Tag: stablecoin

  • Efek Trump, Hut8 Beli Token WLFI di Atas Harga Pasar

    Strategi investasi institusi telah memberikan isyarat penting dalam pasar kripto melalui aksi terbaru Hut8, perusahaan penambangan kripto besar yang membeli token WLFI secara langsung dari treasury proyek dengan harga premium di atas harga pasar.

    Aksi pembelian ini menarik karena WLFI adalah proyek blockchain yang dikaitkan dengan keluarga Trump dan tengah bermimpi menggabungkan tokenisasi aset nyata, stablecoin, dan layanan keuangan Web3.

    Pembelian Token dari Treasury: Langkah Strategis di Luar Pasar

    Menurut laporan Coindoo, Hut8 membeli token WLFI yang terkunci dari cadangan treasury proyek dengan harga $0,25 per token, di atas harga pasar saat itu.

    Pembelian ini bukan melalui penjualan publik, dan tidak menambah jumlah suplai token yang beredar, sehingga tidak mende­lussi (mencairkan) nilai token yang dimiliki komunitas.

    Para analis melihat tindakan ini sebagai bentuk keyakinan institusional: alih-alih membeli di pasar sekunder, Hut8 memilih akumulasi token langsung dari proyek, menunjukkan keinginan jangka panjang untuk memegang posisi WLFI sebagai aset strategi.

    Bahkan, analis kripto sekaliber Quinten Francois pun menyebut aksi ini sebagai “institusional conviction in action”.

    Baca Juga: Trump Uji Coba Transfer Stablecoin World Liberty (WLFI)

    WLFI: Visi Tokenisasi Aset & Stablecoin sebagai Fondasi

    Proyek WLFI tidak hanya ingin menjadi token spekulatif.

    Di bawah kepemimpinan CEO Zach Witkoff, WLFI mencanangkan visi untuk mentokenkan aset bernilai tinggi, termasuk properti milik keluarga Trump, sehingga investor bisa memiliki bagian (frac­tional ownership) dalam real estate mewah seperti Trump Tower Dubai.

    Lebih dari itu, WLFI juga berencana menghadirkan stablecoin USD1 sebagai layer penyelesaian dalam ekosistemnya, serta membawa komoditas seperti minyak dan gas ke blockchain untuk memperluas utilitas token dan memadukan dunia keuangan tradisional dengan DeFi.

    WLFI juga tengah merancang kartu debit kripto yang memungkinkan pengguna membelanjakan aset digital dan tokenized assets di kehidupan nyata: fitur yang ditargetkan untuk diluncurkan pilot pada kuartal mendatang dan versi penuh pada akhir 2025 atau awal 2026.

    Implikasi Strategis & Makna untuk Pasar

    Langkah Hut8 membeli token dari treasury proyek dengan harga premium membawa beberapa implikasi penting:

    • Sinyal Keyakinan Institusional: transaksi di atas harga pasar menunjukkan bahwa investor besar melihat potensi nilai WLFI ke depan.
    • Potensi Tekanan Supply Terbatas: karena pembelian ini dilakukan tanpa mencetak token baru, pasokan di pasar publik tetap stabil — tindakan seperti ini dapat menciptakan kondisi “squeeze supply” jangka panjang.
    • Menyandingkan Krisis Kepercayaan & Katalis Proyek: WLFI yang diasosiasikan dengan tokoh publik besar (Trump) memiliki daya tarik naratif kuat, terutama jika proyek berhasil mengeksekusi roadmap tokenisasi aset dan stablecoin mereka.

    Namun, ada tantangan besar: eksekusi teknis, regulasi atas tokenisasi properti dan komoditas, serta pengelolaan risiko hubungan politik dalam proyek.

    WLFI

    Analisis Teknis & Proyeksi WLFI

    Meski data harga WLFI umum relatif baru dan terbatas, kita bisa menilik beberapa proyeksi teknikal berdasarkan sinyal pasar saat ini:

    • Range Support / Resistance Awal: Support bisa berada di level token treasury sebelumnya (~$0,25), sementara resistensi dekat harga pasar sekunder saat ini.
    • Skenario Bullish: jika momentum terkerek, WLFI bisa menembus level pertumbuhan signifikan — target psikologis bisa mendekati $0,40–$0,50 tergantung likuiditas dan penerimaan pasar.
    • Risiko Koreksi: tekanan jual dari investor awal atau ketidakpastian regulasi bisa memunculkan koreksi ke bawah support.

    Jika WLFI mampu menjalankan roadmapnya dengan transparansi dan mendapatkan kepercayaan pengguna institusional, proyek ini bisa menjadi jembatan baru antara milik fisik dan token digital.

    Baca Juga: WLFI: Dari Politik Trump ke Blockchain, Token Ini Jadi Bintang Baru DeFi?

    Pembelian premium oleh Hut8 terhadap token WLFI dari treasury proyek bukan sekadar aksi pasar — ini adalah pernyataan keyakinan institusional terhadap visi proyek blockchain yang menyatukan aset nyata dan ekosistem DeFi.

    Dengan narasi tokenisasi properti, stablecoin USD1, dan integrasi aset komoditas, WLFI berpotensi menjadi proyek ambisius yang menjembatani dunia keuangan tradisional dan dunia kripto.

