Category Archives: Domestik

Ini Tempat Keramat yang Didatangi 16 Peziarah Hilang di Gunung Pangrango



Cianjur

16 Peziarah dilaporkan hilang di Gunung Pangrango, namun sudah ditemukan tim SAR. Mereka bukan pendaki, tapi warga biasa yang ziarah ke Patilasan Suryakencana.

Patilasan Raden Suryakencana atau Eyang Suryakencana itu berada di kawasan Kulah Dua, Gunung Pangrango. Mereka menempuh perjalanan belasan jam berjalan kaki demi berziarah ke tempat yang konon keramat itu.

“Dugaan kami, mereka peziarah karena masyarakat lokal. Banyak masyarakat lokal punya kepercayaan ada yang bersemedi, nyari wangsit gitulah. Niat mau pulang kemalaman akhirnya tersesat. Jam 10.00 lebih sudah ditemukan,” kata Kapolsek Ciawi, Kompol Agus Hidayat, Senin (29/1).


Budayawan Cianjur, Luki Muharam mengatakan, Raden Suryakencana atau Eyang Suryakencana merupakan sosok gaib yang dipercaya bersemayam di Gunung Gede Pangrango, tepatnya di alun-alun Suryakencana.

Berdasarkan mitos yang beredar di masyarakat kaki Gunung Gede Pangrango, terutama warga Cianjur, sosok Raden Suryakencana merupakan anak dari pernikahan Raden Aria Wira Tanu atau yang lebih dikenal Dalem Cikundul (Pendiri Cianjur) dengan seorang Dewi Arum Sari.

“Dari pernikahan Dalem Cikundul lahir beberapa anak. Ada yang menyebutkan dua, ada punya yang mengatakan lebih. tapi yang lebih dikenal dua, yakni Raden Suryakencana dan Sukaesih,” kata Luki, Selasa (30/1/2024).

Oleh sang kakek yakni Syeh Zubaedi, Raden Eyang Suryakencana ditempatkan di Gunung Gede Pangrango. Sedangkan adiknya, ditempatkan di Gunung Ciremai.

Eyang Suryakencana pun disebut-sebut memiliki istana gaib di Alun-alun Suryakencana Gunung Gede Pangrango.

“Nama singgasananya ialah Leuit Salawe Jajar, berupa tempat penyimpanan padi yang berjejer dan terdapat istana juga di sana. Kalau kebetulan, bisa melihat istana gaib tersebut,” kata dia.

Menurut Luki, sosok Raden Suryakencana begitu dihormati oleh masyarakat Cianjur.

“Bahkan dalam setiap event besar di Cianjur pun dipercaya sosok tersebut kerap hadir. Bahkan karena keberadaannya, Gunung Gede Pangrango pun dianggap sakral,” kata dia.

Dia menambahkan banyak tempat yang dianggap sebagai patilasan Raden Suryakencana di kawasan Gunung Gede Pangrango.

“Ada 17 lokasi yang disebut sebagai patilasannya. Kalau makam jelas tidak ada, karena kan sosoknya juga bukan manusia,” kata dia.

Namun, dia berharap dengan keberadaannya masyarakat tidak melakukan hal negatif.

“Kita hormati keberadaannya, apalagi setiap cerita atau babad Cianjur sosok Raden Suryakencana kerap muncul dan diceritakan. Tapi jangan sampai mengarah hal negatif,” pungkasnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Apakah Batu Malin Kundang Itu Asli atau Tidak?



Padang

Berlokasi di pantai Air Manis, Padang ada batu berbentuk manusia yang sedang bersujud. Konon, batu itu adalah sosok Malin Kundang yang dikutuk ibunya. Benarkah?

Batu yang dipercaya berkaitan dengan legenda Malin Kundang itu menarik perhatian wisatawan. Kawasan Pantai Air Manis pun ramai didatangi orang-orang yang penasaran dengan bentuk batu legendaris tersebut.

Mereka pun penasaran dengan keaslian batu Malin Kundang. Ternyata, ada sejumlah fakta yang berkaitan dengan legenda Malin Kundang.


1. Kisah Malin Kundang Hanya Cerita Rakyat

Dari buku Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau oleh Edwar Djamaris, cerita tentang Malin Kundang merupakan legenda dalam sastra rakyat di kalangan masyarakat Minangkabau. Meski begitu, kisah ini telah dikenal di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kisah mengenai Malin Kundang juga pernah diolah menjadi beberapa seri cerita, seperti oleh Hamdanputera. Juga yang ditulis oleh sastrawan bernama Navis pada 1994 dalam buku Cerita Rakyat dari Sumatra Barat dengan judul Malin Kundang.

Cerita Malin Kundang diperdengarkan turun-menurun lantaran ada pesan moral yang bisa diambil, yakni agar anak bisa menghormati, berbakti, dan menghargai orang tuanya. Selain itu, menjadi contoh supaya anak tidak durhaka dan melawan terhadap orang tuanya.

2. Keaslian Batu Malin Kundang Menuai Pro Kontra

Walaupun cerita Malin Kundang adalah legenda semata, tapi sebagian orang meyakini batu Malin Kundang yang ada di pinggiran Pantai Air Manis sebagai bukti nyata dari cerita rakyat itu.

