablecoin di AS.

    2. Potensi Regulasi Lebih Ketat

    Jika kompromi condong ke arah perbankan, aturan bisa menjadi lebih restriktif.

    3. Pengaruh Global

    Sebagai pasar terbesar, regulasi AS akan berdampak pada kebijakan di negara lain.

    Pertarungan Masih Jauh dari Selesai

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, sikap Coinbase menunjukkan bahwa konflik inti dalam RUU ini belum terselesaikan.

    “Kalau bahkan Coinbase masih menahan dukungan, berarti pertarungan inti RUU ini belum selesai dan isu stablecoin yield tetap jadi ranjau politik utama. Bagi pasar, ini sinyal bahwa jalur legislasi kripto AS masih hidup, tapi bentuk akhirnya bisa lahir jauh lebih keras dan lebih bank-friendly dari yang diinginkan industri,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa hasil akhir regulasi bisa berbeda jauh dari ekspektasi awal industri kripto.

    Apa Artinya bagi Stablecoin?

    Stablecoin merupakan salah satu pilar utama ekosistem kripto, digunakan untuk perdagangan aset digital, penyimpanan nilai, dan transfer lintas batas.

    Jika yield stablecoin dibatasi, dampaknya bisa meluas seiring berkurangnya daya tarik bagi pengguna, penurunan likuiditas di exchange, dan perubahan model bisnis platform kripto.

    Melihat situasi saat ini, arah regulasi kripto di AS masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.

    Artinya, pelaku pasar harus siap menghadapi berbagai kemungkinan, mulai dari regulasi yang mendukung hingga pembatasan yang lebih ketat.

    Baca Juga: Coinbase Buka Era Agen AI Otonom Bertransaksi di Blockchain

    Penolakan Coinbase terhadap kompromi terbaru dalam RUU kripto AS menegaskan bahwa perdebatan seputar regulasi stablecoin masih jauh dari kata selesai. Isu yield menjadi titik konflik utama antara industri kripto dan perbankan tradisional.

    Meski jalur legislasi tetap berjalan, bentuk akhir regulasi kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh kepentingan politik dan stabilitas sistem keuangan.

    Bagi investor dan pelaku industri, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa regulasi tetap menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah masa depan kripto—tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga secara global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Audit Penuh! Tether Buktikan Cadangan USDT US$184 Miliar

    Penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether, mengambil langkah besar dengan menunjuk firma audit Big Four untuk melakukan audit penuh (full financial statement audit) terhadap cadangan USDT yang nilainya mencapai sekitar US$184 miliar.

    Langkah ini menandai perubahan signifikan dari pendekatan sebelumnya yang hanya mengandalkan attestation berkala, menuju proses audit yang jauh lebih komprehensif dan mendalam.

    Dari Attestation ke Audit Penuh

    Selama ini, Tether menggunakan laporan attestation untuk memberikan gambaran cadangan aset yang mendukung USDT.

    Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena hanya bersifat snapshot pada waktu tertentu dan tidak mencakup evaluasi menyeluruh.

    Dengan audit penuh, cakupan pemeriksaan akan jauh lebih luas, termasuk verifikasi aset dan liabilitas secara detail.

    Selain itu, aspek yang turut diaudit adalah evaluasi sistem kontrol internal, peninjauan proses pelaporan keuangan, hingga validasi keberadaan dan kualitas cadangan

    Langkah ini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya meningkatkan transparansi di industri stablecoin.

    Baca Juga: Tether Integrasikan USA₮ ke Rumble Wallet, Ekspansi Pembayaran Digital

    Peran Vital

    USDT merupakan stablecoin dengan kapitalisasi terbesar di pasar kripto dan memainkan peran vital dalam likuiditas global. Oleh karena itu, transparansi cadangan menjadi isu krusial.

    Selama bertahun-tahun, Tether sering menghadapi kritik terkait kejelasan komposisi cadangan, kualitas aset pendukung, dan tingkat keterbukaan informasi.

