Author: 38

  • Bitcoin Halving Telah Usai. Lalu Sekarang Apa?

    Halving blok reward Bitcoin telah usai. Peristiwa yang terjadi setiap empat tahun sekali, telah terjadi pada Senin, 12 Mei 2020 lalu dan ini merupakan bagian dari protokol Bitcoin.

    Teori ekonomi menunjukan karena peristiwa ini mengurangi jumlah Bitcoin yang ada dalam jaringan, penambang hanya akan menerima dan menghasilkan jumlah Bitcoin baru setengah dari jumlah sebelum halving terjadi, sehingga hal ini akan berkaitan langsung terhadap pasokan Bitcoin baru dan diharapkan akan ada penambang baru yang terus bertambah. Asumsi ini membuat permintaan menjadi lebih konstan dan juga dapat memompa harga menjadi lebih tinggi.

    Beberapa hari menjelang halving kemarin, spekulasi terus meningkat. Harga Bitcoin naik dari kisaran $4.500 ke angka $10.000 atau naik sekitar 122%. Para trader mengantisipasi ledakan yang akan terjadi, apalagi dengan banyak pemberitaan utama mengenai “Breakout Bitcoin yang besar”.

    Namun, hal sebaliknya justru terjadi. Harga Bitcoin yang digadang-gadang menembus $10.000 kemudian turun dari $10.000 ke sekitar $8.600 hingga $8.700. Hal ini terjadi setelah jaringan Coinbase mengalami down dan “paus” menjual kepemilikan mereka.

    Baca Juga: Ingin Investasi Bitcoin Saat Halving? Simak Tips dari Pelaku Pasar Berikut Ini!

    Meskipun hype pada halving Bitcoin telah selesai, tidak ada yang benar-benar terjadi, meskipun sebenarnya terjadi penurunan pendapatan pertambangan dari $15 Juta menjadi sekitar $8 Juta hari ini. Harga juga sekarang terlihat berada di sekitar $8.900.

    Tidak Banyak yang Terjadi

    Sebelum halving, pada 8 Mei 2020, Pankaj Balani, CEO Delta Exchange, sangat bersemangat. Ia mengatakan “Trader akan sangat bullish menuju halving nanti dengan banyak yang berharap Bitcoin untuk menembus angka 11.000 setelah halving.”

    Setelah peristiwa halving terjadi, ia tetap optimis hal itu akan terjadi. “Halving terjadi sesuai yang diharapkan, lancar sehubungan dengan harga dan tingkat hash, dengan dampak yang sebenarnya akan muncul dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.”

    Tingkat hash diprediksi juga akan naik, hal ini mengingat miners yang sudah “tua” akan menutup perangkatnya. Peristiwa ini juga terlihat dari naiknya tingkat hash dari 120.365m ke 121.038m.

    Viktor Bunin mengatakan, “Hal Paling menarik mengenai peristiwa (halving) ini adalah betapa antiklimaksnya peristiwa ini sendiri! Bayangkan jika Anda memberi tahu semua bankir (atau profesi apapun) di seluruh dunia bahwa gaji mereka akan dipotong setengah setiap 4 tahun? Akan ada kerusuhan!”

    Lebih lanjut ia menambahkan, “konsensus sosial tentang kebijakan moneter Bitcoin bertumbuh kuat dan fakta bahwa bahkan tidak ada ‘keluhan’ dari para penambang membuat peristiwa halving ini telah berhasil menunjukkan sistem ini berfungsi.”

    Baca juga:Pesan pada Halving Bitcoin Ketiga, Mengingatkan Alasan Bitcoin Tercipta

    Halving, Peristiwa Monumental

    Sinjin David Jung, direktur pelaksana Cadangan Moneter Blockchain Internasional, merasa peristiwa ini tetap menarik apapun yang terjadi. “Peristiwa halving adalah peristiwa yang benar-benar menarik, karena peristiwa ini tetap berlangsung walaupun dengan kondisi dan semua kekacauan yang terjadi di pasar. Ketidakstabilan finansial dan Quantitative Easing (QE) yang terjadi saat ini adalah bahan bakar untuk peluncuran “roket” Bitcoin yang tak terelakkan, Bitcoin akan melewati harga tertinggi masa lalu dalam tahun yang akan datang nanti.”

