Kisah Pohon Pandan ‘Sakti’ di Pangandaran, Tak Mempan Alat Berat



Pangandaran

Di Pacuan Kuda Legokjawa, Pangandaran ada sebuah pohon ‘sakti’ yang tak mempan ketika mau digusur alat berat. Bagaimana kisahnya?

Lokasi pohon itu berada di pesisir pantai desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Pohon ini berada di dalam pacuan kuda terbesar kedua di dunia setelah Inggris yang berada di pinggir pantai.

Ada sebuah pohon pandan berdiri tegak di tengah pacuan kuda memiliki cerita mistis di dalamnya. Konon, sejak berdirinya pacuan kuda tersebut di tahun 80-an, pohon tersebut belum bisa ditebang.


Bahkan, sempat diusahakan ditebang menggunakan alat berat tetapi selalu ada kendala hingga alat beratnya pun patah. Tokoh masyarakat Legokjawa, Engkus Kusnindar membenarkan kisah tersebut.

Engkus mengatakan, pohon pandan ‘sakti’ di pacuan kuda Legokjawa itu bernama pohon Pandan Uwong.

“Memang betul, konon pohon itu sudah ada sejak lama, bahkan saat saya kecil pun tahun 1990an sudah ada,” ucap Engkus, Senin (18/3) lalu.

Ia mengatakan, posisi pohon yang berdiri tegak di bagian kanan pacuan kuda sampai saat ini masih terlihat segar meski sudah puluhan tahun.

Sebelumnya, menurut Engkus di Pacuan Kuda itu terdapat bangunan SD Negeri Sindangjaya. “Dulu tahun 1991 masih ada, saya juga alumni dari situ sekarang sudah dipindahkan,” katanya.

Pohon Pandan Uwong di Pacuan Kuda Legokjawa Pangandaran/Pohon Pandan Uwong di Pacuan Kuda Legokjawa Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadilah/detikJabar

Engkus memperkirakan pacuan kuda sudah ada sejak tahun 1960an atau sudah 60 tahunan lebih berdiri. Pohon itu ditanam oleh Sajidin, senior di sekolahnya dulu.

“Kalau sekarang pak Sajidin usianya sudah 60 tahun, pasti tidak jauh usianya dengan pohon pandan tersebut,” tutur Engkus.

Menurut Engkus, secara syariat kalau pohon pandan tidak berusia lama. Menurutnya, sangat jarang pohon pandan bisa bertahan hingga puluhan tahun.

“Namun pandan uwong ini masih berdiri kokoh hingga sekarang dan tidak berubah warnanya tetap hijau meski di bawah terik matahari,” ucapnya.

Ia menceritakan, saat itu ada dua pohon Pandan Uwong yang berdiri di pacuan kuda namun satu lagi sudah tidak ada secara alami.

“Jadi yang tersisa tinggal itu saja,” ucapnya.

Engkus mengatakan pohon pandan uwong itu sempat berencana akan ditebang tahun 2016 lalu saat ada PON di Jabar, tapi tidak bisa disingkirkan.

“Pohon pandan uwong yang satu itu pernah mau disingkirkan oleh alat berat (beko) malah bekonya yang mental. Pokoknya mitos yang dialami oleh kami itu ada dua, pertama beko mau menyingkirkan pohon malah mental, kemudian beko yang menggunakan alat tajam pun malah patah besinya” katanya. Soal penyebab kenapa pohon itu tak bisa ditebang, Engkus mengaku tidak mengetahuinya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Namanya Yutuk, Kuliner Unik dari Pantai Karangbolong



Kebumen

Jika bicara tentang kuliner Kebumen, kalian harus cobain Yutuk. Kuliner ini adalah sejenis undur-undur laut yang rasanya gurih enak. Sudah pernah coba?

Kebumen tak akan lepas dari keindahan alam Pantai Selatan. Hal ini dikarenakan letak geografis kabupaten Kebumen yang berada di ujung selatan pulau Jawa membuatnya memiliki banyak pantai eksotis dengan segudang potensi.

Di samping potensi alam itu, Kebumen juga memiliki kuliner unik yang wajib Anda coba saat mengunjunginya. Undur-undur laut atau biasa disebut yutuk oleh warga sekitar merupakan sebangsa crustacea layaknya kepiting, udang, dan lobster.


Tidak heran, jika rasa dari undur-undur laut ini gurih mirip dengan hewan-hewan tersebut. Hewan ini memangsa plankton dan detritus yang terbawa air dengan menggunakan antena berbentuk V di bagian depan kepalanya.

Meskipun berukuran tak terlalu besar, hewan ini memiliki kandungan gizi tinggi protein, lemak, zat besi, dan zat kitin yang dapat menurunkan kolesterol serta menjaga metabolisme tubuh.