    Di sinilah, audit penuh dari firma Big Four berpotensi menjawab kekhawatiran tersebut.

    Dampak Potensial bagi Pasar

    Jika audit ini berhasil diselesaikan dengan hasil yang positif, dampaknya bisa sangat besar:

    1. Meningkatkan Kepercayaan Investor

    Validasi independen dari firma audit global dapat memperkuat kepercayaan terhadap USDT.

    2. Memperkuat Dominasi Pasar

    USDT berpotensi semakin mengukuhkan posisinya sebagai stablecoin utama.

    3. Standar Baru Industri

    Langkah ini bisa mendorong penerbit stablecoin lain untuk mengikuti standar transparansi yang lebih tinggi.

    Momentum Penting, Tapi Belum Final

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, langkah Tether ini merupakan perkembangan penting, namun belum sepenuhnya menghapus keraguan pasar.

    “Ini jelas langkah penting buat meredam kritik lama soal transparansi reserve dan kualitas disclosure. Kalau audit ini benar-benar selesai dan hasilnya kuat, posisi USDT sebagai stablecoin dominan bisa makin kokoh; tapi sampai laporan final keluar, pasar tetap punya alasan buat menahan sedikit skeptisisme,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Secara tidak langsung, keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada hasil akhir audit.

    Tantangan dalam Proses Audit

    Melakukan audit terhadap cadangan sebesar US$184 miliar bukanlah tugas sederhana.

    Menurut laporan Coindesk, beberapa tantangan yang mungkin akan dihadapi Tether selama proses pengauditan.

    Dimulai dengan kompleksitas struktur aset, diversifikasi instrumen keuangan, verifikasi likuiditas dan risiko, serta standar pelaporan lintas yurisdiksi.

    Tentunya, proses ini membutuhkan tingkat ketelitian tinggi dan waktu yang tidak singkat.

    Dampak Lebih Luas bagi Industri Stablecoin

    Meski membutuhkan kesabaran ekstra, langkah Tether juga dapat memicu perubahan besar di sektor stablecoin.

    Dampak yang akan sangat terasa kemungkinan besar ada pada penggunaan regulasi yang semakin ketat. Transparansi juga menjadi standar wajib bagi setiap publisher.

    Seakan menjadi efek domino, hasil audit bakal membuat investor menjadi lebih selektif dalam memilih stablecoin, sehingga kompetisi antar penerbit semakin meningkat.

    Garis besarnya, stablecoin tidak lagi hanya dinilai dari stabilitas harga saja, tetapi juga dari kredibilitas cadangan.

    Menuju Era Transparansi yang Lebih Tinggi

    Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap transparansi di industri kripto terus meningkat. Regulator, investor, dan institusi kini menuntut standar yang lebih tinggi.

    Audit penuh seperti ini bisa menjadi benchmark baru untuk industri, sekaligus alat untuk membangun kepercayaan jangka panjang guna membentuk fondasi yang terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional.

    Baca Juga: LayerZero Dilirik Tether! USDT0 Disebut Sudah Pindah US$70 Miliar

    Keputusan Tether untuk menunjuk firma audit Big Four dalam melakukan audit penuh cadangan USDT merupakan langkah strategis yang dapat mengubah persepsi pasar terhadap stablecoin.

    Jika berhasil, langkah ini tidak hanya memperkuat posisi USDT, tetapi juga mendorong seluruh industri menuju standar transparansi yang lebih tinggi. Namun, hingga hasil audit resmi dirilis, pasar masih akan menunggu dengan sikap hati-hati.

    Dalam lanskap kripto yang semakin matang, transparansi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama untuk mempertahankan kepercayaan dan keberlanjutan jangka panjang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Guncang Market! Stablecoin Tak Boleh Lagi Beri Imbal Hasil?

    Pasar kripto dikejutkan oleh penurunan tajam saham Circle (CRCL) yang anjlok sekitar 18% dalam satu hari, menghapus nilai kapitalisasi pasar hingga 4,6 miliar dolar AS. Penurunan ini dipicu oleh draft terbaru dari CLARITY Act yang berpotensi melarang pemberian imbal hasil (yield) pada stablecoin seperti USDC.