    Yang lain berpendapat halving itu sendiri adalah sebuah berita. Ray Youssef, CEO situs perdagangan peer-to-peer Paxful, mengatakan ia “menyoroti semangat dan persatuan komunitas Bitcoin. Bagian dari kemanusian ini lah yang akhirnya membawa saya dan salah satu pendiri Paxful kepada Bitcoin dan rasanya itu sangat menyenangkan untuk mengenangnya kembali.”

    Kedepannya, pasar mungkin perlu waktu untuk bereaksi terhadap peristiwa halving yang telah terjadi. “Pada titik ini saya sedang menunggu untuk melihat seberapa jauh peristiwa ini akan berjalan, khususnya menunggu koreksi pasar yang lebih luas dan juga kapitulalsi penambang. Selain itu, jangka menengah dan panjang pada Bitcoin terlihat menjanjikan,” jelas Evan Kuo, CEO Ampleforth.

    Dalam ketidakpastian ini, siapa yang akan mengira bahwa stabilitas Bitcoin akan menjadi penyelamat?

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Halving Bitcoin yang Ketiga Telah Usai!

    Peristiwa cryptocurrency paling ditunggu-tunggu tahun 2020, Halving Bitcoin (BTC), baru saja berlalu. Hanya terjadi setiap empat tahun sekali, blok reward penambangan Bitcoin yang baru-baru ini terjadi telah mengurangi blok reward Bitcoin dari 12.5 BTC ke 6.25 BTC.

    Peristiwa halving ketiga Bitcoin ini terjadi pada sekitar pukul 3:23 Malam EST atau 2:23 WIB . Menurut data dari Tradeblock.com. Setelah halving terjadi, Bitcoin diperdagangkan pada $8.500, dengan dominasi pasar sebesar 67% pada waktu rilis, menurut Coin360.

    Blok Reward Bitcoin ada di 50 BTC hingga 0,00000001 BTC

    Sejak blok Bitcoin pertama dibuat pada tahun 2009 silam, ada tiga peristiwa halving hingga saat ini. Berlangsung setiap 210.000 blok yang ditambang, atau kira-kira setiap empat tahun, halving blok reward Bitcoin saat ini sebesar 50%. Peristiwa halving pertama terjadi pada tahun 2012, memotong blok reward dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Selanjutnya, peristiwa kedua terjadi pada tahun 2016 silam, dengan reward berkurang dari 25 BTC menjadi 12,5 BTC.

    Karena persediaan Bitcoin terbatas pada 21 juta koin, peristiwa halving Bitcoin akan terus berlangsung hingga tahun 2140, atau hingga BTC ke-21 Juta. Pada saat itu, blok reward harus mencapai 1 satoshi, atau unit terkecil Bitcoin di 0,00000001 BTC. Menurut Blockchain.com, pada saat publikasi, jumlah Bitcoin yang beredar berjumlah 18,37 juta.

    Baca juga: Melihat Dampak Bitcoin Halving bagi Exchange dan Trader

    Dampak Halving Bitcoin

    Karena dua peristiwa halving Bitcoin sebelumnya yang pada akhirnya berdampak pada harga Bitcoin secara positif, halving Bitcoin ketiga ini telah menjadi tema utama dengan beragam prediksi harga dan spekulasinya.

    Ada beberapa pemain crypto memprediksikan halving Bitcoin ketiga tidak akan berpengaruh pada harga Bitcoin, sebaliknya banyak juga yang menilai bahwa akan ada pengaruh dari peristiwa halving yang ketiga ini. Hal ini mengingat pasokan Bitcoin baru akan semakin berkurang.

    Lain hal dengan korelasi harga Bitcoin yang sebenarnya masih dipertanyakan, halving Bitcoin yang baru-baru ini terjadi memiliki dampak langsung pada miners. Sejumlah analis crypto memperkirakan halving akan segera memicu para penambang untuk berhenti menghasilkan Bitcoin baru karena sejumlah besar perangkat penambang akan menjadi usang.

    Baca Juga: Ingin Investasi Bitcoin Saat Halving? Simak Tips dari Pelaku Pasar Berikut Ini!