Kuliner Yutuk dari KebumenKuliner Yutuk dari Kebumen Foto: Natasha Kayla Ananta/detikTravel

Anda akan dengan mudah menemukan olahan undur-undur laut di Kebumen, karena hampir semua pedagang di sekitar pantai menjualnya. Salah satunya di Pantai Karangbolong, yang terletak di Puring, kabupaten Kebumen.

Pantai ini memiliki gua karang unik yang biasa digunakan sebagai tempat upacara adat Ngunduh Sarang Lawet sebagai rasa syukur dan permohonan keselamatan untuk para pengunduh sarang burung walet kepada penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Tak lengkap rasanya jika datang ke sini tanpa mencoba yutuk. Ada dua jenis olahan yutuk yang paling sering ditemukan di sini yaitu peyek yutuk dan yutuk crispy.

Menurut seorang warga lokal, sekaligus pemilik warung yang menjual yutuk, ada beragam reaksi wisatawan ketika mencoba yutuk untuk pertama kalinya.

“Reaksinya ya ada yang baik ada yang kurang baik mungkin karena rasanya unik dan bentuknya yang menggelikan bagi beberapa orang, tapi ada juga yang suka banget,” tutur Linda sebagai generasi ketiga penjual yutuk di keluarganya.

Yutuk dijual dengan harga Rp 10,000 per ons. Dalam sehari ia dapat menjual hingga 10kg per hari bahkan 20kg di hari Minggu.

Selain yutuk, di sini Anda juga bisa mencoba seafood lainnya seperti baby crab, udang, dan ikan laut. Bagaimana, tertarik untuk mencobanya?

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

6 Monumen Tanda Persahabatan ASEAN di Taman Suropati



Jakarta

Taman Suropati merupakan salah satu wilayah yang terlestarikan Jakarta. Ada enam monumen bersejarah di sini.

Taman ini dibangun pada masa wali kota pertama Batavia GJ Bisschop di tahun 1916. Pohon-pohon yang berada di taman ini sudah ada sejak jaman Belanda maka tidak mengherankan jika memiliki diameter batang yang sangat besar.

Taman itu menjadi tempat berdirinya enam monumen dari enam negara pendiri ASEAN. Monumen itu menjadi simbol persahabatan negara-negara ASEAN.


Monumen-monumen tersebut awalnya direncanakan untuk diletakkan secara acak di Jakarta, tetapi kemudian muncul usulan untuk menempatkannya pada satu tempat, dan dipilihlah Taman Suropati.

Berikut 6 monumen ASEAN di Taman Suropati:

1. Peace, harmony, and one (Damai, Harmonis, dan Satu)

Monumen ini dibuat oleh Lee Kian Seng representatif Malaysia. Dikutip dari leekianseng.com monumen ini berukuran 5,1m x 3,1m x 3,1. Monumen persembahan Malaysia ini terbuat dari baja ringan dan terinspirasi dari kaligrafi Lee Kian Seng yang mencerminkan akar budaya Tionghoa.

2. Rebirth (Kelahiran Kembali)

Monumen ini merupakan karya Luis E. Yee Jr seorang seniman asal Filipina. Monumen yang terbuat dari susunan kayu jati yang tersusun dalam empat baris mengisyaratkan tangkai padi yang bergoyang tertiup angin.

3. Harmony (Keharmonisan)

Monumen ini merupakan karya dari Awang HJ Latirf Aspar dari Brunei Darussalam. Berbentuk 6 padi layaknya logo ASEAN pertama sebelum tahun 1997. Pada bagian atasnya terdapat gambar peta dan lambang bulan sabit Brunei Darussalam yang juga terdapat pada Bendera Negaranya.

4. The Spirit of ASEAN (Semangat ASEAN)

Wee Beng Chong adalah seniman yang menciptakan karya The Spirit of ASEAN dari Singapura. Monumen ini menjadi simbol dari persatuan dan kerja sama dari negara-negara ASEAN.

5. Peace (Perdamaian)

Monumen ini dibuat oleh Sunaryo pemahat patung terkenal dari Indonesia. Monumen ini bermakna perdamaian dengan bentuk tubuh manusia yang sudah melalui proses distorsi sedemikian rupa hingga menghilangkan bentuk manusianya.

6. Fraternity (Persaudaraan)

Monumen berbentuk dua manusia yang saling merangkul ini merupakan karya Nonthivathn Chandanaphalin seorang dosen dan seniman terkenal dari Thailand. Monumen Fraternity memiliki makna persaudaraan antar negara ASEAN.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bali Cliff Glamping, Staycation Mewah di Bibir Tebing



Karangasem

Penginapan di Karangasem, Bali ini boleh dibilang antimainstream. Ini glamping mewah dengan view sunrise dan berada di bibir tebing.

