Author: 16

  • ASTER Naik ke $0,70, Aster Chain Mainnet Resmi Meluncur Maret

    Aster, decentralized perpetual exchange yang disebut mendapat dukungan dari pendiri Binance Changpeng Zhao (CZ), mengumumkan rencana peluncuran mainnet layer-1 miliknya, Aster Chain, pada Maret 2026. Pengumuman tersebut disampaikan melalui platform X pada Rabu, sebagai bagian dari roadmap Aster untuk tahun 2026.

    Dilaporkan Crypto Briefing, peluncuran mainnet ini akan menjadi langkah besar bagi Aster, yang sebelumnya telah menjalankan testnet pada awal Februari 2026 setelah melewati tahap uji coba whitelisted pada akhir 2025. Tim menyebut testnet tersebut telah menarik lebih dari 50.000 partisipan sebelum memasuki fase produksi penuh melalui mainnet.

    Fokus Infrastruktur Baru dengan Fitur Privacy-First

    Menurut tim Aster, peluncuran Aster Chain dirancang untuk memperkuat infrastruktur platform dengan menghadirkan jaringan khusus yang mendukung produk-produk on-chain Aster. Selain itu, jaringan layer-1 ini juga ditujukan untuk mendukung pengembang melalui tools builder serta menyediakan integrasi fiat on/off-ramp.

    Aster Chain disebut membawa pendekatan privacy-first, yang menjadi salah satu fokus utama pengembangan jaringan tersebut.

    Baca juga: Aster Resmi Rilis Testnet L1, Harga ASTER Naik 17% ke $0,55

    Upgrade DEX: Governance, Staking, hingga Real-World Asset Trading

    Selain peluncuran mainnet, Aster juga menyatakan bahwa tahun 2026 akan difokuskan untuk peningkatan DEX secara community-driven. Sejumlah inisiatif yang disiapkan meliputi sistem governance berbasis native token, staking untuk meningkatkan partisipasi pengguna, serta perluasan fitur trading berbasis aset dunia nyata.

    Aster menargetkan ekspansi ke produk real-world assets (RWA), termasuk pasar perpetual berbasis saham (stock perpetual markets). Langkah ini dinilai dapat memperluas penawaran synthetic trading Aster, tidak hanya terbatas pada aset kripto.

    Harga ASTER Menguat ke $0,70

    Di tengah pengumuman tersebut, token Aster (ASTER) tercatat menguat sekitar 9% dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran $0,70. Kapitalisasi pasar ASTER berada di level sekitar $1,73 miliar, dengan volume perdagangan harian mencapai sekitar $278 juta.

    Dalam tujuh hari terakhir, ASTER tercatat naik sekitar 29%, meski dalam 90 hari terakhir masih mengalami penurunan lebih dari 33%. Total suplai maksimum ASTER tercatat sebesar 8 miliar token, sementara suplai beredar saat ini berada di angka sekitar 2,48 miliar token.

    Dengan peluncuran mainnet yang dijadwalkan pada Maret, pasar kini menunggu detail lebih lanjut terkait implementasi fitur privacy-first serta bagaimana Aster akan mengembangkan ekosistem DEX dan produk derivatifnya sepanjang 2026.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, dengan fokus pada inovasi fitur trading seperti TWAP dan privasi on-chain, Aster mencoba membedakan diri dari kompetitor DEX tradisional yang mulai jenuh.

    “Ekspansi roadmap ini sangat krusial untuk menarik trader profesional yang membutuhkan eksekusi cepat namun tetap menjaga anonimitas dan keamanan aset mereka secara desentralisasi,” analisanya.

    Baca juga: Aster vs Hyperliquid: Perbandingan Platform Perpetual DEX


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ondo x Chainlink Buka Era Baru, Token Saham AS Bisa Jadi Jaminan

    Chainlink resmi menghadirkan price feed untuk saham AS yang telah ditokenisasi oleh Ondo Finance di jaringan Ethereum. Integrasi ini memungkinkan token seperti SPYon, QQQon, dan TSLAon digunakan dalam ekosistem decentralized finance (DeFi), termasuk sebagai jaminan (collateral) untuk meminjam stablecoin.

    Dalam pengumuman terbarunya, Ondo Finance menyatakan bahwa platform Ondo Global Markets telah mengintegrasikan Chainlink sebagai oracle data resmi. Langkah ini memungkinkan harga saham tokenisasi terhubung langsung dengan referensi harga underlying equity di pasar tradisional.

    Token Saham Bisa Jadi Jaminan di Euler

    Dilaporkan Trading VIew, Price feed tersebut kini telah aktif dan digunakan di protokol lending Euler. Pengguna dapat menyetor token saham seperti SPYon (representasi SPDR S&P 500 ETF), QQQon (Invesco QQQ ETF), dan TSLAon (saham Tesla) sebagai jaminan untuk meminjam stablecoin.

    Integrasi oracle dari Chainlink memungkinkan protokol DeFi menetapkan parameter risiko seperti collateral factor dan liquidation threshold berdasarkan data harga yang terhubung dengan pasar saham asli. Selain itu, sistem ini juga memperhitungkan aksi korporasi seperti pembagian dividen agar nilai referensi tetap akurat.

    Parameter risiko untuk pasar lending baru tersebut dipantau dan ditetapkan oleh Sentora.

    Atasi Keterbatasan Token Saham di DeFi

    Ondo menyebut bahwa sebelumnya saham tokenisasi sebagian besar hanya digunakan untuk eksposur harga, tanpa banyak dimanfaatkan dalam ekosistem DeFi sebagai collateral. Dengan hadirnya price feed onchain yang terhubung ke pasar saham tradisional, token saham kini dapat digunakan dalam berbagai produk terstruktur seperti lending dan derivatif.

    Langkah ini dinilai sebagai upaya memperluas utilitas aset tokenisasi, dengan menggabungkan likuiditas berbasis exchange dan data harga onchain yang terverifikasi.

    Kemitraan ini melanjutkan kerja sama antara Ondo Finance dan Chainlink yang diumumkan pada Oktober 2025, di mana Chainlink ditunjuk sebagai penyedia data utama untuk saham dan ETF tokenisasi Ondo.

    Baca juga: SEC Hentikan Investigasi Ondo Finance, Roadmap Baru Siap Dirilis

    Persaingan Tokenisasi Saham AS Makin Sengit

    Langkah Ondo dan Chainlink terjadi di tengah percepatan tokenisasi saham AS oleh berbagai institusi keuangan dan platform kripto. Nasdaq sebelumnya mengajukan perubahan aturan ke SEC untuk memungkinkan perdagangan saham tokenisasi dalam kerangka bursa teregulasi.

    Pada Desember 2025, SEC juga mengeluarkan no-action letter yang mengizinkan anak usaha Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) meluncurkan layanan tokenisasi sekuritas yang sudah berada dalam kustodi DTC.

