Author: 37

  • Bitcoin Berhasil Lewati Rp330 Juta, Ini Dia Penyebabnya

    Bitcoin berhasil naik dan sempat melewati $23.400 atau sekitar Rp330 Juta. Sejak kemarin malam, beberapa penyebab Bitcoin mengalami pergerakan kuat nampaknya didasari pada FOMO.

    Bitcoin Berhasil Naik Akibat dari The Fed

    Saat ini mayoritas sentimen terhadap Bitcoin nampaknya sedang dipenuhi oleh banyak FOMO yang disebabkan The Fed. Setelah adanya percakapan dari FOMC (The Foreign Open Market Committee) dan juga pernyataan resmi Jerome Powell, pasar crypto nampaknya terus terdorong.

    Koin pertama yang merasakannya adalah Bitcoin yang merupakan pemimpin dari pasar crypto hingga saat ini. Hal ini disebabkan oleh Bank Sentral Amerika yang secara keseluruhan membuat pernyataan bahwa mereka akan terus dovish.

    Baca Juga: CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Maksud dari dovish adalah mereka akan terus memiliki pandangan ekspansif terhadap kebijakan moneternya hingga beberapa tahun ke depan. Akibatnya banyak pihak yang merasa bahwa nilai Dolar Amerika akan terus tergerus.

    Hal ini disebabkan oleh kebijakan moneter ekspansif yang bukan dilakukan melalui suku bunga acuan namun melalui operasi pasar terbuka. Caranya adalah kebijakan The Fed yaitu pembelian surat utang dalam lingkungan suku bunga acuan yang mendekati 0%.

    Hasilnya yield dari surat utang Amerika menjadi turun bersama dengan jumlah uang beredar yang bertambah. Sehingga nilai dari Dolar Amerika sendiri terus menurun yang membuat banyaknya likuidasi cadangan besar berbasis Dolar Amerika.

    Investor Institusional Pendorong Terbesar

    Mengingat banyaknya institusi dan perusahaan yang memiliki cadangan dana dalam Dolar Amerika, kabar ini bukanlah kabar yang baik. Sehingga, nampaknya mulai banyak pencarian alternatif lain untuk mengamankan kekayaan.

    Di saat yang bersamaan, volume perdagangan Bitcoin terlihat meningkat sebelum harga melewati $20.000. Volume yang naik ini berasal dari volume jual yang mencapai all time high yang menurut CryptoQuant adalah hasil dari whales yang menjual kepada institusi.

    Namun, data CryptoQuant juga menunjukkan bahwa data pembelian masih mengalahkan data penjualan walaupun mencapai ATH. Sehingga ada kemungkinan bahwa adanya aliran dana besar Bitcoin tersebut benar berasal dari investor institusi.

    Oleh karena adanya gabungan antara berkurangnya persediaan, dan institusi yang membeli dalam jumlah besar, harga Bitcoin menjadi naik secara signifikan. Kemungkinan besar, akibat hal ini mulai muncul banyak FOMO atau fear of missing outdari investor ritel yang khawatir akan tertinggal dalam keuntungan.

    FOMO Terbentuk untuk Investor Ritel

    Oleh karena itu, saat ini kemungkinan besar harga yang masih terus naik adalah dampak dari salah satu institusi yang membeli diikuti oleh investor ritel. Akibatnya apresiasi ini memiliki risiko yang cukup tinggi mengingat kemungkinan dorongan berasal dari investor ritel atau whale yang memiliki kesempatan untuk pump and dump.

    Kekhawatiran akan tertinggal atau FOMO ini dapat berujung buruk akibat adanya satu pihak atau pemain besar yang bisa memanfaatkan harga. Sehingga kemungkinan ada beberapa pihak yang dirugikan akibat masuk di harga yang tinggi.

    Baca juga: Coinfest 2021: Bitcoin Diprediksi Sentuh Harga $28.000 Tahun Depan!

    Saat ini harga sedang berusaha terus naik melewati Rp 330 Juta yang walau sudah berhasil dilewati masih terus berkonsolidasi dan memiliki kemungkinan turun. Maka dari itu, investor ritel tetap diharapkan berhati-hati walau terdapat banyak kabar dari institusi seperti MicroStrategy dan Grayscale yang dapat terus mendorong harga naik.

    Tetapi kabar baik yang dapat menjadi pertimbangan adalah pasar options Bitcoin yang masih menandakan pergerakan positif untuk pasar spot. Selain itu prediksi dari Top Cap Model masih memperlihatkan kemungkinan apresiasi ke Rp770 Juta bersama Bitcoin heat map yang menunjukkan pergerakan beli masih kuat.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Lebih dari US$20 Ribu, Bitcoin Terlampau Perkasa!

    Bitcoin terlampau perkasa! Untuk kali pertama sepanjang sejarah, akhirnya Bitcoin lampaui $20.000. Level berikutnya sangat tak terhingga!