Tempatnya bernama Bali Cliff Glamping. Berlokasi di Jalan Karangasem – Seraya, Seraya Barat, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Sesuai dengan namanya, Bali Cliff Glamping terletak di bibir tebing yang menghadap ke laut lepas.

Kadek, salah satu karyawan Bali Cliff Glamping, mengatakan Bali Cliff Glamping menjadi glamping pertama di bibir jurang. Di bangun dengan konsep alami yang khas. Memadukan berbagai ornamen kayu pada setiap detailnya. Sesuai dengan konsep glamping atau glamour camping, di sini setiap bangunan didesain menyerupai tenda. Berasa lagi camping beneran deh!

Bali Cliff Glamping memiliki enam kamar dengan tipe dan bentuk yang sama. Namun, menurut Kadek, setiap kamar memiliki view yang berbeda. Kamar dengan view terbaik adalah kamar di ujung timur karena bisa mendapatkan view sunrise yang menawan.

“Kita di sini memiliki enam kamar, dengan tipe dan fasilitas yang sama. Yang membedakan hanya dari view saja. Menurut saya kamar terbaik itu yang di ujung timur, karena bisa dapet view sunrise waktu pagi hari,” kata Kadek.

Memasuki ruangan traveler akan dibuat kaget karena bak masuk ke dalam tenda, komplit dengan kasur dan peralatannya yang nyaman. Interior didesain dengan konsep minimalis dan klasik. Bernuansa coklat.

Walau terletak di bibir tebing, fasilitas Bali Cliff Glamping ini nggak kaleng-kaleng. Kadek mengatakan, setiap kamar sudah dilengkapi dengan fasilitas double bed, safety box, kamar mandi dalam, air cooler, handuk, dan masih banyak lagi.

Selama staycation di sini, traveler akan dibuat semakin tenang. Malam hari tak ada suara bising kendaraan. Hanya ada suara jangkrik dan deburan ombak yang memecah malam. Definisi ketenangan yang hakiki.

Saat bangun di pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 06.30 WITA, traveler bisa langsung bersantai di binbag dan menikmati keindahan matahari yang mulai menampakkan sinarnya. Sembari menikmati teh dan kopi hangat.

Nah untuk staycation di Bali Cliff Glamping traveler wajib membayar sekitar Rp 850.000 hingga Rp 900.000/ kamarnya. Harga ini sudah termasuk paket breakfast untuk dua orang. Jika ingin menambah ekstra bed akan dikenakan biaya sebesar Rp 300.000.

Traveler yang kepo dengan kecantikan Bali Cliff Glamping juga bisa mengunjungi akun Instagram mereka @balicliffglamping. Tertarik menginap di bibir tebing?

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems di Bali Timur: Pantai Labuan Amuk



Karangasem

Bali timur, tepatnya di Kabupaten Karangasem menyimpan banyak permata tersembunyi. Ada pantai cantik bonus view perbukitan yang hijau nan asri.

Traveler yang berlibur ke Bali timur dijamin nggak akan kehabisan wisata untuk dijelajahi. Mulai dari bukit hingga pantai.

Salah satu hidden gem yang wajib dikunjungi saat ke Karangasem adalah Pantai Labuan Amuk. Dikenal karena kecantikan alamnya yang mempesona, pantai ini memiliki pasir putih yang bercampur dengan pasir hitam yang lembut.

Memberikan pemandangan yang menenangkan dengan latar belakang bukit hijau yang memikat. Wilayah pantainya tidak begitu luas, diselingi dengan jalan setapak kayu di sebelah kiri, pantai ini menjadi tempat ideal untuk bersantai sambil menikmati panorama laut yang menakjubkan.

Pantai ini tergolong hidden gem, karena traveler harus melalui jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil. Namun, pesona alam dan ketenangannya membuat pantai ini worth it untuk bersantai dan menjauh dari kebisingan kota.

Landskap hijau dari perbukitan dan air pantainya yang jernih, ditemani dengan deburan ombak membuat traveler akan merasa nyaman dan ingin berlama-lama di sini.

Karena keindahan bawah lautnya yang memukau dan perairannya yang jernih, Pantai Labuan Amuk menjadi surga bagi penggemar snorkeling. Menikmati terumbu karang berwarna-warni dan ikan tropis yang cantik di kedalaman laut. Traveler bisa menemukan penyewaan alat snorkeling di sekitar pantai.

Bagi traveler yang mau menikmati keindahan alam tapi nggak mau basah-basahan, bisa mencoba aktivitas mancing. Terdapat juga area memancing yang sangat populer, traveler bisa duduk di pinggir jalan setapak sambil memancing dan menikmati indahnya Labuan Amuk.

