Author: 38

  • Kesalahan Trader Saat Lose/Kalah Trade

    Saat kita kalah trade dan hilang uang adalah saat paling irasional bagi para trader. Kita pasti mengalami kombinasi dari perasaan ini:
    1. Harga diri hancur karena analisa salah
    2. Iri ada orang lain yang menang
    3. Tekanan tambahan karena ada uang yang hilang, jadi merasa “harus balik + profit”

    Kombinasi tadi akan membuat kita melakukan kebodohan. Nah, kebodohan-kebodohan yang kita lakukan bisa berpotensi menghilangkan uang kita bahkan menghancurkan account kita. Apa saja kebodohan dan kesalahan itu?

    Baca Juga: Tiga langkah mudah deposit sebelum memulai trading

    Double Down

    Istilah di Indonesia mungkin “teknik kompensasi”. Saat kita kehilangan jumlah tertentu, misalkan 10 dolar, kita malah melakukan trading lagi dengan posisi yang lebih besar dari posisi trading sebelumnya, dengan resiko hilang yang 2 kali lipat lebih besar.

    Harapannya akan menang dan menutup loss yang tadi. Hal ini adalah kesalahan besar yang dapat mengurangi uang di account Anda, apalagi jika tidak ada setup yang benar.

    Baca Juga: Mengenal Pola Barting Penjebak Trader Aset Kripto

    Langsung Trading Lagi (Revenge Trading)

    Sama seperti double down, bedanya Anda tidak menggunakan posisi yang lebih besar 2 kali lipat. Intinya adalah langsung trading lagi berharap loss yang tadi bisa tertutup. Seharusnya yang Anda lakukan sebaiknya cukup berdiam diri dulu. Nanti lakukan analisa lagi saat sudah agak tenang.

    Meninggalkan Strategi yang Kalah Saat Dipakai

    Ini juga kesalahan. Misalkan Anda pakai fibonacci, lalu kalah 3x berturut-turut….Ya jangan selamanya berhenti pake fibonacci. Straterginya mungkin sedang tidakcocok di pasar dengan kondisi sekarang.

    Sebuah setup atau strategi mungkin maksimal probabilitas berhasilnya 70%. Jadi ya pasti ada saat di mana setup dan strategi yang Anda pakai gagal.

    Baca Juga: Tokocrypto 2.0 Berbasis Binance Cloud Siap Meluncur

    Telling Yourself: Harus Balik Nih!

    Let loss be loss, biarkan saja. Sama dengan WIN. Biarkan profit jadi profit.

    Biarkan loss dan profit Anda jadi angka dalam statistik Anda, dan biarkan pikiran Anda tidak terbebani. After all, kita maunya profit dalam jangka panjang ya kan?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokocrypto 2.0 Berbasis Binance Cloud Siap Meluncur

    Jakarta, 26 Mei 2020 – Tokocrypto, pedagang aset kripto terdepan dan teregulasi di Indonesia, siap hadirkan Tokocrypto 2.0, sistem perdagangan aset kripto yang telah diperbaharui. Sistem terbaru ini kini didukung oleh Binance Cloud, sebuah solusi infrastruktur bagi mitra untuk meluncurkan pertukaran aset kripto yang memanfaatkan teknologi, keamanan, dan likuiditas industri terkemuka dari  Binance.

    Pang Xue Kai, Co-Founder sekaligus CEO Tokocrypto menyatakan “Setelah mengumumkan investasi dari Binance beberapa waktu lalu, kini pengguna kami dapat merasakan manfaat langsung dari kolaborasi ini. Platform baru Tokocrypto yang berbasis Binance Cloud memungkinkan publik untuk merasakan teknologi terbaru di industri kripto, keamanan tingkat tinggi, serta likuiditas yang jauh lebih baik. Kami berharap dapat menghadirkan minat dan pengalaman baru yang belum pernah ada sebelumnya di dunia kripto Indonesia.”

    Tokocrypto 2.0 memungkinkan nasabah untuk melakukan perdagangan dengan koin maupun token utama seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Ripple (XRP), Tether (USDT), serta kehadiran beberapa koin baru, termasuk Binance Coin (BNB).

    Baca juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    Tokocrypto-2.0-CampaignGabung Tokocrypto Sekarang dan Berkesempatan Memenangkan Total 500 juta BIDR

    Tidak hanya melakukan peningkatan dan pembaharuan pada platform, Tokocrypto juga akan mengadakan program promosi untuk pelanggan yang terverivikasi, yang tidak boleh dilewatkan. Untuk bulan Juni, semua pengguna Tokocrypto baru yang menyelesaikan verifikasi identitas Know-Your-Customer (KYC), serta user lama yang melakukan upgrade, akan secara otomatis menerima hadiah senilai 75.000 BIDR. Tidak hanya itu, pelanggan juga akan mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hadiah total 500 juta BIDR untuk 50 orang yang beruntung. Untuk informasi lebih rinci, pelanggan dapat mengunjungi situs web Tokocrypto resmi di www.tokocrypto.com.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Triliunan Dicetak AS, Bitcoin Jadi Lindung Nilai?

    Pembuat kebijakan di seluruh dunia sedang mengucurkan sejumlah uang segar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mencegah resesi yang akan datang, atau kemungkinan yang lebih buruk lagi, yaitu depresi ekonomi total.

    Di Amerika Serikat, para Senat telah menyetujui paket stimulus sebesar $ 2 triliun pada akhir Maret lalu, dan sekarang Kongres sedang mengatur peninjauan proposal dari House Democrats untuk $ 3 triliun lainnya yang dimaksudkan untuk meringankan kebutuhan orang Amerika dalam menghadapi tingkat pengangguran yang meningkat hingga 15% .

    Hal ini dilakukan the Fed sebagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19. Federal Reserve sendiri telah melakukan gelombang pelonggaran kuantitatif yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

    Sebagai badan moneter yang bertanggung jawab untuk mengelola mata uang cadangan dunia, Fed menggunakan pelonggaran kuantitatif sebagai sarana untuk menanamkan perekonomian dengan likuiditas baru. Memiliki kontrol penuh atas pencetakan uang memungkinkan Fed untuk mencetak dolar sebanyak yang diinginkan, yang kemudian disuntikkan ke dalam sistem keuangan dengan membeli aset di pasar terbuka.

    Jika melihat Resesi Hebat yang terjadi pada 2008 lalu, The Fed mengucurkan dana senilai lebih dari $ 1,2 triliun hanya dalam waktu empat bulan sebagai cara untuk memompa modal segar ke pasar. Namun, skala pelonggaran kuantitatif yang dilakukan setelah krisis COVID-19 mengerdilkan tindakan apa pun yang pernah terjadi sebelumnya, hal ini mengingat rencana The Fed yang tidak akan membatasi jumlah uang yang akan disuntikan ke dalam sistem.

