Category Archives: Domestik

Menjadi ‘Jeng Yah’ di Museum Kretek Kudus



Kudus

Museum Kretek di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki koleksi baru, yaitu seperangkat alat linting tembakau. Pengunjung bisa belajar melinting seperti ‘Jeng Yah’ di film Gadis Kretek.

“Satu set itu sebenarnya ada delapan orang yang bekerja, tetapi di sini ada empat alat giling di sebelahnya ada lokasi untuk batil, jadi satu set digabung, jika ditambah lagi menjadi seperti diorama yang sudah ada Museum Kretek menjadi panjang,” kata Manajer Nojorono Kudus, Arif Gunadi ditemui di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).

Dia menambahkan, bahwa koleksi terbaru ini diperkirakan berusia 91 tahun. Alat produksi itu sebagai saksi Nojorono, salah satu perusahaan terbesar di Kudus ini memproduksi rokok jenis kretek.


“Alat produksi ini menjadi bagian dari Nojorono Kudus, sudah 91 tahun, ini model lama yang awal-awal dulu kami memproduksi rokok kretek sehingga itu sebuah pembelajaran, jangan disalahartikan ini menjadi tempat produksi kecil bukan, karena ini bukan tempat produksi kecil ini tempat bagian sejarah kami dulu yang kami hibahkan untuk menjadi edukasi buat masyarakat,” kata dia.

Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Lebih lanjut, alat produksi tersebut sebagai saksi hidup wanita di Kudus yang bekerja sebagai buruh rokok kretek. Menurutnya ada ribuan wanita di Kudus yang bekerja menjadi buruh rokok. Hal itu pun menjadi penopang ekonomi warga di Kota Kretek.

“Bagaimana ibu-ibu di Kudus itu hidup dari rokok itu. Sehingga mereka tergantung pada itu, ada ribuan pekerja di Kudus ini yang tergantung pada industri hasil tembakau seperti ini, dan ini sebuah sejarah yang harus diapresiasi, terutama Kudus bagian dari sejarah kretek yang namanya juga menjadi Kota Kretek,” ungkap Arif.

“Sehingga lebih mengenal sejarah Kota Kretek. Harapannya menjadi Jeng Yah-Jeng Yah ke depannya,” lanjut dia.

Sementara itu, Pj Bupati Kudus Muhammad Hasan Chabibie mengatakan bersyukur dengan koleksi baru di Museum Kretek Kudus. Menurutnya adanya koleksi baru ini menjadi tambahan ilmu bagi pengunjung yang berwisata edukasi ke Museum Kretek Kudus.

“Saya kira ini mewakili sebuah perjalanan panjang industri rokok kretek yang ada di Kudus. Salah satunya divisualisasikan dengan alat yang hibahkan, tentunya harapannya hibah alat ini ada pengalaman pengguna bisa langsung dipakai saat itu, untuk membuat rokok kretek ini menjadi pelajaran berharga buat pengunjung,” kata Hasan.

Artikel ini telah tayang di detikJateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Spot Healing di Nampan, Sukomakmur, Magelang Punya Background Gunung Sumbing



Magelang

Traveler yang suka hunting foto jangan sampai kelewatan spot satu ini. Jalanan lengang dengan latar Gunung Sumbing dan hijau kebun sedang viral di media sosial.

Saat cuaca sedang bersahabat, pemandangan awan dan alamnya tampak begitu jelas di depan mata. Jalanan mulus beraspal itu terletak di daerah Sukomakmur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Iya kebetulan ini lagi sunmori trus katanya mampir ke sini worth it gitu,” kata Fatiya, salah satu pengunjung spot.


Dari Yogyakarta, traveler perlu menempuh jarak sekitar 60 km atau setara dengan 1,5 jam perjalanan. Tenang saja, perjalanan panjang itu akan terbayar lunas dengan view indah lereng Gunung Sumbing. Ditambah lagi terasering lahan sayur di Negeri Sayur Sukomakmur menjadi pemanis alami.

“Jalannya kayak highways to heaven ya mbak. Lurus mulus dan megah ngarah ke Sumbingnya, cantik banget. Nggak sia-sia jauh-jauh ke mari dari Jogja kami,” kata Fatiya.

Ya, pesona spot ini adalah jalanan beraspal sempit, namun memiliki view yang menawan. Di kanan kiri jalan adalah kebun petani, sudah begitu jalan itu menghadap langsung ke Gunung Sumbing. Saat cuaca cerah, lekuk gunung, hijau dan area gersang lerengnya kentara betul, menggoda berpadu dengan awan biru.

