Candi Hindu Terbesar, Mitosnya Dibuat Dalam 1 Malam



Jakarta

Candi Prambanan menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. Candi ini memiliki kisah yang melegenda.

Arsitekturnya yang unik membuat Candi Prambanan menjadi tujuan liburan populer bagi sejuta umat yang berlibur ke Jawa Tengah.

Tak hanya dari segi arsitektur, Candi Prambanan juga sarat akan nilai-nilai sejarah di dalamnya. Candi Prambanan adalah kompleks Candi Hindu terbesar dan termegah di Indonesia. Candi Prambanan diperkirakan dibangun pada abad ke-9 masehi, ketika masa Kerajaan Medang Mataram.

Candi satu ini juga dikenal dengan nama Candi Roro Jonggrang dan sangat erat kaitannya dengan legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Dalam kepercayaan masyarakat, candi ini diyakini dibangun dalam satu malam.

Traveler penasaran dengan fakta unik di balik Candi Prambanan? Yuk simak rangkuman dari detikTravel.


Berikut fakta Candi Prambanan:

1. Candi Hindu Terbesar di Indonesia

Keberadaan Candi Prambanan adalah gambaran utama dari kehadiran Candi Hindu di Indonesia. Kompleks candi ini memang menjadi salah satu objek wisata yang paling diminati, menarik banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Candi Prambanan bukan hanya sebuah situs bersejarah biasa, candi ini juga menjadi Candi Hindu di Indonesia. Dalam kompleks ini, terdapat bangunan-bangunan suci yang didedikasikan untuk Dewa Trimurti dalam agama Hindu: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

2. Sejarah Pembangunan Candi Prambanan

Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Jawa kuno yang dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan. Pembangunan dimulai sekitar tahun 850 Masehi dan didirikan untuk menghormati dewa Siwa.

Pembangunan dari Candi Prambanan ini cukup unik karena menggunakan metode-metode dengan sistem air pada sekitar area candi. Selain itu, ada pula candi-candi lainnya yang dibangun di sekitar candi utama di area Candi Prambanan tersebut.

3. Nama Asli Candi Prambanan

Dari prasasti Siwagrha, diperoleh informasi bahwa nama asli Candi Prambanan adalah Siwagrha, yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “Rumah Siwa”.

Dalam ruang utama candi, dikenal sebagai Garbagriha, terdapat sebuah arca Siwa Mahadewa yang tingginya mencapai tiga meter. Hal ini menunjukkan dominasi aliran Syaiwa yang mengutamakan penghormatan terhadap Dewa Siwa di dalam kompleks Candi Prambanan.

4. Legenda Roro Jonggrang, Pembangunan Candi dalam Semalam

Candi Prambanan juga dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang, yang mengacu pada legenda tentang seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, yang memiliki kekuatan luar biasa.

Saat Bandung Bondowoso ingin meminang Roro Jonggrang, gadis cantik tersebut menetapkan syarat berat untuknya, yaitu membangun seribu candi dalam semalam.

Akhirnya dengan bantuan jin, Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan tugasnya, tetapi Roro Jonggrang berusaha untuk menggagalkannya hal tersebut. Mendengar suara alu dan kokok ayam, para jin takut matahari akan terbit.

Para jin tersebut meninggalkan Bandung Bondowoso dengan pekerjaan yang belum selesai. Bandung Bondowoso marah saat mengetahui kejadian ini adalah akal-akalan sang putri.

Lalu, ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu sebagai pelengkap arca yang belum diselesaikan.

5. Terletak di Dua Tempat

Secara keseluruhan, kompleks Candi Prambanan terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, namun pintu administrasinya berada di Jawa Tengah. Sebagai akibatnya, Candi Prambanan secara geografis terletak di dua lokasi, yaitu Desa Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Tlogo, Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

6. Ceritakan Kisah Ramayana dalam Reliefnya

Candi Prambanan dihiasi dengan relief naratif yang menceritakan kisah epik Hindu, seperti Ramayana. Relief ini terukir di dinding dalam pagar langkan dan dibaca dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam.

Cerita Ramayana dimulai di sisi timur candi Siwa dan berlanjut ke candi Brahma, sementara cerita Kresnayana terdapat di pagar langkan candi Wisnu. Relief Ramayana menggambarkan penculikan Sinta oleh Rahwana dan upaya Rama dan Hanuman untuk menyelamatkannya.

7. Ada 240 Candi di Kompleks Prambanan

Mulanya kompleks candi Prambanan terdiri dari 3 Candi Trimurti, 3 Candi Wahana, 2 Candi, 4 Candi Kelir, 4 Candi Patok, dan 224 Candi Perwara. Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara.

8. Masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO

Candi Prambanan telah diakui sebagai salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Candi Prambanan juga menjadi salah satu candi terindah di Asia Tenggara loh.

Dua alasan yang menjadikan Candi Prambanan sebagai warisan dunia yaitu untuk mewakili karya jenius kreatif manusia dan menjadi contoh luar biasa dari jenis bangunan arsitektur atau teknologi yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia.

Sudah tau kan beberapa fakta menarik tentang Candi Prambanan. Komplit dengan cerita sejarah dan legenda di baliknya. Kalo sedang berlibur di Jawa Tengah jangan lupa mampir ke sini ya traveler.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tidak Sekadar Megah, Ini Makna di Setiap Arsitektur Istiqlal



Jakarta

Arsitek Frederich Silaban mendesain Masjid Istiqlal di Jakarta dengan sangat matang. Ada makna tersembunyi di setiap detail bangunan megah itu.

Berasal dari bahasa Arab yang bermakna kemerdekaan, Istiqlal memiliki sejarah yang kental akan Islam dan kebangsaan. Dari kegiatan City Tour Disparekraf pada Minggu (24/4/24), berikut detikTravel rangkum makna-makna tersembunyi dari bangunan yang ada di Masjid Istiqlal,

1. Kubah dengan diameter 45 meter

Sebuah masjid tentu identik dengan kubah. Sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal memiliki kubah yang sangat besar dengan diameter sepanjang 45 meter. Pemilihan angka 45 ini bukan tanpa maksud.