    Baca juga: Bitcoin Halving Telah Usai. Lalu Sekarang Apa?

    Selama 2 setengah bulan terakhir, The Fed telah membeli aset senilai $ 2,8 triliun. Tidak seperti kejadian setelah tahun 2008 ketika badan pemerintah membatasi pembelian asetnya untuk mengamankan obligasi Treasury AS, kejadian kali ini mereka berkomitmen untuk membeli aset berisiko seperti obligasi korporasi dan kota juga.

    Bitcoin sebagai Lindung Nilai?

    Uang talangan dari AS ini diharapkan dapat membantu perusahaan publik dan mencegah pemegang saham kehilangan nilainya. Uang baru ini diperkirakan akan meningkatkan biaya aset, tetapi karena kebanyakan orang Amerika tidak memiliki aset, satu-satunya hasil yang akan mereka alami adalah melemahnya daya beli. Beni Hakak, CEO dari LiquidApps, melihat peluang bagi Bitcoin (BTC) untuk menjadikan dirinya sebagai penyimpan nilai:

    “Krisis keuangan akibat pandemi COVID-19 adalah krisis pertama yang dialami Bitcoin sebagai kelas aset, dan beberapa orang memperkirakan Bitcoin itu mirip dengan emas, hal ini menyebabkan penurunan tajam dalam harga Bitcoin. Seiring ekonomi dunia yang mulai terbuka, Bitcoin lambat laun pulih dengan cukup baik, mengungguli S&P sejak posisi terendahnya masing-masing.

    Dengan Halving Bitcoin yang telah terjadi baru-baru ini, sebuah peristiwa yang secara historis diikuti oleh kenaikan harga, akan lebih menarik untuk melihat apakah nantinya Bitcoin dapat diterima sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penyimpan nilai.”

    Baca juga: Perang Mata Uang dan Kebangkitan Bitcoin

    Pelonggaran Kuantitatif vs Pengerasan Kuantitatif

    Perbedaan pencetakan uang yang tampaknya tidak terbatas yang terjadi beriringan dengan halving Bitcoin baru-baru ini, sebuah peristiwa yang terjadi setiap empat tahun sekali dan mengurangi setengah jumlah dari Bitcoin baru. Pada orang-orang yang percaya pada crypto, hal ini adalah bukti lebih dari status Bitcoin sebagai “hard money dunia.” Kelangkaan Bitcoin ini menarik perhatian dari rata-rata investor dan pengguna yang khawatir tentang pencetakan uang dan potensi yang dimilikinya dalam menyebabkan inflasi yang tak terkendali.

    Sementara sistem mungkin sedang “dipanaskan” dengan transparansi dan non-regulasi, Avi Rosten, seorang manajer produk di CryptoCompare, sebuah platform data dan penelitian crypto, mengatakan bahwa melalui pelacakannya ia menemukan banyak pasar yang berfluktuasi.

    Terdapat sinya volume tinggi tetapi ragu-ragu, ketika hal tersebut terjadi tercatat fluktuasi besar pada pasar saham AS antara 12 Maret dan 13 Maret ketika CryptoCompare menghitung 11.000 perdagangan per detik. Rosten mengatakan semua orang menghindari aset berisiko pada dolar AS, kecuali Bitcoin. Ia juga menambahkan hal ini merupakan waktu yang optimal bagi Bitcoin untuk membuktikan nilainya sebagai aset karena semua mata sedang memandangnya:

    “Kami melihat minat yang meningkat karena euforia terhadap halving Bitcoin, serta rekor volume pertukaran spot. Tinjauan Exchange pada bulan April, kami menemukan bahwa pada tangga 30 April 2020 lalu, terdapat volume spot tertinggi kedua dalam sejarah crypto.”

    AS mungkin berada di pusat badai keuangan, tetapi itu tidak berarti ekonomi negara lain tidak merasakan gejolak. Langkah-langkah pelonggaran kuantitatif seperti yang baru-baru ini diusulkan hingga mencapai $ 3 triliun telah menyebabkan mata uang seperti real Brasil, peso Meksiko dan rand Afrika Selatan mengalami penurunan lebih dari 20% dalam nilai terhadap dolar sejak awal krisis pandemi ini.

    Ketidakpastian setelah crash pertengahan Maret lalu juga mendorong Bitcoin menggantikan posisi yang secara historis diduduki oleh emas. Sementara pasar perlahan-lahan kembali pulih, banyak negara mengalami gelombang kedua krisis pandemi Covid-19, membuat jeda pada proses pemulihan.

    Baca juga: Bitcoin, Alternatif di Tengah Krisis Ekonomi

    Kembali pada Tahun 70-an?

    Seperti yang terjadi di tahun 1973, terdapat krisis minyak yang mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh pasar global. Pemerintahan, terutama di AS, menempuh cara pencetakan uang sebagai langkah untuk merangsang pasar bekerja. Lalu, perhatian lambat laun bergeser pada komoditas langka seperti emas karena investor ingin melindungi nilainya terhadap risiko kenaikan inflasi.

    Gambaran ketidakpastian cukup sesuai dengan kondisi saat ini, yang juga cocok dengan kondisi ekonomi tahun 1970-an. Tahun di mana AS mulai sepenuhnya mengabaikan standar emas, kemudian berakhir dengan tingkat inflasi tahunan 13,3% yang melumpuhkan negara itu, bahkan upah dan pertumbuhan ekonomi cenderung bergerak ke samping. Kombinasi pertumbuhan stagnan dan kenaikan inflasi, atau yang disebut “stagflasi” ini menjadikan emas pusat perhatian sebagai penyimpan nilai yang tahan inflasi.

    Melangkah ke keadaan sekarang, saat mata uang fiat bertambah pasokannya seiring juga dengan halving Bitcoin yang terjadi baru-baru ini, terdapat kekhawatiran inflasi akan mulai muncul lagi di pasaran. Maka dari itu, aset yang terbukti langka akan dianggap memiliki posisi yang baik. Mati Greenspan, seorang analis dan pendiri Quantum Economics, percaya bahwa mengikuti arah dari pelonggaran kuantitatif skala besar ini, Bitcoin akan dapat mempertahankan nilai masa depannya karena pasokannya yang langka:

    “Hal ini (Bitcoin) bertindak sebagai lindung nilai terhadap inflasi seperti emas dan perak. Jadi jika skenario pencetakan uang ini terjadi kemungkinan akan mendorong inflasi, sangat mungkin juga jika emas, perak, dan Bitcoin akan mempertahankan nilainya terhadap mata uang tersebut dan bertindak sebagai lindung nilai yang valid.”