Selain itu, udara nan segar dan hawa dingin cocok untuk menjadi obat bagi traveler yang penat dengan polusi di perkotaan. Sejenak, lokasi itu bisa menjadi tempat pelarian yang nyaman. Poin plusnya angin semilir yang berhembus dapat menguapkan stress menumpuk akibat aktivitas berat seolah mengusir penat dan lelah.

Berfoto ria di jalan ini gratis tanpa pungutan biaya bahkan untuk parkir sekalipun. Traveler cukup berhenti saja di pinggir jalan dan bisa mulai mengabadikan momen. Mengingat areanya yang terletak di dataran tinggi mencapai 1300 mdpl, disarankan menggunakan kendaraan bermotor dengan kondisi prima dan bensin yang cukup.

Lebih asik lagi jika traveler mengendarai kendaraan roda dua agar lebih leluasa menghabiskan jalanan dan mampir semaunya.

Waktu terbaik menikmati view Gunung Sumbing tentunya di pagi hari, tepatnya sebelum pukul 09.00. Jika beruntung dengan cuaca yang cerah, Gunung Sumbing akan terlihat jelas hingga di puncaknya tanpa tertutup awan kabut.

Jalanan ini sejatinya adalah jalan umum masyarakat di Sukomakmur. Traveler akan melewatinya jika hendak pergi ke wisata Negeri Sayur Sukomakmur. Jadi, cukup ketikkan saja keyword “Nampan, Sukomakmur, Magelang” di aplikasi maps, traveler akan dengan mudah menemukannya.

Selain sisi belakang yang langsung menyuguhkan Gunung Sumbing, di kiri kanannya tidak kalah menakjubkan. Sepanjang jalan traveler akan melihat kebun sayur terbentang luas yang beraneka ragam jenisnya tergantung musim. Mulai dari daun bawang, sayur hijau, cabai, dan sayur mayur lainnya.

Jalan ini menjadi ramai diburu sebagai spot hunting foto kekinian sejak para influencer travel mempostingnya di instagram. Ada yang bilang jalan sukomakmur cocok dijadikan sebagai referensi sunmori.

Sunmori di tempat ini tentu menjadi pilihan yang sempurna. Selain dapat kepuasan berfoto, traveler juga bisa sekaligus mendinginkan kepala setelah beraktivitas di hari kerja. Apalagi healing ke sini sangat low budget. Namun pastikan jika traveler kemari menggunakan pakaian hangat atau jaket ya, karena suhu udaranya cukup dingin ditambah sepoi anginnya.

Puas memotret diri di lokasi ini, traveler bisa loh naik sedikit ke atas untuk mengunjungi wisata Negeri Sayur Sukomakmur. Di lokasi itu tentu akan ditemukan lebih banyak spot foto menarik. Dijamin traveler tidak akan kehabisan stok foto untuk di posting.

Ingin sekaligus wisata kuliner? Tenang saja, tidak jauh dari lokasi jalan surgawi ini, traveler akan menemukan pasar tradisional Sukomakmur. Di pasar ini tentu traveler akan menemukan berbagai jajanan pasar klasik seperti layaknya pancong, bubur sumsum, aneka gorengan, dan hidangan lainnya. Traveler juga bisa mampir untuk makan berat di warung-warung soto sekitar. Lengkap sudah healing traveler yang ingin merasakan vibes menjadi “warga lokal”.

Lelah perjalanan 1,5 jam seketika menguap jika sudah tiba di Sukomakmur. Jadi, tunggu apalagi? Segera rencanakan perjalananmu kemari.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Pandansari, Punya Hutan Cemara dan Mercusuar



Yogyakarta

Popularitas Pantai Pandansari tidak seperti Pantai Parangtritis atau Pantai Cemara Sewu. Tetapi, justru membuat pantai di Bantul ini cocok untuk mencari ketenangan.

Berlokasi di Bantul, Yogyakarta dan masih satu garis pantai dengan Parangtritis, Pantai Pandansari adalah salah satu pantai berpasir hitam halus dengan deburan ombak laut selatan yang menggulung. Pantai ini memiliki sejuta fakta dan pesona yang memikat untuk kembali datang.

Pantainya yang tidak terlalu diketahui orang membuatnya masih sedikit terjaga kebersihannya. Lokasinya pun tidak seramai pantai tetangga yang terkadang sangat padat.