    Sementara itu, New York Stock Exchange dan Intercontinental Exchange sedang mengembangkan platform blockchain untuk perdagangan saham dan ETF tokenisasi dengan fitur 24/7 trading dan settlement hampir instan, menunggu persetujuan regulator.

    Di sisi kripto, lebih dari 60 saham AS tokenisasi telah diluncurkan melalui Kraken dan Bybit pada Juni lalu. Produk tersebut dikembangkan oleh Backed Finance melalui brand xStocks, meski belum tersedia bagi pengguna AS.

    Robinhood juga telah memperkenalkan hampir 500 saham tokenisasi untuk pengguna di Uni Eropa dan kini menguji Robinhood Chain, jaringan layer-2 Ethereum berbasis Arbitrum yang dirancang untuk mendukung aset dunia nyata dan digital, termasuk fitur lending dan derivatif onchain.

    Dengan integrasi terbaru ini, saham AS tokenisasi semakin mendekati penggunaan luas di ekosistem DeFi, memperkuat tren konvergensi antara pasar keuangan tradisional dan infrastruktur blockchain.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kolaborasi ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam interoperabilitas antara pasar keuangan tradisional dan DeFi. Dengan jaminan keamanan data Oracle, Ondo membuka likuiditas triliunan dolar dari pasar saham AS untuk digunakan dalam ekosistem DeFi yang lebih luas.

    Baca Juga: Ini Altcoin yang Crypto Whale Borong Untuk Oktober, Termasuk ONDO dan SPX


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO Arkham Exchange Bantah Rumor Tutup, Alihkan Fokus ke DEX

    Arkham Exchange akhirnya buka suara terkait rumor penutupan platform yang sempat beredar di komunitas kripto.

    Menurut laporan Cointelegraph pada Kamis (12/2), CEO Arkham, Miguel Morel, secara tegas membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa perusahaan tidak tutup, melainkan tengah melakukan transisi strategis menjadi Decentralized Exchange (DEX).

    Langkah ini disebut sebagai respons terhadap pertumbuhan pesat sektor derivatif DeFi, yang diproyeksikan akan mendominasi lanskap industri kripto pada 2025.

    Baca Juga: Arkham Luncurkan KOL Label, Pantau Dompet Kripto Influencer

    Bukan Tutup, Tapi Transformasi

    Spekulasi mengenai nasib Arkham Exchange mencuat setelah sejumlah perubahan operasional terdeteksi oleh komunitas.

    Namun, klarifikasi resmi dari Miguel Morel menegaskan bahwa platform tidak berhenti beroperasi.

    Sebaliknya, Arkham sedang bertransformasi penuh dari model centralized exchange (CEX) menjadi decentralized exchange (DEX).

    Perubahan model bisnis ini mencerminkan pergeseran besar dalam industri kripto, di mana pengguna semakin mengutamakan transparansi, self-custody, serta minimnya risiko pihak ketiga.

    Transformasi ini juga menunjukkan bahwa Arkham ingin beradaptasi dengan dinamika regulasi global yang semakin ketat terhadap bursa terpusat.

    Derivatif DeFi Diprediksi Dominan di 2025

    Pasar derivatif kripto, khususnya perpetual futures berbasis DeFi (perp-DEX), mengalami pertumbuhan signifikan dalam dua tahun terakhir.

    Volume perdagangan on-chain terus meningkat, sementara sejumlah protokol derivatif terdesentralisasi mulai menyaingi bahkan melampaui volume beberapa CEX.

    Menurut sejumlah analis industri, tren ini akan semakin menguat pada 2025, terutama karena:

    • Regulasi terhadap CEX semakin ketat di berbagai yurisdiksi.
    • Pengguna menginginkan kontrol penuh atas aset mereka.
    • Transparansi likuiditas dan eksekusi perdagangan menjadi faktor utama kepercayaan pasar.

    Dalam konteks ini, pivot Arkham ke DEX dinilai sebagai langkah antisipatif untuk tetap relevan dan kompetitif.

    Analisis Tokocrypto: Langkah Antisipatif Hindari Beban Regulasi

    Terkait keputusan tersebut, Tim Research Tokocrypto menilai langkah Arkham sebagai strategi yang rasional dan proaktif.

    “Pivot ke model DEX memungkinkan Arkham untuk menghindari beban regulasi terpusat (CEX) yang semakin ketat sambil tetap menangkap volume perdagangan on-chain yang terus meningkat. Ini adalah langkah antisipatif untuk bersaing langsung dengan protokol perp-DEX yang menawarkan transparansi dan self-custody lebih baik,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Menurut mereka, tekanan regulasi terhadap CEX memang menjadi salah satu risiko terbesar industri saat ini.

    Bursa terpusat harus memenuhi persyaratan kepatuhan yang semakin kompleks, mulai dari lisensi, pelaporan transaksi, hingga pengawasan ketat terhadap aktivitas pengguna.

    Dengan model DEX, Arkham dapat meminimalkan eksposur terhadap risiko tersebut, sekaligus memanfaatkan pertumbuhan likuiditas on-chain yang semakin dalam.

    Persaingan Ketat di Ranah Perp-DEX

    Meski strategi ini terlihat menjanjikan, tantangan yang dihadapi Arkham tidak kecil. Pasar perp-DEX saat ini sudah diisi oleh sejumlah pemain besar dengan ekosistem matang dan komunitas kuat.

    Untuk bersaing, Arkham perlu menawarkan likuiditas yang kompetitif, pengalaman pengguna (UX) yang setara atau lebih baik dari CEX, infrastruktur keamanan yang solid, dan integrasi data on-chain yang menjadi keunggulan khas Arkham.

    Sebagai platform yang dikenal dengan analitik blockchain dan intelijen on-chain, Arkham memiliki peluang unik untuk menggabungkan fitur perdagangan dengan insight data yang lebih mendalam.

    Jika berhasil, kombinasi ini bisa menjadi diferensiasi kuat dibandingkan DEX lainnya.

    Dampak bagi Ekosistem dan Investor

    Bagi investor dan pengguna, transformasi ini memiliki implikasi penting. Model DEX berarti:

    • Aset berada dalam kontrol pengguna (non-custodial).
    • Risiko pembekuan dana oleh pihak ketiga berkurang.
    • Transparansi transaksi lebih tinggi.

    Namun, di sisi lain, pengguna juga harus bertanggung jawab penuh atas keamanan private key dan manajemen risiko pribadi.

    Dari perspektif pasar, pivot Arkham mencerminkan tren yang lebih luas: pergeseran kekuatan dari sistem terpusat menuju infrastruktur terdesentralisasi.