Dengan kata lain, kisah Malin Kundang benar merupakan kisah sungguhan yang pernah ada di zaman dahulu. Dan salah satu bukti benar terjadinya adalah dengan adanya perwujudan dari batu Malin Kundang.

Di sisi lain, ada juga yang meyakini kalau cerita Malin Kundang hanyalah cerita rakyat. Adapun batu yang menyerupai manusia sedang bersujud di tepi pantai itu bukanlah sosok Malin Kundang yang berubah jadi batu.

3. Batu Malin Kundang Ternyata Buatan Manusia

Mengutip berbagai sumber, batu yang dipercaya sebagai tubuh Malin Kundang yang membatu di Pantai Air Manis adalah hasil buatan manusia. Pembuatnya adalah Dasril Bayras dan Ibenzani Usman.

Keduanya membuat wujud batu yang berasal dari legenda terkenal di masyarakat setempat itu agar menarik perhatian orang-orang sehingga bisa berkunjung ke kawasan tersebut.

4. Ada Batu yang Berbentuk Lain

Selain batu seperti orang bersujud, ada pula wujud batu lain di sekitarnya yang menyerupai puing-puing kapal yang ditumpangi Malin Kundang bersama sang istri beserta barang-barang miliknya.

Sebagian orang juga meyakini bahwa relief batu tersebut benar-benar mirip serpihan kapal berupa tong, kayu, hingga jangkar, sehingga tidak mungkin jika ada orang yang memahatnya.

5. Jadi Magnet Pantai Air Manis

Dengan terkenalnya legenda Malin Kundang dan ada batu yang diyakini sebagai perwujudan sosoknya, orang-orang di sekitar kawasan Pantai Air Manis bahkan dari luar kota dibuat penasaran.

Lantas mereka berbondong-bondong berkunjung ke lokasi batu Malin Kundang itu untuk melihat dan mengamatinya. Banyaknya orang yang datang menjadikan relief batu tersebut sebagai daya tarik bagi Pantai Air Manis di Padang, Sumatera Barat.

Itulah sederet fakta tentang batu Malin Kundang di tepi Pantai Air Manis. Sekarang, traveler sudah tahu kan soal keaslian batu Malin Kundang di pantai tersebut?

—–

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Selepas Mengabdi, Gaji KPPS Bisa Buat Staycation ke Sini!



Jakarta

Menjadi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tentunya tidak mudah. Itu karena mereka mesti mengatur ketertiban pemilu. Nah, untuk melepas penat, KPPS bisa staycation ke beberapa tempat ini lho.

Di tengah perdebatan politik yang panas, peran petugas KPPS menjadi perbincangan yang menarik. Itu setelah KPPS disamakan dengan beberapa abdi negara lainnya.

Obrolan tersebut banyak tertuang di berbagai media sosial dalam bentuk guyonan, baik di TikTok maupun X (dulunya Twitter).


“Sedih bat pas dilantik anggota kpps ortu ga bisa hadir, semoga penempatan nanti ga jauh dari keluarga,” tulis pengguna di TikTok.

“Gw gagal jadi anggota kpps karena nggak bisa bedain kotak suara dan kotak infaq,” sahut yang lain.

Terlepas dari candaan tersebut, peran besar berada di pundak KPPS, mulai dari menjaga netralitas hingga menjaga berjalannya pungutan suara berlangsung lancar.

Bahkan, saking beratnya tugas yang diampu, pada Pemilu 2019 lalu, ada 894 petugas meninggal dan 5.175 petugas lainnya mengalami sakit. Hal tersebut karena beban kerja di Pemilu 2019 yang cukup besar. Tentunya hal ini tidak diharapkan terjadi lagi di tahun ini.’

Adapun petugas KPPS 2024 akan bekerja selama kurang lebih sebulan, yakni sejak 25 Januari 2024 hingga 23 Februari 2024. Mereka akan mendapatkan upah sebesar Rp 1,2 juta (Ketua KPPS) dan Rp 1,1 juta (Anggota KPPS).

Untuk itu, selepas lelah mengabdi kepada negara, para petugas KPPS juga bisa merencanakan liburan setelahnya lho. Berikut beberapa list spot staycation yang bisa mengusir penat.

1. Staycation di Alam Terbuka

Startup Bobobox menciptakan new normal destination di masa pendemi dengan menghadirkan Bobocabin.Bobocabin. (Bobobox)

Healing maksimal dari hiruk pikuk perkotaan dan riuhnya kontestasi politik, petugas KPPS bisa memilih staycation di area hutan dan alam terbuka lho. Untuk itu, traveler bisa menginap di Bobocabin yang menyuguhkan penginapan di tengah alam.

Bobocabin adalah produk dari jenama Bobobox. Namun, berbeda dengan Bobobox yang merupakan hotel kapsul, Bobocabin menyuguhkan penginapan bernuansa cottage. Menariknya, cottage ini ditempatkan di daerah yang berdekatan dengan alam seperti di Ranca Upas, Pangalengan, Cikole, Baturraden, Kintamani, hingga Toba.