Akses menuju lokasi sangatlah mudah dan sama sekali tidak membingungkan. Traveler bisa parkir di area yang mudah dilihat. Masuk ke pantai ini traveler cukup membayar retribusi sebesar Rp 5.000 dan biaya parkir Rp 5.000 hingga Rp 10.000 tergantung jenis kendaraan.

Lalu apa saja pesona yang memikat di sini, yuk simak!

Ada mercusuar, loh!

Pantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuarPantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuar (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Pandansari menjadi satu-satunya pantai selatan di Jogja yang memiliki mercusuar. Bangunan setinggi 40 meter ini tinggi gagah berdampingan dengan pantai. Traveler yang datang bisa merasakan langsung uji adrenalin menapaki ratusan tangga menuju puncaknya.

Mercusuar ini bernama Kala Jivam Asti yang sudah berdiri kokoh sejak tahun 1997. Tertarik untuk melihat Jogja dari ketinggian? Coba tantang dirimu untuk mendaki sampai ke puncak, ya.

Hamparan hutan cemara laut hijau

Bak masuk ke negeri dongeng, di pantai ini akan ditemukan hamparan hutan cemara laut yang menghijau membentang layaknya pagar penjaga pantai. Hutan ini sedang hijau-hijaunya di musim sekarang. Pohon cemara laut yang rimbun dipadu dengan padang rumput menghijau membuat lokasinya asyik untuk sekadar merenung.

“Niatnya ke sini mau merenung aja sih sambil nunggu buka (puasa). Mungkin sekalian bukber di sini sih nanti,” kata Fadhil, salah satu pengunjung Pantai Pandansari.

Lokasinya yang rimbun dan rerumputan yang subur bak permadani karpet membuat tempat ini cocok untuk berpiknik ria. Traveler bisa berbaring tanpa alas sekalipun di sini. Di tambah tinggi pohon cemara laut yang menjulang sedikit menunda teriknya sinar mentari langsung mengenai muka.

Berkunjung ke sini memang waktu terbaiknya di sore hari menjelang senja. Selain untuk berburu sunset, cahaya dan suhunya bisa membuat nyaman tanpa takut kepanasan. Traveler bisa melakukan kegiatan berpiknik, berbaring, memasang hammock di antara pohon, atau sekadar duduk merenung sambil baca buku favorit. Atau jika traveler sedang berpuasa, bisa agendakan buka bersama di Pantai Pandansari agar anti mainstream.

Spot berburu senja

Pantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuarPantai Pandansari di Yogyakarta memiliki mercuar, pas untuk berburu senja. (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Jika beruntung dengan cuaca, matahari terbenam di laut selatan tidak pernah mengecewakan. Di ufuk barat akan tidur sang surya di perduannya. Langit oranye dan laut biru berpadu pendar memanjakan mata. Waktu terbaik untuk diabadikan lewat mata dan kamera.

“Iya main, berburu sunset juga kebetulan lihat langit Bantul lagi cerah jadi tadi mampir kemari buat foto-foto lumayanlah hari ini lagi bagus,” kata Kurniawan, seorang fotografer yang mampir ke Pandansari.

Tidak akan asyik jika wisata tanpa berfoto. Di Pandansari traveler tidak akan kehabisan spot untuk berfoto dengan berbagai latar. Latar biru laut, hijau hutan, dan oranye senja siap dipilih untuk masuk sosial media.

Berkemah bahkan memancing

Sepanjang garis pantai traveler akan melihat beberapa orang tengah memancing di bibir pantai. Mereka melemparkan pancing ke laut dan menunggunya dengan tenang di pinggiran pantai. Traveler yang hobi memancing bisa mencobanya kemari dengan peralatan pribadi.

Selain memancing, aktivitas lainnya yang bisa dilakukan adalah berkemah. Mendirikan tenda di sekitar kawasan Pantai Pandansari diperbolehkan dengan seizin bertugas. Jika bermalam pastikan memiliki penerangan pribadi yang cukup dan peralatan camping yang memadai ya, karena di sini tidak menyediakan persewaan apapun.

Untuk fasilitas pantai tersedia dengan lengkap, mulai dari area parkir, toilet dan kamar mandi, tempat sampah, air bersih, warung makan, gazebo, kursi dan meja kayu, hingga mushola. Jadi, tidak perlu bingung jika kemari.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Ini Dulu Khusus untuk Bangsawan Jogja, Kini buat Rakyat Jelata



Jogja

Di zaman dahulu, Masjid Sela di Kraton Jogja dikhususkan untuk para bangsawan. Namun sekarang, rakyat jelata pun bisa menggunakannya.

