Author: 37

  • Inisiatif Decentralized Finance, Tokocrypto Rilis Token SERUM (SRM)

    Setelah sukses mengadakan Indonesia Blockchain Week 2020, sebuah konferensi yang bertujuan untuk mengenalkan teknologi blockchain di Indonesia, Tokocrypto kembali menghadirkan token baru di platformnya, yaitu SERUM (SRM) Token. 

    “Masih dalam bentuk inisiatif Decentralized Finance Tokocrypto, kami dengan bangga menghadirkan satu lagi DeFi token di platform kami. Ini adalah project ketiga yang kami luncurkan setelah IBW 2020 berakhir tanggal 27 Agustus kemarin”, kata Pang Xue Kai, CEO dan Co-Founder Tokocrypto.

    Keuangan terdesentralisasi atau Decentralized Finance (DeFi) diakui sebagai katalis utama untuk ledakan pasar kripto bulan ini. Ini membuktikan besarnya minat pengguna industri kripto dan blockchain dalam mengakses platform dan layanan DeFi. 

    “Makin banyak token DeFi yang tersedia di platform kami adalah wujud dari komitmen Tokocrypto untuk mencepat pertumbuhan crypto-economics secara menyeluruh”, lanjut Kai.

    Baca Juga: 6 Tips Mendapatkan Passive Income Mudah di 2020

    Sam Bankman-Fried, lead advidors SERUM mengatakan bahwa, “Kami sangat senang SRM menjadi bagian dari Tokocrypto dan dapat diperdagangkan di Indonesia. Saatnya DeFi tiba di Indonesia dan kami yakin, SRM akan menjadi token DeFi yang utama dan terdepan”. 

    SRM adalah proyek pertukaran derivatif terdesentralisasi yang memungkinkan perdagangan lintas rantai yang dibangun oleh Serum Foundation. Mereka adalah kumpulan para ahli di bidang kripto, trading dan keuangan terdesentralisasi, termasuk didalamnya FTX, platform perdagangan derivatif kedua yang mengembangkan DEX dan Solana, blockchain yang dapat dioperasikan dengan smart contract atau kontrak pintar. Baru-baru ini, Serum meluncurkan decentralized exchange (DEX) diatas Solana, yang menawarkan lebih dari 50 ribu transaksi per detik dan decentralized automated full limit orderbook. Meskipun asli dari blockchain Solana, Serum DEX dapat dioperasikan dengan Ethereum, memberikan keuntungan besar dibandingkan dengan sebagian besar platform DeFi yang saat ini tersedia.

    Serum Token (SRM) sendiri adalah token tata kelola Serum berdasarkan blockchain Solana namun sebagai alternatif juga memiliki versi Ethereum atau ERC20. Token ini sudah tersedia di Tokocrypto sejak 1 September 2020 dan dapat diperdagangkan dengan USD Tether (USDT) dan Bitcoin (BTC). Dalam waktu dekat, SRM akan dapat diperdagangkan dengan Binance IDR (BIDR). 

    info selengkapnya tentang Serum Project dapat dibaca disini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Binance dan Tokocrypto Resmi Perdagangkan BIDR, Stablecoin Berbasis Rupiah

    Binance, Perusahaan Blockchain global dibelakang pertukaran aset digital terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan dan pengguna bersama Tokocrypto, pedagang aset kripto teregulasi dan terkemuka di Indonesia hari ini resmi meluncurkan Binance IDR (BIDR), stablecoin berbasis Rupiah yang kini dapat diperdagangkan dengan aset kripto lainnya.

    BIDR adalah stabelcoin Binance Chain (BEP-2) yang dipatok ke dalam Rupiah (IDR). BIDR akan tersedia untuk pembelian langsung dan penukaran dengan harga 1 BIDR setara dengan 1 Rupiah.

    Nasabah akan memperoleh BIDR secara instan ketika mereka mendepostikan rupiah ke fiat channel yang ada di Tokocrypto. BIDR juga dapat ditransfer ke platform Binance dan diperdagangkan disana.