Selain itu, jenama ini juga memiliki banyak penginapan di berbagai daerah di Indonesia. Hal itu tentunya cocok bagi para pengabdi pemilu yang tentunya tersebar di berbagai daerah. Untuk harganya, mulai dari Rp 600 ribu.

2. Menginap di Hotel Kapsul

Bentuk hotel kapsulHotel kapsul di Malioboro. (detik)

Sedangkan bagi traveler yang ingin healing sejenak dan mengeksplorasi perkotaan, traveler juga dapat berwisata di tengah kota dengan menginap di hotel kapsul. Jenama seperti Bobobox dan lainnya juga memiliki banyak penginapan kapsul di kota-kota besar di Indonesia.

Adapun biaya staycation di hotel kapsul cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp 200 ribu-an.

3. Menginap di Kebun Binatang

Nikmatnya sarapan ditemani jerapah di Baobab Safari Resort Prigen PasuruanNikmatnya sarapan ditemani jerapah di Baobab Safari Resort Prigen Pasuruan (Esti Widiyana/detikJatim)

Merasakan sensasi menginap di kebun binatang tentunya menjadi salah satu pengalaman yang unik. Suasana alam yang dengan banyaknya pepohonan dan ragam binatang bisa didapatkan.

Untuk menikmati hal tersebut, traveler mungkin bisa mencoba menginap di Safari Resort. Ya, penginapan ini berada tepat di area Taman Safari Bogor.

Berbagai jenis penginapan tersedia di sini, mulai dari hotel, penginapan di karavan, bungalow, vila, hingga rumah pohon. Untuk biayanya mulai dari Rp 900 ribu.

Selain Taman Safari Bogor, terdapat pula Baobab Safari Resort yang berada di Taman Safari Prigen, Pasuruan.

Nah itulah beberapa tempat melepas penat yang bisa dijajal baik bagi petugas KPPS maupun traveler secara umum.

(wkn/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Rumah Pejabat Zaman Belanda, Kini Jadi Tempat Penampungan Gelandangan



Demak

Dulu, bangunan ini adalah rumah pejabat Demak di zaman kolonial Belanda. Namun kini, bangunan ini berubah fungsi menjadi tempat penampungan gelandangan.

Inilah Rumah Pelayanan Sosial (Rumpelsos) Dinas Sosial di Demak, Jawa Tengah. Bangunan ini ternyata merupakan sebuah cagar budaya.

Di zaman kolonial Belanda, bangunan Rumpelsos Demak merupakan eks kantor Kawedanan Demak. Kawedanan ini merupakan tempat tinggal wedana atau wedono yang merupakan pejabat setingkat kepala wilayah yang diangkat oleh Kolonial Belanda.


“Rumpelsos itu dulunya bangunan eks Kantor Kawedanan Demak. Bangunan eks Kawedanan Demak itu ditinggali oleh Wedana Demak,” kata Staf Pelaksana Subkoor Analis Sejarah dan Cagar Budaya Dindikbud Demak, Roni Sulfa Ali saat ditemui di kantornya, pekan lalu.

Roni menjelaskan, wedana merupakan sistem administrasi yang dibentuk pemerintah Kolonial Belanda. Pejabat wedana ini pun difasilitasi dengan sebuah rumah dinas.

“Wedana atau kawedanan itu adalah sistem administrasi pada saat Pemerintah Kolonial Belanda, posisinya di bawah bupati atau kabupaten. Jadi kabupaten, wedana, kemudian desa-desa. Dulu belum ada kecamatan, tapi kalau wedana itu kalau sekarang di atas kecamatan, lebih luas dari kecamatan,” terang Roni.

Dibangun Pada Tahun 1909

Bangunan gedung Rumpelsos Demak ini dibangun pada tahun 1909. Proses pembangunan rumah dinas wedana ini konon membutuhkan waktu tiga tahun.

“Dibangun sekitar 1909. Itu berdasarkan catatan Pemerintah Kolonial Belanda. Waktu itu ada. Kalau ibarat sekarang Dinas Pekerjaan Umum, dan itu selesai sekitar 1912,” terangnya.

Dari catatan sejarah, ada beberapa versi tentang Wedana Demak. Salah satunya menyebutkan ada tiga kawedanan.

“Wedana sendiri berdasarkan catatan kami tapi ini ada banyak versi dan kita masih kroscek keabsahannya. Jadi, Demak dulu ada beberapa wedana atau beberapa kawedanan. Salah satunya itu adalah Kawedanan Demak Kota, Grogol, Dempet. Kalau nggak salah lebih dari tiga kawedanan,” jelasnya.

Dibangun Dengan Biaya 12 Ribu Gulden

Roni menuturkan, biaya pembanungunan kantor kawedanan konon menghabiskan uang 12 ribu gulden. Rumah tersebut juga sempat menjadi Panti Wreda sebelum menjadi Rumpelsos.

“Bangunan eks kawedanan Demak itu dibangun dengan biaya sekitar 12 ribuan gulden, kalau sekarang sudah berapa ratus juta,” seloroh Roni.