    Baca Juga: Mengenal Arkham (ARKM) dan Potensinya di Masa Depan

    Keputusan Arkham Exchange untuk bertransformasi menjadi DEX bukanlah tanda kemunduran, melainkan strategi adaptif menghadapi lanskap kripto yang terus berubah.

    Dengan pertumbuhan eksplosif sektor derivatif DeFi dan tekanan regulasi terhadap CEX, langkah ini bisa menjadi fondasi penting bagi daya saing Arkham di 2025.

    Kini, perhatian pasar tertuju pada bagaimana Arkham mengeksekusi transisi ini dan apakah mereka mampu menembus dominasi protokol perp-DEX yang sudah mapan.

    Jika berhasil, pivot ini bisa menjadi contoh bagaimana bursa kripto berevolusi dari model terpusat menuju era penuh desentralisasi.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Uniswap Ekspansi ke MegaETH, Dorong Harga ke $3,38

    Uniswap kembali memperluas jangkauannya. Melalui akun resmi X Uniswap, protokol decentralized exchange (DEX) terbesar di ekosistem Ethereum tersebut resmi mengumumkan bahwa Uniswap v2, v3, dan v4 telah dideploy di jaringan MegaETH.

    Langkah ini menandai dimulainya babak baru bagi MegaETH dalam membangun fondasi likuiditas dan aktivitas perdagangan on-chain.

    Deploy lintas tiga versi sekaligus menunjukkan bahwa integrasi ini bukan sekadar uji coba terbatas, melainkan kesiapan penuh untuk mendukung berbagai kebutuhan trader, liquidity provider (LP), dan developer DeFi.

    Baca Juga: Pasar Kripto Hari Ini 11 November 2025: Uniswap Pimpin Reli Altcoin!

    Uniswap Hadir Lengkap di MegaETH

    Dengan hadirnya seluruh lini protokol Uniswap, pengguna MegaETH kini dapat menikmati fitur yang telah teruji di berbagai jaringan:

    • Uniswap v2 dengan model AMM klasik yang sederhana dan stabil.
    • Uniswap v3 dengan fitur concentrated liquidity yang meningkatkan efisiensi modal.
    • Uniswap v4 yang membawa arsitektur modular dan fitur hooks untuk kustomisasi pool.

    Kombinasi ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi pengembang dan proyek token baru yang ingin meluncurkan likuiditas di MegaETH.

    Deploy multi-versi seperti ini biasanya menjadi indikator bahwa jaringan tersebut telah memenuhi standar teknis dan keamanan untuk menampung volume perdagangan yang lebih besar.

    Sinyal Ekosistem Siap Tumbuh

    Tim Research Tokocrypto menilai kehadiran Uniswap sebagai sinyal kuat bahwa MegaETH sedang bersiap memasuki fase pertumbuhan yang lebih agresif.

    “Deploy Uniswap lintas versi biasanya jadi sinyal ekosistem siap menampung likuiditas dan aktivitas swap yang lebih luas. Jika MegaETH benar-benar mengejar performa ‘real-time’, integrasi DEX blue-chip seperti Uniswap bisa jadi katalis untuk bootstrapping pengguna, pool likuiditas awal, dan developer traction,” ujar tim research Tokocrypto.

    Menurut mereka, likuiditas adalah fondasi utama dalam membangun ekosistem DeFi. Tanpa DEX besar, jaringan baru cenderung kesulitan menarik proyek dan pengguna dalam jumlah signifikan.

    Dampak terhadap Likuiditas dan Aktivitas On-Chain

    Pergerakan harga Uniswap (UNI/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Uniswap (UNI/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Kehadiran Uniswap berpotensi mempercepat pertumbuhan beberapa metrik penting MegaETH, seperti peningkatan Total Value Locked (TVL), lonjakan volume perdagangan harian, pertumbuhan jumlah wallet aktif, hingga bertambahnya jumlah pool likuiditas.

    Dalam banyak kasus sebelumnya, deploy Uniswap di jaringan baru sering kali diikuti dengan program insentif likuiditas untuk menarik LP dan trader awal.

    Jika strategi ini diterapkan, MegaETH bisa mengalami fase bootstrap yang cepat. Namun, keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada kualitas infrastruktur dan stabilitas jaringan.

    Peran Uniswap v4 dan Potensi Inovasi

    Uniswap v4 menjadi sorotan karena membawa fitur hooks yang memungkinkan pengembang menambahkan logika khusus di dalam pool likuiditas.

    Hal ini membuka peluang inovasi seperti Dynamic fee model, integrasi limit order, strategi DeFi otomatis, dan mekanisme insentif khusus.

    Jika MegaETH mampu menghadirkan eksekusi transaksi berlatensi rendah seperti yang dijanjikan, kombinasi performa tinggi dan fleksibilitas v4 bisa menciptakan pengalaman trading yang lebih responsif.

    Ini berpotensi menarik proyek eksperimental dan developer yang ingin membangun produk DeFi generasi baru.

    Persaingan di Lanskap Layer Baru

    MegaETH memasuki pasar yang semakin kompetitif, di mana berbagai jaringan berlomba menawarkan skalabilitas, biaya rendah, dan throughput tinggi.

    Dalam konteks ini, kolaborasi dengan protokol blue-chip seperti Uniswap menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kredibilitas.

    Integrasi ini juga memperkuat narasi bahwa MegaETH ingin menjadi rumah bagi aktivitas DeFi skala besar, bukan sekadar jaringan alternatif.

    Namun demikian, tantangan tetap ada. Untuk mempertahankan likuiditas dan pengguna, jaringan harus memastikan keamanan smart contract, stabilitas node, serta dukungan developer yang berkelanjutan.

    Baca Juga: Harga Uniswap (UNI) Naik 43%, Dampak Instan Aktivasi Peralihan Biaya

    Resminya Uniswap v2, v3, dan v4 di MegaETH menjadi tonggak penting dalam perkembangan ekosistem jaringan tersebut.

    Integrasi ini membuka peluang percepatan likuiditas, peningkatan volume swap, dan pertumbuhan aplikasi DeFi.

    Seperti disampaikan Tim Research Tokocrypto, deploy lintas versi Uniswap sering kali menjadi sinyal kesiapan ekosistem untuk berkembang lebih luas.

    Kini, pasar akan mengamati apakah MegaETH mampu memanfaatkan momentum ini untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan dan kompetitif di tengah ketatnya persaingan blockchain.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Lemah $67.072, Tekanan Menghantui

    Harga BTC hari ini tercatat di level $67.072,31 per BTC, mengalami koreksi sebesar -0,57% dalam 24 jam terakhir.

    Meski pelemahannya relatif tipis secara harian, tekanan dalam jangka menengah masih terlihat signifikan jika melihat performa 30 hingga 90 hari terakhir.