Masjid yang berada di Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton ini merupakan salah satu masjid tertua di Jogja. Berstatus ‘kagungan ndalem’, masjid ini dibangun pada era Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Jika diamati, arsitektur bangunan masjid menyerupai bangunan Tamansari dan Keraton Jogja. Tercermin dari atap dan juga tembok tebal yang masih asli sejak pertama kali dibangun. Bahkan ketebalan tembok masjid mencapai 75 centimeter.


“Masjid Sela aslinya namanya Masjid Watu, kalau di kromo inggil jadi Sela, tapi ada juga sebut Masjid Batu kalau bahasa Indonesia. Dibangun zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I dilanjutkan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bersamaan dengan pembangunan Keraton Jogjakarta,” jelas marbot Masjid Selo, Sunarwiyadi ditemui di Masjid Sela Jogja, Senin (18/3) lalu.

Sejarah Masjid Sela, lanjutnya, berada di dalam kompleks Ndalem atau kediaman Pangeran. Tepatnya Pangeran yang kemudian akan bertakhta sebagai raja di Keraton Jogja. Kala itu, Masjid Sela digunakan sebagai tempat ibadah salat para pangeran dan bangsawan.

“Itulah mengapa masjid ini istilahnya panepen atau masjid khusus karena memang untuk keluarga bangsawan. Kalau jemaah umum ada sendiri di utara masjid, sekitar 200 meter,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini sempat tak digunakan oleh para pangeran. Sunarwiyadi menuturkan, Masjid Sela sempat tidak digunakan dalam kurun waktu antara puluhan hingga ratusan tahun.

Penyebab masjid itu tidak digunakan adalah para pangeran hijrah ke bangunan utama keraton yang saat ini berada.

Masjid Sela Yogyakarta, Sabtu (3/6/2017).Masjid Sela Foto: Edzan Raharjo

Pada saat tak digunakan, fungsi masjid juga berubah menjadi tempat menyimpan keranda jenazah. Pada akhirnya, warga memberanikan diri bersurat ke keraton untuk meminta izin menggunakan Masjid Selo sebagai tempat ibadah.

“Tahun 1965 beberapa tokoh masyarakat melihat ada masjid kecil tidak digunakan, lalu kirim surat ke Keraton mohon izin gunakan, lalu diizinkan. Kena dinggo, tapi ora kena diowah-owah (boleh dipakai tapi tidak boleh diubah), balasannya sederhana,” kisahnya.

Oleh masyarakat, masjid lalu dibersihkan dan keranda jenazah dipindahkan. Selang waktu, akhirnya Masjid Selo kembali difungsikan menjadi tempat ibadah salat. Bangunan inti masjid bisa menampung hingga sekitar 30 jemaah.

Sunarwiyadi memastikan bangunan Masjid Sela masih asli. Renovasi hanya dilakukan di bagian lantai yang awalnya memakai semen batu merah dengan alas kepang dan tikar.

“Lalu sekarang sudah direnovasi dan menggunakan keramik,” ujarnya.

Terkait desain masjid, Sunarwiyadi mengaku sempat mendapat cerita ada campur tangan arsitek asal Portugis. Sosok ini pula yang turut mendesain bangunan Keraton Jogja dan Tamansari. Terbukti dari sejumlah kesamaan detail bangunan.

Walau dikerjakan arsitek Portugis, namun Masjid Selo tetap mengusung kearifan lokal. Ditunjukkan dengan pintu masuk bangunan yang pendek sehingga jamaah harus menunduk saat akan masuk ke masjid.

“Bangunan inti masih asli yang tengah. Kalau kiri kanan bangunan tambahan. Dulu kolam itu sumber airnya dari sungai Winongo. Sekarang sudah tidak ada, tapi salurannya masih ada cuma tidak dipakai lagi,” katanya.

Untuk bangunan inti memiliki luas 6 meter X 8 meter. Dalam kondisi normal bisa menampung hingga 30 jamaah. Sementara dengan bangunan tambahan bisa mencapai 150 jamaah.

Terkait agenda Ramadan 2024, diisi dengan beragam agenda. Mulai dari berbagi takjil, TPA anak hingga tadarus. Penyelenggaraan salat tarawih juga menggunakan bangunan inti. Selain itu juga ada dua bangunan tambahan di sisi kanan dan kiri masjid.