Angka 45 pada diameter kubah Masjid Istiqlal mengisyaratkan tahun kemerdekaan Indonesia yaitu tahun 1945. Bagian dalam Kubah tertulis kaligrafi Surah Al Fatihah, Surah Thaha ayat 14, Ayat Kursi, dan Surah Al Ikhlas.

2. 12 tiang penyangga melingkar

Selain kubah, pada bagian dalam masjid, traveler akan melihat 12 tiang penyangga berbahan dasar stainless steel yang melingkar. Jumlah tiang penyangga itu melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni 12 Rabiul Awal.

3. Punya 5 Lantai

Jika melihat ke atas atau bagian samping, traveler akan melihat tingkatan lantai yang ada di Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal memiliki lima lantai yang menggambarkan lima dasar Islam yang menjadi syarat kesempurnaan umat muslim atau Rukun Islam sekaligus jumlah waktu salat dalam sehari dan jumlah sila dalam Pancasila.

4. Memiliki 1 Menara

Jika biasanya suatu bangunan memiliki dua menara, tidak dengan Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal hanya memiliki satu menara yang melambangkan keesaaan Allah SWT. Tingginya tidak main-main, mencapai 66,66 meter atau 6.666 cm yang melambangkan jumlah ayat yang ada dalam kitab suci Al Quran.

Mulanya menara itu berfungsi sebagai tempat mengumandangkan Azan, namun saat ini menara tersebut difungsikan sebagai tempat pengeras suara Azan.

5. Memiliki 7 Pintu

Tujuh pintu yang dimiliki Masjid Istiqlal melambangkan delapan jumlah surga dengan tujug lapisan surga seperti yang tercantum di dalam Al Quran. Pintu-pintu tersebut memiliki nama yang diambil dari Asmaul Husna diantaranya As-Salam, Al-Fattah, Ar-Razzaq, Al-Quddus, Al-Ghaffar, Al-Malik, dan Ar-Rahman.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ini Pondok Pesantren Tertua di Kota Malang, Usianya Sudah 225 Tahun



Malang

Inilah pondok pesantren tertua di Kota Malang. Usianya sudah 225 Tahun. Namanya Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) atau lebih dikenal dengan Pondok Gading.

Pondok Gading baru saja menerima anugerah pesantren tertua dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 31 Januari 2023 lalu. Anugerah ini diberikan karena Pondok Gading masuk 8 besar ponpes tertua se-Indonesia.

Putra pengasuh Pondok Gading, Gus Fuad Abdurrohim Yahya mengatakan, pondok Gading dirikan oleh KH Hasan Munadi pada tahun 1768 atau usianya saat ini sudah 255 tahun. Setelah KH Hasan Munadi meninggal, pondok gading di asuh oleh KH Ismail.


Penerus pengasuh pondok saat itu KH Muhammad Yahya bersama para santri juga turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Surabaya. Cerita itu didapatkan oleh Gus Fuad dari abahnya, berdasarkan kisah para pejuang yang berada di lapangan.

Pada saat itu juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad pada 10 November 1945.

“Beliau (KH Muhammad Yahya) ikut berperang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya, sewaktu bersama Bung Tomo, Insya Allah bersama santrinya juga. Karena saat itu banyak santri dari pondok-pondok di Jatim, Jateng dan Jabar ikut (berperang) melawan sekutu di Surabaya,” kata Gus Fuad.

Saat itu, para santri ponpes dididik sesuai ajaran NU yakni Hubbul Wathon Minal Iman atau slogan yang artinya ‘cinta tanah air atau nasionalisme bagian dari iman’. Para santri tidak diajarkan ilmu agama Islam semata saja tetapi juga dipraktekkan melawan penjajah.

Pondok Gading pasca kemerdekaan RI juga memiliki gebrakan kepada para santri laki-lakinya untuk menyeimbangkan antara ilmu agama dengan pendidikan umum. Para santri laki diperbolehkan untuk bersekolah umum hingga saat ini.

“Pada saat itu ponpes yang membebaskan santrinya untuk bersekolah umum adalah hal yang jarang di temui, mungkin khawatir akan adanya paham-paham yang tidak sesuai dapat mempengaruhi ajaran agama yang sudah diperoleh,” ujarnya.

Kebijakan ponpes saat itu bisa dibilang cukup berani karena berbeda dengan lainnya. Namun, tetap ada batasan waktu, seperti diperbolehkan sekolah pada pagi hari dan setelahnya kembali ke ponpes.

Selama mengasuh pondok Gading, KH Muhammad Yahya selalu mewanti-wanti para santrinya agar tidak salah dalam niatnya.

Sampai sekarang, pesan itu diteruskan oleh putra-putranya. Kini, Pondok Gading dikelola oleh pengasuhnya, yaitu KH Ahmad Arief bersama keluarga besar generasi keempat.

Ajaran-ajaran yang ada juga sesuai paham NU Ahlussunnah Waljamaah, kitab-kitab KH Hasyim Asy’ari juga dikaji di Pondok Gading.

Selain itu, seperti ponpes pada umumnya juga diajarkan alquran, ilmu Fiqih, Tauhid, Sejarah, Tasawuf, Nahwu, Shorof dan lainnya.

“Kita juga mengajarkan ilmu Hisab untuk menentukan awal puasa, kemudian hari raya, waktu shalat, terkadang jelang Ramadan berbagai pihak menghubungi Pondok Gading bertanya kapan waktu mulai puasanya, juga Idul Fitri biasanya ada perbedaan waktu penentuan, itu juga tanyanya ke kami,” bebernya.

Total ada 600 santri, terdiri 500 laki dan 100 perempuan yang mondok di Pondok Gading. Rata-rata para santri laki berstatus sebagai mahasiswa.

“Di sini santri ada yang masih usia SMP, SMA, kuliah, bahkan ada juga yang sudah bekerja, tetapi 50 persen mahasiswa. Untuk sekolah formal di lingkungan pondok hanya Madrasah Diniyah saja, untuk lainnya sekolah formal dibebaskan memilih di luar,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa alumnus Pondok Gading juga rata-rata berkontribusi bagi negara. Seperti Wali Kota Malang, Sutiaji, kemudian salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Robikin Emhas yang juga Staf Khusus Wakil Presiden RI dan lainnya.