    Berdasarkan data terbaru dari Tokocrypto pada Kamis (11/2), kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di kisaran $1,34 triliun, dengan volume perdagangan 24 jam mencapai $49,65 miliar.

    Bitcoin tetap menjadi aset kripto paling dominan di pasar dengan peringkat pertama dan suplai beredar sebesar 19,99 juta BTC, atau sekitar 95,18% dari total maksimum 21 juta BTC.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Turun ke $68.448, Tekanan Menguat

    Pergerakan Harga BTC 24 Jam Terakhir

    Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi $68.650,85 dan level terendah $65.757,30.

    Rentang pergerakan ini menunjukkan volatilitas moderat, dengan tekanan jual yang sempat mendorong harga ke bawah $66.000 sebelum kembali stabil di area $67.000.

    Secara intraday, perubahan harga 1 jam terakhir tercatat di -0,14%, menandakan pasar relatif sideways dalam jangka sangat pendek.

    Tekanan Jangka Menengah Masih Berat

    Meskipun penurunan harian hanya 0,57%, tren jangka menengah menunjukkan tekanan yang lebih dalam:

    • 30 hari: -26,95%
    • 60 hari: -25,74%
    • 90 hari: -31,12%

    Dalam 30 hari terakhir saja, Bitcoin telah terkoreksi sekitar $24.719.

    Penurunan ini memperlihatkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi atau koreksi besar setelah periode reli sebelumnya.

    Jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di $126.198,07, harga saat ini masih terpaut cukup jauh, menandakan Bitcoin belum kembali ke fase bullish penuh.

    Analisis Volume dan Likuiditas

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Volume perdagangan 24 jam sebesar hampir $50 miliar menunjukkan bahwa minat pasar terhadap Bitcoin masih tinggi.

    Likuiditas yang besar ini menjadi faktor penting karena menunjukkan partisipasi aktif investor dan memungkinkan eksekusi transaksi besar tanpa slippage ekstrem, serta mengurangi risiko volatilitas berlebihan akibat pasar tipis.

    Namun, volume tinggi dalam kondisi harga melemah sering kali mengindikasikan adanya distribusi atau aksi ambil untung oleh pelaku pasar besar.

    Level Kunci yang Perlu Diperhatikan

    Berdasarkan data harga terbaru, beberapa level penting yang patut dicermati trader dan investor:

    Support terdekat:

    • Area $65.700 (low 24 jam)
    • Area psikologis $65.000

    Jika support ini ditembus, tekanan jual bisa meningkat menuju area $63.000–$60.000.

    Resistance terdekat:

    • $68.650 (high 24 jam)
    • Area $70.000 sebagai resistance psikologis

    Penembusan konsisten di atas $70.000 dapat membuka peluang pemulihan jangka pendek.

    Sentimen Pasar Bitcoin Saat Ini

    Dengan kapitalisasi pasar terdilusi penuh (Fully Diluted Valuation) di $1,407 triliun, Bitcoin masih mempertahankan dominasinya sebagai aset kripto utama.

    Namun, koreksi 7 hari sebesar -4,89% menunjukkan bahwa sentimen jangka pendek masih cenderung hati-hati.

    Beberapa faktor yang biasanya memengaruhi pergerakan BTC antara lain arus dana institusional, pergerakan indeks dolar AS, kebijakan suku bunga global, arus masuk dan keluar ETF Bitcoin, serta kondisi pasar kripto secara keseluruhan.

    Tanpa katalis positif yang kuat, Bitcoin kemungkinan masih bergerak dalam pola konsolidasi.

    Prospek Harga BTC Selanjutnya

    Dalam jangka pendek, BTC tampak mencoba mempertahankan area $65.000–$67.000 sebagai zona keseimbangan baru.

    Jika tekanan jual mereda dan volume beli meningkat, peluang rebound teknikal tetap terbuka.

    Namun, tren 30–90 hari yang masih negatif menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya pulih. Investor jangka panjang cenderung menunggu konfirmasi pembalikan tren sebelum meningkatkan eksposur.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Terkoreksi $69.658, Tekanan Dominan

    Analisa harga BTC hari ini menunjukkan Bitcoin berada di fase konsolidasi dengan tekanan jangka menengah yang masih terasa.

    Harga saat ini di $67.072 mencerminkan pelemahan moderat secara harian, namun koreksi bulanan yang dalam menandakan pasar masih dalam fase penyesuaian.

    Level support $65.000 menjadi kunci penting dalam waktu dekat. Jika mampu bertahan, Bitcoin berpotensi membangun momentum pemulihan. Sebaliknya, jika ditembus, tekanan lanjutan bisa kembali muncul.

    Pelaku pasar disarankan tetap memperhatikan manajemen risiko di tengah volatilitas yang masih tinggi di pasar kripto global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Pi Network Turun ke $0,138, Sentimen Extreme Fear Kembali

    Harga Pi Network (PI) kembali mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir.

    Dalam catatan Coinmarketcap pada Kamis (12/2), aset kripto ini tercatat turun 2,65% ke level $0,138, sedikit lebih dalam dibanding pelemahan pasar kripto global yang terkoreksi sekitar 1,82% pada periode yang sama.

    Penurunan ini terjadi di tengah sentimen pasar yang masih berada di zona “Extreme Fear”, mencerminkan tingginya aversi risiko investor.

    Secara umum, pergerakan harga PI kali ini bukan dipicu oleh faktor internal proyek, melainkan lebih dipengaruhi oleh arus keluar dana dari aset berisiko di seluruh sektor kripto.

    Baca Juga: Harga Pi Network Hari Ini Turun ke $0,138, Sentimen Extreme Fear

    Tekanan Pasar Global Jadi Faktor Utama

    Total kapitalisasi pasar kripto dilaporkan turun 1,82% menjadi sekitar $2,35 triliun, menandakan tekanan jual yang merata di berbagai aset digital.

    Indeks Fear & Greed juga berada di angka 9, yang masuk kategori “Extreme Fear”. Level ini biasanya mencerminkan kepanikan atau kehati-hatian ekstrem dari pelaku pasar.

    Dalam kondisi seperti ini, altcoin dengan profil beta tinggi seperti Pi Network cenderung bergerak searah dengan pasar, bahkan sering kali mengalami penurunan lebih dalam.

    Hal tersebut terlihat dari performa PI yang sedikit lebih buruk dibanding rata-rata pasar.

    Artinya, koreksi yang terjadi lebih merupakan refleksi sentimen makro dibandingkan adanya sentimen negatif spesifik terhadap proyek Pi Network itu sendiri.

    Likuiditas Tipis Perbesar Volatilitas

    Pergerakan harga Pi Coin (PI/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: CoinMarketCap.
    Pergerakan harga Pi Coin (PI/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: CoinMarketCap.

    Selain tekanan pasar global, faktor lain yang memperbesar pergerakan harga adalah struktur likuiditas PI yang relatif tipis.

