Category Archives: Domestik

5 Fakta Harimau Jawa yang Punah dan Kini Muncul Tanda-tanda Kehidupannya



Jakarta

Harimau jawa (Panthera tigris sondaica), subspesies harimau yang dilaporkan punah, kini dilaporkan muncul kembali. Berikut fakta tentang harimau jawa.

Penemuan harimau jawa itu diungkapkan peneliti Pusat Riset Biosistematikan dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wirdateti baru-baru ini. Dia mengungkap temuan itu muncul dari sehelai rambut yang diduga milik harimau jawa yang ditemukan di pagar pembatas kebun warga di Desa Cipeundeuy, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Rambut tersebut ditemukan oleh Kalih Reksasewu atas laporan Ripi Yanuar Fajar yang berpapasan dengan hewan mirip harimau jawa yang dikabarkan telah punah, pada malam hari 19 Agustus 2019,” kata Wirdateti, mengutip siaran pers BRIN, Senin (25/3).


Temuan Wirdateti dan kawan-kawan itu sudah dipublikasikan dalam jurnal Onyx terbitan Cambridge Universit Press berjudul “Is the Javan tiger Panthera tigris sondaica extent? DNA analysis of a recent hair sample” yang terbit 21 Maret 2024.

Dari serangkaian analisis DNA, Wirdateti dan tim menyimpulkan sampel rambut harimau yang ditemuka di Sukabumi Selatan adalah spesies Panthera tigris sondaica atau harimau jawa. Itu termasuk dalam kelompok yang sama dengan spesimen harimau jawa koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) pada 1930.

Selain rambut, dari lokasi tersebut juga ditemukan bekas cakaran mirip harimau yang semakin menguatkan tim untuk melakukan penelitian.

Berkurangnya habitat dan aktivitas perburuan yang kian meningkat membuat Harimau jawa menjadi subjek konservasi. Pada tahun 1980-an, harimau jawa telah dinyatakan punah oleh otoritas berwenang.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) selaku lembaga konservasi internasional juga sudah menyematkan status punah (extinct) untuk sang loreng asal tanah Jawa ini.

Meskipun telah dinyatakan punah, kehadiran Harimau Jawa masih menyimpan daya tarik yang memukau.

Berikut fakta mengenai si raja rimba asli Pulau Jawa ini:

1. Tradisi Rempogan Macan

Pengurangan drastis populasi Harimau Jawa telah dihubungkan dengan praktik Rampogan Macan, sebuah pertunjukan adu harimau yang merupakan bagian dari tradisi di kalangan pejabat Kerajaan Jawa.

Dalam Rampogan, kerbau atau manusia bersenjatakan tombak berhadapan dengan harimau atau kucing besar lainnya. Binatang buas tersebut seringkali diperlakukan dengan kejam dan akhirnya disiksa hingga mati.

Rampogan Macan telah menyebabkan penurunan signifikan dalam populasi Harimau Jawa. Akibat dari praktik seperti Rampogan Macan, Harimau Jawa telah menjadi langka hingga akhirnya punah.

2. Ada 3 Subspesies

Di Indonesia terdapat tiga jenis harimau yang berbeda, yaitu harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), dan harimau Bali (Panthera tigris balica).

Namun, hanya harimau Sumatra yang masih tersisa dan menjadi spesies langka yang dilindungi di Indonesia. Sementara itu, harimau Jawa dan harimau Bali telah diumumkan sebagai punah, yang berarti tidak ada lagi populasi mereka baik di habitat alaminya maupun di penangkaran.

3. Ukurannya yang Tergolong “Kecil”

Harimau Jawa, sebuah subspesies harimau yang ukurannya kecil jika dibandingkan dengan varietas lain di Benua Asia. Memiliki panjang tubuh sekitar 2,2 hingga 2,5 meter dengan ekor sekitar 25 hingga 45 cm.

Meskipun lebih besar daripada Harimau Bali, Harimau Jawa memiliki ukuran tubuh yang serupa dengan Harimau Sumatra. Harimau Jawa jantan biasanya memiliki berat antara 100 hingga 140 kg, sementara betina cenderung lebih ringan dengan berat antara 75 hingga 115 kg. Panjang kepala dan tubuh Harimau Jawa jantan berkisar antara 200 hingga 245 cm, sedangkan yang betina sedikit lebih kecil.

4. Habitat Harimau Jawa

Sesuai dengan namanya, keberadaan Harimau Jawa hanya tersebar di ruas Pulau Jawa saja. Harimau Jawa biasanya ditemukan menetap di hutan-hutan dataran rendah dan semak belukar.

Harimau Jawa jarang menjelajah ke wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut. Mangsa utama Harimau Jawa termasuk babi hutan, rusa Jawa, banteng, serta kadang-kadang reptil dan burung air.

5. Diyakini Belum Punah

Walau sudah dinyatakan punah sejak 1980-an, hingga kini sebagian peneliti dan masyarakat masih mempertahankan keyakinan bahwa Harimau Jawa masih ada di alam liar dan keberadaannya belum punah.

Pendapat ini didukung oleh bukti-bukti konkret seperti jejak yang menunjukkan keberadaan Harimau Jawa serta laporan dari para pemanen hasil hutan yang mengklaim telah berjumpa dengan binatang tersebut. Namun, belum ada verifikasi lebih lanjut terkait temuan ini.

Sudah tau kan fakta hewan endemik khas tanah Jawa ini. Meskipun telah dinyatakan punah, semoga keberadaan Harimau Jawa bisa segera terkonfirmasi ya traveler.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Religi 3 Masjid Ikonik Jakarta, Nggak Cuma Muslim yang Ikut, Nonis Juga Ada



Jakarta

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta mengadakan City Tour Religi ke tiga masjid. Pesertanya beragam, ada juga yang nonmuslim.

detikTravel menjadi salah satu peserta city tour yang dihelat pada Minggu (24/3/2024) itu. Tiga masjid yang dikunjungi adalah Masjid Istiqlal, Masjid Ramlie Mustafa, dan Masjid Agung Al Azhar.

Acara itu diikuti oleh 20 peserta, di antaranya sejumlah Abang None Jakarta, Kedutaan Besar Palestina, Kedutaan Besar Tunisia, dan Diskominfo DKI Jakarta. Di antara peserta yang turut mengikuti jelajah wisata religi di Jakarta itu, bukan hanya peserta muslim yang ikut, ternyata ada peserta nonmuslim.


Bang Dion, Abang Jakarta Barat 2023, mengganggap acara itu sangat menarik dan membuka wawasan sejarah di Jakarta.

“Menurut saya ini sesuatu yang sangat menarik dan bisa membuka wawasan, apalagi saya sebagai nonmuslim dapat melihat wisata religi dari agama lain,” kata Bang Dion.

Ketua Sub Kelompok Pemasaran Pariwisata Dalam Negeri Disparekraf DKI Jakarta Triatin Permanik menyebut kegiatan tur wisata itu digeber rutin setiap tahun sejak 10 tahun lalu. Destinasi wisata yang dipilih berbeda-beda setiap tahunnya.

Dia menambahkan kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka mempromosikan pariwisata religi sekaligus memperkenalkan sejarah masjid-masjid di DKI Jakarta.

Bang Yash, Abang None Jakarta Pusat 2023 juga menganggap dengan mengikuti kegiatan ini, ia mendapatkan banyak pengalaman baru,

“Sangat sangat luar biasa menarik, karena kita pada akhirnya mengetahui banyak hal yang belum kita ketahui sebelumnya,” ujar dia.