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Diprediksi Melaju Hingga Rp700 Juta dalam 18 Bulan

    Bitcoin diprediksi melaju ke US$20-50 ribu (Rp300-700 juta per BTC) dalam waktu 18 bulan, akibat sentimen akan datangnya gelombang inflasi, kata Simon Peters dari eToro. Itu yang kelak membuat Bitcoin lebih bersinar.

    Penegasan lain datang dari para penghayat Bitcoin kelas dunia, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

    Kendati saat ini adalah masa resesi, inflasi belumlah terjadi, kendati sejumlah bank sentral di seluruh dunia menggelontorkan lebih banyak uang lagi ke dalam pasar.

    Inflasi bisa jadi tiba ketika pertumbuhan ekonomi mulai agak pulih dan uang-uang itu diserap kurang baik oleh pasar, bahkan ketika gelombang kredit macet di depan mata.

    Saat itulah Bitcoin, dengan pasokan terbatasnya, akan menjadi incaran, kata beberapa pendukung Bitcoin paling terkenal, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

    Argumen itu diletakkan pada Bitcoin Halving, sebuah mekanisme baku di blockchain Bitcoin yang memotong imbalan Bitcoin baru kepada para penambang. Bitcoin Halving III baru saja dimulai pada 12 Mei 2020 lalu, di mana imbalan kepada penambang berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Ketika bank sentral AS misalnya melakukan pelonggaran kuantitatif, maka Bitcoin melakukan hal sebaliknya, mengetatkan kuantitatif-nya. Kuantitatif dalam hal ini adalah jumlah unit nilai yang dikeluarkan dalam rentang waktu tertentu.

    Neraca Bank Sentral AS misalnya telah membengkak menjadi lebih dari US$6 triliun, sebagai akibat dari pembelian surat utang negara dan sekuritas yang dijamin oleh pemerintah. Ini sama halnya dengan menambah pasokan uang ke dalam pasar, namun tidak dalam waktu bersamaan. Diperkirakan neraca itu semakin jumbo hingga 50 persen dari produk domestik bruto AS pada akhir tahun ini.

    Hal senada juga dilakukan oleh Pemerintah AS melalui program stimulus lebih dari US$8 triliun untuk meredam tekanan hebat COVID-19.

    Bitcoin Lindung Nilai terhadap Inflasi

    Bitcoin mungkin secara kebetulan melaju di era resesi saat ini yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Itu juga yang mendorong orang melihat kembali keunggulan Bitcoin dibandingkan aset-aset lainnya, seperti emas.

    Namun, tidak sedikit juga yang menilai bahwa Bitcoin berfungsi dan bermanfaat serupa seperti emas, yaitu sebagai alat lindung nilai melawan inflasi.

    “Negara-negara lain akan terpaksa terus menerus menerbitkan uang yang banyak ke dalam pasar. Di saat yang bersamaan, nilai uang-uang itu akan terkikis drastis terhadap dolar AS yang juga semakin jumbo jumlahnya. Bitcoin yang kian langka karena terbatas pasokannya tampaknya akan menjadi alat lindung nilai yang sempurna untuk melawan inflasi bagi investor institusi,” kata Jean-Marie Mognetti, CEO CoinShares.

    Bitcoin Halving dimaksudkan untuk mencegah inflasi dengan bertindak untuk secara berkala memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru hingga 2140, agar tidak melampaui permintaan. Sekarang, pada Bitcoin Halving III ini sampai tahun 2024, laju inflasi Bitcoin hanya 1,80 persen per tahun.

    Paul Tudor Jones, Pendiri Tudor Investment Corp pada 12 Mei 2020 misalnya memastikan ia bertaruh cukup besar untuk membeli Bitcoin guna melawan inflasi yang akan datang.

    “Saya menyaksikan adanya inflasi moneter besar, sebuah kenaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang pernah saya lihat,” kata Jones kala itu.

    Menuju US$50 Ribu per BTC

    Simon Peters, Analis Senior di eToro lebih yakin akan hal itu dengan sebuah prediksi. Dia mengatakan Bitcoin berpotensi naik di kisaran US$20-50 ribu per BTC dalam 18 bulan.

    Kendati saat ini Bitcoin jauh di bawah US$19 ribuan per BTC (Desember 2017), terbukti tahun ini imbal hasilnya lebih baik daripada saham.

    Bitcoin telah menjadi salah satu kelas aset berkinerja terbaik tahun ini, mengumpulkan sekitar 30 persen menjadi US$9.500. Sedangkan Indeks saham S&P 500 telah turun 11 persen.

    Potensi Inflasi Uang Fiat

    Sejumlah pandangan kian menguatkan akan datangnya inflasi terhadap uang fiat alias uang yang diterbitkan oleh negara. Hal itu diamini oleh Morgan Stanley pada April lalu, walaupun pada Maret 2020 inflasi di AS melambat tajam. Namun, bank besar itu berpendapat bisa jadi akan ada percepatan inflasi di masa akan datang.

    Penegasan lainnya datang dari Deutsche Bank yang menjabarkan banyak kasus bahwa pandemi COVID-19 akan menyebabkan kembalinya inflasi di negara-negara maju. Masalahnya adalah kita tak pernah tahu kapan inflasi itu akan tiba dan banyak orang bersiap-siap membeli Bitcoin. [Bloomberg/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jangan kaget, Elon Musk beberkan jumlah bitcoin yang dimilikinya

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Elon Musk menjadi salah satu tokoh di dunia teknologi yang cukup banyak tingkah dan eksentrik.

    Sebut saja, mulai dari isap ganja di depan publik, berkicau ingin membuat Tesla menjadi perusahaan tertutup, hingga terakhir memberikan nama unik untuk putranya, yakni X Æ A-12.

    Kicauannya Musk di Twitter memang kerap mencuri perhatian. Baru-baru ini, ia juga membeberkan jumlah bitcoin yang dimiliki. Musk memamerkannya saat menjawab kicauan penulis Harry Potter, J.K Rowling.

    Baca Juga: Elon Musk Akhirnya Membuka Pandangannya Terhadap Bitcoin

    Mulanya, Rowling menanyakan apa itu bitcoin kepada wargnet di Twitter. Respons pun berdatangan untuk menjawab pertanyaan Rowling.

    Namun, penulis legendaris ini akhirnya menyerah memahami apa itu cyptocurrency. “Orang-orang menjelaskan apa itu Bitcoin, dan sejujurnya itu blah blah blah…”, tulis Rowling.