    Volume perdagangan 24 jam PI tercatat sekitar $11,85 juta, dengan kapitalisasi pasar sekitar $1,24 miliar.

    Hal ini menghasilkan rasio turnover hanya sekitar 0,00957, yang menunjukkan aktivitas perdagangan relatif rendah dibanding ukuran market cap.

    Dalam pasar dengan kedalaman (market depth) yang terbatas, tekanan jual dalam jumlah moderat saja sudah cukup untuk mendorong harga turun signifikan.

    Sebaliknya, jika terjadi lonjakan beli, harga juga bisa naik tajam dalam waktu singkat.

    Struktur seperti ini membuat PI rentan terhadap volatilitas yang lebih tinggi dibanding aset kripto dengan likuiditas besar seperti Bitcoin atau Ethereum.

    Level Kunci: $0,13 Jadi Penentu

    Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar tertuju pada area support di sekitar $0,13, yang juga merupakan level terendah dalam 30 hari terakhir.

    Jika total kapitalisasi pasar kripto mampu bertahan di atas $2,17 triliun, yang menjadi area support tahunan, PI berpotensi bergerak sideways di kisaran $0,13 hingga $0,15.

    Namun, jika tekanan jual berlanjut dan support $0,13 ditembus, maka risiko penurunan lebih dalam kembali terbuka.

    Dalam skenario tersebut, PI bisa memasuki fase distribusi lanjutan sebelum menemukan titik keseimbangan baru.

    Di sisi lain, kondisi pasar yang sudah berada dalam kategori oversold juga membuka peluang terjadinya relief rally jika sentimen membaik.

    Kenaikan Indeks Fear & Greed di atas angka 20 biasanya menjadi sinyal awal membaiknya psikologi pasar.

    Prospek Jangka Pendek Masih Bergantung pada Pasar

    Saat ini, belum terlihat adanya katalis spesifik dari internal ekosistem Pi Network yang dapat mendorong pembalikan tren secara independen.

    Dengan demikian, arah pergerakan PI masih sangat bergantung pada dinamika pasar kripto secara keseluruhan.

    Jika Bitcoin dan kapitalisasi pasar total berhasil stabil, altcoin seperti PI berpeluang ikut rebound.

    Namun selama arus risk-off masih mendominasi, tekanan jual kemungkinan tetap menjadi skenario utama.

    Baca Juga: Harga Pi Network Turun 4%, Ini Analisis dan Level Kuncinya

    Penurunan harga Pi Network ke $0,138 mencerminkan tekanan pasar kripto yang lebih luas di tengah sentimen Extreme Fear.

    Dengan likuiditas yang relatif tipis, pergerakan harga PI cenderung lebih volatil dan sensitif terhadap arus modal global.

    Level $0,13 menjadi support krusial yang perlu dipertahankan untuk menghindari pelemahan lanjutan.

    Sementara itu, perbaikan sentimen pasar secara keseluruhan menjadi faktor utama yang dapat membuka peluang pemulihan.

    Bagi investor dan trader, manajemen risiko tetap menjadi kunci di tengah kondisi pasar yang masih rapuh dan sensitif terhadap perubahan sentimen global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Polygon Gabung Enterprise Ethereum Alliance, Bisa Dorong Harga?

    Polygon kembali mempertegas ambisinya di ranah adopsi institusional dengan resmi bergabung ke Enterprise Ethereum Alliance (EEA). Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun resmi X Polygon.

    Langkah ini difokuskan pada pengembangan “Open Money Stack”, sebuah infrastruktur payment rails yang dirancang untuk menjembatani sistem keuangan tradisional dengan ekosistem on-chain secara instan, andal, dan compliant.

    Bergabungnya Polygon ke EEA dinilai sebagai sinyal kuat bahwa persaingan blockchain kini tidak hanya soal DeFi atau NFT, tetapi juga infrastruktur pembayaran global untuk institusi.

    Baca Juga: Harga POL Masih $0,19, Polygon Justru Meledak $3,50 Miliar Payments

    Apa Itu Enterprise Ethereum Alliance (EEA)?

    Enterprise Ethereum Alliance merupakan konsorsium global yang beranggotakan perusahaan teknologi, institusi keuangan, startup blockchain, hingga pelaku industri besar yang berfokus pada pengembangan standar enterprise berbasis Ethereum.

    Keanggotaan dalam EEA memberi akses pada standar interoperabilitas enterprise, framework compliance dan regulasi, kolaborasi lintas industri, serta pengembangan use-case pembayaran dan settlement berskala besar.

    Dengan bergabungnya Polygon, jaringan ini semakin memosisikan diri sebagai infrastruktur blockchain yang siap digunakan oleh institusi keuangan arus utama.

    Fokus pada “Open Money Stack”

    Polygon menargetkan pembangunan “Open Money Stack”, yakni lapisan infrastruktur pembayaran yang memungkinkan:

    • Settlement instan antara sistem tradisional dan on-chain.
    • Akses merchant yang lebih luas.
    • Jalur pembayaran compliant untuk institusi.
    • Integrasi antara bank, fintech, dan protokol blockchain.

    Konsep ini bertujuan menciptakan jembatan antara dunia Web2 dan Web3, di mana dana dapat berpindah secara real-time tanpa hambatan teknis maupun regulasi.

    Dalam konteks ini, Polygon ingin menjadi payment rails institusional, bukan sekadar jaringan untuk aplikasi kripto-native, tetapi juga untuk transaksi lintas sistem keuangan global.

    Analisis Tokocrypto: Sinyal Kuat Adopsi Enterprise

    Tim Research Tokocrypto menilai langkah Polygon ini sebagai penguatan strategi jangka panjang di sektor enterprise.

    “Masuknya Polygon ke EEA mempertegas strategi enterprise adoption. Jika kolaborasi ini berujung integrasi pembayaran dan standar compliance yang jelas, utilitas jaringan untuk transaksi institusional bisa naik. Tantangannya: kebutuhan SLA, kepatuhan, dan integrasi legacy biasanya jauh lebih berat dibanding use-case crypto-native,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Menurut mereka, adopsi institusi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan operasional.

    Institusi besar memerlukan service Level Agreement (SLA) yang ketat, jaminan keamanan dan audit, kepatuhan regulasi lintas yurisdiksi, serta integrasi dengan sistem core banking dan ERP legacy.

    Hal-hal tersebut sering kali jauh lebih kompleks dibanding pengembangan aplikasi DeFi biasa.