    “Ini adalah momen yang sangat membahagiakan dan membanggakan bagi Tokocrypto untuk bekerjasama dengan Binance dalam mendukung proyek BIDR untuk membawa terobosan baru dalam dunia kripto di Indonesia,” kata Pang Xue Kai, Co-founder dan CEO Tokocrypto.

    Baca Juga: Harga Bitcoin Turun, Bagaimana Analisis Selanjutnya

    Mulai hari ini, BIDR dapat diperdagangkan dengan Bitcoin (BTC), Binance Coin (BNB), Binance USD (BUSD) dan Ethereum (ETH) pada platform Binance.com dan Tokocryto.com.

    Changpeng Zhao (CZ), Founder dan CEO Binance mengatakan, “Pengembangan stablecoin Binance pertama yang didukung Rupiah telah menjadi hasil kerjasama dan kolaborasi yang erat antara Binance dan Tokocrypto. Melalui kehadiran BIDR, kami berharap dapat membuka lebih banyak layanan keuangan untuk ekosistem Blockchain yang lebih besar ”

    ###



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CTO Glassnode: Harga Bitcoin Bisa Naik 10 Kali Lipat

    Rafael Schultze-Kraft, CTO Glassnode, perusahaan penghimpun data pasar aset kripto, memberikan sejumlah indikator Bitcoin yang mengisyaratkan pergerakan harga bullish. Ia memrediksi harga Bitcoin bisa meningkat hingga 10 kali lipat, yakni menjadi US$286 ribu per BTC.

    Pada Selasa (09/12/2020), Schultze-Kraft mencuit data yang menjadi basis prediksi tersebut. Ada enam indikator on-chain yang saat ini berada di tingkat yang mirip dengan kondisi awal tahun 2017.

    Baca Juga: Si Kembar Winklevoss: Bitcoin Akan Kalahkan Emas

    Masing-masing perkiraan harga yang diberikan indikator tersebut berada di angka ratusan ribu dolar per Bitcoin. Hampir semuanya menargetkan harga Bitcoin akan melampaui US$200 ribu.

    Bagi setiap indikator, Schultze-Kraft mengukur keuntungan yang diraih ketika indikator itu bergerak dari posisi yang mirip di tahun 2017 hingga mencapai titik tertinggi. Ia kemudian mengalikan harga Bitcoin saat ini dengan peningkatan persentase yang sama.

    harga bitcoin

    Schultze-Kraft menyoroti Net Unrealized Profit/Loss atau NUPL Bitcoin, yaitu perbedaan antara untung dan rugi belum final berdasarkan pergerakan terakhir, telah meningkat kembali ke 78 persen titik tertinggi tahun 2017.

    Harga Bitcoin melonjak 1.400 persen ke puncaknya, saat NUPL meroket dari kisaran yang mirip hari ini pada awal 2017. Bila skenario yang sama terjadi, Kraft mengestimasi Bitcoin bisa mencapai US$286 ribu per BTC.

    harga bitcoin

    Rasio kapitalisasi pasar Bitcoin terhadap thermocap, yang mengukur harga Bitcoin relatif terhadap pengeluaran penambang, sedang berada di posisi seperempat titik tertinggi 2017. Di tahun 2017, harga Bitcoin naik 625 persen saat indikator ini melambung ke titik tertinggi, sehingga Bitcoin bisa mencapai US$138 ribu di masa depan.

    Baca Juga: Ray Dalio: Bitcoin Menarik Selain Emas

    MVRV Z-Score Bitcoin, yang mengidentifikasi apakah Bitcoin dinilai berlebih atau kurang menurut nilai adilnya, saat ini berada di angka 34 persen tahun 2017. Pada tahun itu, indikator ini disertai peningkatan harga 1.150 persen. Jika  Bitcoin reli dengan kekuatan yang sama, Schultze-Kraft mengestimasi harganya bisa mencapai US$240 ribu.

    Indikator yang mengukur perilaku jangka panjang memberikan target harga yang lebih tinggi.

    harga bitcoin

    Long-Term Holder MVRV, yang merupakan rata-rata untung atau rugi semua Bitcoin yang beredar, dan Long-Term Holder SOPR, yang mengukur untung dan rugi menurut pergerakan terakhir koin, masing-masing berada di angka 13 persen dari titik tertinggi. Dengan riwayat peningkatan 1.340 persen dan 1.620 persen, Bitcoin bisa mencapai US$274 ribu atau US$328 ribu di masa depan.