    Elon Musk pun ikut nimbrung. Secara esensi, ia mengatakan bahwa Bitcoin lebih kokoh dibanding uang tunai. Apalagi melihat kebijakan beberapa bank pusat seperti Federal Reserve, bank sentral Eropa, atau bank sentral Jepang baru-baru ini yang menerbitkan lebih banyak uang untuk mencegah goncangan ekonomi.

    Namun, pernyataan itu seakan bertolak belakang dengan jumlah bitcoin yang dimiliki Musk. “Ngomong-ngomong, saya cuma punya 0,25 Bitcoin,” tulisnya, melanjutkan twit sebelumnya.

    Nilai itu sekitar US$ 2.500 atau sekitar Rp 37 juta saat berita ini ditulis. Jumlah itu jauh dari total kekayaan Musk yang dilaporkan mencapai US$ 40 miliar (sekitar Rp 595 triliun).

    Balasan twit itu pun berdatangan. Salah satunya dari Tyler Winklevoss, CEO Gemini, salah satu perusahaan penukaran mata uang cryptocurrency di New York.

    Baca Juga: Awal halving day, harga bitcoin masih bergerak wajar

    “Lalu bagaimana kamu membayar untuk hidup di Mars,” responsnya terhadap twit Musk. Musk sendiri memang berambisi untuk menginisiasi kehidupan di planet Mars.

    Dirangkum KompasTekno dari Decrypt, Selasa (19/5), Musk awalnya memang tertarik dengan cryptocurrency. (Wahyunanda Kusuma Pertiwi)



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jumlah Perempuan pada Bidang Crypto dan Blockchain Meningkat Pesat di 2020

    Kepercayaan luas mengatakan sektor cryptocurrency dan blockchain hampir secara eksklusif didominasi oleh laki-laki. Namun, sebuah laporan yang dirilis oleh CoinMarketCap pada 30 April 2020 lalu mengatakan sebaliknya. Menurut analis tersebut, jumlah perempuan di industri cryptocurrency meningkat 43,24% pada kuartal pertama 2020.

    Berikut perincian faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap pertumbuhan rekor ini dan mengapa jumlahnya bervariasi dari satu daerah ke daerah lain.

    Perempuan Berinvestasi Lebih Banyak dalam Bitcoin

    Sebuah studi yang diterbitkan pada bulan Desember 2019 lalu oleh sebuah operator pendanaan Bitcoin (BTC), Grayscale menunjukkan 43% investor yang tertarik pada Bitcoin adalah perempuan – naik dari 13% dari tahun sebelumnya – dan jumlah ini terus bertumbuh dengan aktif hingga saat ini.

    Ketika kondisi keuangan global semakin menyesakkan, banyak orang mulai berinvestasi dalam real estat, emas, dan mata uang digital. Dengan asumsi bahwa perempuan cenderung lebih pesimis daripada laki-laki tentang ekonomi global, kepercayaan mereka pada mata uang digital justru meningkat secara signifikan pada tahun 2020. Dengan demikian, banyak perempuan menemukan tempat yang aman dengan aset digital ini.

    Berbeda dengan yang lain, cryptocurrency menjadi investasi yang menjanjikan. Pengusaha Blockchain Nisa Amoils menunjukan ada peluang investasi yang menarik dari pasar sebagai salah satu alasan utama di balik meningkatnya minat perempuan terhadap uang digital, seperti dilansir dari Cointelegraph, ia mengatakan:

    “Perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pendapatan melalui perdagangan, investasi, dan pengeluaran virtual dengan Bitcoin. Serta token economy dapat mendemokan akses ke modal melalui, misalnya, penawaran token keamanan.”

    Banyak platform perdagangan telah melihat peningkatan permintaan cryptocurrency. Sebagai contoh, pada bulan Maret lalu, pertukaran mata uang digital Coinbase mencatat lonjakan simpanan yang dibuat oleh penduduk AS dalam jumlah $ 1200, ukuran yang sama persis dengan cek stimulus virus korona yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat.

    Pada saat yang sama, Bitcoin telah berlipat ganda nilainya selama dua bulan terakhir, hal ini ditambah dengan peristiwa halving yang terakhir, yang telah menyebabkan kehebohan di seputar industri cryptocurrency. Di sini, perempuan sama kompetennya dengan laki-laki. Secara khusus, menurut Grayscale, 49,8% perempuan memperkirakan emisi terbatas Bitcoin akan mengarah pada pertumbuhan harganya di masa depan.

    Baca juga: 43 Persen Perempuan di AS Tertarik dengan Bitcoin

    Trading Crypto Bukan “Klub untuk Laki-laki”

    Pertumbuhan harga Bitcoin serta daya tarik investasi uang digital secara umum telah berkontribusi pada peningkatan jumlah perempuan dalam pertukaran mata uang kripto ini. Misalnya saja, seperti yang dilansir Cointelegraph pertukaran cryptocurrency Bithumb Global melaporkan bahwa perusahaannya mengalami pertumbuhan 30% dalam jumlah pengguna perempuan pada tahun 2020. Wakil presidennya Vincent Poon menjelaskan perempuan saat ini menggunakan uang digital untuk lindung nilai dana mereka, meskipun tidak semua berdagang secara proaktif:

    “Saya pikir perempuan biasanya kurang terlihat ketika dikaitkan dengan investasi Bitcoin karena mengacu pada bagian teknisnya dan volatilitas Bitcoin. Saya pikir mereka hanya mencoba untuk mendiversifikasi atau melindungi portofolio mereka dan mulai melihat Bitcoin sebagai investasi alternatif karena hilangnya kepercayaan mereka pada sekuritas atau ekonomi tradisional lain secara keseluruhan selama pandemi ini. Lebih banyak perempuan membuka akun tetapi belum mengikuti aktivitas berdagang. Mereka sedang dalam tahap menjelajah.”

    Cointelegraph menemumkan jumlah pengguna perempuan telah bertumbuh antara 22% hingga 160% di sebagian besar pertukaran crypto teratas sejak awal tahun. Khususnya, pada pertukaran aset digital CEX.io dan EXMO yang melihat peningkatan yang sama dalam jumlah pengguna perempuan seperti pada Bithumb Global.

    Alexander Kravets, CEO CEX.io, berbagi statistik terbaru, “Sebagai bagian dari basis pengguna kami secara keseluruhan, CEX.IO telah melihat pertumbuhan 26,86% dari segmen pengguna wanita dari Q1 ke Q2 2020.” Maria Stankevich, kepala pengembangan bisnis di EXMO, mengatakan kepada Cointelegraph bahwa pertumbuhan terbesar terjadi pada jumlah perempuan yang berusia antara 18-24 dan 35-44 tahun. Ia juga menambahkan:

    “Kami memperhatikan terkadang anggota keluarga trader VIP lainnya mulai melakukan trading. Mungkin hal itu terkait juga dengan fakta, keinginan mereka dalam mendapatkan beberapa keterampilan baru.”

