Tag: stablecoin

  • Inflow Stablecoin Meledak, Investor Kripto Mulai Balik?

    Arus masuk stablecoin ke bursa kripto dilaporkan meningkat tajam meski tekanan jual di pasar masih berlangsung kuat. Data terbaru menunjukkan bahwa ketika Bitcoin (BTC) perlahan mendekati koreksi sekitar 50% dari rekor tertinggi (all time high/ATH) pada Oktober, aktivitas stablecoin justru mulai mengalami lonjakan yang signifikan.

    Dilaporkan Crypto Quant, kondisi ini menjadi sorotan karena stablecoin umumnya digunakan sebagai “amunisi” untuk membeli aset kripto. Kenaikan inflow stablecoin ke exchange sering dianggap sebagai indikasi bahwa investor mulai menyiapkan modal untuk masuk kembali ke pasar, terutama saat harga mengalami penurunan besar.

    Inflow Stablecoin Sempat Anjlok ke $51 Miliar di Desember 2025

    Pada akhir Desember 2025, rata-rata mingguan inflow stablecoin (7-day moving average) tercatat turun hingga $51 miliar. Angka tersebut disebut mencerminkan lemahnya permintaan pasar yang sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir, seiring investor cenderung menahan diri dan pasar bergerak dalam tekanan bearish.

    Penurunan inflow stablecoin pada periode tersebut juga menandakan minimnya modal baru yang masuk ke bursa, sehingga memperkuat kondisi lesu dan rendahnya minat beli di pasar kripto secara keseluruhan.

    Kini Melonjak ke $98 Miliar, Melewati Rata-rata 90 Hari

    Namun, tren tersebut mulai berubah. Data terbaru menunjukkan bahwa inflow stablecoin ke exchange kini melonjak ke $98 miliar. Angka tersebut berarti inflow stablecoin telah meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan level akhir Desember 2025.

    Selain itu, inflow stablecoin saat ini juga telah bergerak melampaui rata-rata 90 hari yang berada di angka $89 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa laju penempatan modal (capital deployment) mulai meningkat dalam beberapa minggu terakhir, di tengah kondisi pasar yang masih tertekan.

    Lonjakan ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai menerima pasokan likuiditas baru, yang dinilai sangat dibutuhkan untuk menahan tekanan penurunan harga lebih lanjut.

    Tekanan Jual Masih Tinggi, Tapi Investor Mulai Masuk Bertahap

    Meski inflow stablecoin meningkat, laporan menyebut bahwa tekanan jual di pasar masih terlalu kuat untuk sepenuhnya diserap oleh modal yang masuk. Artinya, kenaikan inflow belum cukup untuk langsung membalikkan tren, karena aksi jual masih mendominasi pergerakan pasar.

    Namun, kondisi tersebut tetap dianggap sebagai sinyal positif karena menunjukkan bahwa minat investor mulai kembali muncul di level koreksi saat ini. Lonjakan inflow stablecoin mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melakukan aksi beli bertahap atau “buy the dip”, meskipun tren pemulihan masih memerlukan penguatan lebih lanjut.

    Dengan meningkatnya aliran stablecoin, pasar kini dipantau untuk melihat apakah momentum pembelian bisa bertambah kuat dan mampu mengimbangi tekanan jual yang masih tinggi.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, lonjakan inflow stablecoin adalah indikator “smart money” yang sedang melakukan deployment modal (“buy the dip”). Ketersediaan likuiditas segar di bursa ini krusial untuk menyerap tekanan jual dan membentuk landasan harga (floor) yang solid.

    Baca juga: Stablecoin vs Altcoin Apa Bedanya? Pelajari Perbedaannya Sebelum Membeli


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Stable Mainnet Upgrade, Gunakan USDTO sebagai Gas Fee Native

    Blockchain Stable Mainnet resmi mengaktifkan upgrade jaringan v1.2.0, sebuah pembaruan infrastruktur penting yang mentransisikan pembayaran gas fee native ke USDTO, stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS.

    Langkah ini menjadi terobosan signifikan dalam meningkatkan pengalaman pengguna (user experience/UX) sekaligus menurunkan hambatan adopsi bagi pengguna baru di ekosistem blockchain.

    Dengan upgrade ini, pengguna tidak lagi perlu melakukan proses wrap dan unwrap token untuk membayar biaya transaksi.

    Selain itu, Coinmarketcal menyebut bahwa Stable Mainnet juga menghadirkan peningkatan pada aspek observabilitas staking, memungkinkan pemantauan aktivitas staking yang lebih transparan dan informatif.

    Baca Juga: Citrea Luncurkan Mainnet untuk Skalabilitas Bitcoin

    USDTO sebagai Gas Fee Native: Apa Artinya?

    Pada sebagian besar blockchain, gas fee biasanya dibayarkan menggunakan token native jaringan yang harganya volatil.

    Kondisi ini sering kali menjadi sumber kebingungan, terutama bagi pengguna baru yang harus membeli token native terlebih dahulu, mengelola fluktuasi harga token, dan melakukan konversi atau wrapping token.