    Jika roadmap dilaksanakan dengan sistematis dan kritik regulasi ditangani dengan hati-hati, WLFI bisa berubah dari token spekulatif menjadi proyek blockchain yang berpengaruh.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Stablecoin Tanpa Bunga Jadi Standar? OCC Buka Babak Baru Regulasi

    Kantor pengawas perbankan AS, Office of the Comptroller of the Currency (OCC), merilis proposal setebal 376 halaman untuk mengimplementasikan Guiding and Establishing National Innovation for US Stablecoins (GENIUS) Act.

    Draft aturan ini bertujuan merapikan perdebatan lama soal “yield” atau bunga pada payment stablecoin, sekaligus membuka jalan bagi pembahasan regulasi lanjutan seperti Digital Asset Market Clarity Act of 2025 (CLARITY).

    Proposal tersebut dibuka untuk komentar publik selama 60 hari sejak tanggal publikasi pada Rabu, dan memuat aturan rinci bagi penerbit payment stablecoin yang berada di bawah yurisdiksi OCC.

    Larangan Yield: Cash, Token, atau Bentuk Imbalan Apa Pun

    Dalam proposal OCC, entitas yang diawasi dilarang membayarkan bunga atau yield dalam bentuk apa pun—baik uang tunai, token, maupun “pertimbangan lain”—yang diberikan “semata-mata terkait kepemilikan, penggunaan, atau penahanan” payment stablecoin. Ketentuan ini disebut selaras dengan GENIUS Act, khususnya pasal 4(a)(11).

    Sejumlah pengamat menilai langkah OCC ini dimaksudkan untuk “mengunci” interpretasi larangan yield melalui rulemaking, sehingga isu yield tidak lagi menjadi hambatan besar di pembahasan CLARITY.

    Baca juga: Meta Siap Comeback Stablecoin, Zuckerberg Bidik Peluncuran di 2026

    Tutup Celah: Skema Yield via Afiliasi Ikut Disasar

    OCC juga menambahkan mekanisme rebuttable presumption, yakni asumsi awal bahwa penerbit melanggar larangan yield bila terdapat pengaturan pembayaran kepada afiliasi atau “pihak ketiga terkait”, lalu pihak tersebut meneruskan yield kepada pemegang stablecoin penerbit.

    Penerbit masih dapat membantah asumsi tersebut dengan menyerahkan bukti tertulis kepada OCC. Namun, OCC menegaskan adanya “keterkaitan erat” antara pembayaran dari penerbit dan yield ke end-holder, serta menilai struktur semacam itu “sangat mungkin” merupakan upaya mengakali aturan GENIUS.

    Dua Pengecualian yang Diakui dalam Proposal

    Meski memperketat larangan yield, OCC menyebut proposalnya tidak dimaksudkan untuk:

    1. Melarang merchant memberikan diskon secara independen kepada pengguna yang membayar dengan payment stablecoin.
    2. Melarang penerbit berbagi keuntungan stablecoin dengan mitra non-afiliasi dalam skema white-label.

    Artinya, insentif dari merchant dan pembagian profit untuk mitra non-afiliasi masih dipandang berbeda dari “yield” yang dibayarkan ke pemegang stablecoin.

    Dampak ke CLARITY dan Perusahaan Seperti Coinbase

    Jika aturan ini disahkan sesuai draft, implikasinya langsung terasa pada debat CLARITY terkait reward atau yield stablecoin. Draf CLARITY sebelumnya banyak menyinggung apakah penyedia layanan aset digital (misalnya exchange) boleh memberikan imbal hasil atas saldo payment stablecoin—isu yang memicu perdebatan dan keberatan dari sejumlah pelaku industri, termasuk Coinbase.

    Dengan menegakkan larangan di level issuer (penerbit) untuk stablecoin yang patuh GENIUS dan diawasi OCC, kerangka regulasi perbankan secara efektif menetapkan baseline “tanpa yield” bagi payment stablecoin teregulasi.

    Bagi perusahaan yang ingin menawarkan yield pada saldo stablecoin sambil tetap berada dalam rezim regulasi AS, pesan dari proposal ini menjadi tegas: yield stablecoin dan payment stablecoin yang patuh GENIUS di bawah pengawasan OCC diposisikan berada di sisi yang berbeda dari garis regulasi.

    Tahap Berikutnya: 60 Hari Komentar Publik

    OCC membuka periode masukan publik selama 60 hari. Hasil konsultasi ini akan menentukan apakah draft larangan yield akan difinalisasi seperti saat ini, atau mengalami penyesuaian sebelum menjadi aturan resmi.

    Jika final, proposal ini berpotensi menjadi penentu arah industri stablecoin AS: payment stablecoin yang patuh GENIUS bergerak ke model “digital cash” tanpa yield, sementara produk stablecoin ber-yield kemungkinan akan terdorong ke kategori regulasi atau struktur yang berbeda.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, langkah OCC ini memicu CLARITY Act untuk lolos tanpa hambatan debat bunga lagi.

    “Dengan melarang yield, stablecoin GENIUS-compliant jadi murni alat pembayaran, bukan produk investasi. Strategis buat kejelasan regulasi AS,” ujarnya.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • RLUSD Jadi Kunci? Masa Depan XRPL di Tangan Stablecoin Ripple

    Ripple kembali memperluas strategi ekosistemnya dengan menjadi investor strategis dalam pendanaan awal (seed round) senilai $5 juta untuk t54 Labs pada 25 Februari. t54 memposisikan diri sebagai “trust layer” bagi ekonomi berbasis AI agent yang sedang berkembang.