    Baca Juga: Likuiditas Kunci Bagi Kemajuan Pasar Crypto

    CoinCorner, pertukaran crypto yang berbasis di Inggris mengungkapkan pangsa perempuan di dalam pasar di antara penggunanya sekarang mencapai 14,7%, dengan peningkatan sebesar 47% dalam jumlah pendaftaran perempuan yang terjadi pada Kuartal Pertama 2020. Joanne Goldy, spesialis pemasaran di CoinCorner, memberikan komentar terkait hal tersebut, “Dalam lima tahun pertama di CoinCorner, kami melihat minat yang terbatas dari khalayak perempuan, tetapi pendaftaran perlahan terus naik dari 10% menjadi 14% selama periode tersebut.”

    Sementara itu, OKCoin melaporkan gelombang masuk pengguna perempuan yang lebih tinggi pada layanannya. Hong Fang, CEO dari pertukaran tersebut, mengatakan bahwa ada peningkatan sekitar 80% dalam lalu lintas pengguna perempuan pada Kuartal Pertama 2020, dengan 50% dari pengguna perempuan ini menjadi pengguna baru jaringan. Dia menambahkan bahwa 40% dari mereka berusia sekitar 25 hingga 34 tahun.

    Jika melihat peningkatan yang sangat, itu ada pada Bitfinex. Pertukaran tersebut berhasil mencatat rekor tingkat pertumbuhan pengguna perempuan baru mencapai 162% hanya sepanjang tahun ini saja. Joe Morgan, manajer hubungan masyarakat senior bursa, mengatakan

    “Pertumbuhan ini jelas menunjukkan minat yang meningkat pada aset digital di kalangan perempuan. Alasan mengapa perempuan memilih untuk membuat akun pada platform Bitfinex, mungkin ini dapat dikaitkan dengan sifat bisnis yang beragam dan juga inklusif. ”

    Cryptocurrency Menjadi Mudah Digunakan

    Pengadopsian teknologi blockchain dan cryptocurrency yang lambat tetapi stabil juga dapat berkontribusi pada meningkatnya jumlah perempuan yang ingin terlibat langsung dengan inovasi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pada bulan Maret, platform keuangan 2gether mengungkapkan 23% pengguna aplikasi mereka adalah perempuan berusia antara 26 hingga 45 tahun dengan berbagai profesi misalnya akuntan, pengacara, dan ekonom. Seperti yang ditunjukkan dalam laporan, pengguna perempuan saat ini menggunakan cryptocurrency dengan cara yang sama seperti mereka menggunakan uang fiat.

    Selain itu, Terra sebuah operator pembayaran crypto lainnya menunjukkan sebuah laporan bahwa 74% penggunanya adalah perempuan berusia akhir 30-an dan awal 40-an yang membayar dengan aset digital untuk misalnya pakaian, kopi, dan barang sehari-hari lainnya. Statistik juga menunjukkan, tidak hanya perempuan yang berusia milenial dan geek tetapi juga mereka yang tidak memiliki keahlian teknis atau pengetahuan dasar mulai menggunakan cryptocurrency.

    Faktor Geografis

    Data CoinMarketCap menunjukkan keterlibatan perempuan dalam industri kripto juga dapat bergantung pada faktor geografis. Sebagai contoh, jumlah pengguna cryptocurrency di AS dan Eropa, daerah yang tingkat permintaannya tinggi pada uang digital, meningkat sebesar 50% sejak awal tahun. Tren ini juga telah dibuktikan oleh statistik yang dirilis oleh 2gether, mengungkapkan bahwa perempuan Eropa yang menggunakan mata uang digital sebagian besar adalah kaum milenial dan Gen Xers yang berusia antara 26 hingga 45 tahun.

    Pada saat yang sama, menurut CoinMarketCap beberapa negara menunjukkan peningkatan lebih dari 100% pada jumlah pengguna crypto perempuan. Di Eropa misalnya Yunani paling menonjol dengan rekor pertumbuhan hingga 163,67%. Nikolaos Kostopoulos, petugas adopsi pasar dan kemitraan di Harmony, mencatat faktor ekonomi dan tenaga kerja sebagai alasan utama di balik meningkatnya jumlah perempuan di pasar crypto Yunani, mengatakan:

    “Ekonomi Yunani menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang stabil (pasca krisis pandemi), sementara pasar lowongan kerja juga berkembang. Gelombang baru profesional muda ini secara aktif mencari media-media yang dapat mengidentifikasi sebuah investasi alternatif. […] Demikian pula, blockchain adalah salah satu bidang dengan permintaan tinggi, selaras juga dengan perusahaan konsultan dan TI. Industri TI Yunani juga mengalami kenaikan jumlah perempuan yang aktif bergabung, dengan tren yang juga sama pada institusi di bidang teknik.”

    Untuk jumlah perempuan-perempuan yang sudah bergabung pada ruang crypto, ada Rumania dengan 125,09% yang menyusul Yunani, diikuti juga oleh Portugal dengan 89,95%, Ukraina dengan 86,68% dan Republik Ceko dengan 85,6%. Di beberapa negara ini, pertumbuhan dapat dikaitkan dengan faktor ekonomi seperti produk domestik bruto yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi, sementara pembangunan aktif di sektor IT juga merupakan pendorong utama pada negara-negara lain.

    Alyona Karpinskaya, CEO dan pendiri agensi hubungan masyarakat PR-Blockchain yang berbasis di Ukraina menyatakan adanya peningkatan tajam dalam minat pengguna perempuan di Ukraina dalam cryptocurrency dapat dikaitkan dengan peningkatan jumlah perusahaan IT dan perempuan yang berlatar belakang pendidikan teknologi di negara tersebut. “Menurut data tahun 2019, jumlah perempuan yang bekerja di sektor TI Ukraina meningkat sebesar 62% dibandingkan dengan 2017,” ujarnya. Ia juga menambahkan, krisis finansial global juga bisa menjadi kontribusi terhadap arus ini.

    “Karena pandemi COVID-19 dan karantina global, lebih dari 53% perusahaan IT Ukraina kehilangan pelanggan, yang akan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan dan kebutuhan spesialis untuk mencari peluang keuangan alternatif.”

    Dalam hal pengguna crypto perempuan-perempuan di negara-negara Asia, seperti Indonesia menunjukkan kemajuan terbesar, dengan peningkatan 88,92% dalam jumlah pengguna perempuan yang tertarik pada uang digital. Lalu di Korea Selatan, negara yang membuat langkah besar menuju legalisasi kripto, pengguna perempuan pada tahun 2020 dilaporkan menghabiskan lebih banyak crypto untuk berbelanja daripada penggunaan sebelumnya.