Dwinda dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) sebagai tourguide menyatakan bahwa tur wisata ini merupakan wujud memperkenalkan wisata sejarah dari sisi lain yaitu dari rumah-rumah ibadah.

“Jadi ini blend diantara tiga lokasi ini diharapkan bisa memberikan insight baru terhadap orang-orang terhadap wisata sejarah melalui wisata religi yang ada di Jakarta,” kata dia.

Berikut tiga masjid ikonik di Jakarta

1. Masjid Istiqlal

Istiqlal memiliki arti Kemerdekaan. Masjid terbesar se-Asia Tenggara tiu kental dengan kisah kemerdekaan, salah satu buktinya pada ukuran kubah sepanjang 45 meter. Itu melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia.

Berada di kawasan bekas Benteng Belanda yaitu Benteng Frederick Hendrik dan bekas Taman Wilhelmina membuat Masjid Istiqlal seperti dikelilingi oleh kanal. Lokasi yang berseberangan langsung dengan Gereja Katedral dipilih oleh Presiden Sukarno sebagai wujud toleransi umat beragama di Indonesia.

Didik, salah satu pengelola di Masjid Istiqlal, Masjid Istiqlal terbuat dari bahan marmer dan stainless steel tanpa kayu, membuat masjid ini terlihat modern, minimalis, dan sangat sejuk meskipun tanpa pendingin ruangan.

2. Masjid Ramlie Musofa

Berada di kawasan Jakarta Utara, masjid ini dibangun oleh salah satu mualaf Tionghoa bernama Ramli Rasidin. Bergaya arsitektur bak Taj Mahal, masjid ini kerap disebut sebagai Taj Mahalnya Indonesia.

Sebagai tionghoa, Ramlie pun memasukkan aksen Tionghoa pada masjid ini. Terdapat beberapa ukiran ayat Al Quran yang tertulis dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Mandarin.

Masjid ini diresmikan pada 15 Maret 2015 sebagai wujud kecintaan Ramli kepada Islam dan keluarganya. Nama ‘Ramlie Musofa’ diambil dari singkatan nama-nama anggota keluarganya, ‘Ram’ berarti Ramli, ‘Lie’ diambil dari nama istrinya Lie Njoek Kim, ‘Mu’ dari anak pertamanya Muhammad, ‘So’ dari anak kedua Sofian, dan ‘Fa’ dari anak ketiganya yaitu Fabian.

3. Masjid Agung Al Azhar

Masjid ini merupakan masjid terbesar di Indonesia selama 10 tahun setelah selesai dibangun pada tahun 1958 oleh 14 tokoh besar Partai Masyumi termasuk Buya Hamka, sebelum akhirnya Masjid Istiqlal dibangun.

Dengan kapasitas 10 ribu jemaah, masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Jakarta.

Berarsitektur India dan dominasi warna putih, masjid ini semula bernama Masjid Agung Kebayoran hingga akhirnya di tahun 1960 Dr. Mahmoud Syaltout seorang Rektor Universitas Al-Azhar Kairo mendatangi masjid ini dan memberikan nama Al Azhar untuk masjid ini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

11 Tempat Wisata di Jakarta Ini Buka Saat Libur Lebaran, Apa Saja?


Jakarta

Libur Lebaran sering dijadikan waktu yang tepat untuk mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan kerabat. Tetapi, tidak semua orang memilih untuk mudik. Ada juga yang memanfaatkan waktu libur Lebaran untuk pergi ke tempat wisata.

Meski libur Lebaran, berbagai tempat wisata masih beroperasi, lho. Apa saja? Simak di artikel berikut.

Tempat Wisata Jakarta yang Buka Saat Libur Lebaran

Berikut daftar tempat wisata di Jakarta yang tetap beroperasi selama libur Lebaran. Perlu diingat, waktu operasional mungkin saja berubah sewaktu-waktu.


1. Monumen Nasional

Monumen Nasional (Monas)Foto: Getty Images/iStockphoto/dennisvdw

Monumen Nasional atau Monas yang terletak di Jakarta Pusat bisa menjadi salah satu tujuan wisata selama Lebaran.

Menurut akun Instagram resminya, kawasan Monas dibuka dari hari Selasa hingga Minggu dari pukul 06:00 sampai 16:00. Sementara tugu Monas dibuka dari pukul 08:00 sampai 16:00. Perlu diingat, loket tiket ditutup jam 15:00.

Monas tetap beroperasi selama libur Lebaran, akan tetapi tutup setiap hari Senin.

Di Museum Nasional, detikers bisa menikmati keindahan kota Jakarta dari puncak tugu Monas, atau mengelilingi museum di dalamnya.

2. Taman Impian Jaya Ancol

Taman Impian Jaya AncolFoto: Rumondang/detikcom

Jika ingin berwisata pantai, detikers bisa pergi ke Ancol di Jakarta Utara. Menurut akun Instagramnya, Ancol buka setiap hari dari pukul 06:00 sampai 24:00. Sementara pintu gerbangnya ditutup pukul 23:00.

Tak hanya itu, Ancol juga menyediakan berbagai promo bagi pengunjung selama Lebaran, jadi pastikan detikers mengecek promo-promo yang tersedia sebelum memesan tiket.

Ancol juga kerap mengadakan berbagai acara untuk menghibur pengunjung. Misalnya, Ancol akan mengadakan Festival Keajaiban Ramadan dari tanggal 9 hingga 14 April, cocok untuk detikers yang berkunjung selama libur Lebaran.

3. Dunia Fantasi

Sejumlah warga berwisata di Dunia Fantasi, Ancol, Jakarta,  Sabtu (1/1/2022). Libur tahun baru 2022 banyak dimanfaatkan warga ibukota dengan mendatangi beberapa lokasi wisata bersama keluarga.  ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp.Foto: ANTARA/RENO ESNIR

Masih di kawasan Ancol, Jakarta Utara, detikers juga bisa menikmati wahana-wahana yang ada di Dufan.

Menurut akun Instagram resminya, Dufan beroperasi dari pukul 10:00 sampai 17:00 pada hari kerja. Sementara pada akhir pekan, Dufan dibuka dari pukul 10:00 sampai 19:00.

4. Sea World Ancol

Wisatawan mengamati ikan di Sea World Ancol, Jakarta, Jakarta, Kamis (8/2/2024). Libur panjang dimanfaatkan warga Jakarta dan sekitarnya untuk mengunjungi tempat-tempat rekreasi di Ibu Kota. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Jika tertarik dengan keindahan dunia laut, detikers bisa berwisata ke Sea World Ancol. Tempat wisata ini memberikan hiburan sekaligus pendidikan.

Mneurut akun Instagram resminya, Sea World Ancol beroperasi setiap hari dari pukul 09:00 sampai 16:30.

5. Taman Mini Indonesia Indah

Di kawasan Jakarta Timur, detikers bisa berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ada berbagai museum dan anjungan daerah yang bisa dinikmati pengunjung.

Menurut akun Instagram resminya, TMII beroperasi setiap hari dari pukul 06:00 sampai 17:00 WIB.

6. Taman Margasatwa Ragunan

Taman Margasatwa Ragunan Diserbu WargaFoto: Andhika Prasetia

Taman Margasatwa Ragunan adalah kebun binatang yang berlokasi di Jakarta Selatan. Cocok buat peminat hewan, tempat wisata ini beroperasi dari hari Selasa hingga Minggu.

Menurut akun Instagram resminya, selama bulan Ramadan, Taman Margasatwa Ragunan dibuka dari pukul 07:00 sampai 15:00.