    Rabu, 16 Desember 2020, tepat pukul 20:42 WIB, Bitcoin menclok di US$20.089 per BTC. Kali terakhir harga itu tercipta pada 17 Desember 2017 silam, sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebelumnya, versi Coinmarketcap.com.

    Baca Juga: CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    bitcoin ATH
    Harga Bitcoin tertinggi sepanjang masa sebelumnya, versi Coinmarketcap.com, 17 Desember 2017.

    Bitcoin kemarin tak berhenti di titik penentu itu, namun melanjutkan penguatan hingga US$20.898 di hari yang sama, pukul 23:58 WIB.

    bitcoin ATH

    Ketika artikel ini ditulis, 17 Desember 2020, pukul 00:39 WIB, Raja Aset Kripto itu turun tipis ke US$20.600.

    bitcoin ATH
    Keperkasaan Bitcoin, 14 Desember 2017 silam. Sumber: Kontan.

    Sukses menembus resisten US$20.000 itu adalah peristiwa yang amat sangat monumental, karena praktis membuka apresiasi tinggi untuk mencapai harga tertinggi baru lagi.

    Jikalau mengacu pada ramalan Mike McGlone dari Bloomberg Intelligence,capaian US$20.000 ini dapat dengan luwes menembus lebih dari US$55 ribu per BTC pada tahun 2021 atau 2022.

    Di sisi lain, narasi “Bitcoin kian kalahkan emas” semakin telanjang untuk dinikmati, karena faktanya publik belajar sendiri untuk memahami, bahwa kelangkaan Bitcoinitu lebih pasti daripada kelangkaan emas.

    Pun lagi, keunggulan Bitcoin tentu saja dari teknologi digital dan kriptografi yang diusungnya, sesuatu yang tidak dimiliki oleh emas yang benar-benar fisik.

    Sifat terbuka dan transparansi Bitcoin malah semakin merampas kedigdayaan emas sebagai aset yang sangat bernilai selama ribuan tahun.

    Secara year-to-date, emas pun hanya mampu tumbuh 15,95 persen. Sedangkan Bitcoin lebih dari 191 persen! Pun kelak agak tidak adil membandingkan dua kelas aset itu, ketika masing-masing memiliki pangsa pasar sendiri, selayak saham versus emas, atau emas versus fiat money.

    Hari Bersejarah dan Penting
    Rasanya tidak berlebihan mengatakan bahwa 16 Desember 2020 adalah hari yang sangat bersejarah bagi umat manusia, karena untuk kali pertamanya (lagi), kita memiliki aset bernilai, jauh lebih bernilai dari emas yang dikenal dari generasi ke generasi.

    Dunia puan menyongsong era baru, era Bitcoin, era aset kripto, era keuangan digital yang menjanjikan sebuah kemakmuran tanpa eksklusifitas.

    Dari titik ini pula, adopsi terhadap Bitcoin oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya akan terus berlanjut. Setidaknya, jikalau tetap mengacu pada narasi tulen ini: pandemi, krisis, inflasi buruk, emas lemah, Bitcoin menguat.

    Pun ke depan, tanpa narasi itu, ketika pandemi usai, pekerjaan rumah pasca resesi ekonomi masihlah panjang. Ini serupa dengan krisis ekonomi global 2008 yang hingga detik ini dampaknya masih terasa, belum sembuh.

    bitcoin ATH

    Ramalan harga Bitcoin menjadi lebih dari US$377 ribu per BTC pada 23 Oktober 2021. Ramalan ini berdasarkan harga terkini Us$20.700 per BTC dalam konsep “Cycle Repeat, 1458 Days”. Sumber: Digitalik.net.

    Artinya, pembenahan ekonomi akan berlangsung selama beberapa dekade ke depan, sebagai “lahan basah tambahan” bagi harga Bitcoin untuk terus naik.

    Universe is the limit!

    OLEH: Vinsensius Sitepu
    Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Alasan Harga Bitcoin Diprediksi akan Terus Naik di 2021

    Tahun 2020 ini telah menjadi tahun yang membuat sorotan utama terhadap Bitcoin sebagai mata uang kripto utama. Hal ini disebabkan pergerakannya yang cukup mengesankan setelah mengalami penurunan hingga di bawah $5,000 dapat kembali naik ke $19,000.

    Salah satu pendorong apresiasi ini adalah PayPal yang terlihat mulai mengadopsi mata uang kripto ke operasionalnya. Dorongan lain juga muncul dari beberapa tokoh utama dan institusi besar di dunia keuangan yang juga mulai menganggap bahwa Bitcoin adalah salah satu aset yang harus dimiliki.

    Di luar sentimen tersebut, terdapat beberapa faktor lain yang nampaknya juga menjadi pendorong apresiasi harga di akhir 2020 ini. Nampaknya, beberapa faktor ini juga akan menjadi penyebab utama pasar kripto terutama Bitcoin akan terus naik di tahun 2021.

    Baca Juga: CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Faktor Penambangan

    Salah satu faktor internal yang menjadi pengaruh terhadap dorongan harga Bitcoin ke depannya adalah valuasi dari penambangannya. Salah satu yang dapa dianalisis adalah Riot Blockchain yang memulai penambangannya di 2017.