    Menurut wakil presiden Poolin Poole, Alejandro De La Torre, sejumlah penambang yang tidak mendapatkan keuntungan telah mulai mematikan peralatan mereka bahkan sebelum halving Bitcoin yang ketiga ini terjadi.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    Jakarta, 12 Mei 2020 – Tokocrypto, pedagang aset kripto pertama yang teregulasi dan terdepan di Indonesia, hari ini resmi mengumumkan keberhasilan mereka mendapatkan investasi dari Binance, perusahaan blockchain global dibalik pedagang aset kripto terbesar di dunia dari sisi volume transaksi dan pengguna.

    Investasi ini akan digunakan untuk mempercepat pengembangan bisnis Tokocrypto , termasuk dalam hal produk dan layanan baru, pengembangan teknologi, menghadirkan inisiatif-inisiatif baru dalam hal edukasi blockchain di Indonesia, serta ekspansi secara nasional, seperti Surabaya, Bali, Medan, Makassar, Balikpapan, dan lainnya.

    Pang Xue Kai, Co-Founder dan CEO Tokocrypto menyatakan. “Investasi di Tokocrypto ini menjadi penegasan akan kepercayaan dari pemimpin pasar aset kripto secara global terhadap potensi blockchain ekosistem di Indonesia yang sangat menjanjikan. Investasi dari Binance ini akan digunakan untuk menghadirkan dan meningkatkan layanan terbaik dari Tokocrypto di pasar Indonesia, serta mempercepat visi kami dalam menghadirkan ekosistem keuangan terbuka melalui teknologi blockchain.”

    Didirikan pada awal 2018, Tokocrypto bertujuan untuk mendorong adopsi dan aksesibilitas berkelanjutan  dari aset kripto di Indonesia melalui transaksi perdagangan dan layanannya.

    Pada awal berdirinya, Tokocrypto juga berhasil mendapat pendanaan putaran awal, dimana pada putaran ini, salah satu pemberi dana adalah QCP Capital, perusahaan perdagangan aset digital dan investasi yang berbasis di Singapura.

    Tim ini mencapai tonggak sejarah penting pada tahun 2019 ketika Tokocrypto menjadi pedagang aset kripto pertama yang terdaftar dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI).

    Changpeng Zhao (CZ), Pendiri dan CEO Binance, menyatakan bahwa “dengan adopsi teknologi yang cepat, pertumbuhan ekonomi yang kuat, serta populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia akan menjadi salah satu pusat terkemuka dari ekosistem blockchain di Asia Tenggara. Investasi kami di Tokocrypto memungkinkan kami untuk mengeksplorasi bersama peluang baru yang menarik untuk pasar Indonesia bersama mitra lokal yang telah teregulasi untuk menghadirkan kebebasan dalam hal keuangan.”

    Tokocrypto sendiri juga didukung oleh dewan penasihat yang sangat berpengalaman dalam dunia aset kripto, termasuk Joshua Ho dan Darius Sit dari QCP Capital, serta Shaun Djie dari Digix, yang telah menjadi penasihat tim sejak 2018.

    “Tokocrypto juga akan tetap mengembangkan berbagai inisiatif baru, termasuk melanjutkan kerjasama dan kolaborasi dengan para pemangku kebijakan di Indonesia seperti BAPPEBTI dan PPATK, serta menjalin kerjasama strategis dengan para pelaku industri lainnya”, tutup Teguh Kurniawan Harmanda, COO Tokocrypto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi – Tokocrypto News

    Setelah bullish selama 8 pekan berturut-turut, akhirnya Bitcoin menyentuh zona US$8 ribuan. Apakah ini pertanda berakhirnya bullish Raja Aset Kripto itu?

    Menjelang Bitcoing Halving, dengan banyaknya euforia dan sentimen optimistik, kemudian harga Bitcoin sempat menyentuh US$10 ribu, membuat para “moon bois” yakin akan Raja Aset Kripto itu akan terus naik.

    Namun, pagi ini, Minggu 10 Mei 2020, Bitcoin malah turun ke zona sekitar US$8 ribu-an dan membuat candlestik minggu ini menjadi merah setelah 8 minggu berturut-turut berwarna hijau (bullish).

    Berita Terkait: Harga Bitcoin Diprediksi Berlipat Ganda dalam Beberapa Hari Mendatang

    Analisis Teknikal Sederhana

    Sebenarnya, “dump” yang terjadi di Minggu pagi ini, hanyalah reaksi biasa setelah tersentuhnya resistance psikologis US$10 ribu. Itu juga berbarengan dengan garis tren yang terbentuk sejak bull run di akhir 2017 (seperti terlihat di garis hijau pada gambar di atas).