Ketika mengunjungi pantai Labuhan Amuk Karangasem, traveler tak perlu khawatir mencari tempat makan. Pasalnya, di sepanjang pantai terdapat banyak warung makan dan penjual makanan ringan. Harganya pun relatif terjangkau, jadi nggak akan buat kantongmu bolong.

Pantai ini berlokasi di Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Lokasinya cukup jauh dari Kota Denpasar, sekitar 42 kilometer atau 1 jam 15 menit perjalanan.

Labuan Amuk buka setiap hari. Bagi traveler yang berkunjung hanya akan dikenakan biaya parkir mulai dari Rp 5.000 untuk satu kendaraan. Bagi traveler yang ingin berkunjung, detikTravel menyarankan untuk datang di pagi hari saat matahari terbit sekitar pukul 06.30 WITA. Atau bisa di sore hari mulai pukul 16.00 WITA.

Karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota, dan belum banyak yang tahu tentang Pantai Labuan Amuk. Tak banyak wisatawan yang berkunjung ke sini sehingga cocok untuk traveler yang mencari ketenangan.

Bagi traveler yang berkunjung tetap menjaga keselamatan dan kebersihan ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Sekadar Ngabuburit di Taman Suropati



Jakarta

Taman Suropati berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat bisa menjadi pilihan untuk ngabuburit. Di sini, traveler enggak cuma bersantai, tetapi juga bisa melakukan aktivitas lainnya.

Terletak di jantung kota Jakarta dan mudah dijangkau dengan transportasi umum, Taman Suropati menjadi destinasi favorit masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Sudah begitu, taman ini berdekatan dengan Masjid Agung Sunda Kelapa.

Taman ini dilengkapi dengan fasilitas umum seperti toilet, gazebo, bangku taman, dan jogging track.


Berikut 8 kegiatan saat ngabuburit di Taman Suropati:

1. Olahraga ringan

Salah satu kegiatan favorit yang dilakukan pengunjung Taman Suropati adalah berolahraga. Selain memiliki lahan yang cukup luas, Taman Suropati juga dilengkapi dengan jogging track.

Berbagai olahraga lain seperti jalan santai, senam, ataupun yoga bisa dilakukan di Taman Suropati. Memiliki tanaman-tanaman asri dan selalu terawat membuat siapapun akan merasa betah berolahraga di sini.

Nah, saat bulan Ramadan, pengunjung bisa jalan santai atau jogging.

2. Kumpul Komunitas

Banyaknya spot untuk bersantai menjadikan Taman Suropati tempat berkumpul banyak komunitas. Beberapa di antaranya melakukan perkumpulan rutin. Salah satunya Taman Suropati Chamber, komunitas musik biola yang rutin melakukan latihan setiap hari Minggu di sana.

3. Piknik

Taman Suropati memiliki lahan terbuka dengan udara yang sejuk meskipun siang hari. Traveler bisa membawa alas duduk dan bekal untuk berbuka seolah piknik kecil-kecilan di Taman Suropati. Namun, tetap pastikan tidak mengganggu aktivitas pengunjung lainnya dan membuang sampah pada tempatnya ya.

4. Membaca Buku

Tempat yang tenang dan sejuk selalu menjadi pilihan untuk beristirahat sambil membaca buku. Tak perlu khawatir jika sudah bosan dengan buku yang traveler miliki, di Taman Suropati terdapat perpustakaan mini milik bersama.

Di sana traveler bisa meminjam ataupun mendonasikan buku secara gratis. Perpustakaan yang dibangun oleh Jakarta Bookhive ini juga memiliki koleksi buku yang cukup lengkap mulai dari novel, majalah, hingga komik. Jika sudah selesai membaca harap mengembalikan buku pinjaman ke tempat semula ya Traveller.

5. Foto-Foto

Di zaman sekarang tak afdol rasanya jika pergi ke suatu tempat tanpa mengabadikannya dalam jepretan foto. Tenang saja meskipun rindang dengan pepohonan dan tanaman, Taman Suropati memiliki banyak spot estetik mulai dari air mancur, bagian tengah taman, hingga monumen persahabatan ASEAN, yang bisa menjadi opsi Traveller untuk berpose.

6. Bermain bersama Satwa

Taman Suropati kerap menjadi pilihan para pecinta hewan untuk mengajak peliharaan kesayangannya berjalan-jalan. Beberapa catlovers juga terlihat melakukan street feeding kepada kucing-kucing yang ada di Taman Suropati.

Tenang saja, meskipun liar kucing-kucing tersebut sudah di steril dan ramah dengan para pengunjung. Selain itu, traveler juga bisa memberi makan burung-burung merpati yang terbang bebas di kawasan Taman Suropati.

Kendati banyak hewan menyinggahi, taman ini selalu terjaga kebersihannya berkat jasa para petugas kebersihan yang setiap harinya membersihkan kawasan Taman Suropati.