    Saat ini Riot terlihat akan meningkatkan hash ratenya dari 1,5 exahashes per detik dengan perangkat baru yang akan digunakan pada awal 2021. Selain itu Riot bertanggung jawab atas 1,11% dari keseluruhan jaringan Bitcoin dengan hash ratesebesar 135 EH/s.

    Perusahaan ini telah berhasil menambang 224 BTC pada kuartal ketiga yang berarti pendapatan pada $4,1 Juta pada harga $18,500 per BTC. Tetapi, banyak investor yang meragukan valuasinya saat ini.

    Hal ini sebab kapitalisasi pasar sebesar $670 Juta yang didasari pendapatan $8 Juta. Namun di luar hal tersebut, selain naiknya penambangan dari mayoritas perusahaan, ke depannya ada juga beberapa hal yang dapat membenarkan apresiasi jaringan Bitcoin di 2021.

    Kesamaan dengan Emas

    Salah satu hal yang juga mempengaruhi dalam aspek penambangannya adalah kesamaan Bitcoin dengan emas. Kesamaan yang terlihat juga datang dari teknologi yang mempengaruhi hasilnya.

    Yang dimaksud dari pernyataan ini adalah bahwa semakin canggih perangkatnya semakin cepat juga hasilnya dari penambangan yang dilakukan. Namun pengaruhnya terhadap harga nampaknya tidak terlalu signifikan, akibat dalam era ketidakstabilan saat ini, faktor sentimen global terlihat berperan lebih besar.

    Namun, kedua aset ini memiliki kelangkaan yang secara naluri akan mempengaruhi harganya. Kedua aset ini naik harganya saat persediaannya mulai berkurang sehingga walau valuasi Bitcoin masih sepertiga emas, naluri sifatnya sama.

    Hal ini akan mempengaruhi pergerakan Bitcoin ke depannya, terutama dengan pandangan hedging yang dimiliki investor terhadap emas dan Bitcoin. Sehingga, ke depannya kemungkinan besar Bitcoin akan terus berjaya, bahkan mengalahkan performa emas.

    Ekspektasi Kenaikan Harga

    Faktor lain yang menjadi pendorong apresiasi Bitcoin adalah ekspektasi atau asumsi mayoritas investor bahwa harga akan terus naik. Saat ini sentimen pasar sedang dipenuhi oleh target harga dari Mike Novogratz, PlanB, dan CitiBank, yang berjangka dari $65,000 hingga $500,000.

    Riot sendiri juga memprediksi bahwa jumlah penambangannya akan terus naik bersama dengan harga Bitcoin yang akan naik. Sehingga hal ini juga yang membenarkan valuasi perusahaan yang mencapai angka jauh di atas pendapatannya.

    Namun, dengan naiknya hashrate yang juga datang bersama permintaan Bitcoin yang terus naik, penambang mulai bergabung menjadi satu. Sehingga yang bergabung akan membuat mining pool yang nampaknya akan menjadi penguasa pangsa.

    Baca juga: Bull di bawah Kendali, Harga Bitcoin Pulih Kembali

    Sehingga, pemula akan kesulitan untuk mengalahkan pemain besar, kecuali dengan Antminer S19 dari Bitmain, yang baru akan tersedia April 2021. Tetapi, jika kondisi buruk seperti 2017 terjadi dimana permintaan lebih tinggi dari pada persediaan, pemilik perangkat yang lebih maju dapat mengalahkan pemain besar yang tertinggal dari segi perangkat.

    Namun, secanggih apa pun perangkatnya, kecepatan tertinggi masih dibatasi pada 6,25 Bitcoin setiap 10 menit akibat sistem yang dibentuk. Tetapi, dengan mulai masuknya gelombang penambang, permintaan terhadap Bitcoin juga akan terus naik, akibat hukum permintaan dan persediaan.

    Hukum Permintaan dan Persediaan

    Untuk melihat lebih dalam berapa jumlah Bitcoin yang tersedia, setiap hari jika dihitung terdapat 900 persediaan Bitcoin baru. Menurut laporan mayoritas perusahaan penambang, saat ini permintaan terhadap Bitcoin selalu melebihi persediaan sebesar 6,9 kali.

    Baca juga: Kenapa sih Harga Bitcoin Bisa Mahal?

    Akibat perbedaan jumlah ini, harga Bitcoin kemungkinan akan terus naik akibat terjadinya transaksi yang juga dibentuk atas investor-investor baru. Sehingga, mengingat permintaan terhadap Bitcoin yang juga terlihat terus naik, terutama akibat institusi, hukum permintaan dan persediaan akan terus terjadi.

    Jika berasumsi dari pergerakan sebelumnya kemungkinan besar saat ini hal yang sama juga akan terus terjadi. Namun, mengingat saat ini mayoritas dorongan datang dari investor institusional, dorongan beli akan lebih kuat.