“Agenda Ramadan itu habis Isya, tarawih lalu tadarus dua kelompok. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak di tengah sini, terpisah. Lalu untuk iktikaf itu di 10 hari terakhir,” ujarnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon, Gedung Berlafaz Allah di Jakarta Ini Tak Perlu Fondasi saat Dibangun



Jakarta

Jakarta memiliki banyak gedung-gedung pencakar langit. Salah satunya Menara ESQ 165 yang konon dibangun tanpa fondasi. Bagaimana kisahnya?

Umumnya, proses pembangunan suatu gedung pasti memerlukan piling atau paku bumi, yang kemudian dilanjutkan dengan proses fondasi. Namun tidak dengan gedung yang satu ini.

Gedung 165 atau biasa dikenal sebagai Menara 165 yang terletak di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Gedung spiritual yang ikonik dengan atap bertuliskan lafadz Allah ini, ternyata telah memiliki fondasi alam, berupa batuan keras bernama Cemented Sand dalam proses pembangunannya pada tahun 2005 silam.


Ary Ginanjar Agustian, seorang motivator sekaligus founder ESQ Leadership Center, membeberkan kisah ini melalui akun TikTok pribadinya.

“Ada satu hal yang banyak orang lain tidak tahu,” ujar Ari pada awal video berdurasi 2 menit 20 detik itu.

Ia pun menjelaskan bahwa ketika pembangunan menara 165 dilakukan, telah dilakukan proses pengeboran untuk menancapkan paku bumi layaknya pembangunan gedung-gedung tinggi lainnya.

Namun di tengah proses pengeboran, mata bor selalu patah hingga memercikkan api. Setelah ditelusuri, ternyata ditemukan batuan keras dengan bobot 200 kg/cm2 yang berbentuk seperti fondasi yang telah terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu.

Setelah diteliti di sebuah laboratorium Bandung, Dr. Joni Firmansyah selaku ahli pada bidang tersebut mengatakan bahwa Menara 165 tidak memerlukan fondasi layaknya gedung-gedung pada umumnya.

Itu karena sudah tersedia batuan fondasi dari jutaan tahun lalu hingga kedalaman 30 meter. Sehingga disimpulkan bahwa, Menara 165 hanya memerlukan pilar sebagai penyangga agar tetap kokoh.

“Ini adalah investasi yang luar biasa, bukan hanya efisiensi tetapi karunia dari Allah, karena fondasi sudah ada sebelum gedung ini berdiri,” terang Ary pada video tersebut.

Ia juga menjelaskan, bahwa atap dengan lafadz Allah di gedung ini menjadi alasannya berdakwah. Dalam 1 hari ada sekitar 100 ribu orang yang melintasi Jalan TB Simatupang sambil menyebut nama Allah yang tanpa sadar membuat orang tersebut berdzikir.

Ary menutup video dengan ajakan untuk bersama mengucapkan kata Allah ketika melihat menara ini.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Pohon Pandan ‘Sakti’ di Pangandaran, Tak Mempan Alat Berat



Pangandaran

Di Pacuan Kuda Legokjawa, Pangandaran ada sebuah pohon ‘sakti’ yang tak mempan ketika mau digusur alat berat. Bagaimana kisahnya?

Lokasi pohon itu berada di pesisir pantai desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Pohon ini berada di dalam pacuan kuda terbesar kedua di dunia setelah Inggris yang berada di pinggir pantai.

Ada sebuah pohon pandan berdiri tegak di tengah pacuan kuda memiliki cerita mistis di dalamnya. Konon, sejak berdirinya pacuan kuda tersebut di tahun 80-an, pohon tersebut belum bisa ditebang.


Bahkan, sempat diusahakan ditebang menggunakan alat berat tetapi selalu ada kendala hingga alat beratnya pun patah. Tokoh masyarakat Legokjawa, Engkus Kusnindar membenarkan kisah tersebut.

Engkus mengatakan, pohon pandan ‘sakti’ di pacuan kuda Legokjawa itu bernama pohon Pandan Uwong.

“Memang betul, konon pohon itu sudah ada sejak lama, bahkan saat saya kecil pun tahun 1990an sudah ada,” ucap Engkus, Senin (18/3) lalu.

Ia mengatakan, posisi pohon yang berdiri tegak di bagian kanan pacuan kuda sampai saat ini masih terlihat segar meski sudah puluhan tahun.

Sebelumnya, menurut Engkus di Pacuan Kuda itu terdapat bangunan SD Negeri Sindangjaya. “Dulu tahun 1991 masih ada, saya juga alumni dari situ sekarang sudah dipindahkan,” katanya.