    Support berikutnya yang perlu menahan agar harga tidak turun lebih jauh adalah area US$8 ribuan. Jika ini jebol clean break, maka bisa diperkirakan Bitcoin akan jatuh lebih jauh lagi.

    Ada Sinyal Bearish

    Bitcoin Halving yang kurang dari 3 hari lagi (diperkirakan pada 12 Mei 2020 di block ke-630.000), membuat ekspektasi para pelaku pasar melambung tinggi. Namun, indikator RSI mengatakan ada dump akan membayang-bayangi.

    Jika dilihat di timeframe 1 hari, RSI sudah keluar dari zona overbought, dan telah keluar dari garis tren.

    Untuk perlu kembali bullish, maka kenaikan harga Bitcoin perlu cukup cepat dan kuat agar RSI bisa kembali ke garis tren dan tidak membuat failure swing.

    Para trader disarankan untuk berhati-hati dalam menghadapi Halving ini, karena volatilitas yang tinggi bisa membuat trader kehilangan posisinya. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Volatilitas dan Sinyal Bullish Bitcoin

    Mike McGlone, Ahli Strategi Komoditas Bloomberg dalam kajiannya terbarunya, 5 Mei 2020, mengatakan, bahwa volatilitas Bitcoin 180 hari terendah sepanjang masa adalah penting sebagai sinyal bullish yang pernah terjadi mulai tahun 2015 dan berakhir pada 2017.

    McGlone juga membandingkan keunggulan Bitcoin dengan emas dalam konteks pasokan (supply) dan demand (permintaan).

    “Tak seperti emas, harga Bitcoin yang lebih tinggi tidak akan mendorong pasokan BTC yang baru ke dalam pasar dalam besaran yang serupa,” kata Mike McGlone.

    McGlone memaparkan fakta, bahwa di sebagian besar pasar komoditas (seperti emas), permintaan (demand) yang lebih besar mengarah pada harga yang lebih tinggi. Itu, yang pada gilirannya mengarah pada produksi komoditas yang lebih besar dan stabilnya harga.

    Berita Terkait: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    “Sedangkan Bitcoin, pasokan Bitcoin baru murni dikendalikan oleh kode-kode komputer secara digital. Nah, pada Halving 12 Mei 2020 mendatang, pasokannya direduksi sebanyak separuh [12,5 BTC menjadi 6,25 BTC-Red],” katanya.

    Kata McGlone lagi, kombinasi antara Bitcoin Halving dan program stimulus ekonomi oleh Bank Sentral, malah akan menciptakan “lingkungan yang sempurna” bagi Bitcoin untuk mengungguli pasar lain.

    “Pasokan terbatas Bitcoin berarti adalah takaran yang penting untuk adopsi lebih lanjut terhadap aset kripto ini. Karakter unik itu tentu saja sangat berseberangan dengan mekanisme pelonggaran kuantitatif [menambah pasokan uang ke dalam pasar-Red] oleh Bank Sentral,” kata McGlone.

    Volatilitas dan Sinyal Bullish
    Menurut McGlone, takaran penting lainnya, juga menunjukkan kekuatan Bitcoin. Volatilitas 180 hari telah mencapai titik terendah sepanjang masa. Ini pernah terjadi sebelumnya, yang memantik kenaikan harga Bitcoin secara besar-besaran.

    Berdasarkan data dari Digitalik.net dalam grafik Meyer Multiple Price Band, harga Bitcoin pada 20 Oktober 2015 (US$300 per BTC) sampai 5 Desember 2017 (US$11.300) berada di wilayah bullish dan bullish extension. Sebagai catatan, Bitcoin Halving Kedua terjadi pada 9 Juli 2016.

    Baru kemudian masuk ke wilayah overbought pada 16 Desember 2017, sekitar US$19.345. Itulah harga puncak tertinggi Bitcoin sepanjang masa, sebelum jatuh ke wilayah US$3 ribu per BTC. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Diprediksi Berlipat Ganda dalam Beberapa Hari Mendatang

    Harga Bitcoin diprediksi berlipat ganda dalam beberapa hari mendatang. Jake Yocom-Piatt, Pendiri Decred juga meramalkan, bahwa akibat Bitcoin Halving pada Mei 2020 nanti, bisa mendorong para penambang (miner) menjual Bitcoin (BTC) mereka di harga paling tinggi daripada saat ini.