    Reverse risk, yang mengukur keyakinan penyimpan Bitcoin terhadap harganya, mengindikasikan harga US$240 ribu. Indikator ini berada di tingkat 11 persen dari tertingginya.

    Kendati demikian, Schultze-Kraft mengingatkan agar angka-angka ini tidak ditelan bulat-bulat. Ia hanya menegaskan Bitcoin masih jauh dari titik puncak pasarnya.

    Data Glassnode menunjukkan Bitcoin akan menurun sebelum melanjutkan reli ke harga tertinggi baru. Kendati ada peringatan tekanan menjual dari spekulan jangka pendek, laporan Glassnode menyoroti pergerakan jangka panjang Bitcoin adalah tren meningkat.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 6 Cryptocurrency Ini Melonjak Lebih dari 2.000%

    Para pemilik mata uang crypto ini mungkin saat ini sedang menikmati keuntungan yang dihasilkan dari crypto tersebut. Pasalnya, 6 mata uang crypto, ZAP, AAVE, BAND, UBT, CVT, dan YFI meningkat lebih dari 2.000% sepanjang tahun ini. Angka ini jelas mengungguli Bitcoin yang juga naik sebesar 154% sejak awal tahun 2020.

    Bahkan, ZAP dan AAVE berhasil meningkatkan nilai mereka dengan masing-masing nilai 6.000% dan 4.000% sepanjang tahun ini.

    Baca Juga: Si Kembar Winklevoss: Bitcoin Akan Kalahkan Emas

    Harga Koin Melonjak Lebih dari 4.000%

    ZAP, mata uang kripto yang beroperasi di platform Ethereum, mengalami peningkatan persentase terbesar sepanjang tahun sejauh ini. Pada awal tahun, harga ZAP hanya sebesar $0,002 atau setara dengan Rp28,29. Namun, sekarang nilainya menjadi $0,111 atau setara Rp1.569. Ini berarti aset tersebut bertumbuh sebesar lebih dari 6.300% sepanjang tahun ini.

    Token Aave, AAVE, berada di urutan kedua. Aave merupakan protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang memungkinkan orang meminjamkan dan meminjam aset kripto yang berbeda. Harga token protokol saat ini ada di kisaran $80 atau Rp1,1 juta padahal awal tahun ini nilainya hanya sebesar $0,018 atau Rp254. Ini berarti harga AAVE telah meningkat sebesar 4.288% sejak awal tahun 2020.

    Koin Terbaik dari yang Terbaik

    Token BAND dari Band Protocol berada di urutan ketiga, mengikuti ZAP dan AAVE dengan margin yang besar.

    Baca Juga: CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Selama musim panas, BAND mengalami lonjakan harga dari $3,9 pada 27 Juli, menjadi $14,1 pada 10 Agustus. Harganya kemudian turun ke kisaran $6 pada bulan Oktober, dan terus naik sejak saat itu.

    Saat ini dengan harga $6,54, maka BAND telah mencatat kenaikan harga 2.727% tahun ini sejak mulai dari $0,236.

    Tepat seletah BAND adalah token UBT Unibright. Token ini bekerja dalam mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam bisnis yang ada atau biasanya disebut sebagai “token utilitas”. UBT saat ini dihargai $0,530, dengan kapitalisasi pasar hampir mencapai $79 juta. Sejak 1 Januari lalu, harga UBT mengalami kenaikan sebesar 2.665%.

    Selanjutnya, ada Token CVT CyberVein. CyberVein adalah penyedia layanan data besar yang menyediakan solusi kota pintar di seluruh dunia. CVT membuka tahun pada harga $0,005. Dengan harga saat ini $0,012 berarti mewakili peningkatan sebesar 2.295% sejak 1 Januari.

    Lalu yang terakhir ada, token Yearn Finance (YFI) berada di urutan terakhir dalam daftar. YFI adalah token tata kelola utama jaringan Yearn Finance yang merupakan produk DeFi. Tidak seperti token lainnya, YFI baru muncul pada pertengahan tahun 2020, tetapi dapat menorehkan catatan kenaikan yang sangat tinggi.