7. Jakarta Aquarium & Safari

Jakarta Aquarium & Safari (JAQS) menyajikan banyak keseruan bagi masyarakat yang ingin menghabiskan waktu sambil menunggu berbuka puasa. Yuk lihat.Foto: Grandyos Zafna

Jakarta Aquarium & Safari adalah akuarium indoor yang terletak di dalam Neo Soho Mall, Jakarta Barat.

Menurut akun Instagram resminya, waktu operasional Jakarta Aquarium & Safari adalah setiap hari dari pukul 10:00 hingga 21:00.

8. Kota Tua

Kota Tua terletak di Jakarta Barat dan bisa detikers kunjungi selama libur Lebaran.

Detikers bisa menikmati pemandangan bangunan bergaya kolonial, berwisata kuliner, sampai mengunjungi museum.

9. Museum Macan

Museum MACANFoto: Chelsea Olivia/detikcom

Museum Macan berlokasi di Jakarta Barat. Di sini, detikers bisa mengapresiasi karya seni kontemporer.

Menurut situs resminya, selama bulan Ramadan, Museum Macan beroperasi dari hari Selasa hingga Minggu, pukul 10:00 sampai 17:30.

10. Pecinan Glodok

Pecinan GlodokFoto: Weka Kanaka/detikcom

Detikers juga bisa menghabiskan libur Lebaran dengan mengelilingi kawasan pecinan atau Chinatown di Glodok, Jakarta Barat.

Pecinan Glodok merupakan tempat yang bisa dipilih apabila detikers ingin berwisata kuliner hingga budaya.

11. Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk

mangroveFoto: Wahyu/detikTravel

Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove berlokasi di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Tak hanya berperan sebagai tempat wisata alam, TWA Angke Kapuk bertujuan melestarikan mangrove sebagai penyangga kehidupan alam.

Menurut situs resminya, TWA Angke Kapuk beroperasi dari pukul 09:00 sampai 17:00 selama hari kerja, dan dari pukul 08:00 sampai 17:00 selama akhir pekan.

Nah, itu dia beberapa tempat wisata di Jakarta yang buka saat libur Lebaran. Semoga artikel ini bermanfaat bagi detikers yang sedang merencanakan wisata saat libur Lebaran.

(fds/fds)



Sumber : travel.detik.com

Usianya 250 Tahun-Pernah Dipindah 5 Km



Blora

Di Blora, ada sebuah masjid kuno yang usianya sudah 250 tahun. Masjid itu juga konon pernah dipindah sejauh 5 kilometer. Inilah kisah Masjid Baiturrohman:

Masjid tersebut terletak di Desa Ngadipurwo, tepatnya berada di dalam Komplek Makam Keluarga Tirtonatan. Lokasinya tak kurang dari 7 kilometer ke utara dari jantung kota Blora.

Pemerhati sejarah asal Blora, Dalhar Muhammadun menyebut cikal bakal masjid itu berupa surau atau langgar yang didirikan pada 1774. Pendirinya adalah Bupati kedua Blora, Raden Tumenggung (RT) Djajeng Tirtonoto.


Djajeng Tirtonoto menjabat sebagai bupati selama 14 tahun dari 1768-1782. Setelah Djajeng wafat pada tahun 1785, keberadaan langgar dilanjutkan anaknya, yaitu R.T. Prawirojoedo yang juga menjabat Bupati Blora (1812-1823).

Bangunan langgar lambat laun mengalami kerusakan. Kemudian, langgar tersebut direhabilitasi oleh R.T. Prawirojoedo pada tahun 1814.

“Awalnya bentuknya kayu semua. Semakin lama kan juga rapuh, terus dibetulin sama Bupati Prawirojoedo,” terang Madun, sapaan akrabnya, Kamis (21/3) lalu.

Beberapa puluh tahun kemudian, langgar pun dirubah menjadi masjid tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1894 Masehi atau 17 Safar 1312 Hijriah oleh Raden Mas Adipati Arya (R.M.A.A.) Tjokronegoro III. R.M.A.A. Tjokronegoro III merupakan Bupati Blora tahun 1857-1886.

Masjid ini pun dipercaya sebagai salah satu masjid tertua yang ada di Blora. Usia masjid ini kini sudah mencapai 250 tahun.

Masjid Baiturrohman yang berada di Komplek Makam Keluarga Tirtonatan Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora. Foto diunggah Kamis (21/3/2024).Masjid Baiturrohman di Blora Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Meskipun mengalami beberapa kali pembenahan, keaslian kayu masjid ini masih tetap terjaga. Beberapa ornamen tampak lawas. Di antaranya pilar berbahan kayu jati, tembok yang cukup tebal, serta bedug diletakkan di serambi.

Selain itu mimbar khatib dan Mustaka Masjid yang berbentuk mirip seperti mahkota raja jawa. Termasuk, prasasti berbentuk ukiran kaligrafi terdapat di sebelah kanan pintu masuk masjid.

Sampai saat ini, masjid ini terlihat kokoh dan asri. Masjid itu digunakan untuk aktivitas keagamaan oleh masyarakat. Pada bulan puasa ini juga digunakan untuk tadarusan membaca Al Qur’an.

Konon, Masjid Ini Pernah Dipindah Sejauh 5 Kilometer

Ada versi lain dari sejarah masjid tertua di Blora itu. Konon, masjid itu pernah dipindah dari Desa Purwosari ke Desa Ngadipurwo yang jaraknya sekitar 5 kilometer.

Adapun pemindahan itu dilakukan saat bangunan itu masih berupa langgar. Menurut Madun, pemindahan dilakukan oleh seorang ulama bernama Kyai Amiruddin.

“Kyai Amiruddin, cucu Kyai Abdul Qohar Ngampel, tokoh penyebar Islam di Blora di periode yang lebih awal,” ucap Madun.

Kondisi masjid saat dipindah masih berbahan kayu. Hingga kini masih ada sebuah tanah kosong di Purwosari yang diyakini merupakan tempat awal masjid itu berdiri.

“Ada tanah kosong katanya bekas masjid di Purwosari. Masyarakat Purwosari masih menokohkan Kyai Amirudin, masih dihauli. Sementara Kyai Amiruddin makamnya belum ada yang mengetahui keberadaannya,” ucap Madun.

Versi sejarah masjid yang dipindah ini juga diakui oleh Ketua Ta’mir Masjid Abdurrahman, Azizi Malik. Dia mengatakan, berdasarkan cerita masyarakat sekitar, masjid ini berasal dari Desa Purwosari yang kemudian dipindah ke Desa Ngadipurwo.

“Masjid ini dulu ceritanya dari Purwosari dipindahkan oleh Kiai Amirudin, dan kemudian didirikan di Desa Ngadipurwo pada tahun 1894 oleh Bupati Blora R.T. Tjokronegoro III,” ucapnya.

Masjid dipindahkan ke Ngadipurwo di sebidang tanah yang dahulunya berdiri langgar yang dibangun Raden Djajeng. Azizi menyebut, Tjokronegoro mendirikan masjid itu pada tanggal 19 Agustus 1894. Dari waktu tersebut masyarakat meyakini bangunan masjid masih terjaga keutuhannya.

“Mimbar masih asli, pilar dan tembok asli, bedug juga. Selain itu yang asli sebagian sudah pada rusak misalnya lampu zaman dulu tapi sudah banyak yang rusak,” jelas Azizi.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

10 Tempat Ngopi di Puncak Malam Hari yang Asyik Buat Nongkrong


Jakarta

Puncak Bogor menjadi salah satu tujuan wisata bagi berbagai kalangan. Terdapat berbagai tempat bersantai hingga kuliner di pemandangan indah dan udara yang begitu sejuk.