Pohon Pandan Uwong di Pacuan Kuda Legokjawa Pangandaran/Pohon Pandan Uwong di Pacuan Kuda Legokjawa Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadilah/detikJabar

Engkus memperkirakan pacuan kuda sudah ada sejak tahun 1960an atau sudah 60 tahunan lebih berdiri. Pohon itu ditanam oleh Sajidin, senior di sekolahnya dulu.

“Kalau sekarang pak Sajidin usianya sudah 60 tahun, pasti tidak jauh usianya dengan pohon pandan tersebut,” tutur Engkus.

Menurut Engkus, secara syariat kalau pohon pandan tidak berusia lama. Menurutnya, sangat jarang pohon pandan bisa bertahan hingga puluhan tahun.

“Namun pandan uwong ini masih berdiri kokoh hingga sekarang dan tidak berubah warnanya tetap hijau meski di bawah terik matahari,” ucapnya.

Ia menceritakan, saat itu ada dua pohon Pandan Uwong yang berdiri di pacuan kuda namun satu lagi sudah tidak ada secara alami.

“Jadi yang tersisa tinggal itu saja,” ucapnya.

Engkus mengatakan pohon pandan uwong itu sempat berencana akan ditebang tahun 2016 lalu saat ada PON di Jabar, tapi tidak bisa disingkirkan.

“Pohon pandan uwong yang satu itu pernah mau disingkirkan oleh alat berat (beko) malah bekonya yang mental. Pokoknya mitos yang dialami oleh kami itu ada dua, pertama beko mau menyingkirkan pohon malah mental, kemudian beko yang menggunakan alat tajam pun malah patah besinya” katanya. Soal penyebab kenapa pohon itu tak bisa ditebang, Engkus mengaku tidak mengetahuinya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Namanya Yutuk, Kuliner Unik dari Pantai Karangbolong



Kebumen

Jika bicara tentang kuliner Kebumen, kalian harus cobain Yutuk. Kuliner ini adalah sejenis undur-undur laut yang rasanya gurih enak. Sudah pernah coba?

Kebumen tak akan lepas dari keindahan alam Pantai Selatan. Hal ini dikarenakan letak geografis kabupaten Kebumen yang berada di ujung selatan pulau Jawa membuatnya memiliki banyak pantai eksotis dengan segudang potensi.

Di samping potensi alam itu, Kebumen juga memiliki kuliner unik yang wajib Anda coba saat mengunjunginya. Undur-undur laut atau biasa disebut yutuk oleh warga sekitar merupakan sebangsa crustacea layaknya kepiting, udang, dan lobster.


Tidak heran, jika rasa dari undur-undur laut ini gurih mirip dengan hewan-hewan tersebut. Hewan ini memangsa plankton dan detritus yang terbawa air dengan menggunakan antena berbentuk V di bagian depan kepalanya.

Meskipun berukuran tak terlalu besar, hewan ini memiliki kandungan gizi tinggi protein, lemak, zat besi, dan zat kitin yang dapat menurunkan kolesterol serta menjaga metabolisme tubuh.

Kuliner Yutuk dari KebumenKuliner Yutuk dari Kebumen Foto: Natasha Kayla Ananta/detikTravel

Anda akan dengan mudah menemukan olahan undur-undur laut di Kebumen, karena hampir semua pedagang di sekitar pantai menjualnya. Salah satunya di Pantai Karangbolong, yang terletak di Puring, kabupaten Kebumen.

Pantai ini memiliki gua karang unik yang biasa digunakan sebagai tempat upacara adat Ngunduh Sarang Lawet sebagai rasa syukur dan permohonan keselamatan untuk para pengunduh sarang burung walet kepada penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Tak lengkap rasanya jika datang ke sini tanpa mencoba yutuk. Ada dua jenis olahan yutuk yang paling sering ditemukan di sini yaitu peyek yutuk dan yutuk crispy.

Menurut seorang warga lokal, sekaligus pemilik warung yang menjual yutuk, ada beragam reaksi wisatawan ketika mencoba yutuk untuk pertama kalinya.

“Reaksinya ya ada yang baik ada yang kurang baik mungkin karena rasanya unik dan bentuknya yang menggelikan bagi beberapa orang, tapi ada juga yang suka banget,” tutur Linda sebagai generasi ketiga penjual yutuk di keluarganya.

Yutuk dijual dengan harga Rp 10,000 per ons. Dalam sehari ia dapat menjual hingga 10kg per hari bahkan 20kg di hari Minggu.

Selain yutuk, di sini Anda juga bisa mencoba seafood lainnya seperti baby crab, udang, dan ikan laut. Bagaimana, tertarik untuk mencobanya?

