Tag: stablecoin

  • Larangan Imbal Hasil Stablecoin: UU GENIUS, Alternatif Tokenisasi TradFi

    Undang-Undang Guaranteeing Essential National Infrastructure for Ubiquitous Stablecoins (GENIUS) yang baru disahkan di Amerika Serikat disambut dengan antusiasme sebagai tonggak besar dalam pengakuan regulasi terhadap stablecoin. Namun, sorotan tajam muncul terhadap salah satu ketentuannya yang melarang penerbit stablecoin untuk memberikan imbal hasil atau bunga atas kepemilikan token mereka.

    Dilaporkan Cointelegraph, ketentuan ini dinilai dapat mengurangi daya tarik stablecoin, khususnya dibandingkan dengan instrumen keuangan tradisional seperti money market funds (MMF) yang mulai ditokenisasi dan menawarkan fleksibilitas serta imbal hasil kepada pengguna.

    Mengapa Larangan Imbal Hasil Menjadi Kontroversial?

    Pasal kunci dalam UU GENIUS melarang penerbit stablecoin memberikan hasil (yield) kepada investor, baik ritel maupun institusional. Hal ini, menurut Temujin Louie, CEO Wanchain, bukanlah kemenangan penuh bagi ekosistem kripto. Dalam komentarnya kepada Cointelegraph, Louie menyatakan bahwa larangan tersebut “sebenarnya melindungi keuntungan utama reksa dana pasar uang,” yang saat ini menjadi alternatif unggulan dari dunia TradFi (keuangan tradisional).

    Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani UU GENIUS pada 18 Juli 2025. Di saat yang sama, para analis mulai menyoroti bagaimana money market fund yang ditokenisasi bisa menjadi “jawaban” Wall Street terhadap pertumbuhan stablecoin.

    Tokenisasi MMF: Ancaman atau Solusi?

    Menurut Teresa Ho, ahli strategi dari JPMorgan, tokenisasi MMF membuka potensi baru seperti penggunaannya sebagai agunan margin. Hal ini memungkinkan instrumen keuangan tradisional untuk bersaing langsung dengan stablecoin dari sisi fungsionalitas — tetapi dengan satu keunggulan utama: adanya imbal hasil.

    Baca juga: UU GENIUS Disahkan Trump, Apa Dampaknya ke Regulasi Kripto AS?

    Paul Brody, Global Blockchain Leader di EY, menambahkan bahwa MMF tokenisasi dan deposito tokenisasi memiliki peluang besar untuk berkembang di ranah on-chain, justru karena stablecoin kehilangan daya tarik imbal hasil. “Dana pasar uang yang ditokenisasi bisa sangat mirip secara fungsional dengan stablecoin, namun dengan perbedaan mencolok: mereka memberikan bunga kepada penggunanya,” ujarnya.

    Meski begitu, Brody tetap menggarisbawahi bahwa stablecoin memiliki keunggulan sebagai aset pembawa (bearer assets) yang mudah digunakan di berbagai aplikasi DeFi dan sistem keuangan on-chain tanpa batasan akses dan kontrol yang kompleks.

    Lobi Industri Perbankan Diduga di Balik Ketentuan Ini

    Larangan imbal hasil dalam UU GENIUS bukan datang tanpa alasan. Sejumlah pengamat menduga bahwa lobi industri perbankan memegang peranan penting dalam pembentukan kebijakan ini.

    Austin Campbell, profesor NYU sekaligus konsultan blockchain, mengungkapkan bahwa lembaga-lembaga keuangan secara aktif melobi untuk memblokir stablecoin berbunga guna melindungi model bisnis konvensional perbankan. Setelah bertahun-tahun hanya menawarkan bunga minimal kepada nasabah, bank tentu khawatir kehilangan daya saing apabila stablecoin diperbolehkan memberikan hasil yang lebih tinggi dan instan.

    Meski begitu, pasar aset digital AS telah mengenal stablecoin dengan imbal hasil dalam format sekuritas. Sebagai contoh, pada Februari 2025, SEC menyetujui stablecoin penghasil imbal hasil pertama, yaitu YLDS yang diterbitkan oleh Figure Markets, dengan tawaran yield 3,85% saat peluncuran.

    Penutup: Momentum Tokenisasi TradFi?

    UU GENIUS memang memberikan kepastian hukum untuk stablecoin, namun larangan imbal hasil menjadi titik kritis dalam kompetisi antara stablecoin dan instrumen keuangan tradisional yang ditokenisasi. Di tengah perkembangan pesat tokenisasi aset, terutama MMF, kita mungkin akan melihat pergeseran minat investor dari stablecoin tanpa yield ke alternatif on-chain yang memberikan hasil nyata.

    Apakah hal ini akan menghambat adopsi stablecoin secara luas? Atau justru mempercepat integrasi TradFi ke dalam dunia blockchain? Jawabannya mungkin akan ditentukan oleh kemampuan regulator dan pelaku industri untuk menemukan keseimbangan antara inovasi dan stabilitas sistem keuangan.

    Baca juga: Aturan Stablecoin GENIUS: Maju, Penerbit Asing Buram


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aturan Stablecoin GENIUS: Maju, Penerbit Asing Buram

    Undang-Undang GENIUS yang baru saja disahkan oleh Kongres AS menandai babak baru dalam regulasi stablecoin, menjadikannya kerangka hukum komprehensif pertama yang mengatur penerbitan stablecoin berbasis dolar AS. Regulasi ini digadang-gadang akan meningkatkan kepercayaan investor, mendorong adopsi secara luas, dan memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan global.

    Namun di balik kemajuan tersebut, masih tersisa kekhawatiran serius, khususnya terkait ketidakjelasan aturan bagi penerbit stablecoin asing seperti Tether. Hal ini dikhawatirkan bisa menciptakan ketimpangan persaingan yang merugikan penerbit dalam negeri.