    Langkah ini bukan sekadar investasi kecil dalam proyek AI, melainkan sinyal arah strategis Ripple. Perusahaan tidak mendukung chatbot konsumen atau token bertema AI, melainkan membangun infrastruktur pembayaran, identitas, dan kontrol risiko yang memungkinkan agen otonom bertransaksi secara patuh regulasi.

    Ripple sebelumnya telah menyatakan telah menggelontorkan $550 juta ke dalam ekosistem XRP Ledger (XRPL). Investasi di t54 menunjukkan fokus berikutnya: menjadikan XRPL sebagai tulang punggung pembayaran machine-to-machine (M2M).

    AI Agent Butuh Pembayaran yang Tertanam dalam Workflow

    Jika AI agent benar-benar menjadi pelaku ekonomi digital, membeli data, menyewa komputasi, atau membayar layanan—maka pembayaran harus terjadi langsung di dalam proses kerja (workflow), bukan setelahnya.

    Di sinilah standar x402 menjadi relevan. x402 menghidupkan kembali kode HTTP 402 “Payment Required”, memungkinkan agen memanggil endpoint, menerima tantangan pembayaran, menyelesaikan pembayaran otomatis, lalu melanjutkan proses—tanpa langganan, invoice, atau rekonsiliasi manual.

    Namun, standar saja tidak cukup. Infrastruktur pembayaran di belakangnya harus cepat, murah, dan yang terpenting: patuh regulasi.

    Ripple melihat celah di sini. Menurut Tim Research Tokocrypto, Ripple nggak cuma kejar chatbot, tapi kejar infrastruktur ‘back-end’ ekonomi AI.

    “Jika agen AI mulai menggunakan RLUSD buat beli data atau komputasi, XRPL bakal dapet lonjakan likuiditas on-ledger masif. Ini strategi jangka panjang narik XRPL jadi tulang punggung ekonomi mesin,” terangnya.

    Tantangan Utama: Akuntabilitas, Bukan Sekadar Transfer Nilai

    Mengirim dana lewat blockchain bukan lagi masalah besar. Tantangan sebenarnya adalah akuntabilitas.

    Jika AI agent melakukan transaksi, pihak lawan transaksi—terutama institusi teregulasi—akan bertanya:

    • Siapa yang mengendalikan agent tersebut?
    • Apakah ada verifikasi identitas?
    • Bagaimana risiko dipantau?
    • Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan?

    t54 membangun infrastruktur dengan asumsi bahwa identitas, verifikasi, kontrol risiko real-time, dan sistem kredit adalah syarat utama agar ekonomi berbasis AI dapat berkembang secara serius.

    Dalam konteks ini, XRPL diposisikan bukan sekadar blockchain aplikasi AI, melainkan sebagai layer settlement yang siap digunakan institusi.

    Permissioned Domains dan DEX: Infrastruktur untuk Institusi

    Perkembangan XRPL belakangan ini, seperti fitur Permissioned Domains dan Permissioned DEX, menunjukkan arah yang jelas: menciptakan lingkungan terkontrol bagi pelaku yang membutuhkan allowlist, kredensial, dan akses terbatas.

    Jika AI agent harus bertransaksi dengan entitas yang wajib memenuhi KYC, AML, dan screening sanksi, maka pendekatan permissioned menjadi krusial.

    Di titik ini, bentuk pembayaran menjadi penentu utama.

    Baca juga: Binance Resmi Integrasi RLUSD, Stablecoin Ripple Makin Ekspansif!

    RLUSD Bisa Lebih Penting dari Biaya Transaksi

    Dalam ekonomi machine-to-machine, volatilitas adalah masalah. AI agent yang melakukan ribuan transaksi mikro tidak dapat bergantung pada aset yang fluktuatif.

    Stablecoin menjadi solusi logis.

    RLUSD, stablecoin milik Ripple, memiliki suplai beredar sekitar $1,538 miliar dengan cadangan sekitar $1,610 miliar. Namun, data DeFiLlama menunjukkan stablecoin yang benar-benar beredar di XRPL sekitar $415 juta, dan RLUSD menyumbang sekitar 83% dari jumlah tersebut.

    Artinya, meski RLUSD cukup besar secara total suplai, likuiditas settlement di XRPL sendiri masih relatif terbatas.

    Jika AI workflow benar-benar memilih RLUSD sebagai aset kerja utama, maka permintaan likuiditas di XRPL dapat meningkat signifikan.

    Menariknya, biaya dasar XRPL sangat kecil—sekitar 0,00001 XRP per transaksi dan dibakar. Dampak ekonomi terbesar bukan dari fee burn, melainkan dari peningkatan kebutuhan likuiditas stablecoin dan market making di dalam ledger.

    XRPL Tidak Perlu Kuasai Seluruh Pasar AI

    Saat ini, Ethereum memimpin dalam jumlah AI agent yang dideploy, disusul Base. XRPL bukan pemain dominan di sisi aplikasi AI.

    Namun Ripple tampaknya tidak menargetkan dominasi penuh. Strateginya lebih sempit dan praktis: menguasai layer pembayaran dan settlement.

    Jika standar seperti x402 mencapai 200 juta transaksi per tahun dan XRPL menangkap 2%, itu berarti sekitar 4 juta transaksi per tahun. Jika penetrasi naik menjadi 5% dari 1 miliar transaksi tahunan, maka XRPL dapat memproses 50 juta transaksi per tahun.

    Dalam skenario lebih agresif—10 miliar transaksi tahunan dengan 5% pangsa—XRPL bisa menangani 500 juta transaksi per tahun, atau sekitar 1,37 juta transaksi per hari.