    Dengan menjadikan USDTO sebagai gas fee native, Stable Mainnet menyederhanakan proses tersebut secara drastis.

    Pengguna kini dapat membayar biaya transaksi langsung menggunakan stablecoin dengan nilai yang stabil, tanpa perlu memahami mekanisme teknis tambahan.

    Pendekatan ini selaras dengan tren baru dalam desain blockchain yang semakin menitikberatkan pada kesederhanaan UX dan adopsi mainstream.

    Menghilangkan Friksi Wrap/Unwrap Token

    Salah satu poin utama dari upgrade v1.2.0 adalah penghapusan friksi wrap/unwrap token.

    Dalam praktik sebelumnya, pengguna kerap dihadapkan pada langkah tambahan untuk mengonversi aset tertentu agar bisa digunakan sebagai gas fee.

    Friksi semacam ini terbukti menjadi penghambat adopsi, terutama bagi pengguna non-teknis, pengembang aplikasi yang menargetkan pasar massal, dan proyek Web2 yang ingin masuk ke Web3.

    Dengan model baru ini, Stable Mainnet menghadirkan pengalaman yang lebih mendekati aplikasi keuangan tradisional, namun tetap mempertahankan sifat desentralisasi blockchain.

    Peningkatan Observabilitas Staking

    Selain perubahan pada sistem gas fee, upgrade v1.2.0 juga membawa peningkatan pada observabilitas staking.

    Fitur ini memungkinkan pengguna dan validator untuk memantau performa staking secara real-time, mendapatkan visibilitas yang lebih jelas terhadap reward, dan mengidentifikasi potensi risiko atau anomali.

    Transparansi staking menjadi faktor krusial dalam membangun kepercayaan pengguna, khususnya di jaringan yang menargetkan pertumbuhan jangka panjang dan partisipasi komunitas yang luas.

    Perspektif Research: Dampak terhadap Adopsi

    Tim Research Tokocrypto menilai bahwa keputusan menggunakan stablecoin sebagai gas fee native merupakan langkah strategis yang berdampak langsung pada adopsi.

    “Penggunaan stablecoin sebagai gas native meningkatkan UX secara signifikan, menurunkan barrier to entry bagi pengguna mainstream. Ini adalah upgrade infrastruktur yang krusial untuk adopsi,” jelas tim Research Tokocrypto.

    Menurut mereka, kompleksitas teknis sering menjadi alasan utama pengguna ritel enggan menggunakan aplikasi blockchain.

    Dengan menyederhanakan mekanisme biaya transaksi, Stable Mainnet membuka peluang integrasi yang lebih luas dengan aplikasi konsumen, fintech, hingga layanan berbasis Web2.

    Implikasi bagi Developer dan Ekosistem

    Bagi developer, model gas fee berbasis USDTO menawarkan sejumlah keuntungan, mulai dari prediktabilitas biaya transaksi; pengalaman onboarding pengguna yang lebih mulus; hingga pengurangan kebutuhan edukasi teknis terkait token native.

    Hal ini berpotensi mendorong lahirnya lebih banyak dApp yang berfokus pada use case nyata seperti pembayaran, remittance, dan aplikasi keuangan sehari-hari.

    Di sisi ekosistem, Stable Mainnet memposisikan diri sebagai jaringan yang ramah pengguna dan siap bersaing dalam lanskap blockchain yang semakin kompetitif.

    Baca Juga: Stablecoin vs Altcoin Apa Bedanya? Pelajari Perbedaannya Sebelum Membeli

    Upgrade Stable Mainnet v1.2.0 menandai langkah penting dalam evolusi desain blockchain yang berorientasi pada pengguna.

    Dengan mentransisikan gas fee native ke USDTO, jaringan ini berhasil menghilangkan friksi teknis yang selama ini menghambat adopsi, sekaligus meningkatkan transparansi staking.

    Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi blockchain tidak selalu harus berfokus pada kecepatan atau skalabilitas semata, tetapi juga pada kesederhanaan dan kenyamanan pengguna.

    Jika diimplementasikan secara konsisten, strategi ini berpotensi menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekosistem Stable Mainnet dalam jangka panjang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Nyaris Koreksi 50%, Tapi Dana Stablecoin Masuk Gila-gilaan!

    Arus masuk stablecoin ke bursa kripto tercatat meningkat tajam meski tekanan jual di pasar masih berlangsung kuat. Data terbaru menunjukkan inflow stablecoin kini hampir dua kali lipat, di tengah kondisi Bitcoin (BTC) yang perlahan mendekati potensi koreksi hingga 50% dari all time high (ATH) Oktober.

    Kondisi ini memunculkan sinyal baru bahwa minat investor mulai kembali, meskipun pasar belum sepenuhnya pulih.

    Berdasarkan data pergerakan inflow stablecoin, pada akhir Desember 2025 rata-rata mingguan arus masuk stablecoin ke exchange (menggunakan 7-day moving average) sempat turun ke level US$51 miliar. Angka tersebut dinilai mencerminkan lemahnya permintaan pasar yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir.