Suasana malam di puncak menjadi daya tarik tersendiri dan membuat momen ngopi semakin menyenangkan. Buat kamu yang mau ngopi di puncak, berikut beberapa rekomendasi tempatnya.

Tempat Ngopi di Puncak

Kamu bisa menemukan banyak tempat ngopi di puncak dengan view yang berbeda-beda. Ada yang menyuguhkan hamparan sawah, gunung, sampai sungai yang indah.


1. Ngopi di Sawah

Ngopi di SawahNgopi di Sawah Foto: detikcom/Riska Fitria

Seperti namanya, Ngopi di Sawah merupakan salah satu tempat ngopi dengan panorama hamparan sawah. Menurut laman instagramnya, Ada ragam pilihan kopi seperti espresso, black coffee, kopi tubruk, cappucino hingga kopi sawah

Selain bisa ngopi, ada banyak camilans seperti pisang goreng sambal roa, kembang tahu, tape goreng dan cempedak goreng.
Ada pula hidangan makanan berat seperti ikan mas, tempe goreng, ayam goreng, sayur lodeh, hingga jeroan goreng. Harga kopinya mulai dari Rp 18.000.

Lokasi: Jl. Puri Cemara (Puncak KM.72) No.90, Gadog, Megamendung, Bogor, Jawa Barat 16770:
Jam Operasional: Senin-Jumat 11.00-21.00 WIB
Sabtu-Minggu 09.00-21.00 WIB

2. Roofpark Cafe & Restaurant

Jika Ngopi di Sawah memiliki view hamparan sawah, Roofpark punya view Gunung yang indah. Saat malam hari, lampu-lampu yang menggantung mempercantik kawasan ini.

Menurut lama Instagram Roofpark Cafe & Restaurant, buat kamu yang mau ngopi, ada single espresso, americano, kopi vietnam, es kopi aren, hazelnut mocha latte, dan pilihan lainnya. Sementara pilihan camilannya mulai dari tahu gejrot, bakwan jagung, tempe mendoan, tempe cabe garam, tahu aci gejrot, hingga pisang goreng. Aneka makanan beratnya juga beragam, seperti nasi liwet, bebek bakar, mie goreng, sampai gado-gado. Harga kopinya mulai dari Rp 21.800.

Lokasi: Istana RAJA FO, Jl. Raya Puncak – Cianjur, Palasari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43253
Jam Operasional: Senin-Jumat pukul 11.00-22.00 WIB
Sabtu-Minggu pukul 11.00-00.00 WIB

3. Breeve Hills Resto & Cafe

Tempat Ngopi di PuncakBreeve Hills Resto & Cafe Foto: (Breeve Hills Resto & Cafe/Instagram)

Breeve Hills Resto Cafe juga menyuguhkan alam dan suasana puncak yang begitu khas. Aneka kopinya mulai dari hot Americano, hot espresso, hot cappucino sampai kopi tubruk.

Sambil menikmati kopi, kamu bisa menikmati camilan seperti pisang goreng dengan aneka topping, roti bakar bakwan udang, tape goreng ice cream, tempe mendoan, dan lain sebagainya. Melihat menu di laman instagramnya, adapun aneka makanan beratnya mulai dari sate padang, nasi goreng, mie goreng, hingga aneka pizza dan steak. Harga kopinya mulai dari Rp 23.000.

Lokasi: Jl. Raya Puncak, Kampung Leuwimalang No. 81, Cisarua-Puncak
Jam operasional : Setiap hari mulai pukul 10.00-22.00 WIB, sementara, selama bulan Ramadhan mulai pukul 16.00-22.00 WIB.

4. Kopi Kabut Sevillage Puncak

Kopi Kabut Sevillage mengusung konsep restoran outdoor yang menyuguhkan keindahan alam sekitar. Jadi, tentunya tempat ini cocok untuk kamu yang mau ngopi sambil bersantai.

Menu kopinya mulai dari kopi susu gula aren, cappucino, klepon coffee, latte macchiato sampai dengan cappucino. Ada juga makanan ringan yang tersedia seperti potato wedges, pisang goreng, samosa, dan pancake. Melihat lama instagram Kopi Kabut Sevillage, adapun harga kopinya yaitu mulai dari Rp 12.000.

Lokasi: Ciloto, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.
Jam operasional: Senin-Jumat pukul 09.00-22.00 WIB
Sabtu-Minggu pukul 09.00-23.00 WIB.

5. Jambul Coffee

Tempat Ngopi di PuncakTempat Ngopi di Puncak Foto: (Jambul Coffee/Instagram)

Jambul Coffee by Jambuluwuk adalah tempat ngopi di sekitar hutan pinus dengan view Gunung Pangrango dan Salak. Sambil menikmati pemandangan, kamu bisa menyeruput kopi ditemani aneka camilan khas nusantara.

Ada kue lumpur, kue cubit, klepon, ongol-ongol hingga gemblong yang manis. Harganya mulai dari sekitar Rp 15.000.

Lokasi: Jl. Veteran III No.63, Jambu Luwuk, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16720
Jam operasional: Setiap hari pukul 08.00-23.00 WIB.

6. Bromelia Coffee

Bromelia Coffee bisa menjadi rekomendasi tempat ngopi di puncak berikutnya. Mengusung tema kekinian, pengunjung bisa menyeruput kopi di tepi sungai.

Ada espresso, americano, caffe latte, cappuccino sampai piccolo. Harganya mulai dari Rp 22.000. Melihat laman instagram Bromelia Coffee, adapun hidangan lain yang bisa dinikmati yaitu roti coklat, croffle, kentang goreng, nasi goreng, burger, sampai dengan nasi goreng,

Lokasi: Gg. Hankam, Jogjogan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16750.
Jam operasional: Setiap hari pukul 14.00-22.00 WIB.

7. Daracafe Coffee and Eatery

Daracafe Coffee and EateryDaracafe Coffee and Eatery Foto: (Daracafe Coffee and Eatery/instagram)

Daracafe Coffee and Eatery sudah berdiri sejak 2016. Di sini, pengunjung bisa menikmati view kebun teh Puncak sambil menyeruput kopi panas.

Ada Vanilla latte, espresso, vietnam drip dan latte. Harganya mulai dari Rp 25.000. Berbagai snack yang bisa dinikmati di antaranya pisang bakar, kentang goreng, pisang goreng, sosis bakar, bakso bakar, dan jagung bakar.

Lokasi: Jl Raya Puncak Pass, Bogor
Jam Operasional: Senin-Jumat pukul 10.00-23.00 WIB
Sabtu-Minggu pukul 10.00-00.00 WIB.

8. Kopi Nako Kebon Jati

Tempat Ngopi di PuncakTempat Ngopi di Puncak Foto: (Kopi Nako/Instagram)

Di Kopi Nako Kebon Jati, wisatawan akan disambut dengan deretan pohon jati. Mengutip laman salah satu agen travel, ada pula area outdoor yang menghadap langsung ke pemandangan kota Bogor.

Pengunjung bisa menikmati aneka kopi seperti kopi nusantara dan es kopi nako duren. Untuk makanan beratnya ada nasi goreng, nasi mercon, mie godog, hingga iga bakar ketumbar madu. Harganya mulai dari Rp 8.000.