Roni menambahkan, seiring berjalannya waktu, fungsi wedana mengalami perubahan-perubahan. Pada akhirnya, penghapusan sistem administrasi wedana di Demak dilakukan pada tahun 1960.

“Wedana dihapus itu sekitar 1967 tapi secara totalnya itu 1990-an. Di Demak sendiri tahun 1960-an masih ada wedana, tapi tidak seefektif zaman kolonial Belanda,” terangnya.

Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

Kini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya lewat Keputusan Bupati Demak Nomor 438/123 Tahun 2023 pada 17 Mei 2023.

Bangunan itu kini difungsikan sebagai rumah sementara bagi gelandangan, lansia, orang gila yang berkeliaran di wilayah Demak.

Lorong pendek yang menghubungkan bangunan cagar budaya dengan bangunan baru di Rumpelsos Demak. Foto diambil Selasa (16/1/2024).Rumpelsos Demak Foto: Mochamad Saifudin/detikJateng

Ada dua kamar yang difungsikan untuk menampung lansia perempuan. Sedangkan di bangunan baru, ada empat kamar berjeruji yang difungsikan untuk menampung orang gila.

Bangunan Rumpelsos yang ditetapkan sebagai cagar budaya berbentuk joglo. Bangunan itu dominan dengan cat warna hijau, putih, dan merah muda atau pink.

Bagian lantai di area aula dipasangi keramik berwarna putih. Namun berbeda dengan area aula, bagian dalam bangunan itu masih asli dengan tegel warna gelap.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tahukah Kamu, Ada Jembatan Akar Pohon di Sleman, Ini Penampakannya



Sleman

Tahukah kamu, jembatan alami yang terbuat dari akar pohon tak hanya ada di India saja, di Sleman juga ada. Seperti apa penampakannya?

Di Kabupaten Sleman, tepatnya di Padukuhan Kurahan IV, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, terdapat jembatan unik. Jembatan itu tidak terbuat dari beton ataupun besi, tetapi dari akar pohon.

Jembatan tersebut terbuat dari akar pohon preh dan beringin putih yang saling berkelindan dan membentuk sebuah jembatan. Panjang jembatan ini sekitar 10 meter.


Keindahan jembatan akar itu pun seperti di film-film Hollywood. Traveler akan serasa diajak masuk ke negeri dongeng ketika berkunjung ke sini.

Sebelum viral seperti sekarang, jembatan itu ternyata punya sejarah panjang bagi warga setempat. Dulunya, jembatan itu merupakan akses utama warga untuk menuju ke padukuhan lain.

Keindahan jembatan akar di Seyegan, Sleman.Jembatan akar pohon di Seyegan, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng

Salah seorang warga Kurahan IV, Mangkuharjono (73), mengatakan, dirinya tak tahu persis kapan jembatan itu dibangun. Tapi, dia meyakini bahwa jembatan akar pohon itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Jembatan itu sendiri sudah ada sejak dia kecil.

“Jembatan akar ini dibangunnya kapan saya nggak ingat, dari saya kecil itu sudah ada. Kemungkinan dari zaman Jepang dulu sudah ada, zaman mbah-mbah saya dulu,” kata Mangkuharjono saat ditemui di lokasi jembatan, beberapa waktu lalu.

Sepengetahuan dia, jembatan itu awalnya dibangun dari sisa rel lori dari pabrik gula di Cebongan yang disusun di atas sungai Sipolo. Lama-kelamaan, akar pohon menjalar ke seluruh rel. Jembatan itu akhirnya digunakan warga untuk menuju padukuhan lain dan ke sawah.

“Akar itu merambat ke jembatan itu. Jadi orang-orang nggak tahu itu meletakkan biar menjalar ke sana nggak, itu alami,” bebernya.

Dari penuturannya, jembatan akar ini kembali naik daun setelah banyak pegowes yang mampir. Pemandangan yang masih asri dengan berbagai tanaman seperti bambu, kelapa, dan lain-lain menjadikan goweser yang betah beristirahat dan berfoto di sana.

“Ini kalau Sabtu atau Minggu pagi pasti ramai dari pagi. Sekarang sudah ada 5 pedagang makanan dan minuman dari warga sekitar di sini,” bebernya.

Cara Menuju ke Jembatan Akar Pohon di Sleman

Jembatan akar pohon di Sleman itu bisa ditempuh sekitar 45 menit perjalanandari kawasan Malioboro. Wisatawan yang hendak ke sana bisa melewati Jalan Godean atau bisa mengikuti Google Maps dengan menulis nama Root Bridge.

Untuk bisa menikmati keindahan jembatan akar pohon, wisatawan hanya perlu membayar seikhlasnya. Belum ada tiket masuk maupun untuk parkir.

Keindahan jembatan akar di Seyegan, Sleman.Jembatan akar pohon di Seyegan, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng

Salah seorang wisatawan, Tri (51) warga Wirobrajan, Kota Jogja sengaja menyempatkan diri ke jembatan akar pohon karena penasaran. Menurutnya, tempat ini menarik apabila bisa dikelola dengan lebih baik lagi dan terkonsep.

“Sengaja ke sini sama istri. Tahunya dari medsos. Teman ada yang share postingan belum lama ini. Meski katanya udah ratusan tahun, tapi viralnya baru-baru ini,” katanya.