    Faktor Reksadana

    Salah satu hal yang menjadi pendorong terhadap apresiasi harga juga berasal dari Reksadana Bitcoin Grayscale. Reksadana ini mempermudah investor ritel untuk terus membeli bitcoin tanpa perlu menanggung risiko besarnya.

    Satu kepemilikan mencerminkan reksadana tersebut sama dengan 0.00095346 Bitcoin. Berikut adalah grafik perbandingan antara harga Bitcoin dan Reksadana Bitcoin Grayscale.

    prediksi bitcoinReksadana Bitcoin Grayscale atau GBTC cenderung bergerak lebih baik dari Bitcoin akibat juga permintaan pasar dari investor pemula. Pergerakan ini dapat dilihat dari perbedaan antara keduanya dalam dua bulan terakhir dan juga dalam 12 bulan terakhir yang terlihat pada grafik berikut.

    prediksi bitcoinDapat dilihat dari perbandingan premium yang diberikan oleh kedua aset bahwa performa bergerak sama namun lebih baik GBTC. Sehingga faktor ini juga dapat menjadi pendorong apresiasi Bitcoin ke depannya akibat didasari kembali oleh dorongan beli dan ketertarikan baru.

    sumber. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Milenial, generasi dengan banyak problematika terkait keuangan dapat berperan dalam meningkatkan adopsi Bitcoin di masa mendatang. Topik tersebut masuk ke dalam diskusi pada KTT BlockShow di Singapura.

    Dengan tema utama “Tren Investasi Milenial – Gelombang Baru Keuangan Pribadi” yang menghadirkan Aya Kantorovich dari FalconX, Zac Prince dari BlockFi, dan Michael Sonnenshein dari Grayscale. Panel tersebut berfokus pada dampak generasi Milenial terhadap masa depan aset digital.

    Baca Juga: 10 Prediksi Bitcoin Tahun 2021

    Selama diskusi, Zac Prince mengidentifikasi tiga tren adopsi Bitcoin utama yang terkait erat dengan Milenial dan investor muda: Transfer kekayaan yang sedang berlangsung dari Generasi Baby Boom ke kaum muda melalui warisan, pertumbuhan aset alternatif, dan pergeseran preferensi untuk segala sesuatu yang digital.

    Menurut penyedia data Preqin, Aset alternatif yang dikelola mencapai $10 triliun di seluruh dunia pada bulan Juni, naik lebih dari 55% dari tahun 2013 silam. Meskipun angka tersebut sebenarnya banyak melibatkan tingkat kelembagaan, kaum Milenial nantinya juga akan memainkan peran penting dalam pasar ini.

    Zac Prince berkata ia berharap agar crypto terus “tumbuh sebagai bagian dari alternatif dunia baru tersebut.”

    “Milenial yang berinvestasi crypto merupakan kelompok yang sangat penting (…) Mereka adalah orang-orang yang berada di depan tren ini.”

    Dalam pandangan CEO BlockFi, hanya masalah waktu sebelum akhirnya lebih banyak lembaga keuangan membuat landasan terkait dengan layanan ini secara demografi.

    “Ini benar-benar masalah aksesibilitas,” tambah Aya Kantorovich, kepala cakupan institusional di FalconX. Meskipun sempat mengalami penurunan pada tren saat ini, Kantorovich mengatakan perusahaannya melihat masuknya sejumlah besar agregator yang menangani langsung investor ritel (perorangan) dan penyedia pembayaran dengan likuiditas yang baik. Hal ini jelas masuk ke dalam indikator dari peningkatan adopsi di tingkat konsumen.

    Baca Juga: Standard Chartered Luncurkan Layanan Kustodian Bitcoin pada 2021

    Michael Sonnenshein, direktur pelaksana Grayscale, juga mengidentifikasi perubahan penting dalam cara orang, terutama generasi muda, memandang diversifikasi kripto.

    Meskipun banyak yang percaya bahwa diversifikasi ke dalam crypto adalah keputusan penting, diversifikasi dalam crypto juga semakin penting. Investor mulai melihat melampaui Bitcoin dan aset lain yang dapat bertahan, seperti Ethereum (ETH) dan Litecoin (LTC).

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Gabriel Rey, CEO Triv: Bitcoin Bakal Alami Koreksi

    Gabriel Rey, CEO bursa aset kripto Triv, mengungkapkan bahwa harga Bitcoin bakal alami koreksi dalam beberapa pekan mendatang. Waspadai “MtGox Effect” bernilai Rp37,9 triliun.

    “Harga Bitcoin kemungkinan besar mengalami tekanan dalam beberapa pekan mendatang. Per 10 Desember 2020 misanya, data on-chain menunjukkan outflowterbesar sejak tahun 2018 oleh sejumlah penambang Bitcoin. Ini adalah aksi jual oleh pemasok Bitcoin baru itu,” tegas Rey dihubungi melalui Telegram hari ini.

    Baca Juga: Tanda-tanda Ini Tunjukkan Potensi Ethereum Bullish Semakin Kuat!