    Angka tersebut cukup untuk menciptakan perubahan signifikan dalam kebutuhan likuiditas, alat kepatuhan, dan infrastruktur pengembang.

    Kesimpulan: Miliaran Dolar Potensi, Tapi Bergantung pada Pilihan Agent

    Potensi pembayaran machine-to-machine bernilai miliaran dolar memang terbuka. Namun, dampak riil bagi XRPL bergantung pada satu faktor kunci: apakah AI agent memilih RLUSD sebagai aset settlement utama.

    Jika ya, XRPL dapat menjadi pusat clearing untuk ekonomi digital otonom. Jika tidak, peran Ripple mungkin hanya terbatas sebagai pemain pendukung dalam lanskap yang lebih luas.

    Pertarungan berikutnya bukan soal hype AI, melainkan siapa yang menguasai rel pembayaran di balik layar.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Meta Siap Comeback Stablecoin, Zuckerberg Bidik Peluncuran di 2026

    Meta, perusahaan induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram yang dipimpin Mark Zuckerberg, dilaporkan tengah merencanakan kembali masuk ke pasar stablecoin pada paruh kedua tahun ini. Langkah ini menandai upaya kedua raksasa teknologi tersebut setelah proyek Libra/Diem gagal diluncurkan beberapa tahun lalu akibat tekanan regulator.

    Menurut sejumlah sumber yang mengetahui rencana tersebut, Meta telah mengirimkan request for product (RFP) kepada beberapa perusahaan pihak ketiga untuk membantu mengelola pembayaran berbasis stablecoin serta mengimplementasikan dompet digital baru.

    Gandeng Pihak Ketiga, Stripe Disebut Kandidat Kuat

    Dilaporkan Coindesk, salah satu sumber menyebut Stripe sebagai kandidat potensial untuk menguji coba integrasi stablecoin Meta. Stripe diketahui mengakuisisi perusahaan stablecoin Bridge tahun lalu dan memiliki hubungan lama dengan Meta. CEO Stripe, Patrick Collison, juga telah bergabung dengan dewan direksi Meta sejak April 2025.

    Model yang dipertimbangkan Meta kali ini melibatkan vendor eksternal untuk mengelola pembayaran berbasis stablecoin yang dipatok ke dolar AS. Pendekatan ini berbeda dengan upaya sebelumnya, di mana Meta mencoba mengembangkan dan menerbitkan stablecoin sendiri.

    Sumber menyebut Meta ingin menjalankan proyek ini “at arm’s length” atau menjaga jarak secara operasional, guna meminimalkan risiko regulasi dan reputasi.

    Baca juga: Tim Trump Bahas Stablecoin Dolar untuk Gaza, Solusi Ekonomi?

    Buka Jalur Pembayaran untuk 3 Miliar Pengguna

    Jika terealisasi, integrasi stablecoin akan membuka jalur pembayaran digital langsung bagi lebih dari 3 miliar pengguna platform Meta. Skema ini berpotensi memangkas biaya transaksi perbankan tradisional dan memperkuat posisi Meta dalam sektor social commerce dan remitansi lintas negara.

    Langkah ini juga akan menempatkan Meta dalam persaingan langsung dengan platform seperti X milik Elon Musk dan Telegram, yang sama-sama mengembangkan fitur pembayaran internal untuk menjadi “super app”.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kembalinya Meta ke ekosistem stablecoin dengan pendekatan ‘arm’s length’ (menggunakan pihak ketiga) menunjukkan kedewasaan strategi perusahaan dalam menghadapi regulasi AS yang baru (GENIUS Act).

    “Dengan memanfaatkan infrastruktur pembayaran Stripe, Meta dapat secara instan mengubah WhatsApp dan Instagram menjadi raksasa perdagangan sosial global. Ini adalah ancaman serius bagi dominasi super-app lain, karena Meta memiliki basis pengguna terbesar untuk memicu adopsi massal pembayaran berbasis blockchain secara global,” jelasnya.

    Regulasi Lebih Ramah Dibanding Era Libra

    Pada 2019, Meta meluncurkan proyek Libra yang kemudian berganti nama menjadi Diem. Namun proyek tersebut menghadapi penolakan keras dari regulator AS dan akhirnya dibubarkan pada awal 2022.

    Kini, lanskap regulasi di AS dinilai lebih terbuka terhadap stablecoin. Pemerintahan Presiden Donald Trump melalui GENIUS Act telah membentuk dasar hukum bagi penerbit stablecoin di AS, meskipun aturan teknisnya masih dalam tahap penyusunan.

    Perubahan iklim regulasi ini dinilai membuka peluang baru bagi Meta untuk kembali mencoba, kali ini dengan pendekatan yang lebih hati-hati dan melibatkan mitra eksternal.

    Hingga saat ini, Meta, Stripe, dan Bridge belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut. Jika integrasi berjalan sesuai rencana, Meta berpotensi kembali menjadi pemain besar dalam infrastruktur pembayaran digital global, setelah kegagalan ambisi stablecoin sebelumnya.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Stablecoin USD1 Tergelincir dari $1, WLFI Sebut Upaya Sabotase

    Stablecoin USD1 yang diterbitkan World Liberty Financial (WLFI) sempat kehilangan patokan terhadap dolar AS pada 23 Februari. Token tersebut turun hingga sekitar US$0,994 sebelum kembali pulih mendekati US$1 dalam hitungan menit.