Lokasi: Jl. Perjuangan, Cipayung Datar, Megamendung, Kabupaten Bogor.
Jam Operasional: Minggu-Jumat pukul 11.00-22.00 WIB
Sabtu pukul11.00-23.00 WIB.

9. Pinggir Kali Coffee

Sesuai namanya, Pinggir Kali Coffee, memang berada di tepi kali dengan pemandangan gunung yang begitu ciamik. Kamu bisa menikmati aneka kopi seperti kopi susu gula aren, spanish latte, hingga banana coffee chocolate sambil menikmati suasananya.

Melihat laman instagramnya, adapun hidangan lain yang tersedia di antaranya adalah pisang bakar, tahu cabai garam, singkong, goreng, jagung bakar, burger, dan aneka rice bowl.

Lokasi: Jl. Raya Sukaraja No.88, Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Jam operasional: Setiap hari pukul 14.00-22.00 WIB.

10. Teras Gadog Coffee & Eatery

Tempat Ngopi di PuncakTempat Ngopi di Puncak Foto: (Teras Gadog Coffee & Eatery
/Instagram)

Teras Gadog Coffee & Eatery bisa jadi tempat ngopi dengan suasana yang begitu asri. Beberapa areanya didesain seperti pendopo.

Beberapa pilihan kopi yang tersedia mulai dari espresso, vietnam drip, americano, cappuccino dan latte. Harga kopinya mulai dari Rp 22.000. Sementara, camilan yang tersedia di antaranya nangka goreng, pisang bakar, singkong thailand hingga lumpia semarang.

Lokasi: Jl. Cikopo Selatan 19A, Bogor
Jam Operasional: Senin-Kamis pukul10:00-22:00, Jumat pukul 10:00-23:00, Sabtu-Minggu pukul 08:00-23:00

Itulah 10 tempat ngopi di Puncak yang asyik buat ngumpul. Beberapa informasi ini diambil dari instagram kafe atau tempat ngopi dan situs agen travel.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Candi Hindu Terbesar, Mitosnya Dibuat Dalam 1 Malam



Jakarta

Candi Prambanan menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. Candi ini memiliki kisah yang melegenda.

Arsitekturnya yang unik membuat Candi Prambanan menjadi tujuan liburan populer bagi sejuta umat yang berlibur ke Jawa Tengah.

Tak hanya dari segi arsitektur, Candi Prambanan juga sarat akan nilai-nilai sejarah di dalamnya. Candi Prambanan adalah kompleks Candi Hindu terbesar dan termegah di Indonesia. Candi Prambanan diperkirakan dibangun pada abad ke-9 masehi, ketika masa Kerajaan Medang Mataram.

Candi satu ini juga dikenal dengan nama Candi Roro Jonggrang dan sangat erat kaitannya dengan legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Dalam kepercayaan masyarakat, candi ini diyakini dibangun dalam satu malam.

Traveler penasaran dengan fakta unik di balik Candi Prambanan? Yuk simak rangkuman dari detikTravel.


Berikut fakta Candi Prambanan:

1. Candi Hindu Terbesar di Indonesia

Keberadaan Candi Prambanan adalah gambaran utama dari kehadiran Candi Hindu di Indonesia. Kompleks candi ini memang menjadi salah satu objek wisata yang paling diminati, menarik banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Candi Prambanan bukan hanya sebuah situs bersejarah biasa, candi ini juga menjadi Candi Hindu di Indonesia. Dalam kompleks ini, terdapat bangunan-bangunan suci yang didedikasikan untuk Dewa Trimurti dalam agama Hindu: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

2. Sejarah Pembangunan Candi Prambanan

Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Jawa kuno yang dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan. Pembangunan dimulai sekitar tahun 850 Masehi dan didirikan untuk menghormati dewa Siwa.

Pembangunan dari Candi Prambanan ini cukup unik karena menggunakan metode-metode dengan sistem air pada sekitar area candi. Selain itu, ada pula candi-candi lainnya yang dibangun di sekitar candi utama di area Candi Prambanan tersebut.

3. Nama Asli Candi Prambanan

Dari prasasti Siwagrha, diperoleh informasi bahwa nama asli Candi Prambanan adalah Siwagrha, yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “Rumah Siwa”.

Dalam ruang utama candi, dikenal sebagai Garbagriha, terdapat sebuah arca Siwa Mahadewa yang tingginya mencapai tiga meter. Hal ini menunjukkan dominasi aliran Syaiwa yang mengutamakan penghormatan terhadap Dewa Siwa di dalam kompleks Candi Prambanan.

4. Legenda Roro Jonggrang, Pembangunan Candi dalam Semalam

Candi Prambanan juga dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang, yang mengacu pada legenda tentang seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, yang memiliki kekuatan luar biasa.

Saat Bandung Bondowoso ingin meminang Roro Jonggrang, gadis cantik tersebut menetapkan syarat berat untuknya, yaitu membangun seribu candi dalam semalam.

Akhirnya dengan bantuan jin, Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan tugasnya, tetapi Roro Jonggrang berusaha untuk menggagalkannya hal tersebut. Mendengar suara alu dan kokok ayam, para jin takut matahari akan terbit.

Para jin tersebut meninggalkan Bandung Bondowoso dengan pekerjaan yang belum selesai. Bandung Bondowoso marah saat mengetahui kejadian ini adalah akal-akalan sang putri.

Lalu, ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu sebagai pelengkap arca yang belum diselesaikan.

5. Terletak di Dua Tempat

Secara keseluruhan, kompleks Candi Prambanan terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, namun pintu administrasinya berada di Jawa Tengah. Sebagai akibatnya, Candi Prambanan secara geografis terletak di dua lokasi, yaitu Desa Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Tlogo, Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

6. Ceritakan Kisah Ramayana dalam Reliefnya

Candi Prambanan dihiasi dengan relief naratif yang menceritakan kisah epik Hindu, seperti Ramayana. Relief ini terukir di dinding dalam pagar langkan dan dibaca dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam.

Cerita Ramayana dimulai di sisi timur candi Siwa dan berlanjut ke candi Brahma, sementara cerita Kresnayana terdapat di pagar langkan candi Wisnu. Relief Ramayana menggambarkan penculikan Sinta oleh Rahwana dan upaya Rama dan Hanuman untuk menyelamatkannya.

7. Ada 240 Candi di Kompleks Prambanan

Mulanya kompleks candi Prambanan terdiri dari 3 Candi Trimurti, 3 Candi Wahana, 2 Candi, 4 Candi Kelir, 4 Candi Patok, dan 224 Candi Perwara. Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara.

8. Masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO

Candi Prambanan telah diakui sebagai salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Candi Prambanan juga menjadi salah satu candi terindah di Asia Tenggara loh.

Dua alasan yang menjadikan Candi Prambanan sebagai warisan dunia yaitu untuk mewakili karya jenius kreatif manusia dan menjadi contoh luar biasa dari jenis bangunan arsitektur atau teknologi yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia.

Sudah tau kan beberapa fakta menarik tentang Candi Prambanan. Komplit dengan cerita sejarah dan legenda di baliknya. Kalo sedang berlibur di Jawa Tengah jangan lupa mampir ke sini ya traveler.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tidak Sekadar Megah, Ini Makna di Setiap Arsitektur Istiqlal



Jakarta

Arsitek Frederich Silaban mendesain Masjid Istiqlal di Jakarta dengan sangat matang. Ada makna tersembunyi di setiap detail bangunan megah itu.