“Juga ada bapak As’ad Malik yang pernah menjadi Bupati Lumajang, di Kementerian juga banyak alumnus kita disana, Insya Allah lulusan Pondok Gading ini banyak yang berkontribusi untuk negara,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

8 Spot Foto di Jalur Mudik Pantura yang Estetik dan Menarik Dikunjungi


Jakarta

Sebentar lagi kita akan memasuki musim mudik, di mana setiap orang yang merantau akan pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri atau sekedar menikmati libur panjang bersama keluarga di rumah.

Nah, bagi kamu para pemudik terutama yang melewati jalur Pantura, salah satu jalur yang ramai pemudik setiap tahunnya, jangan sampai lewatkan tempat-tempat dengan spot foto estetik di bawah ini.

Pilihan Spot Foto di Jalur Mudik Pantura

Berikut ini beberapa tempat yang bisa kamu pilih sebagai spot foto saat mudik melewati jalur Pantura.


1. Masjid Menara Kudus

Masjid dan Menara Kudus, Sabtu (9/3/2024).Masjid dan Menara Kudus, Sabtu (9/3/2024). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Mudik ketika lebaran sangat cocok untuk kita melakukan wisata religi ke Masjid Menara Kudus yang tidak hanya estetik tapi juga bernilai historis dan sarat akan akulturasi budaya.

Masjid Menara Kudus terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang bernama asli Masjid Al-Quds ini dibangun pada 1685 Masehi oleh salah satu ‘Walisongo’, ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa, yaitu Sunan Kudus atau Syekh Ja’far Shodiq.

Hal yang unik dan menjadi daya tarik dari masjid ini adalah arsitektur masjid yang penuh dengan nilai historis dan sarat akan akulturasi budaya Islam dan Hindu.

Misalnya struktur bangunan, menara yang seperti candi, dan gapura yang sangat kental dengan kebudayaan Hindu. Sementara itu, ornamen masjid di dalamnya sangat kental dengan nilai-nilai keislaman.

Simbol akulturasi pada masjid ini merupakan bentuk perjuangan dakwah Sunan Kudus dalam mengislamkan masyarakat Jawa dengan damai dan tanpa kekerasan. Kamu juga bisa sekalian berziarah ke makam Sunan Kudus yang terletak di samping Masjid Menara Kudus ini.

2. Masjid Agung Jawa Tengah

Sejumlah warga menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa (ngabuburit) dengan berwisata di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/3/2024). Selain sebagai tempat ibadah, masjid berkapasitas 15.000 jamaah yang dibangun pada tahun 2002 dengan luas 10 hektare itu menjadi salah satu destinasi favorit warga maupun wisatawan dari daerah lain karena memiliki gaya aristektur unik yakni perpaduan gaya Jawa Arab dan Romawi. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/Spt.Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/3/2024). Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Saat mudik, kita masih berada di suasana Bulan Ramadhan. Maka tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk berwisata religi.

Masjid yang terletak di Kota Semarang ini memiliki gaya arsitektur yang sangat menarik karena memadukan tiga arsitektur, yaitu gaya Jawa, Roma, dan Arab.

Dilansir dari detikJateng (29/3/2023) gaya arsitektur tersebut terlihat dari motif-motif batik yang merupakan seni tradisional Jawa yang terlihat di bagian dasar tiang.

Kemudian, seni kaligrafi di area dinding masjid yang sarat akan budaya Timur Tengah. Selain itu, budaya Roma yang terlihat dari lapisan warna-warna desain interior masjid.

Terdapat pula payung hidrolik besar yang membuat masjid ini mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid estetik ini bisa menjadi salah satu tujuan berwisata dan spot foto ketika mudik melewati jalur Pantura.

3. Lawang Sewu

Lawang Sewu.Lawang Sewu. Foto: pariwisata.semarangkota.go.id

Masih berada di sekitar Semarang, tempat spot foto estetik selanjutnya adalah Lawang Sewu.

Dilansir dari Visit Jawa Tengah, Lawang Sewu adalah bangunan megah bergaya arsitektur art deco yang dulunya merupakan Kantor Pusat Kereta Api Belanda (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij/NIS), terletak di Komplek Tugu Muda.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Queendag, dibangun sekitar tahun 1903, dan diresmikan pada tanggal 1 Juli 1907.

Di kalangan masyarakat Semarang, bangunan ini lebih dikenal dengan sebutan Gedung Lawang Sewu karena memiliki banyak pintu. “Lawang” dalam bahasa Jawa berarti pintu, dan “Sewu” berarti seribu.

Gedung ini menjadi warisan budaya dengan arsitektur yang antik dan estetik. Kamu wajib mampir ke tempat ini jika mudik melewati Semarang.

4. Gedung Djoeang ’45

Gedung Djoeang '45 Surakarta.Gedung Djoeang ’45 Solo. Foto: dok. Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Surakarta

Masih dengan gedung bergaya Eropa yang tentunya cocok untuk spot foto. Kali ini bertempat di Solo, Jawa Tengah. Gedung ini bernama Gedung Djoeang 45.

Salah satu keunikan Gedung Djoeang 45 Solo adalah bangunannya yang merupakan salah satu bangunan bersejarah sekaligus ikon perjuangan Solo.

Dibangun pada masa kolonial Belanda, gedung bersejarah ini terdaftar di bagian Monumen Peninggalan. Ini merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Tempat yang baru dibuka pada 20 September 2019 ini memiliki banyak spot foto instagramable apalagi pada malam hari ketika lampu-lampu mulai menghiasi komplek gedung.

5. Lasem Tiongkok Kecil

Lasem Tiongkok Kecil.Pondok Pesantren dengan Bangunan Bergaya Tiongkok di Lasem. Foto: humas.jatengprov.go.id

Tempat wisata dengan spot foto estetik di jalur mudik Pantura selanjutnya adalah Tiongkok kecil di Lasem, Rembang. Tempat ini merupakan sebuah kompleks pecinan terkenal yang ada di Rembang, Jawa Tengah.