    Namun, situasi berubah dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini inflow stablecoin tercatat naik ke US$98 miliar, atau hampir dua kali lipat dibanding akhir Desember.

    Level Modal Penting

    Dilaporkan CryptoQuant, tidak hanya itu, angka tersebut juga telah menembus rata-rata 90 hari yang berada di level US$89 miliar, memperkuat indikasi bahwa modal baru mulai masuk kembali ke pasar kripto.

    Analis menilai peningkatan inflow ini mengindikasikan percepatan penempatan modal (capital deployment) yang dibutuhkan pasar, terutama saat harga aset kripto mengalami tekanan.

    Meski demikian, tekanan jual disebut masih terlalu besar untuk sepenuhnya diserap oleh arus dana masuk tersebut. Artinya, kenaikan inflow stablecoin belum cukup kuat untuk langsung membalikkan tren penurunan harga.

    Walau begitu, peningkatan inflow tetap dipandang sebagai sinyal positif karena menunjukkan investor mulai tertarik kembali di level koreksi saat ini. Beberapa pelaku pasar bahkan disebut sudah mulai melakukan aksi beli, memanfaatkan momentum penurunan harga atau strategi buy the dip.

    Pengamat menilai dinamika ini masih perlu menguat agar mampu mendorong pemulihan pasar secara lebih solid. Namun, peningkatan inflow stablecoin menjadi salah satu indikasi awal bahwa pasar mulai mendapatkan tambahan likuiditas di tengah tekanan koreksi yang berlanjut.

    Sementara itu, menurut Tim Research Tokocrypto, lonjakan inflow stablecoin adalah indikator “smart money” yang sedang melakukan deployment modal (“buy the dip”). Ketersediaan likuiditas segar di bursa ini krusial untuk menyerap tekanan jual dan membentuk landasan harga (floor) yang solid.

    Baca juga: Stablecoin vs Altcoin Apa Bedanya? Pelajari Perbedaannya Sebelum Membeli


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tiga Altcoin Stablecoin Protocol Ini Kuasai Ratusan Triliun Rupiah

    Sektor stablecoin protocol di pasar kripto terus menunjukkan pergerakan signifikan. Sejumlah altcoin di kategori ini mencatatkan kapitalisasi pasar ratusan juta dolar AS, dengan volume transaksi harian yang tinggi dan pertumbuhan harga dalam sepekan terakhir.

    Dilaporkan CoinMarketCap, berdasarkan data terbaru, berikut tiga altcoin stablecoin protocol terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.

    1. Stable (STABLE) Pimpin Pasar

    Token STABLE menjadi yang terbesar di sektor stablecoin protocol saat ini. STABLE diperdagangkan di harga US$0,02053, naik 23,83% dalam tujuh hari terakhir.

    Kapitalisasi pasar STABLE tercatat mencapai US$361,44 juta, dengan volume transaksi 24 jam sebesar US$354 juta. Jumlah pasokan beredar berada di kisaran 17,42 miliar token, mendekati total suplai maksimum 17,6 miliar STABLE.

    Lonjakan harga dan volume menunjukkan tingginya aktivitas pasar terhadap token ini dalam sepekan terakhir.

    Baca juga: 3 Altcoin Perp DEX Ini Diam-Diam Melonjak, Market Cap Rp1 Triliun

    2. Plasma (XPL) Bertahan di Posisi Kedua

    Di posisi kedua terdapat Plasma (XPL) dengan harga US$0,1276. Token ini mencatatkan kenaikan 10,71% dalam tujuh hari, meski pergerakan harian relatif lebih stabil.

    Kapitalisasi pasar XPL mencapai US$229,79 juta, dengan volume transaksi 24 jam sebesar US$81,89 juta. Saat ini, suplai beredar XPL berada di angka 640,92 juta token, dari total suplai 1,8 miliar XPL.

    3. Falcon Finance (FF) Masuk Tiga Besar

    Token Falcon Finance (FF) melengkapi daftar tiga besar stablecoin protocol. FF diperdagangkan di harga US$0,08848, dengan kenaikan 0,99% dalam tujuh hari terakhir.

    Kapitalisasi pasar FF tercatat sebesar US$207,06 juta, sementara volume transaksi harian mencapai US$117,89 juta. Jumlah suplai beredar berada di angka 1,33 miliar FF, dari total suplai 2,34 miliar token.

    Stablecoin Protocol Makin Ramai

    Data ini menunjukkan bahwa sektor stablecoin protocol tidak hanya didominasi oleh stablecoin besar, tetapi juga oleh altcoin pendukung ekosistemnya. Pergerakan harga, volume tinggi, serta kapitalisasi pasar ratusan juta dolar menjadi indikator meningkatnya minat pelaku pasar terhadap kategori ini.

    Dengan dinamika pasar yang masih bergerak cepat, altcoin stablecoin protocol berpotensi terus menjadi sorotan investor kripto dalam waktu dekat.