Berasal dari bahasa Arab yang bermakna kemerdekaan, Istiqlal memiliki sejarah yang kental akan Islam dan kebangsaan. Dari kegiatan City Tour Disparekraf pada Minggu (24/4/24), berikut detikTravel rangkum makna-makna tersembunyi dari bangunan yang ada di Masjid Istiqlal,

1. Kubah dengan diameter 45 meter

Sebuah masjid tentu identik dengan kubah. Sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal memiliki kubah yang sangat besar dengan diameter sepanjang 45 meter. Pemilihan angka 45 ini bukan tanpa maksud.


Angka 45 pada diameter kubah Masjid Istiqlal mengisyaratkan tahun kemerdekaan Indonesia yaitu tahun 1945. Bagian dalam Kubah tertulis kaligrafi Surah Al Fatihah, Surah Thaha ayat 14, Ayat Kursi, dan Surah Al Ikhlas.

2. 12 tiang penyangga melingkar

Selain kubah, pada bagian dalam masjid, traveler akan melihat 12 tiang penyangga berbahan dasar stainless steel yang melingkar. Jumlah tiang penyangga itu melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni 12 Rabiul Awal.

3. Punya 5 Lantai

Jika melihat ke atas atau bagian samping, traveler akan melihat tingkatan lantai yang ada di Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal memiliki lima lantai yang menggambarkan lima dasar Islam yang menjadi syarat kesempurnaan umat muslim atau Rukun Islam sekaligus jumlah waktu salat dalam sehari dan jumlah sila dalam Pancasila.

4. Memiliki 1 Menara

Jika biasanya suatu bangunan memiliki dua menara, tidak dengan Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal hanya memiliki satu menara yang melambangkan keesaaan Allah SWT. Tingginya tidak main-main, mencapai 66,66 meter atau 6.666 cm yang melambangkan jumlah ayat yang ada dalam kitab suci Al Quran.

Mulanya menara itu berfungsi sebagai tempat mengumandangkan Azan, namun saat ini menara tersebut difungsikan sebagai tempat pengeras suara Azan.

5. Memiliki 7 Pintu

Tujuh pintu yang dimiliki Masjid Istiqlal melambangkan delapan jumlah surga dengan tujug lapisan surga seperti yang tercantum di dalam Al Quran. Pintu-pintu tersebut memiliki nama yang diambil dari Asmaul Husna diantaranya As-Salam, Al-Fattah, Ar-Razzaq, Al-Quddus, Al-Ghaffar, Al-Malik, dan Ar-Rahman.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ini Pondok Pesantren Tertua di Kota Malang, Usianya Sudah 225 Tahun



Malang

Inilah pondok pesantren tertua di Kota Malang. Usianya sudah 225 Tahun. Namanya Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) atau lebih dikenal dengan Pondok Gading.

Pondok Gading baru saja menerima anugerah pesantren tertua dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 31 Januari 2023 lalu. Anugerah ini diberikan karena Pondok Gading masuk 8 besar ponpes tertua se-Indonesia.

Putra pengasuh Pondok Gading, Gus Fuad Abdurrohim Yahya mengatakan, pondok Gading dirikan oleh KH Hasan Munadi pada tahun 1768 atau usianya saat ini sudah 255 tahun. Setelah KH Hasan Munadi meninggal, pondok gading di asuh oleh KH Ismail.


Penerus pengasuh pondok saat itu KH Muhammad Yahya bersama para santri juga turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Surabaya. Cerita itu didapatkan oleh Gus Fuad dari abahnya, berdasarkan kisah para pejuang yang berada di lapangan.

Pada saat itu juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad pada 10 November 1945.

“Beliau (KH Muhammad Yahya) ikut berperang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya, sewaktu bersama Bung Tomo, Insya Allah bersama santrinya juga. Karena saat itu banyak santri dari pondok-pondok di Jatim, Jateng dan Jabar ikut (berperang) melawan sekutu di Surabaya,” kata Gus Fuad.

Saat itu, para santri ponpes dididik sesuai ajaran NU yakni Hubbul Wathon Minal Iman atau slogan yang artinya ‘cinta tanah air atau nasionalisme bagian dari iman’. Para santri tidak diajarkan ilmu agama Islam semata saja tetapi juga dipraktekkan melawan penjajah.

Pondok Gading pasca kemerdekaan RI juga memiliki gebrakan kepada para santri laki-lakinya untuk menyeimbangkan antara ilmu agama dengan pendidikan umum. Para santri laki diperbolehkan untuk bersekolah umum hingga saat ini.

“Pada saat itu ponpes yang membebaskan santrinya untuk bersekolah umum adalah hal yang jarang di temui, mungkin khawatir akan adanya paham-paham yang tidak sesuai dapat mempengaruhi ajaran agama yang sudah diperoleh,” ujarnya.

Kebijakan ponpes saat itu bisa dibilang cukup berani karena berbeda dengan lainnya. Namun, tetap ada batasan waktu, seperti diperbolehkan sekolah pada pagi hari dan setelahnya kembali ke ponpes.

Selama mengasuh pondok Gading, KH Muhammad Yahya selalu mewanti-wanti para santrinya agar tidak salah dalam niatnya.

Sampai sekarang, pesan itu diteruskan oleh putra-putranya. Kini, Pondok Gading dikelola oleh pengasuhnya, yaitu KH Ahmad Arief bersama keluarga besar generasi keempat.

Ajaran-ajaran yang ada juga sesuai paham NU Ahlussunnah Waljamaah, kitab-kitab KH Hasyim Asy’ari juga dikaji di Pondok Gading.

Selain itu, seperti ponpes pada umumnya juga diajarkan alquran, ilmu Fiqih, Tauhid, Sejarah, Tasawuf, Nahwu, Shorof dan lainnya.

“Kita juga mengajarkan ilmu Hisab untuk menentukan awal puasa, kemudian hari raya, waktu shalat, terkadang jelang Ramadan berbagai pihak menghubungi Pondok Gading bertanya kapan waktu mulai puasanya, juga Idul Fitri biasanya ada perbedaan waktu penentuan, itu juga tanyanya ke kami,” bebernya.

Total ada 600 santri, terdiri 500 laki dan 100 perempuan yang mondok di Pondok Gading. Rata-rata para santri laki berstatus sebagai mahasiswa.

“Di sini santri ada yang masih usia SMP, SMA, kuliah, bahkan ada juga yang sudah bekerja, tetapi 50 persen mahasiswa. Untuk sekolah formal di lingkungan pondok hanya Madrasah Diniyah saja, untuk lainnya sekolah formal dibebaskan memilih di luar,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa alumnus Pondok Gading juga rata-rata berkontribusi bagi negara. Seperti Wali Kota Malang, Sutiaji, kemudian salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Robikin Emhas yang juga Staf Khusus Wakil Presiden RI dan lainnya.

“Juga ada bapak As’ad Malik yang pernah menjadi Bupati Lumajang, di Kementerian juga banyak alumnus kita disana, Insya Allah lulusan Pondok Gading ini banyak yang berkontribusi untuk negara,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

8 Spot Foto di Jalur Mudik Pantura yang Estetik dan Menarik Dikunjungi


Jakarta

Sebentar lagi kita akan memasuki musim mudik, di mana setiap orang yang merantau akan pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri atau sekedar menikmati libur panjang bersama keluarga di rumah.

Nah, bagi kamu para pemudik terutama yang melewati jalur Pantura, salah satu jalur yang ramai pemudik setiap tahunnya, jangan sampai lewatkan tempat-tempat dengan spot foto estetik di bawah ini.

Pilihan Spot Foto di Jalur Mudik Pantura

Berikut ini beberapa tempat yang bisa kamu pilih sebagai spot foto saat mudik melewati jalur Pantura.