7. Bersantai sambil menghirup udara segar

Jika tidak ingin melakukan aktivitas yang terlalu berat, opsi bersantai sambil menghirup udara segar di Taman Suropati bisa menjadi pilihan. Tersebar banyak tempat duduk yang bisa digunakan untuk bersantai ditemani angin sepoi-sepoi dan pemandangan asri taman.

8. Menjadi pilihan lokasi Work From Anywhere

Selain memiliki udara segar dan pemandangan asri, Taman Suropati juga memiliki fasilitas free WiFi dengan kecepatan hingga 100 Mbps. Tak heran hal ini membuat banyak pengunjung semakin betah berlama-lama di Taman Suropati. Dengan kecepatan WiFi tersebut, Taman Suropati bisa menjadi pilihan jika Traveller penat bekerja dalam kantor.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Akses Menuju Jakarta International Stadium (JIS), Sejarah, dan Fasilitasnya


Jakarta

Jakarta International Stadium (JIS) adalah salah satu fasilitas umum yang banyak dikenal publik. Stadion ini telah banyak digunakan untuk pertandingan hingga konser pasca diresmikan tahun 2022.

Dikutip dari laman Pemerintah Provinsi Jakarta, JIS mengusung tema modern dengan memprioritaskan akses transportasi publik untuk acara nasional hingga internasional. Beberapa transportasi umum yang dapat diakses kesana yaitu.

1. TransJakarta

  • Rute JIS 3 (JIS – Harmoni)
  • Rute 14 (JIS – Senen)
  • Rute 10K (Tanjung Priok – Senen via Taman BMW).

2. KRL Commuter Line Jabodetabek

  • Stasiun Ancol (3,5 km dari JIS)
  • Stasiun Tanjung Priok (4 km dari JIS)
  • Stasiun Bekasi-Stasiun Manggarai-Stasiun Ancol
  • Stasiun Tangerang-Stasiun Duri-Stasiun Kampung Badan-Stasiun Ancol.

3. Mikrotrans

  • Jak 77 (Tanjuk Priok-Jembatan Item)
  • Jak 88 (Tanjung Priok-Ancol Barat).

Sejarah Pembangunan JIS

Jakarta International Stadium (JIS) diresmikan oleh Gubernur Jakarta, Anies Baswedan pada tahun 2022. Awalnya stadion ini akan dinamakan Stadion BMW sesuai nama lahan awalnya yaitu Taman Bersih Manusia Wibawa (BMW).


Latar belakang didirikannya stadion atap buka tutup pertama di Indonesia ini adalah kebutuhan stadion bertaraf Internasional di Indonesia yang masih terbatas. Dengan menggandeng PT Jakarta Propertindo (Jakpro), pemerintah Kota Jakarta membangun pengganti stadion Lebak Bulus dan mewadahi klub sepak bola lokal di Jakarta.

Namun ternyata proyek ini telah digagas terlebih dahulu oleh Fauzi Bowo (Foker) sejak tahun 2008 ketika masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan melakukan penggusuran tepat pada 24 Agustus.

Sengketa yang pelik antara masyarakat di wilayah Taman BMW seluas 66,6 hektar atas bangunan liar yang ada akhirnya mandek dan dilanjutkan kembali di masa pemerintahan Joko Widodo. Klaim 2 sertifikat yang dimiliki Pemprov DKI ternyata belum cukup memenangkan gugatan dan akhirnya dilanjutkan kembali oleh Djarot Saiful Hidayat di tahun 2017.

Meskipun Djarot telah meletakkan batu pertama dan sertifikat hak pakai pada tanggal 18 Agustus 2017, pembangunan JIS belum bisa dilakukan. Anies Baswedan sebagai pimpinan berikutnya memperkenalkan JIS pada 14 Maret 2019 dengan menggandeng Jakpro hingga akhirnya selesai dibangun 2022.

JIS pertama kali diluncurkan pada tanggal 19 April 2022 dan resmi dibuka pada 24 Juli 2022 sebagai bukti bahwa kebesaran dan kekuasaan bangsa Indonesia.

Fasilitas Mewah dan Lengkap JIS

Lisensi internasional pada stadion modern ini tentu ditunjang dengan fasilitas yang apik. Berlokasi di Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta, berikut beberapa fasilitas menarik JIS yang menghabiskan dana sekitar Rp 4,08 Triliun.

1. Ruang Ganti Pemain+Bak Mandi Air Panas

Tidak seperti ruang ganti pada umumnya, khusus tim yang bertanding di stadion ini akan dimanjakan dengan fasilitas ruang ganti yang mewah. Pasalnya di area ruang ganti pemain terdapat bak mandi air panas dan area pemanasan yang mampu membuat pemain relaks sebelum bertanding.