    Baca juga: 9 Negara ini Menunjukkan Tingkat Minat yang Besar pada Cryptocurrency

    Sementara itu, di Amerika Latin, Argentina tampaknya menjadi negara yang membuat langkah terbesar dalam keterlibatan perempuan di industri teknologi digital ini, dengan peningkatan sebesar 98% dalam jumlah pemegang cryptocurrency perempuan. Walter Salama, pendiri dan kepala operasi perusahaan pertambangan BitPatagonia yang berbasis di Argentina, mencatat semakin banyak perempuan Argentina yang terlibat dalam sektor TI sebagai salah satu alasan di balik lonjakan ini:

    “Argentina berada di posisi yang luar biasa mengenai kewirausahaan di dunia dan juga rasio unicorn berdasarkan negara. Perempuan dari generasi ini (yang berusia 65+) menjadi pemimpin di banyak bdiang usaha. (…) Terkait dengan ekosistem Blockchain dan Cryptocurrency, di Argentina sendiri ada banyak perempuan yang berinvestasi dalam proyek dan pengadopsian awal Bitcoin. “

    Dua negara Amerika Latin lainnya menunjukkan peningkatan terbesar terkait jumlah pengguna perempuan di industri crypto adalah Kolombia dengan 82,03% dan Venezuela dengan 80,23%. Alasan di balik pertumbuhan ini kemungkinan adalah inflasi tinggi, pembatasan transaksi valuta asing dan kurangnya kepercayaan masyarakat lokal terhadap mata uang nasional.

    Pada saat yang sama, Afrika dan Cina menunjukkan tren negatif terkait jumlah perempuan yang tertarik pada cryptocurrency, catatan terakhir melaporkan adanya penurunan yang signifikan dalam tingkat pertumbuhan pengguna perempuan pada tahun 2020. Analis menghubungkan hal ini dengan pandemi virus corona dan sikap negatif pemerintah Tiongkok terhadap uang digital.

    Contoh Sukses Perempuan dan Kesetaraan Gender

    Di dunia cryptocurrency, ada lebih banyak perempuan yang tidak hanya trading menggunakan uang digital tetapi juga memasuki peran yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki, misalnya menjadi seorang analis, pengembang dan pemimpin perusahaan. Pada saat yang sama, statistik menunjukkan perusahaan-perusahaan blockchain yang didirikan oleh perempuan dapat bersaing secara handal dengan yang dijalankan oleh laki-laki.

    Perusahaan crypto besar seperti Bancor dan Binance adalah contoh nyata akan hal ini. Perusahaan-perusahaan ini sebelumnya didirikan oleh Galia Benartzi dan keduanya memiliki lebih dari 40% hingga 50% karyawan perempuan. Pertukaran crypto lainnya, Huobi yang memiliki lebih dari 1.300 karyawan, menunjuk Ciara Sun sebagai eksekutif wanita pertama perusahaan.

    Semakin banyak perwakilan perempuan datang ke pasar crypto mengikuti contoh sukses perempuan lainnya, menurut Hong Fang dari OKCoin. Dia berkata: “Kami melihat lebih banyak pendiri startup dan pemimpin perempuan memasuki industri crypto. Tentu ini berdampak positif untuk menarik lebih banyak pengguna perempuan pada platform crypto. ”

    Semakin banyak peserta dan pembicara perempuan di konferensi crypto adalah bukti nyata akan hal ini. Christophe Ozcan, penyelenggara KTT Blockchain Paris, mengatakan jumlah wanita yang berpartisipasi dalam konferensi meningkat dua kali lipat selama setahun terakhir:

    “Kami telah menunjukkan pada acara kami sebelumnya di Paris Blockchain Summit peserta perempuan tumbuh sebesar 56% dan 22% lainnya sebagai Pembicara. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan edisi pertama kami pada 2018.”

    Ozcan juga menambahkan, usia rata-rata peserta perempuan ada dikisaran 33 tahun, hal ini berarti peserta yang lebih dewasa lebih tertarik pada cryptocurrency. Tren ini juga dikonfirmasi oleh Eman Pulis, CEO Malta AI & Blockchain Summit, yang mencatat tingkat ketidaksetaraan jender yang rendah di sektor cryptocurrency: “Partisipasi perempuan pada semua tingkatan pada Emerging Tech membuat berita yang sangat menggembirakan, baik dalam hal kuantitas dan kualitas, delegasi yang terlibat dan para pembicara memberi sebuah pencerahan (terkait hal ini).”

    Alyona Karpinskaya setuju, berkurangnya diskriminasi gender juga merupakan faktor pendorong pertumbuhan jumlah perempuan yang terlibat dalam kegiatan mata uang kripto. Oleh karena itu, tahun 2020 ini tampaknya dapat menjadi tahun untuk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Jarred Thomas, manajer operasi di pertukaran cryptocurrency OKEx, membagikan pendapatnya:

    “Selama beberapa tahun terakhir, lebih banyak perempuan melangkah di ruang crypto. Terlebih lagi, mereka menunjukkan keunikan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka dalam crypto melalui kontribusi luar biasa mereka kepada industri ini.”

    Namun, pertanyaannya tetap untuk menggambarkan semua ini adalah Akankah perempuan yang baru saja memasuki pasar cryptocurrency secara efektif ikut berpartisipasi pada ruang ini? Hsin-Ju Chuang dari Dystopia Labs mendidik orang-orang mengenai blockchain, menjelaskan alasan mengapa lonjakan jumlah perempuan di industri ini tidak selalu berarti mereka akan menjadi pengguna kripto profesional. Chuang juga mencatat pentingnya pemberian pengetahuan lebih lanjut mengenai hal-hal terkait:

    “Sekarang ada lebih banyak perempuan pada puncak menara, apakah sebuah organisasi pendidikan mampu (dan secara aktif berusaha) menjangkau mereka, mendidik, dan membawa mereka lebih dalam ke angkasa? Atau bisa dikatakan mengubah mereka dari yang hanya spekulan menjadi peserta jaringan yang aktif? “

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Belum melonjak signifikan di awal halving day, Bitcoin bisa diburu mulai sekarang

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sepekan sudah memasuki periode halving day, pergerakan harga bitcoin cenderung stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Meskipun begitu, awal Kamis 7 Mei 2020 harga bitcoin sempat menyentuh level harga di US$ 10.000 per btc.

    Christopher Tahir Co-founder CryptoWatch mengatakan, pergerakan harga bitcoin sepekan terakhir masih bergerak wajar. Hal ini karena kondisi pelaku pasar yang masih menganut buy on rumour, sell on news.