    Bayangkan saja nilainya pada Juli 2020 masih berada di kisaran $1.000 dan sempat membuat heboh komunitas crypto dan DeFi lantaran nilainya yang naik ke $43.000 dua bulan kemudian.

    Meskipun nilainya saat ini berada di kisaran $24.743 ini berarti nilainya telah mencapai lebih dari 2.141%!

    Antusiasme dan adopsi crypto yang semakin luas akan membuat semakin banyak crypto lain yang juga berpeluang menghasilkan keuntungan yang besar.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Si Kembar Winklevoss: Bitcoin Akan Kalahkan Emas

    Si Kembar Winklevoss, Cameron dan Tyler mengatakan, kelak kapitalisasi pasar Bitcoin akan mengalahkan emas, ketika harga Raja Aset Kripto itu US$500 ribu per BTC.

    Baca Juga: Ekspatriat Nigeria Pakai Bitcoin untuk Hindari Mahalnya Transfer Uang via Bank

    Menurut pemilik bursa aset kripto Gemini asal AS itu, kalahnya kapitalisasi pasar emas ketika kelak harga Bitcoin mencapai US$500.000 per BTC.

    Selayaknya sebuah ramalan penuh keyakinan, si kembar yang pernah jadi musuh Mark Zuckerberg soal konsep dasar Facebook itu mencatat, bahwa US$500.000 per BTC didasarkan pada asumsi bahwa kapitalisasi pasar Bitcoin akan meningkat 40 kali lipat untuk melampaui kapitalisasi pasar emas sekitar $ US$9 triliun.

    Cameron merujuk pada sejumlah fakta bahwa penambahan pasokan fiat money saat ini mengkhawatirkan banyak pihak soal inflasi yang buruk di masa depan. Menurut Cameron, inflasi ini akan terus mendorong masyarakat untuk membeli emas dan Bitcoin.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    “Jika orang ingin membeli Bitcoin dan ini memang masih sangat baru, maka perlu jembatan di antaranya, yakni perbankan,” kata Cameron Winklevoss, menyinggung perihal keterlibatan bank di masa depan soal aset kripto itu.

    Cameron menyatakan bahwa Bitcoin menawarkan keunggulan yang signifikan dibandingkan emas sebagai komoditas moneter, seperti kemudahan transfer dan kekebalannya terhadap kekuatan eksternal yang memengaruhi laju produksinya.

    “Perhatikanlah Bitcoin dan aset kripto dan didiklah diri Anda sendiri, karena ini adalah uang terbesar dan revolusi teknologi sejak Internet itu sendiri. Ini bukan lagi main-main dan akan bertahan. Dan sekarang itu sedang dimulai,” sebut Cameron yakin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Keuntungan Staking ETH di Ethereum 2.0

    Peluncuran Ethereum 2.0 tahap pertama pada 1 Desember 2020 lalu, menandai transformasi blockchain-aset kripto nomor dua itu kelak menjadi blockchain Proof-of-Stake. Versi baru ini diklaim lebih efisien, aman dan dapat diperbesar skalanya dibanding versi saat ini.

    Kendati versi 2.0 ini akan butuh waktu lama untuk dibangun seutuhnya, fase pertama yang disebut Phase 0 sudah berjalan apik dan mencerminkan sambutan baik dari ekosistem. Dengan adanya fase ini, muncul kegunaan baru bagi Ether (ETH), yaitu staking.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    Beberapa hari yang lalu sudah ada total 900.129 ETH (sekitar US$532 juta) yang di-staking di Ethereum 2.0. Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk mengamankan jaringan. Berkat partisipasi dari 21.291 validator, Ethereum 2.0 sudah berhasil memroses 100 epoch untuk menciptakan blok-blok baru.

    Node validator aktif rata-rata mendapatkan imbalan 0,00403 ETH/hari, atau sekitar US$2,36 per hari. Angka ini kemungkinan akan menurun seiring meningkatnya jumlah node validator yang tergabung. Setiap hari, maksimal 900 validator baru dapat bergabung ke Ethereum 2.0, dan ada ribuan yang mengantre.