    “Kita tahu Bitcoin Halving akan mengurangi imbalan BTC sebanyak separuh untuk jenis operasi yang relatif sama kepada penambang. Inilah yang kelak melipatgandakan biaya menambang yang juga relatif tak terjangkau oleh sebagian besar penambang kecil,” katanya.

    Baca Juga: Kinerja Bitcoin Kalahkan Emas dan Saham Selama April 2020

    Tambahnya, dengan biaya penambangan yang tetap, untuk mempertahankan margin laba yang sama, mereka akan terdorong menjual Bitcoin di harga yang lebih tinggi.

    “Dengan kata lain, kita akan melihat kenaikan Bitcoin berlipat ganda daripada harga hari ini dalam beberapa hari ke depan. Tetapi, prediksi jelas jangka panjang sulit dibuat. Namun, dalam jangka panjang, menggunakan model stock-to-flow (StF), harga bisa meningkat secara substansial,” pungkasnya.

    Berdasarkan data dari Digitalik.net, menggunakan model StF, harga BTC bisa mencapai US$265 ribu per BTC pada 20 Oktober 2021. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Wick-Fishing, Sang Penghancur Posisi Trading

    Dalam trading, banyak trader diajarkan untuk memasang Stop loss untuk mengantisipasi kehilangan. Namun, dunia aset kripto tidak seperti dunia trading kelas aset lainnya. Terkadang ada pergerakan tiba-tiba yang seolah-olah membuat posisi para trader hilang atau terkena stop loss. Mari kita kenali fenomena ini.

    Terlihat Seperti Manipulasi

    Sering terlihat di pasar aset kripto, adanya “spike” atau pergerakan tiba-tiba ke atas atau ke bawah yang membuat para trader panik.

    Biasanya harga naik tiba-tiba, membuat para trader panik, FOMO dan melakukan pembelian. Atau tiba-tiba turun dan membuat para trader melakukan penjualan, hanya untuk kembali dan membuat posisi para trader yang panik tadi hilang.

    Atau tiba-tiba harga meloncat melebihi batas “stop loss” wajar seorang trader dan membuat trader-trader tersebut kehilangan posisinya.

    Baca Juga: Mengenal Wick-filling, Teori yang Bisa Digunakan Untuk Memprediksi “DUMP” di Bitcoin

    Istilah wick-fishing dipopulerkan oleh trader aset kripto dari Inggris bernama Toray Kortan. Istilah lainnya untuk wick-fishing adalah stop loss hunt.

    wick-fishing-crypto-tokocrypto

    Apa yang menyebabkan wick-fishing?

    Banyak teori yang mengatakan bahwa wick fishing adalah manipulasi pasar. Namun, secara teknikal, di pasar aset kripto sangat banyak order pembelian dan penjualan yang biasanya agak jauh dari harga yang ada. Wick fishing adalah pergerakan untuk memenuhi order-order tersebut.

    Bagaimana cara menemukan wick fishing?

    Cara termudah untuk memprediksi wick fishing adalah dengan melihat di mana harga telah membuat adanya “spike” sebelumnya. Jika harga telah mencapai tingkat tertentu secara tiba-tiba, besar kemungkinan hal itu akan terjadi lagi di masa depan.

    wick-fishing-crypto-tokocrypto

    Baja Juga: Mengenal Pola Barting Penjebak Trader Aset Kripto

    Contoh wick fishing setelah terjadinya “spike” sebelumnyaSebagai sarana untuk “menyingkirkan trader” sebelum ada rally. Ada juga contoh wick fishing yang bisa kita lihat sebelum adanya pergerakan besar. Perhatikan gambar tersebut

    wick-fishing-crypto-tokocrypto

    Bagaimana menghadapi wick fishing?

    Dengan analisa teknikal, lihatlah di mana secara historis harga melakukan “spike” dan antisipasi pergerakan ke sana. Manajemen resiko dan tidak melakukan overtrading juga menjadi sarana terbaik untuk kita agar tidak kehilangan uang saat trading.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kinerja Bitcoin Kalahkan Emas dan Saham Selama April 2020

    Selama April 2020, kinerja Bitcoin jauh lebih baik daripada saham dan emas. Bitcoin mampu tumbuh hingga 32 persen, sedangkan emas 6 persen dan saham (Indeks S&P500) hanya 18 persen.