    Selain itu, tambah Rey, banyak holder lama yang mulai menjual Bitcoin-nya untuk take profit. Data itu terlihat jelas berdasarkan data dari Glassnode.

    Sejumlah data senada terkait “MtGox liquidation” menunjukkan akan mencairkan Bitcoin kepada para nasabah MtGox paling lambat 15 Desember 2020 ini.

    “Jumlahnya mungkin cukup signifikan, yakni 150.000 BTC atau setara dengan Rp37,9 triliun dengan kurs hari ini,” sebutnya.

    Rey menyoroti, bahwa selama lebih dari 4 tahun, bulan Januari selalu merupakan masa Bitcoin mengalami koreksi, belum lagi terkait Chinese New Year dan tax calendar di AS.

    Baca Juga: CEO Citigroup: Kami Bantu Banyak Negara Rancang Uang Digital

    “Menurut saya tidak pernah salah untuk mengambil profit, karena tidak mungkin untuk memprediksi harga tinggi dari sebuah market. Namun secara struktural saya meyakini tahun 2021 merupakan siklus 4 tahunan yang bullish bagi Bitcoin, sehingga dip yang nanti terjadi bisa dijadikan waktu untuk membeli Bitcoin,” pungkasnya.

    Berdasarkan pantauan Redaksi, harga Bitcoin terkoreksi sangat dalam sejak 1 Desember 2020, sekitar 24 jam setelah mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa. Kala itu sempat memuncak di US$19.900 per BTC.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 10 Prediksi Bitcoin Tahun 2021

    2020 merupakan tahun yang sulit, tetapi sekaligus menguntungkan bagi teknologi keuangan dan aset kripto, termasuk Bitcoin. Henri Arslanian, Global Crypto Leader di PwC dan Profesor dari Universitas Hong Kong, memberikan sejumlah prediksi tentang Bitcoin pada tahun 2021.

    Pertama, Tiongkok akan memimpin perlombaan terkait mata uang digital bank sentral (CBDC). Pada tahun 2020, 80 persen bank sentral aktif mengembangkan CBDC. Arslanian berpendapat bank sentral akan fokus ke sektor CBDC ritel. Tiongkok akan menjadi pusat perhatian yuan digital dalam sistem DC/EP, di mana lebih dari 2 milyar RMB (US$300 juta) telah ditransaksikan dalam tahap uji coba.

    Kedua, lembaga keuangan tradisional akan terus melirik Bitcoin. Tahun ini, sejumlah pemain institusi memasuki sektor kripto, termasuk bank besar seperti JPMorgan dan Standard Chartered. Tren ini akan berlanjut dan mendorong investor institusi lain membeli aset kripto besar itu melalui perantara sebagai ketentuan regulasi.

    Ketiga, telah ada kejelasan perpajakan kripto. Tahun ini terjadi terobosan soal aturan perpajakan aset kripto. Laporan oleh PwC menunjukkan, otoritas pajak di beragam negara mulai memberikan panduan perpajakan aset kripto yang meliputi keuntungan pembelian dan penghasilan penambangan. Kejelasan aturan ini sangat penting bagi investor besar.

    Baca Juga: Si Kembar Winklevoss: Bitcoin Akan Kalahkan Emas

    Keempat, merger dan akuisisi unicorn menjadi decacorn. Total merger dan akuisisi yang terjadi di sektor kripto melampaui nilai tahun sebelumnya, dengan transaksi rata-rata bernilai US$45,9 juta. Tren ini akan berlanjut, hingga terbentuk proyek-proyek kripto besar, dimana mayoritas aktivitas ini terjadi di benua Asia, Eropa dan Afrika.

    Kelima, investor ritel bisa membeli Bitcoin dengan mudah. Investor ritel kini semakin berminat terhadap Bitcoin sebab proses membelinya menjadi semakin gampang. Pemain besar, seperti PayPal dan Square, turut membantu proses membeli dan menjual aset kripto. Faktor makroekonomi, seperti pencetakan uang dan pembatasan transaksi, membuat warga dunia semakin melirik Bitcoin.

    Keenam, hedge fund dan family office memburu kripto. Di tahun 2020, hedge fundbesar secara serius mulai memasuki sektor kripto. Sosok hedge fund seperti Paul Tudor Jones dan Stanley Druckenmiller secara publik menyatakan telah membeli Bitcoin. Tren ini akan berlanjut berkat produk-produk yang membantu investor besar membeli aset kripto sehingga berpotensi membuat nilai kripto meroket.

    Ketujuh, bursa derivatif aset kripto semakin matang. Volume bursa derivatif aset tradisional berkali lipat lebih besar dibanding pasar spot. Tetapi di kripto tidak demikian sebab banyak bursa derivatif tidak diregulasi sehingga tidak dipakai investor besar. Tahun depan, volume tersebut akan bertambah jika kebutuhan investor institusi bisa dipuaskan.