2. Bilik Korporasi

Bilik ini terdapat di lantai 5 dan 6 sisi tribun barat dan timur yang berguna untuk rapat dan bekerja. Ruang ini memberikan pemandangan langsung ke tribun stadion sehingga dapat bekerja sekaligus menonton pertandingan sepak bola yang ada.

3. Media Room

Selain menyediakan ruang untuk rapat, JIS juga memberikan ruangan bagi media untuk melakukan konferensi pers. Terdapat parkir khusus bagi media untuk mempermudah akses dan peliputan informasi terkini dari kegiatan di Jakarta International Stadium (JIS).

4. Jogging Track

Terdapat dua area jogging yang ada di JIS yaitu di ring luar dan rangka bangunan atas. Disini detikers dapat merasakan olahraga dengan nuansa berbeda pemandangan Jakarta di atas ketinggian 72 meter.

5. Sistem Audio dan Internet

Karena juga digunakan untuk konser tingkat internasional, JIS dilengkapi oleh Speech Transmission Index (STI) Pro Sound dengan tekanan suara lebih dari 100dBA-105dBA. Seluruh ruangan juga terkoneksi dengan Wi-Fi yang memudahkan komunikasi di stadion internasional tersebut.

6. Atap Stadion Buka Tutup

Hal yang membuat stadion ini bak di Eropa adalah teknologi buka tutup yang ada di bagian atapnya. Fasilitas unggulan ini sangat fleksibel dan mempermudah kinerja acara hingga tercatat oleh MURI sebagai teknologi stadion tercanggih pertama di Indonesia.

7. Kursi Premium dan Perawatan Eksklusif

Tribun penonton di JIS dapat menampung sekitar 82 ribu penonton dengan sistem kursi tunggal dengan bahan plastik tebal berwarna jingga. Kursi VIP juga dibuat dari jok busa layaknya kursi bus premium yang selalu dibersihkan setiap hari oleh petugas yang ada.

Jakarta International Stadium (JIS) menjadi saksi perhelatan penghargaan bergengsi Golden Disc Award (GDA) ke-38 pada 6 Januari 2024. JIS juga menjadi lokasi konser girlgroup populer dari Korea, Twice, pada 23 Desember 2023.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Sunan Sendangduwur dan Masjid Ajaibnya di Lamongan



Lamongan

Sunan Sendangduwur atau Raden Noer Rahmat adalah penyebar agama Islam di Lamongan. Ia mendirikan masjid dengan kisah ‘ajaib’ di kota itu. Seperti apa kisahnya?

Raden Noer Rahmat merupakan keturunan Syekh Abdul Qohar dari Baghdad yang merantau ke pulau Jawa dan menikah dengan putri dari Tumenggung Sedayu bernama Dewi Sukarsih.

Hal ini diungkapkan oleh Irfan Masyhuri yang mengaku sebagai keturunan ke-13, sekaligus juru kunci makam Sunan Sendangduwur. Hingga kini, makamnya yang terletak di kawasan dataran tinggi Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran masih banyak dikunjungi para peziarah.


“Raden Noer Rohmat lahir pada tahun 1520 masehi dan saat remaja kemudian berpindah dari Sedayulawas, lalu babat alas di tempat yang bernama Dukuh Tunon ini,” ujar Irfan.

Sejumlah peninggalannya masih terawat dan digunakan hingga kini. Salah satunya yakni masjid yang berada di area pemakaman Sunan Sendangduwur. Ada cerita menarik terkait pembangunan masjid ini.

Menurut cerita, terang Navis, masjid yang berada di makam Sendangduwur ini dibangun tidak secara bertahap. Namun ada beberapa versi cerita yang melingkupi pembangunan masjid ini.

Cerita pertama, masjid tersebut ‘diboyong’ oleh Sunan Sendangduwur dalam waktu kurang dari semalam dari wilayah Mantingan, Jepara, tempat Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono yang saat itu mempunyai masjid.

“Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer Rahmat berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendangduwur. Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid,” ungkap Navis.

Cerita lain terkait masjid ini, ungkap Navis, masjid tersebut dibawa rombongan melalui laut dari Mantingan Jepara menuju KE Lamongan hanya dalam waktu satu malam.

Ketika mendarat di Lamongan, rombongan pengantar masjid ini diterima langsung oleh Sunan Sendangduwur dan Sunan Drajat beserta pengikutnya.

“Saat istirahat inilah sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat,” papar Navis.