Dia berharap pengelola bisa menambahkan beberapa fasilitas pendukung di destinasi wisata ini. Menurutnya, akan lebih menarik juga ketika pengunjung bisa mendapatkan penjelasan mengenai sejarah jembatan ini.

“Ini termasuk potensi yang unik untuk jembatan akar kan sifatnya alami dan tidak bisa dibuat instan,” ucapnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Di Kelenteng Muntilan Ini, Ada Altar dengan Foto Gus Dur



Magelang

Saat berkunjung ke kelenteng Hok An Kiong, Muntilan, kamu bisa melihat foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpasang di salah satu altarnya. Ternyata, sejak dulu banyak juga yang berdoa di altar Gus Dur yang dijuluki Bapak Tionghoa ini.

“Ada altar Gus Dur karena kita sejak dulu, kelenteng ini ada hubungan sama NU Muntilan (Wakil Majelis Cabang Nahdlatul Ulama). Nah pas ulang tahunnya NU ke-96. Dia (MWC NU) mau minta di sini upacara penyerahan fotonya Gus Dur, di sini ya kurang lebih ada 300 sampai 400 orang upacara,” kata Ketua Umum TITD Hok An Kiong Budi Raharjo kepada wartawan di sela-sela pembersihan rupang atau patung di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan, Minggu (4/2/2024).

Foto yang diserahkan oleh MWC NU Muntilan untuk kelenteng tersebut terus ditempatkan di salah satu ruangan. Ruangan tempat foto Gus Dur juga dijadikan tempat berdoa. Kemudian juga diberikan sesajen.


“Apalagi kan Gus Dur termasuk Bapak Tionghoa di Indonesia. Kita menghormati, kita ngasih altar untuk kalau mau berdoa di situ boleh, cuma itu aja tujuannya,” sambung Budi.

Budi menambahkan, bahwa yang berdoa di sini tak hanya orang Tionghoa, namun masyarakat umum juga berdoa di sini.

Kelenteng Hok An KiongKelenteng Hok An Kiong Foto: Website Bapeddalitbang Surabaya

Kemudian sesaji yang berada di meja altar bawah foto Gus Dur berupa buah-buahan. Buah-buahan yang untuk sesaji terdiri lima unsur.

“Kalau kita kan di sini kan upacara, kita ambil pakai buah. Lima macam buah, yaitu ya apel, jeruk, pisang, ya segala boleh asal lima unsur. Nggak tiap hari (diganti), tiap tanggal 1 sama tanggal 15 purnama (diganti). Pas bulan-bulan itu kita mempersembahkan ganti, semua diganti semua,” kata dia.

Selanjutnya, menjelang datangnya Imlek sudah menjadi tradisi di kelenteng tiap tahun ada pembersihan, jeng dun atau bersih-bersih altar. Bersih-bersih altar dilakukan dalam kepercayaan mereka setelah para dewa naik menuju surga.

“Jadi kemarin, kita mengadakan upacara kenaikan patung-patung ke naik surga. Hari ini kosong. Jadi kita masih bisa membersihkan patung-patung yang kita sembah. Nanti kira-kira 5 hari lagi, kita juga upacara sembahyang, turunnya dewa-dewa lagi,” ujar Budi.

“Kita juga memohon nanti kalau sudah turunnya dewa-dewa itu, memohon pada sang dewa supaya nanti kebetulan pas mau pemilihan umum supaya aman, tentram, tidak ada masalah. Kita juga bisa milih pemimpin yang bijak, yang baik untuk negara kita. Ya tujuannya cuma itu aja,” katanya.

Ada 63 patung untuk ritual tolak bala, kata Budi. Adapun tuan rumah di kelenteng Hok An Kiong adalah Dewa Bumi.

“Di sini banyak rupang-rupang seperti Dai Shui, Dai Shui, itu mungkin di lain tempat nggak ada, yang ada di Indonesia cuma kita. Dai Shui itu yang banyak sekali. Itu 63, itu kan satu untuk ritual ciswak, ciswak tolak bala,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di detikjateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Sori Nehe, Pantai Favorit Bule untuk Diving-Snorkeling di Bima



Bima

Bicara soal pantai yang indah, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki banyak pantai yang mempesona. Salah satunya adalah Sori Nehe yang berokasi di Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota.

Akses jalan raya menuju Pantai Sori Nehe cukup bagus. Jarak tempuh dari pusat Kota Bima membutuhkan waktu perjalanan darat kurang lebih 1 jam.

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Sori Nehe, mata akan dimanjakan dengan suasana keindahan hamparan tanaman jagung. Tiba di Pantai Sori Nehe, aroma kesejukan pantai terasa. Di pintu masuk Pantai Sori Nehe banyak terdapat pohon-pohon besar hingga kelapa.


Harga tiket masuk di Pantai Sori Nehe dihitung dari kendaraan yang dipakai. Seperti sepeda motor hanya Rp 5 ribu. Sementara biaya masuk mobil Rp 15 ribu. Harga itu sudah termasuk jumlah orang dalam kendaraan yang dipakai dan tarif parkir.