    Kedelapan, sektor kripto semakin diisi oleh profesional. Generasi pertama pegiat kripto terdiri dari sosok yang pintar teknologi. Dengan adanya banyak lembaga yang memasuki sektor kripto, banyak pula individu berlatarbelakang bisnis untuk menjalankan usaha di bidang ini. Bedanya, sektor aset kripto hidup 24 jam sehari, sehingga sosok yang tidak mampu beradaptasi akan cepat tertinggal.

    Kesembilan, regulasi baru mendorong orang ke DeFi. Tahun ini, DeFi meledak pesat dan total modal yang ditanamkan mencapai lebih dari US$15 milyar. Tahun depan, terobosan-terobosan baru akan ditemukan dalam sektor ini, dan layanan keuangan akan direvolusi. Bila kebijakan keuangan semakin ketat, warga dunia akan semakin terdorong untuk beralih cepat ke DeFi.

    Kesepuluh, peran stablecoin semakin besar. Momentum stablecoin akan terus meningkat, dari nilai US$5 milyar pada awal tahun 2020 menjadi US$25 milyar di akhir tahun. Stablecoin banyak dipakai dalam perdagangan aset kripto, tetapi ke depannya stablecoin juga dapat mengurangi biaya transfer antar negara dan remitansi, seperti di Amerika Latin dan Asia Tenggara.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tanda-tanda Ini Tunjukkan Potensi Ethereum Bullish Semakin Kuat!

    Ethereum bullish dan terlihat mendekati harga $600, walaupun sempat mengalami penurunan, saat ini masih banyak sentimen positif disekitarnya. Menurut mayoritas analis terdapat beberapa pertanda bahwa Ethereum akan membentuk harga tertinggi baru untuk tahun 2020.

    Hal ini disebabkan oleh harga Ethereum yang sampai saat ini masih naik 45% dibandingkan dengan harganya pada bulan lalu. Namun, untuk mengetahui lebih dalam apakah koreksi ini adalah awal dari pergerakan turun atau hanya konsolidasi sebelum naik, beberapa faktor utama perlu dilihat lebih dalam.

    Faktor Utama yang Bisa Dorong Harga Ethereum Bullish

    Dilansir dari Cointelegraph salah satu faktor utama yang dapat menentukan stabilitas harga adalah perbandingan antara volume transaksi dan harga saat ini. Dapat dilihat pada grafik di bawah bahwa terjadi pergerakan yang selaras antara volume transaksi dan pergerakan harga.

    ethereum bullishGrafik di atas memperlihatkan bahwa transaksi pada akhir November 2020 sangat tinggi yang juga menjadi penyebab apresiasi ke $600 sebelumnya. Walau belum terjadi lompatan signifikan pada bulan ini dalam jumlah transaksi, harga saat ini menunjukkan kondisi yang stabil antara harga dan transaksi.

    Baca Juga: CTO Glassnode: Harga Bitcoin Bisa Naik 10 Kali Lipat

    Sehingga, belum terlihat tekanan jual yang signifikan yang membuat potensi apresiasi masih sangat tinggi. Selain itu, terdapat juga pertanda bahwa sejak Bulan November, tekanan jual dan penarikan dana mulai berkurang.

    Pergerakan ini dapat dilihat pada grafik perbandingan antara jumlah penarikan dana dan harga Ethereum. Pada grafik tersebut terlihat bahwa sejak November 2020, jumlah penarikan dana dari Ethereum terus berkurang dan terlihat bahwa pergerakan deposit dana mulai naik kembali.

    ethereum bullishNamun, dapat dilihat juga bahwa pada awal Desember 2020, jumlah penarikan dana mulai naik kembali walau belum secara signifikan. Pergerakan ini menandakan adanya kemungkinan bahwa saat ini dorongan beli dan deposit dana pada jaringan Ethereum masih dalam proses pemulihan.

    Faktor untuk Pemulihan Harga Ethereum

    Saat ini, nampaknya seluruh pasar Ethereum sedang memperlihatkan tanda-tanda pemulihan walau belum terjadi secara signifikan. Dari pasar futures atau kontrak jangka panjang, terlihat bahwa harga Ethereum mulai mengalami konsolidasi setelah apresiasi yang signifikan.

    Baca juga: Harga ETH Malah Turun Selepas Ethereum 2.0 Rilis

    Tetapi, mayoritas analis masih positif terhadap pergerakannya akibat indikator futures premium. Indikator ini menyatakan bahwa selama harga di pasar futures masih lebih tinggi 1,5% di atas harga pasar spot, pergerakan ethereum bullish atau masih akan terus naik.

    ethereum bullishIndikator di atas memperlihatkan bahwa pergerakan perbedaan antara kedua pasar menyentuh angka 4,5% pada awal Desember 2020. Namun pergerakan ini tidak bertahan lama akibat mulai turun ke 2,5% bersama koreksinya ke $550.

    Oleh karena itu, kemungkinan besar karena masih berada di atas 1,5%, koreksi ini hanyalah dip retest sebelum harga kembali naik. Pergerakan ini juga terjadi bersama dengan volume di pasar spot yang memperlihatkan apresiasi walau belum menyentuh angka $2 miliar yang menjadi batas aman pada umumnya.