    Harga aset kripto Ether (ETH) sendiri telah meningkat 364 persen sejak awal tahun 2020. Kendati demikian, aset kripto di sektor DeFi yang dibangun di atas jaringan Ethereum lebih menguntungkan lagi. Contohnya YFI, yearn.finance besutan Andre Cronje, meroket lebih dari 2.300 persen. Sektor DeFi secara keseluruhan untung 456 persen tahun ini terhadap dolar AS.

    Tetapi tidak semua bisa untung. Token Compound (COMP) longsor 55 persen setelah sebelumnya mengalami peningkatan signifikan. Sifat perdagangan token Ethereum dan DeFi yang volatil mengakibatkan investor mencari imbalan lebih stabil.

    Baca Juga: Perusahaan Australia Ini Beralih ke Bitcoin dari Emas

    staking eth
    Jumlah total ETH yang distaking pada Ethereum 2.0 (Beacon Chain), per 4 Desember 2020. Sumber: Ethereum.org.

    Itulah sebabnya staking pada Ethereum 2.0 menjadi peluang yang menggiurkan, setidaknya lebih mirip deposito di bank yang memberikan pendapatan pasif.

    Sebagai jaringan Proof-of Stake, imbalan pada Ethereum 2.0 berbentuk ETH dan mengiktut kurva distribusi menurun yang bergantung kepada partisipasi dan jumlah peserta. Imbalan per epoch per tahun menyaingi imbalan yang ditawarkan sejumlah proyek DeFi.

    Imbalan Ethereum 2.0 mulai dari 20 persen untuk staker awal, tetapi akan menurun seiring bertambahnya node validator, hingga ke angka 4,5 sampai 7 persen per tahun.

    Sebagai perbandingan, imbalan dari proyek DeFi terpercaya berada di kisaran 5 hingga 7 persen per tahun.

    staking eth
    Kalkulator cuan staking ETH di Ethereum 2.0. Sumber: Ethereum.org.

    Untuk proyek-proyek ini, semakin tinggi imbalan yang didapatkan, maka semakin besar risiko peranti lunak yang bisa terjadi.

    Staking pun melibatkan risiko. ETH yang disimpan node validator, yakni minimal 32 ETH bisa dipotong sebanyak separuh jika tidak mematuhi aturan jaringan.

    Setiap node validator harus memilih spesifikasi dari lima tim berbeda yang memakai bahasa pemrograman berbeda.

    Setiap spesifikasi ini bisa memiliki kerentanan yang belum diketahui, kendati uji coba berjalan mulus pada tahun ini.

    Selain itu, staking pada Ethereum 2.0 berarti ETH partisipan tertahan (locked) hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, setidaknya pada tahun 20222, mengingat ETH yang diperdagangkan adalah yang di-staking pada jaringan Ethereum 2.0 yang masih baru.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ethereum Mulai Tunjukan Biaya Gas dan Total Biaya Rendah!

    Ada banyak optimisme terkait dengan peluncuran Ethereum 2.0 dan migrasi dari model verifikasi Proof-of-Work ke Proof-of-Stake.

    Jika melihat kembali kegunaan dan fungsionalitas dari jaringan Ethereum, ini sama ketika melihat penggunaan massal blockchain utama lainnya seperti Bitcoin.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    Dibandingkan harga terdahulu, saat ini Ethereum secara signifikan telah mampu membuat transaksi di dalam jaringan menjadi lebih murah dibandingkan dengan Bitcoin, mengenakan biaya rata-rata Rp425 untuk transaksi Ethereum biasa.

    Biaya Lebih Rendah Untuk Pengguna, Lebih Banyak Nilai untuk Validator

    Menurut Crypto Fees, saat ini jaringan Ethereum hanya memproduksi biaya di kisaran $1,6 juta dibandingkan dengan Bitcoin $895.000. Serta, rata-rata biaya tujuh hari, Ethereum mencatatkan $2,43 juta dibandingkan dengan Bitcoin $1,97 juta.