    Potensi Dampak bagi Utilitas Jaringan Polygon

    Pergerakan harga Polygon (POL/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Polygon (POL/USDT) pada Kamis, 12 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Jika kolaborasi dengan EEA berhasil diwujudkan dalam bentuk integrasi nyata, utilitas jaringan Polygon berpotensi meningkat signifikan, terutama dalam:

    1. Volume transaksi institusional
      Penggunaan blockchain untuk settlement antar lembaga keuangan dapat meningkatkan aktivitas on-chain secara konsisten.
    2. Likuiditas dan arus dana
      Integrasi merchant dan jalur pembayaran compliant membuka pintu bagi arus modal baru dari sektor tradisional.
    3. Posisi sebagai infrastruktur hybrid
      Polygon bisa menjadi layer pilihan untuk transaksi lintas sistem, bukan hanya untuk smart contract dan DeFi.

    Dengan biaya transaksi rendah dan skalabilitas tinggi, Polygon memang memiliki keunggulan teknis untuk mendukung use-case pembayaran skala besar.

    Tantangan Integrasi Sistem Legacy

    Meski prospeknya menjanjikan, tantangan terbesar ada pada integrasi sistem lama (legacy systems). Banyak institusi masih menggunakan infrastruktur IT yang kompleks dan tertutup.

    Transisi menuju sistem berbasis blockchain memerlukan penyesuaian regulasi internal, pengujian keamanan berlapis, migrasi data dan sistem, serta sinkronisasi standar compliance.

    Tanpa roadmap implementasi yang jelas, proyek enterprise blockchain berisiko berhenti pada tahap proof-of-concept.

    Posisi Polygon di Peta Persaingan

    Langkah Polygon ini juga memperlihatkan arah persaingan yang semakin ketat di sektor blockchain enterprise.

    Sejumlah jaringan lain seperti Ethereum, Avalanche, dan beberapa solusi Layer-2 juga aktif mengincar pasar institusional.

    Namun, keunggulan Polygon terletak pada kombinasi ekosistem developer yang matang, infrastruktur modular, biaya rendah, dan kompatibilitas penuh dengan Ethereum.

    Jika Open Money Stack benar-benar terealisasi, Polygon dapat memperkuat posisinya sebagai jembatan utama antara keuangan tradisional dan ekonomi on-chain.

    Baca Juga: Harga POL Masih $0,19, Polygon Justru Meledak $3,50 Miliar Payments

    Bergabungnya Polygon ke Enterprise Ethereum Alliance bukan sekadar langkah simbolis, melainkan strategi serius untuk menembus pasar pembayaran institusional.

    Fokus pada Open Money Stack menandakan ambisi membangun infrastruktur settlement instan dan compliant yang mampu menghubungkan dunia tradisional dengan blockchain.

    Namun, keberhasilan inisiatif ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan Polygon memenuhi standar SLA, compliance, dan integrasi sistem legacy yang menjadi tuntutan utama institusi.

    Jika tantangan tersebut dapat diatasi, utilitas dan relevansi Polygon dalam ekosistem keuangan global berpotensi meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Sentient Bisa Jadi Game Changer AI Crypto? Ini Bedah Lengkapnya!

    Artikel Sentient ini disusun oleh Tim Research Tokocrypto untuk memberikan gambaran dan analisis awal mengenai proyek Sentient, termasuk potensi pengembangan teknologi AI open-source Sentient dalam ekosistem AI dan aset kripto global.

    Perkembangan sektor Artificial Intelligence (AI) dalam industri kripto saat ini masih didominasi oleh sistem tertutup (closed-source), di mana pengembangan teknologi dan kontrol pengambilan keputusan umumnya berada di bawah satu entitas terpusat. Di tengah meningkatnya tren AI agent yang dapat berinteraksi secara langsung dengan ekosistem on-chain, kebutuhan terhadap AI yang bersifat terbuka (open-source) semakin menguat. Dalam konteks ini, Sentient muncul sebagai proyek yang menawarkan pendekatan berbeda dengan membangun ekosistem AI terbuka yang dapat dikembangkan secara kolektif oleh komunitas.

    Sentient memosisikan diri sebagai “rumah” bagi AI open-source, di mana AI agent tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga dapat digunakan secara terdesentralisasi. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan prinsip dasar industri kripto yang menekankan keterbukaan dan sistem tanpa izin (open & permissionless). Dengan demikian, Sentient menjadi salah satu proyek yang menarik perhatian di tengah berkembangnya narasi AI agent economy dalam pasar kripto.

    Apa Itu Sentient?

    Sentient merupakan platform AI open-source yang bertujuan membangun sistem AI tingkat lanjut menuju Artificial General Intelligence (AGI). Berbeda dari pengembangan AI konvensional, Sentient mengedepankan pendekatan komunitas, di mana proses pengembangan, logika reasoning, hingga pengambilan keputusan tidak dikendalikan oleh satu pihak. Sentient membangun teknologi inti yang bersifat open-source sehingga developer dapat menciptakan AI agent secara permissionless dan mengintegrasikannya langsung ke dalam ekosistem kripto.

    Untuk mendukung visi tersebut, Sentient menghadirkan infrastruktur dan sistem tata kelola berbasis blockchain agar proses pengembangan AI dapat berlangsung secara transparan dan terdistribusi.

    Tokenomics Sentient dan Peran $SENT

    Dalam ekosistem Sentient, token utama yang digunakan adalah $SENT. Token ini berada di bawah kontrol DAO (Decentralized Autonomous Organization) dan berfungsi sebagai alat untuk mendanai pertumbuhan ekosistem serta memberikan reward berbasis kontribusi komunitas. Selain itu, $SENT juga memiliki fungsi untuk staking, governance, serta kebutuhan pembayaran layanan AI.

    Distribusi token $SENT menunjukkan dominasi porsi untuk komunitas. Sebanyak 44% dialokasikan untuk komunitas dan airdrop, 22% untuk tim, 19,55% untuk ekosistem dan R&D, 12,45% untuk investor, serta 2% untuk public sale. Struktur ini memperlihatkan fokus Sentient terhadap pembangunan jangka panjang berbasis partisipasi komunitas.

    Baca juga: United Stables Hadir sebagai Stablecoin Baru untuk Dorong Adopsi Massal

    Cara Kerja Sentient: Menggabungkan AI Pipeline dan Blockchain

    Sentient mengintegrasikan AI pipeline dengan blockchain untuk menciptakan ekosistem AI terdesentralisasi. AI pipeline digunakan untuk mengelola proses kurasi data dan pengembangan model AI, sementara blockchain berperan sebagai fondasi tata kelola, kepemilikan, dan sistem insentif.

    Model AI yang dihasilkan dalam ekosistem Sentient dapat ditokenisasi dan ditempatkan di on-chain, sehingga kepemilikan serta penggunaan model dapat dikelola secara transparan melalui smart contract. Melalui sistem governance, komunitas yang berkontribusi dalam pengembangan AI agent juga dapat memperoleh reward sesuai kontribusi yang diberikan.