    Selain itu, pasar options juga terlihat mendukung akibat rasio call-to-put yang menandakan posisi beli dan jual di pasar options. Untuk lebih mudah dimengerti, rasio yang mendekati 0,70 umumnya menandakan potensi ethereum bullish dan jika mendekati 1.20, potensi bearish akan lebih kuat.

    ethereum bullishDengan meningkatnya sentimen terhadap apresiasi harga spot ke $600, umumnya investor mencari keamanan atau hedging dengan membuka posisi put di pasar options. Hal ini disebabkan semakin tingginya harga semakin tinggi juga risiko untuk depresiasi.

    Oleh karena itu, saat ini rasio di pasar options masihterus bergerak naik, tetapi bukan menjadi hal yang mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan harga pada pasar spot yang telah naik 45% sejak bulan lalu yang menandakan saat ini mayoritas investor sedang menjaga strategi bullish netral.

    Secara keseluruhan, saat ini belum terdapat sentimen besar yang menjadi pertanda bahwa akan terjadi perubahan drastis pada harga Ethereum. Sehingga, koreksi saat ini kemungkinan besar bukan menjadi pertanda depresiasi harga.

    Dengan pergerakan harga yang masih dalam bullish uptrend kemungkinan besar apresiasi akan terjadi setelah koreksi dan konsolidasi saat ini. Hal ini juga akan didorong oleh investor yang akan mulai berani masuk kembali setelah Ethereum kembali mendekati $600.

    sumber. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi BTC Pada Bulan-bulan Berikutnya Versi JPMorgan

    Ketertarikan investor terhadap Bitcoin diprediksi akan menekan harga emas dalam jangka panjang. Menurut ahli strategi, JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolas Panigirtzoglou pada Selasa (8/12/2020) mengatakan harga BTC condong ke sisi bawah, sementara emas terlihat lebih positif.

    Namun, kabar baiknya pergerakan harga BTC dalam jangka menengah dan panjang memiliki arah yang berlawanan.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    “Bitcoin adalah investasi yang baru mulai dilirik oleh investor institusi, sedangkan investasi emas memang sudah sangat maju.”

    “Jika prediksi pergerakan BTC itu benar dalam jangka menengah dan panjang, harga emas akan mengalami hambatan aliran struktural selama beberapa tahun mendatang,” pungkas JPMorgan.

    Para ahli strategi JPMorgan, mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, kepercayaan Bitcoin manajer aset digital Grayscale melihat arus masuk hampir $2 miliar, sementara ETF emas melihat arus keluar lebih dari $7 miliar.

    Walaupun begitu, investor institusi yang merupakan keluarga kaya raya tercatat masih lebih banyak memiliki emas dibanding Bitcoin, hal ini diungkapkan oleh JPMorgan.

    Bagi investor, investasi tradisional seperti emas masih dianggap sebagai “safe haven”, sementara Bitcoin yang merupakan media investasi baru akan mendapatkan keuntungan dari semakin banyak investor institusi yang melirik mata uang digital ini.

    Para ahli strategi JPMorgan, mengatakan bahwa nilai intrinsik Bitcoin akan naik secara signifikan selama beberapa bulan mendatang karena aktivitas penambangan meningkat. Menurut pengamatan JPMorgan, nilai intrinsik Bitcoin saat ini $11.000 – $12.000. Bila dibandingkan dengan harga pasar saat ini yang sekitar $18.200.

    Baca Juga: Bull di bawah Kendali, Harga Bitcoin Pulih Kembali

    Sebelumnya, selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar begitu lebar. Aktivitas penambangan akan meningkat dan menjadi lebih sulit dan mahal.

    Namun hal ini belum terjadi saat ini, sebagian terjadi gegara gangguan pada aktivitas penambangan dari pasokan listrik karena topan dan curah hujan tinggi di Tiongkok. Saat kondisi sudah mulai normal kembali, aktivitas penambangan akan meningkat dan nilai intrinsik Bitcoin pun demikian.

    “Kami memperkirakan bahwa peningkatan 70% dalam kesulitan, semuanya sama, akan melihat nilai intrinsik mendekati harga pasar saat ini.”

    “Meskipun ini adalah peningkatan yang besar, peningkatan dengan besaran serupa juga pernah terjadi pada akhir 2017 dan pertengahan 2019. Ini berarti kami berpikir kemungkinan besar bagian yang lebih besar dari penutupan akhirnya dari kesenjangan antara harga pasar dan biaya produksi bisa datang dari yang terakhir daripada di rentang waktu akhir 2017 dan pertengahan 2019 lalu.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pergerakan Grafik Bitcoin Bulan Juli 2020

    Bitcoin (BTC) dan pasar crypto hingga saat ini masih kesulitan untuk mengumpulkan momentum untuk keluar perdagangan sideways.