    Bitcoin seolah-olah mulai mampu memantik dirinya sebagai aset safe haven di tengah krisis ekonomi akibat COVID-19. Ini terbukti dari kinerja aset kripto itu berbanding jenis investasi lainnya, termasuk emas selama April 2020.

    Indeks saham S&P500 (SPX) naik dari 2444.10 menjadi 2908.28 point, sekitar 18,99 persen (464 point). Sedangkan Bitcoin naik dari US$6.546 menjadi US$8.651, tumbuh sekitar 32 persen (US$2.104).

    Berita Terkait: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    Sementara itu, emas hanya mampu tumbuh 6 persen, naik dari US$1.593 per troy oz menjadi US$1.689 per troy ons.

    Pun secara fundamental, investor semakin banyak melirik Bitcoin menjelang Halving pada medio Mei 2020 mendatang.

    Di momen langka itu, pasokan Bitcoin baru melalui imbalan kepada para miner, tereduksi hingga 50 persen, dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Sejak Maret 2020 arus masuk uang ke pasar Bitcoin juga meningkat drastis. Menurut kajian Glassnode, jumlah address Bitcoin bersaldo lebih 10.000 BTC naik menjadi 111 pada Rabu (29 April 2020).

    Itu adalah tingkat tertinggi sejak 2 Agustus 2019. Dengan demikian kenaikannya menjadi 11 persen sejak awal Maret 2020.

    “Peningkatan jumlah address Bitcoin bersaldo lebih dari 10.000 BTC kemungkinan merupakan hasil dari pemegang jangka panjang yang kembali masuk ke pasar untuk memperluas kepemilikan mereka,” kata Matthew Dibb, Pendiri Stack.

    Peningkatan minat dari pemegang jangka panjang dan investor besar dapat dikaitkan dengan narasi bullish di sekitar faktor makro dan imbalan yang berkurang pada Bitcoin Halving Mei 2020 nanti. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Berharap pada Ethereum Sebelum Bitcoin Halving

    Bitcoin sempat melakukan rally yang cukup ganas di akhir bulan April lalu. Namun, raja aset kripto tadi gagal menembus resisten kunci di 9400, langsung “dump” ke zona 8400-8500, dan sekarang mulai “recovery” menuju arah 9000 USD. Bagaimana dengan harga Ethereum?

    Jika dilihat di analisa time frame besar, masih ada kemungkinan Bitcoin menuju 9000-9200 USD sebelum halving, dengan potensi turun setelah halving. Bagaimanakah para trader bisa meng-kapitalisasi kesempatan ini?

    Baca Juga: Ayo Bitcoin Halving, Tunjukkan Taringmu!

    Altcoin terbesar, Ethereum menunjukkan kesempatan bullish di tengah-tengah gonjang-ganjing volatilitas aset kripto dan pasar finansial lainnya.

    Saat ini harga harga ETH menembus zona putih dan garis hijau yng ada dalam gambar. Zona putih adalah resistance mingguan, dan garis hijau adalah resistance yang didapat dengan menggambar trendline di timeframe 1 bulan.

    Saat semuanya tertembus, kemungkinan bullish untuk jangka pendek-menengah (paling tidak sampai bitcoin halving) terbentuk. Terlebih lagi, Ethereum telah melakukan retest di area zona putih, mempersiapkan pondasi untuk naik lebih lanjut.

    Baca Juga: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    Diperkirakan bahwa halving 11 Mei akan membuat crypto turun cukup keras, dengan sedikit bullish dari sekarang hingga hari-H.

    Target kenaikan Ethereum, harga bisa naik hingga daily resistance yang terbentuk (zona kuning) atau bahkan area trendline wick-ke-wick bulanan, hingga saat sekitaran halving BTC , semuanya turun besar-besaran.

    Secara sepintas, Ethereum mempunyai potensi gain yang lebih besar daripada Bitcoin hingga halving nanti



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • “Paus” Bitcoin Tidak Berniat Menjual dengan Harga Saat Ini

    Seorang “Paus” Bitcoin (BTC) memegang sekitar 68.000 BTC atau mencapai 523 Juta dalam dolar Amerika, belum juga memindahkan asetnya tersebut selama lebih dari lima tahun dan data yang ada pada rantai blockchain (on-chain) menunjukkan paus lain juga memegang BTC mereka selama rata-rata 4,7 Tahun.