    Tonggak Penting untuk Stablecoin Berbasis Dolar

    Dilaporkan Cointelegraph, Undang-Undang GENIUS membuka peluang besar bagi bank, perusahaan teknologi finansial, hingga ritel raksasa seperti Walmart dan Amazon untuk menerbitkan stablecoin mereka sendiri. Menurut Christian Catalini dari MIT Cryptoeconomics Lab, strategi stablecoin kini akan menjadi elemen vital dalam model bisnis banyak perusahaan jasa keuangan dan pembayaran.

    Stablecoin saat ini telah mencapai kapitalisasi pasar global sebesar $267 miliar. Dalam konteks ini, regulasi yang ketat dianggap dapat mendorong pertumbuhan sehat sektor ini sekaligus memberikan kepastian hukum bagi pelaku industri.

    Stablecoin mencapai nilai pasar $267 miliar. Sumber: DefiLlama.
    Stablecoin mencapai nilai pasar $267 miliar. Sumber: DefiLlama.

    Baca juga: Visa Tambah 3 Stablecoin dan 2 Blockchain Baru

    “Celah” untuk Penerbit Asing: Ancaman Bagi Pesaing Lokal?

    Salah satu kritik utama terhadap Undang-Undang GENIUS datang dari kalangan akademisi dan pemangku kepentingan kebijakan. Timothy Massad, mantan Ketua CFTC, menyebut adanya “celah Tether” — yaitu ketidakjelasan regulasi terhadap penerbit stablecoin yang berbasis di luar negeri. Meskipun disebutkan bahwa penerbit asing harus tunduk pada standar “sebanding”, undang-undang ini tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah tersebut secara konkret.

    Akibatnya, penerbit stablecoin luar negeri seperti Tether bisa saja tetap mendominasi pasar tanpa tunduk pada pengawasan ketat yang kini diberlakukan kepada entitas AS. Hal ini memunculkan risiko insentif negatif bagi penerbit lokal yang harus menghadapi persyaratan lebih ketat terkait cadangan aset, transparansi keuangan, dan kepatuhan terhadap sanksi.

    Meski begitu, CEO Tether Paolo Ardoino menyatakan bahwa pihaknya akan mematuhi regulasi yang ditetapkan dalam Undang-Undang GENIUS, bahkan berencana meluncurkan stablecoin domestik berdasarkan kerangka hukum baru ini.

    Daya Tarik Bagi Penerbit Korporat dan Potensi Dampaknya

    Dengan GENIUS, peluang terbuka lebar bagi bank besar dan perusahaan non-kripto untuk ikut serta dalam ekosistem stablecoin. Namun hal ini juga memunculkan tantangan bagi pemain lama seperti USDC dan Tether.

    Menurut Catalini, keunggulan Tether di pasar internasional cukup kuat, sehingga dampak dari regulasi baru ini mungkin lebih terasa bagi pesaing lokal seperti USDC. Di sisi lain, banyak penerbit korporat diperkirakan akan melangkah secara hati-hati, dimulai dengan proyek percontohan skala kecil untuk membangun pengalaman dan kepercayaan.

    Efek pada Permintaan Utang AS dan Dominasi Dolar

    Pemerintah AS melihat peluang besar dari penerapan GENIUS. Menteri Keuangan Scott Bessent memperkirakan kapitalisasi stablecoin berbasis dolar bisa melonjak hingga $2 triliun, yang secara langsung akan meningkatkan permintaan atas aset-aset utang AS, mengingat stablecoin diwajibkan didukung 100% oleh dolar atau instrumen serupa.

    Namun tidak semua pihak sependapat. Markus Hammer dari HammerBlocks menyebut bahwa kepercayaan terhadap dolar AS justru mulai mengalami erosi, terutama di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang kompleks.

    Kapitalisasi pasar USDt sebesar $163,7 miliar mencakup 61,7% dari seluruh stablecoin. Sumber: CoinGecko.
    Kapitalisasi pasar USDt sebesar $163,7 miliar mencakup 61,7% dari seluruh stablecoin. Sumber: CoinGecko.

    Tanpa Imbal Hasil, Apakah Stablecoin AS Akan Ditinggalkan?

    Salah satu aturan kontroversial dalam Undang-Undang GENIUS adalah pelarangan pemberian bunga atau imbal hasil bagi pemegang stablecoin. Kebijakan ini berpotensi mengurangi daya tarik stablecoin domestik sebagai penyimpan nilai, khususnya di negara berkembang.

    Christopher Perkins dari CoinFund mengatakan bahwa tanpa imbal hasil, stablecoin menjadi aset yang terdepresiasi. Investor kemungkinan akan beralih ke protokol DeFi berbasis Ethereum untuk mencari return pasif, yang secara tidak langsung bisa menghidupkan kembali sektor DeFi sebagai alternatif investasi.

    Kesimpulan: Langkah Maju yang Masih Perlu Penyesuaian

    Undang-Undang GENIUS merupakan tonggak penting dalam sejarah regulasi stablecoin. Ia menetapkan standar baru untuk penerbitan token yang didukung dolar, memberi sinyal kuat terhadap adopsi arus utama dan legitimasi sektor stablecoin.

    Undang-Undang GENIUS mengizinkan stablecoin yang diterbitkan di luar negeri untuk dijual di AS jika mata uang tersebut tunduk pada rezim regulasi dan pengawasan yang “sebanding”. Sumber: Undang-Undang GENIUS/Kongres AS.
    Undang-Undang GENIUS mengizinkan stablecoin yang diterbitkan di luar negeri untuk dijual di AS jika mata uang tersebut tunduk pada rezim regulasi dan pengawasan yang “sebanding”. Sumber: Undang-Undang GENIUS/Kongres AS.