    Baca juga: 3 Altcoin Binance Alpha Airdrops Ini Meledak Berdasarkan Market Cap


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pakistan Gandeng Proyek Kripto Terkait Trump untuk Stablecoin USD1

    Pemerintah Pakistan resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan SC Financial Technologies, afiliasi dari World Liberty Financial yang dikaitkan dengan keluarga mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, untuk menguji penggunaan stablecoin dolar AS bernama USD1 dalam sistem pembayaran lintas negara.

    Berdasarkan sumber yang terlibat langsung dalam kesepakatan tersebut, kerja sama ini menjadi kesepakatan pertama yang diumumkan secara publik antara sebuah negara berdaulat dan proyek mata uang kripto. Rincian lanjutan dari perjanjian ini dijadwalkan akan diumumkan setelah kunjungan CEO World Liberty Financial, Zach Witkoff, ke Islamabad.

    Pakistan bermitra dengan World Liberty

    Dalam pengumuman resmi, World Liberty Financial menyatakan telah menandatangani MoU dengan Kementerian Keuangan Pakistan untuk mengeksplorasi inovasi keuangan digital, dengan fokus utama pada pemanfaatan stablecoin untuk transaksi lintas batas.

    Melalui kesepakatan tersebut, World Liberty Financial akan bekerja sama dengan bank sentral Pakistan guna mengintegrasikan stablecoin USD1, yang dipatok ke dolar AS, ke dalam struktur pembayaran digital nasional. Stablecoin ini akan berjalan berdampingan dengan infrastruktur kripto yang sudah ada di Pakistan.

    Sebelumnya, pada April 2024, World Liberty Financial dan Pakistan Crypto Council juga telah menandatangani Letter of Intent untuk mendorong adopsi blockchain serta memperluas penggunaan stablecoin dalam remitansi dan perdagangan internasional.

    Dilaporkan Crypto.news, USD1 sendiri mencatat pertumbuhan pesat dalam jumlah pasokan yang beredar dan kini melampaui nilai USD 3,4 miliar. Stablecoin tersebut tersedia di sejumlah blockchain, dengan porsi terbesar berada di BNB Smart Chain dan Ethereum.

    Proyek World Liberty Jadi Sorotan

    Proyek World Liberty dilaporkan turut menyumbang lonjakan pendapatan Trump Organization pada paruh pertama 2025, berdasarkan laporan pengungkapan keuangan. Perusahaan ini juga telah mengajukan permohonan izin bank nasional di Amerika Serikat guna menempatkan stablecoin berbasis dolar tersebut di bawah pengawasan regulator.

    Sementara itu, Pakistan dalam setahun terakhir mempercepat pembentukan ekosistem aset digital nasional. Pemerintah telah membentuk Pakistan Virtual Assets Regulatory Authority (PVARA), yang membuka jalan bagi bursa kripto besar seperti Binance dan HTX untuk beroperasi secara legal. Otoritas Pakistan juga mengisyaratkan rencana pembentukan cadangan Bitcoin strategis serta pengembangan fasilitas penambangan kripto.

    Langkah ini menegaskan ambisi Pakistan untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global di tengah meningkatnya adopsi aset kripto oleh negara-negara berkembang.

    Baca juga: 8,4 Juta WLFI Gratis! Begini Cara Mendapatkannya Lewat Program USD1


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Wall Street Serbu Bitcoin dan Stablecoin

    Perdebatan Wall Street soal kripto resmi berakhir. Bank-bank terbesar dunia kini tidak lagi mempertanyakan legitimasi aset digital, melainkan berlomba membangun infrastruktur kripto mereka sendiri, mulai dari Bitcoin, stablecoin, hingga uang tunai berbasis blockchain (tokenized cash).

    Selama bertahun-tahun, industri perbankan memandang kripto sebagai risiko yang harus dikendalikan. Namun sikap itu berubah drastis. Alih-alih menjauh, bank-bank global kini aktif mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam layanan keuangan arus utama, baik melalui produk investasi teregulasi maupun sistem pembayaran digital.

    Perubahan ini tercermin dari serangkaian langkah strategis yang diambil JPMorgan, Morgan Stanley, Barclays, dan Bank of America dalam sepekan terakhir.

    JPMorgan dorong token dolar ke jaringan blockchain baru

    JP Morgan
    JP Morgan

    JPMorgan mengumumkan rencana memperluas token simpanan dolar AS miliknya, JPM Coin (JPMD), ke Canton Network, sebuah blockchain layer-1 yang berfokus pada privasi dan interoperabilitas.

    Melalui kerja sama dengan Digital Asset dan unit blockchain internalnya, Kinexys, JPM Coin akan memungkinkan perpindahan uang digital yang teregulasi antarjaringan blockchain. JPM Coin sendiri merupakan token simpanan dolar AS yang mewakili klaim langsung atas deposito JPMorgan dan dirancang untuk transaksi institusional yang lebih cepat dan aman.

    CEO Digital Asset, Yuval Rooz, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah nyata menuju sistem uang digital teregulasi yang dapat bergerak secepat pasar global.