    USD1 merupakan stablecoin yang dikaitkan dengan entitas bisnis yang berhubungan dengan Donald Trump dan keluarganya. Saat ini, kapitalisasi pasarnya tercatat sekitar US$4,8 miliar.

    WLFI Klaim Ada Serangan dan Penyebaran Disinformasi

    WLFI menyatakan bahwa insiden tersebut dipicu oleh serangan terkoordinasi. Perusahaan mengklaim sejumlah akun cofounder diretas, lalu digunakan untuk menyebarkan informasi palsu dan membuka posisi short guna memanfaatkan kepanikan pasar.

    Juru bicara WLFI, David Wachsman, mengatakan tim teknik dan keamanan berhasil menahan serangan dari berbagai arah. Ia menegaskan bahwa infrastruktur USD1 tetap berfungsi sesuai desain dan stablecoin tersebut didukung cadangan 1:1, berbeda dengan model algoritmik seperti TerraUSD yang kolaps pada 2022.

    Meski pemulihan berlangsung cepat, insiden ini memicu kekhawatiran di komunitas kripto. Beberapa pengguna media sosial membandingkan pelepasan patokan harga tersebut dengan tanda awal krisis stablecoin di masa lalu.

    Baca juga: Tim Trump Bahas Stablecoin Dolar untuk Gaza, Solusi Ekonomi?

    Rumor Insider Trading dan Spekulasi Media Sosial

    Dikutip BeInCrypto, selama periode volatilitas, beredar laporan tidak terverifikasi yang menyebut Eric Trump menghapus unggahan promosi lama terkait USD1. Tangkapan layar beredar luas, tetapi belum ada konfirmasi independen atas klaim tersebut.

    Di sisi lain, peneliti blockchain ZachXBT menyatakan akan merilis temuan terkait dugaan insider trading di sebuah perusahaan kripto besar dalam waktu dekat. Ia tidak menyebut nama perusahaan, namun sebagian pengguna media sosial berspekulasi bahwa WLFI bisa terkait. Hingga saat ini, tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.

    Kepercayaan Jadi Kunci Stablecoin

    Stablecoin sangat bergantung pada kepercayaan pasar. Bahkan pelepasan patokan harga dalam waktu singkat dapat memicu aksi jual besar jika muncul kekhawatiran terhadap cadangan atau likuiditas.

    Pemulihan cepat USD1 menunjukkan mekanisme likuiditas dan penukaran berjalan sebagaimana mestinya. Namun, peristiwa ini menegaskan betapa sensitifnya sentimen pasar, terutama untuk stablecoin yang relatif baru dan terkait figur publik.

    WLFI belum merinci detail teknis terkait dugaan serangan tersebut. Perkembangan investigasi dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah insiden ini hanya gangguan sementara atau berkembang menjadi ujian kredibilitas yang lebih besar bagi USD1.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, meskipun pemulihan pasak USD1 berlangsung cepat, insiden ini menyoroti rapuhnya kepercayaan pada stablecoin baru yang memiliki keterikatan politik kuat. Depeg tersebut, meski singkat, menjadi tes stres bagi mekanisme penebusan (redemption) WLFI.

    “Rumor tentang insider trading yang sedang diselidiki ZachXBT menciptakan overhang kredibilitas yang signifikan. Bagi pasar, ini adalah pengingat bahwa transparansi cadangan 1:1 jauh lebih penting daripada sekadar narasi dukungan tokoh besar,” ungkapnya.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tim Trump Bahas Stablecoin Dolar untuk Gaza, Solusi Ekonomi?

    Sejumlah pejabat yang bekerja dengan “Board of Peace” bentukan Donald Trump dilaporkan tengah mengeksplorasi peluncuran stablecoin berbasis dolar AS untuk Gaza. Gagasan ini muncul sebagai bagian dari rencana pemulihan ekonomi pascaperang di wilayah yang infrastrukturnya mengalami kerusakan parah sejak konflik 2023.

    Menurut laporan Financial Times, proposal tersebut masih dalam tahap awal dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan mata uang Palestina baru. Stablecoin ini dirancang sebagai mekanisme pembayaran digital di tengah terganggunya sistem perbankan dan terbatasnya akses terhadap uang tunai, termasuk shekel Israel.

    Stablecoin sebagai Infrastruktur Pembayaran Digital

    Rencana tersebut dikabarkan dipimpin oleh pengusaha teknologi Israel, Liran Tancman, yang kini menjadi penasihat badan rekonstruksi yang dipimpin Amerika Serikat. Pejabat dari pemerintahan teknokrat Gaza juga dilaporkan terlibat dalam pembahasan.

    Stablecoin yang diusulkan akan dipatok (pegged) terhadap dolar AS. Implementasinya berpotensi didukung oleh perusahaan aset digital dari negara-negara Teluk Arab dan Palestina.

    Pendukung inisiatif ini menilai sistem pembayaran digital dapat mengurangi ketergantungan pada uang tunai fisik yang langka dan membantu membatasi jalur pendanaan kelompok bersenjata seperti Hamas.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, penggunaan stablecoin dalam diplomasi dan rekonstruksi ekonomi di Gaza menunjukkan utilitas kripto sebagai solusi keuangan di zona konflik yang krisis kas fisik.

    “Ini adalah bukti nyata adopsi teknologi blockchain untuk misi kemanusiaan dan stabilitas geopolitik. Namun, tantangan utama tetap pada kesiapan infrastruktur telekomunikasi (jaringan 2G) dan perlindungan privasi pengguna di wilayah dengan risiko pengawasan tinggi,” jelasnya.