    Namun, tantangan besar tetap mengintai: mulai dari ketidakjelasan definisi untuk penerbit asing, potensi dominasi penerbit korporat besar, hingga dilema antara keamanan regulasi dan inovasi imbal hasil. Dengan stablecoin yang disebut sebagai aplikasi blockchain paling berguna hingga saat ini, regulasi GENIUS akan terus menjadi sorotan utama bagi masa depan ekosistem kripto global.

    “Stablecoin mungkin bukan alat pembayaran utama, tapi ia akan menjadi pemicu persaingan dalam sistem keuangan global,” ujar Timothy Massad, mantan Ketua CFTC.

    Baca juga: China Serius Garap Stablecoin-RWA, Ubah Peta Aset Digital Global


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • XRP Ledger Meroket, Raup 70 Juta Transaksi di Bulan Juli

    XRP Ledger (XRPL) kembali menunjukkan dominasinya sebagai pusat ekosistem stablecoin global.

    Sepanjang Juli 2025, jaringan ini memproses lebih dari 70 juta transaksi, didorong terutama oleh adopsi stablecoin seperti RLUSD dan BBRL dari BrazaBank.

    Dorongan Stablecoin dan Volume Transaksi

    Data dari Dune Analytics mencatat bahwa hingga dua pertiga aktivitas XRPL di bulan tersebut merupakan transaksi stablecoin.

    Stablecoin seperti RLUSD (Ripple USD) dan USDC kini menjadi tulang punggung aktivitas nilai dan likuiditas di jaringan XRPL.

    Selain itu, stablecoin yang dipatok pada Real Brasil (BBRL) juga mencatat volume minting senilai lebih dari $4,2 juta selama Juli, menjadikannya stablecoin BRL terbesar kedua di XRPL

    Pergerakan harga XRP (XRP/USDT) pada Sabtu, 2 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga XRP (XRP/USDT) pada Sabtu, 2 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Baca Juga: Pecah Rekor, XRP Ledger Miliki 7,24 Juta Dompet Aktif

    RLUSD: Menyentuh 120 Juta Unit dalam Waktu Singkat

    Setelah peluncuran RLUSD, stablecoin resmi Ripple, dua bulan lalu, sirkulasi token ini telah menembus 120 juta unit, dengan lebih dari 95% transaksi terjadi di XRPL, dan sisanya di Ethereum.

    Hal ini mencerminkan preferensi kuat pasar terhadap biaya rendah dan efisiensi jaringan XRPL dibanding Ethereum pada kasus penggunaan stablecoin.

    Ripple bahkan telah mengadopsi Chainlink Price Feeds, untuk memberikan data harga RLUSD yang akurat dan andal bagi aplikasi DeFi berbasis token ini.

    Public attestation dan infrastruktur institutional-grade memperkuat statusnya sebagai stablecoin yang compliant dan transparan.

    Ekosistem Stablecoin XRPL Kini Semakin Terdiversifikasi

    Selain RLUSD dan USDC, XRPL kini mendukung berbagai stablecoin yang mencakup berbagai mata uang fiat lain seperti XSGD (Singapore Dollar), EURØP (Euro), USDB, dan BBRL.

    Ini memperkuat posisi XRPL sebagai infrastruktur settlement global yang efisien dan terjangkau. Adapun kelebihan XRPL terletak pada:

    • Finalitas cepat dan biaya transaksi rendah
    • Auto‑bridging XRP yang memperlancar pertukaran antar-token di DEX bawaan jaringan
    • Automated Market Maker (AMM) yang telah bekerja di level protocol—bukan smart contract biasa—menawarkan slippage rendah dan stabilitas likuiditas yang unggul.

    Minat Institusional ke XRPL Kian Tumbuh

    XRPL kini mulai menarik mata investor institusional. Sejak diluncurkan di CME pada Mei, volume kontrak futures XRP telah mencapai $542 juta dengan open interest sebesar $70,5 juta, di mana 45% berasal dari luar Amerika Utara.

    Ripple juga memperluas kolaborasi, seperti kemitraan dengan Chainlink dan listing RLUSD di platform seperti Zero Hash, Revolut, dan Margex, semua memacu adopsi stablecoin di level korporat dan retail.

    Tantangan dan Peringatan

    Walau pertumbuhan XRPL menjanjikan, beberapa tantangan tetap ada:

    • Adopsi DeFi XRPL masih relatif kecil dengan Total Value Locked mendekati $60 juta, jauh di bawah jaringan seperti Ethereum.
    • Kejelasan regulasi masih menjadi masalah. Meskipun RLUSD mendapatkan restu dari NYDFS, peraturan di berbagai yurisdiksi belum seragam.
    • Ketergantungan XRP sebagai jembatan likuiditas dapat menimbulkan mekanisme risiko saat volatilitas tinggi—namun implementasi fitur auto-bridging dan recoverable token mendukung stabilitas.

    Mengintip Masa Depan XRPL

    Dengan aktivitas stablecoin meningkat, XRP Ledger sedang memosisikan diri sebagai infrastruktur blockchain utama untuk settlement global dan pembayaran cross-border.

    Integrasi DEX, AMM, dan EVM-compatible sidechain dipersiapkan untuk membuka akses aplikasi Ethereum tradisional ke XRPL yang memperbesar potensi ekosistem DeFi-nya.

    Jika tren pertumbuhan berlanjut, XRPL bisa menjadi standar baru untuk transaksi stablecoin lintas-negara, terutama di wilayah dengan volatilitas mata uang tinggi seperti Amerika Latin dan Asia.