Dilansir dari laman Visit Jawa Tengah, julukan ‘Tiongkok Kecil’ disematkan karena dipercayai sebagai tempat kedatangan awal orang Tiongkok di pulau Jawa.

Lasem juga terkenal sebagai pusat batik yang terkenal dari tiga negeri. Di sini, banyak terdapat klenteng kuno yang berusia ratusan tahun, seperti Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun.

Meskipun demikian, Lasem juga memiliki pondok pesantren tua yang memiliki arsitektur Tiongkok, seperti Pondok Pesantren Al-Hidayat Asy-Syakiriyyah di Soditan dan Pondok Pesantren Kauman di Karangturi. Tidak mengherankan jika Lasem dianggap sebagai kota yang toleran.

Ketika mengunjungi Lasem, jangan lupa melihat salah satu bangunan tua yang menjadi simbol pariwisata, yaitu Rumah Merah Heritage Lasem. Kawasan ini sangat estetik untuk kamu berfoto-foto atau sekedar mampir ke tempat ini.

6. Grand Maerakaca

Lumina di Grand Maerakaca SemarangLumina di Grand Maerakaca Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

Melakukan perjalanan panjang seperti mudik memang sangat melelahkan. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika beristirahat melepas penat dan mampir ke tempat yang estetik di Semarang yaitu Grand Maerakaca.

Tempat ini sering disebut dengan Taman Mini Jawa Tengah. Di sini kamu dapat melihat berbagai replika dan miniatur bangunan khas yang tersebar di seluruh Provinsi Jawa Tengah.

Ada sekitar 30 bangunan atau rumah adat yang memiliki karakteristik unik dari setiap Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

Daya tarik tempat ini tidak hanya terbatas pada replika miniatur rumah adat, tetapi juga berasal dari berbagai macam pameran yang ditampilkan.

Pameran ini memiliki beragam bentuk, mulai dari kerajinan tangan, makanan dan minuman khas, hingga pakaian khas dari setiap daerah di Jawa Tengah.

Kemudian, yang paling menarik adalah kamu bisa melakukan mangrove tracking dengan melewati hutan mangrove yang sangat estetik.

7. Brown Canyon

Brown Canyon SemarangBrown Canyon Semarang. Foto: (Dok. addy_addy13/Instagram)

Masih di sekitar Semarang, tetapi spot foto kali ini adalah wisata alam terbuka, yakni Brown Canyon. Selain sebagai spot foto, tempat ini juga cocok untuk melepas penat selama mudik di jalur Pantura.

Tempat yang terletak di Semarang ini sering disebut dengan Grand Canyon-nya Semarang karena memiliki tekstur tanah dan tebing-tebing seperti Grand Canyon yang ada di Amerika Serikat.

Tempat ini sangat estetik untuk kamu yang suka berburu foto. Untuk mendapatkan foto terbaik disarankan datang di pagi atau sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas.

8. Agrowisata Kaligua

Agrowisata Kebun Teh KaliguaAgrowisata Kebun Teh Kaligua. Foto: (Imam Suripto/detikcom)

Setelah seharian merasakan penatnya perjalanan mudik, kamu bisa mampir ke Agrowisata Kaligua untuk mencari udara segar dan merehatkan mata dengan pemandangan hamparan hijau kebun teh dengan suasana yang menenangkan.

Dilansir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes, Agrowisata Kaligua terletak di Desa Pandansari, Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Tempat ini merupakan salah satu perkebunan peninggalan kolonial Belanda.

Tempatnya yang estetik dan menyegarkan ini menjadi salah satu destinasi yang wajib kamu kunjungi ketika lewat jalur Pantura.

Itu dia beberapa spot foto di jalur mudik Pantura yang bisa kamu kunjungi bila melewati jalur tersebut di musim mudik lebaran tahun ini. Semoga perjalanan kamu lancar.

(inf/inf)



Sumber : travel.detik.com

Alun-alun Sangkala Buana, Tempat Paling Menakutkan bagi Warga Cirebon



Cirebon

Zaman dahulu, Alun-Alun Sangkala Buana jadi tempat yang sangat ditakuti oleh warga Cirebon, karena jadi lokasi eksekusi para narapidana. Bagaimana kisahnya?

Alun-Alun Sangkala Buana terletak di depan keraton Kasepuhan Cirebon. Karena letaknya di bagian depan keraton, alun-alun ini sering disebut sebagai Alun-Alun Kasepuhan.

Setelah direnovasi pada tahun 2022, Alun Alun Kasepuhan berubah menjadi lebih ciamik. Di setiap sisi alun-alun terdapat gapura dengan susunan bata merah.


Setiap hari, Alun-Alun Kasepuhan menjadi destinasi favorit warga Cirebon untuk menghabiskan waktu luang. Di Alun-Alun terdapat banyak pedagang dan permainan yang bisa pengunjung nikmati. Hampir setiap waktu, alun-alun Kasepuhan tidak pernah sepi pengunjung.

Namun di balik ramainya Alun-Alun Kasepuhan sekarang, dahulu pada zaman kolonial Hindia Belanda, Alun-Alun Kasepuhan jadi tempat yang ditakuti oleh masyarakat Cirebon.

Hal itu terlihat dalam berita yang ditulis oleh koran Belanda De Avondpost Edisi 5 Juni 1926.

Aan de noordzijde van het plein van Kasepochan te Cheribon, nog geen 20 meters van de straat en bijna recht tegen- over den ingang van den Kraton, zijn twee zware, stevig ingemetselde djati- houten palen, die een hoogte hebben van ongeveer anderhalven meter. Deze palen, waarvoor sommige Cheribonners van inlandsche nationaliteit nog een hei- lige vrees koesteren, waarheen velen elen op den, malem djoemahat” en andere heilige dagen kleine offers brengen, zijn onder het volk bekend onder den naam van,, tiang hoekoem sara’,” tulis koran Avondpost.

Dalam bahasa Indonesia berarti, Di sisi utara Alun-Alun Kasepuhan, kurang dari 20 meter dari jalan raya dan hampir berhadapan langsung dengan pintu masuk Keraton. Terdapat dua tiang kayu jati yang berat dan terbuat dari batu bata, tingginya sekitar satu setengah meter.