    Perkembangan ini tidak hanya berdampak pada harga, tetapi juga memunculkan perubahan besar terhadap peran dan fungsi stablecoin dalam ekosistem keuangan digital.

    Regulasi Mulai Ubah Model Stablecoin

    Selama ini, stablecoin tidak hanya berfungsi sebagai representasi dolar digital, tetapi juga sebagai aset yang dapat memberikan imbal hasil pasif. Namun, regulasi terbaru mengarah pada pembatasan tersebut, di mana hanya insentif berbasis aktivitas yang diperbolehkan.

    Dilaporkan Crypto Quant, perubahan ini menunjukkan bahwa regulator tidak sekadar mengatur, tetapi juga membentuk ulang struktur pasar. Di sisi lain, perbankan tradisional melihat stablecoin sebagai ancaman terhadap dana simpanan, sementara platform kripto bergantung pada insentif untuk menjaga likuiditas.

    Dinamika ini mencerminkan persaingan langsung dalam memperebutkan arus dana di sistem keuangan global.

    Arus Dana Diperkirakan Bergeser

    Meskipun potensi larangan yield dapat mengurangi daya tarik stablecoin sebagai instrumen investasi, permintaan terhadap imbal hasil diperkirakan tidak akan hilang. Sebaliknya, arus dana kemungkinan akan berpindah ke sektor lain seperti DeFi, obligasi pemerintah berbasis token (tokenized Treasuries), atau pasar luar negeri.

    Fenomena ini mirip dengan pergeseran dana ke money market fund pada masa pembatasan suku bunga simpanan di sektor perbankan.

    Dengan demikian, perubahan regulasi ini lebih mencerminkan redistribusi likuiditas daripada pengurangan total permintaan di pasar.

    Baca juga: Selandia Baru: Stablecoin Bukan Produk Keuangan

    Stablecoin Beralih Jadi Infrastruktur

    Tanpa fitur imbal hasil, peran utama stablecoin diperkirakan akan bergeser menjadi alat utilitas, seperti untuk pembayaran, settlement, jaminan (collateral), dan likuiditas.

    Transformasi ini menempatkan stablecoin sebagai infrastruktur penting dalam sistem keuangan digital, bukan sekadar produk investasi.

    Data on-chain juga menunjukkan bahwa jumlah alamat aktif stablecoin telah mencapai level tertinggi sepanjang masa, mengindikasikan peningkatan penggunaan riil di berbagai sektor.

    Tim Research Tokocrypto menilai bahwa potensi pelarangan yield pada stablecoin merupakan langkah besar yang dapat mengubah lanskap industri secara fundamental.

    Menurut mereka, stablecoin kemungkinan akan semakin difokuskan sebagai alat transaksi dan likuiditas, bukan sebagai instrumen penghasil imbal hasil. Hal ini justru dapat memperkuat peran stablecoin dalam ekosistem keuangan digital jangka panjang.

    Namun, Tim Research Tokocrypto juga menyoroti bahwa permintaan terhadap yield tidak akan hilang, melainkan berpindah ke sektor lain yang lebih fleksibel secara regulasi, seperti DeFi.

    Mereka menambahkan bahwa kejelasan regulasi, meskipun bersifat restriktif, dapat meningkatkan kepercayaan institusi dan mendorong adopsi yang lebih luas.

    Transformasi, Bukan Kemunduran

    Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri stablecoin sedang berada di titik perubahan penting. Alih-alih mengalami penurunan, stablecoin justru berpotensi berevolusi menjadi fondasi utama dalam sistem keuangan digital global.

    Ke depan, arah perkembangan stablecoin akan sangat bergantung pada bagaimana regulator dan pelaku industri menyeimbangkan inovasi dengan stabilitas pasar.

    Baca juga: Paxos Tak Sengaja Cetak Stablecoin $300 Triliun untuk PayPal!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com