    “Artinya, orang-orang cenderung akan membeli (bicoin) sebelum halving day dan melakukan aksi pasca-halving,” ujar Chris kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5).

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    Chris memprediksi pergerakan bitcoin akan cenderung mengalami akumulasi yang panjang sebelum adanya potensi kenaikan di 2021. Bahkan, di tahun depan dia menilai pergerakan harga bitcoin sangat memungkinkan untuk menyentuh level US$ 100.000 per btc, dengan catatan percepatan kenaikan hanya sepertiga dari level sebelumnya.

    Adapun untuk tahun ini, harga bitcoin diperkirakan tidak akan bergerak terlalu jauh dengan target akhir tahun berada di level US$ 20.000 per btc. Christopher mengungkapkan bahwa level tersebut setara dengan level tertinggi yang pernah dicapai akhir 2017 lalu.

    Tahun ini kondisi ekonomi global tengah terancam krisis. Pemicunya adalah penyebaran virus corona atau Covid-19. Dampak dari sentimen tersebut juga membuat banyaknya usaha mikro kecil menengah (UMKM) tutup, angka pengangguran meningkat.

    Baca Juga: Meski trennya naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

    “Meskipun begitu, peluang inflow ke bitcoin semakin terbuka, karena bitcoin saat ini sudah dianggap sebagai salah satu kendaraan investasi,” jelasnya.

    Dengan begitu, Chris merekomendasikan pelaku pasar untuk mulai berburu bitcoin dengann akumulasi beli dan menambah porsi portofolio bitcoin. Caranya, bisa masuk dengan metode dollar cost averaging alias beli cicil.

    “Sehingga, apabila mengikuti pola sebelumnya dimana harga naik di tahun setelah tahun halving, maka posisi yang dibeli tahun ini bisa menjadi posisi yang menguntungkan,” imbuh Chris.

    Baca Juga: Tren harga naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

    Chris memperhitungkan, untuk jangka yang lebih panjang momentum halving day memungkinkan untuk mendorong harga bitcoin naik ke level US$ 107,883 per btc atau sebanyak 2.935%. Sebagai informasi, sepanjang Mei 2020 harga bitcoin sudah menanjak sebanyak 10,02% dari level US$ 8.624 per btc pada 30 April menjadi US$ 9.488 per btc. Sedangkan dalam sepakan terakhir, kenaikan harga bitcoin tercatat sebanyak10,31% dari level 11 Mei yakni US$ 8.601 per btc.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penegasan Bank Sentral AS: Kami Mencetak Dolar AS Secara Digital

    Jerome Powell, Kepala Bank Sentral AS alias The Fed mengatakan di program 60 Minutes, bahwa mereka secara kelembagaan mencetak dolar secara digital, demi menyelamatkan ekonomi AS yang terdampak COVID-19.

    Sebenarnya pernyataan bank sentral itu adalah yang kesekian kalinya sejak Maret 2020. Hanya saja pernyataan Powell ini adalah penegasan dan memiliki kaitan erat dengan harapan kenaikan harga bentuk investasi lainnya, seperti emas dan Bitcoin.

    “Sebagai bank sentral, kami memiliki kemampuan mencetak/menerbitkan uang dolar AS secara digital. Caranya adalah kami membeli surat utang negara (obligasi) dan sejumlah sekuritas (saham) yang dijamin oleh pemerintah. Dan itu benar-benar menambah jumlah uang dolar AS yang beredar. Kami juga mencetak uang dolar fisik dan mendistribusikannya,” kata Powell.

    Disebut sebagai kebijakan moneter, bank sentral memang memiliki kemampuan seperti itu pada kondisi-kondisi mendesak. Dengan menambahkan uang ke dalam ekonomi, diharapkan bisa menstimulus gerak ekonomi yang padam akibat pandemi COVID-19.

    Masalahnya adalah, jikalau uang baru itu tidak digunakan secara baik, maka berpotensi menimbulkan inflasi atau malah hiperinflasi.

    Ini yang mengakibatkan kemerosotan ekonomi lebih lanjut dan membuat uang tidak memiliki nilai dan harga barang dan jasa menjadi tinggi.

    Jika fiat money alias uang yang diterbitkan oleh negara menganut pelonggaran kuantitatif seperti itu, maka Bitcoin berlaku sebaliknya, yakni pengetatan kuantitatif.

    Bitcoin secara baku dibuat menjadi langka setiap 210.000 block atau setara 4 tahun sekali, yang disebut Bitcoin Halving.

    Sejak 12 Mei 2020 lalu sampai tahun 2024 adalah Bitcoin Halving III, di mana imbalan terhadap penambang berkurang separuh dari 12,5 BTC per block menjadi 6,25 BTC per block. Itu yang sekaligus memperlambat laju pasokan Bitcoin ke dalam pasar melalui penambang, yakni hanya 900 BTC baru setiap hari. Inflasi juga berkurang menjadi 1,8 persen per tahun.

    Namun, apakah dalam jangka panjang Bitcoin bisa menjadi raja investasi luar biasa menghadapai uang fiat bahkan emas, tidak seorang pun tahu.

    Lagipula Bitcoin belum sanggup kembali ke US$13.000 per BTC seperti pada 2019 lalu, bahkan belum juga pulih melebih US$19 ribu seperti pada Desember 2017. Dalam moment masuk ke Bitcoin Halving pada 12 Mei 2020 lalu saja, Bitcoin enggan masuk ke level US$10ribu.

    Pulih Sangat Lama

    Di kesempatan yang sama, Powell juga mengatakan bahwa ekonomi bisa pulih pada akhir tahun 201 atau ketika vaksin COVID-19 yang efektif sudah ditemukan.

    Namun, Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff, ekonom dari Universitas Harvard mengatakan kepada Bloomberg, pemulihan tidak akan berlangsung secepat itu.

    “Memang kita berharap pemulihan berbentuk grafik V, sehingga kehidupan menjadi normal sebelum ada pandemi. Namun, dalam pandangan kami tidak satu pun dari itu yang mungkin benar,” kata Reinhart.

    Mengapa? Sebab COVID-19 telah menghancurkan rantai perdagangan dan pasokan produk secara global. Dan itu akan memakan waktu lama bagi perusahaan untuk berbenah, katanya Reinhart.

    “Mungkin saja akan terjadi gesekan sosial yang fenomenal dari situasi ini. Pun secara grafik, pemulihan akan terjadi dalam bentuk huruf U, bukan V. Sulit mengatakan kapan AS bisa kembali ke PDB 2019 per kapita. Namun, melihat situasi terkini, kita akan pulih 5 tahun lagi, kata Rogoff. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Bitcoin Cs Memang Bergejolak, Tetapi Tumbuh Baik

    Perusahaan modal ventura, Andreessen Horowitz melihat memandang pasar Bitcoin Cs (aset kripto) memang bergejolak, tetapi tumbuh baik dan konsisten dalam beberapa tahun terakhir, berdasarkan empat ukuran utama.