Tiang-tiang ini, yang masih ditakutkan oleh sebagian penduduk Cirebon yang berkewarganegaraan asli, dan banyak yang melakukan pengorbanan kecil pada malam jumat dan hari-hari suci lainnya, dikenal di kalangan masyarakat sebagai tiang hukum syariat.

Selanjutnya, dalam koran Belanda yang sama, juga menyebutkan, tentang kondisi tiang yang kayu yang digunakan untuk hukuman bagi masyarakat yang melanggar hukum syariah. Tertulis, meski tiang kayu tersebut sudah lapuk, tetapi karena bahan yang digunakan sangat keras, tiang kayu masih bisa bertahan di tengah angin dan cuaca. Diperkirakan tiang kayu masih dapat bertahan selama beberapa tahun mendatang.

Tidak diketahui secara pasti, sejak kapan tiang-tiang tempat eksekusi narapidana pelanggar hukum syariat berada di alun-alun. Tapi menurut cerita bangsawan keraton Kasepuhan, tiang tersebut diduga, didirikan sejak era Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran.

Diceritakan pula, bagaimana proses eksekusi terpidana berlangsung, yakni dengan diikat tangan dan kaki di salah satu tiang dalam posisi berdiri. Ada pula yang menanggalkan pakaiannya terlebih dahulu, lalu bagian tubuhnya seperti jari dipotong.

Di sampingnya terdapat pejabat dari keraton, yang berdiri di dekat narapidana yang akan dieksekusi. Setelah di eksekusi, luka akibat pemotongan kemudian dioleskan garam dan air asam jawa, oleh pejabat keraton yang ada di dekatnya.

Dalam koran Belanda yang lain, Delf edisi 6-9 -1926 juga disebutkan, pasca Hindia Belanda mulai merampas kekuasaan sultan di Cirebon. Mereka mencoba untuk menghapuskan hukuman mati kepada narapidana, menurut mereka hukuman mati kepada narapidana adalah hal yang kejam dan barbar.

Ketika pemerintah Hindia Belanda akan membangun perumahan di dekat alun-alun. Pemerintah Hindia Belanda memberi kabar kepada sultan Kasepuhan untuk menghilangkan kedua pilar tempat eksekusi.

Sebagian masyarakat ingin tiang itu segera dihilangkan, tapi sebagian masyarakat khususnya penduduk asli, menuntut agar tiang hukum syariat tetap berdiri sampai angin dan cuaca menghancurkannya. Dan tentunya membutuhkan waktu yang lama.

Men heeft deze palen willen doen ver- dwijnen, doch de Inlanders willen van het wegdoen niets weten en eischen, dat ze zullen blijven staan tot weer en wind ze zullen hebben vernietigd. En dat zal nog wel een tijdje duren,” tulis koran Delf edisi 6-9-1926.

Sebagai upaya agar tidak terlihat menakutkan, pemerintah kota Hindia Belanda membersihkan lapangan Kasepuhan dan memasang hamparan bunga di sebelah utara tiang. Sehingga tiang-tiang tersebut terlihat lebih baik.

Kepala Bagian Informasi dan Parawisata Keraton Kasepuhan Cirebon Iman Sugiman membenarkan jika dulu alun-alun pernah menjadi tempat eksekusi bagi para narapidana yang melanggar hukum syariah.

Menurutnya alun-alun sudah ada sejak abad 15. Selain digunakan sebagai tempat eksekusi, alun-alun juga digunakan sebagai tempat latihan prajurit keraton setiap hari sabtu, atau Sabtonan.

“Alun-Alun Sangkala Buana sudah ada sejak abad ke 15. Letaknya berada di depan utara Siti Inggil. Dahulu fungsinya untuk upacara kebesaran dan acara Sabtonan,” tutur Iman belum lama ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menjadi ‘Jeng Yah’ di Museum Kretek Kudus



Kudus

Museum Kretek di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki koleksi baru, yaitu seperangkat alat linting tembakau. Pengunjung bisa belajar melinting seperti ‘Jeng Yah’ di film Gadis Kretek.

“Satu set itu sebenarnya ada delapan orang yang bekerja, tetapi di sini ada empat alat giling di sebelahnya ada lokasi untuk batil, jadi satu set digabung, jika ditambah lagi menjadi seperti diorama yang sudah ada Museum Kretek menjadi panjang,” kata Manajer Nojorono Kudus, Arif Gunadi ditemui di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).

Dia menambahkan, bahwa koleksi terbaru ini diperkirakan berusia 91 tahun. Alat produksi itu sebagai saksi Nojorono, salah satu perusahaan terbesar di Kudus ini memproduksi rokok jenis kretek.


“Alat produksi ini menjadi bagian dari Nojorono Kudus, sudah 91 tahun, ini model lama yang awal-awal dulu kami memproduksi rokok kretek sehingga itu sebuah pembelajaran, jangan disalahartikan ini menjadi tempat produksi kecil bukan, karena ini bukan tempat produksi kecil ini tempat bagian sejarah kami dulu yang kami hibahkan untuk menjadi edukasi buat masyarakat,” kata dia.

Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Lebih lanjut, alat produksi tersebut sebagai saksi hidup wanita di Kudus yang bekerja sebagai buruh rokok kretek. Menurutnya ada ribuan wanita di Kudus yang bekerja menjadi buruh rokok. Hal itu pun menjadi penopang ekonomi warga di Kota Kretek.

“Bagaimana ibu-ibu di Kudus itu hidup dari rokok itu. Sehingga mereka tergantung pada itu, ada ribuan pekerja di Kudus ini yang tergantung pada industri hasil tembakau seperti ini, dan ini sebuah sejarah yang harus diapresiasi, terutama Kudus bagian dari sejarah kretek yang namanya juga menjadi Kota Kretek,” ungkap Arif.

“Sehingga lebih mengenal sejarah Kota Kretek. Harapannya menjadi Jeng Yah-Jeng Yah ke depannya,” lanjut dia.