    Harga BTC yang ‘membosankan’ dikisaran level-level 9.000-an menjadi dasar analisa para pedagang yang menjadi salah satu pembentukan trend yang mampu menjadi penentu potensi trend.

    Lower High terbaru terbentuk saat harga masih kesulitan untuk melewati level Resistance $ 9.200 sehingga terus menekan harga untuk bergerak dibawah level ini, yang menggambarkan sikap Bears meski untuk trend jangka pendek masih belum bisa terkonfirmasi dengan baik.

     

    Baca Juga: Tokocrypto dan Binance Gelar Kompetisi Trading Aset Kripto, Total Hadiah 151Juta BIDR

     

    Pada saat pers, harga Bitcoin masih diperdagangkan sideways, Rp 130 juta- Rp 133 juta-an di Indodax. Harga di pialang luar seperti Binance, $9.000- $9.128 untuk beberapa minggu terakhir.

    Seorang analis menyoroti terbentuknya sebuah “Death Cross” (sinyal untuk Bearish) dalam grafik 4 jam Bitcoin yang bisa Anda lihat dibawah ini:

    Gambar

    Berdasarkan skema analisa pada grafik diatas, ini bisa menyiratkan pasar bisa mengakhiri bulan Juni dengan sentimen rendah, yang berpotensi menciptakan trend penurunan sepanjang bulan Juli!

    Analis Bill Charison di Trading View menunjukkan sebuah chart. Dia mengatakan bahwa key level yang berada di $9.175 sudah ditembus, namun, BTC tidak bisa menembus ke harga lebih tinggi dan harga jatuh.

    Target pertama adalah $9.065 dan $8.925 dan bagus untuk mengambil posisi long dengan target $9.300.

    Josh Rager, co-founder Blockroots.com, mempunyai pendapat berbeda.

    Untuk jangka pendek, BTC masih bullish dan mungkin bisa mencapai $9.285 (key level).

    Jika dalam timeframe 4 jam bisa menutup diharga tersebut, kemungkinan besar bisa mencapai $9.500.

    Namun, harga tetap harus mencapai $9.700 untuk Bitcoin keluar dari trend bearish secara keseluruhan.

    Tidak bisa menutup diatas atau dekat di $9.285, harga akan turun di kisaran $9.000-an.

    Selain sisi teknikal diatas, faktor pada kondisi global juga perlu diperhatikan karena ini bagaimanapun akan memberi dampak besar pada pasar besar seperti saham, yang dinilai telah berkorelasi cukup baik dengan BTC, yang tentu juga akan menggerakan cara fikir para investor global, termasuk investor crypto.

    Note: Artikel diatas bukan nasihat keuangan, lakukan trading anda dengan menanggung resiko sendiri.

    Baca Juga: Faktor Ini Menyiratkan Bitcoin Sudah Berada dalam Downtrend Yang Kuat Untuk Jangka Pendek

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aset Kripto Ini Diprediksi Naik pada Bulan Ini, Termasuk Bitcoin

    Berdasarkan analisis teknikal, saya memprediksi sejumlah aset kripto yang harganya berpotensi naik pada bulan ini, termasuk Bitcoin.

    Bitcoin masih berhasil mempertahankan support-nya di atas US$9.100. Tandanya, masih ada kesempatan bagi para bull untuk menikmati kenaikan harga di pasar aset kripto. Setidaknya beberapa minggu ke depan, di sisa hari pada Juli 2020 ini. Bitcoin sendiri masih berpotensi untuk naik ke wilayah US$9.600.

    Sementara itu, dominasi Bitcoin mulai “melemah” lagi dan menunjukkan tanda-tanda turun dari support di area sekitar 64 persen.

    Jika kedua skenario ini berlangsung (Bitcoin masih bullish hingga US$9.600 dan dominasi Bitcoin turun ke bawah 63 persen), maka altseason diprediksi akan masih berlanjut.

    Di antara altcoin yang ada, manakah yang berpotensi untuk memberikan cuan terbesar? Kami berikan 2 altcoin yang berpotensi mengalami kenaikan besar di bulan Juli ini.

    Baca Juga: Mengapa Batas Pasokan Bitcoin Ditetapkan Di Angka 21 Juta?

    Binance Coin (BNB)
    Antisipasi adanya Quarterly Burn atau pengurangan suplai per triwulan, BNB diprediksi akan naik. Secara teknikal, ia berada di atas EMA 50 dan sedang mencoba menembus resistance di US$18,3. Berhasil tembus dari sini, BNB dapat menuju sekitar US$21 (17 persen kenaikan) dan US$25 (38 persen kenaikan).

    Cardano (ADA)
    Melanjutkan hype dari shelley hardfork, Cardano (ADA) juga diprediksi masih bullish. Secara teknikal, Cardano dapat menuju resistance hariannya di US$0,014 (kenaikan 12 persen) dan resistance mingguannya di di US$0,0161 (kenaikan 30 persen).

    Namun demikian, trader selalu dianjurkan agar berhati-hati dan harap memperhatikan perkembangan terkini. [kur]

     



    Sumber : news.tokocrypto.com