    Baca Juga: Akses US Treasuries di XRP Ledger dengan RLUSD dan OUSG

    Dengan fondasi yang kuat, biaya rendah, dan adopsi stablecoin yang meningkat, XRP Ledger tampak siap menjadi backbone pembayaran digital global selanjutnya, jika dapat menjaga momentum dan transparansi bagi komunitas dan institusi.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Visa Tambah 3 Stablecoin dan 2 Blockchain Baru

    Raksasa pembayaran global, Visa, kembali menegaskan komitmennya terhadap teknologi blockchain dengan memperluas dukungan untuk aset kripto, khususnya stablecoin, sebagai bagian dari infrastruktur penyelesaian global mereka.

    Dalam siaran pers terbaru, Visa mengumumkan bahwa mereka kini mendukung tiga stablecoin tambahan dan dua jaringan blockchain baru, memperluas jangkauan dan fleksibilitas solusi kripto mereka untuk mitra dan pelanggan di seluruh dunia.

    Kemitraan Baru, Dukungan Lebih Luas

    Lewat kemitraan strategis dengan Paxos, Visa kini mendukung dua stablecoin berbasis dolar AS lainnya, yaitu:

    • Global Dollar (USDG)
    • PayPal USD (PYUSD)

    Keduanya disebut sebagai stablecoin yang “tepercaya dan transformatif”, yang akan melengkapi opsi stablecoin yang sebelumnya sudah digunakan dalam jaringan Visa.

    Tak hanya menambah aset, Visa juga memperluas jangkauan blockchain yang didukung. Jika sebelumnya Visa hanya mendukung Ethereum dan Solana, kini mereka juga menambahkan Stellar dan Avalanche ke dalam sistem penyelesaian mereka.

    Dilaporkan Daily Hodl, Visa bahkan mulai menjajaki stablecoin lintas mata uang, termasuk integrasi EURC dari Circle yang didukung oleh euro, memperluas cakupan geografis dan mata uang dari sistem pembayarannya.

    Baca juga: Stablecoin Tumbuh Pesat, Lampaui Fintech Lain Berkat Ethereum

    Fondasi Multi-Koin dan Multi-Rantai

    Rubail Birwadker, Kepala Produk Pertumbuhan dan Kemitraan Strategis Global Visa, menjelaskan visi jangka panjang perusahaan:

    “Visa sedang membangun fondasi multi-koin dan multi-rantai untuk membantu memenuhi kebutuhan mitra kami di seluruh dunia. Kami percaya bahwa ketika stablecoin tepercaya, terukur, dan dapat dioperasikan, stablecoin dapat mengubah secara fundamental cara uang bergerak di seluruh dunia.”

    Stablecoin dan Regulasi: Visa Bersiap untuk Akselerasi

    Langkah agresif Visa ini datang di tengah momentum regulasi yang mulai berpihak pada stablecoin. CEO Visa, Ryan McInerney, dalam pernyataannya bulan lalu menyebut bahwa perusahaan telah bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk era stablecoin:

    “Kami telah membangun selama bertahun-tahun, mempersiapkan momen ini. Dengan disahkannya Undang-Undang GENIUS di Senat dan kemungkinan besar akan lolos di DPR, kami melihat regulasi stablecoin mulai jelas. Visa telah memungkinkan penerbitan kredensial Visa di atas stablecoin dan memodernisasi infrastruktur penyelesaian kami dengan teknologi ini.”

    McInerney menambahkan bahwa Visa siap meluncurkan berbagai inovasi berbasis stablecoin secara global, menandai era baru dalam pembayaran digital yang cepat, aman, dan transparan.

    Baca juga: China Serius Garap Stablecoin-RWA, Ubah Peta Aset Digital Global


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • China Serius Garap Stablecoin-RWA, Ubah Peta Aset Digital Global

    Upaya China dalam membangun ekosistem stablecoin berbasis Real-World Assets (RWA) semakin menguat, menandakan transformasi signifikan dalam sektor aset digital negara tersebut.

    Dalam laporan terbarunya, Minsheng Securities menyoroti langkah-langkah strategis China untuk menambatkan stablecoin dengan aset domestik berkualitas tinggi, membuka jalan bagi inovasi keuangan digital yang lebih terstruktur dan teregulasi.

    Membangun Fondasi dengan Aset Nyata

    Menurut Coincu, Fokus utama inisiatif ini adalah pengembangan stablecoin yang didukung aset nyata (RWA), seperti energi baru dan sumber daya domestik lainnya. Perusahaan-perusahaan besar seperti Ant Digital, Longxin Group, dan GCL Energy menjadi pelopor dalam proyek tokenisasi ini. Dengan mendigitalisasi aset berwujud, China berupaya memperkuat fondasi ekonominya dalam ranah Web3.0, sekaligus mendorong nilai tambah bagi sektor keuangan dan teknologi finansial (fintech).

    Minsheng Securities menyebut bahwa langkah ini berpotensi merevaluasi nilai perusahaan pialang dan fintech domestik secara signifikan, terutama jika mereka memperoleh lisensi untuk mengelola stablecoin berbasis RWA. Efek lisensi ini bisa menjadi keunggulan kompetitif utama dalam ekosistem yang semakin teregulasi dan kompetitif.

    rwa crypto

    Baca juga: Stablecoin Tumbuh Pesat, Lampaui Fintech Lain Berkat Ethereum

    Strategi Diam-Diam, Tapi Penuh Ambisi

    Meskipun belum ada pernyataan resmi dari pemerintah atau pelaku industri, laporan tersebut mengindikasikan adanya gerakan strategis yang terencana. Hal ini mencerminkan sensitivitas terhadap regulasi yang ketat di China, namun juga menunjukkan betapa seriusnya negara tersebut dalam membentuk ulang lanskap aset digitalnya.