Sementara itu, Pj Bupati Kudus Muhammad Hasan Chabibie mengatakan bersyukur dengan koleksi baru di Museum Kretek Kudus. Menurutnya adanya koleksi baru ini menjadi tambahan ilmu bagi pengunjung yang berwisata edukasi ke Museum Kretek Kudus.

“Saya kira ini mewakili sebuah perjalanan panjang industri rokok kretek yang ada di Kudus. Salah satunya divisualisasikan dengan alat yang hibahkan, tentunya harapannya hibah alat ini ada pengalaman pengguna bisa langsung dipakai saat itu, untuk membuat rokok kretek ini menjadi pelajaran berharga buat pengunjung,” kata Hasan.

Artikel ini telah tayang di detikJateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Spot Healing di Nampan, Sukomakmur, Magelang Punya Background Gunung Sumbing



Magelang

Traveler yang suka hunting foto jangan sampai kelewatan spot satu ini. Jalanan lengang dengan latar Gunung Sumbing dan hijau kebun sedang viral di media sosial.

Saat cuaca sedang bersahabat, pemandangan awan dan alamnya tampak begitu jelas di depan mata. Jalanan mulus beraspal itu terletak di daerah Sukomakmur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Iya kebetulan ini lagi sunmori trus katanya mampir ke sini worth it gitu,” kata Fatiya, salah satu pengunjung spot.


Dari Yogyakarta, traveler perlu menempuh jarak sekitar 60 km atau setara dengan 1,5 jam perjalanan. Tenang saja, perjalanan panjang itu akan terbayar lunas dengan view indah lereng Gunung Sumbing. Ditambah lagi terasering lahan sayur di Negeri Sayur Sukomakmur menjadi pemanis alami.

“Jalannya kayak highways to heaven ya mbak. Lurus mulus dan megah ngarah ke Sumbingnya, cantik banget. Nggak sia-sia jauh-jauh ke mari dari Jogja kami,” kata Fatiya.

Ya, pesona spot ini adalah jalanan beraspal sempit, namun memiliki view yang menawan. Di kanan kiri jalan adalah kebun petani, sudah begitu jalan itu menghadap langsung ke Gunung Sumbing. Saat cuaca cerah, lekuk gunung, hijau dan area gersang lerengnya kentara betul, menggoda berpadu dengan awan biru.

Selain itu, udara nan segar dan hawa dingin cocok untuk menjadi obat bagi traveler yang penat dengan polusi di perkotaan. Sejenak, lokasi itu bisa menjadi tempat pelarian yang nyaman. Poin plusnya angin semilir yang berhembus dapat menguapkan stress menumpuk akibat aktivitas berat seolah mengusir penat dan lelah.

Berfoto ria di jalan ini gratis tanpa pungutan biaya bahkan untuk parkir sekalipun. Traveler cukup berhenti saja di pinggir jalan dan bisa mulai mengabadikan momen. Mengingat areanya yang terletak di dataran tinggi mencapai 1300 mdpl, disarankan menggunakan kendaraan bermotor dengan kondisi prima dan bensin yang cukup.

Lebih asik lagi jika traveler mengendarai kendaraan roda dua agar lebih leluasa menghabiskan jalanan dan mampir semaunya.

Waktu terbaik menikmati view Gunung Sumbing tentunya di pagi hari, tepatnya sebelum pukul 09.00. Jika beruntung dengan cuaca yang cerah, Gunung Sumbing akan terlihat jelas hingga di puncaknya tanpa tertutup awan kabut.

Jalanan ini sejatinya adalah jalan umum masyarakat di Sukomakmur. Traveler akan melewatinya jika hendak pergi ke wisata Negeri Sayur Sukomakmur. Jadi, cukup ketikkan saja keyword “Nampan, Sukomakmur, Magelang” di aplikasi maps, traveler akan dengan mudah menemukannya.

Selain sisi belakang yang langsung menyuguhkan Gunung Sumbing, di kiri kanannya tidak kalah menakjubkan. Sepanjang jalan traveler akan melihat kebun sayur terbentang luas yang beraneka ragam jenisnya tergantung musim. Mulai dari daun bawang, sayur hijau, cabai, dan sayur mayur lainnya.

Jalan ini menjadi ramai diburu sebagai spot hunting foto kekinian sejak para influencer travel mempostingnya di instagram. Ada yang bilang jalan sukomakmur cocok dijadikan sebagai referensi sunmori.

Sunmori di tempat ini tentu menjadi pilihan yang sempurna. Selain dapat kepuasan berfoto, traveler juga bisa sekaligus mendinginkan kepala setelah beraktivitas di hari kerja. Apalagi healing ke sini sangat low budget. Namun pastikan jika traveler kemari menggunakan pakaian hangat atau jaket ya, karena suhu udaranya cukup dingin ditambah sepoi anginnya.

Puas memotret diri di lokasi ini, traveler bisa loh naik sedikit ke atas untuk mengunjungi wisata Negeri Sayur Sukomakmur. Di lokasi itu tentu akan ditemukan lebih banyak spot foto menarik. Dijamin traveler tidak akan kehabisan stok foto untuk di posting.

Ingin sekaligus wisata kuliner? Tenang saja, tidak jauh dari lokasi jalan surgawi ini, traveler akan menemukan pasar tradisional Sukomakmur. Di pasar ini tentu traveler akan menemukan berbagai jajanan pasar klasik seperti layaknya pancong, bubur sumsum, aneka gorengan, dan hidangan lainnya. Traveler juga bisa mampir untuk makan berat di warung-warung soto sekitar. Lengkap sudah healing traveler yang ingin merasakan vibes menjadi “warga lokal”.

Lelah perjalanan 1,5 jam seketika menguap jika sudah tiba di Sukomakmur. Jadi, tunggu apalagi? Segera rencanakan perjalananmu kemari.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Pandansari, Punya Hutan Cemara dan Mercusuar



Yogyakarta

Popularitas Pantai Pandansari tidak seperti Pantai Parangtritis atau Pantai Cemara Sewu. Tetapi, justru membuat pantai di Bantul ini cocok untuk mencari ketenangan.