    Morgan Stanley masuk pasar ETF kripto

    Morgan Stanley resmi memasuki persaingan exchange-traded fund (ETF) kripto dengan mengajukan dua produk baru ke otoritas pasar modal AS. Produk tersebut adalah Morgan Stanley Bitcoin Trust dan Morgan Stanley Solana Trust, yang memberikan eksposur pasif terhadap harga Bitcoin dan Solana.

    Jika disetujui, ETF ini berpotensi menjangkau lebih dari 19 juta klien divisi wealth management Morgan Stanley. Langkah ini menyusul kesuksesan besar ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, yang kini secara kolektif mengelola lebih dari 1,3 juta BTC dengan nilai mendekati US$120 miliar.

    Baca juga: Wall Street Menghijau, Saham Blockchain AS Melejit Tajam! Ini Pemicunya

    Barclays bertaruh pada infrastruktur stablecoin

    Dari Eropa, Barclays mencatatkan langkah penting dengan melakukan investasi pertamanya di sektor stablecoin. Bank asal Inggris tersebut menanamkan modal pada Ubyx, perusahaan clearing stablecoin berbasis di AS yang menghubungkan penerbit stablecoin teregulasi dengan lembaga keuangan.

    Barclays menyebut investasi ini sebagai bagian dari eksplorasi peluang uang digital baru, termasuk stablecoin. Langkah ini menandai perubahan sikap Barclays, yang sebelumnya dikenal vokal menyoroti risiko aset digital.

    Bank of America izinkan rekomendasi ETF Bitcoin

    Sementara itu, Bank of America semakin membuka pintu bagi kripto di layanan wealth management-nya. Bank tersebut telah mengizinkan penasihat keuangan di Private Bank dan Merrill Edge untuk merekomendasikan ETF Bitcoin spot kepada klien.

    Empat ETF yang disetujui berasal dari Bitwise, Fidelity, BlackRock, dan Grayscale, dengan total aset kelolaan lebih dari US$100 miliar. Sebelumnya, Bank of America juga menyarankan alokasi 1% hingga 4% portofolio ke aset digital bagi investor yang siap menghadapi volatilitas tinggi.

    Era baru perbankan dan kripto

    Serangkaian langkah ini menegaskan bahwa sektor perbankan global tidak lagi sekadar mengamati perkembangan kripto dari pinggir lapangan. Integrasi Bitcoin, stablecoin, dan uang digital teregulasi kini menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang Wall Street.

    Dengan bank-bank besar mulai membangun langsung di atas blockchain, batas antara keuangan tradisional dan aset digital semakin kabur, menandai fase baru dalam evolusi sistem keuangan global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kartu Stablecoin Diprediksi Meledak di 2026, Dana Rp4.000 Triliun Jadi Pemicu?

    Adopsi kartu berbasis stablecoin diprediksi akan menjadi salah satu tema terbesar industri kripto pada 2026. Prediksi ini disampaikan oleh Managing Partner Dragonfly, Haseeb Qureshi, menyusul pendanaan jumbo senilai US$250 juta yang diraih perusahaan fintech stablecoin, Rain.

    Dalam unggahan di platform X pada Jumat, Qureshi menyebut bahwa kripto semakin terintegrasi ke dalam sistem pembayaran global. Menurutnya, kartu stablecoin menjadi jembatan penting antara teknologi blockchain dan pengalaman pembayaran yang sudah akrab bagi konsumen.

    “Ini akan menjadi salah satu tema besar 2026: kripto semakin menyatu dengan alur pembayaran ekonomi global,” tulis Qureshi.

    Pendanaan terbaru tersebut mendorong valuasi Rain mendekati US$2 miliar. Sepanjang 2025, Rain mencatat pertumbuhan signifikan dengan peningkatan jumlah pengguna kartu aktif hingga 30 kali lipat dan lonjakan volume pembayaran tahunan hampir 40 kali lipat, menjadikannya salah satu perusahaan fintech dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

    Kartu stablecoin mungkin menghadapi keterbatasan

    Dilaporkan Cointelegraph, Rain mendukung berbagai stablecoin utama seperti USDT dan USDC, serta berjalan di sejumlah jaringan blockchain, termasuk Ethereum, Solana, Tron, dan Stellar. Model ini memungkinkan transaksi yang lebih cepat, biaya lebih rendah, dan jangkauan global yang luas tanpa mengubah pengalaman pengguna secara signifikan.

    Qureshi menilai keunggulan utama kartu stablecoin adalah sifatnya yang “tidak terasa seperti kripto” bagi pengguna. Konsumen tetap dapat bertransaksi dalam denominasi dolar, kapan saja dan di mana saja, tanpa perlu memahami teknologi blockchain di baliknya.

    Optimisme ini sejalan dengan proyeksi Bloomberg Intelligence yang memperkirakan arus pembayaran stablecoin akan tumbuh dengan CAGR 81% hingga mencapai US$56,6 triliun pada 2030.