    Baca juga: Binance Resmi Integrasi RLUSD, Stablecoin Ripple Makin Ekspansif!

    Tantangan Fragmentasi dan Infrastruktur

    Meski demikian, sejumlah pihak menyuarakan kekhawatiran. Stablecoin khusus Gaza dinilai berisiko semakin memisahkan ekonomi wilayah tersebut dari Tepi Barat dan memunculkan persoalan tata kelola.

    Selain itu, tantangan teknis juga menjadi perhatian. Gaza masih menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan dan keterbatasan jaringan komunikasi yang sebagian besar bergantung pada jaringan 2G. Kondisi ini dinilai dapat membatasi efektivitas sistem pembayaran berbasis digital.

    Hingga saat ini, belum ada rincian resmi mengenai struktur penerbitan, pengawasan regulasi, maupun jadwal implementasi stablecoin tersebut. Proposal ini masih dalam tahap eksplorasi dan belum menjadi kebijakan final.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Binance Resmi Integrasi RLUSD, Stablecoin Ripple Makin Ekspansif!

    Binance, bursa kripto terbesar di dunia, resmi menyelesaikan integrasi Ripple USD (RLUSD) di jaringan XRP Ledger. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya permintaan terhadap stablecoin yang teregulasi dan memiliki cadangan transparan.

    Dilaporkan Trading View, Binance mengonfirmasi bahwa deposit RLUSD kini sudah tersedia, sementara fitur penarikan (withdrawal) akan segera diaktifkan setelah likuiditas jaringan mencukupi.

    Eksekutif senior Ripple, Reece Merrick, menyatakan bahwa integrasi teknis RLUSD di XRP Ledger telah rampung. Dengan dukungan jaringan XRP Ledger yang dikenal cepat dan berbiaya rendah, RLUSD kini dapat ditransfer secara lebih efisien. Hal ini dinilai penting bagi trader maupun institusi yang membutuhkan transaksi stabil dengan waktu penyelesaian singkat.

    Baca juga: XRP Tumbang ke US$1,38, Tapi Kalahkan Bitcoin dan Ethereum?

    Integrasi Teknis RLUSD

    Di Binance, RLUSD telah dipasangkan dengan beberapa pasangan perdagangan seperti RLUSD/USDT dan XRP/RLUSD guna meningkatkan likuiditas dan utilitas di dalam ekosistem. Bursa tersebut juga menawarkan promo bebas biaya transaksi (zero trading fees) untuk pasangan RLUSD tertentu.

    Selain itu, RLUSD telah terintegrasi dalam program Simple Earn Binance, memungkinkan pengguna memperoleh imbal hasil dengan skema fleksibel tanpa periode penguncian tetap.

    Setelah integrasi ini, pengguna dapat langsung membuat alamat deposit dan mengirim RLUSD melalui jaringan XRP Ledger. Sementara itu, penarikan akan dibuka dalam waktu dekat setelah likuiditas dinilai stabil. Sebelumnya, RLUSD telah lebih dulu terdaftar di sejumlah bursa besar seperti Bitstamp, Kraken, Gemini, dan Bitget. Secara keseluruhan, stablecoin ini kini tersedia di lebih dari 16 bursa global.

    Sejak diluncurkan pada Desember 2024, RLUSD menunjukkan pertumbuhan yang stabil dengan kapitalisasi pasar melampaui US$1,52 miliar. Harganya tetap bergerak di kisaran US$1, mencerminkan stabilitas sebagai aset yang dipatok terhadap dolar AS.

    RLUSD didukung cadangan 1:1 berupa simpanan dolar AS, obligasi pemerintah AS (Treasury bills), serta aset likuid lainnya di bawah pengawasan New York Department of Financial Services (NYDFS). Laporan terbaru menyebutkan bahwa cadangan RLUSD bahkan melebihi 103% dari total suplai beredar, memperkuat kepercayaan terhadap stablecoin tersebut.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, hadirnya RLUSD di bursa kripto terbesar dunia memperluas kegunaan ekosistem XRP Ledger.

    “Integrasi ini memperkuat posisi Ripple di pasar stablecoin yang teregulasi dan memberikan opsi likuiditas baru bagi institusi yang mencari kepatuhan hukum,” jelasnya.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Emas Bergejolak, Investor Justru Borong XAUT dan PAXG

    Pasar tokenized gold terus menunjukkan pertumbuhan agresif meskipun harga emas fisik mengalami volatilitas dalam jangka pendek. Data terbaru mencatat kapitalisasi pasar tokenized gold telah melampaui $6 miliar, menjadikannya salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di industri aset digital.

    Kenaikan ini menandakan meningkatnya minat investor terhadap eksposur aset safe haven melalui infrastruktur blockchain, di tengah kondisi pasar global yang tidak stabil.

    Kapitalisasi Tokenized Gold Naik $2 Miliar Sejak Awal Tahun

    Berdasarkan data Dune, total market cap tokenized gold telah naik lebih dari $2 miliar sejak awal tahun. Pada saat laporan ini dibuat, nilai pasar sektor tersebut berada di level $6,12 miliar.

    Seiring pertumbuhan tersebut, lebih dari 1,2 juta ounce emas fisik kini tercatat tersimpan dalam sistem kustodian untuk mendukung penerbitan token-token emas berbasis blockchain. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap representasi digital emas terus meningkat.