Berlokasi di Bantul, Yogyakarta dan masih satu garis pantai dengan Parangtritis, Pantai Pandansari adalah salah satu pantai berpasir hitam halus dengan deburan ombak laut selatan yang menggulung. Pantai ini memiliki sejuta fakta dan pesona yang memikat untuk kembali datang.

Pantainya yang tidak terlalu diketahui orang membuatnya masih sedikit terjaga kebersihannya. Lokasinya pun tidak seramai pantai tetangga yang terkadang sangat padat.


Akses menuju lokasi sangatlah mudah dan sama sekali tidak membingungkan. Traveler bisa parkir di area yang mudah dilihat. Masuk ke pantai ini traveler cukup membayar retribusi sebesar Rp 5.000 dan biaya parkir Rp 5.000 hingga Rp 10.000 tergantung jenis kendaraan.

Lalu apa saja pesona yang memikat di sini, yuk simak!

Ada mercusuar, loh!

Pantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuarPantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuar (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Pandansari menjadi satu-satunya pantai selatan di Jogja yang memiliki mercusuar. Bangunan setinggi 40 meter ini tinggi gagah berdampingan dengan pantai. Traveler yang datang bisa merasakan langsung uji adrenalin menapaki ratusan tangga menuju puncaknya.

Mercusuar ini bernama Kala Jivam Asti yang sudah berdiri kokoh sejak tahun 1997. Tertarik untuk melihat Jogja dari ketinggian? Coba tantang dirimu untuk mendaki sampai ke puncak, ya.

Hamparan hutan cemara laut hijau

Bak masuk ke negeri dongeng, di pantai ini akan ditemukan hamparan hutan cemara laut yang menghijau membentang layaknya pagar penjaga pantai. Hutan ini sedang hijau-hijaunya di musim sekarang. Pohon cemara laut yang rimbun dipadu dengan padang rumput menghijau membuat lokasinya asyik untuk sekadar merenung.

“Niatnya ke sini mau merenung aja sih sambil nunggu buka (puasa). Mungkin sekalian bukber di sini sih nanti,” kata Fadhil, salah satu pengunjung Pantai Pandansari.

Lokasinya yang rimbun dan rerumputan yang subur bak permadani karpet membuat tempat ini cocok untuk berpiknik ria. Traveler bisa berbaring tanpa alas sekalipun di sini. Di tambah tinggi pohon cemara laut yang menjulang sedikit menunda teriknya sinar mentari langsung mengenai muka.

Berkunjung ke sini memang waktu terbaiknya di sore hari menjelang senja. Selain untuk berburu sunset, cahaya dan suhunya bisa membuat nyaman tanpa takut kepanasan. Traveler bisa melakukan kegiatan berpiknik, berbaring, memasang hammock di antara pohon, atau sekadar duduk merenung sambil baca buku favorit. Atau jika traveler sedang berpuasa, bisa agendakan buka bersama di Pantai Pandansari agar anti mainstream.

Spot berburu senja

Pantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuarPantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuar, pas untuk berburu senja. (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Jika beruntung dengan cuaca, matahari terbenam di laut selatan tidak pernah mengecewakan. Di ufuk barat akan tidur sang surya di perduannya. Langit oranye dan laut biru berpadu pendar memanjakan mata. Waktu terbaik untuk diabadikan lewat mata dan kamera.

“Iya main, berburu sunset juga kebetulan lihat langit Bantul lagi cerah jadi tadi mampir kemari buat foto-foto lumayanlah hari ini lagi bagus,” kata Kurniawan, seorang fotografer yang mampir ke Pandansari.

Tidak akan asyik jika wisata tanpa berfoto. Di Pandansari traveler tidak akan kehabisan spot untuk berfoto dengan berbagai latar. Latar biru laut, hijau hutan, dan oranye senja siap dipilih untuk masuk sosial media.

Berkemah bahkan memancing

Sepanjang garis pantai traveler akan melihat beberapa orang tengah memancing di bibir pantai. Mereka melemparkan pancing ke laut dan menunggunya dengan tenang di pinggiran pantai. Traveler yang hobi memancing bisa mencobanya kemari dengan peralatan pribadi.

Selain memancing, aktivitas lainnya yang bisa dilakukan adalah berkemah. Mendirikan tenda di sekitar kawasan Pantai Pandansari diperbolehkan dengan seizin bertugas. Jika bermalam pastikan memiliki penerangan pribadi yang cukup dan peralatan camping yang memadai ya, karena di sini tidak menyediakan persewaan apapun.

Untuk fasilitas pantai tersedia dengan lengkap, mulai dari area parkir, toilet dan kamar mandi, tempat sampah, air bersih, warung makan, gazebo, kursi dan meja kayu, hingga mushola. Jadi, tidak perlu bingung jika kemari.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Ini Dulu Khusus untuk Bangsawan Jogja, Kini buat Rakyat Jelata



Jogja

Di zaman dahulu, Masjid Sela di Kraton Jogja dikhususkan untuk para bangsawan. Namun sekarang, rakyat jelata pun bisa menggunakannya.

Masjid yang berada di Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton ini merupakan salah satu masjid tertua di Jogja. Berstatus ‘kagungan ndalem’, masjid ini dibangun pada era Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Jika diamati, arsitektur bangunan masjid menyerupai bangunan Tamansari dan Keraton Jogja. Tercermin dari atap dan juga tembok tebal yang masih asli sejak pertama kali dibangun. Bahkan ketebalan tembok masjid mencapai 75 centimeter.


“Masjid Sela aslinya namanya Masjid Watu, kalau di kromo inggil jadi Sela, tapi ada juga sebut Masjid Batu kalau bahasa Indonesia. Dibangun zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I dilanjutkan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bersamaan dengan pembangunan Keraton Jogjakarta,” jelas marbot Masjid Selo, Sunarwiyadi ditemui di Masjid Sela Jogja, Senin (18/3) lalu.

Sejarah Masjid Sela, lanjutnya, berada di dalam kompleks Ndalem atau kediaman Pangeran. Tepatnya Pangeran yang kemudian akan bertakhta sebagai raja di Keraton Jogja. Kala itu, Masjid Sela digunakan sebagai tempat ibadah salat para pangeran dan bangsawan.