    GRID: Infrastruktur Utama Sentient untuk AI Agent

    Produk utama Sentient adalah GRID, yakni infrastruktur open-source yang dirancang untuk membangun AI agent secara transparan dan terukur. GRID memungkinkan komunitas menilai performa AI agent dan model reasoning secara objektif, sekaligus menyediakan mekanisme audit untuk membangun kepercayaan.

    GRID juga berperan sebagai penghubung antara teknologi AI dan insentif ekonomi. Artinya, kontribusi komunitas maupun penggunaan AI agent dapat dikaitkan langsung dengan kepemilikan, reward, serta tata kelola on-chain. Hal ini menjadikan GRID sebagai fondasi penting bagi visi Sentient untuk menciptakan sistem AI yang benar-benar terdesentralisasi.

    Cara Menggunakan GRID

    Bagi developer, penggunaan GRID dilakukan dengan cara menghubungkan (plug-in) model, agent, data, atau tools AI yang mereka bangun ke dalam infrastruktur GRID. Sementara itu, bagi pengguna, GRID dapat diakses melalui Sentient Chat, di mana pengguna dapat memilih berbagai AI agent dan model reasoning yang tersedia.

    Selain melalui Sentient Chat, builder maupun pengguna juga dapat mengakses GRID secara langsung melalui layanan berbayar seperti penggunaan API key. Skema ini membuka peluang monetisasi sekaligus meningkatkan utilitas token $SENT dalam ekosistem.

    Ekosistem Sentient dalam GRID

    Sentient mencatat bahwa GRID saat ini telah memiliki lebih dari 110 partner. Ekosistem tersebut mencakup lebih dari 50 AI agent, 50 penyedia data, enam model AI, serta lebih dari 10 penyedia komputasi. Beberapa komponen pendukung yang telah terintegrasi meliputi Sentient Chat, Dobby, Model Fingerprinting Library, dan Open Deep Search.

    Partner GRID berasal dari ekosistem Web2 dan Web3, termasuk Napkin, Exa, Caldo, Kaito, Messari Co-Pilot, The Graph, hingga EigenLayer. Hal ini menunjukkan bahwa Sentient tidak hanya membangun infrastruktur internal, tetapi juga mendorong kolaborasi lintas ekosistem.

    Perbandingan Sentient dengan Kompetitor

    Jika dibandingkan dengan proyek AI crypto lain seperti Bittensor dan Fetch.AI, Sentient memiliki diferensiasi yang lebih menonjol pada pendekatan full-stack dan fokus open-source AGI. Sentient membangun arsitektur GRID yang mengkoordinasikan AI end-to-end, sementara Bittensor lebih menitikberatkan pada subnet machine learning berbasis insentif, dan Fetch.AI fokus pada ekonomi AI agent serta koordinasi layanan peer-to-peer.

    Token dalam Sentient juga memiliki peran lebih luas karena digunakan untuk governance, staking, reward, serta pembayaran kualitas AI. Berbeda dengan Bittensor yang fokus pada reward performa ML, dan Fetch.AI yang lebih banyak digunakan untuk governance dan biaya layanan.

    Katalis Harga: Faktor Pendukung dan Risiko

    Dari sisi peluang, katalis utama yang dapat mendorong kenaikan harga $SENT adalah meningkatnya adopsi GRID oleh developer, menguatnya narasi AI open-source dan AI agent economy, serta implementasi nyata utilitas token untuk pembayaran, staking, dan governance.

    Namun, proyek ini juga memiliki risiko penurunan harga. Beberapa faktor yang dapat menjadi tekanan antara lain inflasi tokenomics, adopsi GRID yang tidak memenuhi ekspektasi pasar, serta persaingan ketat dari proyek AI terdesentralisasi lain maupun AI berbasis Web2 yang terus berkembang cepat.

    Kesimpulan

    Sentient merupakan proyek AI crypto yang berfokus pada pengembangan AI open-source dan terdesentralisasi. Dengan GRID sebagai infrastruktur utama, Sentient berupaya menghubungkan AI, sistem on-chain, serta insentif ekonomi dalam satu ekosistem terintegrasi. Potensi jangka panjang token $SENT sangat bergantung pada kemampuan proyek ini mendorong adopsi GRID oleh developer dan pengguna, terutama di tengah persaingan yang semakin ketat di sektor AI crypto.

    Sentient tersedia untuk dibeli di beberapa bursa kripto besar seperti Tokocrypto. Pembelian SENT bisa dilakukan di Tokocrypto dengan langkah-langkah yang sederhana seperti masuk ke akun Tokocrypto, mencari pasangan perdagangan SENT, lalu menempatkan order pembelian sesuai kebutuhan.

    Baca juga: Linea: Kuda Hitam Layer-2 Ethereum Siap Geser Arbitrum dan zkSync!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Cap USDT Turun ke $184,3 Miliar, Sinyal Bear Market Datang?

    Pergerakan terbaru Tether (USDT) memunculkan sinyal yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan market cap USDT kini berbalik menjadi negatif setelah sebelumnya mencatat ekspansi selama hampir dua tahun. Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa likuiditas di pasar kripto mulai menyusut dan risiko fase bearish kembali meningkat.

    Sebagai stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, USDT sering digunakan sebagai indikator masuk atau keluarnya modal dari pasar kripto. Ketika suplai USDT meningkat, itu biasanya menandakan adanya likuiditas baru yang siap masuk ke aset kripto seperti Bitcoin. Sebaliknya, ketika pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif, hal tersebut mengindikasikan bahwa modal justru keluar dari pasar.

    Data CryptoQuant: Pertumbuhan USDT Masuk Zona Negatif

    Data CryptoQuant menunjukkan bahwa rata-rata 60 hari perubahan market cap USDT berubah menjadi negatif pada Februari 2026. Terakhir kali kondisi serupa terjadi adalah pada kuartal ketiga 2023.

    Grafik tersebut memperlihatkan korelasi erat antara harga Bitcoin dan pertumbuhan market cap USDT. Ketika suplai USDT mengembang, likuiditas baru masuk dan mendukung reli harga. Namun, ketika pertumbuhan negatif, daya beli melemah dan reli cenderung lebih rapuh serta mudah terkoreksi.

    Analis Crypto Tice menyatakan bahwa secara historis, kenaikan berkelanjutan Bitcoin jarang terjadi ketika suplai stablecoin sedang menyusut. Artinya, selama kontraksi USDT berlangsung, potensi kenaikan harga cenderung terbatas.

    Market Cap USDT Turun dari $187 Miliar ke $184,3 Miliar

    Dilaporkan BeInCrypto, data CoinGecko menunjukkan bahwa sejak awal Januari, kapitalisasi pasar USDT turun dari lebih dari $187 miliar menjadi sekitar $184,3 miliar. Penurunan ini terjadi di tengah aktivitas burn besar-besaran oleh Tether.