    XAUT Dominasi Pasar, Capai $3,5 Miliar

    Tether Gold (XAUT) masih menjadi pemain terbesar dalam ekosistem tokenized gold. Market cap XAUT kini berada di sekitar $3,5 miliar, atau lebih dari setengah total nilai pasar tokenized gold.

    Data Token Terminal menunjukkan kapitalisasi XAUT melonjak lebih dari 50% hanya dalam sebulan terakhir. CEO Tether Paolo Ardoino sebelumnya juga menyatakan perusahaan berencana meningkatkan eksposur emas hingga 10–15% dari total portofolio investasi mereka.

    Tether dilaporkan mempercepat strategi akumulasi emas dan bahkan disebut melampaui pembelian beberapa negara seperti Yunani, Qatar, dan Australia. Pada kuartal terakhir 2025, Tether menambah eksposur sekitar 27 metrik ton emas.

    Baca juga: Tether Masuk Bisnis Emas! Gold.com Kebagian Dana $150 Juta

    Tether Investasi di Gold.com dan Kembangkan Akses Emas Digital

    Selain menambah cadangan emas, Tether juga melakukan investasi strategis senilai $150 juta ke platform logam mulia Gold.com. Investasi tersebut memberi Tether sekitar 12% kepemilikan perusahaan.

    Melalui kerja sama ini, Tether akan mengintegrasikan XAUT ke dalam ekosistem Gold.com, dengan tujuan memperluas akses emas melalui jalur distribusi digital maupun tradisional.

    Tether juga menyebut pihaknya sedang mengeksplorasi opsi agar pelanggan dapat membeli emas fisik menggunakan mata uang digital seperti USDT, stablecoin terbesar di dunia, serta USA₮, stablecoin baru yang diklaim telah diatur secara federal dan didukung dolar AS.

    Dalam upaya memperluas utilitas token emasnya, Tether turut meluncurkan Scudo, satuan unit baru yang mewakili 1/1.000 dari XAUT.

    PAXG Jadi Pesaing Terdekat dengan Market Cap $2,3 Miliar

    Di posisi kedua, Paxos Gold (PAXG) mencatat market cap sekitar $2,3 miliar. Token emas ini mengalami kenaikan 33,2% dalam sebulan terakhir.

    Secara keseluruhan, XAUT dan PAXG menjadi dua aset dominan yang menyumbang mayoritas aktivitas dalam pasar tokenized gold.

    Dengan kapitalisasi pasar yang terus naik, tokenized gold semakin mempertegas posisinya sebagai alternatif eksposur emas bagi investor yang ingin memanfaatkan sistem blockchain tanpa kehilangan dukungan aset fisik sebagai underlying.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, lonjakan ini menunjukkan meningkatnya permintaan investor untuk aset safe-haven dalam format digital yang likuid.

    “Pertumbuhan pesat RWA (Real World Assets) berbasis emas membuktikan blockchain menjadi infrastruktur utama untuk kepemilikan aset fisik secara global,” jelasnya.

    Baca juga: Tether Luncurkan Mining OS (MOS), Dorong Efisiensi Penambangan BTC


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Cap USDT Turun ke $184,3 Miliar, Sinyal Bear Market Datang?

    Pergerakan terbaru Tether (USDT) memunculkan sinyal yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan market cap USDT kini berbalik menjadi negatif setelah sebelumnya mencatat ekspansi selama hampir dua tahun. Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa likuiditas di pasar kripto mulai menyusut dan risiko fase bearish kembali meningkat.

    Sebagai stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, USDT sering digunakan sebagai indikator masuk atau keluarnya modal dari pasar kripto. Ketika suplai USDT meningkat, itu biasanya menandakan adanya likuiditas baru yang siap masuk ke aset kripto seperti Bitcoin. Sebaliknya, ketika pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif, hal tersebut mengindikasikan bahwa modal justru keluar dari pasar.

    Data CryptoQuant: Pertumbuhan USDT Masuk Zona Negatif

    Data CryptoQuant menunjukkan bahwa rata-rata 60 hari perubahan market cap USDT berubah menjadi negatif pada Februari 2026. Terakhir kali kondisi serupa terjadi adalah pada kuartal ketiga 2023.

    Grafik tersebut memperlihatkan korelasi erat antara harga Bitcoin dan pertumbuhan market cap USDT. Ketika suplai USDT mengembang, likuiditas baru masuk dan mendukung reli harga. Namun, ketika pertumbuhan negatif, daya beli melemah dan reli cenderung lebih rapuh serta mudah terkoreksi.

    Analis Crypto Tice menyatakan bahwa secara historis, kenaikan berkelanjutan Bitcoin jarang terjadi ketika suplai stablecoin sedang menyusut. Artinya, selama kontraksi USDT berlangsung, potensi kenaikan harga cenderung terbatas.

    Market Cap USDT Turun dari $187 Miliar ke $184,3 Miliar

    Dilaporkan BeInCrypto, data CoinGecko menunjukkan bahwa sejak awal Januari, kapitalisasi pasar USDT turun dari lebih dari $187 miliar menjadi sekitar $184,3 miliar. Penurunan ini terjadi di tengah aktivitas burn besar-besaran oleh Tether.

    Pada 10 Februari, Whale Alert melaporkan bahwa Tether membakar 3,5 miliar USDT. Sebelumnya, perusahaan juga membakar 3 miliar USDT pada bulan lalu. Data CryptoQuant mencatat bahwa dua pembakaran ini merupakan yang terbesar secara beruntun dalam sejarah.