1. Masjid Menara Kudus

Masjid dan Menara Kudus, Sabtu (9/3/2024).Masjid dan Menara Kudus, Sabtu (9/3/2024). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Mudik ketika lebaran sangat cocok untuk kita melakukan wisata religi ke Masjid Menara Kudus yang tidak hanya estetik tapi juga bernilai historis dan sarat akan akulturasi budaya.

Masjid Menara Kudus terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang bernama asli Masjid Al-Quds ini dibangun pada 1685 Masehi oleh salah satu ‘Walisongo’, ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa, yaitu Sunan Kudus atau Syekh Ja’far Shodiq.

Hal yang unik dan menjadi daya tarik dari masjid ini adalah arsitektur masjid yang penuh dengan nilai historis dan sarat akan akulturasi budaya Islam dan Hindu.

Misalnya struktur bangunan, menara yang seperti candi, dan gapura yang sangat kental dengan kebudayaan Hindu. Sementara itu, ornamen masjid di dalamnya sangat kental dengan nilai-nilai keislaman.

Simbol akulturasi pada masjid ini merupakan bentuk perjuangan dakwah Sunan Kudus dalam mengislamkan masyarakat Jawa dengan damai dan tanpa kekerasan. Kamu juga bisa sekalian berziarah ke makam Sunan Kudus yang terletak di samping Masjid Menara Kudus ini.

2. Masjid Agung Jawa Tengah

Sejumlah warga menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa (ngabuburit) dengan berwisata di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/3/2024). Selain sebagai tempat ibadah, masjid berkapasitas 15.000 jamaah yang dibangun pada tahun 2002 dengan luas 10 hektare itu menjadi salah satu destinasi favorit warga maupun wisatawan dari daerah lain karena memiliki gaya aristektur unik yakni perpaduan gaya Jawa Arab dan Romawi. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/Spt.Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/3/2024). Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Saat mudik, kita masih berada di suasana Bulan Ramadhan. Maka tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk berwisata religi.

Masjid yang terletak di Kota Semarang ini memiliki gaya arsitektur yang sangat menarik karena memadukan tiga arsitektur, yaitu gaya Jawa, Roma, dan Arab.

Dilansir dari detikJateng (29/3/2023) gaya arsitektur tersebut terlihat dari motif-motif batik yang merupakan seni tradisional Jawa yang terlihat di bagian dasar tiang.

Kemudian, seni kaligrafi di area dinding masjid yang sarat akan budaya Timur Tengah. Selain itu, budaya Roma yang terlihat dari lapisan warna-warna desain interior masjid.

Terdapat pula payung hidrolik besar yang membuat masjid ini mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid estetik ini bisa menjadi salah satu tujuan berwisata dan spot foto ketika mudik melewati jalur Pantura.

3. Lawang Sewu

Lawang Sewu.Lawang Sewu. Foto: pariwisata.semarangkota.go.id

Masih berada di sekitar Semarang, tempat spot foto estetik selanjutnya adalah Lawang Sewu.

Dilansir dari Visit Jawa Tengah, Lawang Sewu adalah bangunan megah bergaya arsitektur art deco yang dulunya merupakan Kantor Pusat Kereta Api Belanda (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij/NIS), terletak di Komplek Tugu Muda.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Queendag, dibangun sekitar tahun 1903, dan diresmikan pada tanggal 1 Juli 1907.

Di kalangan masyarakat Semarang, bangunan ini lebih dikenal dengan sebutan Gedung Lawang Sewu karena memiliki banyak pintu. “Lawang” dalam bahasa Jawa berarti pintu, dan “Sewu” berarti seribu.

Gedung ini menjadi warisan budaya dengan arsitektur yang antik dan estetik. Kamu wajib mampir ke tempat ini jika mudik melewati Semarang.

4. Gedung Djoeang ’45

Gedung Djoeang '45 Surakarta.Gedung Djoeang ’45 Solo. Foto: dok. Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Surakarta

Masih dengan gedung bergaya Eropa yang tentunya cocok untuk spot foto. Kali ini bertempat di Solo, Jawa Tengah. Gedung ini bernama Gedung Djoeang 45.

Salah satu keunikan Gedung Djoeang 45 Solo adalah bangunannya yang merupakan salah satu bangunan bersejarah sekaligus ikon perjuangan Solo.

Dibangun pada masa kolonial Belanda, gedung bersejarah ini terdaftar di bagian Monumen Peninggalan. Ini merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Tempat yang baru dibuka pada 20 September 2019 ini memiliki banyak spot foto instagramable apalagi pada malam hari ketika lampu-lampu mulai menghiasi komplek gedung.

5. Lasem Tiongkok Kecil

Lasem Tiongkok Kecil.Pondok Pesantren dengan Bangunan Bergaya Tiongkok di Lasem. Foto: humas.jatengprov.go.id

Tempat wisata dengan spot foto estetik di jalur mudik Pantura selanjutnya adalah Tiongkok kecil di Lasem, Rembang. Tempat ini merupakan sebuah kompleks pecinan terkenal yang ada di Rembang, Jawa Tengah.

Dilansir dari laman Visit Jawa Tengah, julukan ‘Tiongkok Kecil’ disematkan karena dipercayai sebagai tempat kedatangan awal orang Tiongkok di pulau Jawa.

Lasem juga terkenal sebagai pusat batik yang terkenal dari tiga negeri. Di sini, banyak terdapat klenteng kuno yang berusia ratusan tahun, seperti Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun.

Meskipun demikian, Lasem juga memiliki pondok pesantren tua yang memiliki arsitektur Tiongkok, seperti Pondok Pesantren Al-Hidayat Asy-Syakiriyyah di Soditan dan Pondok Pesantren Kauman di Karangturi. Tidak mengherankan jika Lasem dianggap sebagai kota yang toleran.

Ketika mengunjungi Lasem, jangan lupa melihat salah satu bangunan tua yang menjadi simbol pariwisata, yaitu Rumah Merah Heritage Lasem. Kawasan ini sangat estetik untuk kamu berfoto-foto atau sekedar mampir ke tempat ini.

6. Grand Maerakaca

Lumina di Grand Maerakaca SemarangLumina di Grand Maerakaca Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

Melakukan perjalanan panjang seperti mudik memang sangat melelahkan. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika beristirahat melepas penat dan mampir ke tempat yang estetik di Semarang yaitu Grand Maerakaca.

Tempat ini sering disebut dengan Taman Mini Jawa Tengah. Di sini kamu dapat melihat berbagai replika dan miniatur bangunan khas yang tersebar di seluruh Provinsi Jawa Tengah.

Ada sekitar 30 bangunan atau rumah adat yang memiliki karakteristik unik dari setiap Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

Daya tarik tempat ini tidak hanya terbatas pada replika miniatur rumah adat, tetapi juga berasal dari berbagai macam pameran yang ditampilkan.

Pameran ini memiliki beragam bentuk, mulai dari kerajinan tangan, makanan dan minuman khas, hingga pakaian khas dari setiap daerah di Jawa Tengah.

Kemudian, yang paling menarik adalah kamu bisa melakukan mangrove tracking dengan melewati hutan mangrove yang sangat estetik.

7. Brown Canyon

Brown Canyon SemarangBrown Canyon Semarang. Foto: (Dok. addy_addy13/Instagram)

Masih di sekitar Semarang, tetapi spot foto kali ini adalah wisata alam terbuka, yakni Brown Canyon. Selain sebagai spot foto, tempat ini juga cocok untuk melepas penat selama mudik di jalur Pantura.