    Perbandingan penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah biaya transaksi dalam melakukan transaksi Bitcoin serta jumlah total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Seperti yang dinyatakan di atas, rata-rata biaya Ethereum dari beberapa minggu terakhir adalah sekitar Rp4.250 dan hanya perlu waktu sebentar untuk menyelesaikan sebuah transaksi (dengan asumsi biaya gas cukup tinggi).

    Di sisi lain, pengguna Twitter @antiprosynth menunjukkan, biaya transaksi Bitcoin rata-rata sekitar Rp82.000, dan dapat memakan waktu hingga satu jam sebelum transaksi benar-benar diverifikasi dan diselesaikan.

    Saat mempertimbangkan perbedaan harga biaya transaksi utama antara Bitcoin dan Ethereum, penting untuk dipahami meskipun harga transaksi Ethereum jauh lebih rendah, total biaya yang dibayarkan jauh lebih tinggi daripada Bitcoin.

    Metrik ini mengindikasikan jumlah transaksi yang terjadi di jaringan Ethereum secara besar-besaran melebihi Bitcoin, dan menghasilkan biaya yang jauh lebih banyak kepada validatornya sekaligus membebankan biaya yang lebih sedikit kepada penggunanya untuk melakukan transaksi ini.

    Baca Juga: Ini Cara DeFi Diadopsi Semakin Luas Lagi!

    Dampak Ethereum 2.0

    Lantaran Ethereum baru-baru ini mengganti mekanisme verifikasi bukti kepemilikan, lebih banyak pengguna akan dapat mengambil bagian dalam melakukan stake dan validasi agar membuat keamanan lebih kuat.

    Fokus dari migrasi dari ETH 1.0 ke ETH 2.0 adalah untuk mengurangi biaya transaksi serta waktu transaksi.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    Larry Fink, CEO Blackrock, perusahaan manajemen aset terbesar di dunia, mengatakan bahwa Bitcoin bisa tumbuh menjadi aset bernilai berskala global. Sebelumnya, jelang akhir November 2020, hal senada disampaikan oleh CIO Blackrock, yakni Rick Rieder.

    Lagi-lagi perusahaan raksasa memberikan sentimen positif terhadap Bitcoin, yang sejak 30 November 2020 lalu sudah menembus rekor harga tertinggi sepanjang masa.

    Apresiasi positif itu datang dari Larry Fink, CEO Blackrock. Dilansir dari CNBC belum lama ini, menurutnya, Bitcoin jelas-jelasa menarik perhatian banyak orang, kendati pasar aset kripto masih relatif kecil dibandingkan pasar jenis aset lain.

    Baca Juga: Analis Prediksi Bitcoin Segera Menuju $20.000 dan Melampauinya

    Blackrock diketahui sebagai salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan publik MicroStrategy yang sebelumnya mengumumkan berinvestasi di Bitcoin senilai triliunan rupiah.

    Pernyataan CEO itu disampaikan ketika ia berbincang dengan Mark Carney, Gubernur Bank Sentral Inggris di Council on Foreign Relations. Dewan itu adalah organisasi nirlaba yang menerbitkan dan melakukan penelitian tentang kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Dewan didirikan pada 1921 dan bermarkas di New York City.

    Kata Fink, kelas aset yang masih baru itu, [Bitcoin] bisa tumbuh menjadi aset berskala global.

    “Bitcoin memikat perhatian dan imajinasi banyak pihak. Pasar memang masih belum teruji dan masih kecil jika dibandingkan dengan pasar kelas aset lain. Sejumlah investor besar dari kalangan perusahaan berinvestasi ke Bitcoin. Apakah Bitcoin bisa tumbuh dalam pasar berskala global? Ya, mungkin saja,” kata Larry Fink.

    CNBC melansir pernyataan Fink, bahwa kepemilikan Bitcoin dan beberapa jenis aset kripto lainnya berdampak kepada pemegang dolar AS khususnya di luar Negeri Paman Sam. Itulah yang berdampak pada kurang relevannya sejumlah aset lain yang bernilai dolar.

    Fink bahkan mempertanyakan, apakah aset kripto, termasuk Bitcoin yang sedang tumbuh ini kelak bisa mengubah kebutuhan dolar AS sebagai mata uang cadangan global?