Suasana Pantai Sori Nehe, di Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota, Kota Bima, NTB, Sabtu, (3/2/2024). (Dok. Rafiin/detikBali)Suasana Pantai Sori Nehe, di Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota, Kota Bima, NTB, Sabtu, (3/2/2024). (Dok. Rafiin/detikBali) Foto: Suasana Pantai Sori Nehe, di Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota, Kota Bima, NTB, Sabtu, (3/2/2024). (Dok. Rafiin/detikBali)

Weekend lalu, detikcom datang ke sini dan melihat suasana di dalam area Pantai Sori Nehe cukup bersih dari sampah. Selain dimanjakan dengan pemandangan pantai yang memukau, di Pantai Sori Nehe terdapat beberapa fasilitas penunjang, seperti gazebo, toilet, hingga musala kecil.

Di Pantai Sori Nehe telah dibangun jembatan untuk spot foto. Biaya masuknya Rp 5 ribu per orang. Pengunjung juga tidak perlu ribet-ribet membawa makanan dan minuman dari rumah. Pasalnya di lokasi Pantai Sori Nehe juga ada yang menjual ikan hingga ayam bakar.

Salah satu pengunjung, Juraidah (33), mengatakan berkunjung ke Pantai Sori Nehe karena penasaran. Sebab dalam beberapa minggu terakhir, Pantai Sori Nehe viral di sosial media Facebook. Rasa penasarannya itu terobati begitu melihat indahnya Pantai Sori Nehe.

“Ke sini penasaran saja, karena viral di Facebook. Tempatnya sangat bagus,” ucap warga Kelurahan Lewirato Kecamatan Raba Kota Bima ini kepada detikBali.

Juraida mengungkapkan Pantai Sori Nehe sangat mempesona. Menurutnya, cocok untuk lokasi healing dan piknik bersama rombongan keluarga dan teman kerja. Selain itu, harga masuk di Pantai Sori Nehe relatif terjangkau jika dibandingkan tempat-tempat wisata lainnya.

Pengunjung lain, Nazwa (18), warga Kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota, mengatakan datang ke Pantai Sori Nehe bersama teman-teman sekolah. Di pantai itu, hanya untuk foto-foto di samping menikmati keindahan pantai.

Menurut Najwa, Pantai Sori Nehe sudah cukup bagus, tapi ke depan perlu ditata agar lebih baik lagi. Sebab fasilitas pendukung di Pantai Sori Nehe belum sepenuhnya memadai. Salah satunya jumlah gazebo untuk tempat duduk pengunjung masih kurang.

Lokasi Diving-Snorkeling Turis Asing

Pengelola Sori Nehe, Abdul Mutalib (45), mengatakan Sori Nehe merupakan salah satu pantai di Bima yang menjadi tempat persinggahan turis asing dari Bali Menuju Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan sebaliknya.

“Di pantai ini kapal-kapal dari Bali dan Labuan Bajo, yang memuat turis asing tetap singgah. Dijadikan lokasi untuk diving dan snorkeling,” kata Abdul Mutalib kepada detikBali, Sabtu sore.

Menurut Abdul Mutalib, untuk saat ini, turis asing hanya bisa singgah di tengah laut saja. Tidak seperti dulu lagi leluasa melakukan diving, snorkeling hingga keluar ke pantai untuk berjemur.

“Semenjak pantai ini dibuka untuk umum, kapal-kapal turis hanya bersandar di tengah laut. Para turisnya berani tidak keluar karena ramai,” ujarnya.

Abdul Mutalib mengungkapkan Pantai Sori Nehe dibuka untuk umum belum setahun. Atau tepatnya sejak akses jalan raya selesai diperbaiki pada September 2023. Pengelola Pantai Sori Nehe adalah para pemilik lahan dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kelurahan Kolo.

“Ada beberapa lokasi di Pantai Sori Nehe yang dikelola secara pribadi,” ujarnya.

Abdul Mutalib menambahkan pengunjung Pantai Sori Nehe tetap ramai sehari-hari. Namun yang paling ramai kunjungan antara Sabtu dan Minggu. Kalau Senin sampai Jum’at, jumlah pengunjung relatif biasa.

“Sabtu dan Minggu omsetnya bisa Rp 1 juta. Kalau hari biasa antara Rp 300 sampai 500 ribu,” imbuh Abdul Mutalib.

Artikel ini telah tayang di detikBali

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Paket Komplit! Jalan-jalan ke Galeri Seni Pahat Batu di Bali


Jakarta

Big Garden Corner, taman rekreasi di pusat Kota Denpasar tawarkan paket komplit untuk mengisi waktu libur. Punya wahana seru, taman ini juga instagramable banget!

Resmi dibuka sejak Juni 2016, Big Garden Corner mulanya adalah sebuah gallery art stone yang memamerkan berbagai karya seni pahat. Banyaknya karya seni yang dipamerkan membuat gallery art stone disulap menjadi sebuah destinasi wisata bernama Big Garden Corner.