    Pada 10 Februari, Whale Alert melaporkan bahwa Tether membakar 3,5 miliar USDT. Sebelumnya, perusahaan juga membakar 3 miliar USDT pada bulan lalu. Data CryptoQuant mencatat bahwa dua pembakaran ini merupakan yang terbesar secara beruntun dalam sejarah.

    Burn tersebut terjadi ketika investor menukar USDT kembali ke mata uang fiat. Tether kemudian menghapus USDT yang ditebus dari peredaran untuk menjaga keseimbangan cadangan dan mempertahankan patokan 1:1 terhadap dolar AS.

    Seorang investor bernama Ted menyebut bahwa tren suplai USDT kini berada dalam fase penurunan untuk pertama kalinya sejak kuartal pertama 2025 dan menilai kondisi tersebut sebagai sinyal yang kurang positif bagi pasar.

    Sinyal Sideways atau Penurunan Lebih Dalam?

    Meski demikian, data historis memberikan perspektif tambahan. Sejak 2022, periode ketika rata-rata 60 hari pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif biasanya berlangsung sekitar dua bulan. Fase tersebut sering bertepatan dengan pergerakan Bitcoin yang cenderung sideways dan pembentukan local bottom.

    Contohnya terjadi pada November 2022 hingga Januari 2023 serta Agustus hingga Oktober 2023. Dalam periode tersebut, pasar bergerak stagnan sebelum akhirnya memasuki fase pemulihan.

    Namun, dalam skenario yang lebih bearish, Bitcoin disebut berpotensi turun di bawah $43.000 apabila level support kunci di $63.000 gagal bertahan. Dengan likuiditas yang menyusut, reli harga berisiko menjadi rapuh dan lebih rentan terhadap aksi jual.

    Secara keseluruhan, berbaliknya pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk memantau dinamika likuiditas. Apakah ini awal fase bearish baru atau sekadar konsolidasi sebelum pemulihan, akan sangat bergantung pada arah permintaan dan stabilitas pasar dalam beberapa bulan ke depan.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kontraksi suplai stablecoin biasanya dibaca sebagai penurunan likuiditas “amunisi” pasar, membuat reli BTC/kripto lebih rapuh dan rentan sell-off.

    “Secara historis, fase ketika metrik ini negatif sering berkorelasi dengan pasar sideways atau penurunan lanjutan sebelum recovery beberapa bulan berikutnya. Intinya: selama stablecoin supply menyusut, pasar cenderung berada di fase risk-off/demand lemah,” katanya.

    Baca juga: Anak Purbaya Soroti Pentingnya Keamanan Aset Kripto, Apa yang Perlu Investor Tahu?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Vitalik Bongkar Masalah Tersembunyi Ekosistem L2

    Insight Tim Research Tokocrypto pada Riset Kripto 2-6 Februari 2026 menyoroti kritik tajam dari Vitalik Buterin terhadap perkembangan ekosistem Layer 2 (L2) di Ethereum. Dalam pandangan ini, Vitalik Buterin menekankan bahwa banyak proyek L2 yang masih bergantung pada mekanisme terpusat telah kehilangan relevansinya untuk masa depan jaringan.

    Kritik ini muncul di tengah kemajuan scaling Ethereum yang lebih cepat dari perkiraan, dengan biaya transaksi yang semakin rendah sehingga membuat Layer 2 Ethereum seakan terlihat seperti kehilangan arah. 

    Bagi yang belum tahu, Layer 2 sendiri merujuk pada solusi penskalaan yang dibangun di atas Ethereum (Layer 1 atau L1), yang bertujuan untuk memproses transaksi lebih cepat dan murah sambil memanfaatkan keamanan dasar Ethereum.

    Namun, Buterin menyoroti bahwa visi awal L2 sebagai kini hanya menjual nama Ethereum, hal ini salah satunya disebabkan oleh kemajuan lambat dalam desentralisasi dan keamanan L2, serta peningkatan kemampuan jaringan L1 Ethereum yang semakin cepat dan murah.

    Vitalik Serukan L2 Wajib Desentralisasi

    Vitalik menegaskan bahwa banyak proyek L2 masih berada di “Stage 0”  fase awal di mana sistem belum sepenuhnya terdesentralisasi dan masih dikendalikan oleh tim inti.

    Dalam praktiknya, beberapa L2 masih menggunakan skema multisig atau multi-signature, yakni mekanisme di mana beberapa kunci privat milik tim pengembang dapat menyetujui atau membatalkan transaksi penting. Meski terlihat aman karena membutuhkan banyak tanda tangan, kontrol tetap berada di tangan manusia bukan sepenuhnya melalui smart contract.

    Likuiditas Tercecer Karena Saking Banyaknya Proyek L2

    Banyaknya L2 menyebabkan likuiditas tersebar, dan membuat penggunaan Ethereum rumit semakin rumit dalam melakukan transaksi.

    Misalnya, jika kamu kamu punya ETH di Arbitrum, tapi ingin menukar ke USDC di Optimism. Karena likuiditasnya terpisah, kamu harus bridge dulu ke mainnet lalu ke Optimism, membuat ekosistem Ethereum seperti multi-chain kecil yang masing-masing punya likuiditas sendiri, sehingga transaksi jadi lebih rumit.

    Insight dari tim research Tokocrypto, menyebutkan hal ini justru membuat penggunaan Ethereum menjadi rumit dan mahal dibandingkan kompetitor monolithic seperti Solana yang lebih simpel.

    Seleksi Alam Layer 2 Ethereum

    Sebagaimana dicatat oleh Insight Tim Research Tokocrypto, bahwa Vitalik sedang melakukan “seleksi alam” yang mengisyaratkan bahwa adanya fase penyaringan alami dalam perkembangan Layer 2. 

    Ketika standar desentralisasi diperketat dan tuntutan keamanan berbasis kode menjadi keharusan, proyek L2 yang belum beranjak dari kontrol tersentralisasi akan semakin sulit mempertahankan legitimasi di mata komunitas dan investor.

    Namun, proses ini tentunya bukan berarti seluruh L2 akan hilang, untuk detail lebih lengkap mengenai insight terbaru ekosistem Layer 2 dan dinamika Ethereum, kamu dapat merujuk pada laporan dari Tim Research Tokocrypto yang bisa kamu baca di: Riset Kripto 2-6 Feb 2026: Bitcoin Menurun, Altcoin Ada Harapan?!

    Mulai perjalanan kriptomu dengan pastikan membeli token kripto terdaftar di resmi di Indonesia melalui exchange lokal resmi yang mengikuti prosedur yang berlaku seperti Tokocrypto.

    Dapatkan potongan 20% biaya trading selamanya dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat melakukan pendaftaran Tokocrypto—download aplikasinya dan registrasi di sini!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com