    Meskipun Bitcoin adalah cryptocurrency peringkat teratas di CoinMarketCap, paus yang memegang aset digital tanpa menjual selama bertahun-tahun tidak melindungi BTC dari tren turun yang curam. Pada 12 Maret lalu, harga turun hingga mencapai $3.600 dan banyak paus tidak juga memindahkan dana mereka pada saat itu.

    Bagaimanapun, data menunjukkan banyak paus merasa nyaman memegang BTC meskupun ada risiko koreksi yang signifikan terhadap area dukungan multi-tahun di harga $3.000 hingga $4.000. Ini menggambarkan tren jangka panjang yang optimis pada pasar cryptocurrency dan kesabaran dari investor-investor ini bernilai sangat tinggi.

    Baca Juga: Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin

    Apa yang Sebenarnya Diinginkan “Paus”?

    Sejak 2015, infrastruktur yang mendukung pasar cryptocurrency telah meningkat secara eksponensial. Semakin banyak lembaga kustodian yang terpercaya membuka beragam pertukaran berjangka yang lebih besar dan ada juga yang menyediakan pertukaran spot regional berskala besar yang didukung oleh layanan perbankan yang stabil.

    Baik investor ritel maupun institusional secara aktif mengakumulasi Bitcoin setelah koreksi yang intens. Sebuah laporan analitik yang diterbitkan oleh Coinbase menemukan setelah turun menjadi $3.750 di bulan Maret kemarin, investor ritel segera membeli pada harga penurunan tersebut.

    Data dari laporan kuartil pertama tahun 2020 Grayscale juga menunjukkan peningkatan nyata dalam permintaan Bitcoin dari investor institusi dan sedang dalam pengamatan.

    Hal ini disebabkan karena semakin banyak investor yang mengakumulasi Bitcoin, pasokan BTC yang beredar juga semakin menurun dan ini dapat melemahkan tren turun utama pada pasar.

    Seiring waktu, ada pula kemungkinan fase korektif akan menjadi lebih lemah dan lebih cepat ketika Bitcoin mendekati pasokan tetap sebesar 21 Juta.

    Selain itu, “paus” dan pemegang jangka panjang lainnya mungkin memandang Bitcoin sebagai aset terbaik untuk dimiliki dalam jangka panjang. Hal ini mengingat fakta bahwa kehilangan dana tidak dapat dipulihkan atau dikembalikan seperti semula, persedian koin akan ditutup, dan halving akan mengurangi tingkat pasokan baru yang tersedia.

    Para peneliti di CoinMetrics mengatakan:

    “Paus Bitcoin baru saja menjadi pemegang selama 5 tahun berturut-turut. Pekan lalu 68k BTC pindah dari pasokan aktif selama 5 tahun, yang menunjukkan terakhir kali mereka pindah on-chain adalah pada bulan April 2015.”

    Bahkan dengan halving yang akan terjadi kurang lebih 13 hari lagi, masih ada kemungkinan BTC akan mengalami pullback parah terlepas dari keenganan paus menjual kepemilikannya tersebut. Namun, sikap optimis paus ini mengurangi kemungkinan jatuh misalnya kejatuhan kapitulasi dalam waktu dekat.

    Baca juga: Bitcoin Whale: Dunia dalam Kejutan Ekonomi Terbesarnya

    Apakah “Harga Sebenarnya” BTC akan Turun di Bawah $3.000?

    Hanya dalam 24 jam setelah Bitcoin jatuh ke $3.600, harga kembali naik di atas $4.000, dan akhirnya kembali ke $7.000 dalam rentang waktu satu bulan.

    Seperti yang dilansir Cointelegraph, penurunan tajam dari $8.000 ke $3.600 terjadi karena kasekade likuidasi di seluruh bursa berjangka, terutama BitMEX. Dengan demikian, pedagang yang terlalu banyak likuidasi yang justru memicu penurunan, bukan penjualan dari “paus” di perdagangan spot.

    Pergerakan pemegang BTC juga menambah validitas teori mengenai BTC yang seharusnya tidak pernah turun harga di bawah $5.000 sama sekali dan investor yang membeli penuruna ke kisaran $3.000 hingga $4.000 tidak mungkin menjual dalam waktu dekat.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com