Eddy Mustofa selaku corporate manager menjelaskan Big Garden Corner dikembangkan menjadi destinasi wisata berkonsep eco park wisata yang dapat mewadahi pengunjung dalam melakukan kegiatan alam. Big Garden Corner memiliki luas sekitar 2,5 hektar.

“Ada rekomendasi dari dinas pariwisata daerah Denpasar, kenapa nggak dibuatkan eco park wisata. Akhirnya muncul surat rekomendasi dan kita create Big Garden Corner menjadi destinasi berkonsep eco park wisata yang menarik,” jelasnya.

Bukan taman biasa, Big Garden Corner juga menawarkan berbagai wahana seru dan area spot foto yang instagramable. Penataan taman dibuat sangat menarik berpadu dengan berbagai patung-patung berukuran besar. Sip banget untuk spot foto.

Berikut detikTravel merangkum informasi mengenai objek wisata Big Garden Corner:

Setelah disulap menjadi taman rekreasi, Big Garden Corner menawarkan berbagai daya tarik yang tak boleh dilewatkan. Mulai dari wahana hingga spot foto instagramable, lengkap banget deh!

Big Garden Corner BaliBig Garden Corner Bali (Foto: Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

1. Patung Batu Berukuran Raksasa


Big Garden Corner yang bermula dari gallery art stone tentu memajang banyak karya seni patung di sini. Dari ukuran kecil hingga yang berukuran raksasa ada di sini.

Satu diantaranya adalah patung Buddha yang menyambut traveler ketika memasuki areal Big Garden Corner. Semua area taman ini selalu dihiasi dengan patung, bahkan traveler yang suka bisa langsung membeli berbagai patung yang ada.

Bukan cuma sebagai pajangan, patung raksasa yang ada bisa menjadi spot foto instagramable dan estetik.

Big Garden Corner BaliBig Garden Corner Bali (Foto: Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

2. Miniatur Candi Borobudur

Tak perlu jauh-jauh ke Jawa Tengah, di Big Garden Corner traveler sudah bisa menemukan dan berfoto dengan latar belakang Candi Borobudur. Big Garden Corner memiliki miniatur candi Borobudur yang memiliki tinggi 5 meter. Sip banget untuk traveler pecinta spot foto unik.

3. Art Standing Stones

Pernah mendengar istilah Standing Stones? Ini adalah kumpulan batu-batu berukuran besar yang berdiri menjulang tinggi. Masyarakat Inggris di Wiltshire menyebutnya Stonehenge. Batu-batu ini dipercaya berasal dari zaman neolitikum.

Berkunjung ke Big Garden Corner traveler sudah bisa berfoto dengan replika standing stones ala-ala di Inggris.

Big Garden Corner BaliBig Garden Corner Bali (Foto: Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

4. Rumah Pohon Mini

Jika traveler jeli melihat, Big Garden Corner juga memiliki rumah pohon mini yang mengusung konsep alami. Tak terlalu tinggi, jadi aman Rumah pohon ini menjadi spot favorit bagi anak-anak. Walaupun rumah pohon tidak terlalu tinggi, namun tetap mengawasi anak-anak ketika bermain ya traveler!

5. Spot Foto Estetik

Big Garden Corner juga menawarkan banyak spot foto estetik yang juga menjadi favorit wisatawan. Beberapa spot foto yang bisa traveler coba adalah terowongan cinta, atap payung warna-warni, patung membaca koran, dan ayunan.

Big Garden Corner BaliBig Garden Corner Bali (Foto: Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Aktivitas Menarik di Big Garden Corner

Mau menghabiskan waktu seharian di Big Garden Corner. Berikut rekomendasi aktivitas menarik dari detikTravel. Yuk disimak!

6. Hunting Spot Foto

Di Big Garden Corner traveler tak akan kehabisan spot foto yang estetik dan instagramable. Setiap sudutnya menyediakan spot foto yang unik, tak jarang menjadi favorit setiap wisatawan. Traveler yang berkunjung wajib hunting spot foto dan jangan lupa siapkan outfit terbaikmu!

7. Eksplor Butterfly Park

Dekat dengan pintu masuk, traveler bisa menemukan butterfly park. Eddy Mustofa menyebut terdapat sekitar 100 spesies kupu-kupu yang dapat traveler lihat di sini.

Big Garden Corner BaliBig Garden Corner Bali (Foto: Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

8. Bermain di Playground dan Waterpark

Bagi traveler yang berkunjung bersama anak-anak, Big Garden Corner juga memiliki playground dan waterpark. Tenang saja, untuk mencoba aktivitas ini traveler tak akan dikenakan biaya tambahan alias gratis.

9. Bersantap di Restoran

Jika sudah lelah beraktivitas, bisa coba bersantap di restoran yang ada. Crispy Duck menjadi menu andalan di sini. Pemandangan restoran adalah kebun bunga dan beberapa sarang lebah madu. Cantik dan asri banget!

Big Garden Corner BaliBig Garden Corner Bali (Foto: Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Big Garden Corner

Big Garden Corner memiliki letak yang strategis karena berada dekat dengan pusat Kota Denpasar dan Sanur. Tepatnya di Jl. Bypass Ngurah Rai, Kesiman, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali.