Tempat yang terletak di Semarang ini sering disebut dengan Grand Canyon-nya Semarang karena memiliki tekstur tanah dan tebing-tebing seperti Grand Canyon yang ada di Amerika Serikat.

Tempat ini sangat estetik untuk kamu yang suka berburu foto. Untuk mendapatkan foto terbaik disarankan datang di pagi atau sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas.

8. Agrowisata Kaligua

Agrowisata Kebun Teh KaliguaAgrowisata Kebun Teh Kaligua. Foto: (Imam Suripto/detikcom)

Setelah seharian merasakan penatnya perjalanan mudik, kamu bisa mampir ke Agrowisata Kaligua untuk mencari udara segar dan merehatkan mata dengan pemandangan hamparan hijau kebun teh dengan suasana yang menenangkan.

Dilansir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes, Agrowisata Kaligua terletak di Desa Pandansari, Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Tempat ini merupakan salah satu perkebunan peninggalan kolonial Belanda.

Tempatnya yang estetik dan menyegarkan ini menjadi salah satu destinasi yang wajib kamu kunjungi ketika lewat jalur Pantura.

Itu dia beberapa spot foto di jalur mudik Pantura yang bisa kamu kunjungi bila melewati jalur tersebut di musim mudik lebaran tahun ini. Semoga perjalanan kamu lancar.

(inf/inf)



Sumber : travel.detik.com

Alun-alun Sangkala Buana, Tempat Paling Menakutkan bagi Warga Cirebon



Cirebon

Zaman dahulu, Alun-Alun Sangkala Buana jadi tempat yang sangat ditakuti oleh warga Cirebon, karena jadi lokasi eksekusi para narapidana. Bagaimana kisahnya?

Alun-Alun Sangkala Buana terletak di depan keraton Kasepuhan Cirebon. Karena letaknya di bagian depan keraton, alun-alun ini sering disebut sebagai Alun-Alun Kasepuhan.

Setelah direnovasi pada tahun 2022, Alun Alun Kasepuhan berubah menjadi lebih ciamik. Di setiap sisi alun-alun terdapat gapura dengan susunan bata merah.


Setiap hari, Alun-Alun Kasepuhan menjadi destinasi favorit warga Cirebon untuk menghabiskan waktu luang. Di Alun-Alun terdapat banyak pedagang dan permainan yang bisa pengunjung nikmati. Hampir setiap waktu, alun-alun Kasepuhan tidak pernah sepi pengunjung.

Namun di balik ramainya Alun-Alun Kasepuhan sekarang, dahulu pada zaman kolonial Hindia Belanda, Alun-Alun Kasepuhan jadi tempat yang ditakuti oleh masyarakat Cirebon.

Hal itu terlihat dalam berita yang ditulis oleh koran Belanda De Avondpost Edisi 5 Juni 1926.

Aan de noordzijde van het plein van Kasepochan te Cheribon, nog geen 20 meters van de straat en bijna recht tegen- over den ingang van den Kraton, zijn twee zware, stevig ingemetselde djati- houten palen, die een hoogte hebben van ongeveer anderhalven meter. Deze palen, waarvoor sommige Cheribonners van inlandsche nationaliteit nog een hei- lige vrees koesteren, waarheen velen elen op den, malem djoemahat” en andere heilige dagen kleine offers brengen, zijn onder het volk bekend onder den naam van,, tiang hoekoem sara’,” tulis koran Avondpost.

Dalam bahasa Indonesia berarti, Di sisi utara Alun-Alun Kasepuhan, kurang dari 20 meter dari jalan raya dan hampir berhadapan langsung dengan pintu masuk Keraton. Terdapat dua tiang kayu jati yang berat dan terbuat dari batu bata, tingginya sekitar satu setengah meter.

Tiang-tiang ini, yang masih ditakutkan oleh sebagian penduduk Cirebon yang berkewarganegaraan asli, dan banyak yang melakukan pengorbanan kecil pada malam jumat dan hari-hari suci lainnya, dikenal di kalangan masyarakat sebagai tiang hukum syariat.

Selanjutnya, dalam koran Belanda yang sama, juga menyebutkan, tentang kondisi tiang yang kayu yang digunakan untuk hukuman bagi masyarakat yang melanggar hukum syariah. Tertulis, meski tiang kayu tersebut sudah lapuk, tetapi karena bahan yang digunakan sangat keras, tiang kayu masih bisa bertahan di tengah angin dan cuaca. Diperkirakan tiang kayu masih dapat bertahan selama beberapa tahun mendatang.

Tidak diketahui secara pasti, sejak kapan tiang-tiang tempat eksekusi narapidana pelanggar hukum syariat berada di alun-alun. Tapi menurut cerita bangsawan keraton Kasepuhan, tiang tersebut diduga, didirikan sejak era Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran.

Diceritakan pula, bagaimana proses eksekusi terpidana berlangsung, yakni dengan diikat tangan dan kaki di salah satu tiang dalam posisi berdiri. Ada pula yang menanggalkan pakaiannya terlebih dahulu, lalu bagian tubuhnya seperti jari dipotong.

Di sampingnya terdapat pejabat dari keraton, yang berdiri di dekat narapidana yang akan dieksekusi. Setelah di eksekusi, luka akibat pemotongan kemudian dioleskan garam dan air asam jawa, oleh pejabat keraton yang ada di dekatnya.

Dalam koran Belanda yang lain, Delf edisi 6-9 -1926 juga disebutkan, pasca Hindia Belanda mulai merampas kekuasaan sultan di Cirebon. Mereka mencoba untuk menghapuskan hukuman mati kepada narapidana, menurut mereka hukuman mati kepada narapidana adalah hal yang kejam dan barbar.

Ketika pemerintah Hindia Belanda akan membangun perumahan di dekat alun-alun. Pemerintah Hindia Belanda memberi kabar kepada sultan Kasepuhan untuk menghilangkan kedua pilar tempat eksekusi.

Sebagian masyarakat ingin tiang itu segera dihilangkan, tapi sebagian masyarakat khususnya penduduk asli, menuntut agar tiang hukum syariat tetap berdiri sampai angin dan cuaca menghancurkannya. Dan tentunya membutuhkan waktu yang lama.

Men heeft deze palen willen doen ver- dwijnen, doch de Inlanders willen van het wegdoen niets weten en eischen, dat ze zullen blijven staan tot weer en wind ze zullen hebben vernietigd. En dat zal nog wel een tijdje duren,” tulis koran Delf edisi 6-9-1926.

Sebagai upaya agar tidak terlihat menakutkan, pemerintah kota Hindia Belanda membersihkan lapangan Kasepuhan dan memasang hamparan bunga di sebelah utara tiang. Sehingga tiang-tiang tersebut terlihat lebih baik.

Kepala Bagian Informasi dan Parawisata Keraton Kasepuhan Cirebon Iman Sugiman membenarkan jika dulu alun-alun pernah menjadi tempat eksekusi bagi para narapidana yang melanggar hukum syariah.

Menurutnya alun-alun sudah ada sejak abad 15. Selain digunakan sebagai tempat eksekusi, alun-alun juga digunakan sebagai tempat latihan prajurit keraton setiap hari sabtu, atau Sabtonan.

“Alun-Alun Sangkala Buana sudah ada sejak abad ke 15. Letaknya berada di depan utara Siti Inggil. Dahulu fungsinya untuk upacara kebesaran dan acara Sabtonan,” tutur Iman belum lama ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com