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

6 Monumen Tanda Persahabatan ASEAN di Taman Suropati



Jakarta

Taman Suropati merupakan salah satu wilayah yang terlestarikan Jakarta. Ada enam monumen bersejarah di sini.

Taman ini dibangun pada masa wali kota pertama Batavia GJ Bisschop di tahun 1916. Pohon-pohon yang berada di taman ini sudah ada sejak jaman Belanda maka tidak mengherankan jika memiliki diameter batang yang sangat besar.

Taman itu menjadi tempat berdirinya enam monumen dari enam negara pendiri ASEAN. Monumen itu menjadi simbol persahabatan negara-negara ASEAN.


Monumen-monumen tersebut awalnya direncanakan untuk diletakkan secara acak di Jakarta, tetapi kemudian muncul usulan untuk menempatkannya pada satu tempat, dan dipilihlah Taman Suropati.

Berikut 6 monumen ASEAN di Taman Suropati:

1. Peace, harmony, and one (Damai, Harmonis, dan Satu)

Monumen ini dibuat oleh Lee Kian Seng representatif Malaysia. Dikutip dari leekianseng.com monumen ini berukuran 5,1m x 3,1m x 3,1. Monumen persembahan Malaysia ini terbuat dari baja ringan dan terinspirasi dari kaligrafi Lee Kian Seng yang mencerminkan akar budaya Tionghoa.

2. Rebirth (Kelahiran Kembali)

Monumen ini merupakan karya Luis E. Yee Jr seorang seniman asal Filipina. Monumen yang terbuat dari susunan kayu jati yang tersusun dalam empat baris mengisyaratkan tangkai padi yang bergoyang tertiup angin.

3. Harmony (Keharmonisan)

Monumen ini merupakan karya dari Awang HJ Latirf Aspar dari Brunei Darussalam. Berbentuk 6 padi layaknya logo ASEAN pertama sebelum tahun 1997. Pada bagian atasnya terdapat gambar peta dan lambang bulan sabit Brunei Darussalam yang juga terdapat pada Bendera Negaranya.

4. The Spirit of ASEAN (Semangat ASEAN)

Wee Beng Chong adalah seniman yang menciptakan karya The Spirit of ASEAN dari Singapura. Monumen ini menjadi simbol dari persatuan dan kerja sama dari negara-negara ASEAN.

5. Peace (Perdamaian)

Monumen ini dibuat oleh Sunaryo pemahat patung terkenal dari Indonesia. Monumen ini bermakna perdamaian dengan bentuk tubuh manusia yang sudah melalui proses distorsi sedemikian rupa hingga menghilangkan bentuk manusianya.

6. Fraternity (Persaudaraan)

Monumen berbentuk dua manusia yang saling merangkul ini merupakan karya Nonthivathn Chandanaphalin seorang dosen dan seniman terkenal dari Thailand. Monumen Fraternity memiliki makna persaudaraan antar negara ASEAN.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bali Cliff Glamping, Staycation Mewah di Bibir Tebing



Karangasem

Penginapan di Karangasem, Bali ini boleh dibilang antimainstream. Ini glamping mewah dengan view sunrise dan berada di bibir tebing.

Tempatnya bernama Bali Cliff Glamping. Berlokasi di Jalan Karangasem – Seraya, Seraya Barat, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Sesuai dengan namanya, Bali Cliff Glamping terletak di bibir tebing yang menghadap ke laut lepas.

Kadek, salah satu karyawan Bali Cliff Glamping, mengatakan Bali Cliff Glamping menjadi glamping pertama di bibir jurang. Di bangun dengan konsep alami yang khas. Memadukan berbagai ornamen kayu pada setiap detailnya. Sesuai dengan konsep glamping atau glamour camping, di sini setiap bangunan didesain menyerupai tenda. Berasa lagi camping beneran deh!

Bali Cliff Glamping memiliki enam kamar dengan tipe dan bentuk yang sama. Namun, menurut Kadek, setiap kamar memiliki view yang berbeda. Kamar dengan view terbaik adalah kamar di ujung timur karena bisa mendapatkan view sunrise yang menawan.

“Kita di sini memiliki enam kamar, dengan tipe dan fasilitas yang sama. Yang membedakan hanya dari view saja. Menurut saya kamar terbaik itu yang di ujung timur, karena bisa dapet view sunrise waktu pagi hari,” kata Kadek.

Memasuki ruangan traveler akan dibuat kaget karena bak masuk ke dalam tenda, komplit dengan kasur dan peralatannya yang nyaman. Interior didesain dengan konsep minimalis dan klasik. Bernuansa coklat.