    Langkah China ini juga sejalan dengan tren global tokenisasi aset. Sebelumnya, platform seperti Robinhood telah menunjukkan model tokenisasi saham yang teregulasi, dan kini China ingin melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan keunggulan domestiknya.

    Ethereum Jadi Tolok Ukur Global

    Tokenisasi dan ekosistem stablecoin-RWA tidak bisa dilepaskan dari Ethereum (ETH), yang hingga 26 Juli 2025 memiliki harga $3.749,10 dengan kapitalisasi pasar mencapai $452,56 miliar. Ethereum mendominasi 11,65% pasar kripto global dan mengalami kenaikan sebesar 5,29% dalam 7 hari terakhir, menurut data CoinMarketCap. Dengan pasokan beredar sebanyak 120,7 juta ETH, Ethereum menjadi infrastruktur utama bagi pengembangan stablecoin dan proyek-proyek tokenisasi di seluruh dunia.

    Potensi Akselerasi Ekosistem Digital China

    Menurut tim riset Coincu, dorongan China terhadap stablecoin-RWA menunjukkan ambisi negara tersebut untuk menjadi penentu standar baru di ranah aset digital. Dukungan terhadap aset on-chain, infrastruktur teknologi yang terus berkembang, dan potensi pertumbuhan adopsi teknologi membuat ekosistem digital China sangat menjanjikan.

    Dengan arah kebijakan dan kemitraan strategis yang terencana, China tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi justru berpotensi memimpin dalam era ekonomi digital berbasis aset nyata.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mastercard Guncang Timur Tengah, Stablecoin Resmi Dipakai di UEA!

    Mastercard memperluas adopsi pembayaran berbasis stablecoin ke Uni Emirat Arab (UEA) melalui kerja sama strategis dengan Abu Dhabi–based ADI Foundation. Kolaborasi ini menandai langkah besar dalam pengembangan pembayaran domestik dan lintas negara berbasis blockchain di kawasan Timur Tengah.

    Dalam siaran pers yang dirilis Senin (16/12/2025), Mastercard menyebutkan bahwa inisiatif ini bertujuan mendorong inovasi tokenisasi aset dan pembayaran berbasis stablecoin, sekaligus mendukung ambisi UEA menjadi pusat global aset digital dan teknologi blockchain.

    Kolaborasi Pengunaan Stablecoin

    Dilaporkan Cryptopolitan, tahap awal kolaborasi akan difokuskan pada penggunaan stablecoin untuk pembayaran domestik dan lintas batas, termasuk penerbitan kartu pembayaran berbasis stablecoin, pemanfaatan aset dunia nyata yang ditokenisasi (real-world assets/RWA), serta dukungan untuk remitansi dan transaksi business-to-business (B2B).

    Executive Vice President Core Payments untuk Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Mastercard, Prakriti Singh, menyatakan bahwa kerja sama ini membuka peluang baru dalam ekosistem pembayaran digital. Menurutnya, tokenisasi aset dan aplikasi stablecoin memungkinkan transaksi yang lebih cepat, aman, dan efisien.

    “Melalui inisiatif ini, Mastercard memperkuat komitmennya dalam membangun jembatan tepercaya antara sistem keuangan tradisional dan ekosistem blockchain,” ujar Singh.

    Senada dengan itu, Principal Council Member ADI Foundation, Ajay Bhatia, menilai kolaborasi ini sebagai langkah penting menuju ekonomi digital yang siap masa depan. ADI Foundation akan menggabungkan infrastruktur blockchain berperforma tinggi dan patuh regulasi dengan jaringan global Mastercard.

    “Kami ingin menghadirkan solusi blockchain yang praktis dan berdampak nyata bagi masyarakat serta berbagai sektor industri,” kata Bhatia.

    Rencana Ekspansi Visa

    Pengumuman ini menyusul ekspansi kemitraan Mastercard dengan Circle yang sebelumnya memungkinkan penyelesaian transaksi stablecoin USDC dan EURC di kawasan Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika.

    Selain ADI Foundation, dua mitra baru, yakni NEO PAY dan INFINIOS, turut bergabung untuk memperluas penggunaan stablecoin di wilayah tersebut. INFINIOS akan memanfaatkan stablecoin untuk pendanaan dan penyelesaian transaksi, sementara NEO PAY menilai kolaborasi ini memberi akses bagi merchant terhadap settlement real-time dan likuiditas digital yang lebih luas.

    Ilustrasi stablecoin USDC. SUmber: Shutterstock.
    Ilustrasi stablecoin USDC. SUmber: Shutterstock.

    CEO NEO PAY, Vibhor Mundhada, menyebut stablecoin sebagai penghubung antara keuangan sehari-hari dan model keuangan terdesentralisasi. Sementara itu, CEO INFINIOS Sherif Abdelsalam menegaskan bahwa stablecoin dapat menjadi katalis pembayaran generasi berikutnya di Timur Tengah.

    Adopsi stablecoin sendiri terus melonjak sepanjang 2025. Laporan Andreessen Horowitz (A16z) mencatat volume transaksi stablecoin telah mencapai US$9 triliun, menandakan pergeseran dari instrumen kripto niche menjadi infrastruktur keuangan arus utama. Sebelumnya, Visa juga mengumumkan peluncuran layanan penasihat stablecoin untuk membantu lembaga keuangan dan fintech dalam implementasi teknologi tersebut.

    Baca juga: Visa Mulai Pakai Stablecoin untuk Settlement Global


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • $400 Juta Menguap! MegaETH Tersandung Kesalahan Multisig Fatal!