    Sebelum Fink ada pernyataan bullish lainnya milyarder pengelola hedge fund Stanley Druckenmiller dan Paul Tudor Jones II yang telah mengalokasikan sebagian aset mereka ke Bitcoin.

    BlackRock adalah pengelola aset terbesar di dunia dengan total aset dikelola mencapai US$7,4 trilyun.

    Blackrock di Indonesia

    Blackrock juga punya andil besar di pasara Indonesia. Dilansir dari Bisnis.com, perusahaan itu mengempit kepemilikan di saham berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps RI.

    Emiten yang masuk dalam koleksi manajer investasi kenamaan asal Amerika Serikat itu bisa menjadi cetak biru bagi pelaku pasar dalam menyusun portofolio.

    Jelang akhir November 2020, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat (AS). Salah satu pihak yang akan ditemui yakni Blackrock untuk membahas kelanjutan sovereign wealth fund (SWF).

    Baca Juga: Bank DBS: Adopsi Bitcoin oleh Perusahaan Meningkat

    Luhut memproyeksi SWF atau lembaga pengelola investasi (LPI) dapat menghimpun dana hingga US$100 milyar atau sekitar Rp1.400 triliun dalam 1 tahun hingga 2 tahun ke depan. Peraturan Pemerintah (PP) pembentukan badan itu kini tengah dalam finalisasi.

    Sejalan dengan misi itu, Luhut membidik sejumlah investor mulai dari The Blackstone Group dan Blackrock yang akan ditemui di sela kunjungan kerjanya di AS. Tujuannya, untuk menanamkan modal di SWF Indonesia.

    Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com melalui Bloomberg, Blackrock saat ini mengempit kepemilikan di saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps. Portofolio mereka tersebar setidaknya di sembilan saham dengan kapitalisasi terbesar saat ini.

    Untuk PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya, Blackrock tercatat mengempit kepemilikan 2,95 miliar lembar pada kuartal III/2020. Selanjutnya, kepemilikan di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencapai 1,53 miliar lembar.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Prediksi Bitcoin Segera Menuju $20.000 dan Melampauinya

    Bitcoin mengalami fase konsolidasi kuat selama seminggu terakhir. Mata uang crypto ini diperdagangkan dalam kisaran ketat antara $18.500 dan $19.500.

    Banyak sentimen pasar yang berpikir bahwa kisaran harga ini merupakan permulaan dari penurunan harga yang cukup kuat, tetapi menurut seorang analis proses ini memungkinkan Bitcoin untuk naik ke harga yang lebih tinggi lagi.

    Baca Juga: Pemred Forbes: Bitcoin Kelak Menjadi Store-of-Value Seperti Emas

    Seorang analis aset kripto membagikan grafik di bawah ini.

    prediksi bitcoinGrafik ini menunjukan Bitcoin sedang dalam pola Elliot Wave, yang berpotensi untuk menuju pergerakan pasar yang lebih tinggi menuju $20.000 dan seterusnya.

    Elliot Wave merupakan bentuk analisis teknis yang menunjukkan pasar bergerak dalam gelombang yang diprediksi berdasarkan psikologi investor dan tren lainnya. Menurut penjelasan,

    “Elliott melihat adanya tren harga keuangan berdasarkan hasil dari psikologi dominan investor. Ia menunjukan perubahan dalam psikologi massa selalu muncul dalam pola fraktal berulang yang sama, atau “gelombang”, di pasar keuangan.”

    Jika melihat grafik ini, analis optimis pasar sedang berada dalam pergerakan untuk mencapai level tertinggi baru.

    Baca Juga: Kilas Balik: Ada Apa dengan Bitcoin Minggu Lalu?

    “Bagaimana jika saya berpendapat bahwa 3 minggu terakhir pergerakan Bitcoin yang sideways merupakan koreksi besar kita? $Bitcoin.”

    Pertanyaannya, Kapan?

    Langkah berikutnya yang dapat membawa Bitcoin di atas level resistance $20.000 dapat dimulai dalam beberapa minggu mendatang. Analis aset kripto Philip Swwift mencatat, selama empat tahun terakhir, BTC selalu mengalami pembalikan krusial di pertengahan Desember, di antara tanggal 15 dan 18 Desember.