    Meski demikian, tidak semua pelaku industri sepakat. General Partner Better Tomorrow Ventures, Sheel Mohnot, menilai adopsi kartu stablecoin di negara maju masih menghadapi hambatan, terutama karena kurangnya insentif kuat, eksklusivitas, dan basis pengguna yang “terkunci” seperti pada sistem pembayaran tradisional.

    Pandangan tersebut dibantah oleh investor Pantera Capital, Mason Nystrom, yang menyoroti keunggulan stablecoin bagi pedagang, seperti penyelesaian instan, pembayaran langsung, dan perlindungan dari chargeback. Ia menilai infrastruktur pembayaran berbasis stablecoin berpotensi menggantikan sebagian besar tumpukan fintech yang ada saat ini.

    Regulasi Stablecoin Terus Bergerak Maju

    Dari sisi regulasi, perkembangan juga menunjukkan sinyal positif. Pengesahan GENIUS Act di Amerika Serikat pada akhir tahun lalu dinilai memperkuat momentum regulasi stablecoin. Kanada dan Inggris pun disebut tengah mempersiapkan kerangka regulasi stablecoin yang ditargetkan berlaku pada 2026 atau dalam waktu dekat.

    Adopsi institusional turut meningkat. Western Union, misalnya, berencana meluncurkan sistem penyelesaian berbasis stablecoin di jaringan Solana pada paruh pertama 2026, sekaligus memperkenalkan kartu stablecoin untuk mendukung transaksi konsumen di pasar negara berkembang.

    Dengan kombinasi pertumbuhan pengguna, dukungan pendanaan besar, dan kemajuan regulasi, kartu stablecoin dinilai semakin siap memasuki arus utama sistem pembayaran global.

    Baca juga: Apa itu Stablecoin USAT? Stablecoin Baru Tether yang Patuhi Regulasi AS


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JPMorgan Tancap Gas di Blockchain, JPM Coin Siap Beroperasi

    Raksasa perbankan global JPMorgan Chase & Co. bersiap meluncurkan stablecoin miliknya, JPM Coin (JPMD), secara langsung di jaringan blockchain berfokus privasi, Canton Network. Langkah ini menandai upaya terbaru JPMorgan dalam memperluas penggunaan uang digital institusional yang patuh regulasi dan mampu beroperasi secara real-time.

    Dilaporkan Parameter, penerbitan JPMD di Canton dilakukan melalui unit blockchain JPMorgan, Kinexys, bekerja sama dengan perusahaan teknologi blockchain Digital Asset. Implementasi akan dilakukan secara bertahap sepanjang 2026, dengan tahap awal berfokus pada integrasi teknis dan kesiapan bisnis.

    “Ini menghadirkan uang digital yang teregulasi dan dapat bergerak secepat pasar,” ujar CEO Digital Asset, Yuval Rooz, dalam pernyataannya.

    Baca juga: Geger! JPMorgan Terbitkan Surat Utang AS Pertama di Blockchain Solana

    Kebangkitan JPM Coin

    JPM Coin merupakan representasi tokenisasi dari simpanan dolar AS yang disimpan di JPMorgan dan selama ini digunakan klien institusional untuk pembayaran berbasis blockchain. Dengan penerbitan langsung di Canton Network, JPMD akan mendukung penerbitan, transfer, hingga penebusan hampir instan dalam lingkungan yang aman dan menjaga kerahasiaan data.

    Canton Network sendiri berada di bawah pengawasan Canton Foundation dan dirancang untuk mendukung penyelesaian transaksi yang tersinkronisasi lintas berbagai kelas aset. Jaringan ini memungkinkan aktivitas keuangan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dengan kemampuan smart contract tanpa mengorbankan kepatuhan dan privasi institusional.

    Global co-head Kinexys JPMorgan, Naveen Mallela, menyatakan bahwa integrasi ini berpotensi meningkatkan efisiensi sekaligus membuka likuiditas melalui transaksi blockchain yang mendekati real-time. Selain JPM Coin, proyek ini juga membuka peluang integrasi layanan blockchain JPMorgan lainnya, seperti Blockchain Deposit Accounts dan produk pembayaran digital.

    Canton Network telah menarik minat sejumlah institusi keuangan besar. Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC), misalnya, memilih Canton untuk mendukung tokenisasi instrumen keuangan tradisional, menunjukkan tingkat kepercayaan institusional terhadap kerangka privasi dan kepatuhan jaringan tersebut.

    Ke depan, JPMorgan dan Digital Asset akan mengeksplorasi perluasan ekosistem dengan berbagai produk pembayaran digital lainnya. Seluruh tahapan pengembangan akan tetap mengikuti standar regulasi, teknis, dan operasional yang berlaku.

    Integrasi JPM Coin ke Canton Network ini menjadi perkembangan terbaru dalam pembangunan infrastruktur keuangan digital berbasis blockchain yang ditujukan khusus untuk kebutuhan institusi keuangan global.