    MegaETH, proyek Layer-2 berbasis Ethereum, resmi mengumumkan akan mengembalikan lebih dari $400 juta dana pengguna setelah peluncuran stablecoin barunya, USDm, berakhir kacau. Keputusan pengembalian dana ini diambil setelah serangkaian kesalahan teknis, miskomunikasi internal, serta kekacauan operasional yang memicu melonjaknya setoran jauh di atas target awal.

    Bridge Gagal, Dana Melonjak Tak Terkontrol

    Dilaporkan Coinlaw, Pre-Deposit Bridge USDm awalnya dirancang mengumpulkan hingga $250 juta untuk mempersiapkan likuiditas menjelang peluncuran stablecoin tersebut. Namun rencana itu langsung tergelincir setelah terjadi:

    • Gangguan teknis pada penyedia bridge pihak ketiga yang membuat layanan tidak dapat diakses selama hampir satu jam.
    • Kesalahan SaleUUID dalam kontrak yang membuat transaksi gagal dan memaksa tim melakukan perbaikan lewat 4-of-6 multisig.
    • Pembatasan KYC oleh Sonar, yang membatasi lalu lintas dan membuat banyak pengguna tidak bisa ikut serta.

    Setelah masalah pulih, deposit membanjir dan melampaui batas dalam hitungan menit. MegaETH sempat berusaha menaikkan batas hingga $1 miliar, namun situasi justru makin kacau.

    Kesalahan Multisig Picu Pembukaan Bridge Lebih Awal

    Saat mencoba menaikkan batas deposit, tim MegaETH melakukan kesalahan fatal: konfigurasi multisig yang keliru. Alih-alih 3-of-4, transaksi justru membutuhkan empat tanda tangan penuh, membuatnya dapat dieksekusi oleh siapa saja setelah lengkap.

    Hasilnya, seseorang dari luar mengeksekusi transaksi 34 menit lebih awal, membuka kembali bridge sebelum waktunya dan membuat deposit meroket menembus $400 juta.

    Upaya MegaETH untuk membatasi deposit ke $400 juta, lalu $500 juta, hingga membatalkan rencana ke $1 miliar, tidak bisa membendung kekacauan yang terjadi. Sebagian pengguna bisa masuk cepat, sementara yang mengandalkan informasi resmi justru tertinggal.

    MegaETH Akui Kesalahan, Refund Siap Dimulai

    MegaETH akhirnya mengakui adanya “sloppy execution” dan ketidaksinkronan antara tim internal dan publik. Meski menegaskan bahwa dana pengguna tidak pernah berada dalam risiko, mereka mengakui proses ini tidak adil.

    Saat ini, kontrak pengembalian dana tengah diaudit, dan refund akan mulai diberikan setelah proses tersebut selesai. Meski tidak memberi tanggal pasti, MegaETH memastikan pengembalian akan dilakukan secepat mungkin.

    Langkah Selanjutnya: Bridge Baru, Fokus ke Frontier Mainnet

    Setelah insiden ini, MegaETH berjanji meluncurkan ulang bridge USDC ke USDm dengan pengawasan operasional yang lebih ketat sebelum memasuki fase beta Frontier mainnet.

    MegaETH tetap menekankan visinya sebagai jaringan Layer-2 berperforma tinggi dengan:

    • hingga 100.000 TPS,
    • latensi sub-milidetik,
    • biaya transaksi di bawah $0.01,
    • serta model proof-of-stake dengan sistem insentif berbasis performa.

    Fitur staking dan tata kelola DAO rencananya hadir 12–18 bulan setelah peluncuran mainnet.

    Analisis Singkat

    Pengamat industri menilai, keputusan MegaETH untuk melakukan refund penuh patut diapresiasi, meski peluncuran ini dinilai menjadi indikator bahwa tim perlu meningkatkan kesiapan operasional. Frontier mainnet menjadi kesempatan penting bagi MegaETH untuk mengembalikan kepercayaan komunitas.

    Baca juga: Lonjakan Harga MBL 53% Dorong MovieBloc Masuk Radar Investor


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Visa Mulai Pakai Stablecoin untuk Settlement Global

    Visa resmi menjadikan stablecoin sebagai bagian inti dari sistem penyelesaian transaksi internasional. Langkah besar ini diterapkan di kawasan Central and Eastern Europe, Middle East, dan Africa (CEMEA), menjadikannya salah satu implementasi blockchain paling agresif dari Visa hingga kini.

    Dilaporkan Coindoo, perusahaan menggunakan USDC sebagai alat settlement melalui kerja sama dengan perusahaan infrastruktur kripto Aquanow.

    Fokus di Balik Layar Sistem Perbankan

    Alih-alih menyasar pengguna ritel atau kartu Web3, Visa menargetkan area yang tidak terlihat oleh konsumen: mekanisme backend yang menentukan seberapa cepat uang bergerak antarbank.
    Dengan stablecoin, transaksi lintas negara bisa diselesaikan kapan saja, termasuk di luar jam kerja bank, akhir pekan, dan hari libur.

    Mengapa Visa Melakukannya Sekarang

    Bank dan penyedia pembayaran di kawasan CEMEA menuntut settlement lebih cepat, terutama untuk jalur transaksi ber-volume tinggi. Sistem lama masih bergantung pada rantai bank koresponden yang panjang.
    Melalui USDC, institusi kini bisa:

    • memindahkan dana internasional tanpa menunggu jam operasional bank
    • menekan biaya settlement terkait FX dan perantara
    • menyelesaikan transaksi langsung di blockchain, bukan jaringan lama

    Visa menegaskan langkah ini adalah modernisasi, bukan disrupsi.