Untuk sampai ke sini traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh sekitar 20 menit atau 7 kilometer. Tenang saja, Big Garden Corner memiliki fasilitas parkir yang luas.

Big Garden Corner buka setiap hari mulai pukul 09.00 – 18.00 WITA. Eddy Mustofa menyebut rata-rata pengunjung bisa menghabiskan waktu sekitar 2 jam di sini. Jam favorit pengunjung biasanya di pagi hari dan siang hari mulai pukul 14.00 WITA.

Sebelum masuk ke Big Garden Corner traveler harus membayar tiket masuk sebesar Rp 50 ribu untuk wisatawan lokal dan Rp 150 ribu untuk wisatawan asing.

“Harga tiket sudah termasuk semua aktivitas seperti playground dan waterpark. Untuk wisatawan asing akan mendapatkan experience honey testing, testing varian of tea, dan welcome drink,” paparnya.

Mau liburan dengan paket komplit? Big Garden Corner adalah pilihan yang sip. Punya banyak wahana plus spot foto instagramable. Dijamin nggak bakal bosen deh!

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

2 Meriam Bekas Perang Dunia II di Kupang yang Kini jadi Cagar Budaya



Kupang

Berwisata ke Kupang, traveler bisa melihat dua buah meriam peninggalan Perang Dunia II masih berdiri kokoh. Sejarahnya, meriam itu merupakan peninggalan dari tentara Kerajaan Inggris.

Dua meriam ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dua meriam ini juga dilindungi dengan cara dipagar.

“Bukti sejarah meriam ini ada dua unit. Meriam masih berdiri kokoh pada dua (tempat) yang kini berada di dalam pemukiman warga di Jalan Karya Kencana II, Kelurahan Kelapa Lima,” ujar penjaga Cagar Budaya Meriam PD II Rafael Nyale, Minggu (4/2/2024).


Kata Rafael, berdasarkan cerita para orang tua, dua unit meriam itu ditempatkan oleh tentara Inggris untuk melawan tentara Jepang pada 1942. Sebagai bukti, terdapat cap kepemilikan dari Kerajaan Inggris pada bagian bodi meriam dengan tahun pembuatan pada 1908.

Lokasi penempatan dua meriam bukanlah wilayah permukiman kala Perang Dunia II. Tempat itu menjadi lokasi bagi tentara Inggris untuk memantau pergerakan tentara Jepang yang akan muncul melalui jalur laut.

“Saat itu belum ada pemukiman penduduk sehingga pergerakan tentara Jepang dipantau dari ketinggian, dan jika musuh muncul maka akan langsung diserang dengan menggunakan dua meriam tersebut,” jelas Rafael.

Namun dua meriam itu akhirnya tidak digunakan oleh tentara Inggris karena jalur perang dialihkan ke Timor Raya dari Babau hingga Oesao. Dua meriam itu kemudian ditinggalkan di lokasi.

“Dua meriam ini tidak digunakan untuk perang kemudian ditinggalkan begitu saja hingga Indonesia merdeka. Dan sampai sekarang pemerintah menetapkan sebagai cagar budaya,” terang Rafael.

Dua meriam milik tentara Inggris itu kini diberi nama Cagar Budaya Meriam PD II. Lokasi meriam saat ini menjadi media belajar dan penelitian dari berbagai kalangan, baik pelajar, mahasiswa, hingga ahli sejarah.

“Kami membuka ruang bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah dari Meriam PD II, bukan sekedar besi tua, melainkan bukti sejarah jejak penjajah di wilayah Kota Kupang.” tegas Rafael.

Artikel ini telah tayang di detikbali

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Ini Pantai Nyanyi, Tempat Indah tapi Kamu Dilarang Berenang



Jakarta

Pantai Nyanyi jadi destinasi alternatif traveler yang bepergian ke Bali. Namun sayang, meski pantainya begitu indah, traveler dilarang berenang di sana.

Pantai Nyanyi terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Di sekelilingnya masih banyak dipenuhi hamparan hijau tanaman tanpa adanya bangunan mewah di pinggir pantai.

Pantai Nyanyi bisa ditempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Tabanan atau sekitar satu jam lebih dari Kota Denpasar menggunakan sepeda motor.


Saat detikBali berkunjung ke pantai ini Jumat (29/12/2023), tampak sejumlah wisatawan lokal maupun mancanegara dengan beragam aktivitas.

Di sekitar Pantai Nyanyi masih terdapat perbukitan dengan hamparan hijau. Menariknya, ada hewan ternak sapi milik warga yang berada di lokasi yang dilepasliarkan begitu saja. Namun, tenang saja, sapi-sapi itu tidak mengganggu.

Tarif masuk Pantai Nyanyi murah meriah. Hanya perlu membayar parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil. Hal itu membuat Pantai Nyanyi cukup digemari oleh wisatawan.

Sayangnya, Pantai Nyanyi tidak direkomendasikan untuk berenang bagi wisatawan yang berkunjung. Mengingat ombak yang cukup besar dan tinggi.

Meski tidak berenang, duduk di pinggir pantai menikmati pemandangan sunset atau matahari terbenam sudah cukup untuk melepaskan penat.

Artikel ini telah tayang di detikBali

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com