    Baca juga: JP Morgan dan Coinbase: Kripto Lebih Mudah dengan Kartu Kredit


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tak Perlu Kartu Bank Lokal, WNA Bisa Bayar di Korea Lewat Stablecoin

    Raksasa pembayaran Korea Selatan, BC Card, telah merampungkan proyek percontohan (pilot project) yang memungkinkan warga negara asing membayar merchant lokal menggunakan stablecoin. Langkah ini menandai keseriusan industri pembayaran Korea Selatan dalam merespons perkembangan aset kripto, khususnya stablecoin.

    Dalam pengumuman pada Selasa waktu setempat, BC Card menyebut proyek ini dijalankan bersama perusahaan blockchain Wavebridge, penyedia dompet digital Aaron Group, serta perusahaan remitansi lintas negara Global Money Express. Melalui skema tersebut, pengguna asing mengonversi stablecoin yang tersimpan di dompet digital luar negeri, yang telah bermitra dengan BC Card, menjadi kartu prabayar digital untuk bertransaksi di Korea Selatan.

    Dilaporkan Cointelegraph, BC Card menegaskan bahwa proyek ini bukan uji coba jangka pendek, melainkan bagian dari persiapan menuju implementasi sistem pembayaran berbasis stablecoin secara lebih luas. Inisiatif ini juga disebut sebagai respons atas dinamika dan arah baru regulasi stablecoin di Korea Selatan.

    Sebagai salah satu perusahaan pembayaran terbesar di negara tersebut, BC Card dilaporkan memproses lebih dari 20% total transaksi kartu di Korea Selatan dan melayani sekitar 3,4 juta merchant domestik. Perusahaan ini mayoritas dimiliki oleh KT Corp, salah satu dari tiga raksasa telekomunikasi Korea Selatan.

    Terkait transformasi ini, penasihat hukum Trust Wallet, Shehram Khattak, menilai bahwa adopsi teknologi baru seperti stablecoin akan menuntut perubahan mendasar di sektor keuangan. “Bank tidak hanya harus berhadapan dengan sistem lama dari sisi operasional, tetapi juga mengubah proses dan cara kerja seluruh departemen,” ujarnya.

    Stablecoin Jadi Perhatian Serius di Korea Selatan

    Dalam beberapa bulan terakhir, stablecoin menjadi isu strategis di industri keuangan Korea Selatan. Pada akhir Juli, media lokal melaporkan bahwa perusahaan kartu kredit mulai bersiap menghadapi potensi disrupsi dari stablecoin, seiring dibentuknya satuan tugas bersama industri kartu kredit saat regulator membuka diskusi terkait penerbitan stablecoin berbasis won.

    BC Card sendiri dilaporkan telah membentuk tim internal khusus untuk memantau perkembangan pasar stablecoin, baik di dalam negeri maupun global. Namun demikian, regulasi stablecoin di Korea Selatan masih mengalami hambatan.

    Awal bulan ini, Financial Services Commission (FSC) gagal menyerahkan rancangan aturan stablecoin sesuai tenggat yang diminta oleh Partai Demokrat, partai berkuasa. Penundaan tersebut disebut terjadi akibat perbedaan pandangan antara FSC dan Bank of Korea (BOK). BOK mendorong agar bank memiliki setidaknya 51% kepemilikan pada setiap penerbit stablecoin yang ingin memperoleh izin, sementara regulator lain menginginkan ekosistem yang lebih terbuka.

    Tren Global: Stablecoin Menantang Sistem Pembayaran Tradisional

    Secara global, stablecoin semakin dipandang sebagai alternatif atau pelengkap bagi metode pembayaran tradisional seperti kartu dan transfer bank. Adopsinya terus meluas, termasuk langkah YouTube yang memungkinkan kreator konten di AS menerima pembayaran dalam stablecoin PayPal USD (PYUSD), serta Visa yang telah meluncurkan layanan penyelesaian transaksi menggunakan USD Coin (USDC) untuk sejumlah institusi keuangan di Amerika Serikat.

    Dengan rampungnya pilot project BC Card, Korea Selatan kini berada di barisan depan Asia dalam menguji penggunaan stablecoin untuk pembayaran ritel, membuka peluang perubahan besar dalam lanskap industri pembayaran di masa depan.

    Baca juga: Apa itu Stablecoin USAT? Stablecoin Baru Tether yang Patuhi Regulasi AS


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu Stablecoin USAT? Stablecoin Baru Tether yang Patuhi Regulasi AS

    Tak bisa dipungkiri lagi jika stablecoin telah menjadi salah satu kegunaan nyata dari aset kripto yang paling banyak digunakan. Selain membuat pengguna bebas khawatir tentang fluktuasi harga, eksposur terhadap aset kripto juga masih tetap terjaga.

    Baru-baru ini Tether, penerbit stablecoin USDT mengumumkan akan segera merilis stablecoin USAT yang akan menjadi stablecoin yang patuh terhadap regulasi ketat Amerika Serikat.

    Langkah ini menandai perubahan besar dalam pendekatan industri kripto, dari yang sebelumnya cenderung menghindari regulasi, kini justru berusaha merangkulnya demi keberlanjutan jangka panjang.