    Stablecoin
    Stablecoin

    Tren Global: Stablecoin Tinggalkan Dunia Kripto

    Stablecoin semakin berkembang menjadi alat likuiditas institusional di luar ekosistem kripto.
    Deutsche Börse mengumumkan rencana integrasi stablecoin EURAU untuk layanan custody dan settlement. Sebelumnya, mereka bekerja sama dengan Circle (EURC) dan Société Générale-Forge (EURCV).
    Jika ekspansi ini meluas, stablecoin berpeluang lebih cepat masuk ke sistem keuangan arus utama dibanding CBDC.

    Langkah Visa ini juga memicu diskusi regulasi baru. Komite Basel meninjau ulang bobot risiko 1.250% untuk eksposur aset kripto, sementara Bank of England menyatakan kemungkinan Inggris akan selaras dengan regulasi stablecoin Amerika Serikat.

    Dampak Jangka Panjang

    Penerapan stablecoin di CEMEA menjadi sinyal kuat bahwa pergeseran dari infrastruktur pembayaran lama menuju settlement berbasis blockchain sedang berlangsung.

    Dampak potensialnya meliputi:

    • settlement global 24/7 untuk bank dan fintech
    • berkurangnya ketergantungan pada SWIFT
    • sistem keuangan hybrid antara fiat dan blockchain

    Visa sendiri tidak membongkar sistem lamanya. Perusahaan justru membangun infrastruktur paralel yang mampu menangani kecepatan dan reliabilitas yang tak bisa dipenuhi jaringan tradisional.

    Baca juga: ETF Jadi Penentu, Akankah Solana Oktober Ini Reli 30%?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • USDC Salip USDT, Perusahaan Mulai Tinggalkan Transfer Bank?

    Stablecoin semakin memainkan peran penting dalam sistem keuangan global. Terbaru, USD Coin (USDC) dilaporkan berhasil melampaui Tether (USDT) dalam volume transfer, seiring semakin banyak perusahaan yang menggantikan transfer bank tradisional dengan transaksi berbasis stablecoin.

    Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran struktural dalam cara perusahaan memindahkan dana, terutama karena stablecoin menawarkan kecepatan transaksi yang lebih tinggi, biaya lebih rendah, dan akses ke sistem pembayaran berbasis dolar digital yang lebih fleksibel.

    Volume Stablecoin Capai Rekor Baru

    Volume transaksi stablecoin global mencapai rekor baru sebesar US$1,8 triliun pada Februari 2026. Dalam periode tersebut, USDC mencatat volume transfer lebih tinggi dibandingkan USDT, yang selama bertahun-tahun mendominasi pasar stablecoin.

    Menurut data riset industri, perubahan ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya penggunaan stablecoin oleh institusi, bukan oleh investor ritel. Banyak perusahaan kini memilih menggunakan stablecoin sebagai alternatif sistem pembayaran tradisional.

    Total kapitalisasi pasar stablecoin juga terus meningkat dan kini mencapai sekitar US$314 miliar. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan Januari 2024 yang berada di kisaran US$131 miliar.

    Transaksi Stablecoin Lampaui Visa

    Penggunaan stablecoin juga berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2025, transaksi stablecoin secara global mencapai sekitar US$33 triliun.

    Nilai tersebut bahkan disebut mencapai sekitar dua kali lipat volume transaksi tahunan jaringan pembayaran Visa.

    Pertumbuhan ini juga tercermin dari meningkatnya jumlah pengguna aktif yang naik sekitar 146% di lebih dari 100 negara.

    Pembayaran lintas negara antar perusahaan (B2B) menjadi salah satu segmen yang tumbuh paling cepat, dengan peningkatan sekitar 733% hingga mencapai nilai transaksi US$226 miliar.

    Selain itu, stablecoin juga semakin banyak digunakan untuk remitansi, otomatisasi pembayaran gaji, serta lindung nilai terhadap inflasi di sejumlah negara berkembang.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, secara onchain, dominasi USDC dalam transfer volume penting karena menunjukkan bahwa pasar semakin menghargai stablecoin yang kuat dari sisi kepatuhan dan integrasi institusional.

    “Jika tren ini berlanjut, pertarungan stablecoin akan makin ditentukan oleh siapa yang paling dipercaya untuk transaksi perusahaan dan infrastruktur keuangan, bukan sekadar kapitalisasi pasar,” jelasnya.

    Baca juga: Transfer USDC Meledak, Volume Stablecoin Tembus Rekor $1,8 Triliun

    Perusahaan Mulai Tinggalkan Transfer Bank

    Contoh penggunaan stablecoin dalam dunia korporasi terlihat dari langkah Circle Internet Group yang menggunakan USDC untuk menyelesaikan transaksi internal senilai US$68 juta.

    Transaksi tersebut dilakukan antara delapan entitas perusahaan dan berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit.

    Jika menggunakan sistem transfer bank tradisional, proses yang sama biasanya membutuhkan waktu antara satu hingga tiga hari.

    CEO Circle Jeremy Allaire mengatakan sistem ini berhasil menyelesaikan sekitar 90% transaksi internal perusahaan dalam satu hari, sehingga mempercepat proses penutupan laporan keuangan bulanan.

    Sistem pembayaran ini juga dapat beroperasi sepanjang waktu tanpa bergantung pada jam operasional perbankan.

    Persaingan Stablecoin Semakin Ketat

    Seiring meningkatnya adopsi stablecoin, persaingan di sektor ini juga semakin intens.

    Analis dari Bernstein bahkan memproyeksikan saham Circle dapat naik sekitar 71%, menyebut perusahaan tersebut sebagai salah satu pemain utama dalam industri stablecoin karena keunggulan regulasi, kemitraan strategis, likuiditas, dan teknologi.

    Circle sendiri mencatat pendapatan sekitar US$2,7 miliar pada 2025, naik 64% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan dari transaksi menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat, meningkat 112% secara tahunan.