Walau terletak di bibir tebing, fasilitas Bali Cliff Glamping ini nggak kaleng-kaleng. Kadek mengatakan, setiap kamar sudah dilengkapi dengan fasilitas double bed, safety box, kamar mandi dalam, air cooler, handuk, dan masih banyak lagi.

Selama staycation di sini, traveler akan dibuat semakin tenang. Malam hari tak ada suara bising kendaraan. Hanya ada suara jangkrik dan deburan ombak yang memecah malam. Definisi ketenangan yang hakiki.

Saat bangun di pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 06.30 WITA, traveler bisa langsung bersantai di binbag dan menikmati keindahan matahari yang mulai menampakkan sinarnya. Sembari menikmati teh dan kopi hangat.

Nah untuk staycation di Bali Cliff Glamping traveler wajib membayar sekitar Rp 850.000 hingga Rp 900.000/ kamarnya. Harga ini sudah termasuk paket breakfast untuk dua orang. Jika ingin menambah ekstra bed akan dikenakan biaya sebesar Rp 300.000.

Traveler yang kepo dengan kecantikan Bali Cliff Glamping juga bisa mengunjungi akun Instagram mereka @balicliffglamping. Tertarik menginap di bibir tebing?

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems di Bali Timur: Pantai Labuan Amuk



Karangasem

Bali timur, tepatnya di Kabupaten Karangasem menyimpan banyak permata tersembunyi. Ada pantai cantik bonus view perbukitan yang hijau nan asri.

Traveler yang berlibur ke Bali timur dijamin nggak akan kehabisan wisata untuk dijelajahi. Mulai dari bukit hingga pantai.

Salah satu hidden gem yang wajib dikunjungi saat ke Karangasem adalah Pantai Labuan Amuk. Dikenal karena kecantikan alamnya yang mempesona, pantai ini memiliki pasir putih yang bercampur dengan pasir hitam yang lembut.

Memberikan pemandangan yang menenangkan dengan latar belakang bukit hijau yang memikat. Wilayah pantainya tidak begitu luas, diselingi dengan jalan setapak kayu di sebelah kiri, pantai ini menjadi tempat ideal untuk bersantai sambil menikmati panorama laut yang menakjubkan.

Pantai ini tergolong hidden gem, karena traveler harus melalui jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil. Namun, pesona alam dan ketenangannya membuat pantai ini worth it untuk bersantai dan menjauh dari kebisingan kota.

Landskap hijau dari perbukitan dan air pantainya yang jernih, ditemani dengan deburan ombak membuat traveler akan merasa nyaman dan ingin berlama-lama di sini.

Karena keindahan bawah lautnya yang memukau dan perairannya yang jernih, Pantai Labuan Amuk menjadi surga bagi penggemar snorkeling. Menikmati terumbu karang berwarna-warni dan ikan tropis yang cantik di kedalaman laut. Traveler bisa menemukan penyewaan alat snorkeling di sekitar pantai.

Bagi traveler yang mau menikmati keindahan alam tapi nggak mau basah-basahan, bisa mencoba aktivitas mancing. Terdapat juga area memancing yang sangat populer, traveler bisa duduk di pinggir jalan setapak sambil memancing dan menikmati indahnya Labuan Amuk.

Ketika mengunjungi pantai Labuhan Amuk Karangasem, traveler tak perlu khawatir mencari tempat makan. Pasalnya, di sepanjang pantai terdapat banyak warung makan dan penjual makanan ringan. Harganya pun relatif terjangkau, jadi nggak akan buat kantongmu bolong.

Pantai ini berlokasi di Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Lokasinya cukup jauh dari Kota Denpasar, sekitar 42 kilometer atau 1 jam 15 menit perjalanan.

Labuan Amuk buka setiap hari. Bagi traveler yang berkunjung hanya akan dikenakan biaya parkir mulai dari Rp 5.000 untuk satu kendaraan. Bagi traveler yang ingin berkunjung, detikTravel menyarankan untuk datang di pagi hari saat matahari terbit sekitar pukul 06.30 WITA. Atau bisa di sore hari mulai pukul 16.00 WITA.

Karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota, dan belum banyak yang tahu tentang Pantai Labuan Amuk. Tak banyak wisatawan yang berkunjung ke sini sehingga cocok untuk traveler yang mencari ketenangan.

Bagi traveler yang berkunjung tetap menjaga keselamatan dan kebersihan ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com