Pendirian masjid sendiri ditandai dengan surya sengkala yang berbunyi ‘gunaning seliro tirti hayu’ yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pohon Kantil Ini Jadi Saksi Bisu Masjid Berusia 4 Abad di Klaten



Klaten

Di Klaten, ada sebuah masjid yang konon usianya sudah 4 abad. Saksi bisunya adalah sebuah pohon kantil yang tumbuh di depannya. Begini kisahnya:

Masjid Roudlotuzzahidin yang berada di Dusun Tegalarum, Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, merupakan salah satu masjid tua yang tersisa di Klaten. Masjid tersebut konon didirikan sekitar tahun 1000 H atau 1581 Masehi pada masa kesultanan Pajang, Solo, 443 tahun silam.

Jejak masjid tua itu terlihat dari arsitektur di dalamnya. Ada empat tiang kayu jati utuh yang menjadi penopang utama bangunan masjid meski temboknya kini tampak keramik.


Pada bagian atapnya, bangunan masjid ini menggunakan kayu. Bangunan Masjid Roudlotuzzahidin ini mirip Masjid Golo dan Masjid Kajoran di sekitar kompleks makam Sunan Pandanaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat.

Lalu di sisi utara masjid masih terdapat kolam air sebagaimana masjid kuno umumnya. Kolam air tersebut masih dipertahankan meskipun tidak lagi digunakan untuk bersuci.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Kolam air di Masjid Roudlotuzzahidin Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Tak hanya kolam air, model bangunan masjid kuno juga terlihat dari pohon kantil tua di depan masjid. Pohon kantil berdiameter sekitar 80 sentimeter itu menyisakan kulit kayunya yang mengelupas karena usia.

Pohon yang memiliki berbagai mitos bagi masyarakat Jawa itu juga masih berdiri kokoh di badan jalan kampung. Pengurus masjid pun tak berencana menebang pohon kantil itu karena menjadi saksi bisu sejarah masjid berusia lebih dari 400 tahun ini.

“Usia masjid ini sudah 400-an tahun. Ini (pohon kantil) termasuk peninggalan karena ditanam bersamaan pendirian masjid,” kata Penasihat Takmir Masjid, Muhammad Asrori (80) dalam bahasa Jawa, Sabtu (30/3) akhir pekan lalu.

Sejarah Berdirinya Masjid

Asrori yang juga sesepuh masjid, Dusun Tegalarum dulunya berupa tegalan tanpa penduduk. Pada masa itu, tahun 1581 masa Kasultanan Pajang, Solo, ada seorang bangsawan yang meminta lokasi itu dijadikan tempat penyebaran agama Islam.

“Bangsawan itu minta diajari ngaji, kemudian meminta kepada Kiai Syarifuddin di Gading Santren (Desa Belang wetan, Kecamatan Klaten Utara) mengirim guru ngaji. Lalu dikirim Mbah Kiai Ahmad Mahrom ke sini,” tutur Asrori.

Asrori menerangkan Kiai Ahmad Mahrom lalu membersihkan tegalan yang ditumbuhi ilalang untuk didirikan masjid. Semakin lama pengajian semakin ramai sehingga santri membangun rumah di sekitar masjid.

“Terus santri buat rumah sekitar sini terus sampai sekarang pada bisa ngaji, ada sekolah ada pesantren. Makam Mbah Kiai Ahmad Mahrom di belakang masjid,” lanjut Asrori.

Asrori menuturkan masjid ini kini sudah dipugar dari bangunan aslinya. Dulunya ada tangga yang terbuat dari kayu papan dan mimbar yang kini sudah tidak ada. Namun, pohon kantil tua itu masih dipertahankan sebagai pengingat sejarah.

“Tidak ditebang karena untuk sejarah, karena bunga kantil banyak dan harum baunya, di sini dinamakan Tegalarum,” imbuhnya.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Penasihat masjid lainnya, Muhammad Busairi (79) menambahkan, dulunya mimbar masjid berasal dari kerajaan. Ada ukiran dan ada tongkatnya untuk khotbah.

“Ada tongkatnya, ukiran karena dari kerajaan tapi sudah rusak dan tidak ada lagi. Kalau bunga kantil dulu banyak yang cari ke sini,” kata Busairi.

Peninggalan lain, sebut Busairi, adalah kolam air untuk bersuci. Dia mengenang ada banyak orang yang mengambil air dari kolam itu untuk berbagai keperluan.

“Orang sakit dimandikan di sini, orang mau cari jabatan mandi ke sini. Tapi itu zaman dulu, ya hanya sebagai sarana, tapi sekarang sudah tidak ada,” terang Busairi.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Bangunan Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Jakbar



Jakarta

Jejak penyebaran Islam di Jakarta Barat terekam melalui deretan masjid ini. Apa saja?

Bersama Sudin Parekraf Jakbar (30/3/24) detikTravel berkesempatan mengunjungi sejumlah masjid untuk menelusuri sejarah penyebaran agama islam di Jakbar.

1. Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari

Banyak orang mengira bahwa Masjid Istiqlal merupakan masjid raya pertama di Jakarta, namun nyatanya Masjid Istiqlal merupakan milik negara. Adalah Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari yang menjadi masjid raya pertama di Jakarta.


Masjid itu berada di Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat. Dibangun pada lahan seluar 2,4 hektar, masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Ahok itu memiliki daya tampung hingga 12.500 jamaah.

Diresmikan pada 15 April 2017, Adhi Moersid selaku arsitek merancang masjid itu dengan nuansa budaya budaya Betawi yang kental, terlihat bangunan atap limas runcing tanpa kubah, ornamen gigi balang pada bangunan, dan pagar langkan juga menghiasi masjid ini.

Berada di lokasi yang luas membuat masjid ini juga kerap digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi dan menjadi salah satu tempat isolasi para pasien Covid pada masa pandemi.

2. Masjid Jami An-Nawier

Masjid ini menjadi bukti bahwa komunitas Arab pernah berjaya di Batavia. Meskipun berada di kawasan Pekojan, masjid itu tak hanya berarsitektur Arab, namun juga memiliki perpaduan gaya Timur Tengah, Tionghoa, Eropa, dan Jawa pada bangunannya.

Didirikan pada tahun 1760 Masehi, masjid itu mulanya memiliki luas 500 meter persegi. Kini, masjid itu diperluas hingga hampir 2000 meter persegi.

Menurut Ketua Pengurus Masjid Jami An-Nawier Ustaz Dikky di masjid itu juga masih menjaga tempat wudu yang orisinil berbentuk kolam dengan sebagai saksi sejarah umat muslim zaman dahulu.

“Ada juga tempat wudu yang menjadi satu saksi sejarah peninggalan yang sudah langka di berbagai wilayah,” kata dia.

Tak hanya sebagai masjid, terdapat bangunan 400 meter persegi yang digunakan sebagai rumah wakaf untuk berdagang yang hasilnya digunakan untuk kesejahteraan masjid.

3. Masjid Langgar Tinggi

Masjid itu merupakan bangunan musala tua yang masih terlestarikan sebagai cagar budaya hingga saat ini. Populer dengan nama Langgar Tinggi karena memiliki 2 lantai yang dijadikan tempat untuk beribadah.

Masjid itu dibangun oleh Syekh Said bin Naum selaku Kapiten Arab pertama di Batavia pada tahun 1829. Masjid itu menjadi asal-usul kampung sekitarnya diberi nama Pekojan. Masjid itu lama-lama dikepung permukiman warga setelah didatangi oleh orang-orang India saat itu.

Bangunan masjid itu juga menyerap berbagai nilai kebudayaan dari berbagai suku dan etnis. Pilar-pilar pada masjid ini mencerminkan kebudayaan Eropa, penyangga bagian luar diserap dari kebudayaan China, dan penggunaan balok-balok rangka payung yang mencerminkan kebudayaan Jawa.

4. Masjid Jami Angke

Berada di Kampung Angke sebagai pusat transit para pedagang dan pendakwah dari mancanegara membuat bangunan masjid ini juga memiliki arsitektur yang unik.

Dibangun pada tahun 1761 Masehi, pada masa pemerintahan Pangeran Jayakarta II, itu menunjukkan perpaduan budaya Bali, Belanda, Maroko, China, dan Jawa. Itu menunjukkan filosofi masjid itu, yakni pada masa lampau hidup berdampingan berbagai suku dan etnis di Kampung Angke.

Muhammad Abyan, Ketua Sarpras dan Sejarah Masjid Jami Angke, mengatakan bahwa toleransi keberagaman yang ada di lingkungan sekitar masjid pun terlihat sangat erat hingga saat ini.

“Dari dulu sudah ditanamkan nilai kerukunan dan kesatuan, yang tionghoa tidak merasa minoritas kami yang muslim juga tidak merasa mayoritas,” kata dia.

Pada bagian barat dan timur masjid terdapat beberapa makam tokoh-tokoh terkait sejarah Kampung Angke. Di antaranya, Syekh Jafar, Syekh Syarif Hamid Al-Qadri dari Kesultanan Pontianak.

5. Makam Pangeran Wijaya Kusuma

Makam ini menjadi cikal bakal terbentuknya nama Wijaya Kusuma sebagai salah satu nama kelurahan di Grogol, Jakarta Barat.

Pangeran Wijaya Kusuma adalah seorang penasehat sekaligus panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta. Pangeran Jayakarta berasal dari Banten dan sangat menentang Belanda pada abad ke-17.

Hingga kini makam Pangeran Wijaya Kusumarutin dikunjungi oleh para peziarah untuk melakukan tahlilan atau pengajian yang biasanya dilaksanakan pada malam Jumat.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com