    Namun, pesaing juga mulai bermunculan. Tether baru-baru ini meluncurkan stablecoin baru bernama USAT yang dirancang untuk pasar Amerika Serikat.

    Selain itu, sejumlah perusahaan teknologi finansial seperti PayPal, Stripe, hingga Klarna juga mulai mengembangkan infrastruktur stablecoin mereka sendiri.

    Dengan semakin luasnya penggunaan stablecoin dalam pembayaran lintas negara, treasury perusahaan, hingga sistem pembayaran digital, persaingan untuk memimpin pasar stablecoin diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun ke depan.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Stablecoin Cetak Rekor Baru, Tapi Dana Tak Masuk ke Kripto?

    Kapitalisasi pasar stablecoin kembali mencetak rekor baru pada Maret 2026, menembus angka US$313 miliar. Meski sering dianggap sebagai “dry powder” atau likuiditas siap pakai untuk membeli aset kripto, data terbaru menunjukkan dana tersebut belum sepenuhnya mengalir ke pasar kripto.

    Dikutip BeInCrypto, lonjakan kapitalisasi stablecoin terjadi di tengah volatilitas pasar kripto dan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang membuat investor cenderung mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

    Kapitalisasi Stablecoin Capai Rekor Tertinggi

    Data dari DefiLlama menunjukkan total kapitalisasi pasar stablecoin mencapai lebih dari US$313 miliar pada 8 Maret 2026. Angka tersebut menandai level tertinggi sepanjang sejarah bagi sektor stablecoin.

    Secara keseluruhan, kapitalisasi stablecoin meningkat sekitar 1,8% sejak awal tahun 2026. Dalam ekosistem kripto, stablecoin biasanya berfungsi sebagai mata uang dasar untuk aktivitas perdagangan dan sering dianggap sebagai indikator likuiditas yang siap masuk ke pasar aset digital.

    Ketika pasokan stablecoin meningkat, banyak analis biasanya menilai kondisi tersebut sebagai tanda masuknya modal baru yang berpotensi mendorong pembelian kripto.

    Namun dalam situasi saat ini, peningkatan pasokan stablecoin tidak sepenuhnya mencerminkan arus dana ke pasar kripto.

    Arus Dana ke Bursa Kripto Masih Negatif

    Menurut analis on-chain Darkfost, aliran stablecoin ke bursa kripto terpusat (CEX) masih menunjukkan tren negatif sejak awal 2026.

    Di antara platform besar, Binance mencatat arus keluar stablecoin sekitar US$2 miliar per bulan. Bitfinex juga mengalami arus keluar sekitar US$336 juta.

    Meski begitu, laju arus keluar tersebut mulai melambat dibandingkan periode sebelumnya. Pada pertengahan Februari, arus keluar Binance tercatat mencapai sekitar US$6,7 miliar.

    Data ini menunjukkan bahwa sebagian likuiditas stablecoin tidak mengalir ke aktivitas perdagangan kripto, melainkan bergerak ke penggunaan lain di luar pasar aset digital.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, implikasinya penting: likuiditas memang ada, tetapi belum tentu siap diputar ke aset berisiko.

    “Selama stablecoin lebih banyak diparkir untuk settlement, pembayaran, atau menunggu momentum, pasar crypto bisa tetap terlihat lesu meski basis likuiditas terus tumbuh—artinya masalahnya bukan ketiadaan uang, melainkan rendahnya conviction untuk melakukan risk deployment,” ucapnya.

    Baca juga: Transfer USDC Meledak, Volume Stablecoin Tembus Rekor $1,8 Triliun

    Stablecoin Digunakan di Luar Perdagangan Kripto

    Pertumbuhan kapitalisasi stablecoin saat ini juga dipengaruhi oleh semakin luasnya penggunaan aset tersebut dalam sektor keuangan digital yang lebih luas.

    Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti meningkatnya peran stablecoin dalam pembayaran lintas negara. Stablecoin dinilai mampu mengatasi hambatan yang sering muncul dalam sistem pembayaran tradisional.

    Survei yang dilakukan oleh BVNK terhadap 4.658 responden di 15 negara menunjukkan bahwa bagi sebagian pengguna, pembayaran dalam bentuk stablecoin bahkan dapat mencapai sekitar sepertiga dari total pendapatan tahunan mereka.

    Selain itu, stablecoin juga semakin banyak digunakan untuk pembayaran bisnis-ke-bisnis (B2B) serta berbagai aktivitas ekonomi digital lainnya.

    Penggunaan stablecoin kini juga meluas ke sektor baru, termasuk perdagangan saham yang ditokenisasi, lindung nilai terhadap inflasi di negara tertentu, hingga investasi pada infrastruktur komputasi seperti GPU untuk pengembangan kecerdasan buatan.

    Potensi Peran Stablecoin dalam Ekonomi Digital

    Sejumlah perusahaan teknologi dan keuangan juga mulai mengembangkan sistem pembayaran berbasis stablecoin.

    Circle Internet Group dan Stripe, misalnya, tengah mengembangkan sistem pembayaran yang memungkinkan agen kecerdasan buatan otonom melakukan transaksi menggunakan stablecoin.

    Beberapa analis menilai perkembangan ini dapat membuka pasar baru yang jauh lebih besar dibandingkan penggunaan stablecoin hanya untuk perdagangan kripto.

    Volume penyelesaian transaksi stablecoin secara global bahkan diperkirakan telah mencapai sekitar US$46 triliun per tahun.

    Meski demikian, sebagian analis berpendapat bahwa jika likuiditas stablecoin yang saat ini mengalir ke berbagai sektor tersebut kembali ke pasar kripto, hal itu dapat menjadi katalis penting bagi pemulihan pasar aset digital di masa mendatang.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com