    “Sifat siklus Bitcoin: 15-18 Des 2016: Parabolic bull rundimulai; 15-18 Des 2017: Siklus teratas; 15-18 Des 2018:Siklus terbawah; 15-18 Des 2019: Post Plustoken rendah; 15-18 Des 2020: ?? Mungkin tidak akan terjadi apapun tahun ini ATAU… kemunduran kecil hingga pertengahan Desember sebelum akhirnya kenaikan parabola baru berjalan?”

    Siklus ini menunjukkan Bitcoin mungkin menjalani awal siklus eksponensial berikutnya pada pertengahan Desember.

    bitcoin 2021

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pemred Forbes: Bitcoin Kelak Menjadi Store-of-Value Seperti Emas

    Steve Forbes, Pemimpin Redaksi Forbes Media mengatakan bahwa Bitcoin kelak bisa menjadi store-of-value seperti emas.

    “Bitcoin belum bisa menjadi emas baru sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Emas, kendati harganya tertekan dibandingkan harga Bitcoin, tetap mempertahankan nilai intrinsiknya. Emas lebih baik daripada aset lainnya di muka bumi, karena teruji selama 4 ribu tahun. Ketika Anda melihat harga emas dalam dolar berfluktuasi, nilai emas tidak berubah, melainkan nilai dolar itu sendiri. Nilai emas terbilang konstan. Itulah yang tak terjadi pada Bitcoin,” ujar Forbes di Forbes.com, 4 Desember 2020 lalu.

    Baca Juga: S&P Dow Jones Luncurkan Indeks Crypto di 2021, Bakal Dorong Bitcoin Lebih Tinggi?

    Steve berpendapat, bahwa fluktuasi yang sangat tinggi pada harga Bitcoin, tidak memungkinkan kelas aset baru itu sebagai store-of-value alias menjaga nilai uang di masa depan.

    “Bitcoin terlalu volatil sebagai aset store-of-value jangka panjang. Bahkan pasokan terbatas Bitcoin menjadi tantangan tersendiri soal kegunaannya di masa depan. Lihat pasokan emas yang sekitar 2 persen setiap tahun. Itu yang membuatnya langka, tetapi tak terlalu langka. Jadi, belum saatnya Bitcoin sebagai emas baru. Justru emaslah saat ini sebagai aset terbaik untuk melawan inflasi,” ungkapnya.

    Sejak 1 Januari-5 Desember 2020, imbal hasil emas hanya 20,98 persen (US$1835 per oz). Di saat yang sama, Bitcoin naik gila-gilaan hingga 165 persen (US$19.000 per BTC). Indeks dolar AS sendiri tertekan hebat hingga minus 5 persen (90,81).

    Steve Forbes memang terkenal mengapresiasi Bitcoin sebagai kelas aset baru. Pada Juni 2020 misalnya ia mengatakan bahwa Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya adalah pelindung dari ketidakpastian kebijakan keuangan saat ini.

    Steve juga percaya bahwa aset kripto Bitcoin membantu menstabilkan sistem keuangan yang dikendalikan pemerintah dan mendesak pengembangan teknologi blockchain Bitcoin.

    Hal itu ia sampaikan pada dalam satu wawancara dengan US Center for Natural dan Artificial Intelligence pada 12 Juni 2002 lalu.

    “Aset kripto adalah sebuah respons ketika bank sentral mengeluarkan kebijakan pelonggaran kuantitatif dan pinjaman murah untuk merevitalisasi ekonomi mereka. Namun, kebijakan untuk menambah pasokan uang ke dalam pasar itu justru menyebabkan ketidakstabilan keuangan dalam jangka panjang,” kata Steve.

    Steve mencontohkan Jepang. Mereka menjalankan program pelonggaran kuantitatif pada akhir 1980-an, yang mengarah ke “The Lost Decade” dari 1990-2000, sebuah periode penurunan output ekonomi dan inflasi.

    Jepang sejatinya masih belum pulih, bahkan tiga puluh tahun setelah program itu. Para kritikus mengatakan, Amerika menuju nasib yang serupa seperti Jepang, jika langkah-langkah penanangan tidak segera dilakukan.



    Sumber : news.tokocrypto.com