“Itulah mengapa masjid ini istilahnya panepen atau masjid khusus karena memang untuk keluarga bangsawan. Kalau jemaah umum ada sendiri di utara masjid, sekitar 200 meter,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini sempat tak digunakan oleh para pangeran. Sunarwiyadi menuturkan, Masjid Sela sempat tidak digunakan dalam kurun waktu antara puluhan hingga ratusan tahun.

Penyebab masjid itu tidak digunakan adalah para pangeran hijrah ke bangunan utama keraton yang saat ini berada.

Masjid Sela Yogyakarta, Sabtu (3/6/2017).Masjid Sela Foto: Edzan Raharjo

Pada saat tak digunakan, fungsi masjid juga berubah menjadi tempat menyimpan keranda jenazah. Pada akhirnya, warga memberanikan diri bersurat ke keraton untuk meminta izin menggunakan Masjid Selo sebagai tempat ibadah.

“Tahun 1965 beberapa tokoh masyarakat melihat ada masjid kecil tidak digunakan, lalu kirim surat ke Keraton mohon izin gunakan, lalu diizinkan. Kena dinggo, tapi ora kena diowah-owah (boleh dipakai tapi tidak boleh diubah), balasannya sederhana,” kisahnya.

Oleh masyarakat, masjid lalu dibersihkan dan keranda jenazah dipindahkan. Selang waktu, akhirnya Masjid Selo kembali difungsikan menjadi tempat ibadah salat. Bangunan inti masjid bisa menampung hingga sekitar 30 jemaah.

Sunarwiyadi memastikan bangunan Masjid Sela masih asli. Renovasi hanya dilakukan di bagian lantai yang awalnya memakai semen batu merah dengan alas kepang dan tikar.

“Lalu sekarang sudah direnovasi dan menggunakan keramik,” ujarnya.

Terkait desain masjid, Sunarwiyadi mengaku sempat mendapat cerita ada campur tangan arsitek asal Portugis. Sosok ini pula yang turut mendesain bangunan Keraton Jogja dan Tamansari. Terbukti dari sejumlah kesamaan detail bangunan.

Walau dikerjakan arsitek Portugis, namun Masjid Selo tetap mengusung kearifan lokal. Ditunjukkan dengan pintu masuk bangunan yang pendek sehingga jamaah harus menunduk saat akan masuk ke masjid.

“Bangunan inti masih asli yang tengah. Kalau kiri kanan bangunan tambahan. Dulu kolam itu sumber airnya dari sungai Winongo. Sekarang sudah tidak ada, tapi salurannya masih ada cuma tidak dipakai lagi,” katanya.

Untuk bangunan inti memiliki luas 6 meter X 8 meter. Dalam kondisi normal bisa menampung hingga 30 jamaah. Sementara dengan bangunan tambahan bisa mencapai 150 jamaah.

Terkait agenda Ramadan 2024, diisi dengan beragam agenda. Mulai dari berbagi takjil, TPA anak hingga tadarus. Penyelenggaraan salat tarawih juga menggunakan bangunan inti. Selain itu juga ada dua bangunan tambahan di sisi kanan dan kiri masjid.

“Agenda Ramadan itu habis Isya, tarawih lalu tadarus dua kelompok. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak di tengah sini, terpisah. Lalu untuk iktikaf itu di 10 hari terakhir,” ujarnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon, Gedung Berlafaz Allah di Jakarta Ini Tak Perlu Fondasi saat Dibangun



Jakarta

Jakarta memiliki banyak gedung-gedung pencakar langit. Salah satunya Menara ESQ 165 yang konon dibangun tanpa fondasi. Bagaimana kisahnya?

Umumnya, proses pembangunan suatu gedung pasti memerlukan piling atau paku bumi, yang kemudian dilanjutkan dengan proses fondasi. Namun tidak dengan gedung yang satu ini.

Gedung 165 atau biasa dikenal sebagai Menara 165 yang terletak di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Gedung spiritual yang ikonik dengan atap bertuliskan lafadz Allah ini, ternyata telah memiliki fondasi alam, berupa batuan keras bernama Cemented Sand dalam proses pembangunannya pada tahun 2005 silam.


Ary Ginanjar Agustian, seorang motivator sekaligus founder ESQ Leadership Center, membeberkan kisah ini melalui akun TikTok pribadinya.

“Ada satu hal yang banyak orang lain tidak tahu,” ujar Ari pada awal video berdurasi 2 menit 20 detik itu.

Ia pun menjelaskan bahwa ketika pembangunan menara 165 dilakukan, telah dilakukan proses pengeboran untuk menancapkan paku bumi layaknya pembangunan gedung-gedung tinggi lainnya.

Namun di tengah proses pengeboran, mata bor selalu patah hingga memercikkan api. Setelah ditelusuri, ternyata ditemukan batuan keras dengan bobot 200 kg/cm2 yang berbentuk seperti fondasi yang telah terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu.

Setelah diteliti di sebuah laboratorium Bandung, Dr. Joni Firmansyah selaku ahli pada bidang tersebut mengatakan bahwa Menara 165 tidak memerlukan fondasi layaknya gedung-gedung pada umumnya.

Itu karena sudah tersedia batuan fondasi dari jutaan tahun lalu hingga kedalaman 30 meter. Sehingga disimpulkan bahwa, Menara 165 hanya memerlukan pilar sebagai penyangga agar tetap kokoh.

“Ini adalah investasi yang luar biasa, bukan hanya efisiensi tetapi karunia dari Allah, karena fondasi sudah ada sebelum gedung ini berdiri,” terang Ary pada video tersebut.

Ia juga menjelaskan, bahwa atap dengan lafadz Allah di gedung ini menjadi alasannya berdakwah. Dalam 1 hari ada sekitar 100 ribu orang yang melintasi Jalan TB Simatupang sambil menyebut nama Allah yang tanpa sadar membuat orang tersebut berdzikir.

Ary menutup video dengan ajakan untuk bersama mengucapkan kata Allah ketika melihat menara ini.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com