    Burn tersebut terjadi ketika investor menukar USDT kembali ke mata uang fiat. Tether kemudian menghapus USDT yang ditebus dari peredaran untuk menjaga keseimbangan cadangan dan mempertahankan patokan 1:1 terhadap dolar AS.

    Seorang investor bernama Ted menyebut bahwa tren suplai USDT kini berada dalam fase penurunan untuk pertama kalinya sejak kuartal pertama 2025 dan menilai kondisi tersebut sebagai sinyal yang kurang positif bagi pasar.

    Sinyal Sideways atau Penurunan Lebih Dalam?

    Meski demikian, data historis memberikan perspektif tambahan. Sejak 2022, periode ketika rata-rata 60 hari pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif biasanya berlangsung sekitar dua bulan. Fase tersebut sering bertepatan dengan pergerakan Bitcoin yang cenderung sideways dan pembentukan local bottom.

    Contohnya terjadi pada November 2022 hingga Januari 2023 serta Agustus hingga Oktober 2023. Dalam periode tersebut, pasar bergerak stagnan sebelum akhirnya memasuki fase pemulihan.

    Namun, dalam skenario yang lebih bearish, Bitcoin disebut berpotensi turun di bawah $43.000 apabila level support kunci di $63.000 gagal bertahan. Dengan likuiditas yang menyusut, reli harga berisiko menjadi rapuh dan lebih rentan terhadap aksi jual.

    Secara keseluruhan, berbaliknya pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk memantau dinamika likuiditas. Apakah ini awal fase bearish baru atau sekadar konsolidasi sebelum pemulihan, akan sangat bergantung pada arah permintaan dan stabilitas pasar dalam beberapa bulan ke depan.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kontraksi suplai stablecoin biasanya dibaca sebagai penurunan likuiditas “amunisi” pasar, membuat reli BTC/kripto lebih rapuh dan rentan sell-off.

    “Secara historis, fase ketika metrik ini negatif sering berkorelasi dengan pasar sideways atau penurunan lanjutan sebelum recovery beberapa bulan berikutnya. Intinya: selama stablecoin supply menyusut, pasar cenderung berada di fase risk-off/demand lemah,” katanya.

    Baca juga: Anak Purbaya Soroti Pentingnya Keamanan Aset Kripto, Apa yang Perlu Investor Tahu?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • USDC Makin Agresif! Circle Kerja Sama dengan Polymarket

    Circle resmi mengumumkan kerja sama strategis dengan Polymarket, platform prediction market terbesar di dunia. Kolaborasi ini disebut bertujuan mendukung evolusi terbaru pasar keuangan berbasis on-chain, khususnya pada sektor prediction market yang kini semakin berkembang sebagai instrumen finansial berbasis informasi.

    Dalam pengumuman resminya, Circle menyebut bahwa kemitraan ini akan memperkuat fondasi stablecoin di ekosistem prediction market dengan menghadirkan infrastruktur stablecoin yang transparan dan sepenuhnya didukung cadangan (fully-reserved). Langkah ini dinilai penting karena prediction market kini mulai berkembang lebih luas dan membutuhkan sistem penyelesaian transaksi yang lebih kuat dan andal.

    Fokus Kemitraan: Stablecoin Transparan dan Settlement Lebih Mulus

    Circle menjelaskan bahwa kerja sama dengan Polymarket akan difokuskan pada tiga hal utama. Pertama, membawa infrastruktur stablecoin yang transparan dan fully-reserved ke pasar prediksi agar pengguna memiliki keyakinan lebih tinggi terhadap sistem transaksi.

    Kedua, meningkatkan reliabilitas settlement serta mengurangi hambatan transaksi seiring meningkatnya skala pasar. Dengan aktivitas prediction market yang semakin besar, proses settlement yang cepat dan minim friction dianggap menjadi kebutuhan utama untuk menjaga efisiensi dan kenyamanan pengguna.

    Ketiga, memperkuat kepercayaan pasar ketika partisipasi dan likuiditas semakin tumbuh. Circle menilai bahwa stablecoin seperti USDC dapat berperan sebagai pilar utama dalam mendorong sistem keuangan baru yang lebih terbuka dan berbasis data.

    Circle Sebut Prediction Market Mulai Jadi Alat Keuangan Dunia Nyata

    Circle menegaskan bahwa prediction market kini mulai berkembang dari sekadar platform spekulasi menjadi alat finansial berbasis informasi yang dapat digunakan dalam konteks dunia nyata. Kemitraan ini menjadi sinyal bahwa Circle melihat prediction market sebagai bagian penting dari masa depan sistem keuangan on-chain.

    Dalam pernyataannya, Circle juga menekankan bahwa USDC dan infrastrukturnya berpotensi menjadi jalur utama (foundational rails) untuk mendukung ekosistem pasar prediksi yang lebih matang dan terintegrasi, terutama ketika permintaan dan volume transaksi semakin meningkat.

    Kemitraan Circle dan Polymarket ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperluas penggunaan USDC, sekaligus memperkuat posisi stablecoin sebagai infrastruktur inti dalam perkembangan pasar keuangan on-chain generasi berikutnya.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, integrasi infrastruktur Circle ke dalam Polymarket melegitimasi pasar prediksi sebagai sektor finansial on-chain yang serius. Penggunaan USDC yang fully-reserved akan meningkatkan kepercayaan pengguna dan likuiditas platform secara signifikan.

    Baca juga: Circle Lepas 250 Juta USDC di Solana: Investor Wajib Waspada!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com