    Empat ukuran itu adalah pertumbuhan wacana di masa lalu di media sosial, pengembang (developer) platform blockchain dan aplikasinya, harga dan perusahaan rintisan (startup company). Inilah yang disebut perusahaan sebaga siklus kripto, yang menguntungkan bagi investor di masa depan.

    Pernyataan itu dituangkan dalam satu laporan pada 15 Mei 2020 lalu, bahwa siklus aset kripto, memuncak pada 2010, 2013 dan 2017.

    Kata mereka, tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) dari 2010 hingga saat ini menunjukkan adanya “ombak”, namun tumbuh konsisten dalam semua ukuran utama itu.

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    “Siklus tahun 2017 melahirkan puluhan proyek menarik di berbagai bidang termasuk pembayaran, keuangan, game, infrastruktur dan aplikasi web,” sebut perusahaan.

    Andreessen Horowitz mencatat bahwa ide-ide inovatif yang didorong dalam siklus terbaru memiliki potensi untuk menciptakan “siklus kripto keempat”, yang, jika konsisten, dapat melihat peningkatan yang sebanding dalam media sosial, pengembang dan aktivitas startup dan mendorong kenaikan harga Bitcoin.

    Baca Juga: Harga Bitcoin dan Emas Melonjak, Setelah The Fed Yakin Ekonomi AS Masih Loyo

    “Walapun siklus itu terkesan kacau, namun dalam jangka panjang mereka telah menghasilkan pertumbuhan yang stabil, mulai dari ide-ide baru, coding, proyek dan startup, sebagai penggerak dasar inovasi perangkat lunak. Teknologi dan pengusaha akan terus mendorong aset kripto menjadi lebih baik pada di tahun-tahun mendatang. Kami senang melihat apa yang mereka bangun,” jelas perusahaan.

    Andreessen Horowitz memang getol berinvestasi di sejumlah perusahaan terkait teknologi blockchain dan aset kripto. Di antaranya adalah sebagai anggota pendiri Libra Association, yang menggalang proyek blockchain dan aset kripto Libra, yang dikomandoi oleh Facebook.

    Selain itu mereka berinvestasi di bursa aset kripto Coinbase, Dapper, Maker dan lain sebagainya. Sejumlah portofolio Andreessen Horowitz lainnya banyak dibeli oleh perusahaan lain, di antara Skype (Micorosoft), Facebook, Github (Microsoft), Instagram (Facebook) dan lain-lain. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Likuiditas Kunci Bagi Kemajuan Pasar Crypto

    Dalam dunia cryptocurrency, likuiditas memiliki peranan penting tetapi terkait bagaimana cara mengukur tingkat likuiditas tersebut masih sangat bervariasi.

    Di mana, ketika perekonomian sedang dalam keadaan tidak baik, banyak investor dan perusahaan yang telah melakukan evaluasi untuk menimbang-nimbang dampak yang akan ditimbulkan dalam jangka pendek – jangka panjang saat terjadinya ketidakpastiaan ekonomi seperti saat ini.

    Sehingga, faktor likuditas sangat penting untuk saat ini di mana banyak investor atau perusahaan sedang membutuhkan sebuah aset yang mudah untuk diperdagangkan untuk memperoleh tambahan dana dalam bentuk uang tunai.

    Oleh karena itu, tak jarang banyak investor yang lebih memilih berinvestasi ke jenis intrumen investasi yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, salah satu produk investasi tersebut adalah emas.

    Baca Juga: 9 Negara ini Menunjukkan Peningkatan Minat yang Besar pada Cryptocurrency

    Hal ini juga menjadi tantangan bagi pasar crypto, karena adanya anggapan bahwa pasar crypto hanya dikuasai oleh segelintir investor saja. Sehingga, tingkat likuditas dalam perdagangan aset crypto menjadi dipertanyakan yang membuat pasar crypto tersebut menjadi tidak sehat.

    Hal ini disebabkan hanya volume perdagangannya saja yang tinggi, namun kecepatan transaksi perdagangan untuk jual-beli masih dianggap masih kurang. Hal ini dikarenakan belum seimbangnya antara tingkat permintaan dan penawaran yang terjadi di sebuah cryptocurrency exchange.

    Jadi, salah satu faktor yang menjadikan sebuah cryptocurrency exchange itu bisa dianggap sehat adalah ketika pasar crypto tersebut sangat likuid. Di mana, ada banyak penjual dan pembeli yang saling bertransaksi. Hal ini membuat pihak investor mendapatkan hasil keuntungan yang lebih maksimal dengan biaya transaksi yang rendah pula.

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    Namun, bila pasar crypto tersebut tidak likuid, pihak investor akan sulit untuk mencetak keuntungan dari transaksi jual-beli aset crypto mereka. Apalagi, biaya transaksi yang dibebankan kepada investor juga terbilang tinggi dibanding pasar crypto yang likuid.

    Belum lagi, ada sejumlah cryptocurrency exchange yang tidak bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu kustodian. Hal ini juga membuat pihak investor yang berasal institusi enggan atau ragu untuk berinvestasi di sana. Karena, mereka harus bertanggung jawab atas dana yang diinvestasikan tersebut.

    Sehingga, mereka tahu bahwa uang yang diinvestasikan tersebut memang benar-benar ada. Pasar crypto yang tidak bekerja sama dengan kustodian sulit untuk menciptakan pasar yang likuid, berbeda halnya dengan pasar crypto yang menjalin kerjsama dengan kustodian lebih memiliki tingkat likuiditas yang lebih tinggi.

    Walaupun saat ini sudah banyak bermunculan layanan crypto non kustodian, namun tetap saja belum memberikan dampak besar dari sisi peningkatan likuiditas dalam pasar crypto.

    Blockchain sebagai teknologi masa depan bagi keuangan di dunia, seperti diketahui mampu mengubah mekanisme perdagangan bursa saham Australia dengan perdagangan yang bisa dilakukan secara real-time bisa menjadi kuncinya.

    Namun, hal-hal lain pun perlu juga diperhatikan seperti masalah keamanan bagi pihak investor dan lain sebagainya seperti tidak  mengkesampingkan layanan pihak ketiga (kustodian) untuk menjamin aset investor secara aman.

    Sehingga, cryptocurrency exchange mampu menciptakan pasar crypto yang sehat bagi penjual dan pembeli crypto. Tak menutup kemungkinan, di masa depan bursa crypto bisa sebesar bursa-bursa perdagangan aset-aset lainnya seperti forex dan saham.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com