    Apa Itu USAT Token?

    USAT merupakan stablecoin berbasis dolar yang dirancang khusus untuk melayani pasar Amerika Serikat dan mendukung standar regulasi Amerika, setelah diresmikannya GENIUS Act oleh Presiden Donald Trump.

    Stablecoin ini dikembangkan oleh Tether, pemimpin global dalam teknologi stablecoin yang juga menerbitkan token stablecoin USDT. 

    Jika USDT dikenal sebagai stablecoin global yang digunakan lintas negara, maka USAT difokuskan secara spesifik untuk pasar Amerika Serikat, yang membuat USAT sering kali dianggap sebagai “versi teregulasi” dari stablecoin USDT.

    USAT diharapkan dapat menjadi jalur baru bagi perdagangan, bisnis, dan keuangan Amerika guna memberikan nilai jangka panjang, tata kelola yang kuat, serta adopsi dunia nyata.

    Baca juga: Tether Ngebet Akuisisi Juventus Rp17 Triliun, Langsung Ditolak!

    Latar Belakang Diluncurkannya USAT

    Illustrasi USAT. Sumber: USAT.io

    Seperti yang kamu tahu, Tether telah menjadi pemain lama di dunia kripto khususnya stablecoin, sejak diluncurkannya USDT pada tahun 2014.

    Tantangan baru datang siring regulasi kripto yang semakin matang, terutama di Amerika Serikat (AS) dengan diresmikannya undang-undang baru GENIUS Act, yang ditandatangani pada Juli 2025 oleh Presiden Donald Trump.

    Undang-undang GENIUS Act ini menjadi undang-undang AS pertama yang secara komprehensif membahas kripto serta berfokus pada regulasi stablecoin. Di dalamnya termasuk persyaratan tentang cadangan penuh, audit rutin, dan kepatuhan dengan lembaga keuangan berlisensi federal.

    USAT lahir sebagai respons terhadap undang-undang ini. CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa USAT menjadi salah satu stablecoin yang sesuai dengan perundang-undangan AS dan transparan “USA₮ adalah wujud komitmen kami untuk memastikan bahwa dolar tidak hanya tetap dominan di era digital, tetapi juga berkembang – melalui produk yang lebih transparan, lebih tangguh, lebih mudah diakses, dan lebih tak terbendung daripada sebelumnya,” ujarnya melalui rilis resmi Tether.

    Nantinya USAT akan diterbitkan oleh Anchorage Digital Bank, N.A., yang mana ini merupakan satu‑satunya bank kripto yang diatur secara federal dan sesuai GENIUS Act.

    Baca juga: Menatap Masa Depan Stablecoin: Partisipasi Publik Dalam GENIUS Act

    Lalu Apakah USAT Akan Menjadi Legal Tender di Amerika?

    Melalui rilis resminya, Tether menegaskan bahwa USAT tidak akan menjadi alat pembayaran yang sah (sebagaimana dijelaskan dalam pasal 5103 judul 31, United States Code) dan tidak akan diterbitkan, didukung, disetujui, atau dijamin oleh pemerintah Amerika Serikat.

    USAT juga tidak akan tunduk pada perlindungan asuransi dari Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), Securities Investor Protection Corporation (SIPC), atau lembaga pemerintah lainnya.

    FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation) sendiri adalah lembaga pemerintah AS yang melindungi simpanan nasabah bank. Jika sebuah bank kolaps, simpanan nasabah biasanya dijamin hingga USD 250.000 per orang per bank. Sedangkan SIPC (Securities Investor Protection Corporation) melindungi investor di perusahaan sekuritas atau broker saham.

    Ini berarti USAT tidak dilindungi oleh skema asuransi pemerintah Amerika Serikat dan jika terjadi sesuatu yang buruk, misalnya perusahaan penerbitnya bermasalah, bangkrut, atau asetnya dibekukan—maka pengguna tidak punya jaring pengaman dari negara.

    Kapan Stablecoin USAT Akan Dirilis?

    Berdasarkan pengumuman resmi dari Tether, USAT dijadwalkan untuk dirilis pada Desember 2025. Namun, hingga tanggal 23 Desember 2025, belum ada konfirmasi resmi bahwa stablecoin ini telah secara penuh diluncurkan ke publik.

    Teaser terbaru dari akun X @USAT_io, pada 22 Desember 2025, menyebutkan “USA₮. Coming soon,” yang menandakan peluncuran sangat dekat, mengingat Desember hanya kurang dari 2 minggu lagi, USAT mungkin akan segera dirilis dalam hitungan hari.

    Dengan semakin dekatnya peluncuran USAT, momentum ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting untuk memperluas akses stablecoin yang patuh terhadap regulasi, termasuk di Indonesia nantinya.

    Stablecoin memang menjadi salah satu opsi populer buat para investor yang ingin menyimpan uang dalam bentuk dolar—di Tokocrypto kamu bisa beli langsung stablecoin dengan GRATIS biaya trading lho! Yuk cobain download dan daftar sekarang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com